Sekuel Vengeance II

Tittle                : Sekuel Vengeance II

Writer               : NaraYuuki

Genre               : Romance? Familly? Friendship? A Little bit Angst?

Rate                 : T+

Cast                             : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Park Yoochun, Han Youngwoong & Jung Jessica

Disclaimer:      : They are not mine but this story, OOC Hyunno & Hyunbin are mine, NaraYuuki

Warning           : Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran. Tanpa Edit jadi mungkin sedikit amburadul ==” Penceritaan ngebut. Saran dan masukkan diterima. Tidak menerima Bash dan Flamer dalam bentuk apapun!

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

PASTIKAN BACA WARNINGNYA!

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

“Aku tidak suka mata indahmu terbingkai kaca mata itu, Jae!” ucap Yunho pada udara kosong di depannya. Semenjak pulang dari acara pesta pertunangan Jessica, Yunho sudah menghabiskan lebih dari 5 botol wine yang harga sebotolnya mampu membeli sebuah mobil mewah. Padahal Yunho tidak kuat minum minuman beralkohol tetapi rasa putus asa telah memaksanya untuk melampaui batasnya sendiri. “Aku tidak suka kau bertunangan dengan Jessica walaupun aku tahu ia gadis yang baik, walaupun ia teman baikku. Aku tidak suka. Aku tidak rela!” racaunya.

Jaejoong yang tadi ia lihat adalah Jaejoong yang sama dengan yang dulu ia kenal. Jaejoongnya tidak berubah kecuali sebuah kaca mata yang membingkai mata indahnya, Yunho tidak suka benda itu menghalangi pancaran keindahan mata Jaejoong. Yunho sangat menyukai mata hitam legam indah itu sepenuh hatinya. Yunho tidak rela Jaejoong menjadi milik Jessica. Yunho ingin merebutnya tetapi bagaimana caranya?

Dalam ketidaksadarannya, Yunho terisak keras. Untunglah ia sudah berada di rumahnya sendiri sehingga ia tidak perlu merasa malu pada siapapun. Air mata itu mebasahi wajahnya, Yunho menangis sampai dewi mimpi menariknya untuk terlelap, sejenak melupakan nelangsa yang sedang mengganggu hatinya yang rapuh.

❤❤❤

Yunho memasang senyum kakunya ketika berhadapan dengan sosok yang begitu dirindukannya, begitu didambanya seperti orang gila. Yunho sengaja meminta alamatnya dari Jessica dengan dalih kesehatan lambung yang memang sejak lama sudah ia derita, Yunho ingin berkonsultasi pada Jaejoong.

“Apa yang kau katakan pada Jessica sehingga ia memberikan alamatku padamu?”

“Lambungku bermasalah.” Jawab Yunho.

“Memang. Bukankah kau juga baru pulang dari rumah sakit karena masalah lambung?”

“Jessica tidak tahu soal itu.” Yunho tersenyum.

“Mau apa kau kemari?”

“Aku turut menyesal atas apa yang terjadi pada orang tuamu.” Ucap Yunho tulus. “Dan soal adik-adikmu… kenapa mereka tidak mirip denganmu?”

Jaejoong tersenyum bodoh melihat ekspresi wajah Yunho. “Apakah ketidakmiripan adik-adikku denganku menjadi masalah untukmu?”

“Kita pernah tidur bersama, walaupun hanya semalam tetapi seingatku beberapa kali aku melakukannya denganmu. Adikmu –mendiang saudara kembarmu, aku hanya melakukannya sekali tetapi ia sempat mengandung walaupun akhirnya berakhir seperti itu. Ada kemungkinan kalau adik-adikmu itu sebenarnya bukan adikmu melainkan anakku.”

“Kau mabuk? Atau kau terlalu banyak nonton drama picisan tidak bermutu?”

“Wajah mereka tidak sama sepertimu, terutama mata mereka! Mata mereka tajam sepertiku.”

“Ayahku –ayah tiriku memiliki mata yang tajam. Kalau kau lupa aku mengingatkanmu!”

Yunho menggelengkan kepalanya, “Tidak sama!”

“Jangan merusak hariku! Kalau kau tidak ada urusan lain silakan pergi! Aku ingin tidur.”

“Ini baru pukul 7.30 pagi.”

“Aku sift malam. Pukul 6 aku baru pulang. Setelah mengurus si kembar dan mengantarkan mereka ke sekolah aku berencana ingin tidur tetapi kau datang mengganggu waktu istirahatku!”

“Tidurlah! Aku tidak keberatan menungguimu sampai kau bangun dari tidurmu.” Ucap Yunho.

Jaejoong mendengus kesal. “Terserahmu saja!” Jaejoong kemudian berjalan meninggalkan Yunho di ruang tamu rumahnya sendirian. Terang saja, Jaejoong tidak memiliki pembantu rumah tangga, hanya dua orang baby sitter yang bertugas menjaga si kembar dan kini mereka sedang menunggui si kembar pulang sekolah.

❤❤❤

Yunho menatap sekeliling ruang tamu mini malis itu dengan seksama. Cat tembok warna broken white membuat nuansa ruang tamu menjadi ceria, sebuah pot bunga yang diletakkan disudut ruangan menambah hidup suasana ruangan itu. Yunho tersenyum ketika melihat jejeran foto berbingkai yang diatur sedemikian rupa hingga terlihat bagus dan menarik. Foto Jaejoong semenjak kecil hingga menjadi seorang dokter, foto adik kembarnya dari bayi hingga memasuki bangku sekolah, foto mendiang ibu dan ayahnya –ayah tirinya semuanya terpajang rapi menghiasi dinding. Tetapi tidak ada foto ayah kandung dan adik kembar Jaejoong –mendiang Han Youngwoong.

Rumah ini jelas tidak lebih besar daripada rumah Jaejoong yang dulu –ketika mereka masih SMA. Namun Yunho dapat merasakan suasana hangat memancar dari rumah ini. Menyandarkan punggung dan lehernya pada punggung sofa yang didudukinya, Yunho menatap langit-langit ruangan yang mana tergantung sebuah lampu unik di atas sana. Lama Yunho memandangi lampu itu hingga kedatangan si empunya rumah mengejutkannya. Jaejoong datang membawa baki berisi secangkir kopi dan sepiring kue lapis yang sudah dipotong-potong.

“Aku tahu kau tidak akan pergi dari sini semudah itu! Walaupun aku memanggil petugas keamanan sekalipun kau akan tetap kembali kemari. Apa maumu sebenarnya?”

“Sepuluh tahun lebih aku hidup dalam nelangsa karena kau pergi meninggalkanku tanpa mengatakan apa-apa.” Ucap Yunho. “Boleh aku minum kopinya? Kebetulan aku belum makan sejak semalam.”

“Silakan.”

Tanpa sungkan Yunho mengambil sepotong kue lapis, memakannya hingga habis lantas meminum setengah cangkir kopi susu hangat yang Jaejoong hidangkan.

“Kita tahu bahwa kita tidak terikat hubungan apa-apa. Jadi kenapa kau mengeluh ketika aku meninggalkanmu begitu saja?” tanya Jaejoong.

“Dan kita berdua tahu bahwa aku memiliki perasaan khusus padamu. Aku sudah mengatakannya padamu.” Yunho membela diri. “Mungkin bila aku lebih dulu bertemu denganmu bukan dengan Youngwoong, tidak akan seperti ini hubungan kita.”

“Jangan berandai-andai!”

“Benar.” Yunho mengangguk.

“Lalu? Apalagi?”

Yunho menatap tajam mata indah berbingkai kaca mata itu dalam-dalam, “Aku tidak setuju kau bertunangan dengan Jessica.”

Jaejoong tersenyum bodoh. Duduk bersandar sambil menyilangkan kedua kakinya. “Aku tidak butuh persetujuan darimu. Kau bukan siapa-siapaku!” Jaejoong mengingatkan.

“Sialnya itu benar.” Keluh Yunho.

Hening menyebalkan untuk sesaat. Yunho hanya mampu terdiam memandang sosok yang begitu ingin ia peluk hingga remuk, ingin mencium dan mencumbu sosok yang membuatnya memeram rindu dendam sekian tahun hingga menyiksa jiwanya. Jaejoong sendiri hanya diam, diam yang takzim hingga akhirnya kelopak mata berbingkai kaca mata itu tertutup perlahan-lahan karena rasa lelah dan kantuk yang menyerangnya.

Yunho tersenyum. Ini kali pertama ia melihat Jaejoong duduk sambil tertidur. Wajah menawan itu terlihat sangat lelah dan letih. Yunho ingin sekali menggantikan posisi sofa itu sebagai sandaran Jaejoong, Yunho ingin mendekap dan memeluk sosok yang kelelahan itu dalam pelukannya, Yunho ingin menyeka wajah letih itu dengan kasih sayang yang ia miliki, seandainya Jaejoong mengijinkannya.

Melihat posisi tidur yang sepertinya kurang nyaman, Yunho akhirnya berjalan menghampiri Jaejoong, menata bantal sofa untuk alas kepala lantas menselonjorkan posisi tidur Jaejoong agar menjadi lebih nyaman. Setelah memastikan tidur Jaejoong tidak terusik, Yunho kembali ketempatnya semula namun sebelum itu ia mencuri satu ciuman dari bibir merah penuh yang begitu didambanya.

❤❤❤

Jaejoong terbangun tengah hari lewat. Suara tawa si kembar membuatnya tersadar dari mimpinya. Jaejoong segera mendudukkan dirinya, mengumpulkan kesadarannya lantas berjalan ke luar rumah untuk melihat apa yang sudah membuat kedua anak kembar itu tertawa begitu girang.

Yunho!

Jaejoong melihat si kembar sedang berlarian di halaman depan rumah mereka, membawa pistol air dan mengejar Yunho. Sesekali Hyunno maupun Hyunbin –nama si kembar, menembakkan pistol air yang mereka bawa pada Yunho, membuat baju pria berkulit tan itu basah pada beberapa tempat. Jaejoong mengawasi mereka dalam diam.

“Mereka sudah makan siang?” tanya Jaejoong pada salah seorang baby sitter yang lewat di sebelahnya sambil menenteng keranjang jemuran kering berisi seragam dan baju si kembar.

“Belum Jaejoong sshi.” Jawab sang baby sitter, lantas melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda.

Jaejoong berjalan menghampiri adiknya, menangkap Hyunbin yang menjerit-jerit ke girangan lantas meraih ujung kaus Hyunno dan mencekalnya. Mendekap keduanya yang masih kegirangan dan tertawa senang.

“Sudah waktunya makan siang dan tidur siang.” Ucap Jaejoong. Mata berbingkai kaca mata indahnya teduh menatap wajah-wajah polos kedua adiknya. “Kalian bisa main dengan paman Yunho setelah tidur siang. Arrachi?”

Neee….” Sahut ke dua anak kembar itu bersamaan.

“Serahkan mainan kalian pada Im ahjumma lalu minta pada Kang ahjuma untuk menggantikan baju kalian!” perintah Jaejoong sambil mengusap kedua kepala adiknya secara bergantian. “Kajja! Hyung tunggu di ruang makan!”

Kedua anak kembar itu lantas berlari menghampiri pengasuh mereka yang sedang duduk menjaga keranjang berisi mainan, menyerahkan kedua pistol air mereka lantas berlari memasuki rumah dengan girang.

“Mereka anak-anak yang manis.” Ucap Yunho yang berjalan mendekati Jaejoong.

Jaejoong melirik pria yang bajunya basah dibeberapa tempat itu dengan tatapan dingin. “Ukuran bajumu sepertinya lebih besar dariku. Aku punya beberapa baju yang berukuran cukup besar untuk kau pakai. Akan ku carikan. Masuk dan ikutlah makan siang bersama kami.”

Yunho tersenyum sumpringah. “Walaupun kau cap aku sebagai orang tidak tahu malu, aku jelas tidak akan menolak ajakan makan siang ini.” Ucapnya yang hanya dibalas dengusan oleh Jaejoong.

❤❤❤

Kebahagiaan Yunho bisa makan siang bersama dengan Jaejoong dan adik-adiknya sirna begitu saja karena kedatangan Jessica yang secara resmi merupakan tunangan sah Jaejoong. Tanpa sungkan Jessica mencium kedua pipi Jaejoong beserta si kembar, lantas menyalami Yunho dan ikut bergabung dimeja makan.

“Yunho minta alamatmu, katanya ia ingin konsultasi soal penyakitnya.” Ucap Jessica.

Melalui lensa kaca matanya, Jaejoong menatap tajam sekilas pada Yunho yang sepertinya merasa kurang nyaman sejak kehadiran Jessica. “Ya, ku rasa itu semua disebabkan oleh asam lambungnya yang tinggi serta pola hidup yang kurang sehat. Minum kopi pagi hari ketika perut dalam keadaan kosong contohnya.” Komentar Jaejoong.

Yunho berdeham (pura-pura batuk), meraih gelas jusnya, meminumnya beberapa teguk sebelum berkomentar, “Jaejoong tipe dokter yang galak dan cerewet.”

“Itu karena Joongieku sangat perhatian pada semua pasiennya.” Bela Jessica.

“Kau datang tanpa pemberitahuan, apa ini semacam kejutan?” tanya Jaejoong. Matanya menatap hangat pada Jessica, mengabaikan tatapan sendu yang Yunho lemparkan padanya.

“Hanya kebetulan mampir. Aku baru saja berkonsultasi dengan WO yang mengurus pesta pernikahan kita.” Jawab Jessica.

“Kalian akan menikah?” tanya Yunho menyela.

Jessica menatap malas teman SMAnya itu, “Kami sudah bertunangan Jung Yunho, tentu saja kami akan menikah.”

“Tapi ku kira kalian akan menikah beberapa tahun lagi.” Ucap Yunho, ada nada ketidakrelaan dalam kata-katanya.

“Untuk apa menunggu lama-lama? Kami akan menikah 2 bulan lagi.” Jessica tersenyum sumpringah. “Tapi jangan beritahukan hal ini pada yang lain dulu ya.” Pintanya.

Yunho menatap Jaejoong dengan pandangan syok seolah-olah minta penjelasan. Namun Jaejoong hanya diam saja tanpa memedulikan Yunho.

“Karena Joongie tidak mungkin mengurus soal pernikahan –ia terlalu sibuk tentu saja, karenanya aku yang mengurus pernikahan kami. Mulai dari mencari tempat, dekorasi, undangan, catering bahkan designer yang merancang baju kami nantinya.” Cerita Jessica.

Designernya adalah kau sendiri, kan?” Jaejoong mengusap kepala Jessica perlahan.

“Tentu saja!”

Melihat rona bahagia dan antusiasme Jessica menyambut pernikahannya dengan Jaejoong membuat hati Yunho nyeri. Yunho kira mereka akan menikah beberapa tahun lagi sehingga dirinya bisa meyakinkan Jaejoong untuk membatalkan pertunangannya dengan Jessica tetapi… Yunho seperti dipaksa menelan pil pahit seukuran bola pingpong yang mengganjal tenggorokannya. Yunho dipaksa menerima kenyataan bahwa harapannya adalah semu belaka.

“Ah, mengenai libur panjang nasional selama 5 hari nanti…” suara Jessica membuyarkan lamunan Yunho, “Aku akan mengajak Hyunno dan Hyunbin ke Jeju. Mereka akan menjadi model tamu istimewaku untuk desain baju anak-anak rancanganku menjelang musim gugur.”

“Ya, dan mereka sudah setuju ikut denganmu karena kau menjanjikan mereka akan membelikan Gundam yang bisa bicara pada mereka.” Sahut Jaejoong.

Jessica terus berceloteh, sesekali Jaejoong menyahutinya. Keduanya asyik berbicara, melupakan keberadaan Yunho yang masih duduk membatu di sana.

❤❤❤

Yunho menyulut rokoknya, menghisapnya dalam-dalam sebelum mengepulkan asapnya ke udara. Sudah pukul 2 dini hari dan Yunho masih setia berada di tempat parkir rumah sakit. Duduk di kap mobilnya ditemani sekaleng kopi yang ia beli di mesin penjual otomatis. Satu minggu ini seperti itulah rutinitas yang ia lakukan. Kadang pagi-pagi buta Yunho sudah berada di tempat parkir itu, melakukan hal yang sama selama berjam-jam sampai rasa bosan memaksanya untuk pergi. Yunho seperti orang gila yang sedang putus asa. Ah, ya… Yunho memang sudah putus asa.

“Bila aku melihatmu melakukan hal yang sama esok hari akan ku suruh petugas keamanan mengamankanmu!”

Yunho membuang puntung rokoknya, berdiri dan menatap orang yang menegurnya. Tersenyum sumpringah. “Aku menjemputmu.”

“Aku bawa kendaraan sendiri.”

“Aku tetap menjemputmu. Aku sudah menyuruh orang untuk menderek mobilmu sampai rumahmu.”

“Kau gila?”

“Ya. Kau yang menyebabkan aku gila, Jae.” Seloroh Yunho. Yunho berjalan menuju sisi pintu penumpang mobil dan membukanya. “Masuk atau aku akan menculikmu. Kau tahu? Aku sudah mulai kehilangan kewarasanku sejak kau bertunangan dengan Jessica.”

Jaejoong menatap tajam Yunho, ada api kemarahan dalam bola mata indahnya yang terbingkai lensa kaca mata. Namun begitu Jaejoong tetap masuk ke dalam mobil mewah Yunho juga. Apa boleh buat? Jaejoong kelelahan. Mobilnya menghilang dari tempatnya parkir semula.

Yunho tersenyum, menutup pintu mobil lantas berjalan kesisi yang lain, masuk mobil, menyalakan mesin dan mulai menjalankan mobilnya. “Aku akan mengajakmu ke apartementku dulu.”

“Aku tidak mau!” tolak Jaejoong.

“Hanya untuk mengambil dokumen yang ku butuhkan. Usai mengantarmu aku akan langsung ke kantor.”

“Ini bahkan belum fajar.”

“Sendirian di rumah membuatku frustasi karena teringat padamu terus menerus. Aku butuh pengalihan.” Jawab Yunho. “Kerja adalah salah satu pilihannya.”

Jaejoong diam saja, matanya mengamati deretan lampu merkuri yang berjejer dipinggir jalan, pucat dan muram. Jaejoong tidak tahu bagaimana perasaannya pada Yunho sekarang, apakah masih ada dendam atas apa yang menimpa saudara kembarnya? Apakah ada belas kasihan dalam dirinya untuk Yunho? Jaejoong tidak tahu. Ia bisa menerima keberadaan Yunho disekitarnya selama tidak mengusik kehidupannya lebih daripada yang seharusnya.

Terlalu sibuk dengan pikirannya yang berlompatan tidak tentu, Jaejoong sama sekali tidak menyadari bahwa mobil Yunho yang ia tumpangi sudah berbelok memasuki kompleks apartemen mewah. Melaju perlahan menuju tempat parkir sebelum akhirnya benar-benar berhenti.

“Kita sudah sampai.” Ucap Yunho yang sepertinya sama sekali tidak didengar oleh Jaejoong. “Jae, kita sudah sampai….” Kali ini Yunho menepuk bahu Jaejoong perlahan.

Jaejoong menoleh menatap Yunho dengan mata bening lelahnya, “Lalu apa yang kau tunggu? Cepat ambil apa yang mau kau ambil!”

“Aku tidak bisa membiarkanmu menunggu disini sendirian. Setidaknya ada secangkir teh hangat yang bisa menghangatkan tubuhmu.”

“Tidak. Aku menunggu disini saja.” Tolak Jaejoong.

“Kau bisa masuk angin. Kau ini dokter, banyak pasien yang bergantung padamu. Kalau kau sakit siapa yang akan mengurus pasien-pasienmu?” bujuk Yunho. “Aku janji tidak akan lama.”

Jaejoong menghela napas panjang. Membuka pintu mobil lalu berjalan keluar. Lelah badannya. Jaejoong ingin segera bertemu tempat tidurnya agar bisa berbaring diatasnya guna melepas lelah. Berjalan perlahan mengikuti langkah kaki Yunho.

❤❤❤

Yunho tersenyum melihat Jaejoong yang terlelap diatas sofa ruang tamunya. Teh hangat yang ia suguhkan masih mengepulkan asap, masih utuh, Jaejoong sama sekali belum menyentuhnya. Yunho meletakkan tumpukan map berisi dokumennya di atas meja, berjalan perlahan menghampiri Jaejoong, berjongkok dihadapannya dan mengamati wajah lelah sosok yang menjerat hatinya itu lekat-lekat. Perlahan-lahan Yunho melepas kaca mata Jaejoong, mengamati bulu lentik yang menghiasi mata terpejam  itu.

“Tidurlah! Kau pasti benar-benar kelelahan….” Bisik Yunho lirih. Dikecupnya kening Jaejoong sebelum beranjak menuju kamarnya untuk mengambil sesuatu.

