Perfect Doll

Selalu ada luka yang tersisa dalam setiap peperangan. Selalu ada yang tersakiti dalam setiap kemenangan. Selalu ada air mata dalam setiap tetes kebahagiaan. Selalu ada buah busuk dalam sebuah keluarga yang sempurna. Selalu…. Selalu seperti itu dan memang harus seperti itu. Bukankah tidak adil bila yang busuk selalu busuk? Harus ada satu yang baik dalam sekeranjang buah busuk dan harus ada satu yang busuk dalam sekeranjang buah bagus. Memang begitulah….

“Tunggu! Berhenti! Aku bilang tunggu aku! Violleta Herschell Corall Runa Allarice, berhenti kataku!” gadis berambut cokelat kemerahaan (bata) dengan mata keemasan itu berlari sepanjang lorong sambil mengangkat gaun indah yang dikenakannya. Sepatu flat yang ia pakai berdecit-decit ketika menyentuh permukaan lantai marmer. Beberapa meter dihadapannya berdiri –berhenti tiba-tiba− seorang gadis seusianya. Rambut gadis itu hitam legam serupa arang, warna matanya merah menyala serupa bara api, mengancam namun menyimpan sebuah kesedihan dan rahasia dibaliknya. “Aku ingin memberitahumu sesuatu, Runa. Kenapa kau malah lari?”

Gadis yang dipanggil Runa berbalik dan menatap gadis berambut bata itu. Mata merahnya menatap dalam-dalam mata keemasan yang begitu dipuja oleh para lelaki seusia mereka itu tanpa berkedip. “Sudah ku katakan padamu pula bahwa aku harus segera menemui Shine, Luna.”

Axcella Luna Margareth Whilant itu menghela napas panjang. Susah memang bila berurusan dengan sepupu cantiknya yang sangat terkenal dengan sikap keras kepalanya itu. “Hal ini jauh lebih penting daripada pelayanmu yang bernama Shine, Runa! Kau harus segera ikut denganku untuk menghadap kakek!”

“Apa yang ingin kakek sampaikan?” tanya Runa. “Soal pertunanganku dengan Luis? Sudah ku katakan berulang kali pada kakek bahwa aku tidak mau bertunangan dengan Luis. Dia adalah anak dari adik perempuan ayahku. Kami masih saudara.”

“Runa…”

“Kalau kau mau, ambillah Luis untukmu.” Usai berkata seperti itu gadis bernama Runa itu melangkahkan kakinya dengan sangat angkuh. Meninggalkan sepupunya termangu sendirian.

Tanpa Runa tahu, mata indah berwarna keemasan itu mengalirkan air mata. Sepenuh hati Luna begitu mendambakan sosok pemuda bernama Luis. Hatinya yang semula berbunga-bunga seketika berubah menjadi kelabu ketika tahu bahwa sepupunya yang dipilih oleh sang kakek untuk dijodohkan dengan Luis, putra sang jenderal guna memperkuat pemerintahan yang sempat goyah akibat kudeta yang dilakukan oleh salah seorang bangsawan kaya raya. Hal itu adalah kisah sepuluh tahun yang lalu dan kudeta itu berhasil digagalkan dengan menghukum mati seluruh bangsawan yang terlibat didalamnya.

“Kau sangat beruntung Runa… andai kau tahu itu….” Gumam Runa pada udara hampa yang menertawakan nasibnya.

&&&

Ketika berjalan melewati taman, Luna tertegun menatap sepasang pemuda yang terlihat sedang berbicara serius. Salah satunya memegang pedang –bukan untuk mengancam melainkan lebih terlihat seperti sedang meminta pendapat temannya mengenai pedang yang sedang dipegangnya. Salah satu pemuda itu adalah Luis, calon tunangan Runa –jika sepupunya itu berubah pikiran dan menerima keputusan kakek mereka. Luis bukanlah pemuda berambut perak dengan mata hijau zambrud yang terlihat sangat tampan itu, bukan. Sosok pemilik rambut hitam kecokelatan dengan mata senada itulah Luis, pemuda dengan garis rahang tegas dan mata tajam namun menenangkan, ialah Keant Luis. Pemuda impian Luna. Calon tunangan Runa.

