Hamkke Gangje, Chagya II

Tittle                : Hamkke Gangje, Chagya II

Author              : NaraYuuki & Metha Sari

Genre               : Romance/ Drama/ Familly

Rate                 : T+

Cast                 : YunJae and Others (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan. GS for Kibum)

Disclaimer:       : Chara milik individu masing-masing but this story punya Yuuki & Metha

Warning           : Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut, jadi tolong maklumi kalau hasilnya sama sekali tidak memuaskan. TIDAK MENERIMA BASH DAN FLAMER! KALAU TIDAK MUDENG TINGGAL TANYAKAN DAN JANGAN MERUSUH DI RUMAH ORANG!

.

.

Pastikan baca warningnya dulu!

Semoga ini tidak mengecewakan….

.

.

Happy Reading

.

Hamkke

.

“Yihan ah, kau….” Yunho masih tidak dapat menyembunyikan kekagetannya, “kenapa kau bisa ada di sini?” tanyanya.

“Tentu saja untuk meeting, bukankah hari ini Jung corp akan memulai kerjasama dengan Jin corp jadi untuk itulah aku ada di sini.” Jawab Yihan.

“Kau? Meeting? Jin Corp?” tanya Yunho tidak percaya.

“Aku yang akan mewakili perusahaan Jin Corp untuk meeting hari ini sebagai manager.” Jawab Yihan.

Mendengar hal itu Yunho hanya bisa terdiam, tanpa disangka dia kembali bertemu dengan sahabatnya masa kecilnya yang kini menjadi saingannya. Yah, semua orang mungkin menganggap dirinya, Jaejoong dan Yihan adalah sahabat yang baik. Tapi, yang sebenarnya adalah Yunho dan  Yihan selalu bersaing merebut perhatian Jaejoong semenjak mereka sama-sama berada di panti..

“Oh ya bagaimana kabar Joongie, Yunho ah?” tanya Yihan membuat Yunho tersentak dari lamunannya..

“Dia baik-baik saja.” Jawab Yunho datar.

Ahh… aku sungguh merindukannya, apa dia bertambah cantik dan mempesona? Yunho ah bolehkah kapan-kapan aku berkunjung ke kediaman Jung untuk bertemu dengan Joongie?” Tanya Yihan tanpa melihat aura hitam disekelilingnya.

Yunho mengepalkan tangannya mendengar ucapan Yihan, ingin rasanya dia melayangkan tinjunya pada Yihan. Namun Yunho mencoba menahan emosinya, dia tidak ingin menghancurkan meeting penting ini. Akan Yunho tunjukkan kepada Appanya, Jung Siwon bahwa dirinya mampu dan layak memimpin kembali perusahaan.

“ Bisakah kita mulai meeting hari ini”. Ucapnya seraya mengepalkan tangan menahan amarah.

“Hahaha ne ne baiklah”.

.

.

At Jung Mansion

Kibum terduduk di bibir ranjang kamarnya sembari menatap sebuah foto keluarga, disana ada dirinya dan Siwon yang duduk pada sebuah kursi, di belakangnya berdiri Yunho dan Jaejoong. Yunho dengan wajah tampan serta tatapan tajamnya sementara Jaejoong dengan wajah cantik nan menawannya tersenyum menatap kamera.

“Hah….” Kibum menghela napas panjang.

Bagi orang-orang mereka terlihat seperti keluarga bahagia, namun kenyataannya tidak seperti itu. Sejak kejadian ‘itu’ hubungan keluarganya menjadi dingin, lebih tepatnya hubungan antara Siwon dan Yunho.

.

.

Flashback

Plak

Suara tamparan terdengar di ruang tengah keluarga Jung, seorang namja tampan hanya tertunduk sembari menahan nyeri dipipinya.

“KAU….” sang kepala keluarga itu menahan segala amarahnya. “kenapa bisa kau menghancurkan kerjasama yang akan sangat menguntungkan itu Jung Yunho?” tanya Siwon penuh amarah.

Yunho hanya terdiam mendengar kemarahan Siwon, ini pertama kalinya  orang yang selalu dijadikannya panutan itu menamparnya.

“Tapi ini tidak sepenuhnya salahku Appa, mereka bahkan menghina perusahaan kita”. Yunho mencoba membela diri.

“Tapi kau tidak harus memukul utusan dari JS group, kau telah menghancurkan segalanya. Appa kecewa padamu Yunho ah”. Siwon tidak bisa lagi menyembunyikan segala kekesalan dan kekecewaannya pada putra sulungnya itu.

“Kenapa Appa masih membela mereka yang jelas-jelas merendahkan perusahaan kita?” tanya Yunho. Ada kilat kemarahan yang terpancar dari sorot matanya.

“Itu sudah resiko dalam berbisnis Yunho, kau seharusnya bisa mengendalikan dirimu!” ucap Siwon.

“Tapi….”

“Kau benar-benar tidak becus Yunho ah, sekarang Appa yang akan mengambil alih memimpin perusahaan!”

“Bagaimana denganku Appa?”.

“ Kau menjadi manager utama, anggap saja itu hukuman atas kesalahanmu!” Setelah itu Siwon pergi meninggalkan ruang tengah menuju kamarnya.

Degh

Yunho merasa dunianya berhenti seketika mendengar ucapan appanya, dia tidak terima hanya karena kesalahannya memukul orang yang menghina perusahaan mereka maka dia harus turun jabatan dan dianggap tidak becus..

“ARRRRGGHH KAU TIDAK BISA MEMPERLAKUKAN SEPERTI INI APPA!” teriak Yunho kepada  Appanya.

Sedangkan baik Kibum maupun Jaejoong hanya dapat mematung dan menatap miris kepada Yunho, mereka tahu kalau mereka tidak akan dapat membantah semua ucapan yang Siwon lontarkan.

Flashback END

.

.

Umma….” Suara Jaejoong membuyarkan lamunan Kibum.

“Joongie ah wae?” tanya Kibum seraya tersenyum kepada putra cantiknya.

Umma gwenchana? Dari tadi Joongie memanggil Umma.” Ucap Jaejoong mempoutkan bibirnya.

Gwenchana Chagie, apa Joongie sudah makan siang?” tanya Kibum, diusapnya rambut putra kesayangannya lembut.

“Ne, Umma melihat foto keluarga kita? Umma merindukan Yunnie hyung yang dulu?” Tanya Jaejoong mengedipkan matanya, membuat Kibum menjadi sangat gemas.

Umma sangat merindukannya Joongie ah, Umma merindukan sikapnya yang selalu bermanja kepada  Appa dan Umma. Tapi sekarang dia seperti bukan hyungmu….” kibum mencoba untuk tidak menangis. ”Umma dan Appa menyayangi kalian dengan kasih sayang dan perhatian yang sama, membesarkan kalian dengan penuh cinta…. Tapi kini… hiks… hiks… hiks….” Kibum tidak kuasa menahan tangisnya.

Umma uljimma, Joongie yakin jauh didalam lubuk hati yung sangat menyayangi Umma dan Appa. Hyung begitu karena obsesinya untuk menunjukkan kepada Appa jika dia dapat diandalkan, Hyung hanya membutuhkan kepercayaan dari kita, Umma….” Ucap Jaejoong lirih.

.

.

Saat ini Yunho sedang duduk di tepi ranjang King Sizenya, masih memikirkan pertemuannya dengan Yihan ketika di perusahaan tadi.

