Always Keep The Faith! VI


Tittle                : Always Keep The Faith!

Author              : NaraYuuki

Genre               : Family/ Romance

Rate                 : -M

Cast                 : All Member DB5K

Disclaimer:       : They are not mine but this story is mine, NaraYuuki

Warning           : Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut.

.

.

.

.

.

Yang jelek-jelek jangan ditiru ne😉

.

.

AKTF

.

.

Namja jangkung itu menundukkan kepalanya dalam, meremas celana katun yang dipakainya kuat-kuat ketika melihat sang kakak menghisap kuat chery lips merah itu dengan sangat rakus dan sedikit tergesa seolah diburu oleh waktu.

“Aku masih di depan pintu!” akhirnya namja perparas cantik itu mendorong tubuh Yunho hingga namja bermata musang itu mundur beberapa langkah, “Bawakan koperku masuk!” pintanya yang langsung berjalan ke arah Changmin, membiarkan Yunho menggerutu namun tetap menyeret kedua koper besar itu masuk ke dalam apartemennya.

Jaejoong mengamati Changmin. Jemari lentiknya meraih dagu Changmin agar namja jangkung itu menengadahkan wajahnya.

Ada luka di dalam mata itu.

Ada sepi dan pedih di dalam mata itu….

Perasaan terbuang sama seperti yang dirasakannya.

Jaejoong tersenyum dan mengusap kepala Changmin pelan, membuat namja jangkung itu tersentak kaget tetapi tidak menghindari usapan yang diberikan Jaejoong padanya. Perasaan nyaman itu mendekap hati sepi Changmin perlahan-lahan.

“Begitu aku selesai ganti baju maukah kau menemaniku pergi berbelanja?” tanya Jaejoong yang langsung diangguki oleh Changmin. Jaejoong tersenyum sesaat kemudian melirik Yunho yang berada di mulut pintu kamarnya sedang melipat kedua tangannya di dada, mengamati apa yang Jaejoong lakukan terhadap Changmin.

“Kau tahu akibatnya bila membuatku cemburu, kan?”

“Aku harus belanja. Sore nanti Junsu akan ke sini.” Jawab Jaejoong sambil berjalan menuju arah Yunho.

Changmin tiba-tiba merasa kehilangan ketika Jaejoong meninggalkannya.

“Junsu? Ke sini? Untuk apa?” tanya Yunho binggung.

“Memberi pelajaran pada orang sesat.” Jawab Jaejoong asal.

“Aku akan mengantarmu.”

“Changmin akan menemaniku. Ku rasa dia cukup kuat untuk membawakan belanjaanku.”

“Jarak halte dan tempat ini cukup jauh, sepuluh menit.”

“Aku menyuruh supirku untuk pulang naik taksi. Aku bisa menyetir dan punya SIM. Apa lagi masalahnya?”

“Cih!” gerutu Yunho yang langsung berjalan menuju dapur, membuat Jaejoong tertawa kecil melihat kelakuan Yunho yang hanya akan diperlihatkan padanya saja, “Kau masih normal, kan? Kau tahu kalau namja bernama Jung Jaejoong itu milikku, kan? Kau masih ingat betapa sakitnya saat aku menghajarmu, kan?” tanya Yunho sambil memelototkan mata sipitnya pada Changmin yang hanya menatap binggung kelakuan kakak laki-lakinya.

.

.

Di dalam kamar itu Jaejoong bisa melihat sebuah foto keluarga yang terlihat sangat harmonis. Benar-benar kamuflase yang sempurna bagi mereka yang tidak tahu seberapa bobrok keluarga itu sebenarnya. Jaejoong mengambil sebuah foto yang merekam tawa sepasang seorang anak remaja yang tengah memakai seragam junior high shcoolnya dan seorang gadis kecil berseragam TK.

“Hyunbinie ya…. Kau bahagia sekarang? Surga sangat indah, bukan? Kau tidak merasakan sakit dan sedih lagi, kan?”

Jaejoong masih sangat ingat ketika dulu Yunho menangis dalam pelukannya saat gadis kecil itu pergi untuk selamanya, menyerah pada leukimia yang menggrogotinya padahal keluarga mereka sama sekali tidak mempunyai riwayat penyakit itu.

Jaejoong masih bisa merasakan genggaman kuat tangan Yunho ketika melihat adiknya menangis meraung-raung saat dirawat di rumah sakit. Bukan… gadis kecil itu menangis bukan karena menahan sakit akibat kemoteraphi brengsek yang harus dijalaninya melainkan menangis karena ketidakharmonisan kedua orang tuanya yang sering bertengkar dihadapannya.

