Amor Mecanism YunJae Vers

Memar-memar itu masih jelas menghiasi wajah tampannya ketika mendatangi tempat yang seharusnya tidak ia datangi. Rambutnya acak-acakan –kering dan kusut− beberapa robekan terlihat pada kaus dan celana jins yang ia kenakan. Debu dan matahari mengusamkan kulit wajahnya. Dengan gusar ia berdiri menanti si empunya tempat mempersilakan dirinya untuk duduk –sejujurnya kakinya sudah tidak tahan untuk berdiri− sambil mengamati beberapa foto yang terpajang pada dinding. Sialan! Sofa buntut itu seolah mengejeknya.

“Aku tidak punya waktu meladenimu! Kau selalu cari gara-gara! Kapan kau akan dewasa dan melakukan tugas sebagai seorang pria terhormat! Kau mau terus-terusan bergaul dengan pecundang-pecundang itu? Kau sudah kelas 3 SMA!” bentak pria berjas abu-abu gelap, wajahnya tidak menunjukkan sikap ramah. “Aku akan pergi ke luar kota selama seminggu untuk urusan kantor. Selama itu kau bisa tinggal di sini. Ingat! Jangan macam-macam apalagi membawa para berandal itu kemari!” lanjutnya sebelum menyambar tas kerjanya dan pergi begitu saja bersama semua kesunyian yang ia tinggalkan.

Merasa lutut dan betisnya menjerit protes, ia segera duduk di salah satu sofa buntut berwarna biru gelap itu dengan enggan. Rasanya tidak nyaman ketika duduk di atas sofa yang busanya sudah tipis ditambah bantalannya yang kendur nyaris putus, berasa duduk di atas sebongkah batu berpermukaan kasar lagi tajam.

“Dia sedang sensitif akhir-akhir ini. Sepertinya atasannya membuatnya sedikit susah. Jangan diambil hati apa yang ia katakan barusan.” Perempuan cantik itu hanya melilitkan handuk untuk menutupi tubuhnya yang basah. Tangannya terjulur untuk menyerahkan secangkir teh hangat. “Aku baru selesai mandi ketika kau membunyikan bel pintu seperti orang kesetanan.” Senyumannya sangat menawan. Dasar brengsek! Kenapa orang itu yang harus memiliki perempuan ini?!

“Entah kenapa aku tidak heran melihatmu berada disini dengan busana seperti itu. Kau pasti melayaninya dulu sebelum ia pergi.”

Perempuan itu mendudukkan dirinya di ujung meja kaca dengan sikap menantang. “Aku belum pernah tidur dengan Yoochun. Kita berdua tahu dia terlalu alim. Kau mau membuktikannya?”

“Caranya? Dengan tidur denganmu?”

“Ada cara yang lain? Ku rasa sepertinya kau ingin sekali melakukannya.”

“Jangan bercanda!” bentaknya.

“Yoochun sebenarnya terlalu alim untukku.”

“Dia membatalkan pertunangannya dengan anak konglomerat dan memilih tinggal di flat bobrok seperti ini karenamu! Alim katamu? Jangan bercanda! Kalian berdua sama! Sama-sama orang brengsek!”

“Benar! Aku memang brengsek karena menginginkan bercinta dengan adik kekasihku sendiri. Tetapi aku sungguh-sungguh waktu mengatakan bahwa Yoochun adalah orang alim. Ia selalu berhasil menahan dirinya ketika ku goda. Hebar bukan?”

“Sinting!”

“Apa yang membawamu kemari, Yun? Kalau orang tuamu tahu kau disini mereka akan menyalahkan Yoochun karena mereka mengira Yoochun melindungimu.”

“Mereka tidak akan peduli padaku.”

“Ada masalah?”

“Ku rasa kau sudah tahu. Bukankah sudah menjadi rahasia umum? Ayahku berselingkuh dengan… asisten ibuku. Meereka bertengkar, saling teriak dan memaki setiap hari. Aku tidak sudi berada di rumah yang mirip neraka itu.”

“Ibumu masih tidak bisa meninggalkan dunia keartisannya ya?”

“Dia Diva yang dipuja dan disanjung oleh penggemarnya. Andai penggemarnya tahu bahwa diva yang mereka puja tidak pernah memedulikan anak-anaknya dan menjadi korban perselingkuhan suami kaya rayanya.”

“Lalu kenapa wajahmu bisa memar-memar seperti itu? Kau berkelahi?”

“Aku tidak suka orang memandang rendah diriku hanya karena kebobrokan keluargaku. Ku hajar mereka. Tetapi jumlah mereka lebih banyak.”

Perempuan itu tersenyum lembut. “Kemarilah Yun! Akan ku obati memarmu.” Ditariknya Yunho menuju salah satu kamar dan didudukannya pada bibir ranjang sementara ia sendiri sibuk menyiapkan kotak P3K dan sebaskom air hangat serta sebuah handuk kering.

Mula-mula ia bersihkan wajah Yunho dari debu dan minyak yang membuat wajah tampan itu tampak sangat kusam dan kotor. Pun dengan bagian tubuh lain seperti lengan dan punggung. Kemudian diambilnya salep untuk diolehkan pada luka dan memar yang menghiasi wajah serta anggota tubuh Yunho yang lain. Dengan telaten dan penuh kesabaran.

“Kau tidur di kamar ini bersama Yoochun?”

“Sudah ku katakan padamu bahwa Yoochun adalah orang alim. Bagaiman bisa kami tidur sekamar? Ia tidur di kamar tamu.”

“Katakan padaku kenapa kau bisa jatuh cinta pada Yoochun? Dia orang yang terlalu kaku dan serius.”

Perempuan itu tertawa riang, dibereskannya barang-barang yang ia gunakan untuk merawat Yunho. “Aku tidak pernah jatuh cinta padanya. Aku hanya balas budi padanya.”

Yunho menatap wajah cantik perempuan yang sedang membuka lemari bajunya dan memilih-milih baju mana yang akan dikenakannya itu dengan alis berkerut. “Balas budi?”

“Pelacur itu –ibuku− pulang membawa pacar barunya ke rumah. Ketika dia mandi orang brengsek itu berniat melecehkanku, aku lari sekuat tenaga tetapi ia berhasil mengejarku. Kebetulan Yoochun lewat dan menolongku. Ia menawarkan tempat tinggal yang nyaman untukku. Kenapa tidak? Lagi pula pelacur itu lebih memilih pacarnya daripada aku.”

“Kau sama kacaunya sepertiku.”

“Karena itu kita harus lebih rukun.”

Yunho tersenyum –meringis akibat perih di sudut bibirnya yang memar.

“Dan soal Yoochun yang membatalkan pertunangannya itu bukan salahku. Perempuan yang hendak dijodohkan dengan Yoochun adalah salah satu dari simpanan ayah kalian. Yoochun tidak sengaja memergoki mereka memesan kamar disalah satu hotel ternama ketika ia memenuhi undangan teman sekolahnya yang kebetulan mengadakan resepsi pernikahan ditempat yang sama.”

“Apa? Bajingan benar bandot tua brengsek itu!” maki Yunho. “Kenapa kau tidak mengatakannya sejak awal padaku?”

“Caranya? Bahkan ketika di sekolah pun kau menghindariku.”

“Ku pikir… ku kira kau ini kekasih kakakku! Sialan kau!”

“Kau menyesal tidak bisa menciumku sejak lama?”

“Berhenti menggodaku!”

Perempuan cantik itu berjalan mendekati Yunho, duduk di hadapan pemuda tampan itu tanpa keraguan sedikitpun. “… kalau aku, setiap kali kita bertemu baik di sekolah ataupun ditempat lain selalu membayangkan berada dalam pelukanmu. Aku membayangkan rasa bibirmu yang menyapu bibirku. Aku membayangkan tubuh kita bersatu dalam keintiman yang hangat…”

“Kau terlalu berani.”

“Aku dibesarkan dilingkungan seperti itu. Mau bagaimana lagi?”

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

Yunho seperti orang kecanduan. Tubuh perempuan itu sangat lembut –hangat. Dekapannya mengingatkan Yunho ketika dirinya masih kecil dan dipeluk oleh sang ibu, rasanya hampir sama walaupun berbeda. Perempuan itu malu-malu namun sifatnya yang angkuh dan keraas kepala membuatnya menantang batasannya sendiri. Rintik hujan diluar yang menebarkan hawa dingin terkalahkan oleh dekapan mesra sosok menawan yang berada di bawah kungkungannya. Jikalau kebahagiaan benar-benar ada di dunia ini maka Yunho untuk sesaat merasakannya.

“Aku berencana pergi untuk membuang diriku yang lama usai lulus SMA nanti. Apa kau mau ikut bersamaku?” ucap Yunho usai membuat lembab dan lepek alas tidurnya.

“Bagaimana dengan Yoochun?”

“Dia tidak akan menentang karena dia sudah leebih dulu pergi.”

“Hm… entahlah…”

“Pikirkan! Masih ada beberapa bulan lagi.” Ucap Yunho. “Ada satu hal yang ingin ku tahu sejak dulu…”

“Soal?”

“Ayahmu. Pernah kau bertemu dengannya?”

“Sekali. Dia seorang polisi di Jepang. Entah bagaimana ibuku bisa keenal dengannya, hal itu jadi misteri untukku.”

“Oh, karena itu namamu Jaejoong dan kau memiliki mata yang dalam seperti orang-orang Jepang?”

“Mungkin…”

“Maukah kau selalu bersamaku mulai sekarang?”

“Kau sedang melamarku ya?”

“Mungkin.”

“Masa depan kita masih jauh membentang. Jika menurutmu sekarang kehadiranku cukup penting untukmu maka aku akan selalu berada disisimu.”

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

Saturday, October 14, 2017

10:57:43 AM

NaraYuuki

 

Iklan

Amor Mecanism

Epep ini khusus Yuuki buat untuk Oppa.

Memar-memar itu masih jelas menghiasi wajah tampannya ketika mendatangi tempat yang seharusnya tidak ia datangi. Rambutnya acak-acakan –kering dan kusut− beberapa robekan terlihat pada kaus dan celana jins yang ia kenakan. Debu dan matahari mengusamkan kulit wajahnya. Dengan gusar ia berdiri menanti si empunya tempat mempersilakan dirinya untuk duduk –sejujurnya kakinya sudah tidak tahan untuk berdiri− sambil mengamati beberapa foto yang terpajang pada dinding. Sialan! Sofa buntut itu seolah mengejeknya.

“Aku tidak punya waktu meladenimu! Kau selalu cari gara-gara! Kapan kau akan dewasa dan melakukan tugas sebagai seorang pria terhormat! Kau mau terus-terusan bergaul dengan pecundang-pecundang itu? Kau sudah kelas 3 SMA!” bentak pria berjas abu-abu gelap, wajahnya tidak menunjukkan sikap ramah. “Aku akan pergi ke luar kota selama seminggu untuk urusan kantor. Selama itu kau bisa tinggal di sini. Ingat! Jangan macam-macam apalagi membawa para berandal itu kemari!” lanjutnya sebelum menyambar tas kerjanya dan pergi begitu saja bersama semua kesunyian yang ia tinggalkan.

Merasa lutut dan betisnya menjerit protes, ia segera duduk di salah satu sofa buntut berwarna biru gelap itu dengan enggan. Rasanya tidak nyaman ketika duduk di atas sofa yang busanya sudah tipis ditambah bantalannya yang kendur nyaris putus, berasa duduk di atas sebongkah batu berpermukaan kasar lagi tajam.

“Dia sedang sensitif akhir-akhir ini. Sepertinya atasannya membuatnya sedikit susah. Jangan diambil hati apa yang ia katakan barusan.” Perempuan cantik itu hanya melilitkan handuk untuk menutupi tubuhnya yang basah. Tangannya terjulur untuk menyerahkan secangkir teh hangat. “Aku baru selesai mandi ketika kau membunyikan bel pintu seperti orang kesetanan.” Senyumannya sangat menawan. Dasar brengsek! Kenapa orang itu yang harus memiliki perempuan ini?!

“Entah kenapa aku tidak heran melihatmu berada disini dengan busana seperti itu. Kau pasti melayaninya dulu sebelum ia pergi.”

Perempuan itu mendudukkan dirinya di ujung meja kaca dengan sikap menantang. “Aku belum pernah tidur dengan Niel. Kita berdua tahu dia terlalu alim. Kau mau membuktikannya?”

“Caranya? Dengan tidur denganmu?”

“Ada cara yang lain? Ku rasa sepertinya kau ingin sekali melakukannya.”

“Jangan bercanda!” bentaknya.

“Daniel –Niel− sebenarnya terlalu alim untukku.”

“Dia membatalkan pertunangannya dengan anak konglomerat dan memilih tinggal di flat bobrok seperti ini karenamu! Alim katamu? Jangan bercanda! Kalian berdua sama! Sama-sama orang brengsek!”

“Benar! Aku memang brengsek karena menginginkan bercinta dengan adik kekasihku sendiri. Tetapi aku sungguh-sungguh waktu mengatakan bahwa Niel adalah orang alim. Ia selalu berhasil menahan dirinya ketika ku goda. Hebar bukan?”

“Sinting!”

“Apa yang membawamu kemari, Joe? Kalau orang tuamu tahu kau disini mereka akan menyalahkan Niel karena mereka mengira Niel melindungimu.”

“Mereka tidak akan peduli padaku.”

“Ada masalah?”

“Ku rasa kau sudah tahu. Bukankah sudah menjadi rahasia umum? Ayahku berselingkuh dengan… asisten ibuku. Meereka bertengkar, saling teriak dan memaki setiap hari. Aku tidak sudi berada di rumah yang mirip neraka itu.”

“Ibumu masih tidak bisa meninggalkan dunia keartisannya ya?”

“Dia Diva yang dipuja dan disanjung oleh penggemarnya. Andai penggemarnya tahu bahwa diva yang mereka puja tidak pernah memedulikan anak-anaknya dan menjadi korban perselingkuhan suami kaya rayanya.”

“Lalu kenapa wajahmu bisa memar-memar seperti itu? Kau berkelahi?”

“Aku tidak suka orang memandang rendah diriku hanya karena kebobrokan keluargaku. Ku hajar mereka. Tetapi jumlah mereka lebih banyak.”

