Revenge X

Tittle               : Revenge X

Writer             : NaraYuuki

Genre             : Romance/ Modern Fantasy/ dsb.

Rate                : M

Cast                : All member DBSK, Jin Yihan, Go Ahra (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan) and Others. Seiring bertambahnya Chap castnya pun akan disesuaikan.

Disclaimer:    : They are not mine but this story is mine, NaraYuuki

Warning         : This is YunJae Fan Fiction (Boys Love), M-Preg. Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut, TANPA EDIT.

.

.

.

.

.

 

PASTIKAN BACA WARNINGNYA DULU

.

.

R3

.

.

“Jangan memaksanya! Aku ingatkan padamu!” ucap Yunho yang sudah hampir meledak ketika melihat dan mendengar bagaimana Yoochun memarahi Jaejoongnya begitu kakak kembar Jaejoong itu memasuki kediamannya.

“Aku juga harus mengingatkan padamu, Jung! Aku masih kakaknya dan Joongie masih adikku! Kami masih punya rumah dan rumah kami bukan di sini!” ucap Yoochun sengit, “Seharusnya dia memikirkan tempat yang lebih layak daripada rumah ini!”

“Maaf?! Ada yang salah dengan rumah kami?” Alis Changmin naik ke atas membuat dahinya sedikit berkerut. Changmin mulai tidak suka sikap arogan Yoochun.

Tidak memedulikan suasana tegang disekitarnya, Jaejoong justru semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Yunho yang menurutnya terasa hangat dan nyaman, membuat emosi Yoochun yang sudah berada diubun-ubun tersulut lagi dan lagi.

“Kalian calon adik dan kakak ipar, kenapa tidak mencoba akur sedikit? Kalau kalian bertengkar seperti itu kasihan Joongie.” ucap Junsu dengan wajah polosnya.

Yunho mendengus, “Lihat siapa yang bicara!”

Junsu hanya menatap malas Yunho menggunakan ekor matanya.

Yah Junsu! Kenapa kau berpihak pada Jung menyebalkan ini, eoh?” omel Yoochun. “Mana mau aku punya adik ipar sepertinya?”

“Aku tidak berpihak pada kalian berdua! Aku berpihak pada Joongie!” ucap Junsu malas. “Dan bisakah kalian berhenti bersikap kekanakan? Changmin bahkan kelihatan lebih dewasa daripada kalian.”

“Terserah! Yang penting aku datang kemari untuk membawamu pulang Park Jaejoong! Kau dengar aku?! Ayo pulang!” suara Yoochun naik satu oktaf.

“Selama aku masih hidup kau tidak akan bisa memaksakan kehendakmu pada Boo Jaeku, Park!” sanggah Yunho.

Yah! Boo Jaemu itu juga seorang Park, Pabo! Aku harus membawanya pulang karena dia memang harus pulang untuk istirahat. Orang bodoh mana yang kabur tengah malam hanya untuk menemui manusia sedingin es sepertimu, huh?”

“Adikmu.” Sahut Changmin dan Junsu bersamaan dengan suara malas.

“Chunie, kita datang untuk menjemput Joongie pulang, bukan memaksanya. Kalau Joongie tidak mau ya sudah, kita bisa menjemputnya besok atau lusa.” Junsu berkomentar.

“Bagaimana kalau dia tidak mau pulang selamanya, huh?” tanya Yoochun ketus.

“Nikahkan saja mereka.” Jawaban polos Junsu itu berhasil mendatangkan delikan tajam bukan hanya dari Yoochun tetapi dari Yunho dan Changmin juga.

“Joongie mau menikah dengan Yunie….” gumam Jaejoong.

“Yah! Yah! Park Jaejoong! Apa otakmu bermasalah? Jangan bicara ngawur lagi dan ayo pulang!” omel Yoochun semakin menjadi.

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

Ahra mengusap permukaan guci tua yang ditutup dan disegel dengan beberapa kertas jimat bertuliskan huruf-huruf Cina kuno. Mengusap guci seukuran teko teh kecil itu sambil terus memandangi foto keluarganya –mantan suami serta kedua putranya yang terpajang apik di dinding. Ahra ingat foto itu diambil ketika kedua putranya masih kelas 6 SD, mereka masih tinggal di Jepang. Didalam foto ketiganya terlihat sangat bahagia memerkan ikan hasil pancingan mereka, minus Jaejoong yang cemberut karena hanya mendapatkan ikan seukuran ibu jari. Kenangan liburan musim panas yang tidak akan pernah Ahra rasakan lagi mengingat kini kedua putranya sudah menemukan hal yang jauh lebih berharga darinya, cinta.

“Ahra….”

Oppa, aku masih bisa mengingat betapa aku pernah sangat mencintaimu dulu sebelum mereka berdua lahir. Yang mengherankan kenapa kedua kulit mereka pucat seperti itu, padahal aku sangat menginginkan mereka memiliki warna kulit sepertimu. Aku ingin mereka punya mata indahmu, Ah… Chunie memilikinya. Tetapi Joongie….” Ahra diam sejenak. “Entah kenapa putraku itu mirip dengan orang itu. Orang jahat! Perempuan yang sangat aku benci seumur hidupku hingga membuatku seperti ini!” Air mata mengalir dari sepasang mata lelahnya.

“Ahra….” Dengan penuh perhatian Yihan memeluk perempuan yang sudah memberikannya dua orang anak itu erat, “Relakan apa yang sudah terjadi. Hiduplah dengan damai dan lupakan masa lalumu yang kelam.”

Tidak menyahut, Ahra justru semakin terisak keras. Tidak sama memang namun rasanya pelukan yang Yihan berikan jauh lebih tulus dan nyaman daripada pelukan yang pernah Jung Yunho berikan untuknya dulu.

Oppa….”

“Ya?”

“Sekali lagi, bisakah kita berlibur ke suatu tempat bersama sebagai keluarga?” tanya Ahra, “Rasanya lama sekali aku tidak memeluk mereka. Aku merindukan mereka bahkan ketika mereka berada didekatku.”

“Tentu saja. Tentu saja Ahra…”

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

Karena kekeraskepalaannya yang enggan pulang ke rumah tanpa Yunie Bearnya, akhirnya demi membawa pulang Jaejoong semua orang harus mengalah pada keegoisan adik Park Yoochun itu. Yunho harus rela mengantar Jaejoong pulang, Changmin yang tidak ingin ditinggal sendirian di rumah pun akhirnya ikut serta. Yoochun yang entah kenapa semakin tidak menyukai Yunho pun harus rela berada satu mobil demi keegoisan adiknya. Kadang Yoochun berpikir bahwa menjadi kakak sangatlah melelahkan, lelah mental dan pikiran. Ahra pun harus rela memasak lebih banyak agar makan siang kali ini tidak ada yang kelaparan mengingat ada 7 orang termasuk dirinya yang akan makan siang bersama di rumah keluarga Park. Sedangkan Yihan dan Junsu harus rela berada dalam situasi yang sedikit aneh namun menyenangkan ini.

“Bagaimana kalau akhir minggu ini kita jalan-jalan ke pantai? Atau pemancingan? Mendaki gunung?” Yihan memulai pembicaraan keluarga seolah-olah Yunho, Junsu dan Changmin juga anggota keluarganya.

“Jangan mendaki gunung!” larang Ahra yang sibuk menuangkan jus segar yang baru saja dibuatnya ke dalam gelas, “Joongie baru pulang dari rumah sakit.” tambahnya.

“… karena kabur.” Yoochun menimpali dan langsung mendapatkan tatapan tajam ibunya.

“Pantai terlalu jauh, anginnya pun tidak baik untuk kesehatan Joongie.” Yunho mengeluarkan pendapatnya.

“Aku tahu tempat pemancingan yang nyaman dan murah, Ahjushi.” ucap Junsu, “Tempatnya pun tidak terlalu jauh dari sini.”

“Bagaimana Joongie?” tanya Yihan.

Jaejoong menatap ibunya sesaat sebelum menjawab pertanyaan yang ayahnya ajukan, “Ne Appa. Tapi Yunie, Junsu dan Changminie ikut bersama kita, kan?”

“Tentu saja bila kau menginginkannya, Baby.” jawab Ahra mendahului Yihan, “Mereka akan ikut bersama kita.”

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

Ketika semua orang sedang bermain kartu di halaman samping rumah, Ahra menyibukkan dirinya di dapur mencuci peralatan makan yang kotor serta menyiapkan camilan sederhana. Pikiran perempuan itu penuh sekarang walaupun dirinya sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya dipikirkannya. Anak dan kebahagiaan anaknyalah yang mengganjal hatinya. Ahra memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja menimpa anaknya terkait dengan keputusan yang sudah diambilnya namun belum juga bisa ia jalankan itu. Rasanya berat bila harus melihat anak-anaknya menderita akibat keputusan itu.. Sangat berat.

“Apa yang kau rencanakan perempuan jahat?!”

Ahra melonjak kaget, piring basah yang berada ditangannya nyaris tejatuh. “Jangan mengagetkan orang seperti itu!” sergahnya.

“Apa yang kau rencanakan?” sekali lagi Yunho mengulangi pertanyaannya.

“Kenapa aku harus menjawab pertanyaanmu?” tanya Ahra balik, “Kenapa kau ada di sini? Bagaimana bila Joongie mencarimu?”

“Apa kau begitu peduli padanya? Bukankah wajahnya….”

“Tidak peduli wajahnya mirip siapa, Joongie adalah anak yang ku kandung dan ku lahirkan susah payah. Jika bukan karenanya tentu saja aku sudah membunuhmu sejak pertama kau muncul di hadapanku di rumah sakit tempo lalu!” ucap Ahra penuh penekanan dan amarah.

“Ada satu hal yang ingin ku tanyakan padamu mengenai Junsu.”

“Dan aku tidak berencana menjawabnya.” Ahra menatap sengit Yunho. “Kalau kau ingin tahu sesuatu tentang Junsu lebih baik kau tanyakan langsung padanya.”

“Jangan menghindar, Ahra!”

“Ku rasa sebenarnya Joongie memahami apa yang terjadi antara kita tetapi demi menjaga perasaan semua orang dia memilih menyimpannya sendiri. Jangan membuat susah hati putraku, Jung! Itu tidak baik untuk jantungnya.” Ahra mengingatkan, “Pergilah sebelum aku melemparmu dari jendela!”

“Bila kau melakukannya maka Boo Jae akan bersedih, ku kira kau pasti tidak ingin melihat Boo Jae bersedih.” Yunho tersenyum meremehkan.

Ahra mencibir tanpa suara.

“Ku harap apapun rencanamu kau tidak mempertaruhkan kebahagiaan Boo Jaeku! Atau aku akan melenyapkan keberadaanmu dari dunia ini selamanya!” ancam Yunho sebelum pergi meninggalkan Ahra sendirian.

“Kau tidak tahu apa-apa Jung! Kau bahkaan tidak mengerti bagaimana rasanya menjadi orang tua!”

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

Menjelang senja, Jaejoong yang sudah kelelahan kembali terlebih dahulu ke kamarnya ditemani oleh Yunho sedangkan yang lainnya sedang mempersiapkan pesta barbeque kecil-kecilan karena tiba-tiba saja Yoochun ingin makan daging dan sosis bakar.

Boo?”

Gwaechana Yunie….”

Yunho menggenggam erat tangan Jaejoong ketika melihat orang yang dicintainya itu tiba-tiba lemas dan sesak napas, “Dadamu sakit lagi?”

Ani.” Jaejoong menggelengkan kepalanya pelan.

“Kau harus minum obat, Boo. Akan ku ambilkan obatmu….”

Ani. Aku hanya butuh istirahat, Yunie.” ucap Jaejoong keras kepala, “Yunie harus menemaniku, tidak boleh pergi! Arraso?”

Ne. Tidurlah Boo. Aku akan tetap berada disini sampai Boo Jae bangun.”

Dari balik pintu kamar putranya Ahra menatap sendu pintu yang tertutup itu. Jantungnya berdetak sakit, kedua tangannya mencengkeram kuat-kuat baki berisi dua gelas susu hangat akibat menahan amarah.

“Andai yang Joongie cintai bukan Jung brengsek itu!” gumamnya yang langsung berbalik pergi. Tekadnya semakin bulat sekarang, tekad untuk melakukan apa yang sudah direncanakannya.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

Wednesday, March 04, 2015

6:55:34 AM

NaraYuuki

.

.

.

Thoughts on “Revenge IX”

mybabywonkyu : Amin Tante <3

diennha : Jawabannya chap besok saja ya. Chap ini santai dulu :D

Rahmadina : Amin :) Pertanyaannya dijawab pada Chap besok saja ne ;)

rani : Fighting!

minamikz : Ini sudah lanjut tapi santai dulu ya dichap ini ;)

Meybi : Masalah Ahra, Youngwoong & Yunho rencananya Yuuki mau buat one shoot sendiri setelah chap ini end. Tapi masih rencana. Entah bisa kagak Yuuki ngetiknya :’(

Dewi15 : Sudah nich ;)

Nadia Chunnie : Horai! :D

reanelisabeth : Ayo tebak :D

echasefry : Kejam amat Chagy :’(

jung hyunmi : Waduh ==”

lee29041986 : Annyeong Lee :) Woah terima kasih…. Mungkin idenya sama tapi dikemas dalam bentuk yang berbeda karena yang berbuat berbeda ya :D Yuuki sendiri belum pernah baca karena Yuuki buat epep ini terinspirasi dari salah satu film Jonny Deep :D Hohohoho….

nina : Nanti akan terjawab kok Chagy. Ditunggu saja #entahkapan :p Hehehehe….

Lama ga lanjut ya epep ini. Mian. Banyak hal yang menimpa Yuuki soalnya. Sebelum melanjutkan Pembalasan Bidadari Hitam & Suprasegmental, Yuuki akan endkan epep ini dulu karena tinggal sedikit lagi bakal END :D

Tetap sehat!

Dark Hours II (Ending)

Tittle                : Dark Hours (Two Shoot)

Writer               : NaraYuuki & Jae Sekundes

Betta Reader     : Hanabusa Hyeri

Genre               : Modern Fantasy/ Supranatural/ Romance/ Angst (dikit)

Rate                 : -M

Cast                 : Member DBSK and Other friends

Disclaimer:       : Semua Chara milik individu bersangkutan, cerita ini punya Yuuki & Bea

Warning           : This is a Yaoi Fan Fiction (Boys Love). Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut.

.

.

.

.

.

Terinspirasi dari Game Persona 3 Kesukaan Bea aka Jae Sekundes :p

Tambahan dari Vampire Knight yang jadi Fav Yuuki :D

.

.

NaraYuuki Dark Hour and Jae Sekundes

.

.

Sudah satu bulan lamanya Jaejoong tinggal di kota Sunny yang memiliki menara kristal bernama Tartarus sebagai icon kota yang menurutnya sangat aneh itu. Jaejoong tidak lagi mempermasalahkan kepindahannya ke Sunny karena pekerjaan ayahnya. Jaejoong kini justru sangat penasaran dengan fenomena dark hour yang ayahnya tengah selidiki. Entah kebetulan atau disengaja tetapi setiap kali ayahnya hampir menemukan titik terang mengenai dark hour ayahnya selalu menemui jalan buntu dan hal itu membuat Jaejoong gemas serta jengkel. Jaejoong pernah mengutarakan keinginannya untuk membantu penyelidikan ayahnya namun ditolak keras oleh pria berkaca mata itu, katanya Jaejoong cukup belajar dengan benar di sekolah barunya.

Tidak!

Tidak lagi!

Jaejoong sudah muak pada rasa penasaran yang menggrogoti pikiran dan perasaannya mengenai dark hour dan kejadian-kejadian aneh disekelilingnya. Dimulai dari makhluk hitam besar yang pernah ditemuinya –walaupun hanya dalam mimpi, kematian mendadak teman sekelasnya Meng Jia dan Lee Jeong Min, luka-luka yang terjadi pada Juliane Alferi, Lee Byun Hun, Kepindahan Tia Cuevas, Ahn Niel dan Lee Sung Jong yang nyaris bersamaan serta teror aneh yang menghantui Tartarus akhir-akhir ini yakni menghitamnya air kran di beberapa toilet yang menyerupai oli namun berbau amis khas karat seperti bau darah.

Diluar semua itu Jaejoong pun ingin menyaksikan fenomena Dark hour yang katanya  menyebabkan langit menjadi berwarna hijau, bulan terlihat hijau, air berubah menjadi sewarna darah, bahkan kejadian yang katanya pula menimpa para manusia yang masih berada di luar rumah ketika dark hour terjadi, para manusia itu akan secara otomatis berubah menjadi peti mati dan baru kembali normal setelah dark hour terlewati. Jaejoong pun penasaran dengan mahkluk bernama Shadow dan Arcana yang mungkin saja mahkluk aneh yang dilihatnya –dalam mimpi adalah salah satu dari mahkluk aneh yang menjadi mitos kota Sunny.

“Apa yang kau pikirkan, Boo?”

Jaejoong menoleh, tersenyum pada pemuda yang mengulurkan satu cup ice cream vanilla padanya. Jung Yunho. Sejak tiga hari yang lalu Jaejoong memutuskan mengabaikan reaksi para penghuni Tartarus dengan menerima cinta Yunho. Dan sekarang mereka sedang menghabiskan hari minggu mereka di pinggir danau buatan yang berada dipusat kota Sunny.

Ani….” Jaejoong menggelengkan kepalanya pelan, menikmati hembusan semilir angin yang sejuk bercampur aroma polusi yang menguar diudara. Jaejoong ingin sekali bertanya mengenai fenomena dark hour pada Yunho namun begitu teringat reaksi Yunho dulu ketika mereka membicarakan tentang dark hour, Jaejoong memilih mengurungkan niatnya, “Hanya berpikir sup ikan super pedas pasti nikmat sekali disantap pada saat cuaca seperti ini.”

“Kau mau? Aku tahu kedai sup ikan yang enak.”

“Tentu saja. Tapi setelah ice creamku habis.”

<3 >>>#<<< <3

Nyaris pukul sembilan malam ketika Yunho mengantarkan Jaejoong sampai ke tempat parkir apartementnya, kedua remaja itu terlalu asyik bersafari makanan hingga lupa waktu. Mungkin jika ayah Jaejoong tidak mengingatkan putranya untuk pulang sebelum pukul 10 malam keduanya pasti masih berburu makanan direstoran-restoran terkenal di kota Sunny ini.

“Tidak mau mampir?” tanya Jaejoong.

Yunho menggelengkan kepalanya pelan sambil menunjukkan dering handphonenya yang berbunyi sejak beberapa menit yang lalu. “Jessica benar-benar seperti Ibuku!” keluh Yunho. “Besok aku akan menjemputmu, kita berngkat sekolah bersama-sama.”

Jaejoong hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.

Yunho memeluk Jaejoong sebentar, menciumi kedua pipi dan kening putra Kim Hyun Joong itu seolah enggan berpisah dengannya, “Masuklah! Aku ingin memastikan kekasihku sampai rumah dengan selamat.”

Jaejoong mengerucutkan bibirnya, melambaikan tangan sesaat sebelum berjalan perlahan meninggalkan Yunho yang masih mengawasinya.

Yah Kim Jaejoong, Saranghae!” teriak Yunho.

Jaejoong mengulum senyumnya, seiring rona merah memenuhi wajah menawannya pemuda itu pun berlari kecil menjauhi Yunho. Rasanya Jaejoong tengah disergap rasa malu luar biasa sekarang.

Begitu melihat Jaejoong sudah menaiki tangga yang akan membawanya menuju lobi gedung apartement dimana didalamnya terdapat lift yang akan membawanya menuju unit apartementnya, perlahan rahang Yunho mengeras seiring kelebatan dua bayangan yang melesat cepat menuju ke arahnya.

“Cih! Mereka tidak bisa membiarkanku bersenang-senang rupanya. Merepotkan!” keluhnya dengan sorot mata tajam penuh dendam dan kebencian.

<3 >>>#<<< <3

“Jaejoongie… Jaejoongie….” tangan pucat lagi dingin itu membelai sisi pipi sebelah kanan Jaejoong, membuat putra Kim Hyunjoong itu mengeluh gelisah dalam tidurnya. “Bangun Jaejoongie… Bangunlah sayangku! Agar aku bisa mencabik lehermu dan mendengar kau menjerit kesakitan, memohon ampun padaku! Ahahahahahhahahaha….”

Mutiara rusa betina Jaejoong terbelalak, tubuhnya dibanjiri keringat dingin, bulu kuduknya meremang. Jaejoong memasang wajah waspada, diliriknya seisi kamarnya yang remang karena setiap kali tidur Jaejoong memang selalu mematikan lampunya. Tidak ada siapapun di dalam kamar itu kecuali dirinya sendiri! Setelah memastikan hal itu Jaejoong bergegas bangun dan menyalakan lampu kamarnya. Aneh! Mimpinya terasa sangat nyata, bahkan rasa dingin itu masih membekas pada sisi wajah kanannya, Jaejoong menyentuhnya takut-takut.

“Apa yang sebenarnya terjadi padaku?” gumamnya. Jaejoong berjalan menuju meja belajarnya, duduk resah di atas kursi sambil memikirkan mimpi anehnya barusan. Bukan lagi mahluk hitam besar aneh bermata merah yang mendatanginya melainkan sosok perempuan berkulit pucat dengan kuku-kuku panjang dan runcingnya yang berwarna hitam pekat. Kalau Jaejoong masih duduk di bangku sekolah TK pasti dirinya meyakini kalau sosok yang baru saja menemuinya –lewat mimpi itu adalah sosok nenek sihir.

Ingin menghirup angin segar agar pikirannya yang kalut lagi kusut bisa sedikit rileks, Jaejoong berjalan menuju jendela kacanya, menyibakkan gorden dan membuka pengait jendelanya, merasakan angin dingin menerpa wajah serta tubuhnya ketika jendela yang tidak terlalu besar itu ia buka. Jaejoong berjalan perlahan menuju balkonnya, mengawasi hiruk pikuk suasana kota Sunny malam ini yang masih sangat ramai. Jaejoong melirik jam dinding kamarnya, 5 menit sebelum tengah malam.

“Padahal rasanya aku sudah tidur sangat lama.” ucapnya pada dirinya sendiri. Jaejoong menjelajahi daerah sekitar apartementnya yang bisa ia jangkau dengan mata indahnya, sangat ramai oleh kios makan dan para pejalan kaki. ”Eoh? Ayah? Bukankah ayah sudah pulang?” tanyanya entah pada siapa ketika melihat ayahnya berjalan dari tikungan sebelah kanan menuju gedung apartement mereka. Jaejoong melihat ayahnya membawa sebuah amplop coklat besar dan sebuah bungkusan plastik berwarna biru. Bola mata kekasih Jung Yunho itu nyaris melompat keluar ketika melihat tiga sosok berwarna hitam dengan mata merah menyala mereka berjalan mengikuti ayahnya dari belakang, mngendap-endap seperti perampok yang hendak menyergap dan menghabisi korbannya.

“Tidak! Ayah! Andwe! Ayah!” disergap kepanikan luar biasa Jaejoong segera berlari melewati jendela kamarnya, menerobos keluar kamarnya dan bergegas keluar dari apartementnya. Terlalu panik hingga Jaejoong keluar tanpa menggunakan alas kaki. Putra Kim Hyunjoong itu nyaris menangis ketika pintu lift tidak kunjung terbuka untuknya.

Jaejoong segera melesat masuk ke dalam lift, menekan tombol 1 dengan tangan gemetar. Kekasih Jung Yunho itu berdoa dalam hati agar ayahnya diberi keselamatan dan umur panjang. Jaejoong berharap apa yang tadi dilihatnya adalah manusia biasa yang secara kebetulan terlihat seperti bayangan hitam dimatanya, Jaejoong sungguh sangat berharap seperti itu. Keringat dingin bercucuran membasahi sekujur tubuhnya, Jaejoong lemas. Seluruh persendiannya seolah-olah menjadi lunak hingga tidak sanggup menopang tubuhnya sendiri lebih lama.

Begitu sampai di lantai satu –lobi apartement sekaligus kantor security, Jaejoong berlari dengan tergesa hingga mengabaikan sapaan resepsionis dan satpam yang berpapasan dengannya. Jaejoong terus berlari keluar gedung apartementnya. Ketika sampai di halaman gedung apartemennya yang dihiasi pepohonan rindang dan bunga-bunga indah bila dilihat siang hari, Jaejoong mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Melihat ke sekeliling sebelum berlari menuju jalan utama. Jaejoong menoleh ke kiri dimana bisa ia lihat ayahnya tengah berjalan santai sambil mendendangkan lagu yang disukainya. Mata Jaejoong terbelalak, wajahnya memucat ketika mutiara rusa betinanya menatap kelebatan bayangan hitam bermata merah menyala tepat berada di belakang ayahnya, Jaejoong menjerit histeris –walau suaranya tidak bisa keluar ketika melihat kilatan permukaan kapak besar itu mengayun ke arah leher ayahnya.

Tidak! Tuhan, aku mohon jangan! Kalau ini mimpi buruk tolong segera bangunkan aku. Kalau ini ilusi segera sadarkanlah aku, kalau ini kenyataan tolong bantulah ayahku!” Teriak Jaejoong dalam hatinya.

Whuuusssshhhh….

Jaejoong nyaris mati berdiri ketika mata kapak yang sangat tajam itu menyentuh permukaan kulit leher ayahnya, jantung Jaejoong berhenti berdetak selama beberapa detik lamanya ketika dengan mata kepalanya sendiri dirinya melihat ayahnya berubah menjadi sebuah peti mati yang berdiri beku di samping bayangan hitam besar itu. Jaejoong melirik langit yang memantulkan cahaya aneh. Bulan yang baru separuh muncul itu tidak menunjukkan warna kuning pucat tetapi hijau pekat seperti lumut. Bukan hanya bulan yang berwarna hijau pekat, langit dan awan pun berubah warna menjadi hijau. Nun jauh disana Jaejoong melihat Tartarus Building High School terlihat seperti memedarkan sinar kehijauan yang sangat terang dan aneh, terlihat seperti rumah monster bagi Jaejoong.

