Suprasegmental V

Tittle                : Suprasegmental V

Writer               : NaraYuuki

Genre               : Romance/ Adventure/ fantasy kerajaan/ Incest

Rate                 : -M

Cast                 : Member DBSK (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan).

Disclaimer:       : They are not mine but this story is mine, NaraYuuki

Warning           : This is YunJae Fan Fiction (Boys Love). M-Preg. Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut.

.

.

Suprasegmental untuk para kutil

.

.

PASTIKAN BACA WARNINGNYA DULU

EPEP INI KHUSUS BUAT EMAK IFA DAN PARA KUTIL TERSAYANG YUUKI :D

.

.

IMG_7188113833845

.

.

Asap mengepul dari gelas teh yang berada di hadapan Yunho, ketika pemilik lengan putih pucat itu menuangkan teh hijau panas yang bisa menghangatkan suasana dini hari kali ini ditemani oleh rintik gerimis yang membiskan kabut tipis di sekitar wilayah provinsi Bollero.

“Apa kau sudah meminta orang untuk menyelimuti Junsu dan Tae Jo sshi?” tanya Jaejoong.

Yunho yang sedang menyuapkan sesendok bubur ke dalam mulutnya mengangguk pelan. “Mereka sudah merasa hangat sekarang. Tenang saja!”

“Lalu apa yang harus kita lakukan?” mutiara serupa rusa betina itu menerawang langit-langit muram yang melindunginya dari sengatan dingin.

“Apa yang harus dilakukan?” Yunho bertanya balik, “Tentu saja kita harus segera membuat surat penangkapan untuk memperkarakan kejahatan yang sudah dilakukan Lee Hongman. Memang apa lagi yang bisa kita lakukan selain itu?”

Jaejoong memukul lengan Yunho dengan sumpit yang berada di tangan kanannya, “Anakmu, pabo! Apa yang harus kita lakukan padanya?” ucap Jaejoong yang memelototkan mata indahnya pada Yunho.

Yunho meletakkan sendok supnya di atas meja lipat, sepasang mata musangnya menatap serius wajah rupawan sosok yang berada di hadapannya itu dengan tatapan penuh kesungguhan. “Aku akan mengirim surat pada Ayah dan Yang Mulia Raja, memohon belas kasihan mereka agar merestui kita.”

“Tidak akan semudah itu.” lirih Jaejoong dengan wajah muramnya. “Kita bersaudara. Ayah pasti akan sedih dan mengutuk perbuatan kita yang mendatangkan aib bagi keluarga. Terlebih kakekku… Yun, aku takut….”

“Bukankah dari awal kita memulai hubungan ini kita sudah berjanji akan bersama-sama menghadapi segala rintangan yang ada?” tanya Yunho, diletakkannya sendok bubur yang dipegangnya untuk menggenggam erat jemari tangan Jaejoong yang hangat namun terasa dingin. “Sekarang apa yang kau risaukan, Boo?”

“Aku tidak mengkhawatirkan diriku, Yun. Aku menghawatirkanmu.” ucap Jaejoong, “Apa hukuman yang akan Ayah berikan padamu? Apa yang akan Kakekku tuntut darimu?”

Yunho tersenyum, mengusap perlahan pipi pucat kemerahan Jaejoong yang terasa kenyal dan dingin. “Biarlah aku yang memikirkan semua itu, Boo. Kau cukup menjaga anak kita dengan baik.” ucapnya menenangkan, “Mulai besok kurangilah kapasitas bekerjamu di kantor kehakiman, untuk urusan yang mendesak dan berbahaya serahkan pada orang lain. Kalau tidak biar aku yang mengambil alih pekerjaanmu.”

“Jangan perlakukan aku seperti perempuan, Jung!” sentak Jaejoong. Dalam situasi macam apapun Jaejoong enggan mengakui bahwa dalam hubungan ‘rahasia’nya dengan Yunho dirinya bertindak sekalaku perempuan.

“Jangan tersinggung Boo. Aku hanya mengkhawatirkanmu dan anak kita.” ucap Yunho mencoba mereda emosi Jaejoong. Yunho pernah diberitahu temannya yang sudah menikah bahwa seseorang yang sedang hamil cenderung lebih mudah emosi karena masalah-masalah sepele. Dan sepertinya mulai hari ini Yunho harus menguatkan dirinya dan mempertebal kesabarannya menghadapi sang kekasih yang tengah mengandung buah cinta mereka.

“Terserah padamu!” dengus Jaejoong kesal, “Aku ingin begitu matahari terbit nanti, sudah ada tabib atau dokter untuk mengobati Tae Jo sshi lebih lanjut. Tabib di kehakiman sudah memberikannya obat tapi aku ingin Tae Jo sshi cepat pulih karena jasanyalah aku masih bisa bernapas sampai sekarang.”

“Dia akan mendapat penghormatan dariku, Boo. Aku akan memberikannya hadiah karena sudah melindungimu.” Yunho mengikrarkan janjinya.

“Tidak! Jangan beri Tae Jo sshi hadiah!” larang Jaejoong.

Yunho menaikkan sebelah alisnya mendengar apa yang sosok indah itu katakan. Tersimpan sebuah ketegasan dan sesuatu maksud tersembunyi dari nada bicara Jaejoong barusan.

“Beri dia jabatan dibadan kepolisian dibawah kendalimu, Yun! Tae Jo sshi adalah orang yang cekatan dan bisa diandalkan.” Ucap Jaejoong dengan sungguh-sungguh, “Aku yakin dia bisa berguna untuk membongkar kebobrokan yang terjadi di Bollero ini. Bukan hanya masalah penyelundupan yang kita tuduhkan pada tuan Lee Hongman tetapi juga rahasia lain Bollero yang belum kita ketahui.”

“Kenapa kau seyakin itu pada orang yang bahkan baru kau kenal, Boo?” tanya Yunho tidak suka.

Jaejoong tersenyum samar, “Ketika tabib memeriksanya tadi aku melihat banyak bekas luka disekujur tubuhnya, Yun. Punggungnya penuh dengan luka sayatan, tusukan dan cambuk. Ada beberapa luka baru yang timbul karena benda tumpul. Pada bagian kakinya banyak dipenuhi luka gores yang aku yakin berasal dari goresan akar ataupun cabang pepohonan hutan. Ku rasa dia sudah pernah mengililingi hampir seluruh hutan yang berada di Bollero.” ucap Jaejoong, “Bukankah akan sangat rugi bila kita tidak memanfaatkan orang seperti itu?”

“Maafkan aku, tetapi mendengarmu memujinya seperti itu membuatku sedikit tidak suka padanya.” ucap Yunho.

Jaejoong tidak lagi mengulum senyum samae, kali ini sebuah senyum yang lebar. “Aku sudah bersamamu sejauh ini bahkan mengandung darah dagingmu. Apa yang kau takutkan Kepala Polisi Jung?” godanya.

“Sebelum aku mengikatmu dalam sebuah tali suci, aku akan membenci semua orang yang mencuri perhatianmu walaupun itu Junsu sekalipun.”

Jaejoong tertawa dengan suara pelan, enggan membangunkan seluruh pelayan dan pengawal yang sedang beristirahat. “Tapi jangan kau kendurkan kewaspadaanmu, Yun.” Jaejoong mengingatkan, “Musuh bisa membalas kita dari mana saja ketika ia sedang dalam keadaan terjepit seperti sekarang.”

“Aku mengerti, Boo. Karena itu aku sudah meminta Changmin dan Yoochun untuk memperketat keamaan di tempat kerja kita. Tempat ini pun harus mulai diperketat penjagaannya. Mulai pagi nanti Junsu akan mengawalmu kemanapun kau pergi bahkan ke kamar kecil sekalipun.” Ucap Yunho serius. “Maafkan aku, tetapi mulai hari ini kau adalah tawanan pribadiku!”

<3 <<<<< <3 <<<<< <3

“Kau terluka dalam, ada bagian organ dalam tubuhmu yang cidera lumayan parah. Apa sebelum bertemu denganku kau pernah bertarung dengan pendekar hebat?” tanya Jaejoong yang tengah menyeduh obat untuk Tae Jo, dokter yang dipanggil untuk memeriksanya baru saja pergi usai memberikan resep obat yang harus diminum Tae Jo sebanyak 5x sehari untuk memulihkan luka dalam tubuhnya. “Nah, minumlah Tae Jo sshi….” Jaejoong menyodorkan secangkir cairan hitam pekat dengan aroma khas yang asapnya masih mengepul-ngepul.

