PO The Prince and His Heirs

 

 

 

Dikarenakan epep ini akan dibukukan maka Yuuki tidak bisa memposting lanjutannya di sini.

Bagi yang minat monggo bisa menghubungi FB D’yj Onshop —–> link https://www.facebook.com/profile.php?id=100009964606063&hc_ref=ARSn9038PAYPUDZ6eUbUgkP8pbaT0zqjH0nVHwtlZ24r4EhhX4kTyWM_mGuMKyWLC_g&fref=nf

Terima kasih :)’

Iklan

Raindrop

Raindrops“Hujannya lebat, Kau kedinginan?”

“Tidak. Aku biasa kedinginan.” Perempuan itu menatap hampa langit yang terus memutahkan air. Semakin lama semakin deras. Udarapun kian terasa menusuk kulit. Ia yakin bila sekarang kulit kakinya sudah kisut karena dinginnya udara, bisa ia rasakan rasa lembab dan kurang nyaman pada jemari kakinya.

“Mau minum kopi untuk menghangatkan badan?”

“Tidak. Terima kasih.”

“Ku rasa hujan tidak akan berhenti dalam waktu dekat ini. Lihatlah! Air mulai menggenangi permukaan jalan dan naik ke trotoar.”

“Aku melihatnya.”

“Kau bisa mati kedinginan. Lihat bajumu! Basah kuyup seperti itu! Jangan keras kepala! Mari kita berteduh ditempat yang lebih layak!!”

Menundukkan wajah untuk menatap air yang mulai naik membasahi lantai halte, mencumbu sepatu karet murahan yang ia kenakan. “Aku baik-baik saja.”

“Jangan keras kepala! Bus yang kau tunggu baru akan datang 30 menit lagi!”

“Tidak apa-apa. Aku akan baik-baik saja.” Ucapnya dengan perasaan ngilu. Sejujurnya ia ingin badannya terasa sedikit hangat. Ia benci udara dingin dan lembab. Sama sekali tidak menyukai udara ketika hujan turun. Tetapi apa boleh buat, duduk minum kopi satu meja dengan pria muda itu sama saja cari perkara. Ia tidak akan berani. Tidak akan!!

“Hei Kim Jaejoong! Apa kau sedang menguji kesabaranku sekarang?”

“Tidak. Aku tidak akan berani melakukannya.”

“Kau sudah melakukannya! Oh astaga! Tuhan, kenapa KAU memberikan perempuan cantik ini sifat keras kepala?”

Perempuan berkulit pucat itu mengeratkan jaket lusuhnya yang sudah basah kuyup. Berharap hujan segera berhenti agar ia bisa pulang ke rumah dan bergelung dibawah selimut. “Taksi atau bus segeralah datang!” gumamnya.

“Daripada menunggu taksi atau bus kenapa tidak naik mobilku saja?”

“Tidak. Terima kasih. Aku bisa mabuk kalau naik mobilmu.”

“Alasanmu tidak masuk akal. Kalau kau mabuk naik mobilku kau juga pasti akan mabuk kalau naik bus dan taksi. Sudahlah! Jangan keras kepala seperti itu!”

Jaejoong, perempuan itu melirik mobil sport mewah berwarna hitam yang dalam bayangannya saja dirinya tidak akan sanggup membeli sebuah mur pada mobil itu apalagi harus menaikinya. Jaejoong tidak akan sanggup menerima akibat jika ia sampai berani menaiki mobil yang sengaja diparkir di dekat halte itu. “Kau adalah mura. Bertemulah mura dengan tedung!! Jangan ganggu ulat kecil sepertiku!”

“Haah? Kau ini bicara apa?” Mura? Tedung? Siapa mereka? Apa mereka artis?”

“Jung Yunho sshi! Mohon mulai sekarang jika kita bertemu dimanapun itu pura-puralah tidak mengenalku! Jangan pernah menyapaku! Jangan pernah!”

Yunho mendadak terdiam. “Kenapa? Apakah karena ucapan Ahra tadi? Kau tersinggung?”

“Tidak. Pada kenyataannya aku memang hanya anak seorang pembantu. Aku tidak akan tersinggung karena pekerjaan ibuku. Yang penting ibuku tidak mencuri.” Jaejoong menundukkan wajahnya.

“Aku mencintaimu. Kau tahu itu.”

“Tanpa bantuan orang tua Ahra aku tidak akan bisa kuliah.”

“Ahra mengancammu?”

“Tidak.”

“Lalu kenapa?”

“Mari renungkan ini! Kau adalah seorang pangeran sedangkan aku hanyalah seorang paria. Bagaimana bisa bersama?”

“Aku tahu pasti Ahra bicara macam-macam padamu. Aku akan menemuia dan memarahinya!” Yunho melepaskan mantel berwarna gelap yang ia kenakan untuk disampirkan pada bahu Jaejoong sebelum berlari menembus guyuran hujan dan masuk ke dalam mobil mewahnya.

Jaejoong hanya bisa menatap kepergian pemuda itu tanpa bisa mencegah dan berkata-kata. Ia tahu tempatnya. Tempatnya bukan bersama Yunho. Itu sudah jelas. Sejelas air mata yang membasahi wajah cantiknya yang pucat.

Wednesday, January 17, 2018

8:38:56 AM

NaraYuuki

Raindrop

Raindrops

“Hujannya lebat, Kau kedinginan?”

“Tidak. Aku biasa kedinginan.” Perempuan itu menatap hampa langit yang terus memutahkan air. Semakin lama semakin deras. Udarapun kian terasa menusuk kulit. Ia yakin bila sekarang kulit kakinya sudah kisut karena dinginnya udara, bisa ia rasakan rasa lembab dan kurang nyaman pada jemari kakinya.

“Mau minum kopi untuk menghangatkan badan?”

“Tidak. Terima kasih.”

“Ku rasa hujan tidak akan berhenti dalam waktu dekat ini. Lihatlah! Air mulai menggenangi permukaan jalan dan naik ke trotoar.”

“Aku melihatnya.”

“Kau bisa mati kedinginan. Lihat bajumu! Basah kuyup seperti itu! Jangan keras kepala! Mari kita berteduh ditempat yang lebih layak!!”

Menundukkan wajah untuk menatap air yang mulai naik membasahi lantai halte, mencumbu sepatu karet murahan yang ia kenakan. “Aku baik-baik saja.”

“Jangan keras kepala! Bus yang kau tunggu baru akan datang 30 menit lagi!”

“Tidak apa-apa. Aku akan baik-baik saja.” Ucapnya dengan perasaan ngilu. Sejujurnya ia ingin badannya terasa sedikit hangat. Ia benci udara dingin dan lembab. Sama sekali tidak menyukai udara ketika hujan turun. Tetapi apa boleh buat, duduk minum kopi satu meja dengan pria muda itu sama saja cari perkara. Ia tidak akan berani. Tidak akan!!

“Hei Kim Jaejoong! Apa kau sedang menguji kesabaranku sekarang?”

“Tidak. Aku tidak akan berani melakukannya.”

“Kau sudah melakukannya! Oh astaga! Tuhan, kenapa KAU memberikan perempuan cantik ini sifat keras kepala?”

Perempuan berkulit pucat itu mengeratkan jaket lusuhnya yang sudah basah kuyup. Berharap hujan segera berhenti agar ia bisa pulang ke rumah dan bergelung dibawah selimut. “Taksi atau bus segeralah datang!” gumamnya.

“Daripada menunggu taksi atau bus kenapa tidak naik mobilku saja?”

“Tidak. Terima kasih. Aku bisa mabuk kalau naik mobilmu.”

“Alasanmu tidak masuk akal. Kalau kau mabuk naik mobilku kau juga pasti akan mabuk kalau naik bus dan taksi. Sudahlah! Jangan keras kepala seperti itu!”

Jaejoong, perempuan itu melirik mobil sport mewah berwarna hitam yang dalam bayangannya saja dirinya tidak akan sanggup membeli sebuah mur pada mobil itu apalagi harus menaikinya. Jaejoong tidak akan sanggup menerima akibat jika ia sampai berani menaiki mobil yang sengaja diparkir di dekat halte itu. “Kau adalah mura. Bertemulah mura dengan tedung!! Jangan ganggu ulat kecil sepertiku!”