Terlalu memperhatikan perubahan fenomena Sunny membuat Jaejoong tidak menyadari ada 3 sosok hitam yang berjalan menuju arahnya dari arah samping dan belakang, ke-3 sosok hitam itu memegang senjata berupa pedang panjang yang sangat tajam.

Jaejoongie….”

Menoleh ke arah kanan Jaejoong terbelalak ketika sesosok hitam bermata merah menyala itu mengibaskan pedang yang dipegannya untuk menebas Jaejoong.

Tlang!

Sepersekian detik sebelum pedang tajam itu menggores permukaan dada Jaejoong, tubuh putra Kim Hyunjoong itu dilingkupi oleh kumpulan kristal berbentuk seperti tutup peti mati yang di atas permukaan luarnya terdapat lukisan malaikat  memegang sebuah salib didadanya.

Jaejoong terkejut ketika salah satu teman sekelasnya tiba-tiba berdiri di hadapannya dan tersenyum padanya.

“Aku belum tahu siapa kau, Kim Jaejoong. Tetapi aku yakin kau bukanlah manusia biasa karena kau tidak berubah menjadi peti mati ketika dark hour sedang terjadi.” Lee Minji atau Minsoa itu mengusap lengan Jaejoong lembut.

Tlang! Tlang! Tlang!

Kini keempat sosok hitam bermata merah menyala itu berusaha menghancurkan tameng kristal berbentuk seperti kumpulan peti mati yang disatukan itu dengan cara menghantamkan senjata mereka ke atas permukaannya.

“Mereka berdua akan menjelaskan semuanya padamu.” ucap Minsoa.

“Me… Mereka?” tanya Jaejoong dengan perasaan tidak menentu, panik, takut, khawatir, cemas namun juga penasaran, “Siapa yang kau maksud? Apa yang sebenarnya terjadi sekarang? Siapa makhluk-makhluk aneh itu? Dan apa yang kau lakukan disini? Kau ini apa?”

Minsoa hanya tersenyum hangat pada Jaejoong, “Tugasku untuk membunuh mereka, bukan menjelaskan siapa sebenarnya mereka padamu.” jawabnya, “Dan aku harus segera membunuh mereka sebelum mereka membunuhmu dan orang-orang tidak bersalah lainnya.”

“Tapi… eh? Kemana dia?” Jaejoong mengerjap-kerjapkan mata indahnya ketika tiba-tiba Minsoa lenyap dari hadapannya bersamaan dengan lenyapnya ke-4 sosok hitam besar mengerikan itu. Tetapi yang Jaejoong bingungkan, kenapa tameng kristal aneh yang memenjarakannya masih ada.

Arrrrrrrrgggggggghhhhhhhhhhhhh!!”

Jaejoong tersentak kaget ketika mendengar lengkingan kesakitan yang berasal dari arah belakangnya, dengan ketakutan luar biasa dibalikkannya tubuhnya untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.

Di sana, sekitar seratus meter darinya bisa Jaejoong lihat sesosok mahluk hitam menyeramkan jatuh tergeletak di jalanan sedangkan 3 sisanya masih berdiri dengan angkuhnya mengelilingi Minsoa yang dengan bodohnya mengarahkan moncong sebuah pistol perak pada pelipis kanannya sendiri.

“Gadis bodoh! Apa yang kau lakukan, huh? Kau mau mati? Jangan lakukan! Lebih baik kau kabur dan mencari pertolongan!” teriak Jaejoong dengan suara nyaris serak.

Dor!

“Tidak!” jerit Jaejoong ketika mendengar suara letupan melengking itu. Air mata tiba-tiba mengalir membasahi mata dan wajahnya yang sudah sembab.

Beberapa saat setelah lengkingan moncong pistol itu terdengar, hening yang aneh membuat Jaejoong merasakan tubuhnya disergap oleh rasa dingin tidak wajar, bulu kuduknya meremang hebat dan dirinya mengigil. Jaejoong jatuh terduduk di atas aspal yang sangat dingin, matanya terasa berat dan lelah. Sebelum kehilangan kesadarannya Jaejoong sempat melihat sesuatu yang menyerupai roh berwarna biru terang keluar dari tubuh Minsoa. Entah fenomena apa lagi kali ini, yang jelas kini Jaejoong berharap tidak pernah datang ke kota mengerikan bernama Sunny ini.

<3 >>>#<<< <3

Matahari nyaris tergelincir ke barat ketika Yunho membawa Jaejoong pergi meninggalkan pelataran tempat parkir Tartarus Buliding High School menggunakan mobil sport mewahnya, bergabung dengan hingar-bingar keramaian jalan sore itu.

Bersama dengan berlalunya mobil yang Yunho dan Jaejoong tumpangi, muncul dua sosok bertudung hitam dengan mata merah menyalanya, “Manusia biasa itu harus dilenyapkan!”rambut golden brownnya yang ikal lagi panjang itu melambai-lambai akibat tertiup oleh angin, tudung yang menutupi kepala dan menyembunyikan wajahnya itu pun tersingkap, memperlihatkan wajah cantik Jung Jessica.

“Kim Jaejoong… sayang sekali. Padahal aku menyukainya.” Lidah yang basah lagi lunak itu menjilat permukaan belati yang berlumuran darah. “Benar-benar sangat disayangkan…. Aku membayangkan darahnya pasti sangat manis dan harum.”Melanie mengendus aroma yang tersisa diudara sekitarnya.

<3 >>>#<<< <3

“Kita harus segera menemukan Priestess sang Archana Death untuk melenyapkan para hama itu dari sini. Bukan hal yang mudah namun kita harus tetap berusaha sampai Queen Persona bangkit dari tidur panjangnya.”ucap Yoochun ketika melihat mobil yang Yunho dan Jaejoong tumpangi lewat di depannya

Junsu tersenyum. “Akan kita lakukan, sayang! Akan kita lakukan….”

Kedua orang yang sedang berada di halte bus itu bergandengan tangan erat seolah-olah itu adalah kesempatan terakhir mereka untuk melakukannya…..

<3 >>>#<<< <3

“Ya, badannya panas sekali. Sepertinya dia demam. Mungkin masuk angin karena jendela kamarnya terbuka sejak semalam. Ya… ya…. Maaf karena menyusahkan anda. Ya. Terima kasih.” Hyunjoong mematikan telponnya. Baru saja pria berkaca mata itu menelpon wali kelas putranya karena hari ini Jaejoong tidak bisa berangkat sekolah akibat badannya yang sedang demam tinggi.

Ahjushi tidak berangkat kerja?” tanya Junsu yang kebetulan datang menengok putranya. Sebenarnya Junsu awalnya datang untuk menanyakan tugas kelompoknya dengan Jaejoong sekaligus mengajak Jaejoong berangkat sekolah bersama tetapi ketika tahu bahwa Jaejoong sedang sakit Junsu mengubah niat kedatangannya.

“Tidak ada yang menjaga Jaejoong jadi Ahjushi akan bekerja di rumah saja.” jawab Hyunjoong. “Kau sendiri kenapa tidak berangkat sekolah, hm?”

“Karena KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) hanya akan dilakukan pada jam pertama sebelum para guru rapat sehingga aku tidak perlu berangkat sekolah, Ahjushi. Jam pertama adalah olah raga dan orang tuaku sudah mendapatkan ijin khusus agar aku tidak perlu ikut pelajaran olah raga.” ucapnya.

“Ah… jeongmal?”

“Silahkan Ahjushi bekerja. Aku akan menjaga Jaejoongie sementara waktu.”

Arraso. Kalau butuh sesuatu Ahjushi ada di ruang kerja di samping kamar Joongie, ne.”

Ne….” Junsu tersenyum, senyum yang hanya melekat pada wajah manisnya sampai pintu kamar Jaejoong tertutup rapat. Junsu menunjukkan wajah dinginnya, dijulurkannya tangannya untuk menyentuh kepala, kening, membelai wajah dan menyentuh dada sebelah kiri teman sekelasnya itu. Junsu seperti meneliti sesuatu yang dia sendiri tidak tahu apa yang harus ditelitinya, “Sepertinya mereka belum menyadari siapa kau sebenarnya. Kau diserang dan diincar hanya karena kau menjadi kekasih Jung Yunho. Kasihan sekali kau… tapi akan ku pastikan kau akan bisa menjaga dirimu sendiri seandainya mereka coba menyerangmu lagi.”

<3 >>>#<<< <3

Plak!

Tanpa segan tangan kokoh itu menghantam permukaan wajah Jessica, meninggalkan memar dan noda keunguan disana.

“Kau berniat mencelakai Jaejoongku?!” suara itu terdengar menggelegar dan murka, suara Jung Yunho.

“Yunho….” Siwon, pria paruh baya yang memakai setelan jas mahalnya itu mengingatkan putranya untuk mengendalikan diri, “Jessica hanya menghawatirkanmu karena kau terlalu dekat dengan manusia itu.”

“Diam kau!” bentak Yunho, “Kalian akan mati bila sekali lagi mendekati Jaejoongku!” ancamnya sebelum meninggalkan ruang kepala sekolah dengan murka.

“Tidak boleh dibiarkan! Anak manusia itu harus dilenyapkan agar hati Yunho tidak lagi bimbang.” ucap Kibum.

“Aku setuju denganmu, Bumie.” sahut pria yang menduduki kursi kepala sekolah, Tan Hankyung.

“Sayang sekali… padahal aku sangat menyukai Jaejoongie…. Benar-benar disayangkan.” keluh Heechul.

“Berhenti bersikap seperti Melanie, Ahjumma! Kau bisa mati sepertinya!” ucap Jessica.

“Aku tidak akan mati semudah anak ingusan itu!” Heechul menyeringai, memperlihatkan gigi taringnya yang tajam.

<3 >>>#<<< <3

Jaejoong membuka matanya perlahan-lahan ketika rasa lelah dan pening (sakit kepala teramat sangat) itu menderanya, memaksa tubuhnya untuk duduk sambil terus memegangi kepalanya. Matanya terbelalak ketika sekali lagi otaknya memutar kejadian yang semalam dialaminya.

ANDWE! AYAH!” jerit Jaejoong tiba-tiba, putra Kim Hyunjoong itu segera meloncat dari tempat tidurnya, dengan panik dan penuh ketakutan berlari menuju pintu kamarnya.

“Semuanya baik-baik saja Jaejoongie.”

Tubuh Jaejoong membeku, dengan kaku ditolehkannya kepalanya ke arah samping. Di sana, di depan pintu kamar mandinya dilihatnya Junsu yang merupakan teman sekelasnya tengah menenteng (menjinjing) baskom kecil berisi air dan handuk kecil yang basah.

“Sepertinya kau masih demam, istirahatlah lagi.” pinta Junsu yang berjalan menuju ranjang Jaejoong, “Ayahmu sedang membuat laporan di ruang kerjanya sekarang. Semua baik-baik saja, jadi tenanglah!”

“Kau…. Kenapa kau bisa berada di kamarku?” tanya Jaejoong penuh curiga.

“Eh? Aku menggantikan tugas ayahmu untuk menjagamu. Ayo berbaring lagi agar aku bisa mengkompres keningmu, kau sedang demam kan?”

Jaejoong memegang erat-erat gagang pintu kamarnya, mata indahnya menatap angkuh dan sinis pada Junsu. Jaejoong benar-benar merasa curiga pada Junsu mengingat selama di kelas mereka tidak begitu dekat.

Handphonemu berdering dari tadi, sepertinya Jung Yunho sedikit panik karena kau tidak kunjung menjawab telponnya.”

Mata Jaejoong menyipit mentap Junsu namun tetap berjalan menuju meja belajarnya dimana handphonenya tergeletak di sana. Benar saja, ada 20 panggilan tidak terjawab pada LCD handphone berwarna hitam itu serta 15 pesan tidak terbaca yang kesemuanya berasal dari nomor Yunho.

“Sepertinya hubunganmu dengan Jung Yunho baik-baik saja.” komentar Junsu.

Tanpa memedulikan omongan Junsu, Jaejoong segera mengetik pesan untuk Yunho, “Aku baik-baik saja. Hanya sedikit demam. Jangan khawatir.” dan langsung mengirimnya.

“Jadi kenapa kau bisa berada di kamarku sepagi ini? Apa yang kau lakukan di sini? Mau apa kau sebenarnya?” tanya Jaejoong yang tidak bisa menyembunyikan kecurigaan dari setiap kata yang diucapkannya.

Junsu hanya tersenyum simpul melihat wajah penuh curiga yang Jaejoong perlihatkan padanya, “Aku di sini untuk menjagamu.” jawabnya, “Yah, setidaknya sebelum kau bisa menjaga dirimu sendiri.”

Sepasang kelopak mata Jaejoong menyipit, “Aku tidak perlu dijaga! Aku bisa menjaga diriku sendiri!”

“Benarkah?” Junsu tersenyum meremehkan, “Bagaimana jadinya semalam bila Minsoa tidak datang membantumu?”

Jaejoong membeku, wajahnya memucat, keringat dingin mulai membasahi punggung dan wajahnya begitu ingatannya memutar kembali kejadian –seperti mimpi yang semalam menimpanya. Bulu kuduk Jaejoong meremang. Jaejoong ingat betul seberapa tajam kapak itu, begaimana betuk tapeng aneh yang menyerupai tutup peti mati itu dan bagaimana Minsoa menembakkan pistol ke kepalanya sendiri. Kaki Jaejoong lemas dibuatnya hingga remaja bermata indah itu jatuh terduduk di samping kursi meja belajarnya.

“Aa… apa yang terjadi pada… pada Minsoa?” tanya Jaejoong dengan terbata, matanya bergerak-gerak gelisah.

“Yang terjadi pada Minsoa?” tanya Junsu balik yang diangguki oleh Jaejoong, “Tentu saja nasibnya sama seperti Jia, Tia dan Jeongmin.”

Mata Jaejoong terbelalak, “Apa maksudmu sama seperti Jia, Tia dan Jeongmin? Bukankah….”

“Tia bukannya pindah, Tia meninggal dengan sebab yang sama dengan yang terjadi pada Jia dan Jeongmin. Mereka tidak ditusuk perampok tapi dibunuh oleh para Archana brengsek itu! Para hama yang harus dibasmi sesegera mungkin!”

Jaejoong menelan ludahnya susah payah. ”A… Ar…. Arcana?”

“Ya. Arcana. Mereka benar-benar ada. Jumlah mereka ada 12.” Junsu memberitahu.

Jaejoong terdiam, teringat lagi kejadian yang dianggapnya mimpi dimana dirinya melihat 12 bayangan hitam berdiri dengan angkuhnya di atas atap gedung perkantoran tidak jauh dari gedung apartemennya.

“Mereka pernah secara tidak sengaja terlihat olehmu, bukan?”

Tangan Jaejoong bergetar, dengan kemetaran digenggamnya kaki kursi belajarnya sebagai pegangan.

“Kau tidak perlu takut!” ucap Junsu saat melihat reaksi Jaejoong.

“Tidak perelu takut katamu? Kau tidak tahu bagaimana mahluk aneh itu menatapku dengan mata merah menyeramkannya! Kau tidak tahu bagaimana mahluk aneh itu nyaris menebasku dengan kapak besarnya itu!” ucap Jaejoong dengan suara meninggi dan histeris.

“Pelankan suaramu kalau kau tidak ingin ayahmu panik mendengar kau menjerit-jerit seperti ini!” Junsu mengingatkan. “Nama mahluk itu adalah Arcana.”

“Aku tidak peduli!”

Junsu berjalan ke arah Jaejoong perlahan, berjongkok di depan putra Kim Hyunjoong yang sepertinya benar-benar ketakutan itu, dijulurkan tangannya untuk mengusap bahu Jaejoong perlahan, “Kau tidak bisa selamanya lari dari kenyataan Kim Jaejoong! Semakin lama kau lari akan semakin banyak penduduk tidak bersalah mati oleh ulah para Shadow yang menjadi peliharaan Arcanaarcana brengsk itu! Kau harus melawan mereka karena kau adalah Queen Persona kami!” Junsu meraih dagu Jaejoong, menarik paksa wajah Jaejoong agar pandangan mereka bisa bertemu.

Disergap rasa takut yang tiba-tiba merayapinya, Jaejoong mengerutkan keningnya bingung. Jaejoong sudah pernah membaca nama Arcana dan Shadow pada situs resmi pemerintah dan laporan peyelidikan yang ayahnya susun. Tetapi Queen Persona? Jaejoong baru mendengar soal itu.

Junsu tersenyum, “Kau pasti bingung. Aku akan menjelaskannya padamu.”

“Aku tidak mau mendengarnya!”

“Kau harus mau!” ucap Junsu, matanya menajam sebelum kembali tersenyum. “Shadow adalah monster yang lahir dari kumpulan pikiran dan perasaan negatif yang dimiliki oleh manusia, Shadow biasanya menyerang dan membunuh manusia dengan cara menyerap pikiran dan perasaan jahat serta benci yang dimiliki oleh manusia, bahkan yang lebih buruk Shadow bisa merubah manusia berhati lemah untuk menjadi bagian dari mereka. Shadow dikendalikan oleh Arcana yang mana para Arcana yang terdiri dari 12 orang itu mengendalikan Shadow seperti mengendalikan anjing peliharaan mereka. Arcana sendiri terdiri dari 12 orang. Emperor, Empress, Priestess, Hermit, Hierophant, Fortune, Strenght, Chariot, Magician, Hanged Man, Lovers dan Justice. Arcana terkuat adalah Priestess sang pemimpin yang juga berjuluk Arcana Death yang hanya muncul ketika bulan penuh.”

Jaejoong mengigil, tubuhnya tiba-tiba terasa dingin, pikirannya gelap seolah-olah masuk ke dalam ruang bawah tanah dimana 12 pasang mata yang menyala merah itu menatap bengis padanya.

“Aku pun tidak tahu seperti apa rupa mereka karena aku belum pernah berhadapan langsung dengan ke-12 Arcana itu. Aku hanya pernah bertempur dengan Strenght dan Lovers saja. Namun yang ku tahu, Jia, Tia, Minsoa dan Jeongmin berhasil membunuh Fortune, Hanged Man, Chariot, Magician dan Justice. Masih tersisa 7 orang Arcana lagi. Dan Persona hanya tinggal 2 orang saja.”

“Dua?”

“Aku dan Yoochun.”

“Park Yoochun?” tanya Jaejoong.

Junsu mengangguk pelan, “Kami tidak tahu wujud para Arcana di siang hari sehingga tidak bisa menyerang mereka, lagi pula mereka hanya muncul ketika Dark Hours terjadi.”

“Bagaimana cara menghentikan dark hours?”

“Dengan membunuh semua Arcana. Kalau para Arcana itu mati tidak akan ada lagi Shadow di sini, dengan begitu Dark hours akan terhenti dengan sendirinya.”

“Bisakah aku bertanya sesuatu? Kenapa harus kota ini?”

“Karena dalam kitab kuno suka asli yang mendiami kota Sunny, kota ini adalah pintu gerbang menuju neraka sehingga sejak dulu banyak bermunculan monster dan mahluk jahat di sini. Pintu itu bisa disegel, namun penyegelannya butuh pengorbanan dari Queen Persona. Nyawa Queen Persona sendiri.”

“Kenapa ayahku sepertinya tidak mengingat kejadian yang menimpanya kemarin?”

“Karena ayahmu sudah berubah menjadi peti mati. Perubahan itu merupakan tameng untuk manusia biasa sepertinya yang berfungsi melindungi manusia dari para shadow dan Arcana, efek sampingnya siapapun yang berubah menjadi peti mati tidak akan bisa mengingat apa yang sudah menimpanya selama dark hours terjadi. Itu adalah fenomena yang terjadi atas pengorbanan Queen Persona terdahulu untuk melindungi penduduk kota Sunny.”

Jaejoong merinding mendengarnya.

Brak!

Pintu kamar Jaejoong terbuka dari luar akibat dobrakan, “Maaf mengganggu obrolan kalian tentang para hama itu. Tapi kalian harus makan.” ucaap remaja berpipi chuby seusia Jaejoong dan Junsu yang membawa baki bersisi semangkuk bubur, 2 cup ramen dan 3 gelas jus melon itu berjalan perlahan memasuki kamar Jaejoong tanpa dipersilahkan, meletakkan baki yang dibawanya ke atas meja belajar Jaejoong. “Ayahmu pergi begitu mendapat panggilan dari Kepala Kepolisian, katanya ada urusan mendesak tentang penyelidikan yang sedang mereka lakukan. Karena itu aku yang mengantar makan siang terlambat kalian berdua.”

“Makan siang?” Junsu dan Jaejoong saling bertatapan sebelum keduanya melirik jam dinding yang tergantung pada tembok kamar Jaejoong, nyaris pukul 3 siang.

“Kalian terlalu asyik bicara.” ucap Yoochun. “Dan Jaejoong, ayahmu berpesan agar kau meminum paracetamolmu.”

“Kenapa ayahku menjadi peti mati?” tanya Jaejoong yang teringat pada kejadian dimana tubuh ayahnya tiba-tiba saja berubah menjadi peti mati yang dingin. Jaejoong ingin menyangkal semua itu tapi kenyataannya matanya melihat kejadian itu secara nyata. “Dan apa yang terjadi selama aku pingsan?”

“Ayahmu menjadi peti mati karena memang harus seperti itu. Queen Persona terdahulu mengorbankan nyawanya untuk melindungi penduduk kota ini dengan kutukan. Queen Persona mengutuk siapa saja yang berada di luar rumah selama dark hour terjadi akan berubah menjadi peti mati. Kedengarannya memang mengerikan namun selama berubah menjadi peti mati, manusia-manusia itu akan terindungi dari serangan Shadow maupun Arcana sendiri. Bukankah Junsu baru saja menjelaskannya padamu?” Yoochun bertanya karena sepertinya Jaejoong tidak sadar sudah mengulang pertanyaan yang hampir sama denga pertanyaan sebelumnya. “Dan apa yang terjadi selama kau pingsan? Tentu saja pertaruangan Minsoa dengan para Arcana yang mengeroyokmu. Mereka sepertinya sengaja memancingmu keluar untuk menghabisimu. Sialnya kekuatan persona dalam tubuhmu belum bangkit juga!”

“Aku adalah Kim Jaejoong, putra Kim Hyunjoong, siswa baru di Tartarus High School. Aku bukanlah Queen Persona seperti yang Junsu dan kau katakan! Jangan mengada-ada!”

Yoochun berdecak kesal, “Benar. Dia memang sangat keras kepala!” gerutunya sambil menatap Junsu.

“Seperti yang sudah ku katakan.” sahut Junsu.

Yoochun berjalan ke arah meja nakas Jaejoong yang berada di samping ranjangnya, membuka laci paling atas meja bercat coklat mengkilat itu dan mengambil sesuatu dari dalamnya.

“Sejak kapan benda tajam itu ada di kamarku?!” tanya Jaejoong dengan mata terbelalak ketika melihat Yoochun mengeluarkan sebuah belati perak dari laci meja nakasnya.

“Sejak pertama kali kau menempati kamar ini tentu saja.” sahut Junsu.

“Ini adalah Bloody Dagger.” ucap Yoochun sambil tersenyum bahagia pada Jaejoong, “Senjata yang hanya mampu dikendalikan oleh Queen Persona. Senjata ini mempunyai nyawa sendiri. Darah para Arcana dan Shadow adalah makanan yang sangat disukainya. Bloody Dagger ini bisa berubah menjadi pedang hebat, tameng yang kuat dan pistol untuk memanggil roh Persona dalam dirimu.”

“Memanggil roh Persona?” gumam Jaejoong yang teringat pada apa yang Minsoa lakukan semalam ketika gadis itu mengarahkan moncong pistolnya sendiri pada pelipisnya, “Apakah roh itu berwarna biru terang?”

“Ya. Sewarna langit!” Junsu mengangguk. “Istirahatlah Jaejoongie! Kami akan menjagamu hari ini.”

“… dan nanti malam kami akan melatihmu sampai roh Queen Persona yang bersemayam dalam dirimu bangun dari tidur panjangnya.” tambah Yoochun.

“Tunggu! Aku masih tidak mengerti pada apa yang kalian katakan!” Jaejoong menatap Yoochun dan Junsu bergantian, “Dan kenapa aku harus terlibat dalam masalah ini?!”

“Karena kau adalah kunci untuk mengakhiri kutukan menyedihkan ini!” Yoochun melempar belati perak berukir seperti sulur berduri yang memiliki bunga tengkorak manusia itu pada Jaejoong yang ditangkap baik oleh remaja bermata indah itu. Andai ukiran yang berada di atas permukaan belati itu adalah ukiran bunga mawar pasti belati itu terlihat sangat indah, namun sayang dimata Jaejoong belati itu mengingatkannya pada kuburan yang menyeramkan. “Sekarang istirahatlah!”

<3 >>>#<<< <3

“Kau sudah makan? Sudah minum obat?” tanya Yunho yang malam ini sengaja datang menjenguk Jaejoong walaupun namja bermata setajam musang itu hanya berdiri di depan pintu tanpa mau masuk ke rumah Jaejoong, “Aku ada urusan mendesak sekali jadi tidak bisa menemanimu. Maafkan aku.” sesalnya.

Gwaechana. Aku bisa menjaga diriku sendiri.” Jaejoong mengulum senyumnya.

Yunho mengusap kepala Jaejoong pelan, “Aku harus bergegas. Kalau ada apa-apa segera kabari aku ya.” diciumnya kening Jaejoong cukup lama sebelum berjalan pergi ke arah kanan tempat lift berada. Jaejoong mengawasi kepergian namja chingunya dalam diam.

“Dia cukup romantis rupanya.” gumam Junsu yang tiba-tiba saja muncul dari belakang tubuh Jaejoong. “Dia bahkan membawakanmu kue yang aromanya sangat lezat.”

Jaejoong melirik malas Junsu, “Kau seperti kucing!”

“Aku suka kue. Aku tidak akan menolak kalau kau membagikan kue lezat itu padaku.”

Jaejoong tersenyum, “Tenang saja! Kau pasti akan mendapatkan bagian kue ini juga.”

“Woah! Menyenangkan sekali. Aku cinta padamu Jaejoongie!” girang Junsu.