Perempuan itu tersenyum lembut. “Kemarilah Joe! Akan ku obati memarmu.” Ditariknya Joe menuju salah satu kamar dan didudukannya pada bibir ranjang sementara ia sendiri sibuk menyiapkan kotak P3K dan sebaskom air hangat serta sebuah handuk kering.

Mula-mula ia bersihkan wajah Joe dari debu dan minyak yang membuat wajah tampan itu tampak sangat kusam dan kotor. Pun dengan bagian tubuh lain seperti lengan dan punggung. Kemudian diambilnya salep untuk diolehkan pada luka dan memar yang menghiasi wajah serta anggota tubuh Joe yang lain. Dengan telaten dan penuh kesabaran.

“Kau tidur di kamar ini bersama Niel?”

“Sudah ku katakan padamu bahwa Daniel adalah orang alim. Bagaiman bisa kami tidur sekamar? Ia tidur di kamar tamu.”

“Katakan padaku kenapa kau bisa jatuh cinta pada Niel? Dia orang yang terlalu kaku dan serius.”

Perempuan itu tertawa riang, dibereskannya barang-barang yang ia gunakan untuk merawat Joe. “Aku tidak pernah jatuh cinta padanya. Aku hanya balas budi padanya.”

Joe menatap wajah cantik perempuan yang sedang membuka lemari bajunya dan memilih-milih baju mana yang akan dikenakannya itu dengan alis berkerut. “Balas budi?”

“Pelacur itu –ibuku− pulang membawa pacar barunya ke rumah. Ketika dia mandi orang brengsek itu berniat melecehkanku, aku lari sekuat tenaga tetapi ia berhasil mengejarku. Kebetulan Niel lewat dan menolongku. Ia menawarkan tempat tinggal yang nyaman untukku. Kenapa tidak? Lagi pula pelacur itu lebih memilih pacarnya daripada aku.”

“Kau sama kacaunya sepertiku.”

“Karena itu kita harus lebih rukun.”

Joe tersenyum –meringis akibat perih di sudut bibirnya yang memar.

“Dan soal Niel yang membatalkan pertunangannya itu bukan salahku. Perempuan yang hendak dijodohkan dengan Niel adalah salah satu dari simpanan ayah kalian. Niel tidak sengaja memergoki mereka memesan kamar disalah satu hotel ternama ketika ia memenuhi undangan teman sekolahnya yang kebetulan mengadakan resepsi pernikahan ditempat yang sama.”

“Apa? Bajingan benar bandot tua brengsek itu!” maki Joe. “Kenapa kau tidak mengatakannya sejak awal padaku?”

“Caranya? Bahkan ketika di sekolah pun kau menghindariku.”

“Ku pikir… ku kira kau ini kekasih kakakku! Sialan kau!”

“Kau menyesal tidak bisa menciumku sejak lama?”

“Berhenti menggodaku!”

Perempuan cantik itu berjalan mendekati Joe, duduk di hadapan pemuda tampan itu tanpa keraguan sedikitpun. “… kalau aku, setiap kali kita bertemu baik di sekolah ataupun ditempat lain selalu membayangkan berada dalam pelukanmu. Aku membayangkan rasa bibirmu yang menyapu bibirku. Aku membayangkan tubuh kita bersatu dalam keintiman yang hangat…”

“Kau terlalu berani.”

“Aku dibesarkan dilingkungan seperti itu. Mau bagaimana lagi?”

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

Joe seperti orang kecanduan. Tubuh perempuan itu sangat lembut –hangat. Dekapannya mengingatkan Joe ketika dirinya masih kecil dan dipeluk oleh sang ibu, rasanya hampir sama walaupun berbeda. Perempuan itu malu-malu namun sifatnya yang angkuh dan keraas kepala membuatnya menantang batasannya sendiri. Rintik hujan diluar yang menebarkan hawa dingin terkalahkan oleh dekapan mesra sosok menawan yang berada di bawah kungkungannya. Jikalau kebahagiaan benar-benar ada di dunia ini maka Joe untuk sesaat merasakannya.

“Aku berencana pergi untuk membuang diriku yang lama usai lulus SMA nanti. Apa kau mau ikut bersamaku?” ucap Joe usai membuat lembab dan lepek alas tidurnya.

“Bagaimana dengan Niel?”

“Dia tidak akan menentang karena dia sudah leebih dulu pergi.”

“Hm… entahlah…”

“Pikirkan! Masih ada beberapa bulan lagi.” Ucap Joe. “Ada satu hal yang ingin ku tahu sejak dulu…”

“Soal?”

“Ayahmu. Pernah kau bertemu dengannya?”

“Sekali. Dia seorang polisi di Canada. Entah bagaimana ibuku bisa keenal dengannya, hal itu jadi misteri untukku.”

“Oh, karena itu namamu Julliane?”

“Mungkin…”

“Maukah kau selalu bersamaku mulai sekarang?”

“Kau sedang melamarku ya?”

“Mungkin.”

“Masa depan kita masih jauh membentang. Jika menurutmu sekarang kehadiranku cukup penting untukmu maka aku akan selalu berada disisimu.”

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

Saturday, October 14, 2017

10:57:43 AM

NaraYuuki

Other Side

 

Ada seorang yang sangat ingin aku singkirkan selamanya. Akashi Seijuro. Aku sangat tidak peduli walaupun dia adalah seorang King. Aku pun tidak peduli kalau rambut sewarna rubi miliknya sangat disukai oleh banyak orang. Aku tidak peduli. Bahkan walaupun dia adalah pewaris sekali pun aku tetap tidak peduli. Bagiku siapa saja yang sudah berdiri di depan jalanku berarti orang itu adalah musuhku.

###

“Kise-kun, apa yang sedang kau lamunkan?” pemilik rambut sewarna langit itu menatap partnernya untuk misi kali ini dengan tatapan bingung. Pertama kali dipasangkan dengan seorang copy cat bernama Kise Ryota memberikan sedikit tantangan untuknya. Tentu saja berbeda rasanya jika dirinya dipasangkan dengan tipe orang seperti Kagumi Taiga atau Aomine Daiki yang memiliki karakter berapi-api, sementara pemilik rambut keemasan yang tengah menatapnya itu lebih banyak diam.

“Kurokochi….” panggilnya.

“Ya?”

“Bagaimana bila dalam misi ini salah satu dari kita mati?!” mata keemasan itu menatap tajam Kuroko Tetsuya yang memasang wajah datarnya.

“Tidak apa-apa. Itu adalah risiko pekerjaan kita sebagai seorang prajurit.” jawab Kuroko tenang, terlalu tenang.

“Begitukah?” gumam Kuroko, “Jadi tidak apa-apa seandainya kau tidak kembali kesisi King Akashi?”

“Aku tidak pernah berpikir bagaimana rasanya berpisah dari Seijuro kun.” jawab Kuroko,  “Karena selama ini dialah yang berjasa dalam hidupku. Tapi bila aku tidak kembali usai misi ini selesai maka aku anggap itu adalah cara tangan nasib mengatakan bahwa takdirku dan Seijuro kun harus berakhir.”

Kise tersenyum samar.

###

Hingga pada akhirnya aku menemukan orang yang mengajariku keikhlasan dan pentingnya sebuah kesetiaan, orang yang ku jadikan alasan untuk bertahan ditengah gempuran keputusasaanku, orang yang ku cintai.

Kuroko Tetsuya.

Namun bahkan pada akhirnya orang yang paling penting itu pun menghianatiku, meninggalkanku bersama nestapa dan kepedihan tidak berujung. Aku gagal melindunginya dalam perang terakhir yang kami hadapi bersama. Kemenangan memang berada di pihak kami hanya pembayaran yang harus ku berikan terlalu mahal. Kehilangan setengah pasukan bukanlah penyebab penyesalan terdalamku. Kehilangan ia yang sangat berharga, ia yang menjadi kesayangan King adalah harga mati untukku. Andai aku bisa memilih, kan ku biarkan kekalahan itu menghampiriku daripada harus kehilangan ia yang ku kasihi….

###

Mata seindah rubi itu tampak Nanar ketika sosok Kise yang tengah membopong seongkok tubuh tidak bernyawa yang sangat dikenalnya, belahan jiwanya memasuki aula besar lagi muram yang sering mereka jadikan tempat pertemuan.

“Kuroko!” jerit Kagami Taiga. Pemilik mata setajam harimau yang tengah mengincar mangsanya itu mengalirkan air mata.

“Tetsuya!” Aomine Daiki pun ikut menjerit putus asa.

“Maafkan aku yang tidak bisa menjaganya dengan baik.” sesal Kise. Wajah indahnya terpahat muram, sembab oleh jejak air mata sialan yang sampai sekarang enggan kering.

Dengan tangan gemetar sang King menerima tubuh kaku sosok yang sangat berharga baginya itu, memeluk dan mendekapnya erat. Lututnya yang lemas membuatnya terduduk di atas lantai dingin, air mata yang sejak awal menggenang akhirnya luruh seiring semakin dalam kesedihan yang menghantam perasaannya.

“Tetsuya….” isaknya pelan, terlalu lirih hingga sang angin pun tidak mampu mendengar suaranya. Tiga bulan yang lalu ia melepas dengan berat hati, kini orang yang dinanti kepulangannya justru kembali tanpa jiwa yang menyertainya. Bila perasaan bisa hancur maka sekarang ia sedang mengalami hal pahit itu. Sang King yang biasanya terlihat kokoh tidak terkalahkan itu kini tumbang oleh kesedihannya sendiri. Kesedihan yang membelenggu batinnya mulai detik ini hingga entah kapan.

Melihat pemimpinnya terpuruk dalam nelangsa seperti itu membuat Kise dirundung penyesalan dan rasa bersalah yang teramat besar. Andai dirinya tidak mementingkan kemenangan, andai dirinya tidak membiarkan partnernya bertarung, andai bukan Kuroko Tetsuya yang menjadi rekannya, andai perang brengsek itu tidak pernah terjadi, mungkin… mungkin sampai saat ini pemilik mata seindah samudera itu masih hidup.

“Kise!” jerit Kagami dan Aomine bersamaan dengan jatuh pingsannya Kise yang disekujur tubuhnya dipenuhi luka.

###

“Apa yang membuatmu murung?” pemilik mata gold itu bertanya.

“Rasanya waktumu untukku semakin berkurang.” keluh sosok pucat yang tengah terduduk di atas ayunan yang terbuat dari kayu jati Kalimantan dengan wajah datarnya.

“Oh, kau cemburu, hum?!”

“Tidak. Hanya bosan terkurung di tempat ini sendirian.”

“Maafkan aku, tapi bersabarlah sebentar. Upacara lima tahun kematian tunangan King akan segera diselenggarakan. Aku harus memastikan keamanan seluruh kota saat upacara itu dilaksanakan.”

“Merepotkan!”

“Tidak, itu sudah menjadi tugasku. Ku mohon mengertilah. Hm….”

“Bukankah orang yang sudah mati tidak bisa hidup lagi? Kenapa harus mengadakan perayaan memuakkan seperti itu? Bukankah itu hanya buang-buang waktu saja?”

Kise hanya tersenyum dalam sunyinya. Benar adanya jika perayaan semacam itu hanya menghabiskan uang tetapi Kise tidak bisa melakukan apa-apa untuk menghentikan kegiatan rutin setiap tahun sejak lima tahun yang lalu itu. Kise merasa bersalah tiap kali teringat kejadian memilukan yang jikalau bisa ingin dilupakannya.

“Aomine Daiki…? Lihat! Handphonemu berdering sejak tadi.”

Kise tersenyum kecut, “Panggilan tugas. Aku akan segera kembali.”

“Seperti biasa.”

Kise tidak menyahut, wajahnya mengeras usai mengecup kening kekasihnya. Hal yang paling Kise benci sekarang adalah meninggalkan kekasihnya demi panggilan tugas meskipun sudah banyak penjaga yang mengawasinya.

###

“Bayi besar dan si maniak ramalan bintang itu mendapat tugas rahasia dari King, mengesalkan! Harusnya aku saja yang pergi!” keluh Aomine.

“Kau terlalu bodoh Mahomine!”

“Diam kau Bakami!”

“Tugas rahasia?” tanya Kise yang sejak tadi memilih diam.

“Mencari buku atau jenis senjata pemusnah baru. Aku pun tidak terlalu tahu apa tugas mereka.” jawab Aomine. “Sepertinya kematian tragis Tetsuya membuat kewarasan Akashi berkurang.”

Kise terdiam, nama itu serupa kutukan tiap kali ia mendengarnya. “Lalu dimana Akashi?”

“Dia pergi ke makam Kuroko.” jawab Kagami.

###

“Ku pikir ini adalah taman karena letaknya berada di pusat kota, ternyata sebuah kuburan. Sangat indah tentu saja.”

Buket bunga mawar putih yang berada di tangan Akashi Seijuro jatuh begitu saja. Mata rubinya membelalak. Bukan karena betapa pucatnya kulit manusia di hadapannya melainkan betapa ia mengenal dengan baik wajah yang menampakkan ekspresi monoton itu. Terlalu mengenalnya hingga Akashi tidak ingin mempercayai penglihatannya sendiri.

“Apa ini kuburan kekasihmu?”

Tubuh Akashi gemetar, bukan karena takut melainkan terlalu syok. Bukankah kembar sekali pun mempunyai perbedaan? Atau para ilmuwan sudah berhasil menciptakan cloning dengan sempurna?

“Siapa namamu?”

“Aku? Hikaru Kise.”

“Kise? Kau kerabat Kise? Kise Ryota?” tanya Akashi.

Sebuah gelengan didapat Akashi. “Aku tunangannya.”

Mata Akashi memicing, “Tunangan? Kise tidak pernah bercerita kalau dia sudah punya Tunangan.”

“Kau kenal Ryota?”

“Tentu saja. Aku temannya.” jawab Akashi. “Namaku Kagami Taiga.”

“Senang bertemu denganmu Kagami-kun. Ryota tidak pernah mengesalkanku pada teman-temannya. Mungkin bila hari ini aku tidak kabur kita tidak akan bertemu.”

“Kabur?”