❤❤❤

Jam dinding menunjukkan pukul 10 pagi. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela kaca bergorden tipis mulai mengusik tidur lelap Jaejoong. Rasa sejuk dari pendingin ruangan segera menyadarkannya dari mimpi aneh yang dialaminya. Jaejoong membuka mata indahnya, menatap sekeliling dengan alis berkerut. Jaejoong tidak mengenali ruangan tempatnya berada sekarang. Menoleh ke samping kanan, Jaejoong menemukan sebuah memo yang diletakkan di bawah kaca matanya. Jaejoong mengambil kertas memo itu dan membacanya.

Kau tidur sangat lelap. Aku tidak tega membangunkanmu. Kunci rumah dan mobilku ada didalam laci, kau bisa memakainya bila mau. Kulkasku penuh bahan makanan kalau kau lapar. Yunho.

“Ini tidak seperti yang ku harapkan.” Gumam Jaejoong. “Selama ini aku berusaha menghindarinya tetapi semakin keras aku menghindar jarak itu semakin bertambah dekat. Mengesalkan.”

Jaejoong beranjak dari tempat tidur, berjalan mengelilingi kamar yang ia ketahui adalah kamar Yunho. Memeriksa pintu yang ada di dalam kamar tersebut untuk mencari toilet. Jaejoong butuh mandi sebelum pulang ke rumahnya sendiri yang sama sepinya dengan rumah Yunho –kedua adiknya beserta baby sitter mereka sedang berlibur bersama Jessica.

Memasuki kamar mandi, aroma maskulinlah yang menyeruak menggelitik indera penciuman Jaejoong, sangat berbeda dengan aroma kamar mandinya yang didominasi oleh wangi sabun dan sampo khas anak-anak. Jaejoong segera melepas pakaiannya dan menyalakan shower. Membiarkan air dingin membasahi sekujur tubuhnya, merilekskan otot-ototnya yang terasa tegang dan kaku.

❤❤❤

Jessica menghambur memeluk Jaejoong, mencium pipinya dengan mesra. 5 hari lebih tidak bertemu dengan tunangannya membuatnya benar-benar merasakan kerinduan yang mendalam. Perempuan berambut panjang itu tanpa malu mengutarakan perasaan rindunya pada sang tunangan walaupun saat itu mereka tidak sedang sendirian.

“Apa si kembar kelelahan setelah pulang dari Jeju?” tanya Jessica yang langsung mendudukkan dirinya di kursi yang berada di samping Jaejoong. Mereka sedang berada di sebuah café untuk makan siang bersama.

“Tidak. Seperti biasa, mereka sibuk bermain tanpa memedulikan rasa lelah.” Jawab Jaejoong. “Aku memesankanmu salad dan jus sayur.”

Jessica mengangguk paham. Ia sedang diet demi menyambut pesta pernikahannya.

“Jangan terlalu berlebihan. Tanpa diet pun kau pasti akan menawan nanti.”

“Aku ingin memberikan yang terbaik untukmu di acara pesta pernikahan kita nanti.” Seloroh Jessica. “Eh… itu Yunho, kan?”

Jaejoong mengalihkan perhatiannya ke arah pintu masuk dimana disana berdiri sosok yang ia kenal namun tidak ia harapkan perjumpaan dengannya. “Mungkin ada janji dengan rekan kerjanya atau kantornya memang berada didekat sini.” Komentar Jaejoong tidak acuh.

“Hei Jung Yunho!” Jessica melambaikan tangan kanannya pada Yunho. Yunho yang melihatnya segera tersenyum dan balas melambaikan tangannya sebelum seorang perempuan menghampirinya dan mengajaknya memasuki ruang VIP di café tersebut. “Eh? Dia sudah punya yeoja chingu ya?” gumam Jessica.

“Dia pria dewasa yang normal. Wajar kalau dia punya pasangan, kan?” dengan ringan Jaejoong berkata seperti itu tetapi hatinya terasa sedikit nyeri.

❤❤❤

“Perempuan tadi adalah bawahanku di kantor.”

Jaejoong nyaris terlonjak kaget ketika tiba-tiba saja Yunho berdiri di sampingnya saat dirinya hendak membuka pintu mobilnya. Menutup mata untuk menetralkan debaran detak jantungnya yang memacu cepat akibat kaget, Jaejoong lantas menatap tajam Yunho dengan pandangan sengit dan kesal. “Apapun hubunganmu dengan perempuan tadi sama sekali tidak ada urusannya denganku!”

“Aku hanya tidak ingin kau salah paham padaku.”

Jaejoong tertawa bodoh. “Untuk apa aku salah paham padamu? Kau ini aneh sekali!” ucapnya tak acuh. “Sekarang menyingkirlah karena aku harus bergegas.”

Yunho mencekal pergelangan tangan Jaejoong, menghadapkan Jaejoong padanya kemudian mencium paksa bibir merah penuh itu dengan rakus. Jaejoong meronta namun Yunho terus memaksanya, menyudutkannya hingga punggung Jaejoong membentur mobil.

“Apa yang kau lakukan?” dengan brutal Jaejoong menonjok wajah Yunho. Amarah tercetak celas pada mata indah berbingkai kaca matanya.

“Hargailah perasaanku sedikit!” gumam Yunho.

Dengan kesal Jaejoong masuk dalam mobilnya dan segera pergi dari tempat brengsek yang membuatnya malu dan marah.

Tertatih, Yunho bangun dari ketersungkurannya, berjalan perlahan menuju mobilnya sendiri sebelum pergi mengikuti jejak Jaejoong tanpa menyadari ada sepasang mata yang mengalirkan cairan bening usai melihat apa yang sudah Yunho lakukan pada Jaejoong.

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

TBC

❤❤❤

❤❤❤

Sebelumnya Yuuki minta maaf karena Chap 3 yang seharusnya menjadi Chap end belum bisa Yuuki selesaikan walaupun sangat ingin Yuuki selesaikan bersamaan dengan 2 chap ini tetapi apa boleh buat, keterbatasan Yuuki:)  Yuuki agak sok sibuk di real karena selain ditunjuk menjadi pembimbing & penguji karya tulis ilmiah Yuuki juga harus mengurus surat pindah serta persidangan karena sebuah masalah. Selain itu Yuuki mau menyampaikan penyesalan Yuuki dari hati yang terdalam karena Yuuki harus hiatus untuk beberapa bulan sehingga hutang epep yang lalu terpaksa dipending. Tenang saja, semua draffnya sudah Yuuki selesaikan tinggal edit. Tetapi proses editing itu bahkan jauh lebih sulit daripada membuat draff itu sendiri (menurut Yuuki sih). Yuuki juga harus istirahat untuk persiapan operasi mata kiri Yuuki, kegiatan didepan layar computer & laptop harus mulai dikurangi. Mohon doanya agar semuanya berjalan lancar biar Yuuki bisa segera membayar semua hutang epep Yuuki ya:)

Tetap jaga kesehatan….

Sampai jumpa dipertemuan selanjutnya😀 V

❤❤❤

Saturday, April 02, 2016

8:40:45 AM

NaraYuuki

Sekuel Vengeance I

“Hei Han Youngwoong, sama seperti dulu… aku tidak pernah menyukaimu. Aku membencimu –bisa dikatakan begitu. Tetapi salahkah aku yang jatuh cinta pada saudaramu? Kini saudaramu mencampakan aku seperti aku mencampakanmu dulu. Aku tidak menyukai perasaan ini tetapi jikalau ini karma untukku karena sudah jahat padamu maka akan aku terima….”

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

Tittle                : Sekuel Vengeance I

Writer               : NaraYuuki

Genre               : Romance? Familly? Friendship? A Little bit Angst?

Rate                 : T+

Cast                             : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Park Yoochun, Han Youngwoong & Jung Jessica

Disclaimer:      : They are not mine but this story, OOC Hyunno & Hyunbin are mine, NaraYuuki

Warning           : Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran. Tanpa Edit jadi mungkin sedikit amburadul ==” Penceritaan ngebut. Saran dan masukkan diterima. Tidak menerima Bash dan Flamer dalam bentuk apapun!

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

PASTIKAN BACA WARNINGNYA!

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

Sekuel Vengeance

Sejak awal caraku melihatmu dan Youngwoong adalah dua hal yang berbeda. Kalian tidak sama walaupun wajah kalian mirip. Dimataku kau lebih dari Youngwoong.” Ucap Yunho. “Ingin tidur denganmu? Ya. Tentu saja aku ingin. Tetapi aku tidak ingin hanya menjadi pengalaman one night stand saja. Aku ingin serius denganmu.”

Jaejoong tersenyum mengejek. “Kau bahkan tidak berani menciumku.”

“Aku sangat ingin melakukannya. Tetapi aku tidak ingin kau membenciku bila aku melakukannya.

“Kau bahkan sudah meniduri adikku!”

“Ya. Dan kau berbeda dengan adikmu.”

“Cium aku!” perintah Jaejoong.

Yunho melamun, begitulah. Pagi-pagi seperti ini ia justru melamun. Mimpi sialan yang semalam mendatanginya mengingatkannya pada sosok yang selama 10 tahun ini coba ia lupakan. Bahkan ketika membuat kopi tadi ia keliru memasukkan garam ke dalam cangkir kopinya, kopi itu berasa asin, pahit dan getir namun Yunho tetap meminumnya. Mungkin rasa yang menyengat lidahnya itu setimpal dengan kesalahan yang sudah ia perbuat dikala remaja dulu. Melirik jam dinding yang tergantung pada dinding pucat dapur mininya, Yunho masih bergeming dikursinya meskipun jam itu menunjukkan bahwa ia  sudah sangat terlambat untuk mengikuti rapat pemegang saham di perusahaan tempat kerjanya. Terserahlah! Toh kalaupun dirinya tidak berangkat rapat itu akan tetap diselenggarakan, ia tinggal bertanya pada rekan kerjanya yang ditunjuk sebagai notulis rapat. Yunho malas melakukan jenis pekerjaan apapun hari ini. Semangatnya luntur semenjak mimpi itu menyambanginya. Biarlah hari ini ia menuruti hasratnya untuk bermalas-malasan di rumah.

Jemarinya membuka lembar demi lembar buku siswanya dulu. Berhenti cukup lama untuk mengamati deratan foto-foto alumni satu angkatannya yang berjejer sedemikian rupa, berhenti untuk memandang foto sosok yang memiliki mata hitam legam sebening mutiara itu. Bibirnya menggumamkan sesuatu tanpa suara sebelum menghisap puntung rokoknya. Yunho bukan perokok berat, ia menghisapnya hanya ketika sedang frustasi atau dihadapkan pada masalah perusahaan yang pelik.

Yunho hendak merobek lembar berisi foto itu ketika dering ringtone ponselnya mengejutkannya. Tanpa melihat ID si pemanggil, Yunho segera menerima telepon itu.

Direktur Jung, rapat dibatalkan. Manager perencana dan pelaksana mengalami kecelakaan. Sekarang sedang kritis. Kami akan langsung menuju rumah sakit. Alamatnya akan segera ku kirimkan melalui pesan singkat.”

“Oh… bukan kabar yang penting.” Batin Yunho. Tapi meskipun begitu ia harus tetap pergi untuk melihat keadaan bawahannya. Dengan sedikit enggan Yunho menandaskan puntung rokoknya dalam asbak kaca.  Meminum segelas air putih sebelum memutuskan untuk mandi.

❤❤❤

Yah perawat Oh, jangan berlari dibangsal! Kau melanggar peraturan!” teriak seorang perawat senior ketika melihat rekan kerjanya berlarian disepanjang bangsal rumah sakit yang hari itu memang tidak –belum begitu ramai dikarenakan belum memasuki jam besuk.

“Maafkan aku Kepala Perawat! Aku harus mencari si kembar yang kabur sebelum atasan kita menggorok leherku!”

“Astaga anak itu….”

❤❤❤

Yunho sedang menanyakan ruang rawat bawahannya di kantor pada bagian informasi ketika ia merasa celananya ditarik-tarik oleh sesuatu. Yunho menoleh dan melihat seorang anak kecil berkulit pucat sedang menengadah, menatapnya dengan mata kecilnya yang polos itu. Yunho tersenyum melihat wajah tampan anak yang kira-kira berusia 8-9 tahunan itu. Anak kecil adalah sosok polos yang bersih.

“Kau sedang mencari ibumu ya?” tanya Yunho.

Anak kecil itu menggelengkan kepalanya pelan. “Apa Ahjushi melihat kakakku? Katanya dia mau ke toilet tapi sampai sekarang belum kembali. Padahal dia janji padaku akan menemaniku jalan-jalan ke taman naik kursi roda.”

“Siapa nama kakakmu, hm?”

“Hyu….”

Yah! Kim Hyunbin! Seorang suster datang menghampiri anak yang sepertinya familiar bagi Yunho itu, menggendong anak itu dan membawanya pergi dengan tergesa. “Kalau dokter tahu kau kabur, bukan hanya kau yang dimarahi. Jangan diulanginya lagi, arrachi?!”

Yunho tersenyum simpul, anak kecil selalu membawa kebahagiaan tersendiri bagi para orang dewasa, begitu pula baginya yang semenjak SMA memutuskan hidup sendiri. Yunho kembali bertanya pada bagian informasi mengenai ruang rawat bawahannya. Setelah mendapatkan informasi dan mengucapkan terima kasih, Yunho segera saja menuju ruang yang dimaksud oleh perawat yang bertugas menjaga bagian informasi.

Yunho agak kesulitan menemukan ruangan yang dimaksud mengingat rumah sakit itu sangat besar dan luas, terdiri dari 5 lantai dengan lorong dan bangsal-bangsal yang panjang, banyak belokan yang menyesatkan jikalau tidak jeli membaca papan petunjuk arah yang tergantung pada langit-langit.

Kenapa tidak menghubungiku sejak tadi, hah?”

Merasa mengenal suara itu Yunho segera menolehkan kepalanya, ada beberapa orang berjas putih bersih sedang berlari tergesa, dibelakangnya beberapa suster mengikuti dengan wajah tegang. Yunho memandangi gerombolan itu untuk sesaat sebelum akhirnya kembali berjalan. Menemukan petugas keamanan akhirnya Yunho memutuskan untuk bertanya dimana letak ruangan yang sedang ditujunya.

❤❤❤

Akhir-akhir ini Yunho sering merokok padahal ia tidak merasa sebagai seorang perokok berat, mungkin dikarenakan belakangan ini pikirannya kalut seperti benang kusut yang sulit terurai. Menatap pemandangan malam kota Seoul yang tengah diguyur hujan dari balik jendela kaca sambil menikmati rokoknya memberikan sensasi tersendiri bagi Yunho. Yunho lebih memilih rokok sebagai pelariannya daripada minuman keras ataupun rumah bordil. Melirik jam dinding yang membisu di atas sana Yunho, meraih cangkir kopinya. Mengabaikan berkas-berkas yang harus diperiksa dan ditandatanganinya. Entahlah… Yunho malas melakukan apapun, hanya ingin berdiam diri ditemani sebungkus rokok dan secangkir kopi.

“Kalau boleh berandai-andai… akan seperti apa jadinya hidupku jikalau kau tidak meninggalkanku malam itu, Jae?” lirihnya pada udara hampa disekitarnya.

Yunho menandaskan puntung rokoknya, menyandarkan punggungnya pada punggung sofa, menyilangkan kakinya di atas meja, menengadah menatap langit-langit yang pucat –mengingatkannya pada kulit Jaejoong yang pucat namun indah, kulit yang pernah ia ukir dengan jejak-jejak cinta diatas permukan lembut lagi kenyalnya.

“Sialan!” Yunho mengumpat, “Kau benar-benar brengsek! Membuatku ingin membunuhmu!” Yunho menutup kedua kelopak mata musangnya dengan nelangsa. Membiarkan air mata kurang ajar itu merembes mengalir membasahi wajah tampannya. Untuk sekali ini Yunho ingin menyerah pada perasaannya yang sedang melemah.

❤❤❤

Terlalu sering mengabaikan makan, menggantinya dengan kopi dan rokok membuat Yunho terpaksa dilarikan ke rumah sakit karena masalah pada lambungnya. Tadi, ia merintih kesakitan sebelum pingsan pada saat sedang memimpin rapat. Beruntung bawahannya segera melarikannya ke rumah sakit agar segera mendapatkan pertolongan.

“Aku menginap di sini semalam.” Ucap Jaejoong yang tengah sibuk membolak-balikkan halaman sebuah buku tebal. “Ini café milik keluarga Yoochun.” Tanpa mengalihkan perhatiannya dari buku, Jaejoong menunjuk arah kasir, Yunho mengikuti petunjuk Jaejoong. Dibalik meja kasir sudah berdiri Park Yoochun dengan senyum khasnya, tangannya melambai menyalami Yunho.

“Kalian seperti sepasang kekasih.” Komentar Yunho.

“Aku sudah memesan camilan dan minuman untuk kita berdua tetapi akan diantar nanti tepat pukul 9 karena sebelumnya kita berjanji untuk bertemu pukul 9.”

“Kau yang menyuruh bukan kita yang berjanji.”

“… soal aku dan Yoochun yang mirip sepasang kekasih… kalaupun aku mau mengencani seorang namja aku akan mencari namja yang jauh lebih hebat daripada diriku sendiri.” Ucap Jaejoong.

Yunho membuka matanya perlahan. Potongan kenangan masa lalu menyebalkan itu muncul sebagai refleksi mimpi –mimpi indah yang berwujud dan dirasa buruk bagi Yunho. Matanya melirik suster yang sedang memeriksa keadaannya, selang infuse yang tergantung, serta ruangan pucat membosankan yang ia yakini dapat membunuhnya perlahan-lahan.

“Sudah bangun, Tuan? Sebentar lagi dokter akan datang untuk memeriksa perkembangan kondisi anda.” Suster itu tersenyum ramah.

Yunho diam saja. Wajahnya ia palingkan pada kaca jendela yang berembun, di luar sedang gerimis rupanya.

“Asam lambungnya tinggi? Bukankah dokter jaga UGD mengatakan ia mengalami tukak lambung yang mengarah pada peptik?” tanya sang dokter yang baru masuk ruang rawat Yunho. “Mana hasil labnya?”

“Belum keluar, Dok.” Jawab sang suster sambil menyerahkan rekap medis Yunho pada sang dokter.

“Tuan Jung… Yunho? Tuan Jung Yunho?”

Dengan malas Yunho Menolehkan kepalannya, ia malas berurusan dengan dokter apalagi dokter yang sekarang berdiri di dekatnya, membuat matanya terbelalak dan jantungnya berlompatan hendak keluar dari tempatnya berada. Yunho tergagap, ingin menyebut nama dokter itu namun suaranya tak mau keluar.

“Untuk sementara anda tidak boleh minum kopi dulu, Pak! Kurangi makanan yang terlalu asam dan pedas.” Perintah si dokter, “Kalau anda menuruti saranku dan minum obat tepat waktu, anda akan segera sembuh.”

Yunho hanya bergeming (diam saja) ketika sang dokter berlalu dari ruang perawatannya diikuti oleh para suster.

❤❤❤

“Suster, kenapa dokter Kim yang awalnya menanganiku digantikan oleh dokter Han?” tanya Yunho ketika suster melepas peralatan medis yang sebelumnya menempel pada tubuhnya. Yunho sudah dirawat di rumah sakit selama 5 hari dan hari ini adalah hari terakhirnya.

Sang suster hanya tersenyum simpul, “Dokter Kim adalah salah satu dokter yang bertugas menangani penyakit dalam, ada pasien lain yang terkena penyakit lebih serius daripada tukak lambung yang anda alami Tuan Jung. Karena itu kepala bagian mengganti dokter yang menangani anda.” Jawab sang suster.

Yunho menggumamkan sesuatu sebelum bicara lebih lanjut. “Bisakah aku mendapatkan kontak dokter Kim?”

“Itu adalah informasi rahasia, Tuan Jung.” Sang suster berujar. “Anda tidak bisa mendapatkannya melalui pihak rumah sakit karena itu adalah informasi rahasia. Tetapi bila anda ingin mengetahui kontak dokter Kim, anda bisa menemuinya dan meminta langsung padanya.”

Yunho berdecak kecewa.

Usai membereskan sampah medis di kamar Yunho, sang suster akhirnya pergi meninggalkan ruang rawat Yunho.

“Ketika aku sudah menemukanmu entah mengapa kau sulit untuk ku pegang. Seperti belut yang gesit dan licin….” Gumam Yunho putus asa.

❤❤❤

Keluar dari rumah sakit Yunho langsung pergi ke kantor untuk memeriksa keadaan kantornya sekaligus untuk mengecek ada tidak berkas atau laporan yang harus ia tanda tangani. Rapat-rapat yang sedianya bisa terselenggara lebih awal terpaksa dicancel karena Yunho masuk rumah sakit. Sekertarisnya pastilah bekerja keras untuk hal itu. Yunho berjanji akan memberikan sedikit bonus pada sekertaris dan bawahannya yang sudah bekerja dengan giat dan tekun.

“Kenapa langsung ke kantor? Istirahat saja dulu di rumah!”

“Harusnya kau memikirkan kesehatanmu bukan kantor!”