“Haah? Kau ini bicara apa?” Mura? Tedung? Siapa mereka? Apa mereka artis?”

“Jung Yunho sshi! Mohon mulai sekarang jika kita bertemu dimanapun itu pura-puralah tidak mengenalku! Jangan pernah menyapaku! Jangan pernah!”

Yunho mendadak terdiam. “Kenapa? Apakah karena ucapan Ahra tadi? Kau tersinggung?”

“Tidak. Pada kenyataannya aku memang hanya anak seorang pembantu. Aku tidak akan tersinggung karena pekerjaan ibuku. Yang penting ibuku tidak mencuri.” Jaejoong menundukkan wajahnya.

“Aku mencintaimu. Kau tahu itu.”

“Tanpa bantuan orang tua Ahra aku tidak akan bisa kuliah.”

“Ahra mengancammu?”

“Tidak.”

“Lalu kenapa?”

“Mari renungkan ini! Kau adalah seorang pangeran sedangkan aku hanyalah seorang paria. Bagaimana bisa bersama?”

“Aku tahu pasti Ahra bicara macam-macam padamu. Aku akan menemuia dan memarahinya!” Yunho melepaskan mantel berwarna gelap yang ia kenakan untuk disampirkan pada bahu Jaejoong sebelum berlari menembus guyuran hujan dan masuk ke dalam mobil mewahnya.

Jaejoong hanya bisa menatap kepergia pemuda itu tanpa bisa mencegah dan berkata-kata. Ia tahu tempatnya. Tempatnya bukan bersama Yunho. Itu sudah jelas. Sejelas air mata yang membasahi wajah cantiknya yang pucat.

Tuesday, December 05, 2017

9:05:09 AM

NaraYuuki

Amor Mecanism YunJae Vers

Memar-memar itu masih jelas menghiasi wajah tampannya ketika mendatangi tempat yang seharusnya tidak ia datangi. Rambutnya acak-acakan –kering dan kusut− beberapa robekan terlihat pada kaus dan celana jins yang ia kenakan. Debu dan matahari mengusamkan kulit wajahnya. Dengan gusar ia berdiri menanti si empunya tempat mempersilakan dirinya untuk duduk –sejujurnya kakinya sudah tidak tahan untuk berdiri− sambil mengamati beberapa foto yang terpajang pada dinding. Sialan! Sofa buntut itu seolah mengejeknya.

“Aku tidak punya waktu meladenimu! Kau selalu cari gara-gara! Kapan kau akan dewasa dan melakukan tugas sebagai seorang pria terhormat! Kau mau terus-terusan bergaul dengan pecundang-pecundang itu? Kau sudah kelas 3 SMA!” bentak pria berjas abu-abu gelap, wajahnya tidak menunjukkan sikap ramah. “Aku akan pergi ke luar kota selama seminggu untuk urusan kantor. Selama itu kau bisa tinggal di sini. Ingat! Jangan macam-macam apalagi membawa para berandal itu kemari!” lanjutnya sebelum menyambar tas kerjanya dan pergi begitu saja bersama semua kesunyian yang ia tinggalkan.

Merasa lutut dan betisnya menjerit protes, ia segera duduk di salah satu sofa buntut berwarna biru gelap itu dengan enggan. Rasanya tidak nyaman ketika duduk di atas sofa yang busanya sudah tipis ditambah bantalannya yang kendur nyaris putus, berasa duduk di atas sebongkah batu berpermukaan kasar lagi tajam.

“Dia sedang sensitif akhir-akhir ini. Sepertinya atasannya membuatnya sedikit susah. Jangan diambil hati apa yang ia katakan barusan.” Perempuan cantik itu hanya melilitkan handuk untuk menutupi tubuhnya yang basah. Tangannya terjulur untuk menyerahkan secangkir teh hangat. “Aku baru selesai mandi ketika kau membunyikan bel pintu seperti orang kesetanan.” Senyumannya sangat menawan. Dasar brengsek! Kenapa orang itu yang harus memiliki perempuan ini?!

“Entah kenapa aku tidak heran melihatmu berada disini dengan busana seperti itu. Kau pasti melayaninya dulu sebelum ia pergi.”

Perempuan itu mendudukkan dirinya di ujung meja kaca dengan sikap menantang. “Aku belum pernah tidur dengan Yoochun. Kita berdua tahu dia terlalu alim. Kau mau membuktikannya?”

“Caranya? Dengan tidur denganmu?”

“Ada cara yang lain? Ku rasa sepertinya kau ingin sekali melakukannya.”

“Jangan bercanda!” bentaknya.

“Yoochun sebenarnya terlalu alim untukku.”

“Dia membatalkan pertunangannya dengan anak konglomerat dan memilih tinggal di flat bobrok seperti ini karenamu! Alim katamu? Jangan bercanda! Kalian berdua sama! Sama-sama orang brengsek!”

“Benar! Aku memang brengsek karena menginginkan bercinta dengan adik kekasihku sendiri. Tetapi aku sungguh-sungguh waktu mengatakan bahwa Yoochun adalah orang alim. Ia selalu berhasil menahan dirinya ketika ku goda. Hebar bukan?”

“Sinting!”

“Apa yang membawamu kemari, Yun? Kalau orang tuamu tahu kau disini mereka akan menyalahkan Yoochun karena mereka mengira Yoochun melindungimu.”

“Mereka tidak akan peduli padaku.”

“Ada masalah?”

“Ku rasa kau sudah tahu. Bukankah sudah menjadi rahasia umum? Ayahku berselingkuh dengan… asisten ibuku. Meereka bertengkar, saling teriak dan memaki setiap hari. Aku tidak sudi berada di rumah yang mirip neraka itu.”

“Ibumu masih tidak bisa meninggalkan dunia keartisannya ya?”

“Dia Diva yang dipuja dan disanjung oleh penggemarnya. Andai penggemarnya tahu bahwa diva yang mereka puja tidak pernah memedulikan anak-anaknya dan menjadi korban perselingkuhan suami kaya rayanya.”

“Lalu kenapa wajahmu bisa memar-memar seperti itu? Kau berkelahi?”

“Aku tidak suka orang memandang rendah diriku hanya karena kebobrokan keluargaku. Ku hajar mereka. Tetapi jumlah mereka lebih banyak.”

Perempuan itu tersenyum lembut. “Kemarilah Yun! Akan ku obati memarmu.” Ditariknya Yunho menuju salah satu kamar dan didudukannya pada bibir ranjang sementara ia sendiri sibuk menyiapkan kotak P3K dan sebaskom air hangat serta sebuah handuk kering.

Mula-mula ia bersihkan wajah Yunho dari debu dan minyak yang membuat wajah tampan itu tampak sangat kusam dan kotor. Pun dengan bagian tubuh lain seperti lengan dan punggung. Kemudian diambilnya salep untuk diolehkan pada luka dan memar yang menghiasi wajah serta anggota tubuh Yunho yang lain. Dengan telaten dan penuh kesabaran.

“Kau tidur di kamar ini bersama Yoochun?”

“Sudah ku katakan padamu bahwa Yoochun adalah orang alim. Bagaiman bisa kami tidur sekamar? Ia tidur di kamar tamu.”

“Katakan padaku kenapa kau bisa jatuh cinta pada Yoochun? Dia orang yang terlalu kaku dan serius.”

Perempuan itu tertawa riang, dibereskannya barang-barang yang ia gunakan untuk merawat Yunho. “Aku tidak pernah jatuh cinta padanya. Aku hanya balas budi padanya.”

Yunho menatap wajah cantik perempuan yang sedang membuka lemari bajunya dan memilih-milih baju mana yang akan dikenakannya itu dengan alis berkerut. “Balas budi?”

“Pelacur itu –ibuku− pulang membawa pacar barunya ke rumah. Ketika dia mandi orang brengsek itu berniat melecehkanku, aku lari sekuat tenaga tetapi ia berhasil mengejarku. Kebetulan Yoochun lewat dan menolongku. Ia menawarkan tempat tinggal yang nyaman untukku. Kenapa tidak? Lagi pula pelacur itu lebih memilih pacarnya daripada aku.”

