Pembalasan Bidadari Hitam XVII

Tittle                : Pembalasan Bidadari Hitam XVII

Writer               : NaraYuuki

Genre               : Romance/ Family/ Friendship

Rate                 : -M

Cast                 : All member DBSK and others (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan). Seiring bertambahnya Chap castnya pun akan disesuaikan.

Disclaimer:      : They are not mine but this story, Jung Hyunno, Jin Hyeri  & OOC yang lain are mine, NaraYuuki

Warning           : This is YunJae Fan Fiction (Boys Love), M-Preg. Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut. Paragraf/ dialog yang penulisannya menggunakan Blod, Italic ataupun under line berarti itu adalah kejadian dimasa lampau (flash back) TANPA EDIT.

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

PASTIKAN BACA WARNINGNYA DULU

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

Cara memberi pelajaran Jung Yunho dan anak ingusannya yang bernama Hyunno itu hanya bisa dilakukan dengan satu cara. Melukai Jaejoong.”

Cara memberi pelajaran Jung Yunho dan anak ingusannya yang bernama Hyunno itu hanya bisa dilakukan dengan satu cara. Melukai Jaejoong.”

“Makan malam?” tanya Jaejoong.

“Ya. Kau boleh menentukan tempat dan waktunya.” Ucap Yunho sambil mendorong troli berisi bahan makanan dan keperluan rumah tangga lainnya. Hari ini Jaejoong lagi-lagi menelponnya, mengajaknya berbelanja untuk kebutuhan putra mereka. Tentu saja Yunho langsung mengiyakan begitu saja tanpa memedulikan situasi padahal sebelumnya saudara kembar Jung Jessica itu sedang memimpin rapat pemegang saham. Walhasil rapat itu ditunda untuk sementara waktu sampai urusan Yunho selesai. Egois memang tetapi Yunho tidak peduli. Ia bahkan rela didepak dari perusahaan asal bisa menghabiskan banyak waktu bersama Jaejoong.

“Hm….” Jaejoong bergumam. Diambilnya beberapa buah sabun mandi yang biasa Hyunno gunakan dari etalase dan memasukkannya ke dalam troli.

“Tetapi jangan mendadak memberitahuku seperti hari ini. Karena ada beberapa hal yang harus aku diskusikan dengan Changmin.” Ucap Yunho.

Jaejoong melirik Yunho tanpa berkomentar apa-apa, memikirkan ajakan ayah biologis anaknya itu. Sambil terus fokus menatap deretan etalase, Jaejoong bergumam. “Ada sebuah rumah makan kecil yang ingin ku datangi.”

“Kalau begitu mari kesana!” ajak Yunho.

“Tetapi aku terlalu pengecut untuk mendatanginya.” Tangan Jaejoong terjulur untuk mengambil sebotol sampo ukuran besar. “Waktu kecil aku biasa makan disana bersama Appa sepulang sekolah.”

Yunho diam. Tidak tahu harus berkomentar apa. Yunho tahu betul seperti apa hubungan Jaejoong dan ayahnya. Yunho memahami perasaan sedih dan kehilangan itu masih menggelayuti Jaejoong. Bagaimanapun juga Siwon –ayah Jaejoong adalah sosok yang paling berpengaruh dalam hidup Jaejoong sampai sekarang ini.

“Akan ku kirim alamatnya nanti.” Janji Jaejoong pada akhirnya.

❤❤❤

Mata sayu itu menatap lekat-lekat wajah dalam foto yang ia pegang. Ada perasaan yang tidak bisa ia jelaskan ketika memandang mata bak mutiara hitam itu, bibir yang tersenyum dengan bahagia dan binar ceria itu membuatnya marah dan kesal namun matanya enggan memalingkan pandangan dari sosok indah dalam foto itu. Jaejoong.

“Maafkan aku… walaupun pernah sekali gagal melenyapkanmu dulu tetapi perasaanku tidak berubah sama sekali sedari pertama kita bertemu. Aku mengagumimu, sungguh…. Tetapi kalau kau tidak ada Yunho akan hancur. Sialnya aku menginginkan kehancuran Yunho. Satu-satunya cara adalah dengan melenyapkanmu. Maafkan aku… kau tidak salah apa-apa tetapi inilah hidup dan segala kekejiannya.” Gumamnya sembari meremas foto ditangannya dan melemparnya kedalam tempat sampah. “Bagaimana?”

“Sesuai dugaan anda, target kita diam-diam diawasi oleh orang-orang Jung Yunho. Setidaknya ada 3-5 orang yang diam-diam mengikutinya setiap kali dia keluar rumah. Belum lagi keberadaan Jung Yunho sendiri yang semakin sering berada berada disekitarnya.”

“Cari moment yang tepat untuk eksekusi. Ingat! Jangan sampai apa yang kita lakukan tersendus si Jung brengsek itu! Pembalasan yang ia lakukan bila ia sampai tahu rencana kita bisa dipastikan jauh lebih menyakitkan dan keji daripada apa yang akan kita lakukan. Yang paling penting, jangan libatkan putriku atau nyawamu taruhannya!”

❤❤❤

Prang!

Gelas kosong yang sedang ia cuci tiba-tiba meluncur jatuh menghantam lantai. Serpihannya berserakan disekitar kakinya yang telanjang.

“Apa yang terjadi?” tanya Hyunno yang langsung keluar dari kamar mandi. Niatnya untuk mandi batal sudah begitu mendengar suara benda jatuh.

Molla… mungkin tanganku terlalu licin sehingga gelasnya jatuh ketika aku hendak meletakkannya di rak.” Ucap Hyeri.

“Jangan bergerak dari situ! Akan ku sapu pecahannya!”

“Aku tidak apa-apa.”

“Jangan bergerak kataku!” perintah Hyunno. “Serpihannya bisa melukai telapak kakimu!” sedikit buru-buru Hyunno mengambil sapu untuk membersihkan serpihan pecahan gelas.

Melihat kepanikan yang terpancar jelas dari wajah Hyunno membuat Hyeri mengulum senyum bahagia. Gadis itu bahagia mendapat perhatian sebesar itu dari orang yang ia cintai.

“Sudah! Duduk saja! Jangan mencuci lagi!” perintah Hyunno usai selesai menyapu serpihan gelas. Ditariknya Hyeri menuju meja makan, menarik salah satu kursinya dan mendudukkan Hyeri disana. “Biarkan ahjumma yang dikirim Changmin ahjushi yang mencucinya. Kau cukup diam dan melihat saja!”

“Tapi aku ingin melakukannya…”

Hyunno menghembuskan napas perlahan, rasanya seperti menjaga anak TK saja, ia dan Hyeri sama-sama anak tunggal tetapi cara berpikir mereka sangat berbeda, Hyunno terlalu dewasa untuk usianya sementara Hyeri terlalu kekanak-kanakan. “Pergilah belanja. Ku rasa kau butuh beberapa potong pakaian untuk pergi kuliah.” Hyunno meletakkan credit card berwarna gold yang diambilnya dari saku celananya.

Hyeri menggelengkan kepalanya pelan. “Aku tidak mau merepotkanmu.”

“Kalau kau tidak menurutiku lebih baik kau pulang saja!” ucap Hyunno ketus. “Kita sudah sepakat bukan? Dengan hubungan kita yang sekarang kau tidak perlu sungkan padaku. Apa yang menjadi milikku adalah milikmu juga.”

Hyeri tersenyum mendengar ucapan Hyunno. Rasanya seperti dihujani ribuan kelopak bunga, Hyeri merasa sangat tersanjung.

“Pergilah belanja apapun yang kau inginkan.” Hyunno menyerahkan kunci mobilnya pada Hyeri. “Hari ini aku ada urusan dengan Appa jadi supir Appa akan menjemputku.”

❤❤❤

“Akhir-akhir ini ada orang asing yang diam-diam menguntit ibumu.” Ucap Yunho begitu Hyunno masuk mobilnya.

“Mungkin fans Umma. Bukankah Ummaku sangat menawan?” komentar Hyunno.

“Fans tidak mungkin membawa senapan laras panjang, anakku!” Yunho melirik Hyunno yang kini memandangnya dengan raut wajah kaget. “Kedekatanmu dengan putri Jin Yihan sepertinya membuat ayah gadis itu sedikit gusar. Apalagi kau adalah anakku.”

“Akan ku bunuh orang yang menyakiti Ummaku!”

“Tidak ada seorang pun yang akan kau bunuh, Jung muda! Aku tidak akan membiarkan anakku menjadi orang keji sepertiku. Cukup aku saja yang berdosa. Kau akan membuat ibumu sedih bila sampai membunuh orang. Biar aku dan Changmin yang mengurus semuanya.”

“Kalau ada orang yang berniat menyakiti Umma, aku tidak akan tinggal diam Appa!”

Yunho tersenyum mendengar Hyunno memanggilnya Appa. “Tidak akan ada yang bisa menyakiti ibumu selama aku masih hidup.” Janjinya. “Dan soal Hyeri… aku sudah mendengar semuanya dari Changmin.”

“Dasar tukang adu!”

“Jangan salah sangka! Aku yang memaksa Changmin bicara dengan sedikit ancaman tentu saja.” Yunho berujar. “Apa kau mulai serius dengan gadis itu?”

“Maksud Appa?”

“Aku tahu kau sangat cerdas, Hyunno. Jangan berpura-pura tidak tahu kemana arah pembicaraan ini.”

Hyunno tersenyum. “Apa yang ingin Appa ketahui?” tanyanya.

“Kau menyukainya?”

“Menyukai dalam hal apa?” tanya Hyunno balik. “Appa harus spesifik ketika memberikan pertanyaan.” Tambahnya.

“Jangan mengguruiku, Nak!” Yunho memperingatkan. “Kalian tinggal satu atap hanya berdua!”

“Oh, itu….” Komentar Hyunno.

“Jelaskan!” perintah Yunho.

“Aku suka mengurusnya. Hyeri seperti seekor anak kucing yang butuh perhatian lebih dan simpatik.” Hyunno melontarkan pendapatnya. “Dia jadi hiburan tersendiri bagiku.” Tambahnya.

Yunho berdecak. Ada kekesalan –kekhawatiran dalam raut wajahnya. “Berjanjilah untuk tidak melampaui batas!” perintahnya. “Jangan sampai melakukan hal yang akan membuatmu menyesal dikemudian hari. Jangan melakukan kesalahan seperti yang ayahmu ini lakukan.”

“Hm…” Hyunno mengangguk perlahan. “Ku dengar Appa dan Umma akan dinner akhir pekan nanti.”

Yunho menarik senyum simpul, “Yah, pada akhirnya perlahan-lahan ibumu mau membuka hatinya.”

“Jangan sia-siakan kesempatan yang sudah Umma berikan.”

“Aku akan melamarnya.”

“Aku tidak terkejut mendengar rencanamu, Appa.” Komentar Hyunno. “Umma suka bunga lili putih. Bawakan buket bunga itu untuknya. Ku jamin Umma akan tersentuh.”

“Hei Jung muda! Untuk urusan seperti itu aku jelas lebih hebat darimu.”

Hyunno mendengus kesal.

“Sudah sarapan?”

“Tidak sempat.” Jawab Hyunno.

“Mau mampir ke rumah ibumu untuk mengemis sesuap nasi?”

“Aku tidak keberatan Appa.”

❤❤❤

Hyeri berjalan mengendap-endap mengikuti ayahnya yang sedang berjalan bersama beberapa orang yang tidak dikenalnya. Barusan ketika baru keluar dari salah satu stand pakaian yang ada di pusat perbelanjaan Hyeri melihat ayahnya lewat sehingga gadis itu memutuskan untuk mengikutinya. Hyeri berharap ayahnya tidak menyadari keberadaannya agar dirinya tidak diseret pulang.

“Cara memberi pelajaran Jung Yunho dan anak ingusannya yang bernama Hyunno itu hanya bisa dilakukan dengan satu cara. Melukai Jaejoong.”

Seketika Hyeri menghentikan langkah kakinya begitu mendengar apa yang ayahnya katakan pada orang-orang yang bersamanya. Jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya. Matanya terasa panas. Melukai Jaejoong? Orang yang sangat disayangi oleh Hyunno? Orang yang sangat baik dan perhatian pada dirinya? Tiba-tiba Hyeri menangis dan terisak.

Appa, jangan lakukan hal yang bisa membuatku kehilangan Hyunno.” Jeritnya dalam hati.

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

Tuesday, June 21, 2016

8:00:53 PM

NaraYuuki

Pembalasan Bidadari Hitam XVI

Tittle                : Pembalasan Bidadari Hitam XVI

Writer               : NaraYuuki

Genre               : Romance/ Family/ Friendship

Rate                 : -M

Cast                 : All member DBSK and others (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan). Seiring bertambahnya Chap castnya pun akan disesuaikan.

Disclaimer:      : They are not mine but this story, Jung Hyunno, Jin Hyeri  & OOC yang lain are mine, NaraYuuki

Warning           : This is YunJae Fan Fiction (Boys Love), M-Preg. Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut. Paragraf/ dialog yang penulisannya menggunakan Blod, Italic ataupun under line berarti itu adalah kejadian dimasa lampau (flash back) TANPA EDIT.

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

PASTIKAN BACA WARNINGNYA DULU

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

Jaejoong yang merasa Yunho mulai bicara ngelantur tanpa segan menginjak kaki Yunho dan berjalan mendahuli ayah Hyunno yang sedang mengaduh kesakitan itu.

Jaejoong yang merasa Yunho mulai bicara ngelantur tanpa segan menginjak kaki Yunho dan berjalan mendahuli ayah Hyunno yang sedang mengaduh kesakitan itu.

“Gadis itu minggat dari rumah dan Hyunno menampungnya?” tanya Yunho pada Changmin yang baru saja memberitahunya perihal yang terjadi pada Hyeri dan ayahnya –Yihan dan bagaimana Hyunno dengan suka rela menampung Hyeri di apartement pemberian kakeknya –Jung Woo Sung.

“Soal ini sebaiknya jangan sampai Jaejoong hyung tahu dulu, Hyung.” Pesan Changmin. “Aku tidak tahu apa yang Hyunno rencanakan, ini diluar pembicaraan yang pernah kami lakukan dulu mengenai Hyunno yang akan mendekati Hyeri untuk menuntut balas pada Jin Yihan. Tetapi sepertinya Hyunno mulai kehilangan arah. Bisa saja keponakanku itu jatuh hati pada Hyeri.”

Yunho memijit pelipisnya yang berkedut sakit. Menjadi seorang ayah tidaklah mudah, Yunho baru tahu hal itu. Anaknya hanya –baru satu tetapi sudah membuat ulah seperti ini. “Dengar! Rahasiakan ini dari tua Bangka Jung dan Jessica. Kapan mereka pulang?”

“Entahlah, Hyung. Ku dengar Appa mulai dipusingkan oleh Jessica Nunna gara-gara ia mulai berkencan dengan salah seorang pengusaha berumur di Hongkong.” Jawab Changmin.

“Apa kau tahu kabar mengenai Yoochun dan Junsu? Mereka bagai ditelan bumi.”

“Mereka sibuk dengan pabrik pengolahan ikan yang ada di Busan. Terakhir ku dengar mereka memenangkan tender sebagai pemasok produk yang akan diekspor ke Jepang dan Negara asia Barat lainnya.”

Yunho menganggukan kepalanya perlahan.

Hyung… aku mendapat informasi dari orang yang bisa dipercaya bahwa Jin Yihan mulai mencari orang yang mau bekerja sebagai pembunuh bayaran. Tetapi aku belum tahu siapa yang diincarnya.”

Yunho menatap serius wajah Changmin yang perlahan mengeruh. “Kau tahu siapa? Tentu saja Hyunno! Si brengsek itu mengincar anakku! Bedebah sialan!” umpat Yunho. “Dengar! Perintahkan orang-orang kita untuk 24 jam berada didekat Hyunno! Jika ada orang mencurigakan mendekatinya, lakukan tindakan yang diperlukan tetapi jangan sampai membunuhnya!”

“Aku sudah melakukannya tanpa Hyung minta karena aku tahu resiko yang dihadapi Hyunno begitu terjun dalam dunia orang dewasa yang penuh kebusukkan ini.” Ucap Changmin. “Aku takut bila yang menjadi incarannya adalah Jaejoong hyung mengingat saat ini Yoochun dan Junsu sedang tidak berada didekatnya.”

