Always Keep The Faith! V


Tittle                : Always Keep The Faith! V

Author              : NaraYuuki

Genre               : Family/ Romance

Rate                 : -M

Cast                 : All Member DB5K

Disclaimer:       : They are not mine but this story is mine, NaraYuuki

Warning           : Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut.

.

.

.

.

.

Yang jelek-jelek jangan ditiru ne😉

.

.

AKTF

.

.

Mendengarkan pembicaraan yang membosankan dan beberapa kali omelan yang dilayangkan kepada Yoochun membuat namja cantik itu merasa dadanya terasa sangat sesak. Ingin sekali dirinya menghisap puntung rokok atau sekedar menegak mekju yang dijajakkan di kios kaki lima untuk mengurangi perasaan tidak nyaman yang menggelayutinya. Atau setidaknya, dirinya ingin pergi ke rumah Yunho dan menghabiskan waktunya di sana berlama-lama. Setidaknya Changmin tidak berani berteriak-teriak seperti yang tengah namja dewasa itu lakukan terhadap Yoochun.

Srak!

Kursi yang semula didudukinya bergeser ketika dirinya berdiri dari duduknya.

“Jaejoongie.” Lee Haeri, yeoja yang 18 tahun lalu melahirkan Jaejoong itu menatap putranya yang biasanya penurut itu dengan tatapan seolah-olah menyuruh Jaejoong untuk kembali duduk.

Mianhae Appa, tapi hari ini Yoochunie hyung berjanji akan mengajari Joongie bermain bola basket untuk penilaian ujian praktik besok lusa.” Usai tersenyum Jaejoong membungkukkan tubuhnya ke arah namja dewasa itu.

Jeongmal?” Park Jaeseok, ayah kandung Park Yoochun itu menatap putra bungsunya yang tengah tersenyum manis kepadanya.

Ne.” Jawab Jaejoong.

Kajja! Pergilah kalian!”

Gomawo Appa.” Jaejoong menolehkan kepalanya ke arah Yoochun yang sedang memasang wajah syock, “Kajja Hyung!”

.

.

Beruntunglah mereka karena di dalam bangunan rumah mereka itu terdapat sebuah lapangan basket mini sehingga mereka tidak perlu bersusah payah pergi ke lapangan basket yang berada di taman kompleks peerumahan mereka.

“Kau… benar-benar iblis berwajah malaikat.” Ucap Yoochun yang sedang mendrible bolanya.

“Tidak bisakah kau mengatakan terima kasih saja padaku?” tanya Jaejoong tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar handphonenya.

“Mereka akan pergi ke Jepang selama sebulan.”

“Aku tahu.” Sahut Jaejoong tanpa menaruh minat sedikit pun.

“Kau akan berada dibawah pengawasanku lagi.”

“Hm….”

“Kau tidak boleh menginap di rumah Jung Yunho lagi.”

“Tidak ada seorang pun yang boleh melarangku melakukan hal itu.”

“Park Jaejoong!”

“Ah, kalau kau tidak ingin Appamu tahu kau tengah berkencan dengan seorang gadis, maka jangan lagi campuri urusanku dengan Yunho. Satu hal lagi…. Namaku Kim Jaejoong!”

Yoochun hanya bisa menatap jengkel pada adik cantiknya yang sebenarnya memiliki hati iblis itu. Benar. Memang ayahnya melarang Yoochun memiliki pacar, terutama dari kalangan kelas bawah. Apa jadinya bila mulut manis namun sangat berbisa milik Jaejoong itu mengatakan semuanya pada ayahnya perihal hubungannya dengan seorang yeoja bernama Jia yang baru dikencaninya seminggu yang lalu itu? Yoochun bisa membayangkan kalau ayahnya akan mengurungnya di rumah dan mendepak Jia dari sekolah.

“Kau tidak akan melakukan hal itu.”

“Membuat kepala anak kelas satu nyaris pecah saja mampu ku lakukan apa lagi hanya mengatakan hal sepele seperti itu?” tanya Jaejoong.

“Park Jaejoong!”

“Selama mereka pergi aku akan tinggal bersama Yunho.”

“Kenapa tidak kau nikahi saja preman gadungan itu, huh?”

“Akan ku lakukan setelah aku lulus nanti. Tenang saja.”

Yoochun menatap syock Jaejoong yang mengatakan hal itu seolah-olah sesuatu yang benar-benar akan dilakukannya, “Kau serius?” tanyanya memastikan.

