The Prince and His Heirs IV

The Prince and His Heirs II

Perjalanan dari desa Druwe menuju desa Patagonia memakan waktu kurang lebih sehari semalam. Selama itu tidak ada desa ataupun pemukiman penduduk yang akan mereka lewati. Hanya ada pepohonan menjulang sepanjang perjalanan. Mereka –Hyunno, Micky, Hyeri, Max ditambah Urceolla dan Gobi akan melewati hutan hujan yang lembab, basah dan sedikit kurang bersahabat. Konon didalam hutan itu hidup binatang-binatang liar yang berbahaya dan beracun –terutama binatang malam. Namun karena hutan itu adalah satu-satunya jalan menuju desa Patagonia sehingga sepanjang perjalanan rombongan yang berangkat dari desa Atacama itu menemui beberapa rombongan kecil seperti mereka baik yang searah maupun yang berlawanan arah, baik yang berjalan kaki, berkuda ataupun naik kereta. Mereka adalah orang-orang dari berbagai ras yang bekerja sebagai pedagang didesa masing-masing, terlihat dari berkarung-karung barang yang mereka bawa bersama mereka.

Kali ini Hyunno duduk di samping Max yang menggantikan Micky, menjadi kusir sehari dan membiarkan Micky beristirahat –tidur sejenak. Hyunno terkagum-kagum melihat pepohonan disepanjang sisi jalan yang menjulang tinggi dengan ukuran batang sangat besar, bahkan diantara pohon-pohon yang ia yakini berusia sangat tua itu ditumbuhi oleh lumut dan benalu yang bergerombol mirip kumpulan binatang. Hidup dan dibesarkan digurun pasir membuat Hyunno merasa takjub luar biasa. Udara di hutan sangat sejuk –cenderung lembab berbeda dengan desa asalnya yang sangat panas pada siang hari dan sangat dingin pada malam hari.

“Lima kilo meter akan ada tanah lapang yang biasanya dijadikan tempat peristirahatan oleh para pelancong seperti kita. Kita bisa makan siang disana.” Ucap Max membuka percakapan. “Kalau kau lapar kau bisa makan gula-gulamu, Hyunno.”

“Paman sudah sering pergi ke desa Patagonia yang dimaksud paman Micky?” Tanya Hyunno.

Max tertawa dengan suara nyaring hingga beberapa pejalan kaki yang lewat dekat mereka menoleh melihat ke arahnya. “Aku? Bisa dikatakan aku ini orang berjiwa nomaden. Jadi hampir separuh dunia pernah ku kunjungi, Nak.”

“Benarkah? Apa Paman juga pernah berkunjung ke desaku?”

“Tentu saja… belum pernah.”

Hyunno merengut mendengar jawaban yang Max berikan.

“Ada banyak hal yang terjadi selama beberapa tahun terakhir ini sehingga aku tidak bisa mengunjungi teman-temanku. Tapi beruntung aku melihat kalian ketika berada di kota Mite sehingga aku tidak perlu bersusah payah mencari kalian.” Max tersenyum, “Ketahuilah Hyunno, bertemu denganmu adalah sebuah kelegaan luar biasa bagiku.”

“Paman mengenalku?”

“Dengan sangat baik tentu saja.” Jawab Max. “Aku bahkan sempat menggendongmu ketika kau masih bayi, kau mengigit tanganku hingga berlubang.” Mak memperlihatkan jari telunjuk kirinya pada Hyunno, pada ujung jari itu terlihat sebuah cekungan aneh.

“Orang tuaku…”

“Mari berdoa agar kita segera menemukan Mesa.” Max memotong ucapan Hyunno yang sepertinya ingin mengorek informasi dari dirinya.

“Paman… bagaimana dengan ibuku? Nisa’?” Tanya Hyunno. Semenjak meninggalkan desanya Hyunno tidak mengetahui apa yang terjadi pada ibunya dan bagaimana keadaan ibunya.

“Aku tidak tahu, Nak.” Jawab Max jujur. “Aku berharap Nisa’ bisa menjaga dirinya sendiri. Nisa’ adalah salah satu prajurit pilihan yang paling hebat. Bertempur adalah napasnya jadi semoga ia baik-baik saja.”

Hening sesaat, Hyunno memperhatikan burung berwarna-warni yang hinggap dicecabang pepohonan kisut, serangga yang terbang kesana-kemari untuk menenangkan pikiran kalutnya. Hyunno merindukan ibunya, Nisa’. Tapi ia dipaksa pergi meninggalkan ibunya, dipaksa meninggalkan kampung halamannya tanpa ia sendiri tahu apa sebabnya.

“Dari dalam lubuk hatiku, aku berterima kasih pada Nisa’ karena sudah membesarkanmu dengan baik. Saat situasi terasa sangat sulit, sendirian Nisa’ berlari sambil menggendongmu. Menjatuhkan orang jahat yang menghadang langkahnya hingga menemukan tempat berlindung dan membesarkanmu sampai sebesar ini. Aku benar-benar berterima kasih padanya.” Ucap Max dengan suara pelan.

Hyunno mendengarnya dalam diam, tidak berani menatap wajah Max yang mungkin saja sedang menunjukkan raut wajah sendu.

Max mengulurkan sebotol cairan berwarna merah pekat beraroma seperti buah apel pada Hyunno. “Kau harus meminumnya. Nanti malam adalah bulan purnama.”

Hyunno menerimanya dengan senang hati, meneguk isi botol berukuran sebesar gelas itu sampai habis. Rasa minuman itu seperti jus apel dengan sedikit perpaduan rempah-rempah yang tidak ia ketahui namanya. Tetapi secara keseluruhan minuman itu rasanya enak. “Apa namanya, Paman?”

“Minuman itu? Minuman itu bisa mencegah gejolak dahaga yang sering dirasakan oleh vampire yang baru menginjak usia 17 tahun sepertimu. Hanya beberapa campuran jus buah dan sedikit ekstrak darah.”

“Uhuk!” Hyunno menatap Max dengan mata terbelalak.

“Darah itu didapat dari bank darah, didonorkan oleh manusia yang sudah mendapat sertifikat kesehatan dan kelayakan untuk mendonorkan darahnya. Tenang saja! Bukan hasil dari membantai orang.” Max tersenyum ketika melihat raut cemas dan khawatir Hyunno. “Kau harus meminumnya ketika menjelang bulan purnama mulai sekarang. Bukan apa-apa tetapi untuk berjaga-jaga agar gejolak dalam dirimu tidak menyulitkan orang-orang disekitarmu dan dirimu sendiri, Hyunno.”

“Tapi aku bukan vampire, Paman.”

“Kau memang bukan sepenuhnya vampire, tetapi kau juga bukan manusia Anakku!” dengan sabar Max memberikan pengertian pada Hyunno. Jikalau bukan Hyunno pastilah Max sudah menonjok kepala orang tersebut untuk menyadarkannya perihal siapa dirinya yang sebenarnya. Sayangnya Max berhadapan dengan Hyunno yang mulai sekarang menjadi tanggung jawabnya.

“Lalu aku ini apa?”

“Kau adalah Hyunno terlepas dari mana asal usulmu dan siapapun orang tuamu. Kau tetaplah Hyunno dan memang harus seperti itu sampai nanti.” Jawab Max.

❤ ❤ ❤

Tanah lapang itu sudah terisi puluhan tenda-tenda aneka bentuk. Mulai dari yang atapnya mengerucut tinggi, persegi empat, sampai tenda yang hanya terbuat dari ranting dan dedaunan kering. Banyak ras yang beristirahat di tempat itu, bergerombol dengan kelompoknya masing-masing. Ada manusia, beberapa vampire, kurcaci, demon, gerombolan manusia-manusia kerdil yang ukuran badannya hanya setinggi anak-anak berusia 8 tahunan, bahkan ada beberapa elf dengan telinga runcing mereka yang sedang menyantap makan siang mereka dengan sangat anggun. Hyunno melihat semua itu dengan wajah terkagum-kagum.

“Kalau kita berada di dekat laut mungkin saja kita bisa melihat para putri duyung yang sangat seksi dan cantik.” Gumam Micky sambil mengerlingkan matanya ke arah Hyunno yang kebingungan.

“Para putri duyung yang berniat membunuh Paman kalau boleh ku ingatkan.” Sahut Hyeri kesal.

Max menuangkan sup hangat ke dalam mangkuk Hyunno yang sudah kosong. “Kau perlu makan yang banyak karena kau masih dalam tahap pertumbuhan, Anak muda!” guraunya.

“Paman… kenapa para elf itu berbisik-bisik saat melihat ke arah kita?” Tanya Hyunno penasaran.

Micky dan Max langsung menoleh untuk melihat sekilas pada kelompok elf yang duduk sekitar 20 meter dari tempat mereka beristirahat.

“Mungkin mereka ingin berkenalan dengan salah satu dari kita.” Gurau Micky.

“Atau….” Max tidak menyelesaikan ucapannya ketika melihat salah seorang elf –yang terlihat seperti ketua kelompok berjalan dengan ringan lagi anggun ke arah mereka. “Kita tunggu saja apa maunya.” Gumamnya pada dirinya sendiri.

Langkah yang ringan, lincah dan anggun itu membuat sang elf cepat sampai tanpa disadari oleh Hyunno dan Hyeri yang asyik melahap sup hangat mereka.

“Salam temanku….” Sapa sang elf ramah. “Maaf mengganggu waktu makan siang kalian, tetapi setahuku mahluk itu berasal dari tanah kami.” Sang elf menunjuk naga berukuran sebesar kucing yang sedang berebut sepotong daging kering dengan Gobi.

Max hanya tersenyum mendengarnya.

“Dan harimau itu adalah milik….” Sang elf menatap wajah Max dan Micky secara bergantian sebelum mengalihkan pandangannya pada Hyeri dan menatap lama-lama pada Hyunno yang gugup ditatap oleh mata jernih itu. “Maafkan kelancanganku, tetapi sepertinya aku paham sekarang kenapa binatang dari tanah elf bisa berada bersama rombongan kalian.”

“Bolehkan aku tahu apa yang membuat elf sepertimu berada ditempat terbuka seperti sekarang?” Tanya Micky. “Sebelumnya perkenalkan namaku…”

“Micky dan Max… aku sudah sering mendengar nama kalian. Namaku Frezo. Aku sedang melakukan perjalanan mencari obat untuk mengobati Tuan Putri.” Jelasnya.

Micky dan Max saling berpandangan –terkejut. Lantas menatap Frezo lagi.

“Bisa kau jelaskan apa yang terjadi padanya?” Tanya Max tanpa bisa menyembunyikan kekhawatirannya.

“Tuan Putri bertarung dengan Yang Mulia Raja –kakaknya sendiri ketika memaksa keluar dari istana untuk melakukan sesuatu hal yang tidak ku ketahui apa itu. Yang Mulia Raja terluka parah namun lukanya hanya luka luar sementara Tuan Putri secara tidak sengaja menyentuh tanaman beracun yang penawarnya tidak berada di tanah elf. Aku dan para pengikutku mencari penawar itu sampai disini.”

“Sudah kau dapatkan obat itu?” Tanya Max lagi.

Frezo mengangguk pelan. “Sudah kami dapatkan. Setelah berisitirahat sebentar kami akan melanjutkan perjalanan tanpa istirahat selama 2 hari ke depan untuk sampai ke istnana.” Jawabnya. Para elf bisa berjalan, bergerak lebih cepat daripada ras manapun. “Boleh aku menjabat tanganmu, Tuan muda? Ku rasa pada kesempatan berikutnya aku tidak akan mempunyai kesempatan untuk menjabat tanganmu lagi.”

Hyunno yang kebingungan mengulurkan tangannya untuk dijabat oleh Frezo, tangan sang elf sangat halus dan terasa sejuk berbeda dengan tangannya sendiri yang kasar.

“Silakan lanjutkan makan siang kalian, aku harus segera kembali memimpin kelompokku untuk bergegas ke istana.” Ucap Frezo yang dalam sekelebat sudah berjalan menuju teman-temannya sesama elf.

“Ku rasa kita pun harus cepat bergegas.” Ucap Yoochun. “Hyunno, Hyeri segera selesaikan makan siang kalian! Setelah itu beresi barang-barang kita. Kita akan segera berangkat menuju Patagonia.”

“Kalian harus tetap waspada! Perjalanan di hutan pada malam hari sangat berbahaya bahkan bagi vampire seperti kita. Pada saat situasi sedang seperti sekarang ini kebanyakan memilih melanjutkan perjalanan esok hari dan beristirahat di tempat ini sampai malam berlalu tetapi kita tidak akan punya cukup waktu. Kita harus memanfaatkan waktu yang ada.” Tambah Max panjang lebar.

“Dan aku bisa mencium aroma Rutilans yang samar terbawa angin. Mungkin tempat ini pun akan diserang oleh mereka.” Micky melirik sekumpulan vampire yang beranjak dari tanah lapang untuk melanjutkan perjalanan mereka. “Semoga bulan purnama malam ini tidak membakar semangat haus darah pada diri kita, Max….”

“Ya….” Sahut Max.

❤ ❤ ❤

Udara terasa sangat lembab dan dingin ketika Micky dan Max duduk di kursi kemudi untuk menjalankan kereta. Mendung mengantung dan kabut membuat jarak pandang sedikit terganggu bahkan untuk para vampire seperti mereka. Rintik gerimis perlahan turun membuat jalanan yang mereka lewati sedikit becek. Beberapa manusia kerdil yang berpapasan dengan mereka berlarian mencari pohon berdaun lebar untuk berteduh, ada pula yang nekad seperti mereka menerjang gerimis yang semakin menggila.

Dari dalam kereta Hyunno mengintip keadaan diluar yang mulai menggelap padahal kalau ia ingat-ingat waktu masih tengah hari. Hyunno tidak suka suasana seperti ini, membuatnya kurang nyaman dan gelisah.

“Anak-anak…” panggil Micky dengan suara pelan. “Waspadalah! Pegang senjata kalian erat-erat dan serang siapa saja yang mendekati kalian!”

“Kita sedang diikuti ya?” Tanya Hyeri.

“Ya. Tentu saja.” Jawab Micky.

“Perampok? Atau gerombolan yang sama dengan yang menyerang desa kita, Paman?” Tanya Hyeri lagi.

“Kita akan segera tahu….”