“Ryota tidak pernah menjijikkanku keluar rumah. Tetapi karena hari ini Ryota dipanggil oleh King jadi aku bisa jalan-jalan sebentar.”

“Mau ku temani berkeliling sebentar?” tanya Akashi yang melupakan tujuan utamanya datang ke tempat yang menjadi peristirahatan kekasihnya.

“Aku ingin vanilla milk shake kalau boleh.”

“Kebetulan aku tahu tempat yang nyaman untuk menikmatinya. Aku akan mentraktirmu.” meninggalkan seongkok buket bunga yang terlupakan, Akashi mengajak sosok yang lebih pendek darinya itu berjalan menjauhi nisan marmer berukirkan Kuroko Tetsuya di atas permukaannya.

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

Ada yang minat kolab dengan Yuuki untuk melanjutkan epep ini? Kalau ada yang minat silakan kirim email ke narayuuki@yahoo.com dengan subjek Kolab Other Side. Sertakan juga ide kalian ya untuk lanjutannya. Hehehe… sayang soalnya kalau epepnya teerbengkalai 😀

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

Friday, August 18, 2017

NaraYuuki

 

 

Alomorf Zero II

Jaejoong yang sudah duduk berhadapan dengan Yunho menggebrak meja dengan putus asa. “Kau tidak waras rupanya! Kenapa kau memutuskan sesuatu secara sepihak? Aku tidak mau! Jangan memaksaku!” menikah katanya? Jaejoong bahkan sama sekali tidak pernah mengiyakan ketika Yunho memutuskan bahwa Jaejoong adalah miliknya.

Yunho tidak menyahut. Ditariknya laci meja kerjanya untuk mengeluarkan sebuah kartu mengkilat berwarna keemasan. Disodorkannya kartu itu pada Jaejoong. “Gunakan ketika kau ingin membeli sesuatu.”

“Aku tidak butuh uangmu!”

“Kalau tidak mau aku akan meminta sekertaris Bae untuk mentransfernya ke rekeningmu setiap minggu.”

“Ku bunuh kau kalau berani melakukannya!” ancam Yunho.

“Aku akan melakukannya bila kau menolakku.”

Yah!” Jaejoong berteriak kesal. Ingin melayangkan tinju pada wajah tampan nan menyebalkan itu –jikalau dirinya bisa melakukannya.

“Kita akan menikah secepatnya. Aku sudah mengatur semuanya. Setelah bertemu orang tuaku aku akan membicarakan pernikahan kita dengan mereka. Kalaupun mereka tidak setuju aku akan tetap menikahimu.”

Jaejoong tersenyum bodoh. “Kau benar-benar tidak waras!”

“Kalau kau tidak mau cara baik-baik aku bisa menggunakan cara kotor untuk mengikatmu, Jae.”

Jaejoong mendelik pada Yunho.

“Contohnya saja, membuat dirimu tidak sadar diri lalu menidurimu. Selama ku lakukan perbuatan itu ku rekam untuk mengancammu. Atau bisa saja aku menyuruh orangku untuk melukai ayah –orang tua asuhmu yang kini tinggal di Amerika.”

“Berani kau melakukannya? Akan ku bunuh kau dengan tanganku sendiri!”

“Kau ingin aku melakukannya sekarang?” tantang Yunho.

“Jung Yunho!”

“Sudah ku katakan bahwa kau adalah milikku. Menikahimu adalah satu-satunya cara untuk bisa memilikimu seutuhnya. Kau tidak memahami perasaanku yang ingin menyentuhmu tetapi tidak mampu ku lakukan kalau kau belum menjadi ‘istri’ku.”

“Aku bisa gila bila bicara lebih lama lagi denganmu!” ucap Jaejoong yang bersiap untuk pergi.

“Ambil kartunya atau akan ku buat ucapanku barusan menjadi kenyataan?!”

Jaejoong menatap sengit Yunho alih-alih mengambil kartu berwarna emas itu sebelum menjulurkan lidah –mengejek Yunho− dan berlari pergi. Tak lupa membanting pintu dengan keras untuk melampiaskan kekesalanya.

“… apa boleh buat? Ku lakukan ini untuk melindungi kepolosanmu Jae….” Gumam Yunho.

***********************************

Jaejoong menyumpah serapah dalam hatinya guna melampiaskan kekesalannya. Ketika hendak pulang dirinya bertemu dengan Ahra di lobi dan menerima tawaran Ahra untuk minum kopi bersama di kantin perusahaan. Sialnya pada saat bersamaan Yunho pun muncul entah darimana dan ikut bergabung bersama mereka berdua. Ahra merasa senang-senang saja bisa minum kopi bersama teman-teman lamanya tetapi bagi Jaejoong itu sama dengan memakan duri ikan yang membuat mulut serta tenggorokannya tergores-gores.

“Semua memandang kemari. Bahkan tadi ada yang meminta tanda tanganmu Jaejoong sshi. Ada pula yang minta foto bersama. Kau populer sekarang.” Puji Ahra,

“Em….” Gumam Jaejoong. Rasanya tidak nyaman ditatap sedemikian rupa oleh Yunho. Seolah-olah pemilik mata setajam mata musang itu hendak menelannya hidup-hidup.

“Kau ingin makan camilan? Di belakang gedung ada penjual deobboki. Bagaimana kalau kita pergi ke sana?” ajak Ahra.

“Aku tidak keberatan. Tetapi ku rasa bos kita….”

“Kalau kau pergi ke sana aku pun akan ke sana.” Sahut Yunho tanpa melepaskan tatapan tajamnya pada Jaejoong.

Jaejoong mencibir kesal.

“Dan Ahra… ku rasa atasanmu tadi mencarimu untuk membahas proposal produk yang belum ku setujui.”

“Ah, benarkah? Kalau begitu aku akan kembali ke ruang kerjaku. Maafkan aku Jaejoong sshi tidak bisa menemanimu. Bagaimana kalau akhir minggu ini kita piknik? Aku akan menyiapkan bekal untuk kita.”

“Tentu saja Ahra. Terima kasih. Kau baik sekali.”

Ahra mengucapkan salam perpisahan, melambaikan tangan sesaat kemudian berlari pergi meninggalkan Yunho dan Jaejoong bersua.

“Cara mengusir yang baik.”

“Dan selalu berhasil.” Timpal Yunho.

***********************************

Orang tua Yunho sangat ramah. Terutama ibunya. Ibunya sangat baik dan lembut ketika memperlakukan Jaejoong apalagi ketika terang-terangan Yunho mengatakan bahwa Jaejoong adalah calon pendamping hidupnya. Ibu Yunho segera menarik Jaejoong untuk diajak ke kamarnya. Di ruangan yang sangat luas dengan gaya klasik itu Ibu Yunho menyerahkan sebuah kotak perhiasan kecil pada Jaejoong. Di dalam kotak itu terdapat sebuah cincin, gelang dan kalung serta liontin dengan model yang klasik pula.

“Itu adalah perhiasan keluarga. Diturunkan secara turun temurun pada menantu keluarga Jung.” Ucap perempuan paruh baya yang masih terlihat sangat cantik itu. “Yunho adalah anak satu-satunya dan kau sudah dipilihnya untuk menjadi pendamping, Anakku. Perhiasan ini tidak harus kau pakai, kau bisa menyimpannya dan menyerahkan pada menantumu kelak.”

Jaejoong diam saja. Dadanya berdenyut sakit mendapat perlakuan hangat dari ibu Yunho.

“Yunho memang sedikit kasar dan pemaksa tetapi dia memiliki hati yang baik. Aku dan ayahnya sempat khawatir karena sejak SMA dulu dia tidak pernah membawa pulang kekasihnya. Pernah sekali dia mengatakan menyukai seseorang yang bukan berasal dari keluarga mampu namun entah kenapa ia berubah menjadi pemuruh sampai beberapa waktu lalu ia mengatakan bahwa ia sudah menemukan cintanya yang hilang.”

Jaejoong merinding ketika tangannya digenggam erat oleh ibu Yunho.

“Tolong jaga Yunho kami. Apapun yang terjadi kedepannya tolong tetap damping dia.”

***********************************

Hari sudah larut, orang tua Yunho meminta Jaejoong untuk menginap dan entah kenapa Jaejoong pun tidak bisa menolak keinginan itu terlebih ketika melihat bahwa orang tua Yunho tulus menerima dirinya dan latar belakang keluarganya. Nyaris pagi ketika pada akhirnya Jaejoong pergi ke kamar yang disediakan untuknya, kantuk benar-benar sudah melanda dirinya.

“Apa yang ibuku bicarakan padamu hingga ia menawanmu selarut ini? Sekarang sudah subuh!”

“Kenapa kau disini?”

“Ini kamarku. Kau akan tidur bersamaku.”

“Jangan bercanda! Aku sudah kelelahan!”

“Kau bisa tidur dengan tenang. Aku tidak akan menghamilimu sebelum kita menikah.”

Jaejoong mendelik kesal namun tak urung merebahkan dirinya di samping Yunho. Jaejoong bisa mendengar Yunho bergumam namun ia tidak tahu apa yang sedang direktur muda itu katakan karena kantuk sudah membuat Jaejoong lari ke alam mimpi.

***********************************

 “Joongie makan dulu sayang… tapi maaf ya, ibu tidak bisa membelikan daging untuk Joongie. Kita makan dengan ikan asin ya.”

“Joongie… lihat! Ibu membelikan Joongie baju baru!”

“Sayang, ibu rajutkan syal ya. Joongie mau warna apa?”

Jaejoong terisak keras, hal itu membuat Yunho yang sedang mandi bergegas keluar dari kamar mandi untuk melihat penyebab Jaejoong menangis. Namun setelah dilihat ternyata Jaejoong masih terlelap dalam tidurnya.

“Apa yang membuatmu bersedih? Apa kau teringat pada ibumu?” gumam Yunho. Diusapnya wajah pucat Jaejoong dengan lembut. “Aku janji akan membuatmu menjadi orang paling bahagia di dunia ini.”

***********************************

“Ahra… kau tahu kenapa aku memanggilmu kemari?” tanya Yunho. Tanpa menunggu Jaejoong bangun dari tidurnya, direktur muda itu berangkat ke kantor untuk memastikan semuanya berjalan sesuai semestinya.

“Tidak. Apa ada kaitannya dengan kinerja kerjaku?” tanya Ahra balik.

“Ini soal Jaejoong.”

“Jaejoong? Kenapa dengannya?”

“Aku akan menikahinya, bulan depan.”

Mata Ahra terbelalak. “Maaf?”

“Aku akan menikahi Jaejoong. Bulan depan kami akan menikah.”

Ahra seperti orang linglung dan bingung. “Tapi…. Bagaimana bisa?”

“Maafkan aku. Tetapi bisakah kau jangan menghubungi Jaejoong lagi? Aku kurang suka ada pengganggu disekitar milikku. Membuatku merasa khawatir.”

Ahra terdiam. Perempuan mungil itu tidak bisa mengatakan apa-apa. Dalam kediamannya itu Ahra berpikir apakah hal itu mungkin? Mengingat Yunho yang dulu sangat merendahkan orang dengan latar keluarga seperti Jaejoong. Jaejoong sendiri sepertinya tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa dirinya tertarik alih-alih memiliki hubungan dengan Yunho. Semua informasi itu menyengat Ahra.

“Jadi ku minta padamu, jangan hubungi Jaejoong lagi! Kau boleh kembali pada pekerjaanmu!”

***********************************

“Jaejoong pergi kemana?”

“Bandara, Direktur.” Jawab sekertaris Bae. “Orang yang anda suruh mengikutinya memberikan kabar bahwa Jaejoong sshi pergi ke bandara.”

“Untuk apa? Dia akan pergi kemana?” tanya Yunho gusar.

“Menjemput seorang perempuan, Direktur.”

“Siapa? Siapa nama perempuan itu? Apa hubungannya dengan Jaejoong?”

Sekertaris Bae membungkuk dalam. “Maafkan saya Direktur, saya belum mendapatkan informasi mengenai identitas perempuan tersebut.”

Yunho menutup matanya –lebih kepada kesal− kmearahan mendadak memenuhi dirinya. “Cari tahu secepatnya! Dan segera antar aku ke apartementnya!”

“Direktur…”

“Apa lagi?”

“Kalau boleh memberi saran, lebih baik anda pulang dulu untuk beristirahat. Anda kelihatan lelah.”

“Membayangkan Jaejoongku bersama perempuan lain membuatku gila Sekertaris Bae. Antar aku atau aku pergi ke sana sendiri?!”

“Saya mengerti.”

***********************************

Perempuan itu sudah duduk di sofa ruang tamu rumah Jaejoong ketika Yunho sampai di sana. Dia –perempuan itu seperti bukan orang kaukasia− berambut hitam ikal, kulitnya putih kemerahan, wajahnya seperti campuran darah barat dan timur.

“Kau siapa?” tanya Yunho terdengar kurang sopan.

Perempuan cantik yang sebelumnya duduk-duduk malas itu menegakkan punggungnya. Mengamati Yunho dari atas hingga bawah dengan pandangan meneliti. “Ah, jadi kau Jung Yunho itu?” tanya sang perempuan cantik itu. “Kau yang memaksa Joongie untuk menikah walaupun dia tidak menyukaimu? Percaya diri sekali kau Mr. Rich Man!”

“Joongie? Kau memanggil Jaejoongku dengan sebutan Joongie?” tanya Yunho dengan suara tertahan seolah sebuah bola menyumbat kerokongannya.

“Iya. Kenapa?” tantang perempuan cantik itu.

Yunho mendengus. Tidak mungkin ia mengotori tangannya sendiri untuk meleyapkan benalu seperti ini. Dengan cara halus akan ia singkirkan perempuan menyebalkan yang sok akrab dengan Jaejoongnya.

“Berhenti mengganggunya Tia! Dia bisa mengirimmu ke neraka dengan uangnya.” Ucap Jaejoong yang muncul bersama sebuah baki berisi 4 buah jus kaleng, dan sepiring kue basah berwarna-warni ditangannya. “Dan berhenti menatap saudaraku seperti itu, Jung Yunho!”

“Saudara?”

