The Prince and His Heirs V

Para gerombolan rutilans –manusia yang memiliki kaki dan moncong menyerupai serigala itu terlihat berjalan bergerombol menembus hujan lebat, kaki-kaki kuat mereka terus melangkah pasti menuju tempat tujuan mereka, sebuah benteng tua yang menjulang tinggi beberapa kilometer didepan sana. Mengabaikan sang tawanan yang sudah kepayahan berjalan mengikuti langkah kaki gerombolan rutilans yang panjang-panjang.

Bruk! Tubuh lemas itu jatuh tersungkur di atas kubangan lumpur becek. Bajunya sudah basah kutup, tubuhnya menggigil dengan kondisi tangan dan kaki terikat tali. Napasnya terengah, matanya setengah terpejam –nyaris pingsan. Para rutilans berhenti untuk mencemooh sang tawanan yang sudah lemas itu, mereka bisa saja meninggalkan orang itu sendirian di tengah hutan namun sebagai balasannya mereka akan kehilangan kepala mereka. Pimpinan rutilan yang berbadan jauh lebih tinggi dan besar dibandingkan rutilans-rutilans yang lain memecah kerumunan untuk melihat kondisi tawanannya.

“Dia bisa mati bila terus diguyur hujan, Bos.” Ucap salah satu rutilans yang berbadan paling kecil diantara kelompoknya. “Kita harus beristirahat sebentar sebelum melanjutkan perrjalanan menuju benteng utama. Setidaknya sampai hujan ini reda.” Sarannya.

“Kau benar, Beast!” ucap sang pimpinan rutilans dengan suara berat lagi seraknya. Lantas ia menunjuk salah satu anak buahnya yang berada didekatnya. “Kau, gendong dia! Lindungi tubuhnya dari air hujan! Pastikan dia bertahan sampai di benteng! Kita tidak bisa berhenti sekarang atau kita akan kehilangan kepala kita karena kemarahan tuanku!” ucapnya kembali memimpin rombongan.

Lebih cepat daripada sebelumnya, para rutilans itu berjalan –sedikit berlari menyusuri jalanan yang becek. Bagaikan dikejar oleh sekumpulan troll gunung berbedan besar, para rutilans itu terus berjalan menyusuri jalan setapak yang tidak begitu lebar meninggalkan jejak kaki menyerupai jejak serigala di sepanjang jalan. Sampai akhirnya salah seorang dari kelompok itu bersorak kegirangan ketika melihat sebuah bangunan gelap menjulang tinggi sekitar satu kilo meter, tepat ditengah pedalaman hutan berkabut. Disekitar tempat itu tidak terlihat sama sekali binatang hutan yang lazimnya ada. Tidak ada katak yang bernyanyi kegirangan pada saat hujan turun, bahkan cacing dan lintah pun tidak terlihat di atas permukaan lantai hujan yang bacak. Semuanya terlihat sunyi sepi –sunyi sepi yang tidak lazim.

Tidak butuh waktu lama bagi para gerombolan rutilans itu untuk sampai ke benteng yang sejak awal mereka tuju. Benteng itu menjulang tinggi, gelap dan terasa lembab sengan pintu gerbang usang namun kokoh. Tidak ada cahaya obor yang menerangi benteng itu, tidak ada satu pun penjaga yang terlihat berjaga dipos-pos yang ada. Walaupun ragu namun pimpinan rutilans itu dengan mantap berjalan memasuki benteng berbentuk kubus itu. Memerintahkan beberapa bawahannya untuk menyalakan pemanas ruangan ada didalam benteng serta menyalakan obor dan lentera untuk memberikan sedikit cahaya untuk mereka.

Sang tawanan yang sudah mengigil kedinginan itu dibaringkan di dekat perapian tanpa diberi alas ataupun selimut untuk melawan rasa dingin yang menggigit sampai kedalam tulang belulang. Para rutilans sibuk menuangkan tuak dan membagi-bagikan makanan dingin pada kelompoknya didekat perapian lain, duduk menggerombol sambil menghangatkan diri masing-masing. Benteng itu kosong, seperti aula besar berjendela tinggi tanpa penutup. Asap dari perapian yang berfungsi sebagai pemanas membumbung tinggi, mengepul-ngepul keluar melalui jendela-jendela yang berada disekeliling tembok benteng.

“Bos, aku kurang suka situasi ini. Kenapa benteng yang seharusnya dijaga ketat ini justru kosong melompong?” Tanya Beast.

Menggigit paha rusa dan mengunyah dengan rakus, sang pemimpin rutilans menegak tuaknya sampai habis sebelum menyahut. “Kita tunggu saja! Tuanku tidak mungkin mengingkari janjinya sendiri.”

Beast mengangguk-anggukkan kepala kecilnya berulang kali. “Tapi Bos…”

“Makan dagingmu sebelum dihabiskan yang lain!” perintah sang pemimpin rutilans. “Apa tawanan kita sudah diberi makan? Kalau sampai dia mati, kita pun akan mati!”

Beast segera memerintahkan salah seorang rutilans untuk memberikan makan pada sang tawanan yang sedang menggigil kedinginan di ujung sana.

❤ ❤ ❤

Aroma daging yang berada di dekatnya membuat matanya yang terasa berat terbuka perlahan-lahan. Sekujur tubuhnya masih dingin namun rasa hangat dari perapian mulai merambat membuatnya merasakan sedikit kehangatan diantara gempuran rasa dingin. Tangan dan kakinya masih diikat oleh simpul tali yang kuat. Menggunakan perutnya, ia bergerak perlahan menuju sepotong daging dingin didekatnya –makanan pertama setelah 3 hari ia nyaris kelaparan. Para rutilans brengsek yang menjadikannya sebagai tawanan hanya memberinya minum tanpa memberikannya makanan. Air mata menetes membasahi wajah kusamnya yang penuh jelaga dan lumpur kering, mengigit perlahan-lahan sepotong daging yang diletakkan di atas lantai begitu saja tanpa alas. Menangisi keadaannya yang mengenaskan seperti ini, menangisi ketidakmampuannya melawan walaupun ia bisa seandainya ia memiliki sebilah pedang untuk membela dirinya sendiri. Menangisi nasib anaknya yang tidak ia ketahui setelah para rutilans menyerang desanya.

Mengunyah sambil menahan isakan agar tidak menarik para rutilans yang sudah mulai mabuk akibat banyaknya tuak yang mereka tegak, ia terus makan. Makan untuk mengisi perut dan mengembalikan tenaganya yang sudah terkuras habis. Ia bersumpah akan membunuh para rutilans brengsek itu andaikan ia punya sebuah kesempatan.

Tersentak kaget ketika ia mendengar para rutilans menggeram marah sambil melolong bersahut-sahutan. Tubuhnya mengejang kaku dirambati oleh ketakutan asing yang tiba-tiba saja menyergapnya. Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi pada para rutilans itu tetapi pastilah ada sesuatu yang memancing kemarahan mereka. Ingin menggeser tubuhnya untuk melihat apa yang sedang terjadi namun ia tidak bisa melakukannya, tubuhnya masih terlalu lemah.

❤ ❤ ❤

Para rutilans itu sudah mulai mabuk ketika satu drum tuak mereka habiskan. Beberapa rutilans bahkan sudah tergeletak di lantai tanpa alas –tertidur dan mabuk. Beberapa ada yang merancu-rancu tidak jelas karena pengaruh alkohol dalam tuak yang mereka konsumsi. Terlalu asik mabuk-mabukan membuat gerombolan rutilans itu kehilangan kewaspadaannya. Mereka tidak menyadari sesosok dengan jubah dan tudung kepala berwarna hitam telah berdiri di depan mulut pintu benteng sedari tadi –menunggu dan mengawasi mereka.

Dengan langkah ringan sosok itu berjalan mendekati gerombolan rutilans, suara langkah kakinya teredam sehingga tidak satu pun rutilans yang menyadari kedatangannya. Perlahan-lahan sosok itu menarik pedang panjang lagi besarnya, menggenggam erat gagang pedang itu lantas dengan gerakan sangat cepat dan gesit ia berhasil menebas kepala sang pemimpin rutilans.

Gerombolan rutilans yang kaget pada apa yang telah terjadi pada pimpinan mereka lantas menggeram marah, melolong bersahut-sahutan hingga benteng berbentuk kubus itu mendengungkan suara mereka. Anggota rutilans segera mencabut senjata mereka, mengacungkan dengan penuh kemarahan pada sosok asing bertudung dan berjubah hitam selegam malam itu. Beberapa rutilans segera menyerang sosok misterius itu dengan cepat dan agresif namun sosok itu berhasil menghindar dengan gesit. Tanpa kesulitan sama sekali sosok itu memenggal kepala para rutilans yang berniat menyergapnya. Satu per satu gerombolan rutilans itu tergeletak bersimbah darah dan mati. Rutilans-rutilans yang tersisa terdesak hingga sudut tembok benteng.

Sosok misterius itu mengangkat tangan kirinya, menunjuk para rutilans yang masih hidup, menggumamkan sesuatu hingga muncul sebuah cahaya aneh berwarna kemerahan dari tangannya melesat menuju arah para rutilans, menyinari tubuh mereka dengan cahaya kemerahan lembut –mirip cahaya senja pada musim panas namun berhasil mendatangkan pekikan dan lolongan kesahitan dari para rutilans sebelum akhirnya mereka berubah menjadi ongkokan debu tidak berharga.

❤ ❤ ❤

Tubuhnya mengejang ketika merasakan ada sesosok yang berdiri di belakangnya, diam dan mengawasinya dengan tatapan tajam seolah-olah mampu menembus hati dan pikirannya. Susah payah ia menelan ludahnya. Sosok misterius yang tidak bisa ia lihat itu berhasil melenyapkan gerombolan rutilans berjumlah 50 orang yang sudah menawannya sejak 3 hari terakhir. Ia tidak tahu apakah sosok misterius itu adalah orang baik ataukah orang yang jauh lebih berbahaya dari pada para rutilans itu. Ia takut untuk menebak, takut tebakannya salah.

“Nisa’….”