“Kenapa kau memperlakukanku sebaik ini?” tanya Tae Jo.

“Karena aku sudah berjanji akan mengobati lukamu. Maafkan aku yang telah menghajarmu kemarin. Dan terima kasih sudah menyelamatkanku Tae Jo sshi… atau aku harus memanggilmu Jin Yihan sshi?”

Laki-laki yang kini memakai hanbok berwarna abu-abu pucat itu tersentak kaget, tangannya yang terjulur hendak meraih cangkir obatnya itu mengejang kaku. Matanya bergerak gelisah namun enggan menatap mata Jaejoong.

“Jin Yihan, putra dari mendiang selir Jin yang diusir oleh Yang Mulia Raja karena berniat merencanakan penggulingan dan pembunuhan terhadap mendiang Yang Mulia Ratu. Sayang dalam pengasingannya selir Jin meninggal karena penyakit malaria yang saat itu sedang mewabah di daerah pengasingan, sedangkan putranya menghilang begitu saja. Pihak istana sudah menyatakan dan mengumumkan kematian pangeran Jin Yihan walaupun ada beberapa pihak yang sangsi dengan pertanyaan itu.” ucap Jaejoong tenang. “Kau tahu? Ada 3 orang yang diketahui memiliki tanda lahir berupa lambang rasi bintang Cassiopeia. Yang pertama mendiang ibuku, Kim Tae Hee. Yang ke-2 Putra Mahkota, Kim Hyun Joong. Dan yang ke-3 adalah Jin Yihan, putra selir Jin yang menghilang belasan tahun yang lalu. Aku melihat tanda lahir itu ada pada bahu kananmu saat kau berganti baju usai diperiksa tadi.”

Tae Jo mengepalkan tangannya erat-erat tanpa sedikitpun berniat membuka suaranya.

“Kalau benar kau adalah pangeran yang terbuang, Jin Yihan. Maka kau adalah kakakku. Walaupun hanya kakak sepupu.”

Ragu-ragu Tae Jo menatap Jaejoong, “Dari mana kau tahu informasi yang bahkan sudah dilupakan oleh kebanyakan orang itu? Bahkan aku yakin bahwa Raja, ayahku sendiri pun melupakanku.” ucapnya dengan suara parau.

“Aku tidak tahu soal Raja yang melupakanmu atau tidak. Tetapi dari mana aku mengetahui informasi itu… Raja sering mengajakku ke perpustakaan rahasia yang menyimpan informasi penting yang sudah dilupakan sejak aku kecil. Hampir semua buku di sana sudah pernah aku baca sehingga untuk menyimpulkan dan mengingat informasi mengenai pangeran yang terbuang tidaklah sulit karena hanya ada satu pangeran yang diasingkan bersama ibunya.” jawab Jaejoong. “Raja mempunyai 4 istri. Mendiang Ratu melahirkan 2 anak yakni Putra Mahkota Kim Hyunjoong dan mendiang pangeran Kim Hyunbin. Selir Park tidak bisa mempunyai anak karena penyakit yang menimpanya, aku dengar kini dia sedang sakit parah dan tidak ada satu obat pun yang mampu menyembuhkannya. Selir Ming melahirkan seorang putri yang kawin lari dengan prajurit istana. Sedangkan mendiang selir Jin yang diusir memiliki seorang putra seusia Putra Mahkota bernama Jin Yihan.”

“Jadi Selir Ming yang kini mengisi posisi ratu?” gumam Tae Jo. “Sejak awal dia yang paling berambisi. Bahkan mungkin sakitnya Selir Park pun ada sangkut pautnya dengannya.”

“Tidak.” jawab Jaejoong. “Selir Ming tetap seorang Selir karena Yang Mulia Raja tidak ingin ada ratu baru. Lagi pula sebentar lagi Yang Mulia Raja akan menyerahkan tahtanya pada Putra Mahkota.” Jaejoong menjelaskan.

“Lalu kenapa kalau aku adalah Jin Yihan yang terbuang itu?”

“Sudah ku katakan… kalau kau benar adalah Pangeran Jin Yihan berarti kau adalah kakakku. Kalau kau bukan pangeran Jin Yihan maka kau tetaplah Tae Jo sshi yang ku kenal di desa Roten.” ucap Jaejoong. “Siapapun kau, mulai hari ini kau adalah anggota kepolisisan di bawah komando Kepala Polisi Jung Yunho. Kau bertugas untuk memberantas kejahatan.”

“Kenapa aku harus melakukan hal yang sia-sia seperti itu?”

“Aku tahu kau orang baik karena ibumu pun adalah perempuan yang baik.” Jaejoong tersenyum, “Ketika ibuku meninggal dan aku hampir mati kelaparan, ibumulah yang menyusuiku ketika aku masih bayi dulu.”

Tae Jo tersentak kaget.

“Kasus yang menimpa ibumu adalah sebuah fitnah. Ibumu menjadi korban kebusukan para pejabat pemerintahaan yang tidak menyukainya. Aku, Putra Mahkota dan Jung Yunho pernah menyelidiki kasus itu. Kami berhasil membersihkan nama ibumu dan kau.”

“Tidak bisakah aku tetap menjadi Tae Jo si bandit saja?” tanya Tae Jo, “Nama Jin Yihan terlalu berat untuk ku sandang setelah apa yang menimpaku selama ini. Biarlah Tae Jo tetap hidup dan Jin Yihan mati.”

Jaejoong tersenyum dan mengangguk pelan. “Bila itu maumu. Tapi ijinkan aku memanggilmu Hyung.” ucap Jaejoong.

<3 <<<<< <3 <<<<< <3

“Aku merasa tersinggung Kepala Polisi, Jung!” pria berbadan tambun dan berwajah bengis itu berujar, “Kau tidak datang memenuhi undanganku dan hanya mengirim bawahanmu untuk menggantikanku? Apa kau berniat merendahkanku?”

“Maafkan aku Lee Hongman sshi. Aku tidak bermaksud merendahkanmu, hanya saja ada urusan yang lebih mendesak daripada memenuhi undanganmu.” ucap Yunho tenang. Yunho sama sekali tidak terkejut ketika dirinya sampai di kantor kepolisian pria bertubuh tambun itu sudah membuat onar. Hal yang sebenarnya sudah diduga olehnya.

Dengan kasar pria bernama Lee Hongman itu menggebrak meja kerja Yunho, “Apa yang lebih penting dari undanganku, huh? Katakan!”

“Laporan kepada Mentri Keamanan dan Pertahanan Negara serta surat resmi yang ditujukan untuk Yang Mulia Raja. Hal-hal itu jauh lebih penting daripada datang memenuhi undangan minum anda, Hongman sshi.” ucap Yunho penuh penekanan, “Bila aku terlambat memberikan laporan perkembangan keamanan tempat ini maka kepalaku dan kepala anak buahkulah yang menjadi taruhannya. Kau mengerti Hongman sshi?” tanya Yunho sembari tersenyum, senyum yang penuh ancaman.

Pria bernama Lee Hongman itu berdeham (pura-pura batuk) gelisah.

“Kalau anda memang begitu ingin minum bersamaku, dengan senang hati aku akan menemanimu minum. Hanya saja tidak sekarang ketika pekerjaanku sedang menggunung.” ucap Yunho, “Yoochun….”

“Ya Kepala Polisi Jung?” tanya Yoochun yang sejak tadi berdiri sigap di samping Yunho.

“Antarkan Lee Hongman sshi ke luar. Pastikan dia masuk kereta kudanya dan pergi meninggalkan tempat kerja kita ini!”

Ye, Kepala Polisi Jung!” ucap Yoochun, “Tuan Lee, silahkahkan….”

Lee Hongman mendengus kesal, merasa dipermalukan oleh Yunho. Pria itu sempat merapalkan sumpah-serapah sebelum pergi meninggalkan Kantor Kepolisian.

<3 <<<<< <3 <<<<< <3

“Ini adalah beberapa surat edaran yang disebar oleh pengawal tuan Lee Hongman kepada beberapa pejabat daerah Bollero, Kepala Polisi Jung.” ucap Changmin sambil menunjukkan beberapa lembar surat.