Tok

Tok

Suara pintu yang diketuk beberapa kali menyadarkan Yunho dari pemikirannya tentang pertemuannya dengan Yihan. “Masuk…” ucapnya.

Cklek

Sebuah kepala menyembul dari balik pintu kamar Yunho memperlihatkan sang pelaku yang mengetuk pintu kamar namja tampan berahang tegas itu.

Hyung….” sebuah suara memanggilnya.

“Joongie, wae? Masuklah!” perintah Yunho.

Jaejoong melangkah memasuki kamar hyung kesayangannya itu perlahan, ikut mendudukan dirinya di tepi ranjang di samping Yunho.

“Wae?” tanya Yunho pada adiknya.

“Umma tadi siang menangis.” jawab Jaejoong sembari tertunduk.

“Apa ada masalah?” tanya Yunho lagi.

Umma merindukanmu Hyung, Umma menangis karena tiba-tiba saja Hyung bersikap dingin dan sering berdebat dengan Appa.” Jaejoong semakin tertunduk, jemarinya mencengkeram ujung kaus yang dipakainya.

Yunho yang mendengar ucapan Jaejoong segera merengkuh Jaejoong ke dala pelukannya, diusapnya rambut jaejoong dan mencium puncak kepalanya lembut.

Mian, Hyung tidak bermaksud membuat umma menangis dan bersedih. Tapi, kau tahu sendiri alasan yang membuat Hyung seperti ini, kan?”

Ne, tapi Hyung seharusnya tidak bersikap seperti itu kepada mereka terlebih Umma yang bahkan tidak melakukan kesalahan.  Mereka tetaplah orang tua kita.” Lirih jaejoong.

“Kau tenang saja, nanti Hyung akan menemui Umma dan meminta maaf.” Yunho mengeratkan pelukannya.

“Jinjja?” tanya Jaejoong.

“Ne” jawab Yunho sembari tersenyum.

“Bagaimana dengan meeting hari ini? Hyung tidak melakukan kesalahan lagi, kan?” Jaejoong bertanya dengan nada khawatir yang sangat kentara. Yunho hanya tersenyum mendengar kekhawatiran adiknya.

“Semuanya baik-baik saja. Kau tahu Joongie… hari ini Hyung bertemu dengan Yihan saat meeting tadi.” Yunho bercerita.

MWO?!” kaget Jaejoong mendengar ucapan Yunho, “Maksud hyung? Yihan hyung? Yihan hyung teman kita waktu di panti asuhan dulu?” tanyanya antusias.

Ne.” jawab Yunho malas begitu mendengar nada ceria dari suara Jaejoong.

“Woah… bagaimana rupa Yihan hyung sekarang, Hyung? Apa Yihan Hyung semakin tampan? Joongie ingin bertemu dengannya….” ucap Jaejoong dengan semangat tanpa melihat wajah kesal Yunho.

Ya Joongie! Hyung bahkan jauh lebih tampan daripada Yihan hyungmu itu. Lagi pula Hyung tidak akan pernah mengijinkan kau bertemu dengannya! Kau dengar itu?!” tanpa sadar Yunho membentak Jaejoong.

Jaejoong tersentak kaget mendengar suara kakaknya, matanya berkaca-kaca. “Hiks… hiks… Hyung membentak Joongie? Joongie hanya ingin bertemu dengan Yihan hyung, kenapa Hyung membentak Joongie? Hiks… hiks… hiks….” Jaejoong menangis.

Mendengar rengekan pilu Jaejoong membuat Yunho merasa bersalah sebab telah membuat adik sekaligus orang yang dicintainya menangis karena dirinya.

Mian Joongie mian, Hyung tidak bermaksud membentakmu. Ssst… uljimma ne, baiklah nanti Hyung akan mengajakmu bertemu dengan Yihan. Uljimma….” Yunho berusaha menenangkan Jaejoong.

“Hiks…. Hiks…. Jinjja?”

Ne….” ucap Yunho pasrah dan setengah hati. ‘Hah seharusnya tadi aku tidak membahas soal Jin Yihan.’ Batinnya.

.

.

At Sibum room

“Wonnie apa kau yakin dengan keputusanmu ini?” Tanya Kibum pada suaminya.

Ne aku sangat yakin Bummie.” Jawab Siwon mantap.

“Tapi Yunho dan Jaejoong anak kita dan mereka…  mereka itu bersaudara.”

“Apa kau lupa jika mereka bukan anak kandung kita dan mereka juga bukan saudara sedarah jadi tidak masalahkan?” tanya Siwon.

Ne, tapi aku takut mereka menolak dan berbalik membenci kita.”

Mengerti akan kekhawatiran istrinya, Siwon segera memeluk Kibum dan mencoba memberi ketenangan padanya. “Percayalah padaku Bummie, ini semua demi kebaikan Yunho karena hanya Jaejoong yang bisa meluluhkan Yunho kita. Aku yakin jika mereka tidak akan menolak.” ucapnya sembari mengelus punggung Kibum.

“Ini semua juga karena kau terlalu keras padanya.”

Mian, aku akan memperbaiki kesalahanku.”

.

.

Other Place

Seorang namja sedang berbaring di atas tempat tidur empuknya, sembari memandang foto masa kecilnya. Foto yang berisi dua namja tampan dan satu namja cantik, diusapnya foto sang namja cantik dan diciumnya agak lama.

“Joongie ah akhirnya sebentar lagi kita akan bertemu, akan kupastikan kali ini kau menjadi milikku walau aku harus kembali bersaing dengan Yunho.” Ucapnya sebelum jatuh tertidur.

.

.

TBC

.

.

Ini FF kolab, jadi kalau ada yang lihat FF ini di WP, Blog, ataupun FFn jangan kaget & bingung ya :D

.

.

Thoughts on “Hamkke Gangje, Chagya”

Hardiantyloveyunjae: Hallo Chagy :) Suprasegmental ya? Epep ntuh butuh konsentrasi tinggi ngetiknya. Dan karena Yuuki masih dibawah pengawasan jadi Yuuki belum bisa ngelanjutin dalam waktu dekat ini.

Rani: Semangat! Fighting! :D

dewiyasmin15:  Sudah nich :D

nina:  Kemarin udah Yuuki jelaskan ne ;) Ini sudah ada. Gomawo untuk Metha :D

indah: Gomawo buat Metha yang sudah mengetik :D

mybabywonkyu: Heheheheheehe :D

Rahmadina: Soal Another Girl sudah Yuuki jelaskan kemarin, kan? :)

Kim Hyewon: Iya, Kolab :D Hehehe….

Pembalasan Bidadari Hitam VII

Tittle                : Pembalasan Bidadari Hitam VII

Writer               : NaraYuuki

Betta Reader     : Hanabusa Hyeri

Genre               : Romance/ Family

Rate                 : M

Cast                 : All member DBSK and others (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan). Seiring bertambahnya Chap castnya pun akan disesuaikan.

Disclaimer:       : They are not mine but this story, Jung Hyunno  & OOC yang lain are mine, NaraYuuki

Warning           : This is YunJae Fan Fiction (Boys Love), M-Preg. Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut. Paragraf/ dialog yang penulisannya menggunakan Blod, Italic ataupun under line berarti itu adalah kejadian dimasa lampau (flash back) TANPA EDIT.

.

.

.

.

.

