Latihan Menulis Puisi

Untuk kelas 7 SMP pasti ada mapel dengan materi menulis puisi.

Nah, berikut cara yang mudah: 😀

  1. Cari Tema ——> Misal tema :Pagi yang Cerah
  2. Selanjutnya tentukan kata-kata yang kira-kira berkaitan dengan tema —> misal: Embun, mata hari, ayam, burung, udara segar
  3. Susun kata-kata tersebut menjadi kalimat yang padu

Contoh Puisi:

Pagiku

.

Pagi ini ku terbangun

Ketika mata hari menyembutkan

sinar keemasan di ufuk timur

Udara segar menyeruak memenuhi kamarku

Embun berkilauan di ujung-ujung dedaunan

Burung-burung bernyanyi riang di dalam pepohonan

Ayam pun berkokok menyemarakkan suasana

Selamat Mencoba 🙂

Tuesday, April 11, 2017

9:18:41 AM

NaraYuuki

Rahma dan Si Penari

WARNING! Apabila ada kata yang seharusnya ditulis menggunakan huruf V tetapi diepep huruf V mernjadi F itu dikarenakan keyboard Laptop Yuuki bermasalah sehingga tombol huruf V tidak berfungsi.

Mohon maaf atas ketidak nyamanannya.

Harap pengengertiannya.

Selamat membaca 😀

Rahma suka sekali menggambar, ia bercita-cita ingin menjadi komikus suatu hari nanti. Selain menggambar Rahma juga suka membaca terutama membaca buku-buku fabel yang ada di sekolahnya. Biasanya pada jam istirahat Rahma akan langsung pergi ke perpustakaan sebelum pergi ke kantin untuk jajan.

Pada suatu siang yang agak mendung Rahma duduk sendirian di sudut perpustakaan yang sepi. Guru-gurunya sedang rapat, teman-temannya asyik bekejaran di halaman sekolah ada juga yang bergerombol di kantin sembari bercanda ria. Rahma bersandar pada tembok perpustakaan yang catnya sudah pudar, jemari mungilnya terjulur untuk mengambil sebuah buku fabel dari deretan rak. Jilid buku itu sudah surak, isinya banyak yang sobek dan kumal namun Rahma tetap membuka lembar demi lembar halaman fabel tersebut. Mata polos cokelatnya menatap pada gambar seorang penari, penari itu manusia dan penontonnya adalah binatang. Gambar penari itu tampak cantik, anggun dan luwes, tanpa sadar jemari tangan Rahma mengusap kertas kumal bergambar penari cantik itu.

“Rahma… kenapa belum pulang? Perpustakaannya mau Ibu tutup.” Ujar Bu Suharniti yang sering di sapa Bu Har oleh para siswa. Bu Har adalah penjaga perpustakaan sekaligus wali kelas Rahma.

Rahma mendongak menatap Bu Har, tatapannya polos. “Sudah waktunya pulang ya, Bu?” tanya Rahma.

Bu Har tersenyum, “Sudah lewat waktunya pulang, Rahma. Teman-temanmu sudah pulang semua, para guru sebentar lagi juga mau pulang.”

Rahma mengangguk mengerti, “Bu, boleh saya pinjam buku ini untuk dibawa pulang? Saya janji akan menjaganya dengan baik. Besok saya kembalikan.”

“Iya. Bawa saja.”

“Terima kasih Bu.” Ucap Rahma girang sebelum berlari pergi meninggalkan perpustakaan dan Bu Har yang menggelengkan kepalanya melihat polah Rahma.

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

Selama perjalanan pulang Rahma memikirkan tentang penari dalam buku fabelnya. Mana ada penari yang menari di tengah hutan dan ditonton oleh para binatang? Memang para binatang mengerti arti sebuah tarian? Atau musik? Rahma geli membayangkannya namun tetap mengayuh sepedanya. Begitu memasuki taman bermain dekat kompleks rumahnya sayup-sayup Rahma mendengar sebuah suara. Suara musik gamelan. Rahma turun dari sepedanya, berjalan perlahan sembari menuntun sepedanya mencari-cari sumber suara.

Rahma terus berjalan hingga masuk ke dalam taman, tengah-tengah taman yang sering dijadikan tempat piknik pada akhir pekan. Sebuah lahan luas dengan rumput hijau yang dipotong rapi, disekelilingnya tumbuh pohon-pohon berdaun rindang yang membuat udara terasa sejuk serta beragam bunga warna-warni mempercanti tempat itu. Rahma memarkir sepedanya di bawah pohon johar yang sedang berbunga kuning –sangat indah− kemudian berjalan menuju arah kerumunan orang ditengah lahan lapang. Suara musik gamelan terdengar semakin kencang.

Sebuah pentas tari. Rahma melongo melihat para penabuh gamelan, kendang dan alat musik lainnya bermain dengan sangat lihai. Ditengah-tengah seorang perempuan cantik meliuk-liukkan tubuhnya dengan handal, menari Jaipong. Ini kali pertama bagi Rahma menonton pentas tari. Rahma tertegun ketika melihat binatang seperti kucing, kelinci, burung, kupu-kupu dan banyak lagi mulai mendatangi dan mengelilingi si penari. Seperti dewi dalam dongeng yang sering ia baca di perpustakaan. Rahma terhanyut dalam irama musik dan taarian si penari. Tanpa sadar meletakkan tasnya di tanah berumbut dan ikut duduk menikmati pertunjukkan tari tersebut. Sesekali mata Rahma terbelalak dan gumaman keluar dari bibir mungilnya karena mengagumi kepiawaian kakak penari. Rahma bahkan ikut menggoyangkan badannya ke kanan dan kiri ketika tempo musik terdengar semakin keras, cepat namun lembut mengalun.

“Adik mau ikut menari?”

Rahma tersentak kaget ketika kakak penari sudah berada di hadapannya, tersenyum manis padanya. Musik pun sudah berhenti entah sejak kapan. “Saya tidak bisa menari Kak.” Ucap Rahma jujur –kalau menggambar dan membaca dongeng bisa batin Rahma.

“Nama kakak Kumalasari. Adik?”

“Rahma… Rahma Nur Ramadhani.” Jawab Rahma.

“Nama uyang cantik. Mari… nanti kakak ajari. Dulu kakak juga tidak bisa menari tetapi setelah giat belajar dan berlatih sedikit demi sedikit bisa.” Kak Kumalasari menggandeng Rahma menuju ke tengah-tengah. Seketika itu pula musik mulai dimainkan, dengan sabar Kak Kumalasari membimbing Rahma menari.

Rahma tertawa bahagia, senang bisa menari bersama kak Kumalasari walaupun dirinya belum begitu mahir. Rahma terus menari bersama kak Kumalasari hingga matahari tergelinjir ke barat.

“Rahma, hari sudah sore. Sebaiknya Rahma pulang dulu nanti ibu dan ayah Rahma cemas. Jangan lupa untuk tetap belajar dan berlatih agar Rahma semakin mahir menari. Apapun bisa mahir dan jago asal mau belajar dan berlatih tanpa mengeluh. Usaha itu penting Rahma. Kalau sudah mahir tidak boleh sombong dan culas. Rahma mengerti?” ucap kak Kumalasari sambil mengalungkan selendangnya yang berwarna kuning.

Rahma mengangguk dan tersenyum, “Bu Har juga sering bilang begitu ke Rahma, Kak.” Sahut Rahma.

“Sampaikan salam kakak ke Bu Har kalau begitu.”

“Iya Kak. Akan Rahma sampaikan. Rahma pulang dulu ya…” usai melambaikan tangan pada kak Kumalasari, Rahma mengambil tasnya dan berjalan menuju sepedanya. Sebelum menaiki sepedanya sekali lagi Rahma menoleh ke arah kak Kumalasari. Alis Rahma berkerut, sosok cantik kak Kumalasari tidak ada di sana pun dengan para pemain musik dan para binatang yang smeula ada disana. Rahma bingung dibuatnya.

“Rahma… Rahma…”

Rahma menoleh, matanya berkedip beberapa kali akibat angin kencang yang tiba-tiba saja menerpanya, lantas perlahan-lahan membuka matanya. Sosok Bu Har tersenyum ramah padanya. Alis rahma bertautan, heran –keheranan.

“Rahma tidak pulang?” tanya Bu Har.

Berkali-kali Rahma mengerjapkan matanya, pemandangan taman yang indah tergantikan oleh ruangan perpustakaan sekolahnya yang muram.