“Urusan kantor bisa dipending tetapi urusan kesehatan tidak bisa dipending, Direktur Jung!”

“Sebaiknya cuti saja dulu sampai kondisimu benar-benar stabil, Yunho!”

Itu adalah beberapa komentar yang dikeluarkan oleh rekan kerja dan bawahan Yunho dikantor begitu melihat kedatangan direktur muda itu. Bahkan ayahnya –presiden direktur, menyuruhnya untuk pulang dan beristirahat sampai kondisinya benar-benar fit. Namun Yunho menanggapinya dengan enteng. Istirahat di rumah sama saja cari mati! Yunho akan teringat pada Jaejoong dan berandai-andai hubungan mereka bisa lebih baik –Yunho masih berharap Jaejoong kembali kesisinya walaupun Jaejoong membawa bara api dendam untuk membakarnya, akan Yunho terima dengan tangan terbuka asalkan Jaejoong bersamanya.

“Direktur, ada undangan dari direktur Tan –Big East Company. Putri bungsunya akan bertunangan akhir pekan nanti. Undangannya saya letakkan di atas meja kerja anda.” Ucap sang sekertaris. Yunho tidak pernah memiliki sekertaris muda yang berpenampilan seksi lagi hobi bersolek. Yunho lebih suka sekertaris yang sudah menikah ataupun berkeluarga karena menurutnya orang yang sudah berkeluarga lebih dapat bertanggung jawab dan mengatur waktu dengan baik.

“Putri Bungsunya? Jung Suyeon –Jessica?” gumam Yunho. “Akhirnya dia menemukan namja yang berhasil menjinakkannya juga.” Yunho kemudian berjalan memasuki ruang kerjanya yang sejak 5 hari lalu terpaksa ia tinggalkan.

Tidak ada yang berubah kecuali tumpukan berkas yang menggunung di atas meja kerjanya. Ruangannya masih bersih dan wangi sama seperti terakhir ia tinggalkan. Yunho berjalan perlahan menghampiri meja kerjanya, mengusap permukaannya yang terasa lembut namun keras itu sebelum duduk di atas kursi kerjanya yang empuk. Yunho kemudian mengambil undangan berwarna merah maroon berpita emas yang terlihat sangat mewah untuk sebuah undangan pertunangan itu kemudian membacanya. Mata setajam musangnya yang terbingkai kelopak mata sipit itu terbelalak, napasnya memberat, keringat mulai merembes membasahi pori-pori kulitnya. Bukan… penyakitnya tidak kambuh lagi. Bukan itu yang membuat Yunho bereaksi seperti itu melainkan nama yang tercantum dalam undangan pertunangan yang sedang ia peganglah yang menjadi alasannya. Di samping nama Jung Suyeon tercetak dengan rapi nama orang yang membuat hatinya kacau, Kim Jaejoong. Dengan kasar Yunho segera melempar undangan itu. Yunho linglung dan bingung seolah-olah otak dan pikirannya dicabut paksa dari tubuhnya.

Jaejoong… Kim Jaejoongnya akan bertunangan dengan Suyeon –Jessica, teman SMAnya sebelum ia pindah ke SMA Jaejoong karena kesalahan yang sudah ia perbuat pada saudara kembar Jaejoong? Yunho menggebrak meja kerjanya kasar sebelum menjambak rambutnya sendiri.

Tunggu dulu! Kim Jaejoong… yang memiliki nama itu bukan hanya seorang saja. Yunho harus memastikannya dengan mata kepalanya sendiri siapa sosok Kim Jaejoong yang akan bertunangan dengan Jessica, akhir pekan nanti…

❤❤❤

Akhirnya Yunho datang juga kesebuah private garden party, pesta pertunangan teman semasa SMAnya dulu dengan sosok yang namanya membuat Yunho gusar meskipun belum tentu siempunya nama sama dengan sosok yang Yunho maksud.

Yunho bisa melihat wajah bahagia Jessica yang memakai gaun berwarna salem sebatas lutut, membuatnya terlihat cantik dan anggun. Tetapi tetap, dimata Yunho sosok Jessica tetaplah Jessica yang super cerewet dan menyebalkan. Jikalau teringat kejahilan yang pernah dirinya dan Jessica lakukan dulu –mengunci teman sekelas mereka di perpustakaan misalnya membuat Yunho tersenyum geli.

Yah Jung! Kau datang juga?” Jessica berjalan menghampiri Yunho dan menyalaminya selayaknya teman lama yang sudah tidak bertemu bertahun-tahun, mereka memang sudah tidak bertemu semenjak Yunho pindah sekolah.

“Kau tidak berubah! Masih sebrutal dulu…” gurau Yunho.

Yah! Jangan katakan itu pada calon suamiku, arraso?! Kalau kau berani buka mulut soal masa remaja kita akan ku cincang kau!” Jessica tertawa pelan. “Aku sedikit terkejut ketika Appaku menuliskan namamu dalam daftar nama undangan. Kau benar-benar seorang direktur ya sekarang?”

Yunho hanya tersenyum simpul mendengar celoteh Jessica. “Aku tidak melihat tunanganmu.”

“Ah, dia bukan dari kalangan bisnis. Dia adalah masyarakat medis. Kau tahu, dia lebih sibuk daripada semestinya.” Ucap Jessica. Kepalanya menoleh mencari-cari sosok tunangannya yang baru disadarinya menghilang entah kemana. “Mungkin dia sedang mengurus adik-adiknya yang masih kecil. Dia sudah tidak punya orang tua. Ayahnya seorang dokter gigi, ada pasien yang menderita HIV namun saat datang untuk berobat ia tidak mengatakan perihal virus berbahaya yang bersemayam dalam dirinya. Ayahnya terkontaminasi virus itu dan pada akhirnya meninggal. Sedangkan ibunya meninggal setelah melahirkan adik-adiknya.” Wajah Jessica berubah sedikit sendu.

“Dia pasti orang yang hebat! Bisa mengasuh adiknya sendiri. Dia juga pasti orang yang luar biasa karena bisa menjinakkan rubah sepertimu.”

Yah!” Jessica meninju pelan bahu kiri Yunho. “Itu dia….”

Yunho segera menolehkan kepalanya mengikuti arah pandang Jessica. Tubuhnya membatu melihat sosok yang sedang menggandeng sepasang anak kembar –salah satunya pernah Yunho lihat di rumah sakit ketika sedang menjenguk bawahannya. Jantungnya berpacu cepat seolah ada hal menakutkan yang sedang mengejarnya meminta pertanggungjawaban.

“Kami bertemu ketika berada di rumah sakit Amerika. Saat itu dia masih dokter magang sementara aku sedang menjenguk temanku yang mengalami kecelakaan. Sekarang dia sudah bekerja disalah satu rumah sakit disini, dia juga sedang mengambil program S3 disalah satu universitas. Benar-benar orang yang sibuk, kan? Kami bahkan jarang berkencan.” Gerutu Jessica, ada nada bahagia dalam setiap kata-kata yang ia lontarkan.

Telinga Yunho menuli, ia tidak bisa mendengar apa yang Jessica katakan. Matanya terpaku menatap sosok yang berjalan menuju arahnya –arah Jessica lebih tepatnya. Jantungnya seakan meledak ketika sosok itu melewatinya begitu saja seolah-olah dirinya adalah manusia transparan.

“Dari mana saja? Aku mencarimu sejak tadi.” Nada suara Jessica berubah sedikit manja.

“Hyunno kebelet pipis tadi.”

Jessica mengusap wajah kedua anak kembar itu dan tersenyum sumpringah, “Kalian tidak mau mengambil ice cream? Mintalah pada ahjumma di sana ya….”

Kedua anak kembar itu segera berlari menuju meja yang diatasnya terdapat banyak cup berisi ice cream aneka rasa.

“Ku kenalkan pada temanku….” Jessica menggandeng lengan kanan tunangannya, mendekati Yunho. “Namanya Jung Yunho, teman SMAku dulu sekaligus partner kriminalku. Yunho… ini dia tunanganku, Kim Jaejoong….”

❤❤❤

❤❤❤

TBC

❤❤❤

❤❤❤

Yuuki ngawur soal istilah medis di atas ya. Entah benar atau ga😀 V. Kalau Yuuki salah menggunakan istilah medisnya monggo yang tahu boleh mengoreksi:)

Tetap jaga kesehatan❤

❤❤❤

Thursday, March 24, 2016

6:57:59 PM

NaraYuuki

Devil Trapped

Tittle                : Devil Trapped

Writer               : NaraYuuki

Genre               : JUJUR YUUKI GA TAHU T_T (yang tahu monggo kasih tahu Yuuki)

Rate                 : T

Cast                             : Jung Yunho, Kim Jaejoong

Disclaimer:      : They are not mine but this story is mine, NaraYuuki

Warning           : Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran. Tanpa Edit jadi mungkin sedikit amburadul ==” Penceritaan ngebut. Saran dan masukkan diterima. Tidak menerima Bash dan Flamer dalam bentuk apapun!

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

PASTIKAN BACA WARNINGNYA!

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

Devil Trapped NaraYuuki

Cerita ini sedikit, ah… mungkin juga cukup banyak berkaitan dengan hidupku. Tentang dua orang ilmuan yang tiba-tiba saja menghilang dari pondok penelitian mereka. Cerita ini ku dengar dari para tetua.

Ceritanya bermula 20 tahun yang lalu ketika dua orang ilmuan datang ke tanah suku Patola, dimana penduduknya masih begitu primitif dan menjunjung tingggi tradisi, dimana hutan dan penghuninya masih belum terjamah oleh modernisasi, yang mana penduduknya masih mempercayai dongeng pengantar tidur mereka tentang keberadaan ular monster yang sering mendatangkan mimpi buruk bagi anak-anak.

Dua ilmuan itu bernama Jung Yunho dan Kim Jaejoong. Mereka meneliti kehidupan ular-ular yang hidup di tanah Patola. Mulai dari ular Patola, ular sanca, ular sawa, ular sendok sampai tedung cobra. Tanah lembab hutan hujan memang sangat cocok menjadi habitat hidup binatang melata berdarah dingin itu. Kedua ilmuan itu membawa banyak peralatan untuk meneliti kehidupan para ular, mereka bahkan membangun sebuah pondok sederhana yang selain mereka gunakan sebagai tempat tinggal juga digunakan sebagai tempat menelitian –laboratorium mini. Pondok itu dibangun satu kilo meter didalam hutan dari pemukiman para penduduk setempat. Setiap 2-3 hari sekali mereka keluar dari pondok untuk membeli keperluan makanan, obat-obatan dan pakaian di desa terdekat atau sengaja ke kota.

Selama dua tahun penelitian banyak informasi yang sudah mereka dapatkan yang belum pernah didapatkan oleh ilmuan-ilmuan lain. Selama 2 tahun itu pula keduanya bisa hidup berdampingan dengan penduduk setempat. Tidak jarang mereka ikut diundang jikalau ada acara atau upacara adat. Semua berjalan selaras dan damai hingga suatu ketika seorang penduduk ditemukan tidak bernyawa dipinggir sungai besar dengan keadaan mengenaskan, tubuhnya tercabik-cabik, isi perutnya sebagian keluar, darah membasahi tanah disekitarnya.

“Apakah ada binatang liar seperti harimau dan beruang yang tinggal dihutan?” tanya Yunho ketika menghadiri pemakaman penduduk yang menjadi korban. “Kenapa selama ini kami tidak mengetahuinya?”

“Tidak ada. Ratusan tahun lalu harimau dan beruang sudah diusir pergi dari sini oleh nenek moyang suku Patola.” Jawab kepala suku.

“Apakah ini ada kaitannya dengan ular monster –sang naga melata?” tanya salah seorang penduduk.

“Ular monster?” gumam Jaejoong. Ditatapnya Yunho dengan mata indahnya. Yunho hanya mengangkat bahunya, tidak mengerti apa atau mahluk seperti apa ular monster –naga melata yang dimaksud.

“Itu adalah cerita turun temurun suku kami. Sejak ribuan tahun yang lalu di tanah Patola ini dikabarkan ada sebuah mahluk primitif yang hidup dalam kegelapan. Kami menyebutnya ular monster –naga melata karena konon ia adalah mahluk berbentuk ular dengan ukuran sangat besar.” Cerita sang kepala suku. “Sampai saat ini tidak ada yang pernah melihatnya. Namun kami percaya disuatu tempat dikedalaman hutan, ditanah terlarang ia hidup menyendiri.”

Yunho dan Jaejoong hanya saling pandang. Rasa penasaran dan tertarik mengenai mahluk yang dimaksud segera merasuki jiwa dan pikiran keduanya.

“Sebaiknya kalian menginap dulu di sini!” usul sang kepala suku, “Malam ini malam bulan baru. Konon dalam dongeng sang naga melata akan muncul untuk melepaskan dahaganya.”

“Dia akan minum di sungai?” tanya Jaejoong.

“Dia akan memangsa manusia yang tersesat didalam hutan untuk diminum darahnya sampai habis.” Jawab sang kepala suku.

“Mirip vampire?” gumam Jaejoong.

❤❤❤

Arang api unggun yang dinyalakan mulai padam, asap tipis masih mengepul. Kerlip bintang dilangit terlihat menggoda bagaikan seerbuk gula diatas kue donat hangat. Suara nyanyian malam dari para binatang nocturnal yang biasanya semarak memecah keheningan, hari ini sama sekali tidak terdengar. Bahkan jangkrik pun seolah sedang bersembunyi ditempat persembunyiannya yang nyaman. Dalam keheningan yang takzim namun tidak normal itu, sesuatu berjalan diam-diam, mengendap-endap mendekati pemukiman penduduk. Warna kulitnya yang segelap malam membuatnya tersamarkan diantara gelapnya bayangan pepohonan. Langkahnya pelan, kerisik ketika ia bergesekan dengan dedaunan hutan yang dingin pun terdengar begitu lembut seperti bisikan dewi hutan yang menentramkan namun menyimpan bahaya yang tidak terelakan. Desis aneh yang ia keluarkan seolah mengancam mahluk lain yang coba mendekatinya. Ia terus mendekati pemukiman, mata merahnya menyala dalam kegelapan. Ekornya bergerak mencambuk-cambuk permukaan tanah, tetapi tidak ada yang terbangun akibat suara yang ditimbulkannya seolah-olah ia mempunyai sihir. Sihir untuk menidurkan siapapun yang diinginkannya.

❤❤❤

“Astaga!”

“Apa yang sebenarnya terjadi?”

“Siapa pelaku keji yang melakukannya?”

Yunho dan Jaejoong yang awalnya masih terlelap di rumah kepala suku bergegas pergi keluar untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi hingga membuat penduduk terdengar begitu panik dan gaduh. Banyak warga yang bergerombol dihalaman depan rumah salah seorang warga.

“Apa yang terjadi?” tanya Yunho.

“Sapi dan kerbau Rasus mati.” Jawab salah seorang warga.

Yunho segera berlari menuju kandang yang ada di belakang rumah untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Matanya membulat tidak percaya ketika melihat 10 ekor sapi dewasa dan 5 ekorkerbau dewasa mati kering. Tubuh hewan ternak itu hanya tinggal tulang dan kulit saja. Padahal setahu Yunho hewan ternak Rasus adalah yang paling gemuk diantara penduduk desa. Yunho merinding melihatnya.

“Hutan akan sedikit berbahaya mulai sekarang. Berhati-hatilah! Jangan lupa bawa senjata dalam keadaan apapun untuk berjaga-jaga!” sang kepala suku menepuk-nepuk bahu Yunho sebelum pergi meninggalkan kandang tersebut diikuti oleh beberapa tetua yang kesemuanya memasang wajah cemas.

“Apakah ini ada hubungannya dengan ular monster –naga melata itu?” tanya Jaejoong yang entah sejak kapan sudah berdiri di samping Yunho.

“Kita adalah ilmuan. Tugas kita mencari tahu sebenarnya binatang apa yang sudah menyebabkan kekacauan disini!” timpal Yunho sambil melemparkan senyum manis pada Jaejoong.

❤❤❤

 

“Hei Yun, mari kita makan dulu. Ini sudah larut. Kita butuh tidur juga.” Ucap Jaejoong.

Yunho yang sedang sibuk dengan kertas-kertas hasil penelitian mereka selama ini bergumam sekenanya, memasukkan kertas-kertas itu ke tempatnya semula sebelum berjalan menghampiri Jaejoong. “Apa menu kita malam ini?” tanyanya yang langsung duduk di atas kursi kayu.

“Sup kimchi dan telur mata sapi.” Jawab Jaejoong. “Bahan makanan kita sudah habis, besok aku akan pergi ke desa untuk berbelanja.”

“Akan ku temani.” Yunho menerima semangkuk nasi panas yang diulurkan oleh Jaejoong. “Ada yang aneh disekitar sini, suara burung berkicau, suara jangkrik, suara katak bahkan suara ngengat pun tidak trsengar sama sekali sejak beberapa hari yang lalu.”

“Mungkin karena sebentar lagi peralihan musim.” Sahut Jaejoong sekenanya.

“Kita sudah berada disini selama 2 tahun lebih. Perubahan musim tidak membuat para binatang eggan bersuara.” Komentar Yunho.

Jaejoong yang sedang menuang black tea ke dalam mug hanya mengangkat bahunya tak acuh. “Apa kau berpikir ini ada kaitannya dengan ular monster itu?”

“Entahlah… keberadaannya belum bisa dilacak. Entah hewan itu nyata atau hanya dongeng belaka tetapi kejadian beberapa minggu terakhir cukup membuat resah. Matinya binatang ternak penduduk desa secara tidak wajar benar-benar membuat penasaran.”

Jaejoong mengangguk setuju.

“Terlebih ketika kita secara tidak sengaja menemukan gerombolan serigala yang mati mengenaskan sama seperti binatang ternak penduduk. Siapapun pelakunya pasti sesuatu –binatang yang sangat besar dan kuat.”

“Apa yang akan kita lakukan seandainya ular monster itu benar-benar ada dan muncul disini?” tanya Jaejoong sedikit resah.

“Kita akan minta bantuan untuk menangkapnya agar tidak meresahkan penduduk dan membahayakan ekosistem hutan.”

❤❤❤

Malam itu tanah Patola diguyur hujan lebat, gemuruh suara angin dan petir terdengar saling bersahutan menimbulkan irama mencekam tersendiri. Yunho dan Jaejoong sudah sering menghadapi badai ditanah Patola namun kali ini –malam ini suasananya sedikit berbeda. Keduanya tidak bisa terlelap meskipun jam dinding yang tergantung pada dinding kamar mereka sudah menunjukkan nyaris tengah malam. Yunho dan Jaejoong masih terjaga di atas tempat tidur masing-masing dengan pikiran yang kalut. Entah apa pula yang ada dibenak mereka.

Krosak! Krosak!

Brak! Bruk!

Dengan mata tegang, Yunho dan Jaejoong saling pandang dengan waspada. Keringat dingin merembes membasahi seragam tidur mereka. Jantung mereka memacu cepat tanpa diminta.

“Yun…”

“Ambil pistolmu, Jae!” perintah Yunho. Jaejoong adalah putra seorang pengusaha kaya raya, sejak kecil ia hobi menembak dan beberapa kali menjuarai kejuaraan menembak.

Sedikit panik dan tergesa Jaejoong membuka laci yang berada diantara tempat tidurnya dan tempat tidur Yunho, mengambil sebuah pistol dari dalamnya dan segera mengisinya dengan peluru. Sementara Yunho sendiri sudah mengambil senapan laras panjangnya yang sengaja ia gantung pada dinding di atas tempat tidurnya.

“Apakah perampok?” tanya Jaejoong.

“Akan dengan mudah kita melumpuhkan seandainya yang datang berkunjung adalah perampok. Aku takut yang mengunjungi kita malam ini bukanlah manusia.” Ucap Yunho dengan wajah sedikit pucat.

Jaejoong menelan ludah susah payah.

“Aku akan berjalan didepanmu, Jae! Jika kemungkinan kita gagal menghadapi tamu kita, segeralah lari!” Yunho berjalan mendahului Jaejoong, sedikit ragu namun pada akhirnya ia membuka pintu yang menghubungkann kamar mereka dengan laboratorium sederhana mereka.

Klek!

Untuk sepersekian detik Yunho dan Jaejoong membatu diambang pintu kamar melihat sosok itu. Tamu mereka sedang menggulung tubuh besar lagi panjangnya. Matanya yang merah menatap tajam keduanya, lidah bercabangnya menjulur berkali-kali seolah-olah sedang memperingatkan dua ilmuan itu pada bahaya yang kini tepat berada dihadapan mereka. Kulit bersisiknya yang segelap malam membuatnya terlihat seperti iblis.

Dor! Dor!

“Yunho!” jerit Jaejoong menyadarkan Yunho. Sama seperti yang tengah Jaejoong lakukan, Yunho pun mengarahkan moncong senapan laras panjangnya pada mahluk mengerikan itu, lantas menarik pelatuknya.