“Jauh-jauh hari aku sudah memerintahkan orang-orangku untuk mengawasi Jaejoong tanpa merusak kenyamanannya.” Yunho menatap Changmin. “Dengar! Hyunno lebih percaya padamu daripada aku karena itu kau harus menasihatinya agar jangan sampai terlibat terlalu jauh dengan anak si Jin itu! Aku tidak mau dia menyesal nantinya.”

❤❤❤

Malam itu Hyunno membiarkan gadis manis itu terlelap di atas pangkuannya sambil memeluk perutnya erat. Hyunno sedang memikirkan sesuatu, mata bulat indahnya yang terbingkai kelopak mata setajam dan serupa milik Yunho itu menatap jejak air mata yang membekas diatas permukaan pipi Hyeri. Hyunno menyibakkan rambut kusut gadis itu, mengamati wajah damainya dalam keheningan yang aneh.

Membuat Hyeri bergantung padanya merupakan cara terbaik untuk mengikat gadis itu agar berpihak padanya. Hyunno mulai menyusun siasat busuk lagi brengsek yang bisa ia gunakan sebagai senjata untuk membalas dendam pada Jin Yihan yang merupakan ayah Hyeri. Sejujurnya Hyunno tidak membenci Hyeri tetapi dengan sangat terpaksa ia harus memanfaatkan perasaan gadis itu yang terlampau mencintai dan percaya padanya.

Perlahan Hyunno mengusap-usap permukaan pipi Hyeri, membuat gadis manis itu membuka matanya yang sembab. Bibirnya merengut kesal karena tidurnya diganggu. “Tidur disofa akan membuat badanmu pegal esok hari. Pindahlah ke kamar tidur.”

“Tidak mau….” Jawab Hyeri dengan suara serak.

“Selesai mengecek laporan dan proposal yang dikirim oleh Changmin ahjushi melalui email tadi sore, aku akan langsung menyusulmu.” Ucap Hyunno.

“Janji?” tanya Hyeri.

Hyunno mengangguk pelan.

Hyeri bangun dari tidurnya, menyeret langkah kakinya menuju kamar Hyunno –yang entah sejak kapan menjadi kamarnya juga. Hyunno hanya mengawasinya dalam diam.

❤❤❤

“Aku senang kau menelponku pagi-pagi buta walaupun hanya untuk menyuruhku mengantarmu membeli ubi manis dipasar.” Ucap Yunho ketika berjalan mengekori Jaejoong yang sedang memilih-milih ubi manis, banyak penjual ubi berjajar tetapi ketika Jaejoong berbelanja ia akan memilih kualitas terbaik.

“Semalam aku bermimpi Hyunno minta kue yang terbuat dari ubi manis.” Jawab Jaejoong. Matanya fokus meneliti deretan ubi-ubi manis yang bejajar rapi disepanjang jalan yang dilaluinya.

Yunho diam saja. Toh dirinya cukup senang mengingat ini kali pertama Jaejoong menelpon dirinya terlebih dahulu walaupun hanya untuk dijadikan supir saja.

“Apa yang sedang terjadi sebenarnya?” tanya Jaejoong, kakinya melangkah berbelok ketika ia melihat seorang penjual ubi manis dengan ukuran sedang –tidak terlalu besar tidak pula terlalu kecil.

“Apa maksudmu?” tanya Yunho balik.

Jaejoong tersenyum pada si penjual, “Ahjumma, aku ingin membeli 3 kilo ubi manismu. Bolehkah aku memilihnya sendiri?”

“Tentu saja Agashi.” Jawab si penjual.

Jaejoong tidak berkomentar, jemarinya terjulur untuk mencubit pinggang Yunho yang berusaha menahan tawanya. Kemudian Jaejoong mulai memilih ubi yang hendak dibelinya. “Aku tahu kalau kau menyuruh orang untuk mengawasiku. Kenapa?”

Yunho mengambil sebuah ubi dan diperlihatkan pada Jaejoong.

“Itu kurang bagus. Rasanya kurang manis.” Komentar Jaejoong.

“Ada informasi bahwa Jin Yihan menyewa pembunuh bayaran. Aku hanya berjaga-jaga saja, bersikap waspada. Bukan hanya kau, aku pun menyuruh orang untuk mengawasi Hyunno. Aku tidak mau sesuatu hal buruk menimpa kalian berdua.”

“Kenapa? Bukankah semuanya sudah selesai? Apa kematian orang tuaku dan orang tuanya belum cukup?” tanya Jaejoong yang sibuk memasukkan ubi pilihannya ke dalam kantung plastik.

“Tidak sesederhana itu. Sama seperti Hyunno yang tidak terima pada apa yang terjadi dengan keluarga kalian dan ingin menuntut balas, Yihan pun mungkin saja berpikiran seperti itu. Terlebih sekarang putrinya sedang dekat dengan Hyunno.” Komentar Yunho. “Lagi pula kebencian dan dendam tidak mudah untuk dihapuskan meskipun mulut sudah mengatakan maaf tetapi hati belum tentu bisa memaafkan.”

Jaejoong melirik Yunho sekilas sebelum menyerahkan kantung plastik berisi ubi-ubi pilihannya untuk ditimbang oleh si penjual. “Akan banyak pihak yang terluka karena dendam.”

“Kau paling mengerti soal itu.” Yunho menampik tangan Jaejoong yang mengulurkan uang pada si penjual. “Biar aku saja.” Ucapnya sambil mengeluarkan dompet, mengambil uang untuk dibayarkan pada bibi penjual.

“Kau tidak harus melakukannya.” Jaejoong tersenyum pada si penjual sebelum berjalan pergi meninggalkan kiosnya.

“Sebuah keharusan dan kewajiban bila diperuntukkan untuk anakku dan kau.” Sahut Yunho. Matanya menatap garang pada ahjushi-ahjushi pengangkut barang yang mencuri-curi pandang pada Jaejoong. “Haruskah aku membungkusmu dengan plastik atau kardus agar orang-orang pasar ini tidak menatap lapar padamu?” ketusnya.

Jaejoong tidak menyahut, hanya melirik malas pada Yunho. “Aku butuh telur.”

“Kenapa tidak beli di supermarket saja?” tanya Yunho mulai tidak sabar.

“Walaupun aku berbelanja di supermarket, kau pasti akan bersikap seperi ini ketika ada orang yang menatapku.” Komentar Jaejoong santai.

“Aku tidak suka melihatnya!”

“Mereka punya mata, Jung Yunho! Jangan berlebihan!”

“Kalau begitu biarkan aku mencongkel mata mereka agar mereka tidak bisa menatapmu seperti itu! Awas saja kalau otak mereka membayangkan yang tidak-tidak!” geram Yunho, “Pria tua seperti mereka biasanya memiliki kadar kemesuman yang tinggi.”

“Kau pun mesum! Dan ingatlah bahwa kau sendiri pun sudah tua!”

“Aku masih cukup muda untuk memberikan adik pada Hyunno.” Gurau Yunho.

Jaejoong yang merasa Yunho mulai bicara ngelantur tanpa segan menginjak kaki Yunho dan berjalan mendahuli ayah Hyunno yang sedang mengaduh kesakitan itu.

❤❤❤

“Kau… semakin hari semakin mirip dengan ayahmu.” Komentar Yihan sambil meminum kopinya.

Hyunno yang siang itu sengaja mengajak Yihan bertemu disebuah rumah makan hanya tersenyum tipis sembari menyeruput jus pesanannya sambil memakan kue coklat. “Banyak yang bilang seperti itu, Ahjushi. Tetapi aku mengajak Ahjushi bertemu bukan karena ingin membicarakan hal itu. Mengenai Hyeri…” Hyunno memberikan jeda untuk melihat reaksi yang Yihan perlihatkan. Tersenyum puas ketika wajah sahabat –musuh ayahnya itu memasang wajah tegang. “Hyeri kemarin menemuiku sambil menangis, Ahjushi. Dia datang ke rumahku tanpa alas kaki ataupun baju hangat. Dia belum bercerita alasannya pergi dari rumah tetapi aku menduga mungkin Hyeri minggat karena bertengkar dengan Ahjushi.”

Yihan mengamati wajah tenang Hyunno –yang kelewat tenang untuk anak remaja seusianya. “Hyeri ke rumahmu? Dia menginap di rumahmu?” tanya Yihan.

“Bukan rumah yang dulu ku tinggali dengan ibuku, Ahjushi. Aku sudah pindah ke sebuah apartement pemberian kakekku.” Jawab Hyunno.

“Kau tinggal sendiri?”

“Sejak kemarin tidak lagi sendiri karena Hyeri tinggal bersamaku.”

Rahang Yihan mengeras. “Kalian tinggal berdua?”

“Tidak juga.” Jawab Hyunno. “Aku hanya menampung Hyeri untuk sementara sampai ia mau pulang lagi ke rumah. Aku sudah berusaha menasihatinya untuk pulang tapi dia tidak mau. Aku tidak tahu alasannya apa dan kenapa dia minggat dari rumah sehingga aku kesulitan menemukan alasan untuk membujuknya. Karena itu aku mengajak Ahjushi bertemu. Mungkin Ahjushi mau mengatakan padaku alasan Hyeri minggat dari rumah.”

“Aku melihat sosok berbahaya Yunho muda dalam dirimu, Nak.” Ucap Yihan tajam penuh penekanan. “Sejujurnya aku tidak suka anakku bergaul denganmu. Kami sedikit bertengkar hingga dia minggat dari rumah. Aku tidak menyangka dia justru datang menemuimu dan kalian tinggal bersama?”

Hyunno tersenyum ketika melihat wajah Yihan mulai memerah, amarah mulai menguasai pria dewasa itu. Hyunno senang bisa bermain-main dengannya. Memotong kue coklatnya dengan sendok kemudian memakannya dengan perlahan. Hyunno suka melihat ekspresi tegang yang musuhnya perlihatkan. “Hyeri gadis baik. Tidak mungkin aku tidak membantunya saat ia dalam kesulitan.”

“Berikan alamatmu! Aku akan menjemputnya hari ini juga!”

“Tidak sesederhana itu, Ahjushi. Kalau Ahjushi menjemputnya paksa tidak ada jaminan Hyeri tidak akan kabur lagi.” Ucap Hyunno. “Biarkan untuk sementara ia tinggal bersamaku, aku akan terus membujuknya untuk pulang.”

Yihan mendengus kesal.

“Maafkan aku, Ahjushi. Aku harus segera pergi. Ibuku hari ini ingin bertemu denganku. Permisi….” Sekali lagi Hyunno tersenyum, senyum mengejek sebelum meninggalkan Yihan yang masih memasang wajah masamnya.

❤❤❤

Hyunno sedikit terkejut ketika melihat Hyeri berada di ruang makan rumahnya –rumah yang ia tinggali bersama ibunya sebelum memutuskan pindah ke apartement. Changmin dan Yunho pun ada disana, tengah duduk manis sambil membicarakan Jessica ahjummanya. Hyunno tersenyum bahagia ketika melihat ibunya terlihat sehat dan bahagia. Sosok yang paling dicintainya itu sedang menyiapkan makanan.

“Kemarilah! Ibumu sudah menyiapkan kue untukmu.” Ucap Yunho.

Hyunno berjalan mendekati meja makan. “Kau kemari?” tanyanya pada Hyeri.

“Aku datang ketika Joongie umma sedang membuat kue dari ubi manis. Sekalian aku belajar memasak.” Jawab Hyeri.

❤❤❤

Yihan meletakkan sebuah amplop tebal di atas meja dengan sedikit gusar. “Apapun caranya, singkirkan orang itu! Lenyapkan dia dari muka bumi ini! Dan ingat, jangan sampai meninggalkan jejak!”

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

Wednesday, March 16, 2016

10:36:21 AM

Narayuuki

Sekuel Vengeance III (END)

Tittle                : Sekuel Vengeance III (END)

Writer               : NaraYuuki

Genre               : Romance? Familly? Friendship? A Little bit Angst?

Rate                 : T+

Cast                             : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Park Yoochun, Han Youngwoong & Jung Jessica

Disclaimer:      : They are not mine but this story, OOC Hyunno & Hyunbin are mine, NaraYuuki

Warning           : Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran. Tanpa Edit jadi mungkin sedikit amburadul ==” Penceritaan ngebut. Saran dan masukkan diterima. Tidak menerima Bash dan Flamer dalam bentuk apapun!

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

PASTIKAN BACA WARNINGNYA!

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

“Aku sedikit terkejut ketika sekertarisku mengatakan kau ingin bertemu denganku.” Ucap Yunho yang baru datang. Direktur muda itu segera mendudukkan dirinya di atas kursi di hadapan sosok cantik yang terlihat sedang kebingungan itu.

Jessica meraih gelas air esnya, meminumnya beberapa teguk sebelum menatap mata sahabatnya semasa SMA dulu. “Kau tidak mau memesan sesuatu?” tanyanya.

“Aku kurang suka makanan di kantin kantorku sendiri.” Ucap Yunho.

Jessica mengangguk paham. “Aku akan mengatakan sebuah rahasia besar padamu. Bisakah aku percaya padamu? Bisakah kau menjaga rahasia ini untukku?”

Wajah Yunho berubah menjadi serius. “Rahasia?”

Jessica menghela napas panjang untuk mengusir kegugupannya. Meraih gelas berisi air esnya dan meneguknya sekali lagi. “Kau harus berjanji untuk tetap merahasiakannya!”

“Kau kelihatan sedikit kacau…” ucap Yunho. “Mau ku pesankan air minum lagi?”

“Tidak. Terima kasih.” Tolak Jessica. “Ketika aku masih di Amerika dan bertemu dengan Jaejoongie… aku jatuh cinta padanya. Aku menyatakan perasaanku padanya. Pada saat itu Jaejoongie mengatakan hal yang membuatku sangat syock…” Jessica menelan ludahnya susah payah.

“Apa yang ia katakan padamu?” tanya Yunho, entah mengapa ia menjadi gugup. Perasaannya menjadi tidak nyaman.

“Ia mengatakan…”

❤❤❤

“Apa kau bisa menerima masa laluku? Dimalam kelulusanku aku tidur dengan temanku.”

“Itu… kalau hal seperti itu aku bisa menerimanya. Aku besar di Amerika, hal seperti itu wajar disini.” Ucap Jessica.

Jaejoong menatap Jessica lekat-lekat. “Temanku itu namja.”

Jessica bungkam.

“Temanku seorang namja. Namja yang begitu dicintai almarhum adik kembarku. Namja yang ingin ku benci tetapi aku tidak bisa membencinya karena adikku begitu mencintainya.”

Jessica tidak mengatakan apa-apa. Sibuk dengan pikirannya yang kusut dan buntu.

“Dari hubungan semalam itu aku melahirkan sepasang anak kembar.” Jaejoong tersenyum hangat. “Masihkah kau bisa menerima masa laluku yang seperti itu?”

Jessica menatap wajah yang sangat dikaguminya itu lekat-lekat. “Kenapa… kenapa kau tidak mengugurkannya?”

“Tidak. Manusia –bayi adalah mahluk yang suci. Mereka tidak bersalah. Akulah yang bersalah. Akan ku tanggung semua tanggung jawab yang memang harus ku pikul.” Ucap Jaejoong. “Kalau kau jijik padaku karena masa laluku maka akan ku terima itu. Kalau kau bisa menerima masa laluku dan tetap ingin bersamaku, maka aku akan mencoba menjalin hubungan yang serius denganmu.”

❤❤❤

Yunho diam seribu bahasa usai mendengarkan penjelasan Jessica.

“Aku bohong soal kematian orang tua Jaejoongie –kecuali kematian ayahnya yang memang terinfeksi virus usai memeriksa pasiennya itu benar. Ibunya terkena serangan jantung saat sedang membuat kue pesanan pelanggannya. Si kembar Hyunno dan Hyunbin… akta kelahiran mereka didaftarkan sebagai anak dari orang tua Jaejoongie, adik Jaejoongie. Mereka tidak tahu kenyataan ini dan biarlah seperti itu sampai mereka dewasa.” Ucap Jessica. Matanya lekat menatap wajah Yunho yang terlihat sangat keruh. “Teman yang tidur dimalam kelulusan Jaejoongie adalah kau… iya kan Yunho?”

