Jung Hyunno XIX


Tittle                : Jung Hyunno XIX

Writer               : NaraYuuki

Genre               : Romance? Friendship? (campur aduk -_-)

Rate                 : T-M

Cast                 : Member DBSK and Friends

Disclaimer:       : They are not mine, but this story and Jung Hyunno are mine, NaraYuuki

Warning           : Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut dan membosankan. Yuuki ga sempat Edit jadi mungkin agak amburadul. Harap dimaklumi.

.

.

.

.

.

PASTIKAN BACA WARNING!

.                                                      

.

Jung Hyunno

.

.

“Kau marah padaku, Boo?”

Jaejoong hanya diam. Doe eyes indahnya menatap lekat wajah tampan namja yang baru saja menjamah dirinya setelah sekian lama mereka tidak berhubungan lagi. Bukannya takut mengandung adik untuk kedua anaknya, Jaejoong hanya binggung pada perasaannya sendiri. Bagaimana tiba-tiba dirinya sudah berada dalam kungkungan namja bermarga Jung itu? Bagaimana dirinya bisa terhanyut dalam lautan gairah dan membiarkan namja bermata musang itu menjamahnya? Bagaimana hingga akhirnya mereka bisa bercinta hingga pagi menjelang seperti ini? Jaejoong binggung dan tidak mengerti pada perasaannya sendiri.

Cinta itu…

Apakah masih tersisa?

Cinta itu…

Apakah kini mulai kembali bertunas lagi setelah sebelumnya layu?

Atau ini semua hanya dorongan biologis yang sudah meronta-ronta akibat terlalu lama menahan lapar dan dahaganya?

Mollayo….

Jaejoong menatap lekat sepasang mata musang itu saat bibirnya mulai dijamah lagi oleh bibir berbentuk hati itu, jantungnya berdetak kencang ketika jemari kokoh itu membelai kulit punggungnya yang sebenarnya terasa sedikit lengket akibat peluh yang beberapa waktu lalu membanjiri tubuhnya.

“Yuunnn….” lenguh namja cantik itu ketika Yunho mulai meraup kulit lehernya, menghisapnya kuat-kuat, “Hentikan!” Jaejoong menjambak rambut Yunho ketika namja tampan itu mulai menciumi dadanya.

Wae?”

“Ahh! Jangan lagi!” keluh Jaejoong ketika Yunho mulai meraba-raba permukaan perutnya.

“Dulu di dalam sini pernah menjadi sarang nyaman bagi uri Minie dan Hyunno.” Yunho membelai bekas luka itu perlahan, “Sakit, ne?”

“Bisa kau bayangkan sakit tidaknya sendiri….” ucap Jaejoong, “Kau sudah lihat, bukan? Tidak penasaran lagi?”

Ne.” Yunho menggangguk pelan, “Tidak ada yang berubah. Masih sama indahnya seperti yang dulu, hanya saja….”

“Jangan!” jerit Jaejoong saat Yunho mulai meraba-raba dadanya.

“Selain bekas luka itu, kau semakin menggairahkan, Boo….” bisiknya, “Haruskah aku membawamu dan anak-anak lari? Aku takut Chunie Appa tidak membiarkanku menikahimu. Aku takut tidak bisa menahan diriku sendiri dan membuatmu mengandung lagi.”

“Belum tentu aku mau menikah denganmu!” sahut Jaejoong yang langsung membuatnya mendelik kesal karena Yunho meremas kuat dadanya.

“Harus!”

“Dan walaupun kau seorang Jung, jangan lupa kalau Appaku jauh lebih hebat darimu!” Jaejoong mengingatkan peristiwa pencekalan oleh pihak imigrasi yang Yunho alami dulu ketika menyusulnya ke Jepang.

“Sialnya itu benar! Dan Chunie Appa sangat garang!”

.

.

“Aish! Appa belum bangun? Dasar Beruang gendut!” gerutu Changmin. Padahal dirinya dan Hyunno bangun lebih awal dari biasanya untuk membantu Ummanya menyiapkan bekal, tetapi lihatlah! Jung Yunho yang terhormat itu masih belum menampakkan batang hidungnya.

Appa kalian sedang pergi ke loundry.” Ucap Jaejoong yang sedang memasukkan bekal makanan ke dalam tas.

“Eh? Jeongmal? Tumben sekali….” gumam Changmin. Seumur hidupnya baru kali ini Changmin tahu ayahnya pergi ke loundry. “Apa yang Umma lakukan pada Appa?” tanya Changmin curiga.