“Dari mana kau mendapatkannya Changmin?” tanya Yoochun.

“Beberapa keluarga sepupuku ada yang mendapatkannya tetapi karena mereka ketakutan mereka melaporkan hal ini padaku. Mereka tidak mau terlibat dengan Lee Hongman.” jawab Changmin.

“Pertemuannya lusa?” tanya Yunho yang mendapat anggukan dari Changmin.

“Kepala Polisi Jung, baru saja ada utusan pengawal dari kediaman yang anda dan Jaejoong sshi tempati. Pengawal itu mengatakan ada bangkai babi dan kotoran sapi yang disebar di depan pintu gerbang kediaman anda.” ucap Changmin.

Yunho mengagguk paham, “Aku dan Jaejoong sudah menduga hal seperti ini akan terjadi. Tetapi aku tidak menyangka akan secepat ini.” gumam Yunho, “Tidak ada yang terluka, bukan?”

“Tidak.” jawab Changmin.

“Bisakah kalian berdua diam-diam memperketat penjagaan terhadap Jaejoong?”

Dengan bingung baik Yoochun dan Changmin saling memandang satu sama lain sebelum mengangguk perlahan pada Yunho.

<3 <<<<< <3 <<<<< <3

Tangan pucat itu meremas kuat-kuat selembar surat yang baru saja dibacanya hingga tidak berbentuk. Air mukanya sangat kaku dan penuh kemarahan. Sorot matanya menunjukkan keseriusan seorang pemimpin yang sedang menghadapi masalah serius.

“Panggil petinggi institut sekolah tinggi Negara! Aku ingin minta pertanggungjawaban mereka. Siapa yang sudah mengirim Jung Yunho dan Kim Jaejoong ke tempat laknat itu?” suaranya yang berat penuh ketegasan dan kemarahan itu menggelegar, membuat para pengawalnya diam menundukkan kepala mereka. “Membahayakan nyawa putraku? Siapkan 1 batalion untuk mengawalku menuju Bollero! Sudah saatnya aku mengurus tempat itu dengan tanganku sendiri!”

<3 <<<<< <3 <<<<< <3

<3 <<<<< <3 <<<<< <3

<3 <<<<< <3 <<<<< <3

TBC

<3 <<<<< <3 <<<<< <3

<3 <<<<< <3 <<<<< <3

 

 

Monday, May 04, 2015

7:39:20 PM

NaraYuuki

Revenge Epilog

Tittle               : Revenge Epilog

Writer             : NaraYuuki

Genre             : Romance/ Modern Fantasy/ dsb.

Rate                : M

Cast                : All member DBSK, Jin Yihan, Go Ahra (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan) and Others. Seiring bertambahnya Chap castnya pun akan disesuaikan.

Disclaimer:    : They are not mine but this story is mine, NaraYuuki

Warning         : This is YunJae Fan Fiction (Khusus Chap ini GS untuk Umma Jae). Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut, TANPA EDIT.

.

.

R2

.

.

PASTIKAN BACA WARNINGNYA DULU

.

.

.

.

.

 “Tidak Ahra! Jangan lakukan! Ku mohon padamu….” namja tampan bermata setajam mata musang itu terduduk dengan wajah sedihnya. Berharap yeoja berbadan mungil di hadapannya itu mengurungkan niatnya untuk meloncat ke dasar jurang.

“Aku mencintaimu, Yunho ya….” yeoja itu meratap, menangis. Hendak memeluk namja tampan itu tetapi diurungkannya niatnya.

“Itu bukan cinta tapi obsesi!” Yunho berusaha menjelaskan seiring semakin deras keringat mengguyur tubuhnya.

“Kau tidak tahu apa yang sudah ku korbankan untukumu, Yunho ya….” yeoja itu menangis pilu, menatap nanar sosok pemuda yang hanboknya sudah sangat kotor akibat terduduk di atas permukaan tanah berbatu kering di bibir jurang.

“Aku tidak pernah memintanya Ahra ya…. Tidak pernah….” lirih Yunho, “Kau tahu itu, kan? Kau tahu aku tidak bisa menolak pertunangan ini. Kalau aku melakukannya ibuku akan bunuh diri, ayahku akan menanggung hutang dan kerugian yang sangat besar Ahra ya…. Ku mohon. Bila kau benar-benar mencintaiku, relakan aku!”

“Merelakanmu menikahi nona Kim itu?” Ahra menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

Yunho bangun dari ketidakberdayaannya untuk memeluk Ahra,”Aku mencintaimu tetapi aku tidak bisa menikah denganmu Ahra ya. Maafkan aku….”

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

Hatinya terbakar ketika melihat pemuda yang dicintainya menikah dengan perempuan yang jauh diatasnya dalam segala hal. Perempuan itu berasal dari keluarga berada, berbeda dengannya yang hanya anak seorang pedang kecil, perempuan itu mendapatkan pendidikan terbaik yang bisa dikecap oleh keluarga bangsawan berbeda dengannya yang bahkan tidak bisa membaca dan menulis, pakaian yang dikenakan perempuan itu terbuat dari sutera kualitas nomor satu sementara dirinya hanya kain katun biasa. Rasa iri, dengki dan benci itu menimbulkan bibit bunga dendam dalam hatinya.

Ya, Ahra sangat membenci Kim Young Woong beserta seluruh keluarganya yang membuatnya terpisah dari Yunho yang sangat dicintainya.

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

“Aku membuat sebuah puisi untukmu, mau mendengarnya?” tanya yeoja berparas cantik yang memiliki mata seindah mata rusa betina itu dengan wajah bersemu merah.

Yunho yang gemas melihatnya hanya menganggukan kepalanya pelan perlahan. Istrinya benar-benar perempuan yang sangat cantik. Tidak menyesal Yunho sudah menikahinya.

.

Tuanku…

Bias wajahmu membayang disanubari

Dan suaramu tenggelam dikeheningan

yang termakan kelam malam….

 

Ku kubur dalam kenangan…

Biar dosa tak lagi ku lakukan

 

Tuanku…

Bila ada yang mampu ku ucap…

Ku haturkan doa untukmu

Agar engkau pada naungan kebahagiaan….

(Doa Untukmu oleh NaraYuuki)

.

Yunho tersenyum ketika yeoja cantik itu membacakan sebuah puisi yang ditulisnya sendiri untuk Yunho. Sudah lama sekali rasanya Yunho tidak merasakan kebahagiaan seperti ini semenjak petaka itu menimpa seluruh keluarganya –ketika dirinya dipaksa menikah hanya untuk menutup hutang keluarganya pada salah satu keluarga bangsawan kaya raya. Yunho sempat menolak keras hingga berakibat ayah dan ibunya mati bunuh diri. Hutang keluarganya pun terpaksa dipikul olehnya dan sang adik. Berada dalam keadaan terjepit Yunho pun menerima syarat pelunasan hutang, menikahi Young Woong, putri tunggal keluarga bangwasan yang memberikan pinjaman pada keluarganya.

Terlarut pada kecantikan istrinya dan kebahagiaan sebagai pengantin baru membuat Yunhi melupakan ikrar cintanya pada perempuan bernama Go Ahra yang pernah ia ucapkan dulu.

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

“Siapa kau?” tanya Ahra ketika tengah malam seorang pemuda seusia dengannya terlihat sangat berantakkan datang mengetuk pintu rumahnya, kebetulan sekali orang tuanya sedang pergi ke desa sebelah untuk membeli barang dagangan.

“Kim Junsu.”

“Ah, anak haram bangsawan Kim?!” gumam Ahra. “Apa maumu? Kenapa kau datang ke rumahku tengah malam begini?”

Junsu menunjukkan sekantung keping uang emas pada Ahra, “Aku tahu dibalik usaha dagang keluargamu, kalian adalah keluarga yang secara turun-temurun mempelajari ilmu hitam.” ucapnya tenang, “Aku ingin kau melenyapkan Young Woong!”

Ahra tersenyum meremehkan, “Aku bisa melakukannya dengan mudah, bahkan aku berniat melakukannya tanpa kau minta sekalipun. Tetapi karena kau telah datang padaku, apakah kau siap dengan pembayaran yang harus kau berikan untukku?”

“Apa sekantung uang ini tidak cukup untukmu?”

“Aku tidak membutuhkan uangmu.” ucap Ahra, “Aku membutuhkan jiwamu sebagai pertukaran.”