“Kau belum mengenalkan dirimu padanya?” tanya Jaejoong sembari menatap perempuan cantik yang sebelumnya ia panggil Tia itu dengan tatapan penuh selidik.

“Tidak ada untungnya untukku.” Sahut Tia angkuh.

Jaejoong meletakkan baki yang dibawanya, “Tia Hwang Cuevas, secara hukum adalah putri tunggal Petter Cuevas, ayahku –ayah asuhku− yeah, di Amerika sana namaku bukan lagi Kim Jaejoong melainkan Jaejoong Cuevas.” Ucapnya santai sambil mendudukkan dirinya di samping Tia. “Tia beberapa bulan lebih muda dariku tetapi dia tidak mau memanggilku Oppa.”

“Saudara yang tidak punya hubungan darah pun bisa mengancam.” Komentar Yunho.

“Hei Mr. Rich Man! Kau benar-benar orang yang menyebalkan.” Timpal Tia.

“Kenapa ayahmu tidak ikut kemari?” tanya Yunho. Dengan sedikit memaksa ditariknya tangan Jaejoong untuk berdiri kemudian didudukkan pada sofa berlainan dari yang Tia duduki. Yunho segera duduk di samping Jaejoong.

Jaejoong mendengus kesal.

“Papa dilarang bepergian untuk sementara waktu karena menjadi saksi kasus pembunuhan orang penting. Sekarang Papa dibawah perlindungan badan hukum saksi atau semacam itulah namanya, aku tidak begitu ingat. Tahun depan Papa baru boleh pergi kemanapun yang disukainya.” Terang Tia. “Lagi pula tanpa  kehadiran Papa aku bisa kencan dengan Joongie semauku.”

“Dalam mimpimu!” komentar Yunho yang langsung berdiri dari duduknya. “Malam ini aku akan menginap disini jadi lebih baik aku mandi dulu.” Tanpa berkomentar lagi segera saja ia beranjak menuju kamar mandi yang sudah dihafalnya dimana arahnya.

“Orang seperti itu yang akan menjadi pasangan hidupmu? Kalau aku memilih tidak menikah sampai tua.”

“Kita berdua tahu alasan dibalik aku mau bersamanya, kan?” tanya Jaejoong. Pandangannya dialihkan ke arah Yunhoo menghilang, “Balas dendam!”

***********************************

Dimata Yunho sosok Tia tidak ubahnya sebagai serangga pengganggu yang harus dibasmi. Namun kejengkelan Yunho itu pun tidak bisa ia realisasikan mengingat bahwa perempuan tinggi semampai itu adalah saudara Jaejoong.

Yunho berdiri mematung ketika melihat Jaejoong sedang diganggu –bercanda− dengan Tia yang memakai baju kurang pantas, sebuah tanktop tipis dan celana pendek. Jaejoong sedang bergelung di dalam selimut sementara Tia menduduki tubuh Jaejoong dan memaksa Jaejoong menyibak selimutnya. Melihat kelakuan perempuan cantik itu membuat Yunho kesal. Dengan memaksa ditariknya Tia dan diseret keluar kamar Jaejoong sebelum mengunci pintu dari dalam.

“Kau terlalu lunak pada perempuan itu.” Komentar Yunho dengan gusar.

“Namanya Tia.” Sahut Jaejoong dari dalam selimutnya. “Dia adikku.”

“Adik? Sikapnya lebih mirip perempuan jalang daripada seorang adik.” Bantah Yunho. “Dimataku dia seperti seorang pelacur.”

Jaejoong mendelik pada Yunho. “Kami toh bukan saudara kandung.” Ucapnya. “Jangan bicara kasar soal Tia. Dia tetap ku anggap adik.”

“Aku akan bicara padanya.”

“Jung Yunho?” Jaejoong menyibak selimutnya, turun dari tempat tidurnya namun sudah terlambat karena Yunho sudah keluar dan mengunci dirinya di dalam kamar.

***********************************

“Pulanglah ke negaramu!” perintah Yunho. Pria tampan itu berhasil menyeret Tia pergi ke kedai kopi di dekat rumah Jaejoong. “Aku bisa membuatmu dideportasi hari ini juga. Jadi sebelum itu terjadi pergilah secepatnya!” ucapnya. Diteguknya es kopi yang tersaji di hadapannya.

Tia mendelik pada pria tampan namun menyebalkan itu dengan tatapan sinis. “Mencoba mengusirku, huh?”

“Aku tidak mencoba. Aku mengusirmu secara terbuka.”

Perempuan cantik berbadan indah itu meenarik senyum bodoh. “Kau peercaya diri sekali Mr. Rich Man?! Kau pikir aku takut gertakanmu? Sama sekali tidak!”

“Aku tidak menggertak! Ini sebuah ancaman yang akan menjadi kenyataan bila kau tidak segera enyah dari hadapan Jaejoongku!”

“Jaejoongmu? Cih! Kau pikir Jaejoongie mau menikahimu? Dalam mimpimu!”

“Aku selalu membuat mimpiku menjadi kenyataan!”

Tia mendengus. “Orang yang sudah membuat ibunya meninggal, mana bisa dimaafkan?”

“Apa maksudmu?” Yunho seperti tersentak sesuatu yang ia sendiri tidak pahami.

“Kau tidak tahu atau pura-pura tidak tahu?” tanya Tia penuh permusuhan. “Ketika ibunya sekarat, rumah sakit milik keluargamu yang sok itu menolak memberikan pengobatan hanya karena mereka orang miskin! Pada akhirnya ibunya meninggal karena tidak mendapatkan perawatan. Dan itu semua salahmu dan keluargamu yang sok kaya!”

Yunho menjadi linglung mendengar penuturan Tia. Digelengkannya kepalanya seperti orang bingung. “Tidak! Itu tidak mungkin! Kau pasti bohong!”

“Jaejoongie sengaja kembali kee negara yang ia benci demi balas dendam padamu! Jadi jangan pernah bermimpi untuk menikahinya!”

Yunho menggebrak meja, matanya nanar menatap Tia sebelum berlari meninggalkan perempuan cantik itu sendirian.

Tia menghela napas panjang. Matanya berkabut. Bibirnya bergetar. “Sorry Joongie…” bisiknya pada dirinya sendiri.

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

Yunho segera mendobrak pintu kamar Jaejoong dan menubruk si empunya kamar sebelum memeluknya erat. Bibir hatinya bergetar merapalkan kata maaf berulang-ulang. Matanya basah oleh air mata yang ia sendiri tidak tahu kenapa bisa keluar, padahal dirinya adalah Jung Yunho –pengusaha muda yang disegani oleh orang-orang− padahal dirinya tidak bersalah namun perasaan itu justru yang paling kuat menghantam nuraninya.

“Kau mabuk?” sekuat  tenaga Jaejoong mendorong tubuh Yunho yang menempel pada tubuhnya.

“Aku tidak tahu! Aku tidak tahu! Maafkan aku! Maafkan aku!!”

“Apa maksudmu?” tanya Jaejoong sambil terus berusaha melepaskan diri dari Yunho.

“Ibumu….”

Jaejoong terdiam seperti patung, mengabaikan Yunho yang masih memeluknya erat. Entah apa yang sudah Tia katakan pada direktur muda itu hingga keadaannya seperti orang mabuk.

“Waktu itu rumah sakit kami dikelola oleh keluarga pamanku –adik ayahku− jadi aku tidak tahu kalau mereka menolak memberikan pengobatan pada ibumu. Maafkan aku.” Ratap Yunho. “Aku benar-benar tidak tahu. Andaikan… andaikan… andaikan aku tahu.”

Ingatan itu menampar dan menghantam Jaejoong ibarat pisau yang disayatkan pada kulitnya. Membuatnya merasa perih dan sakit. Ingatan ketika satpam bertubuh besar dan kekar menyeret paksa dirinya dan sang ibu dari lobi rumah sakit, dan bagaimana orang-orang itu mencemooh mereka, memperlakukan mereka seperti sampah. Perasaan tertindas, teraniaya dan terhina itu mengguncang Jaejoong hingga air mata meleleh dari sela pelupuk matanya.

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

“Kau akan membayar soal ini, brengsek!!” kesal Tia. Entah bagaimana caranya hingga Yunho berhasil membuatnya terusir dari Korea.

Yunho bergeming. Tangannya erat memegang pergelangan tangan Jaejoong yang matanya terbingkai kaca mata hitam. Sosok yang kini memakai sweeter bergaris merah-hitam itu sejak semalam diam, enggan bicara pada Yunho maupun Tia. Jaejoong seperti asyik dengan dunianya sendiri.

“Dasar brengsek!” maki Tia, wajahnya memerah karena marah dan kesal. Ingin sekali dirinya menghajar pria berjas mahal yang dengan angkuh menatapnya menggunakan mata sipitnya itu. Andai mereka tidak berada di tempat umum.

“Kau tidak akan bisa kemari selama 5 tahun kedepan. Jadi nikmati hari-harimu di negaramau sendiri!” Yunho memamerkan senyum dinginnya.

“Mati saja kau! Dasar manusia brengsek!” bentak Tia. Diciumnya pipi pucat Jaejoong sebelum menarik kasar kopernya. Harga dirinya seperti diinjak-injak oleh segerombolan kerbau buluk. Andai saja si Jung Yunho sialan itu bukan orang kaya bisa dipastikan dirinya tidak akan pergi meninggalkan Jaejoongienya secepat ini.

“Kita pun harus bergegas pergi!” Yunho menarik Jaejoong untuk berjalan mengikutinya.

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

Sepanjang perjalanan menembus kemacetan jalan pagi itu tidak ada yang berkomentar apa-apa. Sekertaris Bae yang biasanya tegang tampak lebih kaku dari pada biasanya. Mungkin bawahan Yunho itu sudah menyadari ada yang tidak beres dengan majikannya.

“Aku datang kembali kemari hanya untuk membalas dendam padamu atas sakit hatiku!” gumam Jaejoong dengan suara sedikit serak.

“Aku tahu.” Sahut Yunho tak acuh.

“Lalu kenapa masih memaksaku menikah denganmu?!” pekik Jaejoong.

“Karena kau masih mencintaiku. Kau dendam padaku sekian tahun hanya karena aku membuang bekal buatanmu, bukankah itu berarti kau sangat meencintaiku? Bahkan kau repot-repot kembali kemari dan meninggalkan kehidupan bintangmu di Jepang.”

“Aku meembencimu!”

“Aku mencintaimu dari dasar lubuk hatiku.” Balas Yunho.

“Pernikahan impianmu itu akan menjadi neraka bagimu bila kau terus memaksaku.”

“Hm… kalau syarat bersamamu adalah neraka maka akan ku nikmati setiap kepedihan didalamnya dengan senang hati.”

“Aku akan selingkuh!!” teriak Jaejoong.

“Selingkuhanmu itu beserta keluarganya akan mati sebelum kau menyadarinya!”

“Kau…?” Jaejoong mengepalkan kedua tangannya.

“Mengusir perempuan bernama Tia sangat mudah bagiku apalagi hanya menghilangkan beberapa nyawa….”

Jaejoong menoleh pada Yunho. Matanya terbelalak ketika melihat keseriusan disana.

“Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku sendiri, Jae.”

“Akan ku habiskan uangmu!”

“Uangku cukup untuk menghidupi anak cucuku hingga 200 tahun mendatang.”

“Sialan!” dengan putus asa Jaejoong menendang-nendang kursi kosong di hadapannya. Untung ia tidak duduk tepat di belakang supir kalau tidak sekertaris Bae pasti menderita akibat tendangan Jaejoong.

“Segera ke kantor catatan sipil! Aku ingin mengurus pernikahanku secepatnya!”

Ye Tuan.” Sahut sekertaris Bae.

Dalam hati Jaejoong merapalkan sumpah serapah untuk Yunho dan berharap bahwa apa yang akan terjadi selanjutnya tidak akan pernah terjadi selamanya.

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

Friday, August 18, 2017

11:41:06 AM

NaraYuuki

Alomorf Zero

 

 

Pemuda itu berdiri angkuh di tengah ruangan 4×6 meter yang dipenuhi debu dan sarang laba-laba. Sepatu mahal mengkilatnya ternoda bercak lumpur yang berada di sekitar rumah bobrok nyaris rubuh itu. Hatinya terasa ngilu dan nyeri melihat selembar foto berdebu nyaris pudar warnanya tertempel pada dinding triplek keropos rumah reyot itu. Bau pesing, apek dan pengap mendominasi indera penciumannya. Pemuda itu menghela napas dalam-dalam ketika luapan perasaan itu menyeruak, mendesak hendak melesakkan air mata brengsek yang coba ditahannya.

Kriet…

Bunyi pintu nyaris terlepas dari engselnya itu berbunyi ketika didorong oleh sosok perempuan berkaki jenjang yang terbingkai sepatu hak tingginya. Perempuan berambut panjang indah itu berjalan susah payah menghampiri si pemuda, meraih lengan kanan pemuda itu untuk berpegangan.

“Harusnya aku mendengar kata-katamu untuk tidak memakai sepatu berhak seperti ini.” Gerutunya.

Si pemuda tidak berkomentar.

Perempuan manis itu mendongak menatap wajah sendu si pemuda. Tersenyum maklum lantas dengan manja mendekap pemuda itu dengan rengkuhan hangat. Telapak tangannya yang mungil mengusap-usap punggung si pemuda dengan lembut –menenangkan.

“Ada tempat lain yang ingin kau kunjungi lagi?” tanya sang perempuan. Rok midinya menari-nari tertiup angin yang masuk melalui jendela yang tidak lagi berpenutup.

“Tidak. Tunggulah di mobil! Ku rasa sebentar lagi akan turun hujan.” Pemuda itu mendongak ke langit-langit rumah yang penuh tambalan, berlubang, kotor dipenuhi sarang laba-laba. “Aku tidak akan lama.”

Sang perempuan mengangguk perlahan kemudian berjalan meninggalkan si pemuda yang masih menyiksa dirinya dengan berada di dalam ruangan mirip kandang sapi tersebut.

