Diegesis


Tittle                : Diegesis

Writer               : NaraYuuki

Genre               : Familly

Rate                 : T+

Cast                 : Umma, Appa and others

Disclaimer:       : They are not mine but this story, Jung Hyunno & Hyunbin are mine, NaraYuuki

Warning           : Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut. Tanpa proses Editing

.

.

 Sajak Yuuki 2009

.

.

Kebahagiaan itu perlahan-lahan menghilang dari keluarga kami… Sejak delapan tahun yang lalu ketika usiaku baru menginjak enam tahun. Kami kehilangan senyum Umma, kami kehilangan kasih sayang Appa, kami kehilangan saudara-saudara kami.

Delapan tahun yang lalu… di depan mata Umma, Hyunbin noona yang kala itu berusia dua belas tahun dan Moobin yang baru berusia delapan belas bulan sengaja ditabrak di depan mata Umma. Sejak saat itu Umma menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa menyelamatkan anak-anaknya.

Enosimania, itu vonis pertama dokter. Rasa bersalah pada sesuatu hal yang berlebihan. Namun semakin lama Umma semakin histeris, beretriak-teriak dan menangis. Appa yang sudah putus asa akhirnya membiarkan Umma. Appa akan ikut menangis bila Umma menangis, Appa akan bersedih bila Umma menjerit memanggil nama Noona dan dongsaengku.

Usiaku empat belas tahun kini, hyungku sudah berusia dua puluh tahun sekarang. Jung Changmin namanya. Changmin hyung adalah kembaran Hyunbin Noona. Setiap hari aku dan hyung selalu bersama menghadapi kekacauan di rumah kami.

Tidak ada lagi pelukan hangat dari Appa, tidak ada lagi belaian penuh sayang dari Umma. Aku bahkan lupa kapan terakhir kali aku makan masakan Umma.

Umma depresi….

Appa frustasi….

Aku dan hyung hanya bisa melihat dalam bisu.

Sungguh ironis, bukan?

.

.

Hari ini Hyung dan Appa belum pulang. Bila Appa memang harus mengurus perusahaan, Hyung sedang magang di kantor kejaksaan negri sebelum resmi menjadi pegawai di sana. Hanya aku yang di rumah. Umma kembali menangis dan menjerit memanggil nama Noona dan Dongsaengku. Para pelayan tidak bisa menenangkan Umma.

Aku terdiam sejenak…

Perlahan ku dekati Umma, ku genggam erat jemarinya yang pucat dan kurus itu, ku usap air mata yang keluar kedua doe eyes yang ku ingat dulu selalu memancarkan kebahagiaan dan cinta untuk kami. Mata yang kini dipenuhi kesedihan, rasa bersalah dan kepiluan.

Umma….” aku terisak. Malaikat terluka ini sungguh terlihat sangat menyedihkan, “Noona dan Binie sudah tenang sekarang. Relakan mereka Umma. Di sini masih ada aku, Hyunno! Ada Minie hyung dan Appa yang masih membutuhkan Umma….”

“Hyunno…?” doe eyes nanar itu menatap lekat ke arahku.

Ne, Umma…. Hyunno….” ku biarkan Umma membelai wajaku perlahan. Mata indahnya yang tidak fokus itu terlihat sangat sembab, ada kabut kesedihan yang sepertinya enggan meninggalkan mata indah itu.

Aegya?”

Ne, Aegya Umma….”

“Hyunno….” ku biarkan Umma mendekapku erat, walaupun agak sesak tetapi aku rela. Rasanya sudah lama sekali Umma tidak memelukku seperti ini. Ku biarkan air mata itu perlahan-lahan mengalir. Umma, penderitaan yang membelengku Umma adalah nelangsa bagi kami….

.

.

Malam ini sekali lagi ku lihat Umma menangis histeris dalam dekapan Appa yang sudah berusaha menenangkannya. Kami tidak pernah rela membawa Umma ke rumah sakit jiwa karena Umma kami tidak gila. Umma hanya sedang terlarut dalam kesedihannya…. hanya itu….