“Apapun akan ku berikan asal perempuan sialan itu enyah dari dunia ini!”

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

Ketika menghadiri festival lampion dimana seluruh warga tumpah ruang di jalan-jalan utama maupun di gang-gang sempit untuk menggantung lampion dan menyalakan kembang api, Yunho mengalami sebuah musibah.

Istrinya yang tengah hamil muda ditusuk oleh mantan kekasihnya sendiri, Yunho tidak bisa menolongnya sama sekali karena berada dibawah hipnotis, bahkan Changmin yang semula ikut jalan-jalan bersamanya pun tidak luput mendapatkan luka ketika berusaha melindungi kakak iparnya.

Bahkan sebelum pergi, mantan kekasihnya sempat merapalkan sumpah keji yang kelak pada akhirnya mengubah Yunho dan adiknya menjadi mahluk menjijikkan.

“Yunho ya…. Sebuah kutukan memerlukan kesetiaan, kau tahu itu kan?” yeoja berkulit pucat itu mengusap wajah tampan kekasihnya, menahan sakit yang mendera sekujur tubuhnya.

“Jangan bicara lagi, jebbal!” Yunho menangis, mendekap erat kekasihnya yang mengalami luka tusuk pada bagian perut sebelah kanannya, luka yang terlalu dalam hingga tidak ada satu obat pun yang mampu menyembuhkannya.

“Seperti apapun kau… aku tetap mencintaimu Yunho ya…. Aku mencintaimu…. Jangan lupakan itu.” bisik Young Woong sebelum menghembuskan napas terakhirnya.

“Andwe! Jebbal! Andwe!”

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

Sehari setelah istrinya dikubur, Yunho dan adiknya mulai berubah menjadi mahluk menjijikkan, kuku-kuku mereka meruncing, gigi mereka bertaring dan mata mereka sewarna darah. Keduanya pun mulai membunuh satu per satu pelayan yang bekerja di rumah mereka dan menghisap darahnya. Perilaku tidak wajar itu membuat keduanya diusir dari desa untuk selamanya.

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

Kadang ingatan Yunho yang masih menyimpan kenangan masa lampau itu membuatnya merasa terhina tetapi Yunho berusaha mengabaikannya karena dirinya tidak sama dengan Yunho yang dulu. Yunho kini hanyalah manusia biasa bukan mahluk imortal penghisap darah yang harus ditakuti dan dihindari.

“Yunie tidak mau meminum darahku lagi?” tanya Jaejoong saat dirinya berjalan santai bersama Yunho usai berbelanja di mini market dekat rumah Yunho.

“Tidak. Karena aku sudah menjadi manusia biasa, Boo.” jawab Yunho.

“Eh? Kenapa bisa?”

“Karena semenjak kemunculan bulan purnama merah atau biasa disebut bulan berdarah kutukan yang mengikatku otomatis terhenti.”

“Bohong! Aku sama sekali tidak melihat bulan berdarah yang Yunie maksud.”

“Tentu saja tidak bisa karena Boo Jae manusia biasa. Bulan berdarah hanya bisa dilihat oleh mahluk imortal.”

“Jadi sekarang setelah menjadi manusia biasa Yunie tidak bisa lagi melihat bulan berdarah?”

Yunho mengangguk pelan. “Tapi aku tidak menyesal tidak bisa lagi melihatnya karena ada Boo Jae yang bahkan jauh lebih indah daripada bulan purnama..”

“Gombal!”

Kajja! Halmonie dan Changmin pasti sudah menunggu kita.” Yunho menggandeng tangan Jaejoong erat. Bukan Young Woong, bukan pula orang lain melainkan Jaejoonglah yang ingin Yunho jaga, lindungi dan cintai hingga akhir hayatnya kelak.

Satu hal lagi. Cukup Yunho, Changmin, Junsu dan Ahra sendiri yang menyimpan rahasia besar apa yang sudah terjadi dimasa lampau mereka. Karena masa depan terkadang terlalu berharga untuk disandingkan dengan masa lalu.

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

FIN

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

Semoga dua epep yang belum selesai segera End dalam waktu dekat ini. Terima kasih yang sudah mampir, membaca dan mengikuti epep ini dari awal.

Maaf untuk hasil yang kurang maksimal ini.

Tetap jaga kesehatan.

.

.

.

Sunday, April 05, 2015

3:39:40 PM

NaraYuuki

Revenge End

Tittle               : Revenge End

Writer             : NaraYuuki

Genre             : Romance/ Modern Fantasy/ dsb.

Rate                : M

Cast                : All member DBSK, Jin Yihan, Go Ahra (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan) and Others. Seiring bertambahnya Chap castnya pun akan disesuaikan.

Disclaimer:    : They are not mine but this story is mine, NaraYuuki

Warning         : This is YunJae Fan Fiction (Boys Love), M-Preg. Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan sangat ngebut, TANPA EDIT.

.

.

R2

.

. 

PASTIKAN BACA WARNINGNYA DULU

.

.

.

.

.

Air mata dari sepasang mutiara rusa betina itu terus mengalir seiring berdatangannya para pelayat yang menyampaikan rasa duka dan simpati mereka pada keluarganya selaku pihak keluarga korban yang ditinggalkan. Padahal baru beberapa jam lalu sosok yang kini sudah berada di dalam peti mati kayu yang tertutup rapat itu masih memeluknya, mencium keningnya dan mengatakan bahwa dia mencintainya. Tapi sekarang…

Lihat saja bagaimana saudara kembarnya itu menangis meraung, menjerit memanggil-manggil nama ibu mereka. Ahra….

“Menangislah Boo….” ucap Yunho yang sejak beberapa menit yang lalu berada di samping Jaejoong, menguatkan namja chingunya yang sedang dirundung duka mendalam. Walaupun dari dalam lubuk hatinya yang terdalam, Yunho sangat membenci Ahra namun pada saat seperti ini benci itu harus disisihkan untuk sementara waktu guna menghormati orang meninggal –atau begitulah menurut orang-orang.

Tidak menyahut, Jaejoong memilih diam. Membiarkan air mata mengalir membasahi wajah cantiknya yang sudah sembab sambil sesekali membiarkan isakan lolos dari bibir merah penuhnya.

Umma….” Jaejoong bergumam pelan bersamaan jerit kepiluan yang dikumandangkan oleh Yoochun ketika peti itu mulai dimasukkan ke dalam liang kubur.

Yihan, selaku ayah Jaejoong dan Yoochun memang menginginkan agar jasad mendiang istrinya segera dikebumikan agar kesedihan yang dirasakan anak-anaknya beserta dirinya sendiri tidak berlarut-larut. Makin cepat penyebab kesedihan itu dihapus, makin sebentar luka yang ditorehkan olehnya.

Yunho mengeratkan rangkulannya pada bahu Jaejoong saat peti itu mulai ditimbuni tanah merah kelabu. Menurut Yunho akan lebih praktis bila jasad perempuan itu dikremasi namun pihak keluarga tidak ingin jasad yang rusak itu diubah menjadi debu, biar saja kembali ke tanah –ke bumi tempatnya bermula.

Umma!!” Jaejoong mulai panik saat tutup peti itu mulai terselimuti tanah. “Umma!” jeritnya histeris sebelum jatuh pingsan.

Tidak ada yang tahu kapan kematian menjemput, hanya keikhlasan dan ketabahan yang senantiasa akan menguatkan mereka yang ditinggalkan.

***

“Jaejongie hanya sedikit syok karena kematianmu, Noona.” ucap Junsu yang sedang meminum segelas air dingin. Rasa lelah setelah seharian menemani Yoochun yang dikasihinya menghadapi kematian ibunya memaksanya untuk menegak habis air dalam gelas berukuran 500 cc itu. Yah, walaupun orang yang dianggap telah tiada oleh Jaejoong, Yoochun, Yihan serta orang lain itu kini sedang duduk tenang di hadapannya sambil meminum wine.

“Lebih baik bila dia tahu kalau ibunya tewas dalam kecelakaan daripada mengetahui bahwa ibunya adalah orang brengsek yang bukan hanya sudah membunuh orang tetapi juga sudah mengutuk orang menjadi mahluk imortal yang menjijikan, Junsu.” ucap Ahra yang menahan gejolak jiwanya karena mengetahui putra bungsunya kembali masuk rumah sakit pasca upacara yang seharusnya menjadi upacara pemakamannya.

