I’m Not Crazy!


NaraYuuki

.

.

.

.

.

Brak! Pyar!

“Hentikan Julli! Hentikan!” bentak Junni.

Oh, tidak lagi. Kau tahu aku tidak suka bila dia membentakku seperti ini, seolah-olah aku ini pembuat onar yang menyebalkan. Bagaimanapun juga aku ini adiknya bukan? Kau tahu itu….

“Ku mohon, Julli! Jangan siksa dirimu lagi! Jangan melukai dirimu lagi. Kau akan membuat Nara sedih…. Ku mohon Julli. Kau tidak ingin Nara sedih, kan?” Junni menarikku menjauhi pecahan kaca jendela yang bertebaran dilantai karena vas bunga yang ku lempar tadi.

Nara oh Nara….

Sorry if I hurt you…. Tapi aku tak bermaksud melakukannya. Sungguh! Apa pun yang ku lakukan , apa pun yang ku katakan sama sekali tidak ada niatan untuk melukai hatimu. Hanya saja kadang aku memang sering lepas kendali…. Bukan! Tolong jangan bilang aku gila! I’m not crazy! Aku tidak gila, sungguh! Aku masih normal. Aku masih mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Enosimania inilah yang membuatku seperti ini, seperti orang gila, tapi aku tidak gila! I’m still normal, okay?! Ku harap kau mengerti dan percaya padaku.

“Julli…. Kakak janji kau akan sembuh….” Junni memelukku erat sekali. Hangat seperti biasa. Seperti ketika kau memelukku ketika aku merasa kesepian dulu….

.

.

“Coba kau tidak bersikap egois seperti itu….”

“Andai kau mau mendengar penjelasannya hal ini tidak akan terjadi!”

“Semua ini salahmu!”

“Kau harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada Nara!”

“Kau yang harusnya mati, bukan dia!”

“Karena kau temanku mati, kembalikan Nara!”

Ah, suara-suara itu lagi…. Apa kau mendengarnya, Nara? Apa kau mendengar teman-temanmu yang berbicara begitu kejam padaku? Apa kau bisa mendengarnya? Oh, yeah…. Ku harap kau bisa mendengarnya agar kau tahu betapa jahatnya teman-teman yang dulu sangat kau banggakan itu! Agar kau tahu kalau mereka tak sebaik yang kau kira.

Kau tahu? Harusnya kau biarkan aku mati! Harusnya jangan kau berikan hatimu padaku, harusnya aku yang berada di tempatmu. Harusnya kau yang disini bukan aku. Harusnya kau biarkan saja malaikat maut mencabut nyawaku yang dipandang tidak berharga oleh teman-temanmu itu. Harusnya kau jangan menghukumku seperti ini! Kau sama kejamnya dengan mereka.

Okay, kau berbeda….

Enissophobia mulai menggrogotiku dan membuatku perlahan-lahan menjadi gila. Kau tahu? Jelas kau tahu. Kau melihatnya bukan? Aku sering menjerit histeris, aku sering ketakutan tanpa sebab, aku selalu berkeringat dingin apabila mendengar namamu disebut. Bahkan yang lebih ekstrem aku menyayat nadiku dan hampir membuatku mati sia-sia. Oh, aku belum mau mati. Setidaknya tidak sekarang.

“JULLI….” Jerit Junni histeris saat melihat darah mengucur dari tanganku yang kusayat.

Kau lihat Nara? Kau lihat kakak laki-lakiku yang tampan itu menangis untuk adiknya yang tidak berguna ini? Oh, betapa itu sangat mengiksaku. Melihat kakakku yang biasanya tegar menangis untukku. Bukankah ini kejam? Bagaimana menurutmu?

Ku belai lembut wajah kakakku yang basah oleh air mata, aku menangis.

“Julli…. Jangan lakukan ini lagi! Kau membuat kakak sedih….” Ucap Junni sambil mengobati luka sayatan ditangan kiriku, “Kau kau marah katakan pada kakak! Kalau kau sedih, menangislah bersama kakak. Jangan simpan semuanya sendirian, kau bisa sakit Julli….”

.

.

Dan sekarang disinilah aku. Terkurung diruangan yang menyebalkan, tanpa jendela, tanpa hiasan. Hanya ada Rajang diruangan mengerikan ini. Enissophobia sialan ini telah membuatku terkurung diruang isolasi didalam rumahku sendiri. Ironis bukan? Jangan tertawa! Aku akan menghajarmu kalau kau berani tertawa! Ini semua karena kau bodoh! Karena kau…. Karena kau Nara.

Kenapa kau tidak membiarkan kangker hati sialan itu membunuhku? Kenapa kau mendonorkan hatimu untuk menggantikan hatiku yang rusak, kenapa kau harus kau? Kenapa bukan orang lain saja? Kenapa takdir seolah juga ikut mempermainkanku? Kenapa hatimu harus cocok untukku? Kenapa?

Andaikan bukan kau, mungkin sekarang aku baik-baik saja. Andaikan bukan hatimu yang ada didalam tubuhku mungkin aku tidak akan menderita Enissophobia seperti ini. Kau tahu? Keputusanmu untuk memberikan hatimu padaku dari awal ditentang keras oleh orangtuamu, keluargamu, saudara-saudara-saudaramu, teman-temanmu bahkan orang yang baru mengenalmu. Kau tahu? Bagaimana mereka memakiku, bagaimana mereka menyalahkanku atas nasib yang menyambutmu karena pilihan bodohmu itu? Aku hampir gila karenamu.

Masih terpatri dalam ingatanku karena kekeras kepalaanmu yang ingin mendonorkan hatimu padaku, dan jelas itu ku tentang. Aku tak mau kau terlibat dalam masalahku, dalam kerumitan hidupku. Tapi apa yang terjadi selanjutnya?

Ketika aku sadar setelah 2 minggu koma karena tiba-tiba tubuhku yang melemah, Junni mengatakan aku telah mendapatkan donor hati yang cocok untukku, aku bahkan telah melakukan operasi pencangkokan hati saat aku tak sadarkan diri. Kau tahu bagaimana reaksiku saat Junni mengatakan siapa yang menjadi donorku?

Aku mengangis histeris, aku berteriak, dan menjerit sejadi-jadinya. Kau bodoh Nara! Kau sungguh bodoh! Bagaimana bisa kau mendonorkan hatimu padaku? Bagaimana bisa tiba-tiba kau mengalami kecelakaan saat akan menjengukku? Semua ini seolah sebuah rekayasa yang kau susun dengan sangat sempurna….

Membuatku merasa bersalah dan tertekan akan pengorbananmu untukku.

Aku tahu kau mencintaiku, aku tahu kau menyayangiku, tapi kau tak tahu kalau cintamu yang terlalu besar itu membuatku sakit. Enissophobia ini hampir merenggut nyawaku. Bukankah sia-sia nyawa yang kau berikan padaku lewat hati yang bersemayam dalam tubuhku ini bila aku mati sekarang? Kau tidak ingin melihatku mati bukan? Karena itu kau memberikan hatimu untukku. Oh, kirimlah malaikat dari surga agar mereka, keluarga dan sahabat-sahabatmu tidak lagi menyalahkanku atas kepergianmu! Atau kirimkanlah sebuah surat dari surga yang menyatakan kalau aku tidak pernah memintamu memberikan hatimu padaku agar aku tidak tersiksa seperti ini lagi…. Aku ingin kembali hidup normal, karena aku tidak gila.

.

.

.

.

.

Thursday, July 19, 2012

8:29:30 PM

NaraYuuki

 

4 thoughts on “I’m Not Crazy!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s