Pembalasan Bidadari Hitam VIII

Tittle                : Pembalasan Bidadari Hitam VIII

Writer               : NaraYuuki

Genre               : Romance/ Family

Rate                 : M

Cast                 : All member DBSK and others (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan). Seiring bertambahnya Chap castnya pun akan disesuaikan.

Disclaimer:      : They are not mine but this story, Jung Hyunno  & OOC yang lain are mine, NaraYuuki

Warning           : This is YunJae Fan Fiction (Boys Love), M-Preg. Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut. Paragraf/ dialog yang penulisannya menggunakan Blod, Italic ataupun under line berarti itu adalah kejadian dimasa lampau (flash back) TANPA EDIT.

.

.

pEMBALASAN BIDADARI HITAM NARAYUUKI  SUPER sMALL

.

.

PASTIKAN BACA WARNINGNYA DULU

.

.

.

.

.

Woo Sung membanting tumpukan dokumen ke atas meja, matanya nyalang menatap dua sosok yang juga berada di ruang kerjanya. Rahangnya terkatup, keras dan serius. Bahkan udara dingin yang dihembuskan oleh pendingin ruangan tidak bisa mencegah peluh memasahi sekujur tubuhnya.

“Appa?” Jessica yang gelisah dengan kediaman ayahnya namun penuh keseriusan itu membuatnya membuka suara terlebih dahulu.

“Bagaimana pun juga Kibum, mendiang istri Siwon adalah sepupuku. Aku tidak mungkin membiarkan keluarganya menderita karena ulah orang-orang brengsek itu!” ucap Woo Sung, matanya menatap tajam putranya, Yunho. “Jadi kau harus menjaga Joongie!”

Jessica menggigit bibir bawahnya, menatap saudara kembarnya dengan tatapan bingung sekaligus cemas.

“Bagaimana bisa aku menjaga bocah itu bila dia sendiri sangat membenciku?” tanya Yunho yang balas menatap ayahnya menggunakan mata setajam musangnya yang sangat tajam itu, “Lagi pula bocah ‘kemayu’ itu sangat mengidolakan Jin Yihan.”

“Lakukan apapun yang bisa kau lakukan untuk melindungi Joongie. Aku mendengar dari orang kepercaan tua bangka Jin itu bahwa mereka berniat menculik Joongie untuk mengancam Siwon. Cara licik untuk menjatuhkan perusahaan Siwon.” cibir Woo Sung.

Jessica menelan ludahnya susah payah. “Apa maksud Appa keluarga Yihan akan mencelakai keluarga Joongie?”

Bukannya menjawab pertanyaan putrinya, Woo Sung berujar, “Tidak apa-apa bila nama kita tercoreng, tidak apa-apa bila kita terlihat sebagai orang jahat dimata dunia. Aku hanya ingin kalian berdua menjaga Joongie bagaimana pun caranya, seperti amanat dari ibu kalian. Bahwa kalian harus menjaga keponakan kesayangannya itu apapun caranya!”

“Apapun caranya?” tanya Yunho. “Akan ku lakukan tapi jangan salahkan aku seandainya caraku berbeda dengan cara yang Appa lakukan. Bukankah asal aku bisa menjaga bocah itu semuanya sudah cukup?”

<3 <<<<<<3 <<<<<<3

Jam tangan Yunho baru menunjukkan pukul 14.20 menit waktu setempat ketika dirinya melihat sosok yang sejak tadi ditungguinya keluar dari dalam gedung sekolah elit itu dari balik kaca mobil mewahnya. Remaja berkulit pucat itu tampak riang berbincang dengan teman-temannya sebelum seorang pemuda berjas mahal, berkulit sedikit kecoklatan menghampirinya.

“Itu Yihan, kan?” tanya Jessica yang duduk di samping Yunho dengan gelisah. Entah kenapa akhir-akhir ini perasaannya tidak tenang.

“Dia sangat mengidolakan serigala itu.” Yunho tersenyum mengejek, “Bahkan membandingkanku dengan serigala berbulu ayam itu seenak perutnya!”

Jessica mengulum senyumnya, “Kau cemburu karena Joongie lebih menyukai Yihan?” godanya.

“Bila dia menolak menikah denganku maka yang bisa ku lakukan adalah mengikatnya secara paksa agar dirinya tidak dimanfaatkan oleh si keparat itu!” gumam Yunho.

Jessica tersentak, menatap serius saudara kembarnya yang kadang bisa sangat berbahaya itu dengan mata membulat sempurna. “Caranya?”

“Hancurkan perusahaan Choi! Culik dia dan bawa dia ke villa. Sisanya biar aku yang mengurus!”

“Kau ingin menghancurkan perusahaan Siwon Ahjushi?” tanya Jessica.

“Kelihatannya begitu tetapi yang akan kita lakukan sebenarnya adalah menjaga perusahaan itu agar tidak jatuh ke tangan si licik tua bangka Jin itu! Kau tahu, sama seperti ibu yang meminta ayah menjaga keponakannya, aku pun ingin menjaga kehormatanku dengan tidak membiarkan anak si tua bangka Jin itu merebut hal yang seharusnya menjadi milikku.”

Jessica mengangguk paham, kehormatan Yunho adalah dengan tetap memiliki apa yang sudah maupun akan menjadi miliknya. Jaejoong adalah calon istrinya kelak, dan membiarkan remaja cantik itu bersama pemuda lain berarti sama saja membiarkan kehormatan Yunho diinjak-ijnak. Jessica tahu betul saudara kembarnya itu tidak akan pernah membiarkan hal seperti itu terjadi walaupun harus menggunakan cara-cara kotor sekalipun.

<3 <<<<<<3 <<<<<<3

“Ahjushi kau jahat! Kenapa kau lakukan ini padaku? Wae?” mata seindah mutiara rusa betina itu berkaca-kaca ketika mendapati bahwa si penculiknya adalah orang yang telah lama ia kenal, lebih parahnya ia sudah kehilangan kehormatannya sebagai manusia sebelum waktunya tiba. Ia ingin kehilangan hal itu ketika sudah menikah nanti dengan orang yang dicintainya entah namja maupun yeoja, tetapi hal yang sangat berharga itu telah hilang sekarang. Ia merasa dirinya sudah sangat hina dan tidak berharga, orang yang pantas hidup di tempat sampah daripada kehidupan mewah seperti sebelumnya.

Yunho yang melihat mata indah itu sembab, tubuh kurus pucat itu meringkuk ketakutan merasa bersalah namun juga tidak menyesal. Dengan begini Jaejoong –bocah yang menurutnya menyebalkan itu akan terikat dengannya seumur hidup. “Istirahatlah! Aku akan menyuruh orang menyiapkan makanan dan pakaian ganti untukmu.” ucapnya sebelum pergi. Hatinya berdenyut sakit ketika mendengar jerit keputusasaan itu.

<3 <<<<<<3 <<<<<<3

“Menyetubuhinya, menanamkan benih dalam rahimnya, merusak keluarganya. Kau sangat kejam Jung Yunho!” Jessica histeris begitu mengetahui apa yang sudah saudaranya lakukan pada Joongie kesayangannya.

“Dengan kekejamanku ini aku melindunginya dari namja brengsek yang berniat membunuhnya!”balas Yunho.

“Kau melindunginya dengan cara merusaknya? Kau tidak lebih brengsek daripada namja yang kau maksud!”Pekik Jessica.

“Jessica!” Yunho membentak.

“Apa?”

“Awasi pergerakan mereka selanjutnya, pastikan kau memberikan bantuan pada Siwon Ahjushi secara diam-diam, ku dengar Siwon Ahjushi akan membawa Jaejoong pergi ke tempat yang jauh lebih aman.”

“Arra!” ucap Jessica walaupun dengan perasaan kesal.

