Always Keep The Faith! IV


Tittle                : Always Keep The Faith!

Author              : NaraYuuki

Genre               : Family/ Romance

Rate                 : -M

Cast                 : All Member DB5K

Disclaimer:       : They are not mine but this story is mine, NaraYuuki

Warning           : Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut.

.

.

.

.

.

Yang jelek-jelek jangan ditiru ne😉

.

.

AKTF

.

.

Namja itu masih memandangi namja jangkung yang duduk dengan menundukkan kepalanya di hadapannya seolah-olah meneliti dan memastikan dari mana datangnya namja jangkung asing yang sama sekali belum pernah dilihatnya itu.

Yah! Berhentilah memasang ekspresi seperti itu, Kim Junsu!” omel Yoochun yang risih juga melihat cara Junsu menatap namja jangkung yang katanya adalah adik Yunho. Entah adiik dari mana.

“Kau pasti sangat pintar hingga bisa mengikuti program akselerasi di sekolahmu yang dulu. Usiamu baru enam belas tahun, kan? Artinya kau lompat dua kelas? Woah…. Daebak!” puji Junsu.

Yah! Park Jaejoong! Semalam kau menginap di rumah Jung Yunho lagi? Kenapa tidak menelponku, huh?” tanya Yoochun yang melihat Jaejoong berjalan ke arah mereka sambil menenteng tas kertas yang berisi pakaiannya kemarin. Jaejoong baru saja selesai mengganti bajunya dengan seragam sekolah yang Junsu bawakan.

Bukannya menjawab pertanyaan Yoochun, namja cantik itu langsung duduk di samping Junsu dan memakan bekal yang dibawanya dari rumah Yunho. Tentu saja bekal buatannya sendiri.

Yah! Jangan mengabaikan kakakmu ini!” omel Yoochun, “Gara-gara kau pagi ini aku terpaksa bangun lebih awal karena Junsu sangat berisik menanyakan dimana kamarmu untuk mengambil seragam dan bukumu.” Ceritanya.

“Kamarmu sangat rapi.” Puji Junsu yang tanpa permisi mengambil sebuah telur gulung milik Jaejoong, “Woah mashita…. Joongie ya, kau membuatnya sendiri? Lain kali aku juga mau dibuatkan bekal.”

“Kalau kau mau kau bisa memakan bekalku, Junsu.” Yunho menyodorkan kotak bekalnya.

Jeongmal?” tanya Junsu.

“Tentu saja.”

“Wah, jeongmal gomawo!” Junsu mengambil kotak bekal Yunho, membukanya dan tanpa sungkan memakan isinya, “Woah, mashita….”

Yah! Kali ini apa alasannya hingga kau menginap di rumah Yunho tanpa bilang padaku? Kita bahkan tidak bertemu sejak kemarin pagi. Kau berniat kabur?” Yoochun masih menatap sengit adik tirinya yang terus saja tak acuh padanya (tidak memedulikan).

“Sebuah situasi genting terjadi.” Sahut Yunho santai sambil meminum kopi kalengnya.

“Situasi apa?”

Namja jangkung yang sejak tadi diam itu melirik ke arah Yunho takut-takut kemudian mengalihkan perhatiannya ke arah Jaejoong yang ternyata menangkap basah perbuatannya tadi. Changmin sedikit segan pada namja cantik yang ternyata sangat garang itu. Pagi tadi dirinya mendapat tamparan keras dari Jaejoong ketika menolak pergi sekolah bersama. Seumur hidupnya baru kali ini ada orang yang berani menamparnya. Dan tamparan Jaejoong sungguh sangat menyakitkan.

“Tidak tahukah kau kalau kemarin Jaejoong membuat seorang anak kelas satu mengalami gegar otak dan berdarah? Ah, jangan lupakan anak-anak lain yang dihajarnya juga entah karena hal apa.” Cerita Yoochun tanpa diminta.

Mata setajam musang itu menatap lekat Jaejoong yang masih menikmati makan paginya di kantin yang masih sangat sepi itu, tidak memedulikan tatapan tajam nan menusuk milik Yunho yang menuntut penjelasan.

“Bukan salah Joongie.” Sahut Junsu sambil berusaha menelan makanan yang sudah dikunyahnya, “Aku berada di sana saat itu. Joongie… dia hanya membela dirinya sendiri dan membelaku.”

Yunho dan Yoochun menatap Junsu.