“Ya….” Ucap Yunho tanpa menatap wajah Jessica. Pikirannya melayang kemana-mana.

“Sejujurnya aku tidak mempermasalahkan soal itu. Hanya saja melihatmu masih berusaha mendekati tunanganku membuatku sedikit was-was.”

Yunho menatap mata Jessica. Ada kesedihan dan kekhawatiran didalam bola mata coklat bening itu.

“Kemarin aku melihatmu mencium paksa tunanganku –walaupun ia berhasil membuat wajahmu memar seperti itu tetapi rasanya hatiku tetap tidak rela melihatnya. Kim Jaejoong adalah tunanganku. Sebulan lagi kami akan menikah. Demi persahabatan kita dimasa lalu aku mohon padamu untuk tidak mengusik hidup tunanganku lagi!”

“Sica aku….”

“Mari anggap kejadian kemarin tidak pernah terjadi.” Jessica tersenyum, bangkit dari duduknya. “Aku harus segera pergi mengurus undangan pernikahan kami. Aku masih ada janji dengan pihak percetakan. Lain kali aku akan mentlaktirmu makan siang. Sampai jumpa.”

Hati Yunho terasa sakit dan nyeri melihat senyum Jessica. Senyum yang terlihat ceria namun menyemat luka dan ketakutan.

❤❤❤

Dulu dengan Youngwoong, Yunho nyaris memiliki seorang anak jikalau adik kembar Jaejoong itu tidak memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Yunho sudah berniat bertanggung jawab meskipun ia sama sekali tidak menyukai Youngwoong. Lain halnya dengan Jaejoong. Sejak semula Yunho memberikan perasaan khusus pada Jaejoong sehingga ketika ia mengetahui kenyataan bahwa adik-adik Jaejoong yang bernama Kim Hyunno dan Kim Hyunbin adalah darah dagingnya sendiri Yunho merasa bingung. Bingung pada apa yang harus dilakukannya. Kenyataan bahwa Jaejoong akan menikahi Jessica sebulan lagi sudah nyaris mencekik leher Yunho, belum lagi perasaan bersalah yang menggrogoti hati Yunho dikarenakan membiarkan Jaejoong membesarkan anak-anaknya –anak mereka seorang diri sepeninggal orang tuanya. Yunho tidak bisa membiarkan Jaejoong menikahi Jessica namun ia sendiri tidak tahu harus berbuat apa untuk menggagalkan rencana pernikahan itu. Haruskah ia menculik Jaejoong dan membawanya kabur? Atau haruskah ia mengancam Jaejoong dan Jessica untuk membatalkan pesta pernikahan itu?

“Maafkan aku Sica… sepertinya aku tidak bisa membiarkan Jaejoongku menikah denganmu.” Gumam Yunho.

“Direktur…”

Yunho menatap wajah sekertarisnya. “Ada apa?” tanyanya.

“Rapat akan segera dimulai. Anda harus segera pergi ke ruang rapat sekarang juga.”

“Batalkan rapat hari ini! Ada sesuatu yang harus ku urus terlebih dahulu. Ini jauh lebih penting daripada rapat!”

“Tapi… ayah anda –Presdir?”

“Biar aku yang mengurus si tua itu. Dia akan senang ketika mendapatkan cucu –dua sekaligus.” Ucap Yunho yang langsung melesat pergi meninggalkan sekertarisnya yang kebingungan.

❤❤❤

Jessica tersenyum puas ketika melihat jas pengantin rancangannya sangat cocok dikenakan oleh Jaejoong, Jaejoongnya! Jessica tidak akan membiarkan siapapun mengusik kebahagiaannya menjelang pesta pernikahannya. Jaejoong adalah miliknya!

“Aku memang jenius!” Jessica memuji dirinya sendiri.

Jaejoong tersenyum, mengusap kepala Jessica lembut. “Sudah? Aku harus segera ke rumah sakit. Satu jam lagi aku harus masuk ruang operasi.” Ucapnya.

“Tentu saja belum! Aku masih harus menyiapkan sepatu untuk masing-masing jasmu Joongie ya.” Rengek Jessica manja. “Tapi karena aku adalah calon istri yang pengertian maka ku perbolehkan calon suamiku mengurus pasiennya dulu.”

Rencananya, ketika mereka mengikat janji suci pakaian yang akan mereka kenakan berwarna broken white, sedangkan untuk resepsi mereka akan mengenakan pakaian berwarna maroon dan hitam. Konsep pernikahan yang dipilih oleh Jessica adalah abad pertengahan sehingga Jessica mengerahkan segenap kemampuannya untuk membuat jas yang akan Jaejoong kenakan nanti selayaknya jas yang dipakai oleh para pangeran dan bangsawan pada abad pertengahan.

Jaejoong mencubit hidung Jesssica perlahan. “Kalau begitu aku langsung ke rumah sakit ya.”

Jessica mengangguk pelan, tidak lupa mencium pipi tunangannya mesra.

❤❤❤

“Bisakah kau berhenti menggangguku?” sentak Jaejoong ketika Yunho terus mengekorinya kemanapun ia melangkah. Tidak tahukah Yunho bahwa Jaejoong harus segera masuk ruang operasi? Ada pasien yang harus segera Jaejoong tangani.

“Aku harus bicara hal penting padamu, Jae!” ucap Yunho ngotot. Ditariknya tangan Jaejoong erat agar namja yang memiliki tempat istimewa dihatinya dulu sampai sekarang itu berhenti sejenak untuk bicara dengannya.

“Nyawa pasienku jauh lebih penting daripada apa yang ingin kau bicarakan padaku!” Jaejoong menatap garang Yunho. Tangannya yang satu melambai memanggil satpam yang kebetulan lewat didekat mereka.

“Ada yang bisa dibantu, Dok?” tanya sang satpam ramah.

“Orang ini terus menggangguku sejak tadi, tolong urus dia! Aku harus segera masuk ruang operasi.” Perintah Jaejoong yang tanpa menunggu jawaban si satpam segera berlari kecil menuju ruang operasi.

“Jae!” panggil Yunho. Yunho hendak mengejarnya namun sang satpam berbadan besar itu menghalangi langkah kakinya.

“Anda bisa menunggu dokter Kim selesai bila memang ingin bicara dengannya, Pak.” Ucap si satpam. “Hari ini dokter Kim sedang sibuk.”

Yunho menatap kesal si satpam, mengumpat kesal sebelum berjalan pergi –berlawanan dengan arah Jaejoong pergi sebelumnya.

❤❤❤

Di dalam mobil yang melaju memecah kemacetan kota Seoul siang itu, Yunho menangis dalam diamnya. Air mata brengsek itu mengalir begitu saja tanpa ia minta ketika bayangan tentang adik kembar Jaejoong –yang menurut Jessica adalah darah dagingnya sendiri. Yunho kesal, marah pada dirinya sendiri. Berkali-kali direktur muda itu memukul-mukul stir mobilnya sebagai pelampiasan.

Mengerem mendadak dikarenakan traffic light berwarna merah, Yunho melirik ke luar jendela kaca mobilnya. Mata setajam musangnya tertambat pada sebuah toko mainan. Tersenyum ketika melihat mobil-mobilan besar berwarna merah terang. Yunho jadi ingin membelinya untuk adik-adik Jaejoong –anaknya. Mungkin itu salah satu cara untuk mendekatkan dirinya dengan mereka. Tanpa pikir panjang Yunho segera membelokkan mobilnya memasuki halaman toko mainan itu.

❤❤❤

Pukul 5 sore Jaejoong pulang. Dokter muda itu dikejutkan dengan kehardiran Yunho di ruang bermain rumahnya sedang bermain mobil-mobilan dengan adik-adiknya. Menghela napas panjang agar dirinya tidak terpancing amarah karena melihat Yunho, Jaejoong lantas memasang senyum menawan ketika adik-adiknya berlari menghampiri dirinya.

Hyung!” seru si kembar bersamaan.

Jaejoong memeluk meraka satu per satu. “Sudah mandi?” tanyanya.

“Yunho hyung memandikan kami tadi.” Jawab Hyunbin, si polos yang lebih pendiam daripada kakak kembarnya.

Jaejoong melirik sekilas Yunho.

“Yunho hyung membawakan kami banyak mainan.” Ucap Hyunno.

“Mobil-mobilan!” seru Hyunbin.

“Robot-robotan!” kali ini Hyunno yang bicara.

“Sepeda untuk ke sekolah juga.”

“Benarkah?” tanya Jaejoong, “Kalian sudah mengucapkan terima kasih pada Yunho hyung?”

“Sudah!” jawab si kembar bersamaan.

“Kalau begitu Hyung mandi dulu ya, setelah itu kita makan bersama.” Ucap Jaejoong.

“Yunho hyung ikut makan dengan kita?” tanya Hyunno.

“Tentu saja.” Jaejoong menatap tajam Yunho. “Ada yang harus kami bicarakan.”

❤❤❤

Jaejoong diam saja ketika Yunho menyuapi adik-adiknya secara bergantian. Jaejoong masih belum tahu apa motif Yunho bersikap seperti itu. Jaejoong memang curiga pada Yunho tetapi ia tidak bisa menduga alasan dibalik tindakan Yunho.

“Kau cocok jadi baby sitter.” Celetuk Jaejoong. “Kau mau berhenti jadi direktur dan jadi baby sitter? Tanyanya terdengar tidak ramah.

“Berapa gaji yang kau tawarkan padaku?” tanya Yunho balik.

Jaejoong mendengus kesal. “Temui aku di halaman samping rumah! Kita perlu bicara!”

“Sejak tadi siang aku memang berniat mengajakmu bicara tetapi kau yang menolakku. Sekarang biakan aku menyelesaikan pekerjaanku dulu.” Ucap Yunho.

“Terserahmu saja.” Jaejoong beranjak dari meja makan. Ada perasaan kesal ketika melihat Yunho terlihat terlalu akrab dengan adik-adiknya.

❤❤❤

Jaejoong baru akan buka suara ketika Yunho mendahuluinya mengeluarkan kata-kata yang sedikit membuatnya terkejut.

“Jessica menemuiku.” Yunho mendudukkan dirinya di kursi yang berada di samping kursi yang sedang Jaejoong duduki.

Jaejoong tidak berkomentar. Menurutnya dua orang teman lama bertemu untuk membicarakan kenangan ketika mereka masih sama-sama sekolah dulu bukanlah hal yang aneh.

“Dia mengatakan hal yang tidak terduga.” Lanjut Yunho. “Hal yang membuatku ingin melakukan segala cara yang ku bisa untuk membatalkan pernikahan kalian.”

Jaejoong mendelik menatap Yunho.

“Aku tidak bisa membiarkan anak-anakku diasuh oleh orang lain, Jae.” Ucap Yunho kemudian, mendatangkan raut wajah terkejut Jaejoong. “Kalau kau memang ingin menikahi Jessica, lakukan! Aku akan mencoba merelakanmu menikahinya. Tetapi biarkan aku yang mengasuh anak-anak kita.”

“Apa yang sedang kau bicarakan?” tanya Jaejoong dengan raut wajah yang sukar diartikan.

“Hyunno dan Hyunbin adalah darah daging kita.” Yunho menatap mata indah berbingkai kaca mata itu lekat-lekat. “Jessica mendatangiku dan mengatakan semuanya. Mungkin dia ketakutan karena aku berusaha mendekatimu.”

Jaejoong terdiam. Tidak mampu membalas kata-kata yang Yunho ucapkan.

“Aku… bagaimanapun juga ingin bertanggung jawab atas hidup anak-anakku, Jae. Aku yang dimatamu brengsek ini pernah –masih sangat mendambamu menjadi bagian dalam hidupku walaupun aku tahu kau hanya menganggapku penjahat yang menyebabkan Youngwoong menderita.” Ucap Yunho. “Aku ingin menebusnya. Aku ingin kesempatan…”

“Kau tidak bisa….” Gumam Jaejoong. “Hyunno dan Hyunbin didaftarakan sebagai adik-adikku oleh orang tuaku. Mereka anak bungsu keluarga Kim. Jangan mengusik kebahagiaan kecil yang susah payah kami bangun!”

“Kau tidak mengerti, Jae….”

“Kau yang tidak mengerti!” bentak Jaejoong seraya berdiri dari duduknya. “Kau tidak tahu bagaimana rasanya menjadi gunjingan orang, bagaimana orang-orang menatapmu aneh! Coba bayangkan bila kau berada diposisiku! Seorang namja yang melahirkan anak!” mata indahnya berkabut.

Yunho ikut berdiri. Menatap penuh rasa bersalah dan iba pada Jaejoong. Yunho ingin mendekap sosok indah itu namun ia terlalu takut, takut pada kemarahan Jaejoong lebih dari ini.

“Dan kau bilang kau ingin mengasuh mereka?” Jaejoong tersenyum meremehkan, air mata mengalir dari sepasang mata indahnya.

“Jae….” Panggil Yunho dengan suara lembut.

“Kau pikir siapa kau bisa seenaknya seperti itu, hah?” pekiknya. “Aku tidak akan menyerahkan mereka padamu walupun kau menodongkan pistol padaku!” bentaknya lebih keras.

Tanpa memikirkan apa yang akan Jaejoong lakukan, Yunho serta merta mendekap tubuh bergetar itu. Bersama-sama dalam keheningan sebelum merosot dan terduduk di atas lantai yang dingin. Mengangis bersama dalam keheningan sehingga mereka tidak menyadari sosok Jessica yang sedari tadi menggigit bibir bawahnya guna menahan isakan yang meronta-ronta ingin keluar dari bibrinya.`

❤❤❤

Hari-hari berikutnya Yunho sering mengunjungi rumah Jaejoong bahkan menginap disana walaupun Jaejoong kerap kali mengusirnya. Yunho hanya ingin lebih dekat dengan adik-adik Jaejoong –yang ternyata adalah darah dagingnya sendiri− bukannya bermaksud untuk tidak memedulikan perasaan Jessica sebagai tunangan Jaejoong tetapi perasaannya sebagai seorang ayah yang ingin bertanggung jawab atas anak-anaknya telah membuat Yunho sedikit menutup mata pada kenyataan bahwa dua minggu lagi Jaejoong dan Jessica akan menikah.

“Tidak bisakah kau membatalkan pernikahan itu?” tanya Yunho ketika tengah malam ia menemani Jaejoong yang sedang memakan serealnya.

Jaejoong yang semula hendak menyendokkan sereal ke dalam mulutnya mengurungkan niatnya itu, menghela napas panjang kemudian menatap Yunho tajam menusuk namun penuh rasa iba, “Kau pikir pernikahan itu apa? Mainan? Atau drama picisan seperti yang sering ditonton oleh pengasuh si kembar, hm?” tanyanya.

Yunho meletakkan cangkir kopi yang tadinya ia minum. Semenjak sering mengunjungi rumah Jaejoong, ia tanpa sadar mulai menghentikan kebiasaan merokoknya ketika sedang frustasi. “Apa kau mencintai Jessica?” mata Yunho lekat-lekat melihat perubahan ekspresi Jaejoong. “Apa kau sedikit saja menyimpan perasaan cinta pada Jessica?” tanyanya lagi.

Jaejoong menyendokkan sereal ke dalam mulutnya, menguyahnya perlahan sebelum menjawab pertanyaan yang Yunho ajukan. “Apakah itu penting sekarang? Toh kami akan tetap menikah walaupun seandainya kami tidak saling mencintai. Cinta bisa datang seiring berjalannya waktu. Yang terpenting kami saling memahami kondisi masing-masing. Itu sudah cukup untukku.”

“Itu bukan pernikahan tetapi sebuah perjanjian.” Komentar Yunho. “Kau hanya akan menyiksa Jessica bila kalian tetap menikah.”

“Seolah kau tahu segalanya!” sanggah Jaejoong.

“Jessica gadis yang baik –kita berdua tahu hal itu− jangan menyakitinya dengan membuatnya merasa kau benar-benar mencintainya!”

“Aku menyayanginya…”

“Sayang dan cinta berbeda, Jae.” Potong Yunho, “Kau tahu itu dengan baik.”