❤ ❤ ❤

❤ ❤ ❤

❤ ❤ ❤

❤ ❤ ❤

Sunday, January 31, 2016

9:10:02 AM

NaraYuuki

The Prince and His Heir III

The Prince and His Heirs II

Sekitar pukul 3 pagi, Micky membangunkan Hyunno dan Hyeri untuk bersiap berangkat meninggalkan kota Mite. Makin awal berangkat makin cepat mereka sampai di kota Thor yang menjadi `                                             tujuan mereka. Bekal yang dipesan langsung pada pemilik penginapan sudah dibungkus dengan rapi, kereta kuda mereka pun sudah siap berangkat. Beberapa peti berisi botol-botol minyak wangi –yang mereka gunakan sebagai alibi pun sudah dinaikkan ke kuda. Setelah memberi persen pada tukang jaga kuda, Micky menyuruh Hyeri dan Hyunno yang masih mengantuk untuk segera naik ke dalam kereta sementara Gobi sudah duduk dengan nyaman di samping kursi kusir. Perjalanan sebelum fajar pun mereka tempuh. Perlahan-lahan kereta kuda mereka meninggalkan area penginapan, terus berjalan ke timur menuju batas akhir kota hingga benar-benar meninggalkan kota Mite di belakang mereka.

Sesekali mata tajam Micky mengamati ke kiri dan kanan jalanan sepi yang mereka lewati, Gobi pun yang berada dalam posisi tidur memasang mata waspada seolah-olah dirinya sedang diintai. Tidak ada kabut, hanya ada taburan bintang fajar yang berada di langit, bahkan langit mulai terang sehingga bayangan pepohonan yang berada disisi kanan dan kiri jalan mulai terlihat jelas.

“Hyeri…” panggil Micky.

“Ya, Paman?” sahut Hyeri.

“Siapkan pedangmu untuk melindungi Hyunno. Ku rasa didepan sana sudah ada orang yang menunggu kita.” Ucap Micky.

“Hm…” gumam Hyeri. Hyeri adalah gadis yang dulu ketika masih berusia 2 tahun ditemukan oleh Micky disalah satu perkemahan yang menjadi tempat pemukiman vampire nomaden. Micky kebetulan melewati perkemahan tersebut dan mendengar tangisan Hyeri kecil. Gadis kecil yang berada diantara puluhan mayat vampire, bahkan beberapa diantara vampire itu sudah ada yang menjadi debu. Merasa kasihan Micky kemudian memungut Hyeri dan mendidiknya layaknya mendidik putrinya sendiri. Hyeri dibekali ilmu bela diri dan kemampuan bertempur lainnya. Dalam dunia vampire, kematian vampire berdarah murni –ayah dan ibu vampire keturunan bangsawan biasanya ketika mati tidak akan menjadi debu namun menyerupai patung dari tanah liat, pucat dan rapuh. Berbeda dengan vampire kelas rendahan ataupun berdarah campuran –hasil pernikahan vampire dengan ras lainnya ketika mati akan langsung berubah menjadi gundukan debu.

Di depan sana, dijalanan yang gelap gulita, Micky melihat sesosok bayangan manusia tengah berdiri di tengah jalan. “Hei Thunder… lakukan apapun yang kau mau untuk melindungi Hyunno! Kau mengerti?!” bisik Micky pada Gobi.

Sekitar sepuluh meter dari sosok itu, Micky menghentikan keretanya kemudian turun dari kereta. Dengan sikap waspada menatap sosok bayangan itu menggunakan mata merah menyalanya. Tangan kanannya memegang kuat-kuat gagang pedangnya lantas berjalan menghampiri sosok itu.

Hyeri dan Hyunno pun turun dari kereta. Gobi langsung melompat ke arah Hyunno dengan sikap waspada begitu pula Hyeri yang tidak berada jauh dari Hyunno.

“Siapa orang itu?” Tanya Hyunno setengah mengantuk.

“Yang jelas kita tahu dia bukan orang yang berniat baik.” Jawab Hyeri yang sudah mengeluarkan katana miliknya.

Suara langkah kaki Micky memecah keheningan fajar, binatang pengerat berlarian mencari makanan. Burung malam beterbangan kembali menuju rumah mereka. Beberapa meter dari sosok bayangan itu Micky dapat melihat sosok bayangan lain yang jauh lebih tinggi dan besar di belakangnya. Gigi taringnya mencuat, matanya memerah sempurna. Dengan gesit Micky menarik pedangnya dari sarungnya.

“Siapa kau?” Tanya Micky.

Sosok jangkung berpakaian gelap dengan tudung yang menutupi kepala hingga sebagian wajahnya itu diam saja, hanya bibirnya yang membentuk senyum mengejek.

Micky semakin waspada. Pedang panjangnya terangkat siap menebas siapapun yang ingin mencicipi tajamnya mata pedang bermata dua itu. “Siapa kau? Kenapa menghalangi jalan kami?” tanyanya sekali lagi.

Dan sosok itu pun tidak menyahut sama sekali, sosok jangkung itu justru berjalan mendekati Micky dengan sikap angkuhnya, diikuti bayangan besar yang berada di belakangnya membuat tanah disekitar mereka bergetar, bergemuruh seolah sedang terjadi gempa bumi.

Micky mundur selangkah, memasang kuda-kuda, kapan pun ia siap menyerang sosok jangkung bertudung hitam itu.

“Kau… berpura-pura menjadi penjual minyak wangi, kan?” ucap sosok itu yang ternyata seorang laki-laki. “Berpura-pura menjadi paman dari dua keponakan yang ternyata salah satunya adalah sang pewaris tahta?”

Micky membulatkan matanya seper sekian detik sebelum kembali memasang sikap waspada.

Tiba-tiba saja bayangan yang berada dibelakang sosok jangkung bertudung itu melompat dintara Micky dan sosok jangkung itu. Membuat Micky terbelalak kaget ketika sosok besar itu menyemburkan api ke udara –seekor naga.

“Astaga!” pekik Hyunno dan Hyeri bersamaan.

“Itu naga? Naga sungguhan?” Tanya Hyunno antara kaget dan takjub.

Gobi segera melesat, berlari ke arah sosok jangkung bertudung itu, melompat dan menubruknya hingga sosok itu jatuh terjungkal lantas menjilatinya dengan manja lagi girang.

Melihat interaksi aneh itu Micky teringat pada sesuatu lantas tersenyum bodoh seolah menertawakan keteledorannya sendiri. Disarungkannya pedang panjangnya kembali lantas berjalan mendekati sosok jangkung itu tanpa memedulikan sang naga yang menatap garang padanya.

“Sejak kapan kau membuntuti kami, Max?”

Sosok yang sedang menggelitiki Gobi itu menatap Micky tanpa melepas senyuman dari wajahnya. “Sejak dari penginapan tentu saja. Tapi sepertinya kau tidak menyadari keberadaanku. Apakah aroma tubuhku sudah kau lupakan?” sosok jangkung itu bangun dan duduk di tengah jalan. Tudung hitamnya sudah terlepas dari kepalanya. Wajahnya kekanakan seolah waktu tidak pernah menyentuhnya. “Aku hanya ingin sedikit menggodamu.”

“Kau berhasil melakukannya.” Sahut Micky.

“Hm… ku rasa kau sedikit mengendurkan kewaspadaanmu dengan menunjukkan wajah sang  pewaris tahta ke khalayak umum!”

“Tidak ada pilihan lain.” Gumam Micky. “Gerombolan rutilans menyerang desaku untuk mencarinya. Selama wajahnya belum diketahui oleh orang-orang ku rasa tidak masalah untuknya.”

“Oh, mereka sudah bergerak rupanya.”

“Siapa?”

“Akan ku ceritakan nanti. Ku rasa sebaiknya kita pergi dulu dari sini. Hari sudah hampir pagi, akan ada banyak orang lewat nantinya.” Ucap Max.

“Benar. Mana kudamu?” Tanya Micky.

“Aku? Kedang-kadang menaiki punggung Urceolla.” Jawab Max sambil menunjuk sang naga dengan dagunya.

Micky mendengus, mengulurkan tangannya untuk menarik Max bangun. “Harusnya aku tahu kalau penyakitmu dari dulu tidak bisa disembuhkan.” Cemoohnya mendatangkan tawa lebar dari Max.

❤ ❤ ❤

Matahari sudah terbit sejak beberapa jam yang lalu. Dari jalan menuju arah timur, Micky membelokkan kereta kudanya ke arah utara karena jalan yang dilaluinya memang membelok dan sudah seharusnya ia mengambil arah itu untuk sampai ketujuannya –tujuan Hyunno. Ditemani Hyeri yang duduk di sebelahnya, Micky melantuntan sebuah lagu yang berasal dari kampungnya, desa Atacama yang diciptakan oleh para leluhurnya dulu. Sementara itu di dalam kereta Hyunno merasa sedikit risih ditatap sedemikian rupa oleh sosok jangkung bernama Max yang terus mengamatinya dengan tatapan mata yang sulit ia jelaskan. Terlebih ketika ada seekor naga berukuran sebesar kucing tengah bertengger dikepalanya sambil mematuk-matuk helaian rambutnya –Hyunno baru tahu bila ada juga naga yang bisa menyusutkan ukuran tubuhnya menjadi kecil. Sementara Gobi –yang oleh Max selalu dipanggil Thunder, Thunder dan Thunder itu sedang terlelap dilantai kereta dekat peti-peti kayu berisi ratusan botol minyak wangi.

“Secara keseluruhan kau mirip ayahmu, tapi banyak hal pada dirimu yang juga mengingatkanku pada ibumu.” Gumam Max seperti sedang menganalisis Hyunno. “… contohnya bibirmu, memang tipis seperi bibir ayahmu namun merah dan penuh seperti bibir ibumu. Matamu, walaupun terbingkai kelopak mata setajam mata musang namun bola matamu hitam legam seperti milik ibumu. Kulitmu yang pucat dan rambut hitammu benar-benar menurun dari ibumu. Mengagumkan! Betapa bodohnya mereka yang tidak menyadari siapa sebenarnya kau ini. Bahkan aku dalam sekali lihat tahu bahwa kau adalah…” Max menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Nyaris saja dirinya membocorkan rahasia yang harusnya disampaikan oleh Mesa.

“Apakah Paman mengenal ayahku?” Tanya Hyunno penasaran. Hyunno tidak memedulikan ocehan Max perihal kemiripannya dengan ayah dan ibunya. Namun rasa penasaran remaja itu tergelitik ketika Max menyebutkan soal ayahnya, orang yang seumur hidup belum pernah dilihatnya. Ibunya, Nisa’ tidak pernah memberitahunya soal ayahnya.

Max tersenyum. “Kita harus segera menemukan Mesa agar kita bisa mengungkapkan jati dirimu yang sebenarnya.” Ucapnya.

Hyunno mendengus sebal. Jawaban sama yang didapatnya dari Micky tiap kali ia menanyakan perihal sosok ayahnya.

“Hei Max…” panggil Micky.

“Ya?” Tanya Max.

“Seingatku –dan kalau perhitunganku tidak meleset seharusnya kita sudah sampai di desa Druwe, kan?” suara Micky terdengar seperti orang yang bingung.

“Memang.” Jawab Max. “Namun dua tahun yang lalu desa Druwe sudah luluh lantah akibat diterjang angin topan. Penduduknya membangun desa baru sekitar 2-3 kilo meter lagi dari sini.”

“Oh, syukurlah…” desah Micky penuh kelegaan. “Perutku sudah kelaparan dari tadi.”

“Bukankah ada roti kering dan buah-buahan yang sudah disiapkan oleh pegawai penginapan di Mite semalam?” Tanya Max.

“Kau pikir bekal itu untuk apa? Setelah melewati desa Druwe butuh waktu sehari semalam untuk sampai di desa Patagonia. Selama itu kita akan makan apa bila bekalnya dimakan sekarang? Lagi pula aku ingat betul bagaimana nafsu makanmu itu.” Ucap Micky mendatangkan gelak tawa dari Max.

❤ ❤ ❤

Walaupun tidak sebesar kota Mite namun desa Druwe termasuk desa yang besar bahkan lebih besar daripada desa Atacama dan desa asal Hyunno. Sama seperti penduduk kota Mite, penduduk desa Druwe pun sangat beraneka ragam. Ada kurcaci yang berprofesi sebagai pandai besi, manusia yang membuka warung dan toko gula-gula, ada pula sebuah keluarga vampire yang membuka toko kain dan baju. Perbedaan yang membuat mereka terlihat sangat harmoni dan damai. Mengingatkan Hyunno pada kampung halamannya.

Micky memutuskan untuk makan pagi –menjelang tengah hari di sebuah kedai yang dimiliki oleh manusia. Memesan makanan dalam jumlah tidak wajar –lebih banyak daripada hari sebelumnya. Melihat itu Hyeri dan Hyunno hanya bisa saling pandang dengan tatapan bingung.

“Teman kita mampu menghabiskan jatah untuk 8 orang.” Ucap Micky sambil melirik Max.

“Jangan khawatir. Makan kali ini biar aku yang bayar.” Komentar Max yang melempar daging domba giling berukuran besar ke meja disebalahnya dimana Gobi dan naga kecil milik Max yang bernama Urceolla itu sedang berebut jeroan sapi.

“Paman seperti bukan penduduk desa.” Gumam Hyunno. “Apa Paman seorang bangsawan?” tanyanya. Dilihat dari pakaiannya yang terbuat dari sutera halus mungkin saja Max berasal dari keluarga kaya raya.

Max hanya tersenyum disela kegiatannya mengunyah irisan daging dombanya.

Hyunno menatap ke luar kedai menuju sebuah toko penjual gula-gula. Seumur hidupnya hanya sekali ia makan gula-gula. Itu karena didesanya tidak ada penjual gula-gula, buah-buahan segar pun yang menjadi bahan utama pembuatan gula-gula jarang ada.

“Aku akan membelikannya untukmu nanti.” Bisik Max seolah bisa membaca pikiran Hyunno.

Wajah Hyunno bersemu merah, kepalanya menunduk. Membuat Max yang gemas mengusap kepalanya berulang kali.

“Rambutmu sangat lembut seperti rambut ibumu.” Gumam Max.

“Ibuku berambut ikal sedikit kaku, Paman.” Ucap Hyunno.

“Aku tidak membicarakan Nisa’ tetapi ibu lain yang melahirkanmu. Nisa’ hanyalah ibu yang membesarkanmu.” Seperti tidak menyadari ucapannya barusan, Max tetap melanjutkan makannya membiarkan Hyunno menatapnya dengan rasa penasaran yang membuncah.

❤ ❤ ❤

Hampir satu jam lamanya Micky, Hyunno dan Hyeri menunggu kedatangan Max yang sudah menghilang entah kemana. Padahal Urceolla, naganya yang sedang berukuran sebesar kucing itu sudah terlelap disamping Gobi yang mendengkur keras di dalam kereta.

“Bagaimana kalau kita tinggal saja paman aneh itu, Paman?” Tanya Hyeri.

“Tidak perlu.” Ucap Micky. “Dia sudah datang dengan membawa sekarung penuh barang yang ku rasa tidak terlalu berguna untuk kita.”