Hingga….

Satu bulan menjelang ulang tahunnya yang ke-6, Jung Hyunbin akhirnya dijemput oleh malaikat yang mengajaknya naik kereta  menuju surga….

“Apa yang kau lamunkan?”

Jaejoong tersentak ketika sepasang lengan kekar itu melilit pinggangnya, diletakkannya foto itu kembali ke atas meja dan mengusap lengan namja bermata musang itu perlahan, “Jangan berangkat kerja dihari pertama kedatanganku.”

“Aku butuh makan.”

“Kau tidak akan kelaparan bila tidak masuk kerja sehari saja. Apa kau ingin aku bicara pada bosmu?”

Ani. Bosku sedikit kesal karena tender yang menjadi incaran kami direbut oleh keluarga Park.”

“Ck… menyebalkan! Dan aku tidak pernah suka penolakan. Aku tidak peduli walaupun kau akan dipecat dari tempat kerjamu. Aku ingin kau di rumah malam ini dan itu yang akan aku dapatkan, Jung Yunho!”

Arra…. Aku akan di rumah dan menjadi anak baik hari ini.”

“Bagus.”

.

.

Changmin mendorong troli itu dalam kebisuan, namun matanya tidak lepas mengamati Jaejoong yang sejak tadi memasukkan banyak belanjaan ke dalam troli. Makanan kaleng, makanan setengah matang, sayuran, daging, buah, telur, susu, snack, jus kaleng, minuman bersoda, kopi, ice cream, coklat, tepung, dan peralatan mandi. Sejujurnya ini pertama kalinya Changmin menemani seseorang berbelanja. Sepanjang hidupnya ibunya tidak pernah mengajaknya pergi berbelanja seperti ini.

“Jangan katakan aku mirip perempuan!” ucap Jaejoong, “Apa yang ku lakukan ini hanya untuk kebutuhan kita mengingat satu bulan kedepan aku akan tinggal bersama kalian.”

“Satu bulan?” sahut Changmin.

“Biasakan dirimu pada kehadiranku.”

Changmin menunduk dalam, “Bi… bisakah kau membuatkanku deobboki?” tanyanya.

“Yunho pasti hanya memberimu makan dengan makanan kaleng dan makanan cepat saji.” Sahut Jaejoong.

Changmin menggangguk pelan. Entah kenapa namja yang sempat dianggapnya tidak normal ini bisa membuatnya nyaman. Changmin merasa Jaejoong lebih bisa memahaminya daripada Yunho yang merupakan kakaknya sendiri.

“Kau suka pedas?”

“Sangat suka.”

“Baiklah! Pergi dan ambillah beberapa bungkus kue beras, aku akan membeli cabai giling dan pasta cabai dulu.” Perintah Jaejoong yang terlihat seperti seorang ibu yang tengah menyuruh anaknya.

Dengan patuh Changmin mendorong troli menuju tempat kue beras berada.

“Menaklukkan Jung kecil ternyata sangatlah mudah, berbeda sekali dengan Jung besar itu….” gumam Jaejoong.

.

.

Jaejoong mulai mengeluarkan mobil dari area parkir ketika doe eyes kelamnya menangkap kegilisahan dari namja jangkung yang duduk di sebelahnya, terlihat dari seberapa sering Changmin meremas-remas tangannya sendiri dan mencengkeram kuat-kuat kaus yang dikenakannya.

“Katakan saja apa yang ingin kau katakan padaku.” Ucap Jaejoong yang tetap fokus dengan kemudinya.

“Sejak kapan hubungan kalian menjadi seperti itu?” tanya Changmin, “Maksudku kau dan Yunho hyung.”

“Aku bahkan tidak ingat kapan dan kenapa hubungan kami bisa seintim itu.”

“Karena kau Yunho hyung diusir oleh Appa!” Changmin menatap sengit namja cantik yang menurutnya adalah biang dari semua masalah dalam keluarganya, terutama untuk Yunho.

“Oh, kalaupun Yunho tidak diusir dia akan tetap pergi.” Sahut Jaejoong.

“Kau pasti menghasut Yunho hyung!” tuduh Jaejoong.

“Bukankah ini sangat lucu? Kau menuduhku dan melimpahkan semua kemarahanmu padaku. Katakan padaku sebenarnya apa yang kau rasakan? Bila kau enggan berbicara pada Yunho, bicaralah padaku.”

Changmin terdiam. Dialihkannya tatapannya pada jalanan di luar sana yang cukup lengang serta lampu-lampu merkuri yang mulai menyala akibat mendung kelabu di atas langit.