Jaejoong tidak berkomentar, memilih menghabiskan serealnya.

“Kau terlalu keras kepala! Dan sialnya aku benar-benar tidak bisa membiarkanmu menikahi Jessica.”

“Terserahmu saja.” Ucap Jaejoong tak acuh sebelum meminum susu hangatnya hingga habis.

“Apa kau mencintaiku?”

“Uhuk!”

Yunho mengambil tisu –yang memang selalu tersedia diatas meja makan Jaejoong− untuk menyeka cipratan susu yang mengotori sekitar mulut Jaejoong. “Aku hanya bertanya…” ucapnya.

“Apa yang kau pikirkan?” tanya Jaejoong.

“Mungkin kalau kau pun mencintaiku sama seperi aku yang begitu menginginkanmu dalam banyak arti akan lebih mudah bagiku untuk membatalkan pernikahanmu dengan Jessica. Itu yang setidaknya ku pikirkan.”

Jaejoong terseyum bodoh. “Kau ingin ku kenalkan pada rekan kerjaku yang menangani bidang penyakit Jiwa?”

“Terima kasih. Aku lebih senang bila kau sendiri yang menanganiku.”

“Cih!”

“Mari hentikan pembicaraan ini. Ku rasa kau butuh istirahat. Ada lingkaran hitam dibawah matamu dan aku tidak menyukainya.” Ucap Yunho.

❤❤❤

Seminggu menjelang pernikahannya, Jaejoong mulai merasakan keraguan menggrogoti hati kecil dan nuraninya. Benarkah ini pilihannya? Benarkah ia sanggup menjalani pernikahan dengan Jessica? Jaejoong sangat menyayangi Jessica. Jessica gadis yang baik. Tetapi apakah itu cukup? Ketika mereka berciuman Jaejoong tidak merasakan apa-apa, tidak ada hasrat dan gairah lebih pada Jessica. Bagaimana bila dirinya tidak cukup pantas untuk membahagiakan Jessica? Bagaimana kalau akhirnya pernikahan mereka berakhir buruk? Jaejoong menghela napas panjang ketika pintu ruang kerjanya diketuk beberapa kali.

“Masuk!” sahutnya.

“Aku tahu kau sangat sibuk, tetapi aku ingin kau mencicipi hasil karya seniku!” dengan senyum cerianya Jessica berjalan sambil memamerkan rantang yang ia bawa pada Jaejoong.

“Kau memasak?” Jaejoong tidak bisa menyembunyikan senyumannya. Jessica adalah salah satu perempuan yang anti dengan urusan dapur –setahunya.

“Jangan meremehkanku! Sudah setengah tahun ini aku ikut les memasak demi menjadi istri yang baik.” Sungut Jessica. “Habiskan!” ucapnya sambil meletakkan rantang 5 lapis itu di atas meja kerja Jaejoong.

“Tidak mau memakannya bersamaku?” tanya Jaejoong.

“Aku harus segera pulang! Tahu sendiri Umma melarangku bepergian menjelang pernikaha kita.” Jessica sedikit merengut. “Telpon aku begitu kau selesai bekerja!” pintanya yang diangguki oleh Jaejoong. Jessica mencium pipi kanan Jaejoong sebelum pergi meninggalkan ruangan kerja Jaejoong.

Jaejoong membongkar isi rantang yang Jessica bawakan untuk dirinya. Tersenyum hampa ketika melihat beraneka macam masakan tertata rapi didalamnya. Jessica pasti sudah bekerja sangat keras memasak untuk dirinya. Jaejoong kemudian melirik sebuah figura foto yang memang sengaja ia letakan di atas meja kerjanya, foto adik-adiknya yang mau tidak mau harus ia akui mulai menunjukkan tanda-tanda mirip dengan Yunho. Jaejoong tidak mau mengakui apalagi mengiyakan tetapi wajah Hyunno cenderung menurun Yunho, dengan mata sipit dan bibir berbentuk hati yang tipis.

Beberapa kali Jaejoong menghela napas panjang. Seminggu menjelang hari pernikahannya dengan Jessica, Yunho sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya. Pria itu seolah menghilang ditelan bumi. Jaejoong toh tidak peduli –pura-pura tidak peduli− keberadaan Yunho tetapi terbesit keraguan dan ketakutan dalam hati kecilnya. Yunho sedang putus asa, orang yang putus asa bisa nekat dan melakukan tindakan diluar batas.

❤❤❤

Jas broken white itu membuat sosok Jaejoong terlihat bersinar, wajah adrogininya memberikan efek luar biasa pada orang-orang yang menatapnya. Saat ini Jaejoong sedang berada diruang rias, bersiap-siap untuk berjalan menuju altar suci yang akan merubah seluruh hidupnya, para perias sudah meninggalkannya sendirian. Jaejoong mengamati cermin besar dihadapannya. Benarkah ini yang terbaik untuk dirinya? Untuk semuanya?

“Kau indah seperti biasa….”

Jaejoong terlonjak kaget ketika mendapati pantulan sosok Yunho dalam cermin. Segera saja ia memutar tubuhnya agar bisa berhadapan dengan Yunho.

Yunho berjalan mendekati Jaejoong. Tangannya terjulur untuk mengusap wajah menawan itu perlahan. “Aku mencintaimu….” Lirih Yunho dengan mata nanar. “Barusan aku memohon pada Jessica agar membatalkan pernikahan kalian tetapi ia menolak. Cintanya padamu sama besar seperti cintaku padamu. Aku bisa apa?”

Jaejoong diam saja ketika Yunho mulai terisak, memeluknya erat.

“Tolonglah….” Pinta Yunho.

Mian….”

Yunho menatap wajah itu lekat-lekat, mencium bibir merah penuh itu dengan rakus seolah enggan kehilangan seinci pun rasanya. Lantas pergi begitu saja dengan bahu membungkuk rendah.

Jaejoong menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Ia sudah memutuskan semuanya dan tidak akan mundur begitu saja. Menghela napas panjang, Jaejoong berjalan menuju pintu keluar. Sudah nyaris waktunya. Waktu untuk mengubah hidupnya dengan pilihan yang sudah ia pilih.

Baru saja Jaejoong hendak memutar handle pintu, pintu bercat putih itu terbuka. Sosok Jessica yang juga tengah memakai gaun pengantinnya berdiri dimulut pintu, mendatangkan kerut kebingungan Jaejoong.

“Aku tidak tahan untuk segera melihatmu.” Ucap Jessica. “Sesuai dugaanku, jas rancanganku benar-benar cocok untukmu.”

“Kita akan segera bertemu di altar, tidak bisakah kau menunggu sedikit lebih lama?” tanya Jaejoong.

Jessica tersenyum lalu menggelengkan kepalanya pelan. “Aku tidak sabar melihat penampilan suamiku! Suatu kebanggaan tersendiri bagiku melihat suamiku memakai jas hasil karyaku.”

“Kalau ada yang melihatmu mendatangiku, kau pasti kena omel.” Ucap Jaejoong. “Aku harus ke altar duluan.”

“Masa bodoh. Aku ingin menemuimu dan disinilah aku sekarang.” Ucap Jessica.

Pabbo!” Jaejoong menyentil kening Jessica pelan.

Tiba-tiba saja Jessica memeluk Jaejoong erat. “Saranghae… jeongmal saranghae…” lirihnya. Begitu melepaskan pelukannya, Jessica segera mencuri ciuman dari bibir Jaejoong kemudian mendorong calon suaminya itu, “Kajja! Cepat ke altar agar aku segera menjadi nyonya Kim!”

Jaejoong tersenyum. Mengusap kepala Jessica lembut sebelum berjalan perlahan menuju tempat ia dan Jessica akan mengucap janji suci pernikahan. Jantungnya berdebar tidak keruan, perasaan tidak nyaman itu menggelayuti setiap langkah yang diambilnya.

Jeongmal saranghae….” Lirih Jessica nanar menatap punggung Jaejoong yang semakin jauh darinya.

❤❤❤

Jaejoong berdiri diam ditempat dimana seharusnya ia berada. Menatap dekorasi indah yang memang menjadi impian Jessica. Sudah lebih dari satu jam lamanya pria yang mengenakan setelan jas broken white itu berdiri diam disana, mengabaikan suasana sunyi lagi hampa disekitarnya. Semua tamu undangan sudah pulang menyisakan dirinya sendiri bersama keheningan diamorf yang tidak ia mengerti. Berkali-kali menghela napas panjang, pria berkaca mata yang saat ini tidak mengenakan kaca matanya itu mencoba mengurai benang kusut otaknya mencari jawaban sebagai pembenaran atas tindakan nekat Jessica.

Pesta pernikahan ini adalah impian Jessica. Konsep, dekorasi, gaun yang mereka kenakan semuanya adalah impian Jessica. Namun Jessica pergi meninggalkannya disaat-saat terakhir. Jessica tidak datang ketika seharusnya mereka mengucapkan janji suci. Jessica pergi meninggalkan pesta pernikahan impiannya dan hanya meninggalkan sebuah memo.

Jeongmal saranghae Jaejoongie….

Mian…

Jaejoong berbalik menatap deretan kursi tamu yang kosong melompong –kecuali satu kursi yang masih diduduki oleh sosok yang begitu ia kenal. Seketika Jaejoong memiliki pikiran jahat. “Kau tidak menghasut Jessica, kan?” tanyanya.

“Tidak. Tentu saja tidak. Aku bukan orang picik seperti itu. Aku hanya memohon padanya untuk memberiku kesempatan membesarkan anak-anak kita.”

“Kau bercanda?”

“Jessica mencintaimu. Cintanya sama besarnya seperti cintaku padamu tetapi ia memilih untuk melepaskanmu demi kebaikan kalian sendiri.” Ucap Yunho. Mata setajam mata musangnya itu menatap dalam sosok Jaejoong yang terlihat menawan dimatanya. “Memaksakan pernikahan ini sama halnya berjalan menuju jurang kenestapaan. Jessica tahu kalau pernikahan kalian tidak akan berakhir bahagia.”

“Omong kosong!”

Yunho tersenyum putus asa. “Kau keras kepala, aku tahu dengan baik hal itu jadi membicarakan soal perasaan denganmu sama artinya buang-buang waktu karena kau tidak akan pernah menanggapi hal cengeng semacam itu. Tetapi bagiku, adalah sebuah kebahagiaan tersendiri diatas ironi batalnya pernikahanmu.”

“Dimana Jessica sekarang?”

“Orang tuanya saja tidak tahu kemana ia pergi apalagi aku?” ucap Yunho. “Kau kesal karena dicampakan?” tanyanya.

“Aku kesal karena semuanya berjalan sesuai harapanmu!” usai bicara seperti itu Jaejoong berjalan begitu saja melewati Yunho, terus melangkah meninggalkan tempat yang seharusnya menjadi tempat bersejarah baginya. Baru saja membuka pintu Jaejoong dikejutkan oleh ibu Jessica –ibu mertuanya jikalau ia dan Jessica jadi menikah hari ini.

“Anak itu benar-benar bodoh!” ucapnya sambil terisak. “Maafkan kecerobohan anak itu, Jae.”

“Gwaechana Umma.” Jaejoong berusaha menghibur.

“Kalau anak bodoh itu berhasil ditemukan aku akan memarahinya.”

Jaejoong hanya tersenyum. Ia tahu sekarang rasanya dicampakan seperti apa. Perasaannya seperti diaduk-aduk. Seperti itukah perasaan Yunho ketika ia meninggalkan Yunho begitu saja malam itu?

❤❤❤

5 tahun kemudian…

Jaejoong tersenyum ketika melihat sebuah foto. Mau tidak mau Jaejoong harus mengakui bahwa dirinya merindukan sosok yang sudah membuatnya menjadi objek iba banyak orang. Jessica terlihat sangat bahagia ketika menggendong sosok mungil itu. Tubuhnya lebih gemuk daripada terakhir kali mereka bertemu dihari pernikahan mereka yang sayangnya menjadi hari naas bagi Jaejoong. Jessica kabur ke Perancis, mengencani bule Perancis hingga akhirnya menikah dan melahirkan seorang putri cantik.

“Joongie, bagaimana kalau Jihyunku dijodohkan dengan salah satu si kembar?”

“Kau terlalu sering berhubungan dengan Sica.” Ucap Yunho yang melirik kegiatan Jaejoong. “Hyunno dan Hyunbin sudah remaja harusnya kau lebih memperhatikan mereka!”

Jaejoong hanya mencibir.

5 tahun belakangan ini hubungannya dengan Yunho sedikit rumit. Mereka tinggal serumah –dirumah orang tua Yunho− atas permintaan orang tua Yunho yang ingin dekat dengan cucu-cucu mereka. Yunho dan Jaejoong mendaftarkan pernikahan mereka –yang Jaejoong yakini terjadi karena dirinya mabuk berat sehingga mengiyakan ketika Yunho mengajaknya menikah. Perlahan-lahan Yunho dan Jaejoong menjelaskan posisi mereka yang sebenarnya pada si kembar, walaupun awalnya baik Hyunno dan Hyunbin tidak percaya namun pada akhirnya mereka memanggil Yunho dan Jaejoong dengan sebutan Appa dan Umma. Tidak ada yang istimewa. Jaejoong tetaplah seorang dokter yang mengabdi merawat orang-orang yang membutuhkannya, Yunho pun tetap bekerja seperti biasanya. Yang berbeda hanyalah keiklhasan hati untuk menerima nasib yang kini berjalan disamping mereka.

❤❤❤

Youngie… jangan membenciku. Maafkan aku karena sepertinya aku pun jatuh cinta pada Jung Yunhomu… doakan kedua keponakanmu agar menjadi anak yang lebih baik dari orang tua mereka. Aku mencintaimu Youngie tetapi aku pun mencintai Yunho. Ku mohon jangan membenciku….

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

END

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

Monday, May 30, 2016

6:25:49 PM

NaraYuuki

Sekuel Vengeance II

Tittle                : Sekuel Vengeance II

Writer               : NaraYuuki

Genre               : Romance? Familly? Friendship? A Little bit Angst?

Rate                 : T+

Cast                             : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Park Yoochun, Han Youngwoong & Jung Jessica

Disclaimer:      : They are not mine but this story, OOC Hyunno & Hyunbin are mine, NaraYuuki

Warning           : Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran. Tanpa Edit jadi mungkin sedikit amburadul ==” Penceritaan ngebut. Saran dan masukkan diterima. Tidak menerima Bash dan Flamer dalam bentuk apapun!

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

PASTIKAN BACA WARNINGNYA!

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

“Aku tidak suka mata indahmu terbingkai kaca mata itu, Jae!” ucap Yunho pada udara kosong di depannya. Semenjak pulang dari acara pesta pertunangan Jessica, Yunho sudah menghabiskan lebih dari 5 botol wine yang harga sebotolnya mampu membeli sebuah mobil mewah. Padahal Yunho tidak kuat minum minuman beralkohol tetapi rasa putus asa telah memaksanya untuk melampaui batasnya sendiri. “Aku tidak suka kau bertunangan dengan Jessica walaupun aku tahu ia gadis yang baik, walaupun ia teman baikku. Aku tidak suka. Aku tidak rela!” racaunya.

Jaejoong yang tadi ia lihat adalah Jaejoong yang sama dengan yang dulu ia kenal. Jaejoongnya tidak berubah kecuali sebuah kaca mata yang membingkai mata indahnya, Yunho tidak suka benda itu menghalangi pancaran keindahan mata Jaejoong. Yunho sangat menyukai mata hitam legam indah itu sepenuh hatinya. Yunho tidak rela Jaejoong menjadi milik Jessica. Yunho ingin merebutnya tetapi bagaimana caranya?

Dalam ketidaksadarannya, Yunho terisak keras. Untunglah ia sudah berada di rumahnya sendiri sehingga ia tidak perlu merasa malu pada siapapun. Air mata itu mebasahi wajahnya, Yunho menangis sampai dewi mimpi menariknya untuk terlelap, sejenak melupakan nelangsa yang sedang mengganggu hatinya yang rapuh.

