Yang Tak Terucap

Herschell menatap pria yang terlelap di hadapannya dengan wajah damai. Mengusap perlahan wajah tampan itu dan mengagumi betapa tegas dan jantannya sosok yang begitu ia cintai. Herschell berharap pria dihadapannya akan selalu menemanii dan mendukung keputusan yang terlalu sulit ia jabarkan dengan kata-kata sehingga ia memilih untuk memendam rahasia itu seorang diri. Cukuplah Niel –pria yang masih memejamkan matanya itu− tahu bahwa dirinya adalah putri seorang pedagang kecil yang memiliki mimpi besar daripada Niel harus tahu siapa sebenarnya Herschell Coral Alarice yang sesungguhnya.

Cahaya bulan purnama mengintip dari sela jendela besar yang tertutupi oleh gorden berwarna putih tipis. Angin membelai gorden itu dan mengajaknya menari bersama. Hers –panggilan sayang Herschell yang diberikan oleh Niel− beranjak dari pelukan pria yang sangat dicintainya itu dengan sangat hati-hati, Hers tidak mau tidur Niel terusik karena ulahnya. Melilitkan selimut sutra berwarna lembayung untuk menutupi tubuh telanjangnya dan menyimpulkannya, dengan langkah seringan bulu berjalan menuju jendela, mengintip dari bailik gorden bulan yang dengan sombongnya memamerkan keindahnya. Hers terusik oleh suara bising dari arah bawah –ia sedang berada dilantai 2 sebuah puri yang sangat megah− lantas matanya menatap ke bawah.

Puluhan prajurit berjalan dengan sikap waspada. Pada punggung mereka terselip sebuah pedang dan perisai. Ada pula yang membawa tombak, busur dan anak panah. Nurani Hers seolah tertampar. Dengan nanar ditatapnya pria yang begitu ia cintai selain sang ayah. Niel masih tidur tetapi Herschell tahu bahwa pria itu tidak sepenuhnya tidur.

Suara-suara derap kuda dan kepakan sayap semakin nyaring terdengar membuat kesadaran Hers kembali dari angan-angan dan mimpi-mimpinya yang −menurutnya− memang tidak akan pernah terwujud. Menarik napas panjang untuk meredakan gemuruh yang menyesakkan hati dan pikirannya, perempuan cantik berambut hitam kecoklatan sewarna kulit kayu itu memunguti bajunya yang berceceran di atas lantai mamer sewara batu alam itu kemudian dipakainya dengan sedikit tergesa-gesa.

“Kau mau pergi kemana?”

Herschell segera memejamkan matanya yang terasa panas ketika mendengar suara yang sangat ia kenali. “Pulang.” Jawabnya sambil menyisir rambutnya menggunakan jemari tangannya yang lentik. Ia masih memunggungi pria itu, belum sanggup menatap wajah tampan orang yang ia cintai.

“Meninggalkanku? Ini sudah larut. Aku akan mengantarmu fajar nanti.”

Herscehell menggelengkan kepalanya perlahan, memutar tubuhnya dan tersenyum ketika pria itu menatapnya dengan wajah sedih. “Aku harus membantu ayahku bersiap-siap…”

“Aku akan mengantarmu kalau begitu.” Niel hendak beranjak dari duduknya namun urung ia lakukan ketika Hers menggelengkan kepalanya.

“Ayahku bisa membunuhmu kalau kau mengantarkanku pulang.” Hers berusaha mencari alasan.

“Sudah saatnya kau mengenalkanku pada calon ayah mertuaku. Sebentar lagi aku akan memenangkan perang dan kita tidak perlu bertemu secara sembunyi-sembunyi seperti ini.” Niel berjalan ke arah Herschell, memeluknya erat. “Kau tidak tahu betapa aku mencintaimu.”

“Aku tahu karena aku pun mencintaimu Niel. Tetapi aku harus segera pulang.”

“Kau yakin tidak mau ku antar?”