“Kau sama kacaunya sepertiku.”

“Karena itu kita harus lebih rukun.”

Yunho tersenyum –meringis akibat perih di sudut bibirnya yang memar.

“Dan soal Yoochun yang membatalkan pertunangannya itu bukan salahku. Perempuan yang hendak dijodohkan dengan Yoochun adalah salah satu dari simpanan ayah kalian. Yoochun tidak sengaja memergoki mereka memesan kamar disalah satu hotel ternama ketika ia memenuhi undangan teman sekolahnya yang kebetulan mengadakan resepsi pernikahan ditempat yang sama.”

“Apa? Bajingan benar bandot tua brengsek itu!” maki Yunho. “Kenapa kau tidak mengatakannya sejak awal padaku?”

“Caranya? Bahkan ketika di sekolah pun kau menghindariku.”

“Ku pikir… ku kira kau ini kekasih kakakku! Sialan kau!”

“Kau menyesal tidak bisa menciumku sejak lama?”

“Berhenti menggodaku!”

Perempuan cantik itu berjalan mendekati Yunho, duduk di hadapan pemuda tampan itu tanpa keraguan sedikitpun. “… kalau aku, setiap kali kita bertemu baik di sekolah ataupun ditempat lain selalu membayangkan berada dalam pelukanmu. Aku membayangkan rasa bibirmu yang menyapu bibirku. Aku membayangkan tubuh kita bersatu dalam keintiman yang hangat…”

“Kau terlalu berani.”

“Aku dibesarkan dilingkungan seperti itu. Mau bagaimana lagi?”

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

Yunho seperti orang kecanduan. Tubuh perempuan itu sangat lembut –hangat. Dekapannya mengingatkan Yunho ketika dirinya masih kecil dan dipeluk oleh sang ibu, rasanya hampir sama walaupun berbeda. Perempuan itu malu-malu namun sifatnya yang angkuh dan keraas kepala membuatnya menantang batasannya sendiri. Rintik hujan diluar yang menebarkan hawa dingin terkalahkan oleh dekapan mesra sosok menawan yang berada di bawah kungkungannya. Jikalau kebahagiaan benar-benar ada di dunia ini maka Yunho untuk sesaat merasakannya.

“Aku berencana pergi untuk membuang diriku yang lama usai lulus SMA nanti. Apa kau mau ikut bersamaku?” ucap Yunho usai membuat lembab dan lepek alas tidurnya.

“Bagaimana dengan Yoochun?”

“Dia tidak akan menentang karena dia sudah leebih dulu pergi.”

“Hm… entahlah…”

“Pikirkan! Masih ada beberapa bulan lagi.” Ucap Yunho. “Ada satu hal yang ingin ku tahu sejak dulu…”

“Soal?”

“Ayahmu. Pernah kau bertemu dengannya?”

“Sekali. Dia seorang polisi di Jepang. Entah bagaimana ibuku bisa keenal dengannya, hal itu jadi misteri untukku.”

“Oh, karena itu namamu Jaejoong dan kau memiliki mata yang dalam seperti orang-orang Jepang?”

“Mungkin…”

“Maukah kau selalu bersamaku mulai sekarang?”

“Kau sedang melamarku ya?”

“Mungkin.”

“Masa depan kita masih jauh membentang. Jika menurutmu sekarang kehadiranku cukup penting untukmu maka aku akan selalu berada disisimu.”

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

Saturday, October 14, 2017

10:57:43 AM

NaraYuuki

 

Amor Mecanism

Epep ini khusus Yuuki buat untuk Oppa.

Memar-memar itu masih jelas menghiasi wajah tampannya ketika mendatangi tempat yang seharusnya tidak ia datangi. Rambutnya acak-acakan –kering dan kusut− beberapa robekan terlihat pada kaus dan celana jins yang ia kenakan. Debu dan matahari mengusamkan kulit wajahnya. Dengan gusar ia berdiri menanti si empunya tempat mempersilakan dirinya untuk duduk –sejujurnya kakinya sudah tidak tahan untuk berdiri− sambil mengamati beberapa foto yang terpajang pada dinding. Sialan! Sofa buntut itu seolah mengejeknya.

“Aku tidak punya waktu meladenimu! Kau selalu cari gara-gara! Kapan kau akan dewasa dan melakukan tugas sebagai seorang pria terhormat! Kau mau terus-terusan bergaul dengan pecundang-pecundang itu? Kau sudah kelas 3 SMA!” bentak pria berjas abu-abu gelap, wajahnya tidak menunjukkan sikap ramah. “Aku akan pergi ke luar kota selama seminggu untuk urusan kantor. Selama itu kau bisa tinggal di sini. Ingat! Jangan macam-macam apalagi membawa para berandal itu kemari!” lanjutnya sebelum menyambar tas kerjanya dan pergi begitu saja bersama semua kesunyian yang ia tinggalkan.

Merasa lutut dan betisnya menjerit protes, ia segera duduk di salah satu sofa buntut berwarna biru gelap itu dengan enggan. Rasanya tidak nyaman ketika duduk di atas sofa yang busanya sudah tipis ditambah bantalannya yang kendur nyaris putus, berasa duduk di atas sebongkah batu berpermukaan kasar lagi tajam.

“Dia sedang sensitif akhir-akhir ini. Sepertinya atasannya membuatnya sedikit susah. Jangan diambil hati apa yang ia katakan barusan.” Perempuan cantik itu hanya melilitkan handuk untuk menutupi tubuhnya yang basah. Tangannya terjulur untuk menyerahkan secangkir teh hangat. “Aku baru selesai mandi ketika kau membunyikan bel pintu seperti orang kesetanan.” Senyumannya sangat menawan. Dasar brengsek! Kenapa orang itu yang harus memiliki perempuan ini?!

“Entah kenapa aku tidak heran melihatmu berada disini dengan busana seperti itu. Kau pasti melayaninya dulu sebelum ia pergi.”

Perempuan itu mendudukkan dirinya di ujung meja kaca dengan sikap menantang. “Aku belum pernah tidur dengan Niel. Kita berdua tahu dia terlalu alim. Kau mau membuktikannya?”

“Caranya? Dengan tidur denganmu?”

“Ada cara yang lain? Ku rasa sepertinya kau ingin sekali melakukannya.”

“Jangan bercanda!” bentaknya.

“Daniel –Niel− sebenarnya terlalu alim untukku.”

“Dia membatalkan pertunangannya dengan anak konglomerat dan memilih tinggal di flat bobrok seperti ini karenamu! Alim katamu? Jangan bercanda! Kalian berdua sama! Sama-sama orang brengsek!”

“Benar! Aku memang brengsek karena menginginkan bercinta dengan adik kekasihku sendiri. Tetapi aku sungguh-sungguh waktu mengatakan bahwa Niel adalah orang alim. Ia selalu berhasil menahan dirinya ketika ku goda. Hebar bukan?”

“Sinting!”

“Apa yang membawamu kemari, Joe? Kalau orang tuamu tahu kau disini mereka akan menyalahkan Niel karena mereka mengira Niel melindungimu.”

“Mereka tidak akan peduli padaku.”

“Ada masalah?”

“Ku rasa kau sudah tahu. Bukankah sudah menjadi rahasia umum? Ayahku berselingkuh dengan… asisten ibuku. Meereka bertengkar, saling teriak dan memaki setiap hari. Aku tidak sudi berada di rumah yang mirip neraka itu.”

“Ibumu masih tidak bisa meninggalkan dunia keartisannya ya?”

“Dia Diva yang dipuja dan disanjung oleh penggemarnya. Andai penggemarnya tahu bahwa diva yang mereka puja tidak pernah memedulikan anak-anaknya dan menjadi korban perselingkuhan suami kaya rayanya.”

“Lalu kenapa wajahmu bisa memar-memar seperti itu? Kau berkelahi?”

“Aku tidak suka orang memandang rendah diriku hanya karena kebobrokan keluargaku. Ku hajar mereka. Tetapi jumlah mereka lebih banyak.”