“Tidak ada. Hanya memintanya mengantarkan pakaian kotor saja.” Jawab namja cantik itu, “Kalian siapkan saja alat pancing kalian sambil menunggu Appa kalian pulang. Umma akan mengambil tikar dulu.” Ucap Jaejoong sebelum meninggalkan kedua putranya.

Hyung….” panggil Hyunno.

“Hm?”

“Apa Hyung juga melihatnya?” tanya Hyunno, “Leher Umma penuh bercak kemerahan. Apa Umma sakit cacar?”

Yaaah… persiapkan dirimu Beruang Kecil. Mungkin saja posisimu sebagai anak bungsu sebentar lagi akan digeser.”

“Eh? Oleh siapa? Kenapa bisa?” tanya Hyunno binggung.

“Sudah! Kajja siapkan alat pancingnya!”

.

.

Sebuah tempat pemancingan buatan dengan danau dan taman buatan yang tidak kalah indahnya dengan yang asli. Bukan hanya keluarga kecil Yunho saja yang menghabiskan sisa liburan di sana, banyak keluarga lain yang juga mendatangi tempat itu sebagai alternatif liburan. Selain berada di pinggir kota, tempat pemancingan itu juga cukup murah hingga semua kalangan bisa menikmatinya.

Membiarkan ketiga namja tampan itu sibuk dengan kail mereka, Jaejoong memilih menggelar tikar di bawah pohon beringin yang teduh. Bukan hanya Jaejoong saja yang menggelar tikar dibawah pohon yang memiliki batang besar itu. Ada sebuah keluarga dengan anak balita mereka pun menggelar tikar di sana, juga sepasang pasangan tua yang tengah bermain bersama cucu-cucu mereka. Jaejoong jadi berpikir….

Seandainya dirinya dan Yunho menikah, apa yang akan terjadi?

Seandainya dirinya dan Yunho tidak menikah, akan seperti apa anak-anak mereka kelak.

Sekarang memang belum ada yang mempermasalahkan soal status anak-anaknya yang lahir bukan dari ikatan pernikahan. Tetapi nanti, suatu saat bila anak-anaknya sudah dewasa, melamar pekerjaan dan akan menikah… bagaimana jadinya?

Jaejoong terduduk lemas di atas tikar yang tadi digelarnya.

Demi anak-anaknya…

Haruskah Jaejoong menerima pinangan Yunho?

Haruskan Jaejoong melupakan sakit hati karena kesalahpahaman dulu dan menerima Yunho kembali?

Haruskah sekali lagi Jaejoong membiarkan Yunho masuk dan memporak-porandakan hati dan hidupnya?

Umma… lapar….”

Suara rengekan Changmin membuat ibu dua anak itu tersadar dari lamunannya.

“Beruang kecil payah! Dari tadi hanya mendapat anakan ikan yang tidak lebih besar daripada kepalan tangan. Ish!” gerutu namja jangkung itu yang langsung mendudukkan dirinya di samping ibunya.

Jaejoong tersenyum dan mengusap kepala putra sulungnya lembut, “Beruang kecil belum pernah pergi memancing sebelumnya. Umma tidak pernah mengajaknya memancing. Haraboji kalian sibuk bekerja, Halmonie kalian juga selalu menemani Harabojie melakukan tugas kenegaraan. Mengertilah, ne….”

“Aku hanya bercanda Umma.” Changmin tertawa lebar, “Appa juga tidak pernah mengajakku memancing sebelumnya.”

Mianhaeee….”

Wae Umma?”

“Karena kegoisan Umma, kalian berdua yang menjadi korbannya….”

Umma….” rengekan yang seumur hidupnya didengarnya itu membuat Jaejoong menolehkan kepalanya pada putra bungsunya yang sudah berdiri di hadapannya.

“Eh? Wae?” doe eyes Jaejoong membulat mendapati tubuh putra bungsunya basah kuyup seperti itu.

“Seorang anak kecil tadi berlarian dan menyenggol Uri Little Bear sampai jatuh terjebur ke kolam ikan.” Jelas Yunho.

Omo!” Jaejoong panik dan segera mengambil handuk kering dari dalam tasnya, untung dirinya sudah mempersiapkan semuanya, “Kajja ganti baju dulu! Umma akan mengantarmu.”

“Biar aku saja Umma….” ucap Changmin sambil mengambil baju ganti dari tangan Ummanya. Namja jangkung itu kemudian menarik adiknya, mengajaknya berjalan menuju toilet yang berada di sebelah kiri untuk berganti baju.

“Mereka bisa akrab dengan cepat. Ku pikir Minie akan bersikap sedikit kasar pada adiknya.” Gumam Yunho, “Darah memang lebih kental daripada air….”

“Hei Jung Yunho!”

