Ketika kewarasan meninggalkanku

shin-min-ahKetika kewarasan meninggalkanku

Irama kemarahan dan kepahitan yang menggema

Ketika kewarasan meninggalkanku

Serupa mendidih air dalam telaga beku

Ketika kewarasan meninggalkanku

Gema palu bertalu dalam genggamku

Ketika kewarasan meninggalkanku

Meluap bak bandang ego sembilu

Ketika kewarasan meninggalkanku

Mimpi indah laksana jelaga dalam alang

Ketika kewarasan meninggalkanku

Nalar berpulang entah berseru!

Ketika kewarasan meninggalkanku…

Nah, ketika kewarasan meninggalkanmu

Bagaimana engkau kan beradu?

 

 

Saturday, September 24, 2016

7:54:03 AM

NaraYuuki

 

 

❤❤❤❤❤❤

Mianhae, Yuuki belum bisa post lanjutan epep lama dan post epep baru walaupun materinya sudah ada. Yuuki dicekik kesibukan, selain itu ketika post terakhir (kalau tidak salah tanggal 4 agustus lalu) sorenya Yuuki pingsan dan harus menginap di klinik selama 4 hari + harus pakai selang oksigen, bagi Yuuki itu hal yang memalukan sekaligus mengerikan. Jadi yang berpikir kok Yuuki malas post lagi ga seperti dulu, jawabannya ada pada kesehatan Yuuki yang sedikit bermasalah plus kesibukan di real.

Itu saja yang ingin Yuuki sampaikan, tetap jaga kesehatan🙂❤

Kakofonimu

yk1dnKakofonimu terdengar murung, Tuan.

Serupa irama gagak yang sumbang.

Tiba-tiba risik hati yang pilu.

Cih! Enyahkan semua perasaan itu!

Tidak penting! Itulah kata mereka

Sanggupkah anda bergulat dengan petaka yang mengintaimu?

Diam saja kalau tidak mampu!

Ah… Efoni pun sepertinya enggan mendekat.

Kenapa? Kenapa gundah wajah gulana itu nampak?

Tulikan hati, butakan telinga agar kias kabar angin bungkam!

Laksana gerimis yang lewat sesaat membasahi tanah kering.

Kakafonimu terdengar murung, Tuan….

Terlalu murung untuk ku cerna.

Terlalu riskan untuk ku dekati….

Apakah itu caramu untuk menjauh dariku?

 

 

 

NaraYuuki

Pembalasan Bidadari Hitam XVII

Tittle                : Pembalasan Bidadari Hitam XVII

Writer               : NaraYuuki

Genre               : Romance/ Family/ Friendship

Rate                 : -M

Cast                 : All member DBSK and others (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan). Seiring bertambahnya Chap castnya pun akan disesuaikan.

Disclaimer:      : They are not mine but this story, Jung Hyunno, Jin Hyeri  & OOC yang lain are mine, NaraYuuki

Warning           : This is YunJae Fan Fiction (Boys Love), M-Preg. Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut. Paragraf/ dialog yang penulisannya menggunakan Blod, Italic ataupun under line berarti itu adalah kejadian dimasa lampau (flash back) TANPA EDIT.

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

PASTIKAN BACA WARNINGNYA DULU

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

Cara memberi pelajaran Jung Yunho dan anak ingusannya yang bernama Hyunno itu hanya bisa dilakukan dengan satu cara. Melukai Jaejoong.”

Cara memberi pelajaran Jung Yunho dan anak ingusannya yang bernama Hyunno itu hanya bisa dilakukan dengan satu cara. Melukai Jaejoong.”

“Makan malam?” tanya Jaejoong.

“Ya. Kau boleh menentukan tempat dan waktunya.” Ucap Yunho sambil mendorong troli berisi bahan makanan dan keperluan rumah tangga lainnya. Hari ini Jaejoong lagi-lagi menelponnya, mengajaknya berbelanja untuk kebutuhan putra mereka. Tentu saja Yunho langsung mengiyakan begitu saja tanpa memedulikan situasi padahal sebelumnya saudara kembar Jung Jessica itu sedang memimpin rapat pemegang saham. Walhasil rapat itu ditunda untuk sementara waktu sampai urusan Yunho selesai. Egois memang tetapi Yunho tidak peduli. Ia bahkan rela didepak dari perusahaan asal bisa menghabiskan banyak waktu bersama Jaejoong.

“Hm….” Jaejoong bergumam. Diambilnya beberapa buah sabun mandi yang biasa Hyunno gunakan dari etalase dan memasukkannya ke dalam troli.

“Tetapi jangan mendadak memberitahuku seperti hari ini. Karena ada beberapa hal yang harus aku diskusikan dengan Changmin.” Ucap Yunho.

Jaejoong melirik Yunho tanpa berkomentar apa-apa, memikirkan ajakan ayah biologis anaknya itu. Sambil terus fokus menatap deretan etalase, Jaejoong bergumam. “Ada sebuah rumah makan kecil yang ingin ku datangi.”

“Kalau begitu mari kesana!” ajak Yunho.

“Tetapi aku terlalu pengecut untuk mendatanginya.” Tangan Jaejoong terjulur untuk mengambil sebotol sampo ukuran besar. “Waktu kecil aku biasa makan disana bersama Appa sepulang sekolah.”

Yunho diam. Tidak tahu harus berkomentar apa. Yunho tahu betul seperti apa hubungan Jaejoong dan ayahnya. Yunho memahami perasaan sedih dan kehilangan itu masih menggelayuti Jaejoong. Bagaimanapun juga Siwon –ayah Jaejoong adalah sosok yang paling berpengaruh dalam hidup Jaejoong sampai sekarang ini.

“Akan ku kirim alamatnya nanti.” Janji Jaejoong pada akhirnya.

❤❤❤

Mata sayu itu menatap lekat-lekat wajah dalam foto yang ia pegang. Ada perasaan yang tidak bisa ia jelaskan ketika memandang mata bak mutiara hitam itu, bibir yang tersenyum dengan bahagia dan binar ceria itu membuatnya marah dan kesal namun matanya enggan memalingkan pandangan dari sosok indah dalam foto itu. Jaejoong.

“Maafkan aku… walaupun pernah sekali gagal melenyapkanmu dulu tetapi perasaanku tidak berubah sama sekali sedari pertama kita bertemu. Aku mengagumimu, sungguh…. Tetapi kalau kau tidak ada Yunho akan hancur. Sialnya aku menginginkan kehancuran Yunho. Satu-satunya cara adalah dengan melenyapkanmu. Maafkan aku… kau tidak salah apa-apa tetapi inilah hidup dan segala kekejiannya.” Gumamnya sembari meremas foto ditangannya dan melemparnya kedalam tempat sampah. “Bagaimana?”

“Sesuai dugaan anda, target kita diam-diam diawasi oleh orang-orang Jung Yunho. Setidaknya ada 3-5 orang yang diam-diam mengikutinya setiap kali dia keluar rumah. Belum lagi keberadaan Jung Yunho sendiri yang semakin sering berada berada disekitarnya.”

“Cari moment yang tepat untuk eksekusi. Ingat! Jangan sampai apa yang kita lakukan tersendus si Jung brengsek itu! Pembalasan yang ia lakukan bila ia sampai tahu rencana kita bisa dipastikan jauh lebih menyakitkan dan keji daripada apa yang akan kita lakukan. Yang paling penting, jangan libatkan putriku atau nyawamu taruhannya!”

❤❤❤

Prang!

Gelas kosong yang sedang ia cuci tiba-tiba meluncur jatuh menghantam lantai. Serpihannya berserakan disekitar kakinya yang telanjang.

“Apa yang terjadi?” tanya Hyunno yang langsung keluar dari kamar mandi. Niatnya untuk mandi batal sudah begitu mendengar suara benda jatuh.

Molla… mungkin tanganku terlalu licin sehingga gelasnya jatuh ketika aku hendak meletakkannya di rak.” Ucap Hyeri.

“Jangan bergerak dari situ! Akan ku sapu pecahannya!”

“Aku tidak apa-apa.”

“Jangan bergerak kataku!” perintah Hyunno. “Serpihannya bisa melukai telapak kakimu!” sedikit buru-buru Hyunno mengambil sapu untuk membersihkan serpihan pecahan gelas.