Perempuan itu tersenyum lembut. “Kemarilah Joe! Akan ku obati memarmu.” Ditariknya Joe menuju salah satu kamar dan didudukannya pada bibir ranjang sementara ia sendiri sibuk menyiapkan kotak P3K dan sebaskom air hangat serta sebuah handuk kering.

Mula-mula ia bersihkan wajah Joe dari debu dan minyak yang membuat wajah tampan itu tampak sangat kusam dan kotor. Pun dengan bagian tubuh lain seperti lengan dan punggung. Kemudian diambilnya salep untuk diolehkan pada luka dan memar yang menghiasi wajah serta anggota tubuh Joe yang lain. Dengan telaten dan penuh kesabaran.

“Kau tidur di kamar ini bersama Niel?”

“Sudah ku katakan padamu bahwa Daniel adalah orang alim. Bagaiman bisa kami tidur sekamar? Ia tidur di kamar tamu.”

“Katakan padaku kenapa kau bisa jatuh cinta pada Niel? Dia orang yang terlalu kaku dan serius.”

Perempuan itu tertawa riang, dibereskannya barang-barang yang ia gunakan untuk merawat Joe. “Aku tidak pernah jatuh cinta padanya. Aku hanya balas budi padanya.”

Joe menatap wajah cantik perempuan yang sedang membuka lemari bajunya dan memilih-milih baju mana yang akan dikenakannya itu dengan alis berkerut. “Balas budi?”

“Pelacur itu –ibuku− pulang membawa pacar barunya ke rumah. Ketika dia mandi orang brengsek itu berniat melecehkanku, aku lari sekuat tenaga tetapi ia berhasil mengejarku. Kebetulan Niel lewat dan menolongku. Ia menawarkan tempat tinggal yang nyaman untukku. Kenapa tidak? Lagi pula pelacur itu lebih memilih pacarnya daripada aku.”

“Kau sama kacaunya sepertiku.”

“Karena itu kita harus lebih rukun.”

Joe tersenyum –meringis akibat perih di sudut bibirnya yang memar.

“Dan soal Niel yang membatalkan pertunangannya itu bukan salahku. Perempuan yang hendak dijodohkan dengan Niel adalah salah satu dari simpanan ayah kalian. Niel tidak sengaja memergoki mereka memesan kamar disalah satu hotel ternama ketika ia memenuhi undangan teman sekolahnya yang kebetulan mengadakan resepsi pernikahan ditempat yang sama.”

“Apa? Bajingan benar bandot tua brengsek itu!” maki Joe. “Kenapa kau tidak mengatakannya sejak awal padaku?”

“Caranya? Bahkan ketika di sekolah pun kau menghindariku.”

“Ku pikir… ku kira kau ini kekasih kakakku! Sialan kau!”

“Kau menyesal tidak bisa menciumku sejak lama?”

“Berhenti menggodaku!”

Perempuan cantik itu berjalan mendekati Joe, duduk di hadapan pemuda tampan itu tanpa keraguan sedikitpun. “… kalau aku, setiap kali kita bertemu baik di sekolah ataupun ditempat lain selalu membayangkan berada dalam pelukanmu. Aku membayangkan rasa bibirmu yang menyapu bibirku. Aku membayangkan tubuh kita bersatu dalam keintiman yang hangat…”

“Kau terlalu berani.”

“Aku dibesarkan dilingkungan seperti itu. Mau bagaimana lagi?”

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

Joe seperti orang kecanduan. Tubuh perempuan itu sangat lembut –hangat. Dekapannya mengingatkan Joe ketika dirinya masih kecil dan dipeluk oleh sang ibu, rasanya hampir sama walaupun berbeda. Perempuan itu malu-malu namun sifatnya yang angkuh dan keraas kepala membuatnya menantang batasannya sendiri. Rintik hujan diluar yang menebarkan hawa dingin terkalahkan oleh dekapan mesra sosok menawan yang berada di bawah kungkungannya. Jikalau kebahagiaan benar-benar ada di dunia ini maka Joe untuk sesaat merasakannya.

“Aku berencana pergi untuk membuang diriku yang lama usai lulus SMA nanti. Apa kau mau ikut bersamaku?” ucap Joe usai membuat lembab dan lepek alas tidurnya.

“Bagaimana dengan Niel?”

“Dia tidak akan menentang karena dia sudah leebih dulu pergi.”

“Hm… entahlah…”

“Pikirkan! Masih ada beberapa bulan lagi.” Ucap Joe. “Ada satu hal yang ingin ku tahu sejak dulu…”

“Soal?”

“Ayahmu. Pernah kau bertemu dengannya?”

“Sekali. Dia seorang polisi di Canada. Entah bagaimana ibuku bisa keenal dengannya, hal itu jadi misteri untukku.”

“Oh, karena itu namamu Julliane?”

“Mungkin…”

“Maukah kau selalu bersamaku mulai sekarang?”

“Kau sedang melamarku ya?”

“Mungkin.”

“Masa depan kita masih jauh membentang. Jika menurutmu sekarang kehadiranku cukup penting untukmu maka aku akan selalu berada disisimu.”

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

Saturday, October 14, 2017

10:57:43 AM

NaraYuuki

Other Side

 

Ada seorang yang sangat ingin aku singkirkan selamanya. Akashi Seijuro. Aku sangat tidak peduli walaupun dia adalah seorang King. Aku pun tidak peduli kalau rambut sewarna rubi miliknya sangat disukai oleh banyak orang. Aku tidak peduli. Bahkan walaupun dia adalah pewaris sekali pun aku tetap tidak peduli. Bagiku siapa saja yang sudah berdiri di depan jalanku berarti orang itu adalah musuhku.

###

“Kise-kun, apa yang sedang kau lamunkan?” pemilik rambut sewarna langit itu menatap partnernya untuk misi kali ini dengan tatapan bingung. Pertama kali dipasangkan dengan seorang copy cat bernama Kise Ryota memberikan sedikit tantangan untuknya. Tentu saja berbeda rasanya jika dirinya dipasangkan dengan tipe orang seperti Kagumi Taiga atau Aomine Daiki yang memiliki karakter berapi-api, sementara pemilik rambut keemasan yang tengah menatapnya itu lebih banyak diam.

“Kurokochi….” panggilnya.

“Ya?”

“Bagaimana bila dalam misi ini salah satu dari kita mati?!” mata keemasan itu menatap tajam Kuroko Tetsuya yang memasang wajah datarnya.

“Tidak apa-apa. Itu adalah risiko pekerjaan kita sebagai seorang prajurit.” jawab Kuroko tenang, terlalu tenang.

“Begitukah?” gumam Kuroko, “Jadi tidak apa-apa seandainya kau tidak kembali kesisi King Akashi?”

“Aku tidak pernah berpikir bagaimana rasanya berpisah dari Seijuro kun.” jawab Kuroko,  “Karena selama ini dialah yang berjasa dalam hidupku. Tapi bila aku tidak kembali usai misi ini selesai maka aku anggap itu adalah cara tangan nasib mengatakan bahwa takdirku dan Seijuro kun harus berakhir.”

Kise tersenyum samar.

###

Hingga pada akhirnya aku menemukan orang yang mengajariku keikhlasan dan pentingnya sebuah kesetiaan, orang yang ku jadikan alasan untuk bertahan ditengah gempuran keputusasaanku, orang yang ku cintai.

Kuroko Tetsuya.

Namun bahkan pada akhirnya orang yang paling penting itu pun menghianatiku, meninggalkanku bersama nestapa dan kepedihan tidak berujung. Aku gagal melindunginya dalam perang terakhir yang kami hadapi bersama. Kemenangan memang berada di pihak kami hanya pembayaran yang harus ku berikan terlalu mahal. Kehilangan setengah pasukan bukanlah penyebab penyesalan terdalamku. Kehilangan ia yang sangat berharga, ia yang menjadi kesayangan King adalah harga mati untukku. Andai aku bisa memilih, kan ku biarkan kekalahan itu menghampiriku daripada harus kehilangan ia yang ku kasihi….