“Tidak. Kau tahu aku penunggang kuda yang hebat.”

“Hati-hati…” usai berkata seperti itu Niel mencium bibir merah penuh Hers sebelum melepaskan perempuan cantik itu dari pelukannya. “Aku mencintaimu… apapun yang terjadi padaku aku tetap mencintaimu.”

❤ ❤ ❤

Kuda hitam itu berlari menembus rerimbunan hutan yang menelan keindahan sang bulan dalam kehampaan dan kesunyian. Suara derap kakinya yang nyaring menggema sebagai satu-satunya lagu kesepian malam itu. Herschell tahu dirinya sudah melakukan dosa besar, jatuh cinta pada putra seteru kaumnya. Tetapi cinta itu sangat kejam, ia tidak memilih atau memihak kepada siapa ia akan menjatuhkan kutukan manisnya. Bagaimana cara terhindar dari amukan sang ayah seandainya Hers mengatakan bahwa dalam dirinya sudah tumbuh benih dari kaum yang begitu dibenci oleh sang ayah adalah hal yang kini memenuhi tempurung kepala Herschell? Hatinya nelangsa membayangkan perang yang akan pecah lagi. Hers mencintai Niel tetapi ia pun tidak rela bila ayahnya dilukai.

Setelah memacu kudanya melewati hutan, Hers tersentak dan membeku di atas pelana si kuda ketika mendapati bangunan besar yang merupakan rumahnya berasap dan terbakar disana-sini. Kaumya panik dan berteriak-teriak. Banyak mayat yang tergeletak begitu saja dan anak-anak menangis, menjerit mencari-cari ibu mereka.

Hers meloncat dari punggung kudanya, berlari menuju kepulan asap pekat seperti orang kesetanan.

“Kak!” Heath adik laki-laki satu-satunya yang masih sangat muda itu memar dan berdarah disekujur tubuhnya.

“Apa yang terjadi Heath?” tanya Herschell tidak sabar.

“Kakak kemana saja? Sore tadi kita diserang. Ayah berusaha menahan serangan sendirian.” Terang Heath.

“Dimana ayah sekarang?”

“Ayah… mereka sedang berusaha menyelamatkan ayah. Ayah terluka parah”

Air mata mengalir dari sepasang mutiara indah Herschell. Ayah yang begitu dikasihinya sendirian melindungi kaum mereka sementara dirinya membiarkan nafsu mencumbunya dalam pelukan seteru mereka. Herschell bersumpah tidak akan memaafkan dirinya seandainya terjadi sesuatu pada ayahnya.

“Api yang membakar puri adalah api kutukaan, tidak bisa dipadamkan karena ayah terluka.”

Hers menatap wajah sendu adiknya yang masih sangat muda. “Aku bisa memadamkannya.” Dengan gigi taringnya Herschell mengigit ujung jari telunjuknya sendiri, darah yang keuar dari luka itu ia gunakan untuk menggambar sebuah pola aneh diatas permukaan telapak tangannya sendiri, menggumamkan sesuatu kemudian menempelkantelapak tangan kirinya ke atas permukaan tanah. Terdengar gemuruh mengerikan dari dasar tanah sebelum ledakan air memuncrat dari perut bumi secara membabi buta, lima sosok naga air menyerbu kepulan api dan memadamkan kobarannya dalam sekejap.

“Tuan Putri…. Pangeran….” terponggoh-ponggoh seorang pria dewasa dengan baju zirahnya berlari  ke arah Hers dan Heath. “Tuan Putri! Yang Mulia Raja….”

❤ ❤ ❤

Ia sedang mengenakan pakaian zirah sewarna emas ketika pintu kamarnya dibuka dari luar. Sesosok mirip dirinya berjalan dengan tegap menghampirinya dengan senyum penuh kepuasaan.

“Rumi telah mati. Allarice Rumi sudah mati! Orang yang sudah membunuh ayah kita sudah mati!”

Niel menolehkan kepalanya, menatap sang kakak dengan pandangan yang hanya bisa ia mengerti sendiri, “Allarice? Namanya Allarice?”

