Pain Of Love VIII (Final Chap/ Chapter End)

Tittle                : Pain Of Love VIII (Final Chap/ Chapter End)

Ide Awal           : Marcia Hannie

Writer               : NaraYuuki & Metha Sari

Genre               : Romance/ Drama/ Fammily/ Friendship/ Angst/ Hurt/ Death Chara

Rate                 : T-M (bergantung kebutuhan)

Cast                 : Umma, Appa, Others, OOC

Disclaimer:      : They are not our but Jung Hyunno is mine, NaraYuuki. This Story is our, Marci, Yuuki & Metha

Warning           : Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut. Italic (ditulis miring semua kramanggung/ wawancangnya (dialog dan kalimat pengantarnya) berarti kejadian dimasa lalu.

<3

<3

Pastikan baca warningnya dulu!

<3

<3

Pain Of Love NaraYuuki n Metha

<3

<3

Keluarga Jung kecuali Yunho berjalan dengan cepat menuju ruang rawat Jaejoong, mereka tidak peduli jika langkah kaki mereka mengganggu ketenangan dan kenyamanan di rumah sakit. Setelah sampai ruang rawat Jaejoong, Kibum langsung membuka pintu dan melihat Hankyung duduk sembari menggenggam tangan Jaejoong.

“Hyung…” panggil Kibum lirih.

Hankyung yang mendengar suara Kibum segera menoleh tanpa melepas genggaman tangannya, dilihatnya Siwon dan Kibum mendekat. Sedangkan Changmin, Yoochun dan Seunghyun lebih memilih menunggu di luar.

“Kalian datang? Dari mana kalian tahu?” Tanya Hankyung.

“Changmin yang memberi  tahu kami, kami langsung bergegas kemari.” Jawab Siwon

Kibum berjalan mendekati ranjang Jaejoong, air matanya menetes melihat keadaan Jaejoong yang begitu memprihatinkan.

“Kenapa Hyung tidak memberitahu kami tentang penyakit Joongie, wae Hyung?” Kibum berusaha menahan isakannya.

“Mian Bummie, tapi aku juga baru tahu saat membawa uri Joongie kemarin malam. Joongie sengaja menyembunyikan penyakitnya dari kita semua….” jawab Hankyung, hatinya terasa sakit melihat keadaan putra kesayangannya itu.

“Sudahlah Bummie, sekarang kita berdoa saja semoga keadaan Jaejoong membaik.” Siwon berusaha menenangkan Kibum.

“Joongieku telah kehilangan suaranya, keadaannya sekarang sangat parah dan kita hanya bisa berdoa agar keajaiban datang menyembuhkan uri Joongie.” ucap Hankyung dengan suara bergetar.

Mendengar itu tangisan Kibum langsung pecah, membuat Siwon kelabakan menenangkan istrinya, jujur dia juga merasakan kesedihan yang dalam tapi dia harus tetap kuat untuk meyakinkan dan menenangkan Kibum jika semuanya akan baik-baik saja.

Sedangkan Seunghyun, Yoochun dan Changmin yang mendengar tangisan Kibum menjadi semakin panik dengan keadaan sahabat kesayangan mereka.

“Hyung bagaimana ini? Aku khawatir pada Joongie Hyung yeoppo….” ucap Changmin dengan wajah pucat.

“Tenang Minnie, Joongie kuat. Aku yakin Joongie mampu melewatinya.” Yoochun berucap seraya meyakinkan dirinya sendiri.

Seunghyun mengepalkan tangannya, emosinya memuncak dan membuatnya memukul dinding yang ada dihadapannya.

Buukkk

“Hyung!” ujar yoochun dan Changmin bersamaan.

“Ini semua karena Karam dan si bodoh Jung Yunho itu, aku akan membuat perhitungan dengan mereka. Akan ku pastikan mereka mendapat balasannya!” wajah Seunghyun memerah.

“Joongie akan kecewa jika kau menyakiti Karam dan ingat satu hal jika si bodoh yang kau sebut itu adalah saudara kita.” Yoochun mencoba memperingatkan Seunghyun

Changmin hanya terdiam melihat Seunghyun yang emosi, sekarang bukanlah saatnya untuk saling menyalahkan karena Jaejoong lebih penting dari siapapun. Sebenarnya dia juga rasanya ingin sekali memukul Yunho dan mencakar wajah Karam, ahhh dia harus bisa mengendalikan dirinya.

<3 <3 <3 <3 <3

<3 <3 <3 <3 <3

Lorong itu terasa sangat sunyi dan mencekam, bahkan suara gesekan sepatu milik para suster yang bersinggungan dengan lantai terasa begitu menyakitkan ditelinga. Hyunno meremas-remas tangannya gelisah menunggu ayahnya yang sedang berbicara dengan dokter yang menangani Yunho ahjushinya. Katika dirinya datang tadi, ayahnya mengatakan bahwa Yunho ahjushinya langsung dimasukkan kedalam ruang ICU. Dan Hyunno masih mengingat dengan baik apa yang terjadi pada Yoochun ahjushi begitu keluar dari ruang keramat itu.

Hyunno berharap semuanya akan baik-baik saja.

Mata serupa milik Yunho itu menatap sosok ayahnya yang berjalan lesu menuju arahnya. Ayahnya yang biasanya terlihat sangat gagah dengan postur tubuh tinggi menjulang itu terlihat sedikit bungkuk dan lelah, bukan hanya factor usia tetapi Hyunno yakin bahwa apa yang tadi disampaikan oleh dokter bukanlah sebuah kabar yang baik.

“Haah….” Changmin menghela napas panjang sebelum mendudukkan dirinya di samping Hyunno. “Kau sudah makan?” tanyanya.

“Sudah Appa.” Jawab Hyunno. “Appa sendiri?”

“Terlalu sulit untuk menelan makanan pada situasi seperti ini.” Gumam Changmin.

“Apakah keadaan Yunho ahjushi memburuk?” Tanya Hyunno.

“Bisa dikatakan kalau ahjushimu itu sudah tidak memiliki keinginan untuk hidup lagi.” Sekali lagi Changmin menghela napas panjang seolah ingin melepaskan beban yang menghimpit dadanya.

“Keluarga tuan Jung Yunho?” seorang suster menanyai Changmin dan Hyunno.

“Ya?” Tanya Changmin yang langsung berdiri sigap dari duduknya, jantungnya berpacu dengan sangat cepat.

“Tuan Jung Yunho ingin ditemani keponakannya yang bernama Jung Hyunno. Ada hal penting yang ingin disampaikannya..” ucap sang suster.

Changmin menatap putranya yang juga tengah menatap dirinya dengan ekspresi bingung. “Tentu saja.” Gumamnya, “Temuilah ahjushimu!”

“Tapi Appa….” Keragu-raguan itu menyergap hati Hyunno.

Changmin hanya mengangguk singkat, mendorong bahu putranya agar mengikuti sang suster yang sudah berjalan menuju bangsal khusus ruang ICU.

<3 <3 <3 <3 <3

<3 <3 <3 <3 <3

Heechul termenung mendengar ucapan Hankyung tadi, dia langsung terduduk di sofa. Pandangannya kosong bahkan dia tidak mendengarkan Karam yang terus memanggil namanya.

“Ma… Umma….” panggil Karam. Heechul menoleh, dilihatnya Karam yang memandangnya khawatir.

“Wae?” Tanya Heechul.

“Umma baik-baik saja?”

“Ne, Umma hanya perlu istirahat.” jawab Heechul dan pergi meninggalkan Karam di ruang tamu menuju kamarnya.

Heechul  duduk di tempat tidur dan membuka laci mejanya, diambilnya sebuah album foto yang sudah lama sekali disimpan olehnya. Dalam album itu terdapat foto balita yang sangat cantik dengan bibir merahnya dan mata bulatnya yang berbinar penuh kepolosan, diusapnya foto itu dan air matanya menetes tanpa bisa dicegah.

“Joongie… hiks… hiks….” lirihnya sambari terisak, dibukanya lagi lembaran selanjutnya dan dilihatnya jaejoong dengan senyum menawannya duduk diatas ayunan menggunakan kemeja baby blue yang membuat sosoknya seperti malaikat tak bersayap. Foto itu diambil Hankyung saat Jaejoong berumur tiga tahun. Masih banyak foto di dalam album itu dari Jaejoong sejak bayi hingga saat dia masuk SMA, semua tumbuh kembang Jaejoong dapat dilihat di album. Heechul menangis sembari memeluk album foto Jaejoong, tangisannya sangat keras dan membuat siapapun yang mendengarnya akan merasakan betapa pilunya tangisan itu.

“Joongie ah, mianhae aegya… hiks… hiks… hiks….” Heechul teringat semua perlakuannya terhadap Jaejoong selama ini, apa lagi sejak kedatangan Karam saudara kembar Jaejoong. Perhatiannya selalu tercurah pada Karam, tak dipedulikannya Jaejoong yang selalu ingin mendapatkan kasih sayag seperti yang didapatkan Karam darinya. Tak dihiraukannya Jaejoong yang menangis kesakitan saat terjatuh dari sepeda, didunianya hanya ada Karam dan Karam. Jaejoong seolah hanya sekedar bayangan dalam hidupnya karena Karam adalah prioritas utamanya, dia telah merenggut kebahagiaan Jaejoong dengan menyuruh Karam mendekati Yunho. Padahal, Heechul tahu jika Jaejoong sangat mencintai Yunho.

Heechul kembali teringat ucapan Hankyung dan ini adalah pertama kalinya dia melihat Hankyung begitu emosi, selama ini sejahat apapun perlakuannya pada Jaejoong, Hankyung hanya akan menasihatinya dengan lembut. Tapi sekarang, Hankyung membentaknya dan dapat dilihatnya mata Hankyung yang berkaca-kaca. Ucapan hankyung telah menyadarkannya jika dia masih memiliki putra yang harus dia beri kasih sayang, dia masih memiliki putra yang mungkin juga selalu merindukan pelukan hangatnya. Heechul menghapus air matanya dengan kasar, Jaejoongnya sekarang sedang berjuang untuk hidup. Dia tidak peduli jika dia di anggap sebagai ibu yang jahat dan tidak berguna, yang penting sekarang dia harus segera ke rumah sakit dan menemui Jaejoong. Jaejoong pasti membutuhkannya, putranya pasti membutuhkan ucapan penyemangat darinya. Setelah meyakinkan dirinya, Heechul segera bergegas munuju rumah sakit tempat Jaejoong dirawat.

<3 <3 <3 <3 <3

<3 <3 <3 <3 <3

Hyunno merasa bulu kuduknya meremang hebat. Bangsal khusus ruang ICU ini terasa lebih menakutkan daripada rumah hantu yang pernah ia datangi. Hampir setiap penghuni ruangan khusus ICU ini menggunakan selang oksigen dan kardiograf (alat pencatat denyut jantung). Suara pip pip pip yang didengarnya dari setiap ruangan yang dijaga ketat oleh dua orang suster pada masing-masing ruangan itu menambah ketakutannya. Hyunno berhenti ketika suster yang semula berjalan di depannya juga berhenti pada salah satu ruangan.

“Tuan Yunho ada di dalam. Silakan masuk. Kalau ada apa-apa saya ada di luar sini, silakan panggil bila keadaan pasien memburuk.” Ucap sang suster yang dengan perlahan membukakan pintu ruang ICU Yunho dirawat.

Hyunno menelan ludahnya susah payah, ketakutannya semakin besar ketika dirinya melihat banyak selang menusuk tubuh ahjushinya. Dengan gemetar dan keraguan yang besar Hyunno berjalan memasuki ruangan. Hyunno sempat melonjak kaget ketika sang suster menutup pintunya dari luar.

Ahjushi….” Lirih Hyunno. Dapat ia lihat mata lelah itu meliriknya, senyum mengembang pada wajahnya yang terlihat sangat letih.

“Hyunno….”

Hyunno menggenggam jemari lemah Yunho erat, “Ya, Ahjushi?”

“Tadi aku bermimpi….”

“Boleh aku tahu Ahjushi bermimpi tentang apa?” Tanya Hyunno tanpa melepaskan tautan tangannya.

“Ketika aku masih kecil… aku dan Boo Jae bermain di rumah pohon. Kami bermain rumah-rumahan.” Ucapnya terbata. “Aku menjadi ayah dan Boo Jae menjadi ibu… kami punya dua orang anak berupa boneka gajah dan boneka beruang.”

Hyunno tersenyum mendengar cerita Yunho. “Ahjushi bahagia?”

“Ya. Tentu saja.” Jawab Yunho. Dengan susah payah menelan ludahnya sendiri agar kerongkongannya tidak terasa kering. “Tapi tidak lama. Ada seorang anak jahat yang memisahkan kami. Dia memiliki wajah semanis Boo Jae namun sangat jahat. Dia memisahkan aku dan Boo Jae.”

Dapat Hyunno lihat gurat kesedihan pada wajah Yunho.

“Anak jahat itu membakar rumah pohon kami…. Membakarnya bersama Boo Jae yang masih berada di dalamnya.” Yunho mulai menangis. “Aku berteriak minta tolong namun tidak ada seorang pun yang datang untuk membantu.” Jeda cukup lama hingga akhirnya Yunho memandang Hyunno dengan mata basah penuh air mata.

“Itu hanya mimpi Ahjushi.”

“Itu bukan hanya mimpi, Beruang kecil. Bukan hanya mimpi.” Gumam Yunho. “Apa terjadi sesuatu pada rumah pohonku?”

Hyunno diam. Bimbang melandanya ketika ditanya soal rumah pohon yang sudah rubuh itu.

“Beruang kecil?”

Mianhae Ahjushi… tadi siang rumah pohon itu rubuh.”

Mata Yunho terpejam sesaat, wajahnya menyengit seolah menahan sakit yang teramat sangat. “Sudah rubuh ya…?” tanyanya lebih kepada dirinya sendiri. “Sudah kau cari kotak itu?”

“Sudah ku temukan Ahjushi. Ketika aku hendak membukanya ada dentuman keras yang mengagetkanku. Ketika ku lihat ternyata rumah pohon itu sudah rubuh.”

“Maukah kau mengambilnya untukku sekarang? Aku ingin melihat kotak itu. Tapi jangan kau buka dulu kotaknya.”

“Sekarang Ahjushi?”

“Sekarang.”

Ini sudah sangat larut malam. Mana mungkin Hyunno pergi mengambil kotak itu? Namun mengingat apa yang ayahnya katakan beberapa saat yang lalu pemuda itu pun hanya mengangguk pelan.

“Jangan terlalu lama, Beruang kecil. Waktuku tidak banyak lagi.” Pesan Yunho.

<3 <3 <3 <3 <3

<3 <3 <3 <3 <3

Karam dan Yunho sekarang sedang duduk di sebuah café dipusat perbelanjaan, setelah berkeliling dan berbelanja, mereka memutuskan untuk istirahat dan makan siang. Karam memperhatikan Yunho yang dari tadi telihat melamun dan tidak bersemangat bahkan saat pesanan mereka sudah terhidang di depan mereka. Karam merasa Yunho dan Heechul sangat aneh hari ini, mereka selalu melamun dan tidak memperdulikan dirinya yang selalu berusaha mengajak mereka bicara.

“Yunho baby, ada apa dengamu?” tanya Karam penasaran.

Yunho menatap Karam seperti orang linglung, lalu seakan tersadar pada sesuatu hal ia buru-buru bangun dari duduknya. “Karam, aku harus pergi sekarang. Maaf aku tidak bisa mengantarmu pulang….” setelah mengatakan itu, Yunho langsung bergegas pergi meninggalkan Karam. Sedangkan Karam memandang kepergian Yunho dengan wajah yang sangat kesal dan marah. Kemana Yunho yang selalu mesra padanya? Karam tidak suka situasi seperti ini.

Dilain pihak setalah berpisah dari Karam, Yunho mengendarai mobilnya dengan pikiran yang berkecamuk, entah kenapa dia begitu khawatir pada keadaan Jaejoong bahkan selalu terbayang wajah Jaejoong. Harusnya dia senang bisa menghabiskan waktu bersama Karam, tapi kali ini berbeda dan hatinya selalu gelisah. Yunho seperti tersadar pada sesuatu hal penting yang selama ini ia abaikan. Yunho menepikan mobilnya di pinggir jalan, merebahkan kepalaya pada stir mobil, hatinya tiba-tiba terasa sesak dan dia merasa sangat sulit bernafas. Bayangan masa lalu bersama Jaejoong tiba-tiba memenuhi pikirannya.

‘Yunnie tampan… hihihi….’

‘Jinjja Joongie?’

‘Ne nanti kalau sudah besar, Joongie mau Yunnie jadi pengantin pria Joongie’

‘Aigoo kau sungguh lucu Joongie, ne nanti Yunnie akan menjadi pengantin Joongie’

‘Yunnie janji’

‘Janji’

Yunho memajamkan matanya yang terasa perih dan sesak. Selama ini Yunho hanya menganggap itu hanya Janji dua orang anak kecil antara dirinya dan Jaejoong, apalagi sejak kehadiran Karam yang membuatnya melupakan sahabatnya itu. Tapi sekarang bayangan janji mereka sewaktu kecil kembali hadir dalam benaknya, kenapa rasanya harus sesakit ini.  Apa selama ini dia salah karena sudah melupakan Jaejoong? Apa dia sudah menyakiti Jaejoong terlalu dalam?

Sejak hadirnya Karam dalam hidupnya, Yunho tidak pernah lagi peduli pada Jaejoong, dia selalu menolak saat Jaejoong memintanya untuk menemani pergi ke suatu tempat bahkan tak jarang dia membentak Jaejoong. Akhir-akhir ini dia juga tak pernah mendengar suara Jaejoong, sampai akhirnya dia mengetahui jika Jaejoong menderita kanker.

Yunho merutuki dirinya sendiri, kenapa dia melupakan Jaejoong hanya karena kehadiran Karam, dulu dia tidak pernah membentak Jaejoong karena dia tahu Jaejoong pasti akan menangis. Tapi dia telah menyakiti Jajeoong, doe eyesnya sering terlihat berkaca-kaca dan kehilangan binarnya. Jaejoong yang menawan dan cantik telah tersakiti dan menjadi seorang broken angel. Jaejoong itu indah, menawan dan mempesona bahkan dia lebih berkilau dari Karam walaupun mereka adalah saudara kembar. Yunho tahu itu, tapi cinta telah membutakannya dan cintanya pada Karam telah menyakiti Jajeoong. Yunho mulai berpikir ulang, benarkah dirinya mencintai Karam? Ia mencintai Karam atau Jaejoong? Bukankah wajah mereka mirip? Ya, hanya wajah! Dan Yunho kini tahu siapa sebenarnya pemilik hatinya. Yunho begitu bodoh untuk mengakui hal itu sejak wala. Harusnya ia tidak seperti ini, harusnya ia tidak menyakiti orang yang paling ia cintai. Harusnya… harusnya Yunho segera mengatakannya sebelum semuanya terlambat.

<3 <3 <3 <3 <3

<3 <3 <3 <3 <3

Nyaris pukul 4 pagi ketika Hyunno datang kembali ke rumah sakit membawa serta kotak kayu usang yang masih sedikit kotor akibat terkubur selama puluhan tahun di dalam tanah. Begitu mobil sampai berhenti di halaman depan rumah sakit, Hyunno bergegas berlari sembari memeluk erat kotak kayu itu. Mengabaikan teguran dari beberapa suster akibat berlari di dalam rumah sakit. Hyunno tidak tahu kenapa namun ada sesuatu dalam dirinya yang menjerit-jerit untuk segera sampai di ruang perawatan Yunho ahjushinya sebelum semuanya terlambat.

Ketika sampai di depan bangsal khusus pasien ICU, napas Hyunno terengah, wajahnya memerah dan berkeringat. Hyunno duduk di kursi tunggu yang tersedia tepat di mulut bangsal sambil mengatur napasnya yang berpacu seperti kuda balap.

“Kau berlari sepanjang lorong?” Tanya Changmin sambil mengulurkan sebotol air mineral.

“Haah… tidak ada… waktu… Appa….” Ucap Hyunno terbata sambil menerima botol air mineral itu.

“Istirahatlah sebentar. Dokter sedang memeriksa kondisi ahjushimu.”

“Apakah kondisi Yunho ahjushi memburuk?”

“Sejak awal kondisinya memburuk.” Gumam Changmin, “Dokter hanya melakukan pengecekan saja.”

Hyunno menyandarkan punggungnya pada punggung kursi. Berusaha menenangkan jantungnya yang terus berdebar kencang, meredakan gemuruh napasnya yang nyaris mengalahkan dasyatnya angin topan.

“Kotak itu yang dimaksud oleh Ahjushimu?”

Hyunno hanya mengangguk pelan, “Aku belum sempat membuka isinya, Appa.”

Seorang suster keluar dari bangsal ICU, “Keluarga Tuan Jung Yunho?”

Changmin berdiri dan menghampiri suster tersebut, “Ya?”

Suster itu tersenyum canggung, “Silakan! Tuan Jung Yunho ingin bertemu keluarganya.”

“Semua?” Tanya Changmin.

“Ya.” Jawab sang suster singkat.

Changmin menatap Hyunno sesaat, “Mungkin ini waktunya….”

Hyunno meraih kotak kayu yang diletakkannya di sampingnya sebelum berdiri dan berjalan mengikuti ayahnya yang terlihat semakin membungkuk.

<3 <3 <3 <3 <3

<3 <3 <3 <3 <3

Seunghyun, Yoochun dan Changmin yang melihat kedatangan heechul segera berdiri dari duduk mereka, sedangkan Heechul hanya terdiam melihat tiga orang anak keluarga Jung itu menatapnya dengan tatapan curiga.

“Seunghyun ah, bolehkah aku bertemu dengan Jejoong?” Tanya Heechul sedangkan yang ditanya hanya diam saja.