Ragu….

Changmin ragu mengatakannya.

Tetapi bila tidak dikatakan dirinya bisa menjadi salah satu penghuni bilik rumah sakit jiwa sama seperti ibunya beberapa bulan sebelum kematiannya.

Sejujurnya Changmin belum pernah bicara pada orang lain mengenai masalah pribadinya.

“Aku tidak memaksamu untuk bercerita.”

Changmin menatap Jaejoong sebentar sebelum menundukkan kepalanya dalam, “Apa menurutmu aku anak haram?”

Jaejoong tersentak dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Changmin, tidak menyangka namja jangkung yang selalu menuduhnya tidak normal dan terlihat sedikit labil itu mengajukan pertanyaan seperti itu padanya.

“Kau tidak bisa menjawabnya, kan?”

“Apa alasanmu mengatakan bahwa kau anak haram? Semua anak yang ada di dunia ini lahir dalam keadaan suci. Kalau kau menyalahkan dirimu sendiri dan menganggap kau adalah anak haram makan teruslah berpikir seperti itu dan kau akan gila perhalan-lahan karena hal itu.”

“Mereka selalu berbisik bahwa aku adalah anak haram. Gara-gara aku Ummaku meninggal. Gara-gara aku Ibu Yunho hyung sakit, gara-gara….”

“Berhenti menyalahkan dirimu sendiri! Aku bukan orang suci, tetapi aku akan mengatakan hal ini padamu. Dimataku kau tidak salah. Yang salah adalah ibu dan ayahmu yang sudah bermain api hingga kau muncul sebagai percikan bunga api itu.”

Changmin menggelengkan kepalanya cepat-cepat, “Umma membesarkanku penuh kebencian. Umma mendidikku agar aku bisa merebut apa yang Yunho hyung miliki.”

“Dan itu yang kau lakukan?”

Lagi-lagi Changmin menggelengkan kepalanya pelan, “Aku tidak mau menjadi seperti yang Umma inginkan. Aku tidak mau menjadi robot Umma…. Aku hanya ingin merekaa menerimaku, bukan menganggapku sebagai anak haram.”

“Kau tahu Changmin? Seandainya aku berada diposisi Gain Ahjumma, aku pun akan melakukan hal yang sama.”

“Kau akan membenciku?”

“Suamiku memiliki seorang anak remaja dari sahabatku sendiri. Aku mungkin akan membunuh suamiku kemudian bunuh diri bila hal itu terjadi padaku.” Ucap Jaejoong tanpa berniat menjawab pertanyaan Changmin, “Tetapi… seandainya hatiku sudah ikhlas menerimanya, akan ku besarkan anak itu. Karena aku tahu, menjadi anak yang terlahir dari hubungan terlarang orang tuanya sangat tidak mengenakkan.”

“Jadi kau akan membenciku seandainya kau menjadi ibu Yunho hyung?”

“Ya dan tidak.” Jawab Jaejoong, “Hal semacam itu tidak bisa ditebak. Karena perasaan manusia bisa berubah kapan saja tanpa bisa diduga. Yang bisa kau lakukan hanyalah berusaha membaur agar kau diterima sebagai Changmin putra bungsu keluarga Jung, bukan justru menyembunyikan dirimu dalam kebencian yang akan menjadi bom waktu bagimu dan orang-orang disekitarmu.”

“Sepertinya kini aku mengerti kenapa Yunho hyung bisa begitu mencintaimu padahal diluar sana masih banyak yeoja seksi.”

“Oh, biar ku dengar pendapatmu.”

“Kau mempunyai sihir yang bisa mengusir kegundahan, membuat hati menjadi tenang….”

“Aku tidak sehebat itu. Aku ini orang brengsek.”

“Kalau begitu kita sama-sama menjadi orang brengsek.”

“Itu lebih baik….”

Umma….” lirih Changmin.

“Kau merindukan Ummamu?”

“Boleh aku memanggilmu Umma?”

Ciiiiiiiitttttttttttttttt!

Dengan sepenuh hati Jaejoong mengerem mobilnya di tengah jalan, tidak memedulikan mobil-bomil lain yang berada di belakangnya yang sedang meraung-raungkan klakson mereka.

Plak!

Dengan tenaga penuh Jaejoong memukul kepala Changmin dan menatap tajam namja jangkung yang menurutnya sangat kurang ajar itu seolah-olah hendak menelannya hidup-hidup seperti memakan gurita segar yang biasa dijajakkan di kedai-kedai kaki lima di pasar.

Noe jugeullae?” bentak Jaejoong dengan suara nyaring.