“Rahma ketiduran, untung sebelum ditutup Ibu cek dulu. Ini sudah hampir sore lho.” Ucap Bu Har ramah.

“Maaf Bu, saya keasyikan membaca sampai tidak sadar kalau sudah sore.”

“Kamu boleh pinjam buku itu untuk dibaca di rumah.” Ucap Bu Har, “Ibu mau menutup jendela dulu. Rahma boleh pilih-pilih buku lagi sebelum pulang.”

“Terima kasih, Bu.”

Rahma menyelipkan buku fabel yang ada ditangannya diantara deretan buku-buku lainnya. Rahma bingung, pertemuannya dengan kak Kumalasari si penari ternyata hanya mimpi belaka, mimpi yang terasa nyata. Setelah pamit pada bu Har, Rahma memutuskan untuk pulang. Tanpa disadarinya sebuah selendang sutra berwarna kuning mirip pemberian kak Kumalasari menggantung dilehernya menutupi seragam sekolahnya…

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

Tamat

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

Untuk Rahma Nur Ramadhani, putri cantik Anggira Unnie. Umma Tati, Yuuki pinjam nama belakangnya ne ❤

Hohoho….

Semoga sedikit menghibur ya. Ini pertama kali Yuuki buat cerita dongeng anak-anak lho. Semoga tidak memalukan dan jelek-jelek amat.

Tetap jaga kesehatan….

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

Monday, March 27, 2017

7:51:02 PM

NaraYuuki

Like a Sword

WARNING! Apabila ada kata yang seharusnya ditulis menggunakan huruf V tetapi diepep huruf V mernjadi F itu dikarenakan keyboard Laptop Yuuki bermasalah sehingga tombol huruf V tidak berfungsi.

Mohon maaf atas ketidak nyamanannya.

Harap pengengertiannya.

Selamat membaca 😀

Bukankah cinta itu seperti sebuah pedang? Membantu ketika kesulitan, melukai ketika lengah. Cinta memberikan kebahagiaan namun juga memberikan luka dan pahit disaat yang bersamaa. Seperti pedang…

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

                Pemilik mata indah itu hanya tertegun ketika melihat sosok pemuda tampan dengan setelan jas mahal berdiri di ambang pintu ruang kerjanya. Helaan napas berat beberapa kali ia lakukan seiring kaki jenjang si pemuda melangkahkan kaki menuju ke arahnya. Ia memundurkan kursi kerja berodanya ketika si pemuda berdiri angkuh di hadapannya –yang hanya dibatasi oleh meja yang di atasnya dipenuhi oleh bertumpuk-tumpuk buku dan dokumen dalam amplop cokelat tebal.

“Aku tahu kenapa semalam kau tidak datang pada acara makan malam keluarga.” Tatapan pemuda itu tampak begitu menusuk penuh kekesalan.

Perempuan cantik itu melepaskan kaca mata yang membingkai mata indahnya di atas meja. Menghela napas −sekali lagi− sebelum menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kerjanya yang empuk lagi nyaman. “Hnnn…”

“Ibu menangis karena kau tidak datang. Ia sudah memasak makanan kesukaanmu.”

“Duduklah dulu.” Suara lembut penuh penekanan −perintah− itu menggema, memenuhi ruang kerja bercat putih terang itu. Serupa suara dewi dari kahayangan penuh kutukan. “Mau minum apa? Kopi? Teh?” tanyanya sambil berdiri dari duduknya.

“Aku butuh waktumu bukan minuman brengsek yang kau tawarkan!”

Hak sepatu itu mengetuk-ngetuk lantai ketika siempunya berjalan perlahan menuju sebuah mini kichen set. Dengan telaten jemarinya mengambil dua buah cup, menyobek dua bungkus kopi instan dan menyeduhnya. Kemudian menambahkan beberapa bongkahan es batu  ke dalam salah satu cup lantas membawanya menuju sofa panjang berwarna putih, meletakkan kedua cup itu di atas meja kaca yang dihiasi oleh beberapa tangkai lili putih.

“… tetapi aku butuh minuman.” Ucapnya sebelum menumpukan kaki jenjang sebelah kanannya ke atas kaki kirinya, memamerkan lekuk pahanya yang indah.

Sialan kau Kim Jaejoong!” maki Yunho –tentu saja hanya didalam hati. Dengan bersungut-sungut Yunho berjalan menuju sofa, duduk di hadapan perempuan cantik yang dengan angkuh kenatapnya dengan sepasang mata indah. Sedikit kasar Yunho meraih salah satu cup. Tentu saja yang ia pilih cup berisi es.

“Mereka masih memaksakan pernikahan kita ya?” tanya Jaejoong sembari mengganti tumpuan kakinya. “Tidak bosan rupanya…” gumamnya sambil mengambil cangkir kopinya, menghirup aroma kopi sebelum menyeruputnya sedikit.

“Bahkan tanggalnya sudah ditentukan!” ucap Yunho kasar.

Tuk. Suara yang dihasilkan ketika Jaejoong meletakkan cangkirnya ke atas meja kaca.

“Benar-benar tidak punya otak! Bagaimana mungkin mereka…”

“Memaksamu menikahi janda kakakmu?”

Yunho tidak berkomentar. Benar! Kedua orang tuanya ditambah pamannya memaksanya menikahi janda kakaknya –Jaejoong− hanya demi kehormatan dan status keluarga. Alasan konyol menurut Yunho. Alasan sebenarnya adalah bahwa dirinya beserta kedua orang tuanya tidak akan pernah mewarisi harta kakeknya jikalau bukan Jaejoong yang menjadi menantu keluarga Jung. Alasan sialan nan brengsek yang menjerat leher Yunho ke lubang nestapa. Jaejoong sendiri hanyalah yatim piatu yang dibesarkan disalah satu panti asuhan yang sering mendapatkan donasi dari kakek Yunho. Karena wajah Jaejoong mengingatkan kakeknya pada mendiang istrinya –nenek Yunho− Jaejoong pun menjadi anak asuh sang kakek. Sialnya wasiat sang kakek sebelum meninggal menyatakan bahwa salah seorang cucunya harus menikahi Jaejoong agar harta warisannya bisa diberikan bila tidak maka semuanya akan disumbangkan ke organisasi sosial. Untuk itu orang tua Yunho menikahkan anak sulung mereka yang bernama Yoochun dengan Jaejoong namun sayang setahun yang lalu Yoochun meninggal karena kecelakaan ketika sedang berlibur dengan kekasihnya –sudah menjadi rahasia umum bahwa putra pertama keluarga Jung adalah seorang play boy kelas kakap. Pada saat pemakaman Jaejoong sama sekali tidak meneteskan air mata dan kembali bekerja keesokan harinya.

“Aku tidak berkata demikian.” Yunho menghalau kenangan buruk tentang keluarganya, tidak ingin emosinya semakin meningkat. Yunho sangat membenci kakaknya –termasuk ayah dan ibunya− keluarganya.

“Kenyataannya aku pernah menikah dengan kakakmu.”

“Dan pria brengsek itu meninggalkanmu pada malam pertama kalian.” Sindir Yunho. “Atau jangan-jangan kau sudah jatuh cinta padanya?”

“Dia memperlakukanku dengan baik.” Ucap Jaejoong tak acuh. “Ya setidaknya setiap bulan ia menyisihkan anggarannya untuk berpesta dan berkencan guna mengisi rekeningku.”

“Cih! Itu yang kau sebut pernikahan?”

“Secara hukum ya. Lain soal secara perasaan dan logika.”

Yunho mengendurkan dasinya kasar. Ia tahu pernikahan seperti apa yang Jaejoong dan kakaknya dulu lalui. Hampir setiap malam kakaknya pulang membawa perempuan ke rumah mereka –warisan dari sang kakek tentu saja− dan Jaejoong pun mengetahui hal itu. Jaejoong tidak pernah berkomentar karena Yunho tahu bahwa Jaejoong pun tidak pernah mencintai Yoochun. Sialnya –lagi− justru Yunho yang dibuat tergila-gila pada Jaejoong walaupun ia tahu bahwa Jaejoong adalah kakak iparnya. Bahkan tidak sekali dua kali Yunho membayangkan Jaejoong mengerang di bawah tubuhnya ketika mereka bercinta. Sial! Mengingat hal itu membuat Yunho gusar bukan main.

“Kalian bahkan tidak pernah tidur seranjang apalagi bercinta!” ucap Yunho kasar.