“Untuk apa Ahjumma kemari? Apa Ahjumma datang hanya untuk membuat hidup Joongie lebih menderita lagi?” kali ini Yoochun yang bersuara dengan suara yang sinis.

“Mianhae, aku hanya ingin bertemu dengan putraku, di… dia pasti membutuhkanku Yoochun ah….” jawab Heechul dengan suara bergetar menahan tangis.

“Kau bilang Joongie adalah putramu, apa kami tidak salah dengar Ahjumma? Setelah apa yang kau lakukan padanya selama ini? Dimana hati nuraimu sebagai seorang ibu? Bahkan singa yang kejam dan buas sekalipun tidak akan tega menyakiti anaknya sendiri, sedangkan Ahjumma sudah menyakiti Joongie begitu dalam.” Seunghyun berucap sembari mencoba menahan emosinya. “Apa bedanya Karam dan Joongie, bukankah keduanya sama-sama lahir dari rahimmu? Kenapa hanya Karam yang melimpah kasih sayang dari Ahjumma, sedangkan Joongie harus rela mengalah saat dia tak dianggap oleh Ahjumma. Selama ini hanya Hankyung Ahjussi, aku dan kedua saudaraku yang ada untuk melindungi dan menghibur Joongie. Lantas kemana saja kau selama ini? Joongie begitu menyayangimu, dia bahkan memuliakanmu seperti malaikat bagi kehidupannya. TAPI KENAPA KAU MENYAKITINYA HAH? Kau, Karam dan Yunho sama saja, Kalian Iblis berwujud manusia dan tak punya hati” Seunghyun yang sudah hilang kesabaran akhirnya nekat berteriak pada Heechul.

“Hyung sudahlah, Ahjumma datang kesini untuk menjenguk Joongie Hyung.” Changmin berusaha menenangkan Seunghyun.

Klekk

“Ada apa ini? Kenapa kau berteriak-teriak Seunghyun?”  suara hankyung membuat keempat orang itu menoleh. Di samping Hankyung berdiri Siwon dan Kibum yang ikut melihat keluar saat mereka mendengar suara Seunghyun sedang meneriaki seseorang.

“Chullie…” lirih Hankyung saat melihat Heechul.

“Ge… Gege… hiks… mianhae….” Heechul tiba-tiba berlutut di kaki Hankyung.

“Chullie, apa yang kau lakukan?” Tanya Kibum bingung.

“Aku hanya ingin memohon ampunan dan maaf dari suamiku dan anakku Bummie.” jawab Heechul, dia mendongak menatap Hankyung yang juga sedang menatapnya. “Gege mianhae… hiks… hiks…  mianhae karena aku belum bisa menjadi istri dan ibu yang baik untukmu dan uri Joongie… hiks hiks…”

“Berdirilah Chullie….” perintah Hankyung dan Heechul menurutinya. “Aku sudah memaafkanmu, sekarang masuklah dan temui Joongie. Sekarang dia sedang tertidur dan mungkin dia akan sangat senang melihatmu ketika terbangun nanti.” ujar Hankyung lembut.

Heechul melangkahkan kakinya kedalam menuju ranjang Jaejoong diikuti Hankyung, Siwon, Kibum dan ketiga anak Jung. Heechul duduk di kursi amping kanan Jaejoong dan langsung menggenggam tangannya.

“Joongie, mianhae aegya mianhae… hiks… hiks…” Heechul menangis terisak sembari menciumi tangan Jaejoong, “Selama ini Umma selalu menyakiti Joongie… hiks… hiks… tapi Joongie tidak pernah mengeluh sedikitpun. Umma bukanlah Umma yang baik untuk Joongie  tapi Umma benar-benar menyesal Chagi, Umma berjanji untuk menebus semua kesalahan umma tapi Joongie harus berjuang ne untuk sembuh… hiks… hiks….” Heechul semakin terisak dan membuat Kibum kembali meneteskan air mata. “Jika Jongie sembuh nanti Umma akan membuatkan susu sebelum Joongie tidur dan menemani Joongie hinnga Joongie terlelap, lalu esoknya kita akan membuat sarapan untuk appa dan Karam… hiks… hiks…kemudian… hiks… hiks… ki…kita..”

“Chullie hentikan!” Kibum tidak sanggup lagi mendengar perkataan Heechul.

“Kemudian kita akan mengganggu appa di ruang kerjanya, appa akan kesal tapi appa tetap tersenyum dan mengatakan tidak apa-apa, Umma juga akan menemani Joongie di rumah pohon dan kita akan bercengkrama di sana. Umma mohon Joongie berjuanglah ne…hiks… hiks….”

Semua orang yang mendengar ucapan Heechul tanpa sadar ikut menangis, ucapannya menggambarkan betapa menyesalnya Heechul dan sungguh-sungguh akan memperbaiki kesalahannya.  Jaejoong tebangun saat mendengar isak tangis di dekatnya, dan betapa terkejutnya dia saat dilihatnya Heechul menggenggam tangannya sembari menangis.

Jaejoong menggerakkan tangannya yang digenggam oleh Heechul, dan tersenyum bahagia saat melihat Heechul yang menatapnya penuh haru.

“Joongie mianhae, Umma minta maaf pada Joongie.…” ujar Heechul dan Jaejoong hanya meresponnya dengan senyum tulus dan anggukan kepala.

“Apa Joongie tidak memaafkan umma? Kenapa Joongie tidak mengucapkan apapun?” Tanya Heeechul dengan nada kecewa. Jaejoong hanya terdiam dan tetap tak mengatakan apapun.

“Chullie, Joongie sudah kehilangan suaranya.” ucap Hankyung.

Mendengar itu membuat Heechul semakin menangis, betapa menderitanya anaknya hingga bersuara pun sudak tidak bisa dilakukan. Rasa bersalahnya semakin besar pada Jaejoong, melihat raut wajah ummanya itu membuat Jaejoong kembali menggenggam tangan Heechul untuk mengatakan bahwa dia baik-baik saja.

Jaejoong memandang ketiga anak Jung dan mereka mendekat ke sisi kiri Jaejoong, Seunghyun mengusap rambut Jaejoong.

“Joongie, wae?” tanyanya

Jaejoong terlihat menggerakkan mulutnya dan mengatakan sesuatu pada Seunghyun, sedangkan Seunghyun memperhatikannya dengan seksama kemudian tersenyum.

“Ahjumma, Joongie mengatakan jika dia sangat bahagia Ahjumma berada disini dan menggenggam tangannya. Dia sangat menyayangi Ahjumma dan sudah lama memaafkan Ahjumma.” ujar Seunghyun.

“Ji… jinnja… hiks… hiks….” tanya Heechul memandang Jaejoong dan Jaejoong tersenyum kemudian kembali menatap Seunghyun untuk mengatakan sesuatu.

“Joongie bilang sangat menyayangi Ahjumma dan Ahjumma tidak boleh menangis lagi, dia merasa menjadi anak yang nakal karena membuat Ahjumma dan yang lainnya menangis.”

“Mianhae…. Umma tidak akan menangis lagi, Joongie bukan anak nakal tapi Joongie adalah malaikat umma dan pangeran umma yang sangat gagah berani. Umma menyayangi Joongie….” Heechul mengecup wajah Jaejoong penuh haru.

Jaejoong kembali menggerakkan mulutnya yang langsung membuat Seunghyun terdiam, dia bingung apakah harus menuruti permintaan Jaejoong.

“Hyung, wae?” tanya Yoochun penasaran.

“Joongie ingin bertemu Karam dan Yunho.” jawaban Seunghyun juga membuat Yoochun terdiam.

“Hyunnie, hubungi  Yunho dan katakana jika Joongie ingin bertemu.” perintah Siwon.

“Ne Appa.”

Heechul melirik Hankyung untuk meminta persetujuan dari suaminya, bagaimanapun juga dia dan Karam sudah membuat Jajoong menderita selama ini.

“Gege, bolehkah?” tanya Heechul.

“Baiklah” setelah mendapat persetujuan dari Hankyung, Heechul langsung menghubungi Karam.

<3 <3 <3 <3 <3

<3 <3 <3 <3 <3

Ketika sampai di ruang ICU Yunho ada sesuatu yang berbeda dari sebelumnya.  Tidak ada lagi selang oksigen ataupun infuse yang terpasang pada tubuhnya, tidak ada lagi kardiograf yang berbunyi pip pip pip menyemarakkan suasana kamar yang sunyi itu. Hanya ada Yunho dan ranjang yang ditidurinya saat ini, bersandar pada kepala ranjang yang sudah dinaikkan sedikit.

Hyung….” Changmin menatap resah kakaknya yang terlihat layu dan pucat.

Yunho tersenyum, matanya berbinar redup. “Kemarilah Beruang kecil! Bawa serta kotak itu.” Pintanya.

Dengan langkah berat Hyunno menghampiri ranjang tempat ahjushinya berbaring –setengah duduk. Hati-hati meletakkan kotak kayu kotor itu di samping ahjushinya. Hyunno bisa melihat ada senyum kebahagiaan menghiasi wajah ahjushinya walaupun hanya sesaat.

Jemari panjang lagi keriput itu bergetar ketika meraba permukaan kotak kayu yang sudah lama tidak dilihatnya, sebuah benda yang menyimpa kenangan yang tidak akan pernah terulang lagi. Perlahan-lahan dibukanya tutup kotak kayu itu, aroma tanah kuat menyeruak memenuhi ruangan yang berisi 3 anggota keluarga Jung itu.

“Aku tidak pernah melihat kotak itu sebelumnya. Apa isinya, Hyung?” Tanya Changmin.

Boo jae.” Jawab Yunho singkat.

Terlihat beberapa lembar foto usang, surat-surat yang warna kertasnya berubah coklat, ada sebuah liontin berbandul miniature gajah yang sudah berkarat dan menguning serta gantungan kunci berbentuk gajah yang sudah koyak disana-sini. Rasa haru itu melesak keluar memenuhi dada Yunho hingga kakak Jung Changmin itu menangis tanpa ia sadari. Air mata turun begitu saja menganak sungai membasahi wajah keriput lelahnya. Tubuhnya bergetar ketika mengambil selembar foto, mendekapnya sesaat sebelum mencium gambar dalam foto itu –sosok anak kecil menggemaskan dengan kulit pucat bersinarnya, rambut hitam dan mata serupa mutiara rusa betina yang begitu bening, lengan mungil itu terlihat sedang memeluk sebuah boneka gajah berwarna abu-abu yang kini berada diranjang Yunho yang ada di rumah keluarga Jung.

<3 <3 <3 <3 <3

<3 <3 <3 <3 <3

Yunho terus merenungkan antara dirinya, Jaejoong dan Karam, sebelum kehadiran Karam baik dia ataupun Jaejoong selalu bersama. Dia sangat menyukai sifat manja dan lembut Jaejoong, dia juga menyukai saat Jaejoong selalu bergantung padanya. Tapi, kehadiran Karam merubah pandangannya, Karam adalah sosok yang kuat dan sangat mandiri, dia juga bukanlah namja yang mudah menangis. Dia sungguh mengagumi Karam karena sifatnya itu.

Dia merasa senang bisa menjadi kekasih Karam, tapi disisi lain hatinya  terus memanggil nama Jaejoong. Dia selalu meyakinkan dirinya jika dia mencintai Karam bukan Jaejoong, namun sekarang entah kenapa kehadiran Karam seolah-olah tak diinginkannya lagi, pertunangan ini salah dan hubungan ini juga salah. Kenapa sekarang dia baru menyadari bukan Karam yang diinginkannya tapi…

Drrrt

Drrrt

Ponsel Yunho bergetar dan membuyarkan segala pikirannya, saat melihat ID caller ternyata Seunghyun yang menghubunginya.

“Wae?” tanyanya saat mengangkat panggilan Seunghyun.

“………”

“Baiklah aku kesana sekarang.” setelah mematikan ponselnya Yunho bergegas ke rumah sakit.

Ketika sampai dirumah sakit Yunho berpapasan dengan Karam saat akan ke ruang rawat Jaejoong, Karam terkejut melihat Yunho.

“Yunho, apa yang kau lakukan disini?” tanyanya.

“Seunghyun hyung menghubungiku dan mengatakan Joongie ingin bertemu denganku.” jawab Yunho

Karam terdiam mendengar jawaban Yunho, tadi Yunho meninggalkannya dan sekarang Yunho menuruti keinginan Jaejoong untuk bertemu. Padahal, selama ini Yunho selalu menolak dengan berbagai alasan. Saat sampai Yunho segera membuka pintu ruangan Jaejoong dan masuk diikuti Karam di belakangnya. Semua yang ada disana menoleh ke arah mereka, Yunho mengedarkan pandangannya, dilihatnya Heechul dan Kibum yang menangis, sedangkan Siwon dan Hankyung beserta ketiga saudaranya terlihat sangat sedih.

Jaejoong mengulurkan tangannya ke arah Yunho seolah hendak menggapainya, Yunho yang melihat itu segera mendekat diikuti Karam. Jaejoong tersenyum dengan kehadiran mereka.

“Joongie…” lirih Yunho, Jaejoong tersenyum mendengar Yunho menyebut namanya.

Seakan mengerti keadaan, yang lain keluar pergi meninggalkan Yunho, Jaejoong dan Karam walaupun raut khawatir tidak bisa disembunyikan dari wajah mereka. Tapi sebelum keluar, Seunghyun sempat mengatakan pada Yunho jika Jaejoong sudah kehilangan suaranya dan dia harus bisa membaca gerakan bibir Jaejoong jika ingin berbicara.

“Joongie mianhae….” ucap Yunho, jaejoong tersenyum dan menggerakkan bibirnya.

‘Gwenchana Yunnie.’ ucap Jaejoong saat Yunho mengamati gerakkan bibirnya.

“Mian karena selama ini selalu menolak kehadiranmu, sudah menyakitimu dan membuatmu menangis.”

‘Joongie baik-baik saja Yunnie, Joongie bahagia karena Yunnie dan Karam datang menemui Joongie.’

“Wae? Apa ada yang ingin Joongie katakan?” tanya Yunho dan Jaejoong menganggukkan kepalanya, dilihatnya karam yang berdiri di samping Yunho.

‘Yunnie dan Karam sangat cocok, Joongie bahagia karena kalian akhirnya bertunangan. Joongie ingin sekali menghabiskan waktu bersama kalian dan ada saat pesta pernikahan kalian, tapi maaf Joongie tidak bisa.’

“Apa maksudmu Joongie, kenapa tidak bisa?” tanya Yunho lagi, sementara Karam hanya dapat terdiam karena tidak tahu harus mengatakan apa.

‘Joongie sangat menyayangi Karam dan Yunnie, kalian adalah bagian dari hidup Joongie.’ kemudian Jaejoong menggapai tangan Karam dan Yunho untuk disatukan diatas perutnya, ‘Yunnie harus janji ne untuk selalu menjaga Karam dan berada disisinya, Joongie rela asal Yunnie dan Karam bahagia.’

“Joongie, kau harus sembuh dan Yunnie berjanji akan menemani Joongie kamanapun Joongie mau. Kita akan ke taman bermain dan membeli boneka gajah yang besar kesukaan Joongie, kita juga akan makan ice cream vanilla kesukaan Joongie.” ujar Yunho.

‘Mianhae Yunnie, Joongie sudah bertahan semampu Joongie tapi Joongie rasa sudah berada di batas terakhir perjuangan Joongie. Joongie bahagia akhirnya umma joongie mengakui keberadaan Joongie, Joongie juga bahagia karena akhirnya Joongie bisa menyentuh Yunnie lagi.”

“Joongie ah… jangan mengatakan hal yang membuatku merasa akan kehilanganmu… hiks… jangan apa ini hukumanmu untukku?” tanya Yunho sembari terisak, perkataan Jaejoong benar-benar membuat dadanya terasa sesak. Bahkan Karam yang melihat Yunho bertanya seperti itupun ikut berempati.

Jaejoong menggapai wajah Yunho dan menghapus air mata dari pipinya, rasanya sudah lama sekali dia tidak berada dalam jarak sedekat ini dengan Yunho bahkan menyentuhnya.

‘Yunnie jangan menangis ne, Joongie merasa tidak tenang jika Yunnie menangis. Tersenyumlah Yuunie agar jika nanti Joongie bisa pergi dengan tenang.’ ucap Jaejoong dengan air mata yang juga mengalir dipipinya. Yunho menggenggam tangan Jaejoong dan menciumnya.

“Kumohon jangan katakan itu Joongie, jangan pernah berpikir untuk meninggalkan aku… hiks… hiks… aku menyayangimu….” isak Yunho.

‘           ‘Joongie juga menyayangi Yunnie, ada Karam yang akan selalu berada disisi Yunnie. Yunnie ah saranghae, jeongmal saranghae.’ Setelah mengatakan itu, tangan Jaejoong tiba-tiba menjadi lemas. Matanya terpejam dan bibirnya tersenyum penuh kebahagiaan.

“Joongie bangun, kumohon bangunlah. Jangan tinggalkan aku… hiks… hiks… JOONGIE!!!” teriak Yunho saat menyadari jika Jaejoong sudah pergi meninggalkannya.

“Jae… Jaejoongie…. Jae… Irrona! Ironna!” akhirnya untuk kali pertama Karam memanggil nama saudaranya tanpa menggunakan nada sinis walau Jaejoong tidak lagi mampu mendengarnya.

Yunho menguncangkan tubuh Jaejoong berharap jika dia akan terbangun, seluruh keluarga yang mendengar teriakan Yunho masuk karena panic dan khawatir. Tapi tiba-tiba tubuh mereka menjadi lemas dan terasa dunia seakan berhenti.

“JOONGIE!!!” teriak Heechul kalap, “Bangun nae aegya, ini Umma, Chagi. Umma mohon bangun!” Heechul juga berusaha membangunkan Jaejoong.

“Joongie anakku, Appa menyayangimu pangeran kecil Appa….” lirih Hankyung sembari menangis.

Kibum juga menangis dipelukan Siwon, Seunghyun, Yoochun dan Changmin juga ikut menangis karena kehilangan Jaejoong.

“Yeoppo hyung….” panggil Changmin lirih, “Sekarang kita sudah kehilangannya, lihatlah keadaan Yunho hyung terlihat sangat terpukul atas kepergian Joongie hyung….” ujar Changmin.

“Yunho akan selalu hidup dengan dibayangi rasa penyesalan yang mendalam, seandainya Yunho tahu jika Joongie selama ini  bertahan hanya karena dirinya.” ucap Seunghyun.

“Semoga kau tenang dan berbahagia baby Joongie, lihatlah betapa kami sangat terpukul karena kehilanganmu. Kami menyayangimu baby….” lirih Yoochun.

<3 <3 <3 <3 <3

<3 <3 <3 <3 <3

“Ketika Jaejoong hyung dimakamkan, Yunho hyung sama sekali tidak menangis. Dia hanya diam membisu sambil terus menatap tajam peti yang menjadi tempat persemayaman Jaejoong hyung. Satu bulan semenjak kepergian Jaejoong hyung, Yunho hyung sedikit berubah. Lebih memilih mengurung diri di kamar atau berdiam diri di atas rumah pohon. Dulu ia sempat menghilang dan ditemukan di samping makam Jaejoong hyung, tengah tertidur sambil memeluk sebuah boneka gajah berwarna abu-abu.”

Hyunno memejamkan kedua matanya ketika kembali teringat apa yang ayahnya sampaikan pada saat upaca pemakaman Yunho ahjushinya. Jung Yunho, menghembuskan napas terakhirnya tepat saat fajar menyingsing sambil menggenggam selembar foto, foto Kim Jaejoong ketika berusia 10 tahun. Kotak kayu itu sampai sekarang masih tersimpan rapi di rumah keluarga Jung. Hyunno sengaja menyimpannya dalam sebuah lemari yang khusus dibuat untuk menyimpan semua benda kenangan Yunho ahjushinya bersama sang Boo Jae yang sampai akhir hayatnya tetap menjadi orang paling penting dalam hidupnya.

“Mungkin cinta yang tidak bisa bersatu didunia bisa diteruskan dialam setelah kematian.” Gumam Hyunno. Dimasukkannya kedua tangannya kedalam saku coat yang ia gunakan setelah terlebih dahulu mengeratkan syal yang melilit lehernya, udara pada awal musim semi memang terasa sangat dingin. Mungkin sisa-sisa musim dingin masih meninggalkan jejak diudara. Hyunno kembali menyususri jalan setapak berbatu untuk mencapai tempat tujuannya. Dalam ketermanguannya Hyunno kembali teringat ucapan ayahnya tentang nasib keluarga Kim sepeninggal Boo Jae.

“Hankyung ahjushi sering jatuh sakit, kondisinya setiap hari semakin memburuk. Namun Hingga akhirnya Hankyung ahjushi pergi karena serangan jantung. Heechul ahjumma menyusul tidak lama kemudian karena beban berat sepeninggal anak dan suamnya. Seluruh aset peninggalannya yang sudah diwariskan ke Jaejoong hyung akhirnya dikelola oleh dinas sosial untuk disalurkan pada beberapa yayasan yang memang menjadi lembaga tempat keluarga Kim menjadi donator.”

Sekali lagi Hyunno menghela napas panjang. Uap mengepul dari mulutnya menandakan seberapa dingin cuaca siang itu. Kakinya mulai melambat ketika nyaris sampai pada sebuah pohon tua berbatang besar berdaun rimbun yang berasa disisi kanan bukit hijau itu. Di bawah pohon itu terdapat dua makam berbatu marmer. Satu makam terlihat sangat usang sedangkan yang satunya masih terlihat seperti baru. Pada makam yang baru itu terukir Rest in Peace Jung Yunho sedangkan pada makam yang satunya yang lebih tua terukir Rest in Peace Kim Jaejoong.