<3 >>>#<<< <3

Menjelang tengah malam Jaejoong menatap bulan yang nyaris sempurna menghiasi langit yang sangat muram. Dengan perasaan kalut dirapikannya selimut untuk menutupi tubuh ayahnya yang sedang terlelap, dipandanginya sosok yang sudah membesarkan dan mendidiknya sejak kedua orang tuanya bercerai itu dengan tatapan lembut dan sayang. Jaejoong mencondongkan tubuhnya agar bisa mencium kening ayahnya, “Joongie sayang Ayah. Mianhae kalau selama ini Joongie bandel. Mulai sekarang Joongie akan melindungi Ayah!” bisiknya pelan.

“3 menit sebelum tengah malam.” Yoochun yang berdiri menunggu di mulut pintu kamar Kim Hyunjoong bersama Junsu mengingatkan.

Jaejoong menatap kesal Yoochun namun tetap berjalan perlahan menuju teman sekelasnya itu. Sesekali Jaejoong menoleh ke belakang, memastikan ayahnya masih terlelap dalam mimpi indahnya.

“Mungkin kau akan sedikit canggung dan kaku Jaejoongie, tapi Bloody Dagger akan membantumu.” Junsu mengusap bahu Jaejoong perlahan, “Malam ini kita akan berburu. Kalau beruntung kita akan bertemu Priestess mengingat malam ini bulan akan penuh.”

Sekujur bulu kuduk Jaejoong meremang ketika mendengar celotehan Junsu itu, badannya mulai dingin ketika Yoochun menarik lengannya, menyeretnya keluar dari zona aman, rumahnya.

<3 >>>#<<< <3

Jaejoong duduk gelisah pada salah satu kursi taman yang berada di taman kota dekat rumahnya. Suasananya sangat sepi dengan penerangan yang minim, angin yang berhembus cukup kencang membuat kerisik (bunyi) dedaunan yang bergesekan. Jaejoong sedikit menggigil karena tidak memakai baju hangat, hanya sebuah kaus lengan panjang garis-garis yang membungkus tubuhnya serta celana jeans berwarna hitam. Sepasang mata indahnya melirik waspada kesana-kemari, jemari lentiknya menggenggam erat-erat gagang belati peraknya.

“Ah….” Jaejoong tersentak kaget ketika merasakan denyut jantung yang sangat lemah berasal dari belati yang digenggamnya. Bersamaan dengan hal itu Jaejoong mendengar suara samar dari arah pintu masuk taman.

Tuk… tuk… tuk….

Seperti suara benturan hak sepatu dengan bebatuan yang ditata sedemikian rupa mengelilingi taman hingga menjadi jalan setapak yang indah. Jaejoong menatap waspada ke arah sumber suara itu berasal, cengkeramannya pada belati peraknya semakin menguat, sekuat semburan ketakutan yang meledakan dadanya. Jantungnya berpacu cepat seolah-olah sedang berlari mengejar kereta ekspress.

Muncul juga!

Tapi….

“Apa yang kau lakukan di sini malam-malam begini? Sendirian seperti menunggu kematian menjemputmu. Atau kau sengaja menyerahkan dirimu sendiri untuk dimangsa?” gadis berambut golden brown itu jelas menatap Jaejoong dengan pandangan sinis dan benci.

Menghilangkan kegugupannya dengan cara menarik napas panjang. Jaejoong berujar, “Rumahku dekat sini, aku hanya ingin mencari udara segar karena pikiranku sedang kalut. Harusnya aku yang bertanya seperti itu padamu. Apa yang dilakukan seorang perempuan sepertimu di tempat sepi seperti ini?”

Gadis itu menyeringai sebelum berjalan perlahan kemudian melesat ke hadapan Jaejoong dengan sangat cepat. Kuku-kuku jarinya yang tajam lagi runcing itu menggores permukaan kulit Jaejoong, tidak melukainya hanya membuat permukaan kulit seindah pualam itu sedikit memerah.

“Kau tidak tahu betapa aku ingin sekali mematahkan lehermu! Kau manusia menjijikkan yang sudah membuat Yunho kehilangan otak! Kau harus mati!”

“Arkh!” Jaejoong memekik ketika Jessica mencekiknya kuat-kuat. Matanya terbelalak ketika secara perlahan-lahan tangan Jessica menghitam diikuti sekujur tubuhnya, wajahnya seperti tertutup topeng berwarna metal menyerupai tengkorak, matanya merah menyala dan rambutnya yang kusut sedikit ikal itu menari-nari tertiup angin. Jaejoong nyaris pingsan melihat kengerian yang terpampang di depan matanya secara langsung itu.

“Akan ku bunuh kau perlahan-lahan, manusia menjijikkan!” Jessica menghentakkan tubuh Jaejoong hingga punggung namja chingu Jung Yunho itu membentur batang pohon.

Jaejoong mengeluh sakit. “Untung aku tidak punya yeoja chingu.” gumamnya sebelum meringis karena nyeri yang menghujam punggungnya.

Tuk… tuk… tuk…

Jessica berjalan menghampiri Jaejoong, menarik pedang panjangnya dengan sangat cepat. Entah darimana pedang itu berasal, Jaejoong sendiri pun tidak mengetahuinya. “Kau pantas mati!”

Jaejoong meringkuk ngeri melihat kilatan pedang bermata dua yang hendak menebasnya, terbelalak ketika melihat tiba-tiba saja tangan kanan Jessica yang menghitam itu dililit oleh sulur yang menyerupai batang mawar namun berwarna perak. Sulur itu melilit dan membebat lengan Jessica, tubuh, pinggang hingga kakinya membuat gadis itu tidak bisa bergerak sama sekali. Duri-durinya yang tajam menusuk dan menembus kulit Jessica membuat teman sekelas Jaejoong itu menjerit kesakitan. Mata Jaejoong terbelalak ketika menyadari duri-duri sulur berwarna perak itu menghisap darah Jessica. Jaejoong kembali teringat perkataan Yoochun tadi siang.

“… Senjata ini mempunyai nyawa sendiri. Darah para Arcana dan Shadow adalah makanan yang sangat disukainya…”

Perlahan-lahan tubuh hitam Jessica menjadi kusut seperti kaktus yang kering kekurangan air sebelum perlahan-lahan mati. Itulah yang terjadi pada Jessica. Tubuhnya mengecil hingga hanya tulang yang tersisa sebelum Sulur berduri itu melilitnya semakin kuat dan menghancurkannya tidak bersisa.

“ARRRRRRRRRRRRRRGGGGGGGGGGGGGGGHHHHHHHHHHHHHHH!”

Jeritan itu menggaung seiring lenyapnya sosok Jessica.

Tlak!

Sebuah topeng metal jatuh, di atas permukaannya tertulis tulisan Lovers sebelum akhirnya retak dan hancur menjadi debu putih yang halus diterbangkan oleh angin.

Jaejoong tidak bisa bergerak sama sekali. Dengan mata kepalanya sendiri sulur yang membuat Jessica menemui kematiannya itu menyusut dan berubah kembali menjadi belati miliknya. Jaejoong bahkan tidak menyadari kapan belati itu terlepas dari genggamannya.

“A… apa yang baru saja terjadi?” tanya Jaejoong linglung. Tubuhnya masih bergetar karena ketakutan yang menyergapnya. Kalau ini adalah mimpi buruk, Jaejoong ingin segera bangun agar tidak perlu mengingatnya lagi. Kalau ini kenyataan, Jaejoong berharap dirinya bisa kabur ke tempat jauh agar tidak perlu mengingat lagi kejadian mengerikan seperti ini.

“Siapa kau sebenarnya?”

“Ah!” Jaejoong terlonjak ketika sosok jangkung itu melompat turun dari dahan pohon di depan sana hingga berada beberapa meter di depannya. Matanya yang merah menyala, mengingatkan Jaejoong pada sosok bayangan hitam yang memegang kapak kemarin malam dan ketika dirinya bermimpi tentang 12 bayangan hitam beberapa minggu yang lalu –yang sepertinya bukan mimpi. “Shi… Shim Changmin?” gagap Jaejoong.

Strenght!” gumam Changmin, “Kau bukan manusia biasa. Kau bahkan memiliki benda berbahaya itu!” Mata pemuda jangkung itu menatap sengit Bloody Dagger yang tergeletak di samping Jaejoong.

Lagi-lagi Jaejoong merasakan denyut jantung lemah yang berasal dari Bloody Dagger.

“Siapa kau?” tanya Changmin.

“Kim Jaejoong?” bingung Jaejoong.

“Siapa Kau?!” Bentak Changmin hingga angin kencang berhembus kuat untuk beberapa detik lamanya. Urat kemarahan tampak jelas pada wajah kekanakannya.

“Siapa aku? Tentu saja aku Kim Jaejoong! Memangnya aku siapa kalau bukan Kim Jaejoong, hah?” Jaejoong yang kesal tanpa sadar membentak Changmin juga.

Changmin baru berjalan 3 langkah ketika sebuah anak panah yang memedarkan cahaya biru terang menembus dada kirinya, membuat darah berwarna hitam kehijauan memuncrat dari lukanya, mengalir hingga menetes di atas permukaan batu jalan setapak taman.

Mata merah Changmin memicing, menatap geram pada sosok yang dengan angkuhnya menatapnya dari atas pohon disamping Jaejoong. “Dasar tikus got!” maki Changmin.

“Lawanmu adalah aku, bocah!” Junsu melesat, menubruk Changmin sebelum lesatan bayangan perak Junsu dan bayangan hitam Changmin menjauhi taman.

Jaejoong yang kebingungan hanya bisa memeluk tubuhnya sendiri, berusaha meredam ketakutannya agar tidak menangis. Jaejoong masih belum sepenuhnya paham apa yang terjadi namun ketakutan itu nyata mengintainya. Dengan pikiran kalut dan pinggang yang terasa…

“Eh? Tidak sakit lagi?” diusapnya pinggang dan punggungnya yang sebelumnya berbenturan dengan batang pohon. Jaejoong tidak merasa sakit ataupun nyeri. Dengan perlahan memungut Bloody Dagger dan berjalan menuju pintu keluar taman. Jaejoong tidak peduli lagi. Dirinya ingin pulang ke rumah dan mengadu pada ayahnya tentang keanehan yang menimpanya semenjak mereka pindah ke kota Sunny.

<3 >>>#<<< <3

Jaejoong berjalan lesu sepanjang jalan utama menuju gedung apartemennya. Sesekali menatap betapa indahnya fenomena dark hours seandainya tidak diiringi kehadiran para Arcana dan Shadow. Jaejoong berhenti di depan pintu gerbang gedung apartementnya, dilihatnya seseorang sedang bersandar di tembok pintu gerbang dan seorang lagi yang berjalan mendekat dari arah dalam halaman gedung.

“Jaejoongie….” dengan langkah ringan seperti melompat-lompat kegirangan, sosok yang tadinya berjalan dari arah dalam halaman gedung itu menghampiri Jaejoong, hendak memeluknya.

Entah perasaan apa yang menyergapnya tetapi Jaejoong memilih mundur ketika sosok itu mendekat. Ada perasaan takut yang memaksanya untuk waspada dan berhati-hati pada sosok itu walaupun Jaejoong cukup mengenal baik sosok yang kini berada beberapa meter di depannya.

“Anak nakal! Apa yang kau lakukan diluar rumah pada jam seperti ini, huh? Apa ayahmu tahu kelakuanmu ini, Kim Jaejoongie?”

SeoSeosengnim?” Jaejoong mengerutkan keningnya, meningkatkan kewaspadaannya walaupun bulu kuduknya sudah meremang sejak tadi. “Apa yang seosengnim lakukan di sini?” tanyanya.

“Apa yang ku lakukan? Tentu saja berpatroli!” senyuman manis namun terlihat menakutkan dimata Jaejoong. “Aku akan…. MENGHUKUM ANAK NAKAL SEPERTIMU!”

Jaejoong membatu mendengar lengkingan suara sosok yang dikenalnya sebagai wakil kepala sekolah sekaligus wali kelasnya itu. Suara lengkingan itu sangat menyakitkan hingga telinga Jaejoong berdengung-dengung karenanya.

“Aku masih tidak tahu apa yang istimewa darimu, Jaejoongie. Tapi Lovers yang kau kenal sebagai Jessica itu mengirimkan pesan padaku sebelum dia mati bahwa kau sangat berbahaya dan harus disingkirkan!” Dalam sekejab mata indah Heechul yang semula berwarna coklat terang berubah menjadi merah menyala. Di tangan kanannya sudah ‘tertawa’ dengan angkuhnya sebuah sabit besar yang berbentuk setengah lingkaran, ukurannya kira-kira sebesar ban truk tronton. Jaejoong nyaris pingsan melihatnya.

“Apa yang terjadi padaku, Tuhan? Kenapa hari ini Kau hadapkan aku pada makhluk-makhluk yang mengerikan begini?” keluh Jaejoong dalam hati, mata indah serupa mutiara rusa betina itu sudah berkaca-kaca.

“Nah, Jaejoongie… karena kau adalah salah satu dari murid favoriteku, katakan apa pesan terakhirmu sebelum aku menidurkanmu untuk selamanya!”

Seosengnim….” panggil Jaejoong.

“Ya?”

Jaejoong menelan ludahnya susah payah. biasanya dirinya akan terpesona bila wali kelasnya ini tersenyum tetapi kali ini Jaejoong justru merasakan kengerian luar biasa yang membuatnya susah untuk menggerakkan kakinya untuk sekedar berlari maupun bersembunyi.

Seosengnim juga Arcana?” tanya Jaejoong yang hanya diberi kedipan mata oleh Heechul, “Nama Seosengnim sebagai Arcana?”

Hierophant!”

Jaejoong mengangguk paham, “Satu lagi pertanyaanku, Seosengnim.” Jaejoong menatap nanar malaikat pencabut nyawa yang menyeringai padanya itu, “Yunho…. Apakah dia juga Arcana?”

“Yunho? Ahahahahahahaha…. Dia yang terkuat diantar kami.”

Kaki Jaejoong melemas mendengarnya. Dengan putus asa mempertahankan tenaganya agar tetap berdiri tegak walaupun dirinya nyaris pingsan, “Kalau aku memang salah satu dari persona, siapapun bantu aku mengahdapi dua makhluk mengerikan ini!” gumamnya pada dirinya sendiri.

Denyut lemah itu kembali Jaejoong rasakan dari belati peraknya. Seolah digerakan oleh sesuatu yang tidak kasat mata, Jaejoong menikamkan belati peraknya itu pada perutnya sendiri.

“Uhuk!” Jaejoong memutahkan darah segar dan jatuh terduduk dengan keadaan setengah sadar. Napasnya tersendat. Walau samar Jaejoong bisa melihat sosok tinggi besar transparan berwarna biru terang memegang pedang panjang di tangan kanannya dan tameng di tangan kirinya. Rambut biru keperakannya terurai panjang sampai melewati pinggangnya, jubahnya berkibar-kibar seirama angin yang berhembus kencang.

Tlang! Tlang!

Suara pedang yang beradu dengan jelas masih Jaejoong dengarkan walaupun matanya sudah mulai meredup. Sebelum kehilangan kesadarannya, Jaejoong sempat mendengar pekikan wali kelasnya serta sosok kepala sekolahnya yang memakai topeng aneh yang hanya menutupi bagian kiri wajahnya saja tengah dililit oleh sulur berduri sama seperti yang menimpa Jessica beberapa waktu yang lalu.

Lantas gelap mendepak putra Kim Hyunjoong itu dalam mimpi anehnya.

<3 >>>#<<< <3

“Entah terlalu berani atau terlalu bodoh. Kenapa dia menikam dirinya sendiri? Kenapa tidak mengubah Bloody Dagger menjadi pistol sebelum memanggil roh personanya?” gerutu Yoochun yang harus menggendong tubuh lemas Jaejoong sepanjang lorong menuju apartement pemuda yang tengah tidak sadarkan diri itu.

“Dia belum tahu cara menggunakannya, Chunie. Lagi pula mengalahkan Lovers, Hierophant dan Hermit sendirian itu sangat luar biasa. Kita sendiri susah melumpuhkan mereka.” ucap Junsu. “Aku berharap lukanya segera menutup sebelum pagi nanti agar Hyunjoong ahjushi tidak panik melihat anaknya terluka seperti ini.”

“Aku lelah….” keluh Yoochun.

“Kita bisa tidur bersama Joongie di kamarnya.”

“Setuju.”

<3 >>>#<<< <3

“Eh? Benarkah itu? Ya, baiklah. Terima kasih.” dengan wajah keruhnya Hyunjoong menutup telponnya.

Nuguya?” tanya Jaejoong yang sedang menyantap makan paginya bersama Junsu dan Yoochun yang beralibi menginap karena ketiduran semalam.

“Sekolah kalian diliburkan untuk beberapa saat karena ada masalah dengan sambungan gas yang bocor bisa membhayakan siswa dan para guru.”

Jaejoong mencengkeram gagang sendoknya kuat-kuat, ketika ingatan buramnya dini hari tadi kembali menjumpainya, “Sampai berapa lama?”

“Mungkin 1 atau dua minggu. Tapi kalian tetap mendapatkan tugas rumah yang harus kalian selesaikan! Materi tugasnya sudah dikirim ke email kalian pagi ini jadi kalian harus mengeceknya setelah sarapan. Mengerti?”

Ne Ahjushi!” sahut Junsu girang.

Yoochun dan Jaejoong hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.

“Joongie, tadi pagi-pagi sekali Jung Yunho menelponmu dan menanyakan keadaanmu.” ucap Hyunjoong. “Ada baiknya kau telpon balik dia.”

Ne. Akan ku telpon dia nanti seusai sarapan, Ayah.” jawab Jaejoong.

“Makanlah yang banyak! Lihat betapa tirusnya pipimu sekarang. Ibumu bisa mengamuk kalau melihatmu kurus begini.” keluh Hyunjoong.

Ne…. Aku sayang Ayah. Hati-hati di jalan.” Jaejoong tersenyum kecut pada ayahnya.

“Dasar anak ini! Mengusir ayahnya sendiri. Ck….” gerutu Hyunjoong yang dengan cekatan meraih tas kerjanya kemudian pergi meninggalkan ke-3 remaja yang sedang sarapan itu sendirian di dapur rumahnya.

“Wajahmu sedikit keruh.” komentar Yoochun, “Ada hubungannya dengan semalam?”

Dengan malas Jaejoong mengangguk pelan. Tangan kirinya yang tidak memegang sendok sup digunakannya untuk meraba perutnya yang seingatnya semalam terluka akibat tusukan Bloody Dagger, kini luka itu sudah menghilang entah kemana.

“Katakan!” perintah Yoochun.

Jaejoong berusaha menarik senyumnya, kenyataan soal Yunho adalah sang Priestess cukup dirinya sendiri yang tahu. “Aku hanya sedikit syock karena ternyata Kepala Sekolah dan Wali Kelasku adalah Archana.” dustanya. “Bahkan Shim Changmin?”

“Kau harus tahu Jaejoongie, walaupun seandainya saudaramu, orang tuamu, kekasihmu sendiri adalah Archana kau harus tetap membunuh mereka!” ucap Junsu tanpa ragu, “Yoochun pernah membunuh kakak kandungnya sendiri ketika kakaknya berubah menjadi Shadow.”

“Kami –para Persona sudah mengorbankan segalanya termasuk kebahagiaan kami sendiri untuk membasmi para Archana. Bukan hanya tanggung jawab tetapi tugas untuk menumpas kejahatan pun jauh lebih penting daripada kebahagiaan sendiri. Memang para manusia tidak tahu apa yang kita lakukan untuk mereka tetapi ketika takdir itu sudah memanggil kita tidak akan pernah bisa lari kecuali menghadapinya dengan mempertaruhkan apa yang kita punya.” ucap Yoochun panjang lebar.

“Tia bahkan kehilangan kekasihnya karena dibunuh oleh salah satu Archana itu.” sahut Junsu dengan suara getir.

Jaejoong menundukkan kepala sesaat sebelum menegakannya lagi, “Strenght…. Apa yang terjadi padanya?”

“Aku dan Chunie membunuhnya.” jawab Junsu, “Dia sangat kuat. Bahkan lengan kiri Chunie sampai terkena sabetan kapaknya. Tapi tidak apa-apa, asal senjata itu tidak beracun luka yang diderita oleh Persona karena ulah Archana akan menutup dengan sendirinya sebelum dark hours berikutnya terjadi.”

Jaejoong mengangguk singkat, meraih handphonenya, mengetik sebuah pesan singkat yang berbunyi “Bisa kita bertemu malam ini di taman dekat danau buatan? Aku ingin bicara sesuatu padamu.” untuk Yunho. Menunggu beberapa saat lamanya sebuah pesan balasan berbunyi, “Tentu saja, Boo.” masuk. Sekali lagi Jaejoong mengetik pesan menentukan pukul berapa mereka akan bertemu.

“Kau akan pergi berkencan dengan Jung Yunho?” tanya Yoochun, “Malam ini kita akan berburu!”

“Berapa yang tersisa?” tanya Jaejoong.

“Huh?” sahut Junsu.

“Berapa Archana yang masih tersisa?” Jaejoong menatap Yoochun dan Junsu bergantian.

“3.” jawab Yoochun, “Emperor, Empress dan Priestes.”

“Ahh…3 yang paling kuat dan kita hanya tersisa 3 orang saja.” keluh Junsu, “Bisakah kita menghadap mereka?”

“Pasti bisa!” Jaejoong menimpali.

<3 >>>#<<< <3

Malam datang lebih cepat dari yang diharapkan Jaejoong, usai menyiapkan makan malam untuk ayahnya, menelpon ibunya dan mengatakan bahwa dirinya mencintai wanita yang sudah melahirkannya itu, Jaejoong pergi ke taman dekat danau buatan tempat dimana dirinya dan Yunho pernah berkencan beberapa waktu yang lalu. Gelisah menunggu penantiannya. Masih pukul 9.45 malam dan suasana tempat Jaejoong menunggu masih sangat ramai mengingat selama waktu yang tidak bisa dipastikan siswa Tartarus diliburkan untuk sementara.

Jaejoong menajamkan mata dan telinganya, berusaha mendengar suara-suara aneh, berusaha melihat kejadian-kejadian ganjil yang mungkin saja terjadi disekitarnya. Jaejoong membiarkan Yoochun dan Junsu berpatroli entah kemana tujuan mereka. Yang Jaejoong harapkan keduanya jangan sampai terbunuh, yang Jaejoong harapkan agar dirinya tidak perlu membunuh siapapun.

Bulan penuh yang bersinar kekuningan indah di atas langit kota Sunny terlihat seperti permata indah namun menyimpan nilai mistis yang kental. Kadang Jaejoong masih mengutuk takdir yang membawanya ke kota ini hingga melibatkannya dalam petaka dengan mahluk-mahluk aneh yang membawa teror kengerian dan kematian.

Kerisik dedaunan mulai terdengar lebih keras dari sebelumnya, angin dingin pun mulai bertiup lebih kencang dari sebelumnya. Orang-orang yang sebelumnya memenuhi taman sedikit demi sedikit mulai meninggalkan tempat itu. Jaejoong sendiri memilih berjalan menyusuri rerumputan menuju danau yang terlihat berkilauan tertempa lampu-lampu merkuri yang tersebar dihampir semua penjuru taman. Air yang terlihat berwarna menghitam karena malam itu memantulkan refleksi bulan yang sangat indah andaikan malam ini dirinya tidak berencana untuk mengeksekusi perasaannya sendiri.

“Jangan melamun tengah malam di pinggir danau sendirian, anak muda! Bagaimana bila monster danau menarikmu dan menenggelamkanmu ke dalam air dengan tentakelnya yang panjang dan berlendir itu?”

Jaejoong menoleh, seorang kakek yang sedikit bungkuk dengan tongkat sebagai penyangga telah berdiri tidak jauh dari Jaejoong. Matanya yang kuyu dan kulitnya yang keriput terlihat sedikit pucat dibawah paparan sinar lampu merkuri. Lagi, Jaejoong merasakan denyut lemah dari Bloody Dagger yang ia selipkan pada ikat pinggangnya.

“Kakek sendiri sedang apa di sini?” tanya Jaejoong yang entah mengapa merasa curiga dengan kehadiran kakek-kakek tengah malam di pinggir danau.

“Kau tahu, Nak? Bagi mereka yang terkekang, melakukan hal-hal kotor untuk kebebasan mereka bukanlah sebuah dosa –bagi mereka. Terjebak antara hidup dan mati sangatlah sengsara.”

Jaejoong mengerutkan keningnya, “Kakek….” Mata Jaejoong terbelalak ketika sebuah anak panah yang memedarkan sinar berwarna kebiruan itu menembus dada kiri sang kakek.

“Dia adalah Shadow, Joongie! Shadow yang dikendalikan oleh Empress!” teriak Junsu yang tiba-tiba muncul dan berlari ke arah Jaejoong.

Empress? Arcana? Tapi ini belum tengah malam, kan?” tanya Jaejoong bingung.

“12.02 kalau kau ingin tahu.” ucap Yoochun yang entah datang dari mana tiba-tiba saja sudah mendarat beberapa meter dari Jaejoong. Dengan sepasang pedangnya ia menebas tubuh kakek itu, membuat cipratan cairan kental berwarna hitam serupa lumpur membasahi rumput dan apa saja yang berada didekatnya.

Mwo?” Jaejoong nampak kaget, “Yunho… Tapi Yunho belum datang.” sedihnya.

“Ku rasa dia tidak akan datang! Ku rasa dia pun sudah tahu bahwa kau berdiri pada garis yang berseberangan dengannya.” tambah Yoochun yang kembali menyarungkan pedangnya. Dengan dagunya ia menunjuk air danau yang sudah berubah warna menjadi warna merah darah.

Sangking kagetnya Jaejoong jatuh terduduk di atas rerumputan. Padahal jam tangannya tadi masih menunjukkan pukul 10 kurang, kenapa waktu cepat sekali berlalu?

Junsu memejamkan matanya, menghirup aroma yang dibawa oleh angin kepada indera penciumannya. “Kita sedang diintai!” secepat kilat ia melesatkan anak panahnya pada salah satu dahan.

Bum!

Anak panah itu meledak ditengah udara hampa seolah-olah ada tameng tak kasat mata yang melingkupi area sasaran Junsu. Beberapa dahan pohon yang terkena ledakannya jatuh ke bawah menimbulkan suara debuman keras.

