Always Keep The Faith


Tittle                : Always Keep The Faith!

Author             : NaraYuuki

Betta Reader    : Hyeri

Genre               : Family/ Romance

Rate                 : T+

Cast                 : All Member DB5K

Disclaimer:      : They are not mine but this story is mine, NaraYuuki

Warning           : Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut.

.

.

AKTF

.

.

“Merokok tidak baik untuk kesehatanmu.”

“Lucu sekali….” pemilik chery lips itu tersenyum mengejek, “Bos berandalan sepertimu menceramahiku? Apa kau sudah bertobat? Ah, seosengnim terlalu keras menghukummu rupanya hingga otakmu menjadi sedikit bermasalah….”

“Sayang sekali bila bibir merahmu itu menjadi kehitaman karena pengaruh tembakau. Itu mengurangi kualitas kecantikanmu.” Bisik namja bermata musang itu dengan senyum khasnya.

Yah! Kau mau mati?” sosok berkulit putih itu melempar puntung rokoknya sembarangan kemudian melayangkan pukulannya pada namja yang sudah mengatakan cantik padanya, kata laknat yang ingin dihapusnya dari muka bumi ini. Andaikan dia bisa….

Namja tampan bermata musang itu tertawa keras, menyeka sisa darah yang tercetak disudut bibirnya, meringis sakit saat pipinya terasa ngilu akibat pukulan si cantik itu. Bukan! Dia bukan perempuan, namun wajahnya sangat cantik untuk ukuran seorang laki-laki, namun dia tetaplah seorang laki-laki.

Namja yang memiliki bibir merah alami, kulit putih dan halus, rambut hitam legam yang sangat lembut, doe eyes besar dan jernih, serta hidung mancungnya yang indah membuatnya dipandang aneh oleh kebanyakan orang.

Lelaki cantik?

Para yeoja yang iri padanya memilih untuk menghindari dan menjauhinya walaupun tidak sedikit yang mengagumi dan mengidolakannya.

Para namja sering melecehkannya, menghinanya dengan sebutan banci dan sering kali menindasnya karena orientasinya dianggap menyimpang.

Padahal tidak!

Tidak ada yang salah dengan dirinya.

Tetapi sering kali kebanyakan orang menilai kulit luar daripada isinya, bukan? Ya, itulah yang terjadi padanya.

“Sebagai sahabatmu sejak kecil aku hanya mengingatkan kalau merokok itu tidak baik untuk kesehatanmu, Jae.”

“Sebagai satu-satunya sahabat yang kau punya, aku juga ingin mengingatkan bahwa berkelahi dan berbuat onar hanya akan merusak reputasimu, Jung!”

Aish! Mau bagaimana lagi? Hanya itu yang bisa ku lakukan untuk melepas stress.” Keluh Yunho, Jung Yunho. “Apa kau ingin melihat sahabatmu yang tampan ini masuk rumah sakit jiwa?”

“Itu lebih baik.”

Aish! Kau sangat kejam.”

“Dan lagi, aku jauh lebih tampan daripada kau.”

“Ck…. Kau ini cantik!”

Yah!” Jaejoong, namja cantik itu mendelik kesal pada Yunho yang sedang duduk di sebelahnya.

“Bahkan adikku sangat iri padamu.” Yunho tersenyum melihat wajah kesal Jaejoong, sahabatnya sejak kecil.

“Kita punya cara sendiri untuk melepaskan stress kita. Kau dengan semua kenakalan dan aksi berandalanmu sedangkan aku dengan semua puntung rokok terkutuk itu.”

“Hm….” sahut Yunho.

Jung Yunho, adalah siswa paling badung di sekolahnya, Cassiopeia High School. Memiliki catatan buruk paling banyak daripada siswa lain. Sering berkelahi, membantah guru, membolos, merusah sarana dan prasarana sekolah, serta memiliki rekor diskors paling banyak. Entah kenapa sampai sekarang dirinya belum dikeluarkan dari sekolah. Ah… mungkin karena dirinya pintar? Jujur saja, Yunho bukan berasal dari keluarga kaya sehingga tidak mungkin menggunakan uang untuk mempertahankan dirinya di sekolah.