“Ck…” Hyeri berdecak kesal lantas masuk ke dalam kereta dan duduk di samping Hyunno. Kursi yang berada di hadapan mereka digunakan oleh Gobi dan Urceolla, dua mahluk berbahaya untuk tidur.

“Apa yang kau bawa?” Tanya Micky yang langsung duduk di kursi kemudi.

Max melompat mengikutinya dan meletakkan karung besar bawaannya diantara dirinya dan Micky. “Sedikit oleh-oleh.” Jawabnya.

Ketika kereta mulai berjalan menuju ujung desa Druwe, Max membuka jendela kecil yang menghubungan kursi kemudi dengan kursi penumpang dalam kereta. Satu per satu ia membuka barang yang berada di dalam karungnya dan dimasukkan ke dalam kereta tanpa memedulikan apa yang dilakukannya itu mengganggu Gobi dan Urceolla yang sedang terlelap.

“Sesuai janjiku, aku membelikanmu gula-gula.” Max menjejalkan 5 toples besar berisi gula-gula aneka bentuk, aneka warna. Kemudian menjejalkan lagi 5 toples besar biskuit kering, 3 toples keripik sayur dan buah-buahan kering serta 5 toples daging kering untuk camilan dua binatang buas yang ikut dalam rombongan mereka. Yang terakhir Max mengulurkan sebuah bungkusan plastik berisi kain pada Hyeri dan Hyunno. “Itu baju baru untuk kalian.” Ucapnya.

“Terima kasih Paman.” Tutur Hyunno ketika menerimanya.

“Paman ternyata orang baik. Paman mendapat 1 nila plus dariku.” Komentar Hyeri. Matanya berbinar-binar melihat baju terusan panjang berwarna jingga lembut itu.

Hyunno memilih memasukkan baju berwarna merah hati miliknya kedalam ranselnya. Otaknya berkecamuk penuh pertanyaan tentang siapa sebenarnya ayahnya dan kenapa Max mengatakan bahwa Nisa’ ibu yang selama ini ia kenal bukanlah ibu yang melahirkannya.

❤ ❤ ❤

❤ ❤ ❤

❤ ❤ ❤

❤ ❤ ❤

❤ ❤ ❤

Monday, December 28, 2015

7:37:08 AM

NaraYuuki

The Prince and His Heirs II

Gobi… Gobi… Gobi ayo pulang!” anak kecil tampan itu berlari kecil menyusuri jalan setapak yang akan membawanya pulang menuju rumahnya. Rumah kecil disebuah perkampungan kecil dipesisir gurun Sahara. Tubuhnya kaku ketika melihat desanta terbakar, tubuhnya mengejang ketika melihat seseorang berbaju zirah hitam pekat dengan pedang panjang mengacung padanya berjalan ke arahnya seperti seorang malaikat kematian. Sebelum sosok menyeramkan itu menebasnya –membunuhnya, ia memejamkan mata kuat-kuat agar tidak merasakan sakit. Saat itulah ia merasakan dekapan hangat sosok yang tidak bisa ia lihat. Sosok itu memakai gaun putih panjang, tubuhnya bercahaya. Dekapan itu sangat hangat dan nyaman membuatnya seperti ditimang-timang hingga akhirnya terlelap.

The Prince and His Heirs II

 

Perlahan mata Hyunno terbuka. Mimpi aneh yang sering ia alami ketika usinya 8 tahun itu kembali terulang. Pemuda itu menarik napas panjang, menoleh ketika dirinya menyadari dirinya sudah tidak lagi berada di gudang jerami melainkan sebuah kereta kuda yang berjalan cepat melintasi sabana (savanna) yang bukan lagi sebuah gurun pasir gersang melainkan ada belukatr dan beberapa pohon tinggi aneh yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Hyunno melongokkan kepalanya keluar jendela kereta itu. Ia melihat Gobi –harimau malasnya berlari penuh semangat, terlihat sangat gagah dan liar.

“Sudah bangun pemalas?” suara gadis itu mengejutkan Hyunno. Hyunno bisa melihat gadis yang semalam memberikannya baju menoleh dari arah kemudi, tersenyum meremehkan.

“Jangan menggodanya, Hyeri!” kali ini Hyunno mendengar suara Micky. “Hyunno, makan siang dan minuman ada di kotak kayu dekatmu. Aku dan Hyeri sudah makan tadi.”

“Makan siang?” Hyunno mengerutkan keningnya lantas melihat matahari yang sudah tinggi.

“Ini sudah lewat tengah hari. Kau tidur seperti orang pingsan. Paman Sandor bahkan sampai kepayahan saat memindahkanmu.” Ucap gadis bernama Hyeri itu.

“Gobi?”

“Harimau itu sudah menghabiskan 2 paha rusa sendirian.” Jawab Hyeri.

Hyunno melihat kotak kayu yang dimaksud oleh Micky, membukanya dan melihat tumpukan roti kering dan berbotol-botol minuman. Ada yang berwarna merah ada pula yang hanya air putih biasa. Hyunno mengambil sekeping roti kering berdiametr 15 cm kemudian mengigitnya. Rasanya manis dan gurih. Sangat enak. “Cairan merah itu apa? Apa itu jus anggur?” Tanya Hyunno.

“Usiamu sudah 17 tahun. Sebentar lagi bulan purnama. Kau akan membutuhkan minuman itu karena segel yang dibuat pada dirimu mulai melemah begitu kau akhir baliq.” Jawab Micky.

“Uhuk!” Hyunno tersedak begitu mendengar penjelasan Micky. “Segel? Aku? Segel apa?” tanyanya bingung.

“Mesa akan menjelaskannya padamu begitu kita sampai di kota Thor.” Jawab Micky. “Kita baru saja melewati perbatasan. Saat ini kita sudah memasuki Benua Cassiopeia. Kita hanya harus menuju Negara Orion untuk sampai di kota Thor.”

Walaupun bingung dengan penjelasan yang Micky berikan namun Hyunno diam saja. Toh setidaknya dalam perjalanan menuju kota Thor ia tidak sendirian lagi dengan Gobi. Tapi…

“Paman… kenapa gadis itu ikut?” Tanya Hyunno. Bukankah seingatnya Micky mengatakan bahwa dia sendirlah yang akan mengantar?

“Hyeri?” Tanya Micky. “Kalian sama. Agar tidak dicurigai orang kita akan menyamar menjadi penjual minyak wangi, kau dan Hyeri akan berperan menjadi keponakanku.” Tutur Micky.

“Dengar itu? Kau harus memanggilku Noona karena aku lebih tua darimu!” tambah Hyeri.

Hyunno mendengus, kepalanya menoleh menatap gumpalan awan hitam yang tiba-tiba muncul di langit. Sambil terus mengunyah roti keringnya, pemuda itu mengamati awan hitam yang semakin pekat. Hyunno tersentak kaget ketika Gobi menderam (mengaum) diikuti kereta yang tiba-tiba berhenti. Penasaran apa yang terjadi Hyunno melompat keluar dengan sikap waspada sambil terus memegang roti keringnya yang masih separuh.

“Mereka kenapa paman?” Tanya Hyeri.

“Kelompok Paria.” Gumam Hyunno.

“Ada ap…” Hyunno menelan ludah susah payah ketika melihat mayat tergeletak dipinggir jalan. Perutnya mual melihat darah yang mengotori sekujur tubuh mayat-mayat itu.

“Mereka diserang oleh jenis vampire paria yang biasanya tidak hanya menghisap darah melainkan juga mencabik-cabik tubuh mangsanya.” Jelas Yoochun. “Kita sudah memasuki Benua yang bukan hanya dihuni oleh manusia saja, Hyunno.”

Hyunno merasakan kerongkongannya sangat kering dan panas. Tubuhnya mengigil dan gemetar melihat mayat-mayat itu. “Mereka apa?” Tanya Hyunno. Mayat-mayat itu menyerupai manusia namun telinga mereka sedikit runcing, kulit mereka pucat namun bening seperti Kristal.

“Bangsa Elf nomaden.” Jawab Micky. Pria itu melirik perubahan raut wajah Hyunno. “Hyeri, ajak Hyunno naik ke dalam kereta! Berikan dia minuman itu! Kau paham?”

“Ya, Paman.” Hyeri segera membawa Hyunno naik ke dalam kereta.

Micky mengendus aroma yang tersisa pada udara lembab disekitarnya. “Mereka masih berada disekitar sini namun tidak berani mendekat karena mencium aromaku.” Gumam Micky yang langsung kembali ke kursi kemudi. Senyum menghiasi wajah tampannya ketika melihat Gobi sudah duduk ditempat yang sebelumnya menjadi tempat duduk Hyeri. “Nah, mari kita lanjutkan perjalanan kita. Kau pun pasti sudah merindukan majikanmu terdahulu, kan?” diusapnya kepala Gobi membuat harimau itu menggeram seperti seekor kucing manja.

 

Menjelang petang, gerimis mengguyur lumayan deras disertai angin. Kereta yang Hyunno tumpangi sampai disebuah kota kecil yang ia tak tahu apa namanya. Penduduknya beraneka ragam. Ada manusia, ada yang menyerupai manusia namun telinga mereka runcing dan pupil mata mereka berwarna hijau, ada manusia-manusia kerdil mirip kurcaci, ada yang sangat tinggi, berkulit gelap, pucat bahkan kehijauan. Ada binatang-binatang aneh yang belum pernah Hyunno lihat sebelumnya. Seperti kambing dengan totol harimau, zebra berkepala illama, kupu-kupu besar berekor panjang, burung yang mengeluarkan cicit seperti kucing, dan masih banyak lagi. Hyunno terpana melihat semua keanehan itu.

“Kita berada di Kota Mite, mungkin 4-5 hari lagi kita akan sampai di kota Thor. Bergantung cuaca dan siapa yang akan kita temui di jalan nantinya.” Ucap Yoochun dengan suara pelan.

Hyunno yang sejak beberapa waktu yang lalu menemani Micky di kursi kemudi hanya mengangguk pelan. Toh ini kali pertama dirinya pergi jauh –benar-benar jauh dari rumah.

“Berharap saja tidak ada yang mengenalimu.” Gumam Micky.

“Kenapa kalau ada yang mengenaliku, Paman?” Tanya Hyunno bingung.

“Ada banyak hal didunia ini yang belum kau ketahui, Nak. Kau akan tahu perlahan-lahan nantinya.” Ucap Micky.

Hyunno diam saja. Toh daripada ia tersesaat lebih baik dirinya mempercayakan semuanya pada Micky.

“Apakah Nisa’ mengajarimu bela diri?”

“Sedikit, Paman. Tapi daripada bela diri aku lebih suka memanah. Aku bisa memanah 5 ekor burung sekaligus.” Celoteh Hyunno.

“Bagus. Kalau ada apa-apa kau bisa melindungi dirimu sendiri. Akan kita asah kemampuanmu selama perjalanan ini.”

Hyunno mengangguk pelan.

“Kita hampir sampai. Kau lihat papan nama Kelewang Kembar disana?”

“Aku tidak tahu arti kata kelewang, Paman.” Ucap Hyunno jujur.

“Itu berarti Pedang. Ada beberapa tempat yang menggunakan istilah kelewang ataupun sikin untuk menyebut pedang.” Micky menjelaskan. “Kau akan banyak belajar ketika kita melewati beberapa tempat sebelum sampai di kota Thor.”

 

Banyak mata menuju Micky, sang penjual minyak wangi dan kedua keponakannya –Hyunno dan Hyeri yang memasuki penginapan dengan membawa serta Gobi, si harimau peliharaan Hyunno. Kereta beserta dua kuda yang menyertai mereka sudah diurus oleh pegawai penginapan.

“Tenang saudara-saudaraku. Harimau kami jinak.” Ucap Micky sambil melempar senyum ramah pada para pengunjung penginapan yang sedang bersantap.

“Untuk apa kau bawa harimau masuk penginapan, Tuan?” Tanya seorang anak kecil yang duduk dengan ibunya.

“Oh, Anakku… sepanjang perjalanan banyak orang jahat jadi kami membawa harimau untuk menakut-nakuti mereka.”

“Kemana tujuanmu, Pak?” seorang pria berhidung besar dengan topi kerucut aneh bertanya.

“Kota Thor untuk mengantar pesanan minyak wangi pada salah satu keluarga bangsawan disana. Apakah anda tertarik untuk membeli minyak wangiku?” Tanya Micky sekedar basa-basi.

“Tidak… tidak. Aku tidak butuh minyak wangi. Terima kasih atas tawaranmu, Pak.” Ucap pria itu lagi.

“Kau memiliki keponakan yang tampan dan cantik, Tuan.” Ucap pemilik penginapan yang merangkap sebagai resepsionis.

“Terima kasih.” Balas Micky. “Dan kami membutuhkan sebuah kamar dengan dua tempat tidur yang berukuran cukup luas. Bisa kau sediakan?”

“Tidak masalah.” Jawab sang pemilik penginapan.

“Kalau kau tidak keberatan antarkan makan malam kami ke kamar karena kami sangat lelah dan ingin segera beristirahat.”

“Tentu saja. Apakah termasuk makanan untuk harimaumu itu?”

Micky melirik Gobi yang sedang duduk tenang diantara Hyunno dan Hyeri yang sedang berdiri di belakangnya. “Berikan sepotong paha domba untuknya.” Ucap Micky sambil meletakkan 5 keping uang emas.

Mata sang pemilik penginapan berkilat gembira melihat banyaknya uang di hadapannya. “Ini terlalu banyak, Tuan.”

“Sebagai upah untuk mengurus kuda-kudaku.”

“Terima kasih.” Ucap sang pemilik penginapan yang langsung meraup kepingan uang itu. “Addo! Kemari dan antarkan tamu kita ke kamar mereka!”

Terpongoh-ponggoh seorang pria yang lebih pendek daripada Hyunno muncul dengan kulitnya yang kecoklatan lagi kusam. “Siap Tuan.” Sahutnya lantas tersenyum pada Micky. “Mari tuan ikuti saya.” Ucapnya ramah.

Micky, Hyunno, Hyeri dan Gobi berjalan perlahan menaiki tangga kayu mengikuti Addo menuju kamar mereka untuk beristirahat mala mini. Tanpa mereka sadari disudut ruangan seorang pria bertudung aneh dengan pakaian serba gelapnya menatap tajam mereka.

 

“Hyunno, boleh aku bertanya sesuatu padamu?” Tanya Micky usai mereka menyelesaikan makan malam mereka.

“Ya, Paman?” sahut Hyunno yang tengah meminum susu hangatnya.

“Apa yang Nisa’ berikan padamu sebelum menyuruhmu pergi ke kota Thor?”