Malam itu… ditengah guyuran hutan serta suara angin yang menderu dan jeritan petir yang bersahut-sahutan, terdengar pula suara peluru dilesakkan, terdengar pula suara desisan mengancam serta teriakan ketakutan sebelum hening yang khidmat.

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

Sudah hampir dua minggu para penduduk tidak melihat keberadaan Yunho dan Jaejoong, padahal biasanya 3-5 hari sekali mereka akan pergi ke desa untuk membeli keperluan mereka sehari-hari mulai dari sayur, daging, telur sampai peralatan mandi dan obat-obatan tradisional –jamu atau ramuan obat masyarakat setempat. Untuk itulah kepala suku mengajak beberapa warga terutama laki-laki dewasa untuk melihat keadaan pondok yang dua ilmuan itu tempati. Hari agak siang ketika mereka berangkat menembus rerimbunan pohon hutan, namun teriknya surya tidak bisa mereka rasakan dikarenakan atap hutan yang menaungi mereka sangat lebat.

Pondok itu tampak dingin dan tidak bersahabat bila dilihat dari kejauhan. Beberapa kali sang kepala suku mengetuk pintu pondok namun tidak ada sahutan. Ia memerintahkan dua orang warga untuk mendobrak pintu. Setelah pintu berhasil terbuka –secara paksa− barulah mereka mulai menyadari apa yang telah terjadi. Pondok itu dalam keadaan berantakan, meja dan kursi kayu tergeletak di atas lantai dalam kondisi tidak wajar, kertas dan berkas-berkas berserakan di lantai. Komputer dan sebuah benda menyerupai televisi kecil hancur. Lemari kayu tempat menyimpan tabung-tabung penelitian roboh, isinya tercecer dilantai. Jendela kaca pecah, gorden yang menutupinya robek sebagian. Terdapat bercak ceceran darah pada lantai dan dinding yang sudah menghitam dan kering.

Dengan hati-hati sang kepala suku beserta beberapa warga yang ikut bersamanya memeriksa isi pondok. Aneh! Mereka tidak menemukan mayat. Biilik kamar yang masih tertutup rapat segera dibuka untuk melihat siapa tahu dua ilmuan itu masih hidup namun terluka parah dan sekarang berada didalam kamar untuk beristirahat –itu harapan semu mereka− tetapi kenyataannya kamar itu kosong ketika mereka memasukinya. Hanya ada sebuah buntalan putih diatas salah satu tempat tidur. Kepala suku memeriksanya, seorang bayi sedang terlelap dalam bungkus kain sutra putih gading. Diangkatanya bayi itu. Wajah bayi itu mengingatkannya pada dua ilmuan yang menghilang entah kemana. Pada paha sebelah kanannya terdapat tanda lahir menyerupai lekuk ular.

Hening…

Angin yang masuh dari celah fentilasi mengibarkan jas putih yang biasa Jaejoong dan Yunho pakai.

“Kita akan kembali ke desa bersama anak ini. Sampai Jung Yunho dan Kim Jaejoong ditemukan tidak ada satupun warga yang boleh mendekati pondok ini sendirian tanpa senjata!” ucap sang kepala suku.

❤❤❤

Semenjak hari itu terdengar suara desisan aneh disekitar pondok yang terbengkalai itu. Kadang-kadang sekelebatan terlihat mahluk –binatang berkulit hitam bermata merah melata disekitar pondok. Sosok yang sampai sekarang tidak diketahui mahluk apa itu….

“Dan aku diberi nama Jung Yunho. Aku diangkat cucu oleh Kepala suku Patola. Setiap kali sosok itu mendekati desa aku akan merasakan kehadirannya. Desisan aneh itu selalu terdengar olehku. Beberapa kali kami –aku dan penduduk desa hampir berhasil menangkapnya. Sayangnya ia terlalu gesit bila malam hari. Namun aku yakin suatu saat mahluk itu pasti akan tertangkap.”

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

Friday, April 15, 2016

7:15:29 PM

NaraYuuki

Vengeance

Tittle                : Vengeance

Writer               : NaraYuuki

Genre               : Romance? Familly? Friendship? A Little bit Angst?

Rate                 : T+

Cast                             : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Park Yoochun, Han Youngwoong

Disclaimer:      : They are not mine but this story is mine, NaraYuuki

Warning           : Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran. Tanpa Edit jadi mungkin sedikit amburadul ==” Penceritaan ngebut. Saran dan masukkan diterima. Tidak menerima Bash dan Flamer dalam bentuk apapun!

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

PASTIKAN BACA WARNINGNYA!

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

Vengeance

 “Annyeong… Jung Yunho imnida.” Pemuda bermata sipit berkulit tan itu tersenyum menatap teman-teman barunya. Pemuda itu tersenyum semakin lebar ketika melihat bagaimana reaksi teman-teman sekelasnya –terutama para perempuan ketika memandang kagum dan gemas padanya.

“Mari kita lihat dimana kau akan duduk, Yunho.” Ucap sang guru sambil mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru kelas hingga ia menyadari, “Yah! Dimana Kim Jaejoong?!” tanyanya.

“Tadi sebelum bel masuk, dia dipanggil Kepala Sekolah, Pak Guru.” Ucap sang ketua kelas.

Sang guru mengangguk paham. “Yunho, duduklah di kursi nomor dua dari jendela itu. Di samping Park Yoochun! Yoochun, angkat tanganmu!”

Siswa bernama Park Yoochun itu segera mengangkat tangannyaa.

Usai member hormat pada sang guru Yunho segera menuju kursinya. Sebenarnya ia ingin duduk di kursi yang berada di dekat jendela tetapi mengingat sudah ada sebuah tas disana sehingga Yunho memilih kursi yang memang tersedia untuknya. Ia siswa baru sehingga ia tidak boleh berbuat ulah.

Sang guru mulai pelajarannya. Pelajaran Seni Budaya yang santai dan tidak memerlukan sari pati perasan otak untuk bisa memahaminya. Pelajaran ini biasanya membahas tentang kesenian tradisional dan budaya-budaya lampau yang kini sudah banyak dilupakan oleh generasi muda.

Srak!

Pintu kelas terbuka lebar, seorang murid segera masuk ke dalam kelas. “Mianhae, Pak. Saya terlambat masuk kelas karena tadi dipanggil oleh Kepala Sekolah.” Ucapnya pada sang guru. Sang guru hanya mengangguk singkat lantas menyuruhnya untuk duduk. Tidak mungkin sang guru memarahi murid paling pintar di sekolah karena terlambat masuk kelas dengan alasan dipanggil oleh Kepala Sekolah.

Mata Yunho membulat ketika siswa yang baru masuk itu menatapnya –atau itu hanya perasaan Yunho saja. Tubuhnya mengejang seolah-olah melihat mayat hidup yang bangkit dari kuburnya. Yunho membuka mulutnya, hendak bicara namun suaranya tidak mau keluar.

“Ada urusan apa si tua botak itu memanggilmu, Jae?” tanya Yoochun dengan suara pelan. Suara pelan yang mampu mengembalikan kewarasan Yunho yang untuk beberapa detik lamanya membatu.

Yang dipanggil Jae itu melirik sekilas pada Yunho sebelum menjawab pertanyaan Yoochun. “Bukan hal yang penting. Murid baru?”

“Namanya Jung Yunho.” Jawab Yoochun.

“Oh….”

Yunho tidak tahu mengapa tetapi tiba-tiba saja keringat dingin membasahi kulitnya, jantungnya berdebar tidak keruan. Otot-ototnya mengejang tanpa alasan jelas membuatnya seperti seorang pesakitan yang sedang menunggu vonis hukuman mati.

❤❤❤

“Kenapa sejak pertama masuk kelas kau selalu memperhatikan Jaejoong, Yun?” Ahra, ketua kelas itu bertanya pada Yunho yang sejak tadi memperhatikan sosok Jaejoong yang sedang makan deobboki bersama Yoochun.

“Namanya benar-benar Kim Jaejoong? Bukan Han Jaejoong?” tanya Yunho.

Ahra menatap Yunho bingung, “Jaejoong bermarga Kim, dia anak tunggal dikeluarganya.”

“Hm…” gumam Yunho.

“Dia murid paling pandai disekolah walaupun begitu dia sedikit badung dan kasar. Mungkin karena ia bergaul dengan Park Yoochun yang aneh itu.” Komentar Ahra. “Sejujurnya banyak yang diam-diam menyukai Jaejoong. Kemarin ada seorang adik kelas yang menyatakan cinta padanya tetapi ditolak. Yah, wajar saja mengingat yang menyatakan cinta adalah seorang laki-laki. Setahuku Jaejoong memang baru putus dari Pacarnya Hae Jo kelas sebelah tetapi ditembak oleh seorang laki-laki padahal kau laki-laki sedikit menyeramkan…”

“Ada seorang namja yang juga pernah menyatakan cinta padaku.” Ucap Yunho.

Mwo?” seketika Ahra menoleh menatap Yunho dengan mata bulatnya.

Yunho tersenyum. “Apakah Jaejoong tipe orang pendiam?”

“Aku tadi sudah mengatakan bahwa Jaejoong sedikit badung dan kasar. Dia kadang berkelahi dengan siswa kelas lain. Pernah waktu kelas 2 kemarin aku melihatnya menghajar senior yang mengatainya cantik.” Cerita Ahra. “Jaejoong akan diam ketika dia tertidur saat mengikuti pelajaran yang dibencinya. Tidak ada guru yang akan memprotes tindakannya mengingat otaknya benar-benar jenius.”

“Oh…” sahut Yunho lantas pergi begitu saja meninggalkan Ahra.

“Yah Jung Yunho! Tunggu aku!”

❤❤❤

Yah Jung Yunho! Tunggu aku!”

Jaejoong langsung menoleh begitu nama Yunho disebut. Mengabaikan keusilan Yoochun yang mencuri setengah porsi deobbokinya dari piring. Jaejoong tidak tahu kenapa tetapi ada sesuatu yang membuatnya tidak ingin dekat-dekat dengan teman sekelas barunya itu. Jaejoong tidak berniat berteman dengan Yunho, Jaejoong pun melihat bahwa Yunho seolah menghindarinya karena alasan tertentu.

“Kau tertarik pada anak baru itu?” tanya Yoochun akhirnya setelah menyadari kemana arah pandangan sahabatnya.

“Ya.” Jawab Jaejoong.

“Kau sungguh-sungguh?” Mata Yoochun terbelalak.

“Aku tertarik untuk menggorok lehernyaa!” ucap Jaejoong yang kemudian melanjutkan acara makannya.

Yoochun tidak berkedip melihat perubahan aura disekitar sahabatnya, seperti ada sosok lain yang mengendalikan sahabatnya. Biasanya Jaejoong hanya akan menghajar orang yang mencari gara-gara dengannya tetapi kali ini… bahkan ia tidak pernah melihat Jaejoong dan Yunho bertukar kata tetapi sahabatnya itu ingin menggorok leher si murid baru? Yoochun hanya bisa menggelengkan kepalanya dalam kebingungan pemikirannya sendiri.

❤❤❤

Pulang sekolah ini ada pemandangan berbeda, bukan karena kunjungan artis maupun kunjungan dari presiden melainkan kehadiran Jaejoong pada anak tangga terakhir yang menghadang langkah kaki Yunho. Kalau boleh jujur Yunho sedang tidak –belum ingin berurusan dengan Jaejoong dalam hal apapun.

“Kau mau apa?” tanya Yunho. Jantungnya berdebar tidak nyaman ketika mata bulat indah itu menatap tepat padanya. Ada sesuatu hal dalam diri Jaejoong yang tidak Yunho sukai namun harus ia akui bahwa Jaejoong memiliki daya tarik tersendiri baginya.

“Kita satu kelompok untuk tugas sastra klasik.” Jaejoong mengingatkan.

Alis Yunho terangkat. Ya, guru mata pelajaran sastra klasik tadi memang menyebut nama Yunho dan Jaejoong namun Yunho sendiri tidak begitu memperhatikan. “Lalu?”

“Biasanya aku satu kelompok dengan si play boy Yoochun tetapi karena kali ini aku diharuskan satu kelompok denganmu maka aku akan mengatakan ini sekali padamu.” Jaejoong berjalan mendekati Yunho yang justru berjalan mundur menjauhinya. “Besok kita kerjakan tugas itu! Harus selesai karena aku kurang suka mengerjakan tugas bersama orang lain.”

“Kau tipe individu ya?” tanya Yunho.

Jaejoong tersenyum bodoh. “Aku tidak suka menilai kualitas seseorang entah dia orang brengsek ataupun orang baik-baik karena itu aku lebih suka mengerjakan sesuatunya sendiri. Kalaupun terpaksa harus mengerjakannya secara kelompok maka harus diselesakan dalam waktu sehari.” Ucap Jaejoong. “Jadi besok kita harus segera menyelesaikan tugas itu, ku tunggu kau pukul 9 pagi di Cssiopeia café. Kalau kau sampai terlambat akan ku coret dari daftar nama kelompok!”

Yunho tersenyum bodoh, menertawakan dirinya sendiri. Ia sama sekali tidak bisa membantah Jaejoong padahal Jaejoong mirip dengan orang yang pernah ia kenal dulu. “Seperti dua mata koin yang berlawanan dan tidak akan pernah bisa dipertemukan.” Gumam Yunho pada dirinya sendiri. “Kim Jaejoong…”

❤❤❤

Esok harinya Yunho mendatangi Cassiopeia café sebelum waktu perjanjiannya dengan Jaejoong, ia sengaja datang lebih awal untuk menyenangkan hati Jaejoong namun rencananya sia-sia belaka karena nyatanya Jaejoong sudah berada disalah satu kursi yang berada di sudut café dengan bertumpuk-tumpuk buku dan laptop dihadapannya. Yunho berjalan menghampirinya dengan sedikit lesu.

“Kau datang lebih awal?” tanya Yunho. Ditariknya kursi yang berada di samping Jaejoong lantas menghempaskan dirinya dengan tidak nyaman diatasnya.

“Aku menginap di sini semalam.” Ucap Jaejoong yang tengah sibuk membolak-balikkan halaman sebuah buku tebal. “Ini café milik keluarga Yoochun.” Tanpa mengalihkan perhatiannya dari buku, Jaejoong menunjuk arah kasir, Yunho mengikuti petunjuk Jaejoong. Dibalik meja kasir sudah berdiri Park Yoochun dengan senyum khasnya, tangannya melambai menyalami Yunho.

“Kalian seperti sepasang kekasih.” Komentar Yunho.

“Aku sudah memesan camilan dan minuman untuk kita berdua tetapi akan diantar nanti tepat pukul 9 karena sebelumnya kita berjanji untuk bertemu pukul 9.”

“Kau yang menyuruh bukan kita yang berjanji.”

“… soal aku dan Yoochun yang mirip sepasang kekasih… kalaupun aku mau mengencani seorang namja aku akan mencari namja yang jauh lebih hebat daripada diriku sendiri.” Ucap Jaejoong.

Yunho sedikit kaget mendengar pernyataan yang Jaejoong lontarkan. Remaja bermata setajam musang itu lantas menatap lekat pada Jaejoong seolah sedang membaca ekspresi wajah menawannya.

“Aku meminjam laptop Yoochun untuk mengerjakan tugas kita.” Jaejoong mengambil beberapa tumpukan buku dan menyodorkannya pada Yunho. “Aku sudah menandai bagian-bagian yang penting. Tugasmu hanya mengetiknya saja.”

Sekali lagi Yunho merasa sangat bodoh. Ia sama sekali tidak bisa membantah perkataan Jaejoong seolah-olah teman sekelasnya itu memiliki sihir. “Aku mulai dari yang mana?”

“Ini.” Jaejoong menyodorkan sebuah buku yang halamannya terbuka –juga penuh dengan coretan-coretan warna-warni.

❤❤❤

“Dia terlalu memaksakan diri ya?” tanya Yoochun sambil meletakkan 2 gelas minuman soda di atas meja. “Sejak semalam dia mencari materi yang sesuai dengan tugas kelompok kalian.” Ucapnya sambil mengusap kepala Jaejoong yang terlelap.

“Kau mengenalnya dengan baik sepertinya.” Ucap Yunho. Ada perasaan tidak suka ketika Yoochun menyentuh Jaejoong.

“Begitulah… kami berteman sejak TK. Yah, terpaksa berteman mungkin karena hanya aku yang dia kenal kala itu.” Yoochun tertawa kecil. “Kalau lelah istirahatlah! Minuman itu gratis jadi tidak usah bayar. Aku harus kembali bekerja –membantu menjaga kasir.” Ucapnya sebelum beranjak.

Sepeninggal Yoochun, Yunho mengamati wajah lelah Jaejoong. Toh tugasnya mengetik sudah selesai sejak tadi. Yunho baru menyadari bahwa Jaejoong memiliki kulit yang sangat pucat namun indah. Bulu matanya sangat lentik, bibirnya merah alami lagi penuh, rambutnya… terasa halus ketika Yunho membelai helaian hitam itu. Kulitnya terasa kenyal ketika Yunho mengelusnya.

“Eung…” erang Jaejoong ketika tidurnya diganggu.

Buru-buru Yunho menarik tangannya yang sudah lancing menjelajahi wajah Jaejoong. Mata kecilnya melirik Jam dinding klasik yang dipajang di dekat pintu masuk, tepat pukul 4 sore. Yunho meregangkang otot-ototnya yang terasa kaku dan pegal sebelum mengambil minuman soda yang Yoochun berikan, menyeruputnya sambil melirik pada Jaejoong yang masih terlelap. Pikiran nakal Yunho muncul.

“Bagaiman rasanya mencium pipi kenyal itu? Bagaimana rasanya mencium bibir merah penuh yang sangat menggairahkan itu?”

Yunho nyaris tersedak menyadari pikiran liar yang merasukinya.

❤❤❤

“Apa yang membuatmu pindah kemari?” tanya Jaejoong saat keduanya berjalan menjauhi bangunan café Cassiopeia. Petang sebentar lagi datang, mereka berdua memutuskan untuk pulang, toh tugas mereka pun sudah selesai dikerjakan.

“Aku… mungkin menjadi penyebab salah seorang teman sekelasku dulu bunuh diri.” Jawab Yunho sambil memasukkan kedua tangannya kedalam kantung jaket yang ia kenakan.

Terkejut, mata bulat indah milik Jaejoong menatap lekat Yunho –tidak percaya pada apa yang pemuda berkulit tan itu katakan.

Yunho tersenyum getir melihat ekspresi yang Jaejoong perlihatkan. “Disekolah lamaku, aku cukup populer. Aku ikut ekskul basket. Aku menjadi ketua tim sekaligus pemain andalan, para gadis selalu meneriakkan namaku setiap kali aku berlatih.” Yunho mulai bercerita, Jaejoong menyimaknya dengan seksama. “… ada seseorang –dia namja yang sering melihatku latihan, memberiku makanan kecil dan surat cinta. Dia begitu memperhatikanku hingga menyatakan cinta padaku.”

“Lalu kau menolaknya, dia frustasi dan bunuh diri?” tanya Jaejoong menebak. “Konyol sekali!” Jaejoong tertawa mengejek.

“Aku bilang padanya bila dia rela menyerahkan dirinya padaku, akan ku pertimbangkan untuk menjadi pacarnya.” Ralat Yunho.

Mendengar hal itu Jaejoong langsung menghentikan langkah kakinya, berdiri membatu tepat dipintu masuk menuju taman bermain anak-anak. Matanya nanar menatap Yunho yang kini juga menatapnya. Angin yang berhembus terasa lebih dingin dan jahat daripada sebelumnya. Jaejoong masih belum beranjak dari keterdiamannya.

“Dan kau melakukannya? Kau… kau tidur dengannya? Namja itu?” tanya Jaejoong pada akhirnya.

“Ya, aku melakukannya.” Jawab Yunho. “Dengan memaksa….” Lanjutnya.

Jaejoong menelan ludahnya susah payah, rasanya tenggorokannya tersumbat oleh biji kedondong licik yang membuatnya kesakitan tiba-tiba. “Memaksa? Berarti kau memerkosanya?”

Yunho mengangguk lemah, “Dengan sangat tidak manusiawi. Kasar, brutal dan penuh keterpaksaan.” Ucap Yunho dengan suara sedikit parau. “Ku pikir tidak apa-apa melakukannya dengan namja karena ia tidak akan bisa hamil. Tetapi…”

“Tetapi?”

“Dia mengandung anakku….”

Mata Jaejoong semakin nanar mendengar penuturan Yunho. “Kau lari dari tanggung jawab?”

Yunho menggelengkan kepalanya pelan, “Aku bilang padanya bahwa aku bersedia dan akan mempertanggungjawabkan semua perbuatan yang sudah ku lakukan padanya. Aku pun sudah memberitahu kedua orang tuaku tentang hal ini. Sayangnya…” Yunho terdiam. Mata sipitnya yang menyemat nelangsa itu menatap putus asa mutiara hitam Jaejoong yang jernih.

