Chery Blosoom Tree


Chery Blosoom Tree

.

.

cherryblossom

.

.

Yuuki, tahukah kau kalau di atas bukit sana ada sebuah pohon bunga sakura yang setiap musimnya selalu berbunga tidak peduli musim gugur sekalipun. Bunganya sangat indah….”

Aku mendengar cerita itu dari kakak perempuanku. Dia bercerita tentang pohon bunga sakura yang mekar setiap musim. Katanya pohon itu sangat indah. Aku belum pernah melihanya sekalipun. Ketika aku meminta kakak untuk mengantarku pergi ke tempat pohon itu tumbuh kakak selalu menolak, katanya aku masih terlalu kecil untuk kesana, yeah aku bisa mengerti karena waktu itu usiaku baru 6 tahun. tapi tidak sekarang! Sekarang aku sudah besar atau setidaknya begitulah pikirku.

“Jangan ke sana Yuuki! Jangan!” larang nenek ketika aku meminta ijin pergi ke sana.

“Kenapa Nek?” tanyaku binggung.

“Hyeri tidak pernah mengijinkanmu ke sana.”

“Ah… itu kan dulu, karena aku masih kecil Nek. Sekarang aku sudah besar. Aku sudah 18 tahun.”

“Tidak! Kau tid ak boleh kesana Yuuki!”

Tidak nenek tidak kakak, mereka selalu melarang ku pergi ke sana. Aku kan penasaran pada tempat itu.

Kenapa?

Bukankah katanya tempat itu sangat indah?

Jadi wajar kan kalau aku penasaran?

Sangat wajar….

Ah, aku hampir lupa…. Nama kakaku Hyeri. Ketika usiaku 6 tahun kakakku berusia 18 tahun, kami terpaut 12 tahun memang. Seperti apa kakakku? Dalam ingatanku dia gadis yang cantik, baik dan ramah. Aku sayang pada kakakku.

.

.

Setiap musim liburan aku selalu datang ke rumah nenek, seperti sekarang. Ini sudah menjadi kebiasaan sejak dulu, bahkan sebelum aku lahir. Tapi kali ini ada yang berbeda. Biasanya aku datang bersama kakakku, Hyeri. Tapi sekarang tidak.

Kakakku, Hyeri mendadak sakit dan pergi satu minggu setelah pulang dari rumah nenek, 12 tahun yang lalu setelah Hyeri menceritakan tentang pohon sakura yang mekar setiap musim itu padaku. Bahkan kakak juga sempat memberikan kelopak sakura yang sempat dia ambil dari pohon bunga sakura itu padaku. Sungguh aku ingin sekali datang ke sana.

Aku belum bisa memejamkan mataku walau jam dinding di kamar tamu rumah nenek sudah menunjukkan pukul 11.45 malam. Bukan karena udara yang dingin, bukan karena nyanyian jangkrik, bukan juga sinar kunang-kunang yang samar-samar menerangi malam sunyi ini yang membuatku tidak mampu menjemput mimpiku. Keinginanku yang terlalu besar untuk melihat pohon bunga sakura itulah yang membuatku masih terjaga sampai sekarang, padahal biasanya aku sudah terbang kelangit mimpi tingkat 7 sebelum pukul 9 malam. Entahlah…. Mungkin suasana yang mendukung ini penyebabnya.

Ah, udara dingin sekali….

Ku ambil sweter dan syal rajutan Ibuku, ku pakai dan ku lilitkan dileherku. Setidaknya dengan begitu aku akan merasa sedikit lebih hangat.

Aku melangkahkan kakiku ke halaman depan rumah nenek. Chiyo, anjing ras Akita milik nenek tengah tertidur lelap di kandangnya yang hangat. Aku berjalan menuju pintu gerbang rumah nenek karena mendengar kegaduhan dari pinggir jalan.

Mengikuti rasa penasaranku, aku pun melihat apa yang tengah terjadi malam-malam begini….

“Astaga! Ya Tuhan!” jeritku dalam hati.

Gadis itu diseret? Wajahnya…. Oh My God! Wajahnya sangat mirip dengn Hyeri. Dan tunggu, siapa mereka? Kenapa mereka menyeret gadis itu malam-malam begini?

Aku panik dan tanpa pikir panjang aku mengejar beberapa orang berpakaian aneh yang sedang menyeret gadis yang berwajah mirip dengan Hyeri tadi. Nekat memang tapi entahlah…. Intuisiku menyuruhku melakukannya dan aku pun mengikuti apa kata intuisiku. Masalah akibat, biarlah aku pikirkan belakangan.

“Hei, kalian! Lepaskan dia! Mau kalian apakan dia?!” teriakku. Ingin rasanya aku melempari mereka batu. Tapi aku tidak bisa.

Wait! Mereka bahkan tidak menggubris teriakanku. Apakah aku terlalu pelan berteriak? Atau mereka memang benar-benar tuli?

Entahlah….

“Hei kalian yang memakai baju aneh! Lepaskan gadis itu!” jeritku sekali lagi berharap aku bisa membantu gadis yang sedang diseret paksa seperti budak yang ditarik paksa majikannya yang sering aku tonton dari film-film luar negri sana.