“Kau tidak mengatakan hal itu kemarin.” Ucap Yoochun.

“Karena kau tidak bertanya baik-baik padaku.” Sahut Junsu.

“Sepertinya kau berhutang penjelasan padaku.” Ucap Yunho yang kembali menatap tajam Jaejoong.

“Biarkan aku menyelesaikan makananku dengan tenang. Jangan mengusikku dan berhentilah mengulitiku dengan matamu itu!” Jaejoong membalas Yunho dengan kalimat yang terlontar sangat dingin dari sepasang bibir merah merekah itu.

Namja jangkung yang hanya diam itu melirik Jaejoong. Semalam dirinya mendengar erangan dan jeritan namja cantik di hadapannya itu dari arah kamar Yunho karena mereka memang berada di dalam kamar yang sama. Entah apa yang mereka lakukan semalam. Hanya saja yang membuatnya binggung adalah sebuah kenyataan aneh. Jung Yunho yang lebih terkenal dengan sebutan anak berandalan biang keonaran tetapi kenapa justru namja cantik itu yang terlihat jauh lebih berbahaya daripada Yunho sendiri?

Itu sedikit memusingkan.

“Jangan menatapnya terus atau kau akan jatuh cinta nantinya.” Ucap Yunho sambil menepuk-nepuk bahu Changmin yang tersentak kaget, “Ayo! Akan ku antar kau ke ruang guru agar kau tahu di kelas mana kau akan ditempatkan.” Ucap Yunho yang kemudian beranjak dari duduknya diiukuti Changmin yang membuntutinya dalam diam sambil menundukkan kepalanya dalam.

“Cih! Apa aku terlihat seperti berteman dengan si badung itu?” tanya Yoochun. “Beberapa hari ini banyak yang bertanya soal itu padaku.”

Junsu menggangguk pelan, “Kalian bisa jadi teman yang cocok.” Sahutnya.

“Dalam mimpi.” Yoochun beranjak dari duduknya, “Ah…. Aku lupa kalau hari ini aku akan menemani Jia belanja. Akan ku temui dia….” sambil bergumam Yoochun menyenenandungkan sebuah lagu dan berjalan meninggalkan Junsu dan Jaejoong yang sedang menikmati makan pagi mereka.

“Jia? Nugu?” Junsu menatap Jaejoong binggung.

Yeoja yang sejak minggu lalu berkencan dengannya.” Jawab Jaejoong.

“Eh?” Junsu terdiam beberapa saat, “Begitu….” lirihnya.

Jaejoong hanya melirik Junsu tanpa berkata apa-apa dan tetap memakan makanannya.

.

.

Berjalan dengan anggun di sepanjang koridor sekolah, mengabaikan tatapan menusuk dan iri dari para yeoja, mengabaikan tatapan jijik dan meremehkan dari para namja, Jaejoong tetap melangkahkan kaki jenjangnya menuju salah satu kelas yang berada di lantai lima itu. Diedarkan pandangannya ketika tidak mendapati orang yang dicarinya.

“Kemana dia?“ Gumamnya yang kemudian melangkahkan sepasang kaki jenjangnya ke arah tangga. Langkahnya terhenti ketika menemukan orang yang dicarinya duduk diam di atas salah satu anak tangga. “Di sini kau rupanya. Ikut denganku sebelum kau dikuliti para iblis bertubuh manusia itu!” perintahnya yang kemudian berjalan menuruni tangga.

.

.

“Kau… tidak normal!” namja jangkung itu menunjuk Jaejoong menggunakan jari telunjuknya. Walaupun raut wajahnya masih menunjukkan ketakutan tetapi ada bara keberanian yang tersembunyi dibalik mata muramnya.

“Aku sudah sering mendengar hal itu. Lalu apa masalahnya denganmu?” tanya Jaejoong yang berjalan mendekati sebuah piano tua yang masih berfungsi dengan baik. Namja cantik itu memang sengaja mengajak Changmin ke ruang musik lama yang terlupakan keberadaannya mengingat kini sekolah mereka sudah membangun sebuah gedung studio yang lebih baru, canggih dan lengkap.

“Kau…. Semalam, apa yang kau lakukan dengan Yunho hyung?”

“Hm? Apa itu menjadi urusanmu sekarang? Karena kau tiba-tiba saja menjadi adiknya lalu kau pura-pura peduli padanya? Seperti itukah?”