###

Mata seindah rubi itu tampak Nanar ketika sosok Kise yang tengah membopong seongkok tubuh tidak bernyawa yang sangat dikenalnya, belahan jiwanya memasuki aula besar lagi muram yang sering mereka jadikan tempat pertemuan.

“Kuroko!” jerit Kagami Taiga. Pemilik mata setajam harimau yang tengah mengincar mangsanya itu mengalirkan air mata.

“Tetsuya!” Aomine Daiki pun ikut menjerit putus asa.

“Maafkan aku yang tidak bisa menjaganya dengan baik.” sesal Kise. Wajah indahnya terpahat muram, sembab oleh jejak air mata sialan yang sampai sekarang enggan kering.

Dengan tangan gemetar sang King menerima tubuh kaku sosok yang sangat berharga baginya itu, memeluk dan mendekapnya erat. Lututnya yang lemas membuatnya terduduk di atas lantai dingin, air mata yang sejak awal menggenang akhirnya luruh seiring semakin dalam kesedihan yang menghantam perasaannya.

“Tetsuya….” isaknya pelan, terlalu lirih hingga sang angin pun tidak mampu mendengar suaranya. Tiga bulan yang lalu ia melepas dengan berat hati, kini orang yang dinanti kepulangannya justru kembali tanpa jiwa yang menyertainya. Bila perasaan bisa hancur maka sekarang ia sedang mengalami hal pahit itu. Sang King yang biasanya terlihat kokoh tidak terkalahkan itu kini tumbang oleh kesedihannya sendiri. Kesedihan yang membelenggu batinnya mulai detik ini hingga entah kapan.

Melihat pemimpinnya terpuruk dalam nelangsa seperti itu membuat Kise dirundung penyesalan dan rasa bersalah yang teramat besar. Andai dirinya tidak mementingkan kemenangan, andai dirinya tidak membiarkan partnernya bertarung, andai bukan Kuroko Tetsuya yang menjadi rekannya, andai perang brengsek itu tidak pernah terjadi, mungkin… mungkin sampai saat ini pemilik mata seindah samudera itu masih hidup.

“Kise!” jerit Kagami dan Aomine bersamaan dengan jatuh pingsannya Kise yang disekujur tubuhnya dipenuhi luka.

###

“Apa yang membuatmu murung?” pemilik mata gold itu bertanya.

“Rasanya waktumu untukku semakin berkurang.” keluh sosok pucat yang tengah terduduk di atas ayunan yang terbuat dari kayu jati Kalimantan dengan wajah datarnya.

“Oh, kau cemburu, hum?!”

“Tidak. Hanya bosan terkurung di tempat ini sendirian.”

“Maafkan aku, tapi bersabarlah sebentar. Upacara lima tahun kematian tunangan King akan segera diselenggarakan. Aku harus memastikan keamanan seluruh kota saat upacara itu dilaksanakan.”

“Merepotkan!”

“Tidak, itu sudah menjadi tugasku. Ku mohon mengertilah. Hm….”

“Bukankah orang yang sudah mati tidak bisa hidup lagi? Kenapa harus mengadakan perayaan memuakkan seperti itu? Bukankah itu hanya buang-buang waktu saja?”

Kise hanya tersenyum dalam sunyinya. Benar adanya jika perayaan semacam itu hanya menghabiskan uang tetapi Kise tidak bisa melakukan apa-apa untuk menghentikan kegiatan rutin setiap tahun sejak lima tahun yang lalu itu. Kise merasa bersalah tiap kali teringat kejadian memilukan yang jikalau bisa ingin dilupakannya.

“Aomine Daiki…? Lihat! Handphonemu berdering sejak tadi.”

Kise tersenyum kecut, “Panggilan tugas. Aku akan segera kembali.”

“Seperti biasa.”

Kise tidak menyahut, wajahnya mengeras usai mengecup kening kekasihnya. Hal yang paling Kise benci sekarang adalah meninggalkan kekasihnya demi panggilan tugas meskipun sudah banyak penjaga yang mengawasinya.

###

“Bayi besar dan si maniak ramalan bintang itu mendapat tugas rahasia dari King, mengesalkan! Harusnya aku saja yang pergi!” keluh Aomine.

“Kau terlalu bodoh Mahomine!”

“Diam kau Bakami!”

“Tugas rahasia?” tanya Kise yang sejak tadi memilih diam.

“Mencari buku atau jenis senjata pemusnah baru. Aku pun tidak terlalu tahu apa tugas mereka.” jawab Aomine. “Sepertinya kematian tragis Tetsuya membuat kewarasan Akashi berkurang.”

Kise terdiam, nama itu serupa kutukan tiap kali ia mendengarnya. “Lalu dimana Akashi?”

“Dia pergi ke makam Kuroko.” jawab Kagami.

###

“Ku pikir ini adalah taman karena letaknya berada di pusat kota, ternyata sebuah kuburan. Sangat indah tentu saja.”

Buket bunga mawar putih yang berada di tangan Akashi Seijuro jatuh begitu saja. Mata rubinya membelalak. Bukan karena betapa pucatnya kulit manusia di hadapannya melainkan betapa ia mengenal dengan baik wajah yang menampakkan ekspresi monoton itu. Terlalu mengenalnya hingga Akashi tidak ingin mempercayai penglihatannya sendiri.

“Apa ini kuburan kekasihmu?”

Tubuh Akashi gemetar, bukan karena takut melainkan terlalu syok. Bukankah kembar sekali pun mempunyai perbedaan? Atau para ilmuwan sudah berhasil menciptakan cloning dengan sempurna?

“Siapa namamu?”

“Aku? Hikaru Kise.”

“Kise? Kau kerabat Kise? Kise Ryota?” tanya Akashi.

Sebuah gelengan didapat Akashi. “Aku tunangannya.”

Mata Akashi memicing, “Tunangan? Kise tidak pernah bercerita kalau dia sudah punya Tunangan.”

“Kau kenal Ryota?”

“Tentu saja. Aku temannya.” jawab Akashi. “Namaku Kagami Taiga.”

“Senang bertemu denganmu Kagami-kun. Ryota tidak pernah mengesalkanku pada teman-temannya. Mungkin bila hari ini aku tidak kabur kita tidak akan bertemu.”

“Kabur?”

“Ryota tidak pernah menjijikkanku keluar rumah. Tetapi karena hari ini Ryota dipanggil oleh King jadi aku bisa jalan-jalan sebentar.”

“Mau ku temani berkeliling sebentar?” tanya Akashi yang melupakan tujuan utamanya datang ke tempat yang menjadi peristirahatan kekasihnya.

“Aku ingin vanilla milk shake kalau boleh.”

“Kebetulan aku tahu tempat yang nyaman untuk menikmatinya. Aku akan mentraktirmu.” meninggalkan seongkok buket bunga yang terlupakan, Akashi mengajak sosok yang lebih pendek darinya itu berjalan menjauhi nisan marmer berukirkan Kuroko Tetsuya di atas permukaannya.

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

Ada yang minat kolab dengan Yuuki untuk melanjutkan epep ini? Kalau ada yang minat silakan kirim email ke narayuuki@yahoo.com dengan subjek Kolab Other Side. Sertakan juga ide kalian ya untuk lanjutannya. Hehehe… sayang soalnya kalau epepnya teerbengkalai 😀

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

Friday, August 18, 2017

NaraYuuki

 

 

Alomorf Zero II

Jaejoong yang sudah duduk berhadapan dengan Yunho menggebrak meja dengan putus asa. “Kau tidak waras rupanya! Kenapa kau memutuskan sesuatu secara sepihak? Aku tidak mau! Jangan memaksaku!” menikah katanya? Jaejoong bahkan sama sekali tidak pernah mengiyakan ketika Yunho memutuskan bahwa Jaejoong adalah miliknya.

Yunho tidak menyahut. Ditariknya laci meja kerjanya untuk mengeluarkan sebuah kartu mengkilat berwarna keemasan. Disodorkannya kartu itu pada Jaejoong. “Gunakan ketika kau ingin membeli sesuatu.”

“Aku tidak butuh uangmu!”

“Kalau tidak mau aku akan meminta sekertaris Bae untuk mentransfernya ke rekeningmu setiap minggu.”

