Jung Hyunno XVIII


Tittle                : Jung Hyunno XVIII

Writer               : NaraYuuki

Genre               : Romance? Friendship? (campur aduk -_-)

Rate                 : T-M

Cast                 : Member DBSK and Friends

Disclaimer:       : They are not mine, but this story and Jung Hyunno are mine, NaraYuuki

Warning           : Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut dan membosankan. Yuuki ga sempat Edit jadi mungkin agak amburadul. Harap dimaklumi.

.

.

.

.

.

PASTIKAN BACA WARNING!

.                                                      

.

Jung Hyunno

.

.

“Harusnya kalau masih sakit tidak perlu memaksakan diri seperti ini!” namja cantik yang sudah melahirkan dua orang anak itu merengut kesal ketika dirinya dipaksa ikut ketiga namja tampan beda usia itu untuk berbelanja alat pancing.

“Apa salahnya Boo? Lagi pula kita harus sering-sering pergi bersama. Bukankah kita ini keluarga?” tanya namja bermata musang yang tengah duduk dengan santainya di samping kursi kemudi. Karena masih sedikit demam, Yunho membiarkan Jaejoong yang memegang kemudi, “Lihatlah! Mereka pun menikmati perjalan ini.”

Jaejoong hanya melirik malas namja berisik di sampingnya, tetapi senyuman tidak urung tersungging pada chery lipsnya yang agak kering itu begitu melihat dan mendengar celotehan dari kedua putranya yang kadang-kadang saling mengejek dan memukul. Walaupun sebenarnya Jaejoong enggan ikut tetapi akhirnya dirinya ikut juga setelah diserang oleh tiga pasang mata yang menatap melas padanya.

Biarlah kali ini Jaejoong mengalah dan memberikan sedikit kebahagiaan pada kedua buah hatinya.

“Apa Umma pernah memancing sebelumnya?” Tanya Hyunno.

“Belum.” Jawab Jaejoong yang fokus mengemudi.

“Eh?” Hyunno sedikit kaget.

“Lalu kemana saja Umma dan Appa saat pergi kencan?” Changmin menimpali.

Appa kalian tidak pernah mengajak Umma kencan.” Jawab Jaejoong.

Ish! Appa sangat pelit.” Sindir Hyunno.

“Setuju.” Sahut Changmin.

Yah! Apa-apaan itu? Boo, kenapa berbohong huh? Bukankah kita pernah kencan di kapal pesiar menuju Eropa? Bukankah kita pernah kencan di Lombok juga? Bukankah kita pernah sama-sama pergi menyelam diperairan Raja Ampat? Kalau bukan kencan lalu apa namanya, huh?”

“Liburan?” sahut Jaejoong.

Aish!” gerutu Yunho.

.

.

Membiarkan Changmin dan Hyunno memilih-milih peralatan pancing yang mereka inginkan sementara Yuho mengikuti Jaejoong untuk berbelanja. Well, menjadi ibu rumah tangga ternyata sangat tidak mudah. Menyiapkan keperluan anak-anaknya, mengecek barang apa saja yang sudah habis, membeli keperluan sehari-hari seperti peralatan mandi dan snack yang biasanya menemani kedua jagoannya ketika sedang belajar.

Boo….”

“Hm?”

“Kalau kita menikah bisakah aku mengantarmu berbelanja setiap hari?” tanya Yunho yang sedang mendorong troli belanjaan Jaejoong.

Jaejoong memasukkan beberapa bungkus nori dan keripik kentang ke dalam troli, enggan menjawab pertanyaan Yunho yang dianggapnya agak sensitif itu.

Tiba-tiba Yunho merengkuh pinggang Jaejoong, menarik namja cantik itu ke sisinya.

Yah Yun! Lepaskan aku! Kau tidak lihat semua orang melihat kita?” pekik Jaejoong kaget.

“Justru karena semua orang melihat kita!” ucap Yunho, “Aku tidak suka para namja hidung belang itu menatap lapar padamu. Cih! Aku akan menyuruh anak buahku menghajar mereka nanti!” ucap Yunho garang.

“Kau bahkan tidak mengenal mereka.”

“Aku bisa mencari tahu!”

“Ah, ne…. Aku lupa kalau seorang Jung bisa melakukan segalanya.”

Yunho meremas pinggang Jaejoong kuat ketika ada seorang namja yang berjalan di samping mereka. Yunho memasang wajah garangnya karena sejak tadi namja itu menatap Jaejoongnya dengan pandangan lapar.

“Hei Bung! Dia milikku! Bila kau tidak berhenti menatapnya seperti itu, akan ku buat buta matamu itu. Kau tidak tahu siapa aku? Aku Jung Yunho! Ingat itu!”

