Always Keep The Faith! III


Tittle                : Always Keep The Faith!

Author              : NaraYuuki

Genre               : Family/ Romance

Rate                 : -M

Cast                 : All Member DB5K

Disclaimer:       : They are not mine but this story is mine, NaraYuuki

Warning           : Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut.

.

.

.

.

.

Yang jelek-jelek jangan ditiru ne😉

.

.

AKTF

.

.

“Joongie ya, berhentilah merokok!” ucap Junsu ketika memergoki Jaejoong merokok di atas atap gedung sekolah mereka saat Junsu mengekori namja cantik itu begitu bel istirahat berbunyi.

Jaejoong mematikan puntung rokoknya yang masih separuh itu, “Nedia akan menjadi anak baik bila aku berhenti merokok. Aku akan mencobanya.” Sahut Jaejoong yang mendatangkan kerutan pada kening Junsu, “Kau punya permen?”

“Huh? Permen?”

“Lupakan!” namja berparas cantik itu melangkah pergi meninggalkan Junsu yang masih memasang wajah binggungnya.

“Jaejoongie, tunggu!” Junsu berlari, mengejar Jaejoong. Sedikit tergesa menuruni tangga yang menghubungkan atap dengan lantai di bawahnya. Senyum terkembang ketika melihat Jaejoong masih berdiri di atas anak tangga terakhir.

“Kim Jaejoong? Anak kelas tiga yang sangat cantik itu? Apa kau pikir dia normal? Mana ada namja yang memiliki kecantikkan melebihi yeoja? Ku pikir dia melakukan operasi pada wajahnya.”

“Aku setuju. Dia sangat kaya sehingga tidak mungkin dia tidak melakukan permak pada wajahnya itu. Cih! Menjijikkan….”

“Apa kalian pikir dia normal? Maksudku, apa menurut kalian dia bisa menghamili yeoja?”

“Ku pikir justru dia yang akan dihamili… ahahahahahahhaha…. Dan aku sama sekali tidak keberatan bila harus menghamilinya.”

“Joongie….” lirih Junsu yang mendengar apa yang gerombolan anak kelas satu itu bicarakan, “Joo….” Junsu nyaris mencekal lengan Jaejoong jika namja cantik itu tidak terlebih dahulu berjalan mendekati gerombolan anak kelas satu itu kemudian menjambak rambut salah satu dari anak yang berada paling belakang.

“Kau ingin menghamiliku?” tanya Jaejoong dengan senyum menawannya, “Lakukan saja bila kau bisa!” usai berkata seperti itu Jaejoong menyeret anak malang itu dan membenturkan kepalanya ke tembok berulang-ulang dengan sangat keras hingga menimbulkan suara debuman, membuat kening anak itu mengalirkan darah segar. Sementara teman-teman anak itu hanya bisa memandang ngeri pada sosok cantik yang kini menjelma menjadi seorang lucifer itu.

“Joongie! Hentikan!” Junsu memeluk tubuh Jaejoong dari belakang.

“Lepaskan aku Kim Junsu!” perintah Jaejoong dengan nada dinginnya.

“Kau bisa membunuhnya Joongie! Sudah….” Junsu yang ketakutan mulai terisak.

“Aku memang ingin membunuh mereka satu per satu.” Ucap Jaejoong sambil menatap tajam gerombolan anak kelas satu yang tadi menghinanya, sekarang mereka begitu ketakutan dengan nyali menciut.

Ani….” Junsu menggelengkan kepalanya pelan.

“Tidak tahukah kau kalau mereka pernah mengatakan kau ini mirip badut sirkus yang tidak laku?” tanya Jaejoong.

“Aku tahu…. Aku tahu.” Jawab Junsu cepat.

“Tahukah kau kalau mereka pernah bertaruh, siapa yang bisa meraba pantat dan dadamu akan mendapatkan uang seratus ribu won?” Jaejoong tersenyum mengejek.

Mwo?” mata Junsu yang sedang berkaca-kaca membulat kaget.

Jaejoong menghempaskan kepala anak yang tadi dicengkramnya membuat anak itu terhunyung ke lantai dengan wajah dipenuhi oleh moda darah, sedikit kasar Jaejoong melepaskan pelukan Junsu pada tubuhnya. Berjalan menghampiri gerombolan anak kelas satu yang masih menunjukkan kepalanya dalam itu. Melayangkan pukulan pada salah satu anak kemudian menendang perut anak yang lain.