“Hm?”

“Kalau kita menikah, apa kau siap diusir dari keluargamu? Kalau kita menikah, apa kau siap mendapatkan masalah dari Appaku? Kalau kita….” doe eyes Jaejoong membulat ketika tiba-tiba saja bibirnya diraup kasar oleh Yunho.

“Apa itu artinya kau mau menikah denganku, Boo?” tanya Yunho usai melepaskan tautan bibir mereka.

Jaejoong mendelik kesal dan memukuli bahu Yunho, “Siapa yang menyuruhmu menciumku, huh? Apa kau tidak tahu semua orang menatap kita?!” omel Jaejoong. Rasanya malu ketika semua orang menatapnya sambil tersenyum menggodaa. Aish!! Jung satu itu mulai melewati batasnya.

Yunho mendekap Jaejoong erat, “Oh Boo…. Aku tidak tahu apa yang merubah pikiranmu, tapi aku senang akhirnya kau mau menikah denganku.”

“Aku belum bilang aku mau menikah denganmu Jung Yunho!” omel Jaejoong. Aroma yang menguar dari tubuh Yunho dan terhirup olehnya membuat Jaejoong mabuk. Mabuk dalam arti Jaejoong mulai kehilangan dirinya sendiri. Dadanya berdesir aneh, debar jantungnya mulai berpacu cepat, tubuhnya mulai terasa panas. Ugh!! Jaejoong benci ketika dirinya tidak bisa mengendalikan akal sehatanya sendiri.

“Kalau begitu mari kita menikah.”

.

.

Hyung, apa tidak salah Umma membawa baju seperti ini?” gerutu Hyunno.

Changmin mengamati kaus dan celana yang dipakai oleh adiknya dengan seksama, “Ani. Tidak ada yang salah dengan bajumu. Waeyo?” tanyanya binggung.

“Gambar beruang, Hyung!” Hyunno mengerucutkan bibir merahnya. Bagaimana bisa kakaknya mengatakan bajunya yang kini dikenakan tidak salah sementara gambar tiga anak beruang yang menjadi motif kausnya itu membuatnya sedikit risih, apalagi ketika orang-orang mulai menatapnya.

“Ahahahahahha…. Kau benar-benar menggemaskan.”

Hyung!” pekik Hyunno kesal.

Yah! Lihatlah….”

“Apa?”

Changmin menunjuk kedua orang tuanya dengan dagunya, “Aku tidak tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi pada Umma dan Appa, tapi melihat hubungan mereka semakin rukun seperti itu membuatku sedikit senang.”

Hyunno menggangguk seetuju, “Tinggal mengurus Harabojie.”

“Huh?” Changmin menatap binggung adiknya.

“Yoochunie Harabojie orang yang keras kepala, seperti Umma.” Ucap Hyunno, “Setelah memarahi Appa seperti itu apa Hyung kira Harabojie akan membiarkan Appa dan Umma bersama semudah itu?”

“Ck…. Siwonie Harabojie juga tidak kalah garangnya. Kau tahu? Aish!!” keluh Changmin, “Yah Beruang Kecil, apa yang harus kita lakukan kali ini?”

Hyunno menggelengkan kepalanya binggung, tidak tahu harus bagaimana.

.

.

Umma, aku mau sup ikan untuk makan malam nanti.” Ucap Hyunno.

Arra….” Jaejoong menggangguk pelan.

Entahlah…

Suasana dalam perjalanan pulang kali ini sedikit sepi. Entah karena keluarga kecil Jung Yunho itu sudah kelelahan atau karena hal lain, yang jelas tidak lagi terdengar celotehan dari mulut Jung Changmin dan Jung Hyunno. Kedua anak itu memilih diam. Jaejoong sendiri lebih banyak melamun sementara Yunho fokus dengan kemudinya.

Senja kali ini terasa lebih sunyi dari biasanya….

.

.

“Kalian sudah pulang?”

Jung Yunho, Jung Changmin, Jung Hyunno dan Kim Jaejoong hanya bisa terdiam di samping mobil mereka ketika sosok Kim Kibum, nyonga besar Jung itu berdiri di mulut pintu rumah mereka.

“Yunie ya, Joongie ya…. Appa kalian ingin bicara pada kalian.” Kali ini Junsu yang tiba-tiba muncul.

Yunho dan Jaejoong hanya bisa saling bertatapan, binggung pada apa yang sebenarnya kedua orang tua mereka rencanakan.

Memisahkan mereka?

Atau….

.

.

TBC

.

.

Friday, March 07, 2014

7:55:16 PM

NaraYuuki

6 thoughts on “Jung Hyunno XIX

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s