“Akan ku jebloskan orang berngsek itu ke penjara!” gumam Hyung pelan namun masih bisa terdengar olehku.

Ku tatap Hyung lekat-lekat. Ada sesuatu yang menjadi ciri keluarga kami. Bila kami sedang kesal maka mata kami akan menajam seperti seekor musang yang tengah marah, ku rasa gen ini kami dapat dari Appa.

Hyung mengusap kepalanya pelan, “Belajarlah yang rajin.” Usai berjalan seperti itu Hyung berjalan menuju kamarnya. Aku tidak tahu apa yang Hyung lakukan selama mengurung diri di dalam kamar itu. Obsesi Hyung sejak dulu adalah menangkap pelaku tabrak lari yang merenggut nyawa dua saudara kami dan membuat Umma seperti sekarang ini.

Tangan Umma terjulur kepadaku, ku raih jemari pucat itu yang langsung menggenggam erat tanganku.

“Jangan tinggalkan Umma, Aegya….” lirih Umma disela isak tangisnya.

.

.

Appa, aku ingin mengunjungi Binie dan Noona….” ucapku ketika kami sedang makan pagi seperti hari-hari sebelumnya tentu saja, tanpa kehadiran umma.

Appa menatapku dengan mata setajam musangnya itu, “Pergilah bersama Hyungmu.”

“Hari ini aku akan pergi ke kantor kejaksaan, Appa.” Sahut Hyung.

“Ini hari minggu, Changmin. Tidak bisakah kau menemani adikmu sebentar?” tanya Appa yang mendapatkan gelengan singkat dari Hyung.

“Aku ingin pergi bersama Appa, Hyung… dan Umma.” Ucapku dengan wajah serius.

Appa dan Hyung menatap lekat padaku penuh ke kagetan.

“Jung Hyunno?” tanya Appa, alisnya bertaut erat.

Little Bear! Kau sadar apa yang ku katakan?”

Ku anggukkan kepalaku pelan,  “Kata guru konseling di sekolah, orang yang mengalami trauma harus didampingi untuk melawan dan menghadapi penyebab traumanya itu, bukan dibiarkan begitu saja.” Ucapku menirukan apa yang guru konseling sekolahku sampaikan beberapa hari yang lalu saat aku bekonsultasi padanya, “Jadi….’

Arraso.” Ucap Hyung, “Kita akan pergi bersama. Ottoke Appa?”

Ku tatap Appa yang sepertinya tengah berpikir keras. Mengajak keluar Umma sama sulitnya dengan meminta Umma menghadapi kenyataan pahit itu.

Arra….”

Jawaban yang Appa lontarkan sedikit banyak membuatku bisa tersenyum senang. Untuk pertama kalinya setelah kejadian delapan tahun yang lalu kami sekeluarga akhirnya bisa pergi keluar rumah bersama-sama lagi.

.

.

Ku lihat tangan pucatnya yang mencengkeram lengan Appa sedikit gemetar, mata hitam legamnya yang terlihat sangat sembab itu bergerak gelisah, tubuhnya merapat pada tubuh Appa seolah mencari perlindungan. Sosoknya benar-benar terlihat sangat rapuh…

Ummaku….

Ummaku yang cantik, Ummaku yang dulu begitu perhatian, Ummaku yang dulu selalu memamerkan rona bahagia dan senyum menawannya…

Ummaku… yang sangat ku cintai.

“Yunie….” gumamnya dengan suara parau.

Gwaechana Boo….” Appa mengusap pelan punggung bergetar Umma.

Saat sedang tidak meraung dan menangis, hanya Appalah yang akan Umma ingat, hanya nama Appalah yang akan selalu Umma panggil.

Tubuh Umma mengejang ketika di hadapan kami berdiri dengan angkuhnya sepasang nusan pucat berukirkan tinta emass nama Jung Hyunbin dan Jung Moobin. Perlahan-lahan cengkeraman Umma pada lengan Appa mengendur. Doe eyes hitam itu membulat dengan tatapan kosong. Kaki jenjangnya yang terbalut celana kain berwarna pastel melangkah pelan menghampiri dua nisan itu kemudian mengusapnya dengan jemari pucatnya yang sedikit bergetar.