“Haruskah aku memberitahu kalian? Untuk urusan seperti ini tenagaku jauh lebih kuat daripada Jung Yunho! Jadi lain kali bila kalian punya masalah padaku, katakan langsung di depanku. Jangan membuatku marah!” ucap Jaejoong, “Ah…. Aku membutuhkan permen.” Ucapnya sebelum pergi begitu saja.

“Joongie….” Junsu segera berlari mengejar Jaejoong, membiarkan gerombolan anak kelas satu itu menolong teman mereka yang sudah pingsan bersimbah darah.

.

.

Brak!

Meja kantin yang malang itu dipukul kuat-kuat oleh Yoochun, mendatangkan suara nyaring yang membuatnya menjadi perhatian para siswa yang berada di sana, “Kau membuat seorang anak kelas satu pingsan karena kehabisan darah? Bagaimana kalau dia gegar otak huh?”

“Apakah aku melakukannya?” tanya Jaejoong yang sibuk mengulum permen loli besarnya. Hal tidak biasa yang belum pernah terjadi sebelumnya.

“Yang ku herankan, kenapa kau berada di sana bersama iblis cantik ini, huh?” Yoochun memelototi Junsu yang sedang meminum minuman sodanya, “Kau menjadi saksi dan menjelaskan bahwa anak itu jatuh dari tangga? Astaga!”

“Pantas saja kau terlihat lebih tua dari usiamu. Berhentilah marah-marah! Kau bisa terkena serangan jantung.” Sindir Jaejoong.

“Park Jaejoong!” bentak Yoochun.

“Kim Jaejoong.” Ralat Jaejoong.

Yoochun menhela napas dalam-dalam, “Astaga! Pengaruh Jung Yunho padamu sungguh luar biasa.”

“Jangan ragukan itu.” Sahut Jaejoong.

“Itu bukan pujian!” omel Yoochun.

Junsu mengulurkan minuman sodanya pada Yoochun, “Joongie benar. Jangan marah-marah, tidak baik untuk tekanan darahmu.”

“Kalian membuatku gila!” Yoochun meraih minuman yang diulurkan oleh Junsu dan menegaknya hingga habis. “Sejak kapan kalian menjadi akrab, huh?”

“Joongie boleh aku minta permenmu satu?” tanya Junsu yang tidak memedulikan pertanyaan Yoochun.

“Ambil saja.” Sahut Jaejoong, “Ah…. Aku merindukan Jung satu itu. Haruskah aku menyusulnya?” gumamnya.

“Sekarang kalian mengabaikanku?” Yoochun menatap sengit kedua namja beda sifat yang berada di hadapannya itu, “Yah! Jangan mengabaikanku! Aish!”

“Joongie ya, besok hari minggu. Kau mau pergi belanja denganku?” tanya Junsu lebih kepada sebuah ajakan tersirat.

“Aku akan ke rumah Yunho.” Jawab Jaejoong.

“Tidak boleh! Kemarin kau sudah menginap di rumahnya!” larang Yoochun.

“Aku tidak membutuhkan persetujuanmu sama sekali.” Sahut namja cantik itu.

Yah!”

Junsu memasukkan sebuah permen loli ke dalam mulut Yoochun, “Boleh aku ikut?” tanyanya.

“Lain kali aku akan menemanimu belanja. Ada urusan dengan Jung Yunho yang harus ku selesaikan.” Jaejoong berdiri dari duduknya, “Semua permen loli itu untukmu saja.” Ucapnya sebelum pergi.

Yah Kim Junsu! Apa maksudmu, huh? Kenapa kau memasukkan permen ke dalam mulutku?” tanya Yoochun sedikit garang.

“Chunie ya….” panggil Junsu, “Persahabatan seperti apa yang Yunho dan Jaejoong ikat? Kenapa mereka bisa melengkapi satu sama lain?” gumamnya.

“Huh?”

Ani.” Junsu menggelengkan kepalanya pelan, meraup permen loli yang ditinggalkan oleh Jaejoong, “Ku rasa aku akan menyimpannya sebagai bukti bahwa Joongie sudah mengganggapku sebagai temannya.”

“Kau akan menyesal bila berteman dengannya.” Timpal Yoochun, “Adikku itu seperti seekor gajah liar yang bisa mengamuk kapan saja ketika moodnya sedang tidak baik.”