Hyunno membuka tas punggungnya yang terbuat dari karung goni, mengeluarkan kantung uang yang berisi beberapa keping uang dan mengeluarkan perkamen-perkamen yang diberikan ibunya.

“Tidak ada yang lain?” Tanya Micky yang mengambil dan membuka salah satu perkamen.

“Sebuah liontin aneh. Ku kalungkan pada Gobi.” Jawab Hyunno.

Micky tersenyum dan menggulung lagi perkamen yang ia buka kemudian mengambil kantung uang Hyunno dan melihat isinya. Setelah itu menutup dan meletakkannya ke tempat semula. “Seperti dugaanku sebelumnya. Perkamen kepunyaanmu ditulis dengan bahasa elf kuno yang tidak ku mengerti artinya. Sedangkan uang yang kau bawa adalah yang berasal dari Negara Orion. Nilai satu keping perak uang Negara itu setara dengan 100 keping uang emas biasa seperti kepunyaanku. Sedangkan satu keping uang emas yang berasal dari Negara itu setara dengan 1000 keping uang emas biasa.”

Mata Hyunno membulat. Ternyata ia memiliki uang yang luar biasa banyak.

“Dan ku yakin liontin yang kau pakaikan pada Gobi itu adalah liontin milik putra mahkota yang sudah lama hilang.” Gumam Micky.

“APA?” kali ini Hyeri yang bersuara lantang.

“Suaramu terlalu keras, Keponakanku!” sindir Micky. “Dengar! Tidak ada yang boleh melihat  liontin itu apalagi orang asing. Kau mengerti?!”

Hyunno mengangguk pelan.

“Sebenarnya siapa anak ini, Paman?” Tanya Hyeri yang sejak tadi menyisir bulu Gobi menggunakan jemarinya.

“Kita harus menemukan Mesa untuk memastikannya.” Jawab Micky. “Sekarang tidurlah kalian! Besok kita harus berangkat sebelum matahari terbit.”

Hyunno merapikan dan memasukkan kembali perkamen-perkamen serta kantung uangnya ke dalam tas sebelum membaringkan dirinya pada salah satu kasur. Hyeri yang sudah menguap sedari tadi pun segera memejamkan matanya. Micky memilih tiduran di atas kursi panjang yang berada tepat di depan jendela sedangkan Gobi berjalan menuju arah pintu lantas berbaring di depan pintu dengan santainya. Melihat kelakuan Gobi itu Micky hanya tersenyum. Ditemani rintik gerimis mereka bisa sedikit melepas lelah, melupakan sejenak kemungkinan apa yang akan menghadang mereka nantinya.

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

Thursday, December 24, 2015

5:40:04 PM

NaraYuuki

Pembalasan Bidadari Hitam XX

Tittle                : Pembalasan Bidadari Hitam XX

Writer               : NaraYuuki

Genre               : Romance/ Family

Rate                 : M

Cast                 : All member DBSK and others (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan). Seiring bertambahnya Chap castnya pun akan disesuaikan.

Disclaimer:      : They are not mine but this story and Hyunno are mine, NaraYuuki

Warning           : This is YunJae Fan Fiction (Boys Love), M-Preg. Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut. Paragraf/ dialog yang penulisannya menggunakan Blod, Italic ataupun under line berarti itu adalah kejadian dimasa lampau (flash back) TANPA EDIT.

.

.

Jung Hyunno Pembalasan Bidadari Hitam NaraYuuki

.

.

PASTIKAN BACA WARNINGNYA DULU

.

.

.

.

.

.

.

Begitu keluar dari lift gadis yang memakai mini dress berwarna mustard itu berjalan dengan gontai. Sesekali memaksakan senyum ketika berpapasan dengan orang-orang yang mengenalnya. Matanya terbingkai kaca mata hitam sehingga orang-orang yang berlalu lalang di lorong yang bagian kiri kanannya dipercantik oleh tanaman hijau dalam pot yang selalu dijaga dan dirawat kebersihannya oleh yang bertugas. Suara hak sepatunya yang beradu dengan lantai keramik menjadi melodi tersendiri bagi hatinya. Terus berjalan sampai berhenti di depan sebuah pintu angkuh yang mengejeknya. Tangan kanannya terjulur untuk menyentuh daun pintu. Hendak menekan bel pintu namun ternyata pintu itu dibuka dari dalam.

“Hyeri Agashi?” seorang ahjuma keluar sembari membawa kantong sampah berukuran sedang.

Ahjumma… Hyunno…?”

“Tuan muda Hyunno tidak pulang kemari. Sudah hampir dua minggu lamanya. Sejak dijemput oleh tuan muda Changmin.” Jawab sang ahjumma.

Hyeri mengangguk singkat.

“Kenapa Agashi tidak pernah kemari lagi? Apakah sedang bertengkar dengan tuan muda Hyunno?”

Hyeri menggelengkan kepalanya perlahan, memasang wajah tersenyum walaupun enggan. “Aku masih punya ayah jadi harus pulang. Ayahku sedang sakit jadi aku harus merawatnya, Ahjumma.”

“Ah, begitu rupanya. Agashi mau masuk ke dalam?”

“Tanpa Hyunno tempat ini tidak lagi menarik.” Gumam Hyeri. “Sebaiknya aku pulang saja, Ahjumma. Toh Hyunno tidak berada disini.” Ucapnya.

************************************************

Hyunno menatap gadis itu keluar dari gedung menuju tempat parkir bawah tanah. Berjalan tergesa melewati dirinya –yang sedang berada di dalam mobil berkaca hitam− dapat Hyunno lihat wajah sembab yang coba ditutupi oleh gadis manis itu lewat kaca mata hitam yang dikenakannya. Diawasinya gadis itu dalam diam hingga gadis berbaju mustard itu masuk mobil dan pergi dari tempat parkir. Hyunno diam saja. Termangu dalam pikiran yang yang dirinya sendiri yang tahu apa isinya.

“Kau tidak harus menyakitinya seperti ini.” Ucap Changmin yang duduk disebelahnya.

“Ini yang terbaik untuk kami.” Hyunno mencengkeram erat kemudinya.

“Tidak. Ini menghancurkan kalian berdua.” Komentar Changmin. “Aku tahu itu. Kau mulai menyayanginya, keponakanku.”

Hyunno menutup matanya yang terasa panas. “Aku tidak bisa memaafkan perbuatan ayahnya yang terang-terangan mengirim pembunuh bayaran untuk menghabisi orang tuaku! Itu perbuatan keji!”

“Ayahnya. Bukan anaknya, kan?”

Hyunno tidak berkomentar.

“Toh sudah terjadi. Ayahmu pun akan dipindahkan ke rumah agar lebih aman.” Changmin menepuk bahu keponakannya. “Jangan menyiksa dirimu sendiri, Nak!”

“Keliahatan seperti itu kah, Ahjushi?”

“Akhir-akhir ini kau selalu gusar. Emoismu kurang stabil dan sering meledak-ledak. Tentu saja… pemuda seusiamu pasti sedang merasakan sakitnya disengat lebah cinta.”

Hyunno membuka pintu mobil, sebelum keluar ia sempat menoleh pada sang paman. “Aku tidak akan lama, Ahjushi. Setelah aku menemukan tugas kuliahku dan mengantarkannya kita akan langsung menjemput Umma.”

ArraKajja pergi ambil tugasmu!”

************************************************

Ketika perasaan seseorang sedang terluka, sakit yang dirasakannya akan bertambah berlipat-lipat. Serasa tiap detik yang terlewati adalah jurang kesuraman yang kelabu. Gerimis turun serupa benang-benang laba-laba kelabu berjatuhan dari langit. Dengan telapak tangan telanjangnya Hyeri mengelap permukaan kaca kamarnya yang buram. Duduk bersandar di jendela dengan perasaan gundah. Dadanya terasa panas dan sesak. Rasa sakit dan pedih memenuhi dirinya. Belum pernah sebelumnya gadis manis itu merasakan perasaan seperti itu. Perasaan begitu mengasihi dan menyayangi, perasaan kehilangan yang menyisakan bekas-bekas sayatan belati tak kasat mata yang berkarat lagi beracun.

“Kau seperti orang depresi.” Gerutu Senna sambil melempar sebuah boneka beruang putih ke arah Hyeri. Boneka malang itu hanya menyenggol kaki Hyeri dan dabaikan begitu saja. “Apa embun di jendela kamarmu itu begitu berharga hingga kau pelototi, hah?”

Hyeri melirik sepupunya itu tanpa minat sebelum kembali menekuri kegiatannya semula.

“Oh God! Yah Jin Hyeri! Apa duniamu hancur karena Hyunno memutuskanmu sepihak?”

Hyeri menoleh, menatap tajam Senna yang memasang wajah sebalnya sejak tadi. “Hyunno tidak memutuskanku! Kami tidak putus! Tidak. … belum.”

“Jadi apa masalahnya? Kalian bertengkar? Hyunno kepincut gadis lain? Dia selingkuh?” tanya Senna. “Ku dengar kau minggat dari rumah dan tinggal bersama Hyunno sebelum kembali kemari dan menjadi pemurung. Apa yang terjadi sebenarnya? Ceritakan pada sepupu yeoppomu ini!”

Hyeri sudah membuka mulutnya tetapi bingung apa yang harus ia katakan pada sang sepupu. Orang tua Senna adalah musisi, ibunya pemain piano handal sedangkan ayahnya adalah seorang konduktor (pemimpin pagelaran musik) ternama. Tidak mungkin Senna bisa memahami kejamnya persaingan dalam dunia bisnis yang kadang memandang rendah nyawa seseorang.

Omo! Jangan katakan kalau kau sedang hamil dan Hyunno tidak mau bertanggung jawab?!”

Hyeri memungut boneka beruang putih yang berada di dekat kakinya, dengan sepenuh hati melemparkan boneka beruang itu tepat mengenai kepala Senna. “Hyunno bukan orang brengsek seperti itu!”

“Benarkah?” tanya Senna sanksi. “Selama tinggal seatap kalian tidak pernah tidur bersama sekalipun? Sulit dipercaya….”

Mata Hyeri menyipit memandang sepupu sok ingin tahunya itu sebelum menghela napas panjang. “Kami tidur di ranjang yang sama. Kadang-kadang ia memeluk dan menciumku. Sebatas itu.”

Mwo?” Senna tidak kuasa menahan ledakan tawanya. “Aku benar-benar ragu pemuda seusianya tidak mengambil kesempatan sama sekali!”

“Hyunno tidak mau hubungan yang seperti itu. Baginya keperawanan seorang gadis harus dijaga .sampai mereka sah menjadi seorang pengantin.” Ucap Hyeri. “Lagi pula Hyunno takut jika hubungan kami terlampau jauh akan lahir Jung Hyunno-Jung Hyunno lain sepertinya… Hyunno tidak menginginkan hal itu. Aku menghormatinya.”

“Hm… sangat jarang. Aku jadi menginginkannya juga.” Goda Senna.

Yah!” bentak Hyeri.

Senna tersenyum menggoda. “Kalian sepertinya cocok. Dia pemuda baik-baik yang bisa menjaga gadis bengal (keras kepala) sepertimu. Jadi apa yang membuat kalian berpisah? Apa ini ada sangkut pautnya dengan orang tua kalian?” tanya Senna dengan wajah serius. “Ketika aku menceritakan soal hubunganmu dengan Hyunno pada ibuku, ibuku mengatakan bahwa Jin Yihan dan Jung Yunho tidak mungkin menjadi besan. Apa kau tahu apa maksud ibuku berkata seperti itu? Sungguh membingungkan.”

“Persaingan bisnis. Kau tahu hal semacam itu sering terjadi dalam dunia bisnis.” Mata cokelat bening Hyeri berkabut. Andai hanya persaingan bisnis biasa pastilah tidak akan serumit ini.

“Kau benar-benar menyayanginya?” Senna duduk di sebelah Hyeri, dengan jemarinya gadis seusia Hyeri itu menyibak anak-anak rambut yang menutupi wajah sembab sang sepupu.

“Aku membuang harga diriku sebagai gadis terhormat demi menggambil hatinya, Senna. Aku rela meninggalkan rumah untuk tinggal bersamanya.” Hyeri menatap wajah sang sepupu dan memaksakan sebuah senyum terkembang dari bibir pucat keringnya. “Menurutmu aku menyayanginya?”

Tanpa menjawab Senna memeluk sang sepupu, “Aku memahami perasaanmu, Hyeri….”

Hyeri membalas pelukan Senna, lama kelamaan semakin erat hingga akhirnya gadis manis itu menenggelamkan wajahnya pada bahu sang sepupu dan menjerit keras-keras.

Dari balik pintu sesosok pria berjas mahal berdiri mematung. Tangannya yang semula menggenggam handle pintu ia biarkan begitu saja. Nyeri hebat menghujam dadanya ketika mendengar jerit tangis sang buah hati.

************************************************

“Aku tidak suka rumahku dijaga ketat seperti ini. CCTV dimana-mana, para penjaga bersenjata. Astaga! Apakah ini tidak berlebihan?” tanya Jaejoong, mata indahnya terlihat sembab dan lelah.

Changmin diam sejenak sebelum membuka suaranya. “Aku tidak bisa apa-apa, Hyung. Bagaimanapun juga anak kesayangan sang Kaisar yang kini akan tinggal bersamamu. Pun sang putra mahkota.”

Jaejoong menatap sekitar ruang tamu rumahnya,dari sana ia bisa melihat lebih dari 20 pria berbadan kekar berjas hitam rapi hilir mudik penuh kewaspadaan tinggi. Dua buah ambulance terparkir rapi di depan rumahnya, beberapa tenaga medis sibuk mengangkut alat-alat kesehatan yang Jaejoong tidak ketahui namanya. Sejak Yunho mengalami kemajuan –bangun dari koma walaupun hanya sesaat saja− pihak keluarga Jung berkeras memindahkan putra sulung mereka ke tempat yang jauh lebih nyaman daripada rumah sakit maka dipilihlah rumah Jaejoong.

“Apa yang membuatmu berhasil menyeret Hyunno pulang kemari? Dia terlihat sudah membulatkan tekad ketika memutuskan pindah.”

“Yah, seperti remaja seusianya pada umumnya. Keponakanku itu pun merasakan sakitnya disengat lebah cinta, Hyung.” Jawab Changmin sambil tersenyum penuh arti. “Well, keponakanku itu juga sedang merasakan nikmatnya patah hati.” Tambahnya.

“Hyunno putus dari Hyeri?”

Changmin menggelengkan kepalanya pelan. “Hyunno berpendapat, kejadian di restoran itu berkaitan dengan ayah Hyeri. Hyung pasti lebih mengerti cara berpikir Hyunno daripada aku dan yang lainnya.”