“Dan soal Appa, biar aku yang menjelaskan semuanya padanya.” tambah Yunho, “Aku mungkin akan dihajar tetapi caraku ini cukup efektif untuk menyingkirkan keluarga Jin yang sangat menyebalkan itu!”

<3 <<<<<<3 <<<<<<3

“Kau boleh membenci ayahmu. Tetapi setidaknya coba renungkanlah ceritaku tadi. Jangan memandang masalah ini dari sudut pandangmu sebagai korban. Tetapi pertimbangkan juga perasaan Yunho yang ingin melindungi ibumu juga kakekmu.” ucap Woo Sung ketika melihat cucunya, cucu satu-satunya yang ia punya terdiam seperti patung. “Dokumen-dokumen rahasia itu adalah bukti kesungguhan ayahmu menjaga ibumu dan kakekmu. Sampai sekarang perusahaan milik kakekmu masih berdiri, hanya namanya yang sedikit diubah. Unno Compani.”

Hyunno menatap mata lelah kakek yang duduk di atas kursi roda di hadapannya, sorot mata itu terlihat tulus penuh kasih sayang. “Unno… compani?”

Woo Sung tertawa pelan, “Terdengar kekanakan sebagai nama perusahaan besar, bukan? Unno diambil dari nama panggilanmu ketika kau masih kecil.” jawabnya. “Ayahmu selalu memantau perkembanganmu dari jauh, walaupun bukan dengan tangannya sendiri tetapi dia menjagamu dari kejauhan. Memang caranya salah namun saat itu cara inilah yang dirasa paling cepat untuk menjaga kalian dari niat jahat  orang-orang itu.”

Wae? Kenapa harus seperti ini?” tanya Hyunno.

“Yang pertama tentu saja soal bisnis. Perusaan kakekmu dulu adalah saingan terbesar perusahaan milik keluarga Jin, yang ke-2 adalah karena kakekmu –Choi Siwon adalah orang yang sampai matinya sangat dicintai oleh istri Jin Hwangyu. Ada dendam pribadi yang terlibat dalam kemelut permasalahan ini.”

<3 <<<<<<3 <<<<<<3

Jaejoong menangis histeris, memeluk kumpulan foto usang yang menunjukkan potret ketika dirinya masih remaja dulu, ketika semuanya masih sangat indah sampai mimpi buruk itu datang menghampirinya. Rasanya sangat lelah, matanya terasa sangat panas, kekosongan dan kesepian itu mulai menyelimuti tubuhnya membuatnya mengigil dan gemetar. Kenangan terhadap mendiang ayahnya menyiksanya perlahan-lahan, menusuk-nusuk hati dan perasaannya, membuat jantungnya seperti diremas-remas oleh tangan beku yang jahat dan kejam, siksaan yang tidak kenal ampun itu membuatnya menjerit, meneriakkan nama ayahnya dan menumpahkan kekesalan berupa sumpah serapah yang terlontar dari bibir merahnya yang memucat.

Yunho berjongkok di samping Jaejoong yang nyaris tumbang, meraih bahu orang yang sudah melahirkan seorang putra untuknya itu perlahan –takut Jaejoong meronta, sebelum mendekapnya erat, mengusap kepala dan punggungnya lembut, menenangkan. “Semua akan baik-baik saja sekarang.” bisiknya. “Andaikan mereka mencoba menyakitimu lagi, aku akan melindungimu, aku akan menjagamu dengan segenap kemampuan yang ku miliki. Karena itu… dengan segenap harga diri yang ada pada diriku, aku memintamu untuk mengijinkanku berada disisimu. Aku ingin menebus penderitaan yang sudah kau alami karenaku, aku ingin membayar hari-hari yang sudah kau lalui dengan air mata itu. Aku ingin membalut luka yang kau rasakan selama ini. Ijinkan aku….”

<3 <<<<<<3 <<<<<<3

<3 <<<<<<3 <<<<<<3

<3 <<<<<<3 <<<<<<3

TBC

<3 <<<<<<3 <<<<<<3

<3 <<<<<<3 <<<<<<3

 

Thursday, May 28, 2015

8:25:28 AM

NaraYuuki

 

 

Pain Of Love V

Tittle                : Pain Of Love V

Writer               : Marcia Hannie & NaraYuuki (untuk saat ini, bisa berganti kapan saja)

Genre               : Romance/ Drama/ Fammily/ Friendship/ Angst/ Hurt/ Death Chara

Rate                 : T-M (bergantung kebutuhan)

Cast                 : Umma, Appa, Others, OOC

Disclaimer:      : They are not mine but Jung Hyunno is mine, NaraYuuki. This Story is our, Marci & Yuuki (untuk saat ini, bisa berganti kapan saja)

Warning           : Kesalaha nejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut. Yuuki& Marci tidak menggunakan POV ini itu (karena binggung ngetiknya) jadi semoga yang baca tidak binggung dengan FF ini. Italic (ditulis miring semua kramanggung/ wawancangnya (dialog dan kalimat pengantarnya) berarti kejadian dimasa lalu).

.

.

Pain Of Love

Pastikan baca warningnya dulu!

.

.

.

.

Ku lihat Yunho harabojie menelan susah payah ludahnya ketika udara kering namun dingin menyentuh kulit tipisnya yang sudah tidak lagi segar. Ku hentikan kursi roda yang ku dorong berhenti tepat di bawah pohon tua tempat rumah pohon yang lapuk dan nyaris ambruk itu, ku biarkan mata lelah Yunho harabojie mengamati sendu penuh haru bangunan yang bahkan lebih tua daripada usiaku. Ku lihat mata lelah itu berkaca-kaca, ada lelehan air mata yang turun membasahi keriput wajahnya, lelehan yang langsung dihapus oleh Yunho harabojie.

“Beruang kecil….” Panggil Yunho harabojie dengan suara paraunya.

Harabojie… aku mulai bosan dipanggil ‘Beruang kecil’ setiap hari. Aku kan sudah besar.” Protesku.

Yunho harabojie menolehkan kepalanya, menatapku. Senyum lelah dihadirkannya untukku membuat air mukanya lebih hidup, “Bagaimana kalau beruang besar saja, hm?”

“Ck…. Beruang besar kan Harabojie.”

“Bukan. Kalau aku bukan lagi beruang besar tetapi beruang renta yang seumur hidup nelangsa menyesali hidup masa muda.”

Ku paksakan senyuman terukir di bibirku. “Tidak ada yang perlu disesali, Harabojie. Semuanya sudah terjadi, bukan?” tanyaku, “Bukankah harusnya sekarang waktu bagi Harabojie untuk menikmati  hari tua dengan tenang?”

“Hm….” Gumamnya. “Bagaimana jadinya andaikan dulu aku tidak menyakiti hati Boo Jae? Bagaimana jadinya sekarang bila dulu aku berdamai dengan perasaanku sendiri? Apakah aku bisa menjalani masa tuaku bersama Boo Jae? Apakah aku dan Boo Jae berkesempatan memiliki anak dan cucu?”

Boo Jae…

Tiap kali nama itu diucapkan oleh Yunho harabojie, lidahku selalu kelu. Aku tidak pernah bertemu secara langsung dengan sosok yang kata Ayah adalah sosok tercantik, terbaik dan orang paling tulus yang pernah ditemuinya seumur hidup tetapi aku mengenalnya dengan baik melalui buku-buku harian peninggalannya yang sempat ku baca.

Wajahku menengadah, menatap bangunan rumah pohon usang yang mungkin dulunya adalah bangunan yang sangat indah. Akan seperti apa rasanya berada di atas sana, duduk didalamnya dimasa mudanya dulu, apa saja kenangan yang sempat hadir ditempat itu? Andaikan punya mesin waktu, aku pasti akan pergi kemasa dimana rumah pohon itu masih berjaya.