❤❤❤

Yunho memasang senyum kakunya ketika berhadapan dengan sosok yang begitu dirindukannya, begitu didambanya seperti orang gila. Yunho sengaja meminta alamatnya dari Jessica dengan dalih kesehatan lambung yang memang sejak lama sudah ia derita, Yunho ingin berkonsultasi pada Jaejoong.

“Apa yang kau katakan pada Jessica sehingga ia memberikan alamatku padamu?”

“Lambungku bermasalah.” Jawab Yunho.

“Memang. Bukankah kau juga baru pulang dari rumah sakit karena masalah lambung?”

“Jessica tidak tahu soal itu.” Yunho tersenyum.

“Mau apa kau kemari?”

“Aku turut menyesal atas apa yang terjadi pada orang tuamu.” Ucap Yunho tulus. “Dan soal adik-adikmu… kenapa mereka tidak mirip denganmu?”

Jaejoong tersenyum bodoh melihat ekspresi wajah Yunho. “Apakah ketidakmiripan adik-adikku denganku menjadi masalah untukmu?”

“Kita pernah tidur bersama, walaupun hanya semalam tetapi seingatku beberapa kali aku melakukannya denganmu. Adikmu –mendiang saudara kembarmu, aku hanya melakukannya sekali tetapi ia sempat mengandung walaupun akhirnya berakhir seperti itu. Ada kemungkinan kalau adik-adikmu itu sebenarnya bukan adikmu melainkan anakku.”

“Kau mabuk? Atau kau terlalu banyak nonton drama picisan tidak bermutu?”

“Wajah mereka tidak sama sepertimu, terutama mata mereka! Mata mereka tajam sepertiku.”

“Ayahku –ayah tiriku memiliki mata yang tajam. Kalau kau lupa aku mengingatkanmu!”

Yunho menggelengkan kepalanya, “Tidak sama!”

“Jangan merusak hariku! Kalau kau tidak ada urusan lain silakan pergi! Aku ingin tidur.”

“Ini baru pukul 7.30 pagi.”

“Aku sift malam. Pukul 6 aku baru pulang. Setelah mengurus si kembar dan mengantarkan mereka ke sekolah aku berencana ingin tidur tetapi kau datang mengganggu waktu istirahatku!”

“Tidurlah! Aku tidak keberatan menungguimu sampai kau bangun dari tidurmu.” Ucap Yunho.

Jaejoong mendengus kesal. “Terserahmu saja!” Jaejoong kemudian berjalan meninggalkan Yunho di ruang tamu rumahnya sendirian. Terang saja, Jaejoong tidak memiliki pembantu rumah tangga, hanya dua orang baby sitter yang bertugas menjaga si kembar dan kini mereka sedang menunggui si kembar pulang sekolah.

❤❤❤

Yunho menatap sekeliling ruang tamu mini malis itu dengan seksama. Cat tembok warna broken white membuat nuansa ruang tamu menjadi ceria, sebuah pot bunga yang diletakkan disudut ruangan menambah hidup suasana ruangan itu. Yunho tersenyum ketika melihat jejeran foto berbingkai yang diatur sedemikian rupa hingga terlihat bagus dan menarik. Foto Jaejoong semenjak kecil hingga menjadi seorang dokter, foto adik kembarnya dari bayi hingga memasuki bangku sekolah, foto mendiang ibu dan ayahnya –ayah tirinya semuanya terpajang rapi menghiasi dinding. Tetapi tidak ada foto ayah kandung dan adik kembar Jaejoong –mendiang Han Youngwoong.

Rumah ini jelas tidak lebih besar daripada rumah Jaejoong yang dulu –ketika mereka masih SMA. Namun Yunho dapat merasakan suasana hangat memancar dari rumah ini. Menyandarkan punggung dan lehernya pada punggung sofa yang didudukinya, Yunho menatap langit-langit ruangan yang mana tergantung sebuah lampu unik di atas sana. Lama Yunho memandangi lampu itu hingga kedatangan si empunya rumah mengejutkannya. Jaejoong datang membawa baki berisi secangkir kopi dan sepiring kue lapis yang sudah dipotong-potong.

“Aku tahu kau tidak akan pergi dari sini semudah itu! Walaupun aku memanggil petugas keamanan sekalipun kau akan tetap kembali kemari. Apa maumu sebenarnya?”

“Sepuluh tahun lebih aku hidup dalam nelangsa karena kau pergi meninggalkanku tanpa mengatakan apa-apa.” Ucap Yunho. “Boleh aku minum kopinya? Kebetulan aku belum makan sejak semalam.”

“Silakan.”

Tanpa sungkan Yunho mengambil sepotong kue lapis, memakannya hingga habis lantas meminum setengah cangkir kopi susu hangat yang Jaejoong hidangkan.

“Kita tahu bahwa kita tidak terikat hubungan apa-apa. Jadi kenapa kau mengeluh ketika aku meninggalkanmu begitu saja?” tanya Jaejoong.

“Dan kita berdua tahu bahwa aku memiliki perasaan khusus padamu. Aku sudah mengatakannya padamu.” Yunho membela diri. “Mungkin bila aku lebih dulu bertemu denganmu bukan dengan Youngwoong, tidak akan seperti ini hubungan kita.”

“Jangan berandai-andai!”

“Benar.” Yunho mengangguk.

“Lalu? Apalagi?”

Yunho menatap tajam mata indah berbingkai kaca mata itu dalam-dalam, “Aku tidak setuju kau bertunangan dengan Jessica.”

Jaejoong tersenyum bodoh. Duduk bersandar sambil menyilangkan kedua kakinya. “Aku tidak butuh persetujuan darimu. Kau bukan siapa-siapaku!” Jaejoong mengingatkan.

“Sialnya itu benar.” Keluh Yunho.

Hening menyebalkan untuk sesaat. Yunho hanya mampu terdiam memandang sosok yang begitu ingin ia peluk hingga remuk, ingin mencium dan mencumbu sosok yang membuatnya memeram rindu dendam sekian tahun hingga menyiksa jiwanya. Jaejoong sendiri hanya diam, diam yang takzim hingga akhirnya kelopak mata berbingkai kaca mata itu tertutup perlahan-lahan karena rasa lelah dan kantuk yang menyerangnya.

Yunho tersenyum. Ini kali pertama ia melihat Jaejoong duduk sambil tertidur. Wajah menawan itu terlihat sangat lelah dan letih. Yunho ingin sekali menggantikan posisi sofa itu sebagai sandaran Jaejoong, Yunho ingin mendekap dan memeluk sosok yang kelelahan itu dalam pelukannya, Yunho ingin menyeka wajah letih itu dengan kasih sayang yang ia miliki, seandainya Jaejoong mengijinkannya.

Melihat posisi tidur yang sepertinya kurang nyaman, Yunho akhirnya berjalan menghampiri Jaejoong, menata bantal sofa untuk alas kepala lantas menselonjorkan posisi tidur Jaejoong agar menjadi lebih nyaman. Setelah memastikan tidur Jaejoong tidak terusik, Yunho kembali ketempatnya semula namun sebelum itu ia mencuri satu ciuman dari bibir merah penuh yang begitu didambanya.

❤❤❤

Jaejoong terbangun tengah hari lewat. Suara tawa si kembar membuatnya tersadar dari mimpinya. Jaejoong segera mendudukkan dirinya, mengumpulkan kesadarannya lantas berjalan ke luar rumah untuk melihat apa yang sudah membuat kedua anak kembar itu tertawa begitu girang.

Yunho!

Jaejoong melihat si kembar sedang berlarian di halaman depan rumah mereka, membawa pistol air dan mengejar Yunho. Sesekali Hyunno maupun Hyunbin –nama si kembar, menembakkan pistol air yang mereka bawa pada Yunho, membuat baju pria berkulit tan itu basah pada beberapa tempat. Jaejoong mengawasi mereka dalam diam.

“Mereka sudah makan siang?” tanya Jaejoong pada salah seorang baby sitter yang lewat di sebelahnya sambil menenteng keranjang jemuran kering berisi seragam dan baju si kembar.

“Belum Jaejoong sshi.” Jawab sang baby sitter, lantas melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda.

Jaejoong berjalan menghampiri adiknya, menangkap Hyunbin yang menjerit-jerit ke girangan lantas meraih ujung kaus Hyunno dan mencekalnya. Mendekap keduanya yang masih kegirangan dan tertawa senang.

“Sudah waktunya makan siang dan tidur siang.” Ucap Jaejoong. Mata berbingkai kaca mata indahnya teduh menatap wajah-wajah polos kedua adiknya. “Kalian bisa main dengan paman Yunho setelah tidur siang. Arrachi?”

Neee….” Sahut ke dua anak kembar itu bersamaan.

“Serahkan mainan kalian pada Im ahjumma lalu minta pada Kang ahjuma untuk menggantikan baju kalian!” perintah Jaejoong sambil mengusap kedua kepala adiknya secara bergantian. “Kajja! Hyung tunggu di ruang makan!”

Kedua anak kembar itu lantas berlari menghampiri pengasuh mereka yang sedang duduk menjaga keranjang berisi mainan, menyerahkan kedua pistol air mereka lantas berlari memasuki rumah dengan girang.

“Mereka anak-anak yang manis.” Ucap Yunho yang berjalan mendekati Jaejoong.

Jaejoong melirik pria yang bajunya basah dibeberapa tempat itu dengan tatapan dingin. “Ukuran bajumu sepertinya lebih besar dariku. Aku punya beberapa baju yang berukuran cukup besar untuk kau pakai. Akan ku carikan. Masuk dan ikutlah makan siang bersama kami.”

Yunho tersenyum sumpringah. “Walaupun kau cap aku sebagai orang tidak tahu malu, aku jelas tidak akan menolak ajakan makan siang ini.” Ucapnya yang hanya dibalas dengusan oleh Jaejoong.

❤❤❤

Kebahagiaan Yunho bisa makan siang bersama dengan Jaejoong dan adik-adiknya sirna begitu saja karena kedatangan Jessica yang secara resmi merupakan tunangan sah Jaejoong. Tanpa sungkan Jessica mencium kedua pipi Jaejoong beserta si kembar, lantas menyalami Yunho dan ikut bergabung dimeja makan.

“Yunho minta alamatmu, katanya ia ingin konsultasi soal penyakitnya.” Ucap Jessica.

Melalui lensa kaca matanya, Jaejoong menatap tajam sekilas pada Yunho yang sepertinya merasa kurang nyaman sejak kehadiran Jessica. “Ya, ku rasa itu semua disebabkan oleh asam lambungnya yang tinggi serta pola hidup yang kurang sehat. Minum kopi pagi hari ketika perut dalam keadaan kosong contohnya.” Komentar Jaejoong.

Yunho berdeham (pura-pura batuk), meraih gelas jusnya, meminumnya beberapa teguk sebelum berkomentar, “Jaejoong tipe dokter yang galak dan cerewet.”

“Itu karena Joongieku sangat perhatian pada semua pasiennya.” Bela Jessica.

“Kau datang tanpa pemberitahuan, apa ini semacam kejutan?” tanya Jaejoong. Matanya menatap hangat pada Jessica, mengabaikan tatapan sendu yang Yunho lemparkan padanya.

“Hanya kebetulan mampir. Aku baru saja berkonsultasi dengan WO yang mengurus pesta pernikahan kita.” Jawab Jessica.

“Kalian akan menikah?” tanya Yunho menyela.

Jessica menatap malas teman SMAnya itu, “Kami sudah bertunangan Jung Yunho, tentu saja kami akan menikah.”

“Tapi ku kira kalian akan menikah beberapa tahun lagi.” Ucap Yunho, ada nada ketidakrelaan dalam kata-katanya.

“Untuk apa menunggu lama-lama? Kami akan menikah 2 bulan lagi.” Jessica tersenyum sumpringah. “Tapi jangan beritahukan hal ini pada yang lain dulu ya.” Pintanya.

Yunho menatap Jaejoong dengan pandangan syok seolah-olah minta penjelasan. Namun Jaejoong hanya diam saja tanpa memedulikan Yunho.

“Karena Joongie tidak mungkin mengurus soal pernikahan –ia terlalu sibuk tentu saja, karenanya aku yang mengurus pernikahan kami. Mulai dari mencari tempat, dekorasi, undangan, catering bahkan designer yang merancang baju kami nantinya.” Cerita Jessica.

Designernya adalah kau sendiri, kan?” Jaejoong mengusap kepala Jessica perlahan.

“Tentu saja!”

Melihat rona bahagia dan antusiasme Jessica menyambut pernikahannya dengan Jaejoong membuat hati Yunho nyeri. Yunho kira mereka akan menikah beberapa tahun lagi sehingga dirinya bisa meyakinkan Jaejoong untuk membatalkan pertunangannya dengan Jessica tetapi… Yunho seperti dipaksa menelan pil pahit seukuran bola pingpong yang mengganjal tenggorokannya. Yunho dipaksa menerima kenyataan bahwa harapannya adalah semu belaka.

“Ah, mengenai libur panjang nasional selama 5 hari nanti…” suara Jessica membuyarkan lamunan Yunho, “Aku akan mengajak Hyunno dan Hyunbin ke Jeju. Mereka akan menjadi model tamu istimewaku untuk desain baju anak-anak rancanganku menjelang musim gugur.”

“Ya, dan mereka sudah setuju ikut denganmu karena kau menjanjikan mereka akan membelikan Gundam yang bisa bicara pada mereka.” Sahut Jaejoong.

Jessica terus berceloteh, sesekali Jaejoong menyahutinya. Keduanya asyik berbicara, melupakan keberadaan Yunho yang masih duduk membatu di sana.

❤❤❤

Yunho menyulut rokoknya, menghisapnya dalam-dalam sebelum mengepulkan asapnya ke udara. Sudah pukul 2 dini hari dan Yunho masih setia berada di tempat parkir rumah sakit. Duduk di kap mobilnya ditemani sekaleng kopi yang ia beli di mesin penjual otomatis. Satu minggu ini seperti itulah rutinitas yang ia lakukan. Kadang pagi-pagi buta Yunho sudah berada di tempat parkir itu, melakukan hal yang sama selama berjam-jam sampai rasa bosan memaksanya untuk pergi. Yunho seperti orang gila yang sedang putus asa. Ah, ya… Yunho memang sudah putus asa.

“Bila aku melihatmu melakukan hal yang sama esok hari akan ku suruh petugas keamanan mengamankanmu!”

Yunho membuang puntung rokoknya, berdiri dan menatap orang yang menegurnya. Tersenyum sumpringah. “Aku menjemputmu.”

“Aku bawa kendaraan sendiri.”

“Aku tetap menjemputmu. Aku sudah menyuruh orang untuk menderek mobilmu sampai rumahmu.”

“Kau gila?”

“Ya. Kau yang menyebabkan aku gila, Jae.” Seloroh Yunho. Yunho berjalan menuju sisi pintu penumpang mobil dan membukanya. “Masuk atau aku akan menculikmu. Kau tahu? Aku sudah mulai kehilangan kewarasanku sejak kau bertunangan dengan Jessica.”

Jaejoong menatap tajam Yunho, ada api kemarahan dalam bola mata indahnya yang terbingkai lensa kaca mata. Namun begitu Jaejoong tetap masuk ke dalam mobil mewah Yunho juga. Apa boleh buat? Jaejoong kelelahan. Mobilnya menghilang dari tempatnya parkir semula.

Yunho tersenyum, menutup pintu mobil lantas berjalan kesisi yang lain, masuk mobil, menyalakan mesin dan mulai menjalankan mobilnya. “Aku akan mengajakmu ke apartementku dulu.”

“Aku tidak mau!” tolak Jaejoong.

“Hanya untuk mengambil dokumen yang ku butuhkan. Usai mengantarmu aku akan langsung ke kantor.”

“Ini bahkan belum fajar.”

“Sendirian di rumah membuatku frustasi karena teringat padamu terus menerus. Aku butuh pengalihan.” Jawab Yunho. “Kerja adalah salah satu pilihannya.”

Jaejoong diam saja, matanya mengamati deretan lampu merkuri yang berjejer dipinggir jalan, pucat dan muram. Jaejoong tidak tahu bagaimana perasaannya pada Yunho sekarang, apakah masih ada dendam atas apa yang menimpa saudara kembarnya? Apakah ada belas kasihan dalam dirinya untuk Yunho? Jaejoong tidak tahu. Ia bisa menerima keberadaan Yunho disekitarnya selama tidak mengusik kehidupannya lebih daripada yang seharusnya.