“Nae Aegya….” kembali ku lihat mata sembab itu menumpahkan air matanya, perlahan hingga air bah membasahi wajah rupawan Ummaku.

Tidak ada yang bisa kami lakukan selain membiarkan Umma menangis den bersedih didunianya sendiri. Aku, Appa dan Hyung hanya diam dan melihat Umma yang terus terisak dan menjerit-jerit.

Biar seperti ini dulu….

Biar Umma perlahan-lahan kembali pada kenyataan bahwa kedua anaknya sudah tidak lagi hidup bersamanya….

Biar Umma perlahan-lahan membalut nestapanya dengan kain kasa kenyataan yang kini tersaji di depan matanya sendiri.

Yang bisa menyembuhkan penyakit hati adalah diri sendiri, dan itu yang coba kami berikan pada Umma tanpa harus meninggalkannya atau mengirimnya ke rumah sakit jiwa.

Cih!

Aku selalu marah bila ada orang yang mengatakan Ummaku gila, aku akan menghajar mereka tidak peduli bahwa yang ku pukuli itu adalah orang dewasa sekalipun. Berkali-kali aku dan Hyung berurusan kantor polisi hanya karena menghajar orang yang menghina Umma. Dan berkali-kali pulalah Appa harus rela menjadi penjamin dan membayar ganti rugi karena ulah kami. Tetapi Appa tidak pernah memarahi kami karena Appa sendiri pun pernah menghajar rekan bisnisnya karena menghina Umma.

Andai hukum tidak berlaku pasti kami sekeluarga sudah membunuh orang-orang bermulut tajam itu!

Yunie…. Yunie…. Yunie….” Umma menghambur dan memeluk Appa, menenggelamkan wajahnya di dada Appa seolah-olah mencari perlindungan.

Dengan setia Appa menenangkan dan menghibur Umma, memberikan pengertian dan kekuatan agar Umma bisa melalui apa yang selama delapan tahun ini membelenggunya.

Usai menumpahkan tangisannya di dada Appa, Umma menarik tubuhku dan Hyung, memeluk kami dan menciumi wajah kami seolah-olah kami anak hilang yang baru saja kembali ditemukan. Umma merapalkan kata-kata maaf, membelai dan mengusap wajah kami penuh sayang.

Satu hal yang ku sadari…

Denyut kehidupan terpancar dari doe eyes kelam Umma.

.

.

Saat itu Umma sedang membeli sayur di kios pedagang yang berada di sekitar rumah bersama Hyunbin Noona dan Moobin. Umma yang kala itu sedang membayar belanjaannya membiarkan Hyunbin Noona mendorong kereta bayi Moobin perlahan-lahan di pinggir jalan sebelum sebuah mobil melaju dengan kencang ke arah mereka.

Itu yang Umma ceritakan pada kami.

Berbeda dari malam-malam sebelumnya, kali ini kami sekeluarga menangis bersama. Pastilah berat bagi Umma melihat kedua buah hati yang susah payah dikandung dan dilahirkannya meregang nyawa dihadapannya sendiri. Kini aku sedikit memahami apa yang Umma alami selama ini.

Dengan sangat erat Umma menggenggam tangaku dan Hyung, “Berjanjilah kalian tidak akan meninggalkan Umma.” Pinta Umma.

Ne.” Sahut Hyung.

Aku hanya mengganggukkan kepalaku pelan. Setelah Umma berkonsultasi dengan psikiater keadaan Umma jauh lebih baik dari sebelumnya walaupun Umma masih kerap kali bermimpi buruk, setidaknya Umma sudah bisa beraktivitas seperti biasa, berbelanja, jalan-jalan, memasak ataupun sekedar memakaikan dasi untukku, Hyung dan Appa.

Sedikit banyak hal itu bisa memberikan kebahagiaan tersendiri bagi keluarga kami….

.

.