“Kalau kau dan Joongie hyung bersama kau tidak akan nelangsa seperti sekarang, Hyung.” Ucap ayah yang berjalan menghampiri kami. “Atau setidaknya kau tidak akan menghabiskan seluruh hidupmu untuk menyesali apa yang sudah kau lakukan pada Joongie hyung.”

“Aku seorang pendosa.” Sahut Yunho harabojie.

“Tentu saja. Kau adalah pendosa tidak termaafkan.”

Telingaku terasa gatal mendengar ayah dan Yunho harabojie saling menyahut kata-kata. Nada bicara mereka terdengar biasa tetapi seperti ada sebuah kemarahan dan dendam yang terkandung didalamnya. Aku tidak tahu apa sebabnya karena tidak ada seorang pun yang memberitahuku alasannya.

“Ku rasa tidak perlu kau ingat-ingat lagi, Hyung.” Nasihat ayah. “Apapun yang terjadi dimasa lalu biarlah tersimpan dalam buku usang kenangan kita. Hyung hanya perlu memikirkan kesehatan Hyung agar ketika Hyunno menikah nanti, Hyung bisa menyaksikannya berdiri dipelaminan.”

Yunho harabojie menatapku. “Kau sudah punya yeoja chingu, Beruang kecil?”

Aku hanya tersenyum malu. Apa-apaan ayah ini? Kenapa menceritakan masalah pribadiku pada Yunho harabojie?

“Namanya Jaenna Park, seorang gadis cantik berdarah Jepang yang memiliki mata indah serupa Joongie Hyung.” Ayah memberitahu.

Jeongmal?” Tanya Yunho harabojie.

Aku mengangguk pelan.

“Boleh kakek tua ini melihat fotonya?”

Ku lirik ayah, meminta persetujuannya terlebih dahulu. Memastikan apakah dampak terhadap Yunho harabojie tidak akan mempengaruhi kesehatannya andaikan ku tunjukkan foto Jaennaku.

“Biarkan harabojiemu melihatnya.” Ucap ayah pada akhirnya.

Sedikit ragu ku keluarkan handphoneku, ku berikan pada Yunho harabojie agar ia bisa melihat sosok Jaenna yang fotonya ku jadikan wallpaper.

Tangan Yunho harabojie bergetar, mata lelahnya nanar dan memerah. “BooBoo Jae….” Lirihnya diiringi isakan pilu.

Ayah merampas handphone itu dan diberikan kepadaku. “Bawa harabojiemu masuk. Sudah saatnya dia minum obat.”

Ku anggukkan kepalaku pelan, mendorong kursi roda Yunho harabojie menuju rumah secepat yang ku mampu seiring isakannya yang kian bertambah keras. Sempat ku tengok ayah yang menengadah menatap langit sambil mengusap matanya menggunakan sapu tangan kumal yang tidak pernah dibuangnya sejak dulu, sapu tangan pemberian Boo Jae.

Kata ayah, Jaenna memiliki mata indah mirip Boo Jae, kulitnya pucat seperti Boo Jae, bibirnya merah penuh seperti Boo Jae, hanya saja rambut Jaenna ikal tidak seperti Boo Jae yang memiliki rambut lurus. Wajar bukan bila Yunho harabojie menangis melihat kemiripan mereka?

“Beruang kecil….” Lirih Yunho harabojie.

“Ya Harabojie?”

“Bahagiakanlah yeoja chingumu! Jangan sekali-kali kau menyakitinya karena penyesalah selalu berada dikahir cerita.” Ucap Yunho harabojie, “Karena bila penyesalan berada diawal cerita tidak akan ada orang yang akan belajar dari kesalahan yang diperbuatnya.”

“Ya, Harabojie….” Sahutku.

Tidak ada yang mengatakannya padaku tetapi aku mengetahui satu hal yang menjadi rahasia keluarga Jung. Karena kesalahan Yunho harabojie pada Boo Jae, Seunghyun dan Yoochun harabojie tidak pernah lagi menginjakan kakinya di rumah keluarga Jung ini sampai kematian menjemput mereka. Kesalahan yang belum ku ketahui apa. Mungkin suatu hari nanti Yunho harabojie ataupun ayah mau mengatakannya padaku.

“Beruang kecil….”

Ne?”

“Subuh tadi aku bermimpi.”

“Mimpi apa, Harabojie?”

Boo Jae menggandeng tanganku dan mengajakku berjalan-jalan kesebuah taman indah, ada sebuah jembatan disana. Ketika kami ingin menyeberangi jembatan itu ada seseorang yang memanggil namaku. Lalu aku terbangun….”

Aku terdiam…

Kadang-kadang mimpi merupakan sebuah tanda…

Entah tanda apa….

<3 <3 <3 <3 <3

Langkah-langkah ringan itu menyusuri bangsal, menikung ke kiri sebelum akhirnya berhenti di depan ruang berpapan nama “Music Room” dan menggeser pintu dengan penuh semangat. Kedatangannya disambut hangat oleh 3 orang rekannya yang tersenyum kepadanya.

“Joongie….” Seunghyun mengacak rambut hitam lembut itu gemas.

“Darimana saja kau? Dasar!” Yoochun berkacak pinggang namun senyum tidak luntur menghiasi wajah chubynya.

“Joongie Hyung! Bekalmu masih? Aku sangat lapar.” Tanya Changmin.

Pemilik tangan pucat itu mengulurkan empat buat sapu tangan sutra berwarna merah maroon, “Ku harap kalian tidak menolaknya seperti yang Yunie lakukan tadi. Aku merajutnya susah payah satu minggu ini.”

“Beruang brengsek itu akan menyesali perbuatannya!” ketus Seunghyun yang mengambil satu sapu tangan berajut namanya.

“Dia akan menyesal telah menolak benda berharga ini.” Sahut Yoochun yang juga mengambil satu sapu tangan berajut namanya.

“Biar aku yang menyimpan bagian Yunho hyung, suatu saat ketika dia menginginkannya akan ku berikan padanya.” Ucap Changmin.

<3 <3 <3 <3 <3

<3 <3 <3 <3 <3

<3 <3 <3 <3 <3

<3 <3 <3 <3 <3

<3 <3 <3 <3 <3

Hallo… lama ya epep ini tidak dilanjutkan dan jamuran. Ada yang masih ingat? Karena sekarang hanya Yuuki yang melanjutkan jadi akan ada beberapa perubahan dan penyesuaian sesuai karakter dan kemampuan menulis Yuuki. Marci sibuk di real jadi kalau nunggu Marci kemungkinan epep ini lanjutnya akan sangat lama jadi Yuuki lanjutkan sendiri.

Pendek dan ngawur ya chap ini?

2 Chap sebelumnya Yuuki tidak dilibatkan dalam penulisannya dan tidak memiliki file aslinya jadi susah untuk mendapatkan fellnya. Tapi Yuuki usahakan akan tetap melanjutkannya. Pelan-pelan saja ya karena Yuuki juga digempur kesehatan yang angot-angotan pasca operasi.

Terima kasih.

Tetap jaga kesehatan.

<3 <3 <3 <3 <3

<3 <3 <3 <3 <3

<3 <3 <3 <3 <3

Wednesday, August 26, 2015

8:34:48 AM

NaraYuuki

Pasteurisasi Asa

Tittle               : Pasteurisasi Asa

Writer             : NaraYuuki

Genre             : Romance/ Family

Rate                : T

Cast                : Jung Yunho & Kim Jaejoong

Disclaimer:    : They are not mine but this story is mine, NaraYuuki

Warning         : This is YunJae Fan Fiction (Boys Love), M-Preg. Yuukimasihbutuhbanyakbelajar.Kesalahanejaandanpemilihan kata harapdimaklumi, Miss Tybertebaran, Penceritaansangat ngebut.