Tubuhnya mengejang mendengar suara yang dalam namun penuh kebijaksanaan itu. Suara yang pernah didengarnya dulu, lama sekali hingga ia sendiri tidak ingat sudah berapa lama ia tidak mendengar suara itu. Pergelangan tangan dan kakinya terasa kebas ketika simpul tali kuat menyakitkan yang sudah 3 hari membelenggu dirinya itu terlepas dari kulinya. Jejak kemerahan dan goresan tali masih tertinggal pada permukaan kulit pergelangan tangan dan kakinya. Tubuh lemahnya ditelentangkan, kepalanya di angkat ke atas pangkuan sosok misterius itu, membuat air matanya mengalir bagaikan anak sungai.

“Tu… Tuanku….” Ucapnya terbata.

“Jangan menangis Nisa’! Kau adalah orang paling berjasa dalam hidupku. Aku berhutang budi padamu.”

“Tuanku…”

“Tidak apa-apa, Nisa’. Tidak apa-apa…. Bukan salahmu. Aku yakin dia akan baik-baik saja. Dia adalah putraku, dia akan baik-baik saja. Tenanglah….” Jemari lembut itu mengusap wajah Nisa’ yang kotor penuh jelaga dan lumpur kering. “Aku yakin dia berada ditangan yang aman sekarang. Kini biarkan aku memulihkan tenagamu dan mengobati lukamu agar kau bisa melanjutkan perjalanan bersamaku.”

❤ ❤ ❤

Kabut semakin pekat, Max menyalakan lentera yang menggantung didekatnya sebagai peneragan. Meskipun seorang vampire namun kemampuan matanya akan sedikit berkurang bila ada sebuah kabut tebal yang menghadangnya.

“Kabut ini tidak wajar….” Komentra Max.

“Ku kira ini perbuatan Demon. Mereka biasa membuat kabut menjadi tebal dan pekat untuk menyesatkan rombongan yang melewati daerah tempat tinggal mereka.” Micky memberikan pendapat.

“Daerah ini bukan daerah pemukiman para demon seingatku.” Ucap Max. “Apa kau kira yang mengikuti kita adalah gerombolan demon perampok?”

“Bisa saja….”

Tiba-tiba sepasang kuda yang menarik kereta mereka meringik gelisah, enggan melanjutkan perjalanan. Lalu muncul sekitar 10 sosok yang mengepung kereta kuda mereka, memaksa Hyeri dan Hyunno yang semula berada dalam kereta kuda keluar dengan enggan.

“Max, jangan sungkan untuk berpesta….” Ucap Micky yang dengan cepat melompat dan menarik pedangnya, menyerang sosok demon yang berada didekatnya.

Urceolla dan Gobi ikut keluar dari dalam kereta, menerkam demon yang hendak menyerang Hyunno dan Hyeri.

Dalam situasi genting seperti ini Hyunno teringat pada ibunya. Andaikan ibunya tidak menyuruhnya pergi ia pasti tidak akan menghadapi hal berbahaya seperti ini.

“Hyunno awas!” jerit Hyeri.

❤ ❤ ❤

❤ ❤ ❤

❤ ❤ ❤

❤ ❤ ❤

❤ ❤ ❤

Maaf ya, karena laptop Yuuki sedang masuk rumah sakit akibat harus operasi chip jadi bisanya post yang ini dulu karena kebetulan hanya epep ini yang ada di flash disk.

Tetap jaga kesehatan ❤

Sunday, January 31, 2016

3:05:06 PM

NaraYuuki

The Prince and His Heirs IV

The Prince and His Heirs II

Perjalanan dari desa Druwe menuju desa Patagonia memakan waktu kurang lebih sehari semalam. Selama itu tidak ada desa ataupun pemukiman penduduk yang akan mereka lewati. Hanya ada pepohonan menjulang sepanjang perjalanan. Mereka –Hyunno, Micky, Hyeri, Max ditambah Urceolla dan Gobi akan melewati hutan hujan yang lembab, basah dan sedikit kurang bersahabat. Konon didalam hutan itu hidup binatang-binatang liar yang berbahaya dan beracun –terutama binatang malam. Namun karena hutan itu adalah satu-satunya jalan menuju desa Patagonia sehingga sepanjang perjalanan rombongan yang berangkat dari desa Atacama itu menemui beberapa rombongan kecil seperti mereka baik yang searah maupun yang berlawanan arah, baik yang berjalan kaki, berkuda ataupun naik kereta. Mereka adalah orang-orang dari berbagai ras yang bekerja sebagai pedagang didesa masing-masing, terlihat dari berkarung-karung barang yang mereka bawa bersama mereka.

Kali ini Hyunno duduk di samping Max yang menggantikan Micky, menjadi kusir sehari dan membiarkan Micky beristirahat –tidur sejenak. Hyunno terkagum-kagum melihat pepohonan disepanjang sisi jalan yang menjulang tinggi dengan ukuran batang sangat besar, bahkan diantara pohon-pohon yang ia yakini berusia sangat tua itu ditumbuhi oleh lumut dan benalu yang bergerombol mirip kumpulan binatang. Hidup dan dibesarkan digurun pasir membuat Hyunno merasa takjub luar biasa. Udara di hutan sangat sejuk –cenderung lembab berbeda dengan desa asalnya yang sangat panas pada siang hari dan sangat dingin pada malam hari.

“Lima kilo meter akan ada tanah lapang yang biasanya dijadikan tempat peristirahatan oleh para pelancong seperti kita. Kita bisa makan siang disana.” Ucap Max membuka percakapan. “Kalau kau lapar kau bisa makan gula-gulamu, Hyunno.”

“Paman sudah sering pergi ke desa Patagonia yang dimaksud paman Micky?” Tanya Hyunno.

Max tertawa dengan suara nyaring hingga beberapa pejalan kaki yang lewat dekat mereka menoleh melihat ke arahnya. “Aku? Bisa dikatakan aku ini orang berjiwa nomaden. Jadi hampir separuh dunia pernah ku kunjungi, Nak.”

“Benarkah? Apa Paman juga pernah berkunjung ke desaku?”

“Tentu saja… belum pernah.”

Hyunno merengut mendengar jawaban yang Max berikan.

“Ada banyak hal yang terjadi selama beberapa tahun terakhir ini sehingga aku tidak bisa mengunjungi teman-temanku. Tapi beruntung aku melihat kalian ketika berada di kota Mite sehingga aku tidak perlu bersusah payah mencari kalian.” Max tersenyum, “Ketahuilah Hyunno, bertemu denganmu adalah sebuah kelegaan luar biasa bagiku.”

“Paman mengenalku?”

“Dengan sangat baik tentu saja.” Jawab Max. “Aku bahkan sempat menggendongmu ketika kau masih bayi, kau mengigit tanganku hingga berlubang.” Mak memperlihatkan jari telunjuk kirinya pada Hyunno, pada ujung jari itu terlihat sebuah cekungan aneh.

“Orang tuaku…”

“Mari berdoa agar kita segera menemukan Mesa.” Max memotong ucapan Hyunno yang sepertinya ingin mengorek informasi dari dirinya.

“Paman… bagaimana dengan ibuku? Nisa’?” Tanya Hyunno. Semenjak meninggalkan desanya Hyunno tidak mengetahui apa yang terjadi pada ibunya dan bagaimana keadaan ibunya.

“Aku tidak tahu, Nak.” Jawab Max jujur. “Aku berharap Nisa’ bisa menjaga dirinya sendiri. Nisa’ adalah salah satu prajurit pilihan yang paling hebat. Bertempur adalah napasnya jadi semoga ia baik-baik saja.”

Hening sesaat, Hyunno memperhatikan burung berwarna-warni yang hinggap dicecabang pepohonan kisut, serangga yang terbang kesana-kemari untuk menenangkan pikiran kalutnya. Hyunno merindukan ibunya, Nisa’. Tapi ia dipaksa pergi meninggalkan ibunya, dipaksa meninggalkan kampung halamannya tanpa ia sendiri tahu apa sebabnya.

“Dari dalam lubuk hatiku, aku berterima kasih pada Nisa’ karena sudah membesarkanmu dengan baik. Saat situasi terasa sangat sulit, sendirian Nisa’ berlari sambil menggendongmu. Menjatuhkan orang jahat yang menghadang langkahnya hingga menemukan tempat berlindung dan membesarkanmu sampai sebesar ini. Aku benar-benar berterima kasih padanya.” Ucap Max dengan suara pelan.

Hyunno mendengarnya dalam diam, tidak berani menatap wajah Max yang mungkin saja sedang menunjukkan raut wajah sendu.

Max mengulurkan sebotol cairan berwarna merah pekat beraroma seperti buah apel pada Hyunno. “Kau harus meminumnya. Nanti malam adalah bulan purnama.”

Hyunno menerimanya dengan senang hati, meneguk isi botol berukuran sebesar gelas itu sampai habis. Rasa minuman itu seperti jus apel dengan sedikit perpaduan rempah-rempah yang tidak ia ketahui namanya. Tetapi secara keseluruhan minuman itu rasanya enak. “Apa namanya, Paman?”

“Minuman itu? Minuman itu bisa mencegah gejolak dahaga yang sering dirasakan oleh vampire yang baru menginjak usia 17 tahun sepertimu. Hanya beberapa campuran jus buah dan sedikit ekstrak darah.”

“Uhuk!” Hyunno menatap Max dengan mata terbelalak.

“Darah itu didapat dari bank darah, didonorkan oleh manusia yang sudah mendapat sertifikat kesehatan dan kelayakan untuk mendonorkan darahnya. Tenang saja! Bukan hasil dari membantai orang.” Max tersenyum ketika melihat raut cemas dan khawatir Hyunno. “Kau harus meminumnya ketika menjelang bulan purnama mulai sekarang. Bukan apa-apa tetapi untuk berjaga-jaga agar gejolak dalam dirimu tidak menyulitkan orang-orang disekitarmu dan dirimu sendiri, Hyunno.”

“Tapi aku bukan vampire, Paman.”