“Kau tidak ingin menemuinya, Noona?”

“Sebentar lagi aku akan menemuinya, Junsu.” jawab Ahra, “Tentu saja dalam bentuk yang berbeda.” gumamnya yang kembali meneguk winenya hingga tidak bersisa.

***

Ahra meletakkan guci kecil di atas meja, membuka tutup guci yang sudah terlihat sangat tua itu perlahan, membiarkan tiga orang lainnya terperangah melihat benda berwarna merah jambu yang mengeluarkan suara denyut seperti kepunyaan mahluk hidup sebelum secara hati-hati mengeluarkannya dari guci dan meletakkannya di atas permukaan meja.

“Jantung siapa itu?” tanya Changmin ngeri.

Ahra tidak menyahut, hanya menatap Yunho sekilas.

“Milik Young Woong.” sahut Yunho.

“Mengejutkan melihat reaksimu yang biasa saja seperti itu.” komentar Ahra.

Yunho menahan kepalan tangannya kuat-kuat walaupun kekesalan itu nyaris membunuhnya. “Hanya tidak habis pikir, bagaimana caramu melakukannya.”

“Bagaimana caranya tidak perlu ku beritahukan padamu karena itu tidak penting sekarang.” ucap Ahra. “Yang jelas benda inilah yang mengunci kutukanku pada kalian. Bila benda ini hancur maka kalian akan kembali seperti semula.”

Sambil menatap kakaknya, Changmin menelan ludah susah payah.

“Caranya?!” Yunho menatap tajam Ahra. “Bagaimana cara menghancurkannya?”

“Lihatlah sendiri!”

Krek! Krek!

Perlahan-lahan muncul retakan di atas permukaan benda berdenyut itu sebelum sedikit demi sedikit benda itu pecah menjadi beberapa bagian kecil-kecil seperti serpihan gelas yang pecah sebelum hancur seluruhnya menjadi gundukan debu berkilauan berwarna merah jambu.

Noona!” Junsu memekik kaget ketika secara perlahan rambut hitam legam Ahra memutih seutuhnya bersamaan dengan munculnya keriput-keriput mengerikan disekujur tubuhnya. Bahkan lipatan kulit dibagian wajah dan lehernya serupa lipatan orang berusia 60 tahun lebih. “Apa yang terjadi padamu, Noona?!”

“Inilah konsekuensi sebagai pembayaran pencabutan kutukan kalian.” jawab Ahra. “Tapi aku sama sekali tidak menyesal. Aku justru merasa sangat lega karena dendam dan rasa benciku padamu menguar seiring terbebasnya jiwaku dari kutukan yang mengikat kalian.” ditatapnya Yunho dengan mata lelah tuanya.

“Aku sudah tidak punya taring lagi?” tanya Changmin lebih kepada ekspresi kegembiraan ketika berkaca pada cermin yang berada di ruangan itu –kamar Ahra yang berada di apartement Junsu. “Kami benar-benar menjadi manusia lagi?”

“Buktikanlah sendiri! Mata kalian tidak akan bisa lagi melihat jarak jauh, telinga kalian pun tidak akan bisa lagi mendengarkan suara-suara yang berjarak berkilo-kilo meter seperti dulu lagi.” jawab Ahra. “Aku lelah. Pulanglah kalian! Aku ingin beristirahat!”

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

“Penyakit jantungnya dinyatakan sembuh. Bisa kau jelaskan padaku kenapa Jaejoong didiaaknosa menderita penyakit jantung padahal jantungnya sama sekali tidak bermasalah.” tanya Yunho. “Changmin bahkan sempat frustasi karena tidaak bisa menemukan penyebab sakitnya Jaejoong.”

“Entahlah.” jawab nenek yang duduk tenang di atas kursi rodanya. “Mungkin karena Young Woong.”

“Jangan mengkambinghitamkan orang yang bahkan keberadaannya sudah tidak ada di dunia ini lagi!” ucap Yunho dengan nada ketus.

“Kau percaya reinkarnasi?” tanya Ahra, “Aku percaya karena wajah putraku sangat mirip Young Woong.”

“Hm….” sahut Yunho tanpa minat.

“Young Woong yang jantungnya ku ambil sebagai media pengikat kutukan untukmu, Changmin dan Junsu sebetulnya mati dalam keadaan tidak sempurna. Kemudian Jaejoongieku lahir dengan rupa sama persis seperti Young Woong dengan keadaan jantung lemah semenjak bayi. Tidak bisakah kau mengambil kesimpulan dari hal itu?”

Yunho menatap wajah lelah berambut putih kusut itu dengan alis bertaut, “Young Woong bereinkarnasi menjadi Jaejoong?”

“Mungkin.” jawab Ahra, “Karena aku pun tidak tahu.”

Yunho kembali mengalihkan tatapan matanya ke tengah lapangan dimana di sana, Yoochun tengah berebut bola dengan Changmin yang mana anggota tim Yoochun adalah Junsu sedangkan anggota tim Changmin adalah Jaejoong –yang dinyatakan sembuh dari penyakit jantungnya secara ajaib.

“Bukankah terlihat sangat aneh bila seorang nenek yang sudah duduk di kursi roda tanpa daya menonton permainan basket anak remaja?”

“Masa bodoh.” ucap Ahra, “Yang penting aku bisa melihat anak-anakku bahagia walaupun ibunya tidak bisa lagi bersama mereka.”

Ya, 5 bulan telah berlalu semenjak ‘kematian’ Go Ahra. Yoochun dan Jaejoong pun sama sekali tidak menaruh curiga ketika tiba-tiba saja Yunho dan Changmin mengatakan mendapatkan wasiat untuk merawat Bibi mendiang ayahnya yang bernama Jung Ahra akibat putri tunggalnya meninggal karena penyakit kanker. Yunho dan Changmin berdalih bahwa selama ini Jung Ahra dan putrinya tinggal di Turki sehingga mereka jarang bertemu. Dengan cara seperti itulah Ahra bisa bertemu dan berbicara dengan kedua putranya walaupun harus menyamar dalam sebuah kebohongan.

“Hei Jung!”

“Sekarang ini pun kau seorang Jung! Jangan lupa itu!” Yunho memelototi Ahra.

“Jangan coba-coba membuat hamil Joongieku sebelum kalian menikah!”

“Oh, aku sudah melakukannya.”

Yah!”

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

Umma apa kabar?” tanya Jaejoong sambil meletakkan buket bunga tulip berwarna merah di atas nisan batu bertuliskan nama Go Ahra, “Minggu depan Chunie, Yunie dan Changminie ikut lomba kejuaraan basket nasional tingkat SMA. Menyenangkan bukan? Ah, kemarin Junsu sudah bisa menggoreng telur mata sapi tanpa gosong sedikitpun. Oh ya Umma, kemarin Appa menerima ajakan kencan putri pemilik perusahaan tempat Appa bekerja, dia perempuan baik tapi sepertinya Appa masih menganggapnya sebagai teman. Dan yang lebih hebat, jantung Joongie sudah tidak sering sakit lagi Umma.” Jaejoong tersenyum menatap batu nisan beku itu, membayangkan seolah-olah dirinya sedang melihat wajah tersenyum ibunya.

“Chunie mulai berkencan dengan Junsu walaupun mereka tidak mau mengakuinya! Dan Joongie…” Jaejoong membiarkan air matanya mengalir membasahi wajah cantiknya. “Yunie sudah melamar Joongie Umma. Kami sepakat akan menikah begitu lulus kuliah nanti. Memang masih lama tapi Joongie harap Yunie adalah pilihan terbaik untuk Joongie.”

Umma… Joongie harus segera pergi karena Joongie sudah berjanji pada nenek Ahra untuk membuatkannya puding vanilla. Hehehehe…. Namanya sama dengan nama Umma ne? Tapi buat Joongie Umma adalah pemilik nama Ahra yang paling yeoppo. Saranghae Umma….”

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

END

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

 

Endingnya seperti ini saja ya. Maaf, sudah lanjutnya lama endingnya ga bermutu lagi. Yuuki menyesal kalau ending FF ini kurang berkenan dihati para pembaca tetapi seperti inilah ending yang Yuuki rencanakan sejak awal untuk FF ini.

Epilog segera Yuuki post :D

Jaga kesehatan.

