Forget


Moon Joon Young

.

.

.

.

.

Kejamkah aku? Mungkin. Tegakah aku? Iya. Jahatkah aku? Tidak. Yah, aku rasa aku tidak cukup jahat untuk dikatakan jahat…. Mengerti maksudku? Ku harap kau mengerti. Well, akan ku ceritakan sebuah kisah yang sedikit klise, but no prob right? Ku rasa kau pasti akan menyukai kisah yang akan aku ceritakan ini. Yeah, ini kisahku, pengalaman hidupku yang bisa dibilang tidak begitu menarik dan monoton. Hm…. Let’s start it!

Anak kedua dari tiga bersaudara, itulah aku. Aku berbeda dengan ke-2 saudaraku, sangat berbeda. Fisik dan sikapku benar-benar berbeda dari dua saudaraku lainnya hingga kadang tetangga sekitar rumahku tidak percaya kalau aku ini saudara mereka, but who care? Pada kenyataannya aku memang tidak mirip dengan dua saudaraku, tapi jangan salah! Karena aku benar-benar anak dari ayah dan ibuku. Golongan darahku sama seperti ibuku, aku juga mewarisi mata indah ibuku, aku mewarisi hidung mancung ayahku, aku mewarisi otak encer ayahku, aku bahkan mewarisi bakat menulis dari ibuku.

Banyak orang yang bilang kalau wajahku tampan, dan itu sepertinya benar karena banyak gadis yang suka tebar pesona padaku. Reaksiku? I don’t care! Bagaimana dengan dua saudaraku lainnya? Mereka? Yakin kau mau tahu seperti apa mereka? Oh, kakakku bertubuh lebih pendek dariku dan sedikit gemuk, dia tidak mewarisi hidung mancung ayahku, dan kapasitas otaknya pun pas-pasan. Prestainya semasa sekolah? Sepuluh besar? Kadang-kadang kakakku itu memang masuk rangking sepuluh besar beda denganku yang selalu menjadi juara kelas. Sombongkah aku? Tidak! Hanya memberitahumu sedikit kelebihanku saja. Oh, dan jangan lupakan adikku! Dia hampir mirip kakakku dalam kontek yang berbeda tentu saja. Adikku itu laki-laki sepertiku dan kakakku seorang perempuan, tidak terlalu cantik dan juga tidak terlalu jelek. Standar! Kalau kau ingin tahu tentangnya.

Haah…. Kau pasti berpikiran kenapa aku menggunakan bahasa seketus itu ketika berbicara tentang keluargaku, iya kan? Tentu saja, itu karena aku membenci mereka. Oh, kalau kau tahu aku sangat membenci mereka. Ck…. Aku bahkan berharap terlahir sebagai anak tunggal. Well…. Ku rasa anak tunggal tidak buruk juga, bukan? Daripada punya saudara yang membuatku merasa dikucilkan.

Binggung? Okay, akan aku jelaskan.

Kakakku seorang mahasiswi tahun terakhir disalah satu universitas swasta yang lumayan favorit, oh, betapa aku ingin menghajar wajah sok lugunya itu! Bayangkan saja! Selama kuliah dia sudah berganti laptop selama 4 kali, sedangkan aku? Aku hanya punya laptop bekas milik si pendek itu. Oh, nilai IP si pendek itu pun jauh dibawahku, tapi dia selalu mendapat perhatian lebih dari ayahku. Kesal bukan menjadi diriku? Aku memang tidak satu kampus dengan kakakku itu, enak saja! Aku tidak mau satu kampus tahu aku adik si pendek itu kalau kami kuliah ditempat yang sama. Bisa menurunkan reputasiku. Dan beruntunglah aku yang masuk universitas negri yang tak sanggup dimasuki oleh kakakku dengan kapasitas otaknya yang pas-pasan itu. Aku juga mendapat beasiswa dari kampusku karena aku lumayan berprestasi juga. Tidak memberatkan orang tuaku seperti si pendek yang suka kecentilan itu, kan? Tentu saja! Tapi kenapa dia lebih diperhatikan oleh ayahku? Apa karena dia perempuan? Perempuan kan lemah. Oh, tapi aku ini juga butuh perhatian bukan?

Lupakan! Mengingat semua itu membuatku sangat marah!