“Kau memang bukan sepenuhnya vampire, tetapi kau juga bukan manusia Anakku!” dengan sabar Max memberikan pengertian pada Hyunno. Jikalau bukan Hyunno pastilah Max sudah menonjok kepala orang tersebut untuk menyadarkannya perihal siapa dirinya yang sebenarnya. Sayangnya Max berhadapan dengan Hyunno yang mulai sekarang menjadi tanggung jawabnya.

“Lalu aku ini apa?”

“Kau adalah Hyunno terlepas dari mana asal usulmu dan siapapun orang tuamu. Kau tetaplah Hyunno dan memang harus seperti itu sampai nanti.” Jawab Max.

❤ ❤ ❤

Tanah lapang itu sudah terisi puluhan tenda-tenda aneka bentuk. Mulai dari yang atapnya mengerucut tinggi, persegi empat, sampai tenda yang hanya terbuat dari ranting dan dedaunan kering. Banyak ras yang beristirahat di tempat itu, bergerombol dengan kelompoknya masing-masing. Ada manusia, beberapa vampire, kurcaci, demon, gerombolan manusia-manusia kerdil yang ukuran badannya hanya setinggi anak-anak berusia 8 tahunan, bahkan ada beberapa elf dengan telinga runcing mereka yang sedang menyantap makan siang mereka dengan sangat anggun. Hyunno melihat semua itu dengan wajah terkagum-kagum.

“Kalau kita berada di dekat laut mungkin saja kita bisa melihat para putri duyung yang sangat seksi dan cantik.” Gumam Micky sambil mengerlingkan matanya ke arah Hyunno yang kebingungan.

“Para putri duyung yang berniat membunuh Paman kalau boleh ku ingatkan.” Sahut Hyeri kesal.

Max menuangkan sup hangat ke dalam mangkuk Hyunno yang sudah kosong. “Kau perlu makan yang banyak karena kau masih dalam tahap pertumbuhan, Anak muda!” guraunya.

“Paman… kenapa para elf itu berbisik-bisik saat melihat ke arah kita?” Tanya Hyunno penasaran.

Micky dan Max langsung menoleh untuk melihat sekilas pada kelompok elf yang duduk sekitar 20 meter dari tempat mereka beristirahat.

“Mungkin mereka ingin berkenalan dengan salah satu dari kita.” Gurau Micky.

“Atau….” Max tidak menyelesaikan ucapannya ketika melihat salah seorang elf –yang terlihat seperti ketua kelompok berjalan dengan ringan lagi anggun ke arah mereka. “Kita tunggu saja apa maunya.” Gumamnya pada dirinya sendiri.

Langkah yang ringan, lincah dan anggun itu membuat sang elf cepat sampai tanpa disadari oleh Hyunno dan Hyeri yang asyik melahap sup hangat mereka.

“Salam temanku….” Sapa sang elf ramah. “Maaf mengganggu waktu makan siang kalian, tetapi setahuku mahluk itu berasal dari tanah kami.” Sang elf menunjuk naga berukuran sebesar kucing yang sedang berebut sepotong daging kering dengan Gobi.

Max hanya tersenyum mendengarnya.

“Dan harimau itu adalah milik….” Sang elf menatap wajah Max dan Micky secara bergantian sebelum mengalihkan pandangannya pada Hyeri dan menatap lama-lama pada Hyunno yang gugup ditatap oleh mata jernih itu. “Maafkan kelancanganku, tetapi sepertinya aku paham sekarang kenapa binatang dari tanah elf bisa berada bersama rombongan kalian.”

“Bolehkan aku tahu apa yang membuat elf sepertimu berada ditempat terbuka seperti sekarang?” Tanya Micky. “Sebelumnya perkenalkan namaku…”

“Micky dan Max… aku sudah sering mendengar nama kalian. Namaku Frezo. Aku sedang melakukan perjalanan mencari obat untuk mengobati Tuan Putri.” Jelasnya.

Micky dan Max saling berpandangan –terkejut. Lantas menatap Frezo lagi.

“Bisa kau jelaskan apa yang terjadi padanya?” Tanya Max tanpa bisa menyembunyikan kekhawatirannya.

“Tuan Putri bertarung dengan Yang Mulia Raja –kakaknya sendiri ketika memaksa keluar dari istana untuk melakukan sesuatu hal yang tidak ku ketahui apa itu. Yang Mulia Raja terluka parah namun lukanya hanya luka luar sementara Tuan Putri secara tidak sengaja menyentuh tanaman beracun yang penawarnya tidak berada di tanah elf. Aku dan para pengikutku mencari penawar itu sampai disini.”

“Sudah kau dapatkan obat itu?” Tanya Max lagi.

Frezo mengangguk pelan. “Sudah kami dapatkan. Setelah berisitirahat sebentar kami akan melanjutkan perjalanan tanpa istirahat selama 2 hari ke depan untuk sampai ke istnana.” Jawabnya. Para elf bisa berjalan, bergerak lebih cepat daripada ras manapun. “Boleh aku menjabat tanganmu, Tuan muda? Ku rasa pada kesempatan berikutnya aku tidak akan mempunyai kesempatan untuk menjabat tanganmu lagi.”

Hyunno yang kebingungan mengulurkan tangannya untuk dijabat oleh Frezo, tangan sang elf sangat halus dan terasa sejuk berbeda dengan tangannya sendiri yang kasar.

“Silakan lanjutkan makan siang kalian, aku harus segera kembali memimpin kelompokku untuk bergegas ke istana.” Ucap Frezo yang dalam sekelebat sudah berjalan menuju teman-temannya sesama elf.

“Ku rasa kita pun harus cepat bergegas.” Ucap Yoochun. “Hyunno, Hyeri segera selesaikan makan siang kalian! Setelah itu beresi barang-barang kita. Kita akan segera berangkat menuju Patagonia.”

“Kalian harus tetap waspada! Perjalanan di hutan pada malam hari sangat berbahaya bahkan bagi vampire seperti kita. Pada saat situasi sedang seperti sekarang ini kebanyakan memilih melanjutkan perjalanan esok hari dan beristirahat di tempat ini sampai malam berlalu tetapi kita tidak akan punya cukup waktu. Kita harus memanfaatkan waktu yang ada.” Tambah Max panjang lebar.

“Dan aku bisa mencium aroma Rutilans yang samar terbawa angin. Mungkin tempat ini pun akan diserang oleh mereka.” Micky melirik sekumpulan vampire yang beranjak dari tanah lapang untuk melanjutkan perjalanan mereka. “Semoga bulan purnama malam ini tidak membakar semangat haus darah pada diri kita, Max….”

“Ya….” Sahut Max.

❤ ❤ ❤

Udara terasa sangat lembab dan dingin ketika Micky dan Max duduk di kursi kemudi untuk menjalankan kereta. Mendung mengantung dan kabut membuat jarak pandang sedikit terganggu bahkan untuk para vampire seperti mereka. Rintik gerimis perlahan turun membuat jalanan yang mereka lewati sedikit becek. Beberapa manusia kerdil yang berpapasan dengan mereka berlarian mencari pohon berdaun lebar untuk berteduh, ada pula yang nekad seperti mereka menerjang gerimis yang semakin menggila.

Dari dalam kereta Hyunno mengintip keadaan diluar yang mulai menggelap padahal kalau ia ingat-ingat waktu masih tengah hari. Hyunno tidak suka suasana seperti ini, membuatnya kurang nyaman dan gelisah.

“Anak-anak…” panggil Micky dengan suara pelan. “Waspadalah! Pegang senjata kalian erat-erat dan serang siapa saja yang mendekati kalian!”

“Kita sedang diikuti ya?” Tanya Hyeri.

“Ya. Tentu saja.” Jawab Micky.

“Perampok? Atau gerombolan yang sama dengan yang menyerang desa kita, Paman?” Tanya Hyeri lagi.

“Kita akan segera tahu….”

❤ ❤ ❤

❤ ❤ ❤

❤ ❤ ❤

❤ ❤ ❤

Sunday, January 31, 2016

9:10:02 AM

NaraYuuki

The Prince and His Heir III

The Prince and His Heirs II

Sekitar pukul 3 pagi, Micky membangunkan Hyunno dan Hyeri untuk bersiap berangkat meninggalkan kota Mite. Makin awal berangkat makin cepat mereka sampai di kota Thor yang menjadi `                                             tujuan mereka. Bekal yang dipesan langsung pada pemilik penginapan sudah dibungkus dengan rapi, kereta kuda mereka pun sudah siap berangkat. Beberapa peti berisi botol-botol minyak wangi –yang mereka gunakan sebagai alibi pun sudah dinaikkan ke kuda. Setelah memberi persen pada tukang jaga kuda, Micky menyuruh Hyeri dan Hyunno yang masih mengantuk untuk segera naik ke dalam kereta sementara Gobi sudah duduk dengan nyaman di samping kursi kusir. Perjalanan sebelum fajar pun mereka tempuh. Perlahan-lahan kereta kuda mereka meninggalkan area penginapan, terus berjalan ke timur menuju batas akhir kota hingga benar-benar meninggalkan kota Mite di belakang mereka.

Sesekali mata tajam Micky mengamati ke kiri dan kanan jalanan sepi yang mereka lewati, Gobi pun yang berada dalam posisi tidur memasang mata waspada seolah-olah dirinya sedang diintai. Tidak ada kabut, hanya ada taburan bintang fajar yang berada di langit, bahkan langit mulai terang sehingga bayangan pepohonan yang berada disisi kanan dan kiri jalan mulai terlihat jelas.

“Hyeri…” panggil Micky.

“Ya, Paman?” sahut Hyeri.

“Siapkan pedangmu untuk melindungi Hyunno. Ku rasa didepan sana sudah ada orang yang menunggu kita.” Ucap Micky.