Mengabaikan harga dirinya sebagai seorang perempuan, Luna berjalan menuju arah kedua pemuda yang sedang berdiskusi itu. “Kurasa Runa sedang mencarimu, Shine.”

Senarai Cinta

Tittle                : Senarai Cinta

Writer               : NaraYuuki & Maarta

Disclamer        : Semua dalam cerita ini baik tokoh, karakter maupun plotnya adalah milik Yuuki. Ini cerita fiksi jadi bila ada persamaan cerita ini dengan dunia nyata itu bukanlah sebuah kesengajaan.

.

.

This is not a fanfiction.

Just another side of me.

.

.

.

.

Hidup itu tidak adil, bukan?

Begitulah….

Bila kau dilahirkan dari keluarga kurang mampu, kau akan kekurangan materi.

Tetapi bila kau dilahirkan dikeluarga kaya raya, kau akan menjadi sangat haus akan kasih sayang.

Ah….

Apakah itu adil?

Tidak?

Ya, ya…. Itu memang tidak adil. Lalu kenapa? Kau mau apa?

Protes pada Tuhan? Menghujat Tuhan? Atau mengakhiri hidupmu sendiri?

Meskipun terkadang hidup ini sangat memuakkan dan berat, cobalah menerimanya…. menerima dengan ikhlas segala yang kau miliki sebelum semuanya menghilang.

.

.

Suara kereta malam itu terdengar seperti sebuah irama yang sumbang dan menyakiti telinga siapa saja yang mendengarkan. Aih! Mau bagaimana lagi? Bukankah seperti itu suaranya? Bising yang kadang terdengar sangat miris. Tetapi itulah satu-satunya transportasi yang tersisa malam itu.

Sangat sunyi dan muram….

Terlebih bila gerbong itu hanya berisi beberapa orang saja.

Seorang kakek dan seorang nenek yang duduk di dekat pintu gerbong, seorang anak berseragam SMA yang tertidur. Seorang ibu yang sedang menimang bayinya serta seorang yang terlihat terhuyung-huyung hingga akhirnya terjatuh dan muntah-muntah.

Gadis cantik yang semula asyik membaca buku musiknya itu pun akhirnya melihat apa yang tengah terjadi di gerbong yang sedang di tumpanginya. Mata hitam jernihnya menatap seseorang yang tengah memuntahkan isi perutnya. Merasa tidak ada yang bersedia membantu orang tersebut, Elis nama gadis itu akhirnya memutuskan untuk beranjak dari duduknya menghampiri orang yang kelihatannya seusia dirinya itu.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Elis. Diambilnya minyak angin dari dalam tasnya kemudian dibalurkan pada tengkuk orang itu.

“Pergi! Dasar perempuan tidak tahu malu!” maki orang itu terbata-bata.

“Eh? Apa maksudmu?” Elis mengerutkan keningnya binggung.

“Pergi!”

“Hei! Aku hanya ingin membantumu.” Pekik Elis saat orang yang hendak ditolongnya itu justru mendorongnya hingga jatuh terjengkang.

“Sudahlah, Nak. Pemuda itu sedang mabuk. Percuma saja kau membantunya.” Ucap Ibu-ibu yang masih sibuk menimang anaknya.

Elis berpikir sejenak kemudian menarik paksa lengan pemuda yang sepertinya seusia denganya itu, mendudukkannya di salah satu kursi kereta, membiarkannya terus merancau dan menghujan entah siapa yang dimaksudnya.

“Kalau ayah tidak berpesan untuk menolong sesama mungkin aku sudah mengganggapmu angin lalu. Ish!” Elis berjalan ke kursinya semula, mengambil sebungkus teh hangat yang dibelinya dari penjual kaki lima di stasiun sebelumnya, “Minumlah!” Elis menyodorkan tes hangat itu untuk pemuda aneh yang masih merancau sejak tadi itu.

“Enyah dariku! Dasar jalang! Menjijikkan!”

Elis menatap jengah pemuda yang bahkan untuk duduk saja tidak mampu itu. Entah apa yang sedang terjadi padanya hingga membuatnya terjerumus.

Dari dalam saku jaket yang dikenakan oleh pemuda itu terdengar sahutan nada dering ponsel yang terus-menerus berputar. Elis mengambil inisiatif untuk mengangkat telpon itu, siapa tahu itu telpon dari keluarga atau teman pemuda itu.