Kedua alis Hyunno bertautan ketika melihat pada masing-masing batu nisan tergeletak setangkai tulip putih yang masih segar. “Ada yang kemari?” gumamnya pada dirinya sendiri. Hyunno menolehkan kepalanya keseluruh penjuru bukit orang mati itu untuk melihat keberadaan orang disekitarnya, ada beberapa memang namun berada di kaki dan puncak bukit, tidak ada yang berada di punggung bukit sepertinya. “Siapa yang meletakkan bunga disini?” lagi-lagi Hyunno bergumam.

Kerisik dedaunan dari pohon yang menaunginya menyadarkan Hyunno dari lamunannya –niatnya datang ketempat paling sunyi dan sepi disudut dunia.

Hyunno meletakkan sebuah surat yang ia selipkan di bawah tangkai bunga tulip yang berada pada makam tua –nisan Kim Jaejoong. “Boo Jae… itu adalah surat cinta yang Yunho ahjushi tulis disaat-saat terakhirnya didunia ini. Ku harap kalian bisa berbaikan –andaikan kalian bisa bertemu lagi.”

Kali ini Hyunno menggeser tubuhnya hingga berhadapan dengan nisan ahjushinya, tangannya terjulur guna membersihkan dedaunan yang berserakaan di atas permukaannya. Hyunno menatap lama-lama batu bisu itu seolah sedang memikirkan sesuatu. “Aku mencari informasi tentang jejak keluarga Boo Jaemu, ahjushi. Yang ku temukan sedikit ironis. Kim Heechul kehilangan kewarasannya ketika Kim Hankyung meninggal karena serangan jantung, ia depresi lalu bunuh diri dengan cara menelan 50 butir pil tidur. Kim Karam menjadi gelandangan –tidak seburuk itu sebenarnya. Ia putus asa karena tiba-tiba meenjadi yatim piatu. Dari informasi yang ku dapatkan ia bekerja pada salah satu pusat prostitusi sebelum meninggal karena penyakit menular akibat pekerjaannya itu.” Hyunno diam sesaat ketika angin berhembus kencang, membuat bulu kuduknya meremang seketika. “Ahjushi, mulai sekarang aku akan sedikit jarang mengunjungimu karena aku sudah mengambil alih usaha keluarga kita yang sebelumnya Appa kelola. Appa sudah pensiun dan memaksaku untuk menikah agar bisa memberikannya cucu. Itu sedikit membebaniku.”

Hyunno menghela napas panjang, matanya berair. “Apa sekarang ahjushi bahagia? Apakah ahjushi bisa bersama Boo Jae? Ahjushi, kalau aku jatuh cinta dan mencintai seseorang aku tidak mau mencintainya seperti cara ahjushi mencintai Boo Jae. Itu cinta yang menyakitkan dan menyiksa. Aku akan mencintai dengan wajar selayaknya orang lain. Bila bisa diperjuangkan akan ku perjuangkan, jika tidak mampu ku perjuangkan maka akan ku lepas dan mencari cinta lain. Bukan berarti aku tidak sungguh-sungguh dalam mencintai. Aku hanya takut bila caraku mencintai seperti cara ahjushi mencintai akan banyak orang yang terluka, karena itu aku akan mencintai dengan cara yang normal.” Hyunno menatap langit biru yang dingin disela cabang pohon yang menaunginya. “Aku harus pergi sekarang karena ada rapat yang harus segera ku hadiri. Sampai jumpa lain waktu, Ahjushi.” Ucapnya mulai melangkah pergi.

Hyunno berjalan menyusuri jalan setapak utama yang terbuat dari semen berbentuk undakan yang mengarah ke bawah. Beberapa kali Hyunno berpapasan dengan peziarah yang datang membawa keranjang berisi bunga dan air mawar. Entah apa yang membuat orang-orang itu mendatangi tempat seperti ini pada cuaca yang dingin begini? Pertanyaan yang juga cocok dialamatkan padanya.

Ketika memasuki kawasan kaki bukit Hyunno berpapasan dengan seorang ibu yang menggandeng anak laki-lakinya. Dejavu! Hyunno berbalik dan menatap anak laki-laki yang juga menoleh kepadanya. Kulit pucat itu, mata bening seperti mutiara rusa betina itu, rambut hitam legam yang halus, bibir merah penuh yang sepertinya pernah dilihatnya dulu. Mendadak angin dingin sangat kencang menerpa tubuh Hyunno hingga membuatnya gemetar. Hyunno menengadah. Disana, di tengah-tengah makam antara Yunho ahjushinya dan Boo Jae berdiri sosok remaja tampan –sangat cantik tengah tersenyum padanya. Hyunno terbelalak sebelum mengucek matanya untuk memastikan bahwa kini sosok itu sudah menghilang.

“Percayai apa yang kau percayai, Nak!”

Hyunno tertegun mendengar penuturan seorang wanita tua yang dibantu berjalan oleh cucunya bicara seperti itu seolah-olah ucapan itu ditujukan untuknya.

Boo Jae… wajar bila ahjushiku tidak bisa melupakanmu. Kau benar-benar sosok yang sangat menawan.” Gumam Hyunno sebelum melanjutkan perjalanannya lagi.

<3 <3 <3 <3 <3

<3 <3 <3 <3 <3

Boojae, Joongie, terlalu cepat kau pergi bahkan sebelum aku sempat mengatakan Nado Saranghae padamu. Joongie ah, jika dikehidupan selanjutnya kita kembali bertemu, aku ingin menebus semua kesalahanku padamu. Aku akan mencintaimu dan selalu menjagamu, Boo berjanjilah untuk menungguku disana. Aku bersumpah akan menjaga hati dan cintakuy hanya untukmu sampai waktu memanggilku untuk mempertemukan kita lagi. Saranghae Boojae nae sarang….’

_YUNHO_

<3 <3 <3 <3 <3

<3 <3 <3 <3 <3

‘Aku memang tidak mengenalmu secara dekat karena selama ini aku memilih untuk memusuhimu dan menyakitimu, sekarang aku sadar jika kau sangat menyayangiku. Joongie saudaraku, maafkan kembaranmu ini yang menutup mata akan penderitaanmu selama ini, bahkan membiarkanmu berjuang sendiri melawan penyakitmu. Aku bangga karena terlahir menjadi kembaran seorang Kim Jaejoong yang tangguh dan kuat sepertimu, jikalau aku bisa terlahir kembali aku ingin kembali menjadi kembaranmu yang akan selalu menghiburmu ketika kau sedih, aku ingin menjadi saudaramu sekali lagi agar aku bisa menopangmu ketika kau merasa lelah. Selamat jalan saudaraku…. Semoga dikehidupan selanjutnya kita tetap terlahir sebagai saudara kembar, aku akan menyayangi…. Saranghae Uri Joongie….’

_KARAM_

 

<3 <3 <3 <3 <3

<3 <3 <3 <3 <3

<3 <3 <3 <3 <3

END

<3 <3 <3 <3 <3

<3 <3 <3 <3 <3

<3 <3 <3 <3 <3

<3 <3 <3 <3 <3

<3 <3 <3 <3 <3

Tidak apa-apa endingnya seperti ini, kan? Terima kasih karena sudah mengikuti epep ini dari awal sampai akhir. Terima kasih untuk masukan dan sarannya. Semoga kedepannya baik Yuuki, Marci maupun Metha chagy bisa lebih baik dalam menulis.

Yang berperan sebagai Jaejoong masih hidup kok sampai sekarang walaupun kadang kalau menangis suaranya hilang :)

Sekian dari Yuuki.

Terima kasih sekali lagi.

Tetap jaga kesehatan ya :)

<3 <3 <3 <3 <3

<3 <3 <3 <3 <3

Saturday, January 16, 2016

3:02:23 PM

Yuuki & Metha

Enternal Fate

Tittle                : Enternal Fate

Writer               : NaraYuuki

Genre               : Fantasy/ Romance/ Family

Rate                 : Bergantung sudut pandang individu yang membaca

Cast                 : Member DBSK (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan).

Disclaimer:      : They are not mine but this is mine, NaraYuuki

Warning           : This is YunJae Fan Fiction (Boys Love). Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut. TANPA EDIT!

<3 <3 <3 <3 <3

<3 <3 <3 <3 <3

<3 <3 <3 <3 <3

Epep ini didedikasikan untuk Metha Sari Chagy yang tanggal 14 Januari lalu berulang tahun.

Maaf ya telat post :) semoga bisa sedikit menghibur.

<3 <3 <3 <3 <3

Enternal Fate One Shoot

<3 <3 <3 <3 <3

 “Saat aku tak lagi berada disisimu, ku tunggu kau di keabadian….”

<3 <3 <3

Hiruk pikuk malam masih berdenyut-denyut ketika remaja itu menyeret koper besarnya menyebrangi trotoar jalan yang mulai sepi oleh lalu-lalang kendaraan bermotor walaupun kafe dan pub disepanjang jalan masih menguarkan aroma kehidupan yang kental penuh semangat. Sepatu but kulit mahalnya berderit ketika menginjak aspal beton yang keras lagi lembab sisa gerimis tadi sore. Sweeter yang melilit lehernya melambai-lambai tertiup angin malam yang sepoi namun mampu menghantarkan dingin. Topi rajut yang menutupi kepalanya membuat anak-anak rambutnya menjuntai berantakan. Ia tetap melangkah dalam diam mengabaikan kemewahan semu yang ditawarkan sekitarnya.

“Tuan Muda!” seorang pria paruh baya yang sedang menyetir mobil mewah menepikan mobilnya.

“Aku bilang ingin menyembunyikan kepulanganku, Ahjushi.”

“Saya tahu. Tapi saya tidak bisa membiarkan anda pulang berjalan kaki. Terlalu berbahaya untuk anda, Tuan Muda.”

Dengan berat hati remaja menawan itu membuka pintu kursi penumpang, melempar kopernya ke dalam lantas duduk dengan gusar di kursi penumpang sebelum membanting pintunya. Persetan jika mobil mewah itu harus rusak!

<3 <3 <3

Mendengar pembacaan surat wasiat yang sebelumnya ia sudah tahu apa isinya membuatnya bosan terlebih dengan orang-orang serakah lagi kikir yang mengaku sebagai ‘saudaranya’ yang gila harta. Pengacara almarhum ayahnya sekaligus sahabat terbaik ayahnya sejak kecil sudah memberitahukannya jadwal pembacaan isi surat wasiat peninggalan ayahnya yakni 40 hari setelah kepergian ayahnya yang sudah berumur 66 tahun. Ibunya adalah istri ke-2. Istri pertama ayahnya sudah meninggal karena sakit menahun tanpa meninggalkan seorang anak pun kemudian ayahnya menikahi ibunya dan lahirlah dirinya. Ibunya meninggal ketika usianya 4 tahun. Saat itu ibunya mengalami keguguran, proses medis untuk pembersihan rahim ternyata membuat rahim ibunya mengalami infeksi hingga akhirnya ibunya tidak terselamatkan.

Ia adalah anak tunggal. Jadi melihat banyak orang mengaku saudaranya –walaupun benar saudara sepupu namun baginya orang-orang itu hanyalah lintah busuk yang haus akan harta.

“Sehingga semua harta peninggalan almarhum baik itu rumah, perusahaan, aset tanah, peternakan dan perkebunan serta saham yang tersebar dibeberapa perusahaan milik kolega akan diserahkan pada putra tunggalnya bernama Kim Jaejoong yang saat ini sudah berumur 19 tahun.”

Banyak dengusan tidak puas ketika isi surat selesai dibacakan. Banyak protes yang berdengung-dengung di ruang tamu mewah penuh sesak itu.

“Saksi pembuatan surat ini adalah CEO Big East, Presdir Cassiopeia dan Komisaris Orion. Kalau anda sekalian tidak puas dengan isinya silakan protes pada almarhum dan silakan ajukan gugatan!” ucap sang pengacara yang sudah hapal dengan tabiat saudara klien sekaligus sahabatnya. “Nak, Jaejoong. Tugas pertamamu adalah bernegosiasi dengan keluarga Jung selaku owner perusahaan Scorpion sesuai keinginan ayahmu yang ingin bekerja sama dengan mereka membangun sekolah gratis. Cobalah bicara pada mereka! Kalau kau gagal, aku yang akan turun tangan membantumu.”

“Aku akan pergi menemui mereka sekarang, Ahjushi.” Ucap Jaejoong dingin, mengabaikan lirikan benci dari keluarga ayahnya yang gila harta.

<3 <3 <3

Jaejoong berjalan memasuki sebuah rumah mewah –bisa dikatakan vila atau sebuah puri mengingat rumah besar bergaya abad pertengahan itu berada dipinggiran kota dan memiliki halaman yang sangat luas. Remaja yang hanya mengenakan celana jeans dipadu sweter rajut panjang berwarna hitam dan sepatu but mahalnya itu nampak sangat percaya diri ketika menekan tombol pintu rumah megah, tempatnya harus bernegosiasi sesuai isi surat warisanya walaupun sejujurnya Jaejoong sangat malas melakukannya.

Mata bulat indah itu tampak terkejut ketika pintu kokoh di hadapannya dibuka oleh seseorang yang… membawa tengkorak kepala manusia ditangan kirinya sementara tangan kanannya mengusap-usap permukaan tengkorak itu dengan gerakan sangat lembut.

“Nugu?” tanyanya tanpa menatap Jaejoong.

Jaejoong mundur dua langkah ke belakang, jantungnya tiba-tiba menggila, sekujur tubuhnya serasa dirambati ketakutan yang membuatnya sedikit gemetar.

Omo!” pekik si pemililk rumah begitu melihat wajah pucat Jaejoong –yang memang asli pucat sejak lahir. “Changmiiiiiiiiiiiiinnnnnnnnnnnnnn!!!!!!!!!!!!!!!” suara lengkingan keras namun merdu itu membuat telinga Jaejoong berdengung-dengung.

Sosok jangkung yang sedang memegang sosis berukuran jumbo muncul di belakang sosok yang membawa tengkorak. “Apa?” tanyanya ketus.

Tangan kanan yang semenjak melihat Jaejoong mengusap permukaan tengkorak dengan gusar itu menunjuk arah Jaejoong, gemetar.

“Uhuk!” gilingan daging sosis yang sudah dikunyah itu akhirnya keluar juga. “Hero… hidup lagi?” gagapnya.

Jaejoong mulai merasa kedua orang di hadapannya ini adalah orang-orang yang kurang waras dan perlu perawatan mental dari ahlinya. Namun begitu mengingat tujuannya datang kemari Jaejoong segera membuang jauh-jauh pikiran itu. Melempar senyum andalannya. “Annyeonghaseo… Kim Jaejoong imnida.” Ucap Jaejoong sopan.

Eoh? Kim Jaejoong? Namamu Kim Jaejoong? Bukan Kim Hero?” diacungi tengkorak manusia seperti itu membuat nyali Jaejoong menciut juga.

Pemuda jangkung yang memagang potongan sosis berukuran jumbo itu mengamati Jaejoong dengan seksama, meneliti wajah, kepala, tangan, dari ujung kepala sampai ujung kaki sebelum berujar, “Kau… namja?” tanyanya seperti tidak yakin.

“Apa kau kira aku ini yeoja?” Tanya Jaejoong mulai tidak sabar pada dua orang aneh di hadapannnya. “Tidak sopan!”

“Kau benar-benar bukan Hero?”

“Apakah Jung Yunho ada? Aku harus bicara padanya secepatnya sebelum aku jadi gila karena ulah kalian berdua!” ketus Jaejoong yang mulai kehilangan kesabarannya.

“Yunho sedang tidak ada di rumah. Kau ingin meninggalkan pesan untuknya?” Lagi-lagi Jaejoong diacungi tengkorak yang menurutnya sangat mengerikan.

“Tidak!” jawab Jaejoong yang langsung pergi meninggalkan kediaman mewah namun aneh itu dengan perasaan jengkel.

<3 <3 <3

Setelah gagal bertemu dengan orang bernama Jung Yunho dikediamannya –malah bertemu dua orang sinting aneh akhirnya semalam Jung Yunho menelpon pengacara ayah Jaejoong yang kini menjadi penasihat pribadi Jaejoong untuk bertemu dengan Jaejoong disalah satu restoran, selain untuk membicarakan pembangunan sekolah gratis sekaligus untuk mengundang Jaejoong makan siang.

Disinilah Jaejoong sekarang. Di sudut restoran bintang lima menunggu orang bernama Jung Yunho –yang Jaejoong yakini tidak bisa menghargai waktu orang lain. Sudah lebih dari 30 menit Jaejoong menunggu, 3 mangkuk ice cream vanilla & 3 gelas jus jeruk sudah Jaejoong habiskan namun orang bernama Jung Yunho itu tidak kunjung datang. Berkali-kali Jaejoong mendengus kesal. Jaejoong tidak suka menunggu dan orang bernama Jung Yunho untuk pertama kalinya membuatnya mau menunggu.

Jaejoong hendak memanggil pelayan untuk meminta bon ketika tiba-tiba saja orang pemuda berkaca mata dengan setelan jas mahalnya duduk di hadapan Jaejoong dengan santainya.

“Kim Jaejoong?” Tanya orang itu sambil melepas kaca mata hitamnya, memperlihatkan mata kecil tajam namun penuh charisma.

“Ya. Kau siapa?” Tanya Jaejoong ketus. Jaejoong kesal karena harus menunggu terlalu lama dan orang sinting yang sok akrab dengannya ini berhasil meyulut emosinya.

Pemuda itu tersenyum, sangat tampan namun Jaejoong tidak bisa melihat pesonanya dikarenakan sedang marah. “Namaku Jung Yunho.”

“Oh, orang yang tidak bisa menghargai waktu orang lain?” Tanya Jaejoong ketus penuh kemarahan. “Sayang sekali aku tidak berminat lagi bicara padamu!” tambahnya.

Yunho –pemuda itu hanya mengulum senyum.

“Sebagai kompensasi 30 menit waktuku menunggumu kau harus membayar apa yang sudah masuk ke dalam perutku!” ucap Jaejoong lantas pergi begitu saja meninggalkan Yunho yang masih memasnag senyum bahagianya.

“Ah… de javu. Dengan orang berbeda namun beraroma sama….” Gumam Yunho.

<3 <3 <3

<3 <3 <3

“Saat aku tak lagi disisimu, ku tunggu kau dikeabadian….” Gadis cantik itu berujar lirih. Dari kedua sudut mata sayunya mengalir air mata bening yang membasahi wajah cantiknya yang terlihat pucat lagi kusam.

“Tidak! Jangan katakan itu, ku mohon!”

“Aku mencintaimu… kalau diberi kesempatan untuk hidup lagi aku akan tetap memilihmu untuk ku cintai.”

“Sayangku….”

“Aku mencintaimu, Yun….”

<3 <3 <3

<3 <3 <3

“Hm… wajahnya memang mirip Hero. Tapi dia namja. Dia juga memiliki karakter yang sangat buruk. Berbeda dengan Hero yang lemah lembut.” Tengkorak yang permukaannya sedikit retak itu diusap berkali-kali dengan lembut penuh kasih.

“Jangan lupakan pertemuan awal kita dengan Hero, Junsu! Dia meneriakiku maling hanya karena aku memungut buah apel dipekarangan rumahnya.” Ucap Yunho.

“Ya, aku ingat.”

“Tapi untuk apa kita menguntit anak kecil yang sedang jogging, Hyung?” Tanya pemuda jangkung yang sedang memakan sossis jumbonya.

“Aku harus minta maaf padanya karena terlambat kemarin.” Ucap Yunho, “Kalau saja Yoochun tidak mengamuk dan menghajar orang sampai mati pasti aku bisa berbicara lebih lama dengan Jaejoongie….”

“Jaejoongie?” geli Junsu.

“Maafkan aku soal itu.” Yoochun, pemuda berkulit pucat yang duduk dibelakang kemudi berujar. “Aku sudah memeringatkan mereka namun mereka tidak mau mendengarku.”

“Asal kita tidak perlu terusir lagi hanya karena berdekatan dengan orang sepertinya.” Gumam Changmin yang sukses mendatangkan raut tegang pada wajah 3 orang lainnya yang berada satu mobil dengannya.

<3 <3 <3

Jaejoong menatap sekilas sosok yang berdiri di depan pintu rumahnya, rumah warisan ayahnya –sosok yang sedang tersenyum riang sambil membawa kotak besar berpita. Jaejoong tidak tahu kenapa tapi rasanya sangat muak melihat senyum dan wajah itu padahal mereka baru berjumpa sekali itu pun tidak lebih dari 10 menit.

Berjalan pelan menuju teras rumahnya, Jaejoong mengelap peluh yang membasahi wajanya menggunakan handuk putih kecil yang ia kalungkan pada lehernya. “Mau apa kau kemari?” Tanya Jaejoong terdengar kurang ramah membuat pelayan dan tukang kebun yang kebetulan membersihkan halaman depan tersentak dan menoleh ke arahnya.

“Ku rasa kurang sopan berkata seperti itu pada tamu.” Ucap Yunho terdengar ramah.

“Sangat pantas bagi orang yang sudah terlambat 30 menit padahal ia sendiri yang menyebutkan waktu dan tempat pertemuan.” Balas Jaejoong yang langsung masuk rumah begitu saja tanpa memedulikan Yunho.

“Kau masih marah?” Tanya Yunho yang mengikuti langkah Jaejoong dari belakang.

“Menurutmu?” Jaejoong bertanya balik. Mendudukkan dirinya di atas sofa ruang tamu berwarna hijau lantas melepas sepatu olah raganya.

Yunho duduk di hadapannya, tersenyum dan meletakkan kotak yang dibawanya di atas meja di hadapan Jaejoong. “Oleh-oleh untukmu. Ku harap bisa sedikit meredakan amarahmu.”

“Kau berniat menyogokku dengan hadiah? Kau pikir aku polittikus yang haus kekuasaan sehingga menghalalkan segala cara? Kau merendahkanku?”