“Dan itu yang membuatmu menyayanginya, kan? Aigoo! Aku jadi ingin punya saudara.” Junsu mengela napasnya.

“Mintalah Ummamu untuk menikah lagi!”

Umma tidak mau melakukannya.” Sahut Junsu sedih. Hidup berdua bersama Ummanya kadang sangat membosankan, “Chunie ya….”

“Hm?”

“Apa menurutmu aku terlihat seperti badut?”

“Huh?”

“Lupakan!”

.

.

Jaejoong tersentak kaget ketika di depan pintu suram itu sudah duduk seorang namja jangkung yang meringkuk dan menenggelamkan kepalanya disela-sela kakinya yang tertekuk. Tanpa memedulikan namja itu Jaejoong segera mengeluarkan kunci dari sakunya dan membuka pintu itu. Doe eyesnya sedkit membulat ketika ada banyak tas dan koper yang menyambutnya di depan pintu.

“Bisa kau jelaskan apa maksud semua ini?” perintahnya pada namja yang sedang sibuk mengepak barang, “Dan siapa orang itu?”

“Oh, kemarilah! Bantu aku berkemas!” pinta Yunho.

“Kau mau pindah?”

“Ya. Apartemen ini akan terasa sangat sempit bila dihuni dua orang, ah… tiga bila kau juga menginap jadi bantulah aku.”

“Akan pindah kemana? Dan siapa namja itu? Jawab aku!” perintah Jaejoong.

“Oh, tidak bisakah kau membantuku berkemas dulu, hm? Setengah barang-barang ini adalah milikmu.” Keluh Yunho.

Jaejoong berjalan menghampiri Yunho, beberapa kali namja cantik itu tersandung tas dan koper yang berserakan di lantai. Begitu sampai di dekat Yunho, Jaejoong segera menarik kasar tangan kanan Yunho, memaksa namja bermata musang itu untuk berdiri.

Yunho menghela napas, “Bantu aku berkemas dulu baru aku akan menceritakan semuanya.” Ucap Yunho, dikecupnya bibir merah merekah itu mesra.

Dengan sengaja Jaejoong menendang koper berisi baju-baju yang sedang Yunho rapikan hingga isinya kembali berceceran di atas lantai.

Yunho mendesah kesal.

“Kita berdua tahu aku tidak suka menunggu.” Ucap Jaejoong dingin, “Katakan!” perintahnya.

Yunho hanya menatap doe eyes itu lekat-lekat.

“Kau bilang akan pergi selama beberapa hari, tetapi kenapa hari ini kau sudah berada di sini? Kenapa kau sudah berkemas? Bagaimana bila aku tidak datang? Aku tidak akan tahu bila kau pindah.”

“Kau akan tahu karena aku pasti memberitahumu.”

“Jadi?”

“Aku pulang untuk kembali diusir.”

Alis Jaejoong bertaut.

“Sudah ku katakan akan ku jelaskan nanti, sekarang bantu aku berkemas sebelum mobil pengangkut barang datang!”

Namja itu bukan simpananmu kan?”

“Oh Boo Jaejoongie…. Kau bisa bertanya padanya sendiri daripada kau mencurigaiku terus.”

“Akan ku tanyakan kalau begitu!” Jaejoong hendak beranjak namun Yunho sudah mencekal lengannya.

“Bantu aku dulu!”

.

.

Perabotan yang dulu Yunho beli seperti lemari es, lemari baju, lemari makanan, rak buku, rak sepatu, sofa dan tempat tidur diangkut bersama bertumpuk-tumpuk tas dan koper oleh jasa angkut barang. Siapa sangka apartemen sekecil itu bisa menampung barang-barang yang cukup banyak, hanya saja setengah dari barang itu adalah milik Jaejoong.

Sementara itu Jaejoong, Yunho dan namja aneh yang terus menundukkan wajahnya itu naik mobil milik Jaejoong ketika mendatangi tumah Yunho tadi. Sepanjang perjalanan Jaejoong terus melirik dan menatap namja aneh yang duduk di sampingnya, Jaejoong menyuruh Yunho duduk di kursi samping supir. Sebenarnya itu hanyalah alasan agar Yunho tidak berdekatan dengan namja aneh itu sebelum Jaejoong tahu jati diri dan latar belakang namja itu.