“Ak…  aku tidak berpura-pura!”

“Kau tahu apa yang kami lakukan. Kenapa? Kau merasa keberatan dengan itu semua?”

“Ja… jauhi Yunho hyung!”

“Kau terlihat seperti seorang kekasih yang tengah cemburu.”

“Bisakah kalian jangan terlalu berisik?” sebuah suara menginterupsi pembicaraan Jaejoong dengan Yunho.

“Tidurlah di UKS!” perintah Jaejoong tanpa melihat siapa pemilik suara itu.

“Kau bilang kau benci bau obat-obatan karena itu aku tidak ke sana.” Yunho memiringkan tubuhnya. Tidur di kursi keras yang disejajarkan benar-benar membuat tubuhnya pegal, tetapi setidaknya itu bisa membantu mengurangi sedikit rasa kantuknya, “Lagi pula seosengnim akan menemukanku bila aku ke sana. Dan Changmin…. Akulah yang tidak normal karena aku tidak bisa hidup tanpa Jaejoong. Akulah yang sudah menyeretnya dalam ketidaknormalan ini.”

“Tapi kalian salah! Hyung harusnya menjauhi namja jalang ini bukannya semakin terjerumus bersamanya!” pekik Changmin histeris.

Brak!

Sebuah kursi bergeser dan membentur dinding dengan sangat keras akibat ditendang oleh Yunho, “Permasalahan ini tidak seperti yang kau lihat Changmin.” Ucap Yunho dingin. Tubuhnya kini sudah terduduk dengan mata nyalang menatap Changmin, “Kau terlalu banyak bicara sekarang. Peersoalan yang mengikatku dan Jaejoong bukan hanya soal kenormalan dan ketidaknormalan dimatamu. Lebih dari itu….” namja bermata musang itu beranjak dan berjalan menuju ke arah Changmin dan Jaejoong berada. Walaupun wajahnya terlihat masih mengantuk namun raut marah itu tidak bisa disembunyikan dari wajah tampannya.

Jaejoong berjalan ke arah Changmin, berdiri di hadapan namja jangkung itu, memblokir Yunho yang berjalan dengan sorot kemarahan terhadap adiknya sendiri, “Sudah!” Dicengkeramnya blezer hitam Yunho pada bagian dada hingga menimbulkan beberapa kerutan, “Yunho, sudah!”

Yunho menepis tangan Jaejoong, menggeser tubuh namja cantik itu kemudian berjalan mendekati Changmin, “Tarik kata-katamu!” perintah Yunho.

Changmin yang kebinggungan hanya bisa menatap Yunho dengan kening berkerut.

“Tarik kata-katamu yang mengatakan bahwa dia adalah namja jalang!” dicengkeramnya kuat-kuat kerah kemeja seragam Changmin dengan sangat erat, “Kau tidak tahu apa-apa soal kami, Brengsek! Jaga ucapanmu!”

Buk!

Kepalan tinju Yunho mendarat sempurna di wajah Changmin, membuat pipi namja jangkung itu sedikit memar dan bengkak, bibirnya sobek dan mengeluarkan sedikit darah. Dari hidungnya keluar darah yang mengalir deras. Changmin mimisan.

“Jangan!” Jaejoong menghambur memeluk Yunho dari belakang, berusaha sekuat tenaga mencegah Yunho yang hendah kembali melayangkan tinjunya untuk memukul Changmin, “Ani! Dia adikmu, Yunho…. Sudah…. Biar aku yang menghajarnya nanti.”

Yunho mendang kursi di sampingnya sepenuh hati hingga punggung kursi yang membentur tembok itu patah, “Berani sekali lagi kau mengatakan kalimat laknat seperti tadi, dengan senang hati aku akan menyiapkan liang lahat untukmu.” Ucapnya. Dilepaskannya pelukkan Jaejoong dan berjalan pergi meninggalkan ruang tua itu dengan penuh amarah, Yunho bahkan sempat menggebrak daun pintu hingga menimbulkan retakan di atas permukaannya.

Jaejoong melirik Changmin sekilas, “Baru tinggal bersama selama beberapa hari bukan berarti kau mengenal baik dirinya.” Ucapnya lebih kepada dirinya sendiri, “Bangunlah! Kita obati lukamu.” Perintahnya.

.

.

