Ije Final Chap


CIIIIIIIITTTTTTTTTTTTTTTTT…..

BRAAAAAAAAAAAAAAAKKKK!!!!

Suara dentuman dua kuda besi beradu membuat keheningan pagi itu terusik, api yang menguar membara menampakkan amarahnya membuat manusia yang masih asyik terlelap dalam pembaringannya berbondong-bondong keluar begitu terdengar raungan sirine ambulan dan pemadam kebakaran. Para tenaga medis kalang kabut mengeluarkan para korban yang terjepit, berpacu dengan waktu sebelum api merambah ke tangki bahan bakar dan meledakkan dua kuda besi yang sudah tak berbentuk lagi. Para korban yang sudah dievakuasi segera dibawa ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan pertama.

Pip…. Pip… pip… pip… suara detak jantung dari  elektrokardiograf menjadi irama tersendiri di ruang ICU yang sepi. Membiarkan sang dokter yang ditemani beberapa suster sibuk mengelap keringat karena membaca elektrokardiogram sang pasien yang tak kunjung membuka matanya setelah mendiami ruang beraroma obat super menyengat itu selama kurang lebih dua minggu.

“Apa keluarga pasien sudah datang?” tanya sang dokter.

“Seluruh keluarganya meninggal dalam kecelakaan itu, Dok. Keluarganya yang berada di Jepang belum bisa datang karena disana sedang ada Tyfun.” Jawab sang suser.

“Kalau begitu segera hubungi keluarganya yang ada di Jepang, untuk meminta persetujuan mereka. Bagaimanapun pasien ini tidak akan bertahan tanpa alat-alat medis ini….”

Nde dokter….” Sahut suster.

Wanita cantik itu masih enggan membuka matanya, padahal sudah lebih dari 2 minggu si cantik itu terlelap dalam tidurnya, mebiarkan selang infuse menusuk kulit halusnya, membiarkan masker oksigen menutupi hidung mancungnya. Membiarkan seorang pemuda tersenyum penuh kemenangan melihat kondisinya yang kini tengah tak berdaya.

“Hyeri…. Kau milikku…. Kalau aku tidak bisa memilikimu maka tidak ada yang boleh memilikimu.” Desisnya pelan.

“Tuan, apakah anda kerabat pasien?” tanya Suster

Nde, waeyo?”

“Siapa nama anda?”

“Choi Huan.”

“Ah, tuan Choi bisa anda memberi ijin untuk memindahkan pasien keruang perawatan biasa. Keadaan pasien sama sekali tidak ada perkembangan yang berarti sehingga pihak rumah sakitpun sudah angkat tangan. Saat ini pasien bisa bertahan hanya karena bantuan peralatan medis, tanpa itu semua….”

“Suster, dia harus terus hidup! Apapun dan bagaimanapun caranya….”

Choi Huan, setelah enam tahun menetap di Amerika, belajar sekaligus berusaha mengembalikan kehormatan keluarga dan harga dirinya telah kembali dengan kesuksesan ditanggannya untuk dipersembahkan kepada wanita yang dicintainya. Tapi apa yang didapatkannya? Kim Hyeri yang dicintainya telah menjadi milik wanita lain, Hyeri telah menikah dengan Cho Hyunno, sahabat sekaligus seteru Huan satu minggu sebelum Huan kembali. Dan gelap mata pulalah yang membuat Huan meminta pegawainya menabrak mobil yang tengah dikendarai oleh Hyeri beserta Huan dan keluarganya yang menyebabkan Hyeri menjadi satu-satunya korban yang selamat walaupun kondisinya sangat memprihatinkan.

Huan menghela napasnya perlahan, melemaskan kakinya, membiarkan pikirannya melanglang buana meninggalkan raganya yang merasa lelah, sedih dan menyesal. Yah, Huan menyesal atas apa yang terlah dilakukannya hingga menyebabkan orang yang dicintainya menjadi seperti ini.

Huan tersenyum melihat sepasang bocah lari dengan wajah polos, si gadis kecil memeluk sebuah boneka panda, sedangkan si bocah laki-laki menarik lengan kanan si gadis kecil erat. Mereka kembar, huh?

We have arrived Yuuki, don’t cry again. Later your face so ugly …” si bocah laki-laki mengusap air mata bocah perempuan yang sedikit lebih pendek darinya.