Terlalu sibuk dengan pikirannya yang berlompatan tidak tentu, Jaejoong sama sekali tidak menyadari bahwa mobil Yunho yang ia tumpangi sudah berbelok memasuki kompleks apartemen mewah. Melaju perlahan menuju tempat parkir sebelum akhirnya benar-benar berhenti.

“Kita sudah sampai.” Ucap Yunho yang sepertinya sama sekali tidak didengar oleh Jaejoong. “Jae, kita sudah sampai….” Kali ini Yunho menepuk bahu Jaejoong perlahan.

Jaejoong menoleh menatap Yunho dengan mata bening lelahnya, “Lalu apa yang kau tunggu? Cepat ambil apa yang mau kau ambil!”

“Aku tidak bisa membiarkanmu menunggu disini sendirian. Setidaknya ada secangkir teh hangat yang bisa menghangatkan tubuhmu.”

“Tidak. Aku menunggu disini saja.” Tolak Jaejoong.

“Kau bisa masuk angin. Kau ini dokter, banyak pasien yang bergantung padamu. Kalau kau sakit siapa yang akan mengurus pasien-pasienmu?” bujuk Yunho. “Aku janji tidak akan lama.”

Jaejoong menghela napas panjang. Membuka pintu mobil lalu berjalan keluar. Lelah badannya. Jaejoong ingin segera bertemu tempat tidurnya agar bisa berbaring diatasnya guna melepas lelah. Berjalan perlahan mengikuti langkah kaki Yunho.

❤❤❤

Yunho tersenyum melihat Jaejoong yang terlelap diatas sofa ruang tamunya. Teh hangat yang ia suguhkan masih mengepulkan asap, masih utuh, Jaejoong sama sekali belum menyentuhnya. Yunho meletakkan tumpukan map berisi dokumennya di atas meja, berjalan perlahan menghampiri Jaejoong, berjongkok dihadapannya dan mengamati wajah lelah sosok yang menjerat hatinya itu lekat-lekat. Perlahan-lahan Yunho melepas kaca mata Jaejoong, mengamati bulu lentik yang menghiasi mata terpejam  itu.

“Tidurlah! Kau pasti benar-benar kelelahan….” Bisik Yunho lirih. Dikecupnya kening Jaejoong sebelum beranjak menuju kamarnya untuk mengambil sesuatu.

❤❤❤

Jam dinding menunjukkan pukul 10 pagi. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela kaca bergorden tipis mulai mengusik tidur lelap Jaejoong. Rasa sejuk dari pendingin ruangan segera menyadarkannya dari mimpi aneh yang dialaminya. Jaejoong membuka mata indahnya, menatap sekeliling dengan alis berkerut. Jaejoong tidak mengenali ruangan tempatnya berada sekarang. Menoleh ke samping kanan, Jaejoong menemukan sebuah memo yang diletakkan di bawah kaca matanya. Jaejoong mengambil kertas memo itu dan membacanya.

Kau tidur sangat lelap. Aku tidak tega membangunkanmu. Kunci rumah dan mobilku ada didalam laci, kau bisa memakainya bila mau. Kulkasku penuh bahan makanan kalau kau lapar. Yunho.

“Ini tidak seperti yang ku harapkan.” Gumam Jaejoong. “Selama ini aku berusaha menghindarinya tetapi semakin keras aku menghindar jarak itu semakin bertambah dekat. Mengesalkan.”

Jaejoong beranjak dari tempat tidur, berjalan mengelilingi kamar yang ia ketahui adalah kamar Yunho. Memeriksa pintu yang ada di dalam kamar tersebut untuk mencari toilet. Jaejoong butuh mandi sebelum pulang ke rumahnya sendiri yang sama sepinya dengan rumah Yunho –kedua adiknya beserta baby sitter mereka sedang berlibur bersama Jessica.

Memasuki kamar mandi, aroma maskulinlah yang menyeruak menggelitik indera penciuman Jaejoong, sangat berbeda dengan aroma kamar mandinya yang didominasi oleh wangi sabun dan sampo khas anak-anak. Jaejoong segera melepas pakaiannya dan menyalakan shower. Membiarkan air dingin membasahi sekujur tubuhnya, merilekskan otot-ototnya yang terasa tegang dan kaku.

❤❤❤

Jessica menghambur memeluk Jaejoong, mencium pipinya dengan mesra. 5 hari lebih tidak bertemu dengan tunangannya membuatnya benar-benar merasakan kerinduan yang mendalam. Perempuan berambut panjang itu tanpa malu mengutarakan perasaan rindunya pada sang tunangan walaupun saat itu mereka tidak sedang sendirian.

“Apa si kembar kelelahan setelah pulang dari Jeju?” tanya Jessica yang langsung mendudukkan dirinya di kursi yang berada di samping Jaejoong. Mereka sedang berada di sebuah café untuk makan siang bersama.

“Tidak. Seperti biasa, mereka sibuk bermain tanpa memedulikan rasa lelah.” Jawab Jaejoong. “Aku memesankanmu salad dan jus sayur.”

Jessica mengangguk paham. Ia sedang diet demi menyambut pesta pernikahannya.

“Jangan terlalu berlebihan. Tanpa diet pun kau pasti akan menawan nanti.”

“Aku ingin memberikan yang terbaik untukmu di acara pesta pernikahan kita nanti.” Seloroh Jessica. “Eh… itu Yunho, kan?”

Jaejoong mengalihkan perhatiannya ke arah pintu masuk dimana disana berdiri sosok yang ia kenal namun tidak ia harapkan perjumpaan dengannya. “Mungkin ada janji dengan rekan kerjanya atau kantornya memang berada didekat sini.” Komentar Jaejoong tidak acuh.

“Hei Jung Yunho!” Jessica melambaikan tangan kanannya pada Yunho. Yunho yang melihatnya segera tersenyum dan balas melambaikan tangannya sebelum seorang perempuan menghampirinya dan mengajaknya memasuki ruang VIP di café tersebut. “Eh? Dia sudah punya yeoja chingu ya?” gumam Jessica.

“Dia pria dewasa yang normal. Wajar kalau dia punya pasangan, kan?” dengan ringan Jaejoong berkata seperti itu tetapi hatinya terasa sedikit nyeri.

❤❤❤

“Perempuan tadi adalah bawahanku di kantor.”

Jaejoong nyaris terlonjak kaget ketika tiba-tiba saja Yunho berdiri di sampingnya saat dirinya hendak membuka pintu mobilnya. Menutup mata untuk menetralkan debaran detak jantungnya yang memacu cepat akibat kaget, Jaejoong lantas menatap tajam Yunho dengan pandangan sengit dan kesal. “Apapun hubunganmu dengan perempuan tadi sama sekali tidak ada urusannya denganku!”

“Aku hanya tidak ingin kau salah paham padaku.”

Jaejoong tertawa bodoh. “Untuk apa aku salah paham padamu? Kau ini aneh sekali!” ucapnya tak acuh. “Sekarang menyingkirlah karena aku harus bergegas.”

Yunho mencekal pergelangan tangan Jaejoong, menghadapkan Jaejoong padanya kemudian mencium paksa bibir merah penuh itu dengan rakus. Jaejoong meronta namun Yunho terus memaksanya, menyudutkannya hingga punggung Jaejoong membentur mobil.

“Apa yang kau lakukan?” dengan brutal Jaejoong menonjok wajah Yunho. Amarah tercetak celas pada mata indah berbingkai kaca matanya.

“Hargailah perasaanku sedikit!” gumam Yunho.

Dengan kesal Jaejoong masuk dalam mobilnya dan segera pergi dari tempat brengsek yang membuatnya malu dan marah.

Tertatih, Yunho bangun dari ketersungkurannya, berjalan perlahan menuju mobilnya sendiri sebelum pergi mengikuti jejak Jaejoong tanpa menyadari ada sepasang mata yang mengalirkan cairan bening usai melihat apa yang sudah Yunho lakukan pada Jaejoong.

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

TBC

❤❤❤

❤❤❤

Sebelumnya Yuuki minta maaf karena Chap 3 yang seharusnya menjadi Chap end belum bisa Yuuki selesaikan walaupun sangat ingin Yuuki selesaikan bersamaan dengan 2 chap ini tetapi apa boleh buat, keterbatasan Yuuki🙂  Yuuki agak sok sibuk di real karena selain ditunjuk menjadi pembimbing & penguji karya tulis ilmiah Yuuki juga harus mengurus surat pindah serta persidangan karena sebuah masalah. Selain itu Yuuki mau menyampaikan penyesalan Yuuki dari hati yang terdalam karena Yuuki harus hiatus untuk beberapa bulan sehingga hutang epep yang lalu terpaksa dipending. Tenang saja, semua draffnya sudah Yuuki selesaikan tinggal edit. Tetapi proses editing itu bahkan jauh lebih sulit daripada membuat draff itu sendiri (menurut Yuuki sih). Yuuki juga harus istirahat untuk persiapan operasi mata kiri Yuuki, kegiatan didepan layar computer & laptop harus mulai dikurangi. Mohon doanya agar semuanya berjalan lancar biar Yuuki bisa segera membayar semua hutang epep Yuuki ya🙂

Tetap jaga kesehatan….

Sampai jumpa dipertemuan selanjutnya😀 V

❤❤❤

Saturday, April 02, 2016

8:40:45 AM

NaraYuuki

Sekuel Vengeance I

“Hei Han Youngwoong, sama seperti dulu… aku tidak pernah menyukaimu. Aku membencimu –bisa dikatakan begitu. Tetapi salahkah aku yang jatuh cinta pada saudaramu? Kini saudaramu mencampakan aku seperti aku mencampakanmu dulu. Aku tidak menyukai perasaan ini tetapi jikalau ini karma untukku karena sudah jahat padamu maka akan aku terima….”

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

Tittle                : Sekuel Vengeance I

Writer               : NaraYuuki

Genre               : Romance? Familly? Friendship? A Little bit Angst?

Rate                 : T+

Cast                             : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Park Yoochun, Han Youngwoong & Jung Jessica

Disclaimer:      : They are not mine but this story, OOC Hyunno & Hyunbin are mine, NaraYuuki

Warning           : Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran. Tanpa Edit jadi mungkin sedikit amburadul ==” Penceritaan ngebut. Saran dan masukkan diterima. Tidak menerima Bash dan Flamer dalam bentuk apapun!

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

PASTIKAN BACA WARNINGNYA!

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

Sekuel Vengeance

Sejak awal caraku melihatmu dan Youngwoong adalah dua hal yang berbeda. Kalian tidak sama walaupun wajah kalian mirip. Dimataku kau lebih dari Youngwoong.” Ucap Yunho. “Ingin tidur denganmu? Ya. Tentu saja aku ingin. Tetapi aku tidak ingin hanya menjadi pengalaman one night stand saja. Aku ingin serius denganmu.”

Jaejoong tersenyum mengejek. “Kau bahkan tidak berani menciumku.”

“Aku sangat ingin melakukannya. Tetapi aku tidak ingin kau membenciku bila aku melakukannya.

“Kau bahkan sudah meniduri adikku!”

“Ya. Dan kau berbeda dengan adikmu.”

“Cium aku!” perintah Jaejoong.

Yunho melamun, begitulah. Pagi-pagi seperti ini ia justru melamun. Mimpi sialan yang semalam mendatanginya mengingatkannya pada sosok yang selama 10 tahun ini coba ia lupakan. Bahkan ketika membuat kopi tadi ia keliru memasukkan garam ke dalam cangkir kopinya, kopi itu berasa asin, pahit dan getir namun Yunho tetap meminumnya. Mungkin rasa yang menyengat lidahnya itu setimpal dengan kesalahan yang sudah ia perbuat dikala remaja dulu. Melirik jam dinding yang tergantung pada dinding pucat dapur mininya, Yunho masih bergeming dikursinya meskipun jam itu menunjukkan bahwa ia  sudah sangat terlambat untuk mengikuti rapat pemegang saham di perusahaan tempat kerjanya. Terserahlah! Toh kalaupun dirinya tidak berangkat rapat itu akan tetap diselenggarakan, ia tinggal bertanya pada rekan kerjanya yang ditunjuk sebagai notulis rapat. Yunho malas melakukan jenis pekerjaan apapun hari ini. Semangatnya luntur semenjak mimpi itu menyambanginya. Biarlah hari ini ia menuruti hasratnya untuk bermalas-malasan di rumah.

Jemarinya membuka lembar demi lembar buku siswanya dulu. Berhenti cukup lama untuk mengamati deratan foto-foto alumni satu angkatannya yang berjejer sedemikian rupa, berhenti untuk memandang foto sosok yang memiliki mata hitam legam sebening mutiara itu. Bibirnya menggumamkan sesuatu tanpa suara sebelum menghisap puntung rokoknya. Yunho bukan perokok berat, ia menghisapnya hanya ketika sedang frustasi atau dihadapkan pada masalah perusahaan yang pelik.

Yunho hendak merobek lembar berisi foto itu ketika dering ringtone ponselnya mengejutkannya. Tanpa melihat ID si pemanggil, Yunho segera menerima telepon itu.

Direktur Jung, rapat dibatalkan. Manager perencana dan pelaksana mengalami kecelakaan. Sekarang sedang kritis. Kami akan langsung menuju rumah sakit. Alamatnya akan segera ku kirimkan melalui pesan singkat.”

“Oh… bukan kabar yang penting.” Batin Yunho. Tapi meskipun begitu ia harus tetap pergi untuk melihat keadaan bawahannya. Dengan sedikit enggan Yunho menandaskan puntung rokoknya dalam asbak kaca.  Meminum segelas air putih sebelum memutuskan untuk mandi.

❤❤❤

Yah perawat Oh, jangan berlari dibangsal! Kau melanggar peraturan!” teriak seorang perawat senior ketika melihat rekan kerjanya berlarian disepanjang bangsal rumah sakit yang hari itu memang tidak –belum begitu ramai dikarenakan belum memasuki jam besuk.

“Maafkan aku Kepala Perawat! Aku harus mencari si kembar yang kabur sebelum atasan kita menggorok leherku!”

“Astaga anak itu….”

❤❤❤

Yunho sedang menanyakan ruang rawat bawahannya di kantor pada bagian informasi ketika ia merasa celananya ditarik-tarik oleh sesuatu. Yunho menoleh dan melihat seorang anak kecil berkulit pucat sedang menengadah, menatapnya dengan mata kecilnya yang polos itu. Yunho tersenyum melihat wajah tampan anak yang kira-kira berusia 8-9 tahunan itu. Anak kecil adalah sosok polos yang bersih.

“Kau sedang mencari ibumu ya?” tanya Yunho.

Anak kecil itu menggelengkan kepalanya pelan. “Apa Ahjushi melihat kakakku? Katanya dia mau ke toilet tapi sampai sekarang belum kembali. Padahal dia janji padaku akan menemaniku jalan-jalan ke taman naik kursi roda.”

“Siapa nama kakakmu, hm?”

“Hyu….”

Yah! Kim Hyunbin! Seorang suster datang menghampiri anak yang sepertinya familiar bagi Yunho itu, menggendong anak itu dan membawanya pergi dengan tergesa. “Kalau dokter tahu kau kabur, bukan hanya kau yang dimarahi. Jangan diulanginya lagi, arrachi?!”

Yunho tersenyum simpul, anak kecil selalu membawa kebahagiaan tersendiri bagi para orang dewasa, begitu pula baginya yang semenjak SMA memutuskan hidup sendiri. Yunho kembali bertanya pada bagian informasi mengenai ruang rawat bawahannya. Setelah mendapatkan informasi dan mengucapkan terima kasih, Yunho segera saja menuju ruang yang dimaksud oleh perawat yang bertugas menjaga bagian informasi.

Yunho agak kesulitan menemukan ruangan yang dimaksud mengingat rumah sakit itu sangat besar dan luas, terdiri dari 5 lantai dengan lorong dan bangsal-bangsal yang panjang, banyak belokan yang menyesatkan jikalau tidak jeli membaca papan petunjuk arah yang tergantung pada langit-langit.