Melihat kepanikan yang terpancar jelas dari wajah Hyunno membuat Hyeri mengulum senyum bahagia. Gadis itu bahagia mendapat perhatian sebesar itu dari orang yang ia cintai.

“Sudah! Duduk saja! Jangan mencuci lagi!” perintah Hyunno usai selesai menyapu serpihan gelas. Ditariknya Hyeri menuju meja makan, menarik salah satu kursinya dan mendudukkan Hyeri disana. “Biarkan ahjumma yang dikirim Changmin ahjushi yang mencucinya. Kau cukup diam dan melihat saja!”

“Tapi aku ingin melakukannya…”

Hyunno menghembuskan napas perlahan, rasanya seperti menjaga anak TK saja, ia dan Hyeri sama-sama anak tunggal tetapi cara berpikir mereka sangat berbeda, Hyunno terlalu dewasa untuk usianya sementara Hyeri terlalu kekanak-kanakan. “Pergilah belanja. Ku rasa kau butuh beberapa potong pakaian untuk pergi kuliah.” Hyunno meletakkan credit card berwarna gold yang diambilnya dari saku celananya.

Hyeri menggelengkan kepalanya pelan. “Aku tidak mau merepotkanmu.”

“Kalau kau tidak menurutiku lebih baik kau pulang saja!” ucap Hyunno ketus. “Kita sudah sepakat bukan? Dengan hubungan kita yang sekarang kau tidak perlu sungkan padaku. Apa yang menjadi milikku adalah milikmu juga.”

Hyeri tersenyum mendengar ucapan Hyunno. Rasanya seperti dihujani ribuan kelopak bunga, Hyeri merasa sangat tersanjung.

“Pergilah belanja apapun yang kau inginkan.” Hyunno menyerahkan kunci mobilnya pada Hyeri. “Hari ini aku ada urusan dengan Appa jadi supir Appa akan menjemputku.”

❤❤❤

“Akhir-akhir ini ada orang asing yang diam-diam menguntit ibumu.” Ucap Yunho begitu Hyunno masuk mobilnya.

“Mungkin fans Umma. Bukankah Ummaku sangat menawan?” komentar Hyunno.

“Fans tidak mungkin membawa senapan laras panjang, anakku!” Yunho melirik Hyunno yang kini memandangnya dengan raut wajah kaget. “Kedekatanmu dengan putri Jin Yihan sepertinya membuat ayah gadis itu sedikit gusar. Apalagi kau adalah anakku.”

“Akan ku bunuh orang yang menyakiti Ummaku!”

“Tidak ada seorang pun yang akan kau bunuh, Jung muda! Aku tidak akan membiarkan anakku menjadi orang keji sepertiku. Cukup aku saja yang berdosa. Kau akan membuat ibumu sedih bila sampai membunuh orang. Biar aku dan Changmin yang mengurus semuanya.”

“Kalau ada orang yang berniat menyakiti Umma, aku tidak akan tinggal diam Appa!”

Yunho tersenyum mendengar Hyunno memanggilnya Appa. “Tidak akan ada yang bisa menyakiti ibumu selama aku masih hidup.” Janjinya. “Dan soal Hyeri… aku sudah mendengar semuanya dari Changmin.”

“Dasar tukang adu!”

“Jangan salah sangka! Aku yang memaksa Changmin bicara dengan sedikit ancaman tentu saja.” Yunho berujar. “Apa kau mulai serius dengan gadis itu?”

“Maksud Appa?”

“Aku tahu kau sangat cerdas, Hyunno. Jangan berpura-pura tidak tahu kemana arah pembicaraan ini.”

Hyunno tersenyum. “Apa yang ingin Appa ketahui?” tanyanya.

“Kau menyukainya?”

“Menyukai dalam hal apa?” tanya Hyunno balik. “Appa harus spesifik ketika memberikan pertanyaan.” Tambahnya.

“Jangan mengguruiku, Nak!” Yunho memperingatkan. “Kalian tinggal satu atap hanya berdua!”

“Oh, itu….” Komentar Hyunno.

“Jelaskan!” perintah Yunho.

“Aku suka mengurusnya. Hyeri seperti seekor anak kucing yang butuh perhatian lebih dan simpatik.” Hyunno melontarkan pendapatnya. “Dia jadi hiburan tersendiri bagiku.” Tambahnya.

Yunho berdecak. Ada kekesalan –kekhawatiran dalam raut wajahnya. “Berjanjilah untuk tidak melampaui batas!” perintahnya. “Jangan sampai melakukan hal yang akan membuatmu menyesal dikemudian hari. Jangan melakukan kesalahan seperti yang ayahmu ini lakukan.”

“Hm…” Hyunno mengangguk perlahan. “Ku dengar Appa dan Umma akan dinner akhir pekan nanti.”

Yunho menarik senyum simpul, “Yah, pada akhirnya perlahan-lahan ibumu mau membuka hatinya.”

“Jangan sia-siakan kesempatan yang sudah Umma berikan.”

“Aku akan melamarnya.”

“Aku tidak terkejut mendengar rencanamu, Appa.” Komentar Hyunno. “Umma suka bunga lili putih. Bawakan buket bunga itu untuknya. Ku jamin Umma akan tersentuh.”

“Hei Jung muda! Untuk urusan seperti itu aku jelas lebih hebat darimu.”

Hyunno mendengus kesal.

“Sudah sarapan?”

“Tidak sempat.” Jawab Hyunno.

“Mau mampir ke rumah ibumu untuk mengemis sesuap nasi?”

“Aku tidak keberatan Appa.”

❤❤❤

Hyeri berjalan mengendap-endap mengikuti ayahnya yang sedang berjalan bersama beberapa orang yang tidak dikenalnya. Barusan ketika baru keluar dari salah satu stand pakaian yang ada di pusat perbelanjaan Hyeri melihat ayahnya lewat sehingga gadis itu memutuskan untuk mengikutinya. Hyeri berharap ayahnya tidak menyadari keberadaannya agar dirinya tidak diseret pulang.

“Cara memberi pelajaran Jung Yunho dan anak ingusannya yang bernama Hyunno itu hanya bisa dilakukan dengan satu cara. Melukai Jaejoong.”

Seketika Hyeri menghentikan langkah kakinya begitu mendengar apa yang ayahnya katakan pada orang-orang yang bersamanya. Jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya. Matanya terasa panas. Melukai Jaejoong? Orang yang sangat disayangi oleh Hyunno? Orang yang sangat baik dan perhatian pada dirinya? Tiba-tiba Hyeri menangis dan terisak.

Appa, jangan lakukan hal yang bisa membuatku kehilangan Hyunno.” Jeritnya dalam hati.

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

Tuesday, June 21, 2016

8:00:53 PM

NaraYuuki

Pembalasan Bidadari Hitam XVI

Tittle                : Pembalasan Bidadari Hitam XVI

Writer               : NaraYuuki

Genre               : Romance/ Family/ Friendship

Rate                 : -M

Cast                 : All member DBSK and others (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan). Seiring bertambahnya Chap castnya pun akan disesuaikan.

Disclaimer:      : They are not mine but this story, Jung Hyunno, Jin Hyeri  & OOC yang lain are mine, NaraYuuki

Warning           : This is YunJae Fan Fiction (Boys Love), M-Preg. Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut. Paragraf/ dialog yang penulisannya menggunakan Blod, Italic ataupun under line berarti itu adalah kejadian dimasa lampau (flash back) TANPA EDIT.

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

PASTIKAN BACA WARNINGNYA DULU

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

❤❤❤❤❤

Jaejoong yang merasa Yunho mulai bicara ngelantur tanpa segan menginjak kaki Yunho dan berjalan mendahuli ayah Hyunno yang sedang mengaduh kesakitan itu.

Jaejoong yang merasa Yunho mulai bicara ngelantur tanpa segan menginjak kaki Yunho dan berjalan mendahuli ayah Hyunno yang sedang mengaduh kesakitan itu.

“Gadis itu minggat dari rumah dan Hyunno menampungnya?” tanya Yunho pada Changmin yang baru saja memberitahunya perihal yang terjadi pada Hyeri dan ayahnya –Yihan dan bagaimana Hyunno dengan suka rela menampung Hyeri di apartement pemberian kakeknya –Jung Woo Sung.