“Ku bunuh kau kalau berani melakukannya!” ancam Yunho.

“Aku akan melakukannya bila kau menolakku.”

Yah!” Jaejoong berteriak kesal. Ingin melayangkan tinju pada wajah tampan nan menyebalkan itu –jikalau dirinya bisa melakukannya.

“Kita akan menikah secepatnya. Aku sudah mengatur semuanya. Setelah bertemu orang tuaku aku akan membicarakan pernikahan kita dengan mereka. Kalaupun mereka tidak setuju aku akan tetap menikahimu.”

Jaejoong tersenyum bodoh. “Kau benar-benar tidak waras!”

“Kalau kau tidak mau cara baik-baik aku bisa menggunakan cara kotor untuk mengikatmu, Jae.”

Jaejoong mendelik pada Yunho.

“Contohnya saja, membuat dirimu tidak sadar diri lalu menidurimu. Selama ku lakukan perbuatan itu ku rekam untuk mengancammu. Atau bisa saja aku menyuruh orangku untuk melukai ayah –orang tua asuhmu yang kini tinggal di Amerika.”

“Berani kau melakukannya? Akan ku bunuh kau dengan tanganku sendiri!”

“Kau ingin aku melakukannya sekarang?” tantang Yunho.

“Jung Yunho!”

“Sudah ku katakan bahwa kau adalah milikku. Menikahimu adalah satu-satunya cara untuk bisa memilikimu seutuhnya. Kau tidak memahami perasaanku yang ingin menyentuhmu tetapi tidak mampu ku lakukan kalau kau belum menjadi ‘istri’ku.”

“Aku bisa gila bila bicara lebih lama lagi denganmu!” ucap Jaejoong yang bersiap untuk pergi.

“Ambil kartunya atau akan ku buat ucapanku barusan menjadi kenyataan?!”

Jaejoong menatap sengit Yunho alih-alih mengambil kartu berwarna emas itu sebelum menjulurkan lidah –mengejek Yunho− dan berlari pergi. Tak lupa membanting pintu dengan keras untuk melampiaskan kekesalanya.

“… apa boleh buat? Ku lakukan ini untuk melindungi kepolosanmu Jae….” Gumam Yunho.

***********************************

Jaejoong menyumpah serapah dalam hatinya guna melampiaskan kekesalannya. Ketika hendak pulang dirinya bertemu dengan Ahra di lobi dan menerima tawaran Ahra untuk minum kopi bersama di kantin perusahaan. Sialnya pada saat bersamaan Yunho pun muncul entah darimana dan ikut bergabung bersama mereka berdua. Ahra merasa senang-senang saja bisa minum kopi bersama teman-teman lamanya tetapi bagi Jaejoong itu sama dengan memakan duri ikan yang membuat mulut serta tenggorokannya tergores-gores.

“Semua memandang kemari. Bahkan tadi ada yang meminta tanda tanganmu Jaejoong sshi. Ada pula yang minta foto bersama. Kau populer sekarang.” Puji Ahra,

“Em….” Gumam Jaejoong. Rasanya tidak nyaman ditatap sedemikian rupa oleh Yunho. Seolah-olah pemilik mata setajam mata musang itu hendak menelannya hidup-hidup.

“Kau ingin makan camilan? Di belakang gedung ada penjual deobboki. Bagaimana kalau kita pergi ke sana?” ajak Ahra.

“Aku tidak keberatan. Tetapi ku rasa bos kita….”

“Kalau kau pergi ke sana aku pun akan ke sana.” Sahut Yunho tanpa melepaskan tatapan tajamnya pada Jaejoong.

Jaejoong mencibir kesal.

“Dan Ahra… ku rasa atasanmu tadi mencarimu untuk membahas proposal produk yang belum ku setujui.”

“Ah, benarkah? Kalau begitu aku akan kembali ke ruang kerjaku. Maafkan aku Jaejoong sshi tidak bisa menemanimu. Bagaimana kalau akhir minggu ini kita piknik? Aku akan menyiapkan bekal untuk kita.”

“Tentu saja Ahra. Terima kasih. Kau baik sekali.”

Ahra mengucapkan salam perpisahan, melambaikan tangan sesaat kemudian berlari pergi meninggalkan Yunho dan Jaejoong bersua.

“Cara mengusir yang baik.”

“Dan selalu berhasil.” Timpal Yunho.

***********************************

Orang tua Yunho sangat ramah. Terutama ibunya. Ibunya sangat baik dan lembut ketika memperlakukan Jaejoong apalagi ketika terang-terangan Yunho mengatakan bahwa Jaejoong adalah calon pendamping hidupnya. Ibu Yunho segera menarik Jaejoong untuk diajak ke kamarnya. Di ruangan yang sangat luas dengan gaya klasik itu Ibu Yunho menyerahkan sebuah kotak perhiasan kecil pada Jaejoong. Di dalam kotak itu terdapat sebuah cincin, gelang dan kalung serta liontin dengan model yang klasik pula.

“Itu adalah perhiasan keluarga. Diturunkan secara turun temurun pada menantu keluarga Jung.” Ucap perempuan paruh baya yang masih terlihat sangat cantik itu. “Yunho adalah anak satu-satunya dan kau sudah dipilihnya untuk menjadi pendamping, Anakku. Perhiasan ini tidak harus kau pakai, kau bisa menyimpannya dan menyerahkan pada menantumu kelak.”

Jaejoong diam saja. Dadanya berdenyut sakit mendapat perlakuan hangat dari ibu Yunho.

“Yunho memang sedikit kasar dan pemaksa tetapi dia memiliki hati yang baik. Aku dan ayahnya sempat khawatir karena sejak SMA dulu dia tidak pernah membawa pulang kekasihnya. Pernah sekali dia mengatakan menyukai seseorang yang bukan berasal dari keluarga mampu namun entah kenapa ia berubah menjadi pemuruh sampai beberapa waktu lalu ia mengatakan bahwa ia sudah menemukan cintanya yang hilang.”

Jaejoong merinding ketika tangannya digenggam erat oleh ibu Yunho.

“Tolong jaga Yunho kami. Apapun yang terjadi kedepannya tolong tetap damping dia.”

***********************************

Hari sudah larut, orang tua Yunho meminta Jaejoong untuk menginap dan entah kenapa Jaejoong pun tidak bisa menolak keinginan itu terlebih ketika melihat bahwa orang tua Yunho tulus menerima dirinya dan latar belakang keluarganya. Nyaris pagi ketika pada akhirnya Jaejoong pergi ke kamar yang disediakan untuknya, kantuk benar-benar sudah melanda dirinya.

“Apa yang ibuku bicarakan padamu hingga ia menawanmu selarut ini? Sekarang sudah subuh!”

“Kenapa kau disini?”

“Ini kamarku. Kau akan tidur bersamaku.”

“Jangan bercanda! Aku sudah kelelahan!”

“Kau bisa tidur dengan tenang. Aku tidak akan menghamilimu sebelum kita menikah.”

Jaejoong mendelik kesal namun tak urung merebahkan dirinya di samping Yunho. Jaejoong bisa mendengar Yunho bergumam namun ia tidak tahu apa yang sedang direktur muda itu katakan karena kantuk sudah membuat Jaejoong lari ke alam mimpi.

***********************************

 “Joongie makan dulu sayang… tapi maaf ya, ibu tidak bisa membelikan daging untuk Joongie. Kita makan dengan ikan asin ya.”

“Joongie… lihat! Ibu membelikan Joongie baju baru!”

“Sayang, ibu rajutkan syal ya. Joongie mau warna apa?”

Jaejoong terisak keras, hal itu membuat Yunho yang sedang mandi bergegas keluar dari kamar mandi untuk melihat penyebab Jaejoong menangis. Namun setelah dilihat ternyata Jaejoong masih terlelap dalam tidurnya.

“Apa yang membuatmu bersedih? Apa kau teringat pada ibumu?” gumam Yunho. Diusapnya wajah pucat Jaejoong dengan lembut. “Aku janji akan membuatmu menjadi orang paling bahagia di dunia ini.”