Jaejoong mengigit bibir bawahnya, ada perasaan takut ketika menunggu Yunho melanjutkan ucapannya.

“Ia terlalu frustasi dan putus asa sehingga memilih mengakhiri hidupnya sendiri. Ia ditemukan tidak bernyawa oleh orang tuanya. Ia meminum seratus biji obat tidur dosis tinggi.” Lanjut Yunho. “Orang tuaku yang mengetahui hal itu segera memindahkanku kemari.”

“Siapa namanya?”

Yunho menatap Jaejoong lekat-lekat. Ada keraguan besar yang menyergapnya –melarangnya menjawab pertanyaan yang Jaejoong ajukan.

“Siapa namanya? Tanya Jaejoong lagi.

“Han Youngwoong.” Jawab Yunho.

Napas Jaejoong tersengal. Bibir merahnya digigitnya semakin keras hingga menimbulkan sebuah bercak kemerahan diatas permukaannya.

“Namanya Han Youngwoong.” Yunho mengulangi jawabannya. “Dia… kau dan dia memiliki wajah yang sangat mirip, suara kalian juga. Hanya saja sifat kalian berbeda bagaikan dua mata koin. Entah kebetulan atau tidak…”

Jaejoong tiba-tiba menjerit histeris, sepasang mata indahnya mengalirkan air mata. Berkali-kali sahabat Park Yoochun itu menggelengkan kepalanya kuat-kuat seolah-olah mengingkari sesuatu. Jaejoong menatap Yunho penuh kepedihan sebelum akhirnya lari pergi meninggalkan Yunho yang membatu –terkejut atas reaksi yang Jaejoong berikan padanya.

❤❤❤

“Sudah satu minggu Jaejoong tidak berangkat sekolah. Kau tahu alasannya?” tanya Yunho pada Yoochun yang sibuk menggoda adik kelas ketika antre membeli makanan di kantin.

Yoochun menggelengkan kepalanya, “Joongie tidak mau membalas sms dan emailku. Telponku pun diacuhkan olehnya. Dia belum pernah seperti ini padaku. Semarah apapun dia padaku dia akan tetap membalas ketika aku berusaha menghubunginya –meskipun aku dapat bonus bogem mentah darinya.” Jawab Yoochun. “Hari ini aku akan datang ke rumahnya untuk melihat keadaannya.”

“Ke rumahnya? Boleh aku ikut?”

Yoochun menatap Yunho curiga.

“Ayolah… besok tugas kelompok kami harus dikumpulkan, aku butuh dia untuk diskusi.”

“Baiklah.” Jawab Yoochun akhirnya.

❤❤❤

Rumah Jaejoong dapat ditempuh dengan berjalan kaki dari sekolahan tetapi untuk menghemat waktu dan tenaga, Yoochun dan Yunho memilih untuk menggunakan bus. Hanya sekitar 10 menit perjalanan dari sekolah menuju rumah Jaejoong bila menggunakan bus. Yunho sengaja tidak mengatakan pada Yoochun bahwa dirinya biasanya pulang pergi sekolah naik mobil pribadi, Yunho rasa tidak perlu mengumbar kekayaan orang tuanya dilingkungan barunya.

“Apa orang tua Jaejoong selalu di rumah?” tanya Yunho ketika mereka berjalan dari halte bus menuju gang rumah Jaejoong.

“Ibunya punya toko kue…” Yoochun menunjuk sebuah toko kue bernama JJ Cake di seberang jalan. “Kalau ayahnya biasanya bekerja, ayahnya punya klinik sendiri.”

“Ayahnya seorang dokter?”

“Dokter gigi.” Jawab Yoochun.

“Jaejoong tidak punya saudara?” tanya Yunho. Meskipun Ahra –si ketua kelas sudah mengatakan bahwa Jaejoong adalah anak tunggal tidak ada salahnya bagi Yunho untuk mengorek informasi dari sahabat Jaejoong sendiri.

Yoochun menunjukkan raut ragu-ragu sebelum menjawab. “Sekarang iya.” Ucapnya akhirnya. Yoochun berbelok memasuki sebuah halaman rumah lantai dua bergaya minimalis modern. Halaman itu cukup rindang dengan beberapa pohon buah, bunga-bunga dalam pot yang ditata sedemikian rupa hingga rumput hijau yang dijaga pertumbuhannya.

“Sekarang iya? Maksudmu? Sebelumnya Jaejoong punya saudara?” tanya Yunho. Rasa ingin tahunya tergelitik jawaban rancu yang diberikan oleh Yoochun.

“Tanyakan sendiri pada Jaejoong nanti.” Sahut Yoochun yang sedang mengetuk pintu rumah bercat bata itu.

Tidak perlu menunggu lama seorang ahjumma sudah membukakan pintu untuk Yoochun dan Yunho.

“Joongie ada, Ahjumma?” tanya Yoochun.

“Ada di kamarnya, Yoochun sshi.” Jawab sang ahjumma.

“Kalau begitu kami langsung ke atas saja, Ahjumma. Jangan repot-repot karena kami sudah membawa camilan sendiri.” Yoochun memamerkan kantung plastik besar berisi snack dan minuman ringan pada sang ahjumma.

Layaknya rumah sendiri, tanpa sungkan Yoochun berjalan memasuki rumah Jaejoong, menaiki tangga menuju lantai dua kemudian menuju salah satu pintu yang mana pada daun pintunya tertempel poster anime dengan pedang panjang ditangannya. Yoochun mengetuk daun pintu sebanyak tiga kali namun tidak ada sahutan.

“Aku masuk, Jae….” Ucap Yoochun sebelum membuka pintu kamar Jaejoong.

Kamar itu tidak begitu luas namun ditata sedemikian rupa hingga terlihat nyaman untuk ditempati, selain kasur dan meja belajar didalam kamar Jaejoong pun terdapat sebuah rak buku berukuran sedang berisi berbagai jenis buku dan DVD, ada pula sebuah televisi lengkap dengan aksesorisnya. Pada dinding kamar terdapat berbagai hiasan, mulai dari jam dinding berbentuk gajah, mendali-mendali hingga foto-foto keluarga.

“Dia tidur?” tanya Yunho yang melihat sosok Jaejoong berselimut di atas ranjang.

“Keringatnya banyak, mungkin dia sedang demam. Biarkan saja dia tidur. Kita tunggu sampai dia bangun.” Ucap Yoochun, “Tapi kalau 30 menit lagi dia tidak bangun aku akan pulang, kau bisa menunggunya bila ingin mendiskusikan tugas kelompok kalian.”

“Bukan ide yang buruk.” Sahut Yunho.

❤❤❤

Satu jam kemudian Jaejoong terbangun dari tidurnya. Sekujur tubuhnya terasa kebas dan pegal, kepalanya pusing, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya, tenggorokannya terasa kering dan sakit. Jaejoong menatap layar televisi yang menyala. Di atas karpet yang berada di depan televisi duduk teman sekelas sekaligus rekan kerjanya untuk tugas mata pelajaran sastra klasik. Jaejoong segera bangun dari tidurnya, menyibakkan selimut dan turun dari tempat tidurnya. Perlahan berjalan menuju arah televisi dan duduk di hadapan Yunho yang kini sedang menatapnya.

“Obatmu…” Yunho menunjuk beberapa butir obat yang diletakkan di atas baki. “Tadi ibumu mengantarkannya kemari bersama dengan snack dan jus untukku.”

Jaejoong hanya mengangguk singkat. “Sejak kapan kau disini?” tanyanya.

“Satu jam yang lalu mungkin. Yoochun baru saja pergi untuk membantu cafénya.” Jawab Yunho.

“Tujuanmu?”

Yunho menatap tajam Jaejoong, caranya berbicara sedikit kurang bersahabat. Terdengar ketus dan dingin. “Mendiskusikan tugas, itu yang ku katakan pada Yoochun ketika memintanya untuk mengajakku ikut kemari. Tetapi sebenarnya alasanku hanyalah ingin melihat kondisimu.”

“Kau sudah melihat kondisiku, kan? Kau boleh pulang sekarang!” Jaejoong terdegar seperti sedang mengusir Yunho dan Yunho pun menyadari hal itu.

“Kau punya saudara kembar?” tanya Yunho yang sepertinya tidak terpengaruh oleh pengusiran yang Jaejoong lakukan padanya.

Jaejoong menatap Yunho tajam penuh selidik, menyadari bahwa Yunho memegang ‘sesuatu’ yang terlarang bagi orang lain bahkan untuk Yoochun sekalipun.

“Yoochun bilang dulu kau pernah punya saudara. Kemana saudaramu sekarang?” tanya Yunho.

“Kenapa bertanya? Bukankah kau sudah mengetahui jawabannya?” tanya Jaejoong balik.

Yunho menutup album foto yang berada di atas pangkuannya selama beberapa saat yang lalu, sebelumnya ia mengambil sebuah foto dan diperlihatkan pada Jaejoong. “Han Jaejoong dan Han Youngwoong…” Yunho menatap Jaejoong dalam, penuh kesedihan, kekecewaan dan penyesalan. “Aku sedikit berharap bahwa kemiripan kalian hanyalah sebuah kebetulan semata, agar perasaanku bisa bebas dan aku bisa memulai kehidupan baruku, lepas dari bayang-bayang penyesalan atas dosa yang telah ku lakukan.”

Jaejoong diam.

“Sejujurnya aku menyukaimu. Dengan cara yang tidak ku mengerti aku tertarik padamu, aku tidak bisa melepaskan pikiran dan otakku darimu. Tetapi fakta bahwa kau adalah saudara dari orang itu membuatku… membuatku merasa bersalah, merasa berdosa telah begitu berharap padamu.” Lirih Yunho.

Jaejoong masih tidak menyahut.

Yunho ikut terdiam. Diam yang memuakkan.

“Youngwoong adalah adikku. Dia llahir sepuluh menit setelahku.” Ucap Jaejoong pada akhirnya. “Pada umur lima tahun orang tua kami bercerai. Youngwoong ikut dengan ayahku sementara aku ikut ibuku. Kami memiliki keluarga sendiri-sendiri setelah orang tua kami memilih pasangan hidup yang baru. Kami sering bertukar surat ataupun kartu post.” Jaejoong menarik laci yang berada di bawah televisi, mengambil sebuah buku tebal usang, membuka-buka halamannya sebelum akhirnya menemukan sebuah surat terselip diantara halamannya. Mengambil surat itu lantas memberikannya pada Yunho.

Yunho yang bingung hanya bisa menatap Jaejoong dan memegang surat itu dalam diamnya.

“Surat terakhir Youngwoong. Kau boleh membacanya.”

❤❤❤

“Joongie, apa kau bahagia disana? Aku… aku menyukai seseorang tetapi entah kenapa rasanya sakit sekali. Rasa suka itu kenapa begini menyakitkan? Apa kau juga menyukai seseorang, Joongie? Teman sekelasmu mungkin atau kakak kelas? Ah, apa ada adik kelas yang kau sukai? Aku menyukainya Joongie. Sangat menyukainya. Tetapi kenapa dia melakukan hal seperti itu padaku? Aku menyukainya tetapi aku tidak suka ketika dia menyentuhku. Rasanya sangat menakutkan. Aku takut, Joongie. Ia melakukannya dengan kasar penuh paksaan. Aku tidak menyukai apa yang dia lakukan padaku. Joongie, aku harus bagaimana? Sekarang di dalam perutku tumbuh nyawa yang keberadaannya tidak ku inginkan. Aku belum siap menerima semua ini. Terlalu mendadak untukku. Apa yang harus ku lakukan, Joongie?”

❤❤❤

Yunho menelan susah payah ludahnya sendiri seolah-olah kerongkongannya tersumbat oleh biji salak. Matanya nanar menatap wajah Jaejoong. Rasa bersalah, berdosa, menyesal dan bingung membuatnya tidak bisa berkata apa-apa selain hanya menatap wajah Jaejoong yang muram dan nelangsa.

“Dia adik yang ku sayangi. Tahukah kau perasaanku ketika membaca surat seperti itu? Tahukah kau perasaanku ketika tiga hari setelah surat itu datang aku menerima kabar bahwa adikku mati bunuh diri dengan cara tragis?” tanya Jaejoong. Sepasang mata indahnya memerah dan berair.

“Maafkan aku.” Pinta Yunho dengan suara parau.

“Memaafkanmu pun tidak akan bisa membuatnya hidup lagi.” Ucap Jaejoong. “Tahukah kau bagaimana rasanya berada diposisiku? Bila setiap minggu kau menerima surat dari adikmu yang mengatakan bahwa ia merasa tertekan karena ditindas, dibully oleh teman sekolahnya hanya karena menyukai seseorang? Seseorang bernama Jung Yunho sepertimu!”

“Jae…”

“Pulanglah! Jangan biarkan aku menerjang dan membunuhmu!” ucap Jaejoong sambil memalingkan wajahnya, enggan menatap Yunho.

“Aku benar-benar minta maaf….”

Jaejoong mengigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga memerah sebelum dengan sangat cepat menerjang Yunho hingga jatuh terlentang dan mendaratkan beberapa kepalan tinju pada wajah tampan Yunho yang pasrah menerimanya.

“Kau brengsek! Kau sudah membunuh adikku, keparat!” maki Jaejoong disela air matanya.

“Aku berhak menerimanya, Jae. Aku berhak menerimanya…. Pukul aku sepuasmu bila itu bisa membuat hatimu lega.”

❤❤❤

Hari-hari berikutnya seperti hari kelabu bagi Yunho dan Jaejoong. Keduanya tidak pernah bertukar sapa lagi seolah-olah mereka tidak saling kenal. Kalaupun keduanya terpaksa dihadapkan pada situasi harus saling bicara, keduanya memilih menganggap lawan bicara masing-masing adalah sosok transparan yang abstrak. Hal itu berlanjut hingga hari kelulusan tiba.

Seperti biasa, Jaejoong menyandang predikat sebagai siswa lulusan dengan nilai terbaik bukan hanya satu sekolahan melainkan satu provinsi. Setelah pidato singkat dari kepala sekolah dan penyerahan ijazah semua lulusan bergegas meninggalkan aula. Mereka menyebar, ada yang melakukan foto-foto bersama sahabatnya, ada yang makan dipinggir jalan bersama, ada yang langsung pulang bahkan ada yang saling menyatakan cinta.

“Mungkin ini hari terakhir kita bertatap muka. Tidak adakah yang ingin kau sampaikan padaku?” tanya Yunho yang tiba-tiba saja sudah berada di samping Jaejoong ketika sahabat Park Yoochun itu sedang berjalan menyusuri bangsal sekolah yang sepi sendirian.

“Menghajarmu sampai mati pun tidak akan mengembalikan adikku.” Ucap Jaejoong. Dulu ketika Yunho ke rumahnya, Jaejoong sudah menghajar Yunho sampai pemuda bermata setajam mata musang itu terkulai lemas bersimbah darah bahkan dilarikan ke rumah sakit. Tetapi sepertinya hal itu belum sanggup menutup lubang dalam hati Jaejoong akibat kesalahan yang sudah Yunho lakukan pada mendiang adiknya.

“Apa kau mau berkencan denganku untuk yang pertama dan terakhir kalinya?” tanya Yunho.

Jaejoong tersenyum bodoh. “Adikku memohon padamu agar kau mau dengannya sementara kau dengan mudahnya mengajakku berkencan? Apa kau tidak tahu malu?”

“Tidak apa-apa. Akan lebih baik tidak tahu malu sekarang daripada aku menyesal seumur hidupku nantinya.” Ucap Yunho.

“Kemana kau mau mengajakku? Jangan samakan aku dengan orang lain. Aku tidak suka pergi ketempat-tempat cengeng seperti taman atau tempat karoke.” Ucap Jaejoong.

“Mau ke hotel?”

“Kelas?”

“Bintang lima tentu saja.”

“Jemput aku pukul 8, malam ini!” perintah Jaejoong yang langsung meninggalkan Yunho begitu saja tanpa mengucapkan selamat tinggal ataupun salam perpisahan yang lain.

❤❤❤

“Maafkan kelakuan Joongie tempo hari, Yun. Ahjumma tidak tahu apa yang meerasukinya.” Ucap ibu Jaejoong ketika Yunho datang ke rumah Jaejoong untuk menjemputnya sesuai janji mereka –Jaejoong yang menentukan waktunya tentu saja.

“Tidak apa-apa Ahjumma….” Yunho tersenyum kikuk. Bukan karena perkataan ibu Jaejoong melainkan karena tatapan menusuk Jaejoong padanya.

“Kami berangkat dulu, Bu….” Jaejoong mencium pipi ibunya lantas berjalan menuju mobil Yunho –Yunho datang lengkap dengan supir dan mobil mewahnya.

“Permisi Ahjumma….” Ucap Yunho.

“Hati-hati….” Pesan ibu Jaejoong.

❤❤❤

Sebuah kamar VIP dengan vasilitas super lengkap dan pelayanan super memuaskan merupakan kamar yang dipesan oleh Yunho. Sejak tadi tidak henti-hentinya pelayan mengantarkan pesanan Yunho baik itu makanan, minuman atau benda-benda yang sekiranya tidak –belum berada didalam kamar mewah itu.

Jaejoong sendiri tidak begitu memedulikan apa yang Yunho lakukan. Ia memilih menikmati sebotol wine mahalnya –yang dipesan oleh Yunho tentu saja di balkon kamar sambil menikmati pemandangan langit malam yang kala itu bersih penuh serbuk bintang.

“Kemarilah, Jae…” pinta Yunho yang sudah berdiri di depan jendela kaca yang terbuka lebar.

Jaejoong menoleh sesaat pada Yunho, meneguk kembali cairan merah itu langsung dari mulut botol sebelum berjalan menuju arah Yunho.

“Kau belum makan dari tadi, kan? Makanlah dulu.”

Jaejoong mengamati wajah Yunho dengan seksama, tersenyum bodoh kemudian berkata, “Kau… kau mengajakku berkencan tepat dimalam kelulusan untuk meniduriku? Setelah adikku apa kau juga ingin meniduriku?” tanya Jaejoong. Wajahnya memerah, bukan karena mabuk melainkan karena angin malam.

“Sejak awal caraku melihatmu dan Youngwoong adalah dua hal yang berbeda. Kalian tidak sama walaupun wajah kalian mirip. Dimataku kau lebih dari Youngwoong.” Ucap Yunho. “Ingin tidur denganmu? Ya. Tentu saja aku ingin. Tetapi aku tidak ingin hanya menjadi pengalaman one night stand saja. Aku ingin serius denganmu.”

Jaejoong tersenyum mengejek. “Kau bahkan tidak berani menciumku.”

“Aku sangat ingin melakukannya. Tetapi aku tidak ingin kau membenciku bila aku melakukannya.

“Kau bahkan sudah meniduri adikku!”

“Ya. Dan kau berbeda dengan adikmu.”

“Cium aku!” perintah Jaejoong.

Yunho menatap lekat wajah yang merona merah itu, menarik pinggang Yunho hingga dada keduanya saling menempel satu sama lain. “Aku menginginkanmu lebih dari apapun, Jae. Jangan memancingku atau aku akan lepas kendali!” Yunho mengingatkan.

❤❤❤

Jaejoong berjalan perlahan menyusuri trotoar yang mulai sepi. Lalu lalang kendaraan dijalan raya pun sudah tidak sepadat sore tadi. Mengeratkan sweternya, Jaejoong mendudukkan dirinya pada kursi halte yang kosong. Lampu-lampu merkuri diseberang jalan sana memaparkan sinar pucat seolah sedang mengejek dan menertawakan kebodohannya.

Jaejoong menekuri jalan beraspal di hadapannya dalam diam. “Youngie… kau tahu apa yang baru saja ku lakukan? Aku meninggalkan Jung Yunho yang kau cintai itu… aku mencampakannya. Aku puas sudah meninggalkannya begitu saja tetapi entah kenapa hatiku terasa sakit dan kesal. Ada kemarahan yang tidak ku mengerti sebabnya.” Batin Jaejoong. Matanya serasa memanas seiring kabut tipis yang melingkupinya. “Youngie… aku baru saja tidur dengan Jung Yunhomu, Yunho yang sangat kau puja dan cintai itu. Dia tidak melakukannya dengan kasar, dia lembut dan hangat. Ku lihat wajah paniknya saat aku merasakan kesakitan. Aku jahat padamu karena sudah mencuri orang yang kau cintai. Maafkan aku Youngie… maafkan aku….”

Menghela napas panjang dan berat, Jaejoong kemudian berdiri dari duduknya. Perjalan perlahan walaupun ada bagian tubuhnya yang terasa panas dan nyeri. Jaejoong tidak tahu kenapa tetapi rasanya ada sesuatu dalam dirinya yang siap meledak kapan saja. Ada perasaan menyesal dan marah, ada perasaan sedih dan kecewa. Hingga tanpa sadar ia menyusuri malam itu dengan air mata berlinang.