“Ha…”

“Gio, dimana kamu? Kenapa kamu belum pulang, hah? Jam berapa sekarang? Dasar anak tidak tahu diuntung! Cepat pulang! Jangan terus membuat malu keluarga!”

“Maaf….” sahut Elis sedikit takut.

“Huh? Siapa kamu? Dimana Gio? Bukankah ini ponsel Gio?”

“Maaf yang punya ponsel ini masih tidak sadarkan diri setelah tadi sempat muntah-muntah”

“Ck… dasar anak tidak tahu diuntung!”

“Maaf anda siapa?”

“Bisa tolong jaga anak tidak tahu diri itu sampai stasiun? Akan ada orang yang menjemputnya nanti.”

“Eh? Tapi?” Elis hanya bisa mengerjab-kerjabkan matanya saat telpon itu terputus begitu saja. Dengan tatapan iba dipandanginya pemuda yang sepertinya sudah terlelap itu, “Tadi itu siapa? Ayahmu? Pamanmu? Apa keluargamu yang membuatmu seperti ini?” gumam Elis.

Untuk sesaat, rasa iba itu menyelimuti hatinya. Pemuda yang tengah tidak sadarkan diri di sampingnya ini terlihat sedang memeram penderitaan hidup yang berat, padahal usianya masih muda.

Ah…. Elis benar-benar kasihan melihatnya.

.

.

“Kau sudah merasa lebih baik?” tanya Elis ketika sedang menemani pemuda yang tidak diketahui namanya itu di peron stasiun, “Habiskan teh hangat itu, badanmu akan terasa lebih nyaman dari sebelumnya.”

“Hei! Kau terlihat seperti gadis baik-baik.”

“Eh?”

“Kenapa mau menolongku? Kau tidak takut padaku?”

“Kenapa harus takut padamu?”

“Aku bisa saja menculikmu dan menjualmu.”

“Kau bisa melakukannya? Lakukanlah! Berdiri saja kau tidak mampu begitu.”

“Jangan mengajakku berdebat! Dasar gadis aneh!”

“Aku punya kaca.”

“Untuk apa?”

“Untuk mengaca, siapa yang lebih aneh antara kau dan aku.”

“Sudahlah! Aku malas berdebat denganmu.” Pemuda itu menutup kedua matanya perlahan sambil meminum teh hangatnya melalui sedotan berwarna hijau itu, “Kau… kalau kita bisa bertemu lagi, apa kau mau menjadi temanku?”

“Huh?”

“Ku rasa kau adalah calon teman yang baik untukku.”

Elis diam saja, tidak menyahut ucapan pemuda itu. Entahlah…. ada sedikit keraguan di hati kecilnya. Tetapi menolak permintaan orang yang ingin berteman bukankah sesuatu yang tidak sopan?

“Terlalu lama!” pemuda itu membuka kedua matanya, menatap Elis sejenak, “ Terima kasih untuk pertolonganmu.”

“Eh? Kau mau kemana? Jemputanmu…”

Pemuda itu menunjuk dengan dagunya seorang setengah baya yang berlari tergesa ke arah mereka, “Sampai jumpa lain waktu.” Ucapnya sebelum berjalan meninggalkan Elis sendirian di peron.

Ah…. Hari ini sepertinya menjadi hari yang panjang dan tidak terduga.

.

.

TBC

.

.

Saran, Kritik dan Masukkan….

Monggo….

.

.

Friday, May 09, 2014

7:36:04 PM

NaraYuuki & Marta

Meneruka Asa II

Dean baru saja memarkir motornya di teras depan kamar kosnya ketika salah seorang teman kosnya menghampirinya dengan sedikit tergesa.

“Aku tidak tahu apa masalahmu, De. Tetapi hari ini banyak sekali yang mencarimu kemari.” Pemuda yang hanya memakai kaus singklet dan celana kolor sebatas lutut itu menghampiri Dean.

“Mencariku?” tanya Dean. Dilepaskannya helm berwarna merah pudar dengan goresan dan tempelen stiker diseluruh permukaannya, “Siapa?”

“Seorang perempuan seksi nan binal bernama sarah.” Jawab pemuda itu dengan logat Jawanya.