Yunho menghela napas panjang, pemuda di hadapannya baru berusia 19 tahun, masih kekanakan dan sedikit meledak-ledak. Ia harus sabar menghadapi Jaejoong. Dengan perlahan Yunho membuka simpul pita dan kardus yang ia bawa. Tersenyum puas melihat binar bahagia terpancar dari wajah menawan Jaejoong.

Jaejoong tidak akan pernah bisa menolak boneka gajah besar berwarna abu-abu di hadapannya. Sangat menggoda untuk di peluk dan dibelai.

“Aku dan ayahmu punya hubungan yang baik, kami pernah membangun sekolah di Afrika dan beberapa Negara Asia. Jadi mari kesampingkan dulu amarahmu dan kita bicara soal proyek yang digagas oleh ayahmu beberapa bulan lalu sebelum beliau meninggal.” Ucap Yunho terdengar dewasa dan bijaksana, padahal kalau dilihat-lihat usia pemuda itu baru sekitar 25 tahunan.

Tangan kanan Jaejoong terjulur menyentuh belalai bonekanya, membelainya sesaat sebelum menatap Yunho dengan mata indahnya. “Aku kurang mengerti dengan proyek yang kau maksud. Tapi aku harus meneruskan apa yang sudah ayahku mulai.”

“Semangat yang bagus.” Puji Yunho. “Aku akan membantumu.” Janjinya.

“Orang-orang yang menemuiku ketika aku mendatangi rumahmu… apakah mereka saudaramu?” Tanya Jaejoong teringat sesuatu. Ada gurat penasaran pada wajahnya.

“Ya. Saudara dalam banyak hal kalau boleh ku sebut begitu.” Jawab Yunho. “Kenapa? Apa mereka mengganggumu?”

Jaejoong menggelengkan kepalanya pelan. “Mereka aneh!”

Yunho menahan tertawanya agar tidak meledak ketika mendengar gerutuan Junsu dan Changmin dari dalam mobil yang terparkir di depan gerbang rumah Jaejoong.

“Apakah… apa tengkorak yang dibawa dan diusap-usap itu tengkorak asli?” wajah Jaejoong menampakan ekspresi ngeri.

“Tengkorak asli, milik saudara kembar Junsu.” Ucap Yunho, walaupun senyum terpatri pada wajah tampannya namun ketika ia menjawab pertanyaan Jaejoong suaranya terdengar sedih berempati.

“Junsu?”

“Orang yang membukakan pintu untukmu sambil membawa tengkorak kemana-mana, namanya Junsu. Sedangkan si rakus yang hobi makan sossis bernama Changmin. Ada seorang lagi bernama Yoochun yang sedikit pendiam namun berbahaya.” Jelas Yunho.

“Kau juga berbahaya.” Gumam Jaejoong lebih kepada dirinya sendiri. Remaja tampan –cantik itu tidak tahu mengapa tetapi ada bagian dalam dirinya yang berteriak waspada terhadap sosok Jung Yunho.

Mata kecil Yunho melengkung ibarat bulan sabit ketika Jaejoong mengucap kata berbahaya walaupun pelan.

“Ada sebagian dalam diriku yang merinding ketika berada didekatmu dan saudara-saudaramu.” ucap Jaejoong kemudian. “Tapi mari lupakan soal itu dan membahas proyek pembangunan sekolah gratis. Aku belum melihat proposalnya. Bisa ku lihat sekarang?”

“Ayahmu punya kopiannya. Kebetulan aku tidak membawanya.” Jawab Yunho.

Jaejoong mengangguk mengerti. Kalau ayahnya punya kopiannya ia tinggal mencarinya di ruang kerja mendiang ayahnya. “Okay. Dimana sekolah itu akan dibangun?”

“Tidak jauh dari sini, di daerah kumuh pinggiran Seoul.” Jawab Yunho. “Banyak tuna wisma disana yang tidak mampu menyekolahkan anaknya.” Jawab Yunho.

“Aku tidak tahu dimana daerah yang kau maksud karena sejak kecil aku dibesarkan di Tokyo.” Ucap Jaejoong. “Lain kali aku akan mengunjunginya.”

“Polos seperti Hero….” Gumam Yunho. “Lain kali maukah kau memenuhi undanganku lagi? Aku janji tidak akan terlambat lagi.”

“Akan ku pikirkan!” jawab Jaejoong.

<3 <3 <3

Ular piton itu melata diantara kaki-kaki kursi yang sedang diduduki oleh ke-4 pemuda yang sedang menikmati acara minum bersama –minuman bening berwarna merah dengan aroma khas menyerupai wine. Ular berukuran panjang sekitar 5 meter itu akhirnya melilitkan tubuhnya pada tiang beton di dekat jendela remang-remang yang disinari cahaya sinar bulan.

“Aku tidak percaya pada reinkarnasi.” Gumam Yoochun yang menuangkan cairan berwarna merah dari botol kedalam gelasnya sendiri.

“Sama. Tetapi aromanya memang sama persis dengan aroma tubuh Hero. Kalian tahu? Aku dan Hero adalah sahabat baik.” Sahut Junsu.

“Kau selalu menjadi bulan-bulanan Hero, Junsu!” ralat Changmin.

“Terima kasih sudah mengingatkanku, food monster! Akan kucampur daging sossismu itu dengan daging tikus lain kali!” ucap Junsu sambil mengusap tengkorak miliknya secara lembut.

“Coba saja kalau kau ingin mati!” balas Changmin.

“Kalau kita bisa mati, alangkah menyenangkannya….” Gumam Yunho. “Kemarilah Nagisa… kau tahu bahwa sebagian darinya adalah milik Hero, kan?” ucap Yunho memanggil sang ular yang langsung melata dan melilitkan tubuh besar panjangnya pada kursi yang Yunho duduki.

“Kau yakin?” Tanya Junsu sedikit cemas. “Dia manusia biasa.”

“Akan ku ubah dia menjadi seperti kita agar kematian tidak bisa memisahkan kami.” Sahut Yunho.

<3 <3 <3

Jaejoong menatap ngeri sosok perempuan pucat serupa dirinya yang sedang menatap tajam pada dirinya. Bulu kuduk Jaejoong meremang, tubuhnya gemetar hebat. Jaejoong ingin berlari namun kakinya seolah terpancang (terpaku) di tempat. Rasanya seluruh tulang-tulangnya meleleh ketika perempuan cantik itu berjalan perlahan menuju ke arahnya. Keringat dingin membasahi tubuhnya, Jaejoong ingin menangis, menjerit meminta tolong pada siapapun yang bisa membantunya lepas dari situasi menakutkan ini. Pelukan itu terasa seperti es yang menghujam kulitnya hingga kebas. Jaejoong menggigil sebelum akhirnya kehangatan itu perlahan-lahan menyelimuti tubuhnya.

“Jangan takut Jaejoongie… aku tidak akan melukaimu.” Bisikan itu terdengar lembut dan menenangkan membuat Jaejoong terpejam dalam buaian.

Kemudian ketika Jaejoong membuka kedua mata hitam legamnya, ia sudah berdiri di sebuah anak  tangga yang mengaeah ke bawah. Lorong yang menjorok ke bawah itu tidak sepenuhnya gelap walaupun udara disana terasa sangat pengap. Ada cahaya dari lampu minyak yang di gantung sepanjang dinding beton. Dengan ragu-ragu Jaejoong melangkah menuruni tangga tua penuh sarang laba-laba itu hati-hati, tidak mau mati konyol ditempat yang sepertinya sangat berbahaya itu. Jaejoong terus berjalan menyusuri lorong yang pengap, kotor, penuh tikus dan kecoa hingga tiba-tiba saja kakinya berhenti di sebuah pintu kayu kokoh berwarna keemasan. Tangannya terjulur untuk membuka daun pintu yang dilapisi debu lumayan tebal. Perlahan-lahan pintu berat itu terbuka. Mata Jaejoong terbelalak melihat sebuah lukisan besar yang dipajang berhadapan langsung dengan mulut pintu, sosok perempuan muda yang tadi ditemuinya –cerminan dirinya dalam bentuk yang berbeda. Kaki Jaejoong melemas, kepalanya berkunang-kunang dan pening, keringat dingin membuat tubuhnya mengigil ketakutan.

“Jaejoongie….” Suara itu memanggilnya lembut, serupa bisikan lirih yang lembut namun menakutkan. “Jaejoongie….”

“Jaejoong sshi….”

“Arghk!” jerit Jaejoong sembari mendudukkan dirinya di atas tempat tidur yang sudah porak-poranda, bantal dan selimutnya berserakan menjuntai di lantai. Napasnya terengah, keringat lepek membasahi sekujur tubuhnya. Dengan waspada Jaejoong menatap kesekeliling kamarnya untuk mencari sosok yang tadi menemuinya namun hanya sang pelayan setialah yang berdiri didekatnya sambil tersenyum ramah.

“Jaejoong sshi, sudah waktunya bangun. Saya mendengar anda berteriak-teriak jadi saya membangunkan anda. Maaf jika apa yang saya lakukan membuat marah anda.” Ucap pria paruh baya berwajah ramah itu hati-hati.

Jaejoong menelan ludahnya susah payah, kerongkongannya terasa kering. “Ahjushi… dimana dia? Dimana perempuan itu?”

“Perempuan mana yang anda maksud?”

“Perempuan yang wajahnya mirip denganku!” ucap Jaejoong sedekit memekik, bukan karena marah melainkan lebih kepada ketakutannya sendiri.

Sang pelayan mengerutkan wajah keriputnya dengan bingung, lantas tersenyum hangat pada majikan mudanya.

<3 <3 <3

Mata Jaejoong melebar melihat lukisan yang sebelumnya ia lihat –walaupun melalui mimpi, sebelumnya Jaejoong tidak pernah tahu –tidak pernah diberi tahu bahwa di dalam rumah peninggalannya ini terdapat ruang bawah tanah yang digunakan untuk menyimpan harta keluarga, emas, perak dan barang-barang lainnya yang berharga dari masa lampau. Sepertinya lukisan perempuan berwajah mirip dirinya itu pun bagian dari harta berharga keluarga hingga sampai sekarang tetap disimpan dengan baik.

“Kata ayah saya yang dulunya juga kepala pelayan keluarga ini, lukisan ini adalah saudara kembar kakek buyut anda, Kim Hyunjoong yang hidup sekitar 150 tahun lalu. Namanya Kim Hero, seorang perempuan muda yang cerdas dan cekatan.”

Jaejoong melirik sekilas pelayannya sebelum kembali focus pada lukisan besar dihadapannya. “Aku belum pernah mendengar ceritanya dari ayah. Apa penyebab kematiannya? Dengan siapa ia menikah? Dimana anak keturunannya, Ahjushi?”

Pria paruh baya itu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya perlahan, wajahnya terlihat sedikit keruh dari biasanya. “Ada yang mengatakan bahwa nona Hero meninggal karena dibakar masyarakat kala itu, ada yang mengatakan ia meninggal karena sakit, ada pula yang…”

“Dibakar?” pekik Jaejoong memotong ucapan sang pelayan, “Kenapa bisa?”

“Itu hanya gossip yang secara turun temurun diceritakan oleh keluarga saya yang sudah mengabdi pada keluarga ini selama ratusan tahun, Tuan muda.” Jawab sang pelayan. “Yang saya tahu versi cerita tentang kematian nona Hero yang dibakar karena beliau melindungi seorang vampire yang dicintainya.”

“Vampire?” Jaejoong menyerngit bingung. “Ahjushi, kau tidak habis baca novel fantasi picisan yang sedang trend sekarang, kan?”

Pelayan itu hanya tersenyum, “Itu hanya cerita, Tuan. Saya lebih suka mendengar cerita kematian nona Hero yang sakit TBC daripada versi yang pertama.”

Jaejoong mengangguk-anggukkan kepalanya setuju. “Cerita itu lebih masuk akal daripada dongeng aneh tentang vampire itu.” Komentarnya. “Apakah hari ini ada pertemuan yang harus ku hadiri? Kalau tidak ada aku ingin mengerjakan tugas kuliahku sebelum ku kirim ke dosen.”

“Ada rapat pemegang saham pukul 10 nanti.”

“Baiklah… rapat dengan para orang tua yang kolot.” Gerutu Jaejoong.

<3 <3 <3

Ahjushi tolong hati-hati!” pinta Jaejoong sedikit cemas melihat banyaknya mobil yang tergelincir karena jalanan licin berlumpur. Mungkin semalam hujan deras dan Jaejoong tidak menyadarinya karena mimpi aneh yang ia alami. “Berbahaya jika ban mobil sampai selip.”

“Iya, Tuan muda.” Jawab sang supir.

Jam tangan yang melingkar pada pergelangan tangan kirinya baru menunjukkan pukul 09.15 AM, masih ada waktu sekitar 45 menit sebelum rapat dimulai. Namun ada sesuatu hal yang membuat perasaan Jaejoong sedikit resah, entah karena mendung yang menggantung atau kondisi jalanan yang sedikit berbahaya.

Diiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinnnnnnnnnnnnnnnnnnn!

Jaejoong tersentak kaget ketika tiba-tiba saja melihat mobil di depannya mengerem mendadak dan menabrak pembatas jalan, kepalanya pusing ketika dirinya dipaksa berputar-putar –mobil yang dikendarainya berputar-putar karena mengerem mendadak, bertambah parah akibat jalanaan yang licin berlumpur. Jaejoong bisa melihat supirnya berusaha keras mengendalikan kemudi mobil, namun Jaejoong pasrah. Sebelum akhirnya mobil mewah yang ia tumpangi terjun ke dalam jurang Jaejoong sempat melihat sosok perempuan seperti dirinya tengah menangis –menangis untuknya.

<3 <3 <3

“Apa yang terjadi?” Tanya Yunho, wajahnya panik dan serius –cenderung menyeramkan.

“Saya tidak tahu kronologis kejadiannya, Tuan. Hanya saja tadi Jaejoog sshi pergi diantar supir, supir baru untuk menghadiri rapat, tetapi tiba-tiba saya dikejutkan oleh telpon dari kepolisian yang mengatakan Jaejoong sshi mengalami kecelakaan.” Terang sang pelayan setia keluarga Kim, “Supir itu meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit sementara Jaejoong sshi sedang berada di ruang operasi. Sudah 2 jam saya menunggu tetapi dokter belum juga keluar.” Ucapnya dengan panik.

Baru saja Yunho hendak berkomentar, pintu ruang operasi dibuka, seorang suster yang memakai masker untuk menutupi sebagian wajahnya keluar, “Keluarga Kim Jaejoong?”

“Ya?” sahut Yunho.

“Kami kehabisan darah golongan B+. adakah anggota kelurga yang memiliki golongan B+?” Tanya sang suster.

Sang pelayan keluarga Kim menatap putus asa pada Yunho. Jaejoong adalah satu-satunya anggota inti keluarga Kim yang tersisa.

Yunho menelan ludahnya susah payah. Bimbang berkecamuk dalam hatinya terlebih suara-suara Junsu dan Changmin yang memenuhi tempurung kepalanya –memperingatkan dirinya. “Ambil darahku, suster.” Ucap Yunho akhirnya.

“Mari ikut saya!”

Yunho mengangguk singkat pada sang pelayan sebelum berjalan mengikuti suster untuk mengambil darahnya. Ada keraguan besar dihati Yunho namun ketakutannya untuk sekali lagi kehilangan belahan jiwanya jauh lebih besar daripada melihat kematian itu sendiri. Yunho sudah memutuskan, apapun yang akan terjadi nanti biarlah terjadi yang terpenting sekarang adalah menyelamatkan Jaejoong terlebih dahulu.

<3 <3 <3

“Kau tahu apa yang sudah kau lakukan? Memberikan darahmu untuk bocah bernama Jaejoong itu!” Junsu memukul-mukul dada Yunho dengan keras, mengabaikan tengorak yang ia letakkan di atas sofa beludru yang nyaman.

“Kau menjadikannya seperti kita? Hyung!” kali ini Changmin yang murka.

“Aku sudah kehilangan dirinya sekali, aku tidak mau merasakan pahitnya kehilangan dirinya untuk kedua kalinya.” Komentar Yunho. “Nagisa….” Yunho menatap gulungan ular yang berada di atas pangkuan Yoochun yang sejak tadi memilih diam tanpa berkomentar apa-apa.

“Bagaimana kalau reaksinya sama seperti mantan kekasih Yoochun itu sehingga kita terpaksa melenyapkannya?” Tanya Junsu, “Lihat yang terjadi pada Yoochun sekarang! Jadi sedikit kurang waras!” sinisnya.

“Jaejoong berbeda.” Ucap Yunho.

“Teruslah memujinya! Kau akan menyesal nanti ketika Jaejoongmu itu berbalik dan menghianatimu!”

<3 <3 <3

Jaejoong duduk termenung di sebuah batu hitam besar berpermukaan halus yang ada di sebuah taman. Diseberang taman ada sebuah jembatan yang ujungnya tertutup kabut tebal, tumbuhan disekitarnya –pohon, bunga dan kupu-kupu kesemuanya berwarna putih keperakan yang berkilauan indah. Dapat Jaejoong lihat banyak sekali orang yang melewati dirinya untuk menyebrang jembatan tak berujung itu mulai dari anak kecil, remaja, orang tua, remaja dan lanjut usia. Jaejoong hanya mengamati mereka tanpa minat dalam diam. Lantas semuanya gelap gulita. Jaejoong seolah ditarik dalam pusara gelap tidak berujung selama beberapa detik lamanya sebelum akhirnya dirinya berdiri disebuah kamar redup –kamar bernuansa tradisonal klasis perpaduan barat dan timur. Matanya membulat saat menangkap siluet tubuh dua orang yang sedang bergumul di atas ranjang yang dikelilingi oleh kelambu tipis berwarna gading. Matanya semakin membulat ketika wajah kedua orang itu terlihat jelas.

Yunho –Jung Yunho dan perempuan serupa dirinya.

Berkali-kali Jaejoong mengedipkan matanya untuk memastikan penglihatannya tidak salah. Setelah beberapa kali berkedip dirinya terperanjat. Kini Jaejoong melihat dirinya sendiri di atas ranjang sana menggantikan sosok perempuan mirip dirinya yang sudah menghilang entah kemana tengah bergumul dengan Yunho. Jaejoong ngeri ketika melihat dirinya yang berada dibawah kungkungan tubuh kekar Yunho itu tampak menikmati sentuhan yang pemuda bemata setajam musang itu berikan. Perut Jaejoong terasa seperti diaduk-aduk sebelum semuanya gelap kembali.

Hanya terdengar suara pip… pip… yang tidak Jaejoong ketahui dimana sumbernya. Lantas samar terdengar suara khawatir dari pelayan setianya yang terus memanggil-manggil namanya.

Jaejoong gelisah dalam dunia gelapnya. Memaksakan diri sekuat tenaga untuk membuka matanya, melihat…

“Argh!” Jaejoong berteriak histeris ketika melihat pori-pori kulit pelayan setianya serta dokter dan suster yanga ada didekatnya, menatap ngeri pada bulu-bulu halus dalam kulit mereka. Menggelengkan kepalanya susah payah ketika tatapan matanya mampu menembus tembok beton di hadapannya. Jaejoong berteriak-teriak ketika ketiga orang itu berusaha menenangkannya. Matanya terbelalak seolah-olah semua yang dilihatnya hanyalah mimpi buruk semata, ia ingin secepatnya bangun dari mimpi aneh itu, sampai akhirnya sebuah suara familiar memanggil namanya.

“Tidak apa-apa, Jaejoongie…. Tidak apa-apa.”

Jaejoong menoleh dan melihat sosok Yunho berdiri didekatnya, mengusap lengannya yang bebas sebelum dirinya kembali terlelap. Sebelum kegelapan itu memeluknya Jaejoong sempat mendengar bisikan lirih.

“Kita akan bersama selamanya….”

<3 <3 <3

Esok harinya Jaejoong terbangun lagi, kali ini ia sudah tidak berada di ruang ICU sama seperti kemarin. Ia sudah dipindahkan ke ruang perawatan khusus VVIP dengan segala fasilitas lengkapnya. Jarum infuse masih menancap pada lengan kirinya. Jaejoong diam saja ketika melihat suster mengantarkan jatah makan siangnya. Jendela kamarnya tertutup rapat, pencahayaan hanya dari lampu. Udara yang dialirkan AC membuat ruangan itu terasa sejuk –cenderung dingin. Jaejoong sibuk berkutat dengan lamunannya, mengabaikan acara televisi layar datar yang diputar, mengabaikan obrolan antara pelayan pribadinya dengan Yunho di ujung ruangan –mereka tengah duduk di sofa sederhana dalam ruangan itu. Terlalu asik melamun sampai Jaejoong tidak menyadari bahwa semua orang sudah pergi meninggalkan ruangannya kecuali ia dan Yunho.

“Apa yang terjadi padaku?” Tanya Jaejoong saat Yunho berjalan ke arahnya. “Aku melihat hal yang sebelumnya tidak bisa ku lihat, aku bisa mendengar orang bicara dari jarak jauh, aku bisa merasakan apa yang seharusnya tidak bisa ku rasakan. Aku tahu kau dan aku tidak sama dengan Ahjushi dan suster yang pergi tadi.”

Yunho menarik kursi lipat dan duduk disebelah ranjang Jaejoong.

“Aku bisa melihat semua kenangan masa lalumu tanpa ku minta seperti melihat potongan film documenter.”

“Dengar! Sekarang kau berbeda dari orang kebanyakan.”

“Aku tahu. Tapi kenapa?”

Yunho tersenyum. “Karena aku mendonorkan darahku untukmu. Darahku masuk ke dalam tubuhmu dan membuatmu sama sepertiku, kekal. Abadi namun rapuh dan bisa mati kapan saja.”

Jaejoong menatap tajam Yunho yang menatap lembut padanya. “Kau ini apa?” tanyanya penuh selidik. “Vampire?”