Aku terus melangkahkan kakiku mengikuti rombongan aneh itu. Tunggu! Aku sudah memasuki hutan? Sejak kapan? Astaga!

“Yuuki, kau benar-benar bodoh!” Makiku dalam hati.

Bagaimana kalau nenek menemukan ku tidak di rumah? Pasti nenek panik setengah mati. Tapi aku tidak mungkin kembali bukan? Sudah terlanjur basah seperti ini, lagipula tekadku untuk membantu gadis berwajah mirip Hyeri itu masih menggebu.

Aku terus mengikuti mereka sampai di atas bukit. Darimana aku tahu? Tentu saja karena di bawah sana terlihat hutan dan perumahan dengan lampu-lampu berkelap-kelip seperti bintang, oh jangan lupakan bulan purnama sempurna yang begitu bulat dan terasa hanya berjarak beberapa centi saja dari bumi. Sungguh indah.

Astaga! Apa yang ku lihat? Seorang berbadan besar tengah memposisikan sebuah pedang? Golok? Apapun itu namanya aku tidak tahu yang penting benda itu pasti bisa menebas batu sekalipun, dan orang itu memposisikan benda berbahaya itu di atas leher gadis yang berwajah mirip Hyeri.

Apa yang mau dia lakukan? Aku semakin takut melihatnya.

“Hei! Jangan kau lakukan itu! Kau bisa masuk penjara kalau membunuh orang….” Teriakku yang lagi-lagi tidak mendapatkan respon apa-apa.

“Hyeri, karena kau tidak mau menikah dengan pangeran inilah hukumanmu.” Ucap pria besar itu terdengar mengerikan.

Hyeri? Nama gadis itu juga Hyeri? Sama seperti kakakku?

“Biarlah diriku abadi di sini menjaga agar tidak ada lagi kisah cinta yang berakhir sepertiku….” Ucap gadis bersama Hyeri yang mirip dengan Hyeri kakakku itu tenang, tidak ada ketakutan sedikit pun yang ku lihat dari raut wajahnya.

Dan pria besar yang sepertinya bertugas sebagai algojo itu pun bersiap mengayunkan senjata yang dipegangnya, siap menebas apa saja yang berada dalam jangkauannya, atau bisa ku katakan siap menebas…. Leher Hyeri?

“TIDAAAAAAAAAAAKKKKKKKKK….” Teriakku histeris.

.

.

Ku buka mataku, aku ketakutan, keringat dingin membasahi sekujur tubuhku, aku ketakutan. Tubuhku gemetaran dan napasku memburu seperti telah berlari ratusan kilometer. Yang pertama kali ku lihat adalah senyum ibu….

“Yuuki…. Ibu takut kehilangan putri ibu lagi.” Ibu memelukku erat. “Kamu ditemukan pingsan di halaman depan rumah nenek dekat kandang Chiyo.” Jelas Ibu.

Aku yang mendengarnya berusaha menyimak apa yang sebenarnya terjadi pada diriku?

“Sudah satu minggu kamu tidak sadarkan diri.”

What? Satu minggu aku tidak sadarkan diri? Ku edarkan pandanganku kesekelilingku, ruangan ini tidak asing bagiku. Yah, ini adalah kamar rumah sakit. Aku ingat dulu Kak Hyeri sempat dirawat ditempat seperti ini juga.

“Kamu mengalami kejadian yang sama seperti Hyeri. Syukurlah kamu bisa bangun lagi….” Ayah menepuk punggungku.

Apa? Kak Hyeri dulu juga pernah seperti ini?

“Istirahatlah….” Ibu dan Ayah keluar dari kamar rawatku.

Aku menoleh ke almari kecil yang ada di samping ranjangku, di atas almari itu ada kelopak bunga berwarna merah. Chery Bloshom huh? Kelopak bunga sakura. Entah kejadian yang aku lihat itu nyata atau hanya mimpi, yang jelas mataku terus terpejam seiring rasa kantuk yang menderaku. Sebelum aku benar-benar kehilangan kesadaranku aku mendengar sebuah bisikan….

Yuuki, tahukah kau kalau di atas bukit sana ada sebuah pohon bunga sakura yang setiap musimnya selalu berbunga tidak peduli musim gugur sekalipun. Bunganya sangat indah…. Biarlah diriku abadi disini menjaga agar tidak ada lagi kisah cinta yang berakhir sepertiku….”

.

.

.

END

.

.

Wednesday, August 01, 2012

10:28:39 PM

NaraYuuki

 

 

 

2 thoughts on “Chery Blosoom Tree

  1. Keren bonus merinding. Aku seperti tertarik kedalam cerita ketika sosok yuuki berlari mengejar hyeri hingga masuk kedalam hutan. Cerita eonni selalu sukses membut ku larut dlm cerita.
    Ini keren eon :3
    Apa ini kisah nyata krn bener2 seperti nyata kejadiannya. Syukurlah eonni masih bisa sadar dr pingsan berhari2. Bisa habis asupan epep kalau eon ga nulis2 hhehehe #plak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s