❤❤❤

“Jae…” Yunho segera bangun dari tidurnya. Melilitkan selimut untuk menutupi tubuh bagian bawahnya sebelum berjalan kesana-kemari mencari sosok yang semalam terlelap dalam pelukannya –atau setidaknya seperti itulah yang Yunho pikirkan. Setelah menit-menit bergairah penuh cinta dan kasih sayang yang ia lewati bersama Jaejoong, Yunho bersumpah bahwa ia tidak akan lagi menjadi orang brengsek. Ia akan seutuhnya menyerahkan jiwa raganya pada Jaejoong, saudara dari orang yang pernah ia sakiti.

Meyakini bahwa orang yang dicarinya sudah tidak berada di dalam kamar yang ia sewa, Yunho bergegas membersihkan diri untuk segera mencari Jaejoong dirumahnya.

❤❤❤

”Apa Joongie tidak memberitahumu, Yun? Aish anak itu! Joongie mendapat beasiswa untuk melanjutkan kuliah disalah satu universitas terkemuka di Amerika. Pukul 2 pagi tadi usai pulang ia langsung berangkat ke bandara.” ucap ibu Jaejoong saat Yunho mendatangi rumahnya.

Yunho hanya tersenyum bodoh, berjalan gontai menuju mobilnya. Memasuki mobil itu tanpa tenaga dan langsung menyuruh supirnya untuk membawanya pulang.

“Hei Han Youngwoong, sama seperti dulu… aku tidak pernah menyukaimu. Aku membencimu –bisa dikatakan begitu. Tetapi salahkah aku yang jatuh cinta pada saudaramu? Kini saudaramu mencampakan aku seperti aku mencampakanmu dulu. Aku tidak menyukai perasaan ini tetapi jikalau ini karma untukku karena sudah jahat padamu maka akan aku terima….” Batin Yunho.

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

Butuh sekuel ga? Ga usah ya soalnya Yuuki juga ga tahu kapan bisa post lagi #kabur

Tetap jaga kesehatan😀

❤❤❤

❤❤❤

 

Monday, March 07, 2016

10:33:25 AM

NaraYuuki

The Classification of Fate

Tittle                : The Classification of Fate

Writer               : NaraYuuki

Genre               : Incest? Romance? Familly? Angst? Familly?

Rate                 : T

Cast                             : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Park Yoochun, Shim Changmin (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan)

Disclaimer:      : They are not mine but this story and OOC Jung Hyunno & Jung Hyeri are mine, NaraYuuki

Warning           : Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran. Tanpa Edit jadi mungkin sedikit amburadul ==” Penceritaan ngebut. Saran dan masukkan diterima. Tidak menerima Bash dan Flamer dalam bentuk apapun!

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

PASTIKAN BACA WARNINGNYA!

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

The Classification of Fate

 “Ingat ya, selama Ibu pergi kalian harus bersikap baik. Tidak boleh memukul teman apalagi melukainya. Terutama Youngwoong! Kau harus menjaga uri Jaejoongie, jangan biarkan adikmu diganggu. Mengerti?”

Kedua anak kembar itu menganggukan kepala mereka serempak. Membiarkan ibu mereka mencium wajah dan kepala mereka secara bergantian sebelum akhirnya pergi meninggalkan mereka ditempat menyebalkan ini. Tempat penitipan anak sekaligus merangkap sebagai PAUD. Pagi-pagi sekali sekitar pukul 7 mereka akan diantar ke tempat penitipan anak, bermain sebentar sebelum ikut pelajaran –Mengenal nama binatang, nama makanan, diajari cara membeli tiket, menukarkan kupon makan siang, disiplin berbaris, antre dan berkenaan dengan kehidupan sehari-hari sebelum pada pukul 4 sore dijemput lagi oleh sang ibu. Ibu mereka adalah wanita karier yang bekerja sebagai seorang teller di bank sedangkan ayah mereka sejak 2 bulan lalu ditugaskan dikantor cabang yang ada di Jepang selama setahun lamanya. Tidak ada pengasuh atau baby sitter sehingga setiap pagi-sore –setiap ibunya bekerja mereka akan dititipkan di tempat penitipan anak sekaligus tempat mereka sekolah, pengecualian untuk akhir pekan dimana seharian mereka akan menghabiskan waktu bermain di rumah.

Youngwoong dan Jaejoong. Kedua anak itu adalah kembar identik. Youngwoong sang kakak lebih tinggi sedikit daripada sang adik, Jaejoong. Youngwoong lebih kasar dan pemberani dibandingkan Jaejoong yang mendiam namun pintar. Youngwoong suka mengganggu teman-temannya sementara Jaejoong lebih sering diganggu –digoda. Wajah keduanya sangat lucu, menggemaskan dan tampan –cenderung cantik. Para penjaga dan guru-guru sangat menyukai mereka.

“Joongie, dengar! Hari ini kau tidak boleh menangis lagi kalau ada yang mengganggumu ya. Hyung akan memukulnya biar dia tidak mengganggumu terus.” Ucap Youngwoong sambil menggandeng tangan adiknya memasuki kelas bermain mereka.

“Tapi ibu melarang kita bertengkar, Hyung.”

“Ibu tidak akan tahu bila kau tidak bilang.” Ucap Youngwoong lagi. “Nanti akan Hyung kenalkan kau pada Yunho. Sahabat Hyung yang sudah TK.”

Jaejoong hanya menganggukkan kepalanya perlahan. Kakaknya tidak bisa dibantah.

❤❤❤

Kegiatan hari ini sama seperti hari-hari sebelumnya. Seusia belajar anak-anak akan diarahkan ke kantin untuk menukar kupon makan siang mereka dengan makanan. Usai makan siang mereka akan tidur siang di ruang istirahat sebelum akhirnya dijemput oleh orang tua masing-masing. Di ruang istirahat para pengasuh akan membacakan dongeng pengantar tidur sambil memutarkan lagu nina bobok.

Youngwoong tidak bisa tidur tanpa selimut motif gajah serta boneka gajah kumalnya yang ia miliki semenjak bayi. Jaejoong tidak akan bisa tidur tanpa memeluk boneka beruang abu-abu kecil pemberian ayahnya pada saat ulang tahunnya yang ke-2. Meskipun kembar identik keduanya memiliki kegemaran yang berbeda.

Semua anak-anak sudah terlelap dalam tidur mereka tanpa menyadari bahaya yang mengancam mereka. Asap mulai memenuhi bangunan gedung 2 lantai itu, dapur terbakar akibat ledakan kompor gas. Para pengasuh dan guru yang berjaga mulai panik membangunkan dan mengefakuasi anak-anak, terlebih akibat banyaknya anak yang jatuh pingsan karena sesak napas dan syok.

Hyung….” Jaejoong berteriak-teriak memanggil kakaknya. Asap hitam sudah memenuhi ruang istirahat. Jaejoong kecil terbatuk-batuk, matanya pedih. Ia menangis karena tidak menemukan sang kakak.

“Jaejoongie!” seorang guru segera meraih tubuh kecil Jaejoong, menggendongnya dan membawanya lari ke luar gedung. Jaejoong terus menangis dan berteriak memanggil nama kakaknya.

Tidak ada yang menyadari bahwa Youngwoong masih terlelap di dalam ruang istirahat dengan damainya.

❤❤❤

20 tahun kemudian…

“Mungkin trauma dimasa kecilnya membuatnya tidak mau pulang. Tetapi bagaimanapun juga kampung halamannya adalah disana ia pasti akan datang juga.”

“Aku ingin bertemu dengannya. Bisa kau atur pertemuan kami?

“Tentu saja….”

Pemuda itu berdiri memandang bangunan ruko lantai 3 yang belum sepenuhnya selesai dibangun itu dari balik kaca mata hitamnya. Bibir merah penuhnya menggumamkan sesuatu. Tangan kanannya memehang erat gagang koper yang dibawanya. Berbalut celana jean dan sepatu but kulit serta kaus putih longgar membuat penampilannya mengagumkan. Rambutnya yang hitam legam menari-nari karena digoda oleh sepoi angin.

Hyung… aku pulang….” Lirihnya. Sekali lagi memandang bangunan yang belum selesai itu lantas berbalik dan berjalan menjauh sambil menarik kopernya. Menusuri trotoar menuju rumahnya –rumah barunya. Orang tuanya masih memilih tinggal di Jepang akibat kesedihan mendalam mereka selama ini yang belum bisa disembuhkan.

❤❤❤

“Kau orang Korea tetapi besar dan sekolah di Jepang? Apa kau tidak mencintai tanah airmu?” tanya pemuda bermata musang itu sedikit ketus saat menginterview calon pegawainya.

Mata bulat indah itu menatap tajam pemuda angkuh di hadapannya. Ingin menghajar orang itu andaikan dirinya sedang tidak mencari pekerjaan di perusahaan tempat orang itu bekerja. Bahkan papan nama di depan orang itu membuatnya sungkan untuk meluapkan emosinya. Direktur. Cih! Andaikan ia tahu bahwa direktur diperusahaan tempatnya melamar pekerja seorang pemuda menyebalkan pastilah ia enggan datang memenuhi panggilan interview.

“Kenapa diam saja Jaejoong sshi? Aku bertanya padamu.”

Jaejoong mengedipkan kelopak matanya, terlihat bulu-bulu matanya yang lentik lagi hitam. Mata bulatnya menatap kedalam mata setajam mata musang itu lekat-lekat. “Keluargaku pindah ke Jepang setelah insiden kebakaran yang menimpa sekolahku dulu, Pak. Kakak kembarku menjadi salah satu korban meninggal dalam kejadian itu sehingga orang tuaku memutuskan untuk menetap di Jepang sampai mereka bisa mengobati kehilangan yang mereka alami.” Tiba-tiba saja Jaejoong berdiri dari duduknya, berdiri dengan angkuh menatap direktur muda itu sambil berkata, “Mengenai dimana aku tinggal dan sekolah itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan mencintai tanah airku atau tidak. Ada hal-hal yang tidak pantas kau tanyakan dalam interview seperti ini apalagi kalau itu menyangkut urusan pribadi. Terima kasih atas waktunya. Aku tidak lagi berminat bekerja disini apalagi menjadi bawahanmu!” ucapnya sebelum pergi begitu saja dari ruang interview, mendatangkan tatapan heran dan bingung dari peserta interview lain dan para penginterview.

Sementara sang penginterview yang berhasil memancing kekesalan Jaejoong itu justru tertawa terbahak-bahak, mendatangkan ekspresi terkejut dan bingung dari para oenginterview lain yang merupakan bawahannya. “Kita membutuhkan orang tegas sepertinya. Aku menyukainya!” ucapnya disela kegiatan tertawanya.

❤❤❤

Diapartement tempatnya tinggal sendirian –untuk sementara sampai orang tuanya mau pulang lagi ke Negara mereka, ia sedang sibuk membereskan barang-barangnya ketika bel pintu apartement yang sekarang menjadi rumahnya –untuk sementara ditekan berkali-kali dengan tidak sabar. Sambil menggerutu dilangkahkannya kakinya menuju pintu, tanpa melihat siapa tamunya ia langsung membuka pintu. Matanya membulat melihat siapa yang bertamu.

“Aku tahu alamatmu dari surat lamaran yang kau buat.” Pemuda bermata musang itu masuk begitu saja ke dalam apartement Jaejoong tanpa dipersilahkan, “Kau baru beres-beres?” tanyanya.

“Mau apa kau?” tanya Jaejoong ketus. “Aku sudah tidak berminat lagi bekerja di perusahaanmu. Jadi pergilah sebelum aku memanggil petugas keamanan!”

Pemuda yang memakai setelan jas mahal itu menyerahkan sebuah amplop berwarna coklat pada Jaejoong sebelum mendudukkan dirinya di atas sofa berwarna hitam yang masih belum tertata dengan rapi. Membiarkan Jaejoong membuka dan membaca amplop itu sedangkan dirinya sendiri mengambil sebuah frame foto, tersenyum penuh kegetiran ketika menatap potret kebahagiaan yang terbingkai didalam frame itu. “Kau punya saudara kembar?”

“Kakakku –almarhum.” Jawab Jaejoong singkat. “Kau sedang mabuk?” tanya Jaejoong sambil mengacung-acungkan selembar kertas putih didepan wajah pemuda berjas mahal itu dengan wajah kesal.

“Kembar identik ya?” gumam pemuda itu tanpa memedulikan raut wajah kesal Jaejoong. “Aku tidak punya saudara. Sebenarnya punya tapi adikku dipisahkan dariku saat kami masih kecil.” Ucapnya tanpa diminta.

Jaejoong menarik napas panjang. Tangannya hampir meraih sapu untuk mengusir direktur sinting itu dari rumahnya jikalau pemuda itu tidak mengeluarkan suara.

“Kau akan menjadi sekertarisku. Aku tidak suka punta sekertaris perempuan karena mereka biasanya genit dan menggunakan riasan terlalu tebal, hal itu tidak baik untuk mataku.” Ucapnya. “Besok pagi ku tunggu kau pukul 7. Jangan sampai terlambat atau aku akan menghukummu!” ancamnya.

“Yah! Kau pikir aku budakmu?” mata bulat Jaejoong melotot tajam.

“Matamu sangat indah….” Pujinya. “Namaku Jung Yunho kalau kau ingin tahu.”

“Sama sekali tidak ingin tahu!” pekik Jaejoong kesal.

“Kau tahu? Aku suka tipe orang sepertimu. Mau berkencan denganku?”

Jaejoong meraih bantal sofa dan melemparnya tepat mengenai wajah Yunho. “Kau sinting?”

Yunho berdiri, membenahi jas mahalnya yang sedikit kisut dan berjalan mendekati Jaejoong. “Aku serius dengan ucapanku. Aku akan menyuruh orang untuk membantumu beres-beres.” Yunho tersenyum, mencium pipi kanan Jaejoong kemudian berlari terbirit-birit menjauh dari Jaejoong.

“Dasar orang mesum sialan!” teriak Jaejoong penuh kekesalan.

❤❤❤

Menjelang pukul 10 pagi Jaejoong datang memasuki gedung perkantoran tempatnya beberapa hari lalu menjalani interview dengan seorang direktur sinting. Kemarin Yunho memintanya datang pukul 7 tetapi Jaejoong sengaja datang sangat terlambat untuk membalas pelecehan yang dilakukan Yunho padanya kemarin –mencium pipinya. Plus untuk membayar karena dengan konyolnya Yunho mengirim sepuluh orang untuk membantunya bebenah padahal mereka tidak saling kenal –tidak saling kenal!

“Kenapa terlambat sekali?”

Jaejoong terlonjak kaget ketika orang yang dihindarinya tiba-tiba sudah muncul disampingnya.

“Kalau begitu mulai besok aku akan menjemputmu sehingga kau tidak akan terlambat lagi.”

Begitulah mulanya hingga setahun belakangan ini Yunho dan Jaejoong menjadi atasan dan bawahan sekaligus merangkap menjadi sahabat. Bahkan Yunho sering kali menginap dirumah Jaejoong jikalau sedang adu mulut dengan kakeknya.

❤❤❤

“Jaejoong sshi, mianhae…. Direktur mabuk dan mengamuk di tempat karoke. Ketika aku ingin mengantarnya pulang ke rumahnya, Direktur malah berteriak-teriak memanggil namamu.” Park Yoochun. Manager pemasaran itu terlihat susah payah ketika memapah Yunho yang sedang dalam keadaan teler.

Jaejoong menghela napas panjang. Tadi pagi Yunho bertengkar dengan Komisaris direktur –kakeknya mengenai tender yang sedang perusahaan mereka tangani. Selalu saja seperti ini. Tiap kali ada masalah diperusahaan Yunho akan mabuk hingga berujung pada minggatnya sang direktur dari rumah keluarganya dan tinggal beberapa hari di rumah Jaejoong. Pernah Jaejoong mengeluh pada Yunho perihal rumahnya yang dijadikan tempat singgah. Dan sejak saat itu, urusan iuran listrik, isi dapur bahkan iuran keamanan Jaejoong ditanggung oleh Yunho.

“Terima kasih. Sekarang kau boleh pulang Yoochun sshi. Kau terlihat lelah.” Ucap Jaejoong. “Biar aku yang mengurus beruang besar ini.”

Ne. Maaf merepotkanmu.” Usai berkata seperti itu Yoochun segera pergi mengingat hari ini sudah sangat larut.

Jaejoong menggerutu ketika menyeret tubuh besar Yunho masuk ke dalam apartementnya, memapahnya lantas menidurkannya di atas sofa ruang tamunya. Dengan sedikit mengeluh Jaejoong melepas sepatu dan kaus kaki Yunho serta melepas jas dan dasinya, tidak lupa Jaejoong pun membuka kancing kemeja Yunho.

“Segeralah menikah agar ada yang mengurusmu! Dasar beruang gendut!” omel Jaejoong.

“Kau menolak lamaranku minggu lalu, Boo.” Rancu Yunho dengan mata terpejam.

“Dasar gila!” Jaejoong berjalan meninggalkan Yunho untuk mengambil selimut dan membuatkan air madu agar direktur muda itu tidak mengeluh pusing esok hari.

❤❤❤

“Kau sedang membuat sup kimchi untukku ya, Boo?” dengan manja Yunho bergelayut pada Jaejoong yang sedang sibuk memasak. Mengekorti kemanapun Jaejoong melangkah –bahkan kamar kecil sekalipun.

“Ya. Jadi berhenti menggangguku, Jung!” omel Jaejoong. Rasanya risih ketika Yunho –yang sejenis dengannya memeluknya dari belakang begitu intim.

“Kakek menyuruhku membuat sebuah mega proyek, ketika aku berhasil melakukannya ia akan memberikan restunya untukku menikahimu.”

“Uhuk!” Jaejoong yang sedang mencicipi masakannya tersedak mendengar ucapan Yunho. Seketika pemuda yang lebih muda beberapa tahun dari Yunho itu berbalik, menatap Yunho dengan mata bulat indahnya yang melotot karena kaget. “Kau gila?”

“Aku sudah bilang sejak awal bahwa aku menyukaimu, kau tipeku. Kau yang kurang peka, ketika aku menyatakan keinginanku untuk menikahimu kau pikir aku hanya bercanda bahkan mabuk.”

“Yah Jung Yunho! Kita berdua namja! NAMJA! Kau…” mata Jaejoong membulat sempurna –nyaris keluar ketika Yunho menghisap bibir merah penuhnya dengan rakus.

“Aku tahu kau juga menyukaiku. Jangan malu mengakuinya.” Yunho tersenyum menggoda. “Aku pasti akan segera mewujudkan tantangan kakek agar bisa segera meminangmu.” Janjinya pada Jaejoong dan dirinya sendiri.

❤❤❤

Tidak mudah bagi Yunho mewujudkan tantangan yang kakeknya berikan. Barulah 5 tahun kemudian ia berhasil membangun sebuah kompleks apartement super mewah dilengkapi fasilitas super komplit seperti pusat perbelanjaan, restoran, distro, gedung pertemuan, ball room bahkan hotel berbintang lima dalam satu kompleks. Minggu lalu peresmian sudah dilakukan oleh Yunho sendiri. Sekarang adalah saat yang paling Yunho tunggu-tunggu, restu kakeknya.

Pria tua itu menatap sebal pada cucu semata wayangnya, satu-satunya penerusnnya. “Kau orang paling gila yang ku kenal! Sialnya kau ku besarkan dengan tanganku sendiri, bahkan aku yang menggantikan popokmu ketika kau masih bayi dulu.”

Yunho hanya tersenyum lebar mendengar gerutuan kakeknya.

“Kapan kau ingin aku mendatangi orang tua Jaejoong di Jepang untuk melamarnya?”

“Hari ini juga, Kek.”

“Dasar cucu tidak tahu diuntung! Kau pikir melamar anak orang sama seperti mengajukan proposal tender?” omel Kakeknya. “Setidaknya kau harus menyiapkan buah tangan untuk calon mertuamu, bodoh!”

Yunho tersenyum, “Aku sudah menyiapkan semuanya, Kek. Kakek tinggal berangkat ke Jepang saja. Semuanya sudah diatur oleh orangku yang sebelumnya ku kirim ke Jepang untuk menyiapkan lamaran.”

“Dasar anak kurang ajar!”

“Aku mau menikah secepatnya. Minggu depan kalau bisa.”

Yah! Kau ingin membuat tua Bangka ini mati serangan jantung? Kau pikir bisa menyiapkan pernikahan selama seminggu? Kau pikir berapa ribu orang rekan bisnis yang harus diundang, hah?” pria tua itu menatap garang pada Yunho yang hanya ditanggapi cengiran jenaka.

“Satu bulan cukup, Kek?”

“Itu lebih baik!” sahut Jung senior itu sedikit lega. “Dan Yunho, apakah Jaejoong bisa hamil?”

Yunho tersenyum, “Sebenarnya Kek, karena aku sudah tidak tahan –tidak sanggup menahan semuanya sehingga saat ini didalam perut Jaejoong sedang tumbuh Jung kecil. Usianya baru lima minggu.”

MWO?!”