“Kau yang memintanya, kan? Akan ku lakukan.” Ucap Jaejoong usai memasukkan handphonenya ke dalam saku, “Saranku, ketika kau ingin mengencani seorang yeoja, carilah yeoja yang sepadan denganmu daripada kau kecewa nantinya. Kenapa harus mengencani yeoja murahan bila disekitarmu ada orang yang diam-diam selalu memperhatikanmu.” Dilangkahkannya kaki jenjangnya itu keluar dari ruangan yang disulap menjadi lapangan basket mini itu perlahan.

Yah! Park Jaejoong! Apa maksudmu?! Kembali dan jelaskan padaku!”

.

.

Haeri menatap Jaejoong lekat-lekat. Anak yang dulu dikandungnya dan dilahirkannya susah payah itu kini sudah dewasa. Anak yang dulu ditimang dan dibesarkannya penuh cinta dan kasih sayang itu tidak lagi dikenalinya.

Jaejoongnya yang polos….

Jaejoongnya yang penurut….

Jaejoongnya yang selalu tertawa dengan riangnya itu menghilang entah kemana, digantikan sosok dingin yang sangat asing baginya. Apakah kebahagiaan ini tidak cukup untuk membahagiakan putranya? Apakah pilihannya justru menambah nestapa dalam hati putranya?

“Jaejoongie chagy…. Apakah kebahagiaan ini hanya Umma sendiri yang merasakannya?” diusapnya rambut hitam legam milik sang putra dengan lembut penuh kasih. Kerinduan pada putra kecilnya membuatnya tengah malam seperti ini menyelinap ke dalam kamar putranya sendiri.

Sejak dirinya berpisah dengan ayah Jaejoong, putranya yang sering dibilang cantik oleh kebanyakan orang itu menjadi menutup dirinya sendiri dan semakin murung. Puncaknya ketika dirinya mulai berkencan dengan Jaeseok dan akhirnya menikahi ayah Park Yoochun itu, Jaejoongnya semakin jauh dari jangkauannya.

Sebagai seorang ibu, Haeri hanya bisa meneteskan air matanya. Betapa rindunya dia pada anaknya yang dulu selalu ceria, “Jja…. Mimpi indah ne Jaejoongie.” Setelah mencium kening putranya, yeoja itu melangkah pergi meninggalkan kamar Jaejoong tanpa menyadari bahwa si empunya kamar membuka matanya.

Umma bilang asal Umma bahagia aku pun akan merasakan kebahagiaan. Sekarang Umma bahagia di atas kesengsaraanku. Jadi kenapa tidak Umma biarkan aku mencari kebahagiaanku sendiri?” gumamnya. Dengan kasar mengusap kedua matanya yang mulai meneteskan air mata terkutuk itu.

.

.

“Sudah ku katakan untuk berhenti, bukan?!” dengan sedikit kasar Yunho merampas puntung rokok yang sedang dihisap oleh Jaejoong, membuangnya kasar kemudian menginjakknya hingga hancur, “Apa yang terjadi?”

“Mereka yang bahagia, aku tidak. Apa menurutmu itu adil, huh?”

“Tidak. Itu tidak adil.”

“Benar. Kau memang yang paling mengerti aku.” Jaejoong menatap Yunho lekat-lekat, “Mereka akan berangkat ke Jepang sore ini dan tinggal di sana selama satu bulan.”

“Secepat itukah mereka pergi?”

“Usai mengantarkan mereka ke Bandara aku akan ke rumahmu dan tinggal bersamamu selama satu bulan kedepan.”

Yunho menggangguk setuju, “Tinggal dibawah atap yang sama selama satu bulan? Bagaimana bila kau mengandung Jung kecil?”

“Tidak masalah. Asal kau bisa menghidupi kami aku bahkan rela mengandungnya sekarang.”

Yunho mengusap kepala Jaejoong pelan, “Tidak. Kita bahkan belum menjelaskan hubungan kita pada Ummamu.”

“Kalau begitu biarkan aku mengatakannya! Biarkan aku disir dari rumah. Bukankah di sana sama sekali tidak ada kebahagiaan untuk ku reguk?” doe eyes kelam itu menatap dalam mata setajam musang milik Yunho penuh keyakinan.

“Tidak! Boo Jaeku adalah anak baik yang tidak boleh diusir dari rumah apapun yang terjadi.” Yunho membelai wajah yang sedikit tirus itu pelan, “Makanlah yang banyak! Kau semakin kurus sekarang.”