Jaejoong sedikit kaget mendengar Yunho bicara seperti itu. “Hm… kau benar. Lalu kau tidak keberatan bercinta dengan janda kakakmu?”

“Kau menantangku?” mata Yunho berkilat. Yunho membayangkan dirinya mencengkeram Jaejoong dalam kungkungannya, merobek blus dan rok yang ia kenakan sebelum meremas dan menciumi… astaga! Brengsek! Yunho mengumpat mendapati dirinya membayangkan hal itu terlalu jauh. Sangat tidak baik bagi kesehatan dan kelelakiannya.

Mata Jaejoong tiba-tiba berubah sendu. “Aku sebenarnya ingin datang tetapi bila aku datang pada akhirnya ayah dan ibu akan menaruh harapan terlalu tinggi padaku.” Ucapnya.

Yunho mengamati perubahan ekspresi wajah Jaejoong.

“Kau tentu saja tidak ingin menikah tanpa cinta Yun… aku sudah mengalaminya dan rasanya sama sekali tidak enak. Walaupun hanya 5 bulan saja menjadi istri Yoochun namun melihat suamiku –walaupun aku tidak menginginkannya− setiap hari membawa masuk perempuan ke dalam kamarnya membuatku terhina juga. Bukan berarti aku berharap bisa masuk ke kamarnya, aku hanya berpikir seandainya aku menikah dengan orang yang tepat tentu tidak akan melihat hal seperti itu.” Jaejoong menolehkan kepalanya, enggan melihat wajah kasihan Yunho padanya. “Aku ingin menikah setidaknya dengan orang yang mencintaiku. Dengan begitu aku akan merasa sedikit bahagia. Kau tahu? Membalas cinta yang orang lain berikan bisa memberi kebahagiaan tersendiri.”

Yunho berdiri. Tanpa bicara sepatah kata pun pemuda tampan itu berjalan menuju pintu.

“Kau sudah mau pulang? Ku pikir kita bisa bicara lebih lama lagi.”

Klek!

Jaejoong baru sadar bahwa Yunho tidak melangkah untuk pergi melainkan untuk mengunci pintu.

“Aku butuh prifasi.” Ucap Yunho sebelum kembali duduk ke tempatnya semula. “Aku bisa membunuh karyawanmu yang masuk tiba-tiba ketika urusanku belum selesai.”

“Ya. Terserahmu saja….”

“Dengar. Aku sudah menyetujui pernikahan itu.”

“Kau akan masuk ke dalam neraka! Apa kau sudah siap semua resikonya?”

“Siapa bilang? Akan ku buat neraka terkutuk itu menjadi surga penuh kenikmatan tiada habisnya.”

Jaejoong mencibir. “Tidak akan semudah itu.” Komentar Yunho. “Kau pria normal yang pasti menginginkan kesenangan.”

“Tugas siapa memberikan kesenangan itu? Tugasmu jika kau menjadi istriku.”

Jaejoong tersentak pada jawaban yang Yunho berikan. Apa Yunho sudah gila?!

“Apa kau mau memberikan kesenangan padaku sebelum pernikahan kita?” tanya Yunho yang semakin membuat Jaejoong syock. Dari ekspresi dan cara pemuda itu bicara menunjukkan bahwa Yunho bersungguh-sunggung pada ucapannya. “Toh pada akhirnya kita akan menikah juga. Aku yakin kau tidak akan tahan melihat air mata permohonan ayah dan ibu yang kadang membuatku muak.”

Jaejoong masih berusaha mengatasi keterkejutannya atas perkataaan Yunho.

“Tidak ada salahnya memulai lebih awal, kan?”

“Kau gila?!”

“Benar!”

“Jung Yunho!”

“Bila sejak awal aku yang dipilih menikah denganmu bukan Yoochun pasti kau tidak akan mengalami neraka pernikahan. Sialnya Yoochun lahir 5 menit lebih dulu dariku!” sesal Yunho. Benar. Yoochun dan Yunho adalah kembar namun bukan kembar identik.

“Kenapa kau bisa seyakin itu?”

“Apa kau buta?” Yunho tergelak. “Tidakkah kau bisa menyadari bagaimana caraku memandangmu? Ada kerinduan dimataku atau tidak setiap kali kita bertatap mata? Ya Tuhan Kim Jaejoong! Aku memujamu! Aku tergila-gila padamu! Aku selalu menghayalkanmu dalam setiap fantasy terliarku!”

Jaejoong bungkam. Tubuhnya gemetar karena syock. Jaejoong tidak bergerak ketika perlahan Yunho mendekatinya.

“Aku tidak bisa menahannya terlalu lama! Bagaimanapun juga minggu depan kita akan menikah. Setelah itu akan ku berikan surga padamu.” Ucap Yunho dengan suara lembut. “Sampai jumpa di altar.” Bisiknya. Diciumnya bibir Jaejoong dengan lembut sebelum meninggalkan perempuan cantik yang masih syock itu sendirian.

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

Situasi yang sama di tempat berbeda dan dengan orang berbeda. Dulu usai pesta pernikahan Jaejoong ditinggal sendirian di kamar pengantin karena Yoochun pergi dengan salah satu teman wanitanya. Kini hal serupa terjadi namun dengan alasan berbeda. Yunho meninggalkannya sendirian di kamar pengantin mereka karena pia yang beberapa jam lalu resmi menjadi suaminya itu harus mengurus bisnisnya. Memuakkan…

Sendirian Jaejoong melepas aksesoris dan gun pernikahannya, berendam dengan sabun wangi kesukaannya, menenggelamkan dirinya salam busa lembut yang tidak akan menyakiti dirinya –kecuali kulitnya yang menjadi perih ketika terlalu lama berendam. Jaejoong ingin menangis tetapi tidak bisa, ingin mengadu namun ia tidak punya siapa-siapa. Apa boleh buat? Orang tua kandungnya saja membuangnya di panti asuhan apalagi orang lain bernama suami? Jaejoong sudah belajar menelan pahitnya kehidupan sendirian tanpa seorang penopang apalagi sandaran.

Jaejoong menghela napas. Saat merasakan air dalam bath up perlahan mendingin ia putuskan untuk keluar, membilas tubuhnya di pancuran sebelum menyambar handuk dan melilitkannya ditubuhnya. Jaejoong berbalik, matanya terbelalak kaget melihat seringai licik yang dihadirkan bibir berbentuk hati itu dan kilat nafsu dari sepasang mata musang menyebalkan.

“Kau indah…”

Jaejoong bergeming ketika tangan kanan Yunho terjulur untuk menyentuh wajahnya yang basah, lehernya dan pada akhirnya simpul handuk yang melilit tubuhnya.

“Jangan samakan aku dengan si brengsek yang sudah menelantarkanmu, Sayang.” Ucap Yunho. “Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku terlebih sudah ku berikan janji setiaku padamu.” Sekali sentak simpul itu terlepas, kain basah dan tebal itu terongkok di sekitar kaki jenjang Jaejoong. “Betapa indahnya dirimu…”

Jaejoong merinding ketika Yunho mendekatinya, berusaha meredam geli ketika pria yang semula berstatus adik iparnya –sebelum menjadi suaminya− itu memeluknya. Jemari Yunho menelusuri tubuh Jaejoong dengan lembut menimbulkan sensasi-sensasi aneh pada tubuh Jaejoong.

Yunho menatap lekat-lekat mata indah Jaejoong yang penuh keraguan, “Jangan takut, Cintaku…” bisiknya sebelum menyapukan bibirnya ke atas permukaan bibir penuh Jaejoong, menghisapnya dalam-dalam, mengulumnya dengan rakus. Jemari tangan Yunho menekuri tubuh indah Jaejoong, jemarinya bisa merasakan puncak payu dara Jaejoong perlahan mengeras, bagaimana tubuh Jaejoong mengejang saat ia membelai paha dalam perempuan yang kini menjadi istrinya itu. Tak sabar akhirnya Yunho menciumi setiap jengkal wajah Jaejoong hingga napasnya memburu. “Aku sudah diambang batasku…” bisiknya dengan suara parau.

Tanpa menunggu komentar Jaejoong, Yunho segera menghimpit tubuh Jaejoong pada tembok. Serampangan Yunho melepaskan kain yang menempel pada tubuhnya hingga kulit tubuhnya bisa berdesakan dengan tubuh Jaejoong.