“Hm…” gumam Hyeri. Hyeri adalah gadis yang dulu ketika masih berusia 2 tahun ditemukan oleh Micky disalah satu perkemahan yang menjadi tempat pemukiman vampire nomaden. Micky kebetulan melewati perkemahan tersebut dan mendengar tangisan Hyeri kecil. Gadis kecil yang berada diantara puluhan mayat vampire, bahkan beberapa diantara vampire itu sudah ada yang menjadi debu. Merasa kasihan Micky kemudian memungut Hyeri dan mendidiknya layaknya mendidik putrinya sendiri. Hyeri dibekali ilmu bela diri dan kemampuan bertempur lainnya. Dalam dunia vampire, kematian vampire berdarah murni –ayah dan ibu vampire keturunan bangsawan biasanya ketika mati tidak akan menjadi debu namun menyerupai patung dari tanah liat, pucat dan rapuh. Berbeda dengan vampire kelas rendahan ataupun berdarah campuran –hasil pernikahan vampire dengan ras lainnya ketika mati akan langsung berubah menjadi gundukan debu.

Di depan sana, dijalanan yang gelap gulita, Micky melihat sesosok bayangan manusia tengah berdiri di tengah jalan. “Hei Thunder… lakukan apapun yang kau mau untuk melindungi Hyunno! Kau mengerti?!” bisik Micky pada Gobi.

Sekitar sepuluh meter dari sosok itu, Micky menghentikan keretanya kemudian turun dari kereta. Dengan sikap waspada menatap sosok bayangan itu menggunakan mata merah menyalanya. Tangan kanannya memegang kuat-kuat gagang pedangnya lantas berjalan menghampiri sosok itu.

Hyeri dan Hyunno pun turun dari kereta. Gobi langsung melompat ke arah Hyunno dengan sikap waspada begitu pula Hyeri yang tidak berada jauh dari Hyunno.

“Siapa orang itu?” Tanya Hyunno setengah mengantuk.

“Yang jelas kita tahu dia bukan orang yang berniat baik.” Jawab Hyeri yang sudah mengeluarkan katana miliknya.

Suara langkah kaki Micky memecah keheningan fajar, binatang pengerat berlarian mencari makanan. Burung malam beterbangan kembali menuju rumah mereka. Beberapa meter dari sosok bayangan itu Micky dapat melihat sosok bayangan lain yang jauh lebih tinggi dan besar di belakangnya. Gigi taringnya mencuat, matanya memerah sempurna. Dengan gesit Micky menarik pedangnya dari sarungnya.

“Siapa kau?” Tanya Micky.

Sosok jangkung berpakaian gelap dengan tudung yang menutupi kepala hingga sebagian wajahnya itu diam saja, hanya bibirnya yang membentuk senyum mengejek.

Micky semakin waspada. Pedang panjangnya terangkat siap menebas siapapun yang ingin mencicipi tajamnya mata pedang bermata dua itu. “Siapa kau? Kenapa menghalangi jalan kami?” tanyanya sekali lagi.

Dan sosok itu pun tidak menyahut sama sekali, sosok jangkung itu justru berjalan mendekati Micky dengan sikap angkuhnya, diikuti bayangan besar yang berada di belakangnya membuat tanah disekitar mereka bergetar, bergemuruh seolah sedang terjadi gempa bumi.

Micky mundur selangkah, memasang kuda-kuda, kapan pun ia siap menyerang sosok jangkung bertudung hitam itu.

“Kau… berpura-pura menjadi penjual minyak wangi, kan?” ucap sosok itu yang ternyata seorang laki-laki. “Berpura-pura menjadi paman dari dua keponakan yang ternyata salah satunya adalah sang pewaris tahta?”

Micky membulatkan matanya seper sekian detik sebelum kembali memasang sikap waspada.

Tiba-tiba saja bayangan yang berada dibelakang sosok jangkung bertudung itu melompat dintara Micky dan sosok jangkung itu. Membuat Micky terbelalak kaget ketika sosok besar itu menyemburkan api ke udara –seekor naga.

“Astaga!” pekik Hyunno dan Hyeri bersamaan.

“Itu naga? Naga sungguhan?” Tanya Hyunno antara kaget dan takjub.

Gobi segera melesat, berlari ke arah sosok jangkung bertudung itu, melompat dan menubruknya hingga sosok itu jatuh terjungkal lantas menjilatinya dengan manja lagi girang.

Melihat interaksi aneh itu Micky teringat pada sesuatu lantas tersenyum bodoh seolah menertawakan keteledorannya sendiri. Disarungkannya pedang panjangnya kembali lantas berjalan mendekati sosok jangkung itu tanpa memedulikan sang naga yang menatap garang padanya.

“Sejak kapan kau membuntuti kami, Max?”

Sosok yang sedang menggelitiki Gobi itu menatap Micky tanpa melepas senyuman dari wajahnya. “Sejak dari penginapan tentu saja. Tapi sepertinya kau tidak menyadari keberadaanku. Apakah aroma tubuhku sudah kau lupakan?” sosok jangkung itu bangun dan duduk di tengah jalan. Tudung hitamnya sudah terlepas dari kepalanya. Wajahnya kekanakan seolah waktu tidak pernah menyentuhnya. “Aku hanya ingin sedikit menggodamu.”

“Kau berhasil melakukannya.” Sahut Micky.

“Hm… ku rasa kau sedikit mengendurkan kewaspadaanmu dengan menunjukkan wajah sang  pewaris tahta ke khalayak umum!”

“Tidak ada pilihan lain.” Gumam Micky. “Gerombolan rutilans menyerang desaku untuk mencarinya. Selama wajahnya belum diketahui oleh orang-orang ku rasa tidak masalah untuknya.”

“Oh, mereka sudah bergerak rupanya.”

“Siapa?”

“Akan ku ceritakan nanti. Ku rasa sebaiknya kita pergi dulu dari sini. Hari sudah hampir pagi, akan ada banyak orang lewat nantinya.” Ucap Max.

“Benar. Mana kudamu?” Tanya Micky.

“Aku? Kedang-kadang menaiki punggung Urceolla.” Jawab Max sambil menunjuk sang naga dengan dagunya.

Micky mendengus, mengulurkan tangannya untuk menarik Max bangun. “Harusnya aku tahu kalau penyakitmu dari dulu tidak bisa disembuhkan.” Cemoohnya mendatangkan tawa lebar dari Max.

❤ ❤ ❤

Matahari sudah terbit sejak beberapa jam yang lalu. Dari jalan menuju arah timur, Micky membelokkan kereta kudanya ke arah utara karena jalan yang dilaluinya memang membelok dan sudah seharusnya ia mengambil arah itu untuk sampai ketujuannya –tujuan Hyunno. Ditemani Hyeri yang duduk di sebelahnya, Micky melantuntan sebuah lagu yang berasal dari kampungnya, desa Atacama yang diciptakan oleh para leluhurnya dulu. Sementara itu di dalam kereta Hyunno merasa sedikit risih ditatap sedemikian rupa oleh sosok jangkung bernama Max yang terus mengamatinya dengan tatapan mata yang sulit ia jelaskan. Terlebih ketika ada seekor naga berukuran sebesar kucing tengah bertengger dikepalanya sambil mematuk-matuk helaian rambutnya –Hyunno baru tahu bila ada juga naga yang bisa menyusutkan ukuran tubuhnya menjadi kecil. Sementara Gobi –yang oleh Max selalu dipanggil Thunder, Thunder dan Thunder itu sedang terlelap dilantai kereta dekat peti-peti kayu berisi ratusan botol minyak wangi.

“Secara keseluruhan kau mirip ayahmu, tapi banyak hal pada dirimu yang juga mengingatkanku pada ibumu.” Gumam Max seperti sedang menganalisis Hyunno. “… contohnya bibirmu, memang tipis seperi bibir ayahmu namun merah dan penuh seperti bibir ibumu. Matamu, walaupun terbingkai kelopak mata setajam mata musang namun bola matamu hitam legam seperti milik ibumu. Kulitmu yang pucat dan rambut hitammu benar-benar menurun dari ibumu. Mengagumkan! Betapa bodohnya mereka yang tidak menyadari siapa sebenarnya kau ini. Bahkan aku dalam sekali lihat tahu bahwa kau adalah…” Max menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Nyaris saja dirinya membocorkan rahasia yang harusnya disampaikan oleh Mesa.

“Apakah Paman mengenal ayahku?” Tanya Hyunno penasaran. Hyunno tidak memedulikan ocehan Max perihal kemiripannya dengan ayah dan ibunya. Namun rasa penasaran remaja itu tergelitik ketika Max menyebutkan soal ayahnya, orang yang seumur hidup belum pernah dilihatnya. Ibunya, Nisa’ tidak pernah memberitahunya soal ayahnya.

Max tersenyum. “Kita harus segera menemukan Mesa agar kita bisa mengungkapkan jati dirimu yang sebenarnya.” Ucapnya.

Hyunno mendengus sebal. Jawaban sama yang didapatnya dari Micky tiap kali ia menanyakan perihal sosok ayahnya.

“Hei Max…” panggil Micky.

“Ya?” Tanya Max.

“Seingatku –dan kalau perhitunganku tidak meleset seharusnya kita sudah sampai di desa Druwe, kan?” suara Micky terdengar seperti orang yang bingung.

“Memang.” Jawab Max. “Namun dua tahun yang lalu desa Druwe sudah luluh lantah akibat diterjang angin topan. Penduduknya membangun desa baru sekitar 2-3 kilo meter lagi dari sini.”

“Oh, syukurlah…” desah Micky penuh kelegaan. “Perutku sudah kelaparan dari tadi.”

“Bukankah ada roti kering dan buah-buahan yang sudah disiapkan oleh pegawai penginapan di Mite semalam?” Tanya Max.

“Kau pikir bekal itu untuk apa? Setelah melewati desa Druwe butuh waktu sehari semalam untuk sampai di desa Patagonia. Selama itu kita akan makan apa bila bekalnya dimakan sekarang? Lagi pula aku ingat betul bagaimana nafsu makanmu itu.” Ucap Micky mendatangkan gelak tawa dari Max.