“Yun…?”

“Apa? Aku tidak suka dia menatapmu seperti itu, Boo! Kau milikku!”

Jaejoong diam saja, enggan berdebat dengan Yunho yang sedang cemburu. Jaejoong jadi teringat bahwa dulu Yunho pernah menghajar Hyunjoong sampai babak belur karena kala itu dirinya dipeluk oleh Hyunjoong.

“Yun! Tanganmu!” Jaejoong menegur ayah kedua putranya ketika tangan namja itu mulai bergerlilya di atas permukaan pantatnya.

“Ehehehehehe…. Aku hanya memastikan kalau bentuknya masih sama seperti yang dulu, Boo….”

Jaejoong menatap kesal Yunho. Bila ibu Jung Changmin dan Jung Hyunno itu tidak ingat bahwa namja kurang ajar itu sedang sakit pasti sudah dihajarnya sejak tadi, “Tidak ada yang berubah kecuali bekas jahitan di perutku bertambah satu ketika mengeluarkan Hyunno.”

Yunho menghentikan jalannya, menatap lekat wajah menawan Jaejoong yang memasang mimik binggungnya karena mereka tiba-tiba saja berhenti berjalan.

Wae?”

“Boleh aku melihatnya, Boo?”

“Melihat apa?”

“Bekas luka itu?”

Ani.”

Wae?”

“Aku pernah mengenalmu dengan baik, tidak ada jaminan kau tidak akan memerkosaku bila kau melihat bekas luka itu.”

“Ck…. Kau menjadi semakin pelit saja Boo….” gerutu Yunho, “Aku benar-benar merindukanmu.”

Jaejoong menulikan telinganya, mengambil 5 gulung tisu toilet dari etalase yang dilaluinya.

“Aku ingin memelukmu seperti dulu, Boo. Aku ingin menciummu seperti dulu….” ucap Yunho, “Itu pun bila kau mengijinkanku.”

“Ku rasa ini sudah cukup. Kita harus segera kembali ke toko peralatan memancing itu. Aku takut Minie dan beruang kecilku menunggu terlalu lama.”

“Mereka kan sudah ku beri credit card. Tidak bisakah kita sedikit lebih lama? Sudah lama kita tidak menghabiskan waktu berdua, Boo.”

“Aku akan menemanimu minum kopi nanti malam.”

Jeongmal?”

Ne.”

Arra….”

.

.

Jaejoong dan Yunho yang sedang memegang kantung-kantung belanjaan itu hanya bisa menatap kedua putranya yang sedang berdepat dengan seorang yeoja dewasa yang sepertinya tidak asing bagi Yunho dan Jaejoong.

Ahjumma! Namaku bukan Yunho Oppa, tapi Jung Hyunno!” remaja serupa Yunho itu merengut kesal pada ahjumma satu itu. Kenapa semua orang salah mengira bahwa dirinya adalah Appanya? Jelas-jelas Hyunno lebih tampan daripada Appanya, menurutnya….

“Hei Ahjumma! Kenapa kau bersikap seperti itu? Apa kau kenal Appaku?” tanya Changmin. Kesal juga melihat ahjumma satu itu bersikap menyebalkan pada adiknya. Changmin berpikir kalau seandainya Ahra Ahjumma ada di sini untuk melawan ahjumma aneh ini. Ah… pasti akan sangat menarik.

Dengan kasar Jaejoong menarik lengan yeoja seusia dirinya yang sedari tadi mengguncang bahu putra bungsunya sedikit kasar, “Tiffany sshi, jangan ganggu putraku!”

MWO?” pekik Yunho.

“Tiffany?” Changmin dan Hyunno saling perpandangan sebelum akhirnya menatap tajam yeoja yang Umma mereka panggil Tiffany itu. Nama yeoja yang mereka ketahui membuat hidup mereka seperti sekarang.

“Eh? Kau… Jaejoong sshi?” tanya yeoja itu.

Jaejoong tersenyum, “Kau masih ingat padaku? Apakah kau juga masih ingat tamparanku?”

Boo….”

“Kau pasti senang kan Jung Yunho?” tanya Jaejoong, “Baiklah aku tidak akan mengganggu kalian kali ini.”

Boo Jae….”

“Minie, Hyunno apa kalian sudah menemukan alat pancing yang kalian mau?” tanya Jaejoong pada kedua putranya.

Changmin dan Hyunno menggangguk pelan.

Jaejoong mengambil alat pancing yang berada di tangan kedua putranya, “Umma akan membayarnya, kalian bawa belanjaan Umma ke mobil dan tunggu Umma di sana ne. Ini kuncinya.” Ucapnya sambil memberikan kunci pada Changmin, namja cantik itu akan berjalan menuju kasir ketika Yunho mencekal lengannya.