Jaejoong mengerang ketika inti kemanusiaan Yunho mengeras dan menggoda dirinya. Lunglai, Jaejoong melingkarkan kedua lengannya pada leher Yunho.

“Aku akan mulai, hentikan aku bila aku menyakitimu. Oke?” Yunho mengangkat kaki sebelah kiri Jaejoong, memaksa perempuan cantik itu membuka untuknya sebelum perlahan-lahan menyatukan inti keduanya. Suara erang kesakitan Jaejoong perlahan menjadi napas memburu seiring semakin dekatnya surga dunia bagi keduanya…

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

End

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

Muahahahaa…. #kabuuuuuuuuuuuuuuuuuurrrrrrrrrrrrrrrrr…

Apa ini? Ini iseng. Entah kenapa ketika Yuki ingat Mak Akira Mia & Bebek Malang aka Elis Kim yang mana keduanya super mesuk (Yuuki dulempari sandal jepit) jadilah epep gaje ini. 😀 Inspired manga yang judulnya First Love is Like a Sword lupa pengarangnya 😀

Mohon maaf bila buanyak miss Ty ya. Yuuki ketik ini bertepatan dengan penyakit belek yang mendera mata (memalukan 😥 ) jadinya penglihatan agak buram.

Yah semoga sedikit menghibur.

Tetap jaga kesehatan 🙂

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

Monday, March 27, 2017

9:48:09 PM

NaraYuuki

The Prince and His Heirs VII

Rambut hitam legamnya berkilauan saat tertempa sinar rembulan, mata indah serupa mutiara rusa betina yang jernih lagi menentramkan itu menatap hampa kolam teratai yang berada di hadapannya. Kolam yang memantulkan cahaya bulan purnama yang berwarna keemasan. Gaun panjangnya yang menjuntai menari-nari ketika sepoi angin menyapanya. Tiara yang melingkari keningnya dengan hiasan berlian merah membentuk rasi bintang utara –Cassiopeia itu membuatnya terlihat semakin anggun mempesona.

“Kabar apa yang kau bawa, Mesa?” suaranya yang lembut lagi merdu itu mengalun perlahan ketika orang kepercayaannya muncul dari balik bayangan pohon pinus yang muram.

“Sebuah kabar yang belum pasti. Ada kabar angin yang beredar bahwa Kerajaan vampire sudah mendapatkannya dan menobatkannya sebagai calon pewaris tahta menggantikan putra mahkota yang masih tertidur. Tetapi tidak ada sumber terpercaya tentang kabar itu.”

“Bila kabar itu benar harusnya penobatan dilakukan secara besar-besaran.”

“Benar. Dan hamba pun mendengar bahwa Yang Mulia Raja –kakak anda masih memerintahkan bawahannya untuk terus melakukan pencarian.”

“Apa kau tahu kabar terbaru soal Nisa’?”

“Para rutilans yang dibayar untuk menangkapnya mati terbunuh.”

“Bagaimana dengan Nisa’?” suaranya meninggi penuh kekhawatiran.

“Mayatnya tidak diketemukan. Kemungkinan besar Nisa’ masih selamat.”

“Ku harap begitu….”

“Apa yang anda risaukan?”

“Lihatlah! Bulan purnama bersinar sangat indah. Ini adalah bulan purnama pertama semenjak ia berusia 17 tahun. Segel yang ku pasang padanya ketika ia masih bayi pastilah sudah memudar. Ku harap ia bersama orang yang tepat agar bisa membimbingnya.” Gemerincing dari rantai yang mengikat pergelangan kaki kanannya menyadarkannya dari lamunanan, “Pergilah Mesa! Ada orang yang sedang menuju kemari.”

Tanpa diperintah lagi, sosok itu pun menghilang diantara bayangan gelap pohon pinus. Tidak lama setelah kepergian orang kepercayaannya, munculah sosok yang memakai jubah keemasan diikuti beberapa dayang dan prajurit. Orang itu memakai mahkota emas di atas kepalanya, berjalan pelan menghampiri sang perempuan cantik yang sudah kembali menatap permukaan kolam teratai dengan hampa.

“Adikku sayang… Waktumu meminum obat.”

“Obat yang nyaris merenggut kewarasanku jikalau Mesa tidak segera memberikan penawar untuk mengantisipasi efek obatmu itu?” pikir sosok cantik itu yang menoleh untuk menatap pria berwajah tampan itu dengam mata indahnya yang redup.

“Kau adalah hartaku yang paling berharga, aku tidak akan membiarkanmu rusak dengan pikiran-pikiran kacau yang dunia luar coba bisikkan padamu.” Dengan lembut diusapnya permukaan wajah cantik adiknya.

“Aku sudah minum obatku. Beberapa waktu yang lalu seorang pelayan sudah mengantarkan obat untukku.”

“Kalau begitu mari masuk ke dalam! Udara dingin tidak baik untukmu.”

❤ ❤ ❤

Dalam situasi genting seperti ini Hyunno teringat pada ibunya. Andaikan ibunya tidak menyuruhnya pergi ia pasti tidak akan menghadapi hal berbahaya seperti ini.

“Hyunno awas!” jerit Hyeri.

Seorang demon berbadan gempal hampir menerkam Hyunno, secepat yang ia bisa Hyunno berlari menghindar, meraih busur panah yang dibelikan oleh Micky ketika masih berada di desa Druwe, memasang anak panahnya dengan terburu-buru lantas melesakkannya.

Jleb! Anak panah itu menancap sempurna pada dada sebelah kiri sang demon membuat demon itu jatuh tersungkur, darah merembes membasahi pakaian kumalnya.

Tubuh Hyunno gemetaran. Ia belum pernah membunuh orang –atau mahluk hidup apapun kecuali nyamuk. Napasnya tersendat. Hyunno merasa berdosa telah melukai sang demon. Untuk sesaat remaja tampan itu tertegun hingga Hyeri meyadarkannya.

“Aku akan melindungimu! Kita harus membantu paman Micky dan paman Max!” ucap Hyeri yang menyandarkan punggungnya pada punggung Hyunno.

Hyunno lantas menatap 2 orang pria baik hati yang menyertai perjalanannya tengah dikeroyok oleh 8 orang demon. Menarik napas panjang untuk menenangkan debaran jantungnya, Hyunno lantas mengambil dua buah anak panah, memasangnya pada busur panah sebelum melesakannya.

Jleb! Jleb! Dua orang demon tertembus panah. Satu pada punggung kanannya satu pada betis kirinya. Keduanya menjerit-jerit kesakitan.

Hyunno melesatkan dua anak panah lagi, kali ini mengenai perut seorang demon dan lengan kiri yang lain. Sama seperti dua temannya yang tertembus panah, kedua demon itu pun menjerit-jerit kesakitan. 4 demon yang tersisa segera diserang oleh Micky dan Max, mereka mendapatkan luka sayatan cukup dalam pada bagian perut dan punggung mereka. Sedangkan seorang yang lain tubuhnya sudah tercabik-cabik oleh keganasan Urceolla dan Gobi.

“Kau hebat, Nak!” puji Max sambil mengacungkan jempol tangan kanannya pada Hyunno yang sebenarnya ketakutan setengah mati. Andaikan ada pilihan lain Hyunno pasti memilih untuk tidak melukai para demon itu.

“Katakan padaku siapa yang mengirim kalian?!” Tanya Micky pada salah satu demon yang belum kehilangan kesadarannya.

“Uhuk!” demon itu memuntahkan darah segar. “Tidak biasanya ada pelancong yang berani melewati hutan ini ketika kabut sedang pekat. Kami ingin merampok barang berharga kalian!” jawabnya.

“Ketahuilah, aku dan keponakanku bukan orang kaya. Kami adalah penjual minyak wangi dari desa Atacama. Kalau kau meminta minyak wangi akan ku beri sebotol tetapi kalau kau berniat merampok kami inilah balasan untukmu dan kelompokmu.” Ucap Micky. “Maaf untuk teman-temanmu yang mati ataupun yang terluka parah. Kami tidak bermaksud melukai kalian tetapi kalian tidak memberikan pilihan lain pada kami. Kami hanya membela diri kami.” Usai berkata seperti itu, Micky menyematkan sebuah botol kecil setinggi 8 centimeter dalam genggaman sang demon. Lantas berjalan menuju kereta dan menyuruh yang lain untuk segera naik dan melanjutkan perjalanan, meninggalkan komplotan demon perampok yang sudah tidak berdaya.