❤ ❤ ❤

Walaupun tidak sebesar kota Mite namun desa Druwe termasuk desa yang besar bahkan lebih besar daripada desa Atacama dan desa asal Hyunno. Sama seperti penduduk kota Mite, penduduk desa Druwe pun sangat beraneka ragam. Ada kurcaci yang berprofesi sebagai pandai besi, manusia yang membuka warung dan toko gula-gula, ada pula sebuah keluarga vampire yang membuka toko kain dan baju. Perbedaan yang membuat mereka terlihat sangat harmoni dan damai. Mengingatkan Hyunno pada kampung halamannya.

Micky memutuskan untuk makan pagi –menjelang tengah hari di sebuah kedai yang dimiliki oleh manusia. Memesan makanan dalam jumlah tidak wajar –lebih banyak daripada hari sebelumnya. Melihat itu Hyeri dan Hyunno hanya bisa saling pandang dengan tatapan bingung.

“Teman kita mampu menghabiskan jatah untuk 8 orang.” Ucap Micky sambil melirik Max.

“Jangan khawatir. Makan kali ini biar aku yang bayar.” Komentar Max yang melempar daging domba giling berukuran besar ke meja disebalahnya dimana Gobi dan naga kecil milik Max yang bernama Urceolla itu sedang berebut jeroan sapi.

“Paman seperti bukan penduduk desa.” Gumam Hyunno. “Apa Paman seorang bangsawan?” tanyanya. Dilihat dari pakaiannya yang terbuat dari sutera halus mungkin saja Max berasal dari keluarga kaya raya.

Max hanya tersenyum disela kegiatannya mengunyah irisan daging dombanya.

Hyunno menatap ke luar kedai menuju sebuah toko penjual gula-gula. Seumur hidupnya hanya sekali ia makan gula-gula. Itu karena didesanya tidak ada penjual gula-gula, buah-buahan segar pun yang menjadi bahan utama pembuatan gula-gula jarang ada.

“Aku akan membelikannya untukmu nanti.” Bisik Max seolah bisa membaca pikiran Hyunno.

Wajah Hyunno bersemu merah, kepalanya menunduk. Membuat Max yang gemas mengusap kepalanya berulang kali.

“Rambutmu sangat lembut seperti rambut ibumu.” Gumam Max.

“Ibuku berambut ikal sedikit kaku, Paman.” Ucap Hyunno.

“Aku tidak membicarakan Nisa’ tetapi ibu lain yang melahirkanmu. Nisa’ hanyalah ibu yang membesarkanmu.” Seperti tidak menyadari ucapannya barusan, Max tetap melanjutkan makannya membiarkan Hyunno menatapnya dengan rasa penasaran yang membuncah.

❤ ❤ ❤

Hampir satu jam lamanya Micky, Hyunno dan Hyeri menunggu kedatangan Max yang sudah menghilang entah kemana. Padahal Urceolla, naganya yang sedang berukuran sebesar kucing itu sudah terlelap disamping Gobi yang mendengkur keras di dalam kereta.

“Bagaimana kalau kita tinggal saja paman aneh itu, Paman?” Tanya Hyeri.

“Tidak perlu.” Ucap Micky. “Dia sudah datang dengan membawa sekarung penuh barang yang ku rasa tidak terlalu berguna untuk kita.”

“Ck…” Hyeri berdecak kesal lantas masuk ke dalam kereta dan duduk di samping Hyunno. Kursi yang berada di hadapan mereka digunakan oleh Gobi dan Urceolla, dua mahluk berbahaya untuk tidur.

“Apa yang kau bawa?” Tanya Micky yang langsung duduk di kursi kemudi.

Max melompat mengikutinya dan meletakkan karung besar bawaannya diantara dirinya dan Micky. “Sedikit oleh-oleh.” Jawabnya.

Ketika kereta mulai berjalan menuju ujung desa Druwe, Max membuka jendela kecil yang menghubungan kursi kemudi dengan kursi penumpang dalam kereta. Satu per satu ia membuka barang yang berada di dalam karungnya dan dimasukkan ke dalam kereta tanpa memedulikan apa yang dilakukannya itu mengganggu Gobi dan Urceolla yang sedang terlelap.

“Sesuai janjiku, aku membelikanmu gula-gula.” Max menjejalkan 5 toples besar berisi gula-gula aneka bentuk, aneka warna. Kemudian menjejalkan lagi 5 toples besar biskuit kering, 3 toples keripik sayur dan buah-buahan kering serta 5 toples daging kering untuk camilan dua binatang buas yang ikut dalam rombongan mereka. Yang terakhir Max mengulurkan sebuah bungkusan plastik berisi kain pada Hyeri dan Hyunno. “Itu baju baru untuk kalian.” Ucapnya.

“Terima kasih Paman.” Tutur Hyunno ketika menerimanya.

“Paman ternyata orang baik. Paman mendapat 1 nila plus dariku.” Komentar Hyeri. Matanya berbinar-binar melihat baju terusan panjang berwarna jingga lembut itu.

Hyunno memilih memasukkan baju berwarna merah hati miliknya kedalam ranselnya. Otaknya berkecamuk penuh pertanyaan tentang siapa sebenarnya ayahnya dan kenapa Max mengatakan bahwa Nisa’ ibu yang selama ini ia kenal bukanlah ibu yang melahirkannya.

❤ ❤ ❤

❤ ❤ ❤

❤ ❤ ❤

❤ ❤ ❤

❤ ❤ ❤

Monday, December 28, 2015

7:37:08 AM

NaraYuuki

The Prince and His Heirs II

Gobi… Gobi… Gobi ayo pulang!” anak kecil tampan itu berlari kecil menyusuri jalan setapak yang akan membawanya pulang menuju rumahnya. Rumah kecil disebuah perkampungan kecil dipesisir gurun Sahara. Tubuhnya kaku ketika melihat desanta terbakar, tubuhnya mengejang ketika melihat seseorang berbaju zirah hitam pekat dengan pedang panjang mengacung padanya berjalan ke arahnya seperti seorang malaikat kematian. Sebelum sosok menyeramkan itu menebasnya –membunuhnya, ia memejamkan mata kuat-kuat agar tidak merasakan sakit. Saat itulah ia merasakan dekapan hangat sosok yang tidak bisa ia lihat. Sosok itu memakai gaun putih panjang, tubuhnya bercahaya. Dekapan itu sangat hangat dan nyaman membuatnya seperti ditimang-timang hingga akhirnya terlelap.

The Prince and His Heirs II

 

Perlahan mata Hyunno terbuka. Mimpi aneh yang sering ia alami ketika usinya 8 tahun itu kembali terulang. Pemuda itu menarik napas panjang, menoleh ketika dirinya menyadari dirinya sudah tidak lagi berada di gudang jerami melainkan sebuah kereta kuda yang berjalan cepat melintasi sabana (savanna) yang bukan lagi sebuah gurun pasir gersang melainkan ada belukatr dan beberapa pohon tinggi aneh yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Hyunno melongokkan kepalanya keluar jendela kereta itu. Ia melihat Gobi –harimau malasnya berlari penuh semangat, terlihat sangat gagah dan liar.

“Sudah bangun pemalas?” suara gadis itu mengejutkan Hyunno. Hyunno bisa melihat gadis yang semalam memberikannya baju menoleh dari arah kemudi, tersenyum meremehkan.

“Jangan menggodanya, Hyeri!” kali ini Hyunno mendengar suara Micky. “Hyunno, makan siang dan minuman ada di kotak kayu dekatmu. Aku dan Hyeri sudah makan tadi.”

“Makan siang?” Hyunno mengerutkan keningnya lantas melihat matahari yang sudah tinggi.

“Ini sudah lewat tengah hari. Kau tidur seperti orang pingsan. Paman Sandor bahkan sampai kepayahan saat memindahkanmu.” Ucap gadis bernama Hyeri itu.

“Gobi?”

“Harimau itu sudah menghabiskan 2 paha rusa sendirian.” Jawab Hyeri.

Hyunno melihat kotak kayu yang dimaksud oleh Micky, membukanya dan melihat tumpukan roti kering dan berbotol-botol minuman. Ada yang berwarna merah ada pula yang hanya air putih biasa. Hyunno mengambil sekeping roti kering berdiametr 15 cm kemudian mengigitnya. Rasanya manis dan gurih. Sangat enak. “Cairan merah itu apa? Apa itu jus anggur?” Tanya Hyunno.

“Usiamu sudah 17 tahun. Sebentar lagi bulan purnama. Kau akan membutuhkan minuman itu karena segel yang dibuat pada dirimu mulai melemah begitu kau akhir baliq.” Jawab Micky.

“Uhuk!” Hyunno tersedak begitu mendengar penjelasan Micky. “Segel? Aku? Segel apa?” tanyanya bingung.

“Mesa akan menjelaskannya padamu begitu kita sampai di kota Thor.” Jawab Micky. “Kita baru saja melewati perbatasan. Saat ini kita sudah memasuki Benua Cassiopeia. Kita hanya harus menuju Negara Orion untuk sampai di kota Thor.”

Walaupun bingung dengan penjelasan yang Micky berikan namun Hyunno diam saja. Toh setidaknya dalam perjalanan menuju kota Thor ia tidak sendirian lagi dengan Gobi. Tapi…

“Paman… kenapa gadis itu ikut?” Tanya Hyunno. Bukankah seingatnya Micky mengatakan bahwa dia sendirlah yang akan mengantar?

“Hyeri?” Tanya Micky. “Kalian sama. Agar tidak dicurigai orang kita akan menyamar menjadi penjual minyak wangi, kau dan Hyeri akan berperan menjadi keponakanku.” Tutur Micky.

“Dengar itu? Kau harus memanggilku Noona karena aku lebih tua darimu!” tambah Hyeri.

Hyunno mendengus, kepalanya menoleh menatap gumpalan awan hitam yang tiba-tiba muncul di langit. Sambil terus mengunyah roti keringnya, pemuda itu mengamati awan hitam yang semakin pekat. Hyunno tersentak kaget ketika Gobi menderam (mengaum) diikuti kereta yang tiba-tiba berhenti. Penasaran apa yang terjadi Hyunno melompat keluar dengan sikap waspada sambil terus memegang roti keringnya yang masih separuh.

“Mereka kenapa paman?” Tanya Hyeri.

“Kelompok Paria.” Gumam Hyunno.