Tanpa memedulikan lantai tanah yang becek dan tergenang air di beberapa tempat, si pemuda segera berjalan menuju satu-satunya tempat tidur –atau seperti itulah kelihatannya sebelum dua kakinya patah− yang dalam keadaan miring itu. Berjongkok di samping tempat tidur yang mulai keropos termakan rayap. Tangan kanannya terjulur untuk mengusap permukaannya secara hati-hati namun tetap saja membuat kayu tempat tidur itu terkeluapas. Meremas kelupasan kayu sebelum mencampakannya begitu saja. Kemudian dijulurkannya tangannya ke bawah, mengais-ngais apapun yang mampu dijangkau tangannya. Sebuah kotak besi berukuran 30×50 centimeter berhasil ia raih, kemudian ia tarik keluar. Penuh debu sudah pasti. Ketika perlahan ia buka penutup kotak tanpa kunci itu beberapa kecoa dan kutu busuk berlarian keluar. Ditatapnya sebuah kaus kaki usang yang penuh tambalan, tentu saja kekecilan bila ia kenakan. Sebuah tutup kepala rajut yang berbau apek dan sebuah plastik hitam. Diambilnya plastik hitam itu untuk dikeluarkan isinya. Air matanya mengalir deras, isakan lolos dari bibir penuhnya hingga ia harus membekap mulutnya sendiri.

Itu hanya sebuah foto tua. Foto yang bagi orang-orang dianggap foto biasa. Tetapi di dalam selembar foto itu ia bisa melihat senyum sang ibu yang sudah meninggalkannya semenjak usianya 10 tahun.

Kemiskinan, penderitaan dan kelaparan menggrogoti kesehatan ibunya yang hanya buruh cuci. Rumah tidak layak huni membuatnya menjadi cemoohan teman-teman sekelasnya. Seragamnya dan sepatunya dekil penuh tambalan, tidak pernah memakai tas karena ibunya tidak mampu membelikannya. Bahkan ia harus sering puasa ketika tidak ada makanan yang bisa dimakan. Sampai suatu siang ia mendapati ibunya tergeletak di lantai tanah rumahnya yang dingin, bersimbah darah. Rupanya ibunya sakit parah sejak lama namun karena tidak ada biaya untuk berobat sehingga pada akhirnya tangan kematian menjemput sang ibu.

Umma….”

Ketika tangan takdir sudah memutus benang merah kehidupan, tiada satu pun yang bernyawa di dunia ini mampu membuat keajaiban.

***********************************

Perempuan berbaju seksi itu merapikan jas sang pemuda sebelum mengacungkan jempolnya. Senyum penuh rasa puas mengembang menghiasi wajahnya yang dipoles make up. “Jadi… aku menjemputmu satu jam lagi?” tanyanya.

Si pemuda melirik jam tangannya sebelum menggelengkan kepalanya perlahan. “Biar aku naik taksi saja. Berada di sana selama sejam bisa membunuhku.”

“Jaga diri baik-baik kalau begitu. Aku menunggumu di rumah.” Sebelum kembali memasuki mobil mewah, perempuan berbusana warna dusty pink itu mendaratkan ciuman dibibir sang pemuda. “Good luck…”

Mata sekelam malam itu menatap bangunan hotel di hadapannya yang angkuh dan menyebalkan. “Hmm… saatnya balas dendam.” Gumamnya.

***********************************

Ah, keluarganya bangkrut bukan? Ku dengar dia bekerja di club malam sebagai penghibur?”

Hei! Hm… dia menjadi simpanan pejabat.”

Bagaimana dengannya? Ku dengar dia menghamili adik tirinya?”

Kau sudah tahu? Orang tuanya bunuh diri dan meninggalkan banyak hutang.”

Ckck… dia? Jadi dokter? Si bodoh itu?”

Kakinya terus melangkah tanpa memedulikan beragam gossip yang berterbangan di sekitar telinganya mengenai keadaan teman-teman seangkatannya –kalaupun orang-orang itu bisa disebut teman− yang mana yang dulunya kaya raya mendadak jatuh miskin, yang mana yang dulu miskin menjadi semakin miskin, yang mana dulu sangat populer ketika sekolah kini menjadi orang paling hina. Yah, roda kehidupan memang terus berputar.

Tanpa memedulikan tatapan mata orang-orang yang mulai memperhatikannya, ia dengan santai berjalan mendekati minuman aneka warna yang dihidangkan di atas meja. Dengan tenang meneguk minuman dari dalam gelas, menulikan telinga dan matanya pada keadaan disekitarnya. Namun menajamkan indera pendengaran dan penglihatannya untuk mencari mangsa yang menjadi incarannya.

Nugu?” tanya seorang perempuan yang memakai dress warna metal dengan belahan pada punggungnya seolah memamerkan keindahan kulitnya –atau memang begitulah cara berpakaian perempuan-perempuan yang menghadiri acara itu.

Ketika ia menoleh menatap sang perempuan ia menyadari seisi ruangan sudah menatapnya dengan penuh selidik seolah dirinya adalah penjahat yang menjadi buron polisi. Ia tersenyum, meraih segelas minuman berwarna gold bening dan diberikan pada si perempuan. “Kim Jaejoong.” Ucapnya.

Astaga! Dia Kim Jaejoong? Bagaimana bisa kemari? Siapa yang mengundangnya?”

Yang lebih penting, lihat caranya berpakaian sekarang!”

Dia Kim Jaejoong? Anak miskin itu?”

Benarkah itu Kim Jaejoong? Apa yang membuatnya bisa berubah seperti itu?”

Kim Jaejoong yang itu? Yang selalu ditindas itu?”

Bagaimana bisa dia memakai jam tangan yang lebih mahal dariku? Dia orang miskin kan?”

Ia sudah mempersiapkan diri menghadapi sambutan seperti ini –bahkan lebih buruk lagi− tetapi tidak. Ia tidak diusir apalagi diseret oleh security. Mungkin karena cara berpakaiannya yang terlihat bermartabat. Atau karena mereka yang masih kasak-kusuk tentangnya sungkan karena dirinya kini bukan remaja dekil melainkan sosok yang menawan.

“Kau masih kenal aku Jaejoong sshi?” tanya perempuan yang tadi menanyakan identitasnya. “Aku Ahra, Go Ahra. Kita teman sekelas waktu kelas 1. Kau ingat? Walaupun kau hanya sebentar menjadi teman sekelasku karena kau pindah pada semester dua tetapi kita tetap teman sekelas.”

“Ya. Tentu saja aku mengingatmu…” jawabnya sambil tersenyum. ‘Dari segelintir orang yang peduli padaku. Kau adalah salah satunya Ahra ya. Bahkan kau memberikanku syal ketika hari ulang tahunku. Terima kasih.’ Batinnya.

“Kemana saja kau selama ini Jaejoong sshi? Aku… aku sempat datang ke rumahmu ketika kau tidak masuk sekolah, tetapi tetanggamu bilang kau sudah pindah dan belakangan aku tahu kalau kau memang telah pindah sekolah.”

“Setelah ibuku meninggal pengasuhanku ditanggung oleh dinas sosial.”

“Pasti sulit untukmu.”

“Hm… memang banyak hal yang sudah terjadi.”

“Sekarang kau kerja dimana? Kalau aku, begitu lulus kuliah aku diterima bekerja sebagai staf disalah satu perusahaan.”

“Kau tidak akan percaya bila aku mengatakan apa pekerjaanku.”

Ahra tersipu. Memang sejak dulu ia menyukai sosok Jaejoong walaupun Jaejoong berasal dari keluarga miskin. “Bisa kapan-kapan kita makan bersama?”

“Tentu saja.” Dirogohnya kartu nama dari saku jasnya kemudian diberikan kepada Ahra. “Ada nomor telpon dan alamat email yang bisa kau hubungi.”

“Terima kasih.”

“Ah, senang bertemu denganmu Ahra ya… tetapi sayang sekali aku tidak bisa lama-lama berada disini. Ada hal lain yang harus aku lakukan.”

Ahra mengangguk paham.

Jaejoong berjalan dengan angkuh tanpa memedulikan orang-orang yang masih berbisik-bisik tentang dirinya. Ada yang mengagumi tak sedikit pula yang mencemoohnya. Jaejoong tidak ambil pusing pada orang-orang semacam itu. Ia terus melangkah meninggalkan ruangan pesta tanpa menyadari seekor musang kelaparan mengawasinya sejak tadi.

***********************************

Pagi-pagi sekali Jaejoong sudah menyiapkan bekal, ia sengaja menabung uang jajannya yang tidak seberapa untuk membuat bekal istimewa yang akan ia berikan pada orang istimewa yang sangat ia sukai. Dengan hati berdebar ia berangkat ke sekolah. Begitu sampai di sekolah ia langsung menuju ruang kelas pujaan hatinya.

“Jung Yunho, aku membuatnya sepenuh hati. Tolong diterima.” Ucap Jaejoong.

Jemari kokoh berwarna tan itu menerima kotak nasi berwarna biru bergambar gajah dan beruang. “Kim Jaejoong?”

Jaejoong mengangguk malu.

“Kau menyukaiku?” tanya remaja seusia Jaejoong namun terlihat sangat gagah itu.

Jaejoong begitu malu hingga tidak mampu menganggat wajahnya.

“Apakah kalau aku menolakmu kau akan terus mengekoriku? Melakukan segala cara untuk menjeratku agar aku tertarik padamu? Melakukan segala cara termasuk tidur denganku untuk bisa menarik simpatiku?”

“Eh? Aku tidak…” mata indah itu membulat menatap bekal yang ia masak susah payah dibuang begitu saja di atas lantai.

“Aku tidak menyukaimu. Aku lebih memilih berkencan dengan yeoja seksi berkelas daripada orang sepertimu. Wajahmu memang cantik tetapi kau miskin! Orang miskin tidak pantas bersamaku! Kau paham! Jadi enyahlah dari hadapanku!

Seketika itu api cinta yang berwarna merah jambu berubah menjadi api benci berwarna hitam pekat.

***********************************

“Sekertaris Bae, bisa kau carikan informasi mengenai Kim Jaejoong? Dia pernah sekolah di sekolahku walaupun hanya pada semester gasal kelas satu saja.”

“Tentu saja Direktur.”

“Dapatkan informasinya secepat yang bisa kau dapatkan!”

Ye, Direktur.”

***********************************

“Tia…” Jaejoong mendorog perempuan canik itu dengan lembut ketika perempuan yang hanya mengenakan baju dalam itu memeluknya erat.

“Biar saja! Aku harus ke Callifornia selama 6 bulan atas perintah papa. Kita tidak akan bertemu selama 6 bulan!”

“Tenanglah! Bila aku bisa mendapatkan cuti aku akan menemuimu.”

“Janji?”

“Ya.”

Okay. Tapi bila kau berselingkung dengan si brengsek itu, aku tidak segan-segan untuk menyeretmu pulang bersamaku!”

“Tentu saja….”

Be a good boy, okay?”

I’m Promise.”

***********************************

“Kim Jaejoong, setelah ibunya meninggal karena sakit menahun hak asuhnya berada ditangan yayasan sosial milik Negara. Kemudian ia menjadi anak asuh seorang veteran dan pindah ke Jepang. Di sana ia sekolah di sekolah model dan debut sebagai model pada usia 18 tahun. Sempat membintangi beberapa dorama dan iklan-iklan lainnya. Beberapa bulan yang lalu ia kembali ke Korea untuk urusan pribadi.” Jelas sekertaris Bae.

“Kau dapatkan alamatnya?”

“Maafkan saya, Direktur. Saya belum berhasil mendapatkan alamatnya. Tetapi…” Direktur Bae menyodorkan sebuah dokumen untuk atasannya. “Minggu lalu Kim Jaejoong menandatangani kontrak dengan anak perusahaan kita yang bergerak dibidang kosmetik. Kalau tidak salah sore nanti akan mulai syuting pembuatan iklan.”

“Antar aku ke sana.”

“Tapi Direktur! Hari ini Anda harus menghadiri rapat pemegang saham.”

“Undur sampai besok.”

“Baik Direktur.”

***********************************

Perempuan mungil itu masih mengenenakan pakaian kantornya ketika duduk tenang sembari memegang botol air mineral dingin pemberian orang yang dulu –sekarang pun masih− ia kagumi.

“Apa yang kau lakukan di sini Go Ahra?”

Perempuan mungil itu menoleh ke sumber suara. Matanya membulat mendapati atasan sekaligus temannya berada di tempat yang sama dengannya saat itu.

“Ah… aku menelpon Jaejoong dan mengajaknya makan malam tetapi dia bilang sedang syuting. Dia memintaku datang kemari supaya kami bisa pergi ke rumah makan dekat sini. Kau masih ingat Kim Jaejoong kan? Dia datang ke acara reuni kemarin.” Jawab sendiri. “Kau sendiri, apa yang kau lakukan di sini?” tanya Ahra. Diluar kantor perempuan mungil itu tidak pernah bicara formal dengan Yunho.

“Hanya mengawasi proses syuting ini untuk memastikan hasilnya sesuai dengan apa yang aku inginkan agar produk terbaru ini bisa laku dipasaran.”

“Bukankah dia mengagumkan? Bermula dari bukan siapa-siapa menjadi seorang idol. Awalnya aku tidak percaya saat ia memberiku kartu namanya tetapi ketika iseng membuka internet ternyata dia meemang sudah debut di Jepang semenjak usia 18. Luar biasa ya?”

***********************************

“Malam ini benar-benar menyenangkan.” Gumam Ahra. “Aku mau ke toilet sebentar.” Ucapnya sebelum pergi meninggalkan 2 pria dewasa yang sibuk dengan urusan masing-masing.

Bila pria yang memakai kaus abu-abu berkaca mata sibuk mengutak-atik ponsel pintarnya pria berjas yang duduk di hadapan si kaca mata justru menatap tajam pada apa saja yang tertangkap oleh matanya.

“Penampilanmu berubah. Aku hampir tidak mengenalimu.”

Tidak ada sahutan.

“Aku bicara denganmu Kim Jaejoong!”

Lagi. Tidak ada sahutan sama sekali.

Yeah, bagaimanapun orang dari kalangan bawah memang tidak tahu sopan santun.”

“Bagaimana dengan orang dari kalangan atas yang hanya bisa memandang rendah, menghina dan menyepelekan orang dari kalangan bawah? Bukankah itu lebih tidak bermartabat?” si kaca mata mematikan ponsel pintarnya kemudian dimasukkan ke dalam ranselnya.