“Kau bahkan tidak tahu nama orang yang sudah membunuh ayahmu?” pria berambut sewarna tembaga itu sama terkejutnya seperti ekspresi yang Niel tunjukkan.

“Pangeran Shine adaalah jenderal yang hebat! Strateginya sangat sempurna! Tanpa celah.” Puji Lucas, tangan kanan mendiang King Achiel Barrenth –ayah Winth William Barrenth dan Shine Daniel Barrenth− Lucas sejak dahulu sangat menyanjung ketangkasan Niel dalam bertempur. Dalam lingkup keluarganya Niel dipanggil dengan sebutan Shine. Hanya Hers saja yang memanggilnya dengan sebutan Niel.

“Apakah istana Rumi sudah hangus terbakar?” tanya Niel. Jemarinya dengan cekatan memakai sarung tangan berwarna gold  serup baju zirah yang ia kenakan.

Lucas diam saja. Matanya menatap lantai pualam yang terasa dingin bagi kaki telanjangnya.

Helaian merah bata Niel seolah bersinar ketika cahaya fajar bertama mulai menerangi kamarnya. “Lucas?!”

“Tengah malam tadi muncul lima ekor naga air dan memadamkan semua api yang menyala, Pangeran!” kepala Lucas menunduk dalam.

“Naga air? Bukankah hanya Rumi yang bisa memanggil naga air?”  tanya Will.

“King Rumi memiliki seorang putra.” Jawab Lucas.

“Dia hanya bocah berusia 10 tahun!” Will membentak Lucas. “Bagaimana bisa bocah yang masih hijau itu memanggil lima ekor naga air, huh?!”

Srak! Jleb! Sebuah pedang panjang menembus dada kiri Will. Mata keemasan kakak Niel iu menatap nyalang pada adik semata wayangnya penuh kebencian.

“Ya…. Yang Muulia!” Lucas memekik kaget.

Tanpa ekspresi Niel menarik pedang panjang yang menembus dada kakaknya. Menatap dingin tubuh Will  yang jatuh dan kejang-kejang sebelum akhirnya kaku. Darah membanjiri lantai kamar Niel. “Pecundang sepertinya tidak pantas menjadi raja menggantikan ayahku! Dia hanyalah anak dari seorang budak yang hina!”

“Pa… Pangeran! Apa yang harus saya katakan pada yang lainnya?” tanya Lucas ketakutan dan panik.

“Jangan katakan apapun pada siapapun!” perintah Niel.

“Tetapi….”

“Bawa Eliot kemari!”

Lucas tersentak. Eliot adalah nama saudara kembar Niel yang terbuang. Dalam adat istiadat masyarakat Demon –sebuah sub ras bangsa Elf, memiliki telinga runcing, kuku cari panjang yang melengkung menyerupai cakar bila dipanjangkan dan berhati dingin, kebanyakan Demon suka membunuh dan berselisih dengan ras lain termasuk sub ras elf lainnya, dryad− apabila lahir bayi kembar dalam tampuk tahta maka slah seorang bayi ittersebut harus dibunuh agar tidak menimbulkan peranag saudara. Pun begitu yang tterjadi ketika Niel lahir. Eliot yang lahir sepuluh menit sebelum Niel dibuang dan diasingkan dari kaumnya sendiri –ayah Niel tidak tega membunuh darah dagingnya sendiri dan meminta Lucas membesarkan Eliot tanpa sepengetahuan siapapun− kepedihan akibat dipisahkan dari saalah seorang anak yang dilahirkannya membuat ibu Niel mati bunuh diri.

“Pa… Pangeran!”

“Bagaimana bisa keturunan seorang ratu diasingkan sekian lama sementara anak seorang budak hina menduduki kursi raja? Bukankah wajah Eliot dan Will mirip? Warna rambut dan postut tubuh mereka sama jadi biarkan Eliot mendapatkan haknya sebagai seorang putra raja dan buang mayat pecundang ini sejauh mungkin!”