PASTIKAN BACA WARNINGNYA DULU

.

.

Pembalasan Bidadari Hitam

.

.

 “Jaejoongieeeeeeee!” yeoja berambut golden brown itu berlari menghampiri Jaejoong bahkan sebelum Jaejoong sempat keluar dari dalam mobil, “Aigoo yeoppo! Kau cantik sekali….” segera saja dicubitinya kedua pipi remaja yang masih duduk dibangku junior high school itu dengan gemas.

“Noonaaaaaaaaaaaa…. Pipi Joongie sakit!” keluh Jaejoong.

“Berhenti bersikap kekanakan, Sica! Biarkan bocah itu!” ucap Yunho yang dengan santainya berjalan meninggalkan Jaejoong yang masih dipeluk oleh Jessica.

“Dasar Ahjushi jelek menyebalkan!” Jaejoong menjulurkan lidahnya, sebelum mengerucutkan bibir merah merekahnya karena sebal pada Yunho yang terus menganggapnya bocah.

“Joongie ya, sudah lupakan! Beruang menyebalkan itu memang seperti itu! Kajja! Appa sudah menunggumu.” Jessica menarik lengan Jaejoong dan diajaknya masuk ke dalam rumah. Rumah keluarga Jung!

.

.

“Aku dengar dari ayahmu, kau menang juara lomba menyayi junior high school  tingkat nasional. Apa itu benar?” tanya Woo Sung. Matanya tidak berhenti menatap wajah menawan Jaejoong, wajah yang mengingatkannya pada seseorang.

Jaejoong mengangguk pelan sambil mengulum (mengemut) sendok ice creamnya, makanan yang paling disukainya sebagai pencuci mulut. “Mungkin telinga para juri sedikit bermasalah hingga Joongie dijadikan juaranya, padahal saingan Joongie pun punya kualitas suara yang bagus, Ahjushi.” Celoteh Jaejoong yang mendapatkan dengusan meremehkan dari Yunho.

Woo Sung tertawa, “Changmin, kau dengar itu? kalau sudah besar nanti kau harus punya prestasi sehebat Joongie hyung, ne!”

Bocah tampan berusia 6 tahun yang duduk di sebelah Jaejoong itu mengangguk pelan sambil terus memakan jatah ice creamnya yang nyaris habis.

“Tenang saja Minie, Hyung akan mengajarimu.” Ucap Jaejoong sambil mengusap pelan kepala Changmin.

“Mengajari merengek dan menangis maksudmu?” sindir Yunho.

“Diam kau Ahjushi!” balas Jaejoong yang menghadiahi sebuah pelototan untuk Yunho.

“Yah! Jung Yunho! Berhenti menggoda Joongieku!” omel Jessica.

Woo Sung tersenyum melihat tingkah serta interaksi antara Yunho dan Jaejoong, “Kalian berdua harus akur, karena kelak ketika Joongie sudah dewasa kalian akan dinikahkan. Sesuai harapan mendiang ibu kalian.”

“Appa?!” mata setajam musang Yunho membulat.

“Ahjushi?!” Jaejoong menjatuhkan sendok ice creamnya.

“Yeoobo?” Ahra yang sejak tadi diam menatap tidak percaya suaminya.

Jessica dan Changmin pun hanya menatap ayah mereka dengan tatapan bingung.

“Ada masalah dengan itu? Yunho akan menikah dengan Joongie begitu Joongie lulus SMA.” Ucap Woo Sung. “Aku tidak menerima bantahan karena Siwon pun sudah setuju dengan rencana ini.”

.

.

“Dia keras kepala seperti Yunho.” Komentar Jessica ketika akhirnya untuk pertama kalinya setelah 16 tahun berlalu dirinya bisa melihat Jaejoong kembali menginjakkan kaki di rumahnya, rumah  keluarga Jung. “Aku sedikit terkejut melihatnya tumbuh seperti sekarang, dia benar-benar mirip Yunho, mereka seperti duplikat yang sama-sama memiliki egois dan tidak mau kalah satu sama lain.”

“Sepertinya begitu….” Sahut Jaejoong pelan.

“Kau membesarkannya dengan baik, Joongie. Maafkan Yunho karena telah membuatmu menderita.” Jessica mengusap lengan Jaejoong pelan. “Aku sudah menelpon Junsu dan Yoochun, aku meminta mereka untuk tidak khawatir karena aku sendirilah nanti yang akan mengantarmu pulang.”

“Kami bisa pulang sendiri, Noona.” Ucap Jaejoong. Mata indahnya tidak bisa berpaling dari putranya yang dipaksa oleh Woo Sung atas bantuan Changmin untuk mengikuti kemauan kepala keluarga Jung yang menginginkan Hyunno selalu berada didekatnya.

“Mengertilah Joongie, Appa sudah sejak lama ingin memiliki cucu yang menjadi pelipur laranya.” Ucap Jessica, “Kau tahu usiaku tidak lagi muda, akan sangat berbahaya bila aku punya anak diusia seperti sekarang. Lagi pula aku tidak mau menikah dalam waktu dekat ini, semua pria yang mendekatiku hanya tertarik pada latar belakangku sebagai seorang Jung Jessica saja. Changmin… walaupun appa sangat menyayangi dan percaya padanya tapi Changmin hanyalah anak tiri dalam keluarga ini. Kalaupun dia punya anak, anaknya tidak akan mewarisi darah Jung. Jadi satu-satunya peneruss keluarga yang dimpikan oleh appa adalah Hyunno.”

“Aku tidak berencana memberikan putraku pada keluarga Jung, Noona.” Komentar Jaejoong.

“Tanpa kau berikan pun, appa sudah pasti akan menyerahkan semuanya pada Hyunno walaupun keponakanku itu menolak keras.” Jessica tersenyum pada Jaejoong lembut, “Sifat keras kepala dan egois keluarga Jung mungkin sudah turunan dari nenek moyang.”

“Jaejoongie….” Ahra berjalan menghampiri Jaejoong dan Jessica, “Sepertinya suamiku akan bicara sedikit lebih lama dengan Hyunno. Karena itu… Yunho menawarkan diri untuk menemanimu ngobrol.”

“Yunho? Aku yang akan menemani Joongie bukan Yunho!” ucap Jessica.

Ahra segera menarik paksa lengan Jessica yang sejah tadi menempel pada lengan Jaejoong, “Kau masih ada urusan denganku!” ucap Ahra sambil mendelik kesal pada anak tirinya itu, “Jaejoongie, kami permisi dulu!” Ahra segera menarik paksa Jessica menuju arah dalam, mengabaikan pekikan dan protesan yang Jessica lontarkan.

“Tua bangka menyebalkan itu mendapatkan mainan baru yang jauh lebih menyenangkan daripada saham-sahamnya.” Namja bermata setajam musang yang baru saja masuk ke dalam rumah itu berucap.

Jaejoong terlonjat kaget, matanya melirik namja yang kini sudah berdiri di sampingnya, membuat tubuhnya bergetar.

“Kau ingin tahu apa yang terjadi pada Yihan hyung kesayanganmu kan?” tanya Yunho yang sama sekali tidak ditanggapi oleh Jaejoong. “Ikut aku! Aku akan menceritakan semuanya padamu agar kebencianmu padaku sedikit berkurang.” Dicekalnya pergelangan tanga Jaejoong untuk kemudian menarik ibu Choi Hyunno itu menaiki tangga menuju lntai dua.