Dean tidak berkomentar. Sarah, nama perempuan itu sangat Dean kenal dengan baik. Mantan pacarnya yang sampai sekarang tidak terima diputuskan sepihak oleh Dean. Dean enggan berurusan dengan perempuan binal seperti sarah setelah tahu kedok asli perempuan itu seperti apa.

“Dan…. Ada beberapa orang menyeramkan, mirip seperti rentenir yang juga datang mencarimu tadi.”

“Oh….” sahut Dean singkat. Pemuda jangkung itu segera turun dari motornya.

“Hei! Kau tidak hutang pada rentenir, kan? Atau… kau tidak mungkin membunuh anak orang, kan?”

“Tala, aku memang orang brengsek tapi aku tidak akan melakukan hal semacam itu.” ucap Dean yang kemudian ,erogoh saku celananya, mengambil kunci kamar kosnya yang selalu dibawa-bawanya kemanapun dirinya pergi.

“Bagus! Karena aku pun berpendapat seperti itu. Kau tidak akan mungkin hutang pada rentenir apalagi membunuh anak orang.” Tala mengangguk-anggukkan kepalanya cepat, “Hei De…. Apa si cantik itu tidak datang lagi kemari?” tanya Tala dengan logat kentalnya.

Dean yang sudah membuka pintu urung masuk kamarnya dan memilih menatap Tala dengan pandangan bingung, “Si cantik? Siapa?” tanyanya.

“Naira….” bisik Tala malu-malu.

Dean tertawa, “Kau menyukainya?”

“Jangan katakan kau lupa menyampaikan salamku padanya? Bukankah tadi pagi aku sudah memintamu untuk menyampaikan salamku padanya? Tidak bisakah kau membantu temanmu ini?”

“Maaf aku lupa.” Jawab Dean sekenanya, “Kakaknya sangat galak dan aku sedikit takut padanya.”

“Jangan bercanda. Kau adalah orang paling nekat yang pernah ku kenal.” Timpal Tala, “Katakan saja kalau kau sendiri juga mengincarnya.”

“Benar.” Dean mengangguk setuju, “Aku adalah sahabatnya sejak kecil sehingga tidak mudah bagiku untuk melepaskannya begitu saja. Bukankah sangat tidak adil bila kau yang tidak dikenalnya bisa mendekatinya dengan mudah?” goda Dean.

“Jangan mulai lagi!” kesal Tala.

Dean menepuk bahu Tala, “Mungkin besok dia akan datang kemari.”

“Sungguh?”

“Bisakah aku minta tolong padamu, Ta?” tanya Dean.

“Apa? Kalau kau menyuruhku membeli makanan lagi aku tidak mau.” Jawab Tala.

“Nanti bila ada yang mencariku katakan saja aku tidak ada. Aku ingin tidur sebentar.”

“Oh, oke….”

 

 

Dean merebahkan dirinya di atas kasur lantai. Kamar kos ukuran 4×5 meter itu cukup membuatnya puas. Setidaknya dirinya bisa beristirahat dengan tenang. Inilah pilihannya. Kabur dari rumah dan mencoba hidup mandiri sendiri walau sangat susah dan melelahkan. Bekerja paruh waktu sebagai pelayan kafe usai sekolah demi mempertahankan hidupnya. Kini, Dean sedang memikirkan masa depannya.

Masa depan seperti apa yang dia inginkan?

Masa depan seperti apa yang akan didapatkannya bila dirinya tetap seperti ini?

Dean memiringkan tubuhnya, mengamati sebuah foto yang berada di atas meja kecil di sudut kamar kosnya itu, foto adiknya yang sangat cantik. Adik yang selalu tersenyum dan memeluknya dengan manja, dulu….

Dean menjulurkan tangan kanannya, mengambil sebuah foto yang tepat berada di samping foto adiknya, mengamatinya sesaat sebelum mengulum senyuman. Foto dirinya dan Naira ketika mereka masih menjalankan MOS saat baru diterima menjadi murid SMU. Sekarang bahkan mereka hanya tinggal menghitung hari untuk melepas atribut siswa SMU mereka.

Perlahan Dean menelusuri bibir Naira dalam foto menggunakan ibu jarinya, baru akhir-akhir ini Dean menyadari bahwa sahabatnya sejak kecil itu memiliki senyum yang menawan senyum yang mamou membuat jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya.