Umma….” Gumam si kecil yang memeluk erat boneka pandanya.

Uljima ne…. Umma ganna be okay, right?”

Omo! Nara, Yuuki…. Kalian jangan membuat ahjuma khawatir ne…. Kalian kemana saja?” seorang wanita dewasa menghampiri kedua bocah itu dan memeluknya erat.

Huan tersenyum getir melihat polah ke-2 bocah yang sepertinya memang kembar itu yang membuat sang pengasuh kelabakan dengan ulah mereka.

Umma kalian akan marah chagy, kalian jangan nakal ne?” nasihat sang ahjuma.

“Kemana Umma mereka?” tanya Huan.

“Ah, nyonya sakit….” Jawab ahjuma itu tersenyum, “Nyonya mengalami kecelakaan dan sampai sekarang belum sadar juga. Tuan meninggal dalam kecelakaan itu.”

“Siapa nama Umma mereka?”

“Cho Hyeri.”

Cho Hyeri…. Cho Hyeri… Cho Hyeri…. Kim Hyeri…. Bagai disambar petir musim panas, Huan membeku seketika. Hyeri menjadi ibu dari dua anak kembar itu? Hyerinya? Hyeri yang dicintainya? Bagaimana bisa?

Huan menatap sendu dua bocah lucu yang berada dalam gendongan haraboji dan halmoni mereka. Mereka tidak tahu dan tidak mengerti apa yang telah terjadi pada orang tua mereka. Appa dan Umma mereka pergi ke tempat yang sangat jauh bernama surga dan tidak akan pernah bisa memeluk mereka lagi. Cho Nara dan Cho Yuuki, bocah polos yang mewarisi darah Cho Hyunno yang sangat dibenci Huan namun juga mewarisi darah Kim Hyeri, wanita yang sangat dicintai oleh Huan. Tidak bisa! Huan tidak bisa membenci ke-2 bocah polos itu. Ada rasa bersalah yang menyesakkan dadanya ketika melihat raut kesedihan diwajah malaikat kecil itu, malaikat yang mewarisi mata indah dan bibir tipis Hyeri, wanita yang dicintainya dengan sepenuh hati.

Ahjushi, biarkan aku menjadi ayah angkat mereka. Bagaimanapun juga Hyunno dan Hyeri adalah sahabatku.” Lirih Hyunno ketika meminta ijin pada ayah mendiang Hyunno untuk menjadi ayah angkat si kembar NaraYuuki. “Aku tidak akan meminta mereka tinggal bersamaku, aku hanya ingin membesarkan mereka, mereka bisa tinggal bersama keluarga Cho.”

Begitulah…. Huan ikut membesarkan NaraYuuki, malaikat kecil peninggalan Hyeri. Yeah, bagi Huan dirinyalah ayah 2 malaikat kecil itu bukan Hyunno. Rasa bersalah yang menggrogoti hati Huan menyebabkannya sakit hingga ketika si kembar berusia 15 tahun, Huan tutup usia dan mewariskan seluruh hartanya pada si kembar.

Eochapi kkeutnabeorin geol ije wa eojjeogesseo

Dwineutge huhoena haneun geoji deoltteoreojin nomcheoreom

Bineun hangsang onikka gyesok banbokdoegetji

Geuchigo namyeon geujeseoya nado geuchigetji

 

Bineun hangsang onikka gyesok banbokdoegetji

Geuchigo namyeon geujeseoya nado geuchigetji

Gerimis mengiringi kepergian Huan, airmata sebagai tanda perpisahan pun dihadiahkan oleh anaknya sebagai penghormatan terakhir untuknya.

Appa…. Di surga akurlah dengan Hyeri Umma dan Hyunno Appa, ne….” lirih si kembar sembari meletakkan setangkai mawar putih diatas nisan marmer berukirkan nama Choi Huan.

What can I do about something that already ended?

I’m just regretting after like the stupid fool I am

Rain always falls so it will repeat again

When it stops, that’s when I will stop as well

.

Rain always falls so it will repeat again

When it stops, that’s when I will stop as well

END

Thursday, September 13, 2012

6:17:07 PM

NaraYuuki

Gaje ne? Banyak miss Typo and alur terlalu cepat ==” Susah dipahami?

Yang mampir jangan lupa tinggalkan jejak ne ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s