❤ ❤ ❤

Gerimis sudah mulai reda, hanya kadang dibeberapa titik rintiknya masih lebat. Hari sudah mulai gelap jika melihat sudah banyaknya binatang malam yang keluar mencari makan. Kabut tipis masih sedikit menghalangi pemandangan namun cahaya dari lentera disisi kereta mampu membantu penerangan dalam suasana gelap seperti ini.

Hyeri membagikan sisa teh hangat dalam termos yang ia buat tadi siang ketika beristirahat makan siang. Kedua hewan buas yang ikut perjalanan sudah mendengkur sejak tadi, Micky dan Max sedang mendiskusikan sesuatu sementara Hyunno sedang melamun sambil menatap ke luar jendela kereta.

“Khusus untukmu!” Hyeri menyodorkan botol bening berisi cairan merah beraroma seperti apel, cairan sama yang Max berikan pada Hyunno beberapa waktu lalu. Hyunno menerimanya tanpa banyak komentar, meminumnya sampai habis lantas kembali melamun.

“Nisa’ pasti sudah mengajarimu dengan baik, Hyunno.” Ucap Changmin. “Kau hebat!”

“Terima kasih Paman.” Sahut Hyunno.

“Kau bisa menggunakan pedang?” Tanya Max antusias.

“Sedikit… tapi ibu tidak pernah membiarkanku bermain pedang tanpa pengawasan.” Jawab Hyunno. Tangannya terjulur untuk mengambil gula-gula dari dalam toples yang Hyeri sodorkan padanya.

“Hyunno, apa Gobi masih memakai liontinmu?” kali ini Micky yang mengajukan pertanyaan.

“Masih Paman.” Jawab Hyunno.

“Pastikan orang lain tidak melihatnya.” Pesan Micky.

“Ya, Paman.”

“Liontin apa?” suara penasaran Max memecah keheningan hutan.

“Ku rasa liontin milik putra mahkota.” Sahut Micky.

“Benarkah? Boleh aku melihatnya?” Tanya Max semakin penasaran.

“Gobi memakainya untukku, Paman.” Jawab Hyunno.

“Thunder?” Max segera melongokkan kepalanya melalui jendela yang menghubungkan kereta dengan kursi kusir, tangannya meraba leher sang harimau yang tengah tertidur lantas memperhatikan liontin berbentuk tetes embun berwarna putih bersih yang didalamnya terdapat mutiara berwarna merah berbentuk rasi bintang Cassiopeia. “Ya, ini memang liontin milik putra mahkota. Tapi bagaimana dengan diademnya?”

Diadem?” Tanya Micky dan Hyunno bersamaan.

“Setahuku, liontin ini dipesan dari pengrajin perhiasan yang berasal dari Negara Orion. Saat membuatnya pengrajin itu juga membuat sebuah diadem yang juga berhiaskan rasi bintang Cassiopeia.” Jelas Max.

“Paman, apa yang kau maksud dengan diadem? Aku tidak tahu apa itu diadem.” Potong Hyeri dengan alis bertautan.

Diadem sama saja dengan tiara.” Jawab Max membuat Hyeri menganggukkan kepalanya paham. “Hyunno?”

Hyunno menggelengkan kepalanya pelan, “Ibu hanya memberiku liontin. Tidak ada diadem atau tiara seperti yang Paman maksud.”

Max menoleh menatap Micky. “Hm… mungkin diadem itu sudah hilang atau disembunyikan disuatu tempat.”

“Mungkin….” Sahut Micky. “Sedikit dingin di luar sini. Bisa kau ambilkan selimut untukku, Max?”

“Tentu saja… tentu saja.”

Langit semakin gelap, walaupun kabut sudah tidak setebal tempat-tempat yang mereka lewati sebelumnya. Rasa kantuk mulai menggoda Hyunno untuk menutup matanya perlahan, mengistirahatkan tubuh dan pikirannya yang tegang usai penyerangan para demon perampok tadi. Suara terakhir yang Hyunno dengar adalah suara para burung hantu yang bernyanyi riang menyambut malam yang semakin pekat dan dalam.

❤ ❤ ❤

❤ ❤ ❤

❤ ❤ ❤

Monday, February 01, 2016

9:58:00 AM

NaraYuuki

Arigatou…

 

Ini bukan epep. Tetapi lewat tulisan ini Yuuki ingin mengucapkan terima kasih banyak pada siapa saja (tentu saja reader chingu sekalian ❤ ) yang sudah membeli tulisan-tulisan Yuuki (yang dibukukan), baik tulisan Yuuki sendiri ataupun kerja sama dengan para Author YunJae lainnya. Hasil penjualan buku tersebut dan juga fersi PDF (jika tersedia) khusus yang Yuuki terima Yuuki belanjakan untuk membeli buku-buku (walaupun ada yang second) karena kebetulan Yuuki sedang merintis taman baca di rumah 🙂 Ini sangat membantu Yuuki karena kalau mengandalkan gaji Yuuki sendiri tidaklah akan cukup (Hehehehehe). Jadi Yuuki mengucapkan banyak terima kasih yang sudah membeli tulisan Yuuki. Walaupun banyak yang menghujat ini itu tetapi Yuuki menulikan telinga dan menguatkan hati karena hasilnya untuk anak-anak. Untuk itu Yuuki benar-benar merasa terbantu dan berterima kasih atas semua yang sudah Yuuki terima dari reader chingu sekalian ❤

Tulisan Yuuki memang mungkin tidak begitu bagus dan kurang sreg dihati reader chingu sekalian tetapi Yuuki berusaha memberikan yang terbaik yang Yuuki bisa. Apabila Yuuki punya kekurangan dalam menulis, saran dan masukan Yuuki terima. Tetapi mohon sampaikan dengan tutur yang santun ya 😉

Untuk yang tahu dimana yang menjual buku-buku (second boleh asal masih layak baca) dengan harga terjangkau silakan beritahu Yuuki. Yuuki juga menerima sumbangan buku bekas layak baca. Dan yang tahu bagaimana dan dimana cara serta tempat untuk mengajukan bantuan buku silakan komen ya 🙂

Yang mau tanya-tanya boleh kirim email ke narayuuki@yahoo.com atau langsung komen di bawah postingan ini 🙂

Tetap jaga kesehatan…

Tuesday, March 21, 2017

3:18:28 PM

NaraYuuki

Pembalasan Bidadari Hitam XXI

WARNING! Apabila ada kata yang seharusnya ditulis menggunakan huruf V tetapi diepep huruf V mernjadi F itu dikarenakan keyboard Laptop Yuuki bermasalah sehingga tombol huruf V tidak berfungsi.

Mohon maaf atas ketidak nyamanannya.

Harap pengengertiannya.

Selamat membaca 😀

Melihat putranya berjalan tergesa-gesa membuat Jaejoong menghampiri pemuda yang mewarisi wajah tampan ayahnya itu, dengan lembut menepuk bahu sang putra yang menampakkan wajah kusutnya. “Hyunno? Kenapa buru-buru?”

Air muka Hyunno berubah sendu ketika menatap wajah menawan sang ibu. “Umma….” Lirihnya dengan mata berkaca-kaca.

“Apa yang merisaukan hatimu?” tanya Jaejoong sambil memeluk bahu putra kesayangannya.

Hyunno membalas pelukan ibunya erat –sangat erat. “Umma… sejujurnya aku berusaha menahan diriku agar dendam antar keluarga bisa dipangkas, cukup aku saja yang menderita. Tetapi…” Hyunno menggigit bibir bawahnya ketika air mata itu meleleh begitu saja. “Aku… aku tidak ada bedanya dengan mereka. Para monster itu… aku…”

“Apa yang terjadi, Hyunno?”

“Hyeri… Hyeri…”

“Ada apa dengannya?”

Umma… Hyeri mencoba bunuh diri.” Kali ini Hyunno terisak.

Jaejoong kaget mendengar penuturan putranya, memeluk putranya semakin erat. Namun berusaha bersikap santai. “Kau mau menemuinya?”

Hyunno diam saja.

“Kedaanmu tidak memungkinkan untuk menyetir sendiri. Umma akan menemanimu.” Ucap Jaejoong sembari menarik lembut tangan putranya.