“Bagaimana aku bisa menelan makanku dengan baik bila jiwaku terus meronta?” tanya Jaejoong, “Yun….”

“Hm….”

“Bagaimana hubunganmu dengan Changmin? Sudah lebih baik?”

“Dia sudah mau makan bersamaku, tetapi bila aku mulai bicara tubuhnya akan langsung bergetar.”

“Kau terlalu keras padanya.” Sahut Jaejoong, “Mau aku yang bicara padanya?”

“Tidak! Aku tidak akan bisa menahan diriku lagi seandainya dia menghinamu.”

“Keledai tidak jatuh di dalam lubang yang sama dua kali, dengan otak pintarnya ku rasa Changmin akan lebih berhati-hati ketika berbicara padaku.”

“Tidak! Telingamu hanya boleh mendengar kalimat yang indah, bukan kata-kata makian.”

Jaejoong tersenyum. Namja yang kini sedang mendengarnya memang paling memahami dirinya, paling tahu apa yang dibutuhkannya. Namja yang mampu memberikan kenyamanan, kebahagiaan yang tidak pernah didapatkannya selama berada di rumah.

“Aku lapar. Temani aku makan….” pinta Yunho.

“Dengan senang hati.”

.

.

Jaejoong hanya terdiam ketika namja itu mendekapnya erat, menangis dalam pelukannya tanpa mengatakan apapun. Menangis dan menangis… hanya itu yang dilakukannya selama beberapa detik lamanya.

“Pergilah ke kantin terlebih duhulu. Sepertinya aku harus menggurus bayi besar ini….” ucap Jaejoong yang masih berdiri di depan mulut pintu yang menghubungkan atap dan tangga.

Yunho menggangguk paham, usai mendaratkan sebuah ciuman di puncak kepala Jaejoong, namja bermata musang itu berjalan pelan menuruni tangga, “Jangan biarkan perasaanmu melemahkan hatimu Kim Junsu.” Ditepuk-tepuknya punggung Junsu sebelum benar-benar pergi.

Jaejoong hanya menatap kepergian Yunho dalam diam, “Untuk apa menangisi namja yang bahkan tidak pernah melihat keberadaanmu?” chery lips merekah itu melontarkan pertanyaan yang sejujurnya sedang ia cari jawabannya untuk dirinya sendiri, “Dengar! Suatu saat dia akan menyesali keputusannya. Aku sudah memperingatkannya semalam.”

Junsu menggelengkan kepalanya pelan.

“Kemejaku basah karena air matamu.”

Mian….” gumam Junsu dengan suara lirihnya.

“Apa yang kau lihat?”

Junsu melepaskan pelukkannyya pada Jaejoong, mengusap kasar air mata yang terus turun membasahi wajahnya, “Mereka berciuman di dalam kelas.”

Jaejoong tidak berkomentar, berusaha menjadi pendengar yang baik walaupun sebenarnya dirinya sudah bisa menebak apa yang terjadi.

“Kelas dalam keadaan sepi. Aku baru kembali dari toilet dan ingin mengajak Chunie ke kantin. Tapi….” Junsu menggigit bibir bawahnya, “Mereka berciuman dengan sangat intim… hiks… bahkan…. Bahkan tangan Chunie mulai meraba dadanya. Joongie…. Aku sakit hati!” kembali namja bersuara khas itu mendekap tubuh Jaejoong seolah hendak meremasnya.

“Kau mau menjadi orang jahat?” tanya Jaejoong, “Aku bisa membantumu.”

“Bagaimana caranya?” Junsu menatap wajah namja androgini itu lekat-lekat, pantas saja ada teman sekelasnya yang begitu terobsesi ingin menjadikan Jaejoong miliknya, adik Park Yoochun itu sangat cantik, “Kau tidak akan mengajariku merokok dan menghajar anak orang, kan?” tanyanya diantara isakannya.

“Lebih kejam daripada itu.”

“Apa? Bagaimana?”

“Sore nanti datanglah ke rumah Yunho. Akan ku beritahu kau caranya.”

“Kenapa harus di rumah Yunho? Kenapa tidak di rumahmu saja?”

“Apa kau ingin bertemu dengan namja yang membuatmu sakit hati?”

Junsu menggelengkan kepalanya cepat. Tidak! Lebih baik tidak bertemu Yoochun dulu untuk sementara waktu daripada harus merasakan sakit terus-menerus. Junsu tidak ingin matanya bengkak karena terlalu lama menangis, “Tapi aku tidak tahu alamat rumah Yunho.”