***********************************

“Ahra… kau tahu kenapa aku memanggilmu kemari?” tanya Yunho. Tanpa menunggu Jaejoong bangun dari tidurnya, direktur muda itu berangkat ke kantor untuk memastikan semuanya berjalan sesuai semestinya.

“Tidak. Apa ada kaitannya dengan kinerja kerjaku?” tanya Ahra balik.

“Ini soal Jaejoong.”

“Jaejoong? Kenapa dengannya?”

“Aku akan menikahinya, bulan depan.”

Mata Ahra terbelalak. “Maaf?”

“Aku akan menikahi Jaejoong. Bulan depan kami akan menikah.”

Ahra seperti orang linglung dan bingung. “Tapi…. Bagaimana bisa?”

“Maafkan aku. Tetapi bisakah kau jangan menghubungi Jaejoong lagi? Aku kurang suka ada pengganggu disekitar milikku. Membuatku merasa khawatir.”

Ahra terdiam. Perempuan mungil itu tidak bisa mengatakan apa-apa. Dalam kediamannya itu Ahra berpikir apakah hal itu mungkin? Mengingat Yunho yang dulu sangat merendahkan orang dengan latar keluarga seperti Jaejoong. Jaejoong sendiri sepertinya tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa dirinya tertarik alih-alih memiliki hubungan dengan Yunho. Semua informasi itu menyengat Ahra.

“Jadi ku minta padamu, jangan hubungi Jaejoong lagi! Kau boleh kembali pada pekerjaanmu!”

***********************************

“Jaejoong pergi kemana?”

“Bandara, Direktur.” Jawab sekertaris Bae. “Orang yang anda suruh mengikutinya memberikan kabar bahwa Jaejoong sshi pergi ke bandara.”

“Untuk apa? Dia akan pergi kemana?” tanya Yunho gusar.

“Menjemput seorang perempuan, Direktur.”

“Siapa? Siapa nama perempuan itu? Apa hubungannya dengan Jaejoong?”

Sekertaris Bae membungkuk dalam. “Maafkan saya Direktur, saya belum mendapatkan informasi mengenai identitas perempuan tersebut.”

Yunho menutup matanya –lebih kepada kesal− kmearahan mendadak memenuhi dirinya. “Cari tahu secepatnya! Dan segera antar aku ke apartementnya!”

“Direktur…”

“Apa lagi?”

“Kalau boleh memberi saran, lebih baik anda pulang dulu untuk beristirahat. Anda kelihatan lelah.”

“Membayangkan Jaejoongku bersama perempuan lain membuatku gila Sekertaris Bae. Antar aku atau aku pergi ke sana sendiri?!”

“Saya mengerti.”

***********************************

Perempuan itu sudah duduk di sofa ruang tamu rumah Jaejoong ketika Yunho sampai di sana. Dia –perempuan itu seperti bukan orang kaukasia− berambut hitam ikal, kulitnya putih kemerahan, wajahnya seperti campuran darah barat dan timur.

“Kau siapa?” tanya Yunho terdengar kurang sopan.

Perempuan cantik yang sebelumnya duduk-duduk malas itu menegakkan punggungnya. Mengamati Yunho dari atas hingga bawah dengan pandangan meneliti. “Ah, jadi kau Jung Yunho itu?” tanya sang perempuan cantik itu. “Kau yang memaksa Joongie untuk menikah walaupun dia tidak menyukaimu? Percaya diri sekali kau Mr. Rich Man!”

“Joongie? Kau memanggil Jaejoongku dengan sebutan Joongie?” tanya Yunho dengan suara tertahan seolah sebuah bola menyumbat kerokongannya.

“Iya. Kenapa?” tantang perempuan cantik itu.

Yunho mendengus. Tidak mungkin ia mengotori tangannya sendiri untuk meleyapkan benalu seperti ini. Dengan cara halus akan ia singkirkan perempuan menyebalkan yang sok akrab dengan Jaejoongnya.

“Berhenti mengganggunya Tia! Dia bisa mengirimmu ke neraka dengan uangnya.” Ucap Jaejoong yang muncul bersama sebuah baki berisi 4 buah jus kaleng, dan sepiring kue basah berwarna-warni ditangannya. “Dan berhenti menatap saudaraku seperti itu, Jung Yunho!”

“Saudara?”

“Kau belum mengenalkan dirimu padanya?” tanya Jaejoong sembari menatap perempuan cantik yang sebelumnya ia panggil Tia itu dengan tatapan penuh selidik.

“Tidak ada untungnya untukku.” Sahut Tia angkuh.

Jaejoong meletakkan baki yang dibawanya, “Tia Hwang Cuevas, secara hukum adalah putri tunggal Petter Cuevas, ayahku –ayah asuhku− yeah, di Amerika sana namaku bukan lagi Kim Jaejoong melainkan Jaejoong Cuevas.” Ucapnya santai sambil mendudukkan dirinya di samping Tia. “Tia beberapa bulan lebih muda dariku tetapi dia tidak mau memanggilku Oppa.”

“Saudara yang tidak punya hubungan darah pun bisa mengancam.” Komentar Yunho.

“Hei Mr. Rich Man! Kau benar-benar orang yang menyebalkan.” Timpal Tia.

“Kenapa ayahmu tidak ikut kemari?” tanya Yunho. Dengan sedikit memaksa ditariknya tangan Jaejoong untuk berdiri kemudian didudukkan pada sofa berlainan dari yang Tia duduki. Yunho segera duduk di samping Jaejoong.

Jaejoong mendengus kesal.

“Papa dilarang bepergian untuk sementara waktu karena menjadi saksi kasus pembunuhan orang penting. Sekarang Papa dibawah perlindungan badan hukum saksi atau semacam itulah namanya, aku tidak begitu ingat. Tahun depan Papa baru boleh pergi kemanapun yang disukainya.” Terang Tia. “Lagi pula tanpa  kehadiran Papa aku bisa kencan dengan Joongie semauku.”

“Dalam mimpimu!” komentar Yunho yang langsung berdiri dari duduknya. “Malam ini aku akan menginap disini jadi lebih baik aku mandi dulu.” Tanpa berkomentar lagi segera saja ia beranjak menuju kamar mandi yang sudah dihafalnya dimana arahnya.

“Orang seperti itu yang akan menjadi pasangan hidupmu? Kalau aku memilih tidak menikah sampai tua.”

“Kita berdua tahu alasan dibalik aku mau bersamanya, kan?” tanya Jaejoong. Pandangannya dialihkan ke arah Yunhoo menghilang, “Balas dendam!”

***********************************

Dimata Yunho sosok Tia tidak ubahnya sebagai serangga pengganggu yang harus dibasmi. Namun kejengkelan Yunho itu pun tidak bisa ia realisasikan mengingat bahwa perempuan tinggi semampai itu adalah saudara Jaejoong.

Yunho berdiri mematung ketika melihat Jaejoong sedang diganggu –bercanda− dengan Tia yang memakai baju kurang pantas, sebuah tanktop tipis dan celana pendek. Jaejoong sedang bergelung di dalam selimut sementara Tia menduduki tubuh Jaejoong dan memaksa Jaejoong menyibak selimutnya. Melihat kelakuan perempuan cantik itu membuat Yunho kesal. Dengan memaksa ditariknya Tia dan diseret keluar kamar Jaejoong sebelum mengunci pintu dari dalam.

“Kau terlalu lunak pada perempuan itu.” Komentar Yunho dengan gusar.

“Namanya Tia.” Sahut Jaejoong dari dalam selimutnya. “Dia adikku.”

“Adik? Sikapnya lebih mirip perempuan jalang daripada seorang adik.” Bantah Yunho. “Dimataku dia seperti seorang pelacur.”

Jaejoong mendelik pada Yunho. “Kami toh bukan saudara kandung.” Ucapnya. “Jangan bicara kasar soal Tia. Dia tetap ku anggap adik.”

“Aku akan bicara padanya.”

“Jung Yunho?” Jaejoong menyibak selimutnya, turun dari tempat tidurnya namun sudah terlambat karena Yunho sudah keluar dan mengunci dirinya di dalam kamar.