************************************************

Wajah Hyunno pucat pasi ketika berjalan menuju ruang perawatan Hyeri. Kata suster penjaga bagian informasi, ruang rawat Hyeri dijaga ketat oleh bukan hanya keamanan rumah sakit saja melainkan juga orang-orang ayahnya. Hyunno tidak memusingkan hal itu –sebenarnya tidak begitu peduli− yang ia cemaskan hanyalah keadaan Hyeri sekarang. Tuhan, Hyunno harap gadis itu tidak melukai dirinya sendiri hanya karena Hyunno.

Umma?” Hyunno menoleh pada ibunya ketika dua orang penjaga kamar rawat Hyeri berjalan ke arah mereka. Sebenarnya Hyunno bisa saja mengurus hal ini sendirian hanya saja pikirannya sedang kalut dan Hyunno yakin ia bisa saja berbuat nekad bila dilarang bertemu dengan Hyeri.

Jaejoong tersenyum, mengusap lengan kanan Hyunno lembut sebelum berjalan maju menyambut para penjaga. “Aku membawa lebih dari selusin orang bersenjata. Biarkan kami masuk atau kita selesaikan disini?!”

Para penjaga itu saling pandang sebelum menatap 4 orang seperti mereka yang berada di belakang Hyunno. Keempat orang itu membuka jas mereka sedikit untuk memperlihatkan –memamerkan pistol mereka.

Jaejoong kemudian menarik tangan Hyunno dan diajaknya putranya itu masuk begitu saja, mengabaikan getstur para penjaga yang hendak melarang mereka.

************************************************

“Ini yang kau inginkan bukan, Hyung?” tanya Jaejoong. “Putri kesayanganmu berjuang melawan maut di dalam sana karena siapa? Karena keegoisan kalian para orang tua.” Jaejoong menatap pintu muram di depan sana sementara dirinya duduk berdampingan dengan orang yang mungkin saja bisa mencekiknya dengan mudah. Jaejoong membiarkan Hyunno di dalam sana bersama Hyeri. Putranya perlu belajar satu hal bahwa terkadang untuk menyadari bahwa cinta itu telah tumbuh subur dihati adalah dengan melihat cinta itu kering karena diabaikan.

“Bagaimana keadaan Yunho?” tanya Yihan. Wajahnya tampak kuyu dan lelah.

“Bagaimana dengan Hyeri?” Jaejoong bertanya balik.

Yihan memejamkan matanya, “Sepuluh kantong darah telah mengalir kedalam tubuhnya tetapi ia belum mau membuka matanya untukku.”

“Seandainya kalian para orang tua membiarkan dendam itu luntur tersapu angin waktu tentu saja anak-anak tidak akan terluka.” Jaejoong berkomentar. “Mungkin… jika kau biarkan Hyeri memilih jalan hidupnya sendiri… putrimu itu bisa bahagia.”

“Hyunno tidak akan bisa membahagiakannya!”

“Aku tidak mengatakan bahwa Hyunno bisa membahagiakan putrimu, Hyung. Yang ku katakan adalah bila Hyeri memilih jalan hidupnya sendiri, dia bisa bahagia. Entah dengan siapa kebahagiaannya akan ia raih.”

Yihan menatap Jaejoong dalam-dalam. “Boleh ku pegang tanganmu?”

Jaejoong menoleh menatap Yihan dan tersenyum. “Tanganku ku gunakan untuk menggenggam tangan Jung Yunho yang juga sedang berjuang melawan mautnya. Tentu kau tidak ingin bersinggungan dengan jejak Jung Yunho bukan?”

Hati Yihan merana mendengar penolakan Jaejoong. “Yunho beruntung memilikimu. Sejak dulu ia mati-matian melindungimu.”

Jaejoong memaksakan sebuah senyuman getir. “Tentu saja…”

“Aku tidak menyukai Hyunno.” Ucap Yihan. “Maafkan aku Jae…”

“Karena dia mirip dengan ayahnya.” Tebak Jaejoong. “Tentu saja…”

“Tetapi aku pun tidak mampu membenci Hyunno.”

Alis Jaejoong berkerut.

“Karena ketika ia menatapku, ketika ia bicara padaku… dia mengigatkanku padamu. Bagaimana dulu aku pernah berharap memilikimu sebelum Yunho mendapatkanmu.”

Jaejoong tidak berkomentar.

“Bila putriku sudah siuman nanti, maukah kau menjaganya untukku?” pinta Yihan mendatangkan kerut tanya diwajah Jaejoong. “Aku tidak sanggup melihat wajahnya… kau tidak tahu sudah beberapa kali aku mencoba meyakinkannya bahwa Jung Hyunno tidaklah baik untuknya.”

“Kau tidak berhasil melakukannya Hyung. Itu yang ku lihat.”

“Ya…” Yihan berdiri dari duduknya, berjalan menjauhi Jaejoong. Bahunya terlihat melorot dalam setelan jas mahalnya. Pria itu seperti kehilangan separuh nyawanya.

“Pada akhirnya akan banyak hati yang tersakiti dan jiwa yang terluka karena dendam…” gumam Jaejoong.

************************************************

Hari menjelang malam ketika Yihan memasuki salah satu bilik ICU. Mata lelahnya menatap sosok Hyunno yang duduk dengan tegang sembari mengenggam erat jemari putrinya. Hatinya bagai terkena timah panas. Andaikan dirinya membiarkan putrinya mencari kebahagiaannya sendiri sudah pasti gadis itu masih baik-baik saja sekarang. Andaikan dendam tidak membara dihatinya pasti dirinya bisa merengkuh bahagianya sendiri. Benar-benar bodoh. Ya. Yihan merasa dirinya sangat bodoh karena sudah diperalat oleh dendam yang membuatnya kehilangan banyak hal.

“Dia selalu mengatakan bahwa kau adalah pemuda yang baik.”

“Dan Ahjushi mengatakan hal sebaliknya karena aku putra Jung Yunho.” Sahut Hyunno tanpa memandang Yihan.

“Ya. Benar.”

“Lalu kenapa sekrang Ahjushi terlihat lunak dan tidak siaga seperti itu? Aku masih ingat saat kita bertemu terakhir kali…”

“Mari lupakan sejenak soal itu, Nak.” Lirih Yihan ragu-ragu.

“Oh… sang serigala tua mulai kehilangan taringnya rupanya.”

Yihan memaksakan sebuah senyum getir. “Bagaimana keadaan ayahmu?”

“Baik.” Hyunno melirik sekilas Yihan.

“Dan…”

“Maafkan ketidaksopananku. Tetapi sejujurnya aku enggan bicara dengan Ahjushi sekarang ini. Jika bukan demi Hyeri aku tidak sudi satu ruangan dengan orang yang berniat mencelakakan orang tuaku.”

Mata Yihan membelalak. Ya. Harusnya ia tidak boleh lupa. Pemuda dihadapannya ini –yang sangat dicintai oleh putrinya− adalah seorang Jung. Keluarga konglomerat mengerikan yang bisa melakukan segalanya untuk mengorek informasi yang bahkan tidak sanggup diendus oleh polisi sekalipun.

“Ya… ya. Aku sempat melupakan garis keturunanmu. Kau benar-benar pangeran dari keluarga Jung.”

“Benar. Dan aku mewarisi dendam yang mengalir semenjak kakek buyutku!” sahut Hyunno terdengar kasar. Tidak selama itu memang. Hanya saja Hyunno memang sedang benar-benar tidak ingin bertukar kata dengan Yihan.

“Maafkan aku soal itu.”

“Maaf tidak akan mengembalikan nyawa orang-orang yang sudah mati karena dendam yang hampa Ahjushi.”

“Benar.”

“Jadi seandainya Ahjushi tidak mengganggu orang tuaku mungkin aku tidak akan mengusir Hyeri. Hyeri tidak akan depresi hingga mencoba bunuh diri.” Komentar Hyunno.

“Salahku?”

“Kau sutradara yang handal Ahjushi. Bahkan untuk hidup putrimu sendiri.”

“Hm…” gumam Yihan. “Tolong jaga Hyeri, aku ingin mencari udara segar sebentar. Changmin sudah menjemputmu di bawah bersama selusin orang bersenjata. Yah, untuk berjaga-jaga.” Ucapnya sebelum memegang handle pintu.

“Tebuslah kesalahanmu Ahjushi! Bila ingin dendam ini berakhir.” Ucap Hyunno. “Hyeri… sebisaku akan ku bahagiakan dia.”

“Ya….” Suara pintu tertutup itu menelan tubuh Yihan bersamanya. Menyisakan Hyunno dan suara kardiograf dalam kehampaan.