“Soal ini sebaiknya jangan sampai Jaejoong hyung tahu dulu, Hyung.” Pesan Changmin. “Aku tidak tahu apa yang Hyunno rencanakan, ini diluar pembicaraan yang pernah kami lakukan dulu mengenai Hyunno yang akan mendekati Hyeri untuk menuntut balas pada Jin Yihan. Tetapi sepertinya Hyunno mulai kehilangan arah. Bisa saja keponakanku itu jatuh hati pada Hyeri.”

Yunho memijit pelipisnya yang berkedut sakit. Menjadi seorang ayah tidaklah mudah, Yunho baru tahu hal itu. Anaknya hanya –baru satu tetapi sudah membuat ulah seperti ini. “Dengar! Rahasiakan ini dari tua Bangka Jung dan Jessica. Kapan mereka pulang?”

“Entahlah, Hyung. Ku dengar Appa mulai dipusingkan oleh Jessica Nunna gara-gara ia mulai berkencan dengan salah seorang pengusaha berumur di Hongkong.” Jawab Changmin.

“Apa kau tahu kabar mengenai Yoochun dan Junsu? Mereka bagai ditelan bumi.”

“Mereka sibuk dengan pabrik pengolahan ikan yang ada di Busan. Terakhir ku dengar mereka memenangkan tender sebagai pemasok produk yang akan diekspor ke Jepang dan Negara asia Barat lainnya.”

Yunho menganggukan kepalanya perlahan.

Hyung… aku mendapat informasi dari orang yang bisa dipercaya bahwa Jin Yihan mulai mencari orang yang mau bekerja sebagai pembunuh bayaran. Tetapi aku belum tahu siapa yang diincarnya.”

Yunho menatap serius wajah Changmin yang perlahan mengeruh. “Kau tahu siapa? Tentu saja Hyunno! Si brengsek itu mengincar anakku! Bedebah sialan!” umpat Yunho. “Dengar! Perintahkan orang-orang kita untuk 24 jam berada didekat Hyunno! Jika ada orang mencurigakan mendekatinya, lakukan tindakan yang diperlukan tetapi jangan sampai membunuhnya!”

“Aku sudah melakukannya tanpa Hyung minta karena aku tahu resiko yang dihadapi Hyunno begitu terjun dalam dunia orang dewasa yang penuh kebusukkan ini.” Ucap Changmin. “Aku takut bila yang menjadi incarannya adalah Jaejoong hyung mengingat saat ini Yoochun dan Junsu sedang tidak berada didekatnya.”

“Jauh-jauh hari aku sudah memerintahkan orang-orangku untuk mengawasi Jaejoong tanpa merusak kenyamanannya.” Yunho menatap Changmin. “Dengar! Hyunno lebih percaya padamu daripada aku karena itu kau harus menasihatinya agar jangan sampai terlibat terlalu jauh dengan anak si Jin itu! Aku tidak mau dia menyesal nantinya.”

❤❤❤

Malam itu Hyunno membiarkan gadis manis itu terlelap di atas pangkuannya sambil memeluk perutnya erat. Hyunno sedang memikirkan sesuatu, mata bulat indahnya yang terbingkai kelopak mata setajam dan serupa milik Yunho itu menatap jejak air mata yang membekas diatas permukaan pipi Hyeri. Hyunno menyibakkan rambut kusut gadis itu, mengamati wajah damainya dalam keheningan yang aneh.

Membuat Hyeri bergantung padanya merupakan cara terbaik untuk mengikat gadis itu agar berpihak padanya. Hyunno mulai menyusun siasat busuk lagi brengsek yang bisa ia gunakan sebagai senjata untuk membalas dendam pada Jin Yihan yang merupakan ayah Hyeri. Sejujurnya Hyunno tidak membenci Hyeri tetapi dengan sangat terpaksa ia harus memanfaatkan perasaan gadis itu yang terlampau mencintai dan percaya padanya.

Perlahan Hyunno mengusap-usap permukaan pipi Hyeri, membuat gadis manis itu membuka matanya yang sembab. Bibirnya merengut kesal karena tidurnya diganggu. “Tidur disofa akan membuat badanmu pegal esok hari. Pindahlah ke kamar tidur.”

“Tidak mau….” Jawab Hyeri dengan suara serak.

“Selesai mengecek laporan dan proposal yang dikirim oleh Changmin ahjushi melalui email tadi sore, aku akan langsung menyusulmu.” Ucap Hyunno.

“Janji?” tanya Hyeri.

Hyunno mengangguk pelan.

Hyeri bangun dari tidurnya, menyeret langkah kakinya menuju kamar Hyunno –yang entah sejak kapan menjadi kamarnya juga. Hyunno hanya mengawasinya dalam diam.

❤❤❤

“Aku senang kau menelponku pagi-pagi buta walaupun hanya untuk menyuruhku mengantarmu membeli ubi manis dipasar.” Ucap Yunho ketika berjalan mengekori Jaejoong yang sedang memilih-milih ubi manis, banyak penjual ubi berjajar tetapi ketika Jaejoong berbelanja ia akan memilih kualitas terbaik.

“Semalam aku bermimpi Hyunno minta kue yang terbuat dari ubi manis.” Jawab Jaejoong. Matanya fokus meneliti deretan ubi-ubi manis yang bejajar rapi disepanjang jalan yang dilaluinya.

Yunho diam saja. Toh dirinya cukup senang mengingat ini kali pertama Jaejoong menelpon dirinya terlebih dahulu walaupun hanya untuk dijadikan supir saja.

“Apa yang sedang terjadi sebenarnya?” tanya Jaejoong, kakinya melangkah berbelok ketika ia melihat seorang penjual ubi manis dengan ukuran sedang –tidak terlalu besar tidak pula terlalu kecil.

“Apa maksudmu?” tanya Yunho balik.

Jaejoong tersenyum pada si penjual, “Ahjumma, aku ingin membeli 3 kilo ubi manismu. Bolehkah aku memilihnya sendiri?”

“Tentu saja Agashi.” Jawab si penjual.

Jaejoong tidak berkomentar, jemarinya terjulur untuk mencubit pinggang Yunho yang berusaha menahan tawanya. Kemudian Jaejoong mulai memilih ubi yang hendak dibelinya. “Aku tahu kalau kau menyuruh orang untuk mengawasiku. Kenapa?”

Yunho mengambil sebuah ubi dan diperlihatkan pada Jaejoong.

“Itu kurang bagus. Rasanya kurang manis.” Komentar Jaejoong.

“Ada informasi bahwa Jin Yihan menyewa pembunuh bayaran. Aku hanya berjaga-jaga saja, bersikap waspada. Bukan hanya kau, aku pun menyuruh orang untuk mengawasi Hyunno. Aku tidak mau sesuatu hal buruk menimpa kalian berdua.”

“Kenapa? Bukankah semuanya sudah selesai? Apa kematian orang tuaku dan orang tuanya belum cukup?” tanya Jaejoong yang sibuk memasukkan ubi pilihannya ke dalam kantung plastik.

“Tidak sesederhana itu. Sama seperti Hyunno yang tidak terima pada apa yang terjadi dengan keluarga kalian dan ingin menuntut balas, Yihan pun mungkin saja berpikiran seperti itu. Terlebih sekarang putrinya sedang dekat dengan Hyunno.” Komentar Yunho. “Lagi pula kebencian dan dendam tidak mudah untuk dihapuskan meskipun mulut sudah mengatakan maaf tetapi hati belum tentu bisa memaafkan.”

Jaejoong melirik Yunho sekilas sebelum menyerahkan kantung plastik berisi ubi-ubi pilihannya untuk ditimbang oleh si penjual. “Akan banyak pihak yang terluka karena dendam.”

“Kau paling mengerti soal itu.” Yunho menampik tangan Jaejoong yang mengulurkan uang pada si penjual. “Biar aku saja.” Ucapnya sambil mengeluarkan dompet, mengambil uang untuk dibayarkan pada bibi penjual.

“Kau tidak harus melakukannya.” Jaejoong tersenyum pada si penjual sebelum berjalan pergi meninggalkan kiosnya.