Kim Jaejoong, namja androgini yang terkenal dengan wajah cantiknya. Sering kali membolos pada saat jam pelajaran untuk sekedar merokok di atap sekolah. Karena memiliki suara yang indah ketika sedang menyanyi, Jaejoong sering dikirim untuk mewakili sekolahnya setiap kali ada perlombaan, dan bisa dipastikan piala kemenangan akan dibawa pulang ke Cassiopeia bila Jaejoong maju sebagai salah satu perwakilan.

Jaejoong adalah satu-satunya sahabat yang Yunho punya, begitupun sebaliknya. Keduanya bertemu pertama kali ketika Jaejoong pindah di rumah yang berada di sebelah rumah Yunho. Mereka masuk TK yang sama, SD yang sama, SMP yang sama dan SMA yang sama walaupun kini Jaejoong tidak lagi menjadi tetangga Yunho.

Setengah tahun yang lalu Jaejoong pindah ke rumah yang lebih besar dan mewah daripada rumahnya yang sebelumnya karena ibunya menikah dengan seorang duda kaya raya beranak satu. Jaejoong mendapatkan saudara dari pernikahan ibunya itu.

Saudara…. orang yang memiliki ikatan kekerabatan, orang yang memiliki ibu atau ayah yang sama, orang yang memiliki ikatan darah yang kuat. Lalu bagaimana bila orang asing dipaksa menjadi saudara? Dipaksa menjadi kakak dan adik? Dipaksa bersama walaupun benci? Dipaksa menerima hal yang mereka benci.

Itulah kenapa Jaejoong yang dulunya anak baik-baik mulai berubah menjadi anak pembangkang dan lari pada sepuntung rokok.

“Apakah menjadi orang kaya itu menyebalkan?” tanya Yunho.

“Kalau ingin tahu cobalah menjadi kaya dan rasakan sendiri bagaimana rasanya menjadi orang kaya!’

“Aku tidak berminat.” Sahut Yunho, “Sepertinya menjadi orang kaya itu sedikit merepotkan. Harus menjaga tata krama dan bicara dengan sopan didepan orang lain. Menjadi miskin tidaklah buruk. Aku bisa memaki dan mengumpan dimana dan kapan saja kepada siapapun yang aku inginkan tanpa peduli akan menjatuhkan martabatku.”

“Ah… kali ini aku yang iri padamu.” Gumam Jaejoong.

“Kau selalu mengatakan namamu Kim Jaejoong, padahal kau sudah masuk ke dalam keluarga Park. Tidak kah itu terdengar sedikit tidak masuk akal? Apa kau membenci mereka?”

Ani.” Jawab Jaejoong, “Aku hanya benci diriku sendiri. Aku muak menjadi orang lemah yang tidak bisa berbuat apa-apa. Aku benci aku yang membenci diriku sendiri.”

“Terdengar sangat rumit.”

“Benar.” Jaejoong menggangguk setuju.

Brak!

Pintu atap sekolah itu dibuka sedikit kasar. Dua orang namja sedang berdiri dengan raut wajah berbeda di mulut pintu. Bila yang satu memasang wajah sebalnya, namja yang satu lagi memasang wajah lega.

Aigoo! Joongie ya, akhirnya kami menemukanmu.” Namja yang sedikit pendek dan sedikit berisi itu berlari ke arah Jaejoong, “Ku dengar kau demam, gwaechenayo?” diulurkan tangannya untuk menyentuh kening Jaejoong yang kemudian ditampik kasar oleh Jaejoong.

“Berhenti memanggilku Joongie! Aku bukan perempuan!” ucap Jaejoong.

Aigoo! Yoochunie, lihat! Joongie sangat menggemaskan!”

Yah! Kim Junsu! Hentikan sikap kekanakanmu itu!” pinta Yunho.

Ish! Aku heran kenapa Joongie bisa berteman dengan preman sepertimu.” Cibir Junsu yang menatap jengah Yunho.

“Ayo pulang!”