“Apa yang harus ku lakukan, Nai? Aku bingung sekarang.” Gumam Dean sebelum memejamkan kedua mata coklat gelapnya, terlelap dalam kelelahannya.

 

 

“Tidak bisa! Kau tidak bisa masuk ke sana seenaknya! Ini adalah tempat kos laki-laki. Dean sedang pergi.” Tala mencoba menghalangi gadis cantik yang bersikeras ingin bertemu dengan Dean itu.

“Minggir!” gadis berkulit putih bersih yang rambutnya diikat asal-asalan itu terlihat sangat kesal karena sejak tadi Tala berusaha menghalanginya yang ingin bertemu Dean.

“Ku bilang….”

“Minggir!” bentak sang gadis yang sukses membungkam Tala. Melihat penghalangnya yang terdiam karena syock, gadis cantik itu segera berjalan menuju arah kamar kos Dean. Diliriknya motor Dean yang terparkir di teras, “Pergi katanya? Cih! Pembohong.”

“Hei tunggu! Kau tidak bisa masuk begitu saja.” Tala yang tersadar dari ketermanguannya.

Terlambat karena gadis cantik itu sudah berhasil membuka pintu kamar Dean.

“De, aku sudah menghalanginya masuk….” ucap Tala panik ketika mendapatkan tatapan tajam dari Dean.

“Naira punya duplikat kunci kamarku.” Ucap Dean dengan suara paraunya, “Tidak apa-apa. Kau boleh pergi. Dan maaf sudah merepotkanmu, Ta.”

“Kau yakin?” tanya Tala.

“Ya.” Jawab Dean.

“Oke….” Tala melirik Naira sekilas sebelum pergi meninggalkan keduanya.

“Dia menghalangiku.” Adu Naira.

“Aku yang memintanya.” Jawab Dean. Didudukkannya dirinya di atas kasur yang sudah acak-acakkan.

Naira menatap kesal Dean, “Kau tidak kerja?”

“Libur.”

“Bagus. Kalau begitu ayo jalan-jalan.”

“Kemana?”

“Nonton? Kemana saja asal  jangan menyuruhku pulang.”

“Bagaimana bila kita menyewa DVD saja? Kita nonton di sini dan ajak Tala juga. Dia ingin berkenalan denganmu.”

“Pemuda yang tadi?”

“Iya.”

“Dia sedikit kampungan.”

“Dia memang berasal dari kampung, tapi orangnya baik.”

“Kau jarang memuji orang.”

“Sama sepertimu.”Dean berdiri dan mengambil handuk berwarna hijau cerah yang tergantung pada tembok kamarnya, “Aku mandi dulu. Jangan ke luar! Tetap di sini saja!”

 

Meneruka Asa I

“Merokok tidak baik untuk kesehatanmu.”

“Lucu sekali…. Bos berandalan sepertimu menceramahiku? Apa kau sudah bertobat? Ah, para guru yang sok alim itu terlalu keras menghukummu rupanya hingga otakmu menjadi sedikit bermasalah….”

“Sayang sekali bila bibir merahmu itu menjadi kehitaman karena pengaruh tembakau. Itu mengurangi kualitas kecantikanmu.”

“Kau mau mati?” gadis berkulit putih itu melempar puntung rokoknya sembarangan, menatap pemuda jangkung yang berdiri tenang di sampingnya.

“Sebagai sahabatmu sejak kecil aku hanya mengingatkan kalau merokok itu tidak baik untuk kesehatanmu, Nai. Kau itu perempuan. Kelak kau akan menjadi seorang ibu.” Pemuda jangkung itu menyentil kening gadis berkulit putih yang masih memasang wajah masamnya.

“Sebagai satu-satunya sahabat yang kau punya, aku juga ingin mengingatkan bahwa berkelahi dan berbuat onar hanya akan merusak reputasimu, De!” balas gadis cantik itu. Poninya menari-nari tertiup angin yang terasa kering dan panas.

“Mau bagaimana lagi? Hanya itu yang bisa ku lakukan untuk melepas stress.” Keluh Dean, pemuda jangkung itu tersenyum. “Apa kau ingin melihat sahabatmu yang tampan ini masuk rumah sakit jiwa karena stress?”

“Itu lebih baik.”