.

.

.

Sunday, April 05, 2015

2:19:16 PM

NaraYuuki

Revenge XI

Tittle               : Revenge XI

Writer             : NaraYuuki

Genre             : Romance/ Modern Fantasy/ dsb.

Rate                : M

Cast                : All member DBSK, Jin Yihan, Go Ahra (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan) and Others. Seiring bertambahnya Chap castnya pun akan disesuaikan.

Disclaimer:    : They are not mine but this story is mine, NaraYuuki

Warning         : This is YunJae Fan Fiction (Boys Love), M-Preg. Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut, TANPA EDIT.

.

.

R2

.

.

PASTIKAN BACA WARNINGNYA DULU

.

.

.

.

.

“Kenapa aku harus bolos sekolah demi pergi memancing bersama….” dengan malas Yoochun melirik Yunho dan Changmin yang sudah mendapatkan beberapa ikan gurame berukuran besar. “Lagi pula bukankah Appa bilang akhir minggu? Ini masih hari jumat.” keluhnya.

Ahra yang sedang membongkar bekal yang dibawanya hanya bisa tersenyum, memang rencana awalnya adalah akhir pekan namun ada sesuatu yang membuat rencana itu dimajukan. “Akhir minggu nanti ayahmu harus menemui atasannya yang datang dari Jepang karena itu kita pergi lebih awal. Lagi pula ayahmu sudah meminta ijin pada wali kelas kalian untuk mengajak kalian jalan-jalan hari ini. Jadi berhentilah mengeluh, Anakku!”

Yoochun mendengus kesal, “Junsu tidak masalah tapi kenapa harus mengajak dua bersaudara Jung itu, Umma?”

“Joongie tidak mau pergi kalau mereka tidak ikut dengan kita.” jawab Ahra, “Jangan mengeluh Chunie! Bukankah kalian teman sekelas?”

“Hanya sebatas itu! Aku tidak menyukainya, sama sekali tidak.”

Wae?” Ahra menatap lembut putra sulungnya.

“Karena sejak Joongie berhubungan dengan si Jung Yunho itu, dia melupakan kakaknya!” ucap Yoochun.

Ahra tersenyum, “Kau cemburu ne? Adikmu yang dulu selalu manja dan bergantung padamu sekarang sudah menemukan orang lain sebagai sandarannya. Bukankah begitu?”

Ani. Aku tidak cemburu pada si Jung itu Umma. Aku hanya kesal saja!” jawab Yoochun yang langsung menolehkan wajahnya ke arah kanan, enggan menatap wajah tersenyum ibunya.

“Bukankah itu sama saja?”

Ani. Berbeda.”

Ahra hanya tersenyum simpul, “Chunie, bisa kau panggilkan Junsu, Yunho dan adiknya kemari? Umma ingin bicara sesuatu dengan mereka.”

“Bicara apa Umma?”

“Sesuatu yang pasti akan terdengar sangat membosankan untukmu.” jawab Ahra, “Panggilkan mereka dan berikan ini pada Appamu!” Diberikannya termos berukuran sedang yang menyimpan es kopi pada Yoochun. Ahra masih ingat betul bahwa mantan suaminya itu sangat menyukai es kopi.

“Liburan ini kurang menyenangkan.” keluh Yoochun yang tetap berjalan menenteng termos dingin itu.

Ahra mengakui dirinya bukan orang baik, namun Ahra sangat mencintai keluarganya, Ahra sangat mencintai anak-anaknya bahkan Ahra pernah sangat mencintai Jihan yang merupakan ayah dari anak-anaknya. Cinta Ahra terlalu tulus dan dalam pada keluarganya untuk ternoda dendam masa lalu yang sudah ratusan tahun menyiksanya. Ahra ingin mengakhiri semuanya, Ahra akan mengalah dan menekan perasaan marahnya demi kebahagiaan orang-orang yang sangat dikasihinya.

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

“Apa maumu?” Yunho menatap tajam Ahra dan Junsu yang duduk tenang di hadapannya dengan wajah sok polos mereka –menurut Yunho.

Berbeda dengan Yunho, Changmin justru menatap bingung Ahra dan Junsu. Berkali-kali pemuda jangkung yang sedang mengunyah kue coklat itu menatap Junsu dan Ahra secara bergantian.

Sejenak Ahra menatap mantan suami dan kedua anaknya yang sedang berteriak-teriak kegirangan karena ikan hasil tangkapan mereka sangat besar sebelum beralih menatap Yunho dan Changmin dengan wajah seriusnya. “Aku bisa mencabut kutukan kalian. Kalian bisa menjadi manusia normal lagi.”

Brruuuuuuuussshhhhhhh!

Bila Changmin memuncratkan kue coklat yang nyaris ditelannya, Yunho hanya melotot tidak percaya sedangkan Junsu mulai gelisah menunggu ucapan Ahra selanjutnya.

“Hanya saja ada konsekuensi yang harus ku tanggung bila kutukan itu ku cabut dari kalian.” Ahra menatap Yunho, Changmin dan Junsu bergantian dengan wajah tenang namun penuh keseriusan.

“Apa? Apa?!” tanya Changmin tidak sabar. Beratus tahun dirinya menyelidiki cara agar bisa menjadi manusia normal tanpa terikat lagi dengan minuman kental merah –darah yang menurutnya kini beraroma busuk.

“Kau akan mati bila mencabut kutukan kami?” tanya Yunho dengan suara datar namun matanya seolah-olah melihat sesuatu yang mengerikan.

Junsu memalingkan wajahnya, matanya mulai nanar.

“Tidak.” jawab Ahra. “Aku hanya akan menua, lebih cepat dari yang kalian duga.”

“Tunggu! Jelaskan lebih rinci padaku agar aku tidak gila karena penasaran!” ucap Changmin tidak sabar.

“Aku memang akan mati –sedikit lebih cepat daripada kalian seandainya aku mencabut kutukanku dari kalian. Hanya saja aku tidak akan langsung mati, aku akan menua, berubah menjadi orang yang sangat tua sebelum akhirnya aku mati.” Ahra mulai menjelaskan, “Kalau kalian benar-benar ingin menjadi manusia biasa aku bisa melakukan hal itu untuk kalian. Tapi aku juga minta imbalan dari kalian.”

“Apa?” tanya Yunho dengan ekspresi sangat datar, tidak mau tertipu lagi dengan kata-kata berbisa perempuan yang dulu sekali pernah sangat dekat dengannya.

“Rekayasa kematianku.” jawab Ahra.

Nonna!” Junsu memekik.

“Yang Yihan Oppa, Chunie dan Joongie tahu minggu depan aku akan kembali ke Amerika. Aku ingin kalian merekayasa kematianku sementara aku sendiri sembunyi dari mereka di tempat salah seorang dari kalian.”

Yunho dan Changmin saling melirik.

“Kalian bisa membuat taksi yang ku tumpangi kecelakaan atau terjun ke jurang. Lakukan apa saja untuk melenyapkan jejak Go Ahra dari dunia ini. Setelah itu, akan ku cabut kutukanku atas kalian.”

“Kenapa kami harus percaya padamu?” tanya Yunho dingin, “Kenapa kau tidak mencabut kutukan kami dulu sebelum menjalankan rencana gilamu itu?!”

“Karena rencana gilaku itu hanya akan bisa terlaksana jika kalian bukan manusia biasa. Dibutuhkan kecepatan tinggi dan tenaga yang sangat kuat untuk melakukannya.” Ahra menatap Yunho, “Kalau kau keberatan kau tidak harus melakukannya. Tetapi aku tidak menjamin kau bisa terus bersama Jaejoongieku dalam sosokmu yang sekarang –peminum darah.”

Yunho mendesis, menunjukkan taringnya yang runcing.

Ahra memasang senyumnya ketika melihat Jaejoong tersenyum riang sambil menenteng ikan besar hasil pancingannya sedang berjalan ke arahnya, “Pikirkan baik-baik!” ucap Ahra pada Yunho, Changmin dan Junsu. “Ikan tangkapanmu besar sekali, Chagy.” puji Ahra.

“Joongie mengalahkan Appa dan Chunie, Umma.” ucap Jaejoong bangga. “Joongie mau dibuatkan sup ikan dari ikan hasil tangkapan Joongie ini.” dengan penuh semangat Jaejoong menyerahkan ikan hasil tangkapannya pada Ahra.