“Sebuah keharusan dan kewajiban bila diperuntukkan untuk anakku dan kau.” Sahut Yunho. Matanya menatap garang pada ahjushi-ahjushi pengangkut barang yang mencuri-curi pandang pada Jaejoong. “Haruskah aku membungkusmu dengan plastik atau kardus agar orang-orang pasar ini tidak menatap lapar padamu?” ketusnya.

Jaejoong tidak menyahut, hanya melirik malas pada Yunho. “Aku butuh telur.”

“Kenapa tidak beli di supermarket saja?” tanya Yunho mulai tidak sabar.

“Walaupun aku berbelanja di supermarket, kau pasti akan bersikap seperi ini ketika ada orang yang menatapku.” Komentar Jaejoong santai.

“Aku tidak suka melihatnya!”

“Mereka punya mata, Jung Yunho! Jangan berlebihan!”

“Kalau begitu biarkan aku mencongkel mata mereka agar mereka tidak bisa menatapmu seperti itu! Awas saja kalau otak mereka membayangkan yang tidak-tidak!” geram Yunho, “Pria tua seperti mereka biasanya memiliki kadar kemesuman yang tinggi.”

“Kau pun mesum! Dan ingatlah bahwa kau sendiri pun sudah tua!”

“Aku masih cukup muda untuk memberikan adik pada Hyunno.” Gurau Yunho.

Jaejoong yang merasa Yunho mulai bicara ngelantur tanpa segan menginjak kaki Yunho dan berjalan mendahuli ayah Hyunno yang sedang mengaduh kesakitan itu.

❤❤❤

“Kau… semakin hari semakin mirip dengan ayahmu.” Komentar Yihan sambil meminum kopinya.

Hyunno yang siang itu sengaja mengajak Yihan bertemu disebuah rumah makan hanya tersenyum tipis sembari menyeruput jus pesanannya sambil memakan kue coklat. “Banyak yang bilang seperti itu, Ahjushi. Tetapi aku mengajak Ahjushi bertemu bukan karena ingin membicarakan hal itu. Mengenai Hyeri…” Hyunno memberikan jeda untuk melihat reaksi yang Yihan perlihatkan. Tersenyum puas ketika wajah sahabat –musuh ayahnya itu memasang wajah tegang. “Hyeri kemarin menemuiku sambil menangis, Ahjushi. Dia datang ke rumahku tanpa alas kaki ataupun baju hangat. Dia belum bercerita alasannya pergi dari rumah tetapi aku menduga mungkin Hyeri minggat karena bertengkar dengan Ahjushi.”

Yihan mengamati wajah tenang Hyunno –yang kelewat tenang untuk anak remaja seusianya. “Hyeri ke rumahmu? Dia menginap di rumahmu?” tanya Yihan.

“Bukan rumah yang dulu ku tinggali dengan ibuku, Ahjushi. Aku sudah pindah ke sebuah apartement pemberian kakekku.” Jawab Hyunno.

“Kau tinggal sendiri?”

“Sejak kemarin tidak lagi sendiri karena Hyeri tinggal bersamaku.”

Rahang Yihan mengeras. “Kalian tinggal berdua?”

“Tidak juga.” Jawab Hyunno. “Aku hanya menampung Hyeri untuk sementara sampai ia mau pulang lagi ke rumah. Aku sudah berusaha menasihatinya untuk pulang tapi dia tidak mau. Aku tidak tahu alasannya apa dan kenapa dia minggat dari rumah sehingga aku kesulitan menemukan alasan untuk membujuknya. Karena itu aku mengajak Ahjushi bertemu. Mungkin Ahjushi mau mengatakan padaku alasan Hyeri minggat dari rumah.”

“Aku melihat sosok berbahaya Yunho muda dalam dirimu, Nak.” Ucap Yihan tajam penuh penekanan. “Sejujurnya aku tidak suka anakku bergaul denganmu. Kami sedikit bertengkar hingga dia minggat dari rumah. Aku tidak menyangka dia justru datang menemuimu dan kalian tinggal bersama?”

Hyunno tersenyum ketika melihat wajah Yihan mulai memerah, amarah mulai menguasai pria dewasa itu. Hyunno senang bisa bermain-main dengannya. Memotong kue coklatnya dengan sendok kemudian memakannya dengan perlahan. Hyunno suka melihat ekspresi tegang yang musuhnya perlihatkan. “Hyeri gadis baik. Tidak mungkin aku tidak membantunya saat ia dalam kesulitan.”

“Berikan alamatmu! Aku akan menjemputnya hari ini juga!”

“Tidak sesederhana itu, Ahjushi. Kalau Ahjushi menjemputnya paksa tidak ada jaminan Hyeri tidak akan kabur lagi.” Ucap Hyunno. “Biarkan untuk sementara ia tinggal bersamaku, aku akan terus membujuknya untuk pulang.”

Yihan mendengus kesal.

“Maafkan aku, Ahjushi. Aku harus segera pergi. Ibuku hari ini ingin bertemu denganku. Permisi….” Sekali lagi Hyunno tersenyum, senyum mengejek sebelum meninggalkan Yihan yang masih memasang wajah masamnya.

❤❤❤

Hyunno sedikit terkejut ketika melihat Hyeri berada di ruang makan rumahnya –rumah yang ia tinggali bersama ibunya sebelum memutuskan pindah ke apartement. Changmin dan Yunho pun ada disana, tengah duduk manis sambil membicarakan Jessica ahjummanya. Hyunno tersenyum bahagia ketika melihat ibunya terlihat sehat dan bahagia. Sosok yang paling dicintainya itu sedang menyiapkan makanan.

“Kemarilah! Ibumu sudah menyiapkan kue untukmu.” Ucap Yunho.

Hyunno berjalan mendekati meja makan. “Kau kemari?” tanyanya pada Hyeri.

“Aku datang ketika Joongie umma sedang membuat kue dari ubi manis. Sekalian aku belajar memasak.” Jawab Hyeri.

❤❤❤

Yihan meletakkan sebuah amplop tebal di atas meja dengan sedikit gusar. “Apapun caranya, singkirkan orang itu! Lenyapkan dia dari muka bumi ini! Dan ingat, jangan sampai meninggalkan jejak!”

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

Wednesday, March 16, 2016

10:36:21 AM

Narayuuki

Sekuel Vengeance III (END)

Tittle                : Sekuel Vengeance III (END)

Writer               : NaraYuuki

Genre               : Romance? Familly? Friendship? A Little bit Angst?

Rate                 : T+

Cast                             : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Park Yoochun, Han Youngwoong & Jung Jessica

Disclaimer:      : They are not mine but this story, OOC Hyunno & Hyunbin are mine, NaraYuuki

Warning           : Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran. Tanpa Edit jadi mungkin sedikit amburadul ==” Penceritaan ngebut. Saran dan masukkan diterima. Tidak menerima Bash dan Flamer dalam bentuk apapun!

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

PASTIKAN BACA WARNINGNYA!

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

“Aku sedikit terkejut ketika sekertarisku mengatakan kau ingin bertemu denganku.” Ucap Yunho yang baru datang. Direktur muda itu segera mendudukkan dirinya di atas kursi di hadapan sosok cantik yang terlihat sedang kebingungan itu.

Jessica meraih gelas air esnya, meminumnya beberapa teguk sebelum menatap mata sahabatnya semasa SMA dulu. “Kau tidak mau memesan sesuatu?” tanyanya.

“Aku kurang suka makanan di kantin kantorku sendiri.” Ucap Yunho.

Jessica mengangguk paham. “Aku akan mengatakan sebuah rahasia besar padamu. Bisakah aku percaya padamu? Bisakah kau menjaga rahasia ini untukku?”

Wajah Yunho berubah menjadi serius. “Rahasia?”

Jessica menghela napas panjang untuk mengusir kegugupannya. Meraih gelas berisi air esnya dan meneguknya sekali lagi. “Kau harus berjanji untuk tetap merahasiakannya!”

“Kau kelihatan sedikit kacau…” ucap Yunho. “Mau ku pesankan air minum lagi?”

“Tidak. Terima kasih.” Tolak Jessica. “Ketika aku masih di Amerika dan bertemu dengan Jaejoongie… aku jatuh cinta padanya. Aku menyatakan perasaanku padanya. Pada saat itu Jaejoongie mengatakan hal yang membuatku sangat syock…” Jessica menelan ludahnya susah payah.