.

.

 

.

.

Kumpulan burung layang-layang terbang berputar-putar disekitar gumpalan awan hitam sebelum akhirnya terbang pergi menjauhi awan yang semakin lama semakin gelap –bahkan beberapa kali terlihat kilat petir walau gemuruh suaranya belum terlalu kuat. Di bawah naungan halte yang saat itu sedang sepi sosok yang sejak tadi duduk termenung sendirian itu menatap hampa langit yang perlahan menggelap sempurna hingga tetes gerimis turun membasahi jalanan beraspal di depannya. Mata indahnya terlihat kosong namun nanar, kedua tangannya memegangi perutnya yang tidak terlihat terlalu buncit namun juga tidak lagi rata, sesekali jemari tangannya mengusap perlahan perut yang tertutup sweter panjang berwarna pastel itu, seolah membangunkan sesuatu yang tertidur didalamnya untuk bangun guna menikmati gerimis yang dingin lagi indah bersamanya.

“Ibu tidak marah pada ayahmu, Chagy. Hanya kadang rasanya sangat lelah bila harus seperti itu setiap hari.” keluhnya, sedikit mengigil ketika angin meniupkan gerimis ke arah halte dan mengenai wajah serta tubuhnya walaupun hanya sesaat saja. “Ibu tidak bisa membaca buku-buku yang Ibu sukai, Ibu tidak bisa menulis cerita-cerita yang sangat Ibu cintai lagi. Sesungguhnya Ibu sangat sedih dengan keadaan yang seperti itu.”

Menarik napas panjang, dieratkannya sisi-sisi sweternya agar lebih melindungi perutnya, bergumam sesuatu sebelum kembali menerawang menatap gerimis yang semakin lebat seolah badai sebentar lagi akan datang.

“Kau tahu, Chagy? Bahagia itu relatif. Dan sekarang Ibu sedang tidak merasa bahagia walaupun Ibu dikelilingi oleh orang-orang yang mencintai Ibu, Ibu tidak merasa bahagia walaupun setiap hari ibu bisa melihat senyum orang yang Ibu cintai.” kembali diusapnya perutnya agar hangat dari tangannya bisa membuat nyaman perutnya yang mulai terjalari hawa dingin. “Jangan marah! Ibu tidak menyalahkan ayahmu. Ibu hanya merasa sedikit stress dan itu membuat Ibu tidak nyaman. Bukan berarti Ibu menyalahkan ayahmu. Ibu tetap mencintainya. Kau tahu? Bila ibu tidak mencintainya, Ibu pasti tidak akan mau menikah dengannya.”

Perlahan linangan air mata membasahi wajah cantiknya yang pucat, entah kulitnya yang asli pucat atau pucat karena hawa dingin yang menyerangnya, yang jelas wajahnya terlihat sangat pucat pun matanya yang terlihat memerah dan sembab.

“Ibu hanya tidak suka ayahmu mengatakan hanya wajah Ibu saja yang cantik, Ibu terluka jika ayahmu mengatakan bahwa hati Ibu sangat buruk seburut kain bekas.” Digigitnya bibir bawahnya perlahan agar isakan itu tidak lolos dari bibirnya yang juga ikut memucat. “Bukankah harusnya ayahmu mencoba memahami kondisi Ibu yang seperti ini? Ibu sakit hati ketika ayahmu mengatakan Ibu terlalu memanfaatkan keadaan sehingga meminta ini itu padanya. Sejujurnya jika Ibu diijinkan pergi sendiri Ibu akan mencari apa yang Ibu mau.”

“Tengah malam ketika kau meminta sup jamur atau sate ikan hangat, Ibu ingin mencarinya sendiri. Ibu tidak ingin merepotkan orang lain. Tetapi keadaan Ibu yang tidak memungkinkan untuk pergi sendiri membuat Ibu meminta pada ayahmu. Ibu tahu ayahmu lelah setelah seharian bekerja tetapi kau yang sangat menginginkannya memaksa Ibu untuk merengek pada ayahmu. Kau tahu sendiri bila ayahmu memang membelikannya untukmu, namun setelah itu… Ibu lelah bila setiap kali menginginkan sesuatu Ibu harus menerima kata-kata keras setelahnya. Sungguh Chagya, andai Ibu mampu dan diijinkan akan lebih baik bila Ibu pergi sendiri. Ibu lelah bila setiap hari menghadapi situasi yang sama.”

“Ada saat dimana ketika lidah Ibu terasa kelu dan enggan makan… pada saat itu Ibu tidak tahan mendengar teguran ayahmu yang terlampau keras bagi hati Ibu. Sedikit saja, Ibu hanya meminta sedikit saja. Kenapa ayahmu tidak mau mengerti kondisi Ibu yang sedang seperti ini?” air mata itu mengalir semakin deras seiring isakan yang keluar dari bibir pucatnya. Beberapa pejalan kaki yang lewat di trotoar dekat halte hanya melirik sekilas padanya tanpa sedikit pun berniat untuk menghibur ataupun menanyakan penyebab ia menangis. Toh dirinya sedang tidak butuh belas kasihan dari siapapun sekarang ini.

Udara dingin beserta gerimis yang sudah menjadi hujan deras membuat pikirannya yang semula panas perlahan-lahan mendingin walaupun tubuhnya harus ikut menggigil. Ingatannya dipaksa kembali berputar pada kejadian beberapa menit bahkan jam yang lalu dimana dirinya sedang bertengkar hebat dengan suaminya –setidaknya dirinya masih menganggap laki-laki itu sebagai suaminya sampai detik ini.

Menyandang status sebagai istri seoarng Jung yang sangat termasyur dimasyarakat menjadi beban tersendiri baginya. Kadang dirinya merasa menjadi boneka yang bisa selalu dibawa-bawa menghadiri acara-acara resmi ataupun pesta pribadi yang menurutnya sedikit membosankan, ingin mengeluh tetapi itu adalah resiko yang harus ditanggungnya begitu menjadi bagian dari keluarga Jung.

Bukan salahnya ketika pada kehamilan pertamanya ini dirinya menginginkan hal-hal merepotkan pada waktu-waktu tidak lazim seperti menginginkan sup jamur pada dini hari, menginginkan jeruk tengah malam, menginginkan ice cream menjelang subuh bahkan menginginkan jagung dan ubi bakar sebagai hidangan sarapan. Dirinya tidak mengerti kenapa menginginkan makanan seperti itu pada waktu yang merepotkan, hal yang cukup membuatnya bertengkar dengan suaminya. Jung Yunho. Bahkan terkadang dirinya merasa sangat membenci suami yang sudah setahun lebih menikahinya itu, membenci aroma parfum dan keringat yang menguar dari tubuh berkulit tan suaminya yang sebelumnya sangat ia sukai. yang lebih ekstrem adalah ketika dirinya mulai suka menggigiti lengan dan paha suaminya serta bermain-main dengan pusar suaminya. Menjengkelkan bagi suaminya namun terasa menyenangkan bagi dirinya, hal yang juga membuat dirinya dan suaminya bertengkar hebat.

Kim Jaejoong namanya, sebelum menikah dengan Jung Yunho dirinya adalah seorang jurnalis dan penulis naskah yang sangat berbakat. Jaejoong bahkan melepaskan kontrak bernilai ratusan juta serta beasiswa ke luar negeri hanya untuk menikah dengan pujaan hatinya. Tetapi cinta tidak selalu menang. Jaejoong merasakan sendiri bahkan bersama dengan orang yang sangat dicintai pun hidup bisa sangat tidak membahagiakan. Jaejoong mulai tertekan dan stress ketika semua hobinya dilarang oleh sang suami, Yunho. Jaejoong dilarang membaca novel, komik dan dilarang menulis lagi dengan alasan untuk kesehatan bayi mereka mengingat Jaejoong sedang hamil muda dan kondisinya yang sering naik turun. Awalnya Jaejoong bisa memahami alasan itu namun semakin lama perasaannya bergejolak, Jaejoong merasa dibelenggu dan hal itu membuatnya tidak bahagia. Puncaknya ia bertengkar dengan suaminya, mogok makan hingga kabur dari rumah.