.

.

“Aku tidak mau menikah dengan Ahjushi.” Jaejoong berjalan hilir mudik sambil mengigiti ibu jari kanannya, melemparkan tatapan sebal dan marahnya pada namja yang sedang duduk di bibir ranjang.

“Choi Jaejoong! bisakah kau berhenti melakukan hal itu? Mataku sakit melihatmu bergerak kesana-kemari seperti setrika uap yang menyebalkan!”

“Aku menyukai Yihan hyung!” namja berparas cantik itu menggeleng kuat-kuat, “Aku ingin menikah dengan Yihan hyung saja daripada harus menikah dengan ahjushi menyebalkan sepertimu!”

Yunho menatap sebal namja yang masih memakai seragam SMPnya itu, berdiri dan berjalan menghampiri remaja itu untuk mencekal kedua lengannya kuat-kuat. “Dengarkan aku, Bocah! Namja brengsek itu hnaya ingin memanfaatkanmu saja Bocah! Kau harus tahu sebusuk apa Jin Yihan itu sebenarnya!”

“Jangan memanggilku seperti itu! Aku bukan bocah!” pekik Jaejoong, “Dan Yihan hyung adalah orang baik! Dasar ahjushi menyebalkan!”

“Sudah diam!” bentak Yunho tidak sabar, “Kau hanya akan membuatku tuli bila terus menyebut nama namja brengsek itu!”

“Hiks… hiks…. Hueeeeeeeeee…. Appa…. Ahjushi menyebalkan ini membentak Joongie…. Hueeeeeeee….”

“Aish! Yah! Berhenti menangis! Appamu tidak di sini! Dasar bocah menyebalkan!”

.

.

Jaejoong berdiri mematung di mulut pintu yang terbuka lebar, keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya yang gemetaran, kedua tangannya mengepal kuat-kuat, matanya menatap waspada namja yang sedang mencari sesuatu di dalam laci meja kerjanya.

“Kau tidak mau masuk? Aku tidak akan mengigitmu!” komentar Yunho yang masih sibuk mencari-cari sesuatu dari dalam laci, “Aku tidak akan melakukan hal yang menakutimu. Tapi bila kau ingin memberikan adik pada Hyunno, aku bersedia membuahimu!” ucapnya tanpa dosa.

“Dasar manusia rendah!” desis Jaejoong.

“Sejak dulu kau memang selalu memandang rendah padaku, kan? Berbeda sekali dengan caramu memandang namja brengsek itu!” komentar Yunho yang beranjak menuju lemari bukunya ketika benda yang dicarinya tidak ditemukan, “Dan ku rasa kau akan sangat menyesal sudah mengenal namja brengsek itu andaikan kau tahu siapa sebenarnya dia!”

“Aku tidak mau tahu! Aku tidak butuh diberitahu olehmu!” ucap Jaejoong yang berusaha menahan dirinya untuk tidak mencekik atau menikam namja yang berada satu ruangan dengannya itu.

“Sayang sekali karena aku tetap ingin memberitahumu walaupun kau tidak menginginkannya.” Ucap Yunho yang mulai membuka laci yang berada pada bagian paling bawah dari rak bukunya, “Kau sudah cukup dewasa sekarang, ada Yoochun dan Junsu pula yang mengawasimu jadi tidak akan apa-apa bila sekarang aku memberitahumu sebuah rahasia besar yang bahkan Siwon ahjushi, ayahmu sendiri tidak tahu mengenai hal ini.”

“Aku tidak butuh tahu apapun darimu!”

Mengabaikan ucapan Jaejoong, Yunho tersenyum puas begitu melihat apa yang dicarinya berhasil ditemukannya, “Akhirnya ketemu….”

.

.

Woo Sung menggenggam erat kedua tangan Hyunno, “Aku akan menceritakan sebuah rahasia besar keluarga Jung yang kami simpan rapat-rapat selama ini.” Ucapnya, “Ku harap kau akan mengerti dan mau memahami apa yang sebenarnya terjadi melalui cerita yang akan ku sampaikan ini. Yang lebih penting… ku harap kau tidak lagi membenci kami dan ayahmu….” sudut bibirnya yang berkeriput itu membentuk sebuah senyuman tulus.

Hyunno bingung, ingin mencari ibunya untuk memastikan keadaan ibunya baik-baik saja. Berada satu ruangan hanya dengan kakek Woo Sung dan namja jangkung yang diketahuinya bernama Jung Changmin itu membuat Hyunno sedikit tidak nyaman.

“Changmin… tunjukkan benda itu pada Hyunno!” pinta Woo Sung,

Ye.” Jawab Changmin yang berjalan ke sudut ruangan, membuka sebuah brankas dan mengeluarkan isinya dengan sangat hati-hati.

.

.

TBC

.

.

Lama ya? Lebih dari 1 bulan kan? Banyak yang terjadi pada Yuuki selama itu jadi tidak sempat mengurus semua hutang epep Yuuki. Mian.

Selamat membaca dan jaga kesehatan ya :)

.

.

Monday, November 17, 2014

07:01:13 AM

NaraYuuki

Revenge VIII

Tittle               : Revenge VIII

Writer             : NaraYuuki

Betta Reader : Hanabusa Hyeri

Genre             : Romance/ Modern Fantasy/ dsb.

Rate                : M

Cast                : All member DBSK, Jin Yihan, Go Ahra (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan) and Others. Seiring bertambahnya Chap castnya pun akan disesuaikan.

Disclaimer:    : They are not mine but this story is mine, NaraYuuki

Warning         : This is YunJae Fan Fiction (Boys Love), M-Preg. Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut, TANPA EDIT.

.

.

.

.

.

PASTIKAN BACA WARNINGNYA DULU

.

.

R3

.

.

“Joongie tidak bahagia Umma menemani Joongie, hm?” yeoja itu mengusap wajah pucat putra bungsunya yang terlihat begitu murung dan kecewa. Ada perasaan sedih yang menyusup begitu melihat wajah sendu putra yang dikenalnya sangat ceria itu, bagaimanapun juga nalurinya sebagai seorang ibu membuatnya tidak bisa mengabaikan perubahan sikap putranya, “Joongie kenapa? Joongie marah pada Umma?” tanyanya sekali lagi.

Jaejoong yang sebelumnya menatap bulir hujan yang mengembun di jendela, menggulingkan tubuhnya hingga terlentang, menggunakan mutiara rusa betinanya yang indah lagi jernih itu untuk menatap wajah ibunya, perempuan yang sudah melahirkannya.

Baby….”

“Joongie senang Umma di sini bersama Joongie. Tetapi Joongie ingin bertemu dengan Beruang Besar Joongie. Sudah 3 hari Beruang menyebalkan itu tidak menemui Joongie.” Jaejoong tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Semenjak terakhir kali Yunho menjenguknya, sudah terhitung 3 hari lamanya pemuda yang memiliki mata setajam mata musang itu tidak menemuinya membuat Jaejoong merasa gundah.

“Anak Umma merindukan Beruang besarnya, eoh? Umma akan minta pada Chunie hyung untuk menelponnya agar Beruang besar Joongie datang menjenguk Joongie. Bagaimana?”

Jaejoong menggelengkan kepalanya pelan, “Mungkin Beruang Joongie sedang sibuk. Tidak apa-apa, Umma…. Joongie akan menunggunya.”