“Ada ap…” Hyunno menelan ludah susah payah ketika melihat mayat tergeletak dipinggir jalan. Perutnya mual melihat darah yang mengotori sekujur tubuh mayat-mayat itu.

“Mereka diserang oleh jenis vampire paria yang biasanya tidak hanya menghisap darah melainkan juga mencabik-cabik tubuh mangsanya.” Jelas Yoochun. “Kita sudah memasuki Benua yang bukan hanya dihuni oleh manusia saja, Hyunno.”

Hyunno merasakan kerongkongannya sangat kering dan panas. Tubuhnya mengigil dan gemetar melihat mayat-mayat itu. “Mereka apa?” Tanya Hyunno. Mayat-mayat itu menyerupai manusia namun telinga mereka sedikit runcing, kulit mereka pucat namun bening seperti Kristal.

“Bangsa Elf nomaden.” Jawab Micky. Pria itu melirik perubahan raut wajah Hyunno. “Hyeri, ajak Hyunno naik ke dalam kereta! Berikan dia minuman itu! Kau paham?”

“Ya, Paman.” Hyeri segera membawa Hyunno naik ke dalam kereta.

Micky mengendus aroma yang tersisa pada udara lembab disekitarnya. “Mereka masih berada disekitar sini namun tidak berani mendekat karena mencium aromaku.” Gumam Micky yang langsung kembali ke kursi kemudi. Senyum menghiasi wajah tampannya ketika melihat Gobi sudah duduk ditempat yang sebelumnya menjadi tempat duduk Hyeri. “Nah, mari kita lanjutkan perjalanan kita. Kau pun pasti sudah merindukan majikanmu terdahulu, kan?” diusapnya kepala Gobi membuat harimau itu menggeram seperti seekor kucing manja.

 

Menjelang petang, gerimis mengguyur lumayan deras disertai angin. Kereta yang Hyunno tumpangi sampai disebuah kota kecil yang ia tak tahu apa namanya. Penduduknya beraneka ragam. Ada manusia, ada yang menyerupai manusia namun telinga mereka runcing dan pupil mata mereka berwarna hijau, ada manusia-manusia kerdil mirip kurcaci, ada yang sangat tinggi, berkulit gelap, pucat bahkan kehijauan. Ada binatang-binatang aneh yang belum pernah Hyunno lihat sebelumnya. Seperti kambing dengan totol harimau, zebra berkepala illama, kupu-kupu besar berekor panjang, burung yang mengeluarkan cicit seperti kucing, dan masih banyak lagi. Hyunno terpana melihat semua keanehan itu.

“Kita berada di Kota Mite, mungkin 4-5 hari lagi kita akan sampai di kota Thor. Bergantung cuaca dan siapa yang akan kita temui di jalan nantinya.” Ucap Yoochun dengan suara pelan.

Hyunno yang sejak beberapa waktu yang lalu menemani Micky di kursi kemudi hanya mengangguk pelan. Toh ini kali pertama dirinya pergi jauh –benar-benar jauh dari rumah.

“Berharap saja tidak ada yang mengenalimu.” Gumam Micky.

“Kenapa kalau ada yang mengenaliku, Paman?” Tanya Hyunno bingung.

“Ada banyak hal didunia ini yang belum kau ketahui, Nak. Kau akan tahu perlahan-lahan nantinya.” Ucap Micky.

Hyunno diam saja. Toh daripada ia tersesaat lebih baik dirinya mempercayakan semuanya pada Micky.

“Apakah Nisa’ mengajarimu bela diri?”

“Sedikit, Paman. Tapi daripada bela diri aku lebih suka memanah. Aku bisa memanah 5 ekor burung sekaligus.” Celoteh Hyunno.

“Bagus. Kalau ada apa-apa kau bisa melindungi dirimu sendiri. Akan kita asah kemampuanmu selama perjalanan ini.”

Hyunno mengangguk pelan.

“Kita hampir sampai. Kau lihat papan nama Kelewang Kembar disana?”

“Aku tidak tahu arti kata kelewang, Paman.” Ucap Hyunno jujur.

“Itu berarti Pedang. Ada beberapa tempat yang menggunakan istilah kelewang ataupun sikin untuk menyebut pedang.” Micky menjelaskan. “Kau akan banyak belajar ketika kita melewati beberapa tempat sebelum sampai di kota Thor.”

 

Banyak mata menuju Micky, sang penjual minyak wangi dan kedua keponakannya –Hyunno dan Hyeri yang memasuki penginapan dengan membawa serta Gobi, si harimau peliharaan Hyunno. Kereta beserta dua kuda yang menyertai mereka sudah diurus oleh pegawai penginapan.

“Tenang saudara-saudaraku. Harimau kami jinak.” Ucap Micky sambil melempar senyum ramah pada para pengunjung penginapan yang sedang bersantap.

“Untuk apa kau bawa harimau masuk penginapan, Tuan?” Tanya seorang anak kecil yang duduk dengan ibunya.

“Oh, Anakku… sepanjang perjalanan banyak orang jahat jadi kami membawa harimau untuk menakut-nakuti mereka.”

“Kemana tujuanmu, Pak?” seorang pria berhidung besar dengan topi kerucut aneh bertanya.

“Kota Thor untuk mengantar pesanan minyak wangi pada salah satu keluarga bangsawan disana. Apakah anda tertarik untuk membeli minyak wangiku?” Tanya Micky sekedar basa-basi.

“Tidak… tidak. Aku tidak butuh minyak wangi. Terima kasih atas tawaranmu, Pak.” Ucap pria itu lagi.

“Kau memiliki keponakan yang tampan dan cantik, Tuan.” Ucap pemilik penginapan yang merangkap sebagai resepsionis.

“Terima kasih.” Balas Micky. “Dan kami membutuhkan sebuah kamar dengan dua tempat tidur yang berukuran cukup luas. Bisa kau sediakan?”

“Tidak masalah.” Jawab sang pemilik penginapan.

“Kalau kau tidak keberatan antarkan makan malam kami ke kamar karena kami sangat lelah dan ingin segera beristirahat.”

“Tentu saja. Apakah termasuk makanan untuk harimaumu itu?”

Micky melirik Gobi yang sedang duduk tenang diantara Hyunno dan Hyeri yang sedang berdiri di belakangnya. “Berikan sepotong paha domba untuknya.” Ucap Micky sambil meletakkan 5 keping uang emas.

Mata sang pemilik penginapan berkilat gembira melihat banyaknya uang di hadapannya. “Ini terlalu banyak, Tuan.”

“Sebagai upah untuk mengurus kuda-kudaku.”

“Terima kasih.” Ucap sang pemilik penginapan yang langsung meraup kepingan uang itu. “Addo! Kemari dan antarkan tamu kita ke kamar mereka!”

Terpongoh-ponggoh seorang pria yang lebih pendek daripada Hyunno muncul dengan kulitnya yang kecoklatan lagi kusam. “Siap Tuan.” Sahutnya lantas tersenyum pada Micky. “Mari tuan ikuti saya.” Ucapnya ramah.

Micky, Hyunno, Hyeri dan Gobi berjalan perlahan menaiki tangga kayu mengikuti Addo menuju kamar mereka untuk beristirahat mala mini. Tanpa mereka sadari disudut ruangan seorang pria bertudung aneh dengan pakaian serba gelapnya menatap tajam mereka.

 

“Hyunno, boleh aku bertanya sesuatu padamu?” Tanya Micky usai mereka menyelesaikan makan malam mereka.

“Ya, Paman?” sahut Hyunno yang tengah meminum susu hangatnya.

“Apa yang Nisa’ berikan padamu sebelum menyuruhmu pergi ke kota Thor?”

Hyunno membuka tas punggungnya yang terbuat dari karung goni, mengeluarkan kantung uang yang berisi beberapa keping uang dan mengeluarkan perkamen-perkamen yang diberikan ibunya.

“Tidak ada yang lain?” Tanya Micky yang mengambil dan membuka salah satu perkamen.

“Sebuah liontin aneh. Ku kalungkan pada Gobi.” Jawab Hyunno.

Micky tersenyum dan menggulung lagi perkamen yang ia buka kemudian mengambil kantung uang Hyunno dan melihat isinya. Setelah itu menutup dan meletakkannya ke tempat semula. “Seperti dugaanku sebelumnya. Perkamen kepunyaanmu ditulis dengan bahasa elf kuno yang tidak ku mengerti artinya. Sedangkan uang yang kau bawa adalah yang berasal dari Negara Orion. Nilai satu keping perak uang Negara itu setara dengan 100 keping uang emas biasa seperti kepunyaanku. Sedangkan satu keping uang emas yang berasal dari Negara itu setara dengan 1000 keping uang emas biasa.”

Mata Hyunno membulat. Ternyata ia memiliki uang yang luar biasa banyak.

“Dan ku yakin liontin yang kau pakaikan pada Gobi itu adalah liontin milik putra mahkota yang sudah lama hilang.” Gumam Micky.

“APA?” kali ini Hyeri yang bersuara lantang.

“Suaramu terlalu keras, Keponakanku!” sindir Micky. “Dengar! Tidak ada yang boleh melihat  liontin itu apalagi orang asing. Kau mengerti?!”

Hyunno mengangguk pelan.

“Sebenarnya siapa anak ini, Paman?” Tanya Hyeri yang sejak tadi menyisir bulu Gobi menggunakan jemarinya.

“Kita harus menemukan Mesa untuk memastikannya.” Jawab Micky. “Sekarang tidurlah kalian! Besok kita harus berangkat sebelum matahari terbit.”

Hyunno merapikan dan memasukkan kembali perkamen-perkamen serta kantung uangnya ke dalam tas sebelum membaringkan dirinya pada salah satu kasur. Hyeri yang sudah menguap sedari tadi pun segera memejamkan matanya. Micky memilih tiduran di atas kursi panjang yang berada tepat di depan jendela sedangkan Gobi berjalan menuju arah pintu lantas berbaring di depan pintu dengan santainya. Melihat kelakuan Gobi itu Micky hanya tersenyum. Ditemani rintik gerimis mereka bisa sedikit melepas lelah, melupakan sejenak kemungkinan apa yang akan menghadang mereka nantinya.