“Kau siapa?” tanya Jaejoong, “Kau jelas tidak bisu, kan? Jawab aku sebelum aku menghajarmu!” ancam Jaejoong.

“Jangan terlalu ke….”

“Aku tidak bicara padamu Jung Yunho!” ucap Jaejoong dengan suara ketusnya, “Kau punya mulut? Katakan!”

“Shi… Shim… Shim Changmin.” Gagap namja jangkung itu dengan suara bergetar.

“Shim Changmin? Itu namamu? Apa hubunganmu dengan Yunho?” tanya Jaejoong.

“Kita sudah membahasnya tadi, aku akan menjelaskan semuanya nanti ketika kita sudah sampai ditujuan.” Sahut Yunho, “Biarkan dia sendirian, Jae.”

“Jae?” Jaejoong mendengus sebal. Bila Yunho sudah memanggilnya seperti itu berarti namja bermata setajam musang itu tengah kesal padanya. Jaejoong memilih mengalihkan pandangannya ke luar, melihat hiruk-pikuk jalanan yang dipenuhi para pejalan kaki.

.

.

Namja cantik itu berdiri dengan angkuhnya, tanpa sedikit pun membantu kerpotan Yunho yang sedang mengatur para orang yang membantunya pindah rumah. Apartement baru Yunho kali ini memang sedikit lebih besar dari sebelumnya dengan tiga ruang tidur berukuran cukup besar, satu kamar mandi, satu dapur yang menyatu dengan ruang makan dan ruang tamu. Tetapi tetap saja apartemen itu bukanlah sebuah apartement mewah, hanya apartemen biasa yang ukurannya lebih besar dari yang sebelumnya.

Tidak jauh berbeda dengan apa yang Jaejoong lakukan, namja jangkung yang diketahui bernama Shim Changmin itu pun hanya duduk diam sambil menundukkan kepalanya di samping rak sepatu di dekat pintu masuk. Sepertinya namja itu pun enggan membantu kerepotan yang Yunho tangani.

“Kamarku sudah agak rapi, istrirahatlah di sana. Kau terlihat lelah.” Ucap Yunho. Diusapnya helaian hitam legam namja cantik itu pelan.

Jaejoong menampik kasar tangan Yunho.

Yunho menghela napas panjang, “Setelah semua ini selesai aku akan menjawab semua pertanyaanmu.” Ucapnya.

Jaejoong melirik Yunho tajam, “Barang-barangku kau masukkan dimana?”

“Di kamarku.” Jawab Yunho.

“Baguslah….” sahut Jaejoong yang langsung pergi meninggalkan Yunho menuju kamar namja bermata musang itu.

“Changmin, kepak barangmu sendiri! Tidak ada pelayan di sini jadi uruslah urusanmu sendiri.” Ucap Yunho dengan suara lantang pada namja jangkung yang hanya mendongak sekilas sebelum kembali menundukkan kepalanya.

.

.

Dengan bantuan 20 orang pekerja akhirnya rumah baru Yunho layak ditinggali malam itu juga. Agak berantakkan dibeberapa sudut tetapi secara keseluruhan apartemen tiga kamar itu sudah bersih dan cukup rapi. Untuk makan malam Yunho memilih memesan pizza dan ayam goreng. Usai mandi Yunho mulai menjelaskan semuanya pada Jaejoong mengenai kenapa namja jangkung aneh itu harus tinggal bersama Yunho.

Jaejoong menatap aneh Changmin ketika namja jangkung itu memakan satu bungkus penuh ayam gorengnya dengan sangat lahap seolah-olah belum makan berbulan-bulan, “Jadi namja itu adalah adik tirimu yang berasal dari ibu yang berbeda?” tanyanya.

“Ternyata Appaku selama ini berselingkuh dengan yeoja lain. Sialnya yeoja itu adalah sahabat Ummaku sendiri yang tiga bulan lalu meninggal karena sakit.” Ucap Yunho, “Kau tahu? Ummaku syock ketika minggu lalu Appa mengakui hubungan gelapnya yang membuahkan anak sebesar itu.”

“Ironis.” Sahut Jaejoong, “Ummamu?” tanyanya.