***********************************

“Pulanglah ke negaramu!” perintah Yunho. Pria tampan itu berhasil menyeret Tia pergi ke kedai kopi di dekat rumah Jaejoong. “Aku bisa membuatmu dideportasi hari ini juga. Jadi sebelum itu terjadi pergilah secepatnya!” ucapnya. Diteguknya es kopi yang tersaji di hadapannya.

Tia mendelik pada pria tampan namun menyebalkan itu dengan tatapan sinis. “Mencoba mengusirku, huh?”

“Aku tidak mencoba. Aku mengusirmu secara terbuka.”

Perempuan cantik berbadan indah itu meenarik senyum bodoh. “Kau peercaya diri sekali Mr. Rich Man?! Kau pikir aku takut gertakanmu? Sama sekali tidak!”

“Aku tidak menggertak! Ini sebuah ancaman yang akan menjadi kenyataan bila kau tidak segera enyah dari hadapan Jaejoongku!”

“Jaejoongmu? Cih! Kau pikir Jaejoongie mau menikahimu? Dalam mimpimu!”

“Aku selalu membuat mimpiku menjadi kenyataan!”

Tia mendengus. “Orang yang sudah membuat ibunya meninggal, mana bisa dimaafkan?”

“Apa maksudmu?” Yunho seperti tersentak sesuatu yang ia sendiri tidak pahami.

“Kau tidak tahu atau pura-pura tidak tahu?” tanya Tia penuh permusuhan. “Ketika ibunya sekarat, rumah sakit milik keluargamu yang sok itu menolak memberikan pengobatan hanya karena mereka orang miskin! Pada akhirnya ibunya meninggal karena tidak mendapatkan perawatan. Dan itu semua salahmu dan keluargamu yang sok kaya!”

Yunho menjadi linglung mendengar penuturan Tia. Digelengkannya kepalanya seperti orang bingung. “Tidak! Itu tidak mungkin! Kau pasti bohong!”

“Jaejoongie sengaja kembali kee negara yang ia benci demi balas dendam padamu! Jadi jangan pernah bermimpi untuk menikahinya!”

Yunho menggebrak meja, matanya nanar menatap Tia sebelum berlari meninggalkan perempuan cantik itu sendirian.

Tia menghela napas panjang. Matanya berkabut. Bibirnya bergetar. “Sorry Joongie…” bisiknya pada dirinya sendiri.

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

Yunho segera mendobrak pintu kamar Jaejoong dan menubruk si empunya kamar sebelum memeluknya erat. Bibir hatinya bergetar merapalkan kata maaf berulang-ulang. Matanya basah oleh air mata yang ia sendiri tidak tahu kenapa bisa keluar, padahal dirinya adalah Jung Yunho –pengusaha muda yang disegani oleh orang-orang− padahal dirinya tidak bersalah namun perasaan itu justru yang paling kuat menghantam nuraninya.

“Kau mabuk?” sekuat  tenaga Jaejoong mendorong tubuh Yunho yang menempel pada tubuhnya.

“Aku tidak tahu! Aku tidak tahu! Maafkan aku! Maafkan aku!!”

“Apa maksudmu?” tanya Jaejoong sambil terus berusaha melepaskan diri dari Yunho.

“Ibumu….”

Jaejoong terdiam seperti patung, mengabaikan Yunho yang masih memeluknya erat. Entah apa yang sudah Tia katakan pada direktur muda itu hingga keadaannya seperti orang mabuk.

“Waktu itu rumah sakit kami dikelola oleh keluarga pamanku –adik ayahku− jadi aku tidak tahu kalau mereka menolak memberikan pengobatan pada ibumu. Maafkan aku.” Ratap Yunho. “Aku benar-benar tidak tahu. Andaikan… andaikan… andaikan aku tahu.”

Ingatan itu menampar dan menghantam Jaejoong ibarat pisau yang disayatkan pada kulitnya. Membuatnya merasa perih dan sakit. Ingatan ketika satpam bertubuh besar dan kekar menyeret paksa dirinya dan sang ibu dari lobi rumah sakit, dan bagaimana orang-orang itu mencemooh mereka, memperlakukan mereka seperti sampah. Perasaan tertindas, teraniaya dan terhina itu mengguncang Jaejoong hingga air mata meleleh dari sela pelupuk matanya.

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

“Kau akan membayar soal ini, brengsek!!” kesal Tia. Entah bagaimana caranya hingga Yunho berhasil membuatnya terusir dari Korea.

Yunho bergeming. Tangannya erat memegang pergelangan tangan Jaejoong yang matanya terbingkai kaca mata hitam. Sosok yang kini memakai sweeter bergaris merah-hitam itu sejak semalam diam, enggan bicara pada Yunho maupun Tia. Jaejoong seperti asyik dengan dunianya sendiri.

“Dasar brengsek!” maki Tia, wajahnya memerah karena marah dan kesal. Ingin sekali dirinya menghajar pria berjas mahal yang dengan angkuh menatapnya menggunakan mata sipitnya itu. Andai mereka tidak berada di tempat umum.

“Kau tidak akan bisa kemari selama 5 tahun kedepan. Jadi nikmati hari-harimu di negaramau sendiri!” Yunho memamerkan senyum dinginnya.

“Mati saja kau! Dasar manusia brengsek!” bentak Tia. Diciumnya pipi pucat Jaejoong sebelum menarik kasar kopernya. Harga dirinya seperti diinjak-injak oleh segerombolan kerbau buluk. Andai saja si Jung Yunho sialan itu bukan orang kaya bisa dipastikan dirinya tidak akan pergi meninggalkan Jaejoongienya secepat ini.

“Kita pun harus bergegas pergi!” Yunho menarik Jaejoong untuk berjalan mengikutinya.

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

Sepanjang perjalanan menembus kemacetan jalan pagi itu tidak ada yang berkomentar apa-apa. Sekertaris Bae yang biasanya tegang tampak lebih kaku dari pada biasanya. Mungkin bawahan Yunho itu sudah menyadari ada yang tidak beres dengan majikannya.

“Aku datang kembali kemari hanya untuk membalas dendam padamu atas sakit hatiku!” gumam Jaejoong dengan suara sedikit serak.

“Aku tahu.” Sahut Yunho tak acuh.

“Lalu kenapa masih memaksaku menikah denganmu?!” pekik Jaejoong.

“Karena kau masih mencintaiku. Kau dendam padaku sekian tahun hanya karena aku membuang bekal buatanmu, bukankah itu berarti kau sangat meencintaiku? Bahkan kau repot-repot kembali kemari dan meninggalkan kehidupan bintangmu di Jepang.”

“Aku meembencimu!”

“Aku mencintaimu dari dasar lubuk hatiku.” Balas Yunho.

“Pernikahan impianmu itu akan menjadi neraka bagimu bila kau terus memaksaku.”

“Hm… kalau syarat bersamamu adalah neraka maka akan ku nikmati setiap kepedihan didalamnya dengan senang hati.”

“Aku akan selingkuh!!” teriak Jaejoong.

“Selingkuhanmu itu beserta keluarganya akan mati sebelum kau menyadarinya!”

“Kau…?” Jaejoong mengepalkan kedua tangannya.

“Mengusir perempuan bernama Tia sangat mudah bagiku apalagi hanya menghilangkan beberapa nyawa….”

Jaejoong menoleh pada Yunho. Matanya terbelalak ketika melihat keseriusan disana.

“Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku sendiri, Jae.”

“Akan ku habiskan uangmu!”

“Uangku cukup untuk menghidupi anak cucuku hingga 200 tahun mendatang.”

“Sialan!” dengan putus asa Jaejoong menendang-nendang kursi kosong di hadapannya. Untung ia tidak duduk tepat di belakang supir kalau tidak sekertaris Bae pasti menderita akibat tendangan Jaejoong.

“Segera ke kantor catatan sipil! Aku ingin mengurus pernikahanku secepatnya!”

Ye Tuan.” Sahut sekertaris Bae.

Dalam hati Jaejoong merapalkan sumpah serapah untuk Yunho dan berharap bahwa apa yang akan terjadi selanjutnya tidak akan pernah terjadi selamanya.

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

Friday, August 18, 2017

11:41:06 AM

NaraYuuki