Yunho mengulurkan dua kantung plastik belanjaan besar yang berada di tangan kanannya pada Changmin, merampas dan menyerahkan peralatan pancing di tangan Jaejoong kepada Hyunno, “Tunggu Appa dan Umma di mobil! Ada sesuatu yang harus dibereskan di sini.” Ucapnya.

Changmin dan Hyunno yang melihat kilat keseriusan di mata tajam ayahnya akhirnya menggangguk pelan dan berjalan meninggalkan para orang dewasa itu untuk menuju kasir guna membayar peralatan pancing yang akan mereka gunakan lusa.

Sepeninggal kedua putranya Jaejoong hanya menatap sengit pada Yunho. Suasana dan situasi seperti inilah yang sangat dihindarinya agar luka dalam hatinya tidak semakin menganga parah. Tetapi lihatlah! Yunho justru menyeretnya kedalam situasi yang sangat tidak disukainya ini.

“Yunho Oppa, mereka….”

“Jung Changmin dan Jung Hyunno. Putraku.” Jawab Yunho sambil mengeratkan genggamannya pada tangan Jaejoong.

Yeoja itu menggangguk paham, “Changmin sudah besar sekarang, aku benar-benar kaget.” Ucapnya, “Tapi Jung Hyunno…. Aku pikir tadinya dia adalah kau, Oppa.”

“Ketika mengandung Hyunno, ibunya sedang marah padaku sehingga wajah anak bungsuku bisa sangat mirip denganku seperti itu.” Yunho menatap wajah namja cantik yang berada di sebelahnya.

“Ibunya? Jaejoong sshi?” tanya Tiffany.

Boo Jae adalah satu-satunya orang yang melahirkan anak-anakku, Tiffany.”

“Ah, ne….” Tiffany menggangguk pelan, “Kalian sudah menikah rupanya. Kenapa tidak mengundangku?” tanyanya. Sepertinya Tiffany tidak tahu akibat dari kejadian belasan tahun yang lalu itu pada hubungan Yunho dan Jaejoong.

“Ah…. Banyak hal yang terjadi saat itu.” Gumam Yunho sedikit kikuk.

“Dimana Changmin dan Hyunno sekolah?”

“Bulan depan Changmin masuk Universitas Seoul sedangkan Hyunno masih sekolah di Cassiopeia High School.” Jawab Yunho.

Jeongmal? Putriku juga akan masuk di Cassiopeia pertengahan bulan nanti sebagai siswa kelas satu. Ah, ku harap mereka bisa berteman nantinya.” Ucap yeoja itu penuh semangat.

“Kau, sudah menikah?” tanya Jaejoong.

“Dia menikah dengan pemilik tempat les kami bekerja dulu.” Ucap Yunho.

“Sayang anak tiriku laki-laki, kalau perempuan akan ku jodohkan dengan Changmin.” Sesal Tiffany.

“Belum tentu anakku mau dengan anakmu seandainya anakmu itu seorang perempuan sekalipun!” ucap Yunho bermaksud bergurau.

Yah Oppa! Aish! Aku menyesal dulu pernah menyukaimu.” Gerutu Tiffany, “Jaejoong sshi, Yunho Oppa ini sangat terobsesi padamu, dulu dia selalu membicarakanmu setiap hari sampai aku malas mendengarnya. Berhati-hatilah!”

“Hei! Apa-apaan itu?!” protes Yunho.

“Jaejoong sshi, lain kali mari kita makan bersama. Ku dengar kau sangat pintar memasak, mungkin kau bisa mengajariku. Aish! Aku agak payah soal ini.” Ucap Tiffany, “Aku harus pergi dulu. Hari ini aku harus menjemput putraku di Bandara.”

Arra pergilah!” usir Yunho.

Ish!” yeoja itu mendengus sebal, “Jaejoong sshi….”

Bukan hanya Yunho, Jaejoong pun sedikit kaget ketika tiba-tiba Tiffany mencium pipinya.

“Salam perpisahan darimu dulu sebuah tamparan, aku sudah membayarnya sekarang….” ucap Tiffany, “Yunho Oppa, jangan cemburu, ne.” Godanya sebelum pergi.

Aish! Yeoja itu! Yah Boo! Kenapa kau menikmati ciumannya, huh?!” omel Yunho. Tidak rela rasanya pipi Jaejoong dijamah perempuan lain.

Jaejoong menghempaskan tangan Yunho kasar, “Ku rasa aku mulai menyukainya.” Ucapnya sambil berjalan menjauhi Yunho.