“Kau terlalu gegabah anak muda!”

Baik Jaejoong, Junsu maupun Yoochun sama-sama menoleh ke arah berlawanan dengan tempat dimana panah Junsu meledak tadi. Seorang pria dengan setelan jas mewahnya sedang berjalan santai menyusuri jalan setapak yang terbuat dari lapisan semen, tampak tampan namun menyimpan keangkuhan dalam setiap langkahnya.

Yoochun maju beberapa langkah, “Dia bagianku! Emperor yang turun dari singgasananya!” ucapnya penuh penekanan. Dengan gerakan lincah Yoochun menarik kedua pedangnya, menghambur ke arah sosok yang wajahnya terbingkai apik pada sudut-sudut dinding Tartarus.

“Waspadalah Joongie!” ucap Junsu. Mengabaikan Yoochun yang sudah mulai melesat daan bertarung menjauh bersama sosok yang ia ketahui bernama Jung Siwon itu, Junsu sendiri kembali menatap tajam arah dimana beberapa detik yang lalu anak panahnya meledak setelah terlebih dahulu membantu Jaejoong berdiri.

“Darimana Yoochun tahu bahwa Jung Siwon adalah Emperor?” tanya Jaejoong yang tidak bisa menyembunyikan ekspresi bingung dan syocknya.

“Kau lihat polanya?” tanya Junsu balik, “Kancing kemeja dan jasnya berbentuk seperti mahkota raja. Setiap Archana memiliki ciri masing-masing, kita hanya akan mengetahuinya bila berhadapan langsung dengan mereka. Tentu saja matamu belum terlatih untuk itu.”

Merasakan denyut pada Bloddy Dagger makin meningkat Jaejoong akhirnya melepaskan kait yang dipasangnya pada ikat pinggangnya, mengamati belati perak unik namun sedikit mengerikan itu sebelum dengan sengaja menjatuhkannya ke atas permukaan tanah. Mata legamnya mengamati saat perlahan-lahan bentuk belati itu berubah memanjang, terus memanjang seolah-olah tumbuh menjadi sebuah tanaman sulur penuh duri berwarna perak terang.

“Indah bukan? Andaikan bukan kau yang memilikinya, Boo….”

Jaejoong belum sempat menyahut saat tiba-tiba saja Junsu tehempas, tubuhnya membentur tiang lampu merkuri yang berada di belakang Jaejoong.

“Jangan terlalu ramah pada mangsamu, Anakku!”

Kini putra Kim Hyunjoong itu merasakan luka itu secara nyata. Perasaan perih dan nelangsa ketika melihat namja chingunya berdiri beberapa meter di hadapannya yang sialnya adalah musuhnya sendiri. “Empress?” gumam Jaejoong ketika menatap calon ibu mertuanya –andaikan seluruh keluarga Jung bukan Archana.

“Uhuk! Uhuk!” Junsu bangun sembari terbatuk-batuk, “Priestes adalah bagianmu, Joongie! Biar aku yang mengurus Empress!”

“Junsu?” Jaejoong menatap Junsu sedikit ragu.

“Aku rela menukar hidupku demi membunuhnya begitu pula Chunie.” Junsu tersenyum, “Jangan goyah, Joongie!” Junsu mengeluarkan sebuah pedang kecil yang mirip dengan pisau belati namun sedikit lebih panjang. Junsu sempat tersenyum pada Jaejoong sebelum dengan gerakan sangat gesit Kibum menubruk tubuhnya, menghempaskannya. Keduanya melesat bagai kilatan berwarna kebiruan dan hitam menjauhi danau yang kini berair sewarna darah.

“Tinggal kita berdua, Boo.” ucap Yunho lirih.

“Kau terlambat datang.” balas Jaejooong dengan suara yang menyimpan kesedihan didalamnya.

“Ada urusan mendesak yang harus ku selesaikan, Boo. Mengertilah.”

“Tentu saja aku mengerti mengingat kau adalah Priestes, Yun.”

“Lalu kenapa harus kau yang menjadi seteruku, Boo? Aku akan lebih senang bila kau hanya manusia biasa dengan begitu aku bisa melindungimu dari semua bawahanku. Semua ini membuatku dilema…. Kau, yang ku cintai adalah orang yang harus aku bunuh. Apakah aku punya pilihan lain?”

Jaejoong diam saja, bahkan ketika sulur berduri Bloody Dagger melilit mata kaki kanannya dan terus menjalar ke atas tubuhnya. Jaejoong bisa merasakan denyut keras yang berasal dari Bloody Dagger. “Hanya ada satu pilihan, Yun. Kau atau aku yang mati.” ucapnya. “Tentu saja aku tidak akan membiarkan teror dark hours terus mengintai warga yang tidak bersalah.”

“Aku pun tidak akan membiarkan rasku lenyap begitu saja, Boo. Dengan berat hati aku akan melawanmu sampai salah satu dari kita mati! sahut Yunho, “Maka, panggillah dia! Roh personamu!”

Jaejoong menutup matanya, membiarkan air mata bening itu turun membasahi wajah cantiknya, pasrah menerima takdir yang mau tidak mau harus tetap dilaluinya walaupun sulit dan berat. Mutiara rusa betina yang legam lagi indah itu terlihat penuh tekad ketika kelopak yang tadi membungkusnya terbuka. Sosok pemuda tampan yang berdiri beberapa meter di hadapannya itu bukanlah namja chingunya melainkan Priestess sang Archana Death yang harus dibunuhnya dengan taruhan nyawa sendiri.

“Aku mencintaimu Yunie.” bisik Jaejoong perlahan sering naiknya sulur perak Bloody Dagger hingga lehernya kemudian membentuk dahan baru yang menyembul hingga pelipisnya, diujungnya tumbuh sebuah daun kecil yang seiring detik terlewati berubah membesar seperti buntalan, buntalan itu kemudian terbuka, menunjukkan sebuah moncong pistol perak indah tepat mengarah pada pelipis Jaejoong. Sebelum pistol perak itu memuntahkan isinya dan membuat Jaejoong terjerembab jatuh karena tarikan energi yang kuat mendesak keluar dari dalam tubuhnya, ia sempat melihat gumpalan asap hitam mengerubungi tubuh Yunhonya –andai Jaejoong masih boleh menganggap pemuda itu namja chingunya.

Sosok tinggi besar transparan berwarna biru terang itu muncul dari balik bahu Jaejoong, memegang pedang panjang di tangan kanannya dan tameng di tangan kirinya. Rambut biru keperakannya terurai panjang sampai melewati pinggangnya, jubahnya berkibar-kibar seirama angin yang berhembus kencang, mirip seorang dewa kematian yang sering dilihatnya pada tayangan animeanime di televisi.

Dengan napas terengah Jaejoong melihat perubahan yang terjadi pada Yunhonya juga. Sosok gagah itu terlihat semakin tampan dan menawan andaikan ia tidak berdiri di pihak yang salah. Yunho kini berubah, menyerupai jenderal perang jaman dahulu dengan seragam besi hitamnya yang mengkilap dan menakutkan. Ada sebuah gambar yang Jaejoong lihat menyerupai logo terdapat pada bagian dada kiri, bahu kanan dan ikat pinggang emas yang Yunho pakai, sebuah logo tengkorak ditengah-tengah tanda silang merah dan hijau. Sarung pedang panjang yang dikaitkan pada sisi pinggang kirinya membuat ketua kelas 3-5 itu terlihat seperti jenderal perang yang sesungguhnya. Jangan lupakan anting-anting panjang berbentuk tengkorak merah yang menjuntai pada telinga sebelah kanannya! Membuat bulu kuduk Jaejoong merinding bukan main.

“Siap mati ditanganku, Boo Jae?”

“Tidak akan pernah!”

<3 >>>#<<< <3

Berkali-kali Yunho melancarkan serangan pada roh persona Jaejoong, berkali-kali pula tubuh Jaejoong nyaris tertebas pedang panjang Yunho andaikan Bloddy Dagger tidak membuat tameng mengerupai kurungan penjara yang memenjarakan tubuh Jaejoong. Jaejoong muntah darah. Bukan hanya karena tubuhnya melemah melainkan juga serangan Yunho pada roh personanya –pemilik roh persona akan terluka jika rohnya terluka, akan mati jika roh personanya mati.

“Menyerah Boo Jae?” tanya Yunho dengan angkuh, mata setajam musangnya mengamati tubuh Jaejoong yang sudah terkulai lemas.

“Kau belum membunuhku! Kau belum menang!”

“Jangan keras kepala! Kau pikir aku bisa membunuhmu, huh? Membunuh orang yang ku cintai?”

“Kau bahkan sudah membunuh banyak orang. Mengubah orang-orang tidak bersalah menjadi Shadow!”

“Mereka pantas mendapatkannya!” bantah Yunho dengan suara lantang.

“Kalau begitu bunuhlah aku juga! Karena aku juga pantas mendapatkannya.”

Wushhh….

Yunho mengibaskan pedang panjangnya ketika tiba-tiba angin dingin yang sangat kencang berhembus. Jemarinya mencengkeram erat-erat gagang pedangnya agar kemarahan yang mengepungnya tidak membuatnya menghilangkan kewarasan dirinya dan membahayakan orang yang sangat dicintainya didepan sana!

“Teman kita Yoochun berhasil membunuh ayahku, Emperor.” Yunho mengamati perubahan ekspresi Jaejoong yang terlihat semakin pucat. Ada luka dan kesedihan pada wajah kekasihnya itu. “Tapi Yoochun sendiri sekarat. Tinggal menunggu waktu hingga ajal menjemputnya.”

Air mata kembali membasahi wajah sembab Jaejoong. Satu per satu orang-orang yang dikenalnya saling membunuh satu sama lain. Yoochun sedang menunggu malaikat kematiannya, Junsu entah bagaimana keadaannya sekarang dan dirinya sendiri? Harus menghadapi orang yang dicintainya. Andai Jaejoong bisa memilih akan dipilihnya takdir lain dimana dirinya dan Yunho tidak perlu saling mengenal agar mereka tidak perlu saling membunuh seperti ini. Atau Jaejoong memilih tidak pernah berada diposisi dimana dirinya didaulat menjadi personaQueen Persona dan tetap menjadi manusia biasa. Kemungkinan-kemungkinan seperti itu… andaikan Jaejoong memilikinya.

Mutiara hitamnya menatap roh persona miliknya yang diikat oleh beberapa sosok bayangan hitam yang mengambang ditengah udara hampa, Shadow. Tubuh mereka besar dan hitam, seperti lumpur yang sengaja dikeringkan kemudian disiram dengan air arang yang sangat legam. Ada hawa dingin lagi mencekam ketika jubah-jubah hitam panjang mereka menari-nari. Dengan keadaan seperti itu roh personanya bisa dengan mudah dilumpuhkan dan dibunuh namun kenapa Yunho tidak kunjung melakukan eksekusi itu? Jaejoong bertanya-tanya dalam hati.

“Ini dilema. Kau harus mati dan akulah yang harus membunuhmu, Boo. Tetapi hatiku tidak menginginkanmu mati. Namun bila kau tidak mati maka akulah yang harus mati.” ucap Yunho. “Kalau kau tidak melawanku dan membiarkan roh personamu mati, maka kau akan segera menyusul teman-teman personamu yang lain.”

Jaejoong menatap hampa Yunho, matanya buram karena air mata yang menggenang dipelupuknya. Sedikit tertatih Jaejoong berdiri walaupun terbatuk-batuk, darah segar beberapa kali memuncrat dari bibir penuhnya. Yunho benar. Kalau dirinya tidak melawan maka roh personanya akan mati, dengan kata lain dirinya pun akan mati. Jika dirinya mati maka sia-sia sudah perjuangan para persona selama ini. Jaejoong harus melawan. Seiring tekad dan semangat yang membakar jiwanya Jaejoong menatap nyalang Yunho.

“Aku butuh senjata untuk melawannya.” ucapnya pada Bloody Dagger, dengan perlahan kungkungan sulur perak itu menyusut. Sulur-sulur tajam itu melilit sekujur tubuh Jaejoong namun tidak menusuk Jaejoong dengan duri-duri tajamnya. “Terima kasih.”

Sekali lagi Jaejoong menatap Yunho nyalang namun penuh kesedihan dan penyesalan. Hatinya berdenyut sakit membayangkan Yunho mati ditangannya tetapi apa boleh buat. Demi kedamaian dunia, demi ayah dan ibunya yang sangat ia cintai bertarung sampai mati pun akan ia lakukan!

“Aku tidak akan bisa bertahan lebih lama daripada ini. Karena itu jika kau tidak berhasil menghindar maka kau akan mati!” ucap Jaejoong yang hanya mendapatkan senyum manis dari Yunho.

BUM!

Ledakan besar berasal dari arah tenggara membuat konsentrasi Jaejoong sedikit buyar. Asap gelap kebiruan membumbung tinggi menyentuh kaki langit kota Sunny yang kini sedang berwarna hijau.

“Kau mau tahu apa yang terjadi?” tanya Yunho yang hanya mendapatkan kebisuan dari Jaejoong. “Junsu memilih meledakkan dirinya sendiri bersama ibuku karena dia tahu dia tidak akan bisa menang dari ibuku, sang Empress.”

“Jadi hanya kita yang tersisa?”

“Ya. Hanya kita.” jawab Yunho. “Karena Yoochun pun baru saja menghembusknan napas terakhirnya.”

“Aku pernah bertarung sengit didalam game tapi dalam kehidupan nyata tidak sekali pun aku pernah melakukannya. Jessica, Chulie Seosengnim dan Kepala Sekolah semuanya meninggal karena Bloody Dagger bukan karena aku. Jadi ini adalah pertarungan pertama dan terakhirku dengan orang yang sangat berarti untukku.”

Yunho tidak mengendurkan senyumannya, tangan kanannya masih mengibas-ngibaskan pedang panjang lagi tajamnya itu dengan sangat lincah. “Serang aku, Boo!”

“Aku ingin sebuah pedang panjang!” lirih Jaejoong. Maka sulur Bloody Dagger yang berada ditangannya memanjang membentuk sebuah pedang panjang berwarna perak berkilauan. Perlahan dengan sisa tenaga yang masih ada dalam dirinya Jaejoong berlari menyongsong Yunho dengan pedang menghunus ke depan. Yunho sendiri memasang kuda-kuda siap bertahan dan menyarang balik dalam waktu bersamaan.

Semua terjadi begitu cepat hingga pedang panjang itu menembus dada kirinya dengan telak tanpa bisa menghindar seolah memang sengaja tidak ingin menghindar.

Jaejoong memuntahkan darah segar ketika sepasang lengan kokoh itu mendekap erat tubuhnya, “Yun….”

“Aku terlalu mencintaimu untuk merelakan dirimu mati ditanganku, Boo….” ucap Yunho. Darah merah kehitaman yang sangat pekat mengucur dari mulut dan dada sebelah kirinya yang tertembus pedang Jaejoong. Bahkan kedua lengan dan sekujur tubuhnya sudah dililit oleh Bloody Dagger yang menusuk kulitnya serta bajunya dengan duri-duri tajam itu. Tubuh Yunho melemah seiring darahnya terhisap oleh Bloody Dagger. “Ini adalah kehidupan fana yang bisa ku hadiahkan untukmu. Seorang Priestess yang sangat memuja Queen Persona. Aku mencintaimu Boo…. Sangat mencintaimu….” usai berkata seperti itu Tubuh hunho hancur, berubah menjadi debu berkilauan yang terbang mengikuti arah angin berhembus.

Jaejoong jatuh terduduk, terisak dan menangis pilu.

Inikah akhirnya?

Yunho membiarkannya hidup walaupun pemuda itu tahu dirinya tidak mungkin bisa hidup lama mengingat setengah roh personanya sudah terhisap oleh energi negatif Shadow yang ikut mati ketika semua Archana lenyap dari muka bumi ini.

Jaejoong berteriak hingga suaranya serak, membiarkan air matanya terus mengalir, menatap nanar roh personanya yang juga tengah menatap iba padanya. Jaejoong menang, mungkin begitu kelihatannya tapi dirinya benar-benar kalah. Jaejoong merasa dicurangi karena ia tidak pernah menyangka dan memeperkirakan sebelumnya bahwa Yunho akan menyongsongnya.

Harusnya Yunho menghindar bukan menerimanya.

Harusnya Yunho membalasnya bukan pasrah begitu saja.

Cinta?

Bahkan mahluk seperti Archana bisa mencintai sedalam itu?

“Dimana letak pintu gerbang neraka yang pernah Junsu katakan dulu?” tanya Jaejoong pada dirinya sendiri. Matanya melirik lemah ketika roh personanya menunjuk arah Tartarus Building berada. “Di sana? Bisa kau terbang membawaku ke sana?”

Roh persona yang berwarna kebiruan itu menukik dan memeluk bahu Jaejoong. Dalam sekejap mereka lenyap dari danau buatan yang kini airnya sewarna darah itu.

<3 >>>#<<< <3

Jaejoong mengerjabkan kelopak matanya saat tiba-tiba saja dirinya berada di atas atap gedung Tartarus, angin kencang yang berhembus membuat rambut dan pakaiannya berkibar-kibar tidak keruan. Jaejoong memperhatikan saat roh personanya melayang pada salah satu sudut dimana disana terdapat sebuah batu kali besar tertanam pada atap beton gedung. Hal yang sedikit anah bagi Jaejoong.

“Itukah yang dimaksud Junsu?”

Sekitar mulut, dagu dan dadanya masih tersisa bekas darah yang menghitam dan mengering. Tubuhnya sudah sempoyongan dan kesadarannya mulai menurun. Jaejoong berjalan menghampiri batu kali berdiameter 5 meter itu perlahan. Menatap ragu-ragu rok personanya dan batu kali itu secara bergantian.

“Kalau aku melenyapkan pintu laknat ini, apakah semuanya akan baik-baik saja?”

Roh personanya mengangguk pelan.

“Apakah bila aku melenyapkan pintu laknat ini aku bisa menghapus jejak hidup para Archana dan persona dari orang-orang yang mengenal kami? Termasuk menghapus jejak hidupku sendiri dari ayah dan ibuku?”

Lagi. Roh persona Jaejoong mengangguk pelan.

Jaejoong menangis ketika wajah ayah, ibu dan Yunhonya terbayang. Kedua jemari tangannya memegang erat pangkal Bloody Dagger yang kembali kewujudnya semula –belati perak.

“Ayah, ibu… aku mencintai kalian.” Air mata itu semakin deras membasahi wajah sembab Jaejoong, “Yunie, walau sangat singkat  tetapi aku pun sangat mencintaimu. Nado saranghae….”

Secepat kilat Jaejoong menancapkan Bloody Dagger di atas permukaan batu kali itu, pada permukaan hitam kasarnya terdapat sebuah gambar menyerupai tutup peti mati. Pada bagian itulah Jaejoong menancapkan belatinya, menimbulkan efek luar biasa. Gemuruh ledakan yang sangat memekakan telinga serta cahaya terang yang membumbung ke langit lantas memayungi seluruh kota Sunny dengan cahaya putih terang, lebih terang daripada cahaya matahari ditengah hari.

Lalu senyap.

<3 >>>#<<< <3

“Akibat gempa bumi yang terjadi semalam, icon kota Sunny, Tartarus Building mengalami kerusakan sangat parah bahkan nyaris tidak terselamatkan. Tartarus Building patah menjadi 2 hingga hanya 15 kantai paling bawah saja yang tersisa, sisanya hancur dan memporak-porandakan daerah sekitarnya. Saat ini pihak berwenang melakukan penutupan disekitar daerah runtuhnya Tartarus Building untuk menyelidiki kemungkinan adanya sebab lain yang menyebabkan gedung pencakar langit megah itu hancur. Terkait hal ini Wali Kota….”

“Astaga! Itu adalah resiko membangun gedung setinggi itu. Seperti sarang monster saja.” gerutu Kim Hyunjoong saat sedang mengunyah roti bakarnya sebagai sarapan sebelum berangkat kerja. Hidup sendiri di kota aneh karena tugas kerja memaksa pria berkaca mata itu memikirkan hal-hal aneh pula. “Kejadiannya sudah seminggu yang lalu tapi kenapa masih ditayangkan juga beritanya? Benar-benar kurang kreatif para wartawan itu.” gerutunya.

Usai menyelesaikan sarapannya, Pria berkaca mata yang sudah berkepala 4 itu berangkat kerja. Sama seperti hari-hari kemarin, Hyunjoong pun mengalami keganjilan pada hari ini. Rasanya ada yang hilang dalam hidupnya, membuatnya hampa dan sepi. Namun Hyunjoong tidak tahu apa yang hilang dari hidupnya. Pria berkaca mata itu menjalani hidupnya seperti biasa, berharap hal yang hilang itu akan kembali dengan sendirinya.

Walaupun tidak mungkin terjadi lagi….

<3 >>>#<<< <3

“Ayah, Ibu, Yunie…. aku mencintai kalian….”

<3 >>>#<<< <3

<3 >>>#<<< <3

<3 >>>#<<< <3

<3 >>>#<<< <3

<3 >>>#<<< <3

END

<3 >>>#<<< <3

<3 >>>#<<< <3

<3 >>>#<<< <3

<3 >>>#<<< <3

<3 >>>#<<< <3

Sunday, March 01, 2015

6:50:10 PM

Yuuki & Bea

.

.

.

Thoughts on “Dark Hours I”

nina : Karena Umma yeoppo? Sehat?

hardiantyloveyunjae : Annyeong <3 Sudah terjawab ne ;) Suprasegmental & Pembalasan Bidadari Hitam pending dulu ne ;) Yuuki kelarin Revenge dulu :D

diennha : Mwo? Jadi malu :) Hehehehehe…. Ini sudah ya :D Nado <3

trysya : Salam kenal juga :) Terima kasih sudah mampir.

mybabywonkyu : Gomawo Tante. Selalu :D

Meybi : Hehehe…. Gomawo :D

dbestfriend : Sudah terjawab ne ;)

Ade Jung : Selamat datang Yuuki :) Ehehehehehe…. Sudah ne ;)

rani : Monggo disantap :D

Kim Hyewon : #hugbalik. Ane bolak-balik Masuk RS Cint, penyakit lama kambuh dan butuh penanganan khusus #dihajar Hehehehehe :D

Rahmadina : Ne, kolab Yuuki & Bea. Gomawo. Silahkan disantap. Masih hangat ini :D

ayumi : Aneh semua seperti yang buat :D Hohohoho….

dewiyasmin15 : Sudah :D

hime yume : Done. Yuuki emang lama ga buat fantasy. Kondisi tidak memungkinkan :’(

minamikz : Sudah :D

Terima kasih juga yang sudah mampir di epep “Bingkai Cerita Yunho”, malas mikir judul jadi dikasih judul begitu saja :D V.

Tetap jaga kesehatan ne :D

Bingkai Cerita Yunho

Tittle                : Bingkai Cerita Yunho

Writer               : NaraYuuki

Betta Reader     : Hanabusa Hyeri

Genre               : Romance/ Family

Rate                 : T

Cast                 : All member DBSK and others (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan). Disclaimer:        : They are not mine but this story,Jung Hyunno and Park Hyunbin are mine, NaraYuuki

Warning           : This is YunJae Fan Fiction (Boys Love), M-Preg. Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut. Paragraf/ dialog yang penulisannya menggunakan Blod, Italic ataupun under line berarti itu adalah kejadian dimasa lampau (flash back) TANPA EDIT.

.

.

CYMERA_20150222_065726

.

.

“Hoi Yun, kau tidak iri pada kakakmu?” tanya Yoochun suatu siang yang terik di musim panas yang menyengat.

Butuh waktu sesaat untukku berpikir, “Kenapa harus iri? Aku jauh lebih tinggi dan tampan daripada dia.”

Yoochun mengangguk perlahan, “Tapi dia terlihat lebih dimanja daripada kau.”

Benar. Dia memang lebih dimanja daripada aku dan Changmin walaupun dia hanyalah anak dari hasil pernikahan ayah dengan mendiang istri pertamanya. Ibuku bahkan lebih mencintainya daripada aku dan adikku. Namun secuil pun kami tidak pernah iri padanya, karena kakakku tidak akan berumur lama.

“Hei, Yun…. Bagaimana kalau dimasa depan nanti aku menjadi kakak iparmu?”

Aku berdecih meremehkan. “Kau butuh cermin?”

“Tidak, terima kasih. Aku punya banyak di rumah.”

Hanya senyum yang bisa ku perlihatkan ketika aku mengenang kejadian pada musim panas 14 tahun lalu ketika aku masih berusia 15 tahun. Apa kabarnya Yoochun sekarang? Yang ku dengar dia sudah menikah dengan teman SMAnya dan memiliki seorang putri. Kami berpisah usai libur musim panas berakhir karena keluargaku pindah ke Ibu kota agar kakakku mendapat perawatan terbaik.

Hyung seperti orang gila. Tersenyum sendiri sambil menatap langit yang muram.” Changmin yang satu bulan lalu pulang dari Jepang setelah menyelesaikan program pasca sarjananya karena mendapatkan beasiswa dari pemerintah mendudukkan dirinya di kursi yang berada di sampingku.

“Aku merindukan kampung halaman kita.”

Changmin membenahi selimutku. Adikku yang kini sudah menjadi dokter spesialis penyakit dalam itu menatap kasihan padaku walaupun aku tahu dia tidak bermaksud begitu.

Hyung merindukan kampung halaman atau dia?”

Suara Changmin yang terdengar agak ketus itu membuatku tersenyum, “Tanpa ku beri tahu pun kau pasti mengerti.”

Changmin mencibir, “Segeralah sembuh agar kau bisa segera pulang kampung, Hyung!”

Aku tersenyum simpul. Radang tenggorokan yang menyerangku sejak 3 hari lalu membuatku tumbang dan terpaksa bed rest untuk sementara.

Tiga tahun lalu terjadi sebuah insiden yang membuat keluargaku sedikit berantakan. Ibu yang murka memilih meninggalkan kami semua dan menetap di kampung halaman kami. Sebuah desa kecil di pesisir pulau Jeju.

Aku merindukan semuanya, aroma laut yang bercampur rerumputan hijau, aroma matahari yang menenangkan, ibu yang ku rindukan dan dia yang ku cintai. Ah, aku pun merindukan Yoochun. Aku ingin bertemu dengan keluarga kecilnya dan berharap bisa mempunyai keluarga kecilku sendiri secepatnya.