 

 

 

 

 

TBC

 

 

 

Thursday, December 24, 2015

5:40:04 PM

NaraYuuki

Pembalasan Bidadari Hitam XX

Tittle                : Pembalasan Bidadari Hitam XX

Writer               : NaraYuuki

Genre               : Romance/ Family

Rate                 : M

Cast                 : All member DBSK and others (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan). Seiring bertambahnya Chap castnya pun akan disesuaikan.

Disclaimer:      : They are not mine but this story and Hyunno are mine, NaraYuuki

Warning           : This is YunJae Fan Fiction (Boys Love), M-Preg. Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut. Paragraf/ dialog yang penulisannya menggunakan Blod, Italic ataupun under line berarti itu adalah kejadian dimasa lampau (flash back) TANPA EDIT.

.

.

Jung Hyunno Pembalasan Bidadari Hitam NaraYuuki

.

.

PASTIKAN BACA WARNINGNYA DULU

.

.

.

.

.

.

.

Begitu keluar dari lift gadis yang memakai mini dress berwarna mustard itu berjalan dengan gontai. Sesekali memaksakan senyum ketika berpapasan dengan orang-orang yang mengenalnya. Matanya terbingkai kaca mata hitam sehingga orang-orang yang berlalu lalang di lorong yang bagian kiri kanannya dipercantik oleh tanaman hijau dalam pot yang selalu dijaga dan dirawat kebersihannya oleh yang bertugas. Suara hak sepatunya yang beradu dengan lantai keramik menjadi melodi tersendiri bagi hatinya. Terus berjalan sampai berhenti di depan sebuah pintu angkuh yang mengejeknya. Tangan kanannya terjulur untuk menyentuh daun pintu. Hendak menekan bel pintu namun ternyata pintu itu dibuka dari dalam.

“Hyeri Agashi?” seorang ahjuma keluar sembari membawa kantong sampah berukuran sedang.

Ahjumma… Hyunno…?”

“Tuan muda Hyunno tidak pulang kemari. Sudah hampir dua minggu lamanya. Sejak dijemput oleh tuan muda Changmin.” Jawab sang ahjumma.

Hyeri mengangguk singkat.

“Kenapa Agashi tidak pernah kemari lagi? Apakah sedang bertengkar dengan tuan muda Hyunno?”

Hyeri menggelengkan kepalanya perlahan, memasang wajah tersenyum walaupun enggan. “Aku masih punya ayah jadi harus pulang. Ayahku sedang sakit jadi aku harus merawatnya, Ahjumma.”

“Ah, begitu rupanya. Agashi mau masuk ke dalam?”

“Tanpa Hyunno tempat ini tidak lagi menarik.” Gumam Hyeri. “Sebaiknya aku pulang saja, Ahjumma. Toh Hyunno tidak berada disini.” Ucapnya.

************************************************

Hyunno menatap gadis itu keluar dari gedung menuju tempat parkir bawah tanah. Berjalan tergesa melewati dirinya –yang sedang berada di dalam mobil berkaca hitam− dapat Hyunno lihat wajah sembab yang coba ditutupi oleh gadis manis itu lewat kaca mata hitam yang dikenakannya. Diawasinya gadis itu dalam diam hingga gadis berbaju mustard itu masuk mobil dan pergi dari tempat parkir. Hyunno diam saja. Termangu dalam pikiran yang yang dirinya sendiri yang tahu apa isinya.

“Kau tidak harus menyakitinya seperti ini.” Ucap Changmin yang duduk disebelahnya.

“Ini yang terbaik untuk kami.” Hyunno mencengkeram erat kemudinya.

“Tidak. Ini menghancurkan kalian berdua.” Komentar Changmin. “Aku tahu itu. Kau mulai menyayanginya, keponakanku.”

Hyunno menutup matanya yang terasa panas. “Aku tidak bisa memaafkan perbuatan ayahnya yang terang-terangan mengirim pembunuh bayaran untuk menghabisi orang tuaku! Itu perbuatan keji!”

“Ayahnya. Bukan anaknya, kan?”

Hyunno tidak berkomentar.

“Toh sudah terjadi. Ayahmu pun akan dipindahkan ke rumah agar lebih aman.” Changmin menepuk bahu keponakannya. “Jangan menyiksa dirimu sendiri, Nak!”

“Keliahatan seperti itu kah, Ahjushi?”

“Akhir-akhir ini kau selalu gusar. Emoismu kurang stabil dan sering meledak-ledak. Tentu saja… pemuda seusiamu pasti sedang merasakan sakitnya disengat lebah cinta.”

Hyunno membuka pintu mobil, sebelum keluar ia sempat menoleh pada sang paman. “Aku tidak akan lama, Ahjushi. Setelah aku menemukan tugas kuliahku dan mengantarkannya kita akan langsung menjemput Umma.”

ArraKajja pergi ambil tugasmu!”

************************************************

Ketika perasaan seseorang sedang terluka, sakit yang dirasakannya akan bertambah berlipat-lipat. Serasa tiap detik yang terlewati adalah jurang kesuraman yang kelabu. Gerimis turun serupa benang-benang laba-laba kelabu berjatuhan dari langit. Dengan telapak tangan telanjangnya Hyeri mengelap permukaan kaca kamarnya yang buram. Duduk bersandar di jendela dengan perasaan gundah. Dadanya terasa panas dan sesak. Rasa sakit dan pedih memenuhi dirinya. Belum pernah sebelumnya gadis manis itu merasakan perasaan seperti itu. Perasaan begitu mengasihi dan menyayangi, perasaan kehilangan yang menyisakan bekas-bekas sayatan belati tak kasat mata yang berkarat lagi beracun.

“Kau seperti orang depresi.” Gerutu Senna sambil melempar sebuah boneka beruang putih ke arah Hyeri. Boneka malang itu hanya menyenggol kaki Hyeri dan dabaikan begitu saja. “Apa embun di jendela kamarmu itu begitu berharga hingga kau pelototi, hah?”

Hyeri melirik sepupunya itu tanpa minat sebelum kembali menekuri kegiatannya semula.

“Oh God! Yah Jin Hyeri! Apa duniamu hancur karena Hyunno memutuskanmu sepihak?”

Hyeri menoleh, menatap tajam Senna yang memasang wajah sebalnya sejak tadi. “Hyunno tidak memutuskanku! Kami tidak putus! Tidak. … belum.”

“Jadi apa masalahnya? Kalian bertengkar? Hyunno kepincut gadis lain? Dia selingkuh?” tanya Senna. “Ku dengar kau minggat dari rumah dan tinggal bersama Hyunno sebelum kembali kemari dan menjadi pemurung. Apa yang terjadi sebenarnya? Ceritakan pada sepupu yeoppomu ini!”

Hyeri sudah membuka mulutnya tetapi bingung apa yang harus ia katakan pada sang sepupu. Orang tua Senna adalah musisi, ibunya pemain piano handal sedangkan ayahnya adalah seorang konduktor (pemimpin pagelaran musik) ternama. Tidak mungkin Senna bisa memahami kejamnya persaingan dalam dunia bisnis yang kadang memandang rendah nyawa seseorang.

Omo! Jangan katakan kalau kau sedang hamil dan Hyunno tidak mau bertanggung jawab?!”

Hyeri memungut boneka beruang putih yang berada di dekat kakinya, dengan sepenuh hati melemparkan boneka beruang itu tepat mengenai kepala Senna. “Hyunno bukan orang brengsek seperti itu!”

“Benarkah?” tanya Senna sanksi. “Selama tinggal seatap kalian tidak pernah tidur bersama sekalipun? Sulit dipercaya….”

Mata Hyeri menyipit memandang sepupu sok ingin tahunya itu sebelum menghela napas panjang. “Kami tidur di ranjang yang sama. Kadang-kadang ia memeluk dan menciumku. Sebatas itu.”

Mwo?” Senna tidak kuasa menahan ledakan tawanya. “Aku benar-benar ragu pemuda seusianya tidak mengambil kesempatan sama sekali!”

“Hyunno tidak mau hubungan yang seperti itu. Baginya keperawanan seorang gadis harus dijaga .sampai mereka sah menjadi seorang pengantin.” Ucap Hyeri. “Lagi pula Hyunno takut jika hubungan kami terlampau jauh akan lahir Jung Hyunno-Jung Hyunno lain sepertinya… Hyunno tidak menginginkan hal itu. Aku menghormatinya.”

“Hm… sangat jarang. Aku jadi menginginkannya juga.” Goda Senna.

Yah!” bentak Hyeri.

Senna tersenyum menggoda. “Kalian sepertinya cocok. Dia pemuda baik-baik yang bisa menjaga gadis bengal (keras kepala) sepertimu. Jadi apa yang membuat kalian berpisah? Apa ini ada sangkut pautnya dengan orang tua kalian?” tanya Senna dengan wajah serius. “Ketika aku menceritakan soal hubunganmu dengan Hyunno pada ibuku, ibuku mengatakan bahwa Jin Yihan dan Jung Yunho tidak mungkin menjadi besan. Apa kau tahu apa maksud ibuku berkata seperti itu? Sungguh membingungkan.”

“Persaingan bisnis. Kau tahu hal semacam itu sering terjadi dalam dunia bisnis.” Mata cokelat bening Hyeri berkabut. Andai hanya persaingan bisnis biasa pastilah tidak akan serumit ini.

“Kau benar-benar menyayanginya?” Senna duduk di sebelah Hyeri, dengan jemarinya gadis seusia Hyeri itu menyibak anak-anak rambut yang menutupi wajah sembab sang sepupu.

“Aku membuang harga diriku sebagai gadis terhormat demi menggambil hatinya, Senna. Aku rela meninggalkan rumah untuk tinggal bersamanya.” Hyeri menatap wajah sang sepupu dan memaksakan sebuah senyum terkembang dari bibir pucat keringnya. “Menurutmu aku menyayanginya?”

Tanpa menjawab Senna memeluk sang sepupu, “Aku memahami perasaanmu, Hyeri….”