.

.

“Kau menginginkannya tetapi tidak mau menemuinya karena keberadaan perempuan itu disekitarnya kan Hyung?” tanya Changmin, “Aku tidak tega melihatmu gelisah seperti itu, Hyung. Temuilah dia! Aku tahu kau ingin menemuinya.”

Yunho membanting gelas yang masih berisi setengah cairan berwarna merah pekat yang beraroma khas itu sedikit kasar, “Mengetahui ibunya adalah perempuan brengsek itu, membuatku serasa berdiri diujung tebing kematian. Aku menginginkannya namun aku pun membenci aroma yang menguar dari tubuhnya.” Mata Yunho memerah, tatapannya penuh kebencian yang sarat (penuh) dendam, sepasang gigi taringnya yang tajam mencuat disela-sela bibir berbentuk hatinya.

“Kau tidak bisa menyingkirkan perempuan itu karena dia adalah ibu Park Jaejoong, kan?” tanya Changmin. Ditatapnya sang kakak yang terlihat sangat berang dan kesal itu dengan tatapan serius. “Hyung…. Menurutmu, bagaimana bila kita melakukan cuci darah? Darah yang ada dalam tubuh kita dikeluarkan kemudian kita masukkan darah manusia ke dalam tubuh kita dengan cara tranfusi darah bukan meminumnya. Aku sedang memikirkan kemungkinan ini.”

“Kau ingin menjadikanku kelinci percobaan lagi, Changmin?” tanya Yunho.

“Kalau Hyung tidak mau mencobanya Hyung bisa bertanya pada nenek sihir itu cara menghapus kutukan yang dia berikan.”

“Apa kau mau mati, Jung Changmin?”

Changmin tersenyum bodoh, “Sayangnya aku belum menemukan cara bagaimana membuatku bisa mati, Hyung.”

“Kapan kita mulai?!”

“Mulai apa?”

Yunho menatap tajam adiknya itu, mengepalkan tangannya ketika kesabarannya sudah diambang batas, “Percobaanmu itu!”

“Aku masih mencoba bernegosiasi dengan kenalanku untuk mendapatkan darah segar yang akan kita gunakan. Kita membutuhkan banyak darah kalau Hyung mau tahu.” Ucap Changmin, “Tapi Hyung….” diserahkannya sebuah berkas pada Yunho.

“Apa ini? Aku tidak tahu bila ada berkas yang harus ku tanda tangani.”

“Hasil laporan Park Jaejoong.” ucap Changmin, “Yaah aku mencuri dari lab rumah sakit saat suster membawa sample darahnya. Aku ingin memastikan sesuatu dan semuanya sudah jelas sekarang.”

Yunho segera menelusuri tulisan yang ada pada kertas itu, membacanya dengan teliti.

“Sebenarnya Park Jaejoong….”

.

.

“Sebenarnya aku juga merasa heran kenapa Junsu bisa mengenal Umma, mereka seperti teman lama yang sudah saling mengetahui pribadi masing-masing.” Komentar Yoochun ketika sedang menemani saudaranya jalan-jalan mengelilingi taman sekitar rumah sakit.

“Kita bisa istirahat atau kembali ke ruang rawatku bila kau merasa lelah Chunie.” Ucap Jaejoong.

“Tidak…. Aku ingin menemanimu, Joongie.” Jawab Yoochun didorongnya kursi roda yang saudaranya duduki menuju arah air mancur yang disekitarnya terdapat kolam ikan hias.

“Chunie….”

“Hm….”

“Sampai sekarang aku tidak tahu alasan kenapa Umma dan Appa bercerai.”

Yoochun berhenti melangkah sejenak sebelum melanjutkan mendorong kursi roda saudaranya, “Aku pun tidak tahu, Joongie.” Jawabnya jujur.

“Seingatku semuanya masih baik-baik saja sampai sekarang.”

“Mungkin Appa dan Umma punya masalah yang tidak kita ketahui.” Kometar Yoochun.

“Chunie, apakah Umma tidak menyukai Yunhoku?” tanya Jaejoong.

Eoh? Kenapa kau bisa berpikiran seperti itu?” Yoochun bertanya balik.

Molla…. Tapi sepertinya Umma kurang menyukai Yunho karena setiap kali aku membicarakan Yunho Umma terlihat sedih dan marah.” Ucap Jaejoong.

“Kalian sama-sama namja, mungkin itu alasan Umma terlihat sedih dan marah.”

“Tapi saat SMP dulu Umma tidak marah ketika memergokimu mencium anak tetangga kita, bukankah dia juga seorang namja? Namja yang manis. Siapa namanya? Ryuhei?”

“Jangan ingatkan aku soal itu, Joongie!” pinta Yoochun.

Jaejoong mengulum senyum merekahnya, matanya menerawang jauh menatap awan berarak yang bergerak cepat di atas sana. Berapa lama lagi? Berapa lama lagi dirinya hidup? Berapa lama lagi dirinya bisa berada diantara orang-orang yang dicintainya? Berapa lama lagi dirinya bisa merasakan indahnya cinta remanjanya bersama Yunho, sang mahluk terkutuk.

.

.

“Siapa sebenarnya kau?” Yunho mengeratkan cengkeraman tangannya pada leher Junsu saat keduanya tidak sengaja bertemu di lobi rumah sakit, Yunho segera menyeret Junsu ke toilet terdekat untuk mendengar penjelasan yang ingin diketahuinya dari mulut namja bersuara unik itu.

“Kau ingin membunuhku? Jung Yunho?” tanya Junsu yang terus memukul-mukul lengan kaku Yunho.

“Kau sudah pasti mati sejak tadi, seandainya kau manusia…. Sayangnya kau bukan manusia!” taring Yunho mencuat, kuku-kuku tajam nan runcingnya menembuh kulit leher Junsu, membuat darah segar mengucur dari sana.

Junsu menyeringai, tersenyum mengejek melihat wajah penuh amarah dan kebencian yang tercetak jelas pada wajah tampan Yunho yang menurutnya sangat memuakkan.

“Jawab aku, brengsek!” bentak Yunho yang mulai kehilangan kesabarannya.

“Namaku Kim Junsu.” Ucap Junsu, “Tidakkah kau ingat sesuatu, hm?”

Perlahan-lahan bola mata Yunho yang sudah sepenuhnya berwarna merah darah itu melebar.

Junsu tersenyum, menyengkeram lengan Yunho kemudian menghempaskannya, membuat Yunho terhembas dan menabrang washtafel hingga remuk, membuat air dari pipa yang rusak itu mengucur keluar dengan derasnya, “Menjadi saudara tiri Kim Young Woong sangat memuakkan, karena itu aku menghasut Ahra noona untuk membunuh yeoja sialan itu! Kau tahu Jung Yunho? Saat kau dan semua orang-orang bodoh itu menangisi kematian Yong Woong, aku justru merasa sangat bahagia.”

Yunho tidak menggrubris celotehan Junsu, namja tampan bermata setajam musang itu tengah terbatuk dan memutahkan darah segar dari mulutnya akibat hempasan Junsu.

“Aku muak dianggap anak harap oleh masyarakat, aku muak berada dibawah bayang-bayang Young Woong! Dan aku sangat puas ketika Young Woong mati dengan cara seperti itu!” Junsu tertawa nyaring, tawa yang menyimpan kesedihan didalam suara uniknya, “Aku bisa menguasai semuanya, kasih sayang Appa, kekayaan Appa, kehormatan sebagai bangsawan Kim, semua yang aku inginkan berada ditanganku setelah Young Woong mati!”

