Never Ever Chap II


 

Kwon Mora terlihat jengah menanti ketidakpastian dari pengawas team perencana. Apa maksudnya juga harus ada pengawas? Kalau memang si direktur Choi itu tidak percaya kenapa harus bekerjasama dengan perusahaan tempatnya bekerja sekarang sich?

Setengah mati Mora menahan amarahnya, bagaimanapun juga dia mau terlihat anggun didepan bawahannya. Reputasinya sebagai tunangan direktur Cho bisa hancur kalau dia menunjukkan emosinya tanpa berpikir panjang terlbih dahulu.

Klek. Pintu ruang team perencanaan terbuka, memperlihatkan sosok cantik nan anggun tengah berdiri di mulut pintu. Wajah cantik, hidung mancung, bibir merah, rambut panjang yang diikat asal, senyum yang menggoda membuat Mora yang melihatnya kesal. Siapa juga orang ini? Membuatnya bad mood saja.

Anyeong, Hyeri imnida.”

What? Diakah yang dimaksud halmoni Cho? Orang dengan penampilan kurang meyakinkan ini? Yang benar saja!” Jerit Mora kesal, tapi untungnya dia menyimpan semuanya dalam hati, hanya dalam hati.

“Aku bertugas sebagai pengawas team perencanaan selama tiga bulan. Mohon kerjasamanya.” Ucap Hyeri.

“Kwon Mora imnida, aku maneger perencanaan disini.”

Nice to meet you….” Sahut Hyeri, “Hari ini aku agak sibuk, bisakah kau menunjukkan rencana peluncuran produk barunya sekarang?”

Hell! Sekarang? Dia pikir siapa dia?” gerutu Mora dalam hati.

“Bagaimana?” tanya Hyeri.

Mian, tapi ada beberapa hal yang masih harus disiapkan.”

“Ah ne, gwaechana. Kalau begitu bisakah kau antarkan berkas-berkasnya padaku sore ini atau lusa? Antarkan ke alamat ini.” Hyeri menyerahkan sebuah kartu nama, “Mian merepotkan….” Ucapnya sebelum pergi.

“Apa-apaan dia? Seenaknya saja memberi perintah. Dia pikir dia yang jadi bosnya apa?” sunggut Mora kesal. “Lagi pula alamat ini kan studio tari? Masa iya mengantar berkas ke studio tari?”

 

Nehga michyutna bwa jajonshimdo ubneunji

Nuh ehgeh dolawa chutbakwi doldeushi

Ilum an dweneundeh (dweneundeh dweneundeh)

Hamyunsuh oneuldo iluhgo issuh, no

 

Again and again and again and again

Nuh ehgeh jaggoo dolaga weh geulunji molla weh geulunji molla

[Jaebum] Again and again and again and again

Nuh eh maleh ddo sok a weh geulunji molla weh geulunji molla…

 

Tampang-tampang BT terlukis jelas diwajah lelah Kwon Mora dan sang tunangan yang mendatangi studio tari. Bukan untuk menyaksikan seorang yeoja meliukkan tubuh sexynya, melainkan mengantarkan berkas yang diminta tadi siang.

Cho Hyunno yang setengah hati mengantar Mora pun bertambah kesal. Kalau bukan atas desakan Ummanya, tentu saja namja jangkung nan tampan itu memilih pulang untuk tidur dan beristirahat setelah berkutat dengan pekerjaan kantornya yang menumpuk.

Menyadari ada orang lain di studionya, membuat yeoja yang asyik menari tadi menghentikan aksinya, mematikan musik dan mengikat asal rambutnya yang tergerai dipunggungnya. Dengan perlahan didekatinya 2 orang yang sepertinya menunggunya sedari tadi sengan kesal.

Mian, lama menunggu ne?”

Merasa menganal suara itu Cho Hyunno mengarahkan fokus matanya ke asal suara. Matanya membulat tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

“Ini berkas yang kau minta, silahkan di cek dulu!” ucap Mora ketus.