❤❤❤

Semua terjadi begitu cepat. Prosesi melamar Jaejoong pada orang tuanya yang masih tinggal di Jepang sampai acara pernikahan mereka. Terkesan tergesa-gesa dan kilat namun Yunho tidak mempermasalahkan hal itu. Baginya semakin cepat dirinya bisa hidup bersama Jaejoong, semakin baik semuanya. Usai menikah keduanya pindah ke rumah keluarga Jung dimana setiap harinya kakek Yunho mengeluh pada sikap cucunya semenjak bayi sampai sekarang pada Jaejoong yang hanya bisa tersenyum geli melihat sikap keduanya yang kadang seperti anak-anak.

Tidak ada rahasia dalam pernikahan Yunho dan Jaejoong. Yunho tahu seluk beluk hidup Jaejoong begitu pun sebaliknya. Namun ada satu hal yang tidak pernah Yunho katakan pada siapapun termasuk Jaejoong. Perihal rahasia terbesar, terkelam, terdalam dalam hidupnya.

❤❤❤

26 tahun sebelumnya…

Semua anak-anak sudah terlelap dalam tidur mereka tanpa menyadari bahaya yang mengancam mereka. Asap mulai memenuhi bangunan gedung 2 lantai itu, dapur terbakar akibat ledakan kompor gas. Para pengasuh dan guru yang berjaga mulai panik membangunkan dan mengefakuasi anak-anak, terlebih akibat banyaknya anak yang jatuh pingsan karena sesak napas dan syok.

Hyung….” Jaejoong berteriak-teriak memanggil kakaknya. Asap hitam sudah memenuhi ruang istirahat. Jaejoong kecil terbatuk-batuk, matanya pedih. Ia menangis karena tidak menemukan sang kakak.

“Jaejoongie!” seorang guru segera meraih tubuh kecil Jaejoong, menggendongnya dan membawanya lari ke luar gedung. Jaejoong terus menangis dan berteriak memanggil nama kakaknya.

Tidak ada yang menyadari bahwa Youngwoong masih terlelap di dalam ruang istirahat dengan damainya. Mendengar suara sang adik memanggil Youngwoong akhirnya terbangun dari mimpi indahnya. Anak kecil berusia 4 tahun itu panik mendapati dirinya digempur asap pekat yang menyesakkan dada. Youngwoong menangis sendirian didalam ruangan istirahat, berteriak memanggil nama adik dan ibunya berulang-ulang.

“Youngwoong a….” seorang anak berusia 8 tahun, bermata musang namun memiliki tubuh kecil sebesar Youngwoong itu datang menembus asap tebal. “Kajja, aku akan membantumu keluar dari sini.”

“Yunho?”

“Jangan menangis… kajja! Kita harus bergegas.”

Bergandengan tangan keduanya berlari meninggalkan ruang istirahat itu. Ketika nyaris sampai pada pintu keluar sebuah ledakan besar terjadi membuat Yunho kecil jatuh tersungkur. Youngwoong panik melihat pahlawannya bersimbah darah seperti itu.

“Yunho ya…”

“Youngwoong, berjanjilah padaku! Kalau aku mati kau harus menggantikan posisiku menjadi cucu kakekku, menjadi Jung Yunho.”

“Yunho ya….” Youngwoong menangis melihat sahabat rahasianya yang ingin ia kenalkan pada Jaejoong itu tampak lemah.

Yunho mengulurkan sebuah liontin pada Youngwoong. “Kajja lari!”

Siro!”

“Mintalah bantuan pada orang dewasa untuk membantuku. Aku tidak bisa berjalan lagi. Kajja!” Yunho tersenyum.

Youngwoong mengangguk pelan lantas berlari sambil memeluk liontin pemberian Yunho. Sebuah ledakan terjadi lagi, api berkobar semakin panas. Youngwonong tidak menyadari pakaiannya sudah terbakar. Ketika sampai pada pintu keluar Youngwoong langsung pingsan begitu saja. Dan ketika sadar sekujur tubuhnya sudah dibebat oleh perban, wajah-wajah yang tidak ia kenal menatapnya dengan cemas dan khawatir.

“Yunho ya… kau tidak apa-apa? Tenanglah, Nak! Kakek disini bersamamu.”

Saat itu Youngwoong tahu bahwa dirinya telah menjadi Jung Yunho, menggantikan Yunho yang sudah meninggal dalam kebakaran itu, menggantikan Yunho yang dianggap Youngwoong oleh keluarganya.

Selama ini Yunho –Youngwoong mengamati Jaejoong dari kejauhan, mencari informasi tentang keluarganya yang pindah ke Jepang hingga perasaan penuh dosa itu menghinggapinya. Yunho –Youngwoong jatuh cinta pada Jaejoong, adiknya sendiri. Walaupun sudah menahannya tetapi pada akhirnya Yunho –Youngwoong menyerah pada hasutan dosa itu. Sampai akhirnya mereka dipertemukan kembali secara tidak sengaja ketika Jaejoong melamar pekerjaan sebagai pegawai diperusahaan yang Yunho –Youngwoong pimpin.

❤❤❤

“Apa yang kau lamunkan?” tanya Jaejoong?

Yunho tersenyum, memeluk Jaejoong dan mencium kening ‘istrinya’ mesra. “Kalau aku berdosa karena mencintaimu maka biarlah Tuhan menghukumku.” Bisik Yunho mendatangkan wajah penasaran Jaejoong.

Jung Changmin beserta si kembar Jung Hyunno dan Jung Hyeri sedang bermain dengan kakek buyut mereka, Jung senior –kakek Yunho di taman belakang rumah besar itu mengabaikan kemesraan yang Yunho dan Jaejoong ciptakan dalam dunia mereka sendiri.

❤❤❤

❤❤❤

END

❤❤❤

❤❤❤

Epep iseng disela kegiatan menunggu giliran periksa. Semoga sedikit menghibur:)

Tetap jaga kesehatan😉

❤❤❤

❤❤❤

Wednesday, February 17, 2016

11:24:35 AM

NaraYuuki

Invisible World

Tittle                : Invisible World

Writer               : NaraYuuki

Genre               : Romance? Familly? Fantasy?

Rate                 : T

Cast                             : Jung Yunho, Kim Jaejoong,

Disclaimer:      : They are not mine but this story and OOC Jung Hyunno, Jung Hyunbin & Jung Hyeri are mine, NaraYuuki

Warning           : Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran. Tanpa Edit jadi mungkin sedikit amburadul ==” Penceritaan ngebut. Saran dan masukkan diterima. Tidak menerima Bash dan Flamer dalam bentuk apapun!

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

PASTIKAN BACA WARNINGNYA!

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

Invisible World

Ia tidak seperti penduduk desa kebanyakan yang membenci dan membusuhi bangsa siluman. Pengalaman pernah ditolong oleh seorang siluman serigala dan hidup bersama dengan kawanannya selama setahun membuatnya bisa menghargai bahwa apapun jenis dan rasnya semua mahluk bernyawa berhak untuk hidup. Ia sebatang kara ketika penduduk desa merampasnya dari kelompok barunya ketika usianya 8 tahun. Ia dibesarkan dan dianggap anak sendiri oleh kepala desa yang tidak memiliki anak. Ia dididik dan disekolahkan layaknya keturunan bangsawan. Ketika pagi hari ataupun menjelang sore, ia akan mengumpulkan anak-anak di pelataran kuil –satu-satunya kuil yang ada di desa untuk mengajari anak-anak desa membaca dan berhitung. Banyak pemuda yang jatuh hati padanya tetapi sungkan untuk mengirim lamaran karena status sosialnya yang dianggap lebih tinggi –sebagai putri angkat kepala desa.

“Ayahku bilang saat sedang berburu ia melihat segerombolan serigala lewat dipinggir hutan. Aku dilarang bermain didekat hutan untuk sementara waktu.” Ucap seorang anak berkepala plontos pada temannya.

“Apa mereka gerombolan siluman? Ku harap mereka tidak menyerang desa.” Ucap yang lain.

“Aku harap kalian tidak terlalu asyik bicara dan menyimak apa yang baru saja aku sampaikan.”

“Kak Joongie!” pekik keduanya.

Perempuan cantik berambut panjang itu tersenyum manis. “Nah, pelajaran hari ini cukup sampai disini, jangan lupa mengerjakan PR kalian. Dan hati-hati dalam perjalanan pulang.” Ucapnya ramah.

Desas-desus mengenai gerombolan serigala yang mulai terlihat di pinggiran hutan sedikit banyak membuat warga desa panik. Mereka takut binatang ternak mereka dimangsa oleh para serigala tersebut terlebih jika gerombolan itu adalah gerombolan siluman serigala yang sering memangsa manusia untuk obat awet muda.

Jaejoong nama perempuan cantik itu. Ia sedang membereskan buku-bukunya ketika seorang pelayan yang bekerja di rumah kepala desa berlari tergesa ke arahnya.

“Nona… celaka nona… celaka!”

“Ada apa Kasim?” tanya Jaejoong.

“Gerombolan siluman datang ke rumah dan menemui ayah anda.”

Mata hitam Jaejoong membulat, “Mereka membawa senjata?” tanya Jaejoong. Wajahnya memucat ketika melihat Kasim menganggukkan kepalanya. “Ayo kita bergegas!” ajaknya sambil berlari kecil.

❤❤❤

Ketika sampai di rumahnya, Jaejoong dikejutkan dengan banyaknya warga yang berkumpul di depan rumahnya dengan wajah panik. Perempuan cantik itu bertanya-tanya apa yang sebenarnya sedang terjadi, kenapa banyak warga berkumpul di rumahnya, kenapa pula ada siluman serigala yang duduk di depan teras rumahnya. Dengan jantung berdebar dan perasaan yang tidak menentu, Jaejoong berjalan perlahan melewati gerombolan warga, berjalan perlahan penuh keraguan menuju teras depan rumahnya hingga berhadapan dengan beberapa siluman serigala yang sudah menghadang langkahnya.

“Minggir!” perintah Jaejoong. Siluman-siluman yang semula menghadang langkahnya segera menyingkir. Jaejoong lantas menjulurkan tangannya untuk membuka pintu, berjalan memasuki rumah yang mana didalamnya semakin banyak siluman serigala yang bergerombol.

Ditengah ruangan terlihat ayah Jaejoong –kepala desa sedang duduk berhadap-hadapan dengan seorang pria dewasa berambut putih keperakan, Jaejoong tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena rambut panjang pria itu. Jaejoong berjalan menghampiri ayahnya.

“Ayah….”

Sang kepala desa yang sudah tidak lagi muda itu menatap Jaejoong dengan wajah sedih dan muram. Tangannya mengisyaratkan agar Jaejoong duduk di disampingnya. Jaejoong menurutinya. “Anakku, ketika itu kau baru berusia 8 tahun jadi mungkin ingatanmu masih samar tentang siapa mereka.” Sang kepala desa mulai berbicara. “Saat kau ikut dalam kelompok mereka kau diasuh oleh seorang siluman serigala perempuan yang kala itu kehilangan anaknya dalam sebuah pertarungan. Dan sekarang ibu yang mengasuhmu itu sedang sekarat karena dilukai oleh siluman lain. Mereka datang kemari meminta ijin padaku untuk membawamu bersama mereka karena ibu asuhmu ingin bertemu denganmu. Sebagai jaminan akan ada 10 siluman yang tetap tinggal disini selama kau pergi. Apakah kau bersedia ikut mereka?”

Jaejoong memandang ayahnya dan pria berambut putih keperakan itu secara bergantian. Keraguan menyelimuti hatinya tetapi ada setitik keyakinan bahwa dirinya akan baik-baik saja. “Aku akan ikut mereka, Ayah.” Jawab Jaejoong mantab.

“Sebelumnya aku sudah meminta Kasim menyiapkan bekal untukmu sebelum memanggilmu pulang.” Kepala desa memberikan sebuah bungkusan kain cukup besar pada Jaejoong. “Baju ganti dan baju hangatmu. Aku yakin mereka akan memberimu makan dengan baik.”

“Ya, Ayah.”

“Aku lupa mengenalkannya padamu. Dia adalah pimpinan kelompok, Yunho. Kau mengingatnya?”

Jaejoong menatap pria itu dengan seksama. Wajah itu seperti tidak asing baginya namun Jaejoong tidak bisa mengenali wajah itu dengan baik. “Aku yakin akan segera mengingatnya, Ayah.

❤❤❤

Ada ratusan siluman serigala yang berkeliaran di sekitar gua dekat air terjun, diantara mereka ada yang berwujud menyerupai manusia ada pula yang masih berwujud serigala, biasa yang masih berwujud serigala adalah siluman-siluman yang masih muda. Jaejoong di ajak memasuki gua yang awalnya sedikit pengap namun semakin ke dalam gua itu semakin meluas, udara lebih segar daripada sebelumnya dan sekitar dinding gua dipenuhi oleh obor sehingga tidak terlalu gelap.

Jaejoong melihat ada beberapa siluman serigala perempuan yang mengelilingi sesuatu, Jaejoong mendekati mereka untuk melihat lebih dekat. Ternyata seorang siluman sedang terbaring di atas batu yang berbentuk persegi panjang menyerupai sebuah tempat tidur, ia sedang terluka parah. Jaejoong mengenal wajah yang sedang menahan sakit itu.

“Ibu….” Panggil Jaejoong dengan suara lirih.

Seketika para siluman serigaka perempuan yang sedari tadi mengelilingi sosok yang sedang sakit itu membuat bukaan agar Jaejoong bisa mendekat.

“Kau Jaejoongieku?” tanya perempuan sekarat itu dengan suara serak. Tangan pucatnya yang berkuku tajam itu berusaha menggapai Jaejoong.

Jaejoong mengulurkan tangannya untuk dipedang. Mendudukkan dirinya didekat sosok yang tengah kesakitan itu. “Ibu…”

“Kau cantik, Nak….”

“Kenapa ibu bisa seperti ini?” tanya Jaejoong, wajahnya menunjukkan kesedihan dan keprihatinan.

“Ahra dilukai oleh segerombolan siluman rubah saat sedang menjaga anak-anak ketika kami semua berburu.” Jawab seorang siluman serigala perempuan berambut merah kusut. “Kami sudah membantai mereka sebagai gantinya.” Tambahnya.

“Ibu, bukankah tuan Yunho memiliki sebuah pedang bermata 2 yang bisa menghidupkan orang yang sudah mati? Kenapa dia tidak menyelamatkan Ibu?” tanya Jaejoong.

Ahra tersenyum, jemarinya yang dingin membelai lembut wajah Jaejoong seperti seorang ibu yang sudah lama tidak melihat wajah anak kandungnya. “Aku tidak mau menyalahi takdir, Anakku. Jika aku harus mati dengan cara seperti ini maka biarlah itu terjadi.” Ucap Ahra. Dengan susah payah ia menelan ludahnya, bibirnya sudah memucat. “Tetapi sebelum aku mati, aku ingin bertemu denganmu, Anakku.”

“Malam ini aku akan menemani Ibu.”

Ahra mengangguk lemah. “Aku sedikit haus…”

Jaejoong menatap gerombolan serigala di dekatnya dengan mata nanar, “Dimana aku bisa mendapatkan air?” tanyanya. Seorang dari mereka segera mengulurkan segelas air putih pada Jaejoong yang kemudian ia berikan pada Ahra.

Ahra meneguknya dengan perlahan sambil menahan nyeri, “Airnya terasa manis karena kau yang memberikannya padaku, Nak.” Napas Ahra mulai memberat. Perlahan-lahan matanya tertutup rapat, jemari yang tadinya membelai wajah Jaejoong terkulai lemas disamping tubuhnya.

“Ibu?” panggil Jaejoong. Tidak lama kemudia terdengar lolongan serigala bersahut-sahutan. Suara mereka sarat akan kesedihan pilu. Siluman serigala perempuan yang berada didekat Jaejoong mulai menangis histeris. Jaejoong baru sadar bahwa Ahra sudah pergi.

❤❤❤

“Biasanya kami akan membakar jasatnya kemudian abunya dilarung ke sungai.” Ucap serigala berambut putih keperakan itu, sang pemimpin –Yunho. “Tapi kau memintaku untuk menguburkannya? Kenapa aku harus melakukan permintaanmu? Apa untungnya bagiku?” tanyanya.

“Dulu aku diasuh oleh Ibu Ahra, jadi walaupun sekarang ia sudah tidak bernyawa lagi setidaknya jika ada kuburan kapan pun aku merindukannya aku bisa mengunjunginya.”

“Itu tidak seperti kebiasaan kelompok kami.” Ucap Yunho dengan ekspresi dingin. “Kami tidak akan melakukan apa yang bukan menjadi kebiasaan kami. Aku sudah disalahkan atas apa yang menimpa AHra. Bila aku melakukan kebiasaan yang sebelumnya tidak pernah kelompok kami lakukan maka aku harus meninggalkan kelompok ini dan hidup sendirian.”

“Aku akan hidup bersamamu.” Ucap Jaejoong tanpa dipikir dua kali. “Asal kau menguburkan jasat Ibu Ahra, aku rela hidup bersamamu!” tambahnya lagi.

❤❤❤

Begitulah hingga akhirnya jasad siluman serigala bernama Ahra itu dikuburkan selayaknya manusia. Sebagai konsekuensinya posisi Yunho sebagai Alfa digantikan oleh siluman serigala yang lain, bahkan ia ditinggalkan begitu saja oleh kelompoknya –kecuali tangan kanan setianya dan Jaejoong. Jaejoong sudah menjelaskan perjanjian yang ia lakukan dengan Yunho pada ayahnya –kepala desa. Maka mulai sekarang kemana pun Yunho melangkah Jaejoong akan ikut dengannya tidak peduli sejauh mana tujuan Yunho.

Terhitung sudah satu bulan lamanya Jaejoong ikut dengan Jaejoong. Tidur di gua-gua yang mereka temui, kadang tidur dilantai hutan yang dingin. Kehujanan dan kepanasan setiap harinya. Jaejoong tidak mengeluh dan terus berjalan mengiringi langkah Yunho. Soal makanan, Yunho tidak pelit. Binatang buruan apa saja yang ia dapatkan untuk dimakan akan diserahkan sepenuhnya untuk Jaejoong. Jaejoong akan memasak binatang buruan Yunho sebelum disantap bersama. Awalnya tangan kanan Yunho memprotes hal itu karena ia biasa menyantap daging mentah. Namun lama kelamaan ia terbiasa dengan daging matang.

“Jaejoong… kau tahu janji yang kau ucapkan pada tuan Yunho dulu?” tanya tangan kanan Yunho yang bernama Rens. “Ketika kau mengatakan ‘aku akan hidup bersamamu’ pada tuan Yunho?”

“Bukankah sekarang aku menepati janjiku? Aku hidup bersamanya.” Ucap Jaejoong yang sedang membakar ikan hasil tangkapan Rens sambil menunggu Yunho kembali.

“Dalam dunia kami, janji seperti itu berarti kau menyerahkan seluruh hidupmu pada tuan Yunho. Kau siap menjadi budaknya. Melayaninya, melahirkan anak-anaknya dan…”

“Melahirkan anak-anaknya?” mata Jaejoong terbelalak kaget.

“Tentu saja.” Jawab Rens. “Tuan Yunho hanya perlu mengawinimu dan kau akan melahirkan anak-anaknya.”

“Ka…? Kawin? Apa maksudmu?” Jaejoong bingung, “Maksudmu aku dan Yunho berhubungan badan untuk mendapatkan keturunan?”

“Kelompokku terdahulu menyebutnya kawin. Sama saja….” Jawab Rens.

“Aku tidak mungkin melakukannya!”

“Kenapa?” tanya Rens.

“Tentu saja karena dalam adat istiadat manusia sebelum mendapatkan keturunan seorang laki-laki dan perempuan harus menikah terlebih dahulu. Dan untuk menikah seorang laki-laki wajib memberikan mahar pada pihak perempuan.” Jelas Jaejoong.

“Aku mencium aroma ikan bakar.” Ucap Yunho yang tiba-tiba saja sudah muncul. Ramput putih keperakannya berkilau indah tertempa sinar matahari yang menyusup disela dedaunan hutan yang lebat.

“Matang tepat pada waktunya.” Ucap Jaejoong. “Kau mau?”

“Ya.” Jawab Yunho yang berjalan menghampiri Rens dan Jaejoong. “Kau semakin pucat. Makanlah yang banyak!” Yunho memberikan sekeranjang penuh buah pada Jaejoong.

“Terima kasih.”

“Rens, kita akan membangun sebuah kastil disekitar sini. Aku sudah menemukan tempat yang stretegis untuk membangunnya.” Ucap Yunho.

“Tentu saja Tuanku.”

“Kastil? Untuk apa?” tanya Jaejoong bingung. Ia sudah meletakkan beberapa ikan bakar beralas dedaunan di hadapan Yunho dan Rens.

“Perkawinan dalam dunia manusia mewajibkan seorang laki-laki memberikan mahar pada perempuan. Aku membangun kastil sebagai mahar untukmu.” Jawab Yunho. “Aku menghormatimu sebagai seorang manusia sehingga aku tidak akan mengawinimu begitu saja seperti kebanyakan yang para siluman lakukan pada pasangan hidupnya. Aku akan menikahimu sesuai tata cara manusia.”