“Daripada berhayal terus lebih baik segera minum obatmu, Hyung!”

“Apa kau pikir ibu bisa memaafkanku?”

Changmin mendesah berat, “Ibu sedikit keras kepala. Tapi bukan berarti ibu tidak akan memaafkanmu, Hyung. Bergantung caramu melunakkan hati ibu.”

Aku kadang iri pada ayah. Ayah sangat sabar dan suka mengalah berbeda dengan ibu yang memiliki sikap keras kepala dan sedikit kaku, tidak suka dibantah. Sialnya aku dan Changmin sama-sama mewarisi sifat jelek ibu. Namun bukan berarti aku tidak menyayangi ibu, aku sangat mencintai ibu karena ibu sudah susah payah mengandung dan melahirkanku, membesarkanku penuh kasih dan kesabaran walaupun pada kenyataannya aku sudah mengecewakannya.

Ku lirik jendela kaca berembun di seberang ranjang yang kini sedang ku tiduri, terlihat gumpalan salju yang menutupi seluruh dahan dan cabang pepohononan yang terlihat seperti jemari nenek sihir. Januari bersalju. Sangat dingin….

“Jangan murung begitu, Hyung!” tegur Changmin. “Segeralah sehat agar kau bisa segera bertemu dengan dia.”

“Dia pasti akan marah karena aku tidak datang pada hari ulang tahunnya kemarin.” aku tidak tahu sejelek apa wajahku ketika mengucapkannya namun dari dalam lubuk hatiku aku benar-benar menyesal. Penyesalan yang entah bagaimana caranya akan bisa ku tebus.

“Bawakan dia coklat atau barang yang diinginkannya.”

“Dia tidak seperti yang lain. Cara berpikirnya sedikit lebih unik daripada orang kebanyakan. Dia akan membuang berlian seandainya aku memberikan benda itu padanya.”

“Berikan benda lain kalau begitu.”

“Akan ku pikirkan benda apa yang mungkin bisa menyenangkan hatinya.”

<3 <3 <3 <3 <3

Awal Februari, tentu saja masih dingin bulan Desember dan Januari walaupun butiran salju yang mencumbu tanah sudah sedikit mencair. Kadang-kadang matahari bersinar walaupun cukup redup tetapi matahari yang redup pun bisa sedikit menghangatkan badan dan hati yang menggigil kedinginan.

Ku tatap penuh kerinduan sebuah bangunan rumah tradisional klasik namun elegan dengan segala daya tarik yang dimilikinya. Ku biarkan supir taksi menurunkan koper, tas dan beberapa bungkus kantong plastik berukuran sedang sampai besar. Dengan penuh semangat ku tekan bel pintu beberapa kali sebelum seorang pelayan keluar dan membukakan pintu yang terbuat dari kayu jati dan dilapisi cat warna serupa yang mengkilat, membuat pintu besar lagi tebal itu terlihat indah.

“Dimana ibuku?” tanyaku.

“Nyonya besar sedang ke pasar membeli ikan, Tuan.”

Aku mengangguk pelan, usai membayar ongkos taksi aku meminta pelayan membantuku membawa barang-barangku, tanganku tidak akan cukup untuk membawanya sendirian. Memasuki halaman rumah, ku lihat beberapa pohon yang kering –bukan karena mati melainkan karena suhu dingin yang membekukan mereka. Tidak ku lihat bunga dan rerumputan hijau yang biasanya menghiasi rumah bergaya tradisional yang sangat ibuku sukai ini. Cuaca sedang mengubur mereka sekarang. Aku membelok ke arah kanan, menyusuri jalan berbatu yang terbuat dari susunan bebatuan alam yang dipahat sedemikian indahnya. Aku menggeser salah satu pintu, memasukinya dan merasakan hangat dari pemanas ruangan menyambutku dengan riang.

“Dimana dia?”

“Ah, sedang jalan-jalan Tuan. Sebentar lagi pasti pulang.”

“Terima kasih. Kau boleh melanjutkan pekerjaanmu lagi.”

Suara pintu yang ditutup tidak menyurutkan langkahku untuk pergi ke sudut ruangan, di sana ku lihat foto itu masih terpajang dengan apiknya. Foto seorang namja cantik yang duduk di atas kursi roda dengan selang infus tertancap di tangan kanannya. Ku ingat foto itu diambil ketika musim semi saat usianya 18 tahun ketika keadaannya memburuk. Kondisi tubuhnya yang memiliki imun sangat rendah membuatnya sering jatuh sakit. Minimal 5 kali dalam sebulan dia dilarikan ke rumah sakit. Keadaan seperti itu membuatnya tidak bisa menikmati masa remaja dengan semestinya, ia terjebak dengan kondisi tubuhnya yang lemah, kasihan sekali karena dia tidak pernah bisa merasakan bagaimana rasanya pergi ke sekolah, memakai seragam, bolos dan sengsaranya harus mengikuti pelajaran tambahan sampai tengah malam. Dia hanya belajar dari guru yang sengaja dipekerjakan ayah untuk mengajarinya membaca dan berhitung, dia kakakku, Jung Jaejoong.

Srak!

Suara pintu digeser dengan sangat kasar membuyarkan lamunanku, ku alihkan pandanganku menuju mulut pintu. Aku tersenyum ketika dia berlari dengan sangat tergesa menuju ke arahku, memeluk kakiku dengan sangat erat.

“Hai, merindukanku?”

Appapapa….” celotehnya.

Ku jongkokkan kakiku agar tingguku bisa sejajar dengannya, ku ciumi wajahnya hingga dia kegelian sebelum akhirnya ku dekap tubuh mungilnya erat namun tidak akan menyakitinya. Aku terlalu takut, takut pelukanku melukainya, meremukkan tulangnya.

Dia, Jung Hyunno. Putra semata wayangku. Cucu pertama dan satu-satunya yang dimiliki oleh keluarga, Jung.

Walaupun kelahiran Hyunno membuat keluargaku terpecah namun aku tidak menyesali kelahirannya, keluargaku pun tidak membencinya. Mereka mencintainya sama seperti cintaku padanya. Bagiku dia adalah anugrah dan harta yang lebih berharga dari apapun.

Usinya 27 bulan. Hyunno sudah bisa membedakan warna, angka dan hurub abjad. Ketika dia ditanya nama buah atau binatang dia bisa membedakannya dengan cara menunjuk gambar yang dimaksud. Hyunno pun sudah menguasi beberapa kosa kata bahasa asing, ibu mulai mengajarkan bahasa Jepang dan inggris ketika dia berusia 14 bulan. Sebuah obsesi konyal. Ibu ingin Hyunno seperti pamannya, Changmin yang sekolah di luar negri.

Sejujurnya aku sedikit takut dengan kecerdasan putraku. Hyunno memang cerdas namun dia sedikit susah untuk bicara. Hyunno hanya mau berbicara dengan orang-orang yang sudah dikenalnya, ketika dia diajak jalan-jalan sekitar rumah, bertemu dengan orang yang menyapanya, Hyunno memilih diam dengan dunianya sendiri. Aku mencoba berkonsultasi pada dokter spesialis anak tentang perilaku putraku, dokter itu berkata hal itu wajar mengingat Hyunno lahir prematur, terapi musik bisa membantunya mengekspresikan dirinya, membantunya agar lebih aktif bicara. Aku masih ingat jelas kepanikanku ketika usia Hyunno menginjak 18 bulan, dimana seorang anak harusnya sudah mulai berbicara minimal mengucapkan satu kata namun Hyunno tidak mau mengatakan apa-apa. Yah, itu hanyalah kepanikan kecil orang tua yang menghawatirkan putranya. Ku rasa hal itu wajar dan dialami oleh semua orang tua.

Appapapapapa….” Dengar bagaimana caranya memanggilku? Sedikit aneh tapi aku menyukainya.

Aku tersenyum, ku gendong dia dalam buaianku. Miniatur Jung Yunho, begitulah ayah dan Changmin mendeskripsikan Hyunno. Wajahnya sangat mirip denganku kecuali warna kulitnya yang pucat dan bola matanya yang hitam legam. Ku ajak dia berjalan menuju arah pintu dimana didekat sana teronggok tas, koper dan bungkusan yang ku bawa dari rumahku yang ada di Seoul.

Tangannya mengapai-gapai tidak sabar, sesekali tangan mungilnya memukul-mukul wajahku agar aku bisa berjalan lebih cepat. Begitu sampai ditempat tujuan kami dia nyaris melompat dari gendonganku andai aku tidak memeganginya.

“Kalau Unno seperti ini nanti Unno jatuh. Kalau Unno jatuh nanti Ayah yang dimarahi nenenk.” ucapku mencoba memberinya pengertian yang tentu saja tidak didengarnya. Benda yang menyembul dari kantong plastik besar itu sudah terlanjur dikunci oleh mata polosnya.

Perlahan dan dengan sangat hati-hati ku turunkan dia dari gendonganku, ku biarkan jemari kecilnya mengoyak bungkus plastik untuk mengambil benda yang sangat disukainya itu, sebuah buku cerita bergambar. Berbeda dengan anak seusianya yang suka pada mainan robot-robotan ataupun mobil-mobilan, putraku lebih menyukai buku cerita bergambar dan buku berhitung bergambar, karena itu ku bawakan dia benda-benda yang sangat disukainya itu.

“Ayah membawa kartu bergambar hewan. Unno mau lihat?” tanyaku yang tentu tidak akan pernah dianggapnya. Dia sudah asyik dengan dunianya, membuka-buka halaman buku bergambar yang diambilnya dari kantong plastik.

“Kapan kau datang?”

Aku menoleh ketika ibuku sudah berdiri di mulut pintu sambil membawa segelas susu. “Baru saja.” jawabku.

“Ibu akan menyiapkan makanan untukmu. Kau pasti lapar, kan? Istirahat dulu!”

Ku terima segelas susu yang ibu ulurkan padaku, tanpa berkata apa-apa ibu segera berlalu dari hadapanku. Sepertinya ibu masih marah padaku.

“Unno, minum susu dulu ne.”

Yang ku bujuk hanya menggelengkan kepalanya kuat-kuat sambil terus memperhatikan buku cerita bergambarnya. Aku tidak berniat memaksanya sehingga ku letakkan saja gelas susu itu di atas meja lipat kecil yang berada di dekatku. Memaksa Hyunno melakukan sesuatu sama saja memanggil bencana. Putraku tidak suka dipaksa, sekali dia menolak dia akan tetap menolak, bila ada yang memaksanya dia akan mengamuk dan melempar apa saja yang berada didekatnya.

Ummamamama….” gumamnya. Aku mendekatinya, mengamati buku cerita bergambar yang tengah ditatap serius olehnya.

Gambar seekor bayi beruang yang sedang tidur terlelap bersama ayah dan ibunya. Bibirku menarik senyuman, ku usap kepalanya perlahan. Putraku pasti merindukan ibunya. Tentu saja. Aku pun yang sedang dicampakan ibuku tetap merindukan wanita yang sudah melahirkanku itu, apalagi anakku?

“Kalau Unno meminum susu Unno, Ayah akan mengajak Unno menemui ibu.” lirihku sambil memeluknya dari belakang.

<3 <3 <3 <3 <3

Kepalanya terkulai pada bahuku ketika aku berjalan menyusuri jalan setapak menuju perbukitan sambil menggendongnya. Angin yang berhembus dari laut serta cuaca yang agak dingin membuatnya mengantuk, kebetulan sekarang memang waktunya untuk tidur siang. Suara ombak yang mencumbu permukaan tebing di bawah sana terdengar sangat nyaring. Kadang aku berpikir bagaimana ikan-ikan yang hidup di laut lepas bisa bertahan hidup ditengah gempuran cuaca sedingin ini. Tidak ada rumput ataupun bunga liar yang tumbuh disepanjang sisi jalan, padahal ketika musim semi tempat ini terlihat sangat cantik dan indah. Di tempat inilah dulu aku sering menghabiskan waktu liburku bersama Yoochun yang adalah putra dari pemilik tempat ini.

Atap bangunan itu mulai terlihat, suara tawa dan pekik kegembiraan anak-anak mulai terdegar nyaring. Aku menduga-duga kemungkinan Yoochun sedang berada di sini. Ku harap begitu karena sudah cukup lama kami tidak bersua.

Hyunno yang sebelumnya disergap kantuk tiba-tiba menegakkan kembali tubuhnya ketika mata kecilnya menatap layang-layang aneka warna menghiasi langit kelabu. Anak-anak memang luar biasa, dicuaca yang sangat dingin seperti ini mereka masih bermain diluar ruangan tanpa memedulikan hawa dingin yang menyiksa.

“Unno mau layang-layang? Akan Ayah buatkan kalau Unno mau.”

Putraku yang tampan itu hanya menatapku sesaat sebelum mengalihkan matanya memandang layang-layang lagi hingga akhirnya menggeleng pelan.

Mengabaikan anak-anak yang bermain layang-layang, berkejaran serta yang tengah menggambar di atas permukaan tanah kering beku, aku terus berjalan hingga memasuki bangunan besar itu, satu-satunya bangunan di bukit.

“Hallo Hyunno….” Seorang remaja yang ku kira berusia 14 tahun menghampiriku dan mencubit gemas pipi gempal (chuby) putraku, Hyunno mengaduh pelan.

“Apa Yoochun ada di sini?” tanyaku.

“Paman Yoochun dan istrinya sedang berbelanja. Tapi Hyunbinie sedang bermain boneka bersama yang lain.” remaja itu menunjuk sebuah ruangan tanpa pintu, di dalam sana ku lihat beberapa anak sekitar umur 3-5 tahun sedang bermain boneka.

“Hyunbinie?”

“Park Hyunbin, anak Paman Yoochun dan istrinya.”

“Ah….” Aku mengangguk paham, “Siapa nama istrinya?”

“Kim Junsu.”

“Dimana ruang makannya?”

Remaja itu menyebutkan arah mana yang harus ku ambil untuk sampai ke ruang makan. Keluarga Yoochun –ayah dan ibunya mengabdikan diri untuk mengelola sebuah rumah penampungan anak yang tidak lagi mempunyai orang tua. Aku menyebutnya panti asuhan tetapi mereka menolak sebutan itu karena menurut mereka panti asuhan terdengar sedikit menyedihkan. Keluarga Yoochun memiliki pabrik pengolahan ikan yang cukup besar dan sukses, dari situlah mereka bisa mengelola tempat ini dengan baik bahkan menyekolahkan anak asuh mereka sampai kuliah. Alumni yang sudah keluar dari sini dan membentuk keluarga sendiri biasanya akan memberikan bantuan berupa dana, makanan, barang kebutuhan sehari-hari ataupun sekedar tenaga sebagai upaya balas jasa walaupun aku yakin keluarga Yoochun sama sekali tidak mengharapkan balas jasa.

Yang dimaksud ruang makan adalah deretan meja kursi yang berjajar memenuhi aula luas yang ku kira mampu menampung sekitar 500 orang, pada salah satu sudut ruangan terdapat meja panjang yang di atasnya sudah diletakkan tumpukan piring, baki berisi bergelas-gelas susu, nasi putih, sayur dan lauk yang jumlahnya sangat banyak, tentu saja mengingat banyak yang makan. Secara harfiah ruang makan ini mirip kantin yang berada disekolah-sekolah.

Hyunno meronta turun, tentu saja aku menurunkannya agar dia tidak melompat dari gendonganku. Begitu kakinya menapaki lantai, putraku itu segera berlari dan memeluk kaki seseorang yang sedang menuangkan susu hangat ke dalam gelas. Aku tersenyum melihatnya.

Berani bertaruh saat ini mataku pasti berkaca-keca ketika menyaksikan pemandangan itu dengan mata kepalaku sendiri bagaimana interaksi antara putraku dengan dia, orang yang sudah melahirkan Hyunno ke dunia ini, ‘istriku’, Jung Jaejoong.

Karena inilah ibu marah padaku dan meninggalkan rumah, karena inilah keluargaku berantakan 3 tahun kebelakang, karena aku menikahi Jung Jaejoong.

Jaejoong adalah anak ayah dengan mendiang istri terdahulunya, aku adalah anak ibu dengan mantan suaminya sebelumnya berbeda dengan Changmin yang merupakan anak kandung ayah dan ibu setelah mereka menikah. Jaejoong lahir beberapa hari lebih dahulu sebelum aku karena itu selama ini aku dipaksa memanggilnya kakak. Secara teknis kami bukan saudara sedarah sehingga aku berpikir tidak masalah seandainya aku jatuh cinta padanya –sejujurnya seumur hidupku aku tidak pernah mencintai orang lain selain dirinya. Diam-diam kami menjalin hubungan rahasia hingga hubungan kami lebih intim dan serius sampai Jaejoong mengandung Hyunno.

Mengandung dengan kondisi tubuh lemas dan sakit-sakitan seperti itu jelas sangat berbahaya baginya hingga aku sempat memintanya menggugurkan buah cinta kami. Jaejoong marah besar saat itu hingga rasanya aku memilih mati daripada mendapati dia mendiamkanku selama berhari-hari. Sampai akhirnya ayah dan ibu tahu soal kehamilan Jaejoong dan hubungan kami. Satu minggu lamanya ibu menangis dan mengurung dirinya di dalam kamar –ibu sangat mencintai Jaejoong melebihi cintanya padaku dan Changmin. Ayah, walaupun dengan berat hati namun tetap membiarkan ku menikahi Jaejoong. Setelah pernikahan yang hanya dihadiri oleh keluarga saja, Jaejoong dilarikan ke rumah sakit karena tubuhnya kembali lemah, dokter menyarankan untuk aborsi karena bisa membahayakan bukan hanya janin melainkan ibunya juga namun Jaejoong menolak dan berkeras melahirkan bayi kami. Dibulan ke-8 pasca kehamilannya, Jaejoong melahirkan Hyunno walaupun setelah itu selama 2 hari lamanya Jaejoong koma.

Begitu keadaannya membaik dan stabil, ibu membawa Jaejoong dan putra kami pindah ke Jeju. Aku dilarang ikut karena menurut ibu aku harus dihukum atas tindakan asusila yang ku lakukan terhadap Jaejoong. Andai ibu bisa mengerti bahwa kami melakukannya atas dasar cinta. Tapi tidak apa-apa karena sekarang aku diperbolehkan menemui putraku, tidak apa-apa walau ibu masih marah padaku. Setidaknya aku tahu bahwa ibu melakukan itu semua karena sayangnya pada kami.

“Datang dengan siapa, eoh? Nenek?”

Appapapapa….”

Rasanya bahagia luar biasa saat mata sehitam mata rusa itu menatap ke arahku. Tanpa menunggu apapun ku hampiri dia, ku peluk dan kuciumi wajahnya sebagai ungkapan rinduku.

Bogoshipo, Boo….”

<3 <3 <3 <3 <3

Sama seperti musim panas 14 tahun lalu, aku duduk di teras bangunan bersama Yoochun. Bila 14 tahun lalu kami menikmati teriknya musim panas kini kami menikmati muramnya penghujung musim dingin.

“Kau menikahinya? Luar biasa. Sungguh sangat tidak terduga.”

Aku tersenyum, “Cinta tidak buta walaupun cinta tidak memilih kepada siapa ia akan berlabuh.”

Yoochun berdecak.

“Putrimu sangat cantik.”

“Aku tidak berniat menjadi besanmu!”

Dengan malas ku lirik Yoochun, “Putrimu bahkan lebih tua daripada anakku.”

Yoochun tertawa.

Walau angin dingin berhembus cukup kencang namun aku tetap merasa hangat bias berada bersama istri dan anakku serta sahabat yang lama tidak kujumpai. Jaejoong sedang menimang Hyunno dalam buaiannya agar putra kami segera terlelap usai meminum susu. Ada sebuah hikmah dalam setiap kesulitan, itu yang ku rasakan usai Jaejoong melahirkan Hyunno. Kondisi tubuhnya yang dulu lemah dan sedikit sakit-sakitan kini sudah lebih baik. Jaejoong tidak lagi menjadi langganan rumah sakit. Kalaupun sakit Jaejoong hanya terkena flu dan demam biasa. Benar-benar berkah untukku.

“Hyunno sepertinya sudah mengantuk.” Aku beranjak dari dudukku, “Kalau ada waktu berkunjunglah ke rumahku!”

“Tentu saja.”

Usai menyalami Yoochun, aku mengambil alih Hyunno kedalam gendonganku dan mengajak Jaejoong pulang. Sesuai perjanjian kami sebelumnya, Jaejoong hanya ku perbolehkan membantu sampai pukul 2 siang setelah itu pulang untuk mengurus putra kami. Udara semakin dingin ketika kami berjalan menuruni bukit menuju tempat parkir yang berada di kaki bukit. Walau aku harus bersabar sampai ibu memaafkan tindakan gilaku setidaknya ada kelegaan dalam hatiku, kelegaan karena bias berada diantara orang-orang yang ku sayangi.

“Yun, tiba-tiba aku ingin makan cumi-cumi bakar.”

“Kita bisa membelinya dalam perjalanan pulang nanti.” Ku genggam tangannya agar perasaan hangat itu menjalar sampai hatinya. Aku tidak tahu bila hidupku akan seperti ini akhirnya, aku hanya bisa menjalani hidupku sebaik-baiknya walaupun apapun yang menungguku didepan. Dukungan keluarga adalah yang terpenting dan aku beruntung karena mempunyai keluarga yang mencintaiku apa adanya.

<3 <3 <3 <3 <3

<3 <3 <3 <3 <3

<3 <3 <3 <3 <3

<3 <3 <3 <3 <3

<3 <3 <3 <3 <3

TBC

<3 <3 <3 <3 <3

<3 <3 <3 <3 <3

<3 <3 <3 <3 <3

<3 <3 <3 <3 <3

<3 <3 <3 <3 <3

Pulang dari RS tiba-tiba pengen ngetik, jadi cerita ini. Walaupun ga bagus tapi semoga bisa bermanfaat.

Tetap sehat ya!

<3 <3 <3 <3 <3

<3 <3 <3 <3 <3

<3 <3 <3 <3 <3

<3 <3 <3 <3 <3

<3 <3 <3 <3 <3

Sunday, February 22, 2015

6:46:58 AM

NaraYuuki

Dark Hours I

Tittle                : Dark Hours (Two Shoot)

Writer               : NaraYuuki & Jae Sekundes

Betta Reader     : Hanabusa Hyeri

Genre               : Modern Fantasy/ Supranatural/ Romance/ Angst (dikit)

Rate                 : -M

Cast                 : Member DBSK and Other friends

Disclaimer:       : Semua Chara milik individu bersangkutan, cerita ini punya Yuuki & Bea

Warning           : This is a Yaoi Fan Fiction (Boys Love). Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut.

.

.

NaraYuuki Dark Hour and Jae Sekundes

.

.

Terinspirasi dari Game Persona 3 Kesukaan Bea aka Jae Sekundes :p

.

.

.

.

.

Jaejoong siswa pindahan dari kota tetangga karena ayahnya mendapatkan tugas dari pejabat pemerintah untuk menyelidiki fenomena dark hour yang terjadi di kota Sunny. Kota Sunny merupakan kota istimewa sekaligus aneh. Istimewa karena memiliki menara kristal yang sangat tinggi berbentuk seperti pohon natal yang digunakan sebagai gedung sekolah, aneh karena setiap pukul 00.00-03.00 dini hari terdapat fenomena tidak lazim yang terjadi di kota Sunny yang diberinama dark hour oleh warga setempat. Dark hour sendiri merupakan fenomena yang menyebabkan langit menjadi berwarna hijau, bulan terlihat hijau, air berubah menjadi sewarna darah. Terlepas dari semua itu yang paling mngerikan adalah kejadian yang menimpa para manusia yang masih berada di luar rumah ketika dark hour terjadi, para manusia itu akan secara otomatis berubah menjadi peti mati dan baru kembali normal setelah dark hour terlewati. Hal aneh lainnya yang Jaejoong baca dari situs resmi pemeritah yang sangat rahasia adalah mengenai rumors kota Sunny adalah kemunculan makhluk yang oleh masyarakat setempat diberi nama Shadow dan Arcana. Membayangkan ayahnya akan menyelidiki kasus aneh ini membuat Jaejoong merinding, terlebih teman sekolah barunya yang menurutnya sedikit aneh, Jaejoong melihat mereka ketika mendaftar sekolah kemarin.

“Kata Ayah menara tinggi aneh itu bernama Tartarus?” mata sebening mutiara rusa betina itu menatap sinis pada bangunan berbentuk seperti pohon natal yang menjulang tinggi, sangking tingginya hingga terlihat seperti menembus langit. “Bukankah itu nama yang aneh untuk sebuah gedung sekolahan? Tartarus Building High School? Terdengar seperti nama monster berlendir yang sangat menjijikkan.” sinisnya.

Tartarus

Yah Kim Jaejoong! Ayah tidak pernah mengajarimu bicara seperti itu!” Kim Hyunjoong, pria berkaca mata yang sibuk dengan stirnya itu melirik putra semata wayangnya yang kadang bisa sangat bermulut pedas. “Berhentilah bermain game dan membaca komik. Sepertinya dua hal itu sedikit mengubah pribadimu.”

“Ayah memaksaku ikut ketempat antah-berantah yang sangat aneh dan mengerikan ini, memaksaku berpisah dengan teman-temanku, membuatku tidak bisa lagi bertemu dengan ibu.” ucap Jaejoong, “Semuanya salah Ayah!”

Hyunjoong melirik putranya sesaat sebelum kembali fokus pada jalan raya yang pagi ini sangat padat. “Ibumu sudah menikah dan sebentar lagi akan melahirkan anak dari suami barunya. Kau pikir Ayah akan membiarkanmu tinggal dirumah yang tidak akan menyediakan kasih sayang untukmu?”

Jaejoong mencibir dan melirik malas pada ayahnya.

Wae? Jangan melihatku seperti itu, Anakku!” keluh Hyunjoong yang sudah hapal betul dengan kebiasaan putranya bila kalah dalam perdebatan mereka. Kebiasaan yang muncul sejak dirinya bercerai dengan Ibu Jaejoong sepuluh tahun lalu.