“Kau mau bicara soal martabat denganku Kim Jaejoong?”

Kim Jaejoong, pria berkaca mata itu tersenyum mempesona ketika dua orang pelayan rumah makan menyajikan minuman dan pesanan mereka secara bergantian. “Terima kasih banyak…” ucapnya yang dibalas senyum genit dari para pelayan. “Biasanya orang kelas atas tidak mendatagi restoran keluarga seperti ini. Apa restoran di hotel bintang 5 sudah mencoretmu dari list mereka?”

Bibir berbentuk hati itu menyunggingkan senyum. Teman lamanya ini mendebatnya. Sesuatu yang jarang –belum pernah− terjadi. “Ketika berbaur dengan orang kelas bawah maka lidah dan perutku harus menyesuaikan kondisi rasa dari rumah makan murahan seperti ini.”

Jaejoong mencemooh. Diam saja ketika Yunho mendorong gelas berisi vanilla milk shake ke arahnya.

“Selera tidak bisa dibohongi…”

“Saat masih sekolah dulu aku tidak mampu membelinya. Apa boleh buat?” sinis Jaejoong.

Tidak lama kemudian Ahra datang. Ketiganya menyantap makanan pesanan masing-masing sambil bercerita tentang banyak hal. Ketika sudah waktunya untuk pulang Yunho menawarkan tumpangan karena baik Jaejoong ataupun Ahra tidak membawa kendaraan pribadi. Meskipun awalnya Jaejoong menolak tetapi pada akhirnya ia menerima juga tawaran itu setelah dibujuk oleh Ahra. Pertama Yunho mengantarkan Ahra pulang ke rumahnya –rumah orang tuanya. Kemudian mampir sebentar ke mini market sebelum mengantar Jaejoong pulang ke apartementnya –disalah satu kawasan elit.

“Tidak mengundangku masuk?” tanya Yunho ketika Jaejoong membuka pintu mobil tanpa berkata apa-apa.

“Supirmu akan menunggu terlalu lama bila kau mampir.” Tandas Jaejoong.

“Sekertearis Bae, bisa kau pulang naik taksi?” tanya Yunho.

Ye Direktur.”

“Beres.” Yunho menatap Jaejoong.

“Apa kau ini seorang diktaktor?” tanya Jaejoong kesal. “Memberi perintah seenak perutmu sendiri.” Ucapnya sambil keluar dan membanting pintu mobil.

“Pulanglah sekertaris Bae. Biar nanti aku naik taksi.” Ucap Yunho. Diambilnya belanjaan yang tadi dibelinya di mini market kemudian berjalan dengan langkah panjang menyusul Jaejoong.

***********************************

Jaejoong tinggal di unit yang berada di lantai 18. Keadaan rumahnya sangat bersih dan rapi. Ada 2 buah kamar di dalamnya, dapur yang digabung dengan ruang makan, sebuah kamar mandi, dan sepetak ruang yang difungsikan sebagai ruang keluarga dan juga ruang tamu sederhana yang dipisah oleh sekat dengan ruang keluarga.

Tanpa dipersilakan Yunho duduk di atas satu-satunya sofa yang berada di ruang keluarga. Menatap semua koleksi buku dan CD Jaejoong dan beragam benda pecah belah berbentuk ataupun berhiaskan motif gajah. Bosan menunggu sang tuan rumah yang entah sedang apa akhirnya Yunho membuka kantung belanjaannya dan mengambil sekaleng bir dingin untuk diteguknya.

“Rumahmu nyaman…” ucap Yunho ketika Jaejoong datang dan duduk di atas sofa tebal bermotif bunga lili api.

“Bukan rumahku. Ada seseorang yang meminjamkan unit ini padaku.” Ucap Jaejoong sambil membuka buku yang ia bawa. Membaca jadwal kegiatannya esok hari.

“Dimana managermu?”

“Sedang ada urusan keluarga di Amerika selama 6 bulan.” Jawab Jaejoong.

“Mau ku pinjami asisten?”

“Tidak. Terima kasih. Aku bisa mengaturnya sendiri.”

“Kau akan kelelahan.”

“Apa pedulimu? Cepat pulang biar aku bisa istirahat!”

“Siapa yang meminjamimu apartement mewah begini? Kau bukan menjadi simpanan pria hidung belang kan?” tanya Yunho. Seringai penuh ejekan menghiasi wajah tampannya.

Jaejoong tertawa bodoh, menatap tajam Yunho. “Aku tidak pernah menjual tubuhku hanya demi uang! Meskipun orang miskin tetapi aku tahu bahwa harga diri adalah segala-galanya.”

“Ku rasa kau tidak lagi miskin.”

“Dimatamu aku tetap orang miskin!”

“Darimana kau tahu apa yang ada dalam pikiranku? Kenapa kau bisa menyimpulkan hal semacam itu padahal kau tidak tahu apa-apa tentang diriku.”

“Pun sama denganmu.” Balas Jaejoong.

“Aku malas berdebat denganmu.”

“Kalau begitu pulanglah ke rumahmu yang nyaman!”

“Aku ingin bicara banyak hal denganmu.”

“Waktu adalah uang bagiku.”

“Aku akan membayar setiap menit waktumu.”

Jaejoong mencibir kesal. Kembali mengecek jadwalnya untuk seminggu ke depan tanpa memedulikan ocehan Yunho.

“Sepertinya Ahra menyukaimu. Ah… Dia memang menyukaimu sejak dulu walaupun saat itu banyak yang mengucilkanmu termasuk aku. Dia perempuan yang baik.”

“Mengenai perasaannya padaku… ku rasa itu bukan urusanmu!” Jaejoong berjalan menuju dapur.

Yunho diam saja di tempatnya duduk. Ada sesuatu mengenai Jaejoong yang membuatnya penasaran. Yunho merasa kesal dan marah bila ia tidak mendapatkan jawaban yang sesuai keinginannya dari Jaejoong. Yunho sendiri tidak tahu mengapa. Perasaan gusar ini selalu muncul setiap kali dirinya teringat pada sosok Jaejoong yang dulu memberikannya bekal buatan sendiri namun ia buang dengan angkuhnya. Ketika itu Yunho masih remaja labil yang tidak bisa menyaring sesuatu dengan baik. Mengabaikan perasaannya sendiri dan lebih memilih mendengarkan teman-temannya yang memandang remeh Jaejoong hanya karena namja itu berasal dari keluarga miskin.

Tapi bagaimana dengan sekarang?

Jaejoong yang sekarang bukan lagi Jaejoong yang dulu. Yunho tahu bahwa orang tua asuh Jaejoong adalah warga Amerika yang bisa dikatakan sangat mampu. Jaejoong yang sekarang lebih modis daripada Jaejoong yang dulu. Jaejoong yang sekarang tidak jauh berbeda dari Yunho. Bahkan Jaejoong yang sekarang bisa merasakan bangku sekolah di Jepang dan pernah tercatat sebagai mahasiswa unifersitas Tokyo dengan gelar Camloude.

Keluar dari lamunannya,Yunho berdiri dari duduknya, berjalan ke arah tadi Jaejoong menghilang dan menemukan sosok kelelahan yang tengah terlelap –terduduk di atas kursi meja makan yang digabung dengan dapur. Hati-hati Yunho menghampirinya. Mengusap kepalanya pelan sebelum melepaskan jasnya sendiri untuk menyelimuti punggung Jaejoong. Yunho kemudian mencari ruangan yang berfungsi sebagai kamar Jaejoong. Setelah berhasil menemukannya, Yunho kembali pada Jaejoong. Hati-hati membopong tubuh yang terasa ringan untuk ukuran seorang pria itu lantas menidurkannya di atas tempat tidur berseprei maroon dengan motif gajah kecil. Terlalu banyak benda bermotif gajah di dalam rumah Jaejoong sehingga Yunho berpendapat pria yang pernah membuatkannya bekal semasa SMA dulu sangat menyukai binatang besar berbelalai itu.

***********************************

Mata sekelam malam namun bening serupa mutiara hitam itu terbuka akibat sinar terang yang masuk melalui jendela kamarnya –yang tirainya telah disibak. Melesakkan wajah ngantuknya pada bantal empuk sesaat sebelum melentangkan tubuhnya. Aroma kopi menguar memenuhi ruang kamarnya.

“Kau tidur disini semalam?” tanya Jaejoong.

“Aku tidak berhasil menidurimu ketika SMA dulu maka aku melakukannya semalam.” Jawab Yunho santai sambil meminum kopinya dengan tenang.

Jaejoong diam saja. Ditatapnya pria yang duduk berselonjor di atas tempat tidurnya, di sampingnya.

“Aku membuatkan secangkir untukmu juga.”

“Kau mencuri kopiku?”

“Sepertinya begitu.”

Jaejoong bangun dari tidur malasnya, meninggalkan tempat tidur dan berjalan menuju meja kecil dekat jendela dimana di atas meja terdapat secangkir kopi hangat. “Kenapa kau tidak pergi? Apa kau tidak bekerja?”

“Aku yang menggaji orang-orang, bukan aku yang digaji. Tidak ada yang bisa menyuruhku untuk buru-buru.” Gumam Yunho. “Tempat ini nyaman. Aku mau tinggal disini.”

“Belilah unit lain kalau begitu!”

“Aku mau tinggal bersamamu.”

Jaejoong berbalik menatap Yunho. Mata indahnya seolah sedang mengejek pemilik mata serupa mata musang itu dengan makian kelas rendah. “Unit ini bukan milikku.”

“Aku bisa membelikannya untukmu.”

“Terima kasih. Aku tahu kau sangat mampu melakukannya. Tetapi aku tidak butuh kau ikut campur dalam hidupku.”  Jaejoong memunggungi Yunho. Menatap hiruk pikuk di bawah sana. Sepertinya hari sudah cukup siang.

Yunho sendiri dengan gusar meletakkan cangkir kopinya di atas meja nakas samping tempat tidur sedikit kasar. Entah kenapa penolakan Jaejoong sangat mengganggunya. Membuatnya marah. Dengat cepat dihampirinya Jaejoong, dengan paksa memutar tubuh Jaejoong menghadapnya hingga cangkir kopi yang Jaejoong pegang jatuh ke lantai dan pecah. Yunho tersenyum puas melihat wajah kaget Jaejoong. Tanpa membiarkan Jaejoong berkomentar segera saja disambarnya bibir merah penuh Jaejoong untuk diciumnya secara paksa.

“Apa yang kau lakukan brengsek?!” maki Jaejoong ketika dirinya berhasil melepaskan ciuman brutal Yunho.

Tanpa berkomentar Yunho menyeret paksa Jaejoong dan menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur sebelum dirinya menempatkan diri di atas Jaejoong. “Penyesalanku karena telah membuang bekal buatanmu dulu membuatku menderita hingga sekarang. Aku bersumpah akan menghancurkan dirimu bila kau tidak mau menjadi milikku!” usai berkata seperti itu Yunho mencium Jaejoong lagi, bahkan kali ini ciumannya pun didaratkan pada leher jenjang Jaejoong yang memiliki aroma khas.

“Tidak! Hentikan! Hari ini aku ada pemotretan! Berhenti! Jung Yunho!”

Seperti diperintah untuk meneruskan –bukannya menghentikan− Yunho justru memberikan gigitan-gigitan kecil disekitar leher Jaejoong. “Pemotretan untuk poster iklan pakaian dalam? Tidak! Aku sudah mengurus soal itu dan membatalkannya.”

“Apa? Pembatalan kontrak? Aku harus menanggung rugi dan mengembalikan kontrak 2 kali lipat brengsek!”

“Sudah ku selesaikan.” Ucap Yunho tenang. “Bisakah kau jangan berteriak? Sudah ku katakan aku sudah mengurus soal itu. Ku selesaikan sampai ke ekornya sekaligus. Apa yang kau cemaskan? Kau tidak harus mengembalikan uang kontrak yang sudah kau terima karena aku sudah membayar mereka dengan uangku sendiri.”

“Aku benci padamu.”

“Bencilah aku sesukamu.”

“Jangan mencampuri hidupku!”

“Hidupmu adalah milikku mulai sekarang! Kau paham?!”

“Mati saja kau!”

“Aku akan mati setelah kau melahirkan keturunan untukku.”

“Dalam mimpimu!”

***********************************

“Jaejoong sshi? Apa yang kau lakukan disini?” tanya Ahra suatu siang ketika kebetulan pintu lift yang ia naiki terbuka dan menampilkan sosok Jaejoong.

Jaejoong tersenyum manis. “Well, aku perlu bicara dengan Yunho untuk membicarakan kontrak kerjaku yang dibatalkan begitu saja olehnya.”

“Eh?” Ahra kelihatan terkejut. “Ketika sudah selesai maukah kau minum kopi denganku? Kopi di kantin cukup enak.”

“Tentu saja.” Jaejoong melangkah masuk, melambaikan tangan pada Ahra yang kini sudah berada di luar lift. Tersenyum ramah sebelum pintu lift tertutup lagi.

Sebenarnya Jaejoong siap meledak kapan saja. Belakangan ini Yunho bersikap aneh padanya. Direktur muda itu mengirimi Jaejoong barang-barang mahal mulai dari jam tangan, perhiasan mahal –walaupun dirinya bukan perempuan− tas bermerk, bahkan mobil mewah pun datang atas nama Jaejoong tadi pagi. Namun konsekuensi yang Jaejoong dapat adalah pembatalan semua kontrak kerja yang sudah ditandatanganinya untuk beberapa minggu ke depan.

Begitu sampai diruangan yang dituju tanpa sungkan Jaejoong masuk begitu saja. Sekertaris Bae yang melihat kedatangan Jaejoong sangat terkejut namun tak urung menyapa untuk sekedar rasa kesopanan.

“Simpan amarahmu sebentar! Aku harus memeriksa beberapa laporan. Kau ingin minum apa biar sekertaris Bae menyiapkannya untukmu.” Ucap Yunho sambil membubuhkan tanda tangannya pada salah satu dokumen yang sedang diperiksanya.

“Aku ingin minum darahmu! Suruh sekertaris Bae menggorok lehermu untukku sekarang!” ucap Jaejoong penuh kekesalan.