Hyeri membalas pelukan Senna, lama kelamaan semakin erat hingga akhirnya gadis manis itu menenggelamkan wajahnya pada bahu sang sepupu dan menjerit keras-keras.

Dari balik pintu sesosok pria berjas mahal berdiri mematung. Tangannya yang semula menggenggam handle pintu ia biarkan begitu saja. Nyeri hebat menghujam dadanya ketika mendengar jerit tangis sang buah hati.

************************************************

“Aku tidak suka rumahku dijaga ketat seperti ini. CCTV dimana-mana, para penjaga bersenjata. Astaga! Apakah ini tidak berlebihan?” tanya Jaejoong, mata indahnya terlihat sembab dan lelah.

Changmin diam sejenak sebelum membuka suaranya. “Aku tidak bisa apa-apa, Hyung. Bagaimanapun juga anak kesayangan sang Kaisar yang kini akan tinggal bersamamu. Pun sang putra mahkota.”

Jaejoong menatap sekitar ruang tamu rumahnya,dari sana ia bisa melihat lebih dari 20 pria berbadan kekar berjas hitam rapi hilir mudik penuh kewaspadaan tinggi. Dua buah ambulance terparkir rapi di depan rumahnya, beberapa tenaga medis sibuk mengangkut alat-alat kesehatan yang Jaejoong tidak ketahui namanya. Sejak Yunho mengalami kemajuan –bangun dari koma walaupun hanya sesaat saja− pihak keluarga Jung berkeras memindahkan putra sulung mereka ke tempat yang jauh lebih nyaman daripada rumah sakit maka dipilihlah rumah Jaejoong.

“Apa yang membuatmu berhasil menyeret Hyunno pulang kemari? Dia terlihat sudah membulatkan tekad ketika memutuskan pindah.”

“Yah, seperti remaja seusianya pada umumnya. Keponakanku itu pun merasakan sakitnya disengat lebah cinta, Hyung.” Jawab Changmin sambil tersenyum penuh arti. “Well, keponakanku itu juga sedang merasakan nikmatnya patah hati.” Tambahnya.

“Hyunno putus dari Hyeri?”

Changmin menggelengkan kepalanya pelan. “Hyunno berpendapat, kejadian di restoran itu berkaitan dengan ayah Hyeri. Hyung pasti lebih mengerti cara berpikir Hyunno daripada aku dan yang lainnya.”

Jaejoong menghela napas panjang sebelum bangun dari duduknya. Menatap Changmin dengan putus asa sembari berujar, “Ada dua beruang keras kepala yang harus ku urus mulai sekarang. Semoga saja aku tidak gila karenannya.” Kemudian ia beranjak meninggalkan Changmin yang sedang tersenyum, senyum yang aneh.

************************************************

“Aku membuang semuanya untuk menebus kebencianku pada semua hal yang membuat Ummaku menderita. Impianku, cita-citaku, masa remajaku. Bahkan… sekarang ketika aku mulai membuka hatiku untuk orang lain, aku harus mencampakan kebahagiaanku sendiri. Bukankah ini sangat adil bagiku yang serakah ingin balas dendam?” dengan mata nanar penuh luka Hyunno menatap sosok tak berdaya yang tengah terbaring dengan tenang di atas tempat tidur. “Apakah dendam juga yang sudah menyebabkan Appa seperti ini? Bagaimana cara memutus rantai dendam yang sudah mengakar, Appa?”

************************************************

Senna sedang bersenandung sembari berjalan menuju kamar Hyeri. Begitu sampai di depan pintu kamar, gadis seusia Hyeri itu mengetuk pintu. Beberapa kali mengetuk namun tak kunjung ada jawaban akhirnya Senna memutuskan untuk masuk begitu saja.

Hening…

Tidak nampak tanda-tanda keberadaan Hyeri di dalam kamar. Namun ketika hendak keluar, Senna mendengar riak suara pancuran yang mengalir. Gadis itu menuju arah kamar mandi, mengetuk pintu beberapa kali namun tak ada sahutan. Lagi, Senna memutuskan untuk membuka pintu tanpa seijin si empunya. Begitu pintu terbuka.

“Arghk!!! Ahjushiii!!! Ahjushiiii!!!”

Senna berteriak histeris, air mata membasahi wajahnya ketika ia mendapati sang sepupu tengah berendam di dalam bath up dengan air berwarna merah terang dan berbau karat.

************************************************

************************************************

************************************************

TBC

************************************************

************************************************

Mian ya baru bisa post. Pendek pula. 😥 Yuuki sibuk sekali di real, ngurus ini itu, ditugaskan atasan kesana-kemari, lembur dan ini itu. Silakan menikmati ya 🙂

Sampai jumpa lain kesempatan.

Tetap jaga kesehatan.

************************************************

************************************************

************************************************

 

Wednesday, January 25, 2017

8:33:36 PM

NaraYuuki

Epep Tertunda (Semi Hiatus)

lOVE mAIR

Selamat pagi…
Berkaitan dengan beberapa inbox, messanger, Line dan email yang menanyakan soal epep Love Stone, Epislova, Another Girl, Efoni Kakofoni & The Ego. Karena epep-epep itu dibukukan jadinya Yuuki tidak bisa memposting lagi disini. Maaf sekali. Bukannya tidak mau tetapi seperti ada perjanjian tidak tertulis yang mengikat sehingga tidak bisa repost.
Maafkan Yuuki.
Apabila ada pertanyaan silakan komen dikotak review atau kirim email ke narayuuki@yahoo.com (slow respon ya) 😀 Yuuki agak disibukkan kerjaan di real soalnya.
Dan yang menanyakan epep Pembalasan Bidadari Hitam, Suprasegmental & yang masih belum end lainnya. Maaf, laptop Yuuki sedang dipinjam rekan kerja Yuuki untuk mengurus pekerjaan penting yang programnya cuma mau dibuka di laptop Yuuki jadi sampai laptop itu kembali Yuuki tidak bisa memposting lanjutannya karena draffnya ada di sana. Mohon pengertiannya 🙂
Terima kasih 🙂 

“Pergilah ke seluruh penjuru Big East dan temukan Love Stone! Itu adalah satu-satunya penawar bagi racun Sendata.”

“Pergilah ke seluruh penjuru Big East dan temukan Love Stone! Itu adalah satu-satunya penawar bagi racun Sendata.”

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

“Pergi ke Cassiopeia seperti amanat Appa dulu! Kau harus belajar sihir yang lebih kuat dari kemampuanmu sekarang.” Jung Yunho, seorang pangeran dari kerajaan bernama Bollero yang terpaksa terusir dari tanah kelahirannya sendiri hanya karena ketamakan sang paman yang ingin merebut tahta darinya. Ditemani 4 pengawal yang dipilihkan oleh kakaknya sebelum terusir ke pulau kematian, Yunho berangkat menuju Cassiopeia, melewati banyak halangan dan rintangan yang mengajarkannya tentang cinta, tanggung jawab, persahabatan dan kehilangan.

“Pergi ke Cassiopeia seperti amanat Appa dulu! Kau harus belajar sihir yang lebih kuat dari kemampuanmu sekarang.” Jung Yunho, seorang pangeran dari kerajaan bernama Bollero yang terpaksa terusir dari tanah kelahirannya sendiri hanya karena ketamakan sang paman yang ingin merebut tahta darinya. Ditemani 4 pengawal yang dipilihkan oleh kakaknya sebelum terusir ke pulau kematian, Yunho berangkat menuju Cassiopeia, melewati banyak halangan dan rintangan yang mengajarkannya tentang cinta, tanggung jawab, persahabatan dan kehilangan.

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

“Aku tidak bisa membenci kalian karena aku tidak mau terluka akibat perasaan sepihak itu. Aku hanya masih butuh waktu untuk menyembuhkan hatiku. Suatu hari nanti….” Perjuangan Jaenna untuk Move On. Dapatkah ia menyambut cinta yang diulurkan padanya atau memilih tetap pada masa lalunya?

“Aku tidak bisa membenci kalian karena aku tidak mau terluka akibat perasaan sepihak itu. Aku hanya masih butuh waktu untuk menyembuhkan hatiku. Suatu hari nanti….” Perjuangan Jaenna untuk Move On. Dapatkah ia menyambut cinta yang diulurkan padanya atau memilih tetap pada masa lalunya?

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

Dengan jemari bergetar Jaejoong membelai wajah Yunho, “Kau sudah merelakan hidupmu sebagai seorang bangsawan, bukankah apa yang kulakukan ini pun juga setimpal?”

Dengan jemari bergetar Jaejoong membelai wajah Yunho, “Kau sudah merelakan hidupmu sebagai seorang bangsawan, bukankah apa yang kulakukan ini pun juga setimpal?”

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

Ada sedih ada bahagia. Itulah hidup.

Ada sedih ada bahagia. Itulah hidup.

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

Suprasegmental untuk para kutil

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

pEMBALASAN BIDADARI HITAM NARAYUUKI  SUPER sMALL

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

Cara memberi pelajaran Jung Yunho dan anak ingusannya yang bernama Hyunno itu hanya bisa dilakukan dengan satu cara. Melukai Jaejoong.”

Cara memberi pelajaran Jung Yunho dan anak ingusannya yang bernama Hyunno itu hanya bisa dilakukan dengan satu cara. Melukai Jaejoong.”

❤ ❤ ❤ ❤ ❤

Tetap Jaga kesehatan.

NaraYuuki

 

Jalak Hitam

download

Harusnya engkau pemimpim

Harusnya engkau pelindung

Harusnya engkau penjaga

Harusnya engkau pemberi pelita

Nyatanya engkau memberi luka

Nyatanya engkau menyemat duka

Nyatanya engkau menyuap derita

Nyatanya engkau menyita lara

Duhai jalak jantanku sayang

Kala anakmu menangis malang

Kala ratumu menangis pilu

Engkau memilih bercumbu dengan si camar

Dimana nalarmu?

Kau kemanakan janjimu?

Janji pada Tuhanmu

Ketika kau berikrar….

4 November 2016

NaraYuuki