“Apa yang ia katakan padamu?” tanya Yunho, entah mengapa ia menjadi gugup. Perasaannya menjadi tidak nyaman.

“Ia mengatakan…”

❤❤❤

“Apa kau bisa menerima masa laluku? Dimalam kelulusanku aku tidur dengan temanku.”

“Itu… kalau hal seperti itu aku bisa menerimanya. Aku besar di Amerika, hal seperti itu wajar disini.” Ucap Jessica.

Jaejoong menatap Jessica lekat-lekat. “Temanku itu namja.”

Jessica bungkam.

“Temanku seorang namja. Namja yang begitu dicintai almarhum adik kembarku. Namja yang ingin ku benci tetapi aku tidak bisa membencinya karena adikku begitu mencintainya.”

Jessica tidak mengatakan apa-apa. Sibuk dengan pikirannya yang kusut dan buntu.

“Dari hubungan semalam itu aku melahirkan sepasang anak kembar.” Jaejoong tersenyum hangat. “Masihkah kau bisa menerima masa laluku yang seperti itu?”

Jessica menatap wajah yang sangat dikaguminya itu lekat-lekat. “Kenapa… kenapa kau tidak mengugurkannya?”

“Tidak. Manusia –bayi adalah mahluk yang suci. Mereka tidak bersalah. Akulah yang bersalah. Akan ku tanggung semua tanggung jawab yang memang harus ku pikul.” Ucap Jaejoong. “Kalau kau jijik padaku karena masa laluku maka akan ku terima itu. Kalau kau bisa menerima masa laluku dan tetap ingin bersamaku, maka aku akan mencoba menjalin hubungan yang serius denganmu.”

❤❤❤

Yunho diam seribu bahasa usai mendengarkan penjelasan Jessica.

“Aku bohong soal kematian orang tua Jaejoongie –kecuali kematian ayahnya yang memang terinfeksi virus usai memeriksa pasiennya itu benar. Ibunya terkena serangan jantung saat sedang membuat kue pesanan pelanggannya. Si kembar Hyunno dan Hyunbin… akta kelahiran mereka didaftarkan sebagai anak dari orang tua Jaejoongie, adik Jaejoongie. Mereka tidak tahu kenyataan ini dan biarlah seperti itu sampai mereka dewasa.” Ucap Jessica. Matanya lekat menatap wajah Yunho yang terlihat sangat keruh. “Teman yang tidur dimalam kelulusan Jaejoongie adalah kau… iya kan Yunho?”

“Ya….” Ucap Yunho tanpa menatap wajah Jessica. Pikirannya melayang kemana-mana.

“Sejujurnya aku tidak mempermasalahkan soal itu. Hanya saja melihatmu masih berusaha mendekati tunanganku membuatku sedikit was-was.”

Yunho menatap mata Jessica. Ada kesedihan dan kekhawatiran didalam bola mata coklat bening itu.

“Kemarin aku melihatmu mencium paksa tunanganku –walaupun ia berhasil membuat wajahmu memar seperti itu tetapi rasanya hatiku tetap tidak rela melihatnya. Kim Jaejoong adalah tunanganku. Sebulan lagi kami akan menikah. Demi persahabatan kita dimasa lalu aku mohon padamu untuk tidak mengusik hidup tunanganku lagi!”

“Sica aku….”

“Mari anggap kejadian kemarin tidak pernah terjadi.” Jessica tersenyum, bangkit dari duduknya. “Aku harus segera pergi mengurus undangan pernikahan kami. Aku masih ada janji dengan pihak percetakan. Lain kali aku akan mentlaktirmu makan siang. Sampai jumpa.”

Hati Yunho terasa sakit dan nyeri melihat senyum Jessica. Senyum yang terlihat ceria namun menyemat luka dan ketakutan.

❤❤❤

Dulu dengan Youngwoong, Yunho nyaris memiliki seorang anak jikalau adik kembar Jaejoong itu tidak memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Yunho sudah berniat bertanggung jawab meskipun ia sama sekali tidak menyukai Youngwoong. Lain halnya dengan Jaejoong. Sejak semula Yunho memberikan perasaan khusus pada Jaejoong sehingga ketika ia mengetahui kenyataan bahwa adik-adik Jaejoong yang bernama Kim Hyunno dan Kim Hyunbin adalah darah dagingnya sendiri Yunho merasa bingung. Bingung pada apa yang harus dilakukannya. Kenyataan bahwa Jaejoong akan menikahi Jessica sebulan lagi sudah nyaris mencekik leher Yunho, belum lagi perasaan bersalah yang menggrogoti hati Yunho dikarenakan membiarkan Jaejoong membesarkan anak-anaknya –anak mereka seorang diri sepeninggal orang tuanya. Yunho tidak bisa membiarkan Jaejoong menikahi Jessica namun ia sendiri tidak tahu harus berbuat apa untuk menggagalkan rencana pernikahan itu. Haruskah ia menculik Jaejoong dan membawanya kabur? Atau haruskah ia mengancam Jaejoong dan Jessica untuk membatalkan pesta pernikahan itu?

“Maafkan aku Sica… sepertinya aku tidak bisa membiarkan Jaejoongku menikah denganmu.” Gumam Yunho.

“Direktur…”

Yunho menatap wajah sekertarisnya. “Ada apa?” tanyanya.

“Rapat akan segera dimulai. Anda harus segera pergi ke ruang rapat sekarang juga.”

“Batalkan rapat hari ini! Ada sesuatu yang harus ku urus terlebih dahulu. Ini jauh lebih penting daripada rapat!”

“Tapi… ayah anda –Presdir?”

“Biar aku yang mengurus si tua itu. Dia akan senang ketika mendapatkan cucu –dua sekaligus.” Ucap Yunho yang langsung melesat pergi meninggalkan sekertarisnya yang kebingungan.

❤❤❤

Jessica tersenyum puas ketika melihat jas pengantin rancangannya sangat cocok dikenakan oleh Jaejoong, Jaejoongnya! Jessica tidak akan membiarkan siapapun mengusik kebahagiaannya menjelang pesta pernikahannya. Jaejoong adalah miliknya!

“Aku memang jenius!” Jessica memuji dirinya sendiri.

Jaejoong tersenyum, mengusap kepala Jessica lembut. “Sudah? Aku harus segera ke rumah sakit. Satu jam lagi aku harus masuk ruang operasi.” Ucapnya.

“Tentu saja belum! Aku masih harus menyiapkan sepatu untuk masing-masing jasmu Joongie ya.” Rengek Jessica manja. “Tapi karena aku adalah calon istri yang pengertian maka ku perbolehkan calon suamiku mengurus pasiennya dulu.”

Rencananya, ketika mereka mengikat janji suci pakaian yang akan mereka kenakan berwarna broken white, sedangkan untuk resepsi mereka akan mengenakan pakaian berwarna maroon dan hitam. Konsep pernikahan yang dipilih oleh Jessica adalah abad pertengahan sehingga Jessica mengerahkan segenap kemampuannya untuk membuat jas yang akan Jaejoong kenakan nanti selayaknya jas yang dipakai oleh para pangeran dan bangsawan pada abad pertengahan.

Jaejoong mencubit hidung Jesssica perlahan. “Kalau begitu aku langsung ke rumah sakit ya.”

Jessica mengangguk pelan, tidak lupa mencium pipi tunangannya mesra.

❤❤❤

“Bisakah kau berhenti menggangguku?” sentak Jaejoong ketika Yunho terus mengekorinya kemanapun ia melangkah. Tidak tahukah Yunho bahwa Jaejoong harus segera masuk ruang operasi? Ada pasien yang harus segera Jaejoong tangani.

“Aku harus bicara hal penting padamu, Jae!” ucap Yunho ngotot. Ditariknya tangan Jaejoong erat agar namja yang memiliki tempat istimewa dihatinya dulu sampai sekarang itu berhenti sejenak untuk bicara dengannya.

“Nyawa pasienku jauh lebih penting daripada apa yang ingin kau bicarakan padaku!” Jaejoong menatap garang Yunho. Tangannya yang satu melambai memanggil satpam yang kebetulan lewat didekat mereka.