************************************************

“Merasa lebih baik?” Jaejoong membantu Yunho duduk sambil bersandar pada kepala ranjang. Membenahi selimut dan mengambilkan pil yang harus rutin Yunho minum untuk memulihkan kondisinya.

“Tahu begini aku akan menembak diriku sendiri agar kau bisa selalu berada disisiku.” Komentar Yunho sambil menyerngit sakit ketika menerima uluran gelas dari Jaejoong.

“Maka tembaklah kepalamu sendiri sampai pecah kalau begitu.”

Yunho sedikit kaget mendengar cara bicara Jaejoong. “Astaga! Jessica menularimu penyakit galaknya rupanya.”

Jaejoong tidak berkomentar.

“Kapan kita akan menikah?”

Yah!” wajah Jaejoong merona merah. Ingin rasanya memukul kepala Yunho jika tidak mengingat pria itu baru saja bangun dari ambang kematiannya.

Yunho tersenyum. Menggoda Jaejoong, ah betapa dirinya merindukan hal itu.

“Ingin jalan-jalan?” Jaejoong menunjuk kursi roda yang berada didekat pintu.

“Lain hari. Sekarang aku hanya ingin memandangmu saja. Itu membantuku pulih.”

“Semua pria Jung mamang pandai memperdaya perempuan.”

“Anakmu mewarisi darang Jung dengan baik. Tetapi kau namja. Namja yang ku puja.”

Jaejoong menggerutu seiring wajahnya yang semakin memerah.

“Dimana dia? Hyunno…”

Jaejoong menundukkan wajahnya sebelum menatap Yunho. Ada kegetiran tersimpan didalam mata indahnya. “Menemani Hyeri. Sejak mengetahui siapa yang membuatmu seperti ini hubungannya dengan Hyeri memburuk, Hyunno –mungkin− memutuskannya. Hyeri mencoba bunuh diri dan sekarang masih dirawat di ruang ICU, ia kehabisan banyak darah.”

Yunho tidak berkomentar apa-apa. Tetapi wajahnya menyimpan keprihatinan untuk hubungan percintaan putranya.

Jaejoong duduk di bibir ranjang dekat Yunho. Jemari lembutnya menggenggam erat tangan kebas Yunho. “Jin Yihan menyerahkan dirinya ke kejaksaan, mengakui segala kejahatan yang sudah ia dan mendiang ayahnya lakukan dulu. Saham perusahaannya anjlok, banyak karyawannya yang dirumahkan. Semuanya menjadi sedikit kacau…”

Yunho tidak bisa menutupi keterkejutannya.

“Maukah kau berjanji padaku?”

“Hm… soal?” tanya Yunho yang masih mencoba mencerna kata-kata Jaejoong.

“Putuskan rantai dendam keluarga Jung! Biarkan semuanya berakhir agar tidak ada lagi yang akan terluka…”

Yunho membalas genggaman tangan Jaejoong. “Tidak bisa ku janjikan hal itu padamu tetapi aku akan coba bicara dengan tua banga Jung yang keras kepala itu.”

“Terima kasih.” Jaejoong tersenyum pun Yunho.

************************************************

“Mati kau!”

Dor!

Dor!

Dor!

************************************************

 

************************************************

TBC

************************************************

************************************************

Friday, March 24, 2017

10:03:54 AM

NaraYuuki

The Prince and His Heirs V

Para gerombolan rutilans –manusia yang memiliki kaki dan moncong menyerupai serigala itu terlihat berjalan bergerombol menembus hujan lebat, kaki-kaki kuat mereka terus melangkah pasti menuju tempat tujuan mereka, sebuah benteng tua yang menjulang tinggi beberapa kilometer didepan sana. Mengabaikan sang tawanan yang sudah kepayahan berjalan mengikuti langkah kaki gerombolan rutilans yang panjang-panjang.

Bruk! Tubuh lemas itu jatuh tersungkur di atas kubangan lumpur becek. Bajunya sudah basah kutup, tubuhnya menggigil dengan kondisi tangan dan kaki terikat tali. Napasnya terengah, matanya setengah terpejam –nyaris pingsan. Para rutilans berhenti untuk mencemooh sang tawanan yang sudah lemas itu, mereka bisa saja meninggalkan orang itu sendirian di tengah hutan namun sebagai balasannya mereka akan kehilangan kepala mereka. Pimpinan rutilan yang berbadan jauh lebih tinggi dan besar dibandingkan rutilans-rutilans yang lain memecah kerumunan untuk melihat kondisi tawanannya.

“Dia bisa mati bila terus diguyur hujan, Bos.” Ucap salah satu rutilans yang berbadan paling kecil diantara kelompoknya. “Kita harus beristirahat sebentar sebelum melanjutkan perrjalanan menuju benteng utama. Setidaknya sampai hujan ini reda.” Sarannya.

“Kau benar, Beast!” ucap sang pimpinan rutilans dengan suara berat lagi seraknya. Lantas ia menunjuk salah satu anak buahnya yang berada didekatnya. “Kau, gendong dia! Lindungi tubuhnya dari air hujan! Pastikan dia bertahan sampai di benteng! Kita tidak bisa berhenti sekarang atau kita akan kehilangan kepala kita karena kemarahan tuanku!” ucapnya kembali memimpin rombongan.

Lebih cepat daripada sebelumnya, para rutilans itu berjalan –sedikit berlari menyusuri jalanan yang becek. Bagaikan dikejar oleh sekumpulan troll gunung berbedan besar, para rutilans itu terus berjalan menyusuri jalan setapak yang tidak begitu lebar meninggalkan jejak kaki menyerupai jejak serigala di sepanjang jalan. Sampai akhirnya salah seorang dari kelompok itu bersorak kegirangan ketika melihat sebuah bangunan gelap menjulang tinggi sekitar satu kilo meter, tepat ditengah pedalaman hutan berkabut. Disekitar tempat itu tidak terlihat sama sekali binatang hutan yang lazimnya ada. Tidak ada katak yang bernyanyi kegirangan pada saat hujan turun, bahkan cacing dan lintah pun tidak terlihat di atas permukaan lantai hujan yang bacak. Semuanya terlihat sunyi sepi –sunyi sepi yang tidak lazim.

Tidak butuh waktu lama bagi para gerombolan rutilans itu untuk sampai ke benteng yang sejak awal mereka tuju. Benteng itu menjulang tinggi, gelap dan terasa lembab sengan pintu gerbang usang namun kokoh. Tidak ada cahaya obor yang menerangi benteng itu, tidak ada satu pun penjaga yang terlihat berjaga dipos-pos yang ada. Walaupun ragu namun pimpinan rutilans itu dengan mantap berjalan memasuki benteng berbentuk kubus itu. Memerintahkan beberapa bawahannya untuk menyalakan pemanas ruangan ada didalam benteng serta menyalakan obor dan lentera untuk memberikan sedikit cahaya untuk mereka.

Sang tawanan yang sudah mengigil kedinginan itu dibaringkan di dekat perapian tanpa diberi alas ataupun selimut untuk melawan rasa dingin yang menggigit sampai kedalam tulang belulang. Para rutilans sibuk menuangkan tuak dan membagi-bagikan makanan dingin pada kelompoknya didekat perapian lain, duduk menggerombol sambil menghangatkan diri masing-masing. Benteng itu kosong, seperti aula besar berjendela tinggi tanpa penutup. Asap dari perapian yang berfungsi sebagai pemanas membumbung tinggi, mengepul-ngepul keluar melalui jendela-jendela yang berada disekeliling tembok benteng.

“Bos, aku kurang suka situasi ini. Kenapa benteng yang seharusnya dijaga ketat ini justru kosong melompong?” Tanya Beast.

Menggigit paha rusa dan mengunyah dengan rakus, sang pemimpin rutilans menegak tuaknya sampai habis sebelum menyahut. “Kita tunggu saja! Tuanku tidak mungkin mengingkari janjinya sendiri.”

Beast mengangguk-anggukkan kepala kecilnya berulang kali. “Tapi Bos…”

“Makan dagingmu sebelum dihabiskan yang lain!” perintah sang pemimpin rutilans. “Apa tawanan kita sudah diberi makan? Kalau sampai dia mati, kita pun akan mati!”

Beast segera memerintahkan salah seorang rutilans untuk memberikan makan pada sang tawanan yang sedang menggigil kedinginan di ujung sana.