Im Jun Shik. Mantan mandor pabrik Appa yang Appa pecat karena menggelapkan uang pabrik adalah pelaku tabrak lari yang menimpa Hyunbin dan Moobin.” Ucap Hyung pada Appa saat kami bertiga sedang sibuk dengan kail kami, meninggalkan Umma yang sedang menggelar tikar dan menyusun bekal untuk makan kami. Hari ini kami memutuskan untuk pergi jalan-jalan ke tempat pemancingan. Suasana dan udara segar bisa membuat kondisi Umma lebih baik.

“Hyung masih menyelidiki kasus itu?” tanyaku.

Akan ku buat namja brengsek itu membusuk di penjara, kalau perlu dihukum mati!” ucap Hyung.

Kasus itu sudah ditutup, Changmin.” Sahut Appa yang mulai menggulung pancingnya.

Aku bisa membuatnya dibuka lagi, Appa.”

Bila kau melakukan hal itu, Ummamu akan terluka lagi.”

“Appa benar, Hyung.” Sahutku.

Hyung tersenyum penuh arti, “Aku akan tetap memenjarakannya karena dia terlibat kasus penculikan dan pemerkosaan terhadap anak majikan yang memperkerjakannya. Aku akan membalas si brengsek itu melalui kasus ini. Karena ini adalah kasus pertama yang ku tangani sendiri.”

“Hyung tidak takut?” tanyaku.

Kenapa aku harus takut kalau aku punya Appa yang selalu bisa diandalkan?” tanya Hyung.

“Yunie yah… Cangminie…. Little Bear, kajja makan dulu!” teriak Umma.

Aku merengut kesal, “Kenapa hanya aku yang dipanggil Little Bear? Appa dan Hyung juga termasuk ‘Bear’nya Umma, kan?”

Appa mengusap kepalaku pelan sedangkan Hyung hanya tertawa lebar dan berlari menuju arah Umma, meninggalkan pancingnya begitu saja.

Senyum itu….

Perlahan-lahan semakin bersemi seperti bunga matahari di musim panas….

Kali ini aku, Appa dan Hyung berjanji akan menjaga senyum Umma agar tetap merekah seperti itu selamanya.

Umma, saranghae….

.

.

END

.

.

Sunday, March 23, 2014

12:45:59 PM

NaraYuuki

16 thoughts on “Diegesis

  1. Ping-balik: Diegesis | Fanfiction YunJae

  2. masalah depresi sm ketakutan gitu emg cuma bisa diri sendiri sm waktu yg mengobati na :’)
    sedih baca na, tp seneng waktu jaema udh bangkit lagi dri keterpurukan
    ada yunppa minnie sm unno yg slalu ngedampingi :’D

  3. Imin oppa … balaskan sakit umma. Hajar siapapun yg mencaci umma.
    Kenapa nemu epep yg mewkili suasana hatiku malam ini.
    Malam inipun aku pengen menghajar org yg sudah melecehkan umma.
    Eonni … gumawo sdh bikin mewek nyesek ngek :3

  4. sedihhhh bngt pas bca keadaan umma TT.TT
    appa knpa gak nyari pmbunuhnya sampe ktmu
    changmin udah jdi hakim
    tpi seneng umma dah bsa senyum lagii
    makasihh ttp nulis ff eon

  5. sedih banget liat umma yg kaya gitu. tapi beruntung umma punya orang2 yg selalu ada disampingnya.

    selalu suka deh sama karya2 yuki. simple, gampang di mengrti yg pasti feelnya ngena banget. ijin baca karya2 yuki yg lain ne. ^.^

  6. sepertinya orang trdekat yg menjadi obat untuk umma… emang motivasi n sugesti terbaik dr keluarga tercinta… i like it…^^ mungkin pelaku tabrak lari itu jg perlu psikiater karena dia melakukan hal keji karena dipecat dari kerjanya…. jaman sudah tua mental semakin lemah…. wah bentar lagi pemilu…. siap2 ja untuk rumah sakit jiwa yg akan kebanjiran pasien… bahkan RSJ t4 q sudah penuh… -_-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s