Dak!

Pecahan washtafel menghantam kepala Junsu hingga benda malang itu hancur berkeping-keping, membuat darah segar mengalir dari kepala dan pelipis namja bersuara unik itu. Yunho sebagai pelaku pelemparan menatap sengit Junsu, otot-otot disekitar wajah dan lehernya mengeras, otot tangannya terlihat tegang akibat menahan ledakan amarah yang tiba-tiba saja menyergapnya.

“Dan aku meminta pada Ahra noona untuk menjadikanku abadi seperti kau dan adikmu, Changmin. Bukankan itu sangat menyenangkan? Aku bisa membaur dengan baik bahkan kau tidak menyadari keberadaanku disekitarmu….”

“Kau adalah mahluk yang menjinikkan Kim Junsu!” desis Yunho.

“Dan kau adalah mahluk paling menyedihkan Jung Yunho!” balas Junsu, “Jatuh cinta pada anak bekas kekasih yang sudah kau campakan! Menyedihkan!” ejek Junsu.

Hyung…. Sebaiknya kita pergi sebelum pihak keamanan rumah sakit menemukan kalian sudah merusah salah satu toilet berharga mereka.” Ucap Changmin yang sudah berdiri di mulut pintu sambil melipat kedua tangannya di perut. Matanya menatap tajam Junsu yang sedang menatap kakaknya.

Yunho beranjak, berjalan perlahan menuju Changmin.

“Jaejoong akan mati! Dia akan mati….” gumam Junsu.

“Persetan denganmu, Brengsek!” maki Yunho sebelum berjalan dengan bahas kuyup meninggalkan toilet.

Changmin mengamati Junsu untuk beberapa saat lamanya, “Kau… kau bahkan lebih menyedihkan daripada aku dan Yunho hyung!” ucapnya sebelum berjalan menusul Yunho.

.

.

Park Jaejoong, bercintalah denganku! Aku ingin kau menjadi milikku!”

Mutiara rusa betina yang legam lagi indah itu terbuka, menatap lampu neon yang tergantung tepat di atasnya, melirik ke arah sofa tempat ayah dan saudara kembarnya sedang beristirahat, melirik lengan kanannya yang digenggam oleh sang ibu yang juga tengah terlelap sambil menggenggam tangannya erat.

“Apa yang Umma sembunyikan dari kami….” gumamnya, ditatapnya wajah lelah yeoja yang sudah melahirkannya itu dengan mata nanar.

.

.

TBC

.

.

Thursday, November 13, 2014

8:32:42 AM

NaraYuuki

Sintagmatis

Tittle                : Sintagmatis

Writer               : NaraYuuki

Genre               : Romance/ fantasy / supranatural (dikit)

Rate                 : T+

Cast                 : Member DBSK (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan) & Jung Hyunno (OOC).

Disclaimer:       : They are not mine but this story and Jung Hyunno are mine, NaraYuuki

Warning           : This is YunJae Fan Fiction (Boys Love). Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut.

.

.

.

.

.

PASTIKAN BACA WARNINGNYA DULU

Sintagmatis NaraYuuki

EPEP INI HADIAH UNTUK MAK IFA YANG ULTAH TANGGAL 5 NOVEMBER KEMARIN :D <3

.

.

.

.

.

<3 >>>#<<< <3

Sintagmatis 1 NaraYuuki

Pemuda yang menaiki kuda hitam itu tampak begitu hebat dan gagah, tangannya terlihat sangat kokoh ketika mengayunkan pedangnya, menebas para musuh-musuhnya. Rahangnya yang tegas namun tampan itu dipenuhi gurat lelah walaupun usianya masih muda, terlalu muda untuk menjadi alasan dan penyebab kekacauan yang terjadi di tanah Cassiopeia ini namun itulah dia…. Raja muda yang ditakuti karena kebengisan dan kekejamannya.

“Joongie kajja!”

Hyung… siapa dia?”

“Dia adalah manusia paling kejam didunia ini, raja termuda yang baru berusia 14 tahun sekaligus raja paling gila, Jung Yunho!”

“Jung Yunho?” tubuh anak berusia 6 tahun itu terangkat, tangan mungilnya melilit pada leher kakaknya yang membawanya lari menjauhi medan pertempuran. Meskipun begitu mata seindah mutiara rusa betina itu terus mengamati sosok yang duduk dengan agungnya di atas kuda hitamnya yang sangat gagah itu, “Jung Yunho….” gumamnya sebelum pandangannya digantikan oleh cecabang dan dedaunan hutan yang lebat serta belukar yang menyembunyikan dunia lain dibaliknya.

<3 >>>#<<< <3

Hyung….!”

“Ayolah Jaejoongie, kau harus cepat sedikit!” pemuda yang pada tangan kirinya menggenggam sebuah kapak dan pada tangan kanannya mencengkeram sebuah pedang itu berjalan sedikit tergesa di atas gundukan salju putih, pakaian tebal dari kulit rusa salju yang dijahit itu menutupi tubuh jangkungnya.

Sintagmatis 2 NaraYuuki

Hyung! Apa kau tega membiarkan adikmu ini menyeret dua ekor rusa tanpa berniat membatu sedikit pun?”

Diliriknya sang adik yang sepuluh tahun lebih muda darinya itu dengan tatapan penuh sayang. Adik yang lahir dipertengahan musim dingin, adik yang memiliki kulit sepucat salju, bibir semerah darah dan mata seindah mutiara rusa betina yang hitam legam itu, adik yang dijaga dan dibesarkannya dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri. Ibu mereka meninggal ketika melahirkan adiknya, ayah mereka meninggal ketika perang besar terjadi di tanah Cassiopeia saat usia adiknya baru menginjak 5 tahun. 13 tahun hidup dalam pelarian membuatnya kuat dan cekatan, mempertahankan diri dengan berburu atau sesekali merampok perkampungan yang disinggahinya untuk menyambung hidup, membesarkan adiknya….

“Kau lelah, hum?”

“Aku mengejar dan memanah rusa-rusa ini. Tentu saja aku lelah!” bibir semerah darah itu mengerucut kesal, “Hyung kejam!”

Diambilnya seekor rusa yang sudah mati itu, dipanggulnya rusa itu pada bahu kirinya setelah sebelumnya menyerahkan kapak yang digenggamnya pada sang adik, “Dengan begini kau bisa berjalan lebih cepat, kan?”

Pemuda menawan yang baru berusia 18 tahun itu tersenyum lebar, “Aku berharap anak-anak tidak lagi kelaparan setelah memakan daging rusa gemuk ini.”

“Kelaparan dicuaca seekstrem ini sangat wajar terjadi. Mungkin para dewa sedang menghukum kita karena sebagai penghuni dunia kita sebagai manusia bukannya menjaga tapi justru menghancurkan dunia dengan dosa tidak termaafkan.” Komentarnya.

Menjadi yatim piatu, mengurus adik yang masih sangat belia membuatnya tergabung sebagai salah satu anggota bandit yang cukup ditakuti. Dalam kelompok bandit itu terdapat anak dan perempuan yang hidup bersama mereka. Hidup dilingkungan seperti itu memang tidak baik namun apa boleh buat, bergabung dengan kelompok itu adalah satu-satunya cara untuk bertahan hidup dari kerasnya dunia ini.