Umma akan membersihkan ikan ini dulu. Mintalah Yunho menemanimu membuat bumbu dan api untuk memasak.”

Jaejoong mengangguk pelan.

“Aku akan membantumu NooAhjuma.” Junsu segera bangun dari duduknya dan berjalan tergesa menyusul Ahra yang sudah berjalan beberapa langkah mendahuluinya.

“Aku bisa menyiapkan piring sajinya.” Changmin meringis.

“Piring saji? Ikannya bahkan belum dimasak.” Jaejoong menimpali. Mutiara rusa betinanya yang sangat bening lagi indah itu menatap Yunho seolah-olah meminta penjelasan apa yang sebenarnya tengah mereka bicarakan dengan ibunya sebelum dirinya datang ‘mengganggu’ diskusi singkat mereka.

“Tidak apa-apa, Boo.” ucap Yunho yang mengerti arti tatapan namja chingunya. “Ibumu hanya berpesan padaku untuk menjagamu jika dia sudah kembali ke Amerika nanti. Ibumu juga meminta Junsu untuk tetap menjadi sahabat baik Yoochun serta mengingatkan Changmin agar tidak selalu merengek meminta makan padamu.” sedikit berbohong namun Yunho yakin kekasih cantiknya itu akan percaya pada apa yang diucapkannya.

Jaejoong mengerucutkan bibirnya kesal namun tetap mempercayai apa yang dikatakan oleh Yunho.

“Kau lelah? Mau istirahat?” tanya Yunho.

Jaejoong tersenyum selagi menggelengkan kepalanya pelan, “Sebenarnya aku dan Chunie berharap Umma dan Appa bisa rujuk kembali. Tapi sepertinya hal itu tidak akan pernah terjadi mengingat Umma sangat mencintai kariernya di Amerika.”

Yunho menarik Jaejoong kedalam pelukannya, “Tidak semua hal yang kau lihat itu adalah sebuah kenyataan, Boo. Siapa yang bilang ibumu tidak mencintaimu dan Yoochun? Dari caranya bicara padaku, Junsu dan Changmin tadi menandakan bahwa sebenarnya dia sangat mencintai kau, Yoochun dan ayah kalian. Hanya saja mungkin ibumu tidak bisa mengekspresikan rasa cintanya dengan baik.”

“Begitukah?”

“Tentu saja.”

“Tapi rasanya tetap menyedihkan Yunie….”

“Aku mengerti, Boo. Mungkin memang berat tapi kau akan terbiasa nantinya.” ucap Yunho, “Hei, jangan murung begitu! Bukankah kita datang ke tempat ini untuk bersenang-senang?”

Jaejoong mengangguk penuh semangat, “Hari ini akan ku tendang perasaan sedih itu! Akan ku nikmati hari ini dan hari-hari berikutnya sampai hari keberangkatan Umma.” ucapnya penuh semangat.

Sedikit bersalah karena sudah berbohong pada Jaejoong namun Yunho tidak urung tersenyum juga. Yunho memang tidak tahu alasan dibalik rencana gila Ahra itu. Namun jika yang menjadi alasan kegilaan Ahra adalah Jaejoong dan Yoochun, maka Yunho bisa sedikit memahaminya.

“Cinta itu terkadang mengerikan.” gumam Yunho yang diyakininya bisa didengar baik oleh Changmin, Junsu dan Ahra.

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

TBC

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

Mian lama postnya, mian juga belum bisa membalas komentar di chap sebelumnya. Yuuki agak bingung bagi waktunya. Ngetik pun sudah susah waktunya.

Jaga kesehatan ya.

.

.

.

.

.

Tuesday, March 31, 2015

2:29:24 PM

NaraYuuki

Aroma Dosa

Tittle                : Aroma Dosa

Writer               : NaraYuuki

Genre               : Romance

Rate                 : T+

Cast                 : Kim Jaejoong, Jung Yunho & Kwon Boa

Disclaimer:       : They are not mine but this story is mine, NaraYuuki

Warning           : This is YunJae Fan Fiction (Boys Love). Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut.

.

.

mendung

.

.

PASTIKAN BACA WARNINGNYA DULU

.

.

.

.

.

Aku mendambamu, sayangku!

Sungguh mendambamu….

Aku merindukanmu, sayangku!

Sangat merindukanmu….

Terlalu rindu hingga ingin ku bunuh dirimu!

Ku jeburkan dalam nelangsa jasatmu yang harum aroma dosa

###

Bila ku ingat-ingat, aku sangat menyayangimu. Aku sangat mencintaimu dan memuja dirimu yang ku anggap sempurna. Itu dulu! Sekarang…? Entah apa yang ku rasakan sekarang. Rasanya dadaku terlalu sesak hingga aku sulit bernapas, rasanya jantungku hendak meledak ketika rindu ini menyiksaku. Terlalu rindu hingga kadang aku kehilangan nalarku sendiri. Tapi lihat sekarang!  Kau ada di sini! Kau ada di hadapanku…

… bersama perempuan itu.

Perempuan yang sudah mencurimu diriku, dulu.

“Kau sudah kenal Boa, kan? Sekarang dia calon istriku.”

###

Sayangku, lihatlah aku sekali lagi!

Sekali saja lihatlah aku!

Sayangku, sentuhlah aku sekali lagi!

Sekali lagi sentuhlah aku!

Sentuh aku dengan benci dendam yang kau punya untukku

Agar tuntas perasaan brengsek ini!

###

Andwe!”

Itu adalah suara termerdu yang pernah ku dengar setelah nyanyian irama nina bobok ibuku. Sungguh. Aku sangat menikmati ekspresi wajahnya yang tersiksa, calon istrimu itu ketika melihat kita tengah bercumbu di atas ranjang yang seharusnya menjadi kamar pengantin kalian satu minggu lagi.

Air matanya adalah madu terharum yang pernah ku cium, pelangi terindah yang pernah ku lihat. Wajah kecewa putus asanya yang menyimpan kesedihan mendalam adalah pahatan kecantikan sempurna dimataku, andai kau tahu.

###

Jangan ingat lagi, sayangku!

Jangan ingat lagi aku yang pernah mencintaimu

Jangan harap lagi, sayangku!

Jangan harap lagi cinta itu tersisa untukku!

Dendam ini sudah menguasaiku, benci ini sudah mengotori tubuhku!

###

“Aku membutuhkanmu, Jae….”

Ya. Kau memang seharusnya membutuhkan ku! Membutuhkan ku setelah calon istrimu mati dihari pernikahan kalian. Tidak ada yang tahu kecuali kita berdua dan Tuhan penyebab kematian Boamu terkasih.

… Depresi melihat calon suaminya bercinta dengan mantan kekasihnya yang sama-sama seorang pria.

Satu hal yang ku sesalkan, kenapa dia tidak bunuh diri pada hari itu juga? Kenapa aku harus menunggu selama satu minggu lamanya untuk melihat jasadnya?

Sungguh kesia-siaan belaka!

“Jangan tinggalkan aku, Jae!”

Oh, aku harus….

Mencampakkanmu setelah menghancurkanmu adalah sebuah kenikmatan tiada tara, kalau boleh jujur bahkan jauh lebih nikmat daripada bercinta denganmu.

“Aku harus pergi, Yun.”

“Kenapa?”

“Sama seperti 3 tahun yang lalu ketika kau mencampakkanku demi, Boa. Sekarang ini aku sedang membuang perasaanku padamu.”

Apakah kau bisa lihat ekspresimu yang penuh nelangsa itu? Coba berkacalah dan lihat betapa menyedihkannya dirimu!

“Andai dulu kau tidak mencampakkanku, mungkin sekarang kita sudah berbahagia. Sayangnya kau lebih memilih Boa. Selamat tinggal nae sarang….”

Kecupan di bibirmu itu adalah hadiah terakhir dariku…

###

Biarkanlah sayangku, biarkanlah…

Biarkanlah tertatih aku merangkak melewati nestapaku

Biarlah aku tersiksa karena merindu dan mendamba dirimu

Sebelum bisa ku campakan perasaan brengsek itu!

Perasaan yang melemahkan aku!

Biar ku tinggalkan perasaan sialan itu!

Perasaan yang membuatku kalah darimu

###

Sayangku, aku akan merengkuhmu dalam selimut asa

Akan ku sentuh hatimu yang nelangsa

Andaikan kau tidak memilihnya….