Lucas mengangguk dalam kebingungannya.

“Siapkan kudaku! Aku akan pergi ke medan pertempuran. Jangan kirim prajurit tetapi peintahkan tiga orang terbaikmu ikut bersamaku!”

❤ ❤ ❤

Sungai Salasum. Tempat pertama mereka bertemu secara tidak sengaja, tempat mereka memadu kasih secara sembunyi-sembunyi pun tempat yang akan mengakhiri semuanya –kisah cinta mereka dan semua rahasia yang tertutup rapat oleh sampul kelabu kebohongan.

“Firasatku ingin menolak ketika intuisiku mengatakan kau adalah keturan orang itu saat Will menyebut nama Allarice di depan nama King Rumi. Allarice Rumi… Ayahmu?” tanya Niel. Rambut merah batanya menyala tertempa sinar matahari pagi serupa bara api yang membakar pepohonan.

“Seperti berkaca pada kaca yang retak… aku mencintaimu tetapi aku tidak sanggup menghianati kaumku sendiri. Aku tidak menyangka bahwa aku harus berhadapan dengan seorang jenderal termasyur sepertimu tetapi harus ku lakukan ketika kau sudah membunuh ayah yang begitu ku kasihi, ketika kau membantai kaumku! Aku akan melawanmu sampai mati!” air mata Hers meleleh membasahi wajah cantiknya. Rambut kecokelatannya yang ia ikat ekor kuda menari-nari tertiup angin pagi yang lembut dan sejuk. “Mana prajurit yang begitu kau banggakan itu?”

“Menyerang istana Dryad yang kotor!” ucap Niel dingin tanpa ekspresi.

Hers tersenyum walaupun air mata terus mengalir dari sepasang mata indahnya. “Istana kotor itu adalah tempat aku lahir dan dibesarkan.”

Istana Dryad adalah sebuah bangunan yang berdiri secara alami dari sulur-sulur yang memilin-milin dan kokoh yang ditumbuhkan oleh alam semesta. Tercipta dan membentuk sebuah puri begitu rupa untuk ditempati oleh bangsa dryad sub ras dari keturunan Elf. Dari kejauhan istana Dryad akan terlihat seperti istana yang dibangun dari bebatuan alam seperti istana milik Demon tetapi apabila didekati istana para Dryad akan terlihat seperti sebuah pohon besar berbentuk istana.

“Mari akhiri pembicaraan ini dan segera kita selesaikan.”

❤ ❤ ❤

Pedang itu menembus dada Hers hingga darah segar berwarna perak cemerlang mengalir membasahi gaun yang ia kenakan –gaun yang sama ketika ia meninggalkan kamar Niel tengah malam tadi−  pun air mata yang terus membasahi wajah cantik pucatnya.

“Sampai akhir dunia kita… kau Demon tidak akan bisa menginjakkan kakinya diwilayah kekuasaan Dryad.” Lirih Hers. “Mengapa kita tidak bercakap-cakap dahulu? Bukankah hari hampir gelap?”

Niel menengadah dengan air mata berlinang menatap matahari yang mencemooh dirinya.

“Kenapa kau tidak juga bertanya? Bukankah musim hampir usai? Aku… mencintaimu…”

❤ ❤ ❤

“Kakak akan bertempur sendirian?” tanya Heath ketika kakak perempuannya bersiap menaiki kuda kesayangannya.

Hers tersenyum. Diusapnya wajah sang adik lembut, wajah yang ia ketahui tidak akan lagi ia pandangi dan usap lagi. “Kau adalah raja sekarang! Kau harus tumbuh menjadi pria yang kuat dan bijaksana seperti ayah!” ucapnya. “Kau yang akan memimpin upacara pemakaman ayah karena kau adalah adikku. Mengerti?”

Heath menganggukkan kepalanya, menahan tangisan yang hendak menjebol pertahanannya.