Hyeri tersenyum menerima berkas itu, mengeceknya satu persatu tanpa menyadari tatapan penuh kerinduan dari seseorang. Dengan teliti yeoja itu membaca isi berkasnya kemudian merobek berkas itu membuat Mora dan Hyunno syock.

“Perusahaan Choi yang ada di Jepang dan Amerika sudah memproduksi barang seperti ini. Tidak bisakah kau mencari ide yang lebih fresh lagi?” tanya Hyeri dingin, “Jangan buat kami menyesal bekerjasama dengan perusahaan kalian!”

Mora masih diam. Baru kali ini dirinya merasa dilecehkan.

Hyeri berjalan ke tepi, menatap sosoknya dari pantulan cermin, menyalakan lagi musik dan melanjutkan aksi menarinya.

“Kita pulang!” Mora berlari meninggalkan Hyunno yang masih memperhatikan sosok yang sedang menari dengan lincahnya itu.

Hyunno memegangi dadanya, ada rasa nyeri disana. Luka itu terasa perih seperti ditaburi oleh garam. Sakit itu dia rasakan lagi, sejenak sebelum benar-benar pergi Hyunno membalikkan tubuhnya dan menatap sosok yang masih menari dengan penuh semangat itu.

 

“Huan….” Lirih Hyeri, dicengkramnya kepala Huan yang sibuk mengulum payudaranya.

Seperti anak kecil yang mendapatkan permen, Huan sangat menikmati aktifitasnya itu, sejenak melupakan kelelahan yang menderanya setelah berkutat dengan pekerjaan kantor yang menguras seluruh tenaga dan pikirannya.

Tubuh telanjang Hyeri merinding ketika Huan menjilati putingnya. Setelah menyelesaikan beberapa ronde dan Huan berhasil menanamkan benihnya di rahim Hyeri, pemuda itu sepertinya belum puas, terbukti dengan diserangnya dada berisi Hyeri yang membangkitkan iblis dalam dirinya.

“Huan….”

“Hm….”

“Kau tidak lelah?” tanya Hyeri, dielusnya punggung telanjang namja yang berada diatasnya itu lembut, “Kau butuh istirahat…. Kita bisa melanjutkannya besok.”

Huan menghentikan aktifitasnya, sebagai gantinya didekapnya tubuh Hyeri erat, “Ani. Aku takut besok aku tidak bisa melakukannya lagi.” Ucapnya lirih.

“Kau bisa melakukannya! Bahkan setelah anakmu lahir nanti.”

Mwo? Anak?” Huan menatap Hyeri lekat-lekat.

Hyeri tersenyum, dengan perlahan mendorong Huan agar menyingkir dari atas tubuhnya, meraih kemeja Huan dan memakainya asal kemudian berjalan menuju almari dan mengambil sesuatu dari sana.

Huan menatap was-was apa yang sedang dilakukan oleh wanita yang selama 8 tahun berada disisinya itu.

“Bacalah!” Hyeri menyerahkan secarik kertas hasil pemeriksaannya ke rumah sakit.

“I…. Ini….” Huan menatap Hyeri dengan mata berkaca-kaca.

Hyeri tersenyum.

Gomawo….” Huan memeluk Hyeri erat.

“Huan, jangan terlalu erat! Kau menyakiti kami….”

“Ehe…. Hai Chagy…. Ini Appamu….” Huan mengusap perut datar Hyeri lembut penuh sayang.

“Usianya baru Sembilan minggu.”

“Kau sudah memberitahu Umma dan Appa?”

Hyeri menggangguk, “Mungkin sekarang mereka sedang di dalam pesawat menuju kesini.”

“Kau harus berhenti menari!”

Ne. Arraso….”

 TBC

Butuh Mood ekstra buat menulis cerita membahayakan seperti ini ==” Kami masih belajar jadi kritik dan saran sangat diterima.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s