“Sebentar lagi busnya akan datang. Dengan begitu kita bisa pulang ke rumah Harabojie dan Halmoni yang ada di Jinan.” Jaejoong mengusap perutnya dengan jemari yang bergetar, entah karena dingin ataupun karena lapar, bisa saja karena keduanya. “Kau akan menyukai Jinan. Jangan nakal, hm?” ucapnya sambil meringis ketika merasakan sedikit nyeri pada bagian perut kanannya.

Mengumpulkan keyakinan sekali lagi untuk memantapkan hatinya agar kepergiannya tidak menyisakan luka dan keraguan didalam hatinya. Terutama ketika dari arah kanannnya terlihat kepala bus yang akan dinaikinya untuk membawanya ke Jinan.

“Kadang ketenangan hati dan kebahagiaan memang membutuhkan pengorbanan besar.” gumamnya. Sebelum berdiri dari duduknya masih sempat diusapnya perutnya, kemudian diambilnya koper kecil berwarna merah hati yang teronggok membisu disisi kaki kirinya. Jantungnya berdebar kencang seiring semakin dekatnya bus yang melaju ke arahnya.

Hendak melangkah menuju sisi trotoar agar memudahkannya ketika hendak memasuki bus namun tubuhnya tertahan, lengannya terasa sedikit perih dan kebas.

“Apa yang akan kau lakukan dengan koper itu, Boo? Mau kau bawa kemana anak kita?”

Mata bulat indah yang kata orang-orang serupa mata rusa betina yang sangat bening lagi legam itu membulat ketika melihat sosok yang membuatnya sakit hati namun masih sangat dicintainya sepenuh hati, suaminya, Jung Yunho.Laki-laki bermata setajam mata musang yang sedang berburu itu menatap tajam Jaejoong yang masih tampak sedikit syock.

“Bukan seperti ini cara menyelesaikan masalah, Boo!” ucap Yunho dengan suara rendah namun penuh penekanan, “Kita bisa bicara baik-baik, kan? Jangan berbuat nekat! Kau sedang mengandung anak kita!”

Menulikan telinganya, Jaejoong hanya menatap nanar bus yang berhenti tepat di tepi jalan, melihat orang-orang yang turun dari bus sebelum bus itu kembali melaju tanpa dirinya yang belum sempat naik. Jaejoong meronta, berusaha melepaskan cekalan kuat suaminya. Padahal biasanya Jaejoong sangat kuat namun kini dirinya sama sekali tidak berkutik ketika dicekal sedemikian rupa oleh Yunho, Jaejoong bahkan semakin tidak berkutik ketika tubunya yang terasa sangat dingin itu didekap erat oleh Yunho, membuat mereka menjadi tontonan orang-orang yang lewat.

“Jangan seperti ini, Boo. Aku sangat menyayangimu dan anak kita, aku mencintai kalian.” ucap Yunho. “Aku menegurmu, aku bersikap galak padamu hanya untuk membuatmu menjadi lebih baik. Apakah aku salah? Kalau ada kata-kataku yang menyinggungmu tolong maafkan aku, maafkan suamimu yang hilaf ini!”

Jaejoong terdiam, matanya menerawang hampa, kedua matanya terasa panas dan perih. “Lihat Chagy? Ibu lagi kan yang menjadi sumber permasalahannya?” batinnya nelangsa.

“Lihat! Tubuhmu sangat dingin! Wajahmu sangat pucat.”

Jaejoong masih diam saja ketika Yunho menciumi sekujur wajahnya. Jaejoong tidak menolak ketika Yunho menariknya menuju mobil yang terparkir tidak jauh dari halte, menembus gerimis yang sedikit mulai reda. Suara gesekan roda koper dan badan trotoar tidak juga menyadarkan Jaejoong pada apa yang sedang terjadi sekarang.

Selalu seperti ini!

Ketika dirinya bertengkar dengan Yunho, ketika dirinya sedang merajuk, Yunho selalu bisa memutarbalikkan keadaan dimana seharusnya Jaejoong yang marah tetapi justru Yunho yang balik marah. Jaejoong seolah tidak memiliki daya sebagai seorang ‘istri’, seolah dunianya hanya dikendalikan oleh Yunho selaku kepala keluarga.

“Apakah posisi istri memang seperti ini? Apakah yeoja atau namja lain yang menjadi istri pun merasakan apa yang aku rasakan?” batin Jaejoong.

Mungkin Jaejoong labil karena kondisinya yang sedang mengandung, mungkin Yunho marah karena kondisinya yang lelah. Tetapi satu hal yang Jaejoong selalu dapati bahwa suaminya akan memeluknya, merapalkan permintaan maaf usai membuatnya merasakan sakit hati –walaupun dirinya enggan mengakui.

Kadang dalam ketermanguannya Jaejoong berpikir, dirinya beruntung memiliki Yunho sebagai suami atau sial karenanya?

Mungkin Jaejoong harus menyadari sesuatu, bahwa dalam pernikahan pedih, bahagia, suka cita selalu berjalan beriringan.

 

 

END

 

 

Tuesday, May 19, 2015

7:05:14 AM

NaraYuuki.

Love Stone (GS)

“Pergilah ke seluruh penjuru Big East dan temukan Love Stone! Itu adalah satu-satunya penawar bagi racun Sendata.”

IMG_6086168075070

 

Jung Yunho, pangeran vampire yang memiliki darah demon itu harus mencari love stone untuk menyembuhkan ibunya yang terkena racun sendata.

Bersama kakaknya yang bernama Yoochun dan seekor harimau putih miliknya yang beranama Thunder, pangeran muda itu menjelajah mencari love stone yang tidak diketahui bentuk dan wujudnya hingga mereka sampai di wilayah kekuasaan Elf. Di sana Yunho bertemu dengan sebuah keluarga Elf Hutan yang membawanya kedalam sebuah kisah cinta yang rumit dan petualangan mendebarkan hingga terlibat dalam sebuah peperangan yang menjadi salah satu peperangan terhebat di tanah Big East. Peperangan yang menjadi awal kehanjuran kerajaan Elf Langit. Peperangan yang menguak arti dari ketulusan dan cinta.

 <3 <3 <3 <3 <3

POnya sudah dibuka sejak kemarin, tanggal 4 Agustus 2015.

Info lebih lanjut silakan hubungi Yoori Michiyo via FB ( https://web.facebook.com/yoori.michiyo )

 

 

 

 

Tetap sehat :)

Tuesday, August 11, 2015

NaraYuuki

NaraYuuki Info

Karena ada beberapa reader yang menginginkan tulisan Yuuki dibukukan, berikut ini adalah daftar tulisan Yuuki yang akan dicetak:

1. Another Girl: (GS)

Cover - Depan

“Aku tidak bisa membenci kalian karena aku tidak mau terluka akibat perasaan sepihak itu. Aku hanya masih butuh waktu untuk menyembuhkan hatiku. Suatu hari nanti….” Perjuangan Jaenna untuk Move On. Dapatkah ia menyambut cinta yang diulurkan padanya atau memilih tetap pada masa lalunya?