Changmin terkaget-kaget ketika namja cantik itu tiba-tiba berbuat kasar padanya.

“Akan ku bunuh kau begitu sampai rumah!” omel Jaejoong yang langsung menginjak pedal gas kuat-kuat.

Changmin tidak tahu bila Jaejoong sangat membenci bila dirinya diperlakukan seperti seorang yeoja, dan baru saja Changmin mengutarakan niatnya untuk memanggil namja cantik itu dengan sebutan Umma. Andai Changmin tahu bahwa suhu hati Jaejoong sudah melampaui titik didih tertinggi.

.

.

Jaejoong berjalan meninggalkan Changmin dengan beberapa kantung plastik besar berisi belanjaan mereka tadi begitu saja tanpa memedulikan panggilan namja jangkung itu.

Umma katanya? Dia pikir aku yeoja? Cih! Aku menyesal sudah bersikap baik padanya.” Omel Jaejoong yang tidak peduli beberapa orang yang berpapasan dengannya menatap heran padanya.

“Hei Agashi yeopo, tidak baik….”

“Aku namja, Brengsek!” teriak Jaejoong yang tanpa sungkan menendang tulang kering seorang namja yang sepertinya berniat menggodanya, “Kau cari mati, huh?” Jaejoong sudah mencengkeram kerah namja itu dan berniat melayangkan kepalan tinjunya jika saja seseorang tidak mencegahnya.

“Jaejoongie?” Junsu menatap heran Jaejoong yang sepertinya sedang dalam mood buruk itu.

Dengan kasar Jaejoong menghempaskan tubuh namja itu hingga tersungkur di lantai tempat parkir, “Ah, kebetulan sekali kau datang. Bantulah Changmin membawa barang belanjaan!”

“Eh?” Junsu menolehkan kepalanya ke samping, melihat Changmin yang kepayahan membawa kantung-kantung plastik berukuran besar itu, “Apa yang…. Eh? Kemana dia?” Junsu menoleh ke kenan dan ke kiri, mencari-cari Jaejoong yang sudah menghilang entah kemana. Selanjutnya namja berbadan sedikit berisi itu berlari kecil ke arah Changmin untuk membantunya.

.

.

Yunho yang tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada keduanya saat belanja tadi hanya bisa berusaha menenangkan namja cantik yang sepertinya sedang marah besar itu. Dengan setia Yunho berdiri di belakang kursi yang diduduki oleh Jaejoong sambil mengelus kedua lengan Jaejoong pelan.

Junsu yang tidak merasakan hawa tidak enak itu terus melahap deobboki panas yang terhidang di hadapannya, sesekali mengeluh bibirnya terbakar karena panas dan pedas yang lumer di dalam mulutnya.

Changmin hanya bisa mengulum sepasang sumpitnya melihat hidangan itu. Tidak berani makan karena sepasang doe eyes kelam indah itu terus memelototinya sejak tadi.

“Apa masalah kalian, hm?” tanya Yunho.

“Dia memanggilku Umma.” Jawab Jaejoong terdengar sedikit ketus.

Nugu? Changmin?”

“Siapa lagi?”

“Bukankah kau bilang kau ingin mengandung? Kalau kau mengandung dan melahirkan Jung kecil bukankah kau akan dan harus dipanggil Umma?” tanya Yunho.

Jaejoong berpikir, benar apa yang Yunho katakan soal teori sederhana itu.

“Jadi biarkan dia memanggilmu Umma, kau tahu kan bahwa anak-anak keluarga Jung sangat kekurangan kasih sayang?”

Setelah menghela napas panjang Jaejoong menyuruh Changmin untuk makan, tentu saja Changmin dengan lahap memakan deobboki itu karena dirinyalah yang meminta Jaejoong membuat makanan itu sebagai kudapan sore hari.

“Duduklah! Kau juga harus makan!” Jaejoong menarik tangan Yunho dan membimbing namja tampan bermata musang itu agar duduk di sampingnya.

Junsu menelan deobokinya untuk kesekian kalinya, “Jaejoongie, kau dan Yunho…?”

“Kami sahabat… sahabat dalam banyak hal….” Jaejoong tersenyum hangat pada Yunho yang tengah meremas kuat-kuat tangannya.

“Jawaban yang kompak. Padahal mereka lebih dari itu.” Batin Changmin yang tidak berani menyuarakan isi hatinya, takut Jaejoong akan mengurungnya di kamar dan melarangnya makan.

.

.

“Anak itu menjadi lebih ceria daripada sebelumnya. Apa yang kau lakukan padanya, hm?” tanya Yunho yang duduk tenang di samping namja cantik yang sedang membolak-balikkan majalahnya. Mata musangnya menatap Changmin dan Junsu yang saling berteriak karena permainan panas mereka, bermain game.