Jaejoong terdiam. Ia mulai membayangkan kehidupannya akan berubah begitu kastil yang Yunho maksud itu sudah berdiri.

❤❤❤

Kastil itu dibangun ditengah hutan, tepat dihadapan sebuah air terjun –kastil itu membelakangi air terjun, di samping kirinya sungai mengalir dengan tenang. Disamping kanannya menjulang tinggi tebing kokoh yang dipenuhi oleh pepohonan besar. Tidak membutuhkan waktu lama untuk membangun kastil itu karena entah bagaimana namun Yunho berhasil mengumpulkan berbagai jenis siluman untuk membantunya membangun kastil. Begitu kastil sudah selesai, Yunho memerintahkan Rens untuk membeli peralatan yang dibutuhkan Jaejoong guna mengisi kastil tersebut di desa terdekat. Yunho sendiri mengajak Jaejoong mencari pendeta untuk menikahkan mereka. Yunho menyamarkan dirinya, menyamarkan rambutnya dengan diberi pewarna alam agar membuatnya tampak seperti manusia kebanyakan. Semuanya berjalan lancar hingga mereka kembali ke kastil.

Jaejoong menuangkan teh ke dalam cawan untuk diberikan pada Yunho. Ini hari pertama mereka sebagai pasangan suami istri.

“Kau masih sangat kecil ketika Ahra membawamu padaku. Ia memohon padaku untuk menyelamatkanmu yang sedang sekarat. Desamu terbakar. Kebetulan kelompok kami berada didekat sana. Entah siluman apa yang telah memporak-porandakan desamu.” Ucap Yunho sebelum meminum tehnya. “Sekarang kau sudah besar. Kenapa menolak pinangan para manusia? Kenapa kau harus hidup bersamaku?”

“Seperti awal pertemuan kita yang tidak terduga. Mungkin takdirku adalah hidup bersamamu.” Jawab Jaejoong tenang.

Yunho menjulurkan tangan kanannya untuk membelai wajah cantik Jaejoong. “Menjadi istri dari siluman sepertiku sangat berat. Kenapa kau tidak menolak dan lari? Kenapa memilih menerima begitu saja?” tanyanya.

Jaejoong hanya tersenyum, membiarkan Yunho berkuasa atas dirinya.

❤❤❤

Sembilan bulan kemudian Jaejoong melahirkan 3 orang anak. Jung Hyunno, Jung Hyeri dan Jung Hyubin. Ke-3nya adalah siluman sama seperti Yunho. Keadaan Jaejoong melemah setiap harinya usai melahirkan ke-3 anaknya. Menurut Yunho hal itu terjadi karena daya hidup Jaejoong terhisap oleh anak-anak mereka ketika ia sedang mengandung.

“Ijinkanku mengubahmu menjadi siluman, Jae.” Pinta Yunho. “Aku tidak akan sanggup hidup sendirian tanpamu, aku tidak akan sanggup membesarkan mereka tanpamu.”

Jaejoong tersenyum walaupun sepasang mata indahnya mengalirkan air mata. “Kalau kau melakukannya kau akan kehilangan setengah hidupmu, Yun.”

“Tidak apa-apa asalkan kau tetap bersamaku. Apalah arti memiliki umur panjang jika harus merasakan kesepian dan kesedihan yang berkepanjangan?” Yunho memeluk tubuh lemah Jaejoong erat, seolah takut istrinya diambil paksa darinya.

❤❤❤

Gadis cantik itu tersenyum menatap kedua saudaranya yang sedang lomba lari namun ia tidak tertarik untuk mengacaukan perlombaan yang sedang kedua saudaranya lakukan. Ia lebih suka membantu ibunya mengajari anak-anak siluman membaca dan menyanyikan sajak-sajak yang indah. Setiap hari kastil tempat tinggalnya selalu didatangi oleh anak-anak dari siluman yang tinggal disekitar untuk belajar membaca. Ibunya bilang agar para manusia dan para siluman bisa saling memahami satu sama lain mereka harus mengerti dan memahami cara berkomunikasi yang lebih baik –setidaknya tanpa menggunakan senjata.

“Ibu pernah jadi manusia. Bagaimana rasanya menjadi manusia?” tanya Hyeri.

“Menjadi manusia tidak sebebas ketika menjadi seorang siluman. Sampai sekarang Ibu masih berusaha memahami keduanya dalam pandangan yang berbeda. Menjadi manusia yang memiliki umur pendek dan keterbatasan kemampuan tidaklah buruk tetapi menjadi siluman yang memiliki usia panjang dan kemampuan lebih pun tidak bisa dikatakan menguntungkan. Semuanya harus seimbang dan sesuai takaran masing-masing. Itu yang Ibu pelajari sampai hari ini.” Jawab Jaejoong. Wajahnya tetap cantik seperti ketika berusia 20 tahunan walaupun kini usianya sudah 180 tahun.

“Apakah Ibu menyesal menjadi siluman?”

Jaejoong menatap lekat putrinya yang sangat mirip Yunho itu –semua anaknya mirip Yunho. Tersenyum dan mengusap ramput keperakan Hyeri lembut. “Mengenal ayahmu yang menghormati dan mencintai ibu dengan tulus, memiliki anak-anak cerdas seperti kalian kenapa harus menyesal?”

Hyeri tersenyum, “Aku bangga memiliki Ibu sebagai ibuku.” Ucapnya sambil memeluk Jaejoong erat.

Jaejoong sendiri ikut tersenyum terlebih ketika melihat suaminya –Yunho sedang memarahi kedua putra mereka. Jaejoong tidak menyesali hidupnya. Entah sebagai manusia ataupun siluman baginya sama saja. Yang terpenting bagaimana ia memaknai dan menjalani hidup itu sendiri agar bisa bermanfaat bukan hanya bagi dirinya sendiri tetapi juga bagi keluarga dan sekitarnya.

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

Tidak tahu bagaimana hasilnya, epep iseng disela kegiatan yang mencekik badan. Semoga bisa sedikit menghibur. Terima kasih sudah membaca.

Tetap jaga kesehatan😀

❤❤❤

 

Tuesday, March 01, 2016

9:38:28 AM

NaraYuuki

Pembalasan Bidadari Hitam XV

Tittle                : Pembalasan Bidadari Hitam XV

Writer               : NaraYuuki

Genre               : Romance/ Family/ Friendship

Rate                 : -M

Cast                 : All member DBSK and others (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan). Seiring bertambahnya Chap castnya pun akan disesuaikan.

Disclaimer:      : They are not mine but this story, Jung Hyunno, Jin Hyeri  & OOC yang lain are mine, NaraYuuki

Warning           : This is YunJae Fan Fiction (Boys Love), M-Preg. Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut. Paragraf/ dialog yang penulisannya menggunakan Blod, Italic ataupun under line berarti itu adalah kejadian dimasa lampau (flash back) TANPA EDIT.

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

PASTIKAN BACA WARNINGNYA DULU

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

Jung Hyunno Pembalasan Bidadari Hitam NaraYuuki

Tiba-tiba saja Yunho menyodorkan sebuah golden ticket pada Jaejoong. Ibu dari Hyunno itu menatap Yunho dan tiket itu bergantian dengan wajah bingung. Ada gurat ingin tahu dan penasaran yang tergambar jelas pada wajah menawannya membuat Yunho tidak tahan untuk tidak mencuri ciuman darinya.

“Kadang kau terlihat lebih polos daripada Hyunno.” Komentar Yunho. “Ah, anakku itu sudah lama kehilangan kepolosannya karena dendam, bahkan ia masih sedikit menyimpan dendam padaku.” Keluhnya.

“Tiket apa ini?” tanya Jaejoong sambil menunjuk tiket yang berada di atas meja.

Yunho meraih cangkir kopinya, meminumnya dengan gaya khasnya sebelum menjawab pertanyaan Jaejoong. “Ada sebuah retoran bintang lima yang list pengunjungnya sampai enam bulan. Itu adalah tiket untuk makan malam ditempat itu.” Jawab Yunho. “Susah payah aku mendapatkannya jadi jangan coba-coba menolak ajakanku!”

Jaejoong mencibir Yunho. “Kau pasti menggunakan koneksi yang kau punya untuk mendapatkan tiket itu, kan?” tebak Jaejoong.

“Tentu saja. Bukan hanya koneksi, aku juga harus merogoh dompetku cukup dalam untuk mendapatkan tiket itu secepatnya.” Ucap Yunho.

“Kenapa tidak pergi ke restoran biasa saja? Atau restoran bintang lima lain jika kau memang suka embel-embel bintang lima dalam setiap kesempatan?” tanya Jaejoong.

“Bagaimana kalau aku bilang aku ingin melamarmu direstoran itu sehingga aku rela melakukan sedikit kepayahan untuk mendapatkan tiketnya?” tanya Yunho sambil tersenyum.

Jaejoong terdiam. Jantungnya berdebar tidak nyaman ketika Yunho mulai membahas hal yang menjurus pada pernikahan. “Apa jadinya kalau kau menikah denganku? Kita sama-sama namja.”

“Kau sudah melahirkan anakku, Jae.”

“Bukan berarti kita harus menikah, kan?”

“Kau ingin kita hidup tanpa ada ikatan pernikahan? Bagaimana dengan Hyunno? Dia berhak menjadi ahli warisku, Jae.” Ucap Yunho. “Aku bisa saja diam-diam mendaftarkan pernikahan kita dikantor catatan sipil tetapi aku tidak mau melakukannya. Aku ingin hatimu menerimaku terlebih dahulu, meskipun untuk itu aku harus menunggu seumur hidup, akan ku lakukan.”

❤❤❤

Tengah malam Hyunno terbangun dari tidurnya. Ia berjalan perlahan menuju balkon, membuka jendelanya dan keluar. Hyunno membiarkan angin malam yang dingin menampar-nampar dan memukuli sekujur tubuhnya. Sambil memegang botol air mineral matanya menatap lampu-lampu dari bangunan disekitar apartemennya yang masih menjala. Bahkan jalanan di bawah sana nampak masih ramai. Hyunno membuka tutup botol air mineralnya, menegak isinya hingga habis lantas meremasnya hingga peyot sebelum akhirnya ia lempar ke sudut balkon dekat pot bunga yang memang sudah berada disana sejak ia pertama datang.

Hyunno tanpak sedang memikirkan sesuatu. Entah itu soal kuliahnya, pekerjaannya, ibunya, ayah biologisnya, dendamnya, bisa juga tentang gadis yang kini terlelap di atas tempat tidurnya. Hyunno berani bertaruh, andaikan ibunya tahu apa yang sudah dilakukannya ibunya akan menangis dan bersedih untuknya. Andaikan ayahnya –Jung Yunho tahu apa yang sudah diperbuatnya mungkin ayahnya akan sangat kecewa padanya. Tetapi bagaimanapun juga Hyunno sudah melakukannya. Ia melakukannya dengan sadar. Ada sedikit penyesalan yang perlahan menyelimuti hatinya.

Andaikan bukan dengan Hyeri…

Andaikan Hyeri bukan anak orang itu…

Andaikan tidak ada motif dendam sebagai landasan hubungan mereka…

Hyunno menutup kedua kelopak mata musangnya yang ia warisi dari Yunho. Cukup lama ia melakukannya hingga akhirnya terbuka kembali ketika sepasang lengan itu mendekap tubuhnya dari belakang.

“Kau bisa sakit…”

Hyunno tidak menyahut. Ada sebuah perasaan aneh yang tiba-tiba muncul dan mengganggunya.

“Apa kau bermimpi buruk?”

“Aku membangunkanmu?” tanya Hyunno balik.

“Tidak. Aku terbangun karena kau tidak ada disampingku.” Jawab Hyeri. Tubuh gadis manis itu hanya dililit asal dengan selimut, rambutnya yang agak kusut dan berantakan ia biarkan tergerai begitu saja menutupi pundaknya yang telanjang.

“Kembalilah tidur.” Ucap Hyunno.

“Tidak bila kau tidak tidur juga.”

“Aku akan tidur, secepatnya. Sekarang tidurlah dulu! Bukankah kau ada kuliah pagi?” Hyunno mengusap lengan yang melilit tubuhnya itu perlahan.

“Bolos sepertinya ide yang bagus.”

“Tidak akan ku biarkan! Aku akan membencimu bila kau melakukannya.”

Hyeri merengut kesal, melepas pelukannya pada Hyunno. Menghentakkan kaki telanjangnya sebelum berjalan kembali menuju tempat tidur.

Hyunno tersenyum melihatnya, “Baiklah… aku akan menemanimu tidur.” Ucapnya pada akhirnya.

Diusinya yang baru beberapa hari lalu genap 17 tahun, Hyunno tidak pernah menyangka ia akan terlibat hubungan sebegitu jauhnya dengan seorang perempuan terlebih perempuan yang tidak –belum dicintainya. Jikalau bukan demi melancarkan aksi balas dendamnya, Hyunno tidak akan pernah menanggapi Hyeri, sama sekali tidak. Tetapi… menyesal sekarang pun sudah sangat terlambat. Hyunno akan malu memperlihatkan wajahnya pada orang tuanya andaikan mereka mengetahui apa yang sudah ia lakukan.

❤❤❤

“Ini sedikit ironis….” Ucap Yihan. Ayah Jin Hyeri itu meneguk kopi hangatnya dengan angkuh. “Tentu saja soal anak-anak kita, Yunho.”

Yunho menyenderkan punggungnya pada punggung kursi kerjanya. Ia tidak menyangka orang yang paling tidak ingin ditemuinya justru mendatanginya menjelang waktu makan siang seperti sekarang. Padahal Yunho sudah berjanji akan makan bersama Jaejoong hari ini.

“Apa kau tidak merasa bahwa anak-anak kita terlalu dekat?” tanya Yihan.

Yunho menaikkan alisnya, sama sekali tidak berminat pada topik yang sedang dibahas oleh seterunya –terselubung itu. Dengan malas Yunho menarik laci meja kerjanya, mengeluarkan bungkus rokoh dan korek api untuk diletakkan di atas meja. Yunho tahu bahwa Yihan adalah perokok berat. “Aku tidak mengerti maksudmu dengan anak-anak kita terlalu dekat, Yihan. Aku percaya pada anakku. Hyunno sudah cukup dewasa untuk membedakan mana yang salah mana yang benar, sudah cukup bijaksana untuk mengambil sebuah keputusan penting dalam hidupnya. Aku tidak akan mengekang anakku. Ia boleh bergaul dengan siapa saja walaupun sejujurnya aku kurang begitu suka ketika tahu ia bergaul dengan anakmu.” Ucapnya tenang. “Kenapa sepertinya kau begitu ketakutan dengan pertemanan yang anak-anak kita jalin? Mereka masih remaja polos, jangan terlalu memikirkannya.”

Yihan mengambil sebatang rokok kemudian menyulutnya. Menghisapnya dalam-dalam sebelum mengepulkan asapnya keudara, memenuhi ruang kerja Yunho yang berAC. “Kau yang sudah tahu bahwa aku mempunyai anak gadis tentu akan berpikiran berbeda seandainya kau baru tahu bahwa aku memiliki anak laki-laki dari orang yang sudah lama dianggap mati oleh yang lain!”

Senyum mengejek tercetak pada wajah tampan Yunho. Ia tahu kini kemana arah pembicaraan Yihan. “Tidak pernah… aku maupun keluargaku mengumumkan kematian Jaejoong. Kalau itu yang kau permasalahkan sekarang. Bukankah yang menyimpulkan kematiannya adalah kau dan mendiang ayahmu sendiri?” tanyanya balik.

Yihan melempar tatapan tajam pada Yunho.

“Bisakah kita bahas hal ini lain kali? Aku ada janji dengan orang penting sekarang.”

Yihan berdiri dari duduknya, menghisap sekali lagi puntung rokoknya sebelum membuangnya ke lantai dan menginjaknya hingga hancur. “Kalau kau memanfaatkan putramu untuk mendekati anakku, aku tidak akan segan untuk…”

“Dengar! Harusnya aku yang mengatakan hal itu padamu.” Potong Yunho. “Karena bagaimanapun juga orang bodoh pun dapat melihatnya bahwa selama ini yang berusaha mendekat adalah anakmu.” Ucap Yunho sambil tersenyum mengejek.

Yihan menahan kekesalan dengan cara mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat.

“Aku tidak bisa mengantarmu keluar. Kau tahu pintu keluarnya bukan?”

❤❤❤

“Kenapa memanggilku untuk hal tidak penting begini? Aku sedang ujian UTS ketika menerima telpon dari Changmin ahjushi agar aku segera datang kemari!” keluh Hyunno. Sedikit kelas juga menghadapi ulah orang yang berjasa atas kelahirannya itu.

“Tetapi kau berhasil menyelesaikannya dengan baik, bukan? Aku sudah menelpon wali kelasmu tadi, ia bilang hasil nilaimu sempurna.” Ucap Yunho sambil tersenyum tanpa dosa. “Kita jarang makan siang bertiga. Tidak ada salahnya kita melakukannya sekarang.

Umma….”

Jaejoong yang sedang mengeluarkan makanan dari keranjang bekalnya tidak berkomentar dan memilih menata makanan yang susah payah ia masak.

“Aish!” kesal Hyunno.

“Itu sup kimchi kesukaanku?” tanya Yunho. Matanya berkilat senang melihat Jaejoong memasakan menu kesukaannya.

“Aku masak untuk kita semua.” Ucap Jaejoong. “Hyunno, tadi pagi Hyeri menelpon Umma. Ia ingin berkunjung dan minta diajari memasak makanan kesukaanmu. Apa hubungan kalian mengalami peningkatan?”

Hyunno diam saja. Menatap wajah sang ibu sebelum tersenyum. “Aku tetap membatasi diriku, Umma.” Jawabnya. “Kenapa orang-orang melihat kita sambil berbisik-bisik seperti itu?” tanya Hyunno yang berusaha mengalihkan pembicaraa dari topik seputar hubungannya dengan Hyeri.

“Bulan lalu tua Bangka Woo Sung –kakekmu mengatakan bila dia menunjukmu sebagai penerusnya kelak jika ia sudah pensiun.” Jawab Yunho yang sibuk mangambil sup kimchi, ia sudah tidak sabar mencicipi makanan kesukaannya yang dimasak oleh Jaejoong. “Tentu saja semua orang yang belum mengenalmu akan merasa penasaran pada sosokmu. Jung tua itu jarang memuji orang lain bahkan anak-anaknya sendiri tetapi ia selalu memujimu disetiap kesempatan.

Kajja makan!” perintah Jaejoong pada Hyunno.

“Udang mentega buatan Umma, sudah lama sekali aku tidak memakannya.” Hyunno tersenyum bahagia. Tanpa sungkan mengambil udang mentega dan memakannya dengan lahap.

❤❤❤

Mata itu nanar memandang pria yang sangat disayanginya, dihormatinya dan dicintainya dengan seluruh hidupnya. “Appa tidak bisa melakukan hal itu padaku!”

“”Tidak ada pilihan lain. Kalau kau terus berhubungan dengan anak Jung Yunho itu maka Appa akan mengirimmu ke luar negeri secepatnya!” ancam Yihan ketika putrinya itu baru bangun tidur dari tidur sorenya.

Appa egois bila melakukan hal itu padaku! Hyunno tidak pernah menanyakan padaku soal Appa dan bisnis Appa. Tidak seperti dugaan Appa selama ini. Hyunno menghormatiku walaupun aku ini anak dari orang yang sudah jahat pada keluarganya!”

Plak!

Hyeri tergagap ketika tangan ayahnya mendarat diatas permukaan pipinya. Air mata mengalir dari sepasang matanya tanpa dikomandoi.

“Sayang… Appa….”

Hyeri menatap ayahnya tidak percaya. Orang yang dulu menimangnya dengan sayang kini melukai dirinya. “Aku benci Appa….” Ucapnya sambil berlari meninggalkan Yihan yang masih syock dengan apa yang sudah ia perbuat terhadap putri tunggalnya sendiri.

❤❤❤

Hyunno hanya bisa memeluknya, erat. Hyunno sudah menduga hal seperti ini akan terjadi tetapi tidak secepat ini. Hyeri datang sambil menangis, pipinya sedikit lebam. Gadis manis itu bahkan datang padanya tanpa mengenakan alas kaki, hanya sebuah tanktop dan celana sebatas paha yang ia kenakan.

“Kalau kau tidak bisa pulang, tinggallah disini bersamaku.” Ucap Hyunno dengan suara pelan. “Sekarang berhentilah menangis! Mari obati lebammu dulu agar tidak meninggalkan bekas nantinya.”

Semua sudah terlanjur sekarang. Hyunno tidak bisa mundur lagi. Ia harus terus maju walaupun untuk hal itu ia harus menjadi orang jahat.

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

Thursday, March 10, 2016

8:53:01 AM

NaraYuuki