:) :) :) :) :)

2. Epislova: (GS)

Sampul depan Epislova

“Pergi ke Cassiopeia seperti amanat Appa dulu! Kau harus belajar sihir yang lebih kuat dari kemampuanmu sekarang.” Jung Yunho, seorang pangeran dari kerajaan bernama Bollero yang terpaksa terusir dari tanah kelahirannya sendiri hanya karena ketamakan sang paman yang ingin merebut tahta darinya. Ditemani 4 pengawal yang dipilihkan oleh kakaknya sebelum terusir ke pulau kematian, Yunho berangkat menuju Cassiopeia, melewati banyak halangan dan rintangan yang mengajarkannya tentang cinta, tanggung jawab, persahabatan dan kehilangan.

:) :) :) :) :)

3. Love Stone: (GS)

Sampul Depan Love Stone

“Pergilah ke seluruh penjuru Big East dan temukan Love Stone! Itu adalah satu-satunya penawar bagi racun Sendata.” Jung Yunho, pangeran vampire yang memiliki darah demon itu harus mencari love stone untuk menyembuhkan ibunya yang terkena racun sendata. Bersama kakaknya yang bernama Yoochun dan seekor harimau putih miliknya yang beranama Thunder, pangeran muda itu menjelajah mencari love stone yang tidak diketahui bentuk dan wujudnya hingga mereka sampai di wilayah kekuasaan Elf. Di sana Yunho bertemu dengan sebuah keluarga Elf Hutan yang membawanya kedalam sebuah kisah cinta yang rumit dan petualangan mendebarkan hingga terlibat dalam sebuah peperangan yang menjadi salah satu peperangan terhebat di tanah Big East. Peperangan yang menjadi awal kehanjuran kerajaan Elf Langit. Peperangan yang menguak arti dari ketulusan dan cinta. Love Stone! Love stone! Love stone!

:) :) :) :) :)

4. Efoni Kakofoni (GS/ Umum) Hasil remake fanfiction

Cover Depan Efoni Kakofoni

“Aku tidak mau berdebat denganmu!” “Kita tidak sedang berdebat, Oppa….” “Persetan denganmu!” Orang asing yang dipaksa menjadi saudara, saudara yang dipaksa menjadi orang asing. Bagaimana rasanya? Kumpulan cerpen, puisi dan cerita fantasy!

:) :) :) :) :)

5. Always Keep The Faith! (Yaoi)

Sampul Depan AlwaysKeepTheFaith!

“Merokok tidak baik untuk kesehatanmu.” “Sebagai sahabatmu sejak kecil aku hanya mengingatkan kalau merokok itu tidak baik untuk kesehatanmu, Jae.” “Sebagai satu-satunya sahabat yang kau punya, aku juga ingin mengingatkan bahwa berkelahi dan berbuat onar hanya akan merusak reputasimu, Jung!” “Aish! Mau bagaimana lagi? Hanya itu yang bisa ku lakukan untuk melepas stress.” Keluh Yunho, Jung Yunho. “Apa kau ingin melihat sahabatmu yang tampan ini masuk rumah sakit jiwa?” “Kita punya cara sendiri untuk melepaskan stress kita. Kau dengan semua kenakalan dan aksi berandalanmu sedangkan aku dengan semua puntung rokok terkutuk itu.” “Hm….” Mereka sahabat dalam segala hal.

:) :) :) :) :)

6. Conscious a Lofa (Yaoi)

Sampul Depan Conscious a Lofa

“Daripada harus membunuhmu… bagaimana bila aku menjadikanmu milikku?” tanya Yunho. Benci dan dendam yang membuat seorang jenderal menyerah tunduk kepada ‘majikan’ barunya. Akankah ia bisa bertahan? Atau memilih mengakhiri hidupnya daripada harus menanggung penghinaan akibat kekalahannya?

:) :) :) :) :)

Bagi yang berminat dan ingin mengoleksi silahkan hubungi Yoori Michiyo via FB. Berikut linknya: www.facebook.com/yoori.michiyo

Untuk epep yang belum kelar akan Yuuki lanjutkan di WP yang satunya: www.fanfictionyunjae.wordpress.com kecuali Suprasegmental karena akan ikut dibukukan.

Yuuki juga punya page FB. Kalau punya waktu luang silahkan main https://www.facebook.com/narayuukifanfiction

Terima kasih, tetap jaga kesehatan ya :)

30 Juli 2015

NaraYuuki

Suprasegmental V

Tittle                : Suprasegmental V

Writer               : NaraYuuki

Genre               : Romance/ Adventure/ fantasy kerajaan/ Incest

Rate                 : -M

Cast                 : Member DBSK (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan).

Disclaimer:       : They are not mine but this story is mine, NaraYuuki

Warning           : This is YunJae Fan Fiction (Boys Love). M-Preg. Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut.

.

.

Suprasegmental untuk para kutil

.

.

PASTIKAN BACA WARNINGNYA DULU

EPEP INI KHUSUS BUAT EMAK IFA DAN PARA KUTIL TERSAYANG YUUKI :D

.

.

IMG_7188113833845

.

.

Asap mengepul dari gelas teh yang berada di hadapan Yunho, ketika pemilik lengan putih pucat itu menuangkan teh hijau panas yang bisa menghangatkan suasana dini hari kali ini ditemani oleh rintik gerimis yang membiskan kabut tipis di sekitar wilayah provinsi Bollero.

“Apa kau sudah meminta orang untuk menyelimuti Junsu dan Tae Jo sshi?” tanya Jaejoong.

Yunho yang sedang menyuapkan sesendok bubur ke dalam mulutnya mengangguk pelan. “Mereka sudah merasa hangat sekarang. Tenang saja!”

“Lalu apa yang harus kita lakukan?” mutiara serupa rusa betina itu menerawang langit-langit muram yang melindunginya dari sengatan dingin.

“Apa yang harus dilakukan?” Yunho bertanya balik, “Tentu saja kita harus segera membuat surat penangkapan untuk memperkarakan kejahatan yang sudah dilakukan Lee Hongman. Memang apa lagi yang bisa kita lakukan selain itu?”

Jaejoong memukul lengan Yunho dengan sumpit yang berada di tangan kanannya, “Anakmu, pabo! Apa yang harus kita lakukan padanya?” ucap Jaejoong yang memelototkan mata indahnya pada Yunho.

Yunho meletakkan sendok supnya di atas meja lipat, sepasang mata musangnya menatap serius wajah rupawan sosok yang berada di hadapannya itu dengan tatapan penuh kesungguhan. “Aku akan mengirim surat pada Ayah dan Yang Mulia Raja, memohon belas kasihan mereka agar merestui kita.”

“Tidak akan semudah itu.” lirih Jaejoong dengan wajah muramnya. “Kita bersaudara. Ayah pasti akan sedih dan mengutuk perbuatan kita yang mendatangkan aib bagi keluarga. Terlebih kakekku… Yun, aku takut….”

“Bukankah dari awal kita memulai hubungan ini kita sudah berjanji akan bersama-sama menghadapi segala rintangan yang ada?” tanya Yunho, diletakkannya sendok bubur yang dipegangnya untuk menggenggam erat jemari tangan Jaejoong yang hangat namun terasa dingin. “Sekarang apa yang kau risaukan, Boo?”

“Aku tidak mengkhawatirkan diriku, Yun. Aku menghawatirkanmu.” ucap Jaejoong, “Apa hukuman yang akan Ayah berikan padamu? Apa yang akan Kakekku tuntut darimu?”

Yunho tersenyum, mengusap perlahan pipi pucat kemerahan Jaejoong yang terasa kenyal dan dingin. “Biarlah aku yang memikirkan semua itu, Boo. Kau cukup menjaga anak kita dengan baik.” ucapnya menenangkan, “Mulai besok kurangilah kapasitas bekerjamu di kantor kehakiman, untuk urusan yang mendesak dan berbahaya serahkan pada orang lain. Kalau tidak biar aku yang mengambil alih pekerjaanmu.”