Ummaku sedang dibawah pengawasan psikiater.” Jawab Yunho, “Sialnya namja brengsek itu mengusirku setelah menitipkan anak gelapnya dibawah pengawasanku. Dia pikir hidupku tidak sulit dengan semua tingkah brengseknya itu apa? Mengesalkan!”

“Jadi dia akan tinggal bersamamu mulai sekarang? Sekolahnya?”

“Mulai besok dia akan masuk sekolah kita.”

“Luar biasa….”

“Kau akan menginap?” Tanya Yunho.

“Akan ku lakukan.” Sahut Jaejoong, “Setidaknya aku tahu keberadaanku bisa sedikit meringankan bebanmu.”

“Bagaiman dengan Yoochun?”

“Dia tidak akan menyadari keberadaanku karena dia sedang berkencan dengan yeoja.”

“Seragammu untuk besok?”

“Junsu bisa mengurusnya untukku.”

Yunho tersenyum, “Kau berteman dengan Kim Junsu? Dia namja yang baik.”

Ani. Aku hanya kasihan padanya. Dan rasa kasihanku ini membuatnya berada dibawah pengawasanku.”

“Jangan malu mengakuinya.”

Ani.” Jaejoong berdiri dari duduknya, “Aku akan turun untuk menyuruh supirku pulang dan menjemput esok hari. Aku juga harus belanja untuk memasak sarapan kita besok.”

“Mau ku temani?”

“Urus saja adik barumu itu! Ah…. Sudah kau sampaikan salamku untuk adik perempuanmu?”

“Aku tidak sempat menemuinya.” Jawab Yunho, “Tapi dia pasti sudah tahu kalau kau peduli padanya.” Yunho menarik tangan Jaejoong, mencondongkan tubuh namja cantik itu ke arahnya sebelum mengecup bibir merah merekah itu lembut.

Changmin nyaris tersedak melihat pemandangan seperti itu tepat di depan matanya.

“Kau akan lebih sering melihat lebih daripada ini nantinya. Persiapkan dirimu atau kau akan gila karenanya.” Ucap Jaejoong sebelum melangkah pergi.

Hyung…. Dia…?”

Yunho tersenyum. Akhirnya setelah beberapa hari kebersamaan mereka dilalui dengan saling membisu namja jangkung itu mau juga membuka suara, “Dia sahabatku…. Sahabat dalam banyak hal tentu saja….”

.

.

TBC

.

.

Agak berat memang FF ini, tetapi semoga tidak membingungkan dan membosankan. Gomawo sudah mau baca :3

Selamat liburan >_<

.

.

Sunday, March 30, 2014

10:46:04 AM

NaraYuuki

18 thoughts on “Always Keep The Faith! III

  1. mianheee yuuki chan…uda chap 3 baru ripiuu..

    pertama : suka bgt karakter jae disini…gk unyu. mungil..cengeng dan sifat2 cute laen nya hehhehe….jae disini kuat bgt n cuek to the max..
    kedua : romance friendship ny dapat bgt…terutama bagian jae menjajah apartemen yunho wkkwkk…lucu n gemasin..

  2. what ? apa ? appa bilang umma sahabat ???
    shabat dlm ranjang jga eoh
    changmin kok kya trauma gtu
    nunduk trus
    gak kya karakter changmin di ff eon yg sblm2nya
    tpi ntr changmin bisa berbaur sma umma kn eon

  3. Enggak bingung kok bacanya eon. Umma nakal banget ga ada manis2nya. Tp kalau manis terus juga bosen ya?
    Imin oppa … siapan mentalmu ya. Banyak2 berdoa biar ga jantungan. Nae aja bingung ama yunjae. Ga pacaran tp kelakuan ky pasangan #geleng2.
    Lanjut eonni …

  4. wah keren makkin keren
    baru temen ternyata tapi kok haduh
    disini jeje dibuat gak manja yaw
    biasanya soalnya namja akut
    dari baca 3 chap ini masih penasaran sama 1 kalima
    “dia akan menjadi anak baik” jika jeje gak ngerokok

  5. -Hubungan yg tidak biasa, Bersahabat tidak berpacaran tapi saling miliki iya iya iya Cool~
    Hahaha Jaejoong kasar tapi Yunho bisa menyeimbangi Jaejoong dengan bersabar, udah dah klop bingit dah nih berdua
    – Ah Chwang welcome to YunJae World haha

  6. Ping-balik: Always Keep The Faith! III | Fanfiction YunJae

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s