Hers berdiri tegak di hadapan Heath, menggoreskan belati milik ayahnya yang ia bawa pada permukaan telapak tangan kirinya. Darah yang menetes itu ia usapkan pada rambut dan wajah Heath membuat raja muda itu tampak berkilauan oleh darah sang kakak. “Pengetahuan yang ayah dan ibu turunkan padaku serta pengetahuanku sendiri ku warisakan padamu. Gunakan dengan bijaksana! Jangan biarkan peperangan menyentuh tanah kita!”

“Kak….”

“Aku sudah memasang tameng kutukkan agar para Demon tidak bisa memasuki tanah kita, tetapi kau harus memperbaharui tameng itu tiap menjelang bulan purnama darah. Mengerti?”

Heat mengangguk pelan.

“Bagus.” Usai berkata seperti itu Hers melompat ke atas kudanya dan menghentakkan tali kekang kuda. Kuda hitam itu melaju cepat. Air mata Hers mengering, air mata penuh penyesalan. Air mata penuh dosa pun nestapa karena tidak memeluk adiknya untuk kali terakhir.

❤ ❤ ❤

Mengapa kita masih juga belum bercakap

Hari hampir gelap

Menyekap beribu kata di antara

Karangan bunga

Di ruang semakin maya, dunia

Purnama

 

Sampai tak ada yang sempat bertanya

Mengapa musim tiba-tiba reda

Kita dimana. Waktu seorang bertahan

Di sini

Di luar para pengiring jenazah

Menanti

(Saat Sebelum Berangkat, Sapardi Djoko Damono)

❤ ❤ ❤

“Kenapa anda membawa mayat kotor dryad bersama anda?” tanya Lucas ketika Niel membaringkan jasad Hers di atas altar kompleks pekuburan kaum Demon.

“Dia Hers? Kau membunuhnya?” tanya Eliot. Diletakkannya setangkai bunga lili api di samping tubuh pucat Hers.

“Dia tidak menghindar ketika pedang ku hunuskan padanya.” Lirih Niel. “Aku akan menyerang istana Rumi! Makamkan dia dengan layak!”

“Ya.” Sahut Eliot.

❤ ❤ ❤

Niel terluka parah ketika memaksa masuk istana Dryad. Dan semua hilang dalam sekejap.

….

Post tulisan lama karena ga bisa update. Mian….

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Raindrop

Raindrops“Hujannya lebat, Kau kedinginan?”

“Tidak. Aku biasa kedinginan.” Perempuan itu menatap hampa langit yang terus memutahkan air. Semakin lama semakin deras. Udarapun kian terasa menusuk kulit. Ia yakin bila sekarang kulit kakinya sudah kisut karena dinginnya udara, bisa ia rasakan rasa lembab dan kurang nyaman pada jemari kakinya.

“Mau minum kopi untuk menghangatkan badan?”

“Tidak. Terima kasih.”

“Ku rasa hujan tidak akan berhenti dalam waktu dekat ini. Lihatlah! Air mulai menggenangi permukaan jalan dan naik ke trotoar.”

“Aku melihatnya.”

“Kau bisa mati kedinginan. Lihat bajumu! Basah kuyup seperti itu! Jangan keras kepala! Mari kita berteduh ditempat yang lebih layak!!”

Menundukkan wajah untuk menatap air yang mulai naik membasahi lantai halte, mencumbu sepatu karet murahan yang ia kenakan. “Aku baik-baik saja.”

“Jangan keras kepala! Bus yang kau tunggu baru akan datang 30 menit lagi!”

“Tidak apa-apa. Aku akan baik-baik saja.” Ucapnya dengan perasaan ngilu. Sejujurnya ia ingin badannya terasa sedikit hangat. Ia benci udara dingin dan lembab. Sama sekali tidak menyukai udara ketika hujan turun. Tetapi apa boleh buat, duduk minum kopi satu meja dengan pria muda itu sama saja cari perkara. Ia tidak akan berani. Tidak akan!!