Kenapa tidak menghubungiku sejak tadi, hah?”

Merasa mengenal suara itu Yunho segera menolehkan kepalanya, ada beberapa orang berjas putih bersih sedang berlari tergesa, dibelakangnya beberapa suster mengikuti dengan wajah tegang. Yunho memandangi gerombolan itu untuk sesaat sebelum akhirnya kembali berjalan. Menemukan petugas keamanan akhirnya Yunho memutuskan untuk bertanya dimana letak ruangan yang sedang ditujunya.

❤❤❤

Akhir-akhir ini Yunho sering merokok padahal ia tidak merasa sebagai seorang perokok berat, mungkin dikarenakan belakangan ini pikirannya kalut seperti benang kusut yang sulit terurai. Menatap pemandangan malam kota Seoul yang tengah diguyur hujan dari balik jendela kaca sambil menikmati rokoknya memberikan sensasi tersendiri bagi Yunho. Yunho lebih memilih rokok sebagai pelariannya daripada minuman keras ataupun rumah bordil. Melirik jam dinding yang membisu di atas sana Yunho, meraih cangkir kopinya. Mengabaikan berkas-berkas yang harus diperiksa dan ditandatanganinya. Entahlah… Yunho malas melakukan apapun, hanya ingin berdiam diri ditemani sebungkus rokok dan secangkir kopi.

“Kalau boleh berandai-andai… akan seperti apa jadinya hidupku jikalau kau tidak meninggalkanku malam itu, Jae?” lirihnya pada udara hampa disekitarnya.

Yunho menandaskan puntung rokoknya, menyandarkan punggungnya pada punggung sofa, menyilangkan kakinya di atas meja, menengadah menatap langit-langit yang pucat –mengingatkannya pada kulit Jaejoong yang pucat namun indah, kulit yang pernah ia ukir dengan jejak-jejak cinta diatas permukan lembut lagi kenyalnya.

“Sialan!” Yunho mengumpat, “Kau benar-benar brengsek! Membuatku ingin membunuhmu!” Yunho menutup kedua kelopak mata musangnya dengan nelangsa. Membiarkan air mata kurang ajar itu merembes mengalir membasahi wajah tampannya. Untuk sekali ini Yunho ingin menyerah pada perasaannya yang sedang melemah.

❤❤❤

Terlalu sering mengabaikan makan, menggantinya dengan kopi dan rokok membuat Yunho terpaksa dilarikan ke rumah sakit karena masalah pada lambungnya. Tadi, ia merintih kesakitan sebelum pingsan pada saat sedang memimpin rapat. Beruntung bawahannya segera melarikannya ke rumah sakit agar segera mendapatkan pertolongan.

“Aku menginap di sini semalam.” Ucap Jaejoong yang tengah sibuk membolak-balikkan halaman sebuah buku tebal. “Ini café milik keluarga Yoochun.” Tanpa mengalihkan perhatiannya dari buku, Jaejoong menunjuk arah kasir, Yunho mengikuti petunjuk Jaejoong. Dibalik meja kasir sudah berdiri Park Yoochun dengan senyum khasnya, tangannya melambai menyalami Yunho.

“Kalian seperti sepasang kekasih.” Komentar Yunho.

“Aku sudah memesan camilan dan minuman untuk kita berdua tetapi akan diantar nanti tepat pukul 9 karena sebelumnya kita berjanji untuk bertemu pukul 9.”

“Kau yang menyuruh bukan kita yang berjanji.”

“… soal aku dan Yoochun yang mirip sepasang kekasih… kalaupun aku mau mengencani seorang namja aku akan mencari namja yang jauh lebih hebat daripada diriku sendiri.” Ucap Jaejoong.

Yunho membuka matanya perlahan. Potongan kenangan masa lalu menyebalkan itu muncul sebagai refleksi mimpi –mimpi indah yang berwujud dan dirasa buruk bagi Yunho. Matanya melirik suster yang sedang memeriksa keadaannya, selang infuse yang tergantung, serta ruangan pucat membosankan yang ia yakini dapat membunuhnya perlahan-lahan.

“Sudah bangun, Tuan? Sebentar lagi dokter akan datang untuk memeriksa perkembangan kondisi anda.” Suster itu tersenyum ramah.

Yunho diam saja. Wajahnya ia palingkan pada kaca jendela yang berembun, di luar sedang gerimis rupanya.

“Asam lambungnya tinggi? Bukankah dokter jaga UGD mengatakan ia mengalami tukak lambung yang mengarah pada peptik?” tanya sang dokter yang baru masuk ruang rawat Yunho. “Mana hasil labnya?”

“Belum keluar, Dok.” Jawab sang suster sambil menyerahkan rekap medis Yunho pada sang dokter.

“Tuan Jung… Yunho? Tuan Jung Yunho?”

Dengan malas Yunho Menolehkan kepalannya, ia malas berurusan dengan dokter apalagi dokter yang sekarang berdiri di dekatnya, membuat matanya terbelalak dan jantungnya berlompatan hendak keluar dari tempatnya berada. Yunho tergagap, ingin menyebut nama dokter itu namun suaranya tak mau keluar.

“Untuk sementara anda tidak boleh minum kopi dulu, Pak! Kurangi makanan yang terlalu asam dan pedas.” Perintah si dokter, “Kalau anda menuruti saranku dan minum obat tepat waktu, anda akan segera sembuh.”

Yunho hanya bergeming (diam saja) ketika sang dokter berlalu dari ruang perawatannya diikuti oleh para suster.

❤❤❤

“Suster, kenapa dokter Kim yang awalnya menanganiku digantikan oleh dokter Han?” tanya Yunho ketika suster melepas peralatan medis yang sebelumnya menempel pada tubuhnya. Yunho sudah dirawat di rumah sakit selama 5 hari dan hari ini adalah hari terakhirnya.

Sang suster hanya tersenyum simpul, “Dokter Kim adalah salah satu dokter yang bertugas menangani penyakit dalam, ada pasien lain yang terkena penyakit lebih serius daripada tukak lambung yang anda alami Tuan Jung. Karena itu kepala bagian mengganti dokter yang menangani anda.” Jawab sang suster.

Yunho menggumamkan sesuatu sebelum bicara lebih lanjut. “Bisakah aku mendapatkan kontak dokter Kim?”

“Itu adalah informasi rahasia, Tuan Jung.” Sang suster berujar. “Anda tidak bisa mendapatkannya melalui pihak rumah sakit karena itu adalah informasi rahasia. Tetapi bila anda ingin mengetahui kontak dokter Kim, anda bisa menemuinya dan meminta langsung padanya.”

Yunho berdecak kecewa.

Usai membereskan sampah medis di kamar Yunho, sang suster akhirnya pergi meninggalkan ruang rawat Yunho.

“Ketika aku sudah menemukanmu entah mengapa kau sulit untuk ku pegang. Seperti belut yang gesit dan licin….” Gumam Yunho putus asa.

❤❤❤

Keluar dari rumah sakit Yunho langsung pergi ke kantor untuk memeriksa keadaan kantornya sekaligus untuk mengecek ada tidak berkas atau laporan yang harus ia tanda tangani. Rapat-rapat yang sedianya bisa terselenggara lebih awal terpaksa dicancel karena Yunho masuk rumah sakit. Sekertarisnya pastilah bekerja keras untuk hal itu. Yunho berjanji akan memberikan sedikit bonus pada sekertaris dan bawahannya yang sudah bekerja dengan giat dan tekun.

“Kenapa langsung ke kantor? Istirahat saja dulu di rumah!”

“Harusnya kau memikirkan kesehatanmu bukan kantor!”

“Urusan kantor bisa dipending tetapi urusan kesehatan tidak bisa dipending, Direktur Jung!”

“Sebaiknya cuti saja dulu sampai kondisimu benar-benar stabil, Yunho!”

Itu adalah beberapa komentar yang dikeluarkan oleh rekan kerja dan bawahan Yunho dikantor begitu melihat kedatangan direktur muda itu. Bahkan ayahnya –presiden direktur, menyuruhnya untuk pulang dan beristirahat sampai kondisinya benar-benar fit. Namun Yunho menanggapinya dengan enteng. Istirahat di rumah sama saja cari mati! Yunho akan teringat pada Jaejoong dan berandai-andai hubungan mereka bisa lebih baik –Yunho masih berharap Jaejoong kembali kesisinya walaupun Jaejoong membawa bara api dendam untuk membakarnya, akan Yunho terima dengan tangan terbuka asalkan Jaejoong bersamanya.

“Direktur, ada undangan dari direktur Tan –Big East Company. Putri bungsunya akan bertunangan akhir pekan nanti. Undangannya saya letakkan di atas meja kerja anda.” Ucap sang sekertaris. Yunho tidak pernah memiliki sekertaris muda yang berpenampilan seksi lagi hobi bersolek. Yunho lebih suka sekertaris yang sudah menikah ataupun berkeluarga karena menurutnya orang yang sudah berkeluarga lebih dapat bertanggung jawab dan mengatur waktu dengan baik.

“Putri Bungsunya? Jung Suyeon –Jessica?” gumam Yunho. “Akhirnya dia menemukan namja yang berhasil menjinakkannya juga.” Yunho kemudian berjalan memasuki ruang kerjanya yang sejak 5 hari lalu terpaksa ia tinggalkan.

Tidak ada yang berubah kecuali tumpukan berkas yang menggunung di atas meja kerjanya. Ruangannya masih bersih dan wangi sama seperti terakhir ia tinggalkan. Yunho berjalan perlahan menghampiri meja kerjanya, mengusap permukaannya yang terasa lembut namun keras itu sebelum duduk di atas kursi kerjanya yang empuk. Yunho kemudian mengambil undangan berwarna merah maroon berpita emas yang terlihat sangat mewah untuk sebuah undangan pertunangan itu kemudian membacanya. Mata setajam musangnya yang terbingkai kelopak mata sipit itu terbelalak, napasnya memberat, keringat mulai merembes membasahi pori-pori kulitnya. Bukan… penyakitnya tidak kambuh lagi. Bukan itu yang membuat Yunho bereaksi seperti itu melainkan nama yang tercantum dalam undangan pertunangan yang sedang ia peganglah yang menjadi alasannya. Di samping nama Jung Suyeon tercetak dengan rapi nama orang yang membuat hatinya kacau, Kim Jaejoong. Dengan kasar Yunho segera melempar undangan itu. Yunho linglung dan bingung seolah-olah otak dan pikirannya dicabut paksa dari tubuhnya.

Jaejoong… Kim Jaejoongnya akan bertunangan dengan Suyeon –Jessica, teman SMAnya sebelum ia pindah ke SMA Jaejoong karena kesalahan yang sudah ia perbuat pada saudara kembar Jaejoong? Yunho menggebrak meja kerjanya kasar sebelum menjambak rambutnya sendiri.

Tunggu dulu! Kim Jaejoong… yang memiliki nama itu bukan hanya seorang saja. Yunho harus memastikannya dengan mata kepalanya sendiri siapa sosok Kim Jaejoong yang akan bertunangan dengan Jessica, akhir pekan nanti…

❤❤❤

Akhirnya Yunho datang juga kesebuah private garden party, pesta pertunangan teman semasa SMAnya dulu dengan sosok yang namanya membuat Yunho gusar meskipun belum tentu siempunya nama sama dengan sosok yang Yunho maksud.

Yunho bisa melihat wajah bahagia Jessica yang memakai gaun berwarna salem sebatas lutut, membuatnya terlihat cantik dan anggun. Tetapi tetap, dimata Yunho sosok Jessica tetaplah Jessica yang super cerewet dan menyebalkan. Jikalau teringat kejahilan yang pernah dirinya dan Jessica lakukan dulu –mengunci teman sekelas mereka di perpustakaan misalnya membuat Yunho tersenyum geli.

Yah Jung! Kau datang juga?” Jessica berjalan menghampiri Yunho dan menyalaminya selayaknya teman lama yang sudah tidak bertemu bertahun-tahun, mereka memang sudah tidak bertemu semenjak Yunho pindah sekolah.

“Kau tidak berubah! Masih sebrutal dulu…” gurau Yunho.

Yah! Jangan katakan itu pada calon suamiku, arraso?! Kalau kau berani buka mulut soal masa remaja kita akan ku cincang kau!” Jessica tertawa pelan. “Aku sedikit terkejut ketika Appaku menuliskan namamu dalam daftar nama undangan. Kau benar-benar seorang direktur ya sekarang?”

Yunho hanya tersenyum simpul mendengar celoteh Jessica. “Aku tidak melihat tunanganmu.”

“Ah, dia bukan dari kalangan bisnis. Dia adalah masyarakat medis. Kau tahu, dia lebih sibuk daripada semestinya.” Ucap Jessica. Kepalanya menoleh mencari-cari sosok tunangannya yang baru disadarinya menghilang entah kemana. “Mungkin dia sedang mengurus adik-adiknya yang masih kecil. Dia sudah tidak punya orang tua. Ayahnya seorang dokter gigi, ada pasien yang menderita HIV namun saat datang untuk berobat ia tidak mengatakan perihal virus berbahaya yang bersemayam dalam dirinya. Ayahnya terkontaminasi virus itu dan pada akhirnya meninggal. Sedangkan ibunya meninggal setelah melahirkan adik-adiknya.” Wajah Jessica berubah sedikit sendu.

“Dia pasti orang yang hebat! Bisa mengasuh adiknya sendiri. Dia juga pasti orang yang luar biasa karena bisa menjinakkan rubah sepertimu.”

Yah!” Jessica meninju pelan bahu kiri Yunho. “Itu dia….”

Yunho segera menolehkan kepalanya mengikuti arah pandang Jessica. Tubuhnya membatu melihat sosok yang sedang menggandeng sepasang anak kembar –salah satunya pernah Yunho lihat di rumah sakit ketika sedang menjenguk bawahannya. Jantungnya berpacu cepat seolah ada hal menakutkan yang sedang mengejarnya meminta pertanggungjawaban.

“Kami bertemu ketika berada di rumah sakit Amerika. Saat itu dia masih dokter magang sementara aku sedang menjenguk temanku yang mengalami kecelakaan. Sekarang dia sudah bekerja disalah satu rumah sakit disini, dia juga sedang mengambil program S3 disalah satu universitas. Benar-benar orang yang sibuk, kan? Kami bahkan jarang berkencan.” Gerutu Jessica, ada nada bahagia dalam setiap kata-kata yang ia lontarkan.

Telinga Yunho menuli, ia tidak bisa mendengar apa yang Jessica katakan. Matanya terpaku menatap sosok yang berjalan menuju arahnya –arah Jessica lebih tepatnya. Jantungnya seakan meledak ketika sosok itu melewatinya begitu saja seolah-olah dirinya adalah manusia transparan.

“Dari mana saja? Aku mencarimu sejak tadi.” Nada suara Jessica berubah sedikit manja.

“Hyunno kebelet pipis tadi.”

Jessica mengusap wajah kedua anak kembar itu dan tersenyum sumpringah, “Kalian tidak mau mengambil ice cream? Mintalah pada ahjumma di sana ya….”

Kedua anak kembar itu segera berlari menuju meja yang diatasnya terdapat banyak cup berisi ice cream aneka rasa.

“Ku kenalkan pada temanku….” Jessica menggandeng lengan kanan tunangannya, mendekati Yunho. “Namanya Jung Yunho, teman SMAku dulu sekaligus partner kriminalku. Yunho… ini dia tunanganku, Kim Jaejoong….”

❤❤❤

❤❤❤

TBC

❤❤❤

❤❤❤

Yuuki ngawur soal istilah medis di atas ya. Entah benar atau ga😀 V. Kalau Yuuki salah menggunakan istilah medisnya monggo yang tahu boleh mengoreksi🙂

Tetap jaga kesehatan❤

❤❤❤

Thursday, March 24, 2016

6:57:59 PM

NaraYuuki

Devil Trapped

Tittle                : Devil Trapped

Writer               : NaraYuuki

Genre               : JUJUR YUUKI GA TAHU T_T (yang tahu monggo kasih tahu Yuuki)

Rate                 : T

Cast                             : Jung Yunho, Kim Jaejoong

Disclaimer:      : They are not mine but this story is mine, NaraYuuki

Warning           : Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran. Tanpa Edit jadi mungkin sedikit amburadul ==” Penceritaan ngebut. Saran dan masukkan diterima. Tidak menerima Bash dan Flamer dalam bentuk apapun!