Yah Boo! Kau hanya boleh menyukaiku! Tidak boleh namja lain apalagi yeoja! Kau dengar aku Nyonya Jung!” teriak Yunho lantang mendatangkan tatapan aneh dari orang-orang.

.

.

Changmin dan Hyunno hanya menatap binggung kedua orang tuanya. Pasalnya sejak pulang dari berbelanja tadi Appa mereka selalu memasang wajah cemberut sedangkan Umma mereka selalu memasang wajah ceria bahkan tidak segan untuk bersenandung.

Hyunno menyenggol lengan Changmin, membuat namja jangkung itu nyaris tersedak makanan yang baru ditelannya.

“Apa?” tanya Changmin tanpa suara.

Hyunno menunjuk Ummanya yang sedang menyiapkan puding sebagai pencuci mulut menggunakan dagunya.

Changmin yang mengerti maksud adiknya pun hanya menggelengkan kepalanya binggung, tidak tahu apa yang merasuki jiwa kedua orang tuanya.

Umma gwaechanayo?” tanya Hyunno yang tidak tahan ingin menanyakan penyebab perubahan sikap Ummanya yang tiba-tiba berubah seperti ini.

“Apa ahjumma tadi siang berbuat sesuatu pada Umma?” tanya Changmin yang khawatir pertemuan mereka dengan Tiffany ahjumma membuat mood Ummanya aneh begini.

Ani. Ahjumma itu hanya membuat wajah Appa kalian seperti itu.” Jaejoong melirik Yunho yang tengah memasang wajah sebalnya.

“Berhenti menggodaku, Boo! Aku sedang tidak ingin bercanda.” Gerutu Yunho.

“Kalian mau ikut minum teh bersama Umma dan Appa kalian?” tanya Jaejoong yang meletakkan sepotong puding dihadapan kedua putranya.

“Ma….” Hyunno mendelik kesal pada kakaknya yang sudah membekap mulutnya tiba-tiba.

“Kami mau tidur lebih awal agar besok bisa membantu Umma menyiapkan bekal.” Jawab Changmin.

“Oh, Arraso.” Jaejoong menggangguk paham.

.

.

Karena Yoochun sedang berada di kantor kedutaan pusat (ngawur ini) ditemani Junsu, maka suasana di rumah itu cukup tenang kecuali seorang ‘Beruang besar’ yang sepertinya tengah merajuk. Suara api yang menelan batang-batang kayu dalam perapian membawa irama tersendiri malam itu, aroma khas kayu yang terbakar menyeruak membuat perasaan sedikit hangat.

Jaejoong menuangkan air teh di dalam cangkir transparan yang terlihat seperti cangkir kristal mahal, padahal itu hanyalah cangkir kaca biasa, “Berhenti bersikap kekanakan seperti itu! Tidak malukah kau pada anak-anakmu?” tanyanya.

“Aku tidak suka!”

“Iya, aku mengerti.”

Boo Jae!”

“Hei, bukankah yang menciummu itu mantan pacarmu? Sebenarnya kau cemburu padaku atau pada yeoja itu? Ah… mungkin kau menyesal karena bukan kau yang diciumnya, kan?”

Yunho merampas cangkir teh yang berada di tangan Jaejoong, diletakkannya cangkir itu di atas permukaan karpet yang saat ini tengah mereka duduki sedikit kasar.

“Jung Yunho!”

“Aku akan membersihkanmu, Boo!”

“Huh?” Jaejoong menatap binggung Yunho.

Sekali sentak Yunho sudah berhasil mencekal lengan Jaejoong dan membuat namja cantik itu jatuh terlentang akibat kaget.

“Kau… Jung Yunho!”

“Aku bisa gila, Boo. Tolong mengerti…. Maafkan aku!”

.

.

TBC

.

.

Tolong mengerti dan pahami kalau seorang Author profesional sekalipun punya kehidupan yang harus diurusnya. Bisa sakit, butuh sejenak untuk lepas dari kegiatan tulis-menulis. Jangan melulu mendesak dan memaksa. Itu menyebalkan!

.

.

Tuesday, March 04, 2014

10:04:46 PM

NaraYuuki

6 thoughts on “Jung Hyunno XVIII

  1. eonnie aku gg tau klo ini udh update
    tadi pas baca draff ancestor lihat ff jung hyunno udh epilog
    aku kaget eon, soal na gg ada pemberitahuan di email
    apakah ini waktu wp na eonnie sempet bermasalah itu iia?

    ehh ketemu tiffany, waahh ternyata dia udah nikah
    bagus deh, gg usah ganggu yunjae lagi
    hahaha skrg yg cemburu malah yunppa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s