“Park Yoochun, Park Jaejoong…. Selamat datang!” seorang laki-laki yang tengah memainkan nunchaku peraknya itu tersenyum menyapa Yoochun dan Jaejoong. Yoochun bahkan menjatuhkan rusa yang dipanggulnya. “Apa rusa-rusa itu terlalu berat untuk kalian? Kenapa kalian terlalu lama?”

Sintagmatis 3 NaraYuuki

“Joongie!” Yoochun menarik Jaejoong kesisinya, melupakan rusa-rusa buruan mereka yang susah payah mereka dapatkan. Yoochun tahu laki-laki jangkung itu, laki-laki yang terlihat angkuh dan memakai penghangat berupa bulu rubah pada lehernya itu bukanlah orang sembarangan, laki-laki itu adalah orang berbahaya yang harus dijauhi.

“Aku tidak akan membunuh kalian karena aku tidak diperintahkan untuk membunuh kalian walaupun aku sangat ingin melakukannya.” Seringai sinis tercetak pada wajah kekanakan laki-laki yang jauh lebih jangkung dibandingkan Yoochun itu, dengan dagunya ia menunjuk arah tenggara dimana kepulan asap hitam membumbung tinggi hingga garis langit, serupa kotoran diatas permukaan salju.

Hyung… bukankah itu arah perkemahan kita berada?” tanya Jaejoong yang tangannya masih digenggam erat oleh Yoochun.

“Tepat sekali. Perkemahan menyedihkan itu sudah luluh lantah beserta para penghuninya.”

Mata Yoochun membulat kaget, kewaspadannya meningkat. Tangan kirinya yang berotot dipaksanya untuk menggeser tubuh adiknya ke belakang tubuhnya.

Hyung….” Jaejoong tampak kebingungan.

“Kita sudah tidak punya tempat untuk pulang lagi, Joongie.” Ucap Yoochun.

“Tapi….”

“Orang di depan kita ini adalah Shim Changmin. Kau ingat apa yang sudah Hyung katakan padamu beberapa hari yang lalu mengenai dia?” tanya Yoochun.

“Orang jahat….” gumam Jaejoong.

“Kau terlalu lama, Changmin!” dari arah kanan Yoochun dan Jaejoong muncul seorang pemuda berambut pirang kekuningan dengan pakaian serupa kulit beruang yang membungkus  sekujur tubuhnya, sebuah pedang panjang tersemat di belakang punggungnya, “Kakakku sudah tidak sabar menunggumu membawa mereka!”

Sintagmatis 4 NaraYuuki

“Kaulah yang tidak sabar, Kim Junsu!” sahut Changmin meremehkan.

Dari balik bahu Yoochun, Jaejoong menatap pemuda itu. Wajahnya tidak asing seolah-olah mereka pernah bertemu di suatu tempat. Mendadak Jaejoong menengadahkan wajahnya ketika melihat seekor burung elang besar berwarna hitam terbang melintas di atas kepalanya, menerjang bulir salju yang perlahan turun. Membawa rasa kantuk itu semakin dekat sebelum berhasil merengkuh dan mendekapnya. Suara panik kakaknyalah yang terahir kali didengarnya.

<3 >>>#<<< <3

“Cassiopeia adalah sebuah dunia yang dipenuhi dengan kebencian dan peperangan, tanahnya merah karena hampir setiap hari dialiri oleh darah penduduk maupun prajurit yang dibantai secara masal untuk kesenangan seorang raja yang bengis dan kejam. Apa tanggung jawabmu sebagai dewa perang mengenai masalah ini Xiah?!”

Dewa perang berambut merah menyala yang pada tangan kirinya memegang tombak emas keperakan dan tangan kanannya yang menggenggam erat pedang dengan gagang berukir peta dunia Cassiopeia itu menatap raja para Dewa dengan tatapan dingin tajam namun penuh kelembutan dan welas asih itu dalam-dalam, “Aku akan turun ke daratan manusia untuk menghentikan perang yang penuh kesia-siaan itu, Wahai Raja Para Dewa.”

Sintagmatis 5 NaraYuuki

“Bagaimana bila kau terbunuh dalam perang itu?”

Xiah terdiam. Sudah banyak dewa dan dewi yang terbunuh ketika mencoba meredam pertikaian yang selalu terjadi dimuka bumi. Bukan tidak mungkin dirinya menjadi salah satu daftar dewa yang gugur menjalankan tugas.

“Aku akan menyertai Xiah dalam misi kali ini. Ijinkan aku….” seorang pemuda yang pada bagian belakang punggungnya tersemat sebuah tombak perak keemasan yang sebenarnya adalah sebuah cambuk yang mampu berubah menjadi pedang itu bersuara, rumbai-rumbai menyerupai pita berwarna merah yang terikat pada pinggangnya dan melilit tongkat perak keemasannya itu menari-nari ketika angin sepoi-sepoi melewati aula besar yang beralaskan, bertiang dan beratap gumpalan awan-awan ajaib yang padan lagi indah.

Sintagmatis 6 NaraYuuki

“Hero!” Xiah memekik kaget.

“Hero, sebagai dewa penjaga kedamaian dunia kau tahu konsekuensinya jika kau sampai terbunuh?”

“Sebagai raja para dewa tentu saja anda sudah pasti bisa membaca takdir yang mengikatku.” Pemuda berambut coklat kepirangan itu tersenyum, “Kalau aku mati, akan ada dewa baru yang terlahir untuk menggangikanku.”

“Kau sudah siap menerima semua konsekuensinya, rupanya. Kalau begitu ku perintahkan kalian berdua wahai Xiah sebagai Dewa perang dan adiknya Hero sebagai dewa penjaga keadilan untuk turun ke dunia Cassiopeia! Hentikan peperangan dan angkara murka (kekejaman, kebiadaban, kekejian) yang terjadi di sana!”

Dua pasang sayap serupa sayap angsa dan kupu-kupu berwarna emas keperakkan yang memancarkan kilau warna senja berpadu bias pelangi itu mengekepak-kepak sebelum membawa pemiliknya perlahan terangkat, membumbung tinggi hingga nyaris menyentuh gumpalan awan yang membentuk atap sebelum berkelebat hilang meninggalkan aula berisi para dewa dengan posisi masing-masing untuk menjaga kedamaian dunia.

“Semoga keselamatan menyertai keduanya….”

.

.

“Anak itu mirip denganmu. Siapa namanya?” tanya Xiah yang duduk diam di atas sebuah gumpalan awan mendung.

Sintagmatis 7 NaraYuuki

“Park Jaejoong….”

Xiah menggelengkan kepalanya pelan, “Dia tidak akan selamat. Ada jurang di depan sana, bila anak itu terus memaksakan diri untuk mengejar rusa itu dia akan jatuh ke dalam jurang dan mati.”

“Aku akan menghentikannya.” Ucap Hero.

“Maksudmu?” belum sempat Xiah mendapatkan jawaban dari Hero, adiknya itu sudah melesat menuju jurang di bawah sana. Sayap emas keperakannya berkilau indah diantara butiran salju yang turun. “Takdir sudah memanggil kita rupanya. Bulan lalu aku menggantikan posisi Kim Junsu yang sekarat karena demam tinggi yang menyerangnya kini kau akan menggantikan anak itu…. Takdir yang akan membawamu pada garis yang tidak bisa diingkari.