“Aku pun tidak tahu apa diriku yang sebenarnya, tetapi aku tidak minum darah sama seperti vampire yang sering diceritakan dalam novel dan film. Aku tidak takut pada matahari walaupun api bisa membakar tubuhku. Aku bisa mati bila tertusuk senjata perak atau kehabisan darah. Tapi aku kekal selama aku bisa menjaga diriku dari hal-hal yang terlarang.” Jelas Yunho membuat kerutan pada wajah cantik Jaejoong bertambah.

“Saudaramu pun begitu?”

“Ya. Tanpa terkecuali.”

“Kau makan apa?”

“Sama halnya yang dimakan oleh manusia kebanyakan, aku pun minum alkohol tetapi tidak meminum darah. Memang kebutuhan akan darah sangat menguat pada saat-saat tertentu –terutama bulan purnama tetapi aku –kami bisa menahannya dengan menelan selusin pil penambah darah yang dijual bebas dipasaran. Kami belum pernah membunuh orang atau melukai orang lain. Kami menjaga jarak agar keberadaan kami tidak diketahui, agar kami bisa membaur dengan khalayak.”

“Dan Hero? Dia mati karena melindungimu dari amukan warga?”

Yunho menelan ludah susah payah. Hero adalah nama sacral untuknya, nama perempuan yang pernah sangat ia kasihi sebelum sosok Jaejoong datang dan membuyarkan kenangannya tentang Hero. “Hero meninggal dalam pelukanku.”

“Aku tahu, aku melihatnya dari ingatanmu yang terbaca olehku.”

“Terbawa oleh darahku yang masuk ke dalam tubuhmu.” Ralat Yunho. “Kami saling mengasihi dalam berbagai hal, namun kakek buyutmu yang juga kakaknya, Kim Hyunjoong mengetahui bahwa aku berbeda dengan orang kebanyakan. Ia, Kim Hyunjoong mengumpulkan semua warga dan mengusir kami dari desa. Hero yang memang sudah mengidap TBC menyusul kami dalam pengusiran kami, ia meninggal karena cuaca ekstrem, meninggal dalam pelukanku.” Ada gurat sedih dalam wajah Yunho yang tidak coba ia tutupi. Jaejoong diam sesaat.

“Kau mengubahku sepertimu agar bisa mengantikan posisi Hero dihatimu?”

“Kalian berdua mirip, tentu saja. Tetapi ada hal lain yang membuatku tidak ingin membiarkan kematian menyentuhmu. Sebuah hasrat dan keinginan yang lebih besar daripada ketakutanku kehilangan Hero kala itu. Ada hal dalam dirimu yang menarikku jauh lebih kuat daripada ketertarikanku pada Hero.” Komentar Yunho. “Kalian mirip, iya. Tetapi kalian berbeda. Aku menjadikanmu sepertiku bukan karena kau mirip Hero tetapi karena kau adalah Kim Jaejoong. Dan aku menginginkan Kim Jaejoong lebih besar daripada Hero.”

<3 <3 <3

Jaejoong tidak lagi ngeri, justru terbiasa pada dirinya yang baru. Bahkan ketika Yunho mengajaknya bertemu dengan keluarganya Jaejoong merasa biasa-biasa saja. Tengkorak yang selalu Junsu usap lembut tidak lagi mengganggunya, sossis ukuran jumbo yang Changmin makan tidak lagi membuatnya terheran-heran.

“Yoochun….” Yunho mengenalkan Jaejoong dengan si pendiam Yoochun, “Kalian belum pernah bertemu sebelumnya, kan? Semoga kalian bisa menjadi teman akrab. Dan… Nagisa. Dia sangat antusias ketika aku mengatakan padanya bahwa kau akan datang berkunjung.

Jaejoong membiarkan ular besar itu melilit kursi tempatnya duduk, tidak merasa risih ketika kepala ular itu mengusap-usap lehernya seolah sedang mencari perhatiannya. Jaejoong mungkin sudah lari terbirit-birit jikalau pikiran bahwa ular itu bisa meremukkan tulangnya tetapi remaja itu tidak memiliki pikiran seperti itu. Ular itu, Nagisa sepertinya jinak dan menyukai keberadaannya.

Keluarga Jung sangat membantu Jaejoong dalam menyesuaikan dirinyanya yang baru. Junsu mengajarinya banyak hal tentang larangan atau apapun yang harus ia jauhi agar tidak membahayakan nyawanya, walaupun kini ia kekal bukan berarti dirinya tidak bisa mati. Changmin mengajarkan banyak hal soal makanan yang mampu membuat stamina terjaga dan makanan yang harus dihindari agar tidak lemas. Yoochun mengajarkannya memaknai hidup kekal dalam banyak hal. Nagisa si ular mengajarkannya pada kesetiaan sedangkan Yunho mengajarkannya mengatasi kesepian yang selama ini Jaejoong rasakan ketika menjadi putra tunggal keluarga Kim. Yunho menjadi sahabat, teman bicara, musuh sekaligus guru yang baik bagi Jaejoong.

Perlahan-lahan Jaejoong menerima takdirnya yang baru, takdir yang mengikatnya dalam keabadian bersama keluarga Jung yang lain. Jaejoong juga menerima bahwa Yunho mengasihinya dalam banyak hal, bahkan Jaejoong tidak merasa risih ketika berhubungan intim dengan Yunho. Ada sebuah kelegaan ketika mereka melakukannya. Perlahan-lahan Jaejoong memahami arti mencintai, memiliki dan takut kehilangan dalam kekekalan yang berada diambang matanya.

“Bagaimana bila aku melakukan kecerobohan dan mati?” Tanya Jaejoong suatu sore yang berawan.

Yunho meletakkan cangkir tehnya di atas meja, menatap kekasihnya itu lekat-lekat sebelum menjawab pertanyaannya. “Aku akan melemparkan diriku sendiri kedalam lautan api untuk menyusulmu.”

Jaejoong tersenyum, mata indahnya mengamati Nagisa yang melata menuju arah pohon cemara di halaman belakang rumah, membiarkan jemari kuat Yunho menggenggam tangannya. Membiarkan keabadian mengiringi langkahnya mengarungi kehidupan bersama Yunho dan anggota keluarga Jung lainnya. Hanya mereka berlima dan Nagisa. Bersama… selamanya.

<3 <3 <3

<3 <3 <3

<3 <3 <3

END

<3 <3 <3

<3 <3 <3

<3 <3 <3

FFny gaje? Ga masalah :) buatnya juga Cuma sebentar kok. Ispirasinya sountrak Ainun & Habibi. Semoga bisa sedikit menghibur ya :) epep yang lain masih proses edit. Jadi harap sabar menunggu.

Tetap jaga kesehatan <3

<3 <3 <3

<3 <3 <3

<3 <3 <3

Friday, January 15, 2016

3:01:20 PM

NaraYuuki

The Ego

 

Lagi pre order.

Bagi yang minat buat koleksi Yuuki kasih sedikit info berkaitan dengan The Ego.

The Ego merupakan kumpulan one shoot yang Yuuki tulis. Old? Jelas ada. Ada juga epep baru yang belum pernah Yuuki post dimana pun masuk ke dalam buku ini.

The Ego Yuuki persembahkan untuk Tria Tan yang sudah begitu baik pada Yuuki selama ini. Thanks a lot, Dear <3 <3 <3 <3 <3

Berikut ini daftar epep yang masuk dalam The Ego :)

The Ego - Cover depanGeneral

  1. Black Swan (new)
  2. Fellings
  3. Future
  4. Smokie Man (New)
  5. Pasteurisasi Asa
  6. Realism Alova
  7. The Scent Of Love
  8. Sekuel The Scent Of Love

<3 <3 <3 <3 <3<3 <3 <3 <3 <3

Black Swan (2) Black Swan

<3 <3 <3 <3 <3<3 <3 <3 <3 <3

GS

  1. Typology Jung
  2. Jo Maemi Jongji Naeso
  3. Bother Me (New)

<3 <3 <3 <3 <3<3 <3 <3 <3 <3

A Story

<3 <3 <3 <3 <3<3 <3 <3 <3 <3

Fantasi

  1. A Story (New)
  2. Serigala dan Tudung Merah
  3. Sintagmatis
  4. Urceolla and Black Sword
  5. The Ego
  6. Rusa Salju (New)

<3 <3 <3 <3 <3<3 <3 <3 <3 <3

<3 <3 <3 <3 <3<3 <3 <3 <3 <3

<3 <3 <3 <3 <3<3 <3 <3 <3 <3

Yuuki sertakan juga sinopsis dari epep barunya. Silakan dibaca yang minat :)

  1. Black Swan

Semua tamu undangan berdiri ketika pengantin wanita memasuki altar dengan riasan yang berantakan. Semua berbisik dalam kebingungan. Sang pengantin wanita terdiam menatap calon suaminya yang sudah menghianatinya dengan tatapan benci dan dendam. Pengantin wanita itu kemudian mengacungkan pistol yang entah didapatnya dari mana, membuat semua undangan panik dan ketakutan.

“Kau brengsek!”

Dor!

Satu peluru berhasil menghancurkan hiasan di samping Yunho.

Sang pengantin wanita menjerit histeris ketika melihat Yunho tersenyum padanya, menarik pelatuk dan…

Berakhirlah hari bahagia menjadi hari naas.

<3 <3 <3 <3 <3<3 <3 <3 <3 <3

<3 <3 <3 <3 <3<3 <3 <3 <3 <3

<3 <3 <3 <3 <3<3 <3 <3 <3 <3

  1. Smokie Man

“Aku membayarmu bukan untuk melihatmu merokok dan minum-minum.”

“Biasanya yang menyewa jasaku adalah perempuan kesepian yang ingin pamer punya pacar tampan dihadapan teman-temannya. Tapi kau… Kau mau apa dariku? Kau tidak mungkin memamerkanku sebagai pacarmu dihadapan teman-temanmu, kan?”

“Aku ingin jasamu diatas ranjang.”

“Uhuk! Kau tahu aku memang melayani jasa kencan, hanya berkencan saja. Aku bukan gigolo yang melayani kebutuhan seksmu. Lagi pula kau dan aku satu jenis. Sama-sama memiliki ‘jarum’. Cari saja perempuan penghibur bila kau ingin dilayani diatas ranjang! Akan ku transfer lagi uang yang sudah kau kirim ke rekeningku. Ku rasa kali ini aku salah mengambil job. Harusnya aku lebih selektif dan tidak menerima pekerjaan dari orang tidak normal sepertimu.”

“Kim Jaejoong… apa yang akan kau lakukan bila pihak sekolah tahu kau sering merokok, mabuk dan mengkonsumsi obat terlarang di sekolah? Pihak sekolah akan melaporkan hal itu pada orang tuamu. Skandal ini bisa merusak reputasi orang tuamu sebagai politikus. Bukankah ibumu menjabat sebagai anggota parlemen sekarang? Dan ku dengar ayahmu akan maju menjadi kandidat perdana menteri?”

“Jung Yunho! Kau berusaha mengancamku?”

“Aku bisa memberimu uang 20 kali lipat asal kau mau memuaskanku diatas ranjang.”

“Aku tidak minat pada uangmu! Kau manusia tidak normal!”

“Hm…. Aku bisa menculikmu kemudian memerkosamu atau kau datang padaku secara baik-baik?”

“Enyahlah dari hadapanku! Kau manusia aneh.”

<3 <3 <3 <3 <3<3 <3 <3 <3 <3

<3 <3 <3 <3 <3<3 <3 <3 <3 <3

<3 <3 <3 <3 <3<3 <3 <3 <3 <3

  1. Bother Me

“Jae… apa yang membuatmu risau?”

“Eh? Eum… Yun…”

“Ada yang ingin kau tanyakan?”

“Apakah orang Seoul selalu kawin di depan umum.”

“Kawin?”

“Tadi aku melihat laki-laki dan perempuan sedang berciuman, tangan laki-laki itu meraba-raba dada si perempuan. Mereka sedang kawin, kan?”

“Kapan kau melihatnya?”

“Tadi ketika kita berhenti di lampu merah saat berangkat menuju mall.”

“Mereka tidak kawin. Hanya berciuman. Sepasang kekasih biasa melakukan hal itu, kan? Berciuman….”

“Tapi di desaku kami hanya akan mencium pasangan hidup kami –istri atau suami. Dan itu pun dilakukan di dalam kamar bukan didepan umum seperti itu.”

“Aku tidak tahu soal itu, Jae. Yang ku tahu pada masa sekarang orang bisa mencium kekasihnya dengan leluasa asalkan mendapatkan ijin dari pasangannya entah di kamar ataupun di depan umum. Bahkan banyak yang berhubungan intim –kawin sampai mempunyai anak walaupun mereka belum menikah.”

“Belum menikah? Tapi mereka belum menikah! Itu dosa!”

“Mereka tahu kalau itu dosa tapi hal semacam itu memang sudah banyak terjadi. Asal pihak perempuan dan laki-laki sama-sama menginginkannya mereka bisa kawin kapan saja dan dimana saja mereka mau.”

“Tapi itu tidak boleh…. Bagaimana ini…?”

“Kenapa?”

“Aku jadi penasaran, Yun.”

“Penasaran pada apa?”

“Aku penasaran rasanya mencium seseorang. Penasaran seperti apa rasanya kawin.”

Yunho nyaris terjengkang dari duduknya mendengar penuturan Jaejoong. Jantungnya berdetak kencang, membuat pemuda bermata musang itu salah tingkah.

<3 <3 <3 <3 <3<3 <3 <3 <3 <3

<3 <3 <3 <3 <3<3 <3 <3 <3 <3

<3 <3 <3 <3 <3<3 <3 <3 <3 <3

  1. A Story

“Kenapa tidak bergabung dengan yang lainnya?” Tanya Yunho lagi.

Bergabung dengan yang lain? Anak-anak ingusan yang bahkan belum bisa memakai celananya sendiri itu? Tidak. Mereka hanya akan membuang waktuku percuma.

“Jaejoong punya pemikiran yang unik untuk anak seusianya.” Yoochun, sepupuku yang juga rekan mengajar Yunho itu berujar, “Kau tidak akan bisa menebak jalan pikirannya.”

Benar! Tidak seorangpun bisa menebak apa yang sedang aku pikirkan walaupun aku masih dibilang anak-anak oleh kebanyakan orang.

“Jadi apa yang sekarang kau pikirkan, Jae?” Tanya Yunho.

Yang ku pikirkan sekarang? Melempar perempuan yang semalam kau cium di pinggir telaga Gentala ke dalam kobaran api atau memberikannya untuk naga-naga yang katanya dipelihara oleh para tetua kemudian menjadi pengantinmu.

<3 <3 <3 <3 <3<3 <3 <3 <3 <3

<3 <3 <3 <3 <3<3 <3 <3 <3 <3

<3 <3 <3 <3 <3<3 <3 <3 <3 <3

  1. Rusa salju

Dengan jemari bergetar Jaejoong membelai wajah Yunho, “Kau sudah merelakan hidupmu sebagai seorang bangsawan, bukankah apa yang kulakukan ini pun juga setimpal?”

“Tidak!” pekik Yunho, “Kau mengorbankan hidupmu hanya untuk hidup bersamaku! Kau bodoh, Boo! Kau bodoh!” rutuk Yunho.

“Karena aku menemukan kebahagiaan bersamamu, Yun. Karena hidupku tidak lagi hampa setelah aku mengenalmu.”

 

Boo, bila cintaku membawa penderitaan untukmu aku minta maaf padamu.”

“Cintamu membawa kebahagiaan untukku, Yun. Jadi berhentilah bicara yang aneh-aneh.”

<3 <3 <3 <3 <3<3 <3 <3 <3 <3

<3 <3 <3 <3 <3<3 <3 <3 <3 <3

<3 <3 <3 <3 <3<3 <3 <3 <3 <3

Kalau ada yang berminat silakan hubungi link berikut:

https://www.facebook.com/Li.yii22?ref=ts&fref=ts

https://www.facebook.com/profile.php?id=100009964606063&fref=ts

Atau silahkan tanya ke alamat meymey.cuy92@gmail.com

Terima kasih :)

Tetap jaga kesehatan :D

<3 <3 <3 <3 <3<3 <3 <3 <3 <3

<3 <3 <3 <3 <3<3 <3 <3 <3 <3

<3 <3 <3 <3 <3<3 <3 <3 <3 <3

Thursday, January 14, 2016

7:35:53 PM

NaraYuuki

Another Girl

Tittle                : Another Girl

Writer               : NaraYuuki

Genre               : Romance/ Family/ Brothership

Rate                 : -M

Cast                 : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Lee Junki, Tiffany Hwang

Disclaimer:      : They are not mine but this story, Hyunno, Hyeri  & Hyunbin yang lain are mine, NaraYuuki

Warning           : This is Fan Fiction (GS) Gender Swicth for the uke. Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut. TANPA EDIT.

<3 <3 <3 <3 <3

<3 <3 <3 <3 <3

Another Girl One Shoot

<3 <3 <3 <3 <3

<3 <3 <3 <3 <3

PASTIKAN BACA WARNINGNYA DULU

<3 <3 <3 <3 <3

<3 <3 <3 <3 <3

<3 <3 <3 <3 <3

<3 <3 <3 <3 <3

Yang ku tahu dulu kami sempat satu SMA sebelum akhirnya aku pindah ke sekolah khusus putri. Dia murid yang cerdas dan berprestasi kala itu. Rajin dan disiplin sehingga terpilih menjadi ketua OSIS. Saat itu ada rumors yang beredar bahwa dia berpacaran dengan seorang anggota paduan suara yang sering berpenampilan seksi dan cantik. Itu hanya rumors yang tidak ku tahu kebenarannya sampai sekarang ketika ku lihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa dia sedang mencium mesra perempuan itu, perempuan yang ku tahu adalah sepupu dari sepupunya sendiri. Apakah ini permainan takdir? Atau hanya kebetulan hingga scenario hidupku harus berakhir mengenaskan dengan terlibat dalam hubungan rumit 3 orang itu? Andai aku boleh memilih jalan hidupku sendiri, akan ku tuliskan kisah yang biasa saja agar hidupku bisa berjalan lancar sesuai kemauanku tanpa harus merasakan marah dan sakit hati. Tapi bukankah hidup memang seperti ini? Bilamana semulus jalan tol berarti bukan hidup namun sebuah cerita picisan yang sering ku lihat dalam setiap drama-drama tidak bermutu yang sering diputar menjelang senja ataupun yang sering diangkat dalam sebuah novel romantis membosankan. Dan apabila aku harus terlibat maka aku tidak sudi menjadi pihak pesakitan. Karena aku yang akan menentukan kemana harus ku bawa hidupku dan akan seperti apa hidupku nantinya jika memang harus berada diantara mereka.

<3 <3 <3

Usai memarkirkan mobilnya di halaman depan rumah besar bercat lavender, gadis cantik berambut panjang yang dicat kecoklatan itu berjalan perlahan menuju teras depan. Suara hak sepatunya yang beradu dengan lantai membuat suasana rumah yang terlihat sepi itu menjadi sedikit gaduh. Menggunakan jemarinya yang lentik, ditekannya bel pintu beberapa kali. Tidak perlu menunggu terlalu lama seorang pelayan sudah membukakan pintu untuknya.

“Jaejoong Agashi.”

Dilepaskannya kaca mata hitam yang membingkai sepasang mata seindah mutiara rusa betina miliknya, menyelipkannya di saku kemeja baby pinknya lantas melempar senyum pada perempuan berumur yang membukakan pintu untuknya. “Annyeong Ahjumma….” Diberikannya bungkusan berisi beragam buah dan kue kering pada sang ahjumma, berjalan memasuki rumah tanpa diminta. Rok sebatas paha yang memperlihatkan kaki jenjangnya membuatnya seperti model yang sedang berjalan di cat walk.

“Yunho sshi baru saja keluar.” Ucap sang ahjumma. Usai menutup pintu perempuan paruh baya itu mengikuti Jaejoong dari belakang.

“Biar saja. Aku tidak kesini untuk mencari Yunho.” Sahut Jaejoong. Sebelum melewati ruang tamu gadis cantik itu berbalik dan menatap sang ahjumma dengan mata indahnya. “Apakah Junki dan Tiffany ada disini?” tanyanya.

“Ya. Mereka sedang berada di halaman belakang.”

“Baguslah….” Gumam Jaejoong.

“Apa Agashi mau memasak seperti setiap kali datang kemari?” Tanya sang ahjumma.

“Tidak hari ini Ahjumma. Hari ini aku datang khusus untuk mengganggu Yunho.” Jawabnya sambil melangkah meninggalkan sang Ahjumma yang kebingungan.

<3 <3 <3

 Tiga bulan sudah Kim Jaejoong menjadi tunangan Jung Yunho –tentu saja atas perjodohan paksa yang sudah disepakati oleh orang tua Jaejoong dan Kakek Yunho. Yunho sudah tidak memiliki orang tua semenjak usianya lima tahun, mereka meninggal dalam sebuah kecelakaan beruntun di Negara Cina ketika sedang melakukan perjalanan bisnis.

Tiga bulan juga Jaejoong terjebak dalam situasi tidak mengenakan. Dirinya bagaikan seorang cameo dalam drama picisan yang menyeret penerus keluarga Jung sebagai tokoh utamanya. Tidak melawan, Jaejoong justru memainkan perannya dengan baik. Peran antagonis −perusak, perebut kebahagiaan orang namun tetap anggun ibarat iblis berwajah malaikat.

“Ku dengar dari ahjuma kau datang.” Ucap Yunho yang baru saja masuk ke dalam kamarnya sendiri. Melempar begitu saja jaket kulit mahalnya ke arah sofa yang berada di dekat jendela kaca. Melirik tanpa minat Jaejoong yang sedang merebahkan dirinya di atas ranjang Yunho.