“Kau sangat kejam…..”

“Aku bahkan pernah dibilang, ‘malaikat berhati iblis’. Dan lagi, sebagai sahabatku sejak kecil harusnya kau tahu kalau aku memang sangat kejam.”

“Kau ini cantik!”

“Hei!” Naira, gadis cantik berkulit putih dengan rambut hitam legam yang diikat asal itu mendelik kesal pada Dean.

“Bahkan adikku sangat iri padamu.” Dean tersenyum melihat wajah kesal Naira, sahabatnya sejak kecil yang sangat cantik.

“Kita punya cara sendiri untuk melepaskan stress kita. Kau dengan semua kenakalan dan aksi berandalanmu sedangkan aku dengan semua puntung rokok terkutuk itu.”

“Hm….” gumamDean.

Dean adalah siswa paling badung di sekolahnya. Memiliki catatan buruk paling banyak daripada siswa lain. Sering berkelahi, membantah guru, membolos, merusak sarana dan prasarana sekolah, serta memiliki rekor diskors paling banyak. Entah kenapa sampai sekarang dirinya belum dikeluarkan dari sekolah. Ah… mungkin karena dirinya pintar? Jujur saja, Dean bukan berasal dari keluarga kaya sehingga tidak mungkin menggunakan uang untuk mempertahankan dirinya di sekolah.

Naira adalah gadis yang dikenal sangat polos dan lugu, tetapisering kali membolos pada saat jam pelajaran untuk sekedar merokok di atap sekolah dengan alasan ingin ke UKS. Tipe pendiam yang sering membuat orang penasaran. Naira jarang bicara pada orang lain yang menurutnya menyebalkan, pengecualian bagi Dean. Orang-orang menganggap sikap Naira itu disebabkan karena gadis cantik itu merasa malu, padahal hal itu semata-mata karena Naira malas berurusan dengan orang-orang yang menurutnya tidak penting.

Naira adalah satu-satunya sahabat yang Dean punya, begitupun sebaliknya. Keduanya bertemu pertama kali ketika Naira pindah di rumah yang berada di sebelah rumah Dean. Mereka masuk TK yang sama, SD yang sama, SMP yang sama dan SMA yang sama walaupun kini Naira tidak lagi menjadi tetangga Dean.

Setengah tahun yang lalu Naira pindah ke rumah yang lebih besar dan mewah daripada rumahnya yang sebelumnya karena ibunya menikah dengan seorang duda kaya raya beranak satu. Naira mendapatkan saudara tiri dari pernikahan ke-2 ibunya itu.

Saudara…. orang yang memiliki ikatan kekerabatan, orang yang memiliki ibu atau ayah yang sama, orang yang memiliki ikatan darah yang kuat. Lalu bagaimana bila orang asing dipaksa menjadi saudara? Dipaksa menjadi kakak dan adik? Dipaksa bersama walaupun benci? Dipaksa menerima hal yang mereka benci.

Itulah kenapa Naira yang dulunya anak baik-baik mulai berubah menjadi anak pembangkang dan lari pada sepuntung rokok sebagai pelampiasan.

“Apakah menjadi orang kaya itu menyebalkan?” tanya Dean.

“Kalau ingin tahu cobalah menjadi kaya dan rasakan sendiri bagaimana rasanya menjadi orang kaya!”

“Aku tidak berminat.” Sahut Dean, “Sepertinya menjadi orang kaya itu sedikit merepotkan. Harus menjaga tata krama dan bicara dengan sopan didepan orang lain. Menjadi miskin tidaklah buruk. Aku bisa memaki dan mengumpat dimana dan kapan saja kepada siapapun yang aku inginkan tanpa peduli akan menjatuhkan martabatku.”

“Ah… kali ini aku yang iri padamu.” Gumam Naira.

“Kau kaya sekarang. Kenapa kau iri padaku yang tidak punya apa-apa ini, hm? Tidak kah itu terdengar sedikit tidak masuk akal?” tanya Dean, “Apa kau membenci mereka? Keluargamu?

“Tidak.” Jawab Naira, “Aku hanya benci diriku sendiri. Aku muak menjadi orang lemah yang tidak bisa berbuat apa-apa. Aku benci aku yang membenci diriku sendiri.”