“Kau sangat marah rupanya?”

Yah!”

Yunho tidak berkomentar pun dengan sang sekertaris. Begitu ia selesai membubuhkan tanda tangan pada dokumen-dokumen itu segera ia serahkan pada sang sekertaris. “Revisi yang belum ku tanda tangani dan serahkan padaku sore nanti!”

“Ya Direktur.” Sekertaris Bae membungkuk sedikit pada Yunho dan Jaejoong sebelum meninggalkan ruangan atasannya.

“Jadi?”

“Apa hakmu membatalkan semua kontrak kerjaku, hah?”

“Ku berikan kau 5 kali lipat sehari dari nilai kontrak kerjamu.” Ucap Yunho tenang. “Hanya kontrak iklan dan pemotretan yang memamerkan tubuhmu saja yang ku batalkan! Selebihnya masih. Bukankah besok kau masih melakukan pemotretan untuk majalah fashion? Untuk iklan tas, sepatu dan baju tidak ku batalkan satu pun. Hanya iklan pakaian dalam dan beberapa iklan dengan konsep yang tidak bisa ku terima yang ku batalkan.”

“Yang bekerja aku bukan kau!”

“Tubuhmu adalah milikku! Jangan macam-macam! Kalau kau berkeras maka akan ku hancurkan pihak yang sudah mengontrakmu.”

“Kau bukan managerku!”

“Sekarang aku managermu!”

Yah!”

“Aku sedang mempertimbangkan membeli sebuah rumah untuk kita tinggali bersama.”

“Jangan seenakmu sendiri Jung Yunho! Aku bukan mainanmu!”

“Malam ini kau akan ikut denganku.”

“Kemana?”

“Makan malam bersama orang tuaku! Aku akan mengenalkanmu pada mereka sebagai calon pendamping hidupku.”

“APA?”

***********************************

***********************************

***********************************

Wednesday, May 17, 2017

3:50:29 PM

NaraYuuki

Prosa Yang Tak Berjiwa (I)

Burung besi itu sudah mendarat beberapa meenit yang lalu, para penumpang dengan tertib keluar dari perutnya yang nyaman, satu per satu seperti barisan semut yang keluar dari lubang sarangnya. Tak terkecuali seorang pria tampan yang sedang menarik kopernya keluar dari terminal kedatangan. Kaca mata hitam membingkai matanya, menegaskan keangkuhan dari rahangnya yang tegas. Kaki jenjangnya melangkah panjang-panjang menimbulkan decit nyaring yang diabaikan oleh kabnayakan orang yang kebetulan juga berlalu-lalang di tempat itu.

“Tuan…” seorang supir sudaah menantinya dengan sabar. “Langsung pulang atau ingin mampir ke suatu tempat dulu?” tanyanya ramah.

“Pulang. Aku ingin istirahat.” Jawabnya singkat –cenderung dingin.

Pria dewasa itu ingat betul penyebab kepergiannya –terpaksa pergi− beberapa tahun silam. Sebuah kejadian yang kini menurutnya sangat konyol dan kekanak-kanakan. Patah hati. Ya. Ia patah hati. Gadis yang ia sukai menolaknya. Wajar saja sebenarnya mengigat sang gadis adalah bunga paling cantik disekolahnya kala itu dan sialnya gadis yang beegitu ia puja sudah memiliki pasangan. Sialan!! Ia tidak sudi mengingat kejadian menyebalkan yang masih berbekas sampai sekarang. Dipilihnya untuk tidur selama perjalanan pulang daripada memikirkan masa lalu yang terlalu memuakkan.

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

Hari kelulusan, 10 tahun yang lalu.

“Aku menyukaimu… maukah kau mempertimbangkan perasaanku ini?”

Wajah gadis itu tampak muram dan sedih namun sebuah senyum terukir pada wajah cantiknya. “Maafkan aku, Niel. Seperti yang kau tahu… aku sudah bertunangan. Mungkin setelah ini kau akan menemukan gadis lain yang lebih baikk dariku.”

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

“Aku kaget sekali ketika kau tiba-tiba saja menelponku pagi ini.” Seorang pria berkaca mata dengan rambut dicat agak keecoklatan menyesap kopinya. “Kapan kau pulang?” tanyanya.

“Kemarin.”

“Ku dengar kau sudah meenjadi pengusaha sukses di luar sana, Niel. Ku kira akhirnya kau merindukan kampung halamanmu juga pada akhirnya.”

Daniel –Niel− tidak berkomentar apa-apa. Hanya meneguk capucino hangatnya sambil menikmati pemandangan di luar kedai kopi. “Apa dia sudah menikah?” tanyanya tiba-tiba.

“Dia…? Siapa yang kau maksud?”

“Tetanggamu.”

“Ah… Flor…” Deren, pria berkaca mata dengan rambut kecoklatan itu mengalihkan matanya dari sepasang mata tajam mengintimidasi milik sahabat lamanya. “Tidak… Dia belum menikah. Tidak pernah ada pernikahan sejauh yang ku tahu.”

Niel nampak terkejut. “Dia sudah bertunangan dengan Chris bukan?”

Deren menghela napas panjang, wajahnya menyimpan keraguan. “Banyak hal yang sudah terjadi. Dan seorang pemuda kaya yang sedang patah hati bisa jadi sangat berbahaya.” Tukas Deren. “Kita berdua tahu hal itu dengan baik.”

Niel mengerutka kedua alisnya, wajahnya diliputi rasa penasaran yang besar alih-alih menuntut cerita yang lebih detail dari Deren.

“Aku akan mengingatkanmu jika lupa.” Ucap Deren dengan wajah tegang.

“Soal?” tanya Niel.

“Seminggu setelah hari kelulusan, diadakan pesta perpisahan di aula sekolah.”

Samar, ingatan Niel tentang hari-hari kelabu itu berkelebatan didalam tempurung otaknya yang sudah tersegel oleh sakit hatinya.

“Kita berdua tahu, saat itu kau masih mempermasalahkan sakit hatimu karena gadis yang kau sukai menolakmu.”

“Jangan ingatkan aku!” Niel memperingatkan.

“Biarkan aku menyelesaikan cerita sampai tuntas baru kau boleh berkomentar! Menghajarku pun aku terima. Tapi dengarkan dulu!”

Niel mendengus kesal.

Deren tiba-tiba saja menatap Niel dengan sungguh-sungguh. “Kita berdua tahu bagaimana kau –yang kala itu entah kerasukan setan apa− mengendap-endap mengikutinya pulang ke rumah dan…”

“Hentikan Deren!” suara Niel tajam penuh ancaman.

“Kau memerkosanya dengan sangat keji Niel.”

Niel memejamkan matanya. Seraut rasa bersalah menyelimuti wajah tampannya. “Aku sudah minta maaf. Aku… kau tahu aku begitu memujanya. Aku mengharapkan dia menjadi milikku tetapi… tetapi penolakannya padaku membuatku hancur sampai sekarang!” terbata-bata Niel mencoba membela dirinya pada kesalahan masa lalu yang ditimpakan padanya.

Deren menatap tajam Niel, penuh amarah namun juga menyimpan rasa kasihan. “Kau pergi ke luar negeri begitu saja tanpa menolah sekali pun.”

“Hidupku hancur karena penolakan itu dan juga… perbuatan jahatku padanya.”

“Flor hamil… dia mengandung anakmu.”

Mata Niel melotot hingga nyaris keluar. “Apa?” tanyanya. Raut wajah syock dan bingung tercetak jelas pada wajahnya.

“Semula keluarganya menyangka anak yang dikandungnya adalah anak Chris mengingat mereka sudah bertunangan. Chris pun tidak keberatan dengan keadaan Flor dan bersedia menjadi ayah bagi bayinya, tetapi…” Deren terlihat ragu. “Beberapa minggu setelah itu Flor jadi histeris. Ia mengamuk, menjerit, menangis dan meraung-raung. Bahkan mencoba bunuh diri. Setelah diperiksa ternyata Flor mengalami depresi akut.”

Niel terdiam. Hatinya diliputi rasa bersalah.

“Flor frustasi karena dirinya hamil tanpa suami. Chris hendak menikahinya tetapi Flor menolak dengan mengatakan dirinya tidak pantas untuk pemuda sebaik Chris. Hingga bayi itu lahir, tetapi hanya beberapa jam saja. Bayi itu pada akhirnya meninggal karena lahir prematur dan gagal jantung. Mentalnya terguncang sampai sekarang.”

Niel menatap kosong wajah sahabatnya. Air mata mengalir membasahi wajah tampannya. Perasaan bersalah itu menghajarnya dari dalam membuatnya lingliung dan bingung. “Dia mengandung anakku? Dan meninggal? Anakku?”

Kali ini Deren yang terdiam. Belum pernah seumur hidupnya sahabatnya sejak TK itu menangisi sesuatu.

“Aku sudah menghancurkan hidup orang yang ku cintai dan membunuh anakku sendiri?”

“Kau tidak membunuhnya, Niel.”

“Bawa aku… aku ingin bertemu dengannya. Tolong!” ratap Niel.

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

Perempuan cantik dengan rambut sebatas bahu –yang diikalkan− itu duduk diam di sebuah kursi bambu panjang di depan sebuah rumah kecil bercat lavender. Disekelilingnya bunga-bunga sedang bermekaran –berwarna-warni− yang beberapa diantaranya dihinggapi kupu-kupu cantik berwarna kuning pucat. Perempuan cantik itu terlihat pucat. Ujung gaun panjang abu-abu yang ia kenakan melambai-lambai, membelai ujung-ujung runcing rumput golf di bawahnya. Sepasang sandal jepit berwwarna merah muda melingkupi kakinya yang terlihat kurus dan kuyu.

Dari dalam mobil yang terparkir di seberang jalan, Niel terisak-isak melihat kondisi perempuan yang dulu sangat ia puja, ia damba menjadi sosok hancur seperti itu. Semua karena kesalahan dan keegoisannya.

“Orang tuanya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Mungkin syock mendapati keadaan putri cantik mereka yang seperti itu. Sekarang dia dirawat oleh kakak laki-lakinya.” Terang Deren.

Niel hambir mendobrak pintu mobil namun Deren berhasil mencegahnya.

“Tenangkan dulu dirimu baru menemuinya. Aku ragu dia akan mengenalimu.”

“Bagaimana dengan Chris?”

“Dia sudah menikah dan memilikki seorang putri.” Jawab Deren. “Dia masih sering mengunjungi Flor –setahuku.”

Tidak lagi mampu menahan diri akhirnya Niel keluar juga dari dalam mobil dan beerlari kecil menyeberangi jalan meenuju rumah bercat lavender, Deren mengikutinya dari belakang dengan cemas.

“Niel, jangan mengejutkannya!” ucap Deren setengah berteriak.

Tapi Niel tidak memedulikannya. Begitu sampai di halaman rumah bercat lavender langkah Niel memelan seperti digelayuti oleh berton-ton batu. Tubuhnya gemetar, matanya nanar. Florist, gadis yang ia damba dan puja dulu –sekarang pun masih− tampak begitu rapuh dan pucat. Tatapannya kosong tanpa semangat hidup. Dengan gontai Niel mendudukkan dirinya di hadapan Flor, diraihnya jemari pucat perempuan cantik itu untuk diciumnya. Lagi-lagi air mata mengalir membasahi wajah tampannya.

“Flor…” suaranya bergetar ketika menyebut nama si perempuan.

Tidak ada sahutan.

“Aku Niel –Daniel. Kau ingat?”

Sama sekali tidak ada sahutan. Dan hal itu membuat Niel putus asa.

“Dia bahkan tidak mengenali keluarganya sendiri.” Ucap Deren.

Niel diam seribu bahasa. Perempuan cantik itu ibarat mahluk transparan yang berasal dari tanah tak bertuan –tidak mengerti bahasa dan tidak bisa diajak berkomunikasi. Membuat Niel bingung apa yang harus ia berbuat demi menarik perhatian sang perempuan.

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

“Apa kau tidak waras?” pria itu menatap Niel dengan tatapan heran dan curiga. “Kau ingin menikahi Flor? Bukankah kau sudah lihat sendiri bagaimana keadaannya?! Kau masih ingin menikahinya? Benar-benar sinting!”

“Ya. Aku sinting. Tetapi aku tetap ingin menikahinya.” Ucap Niel tanpa keraguan sedikitpun.

“Dengar! Menikah dengan adikku sama saja menikah dengan boneka! Dia akan menjerit histeris bila ada pria asing didekatnya, bagaimana mungkin kau menikahinya?” sangsi Nathan –kakak laki-laki Flor. “Maafkan aku!! Tetapi carilah perempuan yang lebih pantas untukmu! Perempuan waras!”

Niel menundukkan kepalanya dalam. “Aku tetap ingin menikahi Florist.”

“Apa yang kau lihat dari adikku, huh? Adikku gila! Dia memang cantik tapi gila! Tidakkah kau mengerti?” bentak Nathan. Dalam suaranya yang penuh amarah terdapat kesedihan yang coba ia tutupi.

“Aku bisa menerima semua itu.” Ucap Niel kalem.

“Ku rasa aku perlu menghajarmu agar kau sadar!” geram Nathan.

“Silakan!”

“Pulanglah!” usir Nathan pada akhirnya. Lelah berbicara pada pemuda kurang waras dihadapannya.

“Tidak sebelum lamaranku diterima.” Ucap Niel keras kepala.

“Tolong! Biarkan adikku…”

“… maaf…. Aku tetap ingin menikahinya.”

“Kenapa?!” raung Nathan kehilangan kesabarannya.

Wajah sendu Niel ketara sekali ketika menatap wajah berang Nathan. “Ku rasa dulu Flor pun sebenarnya ingin mengiyakan perasaanku ketika aku mengatakan aku meenyukainya. Tetapi ia menolakku karena sudah punya tunangan.” Ucap Niel pelan. “Sekarang tunangannya sudah membina keluarga, tidak masalah bila….”

“Masalahnya adikku sudah gila! Gila!” bentak Nathan. “Flor yang dulu kau kenal tidak sama dengan Flor yang sekarang!”

“Aku bisa menerimanya.”