“Jangan perlakukan aku seperti perempuan, Jung!” sentak Jaejoong. Dalam situasi macam apapun Jaejoong enggan mengakui bahwa dalam hubungan ‘rahasia’nya dengan Yunho dirinya bertindak sekalaku perempuan.

“Jangan tersinggung Boo. Aku hanya mengkhawatirkanmu dan anak kita.” ucap Yunho mencoba mereda emosi Jaejoong. Yunho pernah diberitahu temannya yang sudah menikah bahwa seseorang yang sedang hamil cenderung lebih mudah emosi karena masalah-masalah sepele. Dan sepertinya mulai hari ini Yunho harus menguatkan dirinya dan mempertebal kesabarannya menghadapi sang kekasih yang tengah mengandung buah cinta mereka.

“Terserah padamu!” dengus Jaejoong kesal, “Aku ingin begitu matahari terbit nanti, sudah ada tabib atau dokter untuk mengobati Tae Jo sshi lebih lanjut. Tabib di kehakiman sudah memberikannya obat tapi aku ingin Tae Jo sshi cepat pulih karena jasanyalah aku masih bisa bernapas sampai sekarang.”

“Dia akan mendapat penghormatan dariku, Boo. Aku akan memberikannya hadiah karena sudah melindungimu.” Yunho mengikrarkan janjinya.

“Tidak! Jangan beri Tae Jo sshi hadiah!” larang Jaejoong.

Yunho menaikkan sebelah alisnya mendengar apa yang sosok indah itu katakan. Tersimpan sebuah ketegasan dan sesuatu maksud tersembunyi dari nada bicara Jaejoong barusan.

“Beri dia jabatan dibadan kepolisian dibawah kendalimu, Yun! Tae Jo sshi adalah orang yang cekatan dan bisa diandalkan.” Ucap Jaejoong dengan sungguh-sungguh, “Aku yakin dia bisa berguna untuk membongkar kebobrokan yang terjadi di Bollero ini. Bukan hanya masalah penyelundupan yang kita tuduhkan pada tuan Lee Hongman tetapi juga rahasia lain Bollero yang belum kita ketahui.”

“Kenapa kau seyakin itu pada orang yang bahkan baru kau kenal, Boo?” tanya Yunho tidak suka.

Jaejoong tersenyum samar, “Ketika tabib memeriksanya tadi aku melihat banyak bekas luka disekujur tubuhnya, Yun. Punggungnya penuh dengan luka sayatan, tusukan dan cambuk. Ada beberapa luka baru yang timbul karena benda tumpul. Pada bagian kakinya banyak dipenuhi luka gores yang aku yakin berasal dari goresan akar ataupun cabang pepohonan hutan. Ku rasa dia sudah pernah mengililingi hampir seluruh hutan yang berada di Bollero.” ucap Jaejoong, “Bukankah akan sangat rugi bila kita tidak memanfaatkan orang seperti itu?”

“Maafkan aku, tetapi mendengarmu memujinya seperti itu membuatku sedikit tidak suka padanya.” ucap Yunho.

Jaejoong tidak lagi mengulum senyum samae, kali ini sebuah senyum yang lebar. “Aku sudah bersamamu sejauh ini bahkan mengandung darah dagingmu. Apa yang kau takutkan Kepala Polisi Jung?” godanya.

“Sebelum aku mengikatmu dalam sebuah tali suci, aku akan membenci semua orang yang mencuri perhatianmu walaupun itu Junsu sekalipun.”

Jaejoong tertawa dengan suara pelan, enggan membangunkan seluruh pelayan dan pengawal yang sedang beristirahat. “Tapi jangan kau kendurkan kewaspadaanmu, Yun.” Jaejoong mengingatkan, “Musuh bisa membalas kita dari mana saja ketika ia sedang dalam keadaan terjepit seperti sekarang.”

“Aku mengerti, Boo. Karena itu aku sudah meminta Changmin dan Yoochun untuk memperketat keamaan di tempat kerja kita. Tempat ini pun harus mulai diperketat penjagaannya. Mulai pagi nanti Junsu akan mengawalmu kemanapun kau pergi bahkan ke kamar kecil sekalipun.” Ucap Yunho serius. “Maafkan aku, tetapi mulai hari ini kau adalah tawanan pribadiku!”

<3 <<<<< <3 <<<<< <3

“Kau terluka dalam, ada bagian organ dalam tubuhmu yang cidera lumayan parah. Apa sebelum bertemu denganku kau pernah bertarung dengan pendekar hebat?” tanya Jaejoong yang tengah menyeduh obat untuk Tae Jo, dokter yang dipanggil untuk memeriksanya baru saja pergi usai memberikan resep obat yang harus diminum Tae Jo sebanyak 5x sehari untuk memulihkan luka dalam tubuhnya. “Nah, minumlah Tae Jo sshi….” Jaejoong menyodorkan secangkir cairan hitam pekat dengan aroma khas yang asapnya masih mengepul-ngepul.

“Kenapa kau memperlakukanku sebaik ini?” tanya Tae Jo.

“Karena aku sudah berjanji akan mengobati lukamu. Maafkan aku yang telah menghajarmu kemarin. Dan terima kasih sudah menyelamatkanku Tae Jo sshi… atau aku harus memanggilmu Jin Yihan sshi?”

Laki-laki yang kini memakai hanbok berwarna abu-abu pucat itu tersentak kaget, tangannya yang terjulur hendak meraih cangkir obatnya itu mengejang kaku. Matanya bergerak gelisah namun enggan menatap mata Jaejoong.

“Jin Yihan, putra dari mendiang selir Jin yang diusir oleh Yang Mulia Raja karena berniat merencanakan penggulingan dan pembunuhan terhadap mendiang Yang Mulia Ratu. Sayang dalam pengasingannya selir Jin meninggal karena penyakit malaria yang saat itu sedang mewabah di daerah pengasingan, sedangkan putranya menghilang begitu saja. Pihak istana sudah menyatakan dan mengumumkan kematian pangeran Jin Yihan walaupun ada beberapa pihak yang sangsi dengan pertanyaan itu.” ucap Jaejoong tenang. “Kau tahu? Ada 3 orang yang diketahui memiliki tanda lahir berupa lambang rasi bintang Cassiopeia. Yang pertama mendiang ibuku, Kim Tae Hee. Yang ke-2 Putra Mahkota, Kim Hyun Joong. Dan yang ke-3 adalah Jin Yihan, putra selir Jin yang menghilang belasan tahun yang lalu. Aku melihat tanda lahir itu ada pada bahu kananmu saat kau berganti baju usai diperiksa tadi.”

Tae Jo mengepalkan tangannya erat-erat tanpa sedikitpun berniat membuka suaranya.

“Kalau benar kau adalah pangeran yang terbuang, Jin Yihan. Maka kau adalah kakakku. Walaupun hanya kakak sepupu.”

Ragu-ragu Tae Jo menatap Jaejoong, “Dari mana kau tahu informasi yang bahkan sudah dilupakan oleh kebanyakan orang itu? Bahkan aku yakin bahwa Raja, ayahku sendiri pun melupakanku.” ucapnya dengan suara parau.

“Aku tidak tahu soal Raja yang melupakanmu atau tidak. Tetapi dari mana aku mengetahui informasi itu… Raja sering mengajakku ke perpustakaan rahasia yang menyimpan informasi penting yang sudah dilupakan sejak aku kecil. Hampir semua buku di sana sudah pernah aku baca sehingga untuk menyimpulkan dan mengingat informasi mengenai pangeran yang terbuang tidaklah sulit karena hanya ada satu pangeran yang diasingkan bersama ibunya.” jawab Jaejoong. “Raja mempunyai 4 istri. Mendiang Ratu melahirkan 2 anak yakni Putra Mahkota Kim Hyunjoong dan mendiang pangeran Kim Hyunbin. Selir Park tidak bisa mempunyai anak karena penyakit yang menimpanya, aku dengar kini dia sedang sakit parah dan tidak ada satu obat pun yang mampu menyembuhkannya. Selir Ming melahirkan seorang putri yang kawin lari dengan prajurit istana. Sedangkan mendiang selir Jin yang diusir memiliki seorang putra seusia Putra Mahkota bernama Jin Yihan.”