“Ya. Untuk mengganggumu.” Jawab Jaejoong.

“Bukankah kau selalu datang untuk hal satu itu?” Tanya Yunho. Tanpa memedulikan kehadiran Jaejoong, pemuda berkulit tan bermata setajam mata musang itu mengganti melepas kausnya dan menggantinya dengan singlet warna hitam, melepas celana jeansnya dengan celana buntung (celana kolor/ kain sebatas lutut).

“Kau dan Tiffany pernah menjalin hubungan istimewa saat masih SMA dulu. Lalu kau membuat kesalahan pada Junki hingga Junki mengalami cacat pada kakinya sampai sekarang. Kau minta maaf pada Junki dan berjanji akan melakukan apa saja agar Junki bisa memaafkanmu. Junki mengatakan bahwa ia menginginkan Tiffany sebagai tebusannya.” Celoteh Jaejoong. “Kalau benar seperti itu kejadiannya, kau sangat kejam Jung Yunho. Tiffany bukanlah barang yang bisa kalian –keluarga Jung serah terimakan dengan begitu mudahnya.”

Yunho menatap Jaejoong malas. “Ku rasa kau cocok menjadi seorang penulis. Karanganmu sangat bagus.” Ucapnya sambil mendudukkan dirinya di atas sofa.

“Terima kasih untuk pujiannya.”

“Kemarilah!” pinta Yunho. “Putarlah kaset DVD di atas televisi itu dan kau akan sedikit mengerti seperti apa hubungan kami yang sebenarnya dan melupakan hipotesismu yang sangat ngawur itu!”

Jaejoong melompat bangun dan berjalan menghampiri televisi di hadapan Yunho. Melakukan intruksi yang Yunho berikan tadi sebelum mendudukkan dirinya di samping Yunho. “Agak panas ya?” komentarnya.

“Karena kau tidak menyalakan ACnya.” Komentar Yunho yang membuka jendela didekatnya hingga angin sejuk perlahan-lahan memasuki kamarnya yang sedikit terasa panas.

“Eh… itu kan Junki dan Tiffany.” Pekik Jaejoong sambil menunjuk video yang sedang diputar. “Mereka… memakai seragam SMA? Berarti itu video ketika mereka masih SMA?” Tanya Jaejoong.

“Lihat saja!” perintah Yunho.

Jaejoong menuruti perkataan Yunho lagi. Matanya terpaku pada layar 21 inc yang memperlihatkan pemandangan di sebuah ruang ganti. Mata indah itu membulat ketika video itu kemudian mempertontonkan adegan dimana 2 tokohnya sedang berciuaman panas, tangan keduanya meraba-raba bagian tubuh lawan mainnya sebelum adegan yang seharusnya tidak dilakukan oleh mereka yang belum dewasa secara psikologis itu terpampang nyata dihadapan Jaejoong melalui perantara video.

“Apa ini?” jerit Jaejoong histeris.

“Masih banyak video seperti ini. Saat itu Tiffany adalah kekasihku. Junki memang sudah lama menyukainya dan aku pun tahu hal itu. Ku kira mereka paham posisi mereka dan tidak akan melakukan hal yang tidak seharusnya mereka lakukan dibelakangku. Tetapi lihat! Video ini adalah salah satu buktinya. Junki dan Tiffany tidak tahu bahwa aku telah mengetahui borok yang mereka sembunyikan selama ini. Lalu Junki dan aku mengalami kecelakaan sepeda motor. Aku yang menyetir saat itu hingga kaki Junki patah dan tidak bisa kembali normal lagi. Ia harus berjalan menggunakan tongkat. Ia bilang sebagai permintaan maaf aku harus membiarkannya mendekati Tiffany. Dan ku biarkan saja mereka melakukan hal yang mereka inginkan. Aku tidak butuh perempuan yang tidak bisa menjaga harga dirinya sendiri. Kesucian bagi seorang perempuan sangat penting untukku.” Ucap Yunho panjang lebar.

“Tapi tunggu! Darimana kau mendapatkan video ini? Masih banyak video yang lain?” Tanya Jaejoong bingung.

“Kakek dipanggil oleh pihak sekolah karena rekaman cctv. Junki dan Tiffany terancam dikeluarkan namun kakek menutup mulut sekolah agar membiarkan keduanya tetap berada disana. Lebih dari 10 milyar won kakek keluarkan untuk pria brengsek dan perempuan jalang itu!” jawab Yunho.

“Kau pasti terluka?”

“Bukankah kau datang untuk menggangguku? Kenapa malah bersimpati padaku, huh?” Tanya Yunho.

“Tapi yang ku lihat selama ini Tiffany sepertinya masih ada hati padamu.”

“Perempuan yang tidak bisa menjaga kehormatan dirinya tidak pantas diperjuangkan.” Komentar Yunho.

“Kau pernah tidur dengan Tiffany?” Tanya Jaejoong. Wajah polosnya sangat bertentangan dengan sikapnya yang sering kelewat batas.

“Aku hanya akan meniduri perempuan yang ku percaya akan melahirkan keturunanku.” Jawab Yunho.

Jaejoong tersenyum penuh arti. Sedikit mempermainkan 3 orang yang menyemat duri dalam hati masing-masing itu kedengarannya sangat menyenangkan.

<3 <3 <3

“Kenapa kau tidak masak? Aku suka masakanmu.” Ucap Yunho saat acara makan siang.

“Eh? Bukankah Tiffany sudah berada disini sejak pagi? Ku pikir dia yang akan memasak untuk kita.” Komentar Jaejoong dengan wajah polosnya padahal jelas-jelas gadis cantik itu tahu bahwa orang yang baru saja ia sebut namanya tidak bisa memasak. “Bukankah tidak sopan kalau tiap datang aku selalu menjajah dapur? Nanti ahjuma memarahiku lagi.”

“Tiffany kurang bisa memasak.” Kali ini Junki yang bicara.

“Kurang bisa bukan berarti tidak bisa, kan? Bisa dilatih.” Jaejoong tersenyum pada Tiffany yang memasang wajah cemberut. “Lain kali kita masak sama-sama ya.”

Tiffany hanya melempar senyum tipis untuk Jaejoong. Sejak 3 bulan yang lalu ia kurang suka dengan kehadiran gadis ‘sok’ polos itu dikediaman keluarga Jung, terlebih Jaejoong datang sebagai tunangan –calon istri Yunho. Sebagian hati kecil Tiffany belum rela bila Yunho bertunangan dengan Jaejoong walaupun Yunho hanyalah mantan kekasihnya namun setidaknya ia pernah –masih menyimpan sedikit cinta untuk pemuda bermata setajam musang itu.

“Yun…” panggil Jaejoong dengan suara dibuat semendayu dan semanja mungkin, “Apa kau sudah pergi ke penjahit yang Harabojie Jung rekomendasikan?”

“Hm… sudah.” Jawab Yunho sambil memakan sup kimchi. “Aku bilang ingin melihat desain yang ia buat dulu sebelum memutuskan memakai jasanya atau tidak. 3 hari lagi dia akan mengirimkan hasil desainnya padaku.”

Jaejoong mengangguk-anggukkan kepalanya pelan. “Aku sedikit kurang enak pada Tiffany.” Ucapnya membuat ke-3 orang lainnya menatap bingung padanya.

“Kenapa. Jae?” Tanya Junki yang urung menegak es kopinya.

Jemari lentik Jaejoong meraba kalung emas putih berbandul kupu-kupu yang dihiasi oleh berlian kecil-kecil diatas permukaannya, kalung yang turun temurun diberikan kepada menantu keluarga Jung. “Harusnya Tiffany yang diberi kalung ini, bukankah kalian sudah berhubungan lama dan akan menikah sebentar lagi?” Jaejoong menatap Junki dan Tiffany yang nyaris tersedak mendengar ucapannya. Yunho sendiri memilih diam sambil memakan sup kimchi kesukaannya karena ia tahu Jaejoong sedang berusaha mengganggu mereka. Walaupun baru 3 bulan berhubungan namun Yunho paham betul bahwa dibalik topeng polos Jaejoong tersimpan wajah cantik lagi licik.

“Kami tidak akan menikah!” ucap Tiffany dengan ekspresi serius.

“… tidak dalam waktu dekat ini.” Ralat Junki sambil tersenyum. “Kau adalah calon menantu pertama keluarga Jung jadi kau berhak menerima harta turun temurun keluarga Jung. Itu hal yang wajar, jangan memikirkan hal yang macam-macam.”

Well, okay.” Jaejoong tersenyum lagi. Meminum air es hingga tinggal bongkahan-bongkahan es saja yang tersisa didalam gelasnya. “Kau membelikan apa yang ku minta, Yun?”

“Ya.” Jawab Yunho singkat. “Ada di dalam lemari bajuku di kamar.” Tambahnya.

Jeongmal gomawo Chagyaaa….” Seru Jaejoong dengan wajah girang.

“Sama-sama.” Sahut Yunho. “Kau bisa melihatnya dulu, kalau tidak sesuai keinginanmu akan ku tukar dengan yang lain. Aku membelinya di butik milik sahabatku.”

Jaejoong berdiri dari kursinya. Berjalan menghampiri Yunho yang menatap bingung padanya lantas mengecup heart lips itu sekilas sebelum berlari meninggalkan ruang makan.

“Dia terlalu bersemangat.” Gumam Tiffany.

“Dia selalu bersemangat dan ceria.” Balas Yunho. “Ku rasa Jaejoong benar. Kalian harus mulai memikirkan hubungan kalian. Sudah terlalu lama kalian bersama namun sampai sekarang belum bisa membicarakan soal pernikahan.”

“Tidak…”

“Belum waktunya!” buru-buru Junki memotong ucapan Tiffany.

“Apa yang kalian tunggu?” Tanya Yunho.

“Menikah tidak semudah membalikkan telapak tangan.” Gumam Junki tidak begitu yakin.

“Ya. Tapi tidak sulit juga.” Ucap Yunho penuh arti.

<3 <3 <3

Menjelang sore, Tiffany berjalan sedikit ragu menuju kamar Yunho. Junki masih tidur dan mobil Jaejoong juga sudah menghilang entah kemana –kemungkinan sudah pulang jadi ia berpikir untuk menemui Yunho dan bicara dengannya secara personal. Kata ahjuma Yunho berada di kamarnya semenjak makan siang tadi. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu pemilik rambut lurus panjang berwarna hitam berponi yang diikat ekor kuda itu membuka pintu dan masuk ke dalam kamar orang yang pernah –masih dicintainya.

“Oh, Tiffany. Ada apa?” Tanya Jaejoong dengan polosnya.

Mata Tiffany terbelalak kaget melihat apa yang sedang Yunho dan Jaejoong lakukan. Yunho yang hanya mengenakan kaus singlet dan celana buntungnya terlihat sedang menindih tubuh Jaejoong yang hanya mengenakan bra dan celana dalam minim berenda yang sepertinya adalah sebuah lingerin. Bahkan bra itu hanya mampu menutupi tidak lebih setengah dari payu dara sintal Jaejoong. Secara keseluruhan apa yang dipakai Jaejoong benar-benar memperlihatkan lekuk tubuhnya yang molek.

“Dia ingin bicara padaku.” Ucap Yunho yang beranjak dari atas tubuh Yunho.

“Kau mau pergi ya?” Tanya Jaejoong, “Padahal masih ada 5 pasang lingerin lagi yang belum ku coba.” Ucapnya terdengar sedih.

Yunho mengecup kening, mata, dagu dan bibir merah merekah Jaejoong berlama-lama sebelum melempar senyum menawannya. “Aku akan segera kembali. Kau coba sendiri dulu semuanya ya. Aku janji malam ini kita akan jalan-jalan.”

Arra.” Mata indahnya berbinar-binar menatap raut sendu bercampur marah yang Tiffany coba sembunyikan. Jaejoong tersenyum padanya. “Kalau kau coba merayu calon suamkiku, akan ku singikirkan kau!” ancamnya yang bukan hanya membuat Tiffany kaget melainkan Yunho juga.

<3 <3 <3

Di perpustakaan mini milik keluarga Jung, Yunho hanya menatap Tiffany yang semenjak sepuluh menit yang lalu hilir mudik tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Yunho mulai bosan melihatnya. “Apa yang ingin kau bicarakan padaku?” tanyanya.

Tiffany mendadak berhenti, menoleh menatap Yunho dengan raut wajah keruhnya.

“Katakan! Ku rasa tidak baik bila kita berada di ruang sepi seperti ini berdua saja. Tunanganku dan kekasihmu bisa salah paham.”

“Aku tidak tahan lagi!” ucap Tiffany tiba-tiba. “Aku tidak suka Jaejoong berada di dekatmu, aku tidak suka dia mencuri perhatianmu dariku, Yunho ya….”

“Kau mabuk? Apa yang kau bicarakan?!”

“Kau tahu apa yang aku bicarakan! Jangan berpura-pura tidak tahu!” pekik Tiffany tertahan.” Aku mencintaimu. Aku tahu kau juga mencintaiku, kau tidak mencintainya dan terpaksa bertunangan dengan Jaejoong demi Junki, kan?”

Yunho terdiam sesaat. “Hanya itu yang ingin kau bicarakan?”

“Yunho ya…”

“Dengar! Apapun yang kau katakan sekarang tidak akan berpengaruh lagi. Aku akan tetap menikahi Jaejoong terlepas aku mencintainya atau tidak.” Ucap Yunho.

Ani! Jangan berkata seperti itu! Jebbal!” Tiffany mulai terisak, berjalan perlahan menuju arah Yunho. Memeluknya erat sebelum melingkarkan kedua tangannya pada leher Yunho. Ketika hendak mencium Yunho tangan bahu Tiffany ditarik ke belakang.

“Mari bicara!” sedikit kasar Junki menari Tiffany, membawanya keluar dari perpustakaan.

Yunho diam saja melihatnya.

“Jangan terlalu kasar pada perempuan, Jun!” ucap Jaejoong yang berdiri bersandar di sisi pintu.

Yunho tersenyum bodoh. Harusnya sejak awal ia tahu bahwa Jaejoong tidak akan membiarkannya berkeliaran berdua saja dengan Tiffany. “Kau suka kemejaku?” Tanya Yunho. Jaejoong tidak memakai lagi baju yang pagi tadi ia kenakan sewaktu datang ke rumahnya melainkan memakai kemejanya yang tentu saja membuat tubuh molek Jaejoong tenggelam.

“Aku suka aroma parfumnya….” Jawab Jaejoong asal yang langsung berjalan pergi diikuti Yunho yang berjalan tepat di belakangnya.

“Kau sengaja?” Tanya Yunho.

“Hm? Begitulah. Aku kurang suka orang munafik yang selalu memakai topeng ketika berhadapan dengan orang lain. Kau tahu? Itu membosankan.”

Sesuai dugaan Yunho. Mungkin saja Jaejoong memang sengaja mempermainkan ia, Tiffany dan Junki namun entah mengapa Yunho sama sekali tidak bisa membenci Jaejoong. Yunho menyukainya –menyukai cara Jaejoong mempermainkannya.

<3 <3 <3

Waktu berlalu sangat membosankan. Sama seperti sebelumnya. Jaejoong selalu membuat gara-gara dengan ke-3 orang itu, Tiffany berusaha meyakinkan Yunho perihal perasaannya, Junki selalu menggenggam Tiffany dalam area amannya walaupun sering kali terlepas dari pandangannya. Yang sedikit menyenangkan adalah pesta pernikahan Jaejoong dan Yunho yang sebentar lagi akan terselenggara di sebuah hotel berbintang.

“Yunho….” Panggil Tiffany saat Yunho hendak menuju ruangan yang dijadikan sebagai tempat ia mengucap sumpah pernikahan.

Mengabaikan Tiffany yang berlari menyongsongnya, Yunho segera membuka pintu besar itu dan berjalan di atas karpet merah menuju altar pernikahannya, tersenyum pada segenap tamu undangan. Dapat Yunho lihat binar bahagia terpancar dari wajah kakeknya serta keluarga Jaejoong. Di samping ibu Jaejoong sudah duduk kakak laki-laki Jaejoong yang sengaja pulang dari Amerika, Yoochun. Yunho sempat menatap Junki yang duduk di sebelah kakeknya, sepupunya itu untuk pertama kalinya tersenyum tulus padanya. Mungkin saja Junki merasa pernikahannya dngan Jaejoong adalah sebuah benteng yang akan mengamankan hubungan Junki dengan Tiffany. Ya, mungkin saja.

Sang mempelai perempuan sudah memasuki altar ditemani oleh ayahnya. Gaunnya yang berwarna putih bersih membuatnya terlihat sangat menawan seperti seorang putri. Tudung tipis yang menutup wajahnya membuat para undangan semakin penasaran dengan mempelai perempuan. Gaunnya yang panjang menjuntai menari-nari lembut di atas permukaan karpet merah. Bibir merekahnya tersenyum ketika calon suaminya mengambil alih tangannya dari sang ayah.

“Kau cantik.” Bisik Yunho.

“Lebih cantik daripada mantan pacarmu? Tentu saja.” Balas Jaejoong.

<3 <3 <3

Janji suci itu sudah terucap lancar dari keduanya, kantor catatan sipil pun sudah mencatat pernikah mereka, akte pernikahan pun sudah dikantongi. Pesta digelar dengan sangat meriah di tempat yang sama. Ucapan selamat meluncur dari bibir para tamu undangan, pujian serta doa-doa mengucur deras entah tulus ataupun tidak. Hingga tepat pada pukul 10 malam pesta meriah itu selesai digelar. Para tamu undangan satu per satu meninggalkan tempat pesta. Sedangkan keluarga kedua mempelai memilih beristirahat di kamar yang sudah dipesan di hotel yang sama.

“Kenapa kau mengabaikanku?” Tanya Tiffany yang menghadang langkah Yunho memasuki kamar pengantinnya.

“Tolong minggir! Aku harus segera masuk dan menemui istriku.” Ucap Yunho.

“Jung Yunho!” jerit Tiffany.

“Kalau kau memang mencintainya seharusnya kau tidak tidur dengan Junki.” Ucap Jaejoong yang sudah berdiri di mulut pintu yang ia buka. “Sekarang Jung Yunho adalah milikku! Kau benar-benar perempuan tidak tahu malu yang menggoda suami orang.”

“Jae…” Yunho terkejut dengan penampilan Jaejoong yang hanya melilitkan handuk untuk membalut tubuhnya.

“Aku baru selesai mandi saat mendengar suaranya memanggil namamu.” Ucap Jaejoong membela diri ketika diprotes mata setajam musang milik Yunho. Yunho melepas jas pestanya kemudian disampirkan pada bahu Jaejoong untuk menutupi tubuh istrinya, hanya ia yang boleh melihat tubuh indah Jaejoongg!

“Dengar! Kalau kau mencintai Yunho kau tidak mungkin bermain api dengan Junki. Kalau kau benar-benar mencintai Yunho kau pasti akan setia padanya, tidak akan selingkuh dengan Junki. Tapi lihat sekarang! Kau bilang kau mencintai Yunho tapi bercinta dengan Junki? Apa kau pelacur?”

Tangan Tiffany terangkat hendak menampar Jaejoong namun Yunho terlebih dahulu mencekalnya. “Jangan berani menyentuhnya, Fany!” ucap Yunho. “Jangan sekali-kali melukainya!”

“Sebagai seorang perempuan kau sangat plin-plan!” kesal Jaejoong yang langsung menarik tangan Yunho masuk ke dalam kamar dan menutup pintu sedikit kasar.

Tiffany mematung. Mencoba mencerna kata-kata tajam yang Jaejoong ucapkan padanya. Ia mencintai Yunho? Benar. Namun kenapa ia malah bersama Junki? Kasihan? Terikat? Atau karena terbiasa? Ataukah jangan-jangan sebenarnya dirinya mencintai Junki namun ia tidak menyadari hal itu? Ataukah rasa bersalahnya pada Yunho yang membuatnya plin-plan selama ini? Tiffany merasakan kepalanya berdenyut-denyut ketika memikirkannya.

<3 <3 <3

“Kau dapat kiriman apa?” Tanya Yunho yang sedang meminum coklat panasnya sambil mengamati apa yang Jaejoong sedang lakukan –membuka sebuah paket berukuran cukup besar. Entah apa isinya.

“Aish! Dia benar-benar kurang ajar! Berani-beraninya menyindirku!” Jaejoong memasang wajah kesal usai membuka paket yang ia dapatkan tadi siang.

“Apa isinya?” Yunho meletakkan cangkir coklat panasnya kemudian menarik kardus berisi paket yang didapat Jaejoong untuk melihat apa isinya. “Oh…” Yunho tidak bisa menahan tawanya ketika melihat isi kotak itu membuat wajah cantik Jaejoong terlihat semakin cemberut.

“Dasar rubah menyebalkan!” kesal Jaejoong. Ia kira mendapatkan kiriman apa dari Tiffany yang sekarang menetap di Thailand –bersama Junki dan putri cantik mereka tentu saja. Ternyata hanya lusinan lingerin aneka bentuk dan warna yang membuat Jaejoong sedikit kesal. 5 tahun berlalu dan Tiffany masih sering menggodanya.

“Kau tetap seksi, Boo. Mau coba pakai?” Yunho yang melihat wajah cemberut istrinya semakin ingin menggoda Jaejoong. Melahirkan 3 orang anak sama sekali tidak merubah bentuk tubuh istrinya. Bagi Yunho, Jaejoong tetap terlihat seksi dan menggoda. Bahkan kerap kali ada pria yang mencuri pandang pada Jaejoong ketika mereka pergi ke tempat umum.

“Dasar beruang mesum!”

Jung Changmin (4 tahun), Jung Hyunno (2 tahun), Jung Hyunbin (6 bulan) adalah hasil dari benih cinta Yunho dan Jaejoong. Ke-3nya selalu membuat hari-hari di kediaman keluarga Jung seperti sirkus.