###

End

###

Galau menunggu jadi iseng memparafasakan puisi Nae Sarang (NaraYuuki) jadi epep gaje ini. Ketik lewat Hp jadi maklum kalau banyak Miss Ty :)

Jaga kesehatan ya :D

.

.

.

.

.

Monday, 23 Maret 2015

08.29 PM

NaraYuuki

Senja Belum Usai

Tittle                : Senja Belum Usai

Writer               : NaraYuuki

Genre               : Puisi romance

Rate                 : T

Cast                 : Jung Yunho & Kim Jaejoong

Disclaimer:       : They are not mine but this story, Hyunno, Hyeri & Hyunbin are mine, NaraYuuki

Warning           : Tulisan ini masuknya ranah puisi walaupun Yuuki kemas dalam bentuk seperti drabble begini. Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut.

.

.

540345_449833995063936_174666514_n

.

.

PASTIKAN BACA WARNINGNYA DULU

.

.

.

.

.

Senja belum juga usai, Jae tapi aku sudah jenuh pada rutinitas kita. Aku bosan mencangkul sawah tandus, aku lelah menyiram kedelai kala kekeringan mencekik kita, aku letih menunggu padi siap panen sebelum bisa menikmatinya. Tapi aku lebih bosan menunggumu bangun untuk melihat senja bersamaku.

Aku sudah tidak tampan lagi, Jae. Aku sudah tidak gagah lagi. Kulitku sudah mulai dikikis oleh keriput, begitu pula rambutku yang sudah ditumbuhi uban-uban nakal yang membuat gatal. Aku sudah kehilangan pesonaku yang ku persembahkan untukmu sejak pagi menjelang hingga petang yang belum lagi usai ini.

Kalau boleh jujur, aku rindu senyumanmu, suara tertawamu, omelan pedasmu, bahkan air matamu. Kau terlalu curang, Jae. Terlalu cepat kau berangkat  tidur. Menyisakan sepi bersamaku sendiri, meninggalkan anak-anak dan cucu-cucu kita bersama kesedihan yang mematri hati mereka.

Petang belum lagi datang, Jae. Tapi aku sudah lelah menunggumu….

“Ayah sudah mau pergi?” si sulung Hyunno yang sejak beberapa waktu lalu terus menggenggam tanganku bertanya.

Aku hanya mengangguk pelan. Terlalu letih untuk menjawab. Lalu ku lirik si bungsu Hyeri yang tidak henti-hentinya menangis dalam pelukan suaminya, suara isakannya terlalu ribut untukku. Mataku terlalu berat dan lelah, namun ku paksa juga menatap anak ke-2 kita, Hyunbin. Anak itu memang menangis namun tidak bersuara meskipun air matanya sudah membanjiri wajah cantiknya yang menurun darimu, dia memang paling mirip denganmu dibandingkan Hyunno maupun Hyeri.

Lalu ku dengar cucu-cucu kita menjerit memanggil-manggil namaku, aku tidak bisa menyahut karena lidahku terasa kelu.

“Ayah pergilah dengan tenang, biar aku yang menjaga keluarga kita. Berbahagialah Ayah di sana bersama ibu. Kami mencintai Ayah.” suara serak lagi parau milik Hyunno adalah bunyi terakhir yang ku dengar sebelum mataku dibungkam waktu, suara terakhir sebelum aku melihatmu dalam sosok mudamu, suara terakhir sebelum ragaku membeku untuk selamanya….

###

End

###

Sebel sama Beruang Gembrot jadilah tulisan gaje ini. Diketik lewat HP jadi harap maklum kalau belepotan.

Terima kasih sudah membaca.

Jaga kesehatan <3

.

.

.

.

.

Monday, 30 Maret 2015

07.02 PM

NaraYuuki

 

Alone (Jaejoong Side)

Tittle                : Alone (Jaejoong Side)

Writer               : NaraYuuki

Genre               : Little bit angst

Rate                 : T

Cast                 : Kim Jaejoong

Disclaimer:       : They are not mine but this story is mine, NaraYuuki

Warning           : This is YunJae Fan Fiction (Boys Love). Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut.

.

.

IMG_12251868052605

.

.

PASTIKAN BACA WARNINGNYA DULU

.

.

.

.

.

Jaejoong berjalan pelan menuju salah satu kursi taman yang berada tepat di bawah pohon mahoni besar lagi rindang sambil memegangi perut buncitnya. Sosok menawan itu enggan diantar oleh kakak-kakaknya maupun adik iparnya. Jaejoong ingin sendiri, Jaejoong ingin mengenang waktu yang telah lalu dimana dirinya dan Yunho berjanji akan bertemu di taman pada hari ulang tahunnya. Kejadian itu sudah lebih dari 5 bulan lalu namun sampai sekarang Yunho tidak kunjung menemuinya.

Merasa kebas pada betis dan pergelangan kakinya, Jaejoong mendudukkan dirinya di atas kursi. Mata hitamnya menerawang menatap risik daun mahoni yang bergoyang seirama melodi angin. Tangan kirinya yang sedari tadi memegang buket bunga mawar aneka warna itu akhirnya meletakkan karangan bunga yang ditujukannya untuk orang terkasih.

“Sudah 5 bulan, Yun.” bibir merah penuh itu bergumam. Kelopak matanya terpejam ketika semilir angin menerpa kulitnya yang pucat namun memancarkan rona kemerahan alami.

Jaejoong sangat menyukai kesendirian yang gajil seperti ini dimana dirinya bisa dengan leluasa menikmati sakit, pahit, getir, nelangsa, sendu, bahagia dan gembira yang mengisi tiap rongga relung hatinya.

“Hmm… Usianya menginjak 9 bulan. Tinggal menunggu hari sampai dia lahir.” jemari lentik Jaejoong mengusap permukaan perut buncitnya yang tertutup oleh sweeter tebal berwarna pastel. “Terlalu lama kau pergi meninggalkan kami.”

Jaejoong tersenyum bodoh ketika perlahan air matanya turun membasahi wajah cantiknya –walaupun Jaejoong enggan disebut cantik. “Tidak apa-apa karena kau memang harus pergi.”

Mata seindah mutiara rusa betina itu melirik ke bagian samping kursi yang tengah didudukinya kini. Harusnya pada bagian yang kosong itu terduduk sosok Yunho, orang yang paling dirindukannya sekarang. Orang yang ingin dipeluk dan diciumnya dengan rindu dendam terdalam yang pernah Jaejoong rasakan.

“Tentu saja aku sudah menyiapkan sebuah nama untuknya.” Jaejoong bergumam, “Jung Hyunno…. Ya, memang terdengar seperti Yunho. Karena tujuanku adalah agar anak ini tahu siapa ayah kandungnya.”

Jaejoong menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga memerah –lebih merah daripada warna alami bibirnya yang kini sedang memucat.

“Aku mengerti.” pemilik kulit pucat itu berdiri dari duduknya kepayahan, telapak tangannya yang hangat mengusap perlahan perut buncitnya. “Aku sudah memaafkanmu, Yun. Kalau kau bisa mendengarku, pergilah ke dunia dimana seharusnya kau berada. Jangan khawatir karena aku akan menjaga anak kita dengan baik. Selamat tinggal….” usai melirik buket bunga yang teronggok diam di atas kursi taman yang muram, Kim Jaejoong, sosok menawan itu berjalan pergi. Pergi membawa nestapanya tanpa menyadari sosok transparan muram yang mengawasinya dalam diam. Jung Yunho

***

5 bulan yang lalu

“Sebuah sedan ditemukan masuk jurang setelah menabrak besi pembatas jalan. Diduga supir mengemudi dalam keadaan mengantuk. Saksi mata mengatakan sedan tersebut melaju sangat cepat padahal jalanan kala itu sedang licin usai hujan deras. Korban jiwa dalam kecelakaan tunggal tersebut bernama Jung Yunho, pengusaha muda putra sulung perdana menteri yang baru menikah 4 bulan yang lalu….”

***

###

***

END

***

###

Drable gaje ketika bosan menunggu yang ditunggu tidak kunjung datang.

Terima kasih sudah membaca.

Tetap jaga kesehatan.

.

.

.

.

.Wednesday, March 25, 2015

11:07:11 AM

NaraYuuki