“Ada yang bisa dibantu, Dok?” tanya sang satpam ramah.

“Orang ini terus menggangguku sejak tadi, tolong urus dia! Aku harus segera masuk ruang operasi.” Perintah Jaejoong yang tanpa menunggu jawaban si satpam segera berlari kecil menuju ruang operasi.

“Jae!” panggil Yunho. Yunho hendak mengejarnya namun sang satpam berbadan besar itu menghalangi langkah kakinya.

“Anda bisa menunggu dokter Kim selesai bila memang ingin bicara dengannya, Pak.” Ucap si satpam. “Hari ini dokter Kim sedang sibuk.”

Yunho menatap kesal si satpam, mengumpat kesal sebelum berjalan pergi –berlawanan dengan arah Jaejoong pergi sebelumnya.

❤❤❤

Di dalam mobil yang melaju memecah kemacetan kota Seoul siang itu, Yunho menangis dalam diamnya. Air mata brengsek itu mengalir begitu saja tanpa ia minta ketika bayangan tentang adik kembar Jaejoong –yang menurut Jessica adalah darah dagingnya sendiri. Yunho kesal, marah pada dirinya sendiri. Berkali-kali direktur muda itu memukul-mukul stir mobilnya sebagai pelampiasan.

Mengerem mendadak dikarenakan traffic light berwarna merah, Yunho melirik ke luar jendela kaca mobilnya. Mata setajam musangnya tertambat pada sebuah toko mainan. Tersenyum ketika melihat mobil-mobilan besar berwarna merah terang. Yunho jadi ingin membelinya untuk adik-adik Jaejoong –anaknya. Mungkin itu salah satu cara untuk mendekatkan dirinya dengan mereka. Tanpa pikir panjang Yunho segera membelokkan mobilnya memasuki halaman toko mainan itu.

❤❤❤

Pukul 5 sore Jaejoong pulang. Dokter muda itu dikejutkan dengan kehardiran Yunho di ruang bermain rumahnya sedang bermain mobil-mobilan dengan adik-adiknya. Menghela napas panjang agar dirinya tidak terpancing amarah karena melihat Yunho, Jaejoong lantas memasang senyum menawan ketika adik-adiknya berlari menghampiri dirinya.

Hyung!” seru si kembar bersamaan.

Jaejoong memeluk meraka satu per satu. “Sudah mandi?” tanyanya.

“Yunho hyung memandikan kami tadi.” Jawab Hyunbin, si polos yang lebih pendiam daripada kakak kembarnya.

Jaejoong melirik sekilas Yunho.

“Yunho hyung membawakan kami banyak mainan.” Ucap Hyunno.

“Mobil-mobilan!” seru Hyunbin.

“Robot-robotan!” kali ini Hyunno yang bicara.

“Sepeda untuk ke sekolah juga.”

“Benarkah?” tanya Jaejoong, “Kalian sudah mengucapkan terima kasih pada Yunho hyung?”

“Sudah!” jawab si kembar bersamaan.

“Kalau begitu Hyung mandi dulu ya, setelah itu kita makan bersama.” Ucap Jaejoong.

“Yunho hyung ikut makan dengan kita?” tanya Hyunno.

“Tentu saja.” Jaejoong menatap tajam Yunho. “Ada yang harus kami bicarakan.”

❤❤❤

Jaejoong diam saja ketika Yunho menyuapi adik-adiknya secara bergantian. Jaejoong masih belum tahu apa motif Yunho bersikap seperti itu. Jaejoong memang curiga pada Yunho tetapi ia tidak bisa menduga alasan dibalik tindakan Yunho.

“Kau cocok jadi baby sitter.” Celetuk Jaejoong. “Kau mau berhenti jadi direktur dan jadi baby sitter? Tanyanya terdengar tidak ramah.

“Berapa gaji yang kau tawarkan padaku?” tanya Yunho balik.

Jaejoong mendengus kesal. “Temui aku di halaman samping rumah! Kita perlu bicara!”

“Sejak tadi siang aku memang berniat mengajakmu bicara tetapi kau yang menolakku. Sekarang biakan aku menyelesaikan pekerjaanku dulu.” Ucap Yunho.

“Terserahmu saja.” Jaejoong beranjak dari meja makan. Ada perasaan kesal ketika melihat Yunho terlihat terlalu akrab dengan adik-adiknya.

❤❤❤

Jaejoong baru akan buka suara ketika Yunho mendahuluinya mengeluarkan kata-kata yang sedikit membuatnya terkejut.

“Jessica menemuiku.” Yunho mendudukkan dirinya di kursi yang berada di samping kursi yang sedang Jaejoong duduki.

Jaejoong tidak berkomentar. Menurutnya dua orang teman lama bertemu untuk membicarakan kenangan ketika mereka masih sama-sama sekolah dulu bukanlah hal yang aneh.

“Dia mengatakan hal yang tidak terduga.” Lanjut Yunho. “Hal yang membuatku ingin melakukan segala cara yang ku bisa untuk membatalkan pernikahan kalian.”

Jaejoong mendelik menatap Yunho.

“Aku tidak bisa membiarkan anak-anakku diasuh oleh orang lain, Jae.” Ucap Yunho kemudian, mendatangkan raut wajah terkejut Jaejoong. “Kalau kau memang ingin menikahi Jessica, lakukan! Aku akan mencoba merelakanmu menikahinya. Tetapi biarkan aku yang mengasuh anak-anak kita.”

“Apa yang sedang kau bicarakan?” tanya Jaejoong dengan raut wajah yang sukar diartikan.

“Hyunno dan Hyunbin adalah darah daging kita.” Yunho menatap mata indah berbingkai kaca mata itu lekat-lekat. “Jessica mendatangiku dan mengatakan semuanya. Mungkin dia ketakutan karena aku berusaha mendekatimu.”

Jaejoong terdiam. Tidak mampu membalas kata-kata yang Yunho ucapkan.

“Aku… bagaimanapun juga ingin bertanggung jawab atas hidup anak-anakku, Jae. Aku yang dimatamu brengsek ini pernah –masih sangat mendambamu menjadi bagian dalam hidupku walaupun aku tahu kau hanya menganggapku penjahat yang menyebabkan Youngwoong menderita.” Ucap Yunho. “Aku ingin menebusnya. Aku ingin kesempatan…”

“Kau tidak bisa….” Gumam Jaejoong. “Hyunno dan Hyunbin didaftarakan sebagai adik-adikku oleh orang tuaku. Mereka anak bungsu keluarga Kim. Jangan mengusik kebahagiaan kecil yang susah payah kami bangun!”

“Kau tidak mengerti, Jae….”

“Kau yang tidak mengerti!” bentak Jaejoong seraya berdiri dari duduknya. “Kau tidak tahu bagaimana rasanya menjadi gunjingan orang, bagaimana orang-orang menatapmu aneh! Coba bayangkan bila kau berada diposisiku! Seorang namja yang melahirkan anak!” mata indahnya berkabut.

Yunho ikut berdiri. Menatap penuh rasa bersalah dan iba pada Jaejoong. Yunho ingin mendekap sosok indah itu namun ia terlalu takut, takut pada kemarahan Jaejoong lebih dari ini.

“Dan kau bilang kau ingin mengasuh mereka?” Jaejoong tersenyum meremehkan, air mata mengalir dari sepasang mata indahnya.

“Jae….” Panggil Yunho dengan suara lembut.

“Kau pikir siapa kau bisa seenaknya seperti itu, hah?” pekiknya. “Aku tidak akan menyerahkan mereka padamu walupun kau menodongkan pistol padaku!” bentaknya lebih keras.

Tanpa memikirkan apa yang akan Jaejoong lakukan, Yunho serta merta mendekap tubuh bergetar itu. Bersama-sama dalam keheningan sebelum merosot dan terduduk di atas lantai yang dingin. Mengangis bersama dalam keheningan sehingga mereka tidak menyadari sosok Jessica yang sedari tadi menggigit bibir bawahnya guna menahan isakan yang meronta-ronta ingin keluar dari bibrinya.`

❤❤❤

Hari-hari berikutnya Yunho sering mengunjungi rumah Jaejoong bahkan menginap disana walaupun Jaejoong kerap kali mengusirnya. Yunho hanya ingin lebih dekat dengan adik-adik Jaejoong –yang ternyata adalah darah dagingnya sendiri− bukannya bermaksud untuk tidak memedulikan perasaan Jessica sebagai tunangan Jaejoong tetapi perasaannya sebagai seorang ayah yang ingin bertanggung jawab atas anak-anaknya telah membuat Yunho sedikit menutup mata pada kenyataan bahwa dua minggu lagi Jaejoong dan Jessica akan menikah.