Jaejoong menghela napas panjang sebelum bangun dari duduknya. Menatap Changmin dengan putus asa sembari berujar, “Ada dua beruang keras kepala yang harus ku urus mulai sekarang. Semoga saja aku tidak gila karenannya.” Kemudian ia beranjak meninggalkan Changmin yang sedang tersenyum, senyum yang aneh.

************************************************

“Aku membuang semuanya untuk menebus kebencianku pada semua hal yang membuat Ummaku menderita. Impianku, cita-citaku, masa remajaku. Bahkan… sekarang ketika aku mulai membuka hatiku untuk orang lain, aku harus mencampakan kebahagiaanku sendiri. Bukankah ini sangat adil bagiku yang serakah ingin balas dendam?” dengan mata nanar penuh luka Hyunno menatap sosok tak berdaya yang tengah terbaring dengan tenang di atas tempat tidur. “Apakah dendam juga yang sudah menyebabkan Appa seperti ini? Bagaimana cara memutus rantai dendam yang sudah mengakar, Appa?”

************************************************

Senna sedang bersenandung sembari berjalan menuju kamar Hyeri. Begitu sampai di depan pintu kamar, gadis seusia Hyeri itu mengetuk pintu. Beberapa kali mengetuk namun tak kunjung ada jawaban akhirnya Senna memutuskan untuk masuk begitu saja.

Hening…

Tidak nampak tanda-tanda keberadaan Hyeri di dalam kamar. Namun ketika hendak keluar, Senna mendengar riak suara pancuran yang mengalir. Gadis itu menuju arah kamar mandi, mengetuk pintu beberapa kali namun tak ada sahutan. Lagi, Senna memutuskan untuk membuka pintu tanpa seijin si empunya. Begitu pintu terbuka.

“Arghk!!! Ahjushiii!!! Ahjushiiii!!!”

Senna berteriak histeris, air mata membasahi wajahnya ketika ia mendapati sang sepupu tengah berendam di dalam bath up dengan air berwarna merah terang dan berbau karat.

************************************************

************************************************

************************************************

TBC

************************************************

************************************************

Mian ya baru bisa post. Pendek pula. 😥 Yuuki sibuk sekali di real, ngurus ini itu, ditugaskan atasan kesana-kemari, lembur dan ini itu. Silakan menikmati ya 🙂

Sampai jumpa lain kesempatan.

Tetap jaga kesehatan.

************************************************

************************************************

************************************************

 

Wednesday, January 25, 2017

8:33:36 PM

NaraYuuki

Epep Tertunda (Semi Hiatus)

lOVE mAIR

Selamat pagi…
Berkaitan dengan beberapa inbox, messanger, Line dan email yang menanyakan soal epep Love Stone, Epislova, Another Girl, Efoni Kakofoni & The Ego. Karena epep-epep itu dibukukan jadinya Yuuki tidak bisa memposting lagi disini. Maaf sekali. Bukannya tidak mau tetapi seperti ada perjanjian tidak tertulis yang mengikat sehingga tidak bisa repost.
Maafkan Yuuki.
Apabila ada pertanyaan silakan komen dikotak review atau kirim email ke narayuuki@yahoo.com (slow respon ya) 😀 Yuuki agak disibukkan kerjaan di real soalnya.
Dan yang menanyakan epep Pembalasan Bidadari Hitam, Suprasegmental & yang masih belum end lainnya. Maaf, laptop Yuuki sedang dipinjam rekan kerja Yuuki untuk mengurus pekerjaan penting yang programnya cuma mau dibuka di laptop Yuuki jadi sampai laptop itu kembali Yuuki tidak bisa memposting lanjutannya karena draffnya ada di sana. Mohon pengertiannya 🙂
Terima kasih 🙂 

“Pergilah ke seluruh penjuru Big East dan temukan Love Stone! Itu adalah satu-satunya penawar bagi racun Sendata.”

“Pergilah ke seluruh penjuru Big East dan temukan Love Stone! Itu adalah satu-satunya penawar bagi racun Sendata.”

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

“Pergi ke Cassiopeia seperti amanat Appa dulu! Kau harus belajar sihir yang lebih kuat dari kemampuanmu sekarang.” Jung Yunho, seorang pangeran dari kerajaan bernama Bollero yang terpaksa terusir dari tanah kelahirannya sendiri hanya karena ketamakan sang paman yang ingin merebut tahta darinya. Ditemani 4 pengawal yang dipilihkan oleh kakaknya sebelum terusir ke pulau kematian, Yunho berangkat menuju Cassiopeia, melewati banyak halangan dan rintangan yang mengajarkannya tentang cinta, tanggung jawab, persahabatan dan kehilangan.

“Pergi ke Cassiopeia seperti amanat Appa dulu! Kau harus belajar sihir yang lebih kuat dari kemampuanmu sekarang.” Jung Yunho, seorang pangeran dari kerajaan bernama Bollero yang terpaksa terusir dari tanah kelahirannya sendiri hanya karena ketamakan sang paman yang ingin merebut tahta darinya. Ditemani 4 pengawal yang dipilihkan oleh kakaknya sebelum terusir ke pulau kematian, Yunho berangkat menuju Cassiopeia, melewati banyak halangan dan rintangan yang mengajarkannya tentang cinta, tanggung jawab, persahabatan dan kehilangan.

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

“Aku tidak bisa membenci kalian karena aku tidak mau terluka akibat perasaan sepihak itu. Aku hanya masih butuh waktu untuk menyembuhkan hatiku. Suatu hari nanti….” Perjuangan Jaenna untuk Move On. Dapatkah ia menyambut cinta yang diulurkan padanya atau memilih tetap pada masa lalunya?

“Aku tidak bisa membenci kalian karena aku tidak mau terluka akibat perasaan sepihak itu. Aku hanya masih butuh waktu untuk menyembuhkan hatiku. Suatu hari nanti….” Perjuangan Jaenna untuk Move On. Dapatkah ia menyambut cinta yang diulurkan padanya atau memilih tetap pada masa lalunya?

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

Dengan jemari bergetar Jaejoong membelai wajah Yunho, “Kau sudah merelakan hidupmu sebagai seorang bangsawan, bukankah apa yang kulakukan ini pun juga setimpal?”

Dengan jemari bergetar Jaejoong membelai wajah Yunho, “Kau sudah merelakan hidupmu sebagai seorang bangsawan, bukankah apa yang kulakukan ini pun juga setimpal?”

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

Ada sedih ada bahagia. Itulah hidup.

Ada sedih ada bahagia. Itulah hidup.

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

Suprasegmental untuk para kutil

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

pEMBALASAN BIDADARI HITAM NARAYUUKI  SUPER sMALL

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

Cara memberi pelajaran Jung Yunho dan anak ingusannya yang bernama Hyunno itu hanya bisa dilakukan dengan satu cara. Melukai Jaejoong.”

Cara memberi pelajaran Jung Yunho dan anak ingusannya yang bernama Hyunno itu hanya bisa dilakukan dengan satu cara. Melukai Jaejoong.”

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

Tetap Jaga kesehatan.

NaraYuuki

 

Jalak Hitam

download

Harusnya engkau pemimpim

Harusnya engkau pelindung

Harusnya engkau penjaga

Harusnya engkau pemberi pelita

Nyatanya engkau memberi luka

Nyatanya engkau menyemat duka

Nyatanya engkau menyuap derita

Nyatanya engkau menyita lara

Duhai jalak jantanku sayang

Kala anakmu menangis malang

Kala ratumu menangis pilu

Engkau memilih bercumbu dengan si camar

Dimana nalarmu?

Kau kemanakan janjimu?

Janji pada Tuhanmu

Ketika kau berikrar….

4 November 2016

NaraYuuki

Diamond from Desert Rose

Tittle                : Diamond from Desert Rose

Writer               : NaraYuuki

Genre               : Romance? Familly? Fantasy? Sad?

Rate                 : Silakan tentukan sendiri

Cast                  : All member DBSK (marga disesuaikan)

Disclaimer:      : They are not mine but this story and OOC Jung Hyunno, and others are mine, NaraYuuki

Warning           : Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran. Tanpa Edit jadi mungkin sedikit amburadul ==” Penceritaan ngebut. Saran dan masukkan diterima. Tidak menerima Bash dan Flamer dalam bentuk apapun!

❤ ❤ ❤

❤ ❤ ❤

landscape-730308_960_720

❤ ❤ ❤

PASTIKAN BACA WARNINGNYA!

❤ ❤ ❤

❤ ❤ ❤

❤ ❤ ❤

Beberapa tahun yang lalu terjadi sebuah wabah penyakit yang menyebabkan banyak orang meninggal, jatuh miskin dan sengsara. Pada saat itu dataran Big East yang semula merupakan dataran subur berubah seketika menjadi dataran kering gersang, sumber mata air mongering tiba-tiba, lahan pertanian berbatu dan berpasir, binatang ternak dan hewan buas banyak yang mati kelaparan pun si empunya. Pada masa sulit tersebut manusia tidak lagi memedulikan keluarga, saudara bahkan orang yang dikasihinya. Asal bisa makan dan bertahan hidup apapun akan mereka lakukan, mencuri, merampok, membunuh bahkan menjual sanak keluarganya sendiri. Termasuk seorang ayah yang sangat miskin dengan kesadaran penuh menjual kedua anak laki-lakinya pada keluarga kaya sebagai budak untuk sekedar mengisi perut yang meronta-ronta kelaparan. Kedua saudara itu pun berpisah dan tidak lagi diketahui keberadaannya sampai sekarang, entah masih hidup atau sudah mati menjadi mayat tak berarti dan dimakan oleh sekumpulan burung bangkai yang meneriakkan rasa lapar mereka diangkasa yang kelabu. Keluarga lain pun tidak kalah miris, menjadikan anak gadisnya sebagai seorang gisaeng misalnya hanya untuk mempertahankan perut tetap kenyang. Kenyataan pahit yang dulu merantai Big East perlahan-lahan memudar seiring berjalannya waktu, namun disudut-sudut yang terlupakan oleh penguasa dan pemerintahaan masih terjadi kekerasan serupa namun tak sama. Siapa yang membawa senjata dialah yang berkuasa. Ironi memang.

Hidup berdasarkan naluri untuk membunuh, mempertahankan hidup menjadi pilihan sebagian orang. Menindas yang lemah menjadi pilihan hidup beberapa orang, salah satunya yang terjadi disebuah daerah bernama Bollero.

Duak!

Petani tua itu jatuh pingsan seketika ketika dada kurusnya dihantam telapak kaki berlapis baja.

“Cuh!” seorang pemuda yang membuat si petani tumbang meludah mengenai petani yang sudah tidak sadarkan diri itu, “Dasar tua Bangka merepotkan! Aku hanya ingin anak gadismu menemaniku di atas ranjang malam ini! Aku tidak perlu kasar kalau kau menurut sejak tadi.” Matannya yang jelalatan menatap seorang gadis yang menangis ketakutan dalam diam di sudut gubug. Pemuda berwajah bengis itu menghampiri si gadis, baru beberapa langkah terdengar jeritan ketakutan dari si gadis. Kepala pemuda berwajah bengis itu sudah terlepas dari tubuhnya, darah membanjiri gubug reot itu.

“Sampah kecoa semacam itu tidak pantas hidup!” katana panjang berlumuran darah itu kembali disarungkan. Wajah menawan pelaku pemenggalan sadis itu menatap si gadis yang tengah menangis ketakuta. “Aku hanya membunuh sampah! Kau tidak perlu takut! Rawat saja ayahmu, belikan obat atau ramuan agar keadaannya tidak selemah itu.” Tanpa ekspresi sosok menawan itu melempar 5 keping emas pada si gadis.

“Kau terlalu baik, Jae! Untuk apa kau memberinya uang? Yoochun tidak akan menyukainya!” ucap pemuda lain berwajah manis.

Play boy sialan itu akan kehilangan kepalanya bila dia berani menegurku, Junsu!” pria –berwajah canti- yang dipanggil Jae itu berjalan keluar meninggalkan gubug jelek itu tanpa berkata apa-apa lagi.

“Hei, jangan memanggil kakakmu dengan sebutan kasar seperti itu! Lagi pula kau akan membuat gadis itu trauma seumur hidup.” Komentar Junsu yang mengikuti Jae keluar dari gubug. “Dia cukup manis ku kira.”

“Hmmm…”

“Kau tidak suka pada perempuan ya?”

“Mereka merepotkan dan berisik! Aku tidak suka hal yang merepotkan dan tidak efektif!” komentar Jaejoong terdengar dingin _selalu seperti itu.

“Kau tahu Jae? Beberapa hari yang lalu aku mendengar kabar bahwa Jenderal menyebalkan itu akan menjebloskan kita ke penjara bila kelompok kita masih sering membuat onar.”

“Biar saja!”

Junsu hanya bisa menghela napas panjang menghadapi sikap kelewat dingin ‘rekan kerja’nya itu.

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

“Hyung… Hyung…”

 Mata besar indah itu sembab, air mata terus membasahi wajah kusamnya yang penuh jelaga dan debu ketika sang ayah menyeretnya pergi –pergi untuk dijual ke orang kaya− sama sepertinya yang dijual untuk menjadi pelayan disalah satu rumah bangsawan. Ia ingin berlari menyelamatkan adiknya namun cengkeraman kuat dikedua bahunya membuatnya tidak bisa meronta dan meloloskan diri, ingin berteriak tetapi suaranya tercekat. Ia hanya bisa menatap sang adik yang perlahan-lahan hilang dari jangkauannya, dari matanya yang berkabut…

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

“Wajahmu kelihatan buruk, Yunho Hyung! Apa semalam kau mimpi buruk?” pemuda jangkung itu menatap pria di sampingnya yang menampakkan benang kusut diseluruh permukaan wajahnya.

“Tidak.” Jawab si pemilik mata setajam mata musang yang sedang berburu, entah apa yang mengganggunya atau alasan apa yang membuat suasana hatinya memburuk sehingga wajahnya tampak sangat tidak bersahabat.

“Ah, aku tahu! Hyung selalu menolak berurusan dengan para kutu busuk itu tetapi kali ini Hyung mendapat perintah dari atasan untuk memberantas mereka secara langsung. Benar-benar menyebalkan bukan?”

“Changmin!”

“Ya?!” tanya si empunya nama. Wajahnya menegang. Rekan kerja, atasan sekaligus sepupunya itu sudah memanggilnya dengan intonasi suara yang bergitu datar, dingin namun penuh pemenkanan menandakan bahwa Yunho sedang dalam suasana hati sangat buruk.

“Suruh anak buahmu bersiap! Kita akan segera berangkat. Aku dengan senang hati akan memenggal kepala prajurit yang membelot!” ancam Yunho.