“Hei Kim Jaejoong! Apa kau sedang menguji kesabaranku sekarang?”

“Tidak. Aku tidak akan berani melakukannya.”

“Kau sudah melakukannya! Oh astaga! Tuhan, kenapa KAU memberikan perempuan cantik ini sifat keras kepala?”

Perempuan berkulit pucat itu mengeratkan jaket lusuhnya yang sudah basah kuyup. Berharap hujan segera berhenti agar ia bisa pulang ke rumah dan bergelung dibawah selimut. “Taksi atau bus segeralah datang!” gumamnya.

“Daripada menunggu taksi atau bus kenapa tidak naik mobilku saja?”

“Tidak. Terima kasih. Aku bisa mabuk kalau naik mobilmu.”

“Alasanmu tidak masuk akal. Kalau kau mabuk naik mobilku kau juga pasti akan mabuk kalau naik bus dan taksi. Sudahlah! Jangan keras kepala seperti itu!”

Jaejoong, perempuan itu melirik mobil sport mewah berwarna hitam yang dalam bayangannya saja dirinya tidak akan sanggup membeli sebuah mur pada mobil itu apalagi harus menaikinya. Jaejoong tidak akan sanggup menerima akibat jika ia sampai berani menaiki mobil yang sengaja diparkir di dekat halte itu. “Kau adalah mura. Bertemulah mura dengan tedung!! Jangan ganggu ulat kecil sepertiku!”

“Haah? Kau ini bicara apa?” Mura? Tedung? Siapa mereka? Apa mereka artis?”

“Jung Yunho sshi! Mohon mulai sekarang jika kita bertemu dimanapun itu pura-puralah tidak mengenalku! Jangan pernah menyapaku! Jangan pernah!”

Yunho mendadak terdiam. “Kenapa? Apakah karena ucapan Ahra tadi? Kau tersinggung?”

“Tidak. Pada kenyataannya aku memang hanya anak seorang pembantu. Aku tidak akan tersinggung karena pekerjaan ibuku. Yang penting ibuku tidak mencuri.” Jaejoong menundukkan wajahnya.

“Aku mencintaimu. Kau tahu itu.”

“Tanpa bantuan orang tua Ahra aku tidak akan bisa kuliah.”

“Ahra mengancammu?”

“Tidak.”

“Lalu kenapa?”

“Mari renungkan ini! Kau adalah seorang pangeran sedangkan aku hanyalah seorang paria. Bagaimana bisa bersama?”

“Aku tahu pasti Ahra bicara macam-macam padamu. Aku akan menemuia dan memarahinya!” Yunho melepaskan mantel berwarna gelap yang ia kenakan untuk disampirkan pada bahu Jaejoong sebelum berlari menembus guyuran hujan dan masuk ke dalam mobil mewahnya.

Jaejoong hanya bisa menatap kepergian pemuda itu tanpa bisa mencegah dan berkata-kata. Ia tahu tempatnya. Tempatnya bukan bersama Yunho. Itu sudah jelas. Sejelas air mata yang membasahi wajah cantiknya yang pucat.

Wednesday, January 17, 2018

8:38:56 AM

NaraYuuki

Raindrop

Raindrops

“Hujannya lebat, Kau kedinginan?”

“Tidak. Aku biasa kedinginan.” Perempuan itu menatap hampa langit yang terus memutahkan air. Semakin lama semakin deras. Udarapun kian terasa menusuk kulit. Ia yakin bila sekarang kulit kakinya sudah kisut karena dinginnya udara, bisa ia rasakan rasa lembab dan kurang nyaman pada jemari kakinya.

“Mau minum kopi untuk menghangatkan badan?”

“Tidak. Terima kasih.”

“Ku rasa hujan tidak akan berhenti dalam waktu dekat ini. Lihatlah! Air mulai menggenangi permukaan jalan dan naik ke trotoar.”

“Aku melihatnya.”