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

PASTIKAN BACA WARNINGNYA!

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

Devil Trapped NaraYuuki

Cerita ini sedikit, ah… mungkin juga cukup banyak berkaitan dengan hidupku. Tentang dua orang ilmuan yang tiba-tiba saja menghilang dari pondok penelitian mereka. Cerita ini ku dengar dari para tetua.

Ceritanya bermula 20 tahun yang lalu ketika dua orang ilmuan datang ke tanah suku Patola, dimana penduduknya masih begitu primitif dan menjunjung tingggi tradisi, dimana hutan dan penghuninya masih belum terjamah oleh modernisasi, yang mana penduduknya masih mempercayai dongeng pengantar tidur mereka tentang keberadaan ular monster yang sering mendatangkan mimpi buruk bagi anak-anak.

Dua ilmuan itu bernama Jung Yunho dan Kim Jaejoong. Mereka meneliti kehidupan ular-ular yang hidup di tanah Patola. Mulai dari ular Patola, ular sanca, ular sawa, ular sendok sampai tedung cobra. Tanah lembab hutan hujan memang sangat cocok menjadi habitat hidup binatang melata berdarah dingin itu. Kedua ilmuan itu membawa banyak peralatan untuk meneliti kehidupan para ular, mereka bahkan membangun sebuah pondok sederhana yang selain mereka gunakan sebagai tempat tinggal juga digunakan sebagai tempat menelitian –laboratorium mini. Pondok itu dibangun satu kilo meter didalam hutan dari pemukiman para penduduk setempat. Setiap 2-3 hari sekali mereka keluar dari pondok untuk membeli keperluan makanan, obat-obatan dan pakaian di desa terdekat atau sengaja ke kota.

Selama dua tahun penelitian banyak informasi yang sudah mereka dapatkan yang belum pernah didapatkan oleh ilmuan-ilmuan lain. Selama 2 tahun itu pula keduanya bisa hidup berdampingan dengan penduduk setempat. Tidak jarang mereka ikut diundang jikalau ada acara atau upacara adat. Semua berjalan selaras dan damai hingga suatu ketika seorang penduduk ditemukan tidak bernyawa dipinggir sungai besar dengan keadaan mengenaskan, tubuhnya tercabik-cabik, isi perutnya sebagian keluar, darah membasahi tanah disekitarnya.

“Apakah ada binatang liar seperti harimau dan beruang yang tinggal dihutan?” tanya Yunho ketika menghadiri pemakaman penduduk yang menjadi korban. “Kenapa selama ini kami tidak mengetahuinya?”

“Tidak ada. Ratusan tahun lalu harimau dan beruang sudah diusir pergi dari sini oleh nenek moyang suku Patola.” Jawab kepala suku.

“Apakah ini ada kaitannya dengan ular monster –sang naga melata?” tanya salah seorang penduduk.

“Ular monster?” gumam Jaejoong. Ditatapnya Yunho dengan mata indahnya. Yunho hanya mengangkat bahunya, tidak mengerti apa atau mahluk seperti apa ular monster –naga melata yang dimaksud.

“Itu adalah cerita turun temurun suku kami. Sejak ribuan tahun yang lalu di tanah Patola ini dikabarkan ada sebuah mahluk primitif yang hidup dalam kegelapan. Kami menyebutnya ular monster –naga melata karena konon ia adalah mahluk berbentuk ular dengan ukuran sangat besar.” Cerita sang kepala suku. “Sampai saat ini tidak ada yang pernah melihatnya. Namun kami percaya disuatu tempat dikedalaman hutan, ditanah terlarang ia hidup menyendiri.”

Yunho dan Jaejoong hanya saling pandang. Rasa penasaran dan tertarik mengenai mahluk yang dimaksud segera merasuki jiwa dan pikiran keduanya.

“Sebaiknya kalian menginap dulu di sini!” usul sang kepala suku, “Malam ini malam bulan baru. Konon dalam dongeng sang naga melata akan muncul untuk melepaskan dahaganya.”

“Dia akan minum di sungai?” tanya Jaejoong.

“Dia akan memangsa manusia yang tersesat didalam hutan untuk diminum darahnya sampai habis.” Jawab sang kepala suku.

“Mirip vampire?” gumam Jaejoong.

❤❤❤

Arang api unggun yang dinyalakan mulai padam, asap tipis masih mengepul. Kerlip bintang dilangit terlihat menggoda bagaikan seerbuk gula diatas kue donat hangat. Suara nyanyian malam dari para binatang nocturnal yang biasanya semarak memecah keheningan, hari ini sama sekali tidak terdengar. Bahkan jangkrik pun seolah sedang bersembunyi ditempat persembunyiannya yang nyaman. Dalam keheningan yang takzim namun tidak normal itu, sesuatu berjalan diam-diam, mengendap-endap mendekati pemukiman penduduk. Warna kulitnya yang segelap malam membuatnya tersamarkan diantara gelapnya bayangan pepohonan. Langkahnya pelan, kerisik ketika ia bergesekan dengan dedaunan hutan yang dingin pun terdengar begitu lembut seperti bisikan dewi hutan yang menentramkan namun menyimpan bahaya yang tidak terelakan. Desis aneh yang ia keluarkan seolah mengancam mahluk lain yang coba mendekatinya. Ia terus mendekati pemukiman, mata merahnya menyala dalam kegelapan. Ekornya bergerak mencambuk-cambuk permukaan tanah, tetapi tidak ada yang terbangun akibat suara yang ditimbulkannya seolah-olah ia mempunyai sihir. Sihir untuk menidurkan siapapun yang diinginkannya.

❤❤❤

“Astaga!”

“Apa yang sebenarnya terjadi?”

“Siapa pelaku keji yang melakukannya?”

Yunho dan Jaejoong yang awalnya masih terlelap di rumah kepala suku bergegas pergi keluar untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi hingga membuat penduduk terdengar begitu panik dan gaduh. Banyak warga yang bergerombol dihalaman depan rumah salah seorang warga.

“Apa yang terjadi?” tanya Yunho.

“Sapi dan kerbau Rasus mati.” Jawab salah seorang warga.

Yunho segera berlari menuju kandang yang ada di belakang rumah untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Matanya membulat tidak percaya ketika melihat 10 ekor sapi dewasa dan 5 ekorkerbau dewasa mati kering. Tubuh hewan ternak itu hanya tinggal tulang dan kulit saja. Padahal setahu Yunho hewan ternak Rasus adalah yang paling gemuk diantara penduduk desa. Yunho merinding melihatnya.

“Hutan akan sedikit berbahaya mulai sekarang. Berhati-hatilah! Jangan lupa bawa senjata dalam keadaan apapun untuk berjaga-jaga!” sang kepala suku menepuk-nepuk bahu Yunho sebelum pergi meninggalkan kandang tersebut diikuti oleh beberapa tetua yang kesemuanya memasang wajah cemas.

“Apakah ini ada hubungannya dengan ular monster –naga melata itu?” tanya Jaejoong yang entah sejak kapan sudah berdiri di samping Yunho.

“Kita adalah ilmuan. Tugas kita mencari tahu sebenarnya binatang apa yang sudah menyebabkan kekacauan disini!” timpal Yunho sambil melemparkan senyum manis pada Jaejoong.

❤❤❤

 

“Hei Yun, mari kita makan dulu. Ini sudah larut. Kita butuh tidur juga.” Ucap Jaejoong.

Yunho yang sedang sibuk dengan kertas-kertas hasil penelitian mereka selama ini bergumam sekenanya, memasukkan kertas-kertas itu ke tempatnya semula sebelum berjalan menghampiri Jaejoong. “Apa menu kita malam ini?” tanyanya yang langsung duduk di atas kursi kayu.

“Sup kimchi dan telur mata sapi.” Jawab Jaejoong. “Bahan makanan kita sudah habis, besok aku akan pergi ke desa untuk berbelanja.”

“Akan ku temani.” Yunho menerima semangkuk nasi panas yang diulurkan oleh Jaejoong. “Ada yang aneh disekitar sini, suara burung berkicau, suara jangkrik, suara katak bahkan suara ngengat pun tidak trsengar sama sekali sejak beberapa hari yang lalu.”

“Mungkin karena sebentar lagi peralihan musim.” Sahut Jaejoong sekenanya.

“Kita sudah berada disini selama 2 tahun lebih. Perubahan musim tidak membuat para binatang eggan bersuara.” Komentar Yunho.

Jaejoong yang sedang menuang black tea ke dalam mug hanya mengangkat bahunya tak acuh. “Apa kau berpikir ini ada kaitannya dengan ular monster itu?”

“Entahlah… keberadaannya belum bisa dilacak. Entah hewan itu nyata atau hanya dongeng belaka tetapi kejadian beberapa minggu terakhir cukup membuat resah. Matinya binatang ternak penduduk desa secara tidak wajar benar-benar membuat penasaran.”

Jaejoong mengangguk setuju.

“Terlebih ketika kita secara tidak sengaja menemukan gerombolan serigala yang mati mengenaskan sama seperti binatang ternak penduduk. Siapapun pelakunya pasti sesuatu –binatang yang sangat besar dan kuat.”

“Apa yang akan kita lakukan seandainya ular monster itu benar-benar ada dan muncul disini?” tanya Jaejoong sedikit resah.

“Kita akan minta bantuan untuk menangkapnya agar tidak meresahkan penduduk dan membahayakan ekosistem hutan.”

❤❤❤

Malam itu tanah Patola diguyur hujan lebat, gemuruh suara angin dan petir terdengar saling bersahutan menimbulkan irama mencekam tersendiri. Yunho dan Jaejoong sudah sering menghadapi badai ditanah Patola namun kali ini –malam ini suasananya sedikit berbeda. Keduanya tidak bisa terlelap meskipun jam dinding yang tergantung pada dinding kamar mereka sudah menunjukkan nyaris tengah malam. Yunho dan Jaejoong masih terjaga di atas tempat tidur masing-masing dengan pikiran yang kalut. Entah apa pula yang ada dibenak mereka.

Krosak! Krosak!

Brak! Bruk!

Dengan mata tegang, Yunho dan Jaejoong saling pandang dengan waspada. Keringat dingin merembes membasahi seragam tidur mereka. Jantung mereka memacu cepat tanpa diminta.

“Yun…”

“Ambil pistolmu, Jae!” perintah Yunho. Jaejoong adalah putra seorang pengusaha kaya raya, sejak kecil ia hobi menembak dan beberapa kali menjuarai kejuaraan menembak.

Sedikit panik dan tergesa Jaejoong membuka laci yang berada diantara tempat tidurnya dan tempat tidur Yunho, mengambil sebuah pistol dari dalamnya dan segera mengisinya dengan peluru. Sementara Yunho sendiri sudah mengambil senapan laras panjangnya yang sengaja ia gantung pada dinding di atas tempat tidurnya.

“Apakah perampok?” tanya Jaejoong.

“Akan dengan mudah kita melumpuhkan seandainya yang datang berkunjung adalah perampok. Aku takut yang mengunjungi kita malam ini bukanlah manusia.” Ucap Yunho dengan wajah sedikit pucat.

Jaejoong menelan ludah susah payah.

“Aku akan berjalan didepanmu, Jae! Jika kemungkinan kita gagal menghadapi tamu kita, segeralah lari!” Yunho berjalan mendahului Jaejoong, sedikit ragu namun pada akhirnya ia membuka pintu yang menghubungkann kamar mereka dengan laboratorium sederhana mereka.

Klek!

Untuk sepersekian detik Yunho dan Jaejoong membatu diambang pintu kamar melihat sosok itu. Tamu mereka sedang menggulung tubuh besar lagi panjangnya. Matanya yang merah menatap tajam keduanya, lidah bercabangnya menjulur berkali-kali seolah-olah sedang memperingatkan dua ilmuan itu pada bahaya yang kini tepat berada dihadapan mereka. Kulit bersisiknya yang segelap malam membuatnya terlihat seperti iblis.

Dor! Dor!

“Yunho!” jerit Jaejoong menyadarkan Yunho. Sama seperti yang tengah Jaejoong lakukan, Yunho pun mengarahkan moncong senapan laras panjangnya pada mahluk mengerikan itu, lantas menarik pelatuknya.

Malam itu… ditengah guyuran hutan serta suara angin yang menderu dan jeritan petir yang bersahut-sahutan, terdengar pula suara peluru dilesakkan, terdengar pula suara desisan mengancam serta teriakan ketakutan sebelum hening yang khidmat.

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

Sudah hampir dua minggu para penduduk tidak melihat keberadaan Yunho dan Jaejoong, padahal biasanya 3-5 hari sekali mereka akan pergi ke desa untuk membeli keperluan mereka sehari-hari mulai dari sayur, daging, telur sampai peralatan mandi dan obat-obatan tradisional –jamu atau ramuan obat masyarakat setempat. Untuk itulah kepala suku mengajak beberapa warga terutama laki-laki dewasa untuk melihat keadaan pondok yang dua ilmuan itu tempati. Hari agak siang ketika mereka berangkat menembus rerimbunan pohon hutan, namun teriknya surya tidak bisa mereka rasakan dikarenakan atap hutan yang menaungi mereka sangat lebat.

Pondok itu tampak dingin dan tidak bersahabat bila dilihat dari kejauhan. Beberapa kali sang kepala suku mengetuk pintu pondok namun tidak ada sahutan. Ia memerintahkan dua orang warga untuk mendobrak pintu. Setelah pintu berhasil terbuka –secara paksa− barulah mereka mulai menyadari apa yang telah terjadi. Pondok itu dalam keadaan berantakan, meja dan kursi kayu tergeletak di atas lantai dalam kondisi tidak wajar, kertas dan berkas-berkas berserakan di lantai. Komputer dan sebuah benda menyerupai televisi kecil hancur. Lemari kayu tempat menyimpan tabung-tabung penelitian roboh, isinya tercecer dilantai. Jendela kaca pecah, gorden yang menutupinya robek sebagian. Terdapat bercak ceceran darah pada lantai dan dinding yang sudah menghitam dan kering.

Dengan hati-hati sang kepala suku beserta beberapa warga yang ikut bersamanya memeriksa isi pondok. Aneh! Mereka tidak menemukan mayat. Biilik kamar yang masih tertutup rapat segera dibuka untuk melihat siapa tahu dua ilmuan itu masih hidup namun terluka parah dan sekarang berada didalam kamar untuk beristirahat –itu harapan semu mereka− tetapi kenyataannya kamar itu kosong ketika mereka memasukinya. Hanya ada sebuah buntalan putih diatas salah satu tempat tidur. Kepala suku memeriksanya, seorang bayi sedang terlelap dalam bungkus kain sutra putih gading. Diangkatanya bayi itu. Wajah bayi itu mengingatkannya pada dua ilmuan yang menghilang entah kemana. Pada paha sebelah kanannya terdapat tanda lahir menyerupai lekuk ular.

Hening…

Angin yang masuh dari celah fentilasi mengibarkan jas putih yang biasa Jaejoong dan Yunho pakai.

“Kita akan kembali ke desa bersama anak ini. Sampai Jung Yunho dan Kim Jaejoong ditemukan tidak ada satupun warga yang boleh mendekati pondok ini sendirian tanpa senjata!” ucap sang kepala suku.

❤❤❤

Semenjak hari itu terdengar suara desisan aneh disekitar pondok yang terbengkalai itu. Kadang-kadang sekelebatan terlihat mahluk –binatang berkulit hitam bermata merah melata disekitar pondok. Sosok yang sampai sekarang tidak diketahui mahluk apa itu….

“Dan aku diberi nama Jung Yunho. Aku diangkat cucu oleh Kepala suku Patola. Setiap kali sosok itu mendekati desa aku akan merasakan kehadirannya. Desisan aneh itu selalu terdengar olehku. Beberapa kali kami –aku dan penduduk desa hampir berhasil menangkapnya. Sayangnya ia terlalu gesit bila malam hari. Namun aku yakin suatu saat mahluk itu pasti akan tertangkap.”

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

Friday, April 15, 2016

7:15:29 PM

NaraYuuki