Changmin, pemuda jangkung itu menelan ludahnya susah payah. Wajah sumpringahnya tadi menghilang entak kemana digantikan wajah tegangnya. “Aku akan menyuruh anak buahku untuk segera berangkat, Hyung.” Ucapnya sambil bergegas lari keluar dari ruang kerja sepupunya.

Sepeninggal Changmin, Yunho membuka laci meja kerjanya, mengambil sebuah kantong kain kecil berwarna kelabu dari bahan kulit kemudian menuangkan isinya di atas meja. Sebuah kalung emas putih berbandul seeokor rusa kecil yang terbuat dari tembaga, perlahan Yunho mengusap rusa mungil itu sebelum meraup rantainya dan mengalungkannya dilehernya sendiri.

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

Sebuah komplek di luar kota, sekitar 5 kilometer ke arah tenggara kota terdapat sebuah pemukiman kecil, sekitar 20 rumah gubug dan sebuah rumah jauh lebih besar berdiri ditempat itu. Tidak seperti pemukiman kumuh dimana masyarakatnya kurus kering kekurangan makanan dan memakai pakaian kumal, di pemukiman tersebut tidak bisa dijumpai pemandangan seperti itu. Penduduk yang tinggal disana sama seperti masyarakat menengah keatas pada umumnya, memakai pakaian sutra, menghiasi rambut mereka dengan manik-manik, makan makanan layaknya bangsawan dan bahkan memiliki banyak binatang ternak, sawah disekitar pemukiman itu pun sangat subur.

Yunho turun dari kudanya, berjalan dijalan setapak yang berada ditengah-tenagah pematang menggunakan sepatu bootnya. Sebuah pedang panjang terselip pada ikat pinggang kulitnya, jubah kebesarannya melambai-lambai tertiup semilir angin. Langkahnya mantab menuju bangunan paling mentereng (mewah) diantara banguan-bangunan lainnya tanpa memedulikan tatapan penduduk setempat dan bisik-bisik keras yang dialamatkan padanya. Diikuti Changmin dan sekitar 20 prajurit lainnya Yunho berjalan dengan wibawa dan keagungan yang menyertainya. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Yunho segera menendang pintu malang itu hingga terbuka lebar.

“Selamat datang, Jenderal!” ucap seorang pria yang berdiri di tengah ruangan kosong serupa aula itu dengan ramah. Wajahnya tersenyum berseri-seri melihat kemarahan yang tercetak jelas pada wajah Yunho. Di belakangnya terdapat sebuah anak tangga –hanya 3 buah anak tangga− hampa yang digunakan untuk duduk. Pada anak tangga ke-2 dan pertama telah duduk 2 orang yang salah satunya Yunho ketahui bernama Junsu, tetapi seorang lagi yang duduk pada anak tangga pertama dengan wajah menunduk tidak Yunho ketahui identitasnya, sedangkan pada anak tangga ke-3 –anak tangga teratas− kosong, seolah-olah memang sengaja kosong. Atau si empunya tengah berdiri dihadapan Yunho sekarang?

“Aku muak padamu, Park Yoochun! Kau dan segala keonaran yang sudah kau lakukan!” hardik Yunho geram.

“Ah… benarkah? Maafkan aku kalau itu mengganggumu tetapi yang kulakukan hanyalah membersihkan sampah!” jawab si pemilik pipi gempal itu tanpa memudarkan senyumannya.

“Kaulah sampah itu sendiri!” sindir Yunho.

“Seorang yang berpendidikan sepertimu tidak seharusnya menghina rakyat jelata sepertiku! Bukankah kau diajari sopan santun dengan baik, huh?”

“Sebaiknya kita langsung saja, Hyung! Tidak perlu bicara dengan tikus got seperti mereka!” saran Changmin.

“Mulutmu terlalu berbisa, Nak! Apakah kau menelan ular sebagai santapanmu setiap harinya?” tanya Yoochun.

“Ikut denganku untuk diadili secara baik-baik atau kau ingin aku memaksamu!” Yunho menawarkan –kalau bisa dibilang begitu− mengingat raut wajah tidak bersahabatnya.

“Tidak!”

Glaarrrr! Bersamaan dengan penolakan yang Yoochun utarakan petir menyambar dengan sangat keras hingga membuat penduduk disekitar berteriak dan bergegas memasuki kediaman masing-masing. Suara pintu-pintu yang ditutup bersahut-sahutan menjadi irama tersendiri.

Changmin yang merasa ‘terdakwa’ kurang kooperatif segera menarik katana dari sarungnya, diikuti oeh para prajurit yang berdiri tegang di belakangnya. Changmin mengacungkan pedangnya pada Yoochun.

“Bicara dengannya hanya membuang-buang waktu saja, Hyung. Mari kita adili mereka disini!” usul Changmin.

Tap!

Dengan wajah sumpringahnya Junsu berdiri di depan Changmin. “Ku rasa kau terlalu gegabah Choikang Changmin! Berkelahi di sini hanya akan membuat penduduk takut dan semakin membenci militer serta pemerintahan yang tidak pecus mengatasi kesenjangan sosial yang mencekik mereka!”

“Omong kosong!” bentak Changmin.

Buag! Tiba-tiba Changmin tersungkur saat sebuah tendangan kuat menghantam perutnya.

“Jae…” panggil Yoochun dengan suara tenang, dalam namun penuh penekanan.

Jaejoong −Jae− yang semula menundukkan kepalanya kini mendongak congkak pada gerombolan sampah –menurutnya semua antek-antek pemerintah adalah sampah busuk− yang mengganggu ketenangannya beristirahat.

Yunho tercekat melihat sosok Jaejoong. Ia merasa familiar pada Jaejoong, sepertinya mereka pernah bertemu disuatu tempat namun Yunho tidak mampu mengingatnya.

“Aku kurang suka kau menatap adikku seperti singa lapar, Jenderal!” ucap Yoochun mengalihkan perhatian Yunho yang semula terfokus pada Jaejoong kini beralih padanya. “Banyak pejabat korup yang ingin menjadikan adikku sebagai simpanan atau istri muda mereka tetapi aku tidak pernah merestui. Aku tidak sudi adikku dialiri aliran kotor hasil memalak rakyat miskin!” Yoochun meludah tepat mengenai permukaan sepatu kulit sebelah kiri Yunho.

“Uhuk! Uhuk!” Changmin terbatuk-batuk. Dibantu dua orang bawahannya, pemuda jangkung itu berusaha bangun dari dekapan lantai super dingin.

Rintik gerimis perlahan mulai turun disertai angin kencang yang meniupkan cabang-cabang pepohonan, membuatnya terlihat seperti menari-nari dalam latar kelabu yang kelam.

“Ini peringatan terakhirku! Kalau kau berbuat onar lebih dari ini, akan ku penggal kepalamu ditempat!” ancam Yunho yang hanya disenyumi oleh Yoochun.

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

Sudah setengah tahun lamanya Yunho tidak pernah mendengar kabar mengenai kelompok Yoochun. Sebenarnya didalam hati Yunho berterima kasih pada kelompok Yoochun yang membasmi penjahat-penjahat yang meresahkan rakyat kecil, akan tetapi sebagian jiwa kemanusiaannya pun tidak membenarkan apa yang kelompok Yoochun lakukan –menghilangkan nyawa manusia− walaupun mereka pantas untuk dihukum.

Pada suatu senja dengan napas terengah-engah dan keringat bercucuran Changmin datang menemui Yunho dan mengabarkan mengenai kabar menyedihkan namun juga menggembirakan. “Menteri pertahanan bersama 5 peleton pasukan pilihan telah menggempur markas komplotan Yoochun. Semua hancur.” Itu yang Changmin sampaikan.

Yunho yang entah kenapa tiba-tiba merasakan kekhawatiran merambati dirinya segera meminta Changmin dan beberapa orang prajurit kepercayaannya untuk pergi ke pemukiman tempat Yoochun dan kelompoknya bersembunyi dari lidah pemerintah. Ketika sampai di ujung pemating, rasa nyeri merambati hati Yunho melihat api berkobar dan asap tebal memenuhi pemukiman itu. Yunho berjalan tergesa –setengah berlari melintasi pematang hingga beberapa kali nyaris terjerembab ke dalam lumpur sawah. Begitu sampai di pemukiman kumuh itu Yunho tercengung (tertegun penuh kekagetan) dengan putus asa melihat tidak satu pun bangunan berdiri di tempat itu, semuanya sudah terbakar menjadi arang. Mayat-mayat bergelimpangan (tergeletak/ terkapar) disusut-sudut tempat yang dulunya berdiri sebuah rumah. Mayat-mayat dengan keadaan menyedihkan. Kehilangan kaki, kepala, tangan bahkan ada yang terbakar. Seketika air mata mengalir membasahi sepasang mata musangnya. Bagaimana pun juga Yunho memiliki hati nurani sebagai seorang manusia, hatinya tergugah melihat rakyat tidak berdosa dibantai sedemikian rupa oleh pemerintah –yang begitu dibela dan diagungkannya.

“Periksa seluruh tempat! Selamatkan yang masih bernyawa!” perintah Changmin pada prajuritnya. Dengan prihatin Changmin menengkeram bahu kanan Yunho. “Hyung…”

“Ini biadab! Tidak manusiawi!” gumam Yunho.

“Mari kita cari keajaiban diantara reruntuhan nestapa ini. Hyung!” ajak Changmin.

Yunho menganggukan kepalanya lemah kemudian berdiri, berjalan ragu-ragu menembus asap tebal, mencari-cari harapan yang hanpir punah. Samar diantara kabut asap tebal Yunho melihat sosok manusia sedang duduk sedikit membungkuk. Dengan perasaan membuncah Yunho berlari menghampiri sosok itu. Alangkah terkejutnya Yunho. Tubuhnya kejang seketika melihat pemandangan dihadapannya. Sosok Yoochun berlumuran darah tergeletak tak berdaya di atas tanah berdebu penuh jelaga, terdapat luka sayatan panjang mulai dari dada kanannya sampai pinggang kirinya. Anak panah menancap pada paha sebelah kirinya. Kaki Yunho lemas seketika, sang jenderal terduduk di samping sosok yang bersimpuh menangis dalam diam di hadapan tubuh Yoochun. “Dia mati?” tanyanya seperti orang linglung.

“Belum.” Jawab Jaejoong. Rambut hitam kusutnya yang panjang tampak lembab. Wajahnya kusut dan sembab penuh debu alih-alih jelaga. Mata legamnya tampak kosong tak bernyawa.

Yunho berteriak memanggil bantuan, meminta orang-orangnya menggotong tubuh Yoochun –yang ia kira sudah mati. Yunho sendiri memapah Jaejoong untuk segera mendapat pertolongan. Ketika Yunho bertanya pada Jaejoong perihal keberadaan Junsu, sosok itu hanya menyawab “Junsu diseret bersama para gadis lainnya.”

Yunho merutuk, dalam hati kecilnya tumbuh bibit benci pada pemerintah yang semula menjadi junjungannya.

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

“Yang ku dengar Jaejoong adalah adik kembar Yoochun. Ayah mereka dulunya pejabat pemerintah yang jujur, karena terlalu jujur akhirnya ayah mereka difitnah dan dijebloskan ke penjara sebelum dihukum pancung. Ibu mereka diperkosa sebelum dibunuh oleh pejabat lainnya tepat dihadapan mereka.” Jelas Changmin.

Yunho pilu mendengar kisah hidup seteru yang diselamatkannya. “Bagaimana dengan Junsu?”

“Junsu sebelumnya adalah anak orang miskin yang dijual pada keluarga Park –keluarga Yoochun dan Jaejoong− sebagai budak. Tetapi karena suatu sebab akhirnya Junsu menjadi bagian keluarga inti dan mendapatkan pendidikkan selayaknya keluarga bangsawan.”

“Mungkinkah…”

“Ya, Hyung….” Jawab Changmin. “Kemungkinan Junsu adalah adik kandungmu, Hyung. Nama orang yang menjual Junsu pada keluarga Park adalah Ming Jung Ho, ayah Hyung.”

Yunho memejamkan matanya dengan pedih, membiarkan lelehan bening membasahi wajah tampannya. “Dimana keberadaan Junsu sekarang?”

“Rumah para Gisaeng, tepatnya di penjara bawah tanahnya.” Jawab Changmin.

“Bagaimana dengan para gadis yang diculik?”

Changmin terdiam. Wajahnya nampak ragu-ragu.

“Changmin?”

“Mereka dipaksa menjadi gisaeng, Hyung.”

Seperti tertikam belati, Yunho merasakan nyeri diulu hatinya. “Bagaimana keadaan Jaejoong?”

“Dia tidak mau menyentuh makanan dan obat. Yang dilakukannya hanya menggenggam tangan Yoochun.” Changmin melihat perubahan raut wajah Yunho, “Apa rencana kita, Hyung?”

Yunho menatap Changmin penuh selidik.

“Aku memang kurang –sama sekali tidak menyukai Yoochun dan kelompoknya− tetapi aku lebih membenci kebiadaban yang dilakukan pada rakyat tidak bersalah.”

“Kita lihat nanti.” Ucap Yunho.

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

Brak!

Pintu malang itu terbanting, seorang pelayan jatuh dengan keras membentur lantai kayu. Yunho yang mendengar keributan itu segera mendatangi sumber masalah –Jaejoong yang tidak mau makan dan minum obatnya. Saudara Park Yoochun itu membuat si pelayan katakutan. Yunho yang geram dengan tingkah Jaejoong segera mencengkeram kedua pergelangan tangan Jaejoong dan menyeretnya menuju sudut kamar. Rontaan Jaejoong membuat kimono yang digunakannya tersingkap.

“Dengar! Aku muak dengan segala pemberontakan yang kau lakukan! Kalau kau tidak mau minum obat dan makan segera ambil pedangmu dan bunuhlah dirimu sendiri! Jangan buat aku menyesal sudah menyelamatkanmu!” bentak Yunho.

Jaejoong terdiam, mata indah legamnya menatap penuh kebencian mata setajam musang namun teduh itu. Bola mata bening serupa mata rusa betina itu berkabut, ada luka dendam dan ketakutan didalamnya.

“Aku membutuhkanmu… untuk menyelamatkan Junsu!” Yunho berujar dengan intonasi tinggi.

“Junsu….” Bibir merah penuh itu bergumam lirih.

“Ya. Junsu. Dia masih hidup. Junsu membutuhkanmu. Dia berada di penjara bawah tanah rumah para gisaeng yang sering didatangi oleh para bangsawan atau orang kaya beruang.” Ucap Yunho, kali ini suaranya sedikit lebih rendah. Ditatapnya mata indah yang tengah nanar itu dalam-dalam. Yunho ingat sekarang siapa sebenarnya Jaejoong dan kapan pertama kali mereka bertemu.