“Dia baru saja mendapatkan Umma baru. Apa yang harapkan?”

“Ku harap Umma barunya berhenti merokok dan minum-minum.”

Jaejoong melirik Yunho, “Hei! Hargailah usahaku! Aku sudah mengganti puntung rokok terkutuk itu dengan sebatang permen loli. Apakah itu kurang?”

“Hari ini kau membeli bir kan?”

“Aku masih membutuhkannya….”

“Tidak. Aku akan membuang cairan terkutuk itu di wastafel nanti!”

“Kau tidak akan berani?!” doe eyes itu memicing tajam.

“Ah, kalau kau tidak menuruti apa kata suamimu bagaimana kau bisa menjadi istri yang baik? Bagaimana caranya kau mendidik anak-anak kita nantinya?”

“Kalian… akan menikah?” tanya Junsu yang menatap Yunho dan Jaejoong dengan ekspresi anehnya, begitupun yang dilakukan oleh Changmin. Mengabaikan tulisan Game Over yang terpampang jelas di layar televisi.

Namja ini akan menjadi suamiku.” Jaejoong menunjuk Yunho, “Dia akan menjadi ayah dari anak-anakku.”

Omo!” pekik Junsu.

Wae? Kau jijik pada kami?

Junsu menggelengkan kepalanya cepat-cepat, “Daebak! Daebak!” gumamnya, “Sejak kapan? Kenapa selama ini kalian bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa diantara kalian, huh? Aigoo! Teman macam apa kalian ini? Kenapa tidak menceritakannya padaku?” protesnya.

“Kami bukan temanmu, kan?”

“Jaejoongie!”

Kajja! Bukankah kau ke sini untuk belajar menjadi orang jahat?” Jaejoong bangun dari duduknya dan berjalan menuju kamar Yunho. Diikuti Junsu yang berlari kecil mengikutinya.

Hyung….” panggil Changmin. “Mianhae….”

“Hm….”

“Kini aku tahu kenapa kau lebih memilihnya daripada Appa…. Karena aku sepertinya juga menyukainya….”

Yunho hanya tersenyum simpul.

Kadang kata-kata memang tidak bisa menjelaskan sesuatu tetapi tindakan bisa menjadi sebuah bukti nyata… dan Yunho sangat memahami hal itu.

.

.

TBC

.

.

Gomawo yang sudah baca🙂 Jangan kaget bila beberapa karakter di FF ini terkesan labil, usia mereka masih remaja😉

Ada yang bisa menebak apa yang akan Umma ajarkan pada Junsuie Ahjumma?

.

.

Thursday, April 03, 2014

7:57:08 AM

NaraYuuki

14 thoughts on “Always Keep The Faith! VI

  1. minnie kyk na udah luluh sm jaema hehe
    sikap lembut jaema yg tesirat itu yg bikin minnie nyaman
    yunppa cemburu na lucu😀
    suie bakalan diajarin menggoda chunnie kah eon?
    ato bersilat lidah? ato sedikit kekerasan ke yeojachingu na chunnie?

  2. changmin udh mulai nrima jae
    udh gk berfikiran negatif ttg jae
    appa ya ampun masa cemburu sama adek sendri
    umma mw ajarin junchan ngpain
    junchan disruh cuekin chunnie aja

  3. umma emng pinter ngubah suasana hati orang…
    yg jelas nt su-ie jumma bakal d kasih ilmu menahlikan jidat lebar #plakk
    hihihi… gg tw ahh.. nunggu klanjutannya ajj.. biarin aku.penasaran sm kelanjutannya.

  4. Jaejoong jadi ummanya Chwang?! Solusi yang tepat!. kuharap suatu hari nanti Jae bisa berhenti dari rokok dan minum itu hehe, kan pengen jadi Umma eh udah jadi Umma hohoho
    -ternyata Yun kehilangan adik kecilnya😥

  5. Ping-balik: Always Keep The Faith! VI | Fanfiction YunJae

  6. hahahahaha
    changmin nyari mati manggil jaemom eomma gitu aja..
    kl ga ada daddy udh pasti dy ga bakal bisa makan itu.. hehehe
    tapi kasian juga ma dy, padahal dy pinter, tp jadi kek yg keterbelakangan mental gitu gara2 kurang kasih sayang.. #puk2changmin
    tp syukur dech mreka bisa akur, tinggal masalah yoosu nie yg mesti dikelarin biar mreka berlima bisa kompak..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s