“Tidak bisakah kau membatalkan pernikahan itu?” tanya Yunho ketika tengah malam ia menemani Jaejoong yang sedang memakan serealnya.

Jaejoong yang semula hendak menyendokkan sereal ke dalam mulutnya mengurungkan niatnya itu, menghela napas panjang kemudian menatap Yunho tajam menusuk namun penuh rasa iba, “Kau pikir pernikahan itu apa? Mainan? Atau drama picisan seperti yang sering ditonton oleh pengasuh si kembar, hm?” tanyanya.

Yunho meletakkan cangkir kopi yang tadinya ia minum. Semenjak sering mengunjungi rumah Jaejoong, ia tanpa sadar mulai menghentikan kebiasaan merokoknya ketika sedang frustasi. “Apa kau mencintai Jessica?” mata Yunho lekat-lekat melihat perubahan ekspresi Jaejoong. “Apa kau sedikit saja menyimpan perasaan cinta pada Jessica?” tanyanya lagi.

Jaejoong menyendokkan sereal ke dalam mulutnya, menguyahnya perlahan sebelum menjawab pertanyaan yang Yunho ajukan. “Apakah itu penting sekarang? Toh kami akan tetap menikah walaupun seandainya kami tidak saling mencintai. Cinta bisa datang seiring berjalannya waktu. Yang terpenting kami saling memahami kondisi masing-masing. Itu sudah cukup untukku.”

“Itu bukan pernikahan tetapi sebuah perjanjian.” Komentar Yunho. “Kau hanya akan menyiksa Jessica bila kalian tetap menikah.”

“Seolah kau tahu segalanya!” sanggah Jaejoong.

“Jessica gadis yang baik –kita berdua tahu hal itu− jangan menyakitinya dengan membuatnya merasa kau benar-benar mencintainya!”

“Aku menyayanginya…”

“Sayang dan cinta berbeda, Jae.” Potong Yunho, “Kau tahu itu dengan baik.”

Jaejoong tidak berkomentar, memilih menghabiskan serealnya.

“Kau terlalu keras kepala! Dan sialnya aku benar-benar tidak bisa membiarkanmu menikahi Jessica.”

“Terserahmu saja.” Ucap Jaejoong tak acuh sebelum meminum susu hangatnya hingga habis.

“Apa kau mencintaiku?”

“Uhuk!”

Yunho mengambil tisu –yang memang selalu tersedia diatas meja makan Jaejoong− untuk menyeka cipratan susu yang mengotori sekitar mulut Jaejoong. “Aku hanya bertanya…” ucapnya.

“Apa yang kau pikirkan?” tanya Jaejoong.

“Mungkin kalau kau pun mencintaiku sama seperi aku yang begitu menginginkanmu dalam banyak arti akan lebih mudah bagiku untuk membatalkan pernikahanmu dengan Jessica. Itu yang setidaknya ku pikirkan.”

Jaejoong terseyum bodoh. “Kau ingin ku kenalkan pada rekan kerjaku yang menangani bidang penyakit Jiwa?”

“Terima kasih. Aku lebih senang bila kau sendiri yang menanganiku.”

“Cih!”

“Mari hentikan pembicaraan ini. Ku rasa kau butuh istirahat. Ada lingkaran hitam dibawah matamu dan aku tidak menyukainya.” Ucap Yunho.

❤❤❤

Seminggu menjelang pernikahannya, Jaejoong mulai merasakan keraguan menggrogoti hati kecil dan nuraninya. Benarkah ini pilihannya? Benarkah ia sanggup menjalani pernikahan dengan Jessica? Jaejoong sangat menyayangi Jessica. Jessica gadis yang baik. Tetapi apakah itu cukup? Ketika mereka berciuman Jaejoong tidak merasakan apa-apa, tidak ada hasrat dan gairah lebih pada Jessica. Bagaimana bila dirinya tidak cukup pantas untuk membahagiakan Jessica? Bagaimana kalau akhirnya pernikahan mereka berakhir buruk? Jaejoong menghela napas panjang ketika pintu ruang kerjanya diketuk beberapa kali.

“Masuk!” sahutnya.

“Aku tahu kau sangat sibuk, tetapi aku ingin kau mencicipi hasil karya seniku!” dengan senyum cerianya Jessica berjalan sambil memamerkan rantang yang ia bawa pada Jaejoong.

“Kau memasak?” Jaejoong tidak bisa menyembunyikan senyumannya. Jessica adalah salah satu perempuan yang anti dengan urusan dapur –setahunya.

“Jangan meremehkanku! Sudah setengah tahun ini aku ikut les memasak demi menjadi istri yang baik.” Sungut Jessica. “Habiskan!” ucapnya sambil meletakkan rantang 5 lapis itu di atas meja kerja Jaejoong.

“Tidak mau memakannya bersamaku?” tanya Jaejoong.

“Aku harus segera pulang! Tahu sendiri Umma melarangku bepergian menjelang pernikaha kita.” Jessica sedikit merengut. “Telpon aku begitu kau selesai bekerja!” pintanya yang diangguki oleh Jaejoong. Jessica mencium pipi kanan Jaejoong sebelum pergi meninggalkan ruangan kerja Jaejoong.

Jaejoong membongkar isi rantang yang Jessica bawakan untuk dirinya. Tersenyum hampa ketika melihat beraneka macam masakan tertata rapi didalamnya. Jessica pasti sudah bekerja sangat keras memasak untuk dirinya. Jaejoong kemudian melirik sebuah figura foto yang memang sengaja ia letakan di atas meja kerjanya, foto adik-adiknya yang mau tidak mau harus ia akui mulai menunjukkan tanda-tanda mirip dengan Yunho. Jaejoong tidak mau mengakui apalagi mengiyakan tetapi wajah Hyunno cenderung menurun Yunho, dengan mata sipit dan bibir berbentuk hati yang tipis.

Beberapa kali Jaejoong menghela napas panjang. Seminggu menjelang hari pernikahannya dengan Jessica, Yunho sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya. Pria itu seolah menghilang ditelan bumi. Jaejoong toh tidak peduli –pura-pura tidak peduli− keberadaan Yunho tetapi terbesit keraguan dan ketakutan dalam hati kecilnya. Yunho sedang putus asa, orang yang putus asa bisa nekat dan melakukan tindakan diluar batas.

❤❤❤

Jas broken white itu membuat sosok Jaejoong terlihat bersinar, wajah adrogininya memberikan efek luar biasa pada orang-orang yang menatapnya. Saat ini Jaejoong sedang berada diruang rias, bersiap-siap untuk berjalan menuju altar suci yang akan merubah seluruh hidupnya, para perias sudah meninggalkannya sendirian. Jaejoong mengamati cermin besar dihadapannya. Benarkah ini yang terbaik untuk dirinya? Untuk semuanya?

“Kau indah seperti biasa….”

Jaejoong terlonjak kaget ketika mendapati pantulan sosok Yunho dalam cermin. Segera saja ia memutar tubuhnya agar bisa berhadapan dengan Yunho.

Yunho berjalan mendekati Jaejoong. Tangannya terjulur untuk mengusap wajah menawan itu perlahan. “Aku mencintaimu….” Lirih Yunho dengan mata nanar. “Barusan aku memohon pada Jessica agar membatalkan pernikahan kalian tetapi ia menolak. Cintanya padamu sama besar seperti cintaku padamu. Aku bisa apa?”

Jaejoong diam saja ketika Yunho mulai terisak, memeluknya erat.

“Tolonglah….” Pinta Yunho.

Mian….”

Yunho menatap wajah itu lekat-lekat, mencium bibir merah penuh itu dengan rakus seolah enggan kehilangan seinci pun rasanya. Lantas pergi begitu saja dengan bahu membungkuk rendah.