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

Jemari mungil itu terulur untuk mengusap air mata yang meleleh dari sepasang mata musang Yunho yang sudah bengkak –sudah sebulan Yunho berpisah dari adiknya namun ia belum bisa melupakan dengung gema suara adiknya yang memanggil-manggil namanya. Yunho bukannya dijual untuk menjadi budak melainkan untuk dijadikan anak oleh sang bangsawan kaya raya yang mengingankan seorang anak akan tetapi tidak mungkin terwujud karena tabib sudah mengatakan bahwa si bangsawan –ayah angkat Yunho− mandul. Yunho disulap menjadi anak bangsawan, tubuhnya bersih tidak lagi penuh debu dan daki, pakaiannya serba mewah dan mahal, Yunho pun dikirim ke sekolah khusus anak-anak bangsawan berada. Ditempat asing tak bersahabat inilah ia menjumpai seorang anak seusia adiknya tengah memergokinya menangis, anak –yang Yunho kira seorang gadis− itu mengusap air matanya secara perlahan dan lembut.

“Bukankah anak laki-laki tidak boleh menangis?” mata hitam legam serupa mata rusa betina itu menatap Yunho penuh kepolosan dan ketulusan.

“Aku sedang sedih. Aku kehilangan adikku.” Jawab Yunho muda.

Sosok dengan hanbok sewarna bunga sakura itu menganggukan kepalanya perlahan, “Aku pun akan sedih bila kakakku meninggalkanku.” Sosok itu memeluk Yunho, lengan mungilnya dikalungkan pada leher jenjang Yunho.

Yunho membalas pelukan hangat itu tak kalah erat, “Terima kasih.”

Sosok itu tersenyum, mengambil sesuatu dari kantong kecil berwarna kuning tembaga yang ia bawa dan menyerahkan isinya pada Yunho –Sebuah kalung emas putih berbandul seeokor rusa kecil yang terbuat dari tembaga− sebelum melambaikan tangannya dan berjalan pergi meninggalkan Yunho.

Untuk sesaat Yunho tersihir oleh keindahan kalung itu, setelah tersadar ia segera berlari mencari sosok kecil yang begitu cantik tadi. Yunho melihat si kecil itu hendak memasuki sebuah tandu. Yunho berteriak memanggilnya.

“Siapa namamu?” tanya Yunho sedikit ngos-ngosan.

“Park Jaejoong.”

“Kau tidak sekolah disini?” tanya Yunho sedikit berharap. Alangkah indah hari-harinya bila sikecil nan cantik itu menjadi sahabatnya.

Jaejoong kecil menatap gedung sekolahan, “Tadinya. Tetapi ayah dipindah tugaskan dan saudara baruku sakit parah. Kami harus ke Ibu kota secepatnya untuk obat.”

“Apa kita akan bertemu lagi?”

“Semoga….” Si kecil itu mencium pipi kanan Yunho sebelum memasuki tandu yang akan membawanya pergi.

Yunho hanya mampu menatapnya dalam diam, dalam kehampaan.

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

“Aku akan menyuapimu jika kau tidak mau makan.” Ucap Yunho, perasaan haru dan sayangnya pada sosok kecil –yang ternyata Jaejoong itu− muncul lagi, seperti luapan banjir yang menyapu persawahan petani. “Kau harus cukup sehat untuk membantu Junsu keluar dari penjara sialan itu!” Yunho mulai mengambil nasi dari mangkuk menggunakan tangan telanjang, menambahkan dengan suiran ikan panggang dan sayur tumis sebelum menyuapkannya ke dalam mulut Jaejoong. Yunho menyuapi Jaejoong dalam diam. Mengutuk siapa saja yang menggoreskan luka pada dada kiri Jaejoong.

“Kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Jaejoong disela mengunyah. Mata indahnya terus mengawasi Yunho takut bila Yunho memberinya racun.

“Menurutmu?” tanya Yunho balik.

“Di markas? Aku melihatmu di sana!”

“Kita bertemu bahkan jauh lebih lama dari pada waktu itu.” Jawab Yunho. “Kau…” Yunho menatap dalam mata Jaejoong yang sangat jernih itu. “Kau mungkin adalah salah satu orang yang paling berarti bagiku selain adikku.”

“Kenapa?” tanya Jaejoong penuh selidik.

“Ku rasa aku sudah jatuh hati padamu sejak pertemuan pertama kita, walaupun waktu itu ku kira kau seorang gadis.”

“Kau juga ingin memerkosaku seperti yang dilakukan orang-orang itu?” tanya Jaejoong, matanya berkabut.

“Siapa yang melakukannya padamu?” tanya Yunho, suaranya tinggi penuh amarah.

Jaejoong menggelengkan kepalanya pelan, “Mereka mengira aku seorang perempuan, mereka hendak memerkosaku tetapi aku sudah membunuh mereka.” Jelasnya. “Mereka… orang pertama yang aku bunuh.” Lirihnya.

Yunho mendekap tubuh Jaejoong, memeluknya erat tanpa memedulikan keluhan Jaejoong yang mengatakan bahwa dadanya sedikit sesak. “Maafkan aku. Aku tidak tahu kau pernah mengalami pelecehan seperti itu.”

“Saat umurku 14.”

‘Andaikan saat itu kau berada disisiku….” Tiba-tiba Yunho merasakan sebuah penyesalan hebat melandanya. “Maafkan aku…”

“Mereka tidak benar-benar memerkosaku, hanya meraba tubuhku. Sebelum sempat mengoyak hanbokku mereka ku bunuh. Sejak saat itu aku menjadi pembunuh.”

“Tidak. Kau bukan pembunuh. Bagiku kau bukan pembunuh.” Yunho memeluk Jaejoong erat. Ini terasa tidak adil. Yunho tidak rela Jaejoong disentuh oleh orang lain walaupun dirinya sendiri adalah orang yang mungkin saja paling bernafsu untuk menjamah Jaejoong.

“Kau pernah memerkosa orang?”

Yunho mengusap wajah pucat Jaejoong perlahan. “Aku… tidak pernah memerkosa orang. Tetapi aku pernah tidur dengan beberapa gisaeng untuk melepaskan hasrat. Bagaimanapun juga aku seorang lelaki dewasa.”

“Aku juga pernah tidur dengan seorang gisaeng. Dan aku menyesal melakukannya. Aku tidak suka mereka.”

Yunho tersenyum bahagia, ternyata masih ada kepolosan yang tersisa dalam diri Jaejoong. “Kalau begitu kita impas. Jangan lakukan lagi! Aku pun tidak akan melakukannya lagi. Kalau kau ingin ditemnai tidur, aku yang akan menemanimu.”

Jaejoong menggelengkan kepalanya perlahan. “Yoochun yang biasanya menemaniku. Bila mimpi buruk itu mengganggu tidurku, dia akan menemaniku. Yoochun biasanya akan mengusap keningku dan menggenggam tanganku erat sambil bercerita tentang dunia yang sempurna. Kau tahu… dunia sempurna itu tidak ada.”

“Memang tidak ada.”

“Tetapi Junsu selalu percaya pada apa yang Yoochun katakan.”

“Kita akan menyelamatkan Junsu.” Ucap Yunho. “Aku tahu dimana letak penjara bawah tanahnya. Kita hanya perlu datang ke rumah para gisaeng.”

“Mereka akan mengenaliku!”

Yunho menggelengkan kepalanya perlahan sebelum tersenyum, “Seperti saat pertama bertemu, seperti itulah yang akan mereka lihat…”

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

Ish! Aku masih kurang yakin soal ini!” gerutu Changmin yang masih duduk gelisah di atas kudanya. “Hyung? Apa kau sudah gila?”

Yunho tidak menyahut, tangannya terjulur ke atas untuk membantu Jaejoong –yang disulap menjadi gisaeng jadi-jadian− untuk turun. “Kita sudah membicarakan soal ini sebelumnya, Changmin! Pintu penjara bawah tanah itu ada di salah satu ruang kamar yang biasanya disewakan pada pejabat hidung belang. Aku sudah memesannya susah payah dengan harga mahal.”

“Tetapi Hyung, kalau Hyung memesan kamar Hyung harus memesan seorang gisaeng juga!” ucap Changmin tidak sabar.

“Aku sudah mendapatkan gisaengku! Kau, pesanlah untuk dirimu sendiri!” Yunho menggenggam lengan Jaejoong, “Dan perintahkan anak buahmu yang sudah menyamar untuk bersiaga!”

Aish! Kalau aku sampai terbunuh karena hal ini aku akan menghantui Hyung seumur hidup!” rutuk Changmin.

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

Di salam ruangan yang sudah Yunho sewa, baik Changmin maupun Jaejoong –yang menyamar menjadi gisaeng− mencari-cari letak pintu rahasia menuju penjara bawah tanah berada. Sementara Yunho berjaga di depan pintu dengan sikap waspada. Dan gisaeng yang disewa Changmin hanya melongo melihat kelakuan tamunya.

“Sial! Hong Kwan Bo, anak perdana menteri yang terkenal mata keranjang berjalan kemari.” Maki Yunho.

Changmin yang mendengarnya segera melompat ke sisi gisaengnya dan merangkul bahu wanita berdandan menor itu –walaupun wajah Changmin nampak sangat menderita ketika melakukannya−.

Yunho segera duduk dibalik meja, menarik Jaejoong untuk duduk diatas pangkuannya. “Aku tahu kau bisa melakukannya! Kita harus pura-pura! Pria brengsek yang menuju kemari adalah orang yang berbahaya.” Ucapnya sembari menuangkan arak ke dalam mangkuk –sebagai alibi−.

Sraak!

Bersamaan dengan pintu dibuka, Jaejoong membimbing lengan Yunho untuk memeluk pinggangnya sementara dirinya bergelatut pada leher Yunho untuk menyembunyikan wajahnya.

Yunho merinding merasakan napas dan bibir Jaejoong yang menempel pada kulit lehernya, namun Yunho pun tidak bisa menolak ketika lengannya melingkar sempurna pada pinggang Jaejoong. “Ku rasa kau mengganggu urusanku, Tuan Hong Kwan Bo!” ucap Yunho. Bibirnya ia biarkan mengecup bahu kanan Jaejoong yang sedikit tersingkap. Yunho dapat merasakan tubuh Jaejoong mengejang ketika ia melakukannya.

“Maafkan atas kelancanganku, Jenderal Jung! Sekilas aku melihatmu dan Changmin sshi mendatangi surga dunia ini. Sedikit jarang melihatmu ditempat seperti ini.” Ucap Hong Kwan Bo yang masih berdiri di mulut pintu.

“Beberapa kali aku mentlaktir bawahanku disini, kalau kau mau tahu. Tetapi kekacauan akhir-akhir ini memaksaku untuk sedikit menahan diri dari bersenang-senang.” Ucap Yunho. “Katakan keperluanmu! Ku rasa aku sudah tidak sabar!”

Hong Kwan Bo tertawa, “Pastilah gisaengmu sangat cantik hingga wajahmu terlihat begitu bernafsu! Baiklah! Nikmati malammu Jenderal! Mungkin lain kali aku bisa mengundangmu minum bersama.”

“Ya!” sahut Yunho pendek. Yunho belum menurunkan Jaejoong dari pangkuannya walaupun pintu bilik sudah tertutup lagi. Yunho melotot melihat Changmin dan Gisaengnya terlelap dipojok ruangan. “Kapan anak itu minum? Kenapa bisa mabuk seperti itu?” gerutunya.

“Yunh….”

“Hm?”

Jaejoong mengangkat kepalanya, menatap Yunho lekat-lekat.

“Apa kau juga mabuk, Jae?” tanya Yunho kesal. Rencana rapinya berantakan kalau Changmin dan Jaejoong mabuk.

“Aku… ingin…” bisik Jaejoong dengan suara parau.

“Apa? Kau ingin apa?” tanya Yunho tak sabar. Yunho mati-matian menahan gejolak kelelakiannya melihat wajah memohon Jaejoong.

“Tubuhku panas… aku ingin… aku butuh pelepasan!”

Setan brengsek! Maki Yunho dalam hati. Persetan dengan tugas ataupun Junsu, Yunho tidak bisa menahan godaan yang Jaejoong berikan padanya. Yunho mencintai Jaejoong sudah sejak lama, kini ketika orang yang dikasihinya menginginkan dirinya mana bisa Yunho menolak.

“Bagaimana dengan rencana kita?” kewarasan masih belum meninggalkan Yunho walaupun hasrat gairahnya sudah hampir meledakan kepalanya.

“Aku tidak bisa menahannya! Aku butuh pelepasan sekarang!” desak Jaejoong. Wajahnya semakin diliputi oleh gairah, bagaikan orang mabuk.

Ampuni aku Tuhan! Bisik hati kecil Yunho. Perlahan-lahan Yunho membaringkan Jaejoong di atas lantai kayu yang dilapisi karpet beludru berwarna hijau, memandang mata yang menghanyutkannya kedalam lautan gairah berlama-lama sebelum meraup dan mengulum bibir merah merekah itu dengan rakus. Menelusuri tubuh indah yang berbaring pasrah dibawah tubuhnya.

Tanpa Yunho sadari sejak tadi Hong Kwan Bo melihat aksinya. Pria itu tidak percaya pada motif kedatangan Yunho ke rumah para Gisaeng tetapi melihat betapa bernafsunya sang Jenderal, pria itu merutuk juga. “Sial! Gisaeng itu sunguh cantik! Aku harus mendapatkannya!” ucapnya sebelum berjalan meninggalkan bilik Yunho.

Mengabaikan Changmin dan sang gisaeng yang terlelap bahkan sampai mendengkur, Yunho memuaskan hasratnya yang diterima dengan baik oleh Jaejoong. Yunho menciumi tubuh indah pasangannya, mengagumi dalam hati betapa ia sangat menyesal tidak segera menemukan Jaejoong lebih awal. Jaejoong, Jaejoongnya, miliknya! Tidak ada seorang pun yang boleh merasakan dekapan Jaejoong selain dirinya mulai sekarang! Jaejoong sangat halus, lembut, rapuh dan kuat pada saat yang bersamaan. Mereka bersatu dalam indahnya cinta –atau setidaknya seperti itulah anggapan Yunho.

Srak! Duk!

Meja tempat makanan dan arak diletakkan bergeser ketika kaki Yunho membenturnya, Yunho menoleh, ada yang aneh dengan lantai di bawah meja itu.

“Jangan tak acuh padaku!” Jaejoong menjambak rambut Yunho, mencium heart lips Yunho dengan kasar. Jaejoong pernah tidur dengan gisaeng, ia tidak merasa puas. Namun ketika Yunho merasuki tubuhnya, jiwa dan nalarnya seakan meleleh merasakan begitu kuatnya hentakan yang Yunho berikan pada dirinya.