“Jadi Selir Ming yang kini mengisi posisi ratu?” gumam Tae Jo. “Sejak awal dia yang paling berambisi. Bahkan mungkin sakitnya Selir Park pun ada sangkut pautnya dengannya.”

“Tidak.” jawab Jaejoong. “Selir Ming tetap seorang Selir karena Yang Mulia Raja tidak ingin ada ratu baru. Lagi pula sebentar lagi Yang Mulia Raja akan menyerahkan tahtanya pada Putra Mahkota.” Jaejoong menjelaskan.

“Lalu kenapa kalau aku adalah Jin Yihan yang terbuang itu?”

“Sudah ku katakan… kalau kau benar adalah Pangeran Jin Yihan berarti kau adalah kakakku. Kalau kau bukan pangeran Jin Yihan maka kau tetaplah Tae Jo sshi yang ku kenal di desa Roten.” ucap Jaejoong. “Siapapun kau, mulai hari ini kau adalah anggota kepolisisan di bawah komando Kepala Polisi Jung Yunho. Kau bertugas untuk memberantas kejahatan.”

“Kenapa aku harus melakukan hal yang sia-sia seperti itu?”

“Aku tahu kau orang baik karena ibumu pun adalah perempuan yang baik.” Jaejoong tersenyum, “Ketika ibuku meninggal dan aku hampir mati kelaparan, ibumulah yang menyusuiku ketika aku masih bayi dulu.”

Tae Jo tersentak kaget.

“Kasus yang menimpa ibumu adalah sebuah fitnah. Ibumu menjadi korban kebusukan para pejabat pemerintahaan yang tidak menyukainya. Aku, Putra Mahkota dan Jung Yunho pernah menyelidiki kasus itu. Kami berhasil membersihkan nama ibumu dan kau.”

“Tidak bisakah aku tetap menjadi Tae Jo si bandit saja?” tanya Tae Jo, “Nama Jin Yihan terlalu berat untuk ku sandang setelah apa yang menimpaku selama ini. Biarlah Tae Jo tetap hidup dan Jin Yihan mati.”

Jaejoong tersenyum dan mengangguk pelan. “Bila itu maumu. Tapi ijinkan aku memanggilmu Hyung.” ucap Jaejoong.

<3 <<<<< <3 <<<<< <3

“Aku merasa tersinggung Kepala Polisi, Jung!” pria berbadan tambun dan berwajah bengis itu berujar, “Kau tidak datang memenuhi undanganku dan hanya mengirim bawahanmu untuk menggantikanku? Apa kau berniat merendahkanku?”

“Maafkan aku Lee Hongman sshi. Aku tidak bermaksud merendahkanmu, hanya saja ada urusan yang lebih mendesak daripada memenuhi undanganmu.” ucap Yunho tenang. Yunho sama sekali tidak terkejut ketika dirinya sampai di kantor kepolisian pria bertubuh tambun itu sudah membuat onar. Hal yang sebenarnya sudah diduga olehnya.

Dengan kasar pria bernama Lee Hongman itu menggebrak meja kerja Yunho, “Apa yang lebih penting dari undanganku, huh? Katakan!”

“Laporan kepada Mentri Keamanan dan Pertahanan Negara serta surat resmi yang ditujukan untuk Yang Mulia Raja. Hal-hal itu jauh lebih penting daripada datang memenuhi undangan minum anda, Hongman sshi.” ucap Yunho penuh penekanan, “Bila aku terlambat memberikan laporan perkembangan keamanan tempat ini maka kepalaku dan kepala anak buahkulah yang menjadi taruhannya. Kau mengerti Hongman sshi?” tanya Yunho sembari tersenyum, senyum yang penuh ancaman.

Pria bernama Lee Hongman itu berdeham (pura-pura batuk) gelisah.

“Kalau anda memang begitu ingin minum bersamaku, dengan senang hati aku akan menemanimu minum. Hanya saja tidak sekarang ketika pekerjaanku sedang menggunung.” ucap Yunho, “Yoochun….”

“Ya Kepala Polisi Jung?” tanya Yoochun yang sejak tadi berdiri sigap di samping Yunho.

“Antarkan Lee Hongman sshi ke luar. Pastikan dia masuk kereta kudanya dan pergi meninggalkan tempat kerja kita ini!”

Ye, Kepala Polisi Jung!” ucap Yoochun, “Tuan Lee, silahkahkan….”

Lee Hongman mendengus kesal, merasa dipermalukan oleh Yunho. Pria itu sempat merapalkan sumpah-serapah sebelum pergi meninggalkan Kantor Kepolisian.

<3 <<<<< <3 <<<<< <3

“Ini adalah beberapa surat edaran yang disebar oleh pengawal tuan Lee Hongman kepada beberapa pejabat daerah Bollero, Kepala Polisi Jung.” ucap Changmin sambil menunjukkan beberapa lembar surat.

“Dari mana kau mendapatkannya Changmin?” tanya Yoochun.

“Beberapa keluarga sepupuku ada yang mendapatkannya tetapi karena mereka ketakutan mereka melaporkan hal ini padaku. Mereka tidak mau terlibat dengan Lee Hongman.” jawab Changmin.

“Pertemuannya lusa?” tanya Yunho yang mendapat anggukan dari Changmin.

“Kepala Polisi Jung, baru saja ada utusan pengawal dari kediaman yang anda dan Jaejoong sshi tempati. Pengawal itu mengatakan ada bangkai babi dan kotoran sapi yang disebar di depan pintu gerbang kediaman anda.” ucap Changmin.

Yunho mengagguk paham, “Aku dan Jaejoong sudah menduga hal seperti ini akan terjadi. Tetapi aku tidak menyangka akan secepat ini.” gumam Yunho, “Tidak ada yang terluka, bukan?”

“Tidak.” jawab Changmin.

“Bisakah kalian berdua diam-diam memperketat penjagaan terhadap Jaejoong?”

Dengan bingung baik Yoochun dan Changmin saling memandang satu sama lain sebelum mengangguk perlahan pada Yunho.

<3 <<<<< <3 <<<<< <3

Tangan pucat itu meremas kuat-kuat selembar surat yang baru saja dibacanya hingga tidak berbentuk. Air mukanya sangat kaku dan penuh kemarahan. Sorot matanya menunjukkan keseriusan seorang pemimpin yang sedang menghadapi masalah serius.

“Panggil petinggi institut sekolah tinggi Negara! Aku ingin minta pertanggungjawaban mereka. Siapa yang sudah mengirim Jung Yunho dan Kim Jaejoong ke tempat laknat itu?” suaranya yang berat penuh ketegasan dan kemarahan itu menggelegar, membuat para pengawalnya diam menundukkan kepala mereka. “Membahayakan nyawa putraku? Siapkan 1 batalion untuk mengawalku menuju Bollero! Sudah saatnya aku mengurus tempat itu dengan tanganku sendiri!”

<3 <<<<< <3 <<<<< <3

<3 <<<<< <3 <<<<< <3

<3 <<<<< <3 <<<<< <3

TBC

<3 <<<<< <3 <<<<< <3

<3 <<<<< <3 <<<<< <3

 

 

Monday, May 04, 2015

7:39:20 PM

NaraYuuki