“Kau bisa mati kedinginan. Lihat bajumu! Basah kuyup seperti itu! Jangan keras kepala! Mari kita berteduh ditempat yang lebih layak!!”

Menundukkan wajah untuk menatap air yang mulai naik membasahi lantai halte, mencumbu sepatu karet murahan yang ia kenakan. “Aku baik-baik saja.”

“Jangan keras kepala! Bus yang kau tunggu baru akan datang 30 menit lagi!”

“Tidak apa-apa. Aku akan baik-baik saja.” Ucapnya dengan perasaan ngilu. Sejujurnya ia ingin badannya terasa sedikit hangat. Ia benci udara dingin dan lembab. Sama sekali tidak menyukai udara ketika hujan turun. Tetapi apa boleh buat, duduk minum kopi satu meja dengan pria muda itu sama saja cari perkara. Ia tidak akan berani. Tidak akan!!

“Hei Kim Jaejoong! Apa kau sedang menguji kesabaranku sekarang?”

“Tidak. Aku tidak akan berani melakukannya.”

“Kau sudah melakukannya! Oh astaga! Tuhan, kenapa KAU memberikan perempuan cantik ini sifat keras kepala?”

Perempuan berkulit pucat itu mengeratkan jaket lusuhnya yang sudah basah kuyup. Berharap hujan segera berhenti agar ia bisa pulang ke rumah dan bergelung dibawah selimut. “Taksi atau bus segeralah datang!” gumamnya.

“Daripada menunggu taksi atau bus kenapa tidak naik mobilku saja?”

“Tidak. Terima kasih. Aku bisa mabuk kalau naik mobilmu.”

“Alasanmu tidak masuk akal. Kalau kau mabuk naik mobilku kau juga pasti akan mabuk kalau naik bus dan taksi. Sudahlah! Jangan keras kepala seperti itu!”

Jaejoong, perempuan itu melirik mobil sport mewah berwarna hitam yang dalam bayangannya saja dirinya tidak akan sanggup membeli sebuah mur pada mobil itu apalagi harus menaikinya. Jaejoong tidak akan sanggup menerima akibat jika ia sampai berani menaiki mobil yang sengaja diparkir di dekat halte itu. “Kau adalah mura. Bertemulah mura dengan tedung!! Jangan ganggu ulat kecil sepertiku!”

“Haah? Kau ini bicara apa?” Mura? Tedung? Siapa mereka? Apa mereka artis?”

“Jung Yunho sshi! Mohon mulai sekarang jika kita bertemu dimanapun itu pura-puralah tidak mengenalku! Jangan pernah menyapaku! Jangan pernah!”

Yunho mendadak terdiam. “Kenapa? Apakah karena ucapan Ahra tadi? Kau tersinggung?”

“Tidak. Pada kenyataannya aku memang hanya anak seorang pembantu. Aku tidak akan tersinggung karena pekerjaan ibuku. Yang penting ibuku tidak mencuri.” Jaejoong menundukkan wajahnya.

“Aku mencintaimu. Kau tahu itu.”

“Tanpa bantuan orang tua Ahra aku tidak akan bisa kuliah.”

“Ahra mengancammu?”

“Tidak.”

“Lalu kenapa?”

“Mari renungkan ini! Kau adalah seorang pangeran sedangkan aku hanyalah seorang paria. Bagaimana bisa bersama?”

“Aku tahu pasti Ahra bicara macam-macam padamu. Aku akan menemuia dan memarahinya!” Yunho melepaskan mantel berwarna gelap yang ia kenakan untuk disampirkan pada bahu Jaejoong sebelum berlari menembus guyuran hujan dan masuk ke dalam mobil mewahnya.

Jaejoong hanya bisa menatap kepergia pemuda itu tanpa bisa mencegah dan berkata-kata. Ia tahu tempatnya. Tempatnya bukan bersama Yunho. Itu sudah jelas. Sejelas air mata yang membasahi wajah cantiknya yang pucat.

Tuesday, December 05, 2017

9:05:09 AM

NaraYuuki