<3 <3 <3

Ketika kebimbangan itu menghampiri perasaan yang dipenuhi keragu-raguan, bercermin pada hati sendiri adalah cara yang tepat untuk membaca isi hati yang sesungguhnya.

<3 <3 <3

<3 <3 <3

<3 <3 <3

END

<3 <3 <3

<3 <3 <3

Epep gaje yang tercipta ketika Yuuki harus menunggu seseorang lebih dari 1 jam -_-

Yuuki pun kurang paham apa inti epep ini. Setidaknya semoga sedikit menghibur ya.

Selamat Tahun Baru :)

<3 <3 <3

<3 <3 <3

<3 <3 <3

Sunday, January 03, 2016

10:43:35 AM

NaraYuuki

The Prince and His Heirs I

Tittle                : The Prince and His Heirs I

Writer               : NaraYuuki

Genre               : Fantasy/ Romance/ Family/ Friendship/ Advencure

Rate                 : -M

Cast                 : All member DBSK and others (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan). Seiring bertambahnya Chap castnya pun akan disesuaikan.

Disclaimer:      : They are not mine but this story, Hyunno, Hyeri  & OOC yang lain are mine, NaraYuuki

Warning           : This is Fan Fiction (GS) Gender Swicth for the uke. Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut. Paragraf/ dialog yang penulisannya menggunakan Blod, Italic ataupun under line berarti itu adalah kejadian dimasa lampau (flash back) TANPA EDIT.

<3 <3 <3 <3 <3

<3 <3 <3 <3 <3

<3 <3 <3 <3 <3

<3 <3 <3 <3 <3

<3 <3 <3 <3 <3

PASTIKAN BACA WARNINGNYA DULU

<3 <3 <3 <3 <3

<3 <3 <3 <3 <3

The Prince and His Heirs III

<3 <3 <3 <3 <3

<3 <3 <3 <3 <3

 “Bawa dia pergi ke tempat aman! Kemana pun yang penting bawa dia jauh dari sini! Besarkan dia dengan baik dan jauhkan dia dari segala bahaya yang mengintainya. Kau mengerti?!”

Perempuan cantik berambut panjang yang mengenakan baju zirah berwarna maroon keemasan itu terlihat panik ketika menerima buntalan berisi bayi yang tengah terlelap. “Ta… tapi….”

“Aku percayakan dia padamu….”

“Yang Mulia….”

“Cepat pergi!”

<3 <3 <3 <3 <3

<3 <3 <3 <3 <3

The Prince and His Heirs II

<3 <3 <3 <3 <3

<3 <3 <3 <3 <3

Senja sudah lama berlaru namun remaja itu masih berjalan diiringi Gobi, sang harimau peliharaannya yang selalu setia padanya. Setelah penyerangan yang terjadi pada desanya beberapa hari yang lalu sang ibu mengusirnya –memaksanya untuk pergi meningglkan rumah untuk pergi ke kota Thor yang berada di benua Cassiopeia dimana orang-orang seperti mereka –mahluk sebangsa mereka hidup damai tanpa campur tangan pihak lain. Ibunya berpesan padanya untuk menemui seseorang bernama Mesa agar dirinya mendengar kisah tentang siapa sebenarnya dirinya dan takdir apa yang kelak akan terjadi padanya.

Angin dingin gurun sangat tidak bersahabat terlebih ombak yang mengamuk, menghantam permukaan pasir membuat udara terasa lembab dan sesak. Tempat ajaib ini adalah sebuah gurun yang bersinggungan langsung dengan samudra, dimana siang terasa sangat panas dan terik sedangkan udara dingin ketika malam menjelang terasa menusuk-nusuk sampai kedalam sumsum tulang. Walaupun begitu remaja itu tetap berjalan. Ia tidak tahu apakah para penyerang desanya mengejarnya atau tidak namun dirinya sudah sangat kelelahan sekarang. Berbekal beberapa keping uang pemberian ibunya serta perkamen-perkamen yang tidak ia mengerti apa artinya dan benda aneh berbentuk liontin yang sengaja ia kalungkan pada Gobi peliharannya agar tidak menarik perhatian bandit-bandit ia terus berjalan tak kenal siang ataupun malam. Entah seberapa jauh kota Thor itu namun keingintahuannya terhadap siapa dirinya sama sekali tidak menyurutkan langkah kakinya walaupun dirinya sudah sangat letih.

“Sebentar lagi kita sampai di desa Atacama, Gobi. Kita bisa mencari penginapan untuk berisitirahan.” Ucapnya yang dibalas dengusan oleh sang harimau.

Beberapa kilo meter didepannya terlihat samar-samar kerlip cahaya, disanalah desa Atacama berada. Desa terdekat dari desanya yang bisa ditempuh selama 8-10 hari perjalanan dengan cara jalan kaki. Ia tidak berharap menemukan kuda atau unta karena didesanya hampir semua penduduknya adalah orang-orang miskin, sangat jarang yang memiliki binatang ternak. Ada beberapa yang memiliki domba itu pun hanya orang-orang tertentu saja.

“Aku janji akan membelikanmu daging domba segar begitu kita sampai di Atacama.” Ucapnya penuh semangat.

<3 <3 <3

            Mata bulat indahnya yang dibingkai kelopak setajam mata musang itu menatap waspada kumpulan orang-orang yang bergerombol, berdiri waspada dengan parang dan senjata tajam lainnya ditangan mereka sambil membawa obor. Salah seorang warga desa maju ke depan untuk bicara padanya.

“Siapa namamu, Nak?” Tanya pria berkulit pucat itu, seperti bukan kulit yang dimiliki oleh penduduk Atacama yang biasanya berkulit hitam.

Matanya menatap waspada para penduduk desa, menelan ludah ketika melihat parang-parang tajam itu diacungkan ke atas. “Hyunno.”

“Siapa nama ibumu?”

“Nisa’.”

“Kemana tujuanmu?”

“Kota Thor yang berada di benua Cassiopeian.”

“Oh astaga, Anakku!” pria itu bernapas lega. “Aku sudah lama menunggumu. Sejak dua minggu yang lalu surat yang ibumu kirimkan padaku sampai. Aku diminta mendampingimu untuk menemui Mesa. Kau bisa memanggilku Micky.” Pria berpipi gempal itu tersenyum, menarik tubuh Hyunno untuk dipeluk erat.

“Anda kenal ibuku?” Tanya Hyunno curiga.

“Kami teman seperjuangan ketika masih muda dulu. Tentu saja sekarang berbeda. Kami sudah sedikit tua.” Pria bernama Micky itu tersenyum, “Kau pasti lelah? Aku sudah menyiapkan barak persembunyian untukmu.”

“Barak persembunyian? Untukku?” Tanya Hyunno keheranan.

Wajah Micky berubah keruh, “Aku harus memastikan kau selamat sampai tujuanmu bahkan dengan mempertaruhkan nyawaku sendiri. Aku tidak tahu kapan orang-orang itu akan sampai disini. Untuk itu aku sudah menyiapkan barak persembunyian khusus untukmu.” Jelas Micky. “Ada prajurit khusus Atacama yang pandai bela diri akan menjaga barak itu sampai fajar nanti. Kita akan berangkat begitu langit di timur menjingga. Kau paham?”

“Tapi…”

“Aku juga sudah menyiapkan dua ekor kuda terbaik Atacama untuk kita tunggangi serta bekal yang…”

“Bagaimana dengan Gobi?”

Micky menatap harimau itu sesaat, matanya berbinar seolah menahan rindu bertahun-tahun pada hewan bertaring itu sebelum menarik simpul senyum. “Harimaumu itu bahkan bisa menang telak jika harus bertanding dengan kuda beraksa.” Jawabnya. “Ayo jangan buang waktu lagi! Kau harus beristirahat segera!”

<3 <3 <3

Barak persembunyian yang dimaksud oleh Micky bukanlah sebuah ruang bawah tanah penuh senjata seperti yang Hyunno pikirkan sebelumnya. Barak persembunyian itu hanyalah sebuah gudang jerami yang dipenuhi tumpukan jerami sebagai makanan binatang ternak penduduk desa Atacama. Hanya saja di dalam gudang itu terdapat beberapa pria berbadan kekar berjaga dengan sikap waspada sambil memegang senjata masing-masing.

Hyunno berbaring pada salah satu tumpukan jerami yang tidak terlalu tinggi, disampingnya Gobi sang harimau pun ikut berbaring bahkan sesekali menguap. Menggunakan tumpuan tangannya sendiri sebagai bantal, Hyunno menatap langit-langit gudang jerami itu dengan pikiran kalut. Hyunno memikirkan nasib ibu yang ia tinggalkan. Hyunno memikirkan bagaimana keadaan teman-teman sepermainannya sepeninggalnya. Hyunno terlalu asyik memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang belum tentu terjadi tanpa menyadari seseorang sedang berjalan kearahnya sambil membawa tumpukan kain kumal.

“Kau harus mengganti bajumu!” suara lembut sedikit mendayu itu mengagetkan Hyunno.

Seorang gadis yang memiliki mata keemasan dengan kulit pucat sepertinya dan Micky sudah berdiri dihadapan Hyunno. Hyunno menatapnya keheranan.

“Kau harus mengganti bajumu agar menyerupai penduduk desa Atacama. Kata paman Micky, ia melihat gerombolan bandit sedang menuju kemari.” Ucapnya. “Jelas mereka mengejarmu.”

Hyunno mengerutkan keningnya bingung. Untuk apa dirinya menyamar? Bagaimanapun juga orang awam pun akan tahu bahwa dirinya bukanlah salah seorang penduduk Atacama. Terlebih… untuk apa gerombolan bandit itu mengejar dirinya?

“Jangan melamun, Anak Muda! Cepat ganti bajumu!” perintah seorang pria berbadan tegap, botak dengan kulit gelap mengkilapnya. “Sembunyikan juga peliharaanmu itu.”

Dengan wajah bingung Hyunno menerima kain –baju dari gadis seusianya yang belum ia ketahui siapa namanya. Berjalan ke pojok yang lebih gelap dan tertutup dari pandangan orang-orang lantas mengganti bajunya.

“Diakah Thunder yang sering paman Micky ceritakan?” gumam sang gadis sambil mengamati harimau milik Hyunno itu dengan seksama.

“Anak muda itu memanggilnya Gobi.” Ucap pria botak tadi.

“Nama anak muda itu Hyunno, Paman Sandor.” Gadis itu tersenyum hangat. “Kita akan terlibat hal yang luar biasa, bukan?”

“Bersembunyilah, Hyeri! Disini bukan tempatmu!”

Gadis manis itu merengutkan bibirnya lantas berjalan menuju pintu masuk dan menghilang dari gudang jerami.

<3 <3 <3

Pria botak berkulit gelap bernama Sandor itu melilitkan serban (surban/ sorban) untuk menutupi kepala dan wajah Hyunno ketika mendengar keributan dari luar. Suara orang memaki, berkata kasar dan berteriak-teriak terdengar sangat memekakkan telinga. Hyunno merinding mendengar suara-suara itu seolah-olah malaikat kematian sedang mengintainya.

“Dengar! Ajaklah harimaumu itu bersembunyi di sudut ruangan dinatara tumpukan jerami yang tinggi agar mereka tidak bisa menemukanmu!” bikik Sandor. “Kami akan melakukan sesuatu pada para bandit sialan itu! Jangan keluar jika tuan Micky belum menyuruhmu keluar! Kau mengerti?”

Hyunno mengangguk paham.

“Dan jangan berisik!”

Sedikit mengendap-endap Hyunno mengajak Gobi berjalan menuju sudut ruangan dimana beberepa tumpukan jerami menjulang sampai langit-langit gudang. Bersembunyi –berdiam diri disana sambil mendengarkan suara-suara desisan aneh yang tidak ia tahu berasal dari mana.

<3 <3 <3

Diluar gudang tempat persembunyian Hyunno gerombolan rutilans –manusia yang memiliki kaki dan moncong menyerupai serigala sudah mengepung desa Atacama. Anak-anak dan para perempuan gemetar dan ketakutan. Para laki-laki berhadapan dengan gerombolan rutilans dipimpin oleh Micky terlihat sama sekali tidak gentar.

“Tidak ada binatang buruan kalian di desa kami!” ucap Micky tenang, “Kecuali kalian berniat membantai hewan ternak kami, maka kami tidak akan diam!” matanya menatap nyalang pada pimpinan rutilans berbadan gempal yang memegang parang dikedua tangannya.

“Kenapa prajurit legendaris sepertimu ada didesa miskin seperti ini?” Tanya pimpinan rutilans, air liur menetes dari moncong bergigi tajamnya.

“Kalau kau lupa sejarah hidupku akan ku ingatkan kau bahwa desa yang kau bilang miskin ini adalah tanah kelahiranku!” Micky mencabut pedang panjangnya dengan cepat kemudian diarahkan pada kepala pimpinan rutilans membuat rutilansrutilans yang lain mendesis bengis. “Apa yang membuatmu kemari, anjing hutan brengsek?! Kau tahu aku tinggal disini dan tetap berani menunjukkan moncong menjijikanmu kemari? Kau cari mati?”

Pimpinan rutilans itu mendengus, napas baunya bahkan menguar membuat beberapa orang yang berada di belakang Micky muntah-muntah. “Apa kau tidak tahu atau pura-pura tidak tahu? Sang pewaris tahta yang 17 tahun menghilang sudah muncul lagi. 100 peti emas bila kami bisa mendapatkannya.”

Micky menekan ujung pedangnya hingga menggores leher pimpinan rutilans, darah berwara hijau merembes dari kulit tebal itu. “Maju selangkah ku tebas lehermu!” ancamnya.

“Aku mencium aromanya dari arah sini!” bela pimpinan rutilans.

“Lalu kenapa kau kemari? Banyak desa kecil tersebar disekitar sini, kenapa kau memilih desaku?” Tanya Micky. “Apa karena pernah menjadi salah satu dari prajurit pilihan?”

“Kau masih menjadi prajurit pilihan sampai sekarang!” desis pimpinan Rutilans.

Secepat kilat Micky menebas kepala rutilans yang melompat untuk menerkamnya, membuat rumbongan bandit busuk itu melolong seperti anjing hutan. Mereka menggeram menunjukkan gigi-gigi taring mereka.

“Aku yang sudah berumur ini masih bisa menghabisi kalian sendirian!” ucap Micky dengan mata berkilat. “Pergi atau mati?!”

“Kau akan menyesal bila tidak bekerja sama dengan kami!” ucap pimpinan rutilans dengan mata merah penuh kebencian.

“Aku akan menyesal bila tidak mengusir kalian dari sini! Perlu ku ingatkan sudah lebih dari 15 tahun aku puasa –tidak menumpahkan darah. Jangan membangunkan amarahku yang sudah belasan tahun tidur!” ucap Micky, matanya berubah memerah, muncul taring dari sela kedua bibirnya membuat rombongan rutilans itu mundur dengan sendirinya. “Wahai penduduk Artacama, mala mini kita akan begadang menjaga desa kita! Jika para gerombolan anjing ini masih berkeliaran disekitar desa, jangan ragu untuk menebas kepala mereka!”

Para rutilans itu mundur beberapa langkah lagi, menunduk bertopang pada kedua tangan dan kakinya lantas berhamburan pergi menyebar kesegala penjuru seperti anjing-anjing yang berlarian akibat dipukuli oleh majikannya.

Micky bernapas lega. Wajahnya menengadah menatap serbuk bintang dilangit yang muram. “Ketika anak panah mengarah kearah utara maka para prajurit akan kembali berkumpul bersama jenderal mereka untuk menumpas angkara murka yang bersemayam didunia ini.” Gumamnya pada dirinya sendiri.

<3 <3 <3

<3 <3 <3

<3 <3 <3

TBC

<3 <3 <3

<3 <3 <3

Ada yang bisa menebak?

Lanjutannya setelah Pain Of Love, Pembalasan BIdadari Hitam, Hamkke Gangje Chagya,& Suprasegmental End ya :)

Pain Of Love nunggu laptop Metha sembuh dari tukang reparasi ya.

Pembalasan Bidadari Hitam, ntar kalau penyakit malas ngedit Yuuki sembuh ya.

Hamkke Gangje Chagya, nunggu Metha ga sibuk juga :)

Suprasegmental, Nunggu Yuuki kelarin 5 novel fantasy yang mau Yuuki lahap dulu ya :D

Hohohoho #kabur

Selamat Tahun Baru walaupun telat :D

Tetap jaga kesehatan :D <3

<3 <3 <3

<3 <3 <3

<3 <3 <3

<3 <3 <3

<3 <3 <3

Wednesday, December 23, 2015

9:58:33 AM

NaraYuuki

 

Youre Not a Bad Girl VI

BAB VI

Change

<3 <3 <3

Youre not a bad Girl

<3 <3 <3

<3 <3 <3

Tidak lagi sama. Setelah menelan kekecewaan karena ditinggal pergi oleh pujaan hatinya, setelah dipaksa menerima gadis yang dibencinya sebagai tunangannya, terlihat sangat menyedihkan namun itu lah yang terjadi pada hidup Achiel dua tahun belakangan ini.

“Kakak dari mana?” tanya Emir yang baru melihat Achiel pulang.  Achiel memang sering pulang larut semenjak patah hati karena ditinggal pergi gadis yang ia cintai. Emir bisa memaklumi hal itu tetapi karakter Achiel perlahan-lahan mulai berubah. Achiel mulai menutup diri dan jarang bicara pada keluarganya sendiri. Bila tidak mengurung diri didalam kamar, Achiel biasanya menghabiskan waktunya diluar hingga larut.

“Apa kau mulai peduli padaku, Emir?” tanya Achiel terdengar sedikit ketus.

“Tidak juga.” Sahut Emir. “Hanya ingin memberitahumu kalau tadi ada seseorang yang menanyakan keadaanmu.”

“Gadis bodoh itu lagi? Jangan katakan apa-apa soal dia padaku! Aku tidak mau tahu apa yang dia lakukan ataupun apa yang terjadi padanya. Aku tidak peduli bila dia masuk rumah sakit maupun…”

“Aku tidak bilang bila orang yang menanyakan keadaanmu adalah Grace.” Emir memotong ucapan Achiel, “Kak Herschell….”

Achiel bergeming. Nama itu terdengar seperti sesuatu yang sangat sakral untuk telinga Achiel.

“Tadi sore kak Herschell menelpon dan menanyakan keadaanmu. Apa kau sehat? Bagaimana dengan sekolahmu? Apa ibu dan ayah sehat? Serta bagaimana perkembangan hubunganmu dengan tunangan tercintamu.” Emir menyeringai melihat air muka kakaknya mulai mengeras. “Aku menjawab sesuai apa yang ku lihat selama ini. Ah, kak Herschell juga berjanji akan mengirimkan email padaku bila dia tidak sibuk dengan sekolahnya. Kami sempat bertukar alamat email tadi. Ku harap kau tidak cemburu, Kak.”

“Berikan nomor telponnya!”

“Tidak!” Emir menggelengkan kepalanya, “Kak Herschell sepertinya tidak ingin kau menghubunginya karena dia melarangku memberikan nomor telponnya padamu.”

Achiel menatap nyalang pada adiknya yang tersenyum bodoh seolah-olah sedang menertawakan dirinya.

“Karena kak Hersel bilang, dia tidak mau mengganggu hubunganmu dengan Grace.” Emir menutup buku yang berada di atas pangkuannya, berdiri dari duduk malasnya dan tersenyum pada Achiel, “Kak Herschell juga berpesan agar kau jangan terlalu larut dan terpaku pada masa lalu, Kak.” Ucapnya sebelum pergi.

Emir merasa menjadi adik yang jahat karena mengatakan hal seperti itu pada Achiel. Namun Emir berpendapat bila tidak seharusnya kakaknya bersikap seperti itu. Semenjak pertunangan Achiel dengan Grace, Emir merasa keluarganya menjadi keluarga yang tidak bahagia, suram dan muram.

<3 <3 <3

 “Ayah dan ibu sedang pergi ke luar kota untuk berlibur sekaligus memperbaiki hubungan mereka yang beberapa tahun terakhir ini memburuk karena pertunangan kak Achiel.” Jelas Emir yang sedang memakan serealnya, “Kalau kau mencari kak Achiel, mungkin dia sedang joging atau bermain basket bersama anak-anak kompleks di taman.”

“Kau hanya makan sereal? Apa itu cukup? Mau ku masakkan sesuatu?”

“Jangan menyulitkan dirimu sendiri untuk berperan menjadi kakak ipar idaman untukku karena aku tidak yakin kau akan menikah dengan kak Achiel.” Komentar Emir. Diteguknya segelas penuh jus jeruk sampai habis, “Dari dalam hatiku yang paling dalam aku masih berharap kak Herschelllah yang akan menjadi kakak iparku. Maafkan aku bicara sekasar ini padamu, tetapi ku rasa kau tidak akan bisa mengambil hati kakak dan orang tuaku. Pertunangan bodoh ini ada karena desakan orang tuamu hanya karena keluargaku memiliki sedikit hutang pada mereka. Benar-benar cara yang sangat kotor!”

“Emir…”

“Aku tidak bisa berpura-pura baik pada orang yang ku benci.” Emir tersenyum lebar, “Aku sudah menawarkan perang terbuka padamu, kakak ipar.”

“Kita tidak sedang berperang, Emir.”

“Sayangnya aku sangat membencimu. Kebencian sepihak yang sangat menyebalkan!” Emir tersenyum bodoh.

“Kalau Herschell yang berada disini… bagaimana?”

“Kami akan sangat bahagia.” Jawab Emir, “Menurut pendapatku siapa saja yang menjadi tunangan kak Achiel tidak masalah asalkan bukan kau. Cara yang dipakai olehmu dan keluargamu untuk menjerat kak Achiel sangat tidak terhormat dimataku, karena itulah aku sangat membencimu dan berharap kau enyah dari muka bumi ini!”