Jaejoong menurunkan kaca mobilnya, membiarkan angin pagi yang sedikit dingin itu membelai wajahnya. Jaejoong malas berdebat dengan ayahnya mengingat karena ayahnyalah dirinya terpaksa pindah ke kota yang menurutnya sangat aneh ini. “Biasanya yang menjadi hiasan sebuah gedung sekolah adalah pamflet ataupun poster raksasa yang bertuliskan moto institut pendidikan bersangkutan. Tapi kenapa Tartarus Buliding High School itu justru dihiasi kristal raksasa yang snagat mencolok seperti itu? Tidakkah itu aneh? Bagaimana kalau ada perampok yang membajak gedung untuk mengambil kristal itu? Tidakkah itu menjadi masalah?”

Hyunjoong mengusap kepala Jaejoong perlahan. “Kau bisa menanyakannya pada teman-teman barumu, wali kelas barumu, gurumu yang baru atau bahkan kepala sekolahnya.”

“Berhenti memperlakukanku seperti anak kecil, Ayah!” keluh Jaejoong.

“Sebentar lagi kita sampai. Tersenyumlah!” ucap Hyunjoong ketika semakin lama mobil yang dikendarainya semakin mendekati gedung bernama Tartarus itu. Dari Dekat gedung itu terlihat sangat megah dan indah, sangat tinggi hingga terlihat seolah-olah menembus cakrawala.

“Aku berharap tidak pernah sampai ke sana!”

Yah! Mana boleh bicara seperti itu? Dasar!”

<3 >>>#<<< <3

“Tan Hankyung, Kepala Sekolah. Kim Heechul wakil kepala sekolah sekaligus wali kelas 3-5, kelas VIP hanya berisi 14 orang ber-IQ diatas 200 saja merupakan kelas yang…” gumam Jaejoong yang sedang membaca papan pengumuman di depan pintu masuk gedung Tartarus sambil menunggu ayahnya yang sedang memarkirkan mobil di halaman samping yang difungsikan sebagai tempat parkir.

“Kau Kim Jaejoong? Murid baru itu?”

Jaejoong tersentak kaget dan mundur beberapa langkah ketika seorang pemuda tampan lagi gagah yang sedikit lebih tinggi darinya dan memiliki mata setajam mata musang peliharaan sahabatnya yang bernama Jihan itu menyapa dirinya.

“Ah, maaf mengejutkanmu.” Pemuda yang memakai seragam sama seperti yang Jaejoong pakai itu mengulurkan tangan kanannya, “Namaku Jung Yunho. Aku adalah ketua kelas 3-5 sekaligus ketua OSIS Tartarus High School.”

Ragu-ragu Jaejoong menjabat tangan pemuda yang ternyata sebaya dengannya itu, “Ne…. Kim Jaejoong. Sepertinya itu masih namaku sampai saat ini.”

“Ternyata kau lucu juga….” Yunho tersenyum, membuat matanya nampak serupa bulan sabit. “Ayo ku ajak berkeliling! Heechul seosengnim sudah menunggu kedatanganmu.”

“Heechul seosengnim?” tanya Jaejoong yang sepertinya pernah membaca nama Heechul sebelumnya.

“Heechul seosengnim sangat suka dengan wajah androgini sepertimu ini. Jadi berhati-hatilah….” bisik Yunho.

“Ah!” Pekik Jaejoong yang teringat siapa sebenarnya Heechul. “Apakah yang kau maksud Heechul seosengnim itu….”

Ne. Kim Heechul, wakil kepala sekolah sekaligus wali kelas kita yang juga menjabat sebagai istri kepala sekolah.”

“Eh? Istri kepala sekolah? Satu kelas?”

“Akan ku tunjukkan kelas kita padamu!” tanpa sungkan Yunho menarik tangan Jaejoong.

“Hei tunggu! Tunggu dulu! Aku sedang menunggu ayahku!” pekik Jaejoong ketika Yunho terus menariknya memasuki gedung Tartarus. “Dan apa maksudnya satu kelas? Jelaskan padaku!”

<3 >>>#<<< <3

Jaejoong melirik gelisah isi kelas barunya yang terdiri dari 16 orang saja, satu orang guru perempun sedang menjelaskan tentang logaritma di depan kelas sedangkan 15 sisa lainnya berstatus murid termasuk dirinya. Jaejoong tidak pernah menduga sebelumnya bahwa dirinya akan dimasukkan ke dalam kelas 3-5, kelas VIP yang kesemua siswanya memiliki IQ diatas 200. Seingat Jaejoong dirinya tidak memiliki IQ setinggi itu. Yang Jaejoong herankan, tidak satu pun siswa di kelas 3-5 yang memperhatikan penjelasan dari seosengnim. Kesemua siswa termasuk dirinya sibuk dengan urusan masing-masing. Bila Jaejoong sibuk mengamati isi kelas barunya, teman-teman barunya justru melakukan hal-hal yang tidak dia duga sama sekali. Ada yang melukis di atas buku gambar dengan krayon seperti anak TK, ada yang bermain game, membaca komik dan novel bergantian, ada yang makan, ada yang bermain dengan handphone dan laptop mereka, ada yang minum teh, ada yang merajut dan menjahit telinga boneka beruang, ada yang mendengarkan musik melalui head set, ada yang menari di pojok ruang kelas, bahkan Jung Yunho yang tadi menarik paksa Jaejoong ke kelas pun sibuk mengelap pedang anggar miliknya.

“Kau juga bisa melakukan apa yang kau suka.” ucap seorang perempuan yang Jaejoong ketahui bermana Melanie Lee. Melanie begitu tadi Yunho mengenalkannya pada Jaejoong itu sedang menuangkan teh ke atas gelas yang berada di depan sebuah boneka barbie. “Kau suka suka memasak, kan? Minta saja pada Chulie seosengnim untuk memasangkan kichen set di kelas. Chulie seosengnim sangat menyukaimu, ku rasa dia tidak akan menolaknya bila kau memintanya.”

Jaejoong hanya tersenyum kaku mendengar penuturan Melanie. Benarkah bila dirinya meminta kichen set pada wali kelasnya itu akan diberikan? Terdengar tidak masuk akan bagi Jaejoong.

“Aku tahu kau suka memasak. Kau tahu? Aku bisa membaca pikiran semua orang di dalam kelas ini.” tambah Melanie. “Seosengnim di depan sana sebenarnya sangat marah dan kesal pada kelas kita tapi tidak bisa melakukan apa-apa karena kelas kita sangat istimewa.”

“Berhenti mengganggunya, Melanie!” Juliane Alfieri itu berujar namun tidak melepaskan perhatiannya dari telinga boneka beruang yang sedang dijahitnya. “Jaejoong sshi adalah tanggung jawab Yunho! Biarkan Yunho yang memberi tahu semua yang boleh diketahuinya, jangan ikut campur atau kau akan dihukum!”

“Ah, aku lupa. Terima kasih karena sudah mengingatkanku, Juli.” sahut Melanie yang kemudian meminum tehnya.

Jaejoong menautkan alisnya. Jaejoong berpendapat, satu bulan bergaul dengan anak-anak yang menurutnya aneh ini bisa membuatnya masuk rumah sakit jiwa.

Jung Yunho, Park Yoochun, Kim Junsu, Shim Changmin, Melanie Lee, Juliane Alfieri, Lee Minji atau yang sering disapa Minsoa, Lee Sung Jong, Lee Byun Hun yang sering dipanggil dengan nama L Joe, Tia Cuevas, Lee Jeong Min, Ahn Niel, Jung Jessica dan Meng Jia adalah nama-nama teman sekelas Jaejoong yang entah kenapa bisa diingatnya dengan mudah ketika tadi Yunho mengenalkannya satu per satu pada mereka. Melihat apa yang teman sekelasnya lakukan membuat Jaejoong kembali berpikir bahwa keberadaannya di kelas 3-5 adalah sebuah kesalahan. Dan mungkin saja Jaejoong harus segera bicara soal ini pada kepala sekolah sebelum dirinya benar-benar gila.

<3 >>>#<<< <3

“Chulie seosengnim adalah kakak dari ‘ibu’ Jung Yunho.” ucap Jia yang dengan senang hati menemani Jaejoong makan di kantin Tartarus yang lebih mirip restoran hotel bintang 5.

“Eh?” Jaejoong nyaris menyemburkan milk shake yang sedang diminumnya. Jung Yunho adalah keponakan wali kelas mereka? Benarkah?

“Jung Siwon, ayah Yunho dan Kim Kibum, ibu Yunho adalah pemilik saham terbesar di Tartarus ini.” Jia menunjuk lukisan dua orang yang dipajang pada salah satu sisi dinding kantin.

“Ah… kini aku mengerti kenapa Jung Yunho bisa setampan itu.” gumam Jaejoong.

“Bukan hanya kau yang menganggapnya tampan. Tapi nyaris semua orang di Tartarus ini menganggapnya tampan. Sayang dia tidak terlalu ramah pada orang yang tidak disukainya.”

“Ehhhh?” Jaejoong terperanjat, teringat kembali betapa ramah dan sok akrabnya Yunho padanya tadi pagi.

“Jaejoongie, apa yang kau lakukan pada malam hari?” tanya Jia.

“Malam hari? Tidur?” Jaejoong balik bertanya, “Tapi sejak aku pindah ke kota ini aku susah tidur. Kadang aku baru bisa terlelap menjelang pagi. Entahlah…. Kota ini membuatku merasa tidak aman dan memaksaku untuk selalu waspada pada hal yang sepele sekali pun.” gumam Jaejoong lebih kepada dirinya sendiri.

Jia hanya mengulum senyum tipisnya. Perhatiannya dialihkan pada jendela kaca besar yang berada disisi kirinya yang tidak hanya menunjukkan keindahan langit biru siang ini tetapi juga hingar-bingar kota mengingat kantin Tartarus berada di lantai 15 dari 500 lantai.

“Malam ini akan menjadi malam yang berat karena malam ini bulan akan purnama dan Priestess akan menunjukkan dirinya….” lirih Jia tanpa disadari oleh Jaejoong.

<3 >>>#<<< <3

Menjelang waktu istirahat usai Jaejoong berjalan sendirian menusju kelasnya, tanpa Jia karena Jia harus berhenti di toilet terlebih dahulu. Ketika nyaris membuka pintu kelasnya, Jaejoong tersentak oleh suara yang sepertinya berasal dari teman sekelasnya dan obrolan itu jelas mengangkut dirinya yang berstatus sebagai siswa baru.

Kau tidak harus terlibat dengan anak baru itu, Yunho! Dia hanya orang biasa yang akan menghambat kita!” Jaejoong menduga itu adalah suara Jung Jessica, saudara kembar Yunho yang memiliki rambut berwarna golden brown ikal berkilauan.

Tidak! Aku tidak bisa mengabaikannya Sica. Aku ingin selalu berada didekatnya untuk memantau keadaannya dan memastikan dia baik-baik saja!” Kali ini Jaejoong yakin Yunholah yang bicara.

Kalau kau gegabah, dia bisa menusukmu! Tidak ada yang menjamin kalau dia bukan salah satu dari para ‘tikus got’ itu!” suara Jessica terdengar menajam.

Dia tidak berbahaya, Sica. Aku sudah membacanya. Dia manusia biasa yang terpaksa datang kemari karena ayahnya ditugaskan untuk menyelidiki dark hour.” Kali ini pun Jaejoong yakin bila Melanielah yang bicara. Dan apa maksudnya manusia biasa?

“Kenapa tidak masuk?”

Jaejoong terlonjak kaget. Diliriknya namja jangkung yang diketahuinya bernama Shim Changmin yang berada di sebelah kanannya dan Ahn Niel di sebelah kirinya. Entah mengapa Jaejoong tidak mendengar langkah kaki keduanya sehingga tidak menyadari keberadaan teman sekelasnya itu jikalau mereka tidak menegurnya.

“Kau pasti menungguku membukakan pintunya untukmu, kan?” goda Niel yang langsung menggeser pintu kelas 3-5.

Jaejoong yang masih terpaku tersentak kaget ketika Niel menarik pergelangan tangan kanannya dan mengajaknya masuk. Hanya ada Melanie, Yunho, Jessica saja di dalam kelas. Yang lainnya baru masuk satu detik setelah bel masuk selesai berbunyi.

“Jauhkan tangan kotormu darinya, Niel!” perintah Yunho seperti menahan amarah.

Niel melepaskan pegangannya dari Jaejoong, “Kau pun tidak lebih bersih dariku, Ketua….” ucap Niel sebelum duduk di bangkunya.

“Jaejoongie, ayahmu tadi menelpon sekolah. Katanya pulang sekolah nanti ayahmu tidak bisa menjemputmu karena harus mengurus sesuatu.” ucap Yunho sambil tersenyum ceria.

“Ah….” Jaejoong menunjukkan wajah murungnya ketika berjalan menuju bangkunya sendiri.

“Kalau kau mau aku bisa mengatarmu. Arah rumah kita sama.” Yunho menawarkan bantuannya.

Ani. Tidak perlu. Aku tidak mau merepotkanmu.” ucap Jaejoong. “Aku akan pulang naik kereta saja.”

“Sayang sekali…. Padahal aku ingin main ke rumahmu.”

Jaejoong tersenyum pada Yunho, “Mungkin lain kali ketika kita mendapatkan banyak PR.”

“Tentu….” sahut Yunho dengan suara antusias.

“Dan kita tidak akan pernah mendapatkan banyak PR kecuali membersihkan para ‘tikus got’ yang sangat merepotkan itu.” keluh Jessica yang mendatangkan raut bingung dari Jaejoong.

“Jangan mendengarkannya karena dia memang seperti itu.” Juliane menepuk-nepuk bahu Jaejoong sebelum mendudukkan dirinya di bangkunya.

Jaejoong hanya mengangguk paham walaupun merasakan keanehan dari sikap teman-temannya itu. Mengeluh dalam hati agar pelajaran Geografi ini cepat selesai sehingga dia bisa segera pulang.

<3 >>>#<<< <3

Jaejoong menggerutu kesal sepanjang trotoar jalanan yang akan membawanya menuju bangunan apartement yang menjadi rumahnya. Niat hatinya untuk pulang sekolah menggunakan kereta karena ayahnya tidak bisa menjemputnya pupus sudah karena tidak satu pun kereta yang siang tadi beroperasi akibat ambrolnya jalur rel sepanjang 5 kilo meter. Jaejoong pun memilih naik bus yang terpaksa berhenti di tengah jalan akibat kecelakaan lalu lintas hingga membuat putra Kim Hyunjoong itu harus berjalan sejauh 3 kilo meter untuk sampai ke rumahnya.

Jaejoong mengeluh ketika melihat angka yang tertera pada jam dinding rumahnya ketika dirinya berjalan melewati ruang tamu menuju dapur. Nyaris pukul 6 sore.

“Aku semakin membenci kota ini!” rutuknya ketika membuka pintu kulkas untuk mengambil jus kalengan dan sebuah apel merah yang langsung digigitnya karena lapar yang tiba-tiba saja mendera perutnya.

Jaejoong menghela napas panjang saat mendudukkan dirinya di atas kursi, sambil mengunyah apelnya Jaejoong membaca sekali lagi sms yang beberapa saat lalu ayahnya kirimkan padanya. Pada pesan singkat itu Hyunjoong mengatakan bahwa dirinya akan pulang sedikit larut dan berpesan agar Jaejoong menyiapkan sendiri makan malamnya serta tidak lupa menutup pintu dan jendela rumah mereka.

“Apartemen ini ada di lantai 25. Perampok yang nekat sekali pun akan berpikir ulang untuk merampok kemari.” keluh Jaejoong yang meletakkan kepalanya di atas meja. Rasanya pening dan lelah sekali. Akan sangat menyenangkan bila dirinya bisa memejamkan mata walau hanya sesaat.

<3 >>>#<<< <3

Kau tidak harus terlibat dengan anak baru itu, Yunho! Dia hanya orang biasa yang akan menghambat kita!”

Tidak! Aku tidak bisa mengabaikannya Sica. Aku ingin selalu berada didekatnya untuk memantau keadaannya dan memastikan dia baik-baik saja!”

Kalau kau gegabah, dia bisa menusukmu! Tidak ada yang menjamin kalau dia bukan salah satu dari para ‘tikus got’ itu!”

Dia tidak berbahaya, Sica. Aku sudah membacanya. Dia manusia biasa yang terpaksa datang kemari karena ayahnya ditugaskan untuk menyelidiki dark hour.”

Jaejoong tersentak kaget. Diedarkannya pandangannya kesekeliling. Masih di dapur rumahnya. Jaejoong mengeluh dingin dan menggerutu kecil akibat pegal yang menjalari kaki dan sekujur tubuhnya, mata indahnya melirik jam yang berada pada layar LCD handphonenya. 00-15.

“Ayah belum pulang? Kenapa tidak menelponku? Dasar orang tua menyebalkan!” keluh Jaejoong yang langsung bangun dan menyeret langkah kakinya menuju kamar tidurnya.

Jaejoong membeku di mulut pintu kamarnya ketika melihat sosok tinggi besar bertudung hitam tengah menatap tajam padanya menggunakan mata merah menyala itu. Wajahnya tidak bisa Jaejoong lihat karena pencahayaan di dalam kamarnya gelap, namun mata merah darah itu mampu membuat tulang kaki Jaejoong melemas, membuatnya jatuh terduduk dengan keringat dingin dan badan bergetar ketakutan. Jaejoong bahkan tidak bisa mengeluarkan suaranya untuk sekedar berteriak, kerokongannya terasa sangat kering seperti gurun pasir yang pernah dikunjunginya tahun lalu.

Entah manusia ataupun mahluk apapun itu yang jelas mahluk itu tiba-tiba saja berteriak nyaring, melengking tinggi hingga membuat jendela kaca kamar Jaejoong pecah berserakan, membuat hiasan dinding kamar Jaejoong jatuh membentur lantai. Jantung Jaejoong terasa berhenti ketika mahluk tinggi besar itu berjalan mendekat ke arahnya. Jaejoong nyaris menangis ketika hawa dingin itu menyergapnya, membuat bulu kuduknya meremang namun dalam hitungan detik sosok hitam besar itu melompat cepat meninggalkan balkon kamar Jaejoong, bagai bayangan kelelawar yang tiba-tiba menghilang meninggalkan kekacauan.

Jaejoong melirik was-was ke sekeliling kamarnya, alih-alih (sekiranya) muncul mahluk serupa dari sudut ruangan atau dari bawah kamar tidurnya. Setelah memastikan dirinya hanya sendirian di dalam kamarnya, Jaejoong berdiri. Dengan tangan gemetar dinyalakannya lampu kamarnya untuk melihat seberapa parah kerusakan yang sudah ditimbulkan oleh mahluk yang tidak ia ketahui namanya itu.

“Ayah pasti memotong uang jajanku!” jerit Jaejoong dalam hati.

Jaejoong menolehkan kepalanya menuju jendela yang sudah tidak memiliki kaca lagi ketika angin dingin yang sangat kencang berhembus dari sana. Mata indah selegam mutiara betina miliknya itu membulat ketika dirinya melihat 12 sosok hitam besar  berdiri dengan angkuhnya di atas gedung perkantoran yang tidak begitu jauh dari gedung apartemen Jaejoong. Siswa baru Tartarus itu disergap ketakutan aneh yang membuatnya memilih tidak pernah dilahirkan kedunia ini.

Dark Hours NaraYuuki and Jae Sekundes

Kau akan mati ditanganku, Jaejoongie!”

Perlahan-lahan Jaejoong menoleh ke belakang, tubuhnya terlonjak kaget ketika sosok hitam besar bermata merah itu sudah menghunuskan sebuah kapak besar berwarna merah ke arahnya. Dengan ketakutan luar biasa Jaejoong berjalan mundur. Jantungnya memacu cepat, napasnya tidak beraturan dan keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya. Jaejoong tidak ingat dirinya pernah berbuat salah pada orang lain hingga membuatnya berada dalam situasi yang mengerikan seperti ini.

MATI KAU!”

“ANDWEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE!!!!!!!!!” Jerit Jaejoong sekuat tenaga tanpa peduli suaranya akan habis. Sebelum Jaejoong merasakan tubuhnya tercabik dan terlempar kedalam jurang yang gelap nan dingin, hanya suara ayahnya yang memanggil-manggil namanyalah yang terngiang ditelinga Jaejoong.

“Jaejoong! Kim Jaejoong…. YAH KIM JAEJOONG BANGUN!”

Seketika Jaejoong terlonjak dan berdiri dengan linglung di samping tempat tidurnya dengan keadaan sangat berantakan. Matanya yang masih mengantuk dipaksanya untuk melihat ke sekeliling kamarnya, berharap mahluk menyeramkan itu sudah pergi dari sana.

“Ayah memanggilmu dari tadi, apa kau tidak dengar? Apa suara wekermu yang berteriak sejak pukul 5 pagi itu juga tidak kau dengar? Apa kau tidak sadar kalau sekarang sudah pukul 9 pagi dan kau baru bangun tidur?! Cepat mandi sebelum Ayah memandikanmu, pemalas!” omel Hyunjoong.

Mata Jaejoong berkaca-kaca melihat ayahnya. “Hueeee Ayah….” Jaejoong menubruk tubuh ayahnya, memeluk pria berkaca mata itu erat seperti seorang anak yang baru saja kembali ke rumah orang tuanya setelah satu bulan lamanya diculik.

Yah! Yah! Apa yang kau lakukan, huh?”

“Joongie diserang perampok. Hueeeeeeee….” Jaejoong benar-benar menangis ketika mengadukan kejadian yang terasa nyata baginya itu pada ayahnya.

“Tidak ada perampok, anakku!” walaupun bingung Hyunjoong tetap berusaha menenangkan anaknya yang sepertinya sedang dilanda kepanikan, “Ayah bisa pastikan tidak ada perampok yang masuk ke rumah kita. Ayah pulang pukul 8 malam dan menemukanmu terlelap di dapur. Ayah berusaha membangunkanmu tapi kau tidak mau bangun terpaksa ayah menggendongmu sampai kamarmu dan mengantikan bajumu dengan piayamu.” Hyunjoong menceritakan apa yang semalam terjadi agar Jaejoong bisa sedikit tenang.

“Tapi… tapi…. Monster besar itu mau memutilasi Joongie dengan kapaknya, Ayah….”

Merasa anaknya bicara semakin tidak masuk akal, Hyunhoong segera mencubit kedua pipi Jaejoong. “Segera mandi dan bersiap. Walaupun terlambat tapi kau tetap harus berangkat sekolah.” ucapnya, “Ayah akan menyiapkan sarapan untukmu karena sepertinya semalam kau tidak makan.”

“Ayah….” Jaejoong merinding ketika ayahnya benar-benar meninggalkannya sendirian di dalam kamar, tubuhnya menegang dengan mata yang selalu waspada melirik kesana-kemari. “Mimpi? Semalam aku bermimpi? Tapi kenapa terasa sangat nyata?” gumamnya. Di liriknya gedung perkantoran yang semalam menampakkan visual 12 bayangan hitam besar bermata merah. Tidak ada apa-apa di sana kecuali pagar pembatas yang terbuat dari kawat besi. Mengacak-acak rambutnya Jaejoong segera berlari menuju kamar mandi sebelum ayahnya memarahinya lagi.

Tanpa Jaejoong sadari sebuah bayangan tiba-tiba muncul di atas atap gedung perkantoran yang tadi sempat dilihatnya.

<3 >>>#<<< <3

Masih memikirkan dalam kebingungannya kejadian aneh yang serasa nyata namun tidak nyata pula yang semalam menimpanya membuat Jaejoong sedikit linglung selama perjalanan menuju Tartarus tadi. Bahkan Jaejoong tidak begitu memedulikan ayahnya yang meminta maaf pada wali kelasnya karena pagi ini Jaejoong terlambat datang sekolah. Toh wali kelasnya tidak marah. Jaejoong justru mendapat cubitan gemas dari wali kelasnya. Dan lagi, Jaejoong sama sekali tidak memusingkan sikap wali kelasnya yang menurutnya sangat konyol itu. Jaejoong hanya bingung pada kejadian yang serupa ilusi yang sudah menimpanya semalam.

Sepanjang perjalanan menuju ruang kelasnya Jaejoong terus melamun, tidak acuh (memedulikan) kasak-kusuk yang terjadi disekitarnya, bagaimana para siswa saling berbisik dan para guru berjalan tergesa usai mengajar.

Srak!

Jaejoong tersentak ketika Lee Minji atau yang sering dipanggil Minsoa, teman sekelasnya yang tiba-tiba berlari keluar kelas sambil menangis tersedu-sedu. “Eoh? Ada apa dengannya?” tanya Jaejoong pada dirinya sendiri.

“Jia dan Jeong Min meninggal semalam.” ucap Tia Cuevas sebelum berlari mengejar Minsoa.

MWO?!” Jaejoong memekik, membuatnya menjadi perhatian siswa-siswa lain yang kebetulan lewat di depan ruang kelas 3-5.

“Meng Jia dan Lee Jeong Min meninggal karena ditusuk oleh perampok saat keduanya pulang dari tempat les.” ucap Junsu dengan wajah sedihnya.

“Me… meninggal?” tanya Jaejoong sekali lagi yang mendapat anggukan lemah dari Junsu.

Yunho segera menarik Jaejoong masuk ke dalam kelas dan mendudukkannya pada kursi terdekat dari pintu, kursi yang hari sebelumnya diduduki oleh Lee Jong Min. Jaejoong yang kebingungan atas kabar mendadak ini menatap nanar Yunho seolah minta penjelasan.

“Perampok yang kejam. Selain mengambil barang berharga Jia dan Jeong Min, perampok itu pun menikam keduanya berulang-ulang hingga isi perut mereka tercecer di jalananan.” jelas Yunho.

Jaejoong nyaris menangis mendengar apa yang ketua kelasnya itu sampaikan padanya. Padahal Jia sangat baik padanya, padahal senyum Jeong Min sangat ramah dan menyenangkan. Mereka pun baru kemarin berkenalan namun harus berpisah karena maut sudah membawa keduanya pergi ke tanah keabadian yang entah dimana letaknya.

“Apa yang terjadi pada Juliane dan L Joe?” tanya Jaejoong ketika melihat tangan kiri Juliane digips dan perban yang melilit kepala serta leher Lee Byun Hun alias L Joe.