“Aku mencintaimu, Jae… dengan segenap jiwa yang ku punya. Aku mencintaimu….” Bisik Yunho.

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

“Apakah sakit?” tanya Yunho yang mengenakan kembali pakaiannya. Jaejoong dengan keras kepala tidak mau dibantu memakai pakaiannya kembali.

“Tidak. Aku baik-baik saja.” Jaejoong kemudian menendang meja tidak berdosa itu hingga membentur tembok sisi Changmin. Membuat Changmin dan Gisaengnya kaget dan terbangun dengan liur disekitar bibir mereka.

Dengan hati-hati Yunho menyibak karpet yang menutupi lantai. Tepat seperti dugaannya, lantai di bawah meja itu berbentuk seperti pintu lengkap dengan engselnya. Yunho membukanya perlahan-lahan. Ada sebuah terowongan dan anak tangga menuju bawah tanah.

“I… itu….” Gagap Changmin.

“Pintunya.” Ucap Yunho santai.

“Aku akan turun ke bawah!”

Yunho mencengkeram erat lengan Jaejoong. “Kau disini bersama Changmin! Aku yang akan ke bawah.”

“Aku tidak bisa bersama orang bermulut besar sepertinya!”

Yah!” suara Changmin melengking.

“Tunggu disini bersama Changmin! Aku tidak mau dibantah kali ini!” ucap Yunho penuh penekanan. “Aku tidak mau kehilanganmu lagi, Jae. Ku mohon mengertilah!”

Changmin yang tidak mengerti arti kata-kata yang terlontar dari mulut Yunho hanya mampu menatap sepupunya dan Jaejoong secara bergantian. Ingin sekali Changmin bertanya tetapi melihat wajah serius Yunho membuatnya menelan pertanyaannya sendiri.

“Aku akan segera kembali bersama Junsu. Aku janji!” ucap Yunho sebelum dengan perlahan-lahan menapaki anak tangga menuju ruang −penjara− bawah tanah.

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

Aroma kencing dan tahi tikus menyeruak memenuhi udara lembab dalam ruang bawah sempit itu, Yunho berjalan dengan sangat hati-hati, sedikit was-was ada perangkap atau jebakan yang sengaja dipasang disana. Penerangan yang sangat buruk, hanya sebuah lampu minyak di depan sana –sebuah kurungan dari jeruji besi− berada. Tempat Junsu berada. Yunho berjalan semakin cepat namun dalam kewaspadaan yang tinggi menuju kurungan yang memenjarakan Junsu −adiknya−. Yunho menghentikan langkahnya beberapa meter dari pintu kurungan besi, wajahnya tertampar melihat kurungan yang tidak seberapa itu dijejali oleh banyak wanita, gadis dan anak-anak. Wajah-wajah mereka nampak ketakutan melihat Yunho.

“Dia tidak akan menyakiti kalian.”

Yunho menoleh kaget. Jaejoong sudah berdiri di belakangnya dengan angkuh meskipun masih menggenakan hanbok gisaengnya.

“Jae? Sudah ku katakan…”

“Mereka akan ketakutan bila melihatmu, Jenderal Jung!” ucap Jaejoong. Sembari mengeluarkan katananya yang entah ia dapatkan darimana, Jaejoong berjalan menuju kurungan, membiarkan Yunho berada di belakang tubuhnya. Sekali ayun, Jaejoong mematahkan rantai besi berkarat beserta gembok yang mengunci kurungan. “Kalian keluarlah sekarang! Sebelum tikus-tikus brengsek peliharaan pemerintah datang menggigit kalian lagi. Segera keluar!”

Para perempuan dan anak-anak yang nyata menyiratkan luka batin mendalam dikedalaman mata mereka menatap nanar Jaejoong –mengucapkan terima kasih melalui tatapan terluka mereka sebelum berjalan berbondong-bondong menaiki tangga menuju atas dengan tahi-hati.

“Jae…” Yunho menarik tangan Jaejoong agar adik Park Yoochun itu menatapnya.

“Kita bicara usai mereka semua berhasil pergi dari sini!” ucap Jaejoong yang langsung meloloskan diri dari Yunho untuk bergabung bersama keluarganya –penduduk yang tinggal bersamanya membentuk koloni tak tersentuh oleh pemerintahan sebelum penyerangan terjadi.

Yunho diam memperhatikan kepergian Jaejoong hingga sosok indah itu menghilang dari pandangannya.  Lantas ikut mengikuti rombongan pesakitan itu ketika orang terakhir sudah mulai menaiki tangga, meninggalkan kurungan pengab berbau pesing lagi anyir dalam kelembaban yang menyisa sebatang kara.

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

Changmin –yang sudah bangun dari tidurnya− membantu para pesakitan untuk masuk ke kereta kuda yang sudah bawahannya siapkan. Dengan hati-hati dan waspada Changmin memerintahkan pasukan terbaiknya untuk mengawal para pesakitan ke barak persembunyian yang berada di ruang bawah tanah rumah Yunho.

“Sudah semua?” tanya Yunho.

Changmin mengangguk singkat. Keringat membasahi sekujur tubuhnya. Menggunakan dagunya Changmin menunjuk dua sosok manusia yang berdiri disamping seekor kuda berwarna putih bersih –Jaejoong yang sudah berganti pakaian sedang memeluk Junsu yang lemas dan babak belur. “Tidak ingin bergabung dengan mereka, Hyung?”

Yunho menggelengkan kepalanya pelan. “Junsu lebih menyayangi mereka –Yoochun dan Junsu− daripada kakak yang mencampakannya.” Ucapnya Yunho. “Lihat?! Junsu lebih nyaman berada dalam pelukan Jaejoong.”

“Dia −Junsu− tidak mau naik kereta kuda dengan yang lain. Dia lebih memilih naik kuda dengan Jaejoong.”

“Biarkan saja.” Ucap Yunho. Yunho diam saja ketika melihat Jaejoong membantu Junsu naik ke punggung kuda dengan susah payah. “Jae?” Yunho sedikit berteriak ketika memanggil nama itu.

“Junsu harus segera mendapatkan obat!” jawab Jaejoong yang langsung melompat ke atas pungggung kuda kemudian menyentak tali kekangnya, membuat sang kuda meringik sebelum melesat menembus kegelapan malam.

“Ikuti mereka!”

Ye!” ucap Changmin yang langsung melompat ke punggung kudanya untuk mengejar Jaejoong dan Junsu.

“Aku tidak akan melepaskan kalian lagi.”

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

“Malam yang panjang. Istirahatlah!” Yunho mengusap bahu Jaejoong perlahan.

“Tidak.” Tolak Jaejoong. “Dulu ketika aku sakit mereka menungguiku hingga aku sembuh. Sekarang aku yang akan menjaga dan merawat mereka sampai sembuh.”

“Aku sudah membayar tabib untuk merawat mereka.”

“Hm…”

“Jangan keras kepala! Kau juga sakit!”

Jaejoong menatap Yunho dalam-dalam sebelum kembali menatap Yoochun dan Junsu yang terlelap. “Ya, kau benar. Aku akan tidur disini kalau begitu.”

“Jae…”

“Apa? Ku mohon…”

Jaejoong hanya tersenyum. Senyum yang aneh. Senyum yang hanya pernah ia perlihatkan pada Yunho seorang.

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

Lima tahun kemudian

Denyut kehidupan ditempat yang dulunya sempat menjadi abu itu perlahan-lahan meronakan warna kehidupan. Tunas-tunas muda mulai tumbuh subur, warna-warni bunga mulai mewarnai yang dulu kelabu. Tawa anak-anak terdengar menyemarakkan tanah yang sempat mati itu walaupun luka dimata para orang dewasa nyata membekas dengan kuat.

Derak kuda hitam itu memenuhi pematang yang berukuran cukup lebar untuk dilewati kereta kuda. Suara yang menarik perhatian para anak-anak untuk bersorak sorai penuh keceriaan menyambut datangnya pahlawan mereka.

“Ahjushi… bawa gula-gula?” tanya salah seorang anak.

Sosok pria dewasa itu tersenyum lebar kemudian menurunkan karung yang dibawanya di atas tanah, membuka ikatannya. “Panggil teman-temanmu! Pastikan semuanya mendapatkan jatah.”

Riuh anak-anak mulai berebut membongkar isi karung kumal yang ternyata penuh gula-gula manis aneka warna.

Meninggalkan keriuhan anak-anak yang sedang berebut gula-gula, pria dewasa itu berjalan menuju salah satu rumah, tersenyum ketika melihat bocah berusia 10 bulan sedang berjalan tertatih-tatih mengejar kucing berwarna abu-abu gelap.

“Hei jagoan!”

Baita itu memekik senang lantang berlari –walaupun terjatuh-jatuh− menuju si pria.

“Aku masih tidak percaya adik iparku adalah seorang Jenderal!” gerutu Yoochun yang keluar dari arah dalam rumah.

“Mana Jaejoong? Junsu?” tanya Yunho yang sedang memeluk erat si balita −putranya−.

“Jaejoong? Mungkin sedang menghajar bandit yang mencoba merampok salah satu rumah semalam, Junsu menemaninya agar Jaejoong tidak lepas kendali.” Jawab Yoochun. “Ah, itu mereka…”

“Bandit brengsek itu sudah dibawa ke kantor polisi oleh Changmin. Si pohon kelapa itu takut Joongie akan memotong kepala bandit sialan itu.” Terang Junsu. “Dan Jung Yunho, jangan selalu membawakan gula-gula! Itu merusak gigi anak-anak!” omelnya.

Yunho hanya tersenyum. Baik Yunho maupun Changmin tidak ada yang buka suara mengenai kenyataan bahwa Junsu adalah adik kandung Yunho yang dijual oleh ayah mereka. Junsu lebih nyaman berada disisi Yoochun dan Jaejoong. Cukup melihatnya bahagia itu lebih darii segala-galanya bagi Yunho.

“Kalau kau mencari Joongie, dia sedang berada di sungai bersama para gadis.” Junsu tersenyum. “Tapi itu tadi, sekarang dia dimana aku pun kurang tahu.”

Yunho hendak buka suara ketika balita dalam gendongannya bergerak-gerak gelisah, tangannya menggapai-gapai ke arah luar. Yunho kewalahan menghadapi polah si kecil. “Kau bisa mengenali Ibumu ya?” gumam Yunho tidak mampu menyembunyikan senyumnya.

“Aku dengar dari anak-anak bahwa kau sudah pulang.” Ucap Jaejoong sembari menurunkan keranjang berisi sayuran segar yang baru saja ia petik dan diberikan pada Junsu.

“Hm…” sahut Yunho sejenanya. “Wajahmu…?” Yunho melihat bekas memar di bawah mata kiri Jaejoong.

“Yah, sedikit olah raga. Untung si mulut lebar −Changmin− berhasil mencegahku memenggal kepalanya dan membawa bandit mata keranjang sialan itu ke polisi! Kau harus memastikan penjahat kelas teri itu membusuk di penjara atau aku akan mencarinya untuk mencabut nyawanya!” ucap Jaejoong sedikit mengancam.

“Kau bosnya.” Jawab Yunho sembari memberikan balita dalam gendongannya pada Jaejoong. Tanpa diminta balita tampan nan menggemaskan itu mengusap-usapkan wajahnya pada dada Jaejoong. “Hyunno –balita itu− sepertinya lapar.”

“Dia −Hyunno− sama mesumnya seperti ayahnya!” sindir Yoochun sambil melirik Yunho.

“Ah, aku lupa! Ada obat yang harus kau minum.” Yunho melemparkan sebuah kantung kulit kecil pada Yoochun yang sukses ditangkap. Semenjak insiden 5 tahun lalu, Yoochun memang tidak lagi se-fit dulu. Harus ada obat yang minimal sebulan sekali ia minum agar kondisinya tidak turun. Insiden yang menyisakan luka pada setiap mata yang mengalaminya.

“Terima kasih.” Ucap Yoochun.

“Kita harus bicara, Jae.”

“Tentu saja.” Sahut Jaejoong.

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

Dipinggir sawah yang padinya mulai menguning, di bawah pohon rindang yang menghantarkan rasa nyaman, disela hembusan sepoi angin yang membawa kesejukan, di atas rumput hijau yang menentramkan Yunho, Jaejoong dan putra mereka −Hyunno− duduk dengan nyaman, kecuali Hyunno yang terlelap dipangkuan sang ayah.

“Hanya sebulan. Aku ingin kau menemaniku ke tanah kelahiranku, Jae. Bertemu dengan ayah dan ibu yang membesarkanku. Bagaimanapun juga Hyunno adalah cucu satu-satunya yang mereka nantikan kedatangannya.” Ucap Yunho dengan suara sedikit memelas.

“Sudah ku bilang padamu, aku tidak bisa meninggalkan Yoochun, Junsu dan keluargaku disini.” Jawab Jaejoong penuh dilemma.

“Bukankah aku sudah menjanjikan keamanan bagi mereka? Changmin dan para prajurit khusus akan menetap disini selama kita pergi.” Yunho meyakinkan. “Kumohon….”

Jaejoong menatap Yunho tanpa berkedip untuk beberapa saat lamanya. Sama seperti sebelumnya, mata indah itu selalu berhasil menghipnotis Yunho untuk terus memandanginya –selayaknya candu.

“Aku takut… bertemu dengan orang tuamu.”

“Apakah kenangan itu mengganggumu?” Yunho meremas tangan kanan Jaejoong erat.

Jaejoong menundukkan kepalanya sebentar sebelum tersenyum pada Yunho. “Memang menggangguku. Tetapi aku akan mati penasaran bila tidak bertemu mertuaku.” Ucapnya. “Kapan kita berangkat? Tetapi kau harus bersumpah padaku bahwa tempat ini harus dijaga sepeninggal kita!”

“Aku berjanji!” sahut Yunho. “Lusa kita akan berangkat. Aku akan menyiapkan kereta kuda dan bekal untuk perjalanan kita nanti.”

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

Ada sebuah ledakan emosi yang membeludak ketika menyaksikan pemandangan langka itu. Ketika Jaejoong yang sedang menggendong Hyunno menaiki kereta kuda hingga kereta itu perlahan-lahan meninggalkan pematang. Iringan doa dan suara-suara yang meneriakkan nama mereka memenuhi pematang berlumpur itu. Yunho merasa sangat bersalah, ia seolah mencuri sebuah permata berharga dari mereka. Namun begitu dalam hati Yunho berjanji akan mengembalikan si permata kembali pada mereka dengan selamat karena bagaimana pun juga sang jenderal harus menyadari bahwa ‘istrinya’ adalah Diamond bagi orang-orang terlupakan seperti mereka….

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

 

Saturday, October 29, 2016

10:06:59 AM

NaraYuuki