Jaejoong menatap namja tampan berpipi sidikit chuby yang sudah berdiri di depannya dengan pandangan malas, “Aku akan pulang dengan Yunho.”

Sedikit kasar namja itu menarik lengan Jaejoong agar namja cantik itu berdiri dari duduknya, “Pulang! Tidak akan ku biarkan kau pulang dengan berandalan seperti dia!”

“Hei Park Yoochun!” panggil Yunho, “Haruskah aku mengajarimu tentang etika bersopan santun?” tanyanya.

Park Yoochun, namja yang masih mencekal lengan Jaejoong itu menatap Yunho dengan pandangan meremehkan, “Orang sepertimu bicara soal etika dan sopan santun padaku? Kau salah minum obat pagi ini? Apa kau sudah mengaca? Orang sepertimu tidak pantas bergul dengan orang sekelas Jaejoong!” ucapnya sebelum menarik paksa Jaejoong pergi diikuti oleh Junsu.

Yunho hanya menatap kepergian sahabatnya itu dalam diam. Ada perasaan marah yang menguar dari dalam dirinya, “Apakah sekarang derajat manusia diukur dari seberapa kaya atau miskinnya orang itu? Apakah untuk berteman saja harus memikirkan dan melihat latar belakang keluarga, seberapa kaya orang itu? Ck…. bukankah itu terdengar sangat picik?” ucap Yunho entah pada siapa.

Kini Yunho tahu kenapa sahabatnya bisa berubah seperti itu.

Lingkungan keluarga yang membuat Jaejoong tertekanlah yang membuatnya memilih berlari pada rokok, menimbun racun dalam tubuhnya dan mengabaikan kesehatannya sendiri.

“Ah Joongie…. Andaikan sihir peterpan itu ada, akan ku cari agar kita tidak menjadi dewasa dan selamanya menjadi anak-anak. Aku baru sadar, ternyata menjadi dewasa itu menyebalkan dan banyak masalah.”

Yunho ingat impiannya dan Jaejoong ketika mereka masih TK dulu.

Menjadi dewasa.

Bila Jaejoong ingin menjadi seorang komposer sekaligus seorang koki hebat yang memiliki banyak restoran, Yunho kecil bercita-cita ingin menjadi orang kaya agar bisa membahagiakan kedua orang tua dan adiknya.

Impian kanak-kanak yang dulu terlihat sangat indah dan menyilaukan itu, kini justru terlihat sangat mengerikan dan menakutkan dimata Yunho.

“Ah…. Kita bukan anak kecil lagi, Joongie. Kau bukan lagi anak polos yang selalu memeluk boneka gajahmu ketika sedang bersedih, aku bukan lagi anak cengeng yang akan mengadu pada ibuku bila ada orang yang berbuat jahat padaku. Waktu terus berputar disisi kita, Joongie. Kalau seperti itu…. Apa yang harus kita lakukan? Katakan padaku! Biasanya aku selalu meminta pendapatmu. Kali ini pun aku meminta pendapatmu. Karena kau… satu-satunya teman yang ku miliki.”

.

.

TBC

.

.

FF ini ada 2 versi, Yaoi dan Friendship straight (Yang Staright judulnya The Gods From The East). Tapi Yuuki post yang Yaoi dulu.

.

.

Saturday, March 15, 2014

8:06:24 PM

NaraYuuki

 

12 thoughts on “Always Keep The Faith

  1. “Orang sepertimu tidak pantas bergul dengan orang sekelas Jaejoong” #pelototinYoochun , yah kasar banget lu jidat ckckc , Ah Yunho ya~ sabar sabar~

  2. Ping-balik: Always Keep The Faith | Fanfiction YunJae

  3. yuuki, aq dateng lg nie, mau baca yg AKTF skrg mah..😀
    itu kenapa mereka jadi pada tertekan gitu ya??
    trs knp apa mommy sama yoochun saling benci??
    kl iya kenapa yoochun malah nyuruh mommy pulang??
    apa biar ga malu2in kluarga park gitu??
    junsu peran’a jadi apa??
    changmin blm muncul ya??
    daddy, cepatlah jadi kaya dan bwt mommy bahagia..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s