❤ ❤ ❤

Aroma daging yang berada di dekatnya membuat matanya yang terasa berat terbuka perlahan-lahan. Sekujur tubuhnya masih dingin namun rasa hangat dari perapian mulai merambat membuatnya merasakan sedikit kehangatan diantara gempuran rasa dingin. Tangan dan kakinya masih diikat oleh simpul tali yang kuat. Menggunakan perutnya, ia bergerak perlahan menuju sepotong daging dingin didekatnya –makanan pertama setelah 3 hari ia nyaris kelaparan. Para rutilans brengsek yang menjadikannya sebagai tawanan hanya memberinya minum tanpa memberikannya makanan. Air mata menetes membasahi wajah kusamnya yang penuh jelaga dan lumpur kering, mengigit perlahan-lahan sepotong daging yang diletakkan di atas lantai begitu saja tanpa alas. Menangisi keadaannya yang mengenaskan seperti ini, menangisi ketidakmampuannya melawan walaupun ia bisa seandainya ia memiliki sebilah pedang untuk membela dirinya sendiri. Menangisi nasib anaknya yang tidak ia ketahui setelah para rutilans menyerang desanya.

Mengunyah sambil menahan isakan agar tidak menarik para rutilans yang sudah mulai mabuk akibat banyaknya tuak yang mereka tegak, ia terus makan. Makan untuk mengisi perut dan mengembalikan tenaganya yang sudah terkuras habis. Ia bersumpah akan membunuh para rutilans brengsek itu andaikan ia punya sebuah kesempatan.

Tersentak kaget ketika ia mendengar para rutilans menggeram marah sambil melolong bersahut-sahutan. Tubuhnya mengejang kaku dirambati oleh ketakutan asing yang tiba-tiba saja menyergapnya. Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi pada para rutilans itu tetapi pastilah ada sesuatu yang memancing kemarahan mereka. Ingin menggeser tubuhnya untuk melihat apa yang sedang terjadi namun ia tidak bisa melakukannya, tubuhnya masih terlalu lemah.

❤ ❤ ❤

Para rutilans itu sudah mulai mabuk ketika satu drum tuak mereka habiskan. Beberapa rutilans bahkan sudah tergeletak di lantai tanpa alas –tertidur dan mabuk. Beberapa ada yang merancu-rancu tidak jelas karena pengaruh alkohol dalam tuak yang mereka konsumsi. Terlalu asik mabuk-mabukan membuat gerombolan rutilans itu kehilangan kewaspadaannya. Mereka tidak menyadari sesosok dengan jubah dan tudung kepala berwarna hitam telah berdiri di depan mulut pintu benteng sedari tadi –menunggu dan mengawasi mereka.

Dengan langkah ringan sosok itu berjalan mendekati gerombolan rutilans, suara langkah kakinya teredam sehingga tidak satu pun rutilans yang menyadari kedatangannya. Perlahan-lahan sosok itu menarik pedang panjang lagi besarnya, menggenggam erat gagang pedang itu lantas dengan gerakan sangat cepat dan gesit ia berhasil menebas kepala sang pemimpin rutilans.

Gerombolan rutilans yang kaget pada apa yang telah terjadi pada pimpinan mereka lantas menggeram marah, melolong bersahut-sahutan hingga benteng berbentuk kubus itu mendengungkan suara mereka. Anggota rutilans segera mencabut senjata mereka, mengacungkan dengan penuh kemarahan pada sosok asing bertudung dan berjubah hitam selegam malam itu. Beberapa rutilans segera menyerang sosok misterius itu dengan cepat dan agresif namun sosok itu berhasil menghindar dengan gesit. Tanpa kesulitan sama sekali sosok itu memenggal kepala para rutilans yang berniat menyergapnya. Satu per satu gerombolan rutilans itu tergeletak bersimbah darah dan mati. Rutilans-rutilans yang tersisa terdesak hingga sudut tembok benteng.

Sosok misterius itu mengangkat tangan kirinya, menunjuk para rutilans yang masih hidup, menggumamkan sesuatu hingga muncul sebuah cahaya aneh berwarna kemerahan dari tangannya melesat menuju arah para rutilans, menyinari tubuh mereka dengan cahaya kemerahan lembut –mirip cahaya senja pada musim panas namun berhasil mendatangkan pekikan dan lolongan kesahitan dari para rutilans sebelum akhirnya mereka berubah menjadi ongkokan debu tidak berharga.

❤ ❤ ❤

Tubuhnya mengejang ketika merasakan ada sesosok yang berdiri di belakangnya, diam dan mengawasinya dengan tatapan tajam seolah-olah mampu menembus hati dan pikirannya. Susah payah ia menelan ludahnya. Sosok misterius yang tidak bisa ia lihat itu berhasil melenyapkan gerombolan rutilans berjumlah 50 orang yang sudah menawannya sejak 3 hari terakhir. Ia tidak tahu apakah sosok misterius itu adalah orang baik ataukah orang yang jauh lebih berbahaya dari pada para rutilans itu. Ia takut untuk menebak, takut tebakannya salah.

“Nisa’….”

Tubuhnya mengejang mendengar suara yang dalam namun penuh kebijaksanaan itu. Suara yang pernah didengarnya dulu, lama sekali hingga ia sendiri tidak ingat sudah berapa lama ia tidak mendengar suara itu. Pergelangan tangan dan kakinya terasa kebas ketika simpul tali kuat menyakitkan yang sudah 3 hari membelenggu dirinya itu terlepas dari kulinya. Jejak kemerahan dan goresan tali masih tertinggal pada permukaan kulit pergelangan tangan dan kakinya. Tubuh lemahnya ditelentangkan, kepalanya di angkat ke atas pangkuan sosok misterius itu, membuat air matanya mengalir bagaikan anak sungai.

“Tu… Tuanku….” Ucapnya terbata.

“Jangan menangis Nisa’! Kau adalah orang paling berjasa dalam hidupku. Aku berhutang budi padamu.”

“Tuanku…”

“Tidak apa-apa, Nisa’. Tidak apa-apa…. Bukan salahmu. Aku yakin dia akan baik-baik saja. Dia adalah putraku, dia akan baik-baik saja. Tenanglah….” Jemari lembut itu mengusap wajah Nisa’ yang kotor penuh jelaga dan lumpur kering. “Aku yakin dia berada ditangan yang aman sekarang. Kini biarkan aku memulihkan tenagamu dan mengobati lukamu agar kau bisa melanjutkan perjalanan bersamaku.”

❤ ❤ ❤

Kabut semakin pekat, Max menyalakan lentera yang menggantung didekatnya sebagai peneragan. Meskipun seorang vampire namun kemampuan matanya akan sedikit berkurang bila ada sebuah kabut tebal yang menghadangnya.

“Kabut ini tidak wajar….” Komentra Max.

“Ku kira ini perbuatan Demon. Mereka biasa membuat kabut menjadi tebal dan pekat untuk menyesatkan rombongan yang melewati daerah tempat tinggal mereka.” Micky memberikan pendapat.

“Daerah ini bukan daerah pemukiman para demon seingatku.” Ucap Max. “Apa kau kira yang mengikuti kita adalah gerombolan demon perampok?”

“Bisa saja….”

Tiba-tiba sepasang kuda yang menarik kereta mereka meringik gelisah, enggan melanjutkan perjalanan. Lalu muncul sekitar 10 sosok yang mengepung kereta kuda mereka, memaksa Hyeri dan Hyunno yang semula berada dalam kereta kuda keluar dengan enggan.

“Max, jangan sungkan untuk berpesta….” Ucap Micky yang dengan cepat melompat dan menarik pedangnya, menyerang sosok demon yang berada didekatnya.

Urceolla dan Gobi ikut keluar dari dalam kereta, menerkam demon yang hendak menyerang Hyunno dan Hyeri.

Dalam situasi genting seperti ini Hyunno teringat pada ibunya. Andaikan ibunya tidak menyuruhnya pergi ia pasti tidak akan menghadapi hal berbahaya seperti ini.

“Hyunno awas!” jerit Hyeri.

❤ ❤ ❤

❤ ❤ ❤

❤ ❤ ❤

❤ ❤ ❤

❤ ❤ ❤

Maaf ya, karena laptop Yuuki sedang masuk rumah sakit akibat harus operasi chip jadi bisanya post yang ini dulu karena kebetulan hanya epep ini yang ada di flash disk.

Tetap jaga kesehatan ❤

Sunday, January 31, 2016

3:05:06 PM

NaraYuuki