“Joe jatuh dari motor karena mengebut semalam. Sedangkan Juliane ku dengar dia terjatuh saat hendak menyelamatkan kucingnya yang terperangkap diloteng rumahnya sore kemarin.” jawab Yunho.

“Kalau sakit sebagiknya mereka tidak perlu masuk sekolah dulu.” gumam Jaejoong.

“Harusnya seperti itu….” sahut Yunho.

“Eh? Kita tidak melayat ke rumah Jia dan Jeong Min?”

Yunho tersenyum dan mengusap puncak kepala Jaejoong perlahan, “Keluarga Jia berasal dari daratan Cina karena itu pagi ini jasatnya akan dikirim ke Cina. Sedangkan Jeong Min… karena kedua orang tuanya tinggal di Amerika nanti siang jasatnya akan di kirim ke Amerika melalui kedutaan luar negeri. Kita tidak akan diijinkan datang ke sana.” Yunho menjelaskan.

“Apa kita tidak bisa mengirimkan doa untuk mereka?”

Yunho menunjuk sisi belakang kelas. Terpajang foto Jia dan Jeong Min di depan pintu loker milik mereka. Terdapat untaian bunga yang tersemat menghiasi foto mereka. “Kami sudah melakukannya pagi tadi.”

“Ah, aku datang terlambat jadi tidak bisa ikut.” sesal Jaejoong. “Biar aku mengirim doa juga untuk mereka!” Jaejoong beranjak dari duduknya dan berjalan menuju loker. Ketika melewati kursi Jessica, Jaejoong bisa melihat luka memar yang tersamarkan oleh make up menghiasi pipi saudara kembar Jung Yunho itu. Entah karena apa.

<3 >>>#<<< <3

Sepanjang sisa hari ini Jaejoong sama sekali tidak menunjukkan semangatnya. Wajahnya murung, pikirannya kacau akibat kelebatan bayangan kejadian –mimpi yang semalam menimpanya. Entah mengapa tiba-tiba saja pikiran bawah sadar Jaejoong ingin menghubungkan hal itu dengan kematian dua teman kelasnya sekaligus.

Dark Hour….” gumam Jaejoong tanpa sadar.

“Huh? Kau bicara sesuatu?” tanya Yunho yang baru datang membawa nampan berisi dua mangkuk sup ikan hangat dan 2 gelas milk shake vanilla. Yunho memang sengaja meminta Jaejoong menemaninya makan di kantin walaupun bel pulang sekolah sudah berdering sejak tadi. Yunho pun berjanji akan mengantarkan Jaejoong pulang sebagai imbalannya.

“Yunho… kau tahu soal dark hour?” Untuk sesaat Jaejoong yakin senyuman Yunho sempat luntur sebelum kembali berkembang.

“Dark hour? Apa kau juga mempercayai mitos itu?” tanya Yunho sambil mulai memakan sup ikannya.

“Entahlah… tidak begitu yakin. Hanya penasaran saja.” gumam Jaejoong.

Yunho mencondongkan tubuhnya lebih mendekat pada Jaejoong dan mulai berbisik dengan suara pelan, “Aku pernah mencuri baca dari email yang didapat ayahku mengenai dark hour dari salah satu temannya yang bekerja dipemerintahan.” Yunho melirik ke kanan dan kiri dengan waspada sebelum melanjutkan ceritanya, “Dark hour merupakan fenomena yang menyebabkan langit menjadi berwarna hijau, bulan terlihat hijau, air berubah menjadi  berwarna merah darah. Tapi tidak ada bukti kuat untuk membuktikan fenomena dark hour yang katanya hanya terjadi di kota Sunny ini.”

“Karena itukah ayah diminta menyelidiki fenomena dark hour itu?” gumam Jaejoong.

Kajja makan supmu sebelum dingin! Atau kau ingin aku yang menyuapimu?” goda Yunho.

“Seisi Tartarus akan menghajarku bila kau melakukannya….” Jaejoong tertawa kecil. Tidak seperti yang pernah almarhum Jia katakan padanya, bahwa Jung Yunho adalah sosok yang sedikit dingin. Menurut Jaejoong Yunho adalah orang yang ramah dan menyenangkan. Ya, setidaknya itulah pendapatnya sekarang.

<3 >>>#<<< <3

Matahari nyaris tergelincir ke barat ketika Yunho membawa Jaejoong pergi meninggalkan pelataran tempat parkir Tartarus Buliding High School menggunakan mobil sport mewahnya, bergabung dengan hingar-bingar keramaian jalan sore itu.

Bersama dengan berlalunya mobil yang Yunho dan Jaejoong tumpangi, muncul dua sosok bertudung hitam dengan mata merah menyalanya, “Manusia biasa itu harus dilenyapkan!”

“Kim Jaejoong… sayang sekali. Padahal aku menyukainya.” Lidah yang basah lagi lunak itu menjilat permukaan belati yang berlumuran darah. “Benar-benar sangat disayangkan…. Aku membayangkan darahnya pasti sangat manis dan harum.”

<3 >>>#<<< <3

“Kita harus segera menemukan Priestess sang Archana Death untuk melenyapkan para hama itu dari sini. Bukan hal yang mudah namun kita harus tetap berusaha sampai Queen Persona bangkit dari tidur panjangnya.”

“Akan kita lakukan, sayang! Akan kita lakukan….”

Kedua orang yang sedang berada di halte bus itu bergandengan tangan erat seolah-olah itu adalah kesempatan terakhir mereka untuk melakukannya…..

<3 >>>#<<< <3

<3 >>>#<<< <3

<3 >>>#<<< <3

<3 >>>#<<< <3

<3 >>>#<<< <3

TBC

<3 >>>#<<< <3

<3 >>>#<<< <3

<3 >>>#<<< <3

<3 >>>#<<< <3

<3 >>>#<<< <3

Maaf, bagi penggemar FF “RIVAL” tolong dibaca nama Authornya ya. Maaf juga karena belum bisa post lanjutan Suprasegmental, Pemebalasan Bidadari Hitam dan Revenge. Sudah Yuuki buat hanya entah kenapa Yuuki malas post dan edit. Tapi jangan khawatir karena sekali memulai Yuuki akan menyelesaikannya. Oh, dan untuk FF “Pain Of Love”, apabila sampai akhir tahun ini tidak memungkinkan bagi Marci untuk melanjutkannya akan Yuuki ambil alih karena Yuuki tahu FF itu sangat berarti bagi Marci.

Jaga kesehatan dan banyak makan sayur ya :)

<3 >>>#<<< <3

<3 >>>#<<< <3

<3 >>>#<<< <3

<3 >>>#<<< <3

<3 >>>#<<< <3

Saturday, January 24, 2015

4:38:46 PM

Yuuki & Bea

Revenge IX

Tittle               : Revenge IX

Writer             : NaraYuuki

Betta Reader : Hanabusa Hyeri

Genre             : Romance/ Modern Fantasy/ dsb.

Rate                : M

Cast                : All member DBSK, Jin Yihan, Go Ahra (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan) and Others. Seiring bertambahnya Chap castnya pun akan disesuaikan.

Disclaimer:    : They are not mine but this story is mine, NaraYuuki

Warning         : This is YunJae Fan Fiction (Boys Love), M-Preg. Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut, TANPA EDIT.

.

.

.

.

.

 

PASTIKAN BACA WARNINGNYA DULU

.

.

R2

.

.

Lorong itu terlihat lebih gelap dan panjang dari biasanya, pencahayaan yang temaram lagi suram membuat suasananya sedikit mencekam, sangat cocok seandainya dijadikan lokasi syuting film horor. Langkah kaki yang sedikit diseret itu terdengar bagai irama kematian yang dilantuntan oleh malaikat pencabut nyawa. Jemarinya yang pucat menelusuri permukaan kusam tembok sepanjang lorong sebagai pegangan agar dirinya tidak terjatuh. Napasnya sedikit memberat akibat kelelahan yang menderanya, keringat dingin mulai membasahi tubuhnya walaupun cuaca yang menampar-namparnya pun terasa dingin menusuk sampai ke setiap tetes darah yang mengalir dalam tubuhnya.

“Kau mau kabur kemana?” bola mata sewarna darah yang tajamnya serupa mata musang yang sedang berburu mangsanya itu menatap lekat-lekat dirinya.

“Yun….”

“Mengendap-endap seperti pencuri. Apa yang kau rencanakan Park Jaejoong? Kau mau kabur dari rumah sakit padahal keadaanmu sendiri sangat memprihatinkan? Bagaimana bila kau pingsan di tengah jalan dan terlindas mobil?”

Bibir merah darah pucat itu melengkung sempurna, menyeret langkah kakinya sedikit tergesa untuk menghampiri sosok pemuda tampan yang berdiri dengan angkuhnya beberapa meter di hadapannya. “Bogoshipo….” ucapnya ketika berhasil merengkuh sosok gagah itu erat.

“Berani-beraninya kau kabur!”

“Aku ingin menemuimu….” lirih Jaejoong. “Aku gelisah karena tidak melihatmu selama beberapa hari ini. Kau tidak selingkuh dengan yeoja-yeoja menyebalkan selama aku tidak berangkat sekolah, kan?”

Bukannya menjawab, Yunho justru memeluk erat punggung dan pinggang Jaejoong ketika pemuda tampan bermata setajam mata musang yang matanya sudah berwarna kemerahan itu menatap siluet perempuan yang berjalan pelan menuju ke arahnya dan arah Jaejoong berada. “Ada sesuatu yang memaksaku untuk menjaga jarak darimu selama beberapa hari terrakhir ini.”

Jaejoong mengeratkan pelukannya pada leher jenjang Yunho, “Ummaku?”

Taring Yunho mencuat ketika sosok perempuan itu berdiri mematung beberapa meter darinya dan Jaejoong.

“Yunie….”

“Kenapa kau berpikir seperti itu?” tanya Yunho.

“Karena Umma selalu terlihat sedih sekaligus marah bila aku bercerita tentangmu.”

“Tidak seharusnya kau kabur dari kamarmu apalagi sampai melepas paksa jarum infus dari tanganmu.” ucap Yunho dengan wajah tegang penuh kewaspadaan, berusaha mengalihkan perhatian Jaejoong agar tidak terus membahas ibunya. “Tanganmu berdarah.”

“Matamu merah, apa kau lapar?” Jaejoong hendak melepaskan pelukannya namun tertahan karena Yunho semakin erat memeluknya.

“Biarkan seperti ini dulu sebentar.” pinta Yunho, “Aku benar-benar sangat merindukanmu.”

“Aku ingin kembang gula….”

“Tengah malam begini dimana aku bisa mendapatkan kembang gula untukmu?” tanya Yunho yang masih menatap tajam sosok perempuan yang juga balas menatapnya.

“Setidaknya ajak aku jalan-jalan sebentar.” pinta Jaejoong.

“Angin malam tidak akan baik untuk kesehatanmu.”

“Karena aku bosan berada di rumah sakit, bawa aku pergi dari sini!” suara Jaejoong terdengar seperti seseorang yang tengah menahan tangisan. “Aku rindu Changminie. Apa dia makan dengan lahap? Apa dia tidak merindukan masakanku?”

“Oh, dia sangat ingin menculikmu dari sini agar kau bisa memasak untuknya.” jawab Yunho.

“Kalau begitu ayo pergi!” ajak Jaejoong.

“Tidak semudah itu. Bagaimana bila ayah dan kakakmu mencarimu, hm?”

“Aku akan menelpon Chunie nanti kalau hari sudah terang.” jawab Jaejoong, “Kau naik apa ke sini? Mobil? Motor?”

“Berlari.”

Jaejoong mengendurkan pelukkannya agar bisa menatap wajah Yunho, “Bohong!”

“Aku benar-benar berlari.” ucap Yunho dengan wajah seriusnya. “Ini tengah malam, sangat sedikit saksi mata yang akan melihatku berlari dengan kecepatan tinggi, bahkan mungkin tidak ada yang melihat dan menyadari keberadaanku.”

“Bagus.”

“Kenapa bagus?”

“Kau bisa menggendongku dan membawaku berlari dengan sangat kencang.” Jaejoong tersenyum ceria walaupun rona pucat masih menghiasi wajahnya.

“Apakah kau pura-pura tidak mengerti apa yang aku katakan, hm?”

“Yunie….” mata seindah mutiara rusa betina itu berbinar-binar menatap wajah tampan Yunho, “Kau kan namja chinguku jadi wajar bila kau menuruti keinginanku.”

“Dan keinginanmu itu membahayakan dirimu sendiri.”

Ani…. Bila kau bersamaku, aku pasti akan baik-baik saja.”

“Tetap saja itu bukan hal yang legal. Menculik pasien rumah sakit adalah kejahatan tidak termaafkan.” ucap Yunho, “Lagi pula kau bisa terluka bila bersamaku.” Yunho meraba permukaan leher Jaejoong perlahan.

Jaejoong merengut kesal, “Aku yang ingin pergi, bukan kau yang menculikku!” Sebelah kakinya menghentak kuat akibat kekesalannya. “Dan kau tidak akan menyakitiku!”

Yunho tersenyum, melepas pelukannya pada Jaejoong tanpa melepaskan pergelangan tangan namja berparas cantik yang kini digenggamnya erat. “Setidaknya kau harus berjalan sampai lobi rumah sakit dulu sebelum ku gendong.”

“Roger, Kapten.”

Berjalan beriringan menyusuri lorong yang muram, kedua remaja kasmaran itu tidak menyadari ada sepasang mata yang menatap marah pada mereka.

Noona tidak akan menghentikan mereka?” Junsu keluar dari bayangan gelap tanaman hias yang ada di persimpangan lorong. “Bukankah sangat mudah bagi Noona untuk menghentikan mereka?”

“Diam Junsu!” perintah Ahra, “Bagaimanapun juga pria brengsek itu adalah orang yang putraku cintai. Aku tidak mau gegabah membunuhnya bila Joongie ada bersamanya.”

“Bukankah ini ironis, Noona?” tanya Junsu sambil tersenyum bodoh. Ahra menatap tajam namja bersuara unik itu, “Kita berdua sangat membenci Youngwoong dengan alasan yang berbeda tentu saja, tetapi lihat sekarang! Putramu itu membuatmu lemah. Aku bahkan sangat menyayangi anakmu walaupun wajahnya sangat mirip dengan perempuan sialan itu!”

“Junsu, pernahkah kau berpikir untuk kembali hidup sebagai manusia normal? Tidakkah kau kesepian karena selama ini hidup sendirian selama ratusan tahun lamanya?” tanya Ahra dengan suara hampa.

“Bukankah dulu Noona sudah mengatakan konsekuensi yang harus ku tanggung begitu dendamku pada Youngwoong terbalaskan? Aku sudah menerimanya. Aku merelakan semuanya dan siap dengan kesepian yang menggrogoti hatiku.”

“Bagaimana reaksimu bila melihat Yoochun mati didepan matamu?” Ahra menatap Junsu, “Aku tahu kau menyukai putra sulungku, Junsu. Entah perasaan sukamu itu dangkal atau dalam yang jelas aku tahu kau menyukai Yoochunku.”

Wajah Junsu memucat, tidak pernah sebelumnya ia membayangkan Yoochun yang sudah berumur senja perlahan memejamkan matanya sementara dirinya sendiri masih segar bugar dan berusia sama seperti dirinya saat ini dan ratusan tahun yang lalu. Hal itu membuat Junsu merinding dan perubahan itu dilihat jelas oleh Ahra.

“Aku bisa mengambil keabadian yang kau miliki, Junsu. Kau bisa menjaga Yoochun dan menemaninya sampai kematian datang bila kau mau.”

Noona….”

“Tapi sama seperti keabadian yang melekat padamu dan kutukan yang ku berikan pada kakak beradik Jung itu, semua ada pembayarannya.” Ahra menelan ludahnya susah payah.

“Apa? Apa yang harus ditukar untuk menjadi manusia normal lagi, Noona?”

Ahra tersenyum pilu, matanya melirik arah lorong dimana beberapa menit yang lalu putranya pergi dengan laki-laki yang sangat dibencinya namun juga perrnah dicintainya dengan segenap hatinya, setidaknya sebelum mantan suaminya mengisi hari-harinya dan membuatnya merasakan peran sebagai seorang ibu. “Kematianku…. Kau harus meremukkan jantungku untuk bisa mendapatkan kehidupan manusia biasamu kembali.”

Noona….”

“Lebih baik aku mengemasi barang anak nakal itu!” ucap Ahra yang berjalan menuju arah kamar rawat Jaejoong berada, “Keterlaluan sekali kabur tengah malam bersama dengan seorang pemuda yang sangat ibunya benci. Aku harus menghukumnya nanti.”

Junsu menatap nanar kepergian Ahra, “Noona… apakah kau menjadi lunak seperti ini karena anak-anakmu? Kau yang dulu pasti akan langsung membunuh Jung Yunho bila bertatapan dengannya. Dan kini dengan mata kepalaku sendiri kau merelakan anak yang sangat kau cintai itu pergi dengan namja brengsek sepertinya? Apakah menjadi seorang ibu benar-benar sudah mengubahmu?” gumam Junsu.

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

Yunho menatap nanar sosok cantik yang sedang terlelap di atas tempat tidurnya. Tadi setelah merengek minta diajak kabur dari rumah sakit dengan cara digendong, Jaejoong jatuh tertidur bahkan sebelum mereka sampai di rumah Yunho.

“Kau yakin kecepatan berlarimu tadi masih diambang normal untuk ukuran manusia biasa, Hyung?” tanya Changmin yang sibuk menyiapkan obat untuk Jaejoong. Bagaimana pun juga Changmin sudah berkali-kali memegang gelar doktor dibidang kesehatan dan pengobatan, bahkan kalau boleh dikatakan Changmin lebih hebat dibandingkan seorang profesor sekali pun.

“80 kilo meter per jam kau pikir terlalu kencang?” Yunho balik bertanya tanpa memalingkan tatapannya dari Jaejoong.

Yah Hyung! Kau bisa membunuhnya bila berlari secepat itu! Angin malam sangat tidak bagus untuknya. Kau tahu itu?!”

“Bagaimana bila dia mendapatkan donor? Apakah dia akan baik-baik saja?”

“Tidak! Dia tidak akan baik-baik saja!”

“Changmin?” Kali ini Yunho memalingkan tatapannya dari Jaejoong dan menatap tajam ke arah adiknya yang masih sibuk meramu beberapa cairan berwarna aneh.

“Dari hasil rontgen dan sample darah yang ku curi dari rumah sakit menunjukkan bahwa sebenarnya jantung Jaejoong bisa dikatakan sehat dan tidak memiliki kelainan apapun.”

“Apa maksudmu? Seumur hidupnya dia mengeluh sakit pada dadanya dan berkali-kali masuk rumah sakit! Berkali-kali pula dia divonis memiliki kelainan jantung, jantungnya lemah!” bantah Yunho.

Hyung, lima ratus tahun lamanya aku belajar soal ilmu kedokteran. Apa kau pikir vonis dokter-dokter disini bisa mematahkan analisaku yang bahkan ratusan kali lebih ahli dan berpengalaman daripada mereka?” tanya Changmin, “Jantung Jaejoong sangat sehat. Hanya saja apa yang menyebabkannya sering mengeluh sakit itu yang belum ku ketahui. Tidak ada lemak disekitar jantungnya, tidak ada pembuluh darahnya yang tersumbat, Jaejoong sangat sehat! Percayalah padaku!”

“Lalu kenapa seumur hidupnya dia bisa mendapatkan gejala yang menyerupai penyakit jantung? Bahkan semua dokter yang memeriksanya mengatakan dia sakit jantung, huh?”

“Bersabarlah sedikit! Aku masih butuh waktu untuk menyelidikinya. Bulan purnama yang kau maksud masih beberapa bulan lagi, Hyung. Jadi bersabarlah!” Changmin menuangkan beberapa tetes cairan berwarna biru tua ke dalam larutan yang sudah diraciknya sejak tadi, “Nah, berikan obat ini padanya bila dia sudah bangun nanti. Ini akan membuat staminanya pulih.” ucapnya yang menyerahkan segelas cairan berwarna jingga bening pada Yunho sebelum pergi dari sana.

“Kalau jantungmu baik-baik saja lalu sakit apa yang sebenarnya kau keluhkan selama ini, hm? Jangan membuatku khawatir, Boo. Aku bisa gila bila sesuatu yang buruk menimpamu….” gumam Yunho.

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

“Kenapa Umma membiarkannya pergi bersama Jung Yunho?” pertanyaan itulah yang sejak masih berada di rumah sakit tadi hingga dirinya berada di ruang makan rumahnya yang selalu dipertanyakan oleh Yoochun.

Ahra memasukkan telur gulung ke dalam mulut putranya, “Umma sudah menjawabnya, bukan? Selama dirawat beberapa hari di rumah sakit Joongie merasa kesepian, karena itu Umma biarkan dia pergi bersama Yunho. Bukankah Yunho namja chingu uri Joongie, eoh?”

“Tetap saja aku tidak percaya pada si aneh Jung itu! Dia dan adiknya sama-sama aneh!” gerutu Yoochun disela kegiatan mengunyahnya.

“Chunie, telan dulu makananmu!” perintah Yihan, “Kau bisa tersedak!”

Umma akan tinggal bersama kami mulai sekarang?” tanya Yoochun antusias.

Appamu dan Umma tidak berencana untuk rujuk, Chunie.” Ahra menuangkan segelas susu untuk Yoochun dan meletakkan secangkir kopi hangat di hadapan Yihan, “Tapi memang ada yang ingin Umma sampaikan pada Appamu. Jadi begitu selesai makan ajaklah Junsu menjemput Joongie di rumah Yunho. Kau tahu rumahnya, kan?”

Yoochun mengangguk pelan, “Joongie pernah memberitahu alamatnya.”

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

Siroooooooo!” Jaejoong menjerit sambil terus menggelengkan kepalanya kuat-kuat ketika Yunho hendak menyuapkan bubur padanya.

“Ayolah Boo….” bujuk Yunho yang mulai kehabisan kesabaran karena sejak sepuluh menit yang lalu Jaejoongnya enggan menyentuh bubur yang menjadi jatahnya.

Siro!” pekik Jaejoong.

Yah Hyung! Berhenti membuat suara menggelegar di rumah!” keluh Changmin yang sudah menghabiskan cup ramennya yang ke-5.

Yunho menatap tajam Changmin.

“Dia bisa makan makanan biasa, aku jamin itu.” ucap Changmin kalem. Changmin merasa ngeri pada tatapan mata kakaknya yang menurutnya sangat menakutkan, entah kenapa dirinya tidak memiliki mata seperti itu juga.

“Bukakan pintunya, Changmin!” perintah Yunho yang dengan sedikit kasar meletakkan mangkuk bubur di tangannya ke atas meja.

“Ada yang datang?” tanya Changmin.

“Seorang kakak yang marah berniat menjemput paksa adiknya yang sudah kabur dari rumah sakit semalam.” jawab Yunho ketus membuat mata Jaejoong berkaca-kaca.

“Yunie….” rengek Jaejoong.

Changmin hendak berdiri ketika bel pintu rumahnya berdengung berkali-kali, “Yeah, sepertinya benar-benar kakak yang marah.” ucapnya yang langsung beranjak dan berjalan menuju pintu depan, “Kenapa seorang kakak selalu saja menyeramkan?!” gerutunya. Changmin berhenti beberapa detik lamanya ketika merasakan tatapam menusuk dan aura mengerikan yang menguar dari sosok yang seumur hidupnya dipanggilnya dengan sebutan hyung.

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

“Kau yakin dengan keputusanmu ini?” tanya Yihan, ditatapnya perempuan yang duduk di hadapannya dengan tatapan serius, perempuan yang pernah dinikahinya, perempuan yang dicintainya, perempuan yang sudah membuatnya menjadi ayah dari Park Yoochun dan Park Jaejoong itu, perempuan yang menyimpan sejuta misteri bahkan sampai sekarang.

“Anak-anakku akan bahagia bila aku melakukannya, Oppa.” lirih Ahra, ada kesedihan yang terpancar jelas dari sepasang mata lelahnya.

“Kau tidak akan bisa melihat mereka bahagia bila kau melakukannya.” Yihan mengingatkan.

“Kalau aku tidak melakukannya mereka tidak akan bahagia.” ucap Ahra, “Mungkin ini adalah hal terakhir yang bisa ku lakukan untuk mereka sebagai seorang ibu. Selama ini aku merasa bahwa aku bukanlah ibu yang baik, dan apabila ini adalah cara terakhir yang bisa ku lakukan untuk membahagiakan anak-anakku maka aku akan melakukannya.”

“Jung Yunho…. Namja chingu Joongie itukah yang kau maksud?”

Ahra tersenyum, “Sebenarnya akan sangat menyenangkan melihat wajah tersiksanya ketika tahu calon ibu mertuanya adalah perempuan yang sangat dibencinya. Tapi aku tidak akan pernah membiarkan Joongieku menikah dengan mahluk seperti itu! Tidak akan pernah!” suara Ahra menajam, “Jangan menghentikan aku apapun alasannya, Oppa! Karena aku sudah bosan memeram benci ini.”

“Ahra ya… pernahkan sedikit saja kau mencintaiku?” tanya Yihan.

Perempuan bertubuh mungil itu menatap Yihan dengan tatapan yang sulit dimengerti, membiarkan mantan suaminya itu menggenggam tangan kanannya erat, “Aku mencintai anak-anakku, Oppa….” ucapnya dengan susah payah.

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

TBC

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

Thoughts on “Revenge VIII”

diennha : Eh? Emang biasanya benci sama Ahra Jumma ya?

dbestfriend : Yang terlihat belum tentu sama seperti kenyataannya :) Sudah lanjut ne.