“Kau tahu bangunan gedung Apartemen Big East? Rumah Yunho nomor 50 di lantai 12.”

“Eum, aku akan datang. Pasti!”

.

.

“Kau sudah mempersiapkannya dengan baik. Sangat hebat!” pujian yang sebenarnya berupa sebuah sindiran itu Yoochun lontarkan ketika dirinya melirik Jaejoong yang masih mengawasi kepergian orang tua mereka.

Ya, begitu pulang dari sekolah keduanya langsung pergi ke Bandara untuk mengantar orang tua mereka yang akan pergi ke Jepang untuk urusan bisnis tanpa sempat berganti baju terlebih dahulu. Tetapi hebatnya, Jaejoong sudah menyuruh supir menjemputnya di bandara begitu orang tua mereka masuk ke terminal pemberangkatan. Luar biasanya Jaejoong sudah menyiapkan sebuah koper berisi baju dan sebuah koper berisi buku-buku yang diperlukannya satu bulan kedepan. Sepertinya keinginan Jaejoong untuk tinggal di rumah Yunho bukan main-main.

“Satu hal yang perlu kau ingat, begitu kau membawa yeoja itu pulang ke rumah dan menidurinya di sana. Aku akan langsung melaporkanmu pada Appamu.” Ucap Jaejoong tanpa menatap Yoochun, “Appamu bahkan lebih percaya padaku daripadamu.”

“Dasar iblis!”

“Aku yang kau bilang iblis ini pun sepertinya lebih baik daripada kau.” Jaejoong memutar tubuhnya, hendak berjalan pergi sebelum berujar, “Ah… jangan salahkan aku bila kau akan diserang nantinya. Aku sudah memperingatkanmu bukan? Berhati-hatilah pada pilihanmu. Jangan menyesalinya nanti.”

.

.

Di dalam mobil yang mengantarnya menuju apartemen baru Yunho, namja androgini itu menatap rintik gerimis yang mulai mengembun di atas permukaan jendela kaca mobil yang tengah melaju perlahan membelah jalanan kota Seoul yang sangat padat. Orang yang berlarian mencari tempat berteduh membuatnya memikirkan sesuatu.

“Yunie Bear…. Kenapa menjadi dewasa sangat menyebalkan? Kenapa menjadi dewasa penuh dengan masalah? Kenapa menjadi dewasa terasa sangat berat dan menyedihkan? Kenapa luka itu kian melebar seiring bertambahnya usia kita? Apakah sihir peterpan tidak lagi mempan atau kekuatannya semakin pudar seperti kebahagiaan yang dulu mengikat kita?” batin Jaejoong saat perasan sesak itu kembali menyergap hatinya.

.

.

TBC

.

.

Tuesday, April 01, 2014

9:32:36 PM

NaraYuuki

12 thoughts on “Always Keep The Faith! V

  1. apa yg mau diajarin jaema ke suie iia eon?
    kyk na mendepak pacar na chunnie iia
    ternyata selama ini jaema gg bahagia kyk na pilihan eomma na iia

  2. sedih bngt kyaknya jdi umma
    tpi ak pnsaran apa yg bkin umma berubah dratis
    apa karena umma kim nikah lgi
    umma mw ngajarin apa ma junchan

  3. bener bgt tuch kata2 terakhir,..menurutku semakin dewasa semakin banyak masalah yg harus ditanggung dan memikirkan masa depat.
    lanjut

  4. saya setuju denganmu jaejongie… dewasa itu menyebalkan… semakin tua semakin banyak beban yg mnanti… tp klo qt gx mau melaluinya bgaimna qt bisa menghadapi hidup yg keras n kejam ini??? bkankah masalah harus dihadapi bukan dihindari??? masalahku juga adalah menjadi dewasa… tp selama proses menuju kedewasaan bknkah harus mencoba memberikan yg terbaik… #galau

  5. -Haaah~ itulah resiko hidup , bersabarlah pasti setiap masalah ada jalan keluarnya
    -oh Jae apa yg akan kau ajari kpd Suie, ngerokok enggak, berkelahi kaga, lantas?

  6. Ping-balik: Always Keep The Faith! V | Fanfiction YunJae

  7. kenapa yoochun dimarahin??
    trs kenapa atuh mommy jadi kek gitu??
    padahal kek’a dy tetep paling disayang sama keluarga’a yg sekarang??
    aigo, mommy, junsu mau diajarin jadi jahat kek gimana??
    bener2 dech mommyku ini, kau malaikat berhati iblis yg paling kusayang.. ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s