Adikku? Oh, bayi besar yang sekarang duduk dibangku kelas 3 SMP itu tak kalah menyebalkan disbanding kakak perempuannya yang pendek itu, yah walaupun aku juga kakaknya tapi aku enggan menerima kenyataan yang mengerikan itu. Well, kalau ayahku sanggat membanggakan kakakku yang sangat payah itu, ibuku justru sangat menyayangi si big baby. Apa pun keinginan selalu diberikan, bahkan ketika big baby itu minta dibelikan motor sport. Apa yang terjadi? Satu minggu kemudian motor sport itu datang ke rumahku. Hebat bukan? Aku saja kalau bepergian harus naik bus sedangkan bocah yang bahkan belum genap 15 tahun itu dengan agungnya mendapatkan motor sport yang tidak murah harganya itu.

Diskriminasi bukan?

Oh, God! Lupakan! Aku bisa gila karena mereka.

Kau tahu? Aku ingat dua tahun yang lalu saat hari kelulusanku dari SMA. Maukah kau mendengar ceritaku? Mau? Benarkah? Okay, akan aku ceritakan.

Hari itu adalah hari penentu masa depan bagi semua siswa kelas 3 SMA, pengumuman kelulusan. Pihak sekolah meminta orang tua datang untuk mengambil hasil pengumuman anak-anaknya, dan diantara semua siswa kelas 3 di sekolahku hanya akulah yang tidak diwakili oleh orang tuaku. Kau mau tahu siapa yang mengambil hasil kelulusanku? Supir ayahku. Ironis sekali bukan nasibku?

Hari kelulusanku yang seharusnya menyenangkan berubah jadi mimpi buruk. Ibuku memilih menghadiri arisannya bersama teman-temannya, ayahku memilih pergi belanja bersama si pendek dan bayi besar itu. Aku? Selalu sendirian dan tetap seperti itu sampai sekarang.

Itu tamparan menyakitkan yang aku dapat. Sejak saat itu aku berpikir kalau aku ini bukan anak kandung mereka, tapi aku salah. Aku benar-benar anak mereka. Anak ayah dan ibuku. Bahkan rekaman video saat ibu melahirkanku pun masih tersimpan rapi di almari. Tapi kenapa aku diperlakukan tidak adil begini?

Haah…. Aku perlu udara segar untuk melegakan dadaku yang terasa sesak mengingat kenangan pahitku bersama keluargaku sendiri, semoga aku tidak menangis karena ini.

Oh, kau tahu? Setelah lulus kuliah aku langsung bekerja disebuah perusahaan telekomunikasi dengan jabatan yang lumayan bagus, dan aku juga sudah berhasil menelurkan 2 buku. Menghubungi keluargaku? Oh, tidak! Maaf, aku belum bisa memaafkan semua perbuatan mereka padaku. Kau tidak berpikiran aku jahat bukan? Aku bukan anak durhaka, tenang saja. Setiap hari ulang tahun ayah dan ibu, aku selalu mengirimkan hadiah kecil untuk mereka, yah sekedar mengingatkan mereka saja kalau kalau anak yang sempat mereka telantarkan ini maih hidup sampai sekarang. Sekedar menyadarkan mereka kalau setidaknya salah satu anak mereka ada yang sukses.

Kakakku? Sampai sekarang dia masih penggangguran. Adikku? Oh, dia berkali-kali pindah sekolah karena selalu menjadi murid bermasalah. Aku?

Aku disini sekarang. Di rumah yang ku bangun dengan hasil kerja kerasku, sendirian karena aku masih muda dan belum menikah. Jangan harap ada selembar saja foto keluargaku yang terpajang di dinding rumahku. Tidak ada! Tidak akan pernah ada, mungkin…. Yang ada hanya fotoku bersama teman-temanku ketika kuliah dulu. Itu saja.

Kau tanya kenapa?

Karena aku ingin melupakan keluarga yang sudah berbuat kejam padaku. Ingat! Aku bukan anak durhaka. Merekalah yang membuangku, menelantarkanku, dan aku tidak akan kembali pada mereka sebelum hatiku iklhas memaafkan mereka. Hei, memaafkan juga butuh waktu yang lama bukan? Itu kisah hidupku…. Ku harap kau menyukainya….

 

.

.

.

.

Friday, July 20, 2012

10:44:54 AM

NaraYuuki

 

3 thoughts on “Forget

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s