Yuuqy : Masa lalunya pan udah ane kasih tuh di chap berapa ya kemarin. Tapi sudah ada 2 Chap yang membahas masa lalu Appa & Ahra juga kok :D

ayumi : Sudah datang nich :D

rani : Nado :D Kenapa lama? Yuuki bolak-balik main ke RS karena kondisi drop :D Heheehe…. Mian ne jadi menunggu lama #bow

dewiyasmin15 : Ahra? Sudah pernah Yuuki jelaskan siapa sebenarnya Ahra Jumma sebenarnya kok. Kalau bingung silahkan dibaca ulang ne :)

reanelisabeth : Kasih tahu ga ya? Hohohohoho :D Nnati terjawab sendiri kok. Tunggu saja ne.

nina : Atu-atu, Neng :D Pasti nanti akan terjawab kok.

mybabywonkyu : Nado Tante #Hug <3

minamikz : Sudah terjawab belum Umma anak kandung Ahra Jumma kagak? :D

Meybi : Rahasia Illahi? #plak! Hehehehehe :D

hime yume : Coba tebak :D Kalau lupa dan punya waktu luang silahkan dibaca ulang  ;)

Rahmadina : Molla #kabur :D

echasefry : Molla, cari tahu sama-sama nyok :D V

Kim Hyewon : #gubrak Ehehehehehhe :D

Kim Hyewon : Aniyo, semuanya abu-abu :D

Tetap jaga kesehatan ne :D

.

 

.

Wednesday, December 24, 2014

6:15:47 AM

NaraYuuki

Mask Innocence

Tittle                : Mask Innocence

Writer               : NaraYuuki

Betta Reader     : Hanabusa Hyeri

Genre               : Monggo tentukan sendiri :)

Rate                 : T+

Cast                 : All Member DBSK, Kim Kibum (GS), Choi Siwon & Kwon Boa.

Disclaimer:       : They are not mine  but this story is mine, NaraYuuki

Warning           : This is YunJae Fan Fiction (Boys Love). Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut. Paragraf/ dialog yang penulisannya menggunakan Blod, Italic ataupun under line berarti itu adalah kejadian dimasa lampau (flash back), TANPA EDIT.

.

.

Baca Warningnya dulu, ne!

.

.

Untuk Tante Boo

Semoga tidak mengecewakan ne :D

.

Mask Innocence

.

Jaejoong hanya bisa tersenyum manis ketika Yunho memperkenalkan seorang yeoja bernama Kwon Boa kepadanya, yeoja yang kini berstatus sebagai yeoja chingu Yunho. Yeoja yang menurut Jaejoong sama sekali tidak cantik. Bahkan Jessica yang kemarin baru saja ditolak olehnya jauh lebih cantik daripada yeoja yang kini sedang bergelayut manja pada Yunhonya, Yunho hyungnya.

Annyeong Boa Noona…. Kim Jaejoong imnida.” Jaejoong tersenyum manis pada Boa.

Annyeng Jaejoongie….” Boa mengulurkan tangannya pada Jaejoong.

“Ah, Joongie lupa kalau hari ini Joongie berjanji akan menemani Jessica pergi belanja.” ucap Jaejoong yang menyibukkan dirinya sendiri, mengabaikan uluran tangan Boa.

“Jessica? Siapa dia?” tanya Yunho.

“Ah, teman sekelas Joongie yang kemarin menyatakan cintanya pada Joongie.” jawab Jaejoong yang kini berjongkok untuk menali tali sepatu ketsnya.

Mwo?” mata kecil Yunho membulat, “Yeoja yang menyatakan cintanya padamu? Kau menerimanya?” tanya Yunho sedikit mendesak.

Ani…. Joongie menolaknya.” jawab Jaejoong, “Karena itu hari ini Joongie akan mengantarnya pergi belanja sebagai dispensasi karena Joongie sudah membuatnya patah hati.”

“Kau yakin dia tidak akan menerkammu?”

Jaejoong mendongak menatap Yunho, tersenyum manis kemudian berdiri berhadapan dengan Yunho yang beberapa centi lebih tinggi darinya, “Hyungie lupa kalau Joongie seorang namja?” tanyanya. Jaejoong mencium kilat pipi kanan Yunho sebelum melesat pergi.

Blam!

Keheningan untuk beberapa saat melingkupi dua orang yang masih berdiri di depan mulut pintu rumah keluarga Yunho itu. Boalah yang pertama kalinya memecah keheningan dengan cara berdehem keras-keras.

“Dia anak kerabat yang dititipkan di sini karena orang tuanya pergi ke luar negri?” tanya Boa.

“Ya, sampai Joongie bisa hidup mandiri sendiri dia dititipkan di sini. Dia anak manja karena itu orang tuanya merasa khawatir bila dia hanya hidup bersama pelayannya saja. Sebab itulah sejak setahun yang lalu dia tinggal di sini.” Yunho menjelaskan, “Dia lebih manis dan penurut daripada Changmin.”

“Apa dia sering berikap seperti itu?”

“Seperti apa?” tanya Yunho yang mengajak Boa berjalan menuju ruang tamu.

“Mencimmu sebelum pergi?”

Yunho tertawa keras-keras, “Dia bahkan sering minta ditemani tidur bila hujan turun atau ketika sedang mati lampu. Ingat? Dia sangat manja. Dia memang sudah duduk dibangku kelas 3 SMA sekarang tetapi bila kau bersamanya kau akan merasa seperti sedang mengasuh anak TK. Bukankah dia sangat menggemaskan?” tanya Yunho.

Boa memaksakan senyumnya ketika melihat wajah sumpringah Yunho.

“Kau mengenal Junsu? Dia dan Yoochun bahkan sangat menyukai Joongie. Mereka berdua sering mengajak Joongie jalan-jalan.”

Oppa….”

“Ya?” Yunho menoleh dan menatap yeoja chingunya.

Boa berjinjit dan melingkarkan kedua lengannya pada leher jenjang Yunho, “Bisakah kita tunda dulu obrolan tentang Joongie manismu itu?” tanyanya dengan sedikit ketus, “Mari kita bahas soal kita dulu….”

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

“Apa yang dilakukannya di sini?!” dengan sengit namja jangkung itu menunjuk jijik pada yeoja yang berdiri di samping kakaknya.

“Changmin, Boa adalah yeoja chinguku.. Jadi sangat wajar bila dia berkunjung kemari, bukan?” tanya Yunho.

“Tidak selama aku masih tinggal di sini!”

Ini adalah salah satu hal yang sangat Yunho benci dari adik kandungnya sendiri, Jung Changmin. Berbeda dengan Jaejoong yang manis dan penurut –walaupun sedikit manja, Changmin sangat keeras kepala, berlidah setajam belati dan bisa bersikap kasar bila tidak menyukai sesuatu.

“Changmin, dengar….”

Hyung yang harus mendengarku! Selama Hyung masih tinggal di sini Hyung tidak boleh mengajak sembarangan yeoja kemari sesuka hati Hyung! Kalau Hyung mau melakukannya silahkan Hyung beli rumah sendiri!” ucap Changmin sengit, teman sekelas Jaejoong yang masuk ekskul basket itu memang tidak pernah memikirkan perasaan orang lain ketika sedang berbicara ataupun mengutarakan pendapatnya sehingga banyak yang tidak menyukai Changmin karena cara bicaranya yang menurut mereka terlalu pedas.

“Boa bukan yeoja sembarangan, Jung Changmin! Dia yeoja chinguku yang bisa saja kelak menjadi calon kakak iparmu!” ucap Yunho penuh penekanan. Bicara menggunakan emosi dengan Changmin hanya akan memperkeruh keadaan saja.

“Dia? Calon kakak iparku?” tanya Changmin, tatapan matanya pada Boa seolah mengatakan, ‘Kau bahkan tidak pantas untuk sekedar dijadikan peliharaan penjaga pintu gerbang rumahku’ itu menunjuk sengit perempuan yang menurutnya kurang seksi. Oh, Changmin pecinta perempuan seksi, seleranya bahkan jauh lebih tinggi daripada kakaknya. Mungkin saja…

Boa yang ditatap seperti itu oleh Changmin merasa geram juga, andaikan Yunho tidak berada disampingnya sekarang, bisa dipastikan dirinya akan melempar sepatu hak tingginya di atas kepala Changmin agar namja jangkung itu tahu rasa setelah memberikan tatapan meremehkan padanya.

“Dia bahkan tidak seseksi Joongie.” komentar Changmin yang bukan hanya mendatangkan pelototan tajam dari Yunho melainkan juga dari Boa. “Kulitnya tidak seindah dan semulus kulit Joongie, lihat bibirnya yang dipoles lipstik tebal itu! Aku yakin bibir merah Joongie jauh lebih menggoda dan kenyal daripada bibirnya ketika berciuman. Dan dadanya itu? Apakah perempuan berdada nyaris rata seperti itu? Bahkan dada Joongie kelihatan lebih sintal (berisi) daripada punya yeoja itu! Ah… cara berpakaiannya pun jauh dibawah Joongie. Aku lebih memilih mengencani Joongie daripada perempuan di samping Hyung itu.” Changmin memasang wajah datarnya ketika melihat ekspresi syok yang kakaknya tunjukkan dan ekspresi marah yang Boa perlihatkan.

“Yah Jung Changmin!” dengan sepenuh hati Yunho memukul kepala Changmin, “Bagaimana bisa kau bicara seperti itu tentang Joongie, huh?” mata Yunho melotot galak.

“Aku hanya membandingkan yeoja yang Hyung kencani ini dengan namja yang selalu membuat heboh di rumah ini. Aku tidak salah, kan?” tanya Changmin, “Aku sangat lelah setelah berlatih seharian untuk kejuaraan basket antar SMA bulan depan, jadi jangan membuatku kesal karena yeoja tidak penting ini, Hyung! Aku mau tidur dan aku harap ketika aku bangun nanti dia sudah enyah dari sini! Dan minta pada pelayan untuk mengepel lantai yang sudah diinjaknya!” sambil menenteng bola basketnya Changmin berjalan menuju tangga lantai dua dimana kamarnya berada.

“Boa… maafkan dia.” ucap Yunho yang bisa melihat rona merah akibat marah yang yeoja chingunya itu tunjukkan, “Dia memang tidak bisa menjaga lidahnya untuk tidak menyakiti orang lain. Jangan memasukkan perkataannya kedalam hati, ne.”

Boa memaksakan sebuah senyuman, “Bukankah untuk menjadi istri Oppa aku harus bisa mengambil hati semua anggota keluarga Oppa? Kalau begitu aku akan bersabar dan menulikan telingaku.” ucapnya.

Gomawo….”

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

Jung Siwon dan Kim Kibum hanya bisa saling berpandangan ketika pada acara makan malam ini Yunho memperkenalkan Boa sebagai yeoja chingunya pada mereka.

Baby, apa kau senang dengan hadiahmu?” Kibum menatap Jaejoong penuh sayang, mengabaikan senyuman yang Boa dan putra sulungnya berikan padanya.

“Satu lusin boneka Gajah? Tentu saja Joongie senang, Umma….” jawab Jaejoong dengan senyum lebarnya.

Aigoo! Lihatlah Wonie, anak ini sangat menggemaskan!” Kibum mencubit gemas pipi Jaejoong yang duduk di samping kanannya.

“Berhenti mencubiti pipinya Umma! Umma bisa membuat pipinya iritasi!” ucap Changmin. Ibunya kadang bisa menjadi partner bermain boneka Jaejoong bila penyakit gemasnya kambuh, dan melihat penyakit ibunya kambuh sungguh sangat mengerikan bagi Changmin.

“Wonie ya…. Lihatlah kelakuan anakmu itu!” Adu Kibum manja.

“Changmin anakmu juga, Bumie. Kau yang melahirkannya.” sahut Siwon, “Bagaimana latihanmu?” Siwon mengalihkan perhatiannya pada putra sulungnya yang duduk di sebelah kiri istrinya.

“Lumayan.” sahut Changmin.

“Jangan terlalu keras berlatih, kau bisa cidera sebelum membawa pulang piala kemenangan yang kau dambakan itu.” ucap Siwon.

Arra.” Changmin mengangguk pelan.

“Bumie, tolong minta pelayan mengantar makanan ke kamar, aku ingin makan di kamar sambil memeriksa beberapa dokumen dan proposal yang dikirim Yoochun tadi.” pintanya yang langsung pergi begitu saja tanpa memedulikan tatapan memelas Yunho dan Boa.

Kibum tersenyum sumpringah, “Kajja! Joongie makan yang banyak ne, kalau Minie menghabiskan jatah makanmu lagi bilang pada Umma biar Umma hukum dia.”

“Roger!” Jaejoong masih tersenyum lebar.

Usai memberikan cubitan sayang pada pipi Jaejoong, Kibum segera berjalan pergi menuju dapur untuk menuruti keinginan suaminya yang ingin makan di kamar.

“Lihat? Appa dan Umma sepertinya tidak menyukai yeoja chingumu, Hyung.” Changmin tersenyum mengejek pada Yunho dan Boa.

“Jung Changmin! Jaga bicaramu!” perintah Changmin.

Changmin meletakkan kasar sendok supnya ke atas meja, “Lebih baik aku makan di kamar juga. Selera makanku rusak karena ada seekor ular yang terlepas dari kandangnya yang ada di kebun binatang!”

“Jung Changmin!” bentak Yunho yang sama sekali tidak berpengaruh karena Changmin sudah berjalan pergi meninggalkan meja makan.

Hyungie….” panggil Jaejoong, “Lebih baik Hyungie mencoba bicara pada Umma dan Appa baik-baik. Mengenalkan Boa noona sebagai yeoja chingu Hyung padahal sebelumnya Hyungie tidak pernah menceritakan Boa noona pada Appa dan Umma jelas membuat mereka syock dan kaget.”

“Benar!” sahut Yunho cepat, “Aku akan bicara pada Umma kalau begitu.”

Jaejoong tersenyum manis sambil menyendokkan sup ke dalam mulutnya.

“Boa, kau makanlah di sini bersama Joongie. Aku akan mencoba membujuk Umma.”

Ne, Oppa.” jawab Boa.

Begitu Yunho pergi, hanya tinggal Jaejoong dan Boa saja di dalam ruang makan besar itu. Jaejoong yang tadinya makan dengan sangat lahap makan tiba-tiba meletakkan sendoknya dan mengelap bibirnya dari sisa-sisa makanan yang mengotorinya. Masih dengan senyum semanis madu ditatapnya yeoja mungil yang duduk disebrangnya itu dengan mata bulat indahnya. “Umma dan Appa tidak akan pernah merestui kalian.”

“Apa maksudmu?” tanya Boa. Sejak awal Boa tidak menyukai Jaejoong yang menurutnya terlihat sangat memuakkan dan mengesalkan.

“Kau tidak akan pernah mendapatkan restu dari Kibumie Umma dan Siwonie Appa karena kau bukan kriteria menantu idaman mereka.”

Yah!” Boa menatap sengit Jaejoong yang masih memasang wajah tersenyumnya, senyum yang dimata Boa terlihat lebih mengerikan daripada senyuman mengejek Changmin.

“Kau harus bisa memasak, mengurus pekerjaan rumah dan kriteria lainnya. Menjadi menantu keluarga Jung tidak mudah, Noona!” Jaejoong meraih apel merah dari keranjang buah menggunakan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya meraih pisau buah yang tajam, mengupas apel itu perlahan-lahan.

“Sebenarnya apa yang ingin kau katakan, bocah?!”

Jaejoong tersenyum lebar, “Akhirnya kau menunjukkan siapa dan bagaimana dirimu yang sebenarnya Boa sshi!” ucapnya dengan tenang, “Apakah kau tahu alasan kenapa aku ditinggal di sini dan dirawat oleh keluarga Jung?”

“Aku tidak mau tahu alasan bodoh itu!”

“Sayangnya kau harus tahu!” Jaejoong menatap tajam Boa walau bibirnya masih mengulum senyum, “… aku dirawat oleh keluarg Jung karena aku adalah calon ‘istri’ Yunho hyung!”

“Dalam mimpimu, bocah!” ucap Boa sengit.

“Bahkan Yunho hyung dengan sedang hati akan memberikan apa yang aku inginkan. Kalau kau anggap aku bermimpi maka mimpiku akan diwujudkan oleh Yunho hyung sendiri kaarena dia selalu memberikan apa yang menjadi mauku.” ucap Jaejoong, “Kau tidak percaya? Aku bisa meminta Yunho hyung memutuskanmu sekarang jugaa kalau kau…”

Boa meraih cangkir kopinya dan menyiramkannya pada wajah Jaejoong. Beruntung kopi itu sudah tidak terlalu panas sehingga tidak akan membuat kulit wajah Jaejoong melepuh. Hanya saja noda hitam aampas kopi mengotori wajah Jaejoong.

“Masker kopi? Tidak buruk juga.” gumam Jaejoong tidak begitu acuh.

Boa berdiri dari duduknya, menatap sengit remaja yang 6 tahun lebih muda darinya itu, “Kau adalah rubah licik yang menyebalkan!”

“Dan kau adalah ular berbisa yang harus dimatikan!”

“Kau…” Boa mengangkat tangan kanannya, hampir menghempaskan tangannya di atas permukaan kulit wajah Jaejoong andaikan sebuah tangan kekar tidak mencekalnya.

“Apa yang kau lakukan pada Joongie?” tanya Yunho dengan suara dingin penuh penekanan.

Oppa… bocah ini menghinaku.” adu Boa, dengan sengit yeoja itu menatap Jaejoong.

Yunho mengalihkan perhatiannya dari Boa pada Jaejoong, sedikit terkejut melihat wajah Jaejoong dipenuhi ampas kopi serta kemejanya yang basah dan lepek. Yunho pun dapat melihat mata seindah mutiara rusa betina itu nanar dan berkaca-kaca.

“Joongie tidak nakal, Hyungie….” lirih Jaejoong, “Joongie hanya mencoba mengajak Boa noona bicara sambil menunggu Hyungie kembali. Tapi Boa nonna… Hueeeeeeeee….”

Yunho menatap sengit Boa sebelum menghempaskan tangan yeoja chingunya itu kasar. Berjalan cepat menuju kursi dimana Jaejoong masih duduk sambil menangis pilu, meraih tubuh remaja berparas cantik itu lalu memeluknya erat, “Gwaechana Joongie…. Gwaechana…. Uljimma ne….” dengan lembut Yunho mengusap kepala dan punggung Jaejoong, tanpa ragu mencium puncak kepala remaja cantik itu lembut, “Hyung akan memastikan Boa meminta maaf padamu.”

Boa tersenyum bodoh melihat apa yang Yunho lakukan pada Jaejoong, mengepalkan kedua tangannya untuk menahan kekesalan yang bergolak dan membakar hatinya.

“Minta maaflah pada Joongie!” pinta Yunho dengan wajah serius pada Boa.

“Tidak mau!” tolak Boa, “Dia yang harus minta maaf padaku bukan aku!”

“Boa!” suara Yunho sedikit meninggi.

“Tidak akan pernah! Kalau kau tetap memaksaku untuk minta maaf pada rubah menyebalkan itu lebih baik kita putus saja!”

“Mwo?” Yunho menatap tidak percaya pada apa yang yeoja bertubuh mungil itu katakan. Bukan! Yunho bukannya kaget atas ancaman Boa yang meminya putus jika dirinya memaksa yeoja itu meminta maaf pada Jaejoong melainkan cara Boa memanggil Jaejoong dengan sebutan rubahlah yang membuat Yunho kaget. “Joongie, pergilah ke kamarmu dan mandilah dengan air hangat. Hyung akan menuruti semua keinginanmu besok. Hari ini biar Hyung selesaikan dulu masalah dengan Boa, ne.”

Dengan kepala menunduk Jaejoong melepaskan diri dari pelukan Yunho dan berjalan perlahan menjauhi Yunho. Begitu sampai di depan mulut pintu Jaejoong berbalik, tersenyum mengejek pada Boa sambil memeletkan lidahnya. Tersenyum angkuh sambil bergumam, “Akulah yang menang!” dengan langkah ringan Jaejoong berjalan meninggalkan ruang makan, perasaannya sangat senang sekarang.

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

“Kau terlihat sangat senang!” ucap Changmin yang sudah berdiri pada anak tangga paling atas sambil menyilangkan kedua tangannya di atas dada dengan ekspresi angkuhnya.

Aigoo Minie ya… kau tidak bisa menyingkirkan ular menyebalkan itu sehingga aku yang harus turun tangan. Betapa tidak adilnya kau Jung Changminie….” keluh Jaejoong dengan wajah penuh noda kopi, namun ada kepuasan terpancar dari sepasang mata indahnya.

Changmin melempar handuk ke atas kepala Jaejoong, “… karena itu aku membiarkanmu bermain-main. Kau adalah orang yang tepat untuk meyingkirkan perempuan seperti dia mengingat obsesimu terhadap Yunho hyung.” komentar Changmin yang mendatangkan senyum tipis pada bibir Jaejoong, “Cepatlah dapatkan hati Yunho hyung agar kita tidak perlu berurusan dengan para yeoja menyebalkan seperti itu terus-menerus.”

“Aku melakukannya dengan caraku, Minie ya….” Jaejoong tersenyum sumpringah, berjalan melewati Changmin menuju pintu kamarnya di sisi sebelah kanan tangga, “Ah… Akan ku buat Yunho hyung yang mendatangi dan memohon cinta padaku.”

Changmin diam sampai mendengar suara pintu terbuka sesaat sebelum kembali ditutup, “Terserahmu saja.” gumamnya. Namja yang memegang bola basket itu berjalan perlahan menuruni tangga. Tidak ada yang tahu bila Changmin dan Jaejoong adalah partner dalam mengusir perempuan-perempuan yang mencoba mendaftarkan diri mereka sebagai calon menantu keluarga Jung. Selain karena tidak suka pada kehadiran orang baru, Changmin juga menganggap bahwa Jaejoonglah yang pantas mendampingi kakaknya. Dimata Changmin, Yunho dan Jaejoong terlihat menguarkan aura istimewa sama seperti ketika dirinya melihat ayah dan ibunya bersama.

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

Yunho mengusap perlahan helaian rambut yang menutupi wajah indah itu. Menekuri pahatan wajah yang begitu sempurna dimatanya, “Kapan kau akan menghentikan semuanya, Joongie?” gumam Yunho.

Mata indah itu terbuka, menatap sepasang mata coklat tajam namun juga meneduhkan. “Kalau Hyungie mau menerima perasaanku.”

“Joongie….”

Jaejoong menyibakkan kasar selimut yang semula membungkus tubuhnya, melompat dan memeluk tubuh Yunho erat hingga putra sulung keluarga Jung itu nyaris terjengkang karena ulahnya, “Aku akan mengusir semua yeoja yang Hyungie bawa pulang kemari dengan cara tidak terhormat! Walaupun itu menyakiti perasaanku sendiri dan perasaan Hyungie. Akan ku lakukan sampai Hyungie jatuh cinta padaku!”

Yunho mencium puncak kepala Jaejoong, membalas pelukan yang remaja seusia adiknya itu berikan padanya. Yunho tahu bahwa kejadian yang melibatkan Boa tadi tidak sepenuhnya salah yeoja itu, Jaejoong pun ambil andil pada apa yang Boa lakukan. Yunho tidak tahu bagaimana yang jelas ada sesuatu dibalik wajah polos remaja menawan itu yang membuat Yunho merinding. Tidak sekali dua kali Jaejoong terlibat masalah dengan semua yeoja chingunya yang kini berstatus mantan yeoja chingunya, termasuk Boa. Yunho sendiri tidak tahu dan tidak mengerti kenapa dirinya tidak bisa membenci Jaejoong. Yunho sangat menyayangi Jaejoong melebihi sayangnya pada Changmin andaikan dirinya boleh jujur. Tetapi entahlah… ada sesuatu yang membuat Yunho sedikit ragu pada Jaejoong. Mungkin dimata Yunho, Jaejoong masih bersikap kekanankan sehingga perasaan yang remaja itu berikan padanya kurang begitu mendalam, tetapi… Yunho tetap saja tidak mengerti kenapa dirinya tidak bisa memalingkan mata dari Jaejoong walaupun disampingnya ada perempuan cantik lagi seksi.

“Kalau kau berjanji tidak akan berbuat nakal lagi aku akan memikirkan perasaanmu Joongie.” ucap Yunho.

“Bila Hyungie hanya memikirkan saja, hal itu tidaklah cukup untukku. Aku mau sebuah tindakan nyata bukan perkataan belaka, Yunie Hyung.”

“Lalu apa yang kau ingin aku lakukan untukmu sekarang?”

“Sekarang?”

Ne, sekarang.”

Jaejoong sedikit melonggarkan pelukannya, wajahnya mendongak menatap wajah tampan Yunho, “Sekarang aku ingin Hyungie menciumku!”

“Tentu saja… asal dengan begitu kau bisa kembali menjadi Joongie yang manis.”

“Manis tidaknya sikapku bergantung pada Hyung juga….”

“Aku lebih suka Kim Jaejoong yang bersikap manis dan polos.”

“Akan hyung dapatkan asal Joongie mendapatkan apa yang dia mau.”

“Kalau begitu akan ku berikan apa yang Joongieku mau mulai sekarang!”

Malam itu untuk pertama kalinya Yunho menyerahkan dirinya dan menuruti semua keinginan egois yang Jaejoong minta untuknya lakukan. Sebuah penyerahan diri untuknya melajar memahami perasaannya yang sesungguhnya untuk Jaejoong.

Perasaan kasih seperti seorang kakak kepada adiknya, ataukah perasaan cinta….

… itulah yang sedang Yunho cari tahu.

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

END

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

Mian Tante kalau hasilnya kurang maksimal :D Tahu sendiri pan kondisi ane lagi naik turun akhir-akhir ini :’(

Akan Yuuki coba lain waktu seandainya Yuuki masih diperbolehkan menulis :D

Jaga kesehatan :)

Terima kasih sudah mau membaca.

Happy New Year #walautelaat :D

.

.

Friday, January 02, 2015

9:13:07 PM

NaraYuuki

Untuk Mantan

NaraYuuki

Bukan salahmu mantan,

Salahku yang terlalu perasa.

Bukan salahmu mantan,

Salahku yang kurang dewasa.

Bukan salahmu mantan,

Salahku yang terlalu kekanakan.

Bukan salahmu mantan,

Salahku yang menyemat kecewa.

Bukan salahmu mantan,

Salahku yang datang belakangan.

Bukan salahmu mantan,

Salahku yang merasakan radang.

Bukan salahmu mantan,

Sungguh bukan salahmu.

Salahkulah…

Salahkulah yang membiarkan hatiku merana karenamu.

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

Saturday, Desember 20, 2014

03.30 PM

NaraYuuki