Jaejoong menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Ia sudah memutuskan semuanya dan tidak akan mundur begitu saja. Menghela napas panjang, Jaejoong berjalan menuju pintu keluar. Sudah nyaris waktunya. Waktu untuk mengubah hidupnya dengan pilihan yang sudah ia pilih.

Baru saja Jaejoong hendak memutar handle pintu, pintu bercat putih itu terbuka. Sosok Jessica yang juga tengah memakai gaun pengantinnya berdiri dimulut pintu, mendatangkan kerut kebingungan Jaejoong.

“Aku tidak tahan untuk segera melihatmu.” Ucap Jessica. “Sesuai dugaanku, jas rancanganku benar-benar cocok untukmu.”

“Kita akan segera bertemu di altar, tidak bisakah kau menunggu sedikit lebih lama?” tanya Jaejoong.

Jessica tersenyum lalu menggelengkan kepalanya pelan. “Aku tidak sabar melihat penampilan suamiku! Suatu kebanggaan tersendiri bagiku melihat suamiku memakai jas hasil karyaku.”

“Kalau ada yang melihatmu mendatangiku, kau pasti kena omel.” Ucap Jaejoong. “Aku harus ke altar duluan.”

“Masa bodoh. Aku ingin menemuimu dan disinilah aku sekarang.” Ucap Jessica.

Pabbo!” Jaejoong menyentil kening Jessica pelan.

Tiba-tiba saja Jessica memeluk Jaejoong erat. “Saranghae… jeongmal saranghae…” lirihnya. Begitu melepaskan pelukannya, Jessica segera mencuri ciuman dari bibir Jaejoong kemudian mendorong calon suaminya itu, “Kajja! Cepat ke altar agar aku segera menjadi nyonya Kim!”

Jaejoong tersenyum. Mengusap kepala Jessica lembut sebelum berjalan perlahan menuju tempat ia dan Jessica akan mengucap janji suci pernikahan. Jantungnya berdebar tidak keruan, perasaan tidak nyaman itu menggelayuti setiap langkah yang diambilnya.

Jeongmal saranghae….” Lirih Jessica nanar menatap punggung Jaejoong yang semakin jauh darinya.

❤❤❤

Jaejoong berdiri diam ditempat dimana seharusnya ia berada. Menatap dekorasi indah yang memang menjadi impian Jessica. Sudah lebih dari satu jam lamanya pria yang mengenakan setelan jas broken white itu berdiri diam disana, mengabaikan suasana sunyi lagi hampa disekitarnya. Semua tamu undangan sudah pulang menyisakan dirinya sendiri bersama keheningan diamorf yang tidak ia mengerti. Berkali-kali menghela napas panjang, pria berkaca mata yang saat ini tidak mengenakan kaca matanya itu mencoba mengurai benang kusut otaknya mencari jawaban sebagai pembenaran atas tindakan nekat Jessica.

Pesta pernikahan ini adalah impian Jessica. Konsep, dekorasi, gaun yang mereka kenakan semuanya adalah impian Jessica. Namun Jessica pergi meninggalkannya disaat-saat terakhir. Jessica tidak datang ketika seharusnya mereka mengucapkan janji suci. Jessica pergi meninggalkan pesta pernikahan impiannya dan hanya meninggalkan sebuah memo.

Jeongmal saranghae Jaejoongie….

Mian…

Jaejoong berbalik menatap deretan kursi tamu yang kosong melompong –kecuali satu kursi yang masih diduduki oleh sosok yang begitu ia kenal. Seketika Jaejoong memiliki pikiran jahat. “Kau tidak menghasut Jessica, kan?” tanyanya.

“Tidak. Tentu saja tidak. Aku bukan orang picik seperti itu. Aku hanya memohon padanya untuk memberiku kesempatan membesarkan anak-anak kita.”

“Kau bercanda?”

“Jessica mencintaimu. Cintanya sama besarnya seperti cintaku padamu tetapi ia memilih untuk melepaskanmu demi kebaikan kalian sendiri.” Ucap Yunho. Mata setajam mata musangnya itu menatap dalam sosok Jaejoong yang terlihat menawan dimatanya. “Memaksakan pernikahan ini sama halnya berjalan menuju jurang kenestapaan. Jessica tahu kalau pernikahan kalian tidak akan berakhir bahagia.”

“Omong kosong!”

Yunho tersenyum putus asa. “Kau keras kepala, aku tahu dengan baik hal itu jadi membicarakan soal perasaan denganmu sama artinya buang-buang waktu karena kau tidak akan pernah menanggapi hal cengeng semacam itu. Tetapi bagiku, adalah sebuah kebahagiaan tersendiri diatas ironi batalnya pernikahanmu.”

“Dimana Jessica sekarang?”

“Orang tuanya saja tidak tahu kemana ia pergi apalagi aku?” ucap Yunho. “Kau kesal karena dicampakan?” tanyanya.

“Aku kesal karena semuanya berjalan sesuai harapanmu!” usai bicara seperti itu Jaejoong berjalan begitu saja melewati Yunho, terus melangkah meninggalkan tempat yang seharusnya menjadi tempat bersejarah baginya. Baru saja membuka pintu Jaejoong dikejutkan oleh ibu Jessica –ibu mertuanya jikalau ia dan Jessica jadi menikah hari ini.

“Anak itu benar-benar bodoh!” ucapnya sambil terisak. “Maafkan kecerobohan anak itu, Jae.”

“Gwaechana Umma.” Jaejoong berusaha menghibur.

“Kalau anak bodoh itu berhasil ditemukan aku akan memarahinya.”

Jaejoong hanya tersenyum. Ia tahu sekarang rasanya dicampakan seperti apa. Perasaannya seperti diaduk-aduk. Seperti itukah perasaan Yunho ketika ia meninggalkan Yunho begitu saja malam itu?

❤❤❤

5 tahun kemudian…

Jaejoong tersenyum ketika melihat sebuah foto. Mau tidak mau Jaejoong harus mengakui bahwa dirinya merindukan sosok yang sudah membuatnya menjadi objek iba banyak orang. Jessica terlihat sangat bahagia ketika menggendong sosok mungil itu. Tubuhnya lebih gemuk daripada terakhir kali mereka bertemu dihari pernikahan mereka yang sayangnya menjadi hari naas bagi Jaejoong. Jessica kabur ke Perancis, mengencani bule Perancis hingga akhirnya menikah dan melahirkan seorang putri cantik.

“Joongie, bagaimana kalau Jihyunku dijodohkan dengan salah satu si kembar?”

“Kau terlalu sering berhubungan dengan Sica.” Ucap Yunho yang melirik kegiatan Jaejoong. “Hyunno dan Hyunbin sudah remaja harusnya kau lebih memperhatikan mereka!”

Jaejoong hanya mencibir.

5 tahun belakangan ini hubungannya dengan Yunho sedikit rumit. Mereka tinggal serumah –dirumah orang tua Yunho− atas permintaan orang tua Yunho yang ingin dekat dengan cucu-cucu mereka. Yunho dan Jaejoong mendaftarkan pernikahan mereka –yang Jaejoong yakini terjadi karena dirinya mabuk berat sehingga mengiyakan ketika Yunho mengajaknya menikah. Perlahan-lahan Yunho dan Jaejoong menjelaskan posisi mereka yang sebenarnya pada si kembar, walaupun awalnya baik Hyunno dan Hyunbin tidak percaya namun pada akhirnya mereka memanggil Yunho dan Jaejoong dengan sebutan Appa dan Umma. Tidak ada yang istimewa. Jaejoong tetaplah seorang dokter yang mengabdi merawat orang-orang yang membutuhkannya, Yunho pun tetap bekerja seperti biasanya. Yang berbeda hanyalah keiklhasan hati untuk menerima nasib yang kini berjalan disamping mereka.

❤❤❤

Youngie… jangan membenciku. Maafkan aku karena sepertinya aku pun jatuh cinta pada Jung Yunhomu… doakan kedua keponakanmu agar menjadi anak yang lebih baik dari orang tua mereka. Aku mencintaimu Youngie tetapi aku pun mencintai Yunho. Ku mohon jangan membenciku….

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

END

❤❤❤

❤❤❤

❤❤❤

Monday, May 30, 2016

6:25:49 PM

NaraYuuki