Omo…. Ck…. Apa yang sudah kau lakukan sehingga Yunho menghajarmu seperti itu, huh?” tanya Junsu yang mengamati wajah memar Changmin, “Belum satu hari menjadi murid Cassiopeia kau sudah membuat masalah pada ketua berandalan di sini. Ckckckck… ternyata Yunho tidak pandang bulu. Adiknya sendiri pun dihajarnya. Aigoo!”

Changmin kembali menundukkan kepalanya, keberaniannya yang meledak di ruang musik tua tadi lenyap entah kemana. Ketakutan menyergap hatinya. Jung Yunho mulai menunjukkan taring berbahayanya. Changmin harus berhati-hati mulai sekarang.

Yah! Kim Junsu bisakah kau tidak berisik?”

Junsu mengulurkan sebatang permen loli pada Jaejoong, “Yunho menitipkan padaku tadi sebagai pengganti rokok.” Ucapnya, “Lagi pula Yoochun sedang menghabiskan waktunya bersama Jia. Aku tidak mau mengganggu mereka. Aku lebih memilih mengganggumu.” Junsu tersenyum lebar.

Sedikit kasar Jaejoong merampas permen loli berwarna cerah itu dari tangan Junsu, mengupas kulitnya sebelum mengulumnya dalam, “Kalau kau menyukainya kenapa kau tidak mengatakannya. Sekarang apa yang akan kau lakukan? Meratapi semuanya? Terluka ketika melihatnya bersama yeoja lain? Menyedihkan….”

“Joongie ya….” lirih Junsu.

“Ada yang salah dengan perkataanku?” Jaejoong menatap Junsu.

Yah kalian! Cepat kembali ke kelas! Biarkan Shim Changmin beristirahat di sini, kalian… Kim Junsu dan Park Jaejoong cepat kembali ke kelas!” omel guru penjaga UKS.

“Memang bel sudah berbunyi ya?” tanya Junsu.

“Sudah lima menit yang lalu.” Jawab Jaejoong.

Aigoo! Seharusnya waktu istirahat ditambah, setidaknya sepuluh menit atau tiga puluh me….”

Yah Kim Junsu! Cepat Pergi!” omel sang seosengnim, “Kau juga Park Jaejoong.” Perintahnya.

“Namaku Kim Jaejoong.”

.

.

Bukannya pergi ke kelasnya, Jaejoong justru berjalan menapaki tangga yang akan membawanya ke arah atap. Hari ini akan menjadi hari yang berat. Selain terlibat dalam gelombang bermasalahan antara Yunho dan Changmin, dirinya juga harus mempersiapkan diri, kembali memasang topengnya karena ibunya hari ini pulang dari Jeju bersama dengan ayah Yoochun yang kini menjadi ayahnya juga. Tetapi entah kenapa Jaejoong sama sekali kurang nyaman dengan semua ini. Hubungannya dengan Yoochun yang beberapa hari terakhir ini mulai membaik sepertinya akan kembali mendingin.

Stret!

Doe eyes Jaejoong membulat saat seseorang menarik lengannya dan menyambar bibir merah merekahnya setelah terlebih dahulu menutup dan mengunci pintu yang menghubungkan atap dengan anak tangga. Permen loli malang itu jatuh begitu saja ketika lengan Jaejoong melingkari leher jenjang berwarna Tan itu erat. Menyalurkan hasrat kepedihan dan kegundahan yang meliputi hatinya.

.

.

Mata gelap itu terbuka, menatap langit yang sudah berwarna jingga. Angin kering yang berhembus terasa panas sekaligus dingin diwaktu yang bersamaan. Kepalanya menoleh ke arah samping dimana seorang namja tengah tersenyum hangat padanya.

“Tuan putri cantikku sudah bangun?”

“Aku benci bila kau memperlakukanku seperti yeoja!” omelnya tanpa berniat bangun dari posisi tidurnya, “Berapa lama aku tertidur?”

“Beberapa jam. Beberapa kali telponmu berbunyi. Yoochun dan Junsu yang menelponmu.”

“Kau sedikit kasar tadi….” keluh Jaejoong tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah tampan itu.

“Maafkan aku. Aku sedang terbawa emosi.” Sesal Yunho, “Aku tidak suka bila ada orang yang menghinamu.”

“Terlalu banyak orang yang mengatakan hal itu padaku, sehingga kau terlalu banyak menghajar orang dan membuatmu dicap sebagai berandalan brengsek yang selalu membuat onar.”