“Terdengar sangat rumit.” Sahut Dean.

“Benar.” Naira mengangguk setuju.

Brak!

Pintu atap sekolah itu dibuka sedikit kasar. Dua orang laki-laki yang memakai baju seragam serupa dengan yang dipakai oleh Dean dan Naira sedang berdiri dengan raut wajah berbeda di mulut pintu. Bila yang satu memasang wajah sebalnya, maka yang satu lagi memasang wajah lega.

“Astaga! Naira sayang… akhirnya kami menemukanmu.” Laki-laki yang memiliki badan sedikit berisi itu berlari ke arah Naira, “Ku dengar kau demam, kau tidak apa-apa?” diulurkan tangannya untuk menyentuh kening Naira yang kemudian ditampik kasar oleh Naira.

“Berhenti memanggilku sayang! Aku bukan pacarmy!” ucap Naira sedikit kasar.

“Astaga! Trisha, lihat! Naira sangat menggemaskan!”

“Hei, Juni. Hentikan sikap memuakkanmu! kau tidak lihat wajah Naira sudah sangat masam seperti itu?” ucapDean.

“Aku heran kenapa Naira bisa berteman dengan preman sepertimu.” Cibir Juni yang menatap jengah Dean.

“Ayo pulang!” pemuda yang datang bersama Juni menatap tajam Naira.

Naira menatap pemuda tampan berambut ikal yang sudah berdiri di depannya dengan pandangan malas, “Aku akan pulang dengan Dean.”

Sedikit kasar pemuda itu menarik lengan Naira agar gadis cantik itu berdiri dari duduknya, “Pulang! Tidak akan ku biarkan kau pulang dengan berandalan seperti dia!”

“Hei Trisha!” panggil Dean, “Haruskah aku mengajarimu tentang etika bersopan santun?” tanyanya.

Trisha, pemuda yang masih mencekal lengan Naira itu menatap Dean dengan pandangan meremehkan, “Orang sepertimu bicara soal etika dan sopan santun padaku? Kau salah minum obat pagi ini? Apa kau sudah mengaca? Orang sepertimu tidak pantas bergul dengan orang sekelas Naira!” ucapnya sebelum menarik paksa Naira pergi diikuti oleh Juni.

Dean hanya menatap kepergian sahabatnya itu dalam diam. Ada perasaan marah yang menguar dari dalam dirinya, “Apakah sekarang derajat manusia diukur dari seberapa kaya atau miskinnya orang itu? Apakah untuk berteman saja harus memikirkan dan melihat latar belakang keluarga, seberapa kaya orang itu? Ck…. bukankah itu terdengar sangat picik?” ucap Dean entah pada siapa.

Kini Dean tahu kenapa sahabatnya bisa berubah seperti itu.

Lingkungan keluarga yang membuat Naira tertekanlah yang membuatnya memilih berlari pada rokok, menimbun racun dalam tubuhnya dan mengabaikan kesehatannya sendiri.

“Ah Nai…. Andaikan sihir peterpan itu ada, akan ku cari agar kita tidak menjadi dewasa dan selamanya menjadi anak-anak. Aku baru sadar, ternyata menjadi dewasa itu menyebalkan dan banyak masalah.”

Dean ingat impiannya dan Naira ketika mereka masih TK dulu.

Menjadi dewasa.

Bila Naira ingin menjadi seorang sastrawan seperti WS. Rendra sekaligus seorang guru yang yang memiliki banyak murid, Dean kecil bercita-cita ingin menjadi orang kaya yang baik agar bisa membahagiakan adiknya.

Impian kanak-kanak yang dulu terlihat sangat indah dan menyilaukan itu, kini justru terlihat sangat mengerikan dan menakutkan dimata Dean.

“Ah…. Kita bukan anak kecil lagi, Nai. Kau bukan lagi anak polos yang selalu memeluk boneka gajahmu ketika sedang bersedih, aku bukan lagi anak cengeng yang akan mengadu pada ibuku bila ada orang yang berbuat jahat padaku. Waktu terus berputar disisi kita, Nai. Kalau seperti itu…. Apa yang harus kita lakukan? Katakan padaku! Biasanya aku selalu meminta pendapatmu. Kali ini pun aku meminta pendapatmu. Karena kau… satu-satunya teman yang ku miliki.”