“Keras kepala!”

“Maaf, tetapi aku sudah tidak punya ayah dan ibu sejak usiaku 5 tahun. Kakekku sedang di luar kota jadi tidak bisa ikut kemari untuk melamar Florist.”

“Kau ngelindur!”

Niel tidak gentar. Ia tahu Nathan mulai melunak. “Setelah menikah, aku akan membawa Florist tinggal bersamaku. Aku punya kenalan seorang dokter yang mungkin bisa sedikit membantu.”

“Kau sudah merencanakan hal ini sebelumnya?”

“Ya.”

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

Florist tampak cantik dengan gaun panjang penuh renda dan manik-manik yang sedang ia kenakan. Warna gaun itu putih tulang. Rambutnya ditata sedemikian rupa hingga membuatnya tampak anggun dan cantik. Riasan tipis pada wajahnya merupakan pelengkap agar wajah menawan itu tidak terlihat pucat.

Perempuan cantik itu bingung kenapa dirinya harus memakai pakaian secantik itu, kenapa harus berdandan dan kenapa harus banyak orang asing disekitarnya. Ia ingin menangis dan menjerit karena terlalu takut tetapi kakaknya sudah berpesan bahwa dirinya tidak boleh menangis apalagi mengamuk karena takut jadi sebisa mungkin ia tahan ketakutannya.

Ketakutannya bertambah ketika ada seorang pria asing menggandeng tangannya dan tersenyum aneh. Flor berpikir senyum pria asing itu mirip senyum serigala. Matanya berkaca-kaca ketika pria itu meenuntunnya menuju mobil yang Flor ketahui bukan mobil kakaknya –mobil yang biasa ia naiki ketika jalan-jalan. Wajahnya menoleh ke belakang, menatap sang kakak yang nampak tersenyum –tapi kelihatan sedih− sedang melambaikan tangan padanya.

Kemana pria asing itu akan meembawanya? Flor tidak tahu. Ia hanya meenurut ketika pria asing itu membimbingnya untuk naik ke dalam mobil pun si pria yang tidak ia tahu siapa.

Rasa gugup membuat Flor meremas-remas jemari tangannya bergantian. Sepasang bola mata indahnya bergerak gelisah melihat kesekeliling mobil. Menatap wajah asing supir dari pantulan kaca spion, menatap takut-takut pria asing yang duduk di sampingnya sambil tersenyum mengerikan –di mata Flor− padanya.

“Kau akan pulang bersamaku Florist.” Ucap si pria. “Mulai hari ini aku adalah suamimu dan kau adalah istriku. Kau bukan lagi tanggung jawab kakakmu, Nathan. Kau adalah tanggung jawabku sekarang. Kalau kau butuh sesuatu atau merasa tidak nyaman, katakan padaku ya….”

Flor tampak bingung. Pria asing ini mengatakan bahwa ia adalah suaminya, dan dirinya adalah istrinya. Suami istri? Sama seperti Nathan dan Natalie –kakak ipar Flor− kalau begitu?

“Namaku Daniel –Niel− dan aku suamimu. Kau akan pulang ke rumah kita.”

Daniel… Niel… Niel… sepertinya Flor pernah mendengar nama itu disuatu tempat tetapi ia tidak bisa mengingat dimana ia mendengar nama yang tidak asing itu.

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

Sudah seminggu ini Niel menyandang status sebagai seorang suami namun bukan bahagia yang ia rasakan melainkan perasaan prihatin dan putus asa. Malam pertama yang seharusnya membahagiakan berubah meenjadi bencana. Flor yang kebingungan karena kamar yang ia tempati bukan kamarnya yang dahulu menjerit-jerit memanggil nama kakaknya –Nathan− butuh waktu hampir 3 jam lamanya untuk menenangkan perempuan cantik itu. Bencana belum usai. Ketika hendak tidur, Flor menjerit ketakutan karena Niel hendak tidur seranjang bersamanya. Alhasil Niel mengalah dan tidur di atas lantai beralaskan karpet beludru tebal.

Setiap paginya pun serupa bencana lain bagi Niel ketika harus membujuk Flor makan atau mandi. Flor tidak bisa memakai bajunya sendiri dan akan menjerit ketakutan ketika Niel berusaha memakaikan baju padanya. Pun ketika makan, Flor kehilangan kemampuannya makan dengan benar sehingga butuh orang lain untuk menyuapinya tetapi bila Niel berusaha menyuapkan makanan pada Flor, istrinya itu akan menangis ketakutan. Niel putus asa. Pujaan hati yang begitu didambanya berhasil menjadi miliknya walaupun tidak utuh. Ibarat prosa yang tidak berjiwa, itulah sosok Florist sekarang.

“Aku mohon….” dengan perlahan digenggamnya tangan Florist yang gemetar ketakutan, “Aku tahu aku salah. Maafkan aku. Tetapi tolonglah…. Aku…. Aku ingin menebus semuanya. Biarkan aku membantumu.” Niel tergelak disela tangisan yang coba ia tahan. Ia merasa lelah dan putus asa.

Niel terisak, meratap dan menyesali perbuatan kejinya yang sudah membuat pujaan hatinya tersakiti seperti ini. Jika bisa memutar waktu kembali akan ia lakukan apa saja guna menebus perbuatannya. Akan tetapi Niel sadar, waktu akan terus maju meninggalkan luka dan penyesalan dibelakangnya.

Niel tersentak ketika merasakan pipi sebelah kirinya dibelai lembut. Ia mendongak. Mata indah itu meskipun terlihat hampa dan kosong namun ketika bertumbuan dengan matanya terasa pancaran kehidupan didalamnya.

“Flor…?”

“Maafkan aku yang seperti ini….” ucap perempuan cantik itu ambigu.

“Flor? Kau… ingat aku?”

Tidak ada sahutan. Perempuan cantik itu berjalan menuju pintu keluar di sebelah kanan, menyusuri jalan setapak sampai di halaman belakang rumah. Niel mengikutinya dari belakang dalam kediaman yang takzim.

Niel mengawasi ketika Flor berjongkok diserumpun perdu –tanaman hias kaca piring− tangan pucatnya terjulur untuk mencabuti rumput liar disekitarnya. Tersenyum samar ketika tanaman itu bebas dari pengganggunya.

“Kau ingin menanam bunga?” tanya Niel ragu-ragu.

Flor mendongak menatap wajah Niel. Tanpa ekspresi takut dan tidak nyaman. Wajah cantik itu terlihat begitu naif. “Boleh?”

Bibir Niel menggembangkan senyum bahagia. “Tentu saja. Kau ingin menanam bunga apa? Aku akan memesannya untukmu.”

Flor memiringkan kepalanya sedikit –berpikir− mengingat-ingat nama-nama bunga yang dikenalnya. “Mawar? Anggrek tanah? Camelia? Dahlia? Krisantemum? Bunga Matahari? Bunga sepatu? Lili?” ucapnya kurang yakin. “Kau mau membantuku menanamnya?”

“Dengan senang hati.”

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

“Aku sedikit kaget ketika Flor yang membukakan pintu untukku.” Ucap Deren sambil meminum kopinya. Matanya mengawasi sosok cantik yang sedang sibuk meenyirami bunga-bunga di halaman belakang dengan gembira. “Kau membuat banyak kemajuan.”

“Bukan aku. Tetapi Flor sendiri.” Jawab Niel. “Dia bisa lancar berkomunikasi ketika berurusan dengan tanaman dan binatang. Dengan lancar dia menyeebut nama dan jenisnya.”

“Karena itu kau meembeli selusin kucing?” tanya Deren. Diliriknya beberapa kucing kecil yang sedang berlarian di lantai dapur belakangnya melalui jendela kaca.

“Flor bingung memilih mana yang ia sukai jadi ku ambil semua.”

Deren tersenyum penuh arti. “Dan akuarium raksasa di ruang tamumu?”

“Flor senang memberi makan mereka sebelum tidur siang.” Komentar Niel.

“Bagaimana dengan piringan hitam yang ada di ruang makan?”

“Flor akan lebih mudah dibujuk untuk makan ketika mendengar musik. Aku mengambil piringan hitam itu dari rumah kakekku.” Niel berujar. “Aku punya beberapa kotak musik di kamar. Flor memutarnya sebelum tidur.”

“Kalian tidur bersama?” tanya Deren tanpa menyembunyikan rasa terkejutnya.

“Kalau maksudmu tidur sekamar iya. Kami memang tidur sekamar. Flor di kasur dan aku di lantai?”

Deren tidak mampu menutupi wajah kagetnya. “Lantai? Kau? Kau tidur di lantai? Daniel yang ku kenal tidak akan mau melakukannya!”

“Demi Flor, ku lakukan segalanya.”

Tiba-tiba obrolan Deren dan Niel terhenti akibat pekikan yang keluar dari bibir Flor. Dengan tergesa Niel berlari menghampiri istrinya tanpa memedulikan kakinya yang tersandung-sandung. Jantungnya berpacu cepat. Ketakutan tak beralasan menyergap perasaan Niel. Niel takut istrinya terluka karena ia kurang waspada mengawasinya.

“Flor… apa yang terjadi?” napas Niel terengah.

“Aku menginjak caladivanya –nama bunga− sampai batangnya patah.” Ratap Flor.

Astaga! Niel kira terjadi sesuatu pada istrinya. Ternyata Flor menjerit karena sudah menginjak salah satu bunga yang baru beberapa hari lalu ia tanam.

“Tidak apa-apa! Kita akan beli bibit yang baru besok.” Ucap Niel menenangkan. Ia ingin sekali memeluk istrinya namun bila ia melakukan hal itu bisa dipastikan sang istri akan menjerit panik dan takut.

“Bila kau bekerja siapa yang menjaganya? Kau tidak memiliki pembantu rumah tangga.”

Niel menoleh pada Deren sejenak lantas kembali menatap sendu istrinya yang sudah kembali berkutat dengan tanamannya. “Pembantu kakek akan dikirim kemari untuk menjaganya.”

“Flor tidak histeris?”

“Tidak. Dia –si pembantu− adalah seorang wanita paruh baya, sangat keibuan dan sabar. Flor senang bila si bibi datang kemari.”

“Aku berpikir… bagaimana seandainya Flor bisa mengingat siapa sebenarnya kau ini.” Gumam Deren. “Apa yang akan terjadi?”

Niel tidak langsung merespon. Pikirannya menerawang entah kemana. “… aku tidak mau membayangkan hal itu.”

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

Perkembangan Flor sangat pesat. Perempuan cantik itu sudah beberapa hari belajar memasak dari si bibi –pembantu kakek Niel yang datang ke rumah tiap kali Niel berangkat kerja. Bukan masakan yang rumit, hanya masakan sederhana dan mudah dibuat. Seperti nasi goreng, sayur kuah, tumis sayur dan goreng telur, rasanya pun cukup enak. Yang paling bahagia adalah Niel. Selain bisa merasakan hasil masakan istrinya, Flor kini mulai banyak bicara tentang sayuran, kebun yang ia rawat dan anak-anak kucing yang manja.

“Apa yang kau masak hari ini? Baunya harum sekali.” Tanya Niel yang memperhatikan sang istri bergerak ke sana-kemari dengan lincah.

“Telur balado? Bibi baru mengajariku tadi pagi. Aku ingin coba memasaknya.”

“Aku siap mencicipinya.”

Flor berjalan menuju kulkas untuk mengambil bumbu yang dibutuhkannya. Langkahnya terhenti ketika jemarinya menyentuh daun pintu kulkas yang meemantulkan bayangan sosok lelaki yang tengah tersenyum memperhatikannya dibalik meja makan. Tiba-tiba kepalanya berdenyut sakit hingga tubuhnya goyah. Bisa ia dengar suara yang menjeritkan namanya namun ia tidak mampu menyahut. Kilasan kejadian mengerikan itu berkelebatan seperti film rusak, cepat dan menyesakkan.

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

            Flor berdiri kaku di depan pintu kamarnya ketika pemuda itu menatap nyalang padanya. Perasaan takut dan ngeri menyergap gadis cantik itu begitu melihat mata penuh kebencian, dendam dan penuh luka itu menatapnya.

“Niel…?”

“Aku tidak bisa… aku tidak bisa menerimanya!”

“Kau mau apa?”

“Kalau aku tidak bisa memilikimu maka akan ku ambil milikmu yang berharga!”

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

“Syukurlah! Tunggu! Jangan bangun dulu! Aku sudah memanggil dokter untuk memeriksamu.” Ucap Niel penuh kekhawatiran. Wajah tampannya terlihat begitu panik.

Flor menatap pria itu dalam-dalam. Ada yang berdenyut nyeri di dalam dadanya. Matanya berkaca-kaca ketika memandang mata yang penuh ketakutan dan kehilangan itu. “Kau… kenapa melakukannya?”

“Flor…?”

“Pada malam perpisahan… kenapa kau lakukan hal itu padaku.”

“Kau… Kau ingat?”

“Bahkan aku bisa mengingat dengan jelas bagaiman rasanya ketika bayiku lahir dan kemudian Tuhan merampasnya dariku!! Katakan! Kenapa kau melakukannya padaku? Kenapa kau merusak hidupku? Kenapa? Kenapa harus aku?! Kenapa sekarang kau harus menikahiku?”

“Tidak ada alasan… maaf untuk yang sudah terjadi pada bayi kita! Aku menyesal. Sunggung. Tapi…”

“Aku ingin hidup sendiri tanpamu! Tanpa aromamu disekitarku! Aku tidak mau mengingatmu! Pergi dan tinggalkan aku sendiri!” jerit Flor.

Niel tersentak. Putus asa atas penolakan istrinya sendiri yang sepertinya sudah mulai ingat perbuatan keji yang Niel lakukan pada dirinya.

“Maafkan aku… tetapi… aku tidak mampu meninggalkanmu. Aku tidak bisa….” lirih Niel.

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

Sebenarnya ingin buat one shoot YunJae tetapi karena lagi demen nama Niel jadi ya buat cerita ga mutu begini. Ga apa-apa sih, Yuuki tetap akan melanjutkannya sesuai kemauan hati 😀

Tetap jaga kesehatan 😉

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

Saturday, August 12, 2017

11:31:25 AM

NaraYuuki