“Aku tidak keberatan dengan semua itu asal nama baikmu tetap bersih.”

Jemari pucat Jaejoong membelai wajah tampan itu pelan, “Kau terlalu baik untuk orang sebrengsek aku.”

“Tidak. Aku yang brengsek bukan kau.” Sahut Yunho, “Jadi apa yang ku dengar itu benar soal kau yang menghajar anak kelas satu hingga bersimbah darah?”

“Ya. Dia bilang ingin menghamiliku.” Ucap Jaejoong, “Walaupun itu hanya lelucon aku tidak bisa menerimanya, karena yang boleh menyentuhku hanya Jung Yunho seorang.”

“Kau mulai menggodaku, huh?”

“Merasa tergoda hm?”

“Tentu saja….”

“Sayang kau harus mengantarku pulang walau sebenarnya aku enggan pulang.”

“Apakah hari ini hari kepulangan mereka?”

Jaejoong mengganggukkan kepalanya pelan, “Hari yang sangat membosankan.”

Yunho membantu Jaejoong untuk duduk, meraih kemeja seragam namja cantik itu dan membantunya memakai kemeja yang sudah agak kisut itu, mengancingkan satu per satu kancingnya.

“Aku ingin pulang ke rumahmu.” Ucap Jaejoong.

“Kau bisa melakukannya ketika kita sudah lulus nanti, ketika kita sudah tidak terikat dengan belenggu anak-anak yang memasung kita….”

“… ketika keluarga tidak terlihat berharga lagi, bukan?”

“Saat itu kita akan dengan leluasa menunjukkan pada dunia siapa diri kita sebenarnya.”

Yunho mengusap helaian hitam legam itu pelan. Seperti apa masa depan mereka nanti setidaknya mereka harus menjalani hari ini dan esok hari sebaik-baiknya.

.

.

TBC

.

.

Sunday, March 30, 2014

7:44:26 PM

NaraYuuki

16 thoughts on “Always Keep The Faith! IV

  1. Baru shim changmin yg dihajar krn lancang mengucapkan jae jalang.
    Kuharap akan banyak lagi yg dihajar seorang Jung Yunho krn sdh mengatakan hal2 buruk tentang jae.
    Harapanku epep ini menjadi kenyataan di dunia yunjae. Yunho tanpa ragu lagi mengumumkan kalau jae miliknya❤

  2. abis bljr matematika, naruh buku, buka hp, buka wp Yuuki eonnie, ehh udh update AKTF nya… xixixixi
    smoga try out besok rumus matematikanya gg ilang dr otak ku…
    itu td d ata ngapain ?? #mikirkeras

    ahh aug ahh…
    yg penting lanjutt ne eonn

  3. updatenya cpetttt gomawo eon
    changmin gak tau apa2 mlah ngatain umma dpan appa
    eh yoochun straight disni?? kirain bkalan sma junchan
    appa jdi berandalan karena belain umma

  4. unnie ada typo, waktu di ruang musik.
    “Bisakah kalian jangan terlalu berisik?” sebuah suara menginterupsi pembicaraan Jaejoong dengan Yunho. bukannya Yunho harusnya di ganti Changmin ya?
    Siders yang tobat karena penasaran dengan masalah diantara mereka.
    suka banget dengan kalimat: “….Peersoalan yang mengikatku dan Jaejoong bukan hanya soal kenormalan dan ketidaknormalan dimatamu. Lebih dari itu….” menurut Saki ini mewakili kenapa para homoseks dan incest memilih memiliki hubungan yang menentang moral dan agama. dan kita sebagai penonton gak bisa sembarangan ngejudge mereka.
    kira2 ada apakah dengan hubungan bumonim2nya JaeChun? kenapa Jae rasanya sangat terganggu dengan itu? wah jangan2 bumonimnya JaeChun incest lagi #plak abaikan
    Saki menunggu FF Yuuki unnie, penasaran juga sama yg GS, apakah masalahnya bakal sama hanya dirubah menjadi GS? apakah si Jae di FF GS juga jago berantem?
    ah unnie, lope2 dah sama FF unnie yang satu ini… bener2 penasaran

  5. -anak² kelas satu yg kurang ngajar itu pantas di hajar /emosi/
    – Ah Chwang gak salah deh kalau di hajar Yun, kamunya ngomongnya asal sih, mereka punya alasan yg kuat di balik ‘hitam’ mereka, saling melindungi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s