Grace tertegun mendengar apa yang diucapkan oleh Emir. Jelas Emir dan Achiel sangat berbeda. Achiel mungkin sangat membenci dirinya tetapi Achiel tidak pernah berbicara blak-blakan seperti yang Emir lakukan padanya barusan.

“Tunanganmu membuatku kehilangan selera makanku, Kak.” Ucap Emir ketika melihat Achiel muncul dari balik pintu ruang makan.

“Usir saja!” sahut Achiel.

“Kita akan dapat masalah bila dia mengadu ada ayahnya, Kak.” Emir mencibir, “Akan ku tinggalkan kalian agar bisa bicara. Aku akan duduk manis di ruang keluarga sambil menunggu telpon dari Kak Herschell.” Emir tersenyum ketika melihat delikan yang diberikan oleh kakaknya.

“Hers menelpon kemari?” tanya Grace.

“Ya. Kenapa?” tanya Emir. Dapat ia lihat kegelisahan yang tiba-tiba tergambar jelas pada wajah Grace, “Tenang saja. Bukan kak Achiel yang ditelpon oleh kak Herschell. Yah, sepertinya kak Herschel menganggap aku jauh lebih baik daripada kak Achiel.” Emir tersenyum mengejek pada Achiel sebelum berjalan pergi meninggalkan ruang makan.

“Sejak kapan Hers sering menelpon kemari?” Grace menatap Achiel dengan mata nanarnya. Pikirannya kalut. Bila Herschell masih menelpon Achiel berarti mereka berdua masih berhubungan sampai sekarang.

“Entahlah. Yang ditelpon hanya Emir jadi tanyakan sendiri pada Emir.” Jawab Achiel tak acuh, “Lagi pula kenapa bila Herschell menelpon kemari? Dia punya tempat istimewa di rumah ini jadi sangat wajar bila dia menelpon.”

“Bukankah seharusnya tempat istimewa di rumah ini menjadi milikku?” gumam Grace dengan suara lirih.

“Ya, jadi milikmu saat kau merebut paksa dari sepupumu yang sangat peduli padamu.” Komentar Achiel, “Ku rasa akan lebih baik bila kau bukan sepupunya. Kau tidak terlalu berharga bila dibandingkan dengan pengorbanan yang dia lakukan untukmu. Pengorbanan brengsek yang sia-sia!”

Grace terduduk di salah satu kursi. Entah kenapa rasanya terlalu berat untuk memasuki keluarga Achiel. Tidak masalah bila Emir menunjukkan terang-terangan sikap benci dan tidak suka pada dirinya, tidak masalah bila ibu Achiel bersikap dingin padany, tidak apa-apa bila ayah Achiel tidak pernah berbicara padanya ketika dirinya datang, namun semuanya terasa berat bila menyangkut Achiel.

Penolakan Achiel, sikap dinginnya, cara bicaranya yang ketus dan sedikit kasar walaupun tidak sefrontal yang dilakukan Emir padanya tetapi itu cukup untuk melukai hati Grace. Semasa SMA Grace sangat memuja Achiel, kini setelah dirinya bisa memiliki pemuda impiannya bahkan bertunangan dengannya jangankan untuk bahagia, mendapatkan perlakuan sedikit lebih ramah saja Grace tidak pernah mendapatkannya.

“Bila Hers yang berada diposisiku, akankah kau dan Emir akan bersikap seperti ini padanya?”

“Kau sudah tahu jawabannya, kan?” Achiel menatap bosan gadis yang sejak dua tahun lalu dipaksa menjadi tunangannya itu, “Tentu saja tidak.” Ucapnya kemudian.

Grace hanya mengangguk pelan. Tidak. Tentu saja, semua sudah jelas sejak awal. Dirinya tidak diterima dengan tangan terbuka oleh keluarga Achiel dan Achiel sendiri karena bagi mereka Herschelllah yang seharusnya berada diposisinya sekarang.

“Jangan pernah berandai-andai karena kau dan Herschell berbeda! Kau tidak akan bisa menjadi seperti dia!”

“Aku tahu.” Sahut Grace, “Malam nanti ayahku mengundangmu dan orang tuamu makan malam bersama.”

“Tidak bisa!” tolak Achiel.

“Kali ini apa alasannya? Hers lagi?”

“Jangan menjadikan Herschell sebagai kambing hitam untukmu! Apa matamu buta? Orang tuaku tidak ada di rumah sampai minggu depan. Aku sendiri akan mengerjakan tugas kuliahku bersama dengan kelompokku.” Achiel menanggapi, “Statusmu mungkin memang tunanganku. Tetapi bagiku kau tidak lebih daripada orang asing yang memaksa masuk ke dalam kehidupan tenangku. Kaulah yang mengacaukan hidup dan kebahagiaanku! Kau dan ayah yang selalu memanjakanmu itu!”

Grace mengepalkan kedua tangannya, ada perasaan marah ketika ayahnya dibawa-bawa dalam urusan mereka.

“Pulanglah! Kedatanganmu kemari hanya membuat rumahku yang suram bertambah muram!”

<3 <3 <3

<3 <3 <3

<3 <3 <3

<3 <3 <3

 

Youre Not a Bad Girl V

BAB V

Gone

<3 <3 <3

<3 <3 <3

Youre not a bad Girl

<3 <3 <3

<3 <3 <3

Senyum itu menggembang sempurna, mata seindah mutiara rusa betina itu kembali memancarkan sinarnya walaupun pancarannya berbeda dari biasanya. Harschell sudah kembali ke sekolahnya. Tentu saja! Mengingat ini adalah hari terakhir ujiannya. Dengan penuh semangat gadis cantik itu menghabiskan harinya bersama teman-teman sekolahnya. Tidak ada yang istimewa. Semuanya terasa datar, hambar dan sedikit menyesakkan. Namun sebisa mungkin Herschell berusaha menikmatinya, menikmati hari-hari terakhirnya di sekolah sebelum pergi ke Amerika.

“Kak Hers….”

“Emir…. Kenapa kau bisa ada di sekolah? bukankah murid kelas 1 dan 2 diliburkan?”

“Tentu saja untuk bertemu denganmu, Kak….” Jawab adik Achiel itu tanpa meninggalkan senyumannya.

Herschell tersenyum, “Apakah dia baik-baik saja?”

“Begitulah…. Setidaknya Beruang Liarmu itu tidak mengamuk lagi dan bisa sedikit lebih tenang.” Canda Emir.

“Beruang liar yang tidak akan pernah menjadi milikku….” gumam Herschell. “Kau harus mengawasinya! Jangan biarkan dia sendirian. Dia bisa terpuruk lagi bila dibiarkan sendirian.”

“Kalau Kakak begitu menghawatirkannya kenapa Kakak tidak menemuinya sendiri?” tanya Emir, “Ku rasa Beruang itu akan senang bila pawangnya menjenguknya.”

“Apakah boleh?” tanya Herschell.

“Kenapa bertanya? Tentu saja boleh….” Jawab Emir. “Kak, keluargaku sekarang berantakan. Kak Achiel menjadi pemurung dan jarang berinteraksi. Ibu yang menentang perjodohan itu menjadi sedikit depresi dan sering bertengkar dengan ayah. Aku jadi tidak kerasan tinggal lama-lama di rumah, Kak….” Emir mengulum senyum getirnya.

Mengengar hal itu rasanya Herschell dirajam oleh belati tidak kasat mata yang meremukkan hatinya.

“Kak, bila ada waktu tolong temuilah kak Achiel. Bicaralah padanya agar dia tidak terus terpuruk seperti itu….” Pinta Emir.

“Hari ini tidak bisa Emir. Aku harus bertemu dengan Grace.” Sesal Herschell. “Bagaimana bila besok?”

Emir mengangguk pelan. “Kapan pun Kakak mau.”

<3 <3 <3

Pedar cahaya dari lampion yang menggantung di langit-langit café menambah kesan yang menenangkan. Akan memberikan nuasa romantis bila menghabiskan waktu di café bernama Neoselphiva itu bersama pasangan dengan mengadakan candle light dinner atau sekedar menghabiskan waktu bersama dalam perbincangan hangat. Sayangnya Herschell tidak datang bersama Beruang besarnya. Oh, sepertinya Herschell melupakan sesuatu, pemuda tampan itu bukan lagi miliknya. Lagi pula Herschell datang atas undangan Grace, sepupunya.

“Hers, maafkan aku. Ku mohon maafkan aku….” Ucap Grace. Digenggamnya jemari Herschell kuat-kuat.

“Maaf? Kenapa?” tanya Herschell.

“Soal Achiel….” Ucap Grace dengan suara pelannyya.

“Ah…. Achiel? Tidak apa-apa. Tidak ada yang perlu dimaafkan.” Herschell berkomentar.

Grace diam.

Herschell pun terdiam.

“Aku tahu aku sangat jahat. Tapi… aku mohon lepaskan Achiel, Hers! Aku sangat mencintainya…. Kau tahu hal itu kan, Hers? Tolong….” Air mata meleleh membasahi wajah Grace.

“Apakah selama ini aku bersikap seolah-olah aku akan membatalkan pertunanganmu dengan Achiel?” tanya Herschell.

Grace diam, ditatapnya sepasang mata kelam serupa mata rusa betina milik sang sepupu yang selalu berhasil membuatnya iri.

“Kalau aku mau aku bisa melakukannya dengan mudah, Grace. Tapi aku tidak melakukannya….” Herschell berujar. “Kalau kau memang sangat mencintai Achiel, bahagiakan dia. Jangan biarkan dia terluka seperti sekarang.” Susah payah Herschell menelan ludahnya.

Grace mengangguk pelan. Dirinya benar-benar menjadi peran antagonis sekarang. Tapi biarlah dia egois kali ini saja demi cintanya pada Achiel walaupun harus mengorbankan kebahagiaan sepupunya sendiri.

“Kalau tidak ada yang ingin kau bicarakan lagi, lebih baik aku pulang….”

“Hers…. Kau akan datang ke acara pertunanganku dengan Achiel  lusa, kan?”

“Dimana otakmu Grace? Kalau kau meminta hal itu padaku, sama saja kau memintaku menjeburkan diriku sendiri ke dalam neraka penuh penderitaan!” tanpa menyuarakan isi hatinya, Herschell hanya mampu mengulum senyumnya. “Aku harus pulang, Ibu sudah menungguku. Hari ini kami mau belanja baju….” Ucapnya.

“Aku mengerti….” Grace tersenyum, belanja baju untuk ke pestanya? Tidak masalah. Itu yang Grace pikirkan, “Sampaikan salamku pada tante Xierra.”

“Tentu.” Sahut Herschell sebelum pergi meninggalkan Grace.

<3 <3 <3

Bohong bila Herschell tidak bersedih dan sakit hati. Tapi bisa apa dia? Gadis cantik itu hanya bisa memeram bara sekamnya sendiri. Herschell tidak mau menjadi lemah dengan terus menangisi keadaannya. Tidak! Tidak akan lagi. Cukup dirinya saja yang menderita, Herschell tidak akan menyeret kedua orang tuanya dalam lingkaran sakit hatinya. Tidak! Karena itu sebisa mungkin Herschell tidak akan menangis dan menyembunyikan kesedihannya dari hadapan kedua orang tuanya.

Berpura-pura tegar tidaklah buruk! Itulah yang Herschell pikirkan.

Siang ini sedikit mendung. Herschell sudah selesai berkemas. Herschell akan terbang ke Amerika nanti malam untuk mengikuti ujian masuk disalah satu universitas pilihan orang tuanya. Besok memang hari pertunangan Achiel dan Grace, tentu saja Herschell tidak akan menghadiri acara itu.

“Sayang, kau mau kemana?” tanya Xierra saat melihat putrinya sudah menyandang tasnya.

“Menemui Beruang Besar, Bu….” Jawab Herschell.

“Kau pergi sendiri? Tidak mau diantar supir?”

“Hers lebih suka menyetir sendiri, Bu.” Herschell tersenyum.

“Baiklah kalau begitu. Hati-hati dijalan, oke?”

Herschell mengangguk pelan, mencium kedua pipi ibunya sebelum berjalan menuju garasi rumahnya. Ini hari terakhirnya disini karena itu hari ini saja Herschell ingin merebut Achiel dari Grace, toh setelah hari ini Herschell tidak akan lagi bisa memiliki pemuda tampan itu lagi.

<3 <3 <3

 “Kau tidak bisa memaksaku Tuan Hassan Barend! Aku tidak akan pernah sudi datang ke acara itu! Tidak akan pernah! Lebih baik aku mati! Aku tidak sudi gadis itu menjadi calon menantuku! Tidak!” bentak Dona.

“Sayangku, tenanglah….” Hassan berusaha menenangkan istrinya yang tengah mengamuk.

Herschell menutup matanya, menulikan telinganya ketika mendengar pertengkaran dari arah ruang keluarga ketika dirinya berjalan menaiki tangga menuju kamar Achiel.

“Nona Herschell….” Sapa salah seorang pembantu rumah Achiel ketika melihat Herschell berada anak tangga teratas.

Herschell hanya tersenyum, “Emir dimana?”

“Tuan muda Emir sedang pergi ke rumah tuan Lion.”

“Lion ya?” Herschell mengangguk paham. “Aku hanya ingin bicara dengan Achiel sebentar, tidak perlu mengantarkan minuman dan cemilan untukku. Kalau aku haus aku akan mengambilnya sendiri.”

“Baik nona….”

Sepeninggal pembantu Achiel, Herschell segera masuk ke dalam kamar yang sangat tidak asing baginya tanpa perlu bersusah payah menggetuk pintu dulu.

Gelap. Kamar itu terasa gelap. Lampu sama sekali tidak menyala, gorden yang tertutup rapat membentengi sinar matari yang akan masuk ke dalam kamar itu.

Dengan langkah pelan Herschell menghampiri penghuni kamar yang tengah melamun bagaikan patung tidak bernyawa itu, duduk di samping pemuda tampan yang tampak begitu terpuruk dengan hati-hati, takut mengganggu.

“Mau menertawakanku?” suara rendah berat itu terdengar sedikit serak.

“Ya. Aku sengaja datang untuk menertawakanmu.” Sahut Herschell, “Kau tahu? Melihatmu seperti ini mengingatkanku pada seekor anak beruang yang kehilangan induknya.”

“Kau indukku.” Achiel menyandarkan kepalanya pada bahu kanan Herschell, memeluk erat perut gadis cantik itu seolah-olah takut kehilangannya.

“Hm….” gumam Herschell. Mata selegam mutiara rusa betina itu menerawang hampa menatap warna hijau yang mendominasi kamar itu, warna kesukaan Achiel.

“Jangan mencampakanku! Aku bisa mati bila kau mencampakanku.” Ucap Achiel.

“Bukankah sekarang yang terlihat adalah kau yang mencampakanku?? Tanya Herschell.

“Begitukah? Kalau begitu aku yang jahat ya?”

“Hm… mungkin.”

Hening sesaat. Debaran jantung itu terdengar bagai irama tambur perang yang dipukul-pukul sekuat tenaga untuk menyemangati mereka yang hendak berlaga dimedan perang, sayangnya tidak ada yang berperang disini. Keheningan yang tercipta antara Herschell dan Achiel lebih kepada perasaan mereka yang tidak mampu mengutarakan apa yang mereka rasakan sekarang. Mereka masih remaja, bisa dibilang begitu dengan usia yang masih terlalu muda tentu saja urusan seperti ini sudah biasa dihadapi oleh remaja lain seusia mereka. Sayangnya kasus yang menimpa keduanya sedikit lebih rumit dari yang remaja lainnya alami.

Achiel dipaksa bertunangan dengan gadis yang tidak disukainya, sialnya gadis itu adalah sepupu Herschell sendiri. Kalau boleh memilih pasti Achiel memilih menolak. Tetapi sepertinya ayahnya sudah menulikan telinga dan mematikan perasaannya hingga pertunangan sialan itu terus berjalan.

“Bagaimana dengan kita?” setelah keheningan beberapa saat yang melingkupi mereka akhirnya Achiel buka suara.

“Kita?” tanya Herschell.

“Kita….”

“Jalan yang dulu kita lewati bersama kini mencabang. Kau akan berjalan disisi yang berlainan denganku bersama dengan Grace, sedangkan aku akan berjalan disisi yang satu lagi sendirian sampai aku menemukan seseorang untuk mendampingiku.”

“Kau milikku! Tentu saja aku yang akan mendampingimu. Memang kau pikir siapa lagi yang bisa mendampingimu selain aku?”

Herschell menggelengkan kepalanya pelan. “Ku rasa tidak akan seprti itu.”

“Kau milikku! Itu harga mati!”

“Berbahagialah….”

“Aku tidak akan bisa bahagia bila kau tidak bersamaku. Kau sumber kebahagiaanku.”

“Itu kedengaran tidak terlalu baik, Bear….” lirih Heerschell.

“Aku sempat berpikir untuk bunuh diri.”

“Jangan lakukan hal itu! Jangan membuatku kecewa!”

“Tentu saja tidak. Aku tidak akan bunuh diri dan mati konyol hanya gara-gara hal seperti ini! Aku akan terus hidup untuk membalas sakit hatiku!” ada kilat kemarahan dalam sepasang bola mata tajam Achiel.

“Hari ini mari kita lupakan hal ini sebentar. Aku membawakanmu sebuah hadiah.”

Achiel melepaskan pelukannya pada Herschell, duduk dengan tegak dan menatap gadis cantik yang tengah berusa mengambil sesuatu dari dalam tasnya.

“Taraaa….” Herschell tersenyum ketika menunjukkan sebuah gantungan kunci berbentuk beruang berwarna coklat pada Achiel, “Saat berbelanja bersama Ibu kemarin aku tidak sengaja melihatnya dan teringat padamu, Bear.”

Achiel menerima gantungan kunci itu, terasa lembut seperti menyentuh bulu kucing saat telapak tangannya menggenggam gantungan itu, “Beruang?”

“Beruangku.” Herschell tersenyum, “Mau jalan-jalan bersamaku?”

“Kemana?” tanya Achiel.

“Lapangan basket?”

Mata Achiel membentuk lengkungan bulan sabit saat bibir berbentuk hatinya tersenyum, “Kau tidak pernah menang dariku, Sweet heart.” Ucap Achiel, “Harus ku akui kau sangat payah saat melempar bola kedalam keranjang.”

“Kita lihat saja!”

<3 <3 <3

Ada lapangan basket kecil di belakang rumah Achiel yang biasa digunakan Achiel dan Emir bermain basket pada sore hari ataupun akhir pekan, tentu saja sebelum kasus pertunangan Achiel dengan Grace merusak segalanya. Kali ini bukan Emir yang menjadi lawan main Achiel melainkan Herschell.

Rambut hitam panjang Herschell yang biasanya dibiarkan tergerai kini diikat asal pada puncak kepalanya, gadis catik bermata indah itu pun sudah berganti kostum memakai kaus kedodoran dan celana olah raga kebesaran milik Achiel.

“Ayo kak Hers! Kalahkan kak Achiel!” Emir menyemangati.

Herschell terengah, keringat sudah membasahi sekujur tubuhnya tetapi tidak sekali pun dirinya bisa merebut bola dari tangan Achiel.

“Menyerah?” tanya Achiel yang masih mendrible si kulit jingga itu penuh semangat.

Herschell menggelengkan kepalanya pelan, “Aku… belum… kalah!” ucapnya dengan napas terengah.

“Emir, ambilkan air putih!” pinta Achiel.

Tanpa diminta dua kali, Emir segera berlari masuk rumah untuk mengambil pesanan kakaknya.

“Dadamu sakit?” tanya Achiel yang sudah melupakan bolanya dan menatap Herschell khawatir. Riwayat penyakit sesak napas yang Herschell derita sedikit banyak mempengaruhi kekhawatiran Achiel.

“Aku tidak apa-apa.” Herschell mendudukkan dirinya, menyandarkan dirinya pada kaki ring basket. “Kau senang hari ini?”

“Huh?” Achiel mengerutkan dahinya.

“Bermain basket dan tertawa lepas seperti itu. Apakah kau senang?”

Achiel mengulum senyumnya, mengusap kepala Herschell pelan, “Kau sengaja melakukan semua ini untukku?”

“Kau berhak bahagia begitu pula aku.” Herschell membiarkan Achiel mengusap wajahnya, membiarkan pemuda tampan itu menyalurkan sayangnya pada dirinya untuk terakhir kalinya, “Bisakah kau memelukku?”

“Apapun yang kau minta.” Achiel mendekap tubuh Herschell erat tanpa menyadari bahwa air mata sudah meleleh membasahi wajah cantik Herschell.

Herschell hanya tersenyum ketika melihat Emir bergeming beberapa meter darinya dan Achiel. Tidak apa-apa seperti ini karena pada akhirnya mereka tidak akan pernah bisa bersama lagi.

<3 <3 <3

Herschell terduduk di atas kursi tunggu dengan gelisah, dipeluknya sebuah boneka beruang berukuran besar hadiah dari Achiel pada ulang tahun hari jadi mereka yang pertama. Boneka beruang itu pulalah yang membuat Herschell memberikan nama panggilan “Beruang Besar” untuk Achiel.

“Sudah siap?” tanya Lind yang sejak tadi diam menatap putri semata wayangnya yang sebentar lagi akan meninggalkannya.

Herschell mengangguk pelan dan tersenyum melihat ibunya yang mulai terisak.

“Kabari kami begitu sampai disana. Jaga kesehatan dan jangan sampai telat makan.” Lind mengingatkan sebelum memeluk putrinya. “Ayah menyayangimu.”

“Aku juga menyayangi Ayah dan Ibu….”

Bila perpisahan ini adalah jalan terbaik walaupun harus mengalami kesakitan mendalam, Herschell rela menempuhnya. Bahkan keralaan untuk melepaskan cintanya.

<3 <3 <3