<3 >>>#<<< <3

“Kau sudah ingat semuanya?” tanya Junsu, “Dua tahun lamanya kau menjadi mainan Jung Yunho, melayaninya dan mengabdi padanya, menyerahkan jiwa ragamu padanya.”

Pemuda berkulit pucat yang terbaring di atas tempat tidurnya itu menggelengkan kepalanya lemah, “Tubuh Park Jaejoong, bukan tubuhku.”

“Tubuh Park Jaejoong sudah membusuk dan menjadi debu sekarang. Tubuh ini adalah tubuhmu sendiri ketika kau menggantikan peranan Park Jaejoong yang mati karena terjatuh ke dalam jurang saat mengejar rusa dua tahun silam, kau menggantikan tubuhnya yang sudah mati daan rusak dengan jasadmu yang suci.” Jelas Junsu, “Tetapi dua tahun ini kau yang sudah kehilangan ingatanmu karena tiba-tiba jiwamu bertumbuan dengan jiwa Park Jaejoong tidak menyadari bahwa kau sudah mengotori jasadmu yang suci itu. Kau bergumul dengan Jung Yunho… dan sekarang kau sedang mengandung anaknya.”

“Aku melalaikan tugas?! Aku pantas dihukum!”

“Aku yang akan menyelesaikan tugas ini untuk bagianmu juga. Kembalilah ke rumah, ke istana Fohn Orion! Lahirkan anakmu di sana karena anak itu akan menjadi penerusmu ketika cahaya sucimu lenyap.”

Pemuda bermata seindah mutiara rusa betina itu mendudukkan dirinya, menyandarkan punggungnya pada kepala ranjangnya. “Jiwaku yang sebelumnya bertumbuan dengan jiwa Park Jaejoong dan membuatku tidak mengingat diriku sendiri… kenapa? Kenapa aku sekarang mengingatnya?”

“Karena jiwa Park Jaejoong sudah musnah dari dunia ini dan tersegel di akhirat sampai saatnya jiwanya dibangkitkan kembali. Nanti… suatu saat nanti.” jawab Junsu, “Alasan lainnya adalah Park Jaejoong sudah berhasil diyakinkan bahwa kakaknya baik-baik saja ketika dirinya pergi.”

“Park Yoochun?”

Junsu mengangguk, “Ya. Park Yoochun.”

Jemari pucat itu mengusap perutnya yang tidak lagi rata, “Aku akan bicara pada Yunho. Aku akan mencoba menyadarkannya bahwa obsesinya terhadap kemenangan dan kekuasaan sudah membawa kesengsaraan bagi seluruh penghuni dunia.”

“Kau tidak akan bisa.”

“Jung Yunho sangat mencintai Park Jaejoong. Bukan sebuah kebetulan hingga ahirnya aku berada di tempat yang sama dengan Park Jaejoong sebelum kematian memanggilnya. Karena takdir itu sudah mengikat kami.”

“Hero!” Junsu sedikit membentak, “Jangan katakan kau sudah jatuh cinta pada Jung Yunho!”

“Menunaikan tugas kita bukan berarti aku jatuh cinta padanya, Hyung. Tetapi kalaupun aku jatuh cinta padanya itu tidak menjadi masalah, bukan? Bagaimanapun juga kehadiran anak ini bukanlah sebuah ilusi. Dia yang akan menggantikan posisiku sebagai penjaga kedamaian kelak, dia pun akan menghentikan angkara yang ayahnya sebarkan.”

“Kau akan mati bila berkeras tetap tinggal di sini!”

“Aku tidak akan mati, setidaknya aku tidak akan mati sampai anak ini lahir.”

<3 >>>#<<< <3

Menatap sosok laki-laki tampan berahang tegas itu membuatnya merasa tenang, entah mengapa padahal mungkin bagi orang lain laki-laki itu terlihat menyeramkan dengan baju besi yang membungkus tubuh tegap lagi jangkungnya, sebilah pedang yang berada didalam genggaman tangan kanannya juga yang tersemat pada ikat pinggang sebelah kirinya. Serta beberapa ekor burung elang pemburu berwarna hitam pekat yang bertengger pada lengan kiri dan balkon di sampingnya.

Sintagmatis 8 NaraYuuki

“Kau senang? Dua pertiga benua ini sudah menjadi milikmu.” Ucapnya pelan.

Boo….” bibir berbentuk hati itu tersenyum sumpringah, “Bagaimana kabar jagoan kita? Apa dia menendang lagi? Apa dia ingin bercerita pada ayahnya?”

Sepasang mutiara rusa betina nan indah itu nampak nanar, “Kalau aku memintamu untuk berhenti… akankah kau melakukannya untukku, Yun? Akankah kau menghentikan semua peperangan yang sudah kau mulai sejak lama ini?”

Boo….” mata setajam musang itu menatap serius sepasang mutiara rusa betina yang terlihat sangat legam namun menenangkan itu, “Wajahmu pucat, pucat yang aneh. Pucat tapi terlihat berkilau.” Dengan jemari yang memerah karena terkena noda darah kering itu diusapnya wajah rupawan pasangan hidupnya selama dua tahun belakang ini.

“Mungkin bias cahaya senja penyebabnya.” Bibir semerah darah itu mengulum senyuman, “Yun…. Kalau kau tidak menghentikannya kau akan kehilangan kami, aku dan anakmu.”

“Apa maksudmu?” rahang laki-laki berwajah tampan itu mengeras.

“Aku akan meminta Chunie hyung membawaku lari.”

“Park Jaejoong!” suara dalam namun tegas itu terdengar sedikit marah.

“Melihat perang dan pembantaian terus-menerus membuatku muak dan merana. Aku tidak mau hal itu mempengaruhi kondisi anak kita nantinya. Hentikanlah! Ku mohon padamu hentikanlah semua ini sebelum anak kita lahir.”

“Kau tahu impianku, Boo. Aku ingin menyatukan semua penduduk Cassiopeia menjadi satu dibawah kekuasaanku untuk menciptakan dunia yang ideal dan kuat!”

“Dan dunia seperti impianmu itu harus didapatkan dengan cara membantai dan membunuh orang?” Jaejoong menggelengkan kepalanya pelan, “Itu bukan dunia ideal tetapi neraka! Kalau kau tidak menghentikan semua ini sekarang kau akan kehilangan semuanya, Yun.” Mutiara rusa betina itu menatap sendu sosok gagah di hadapannya, bibirnya yang merah digunakannya untuk mengecup bibir berbentuk hati itu sesaat sebelum meninggalkan balkon yang dipenuhi oleh sekumpulan elang pembunuh itu.

<3 >>>#<<< <3

Anak kecil berbadan gempal itu sedang bermain di padang rumput bersama para pegasus dan unicorn yang tengah menikmati cahaya surya yang hangat. Sayap perak keemasannya mengepak-ngepak, sesekali membuat tubuhnya terangkat beberapa meter dari tanah sebelum kembali terjatuh. Kulitnya yang pucat serupa salju, mata yang bening serupa mutiara rusa betina namun tajam seperti mata musang yang sedang berburu itu beberapa kali mengerjap-ngerjap ketika kupu-kupu sewarna pelangi mengitari kepalanya. Wajahnya tampan dengan struktur tengkorak wajah tegas yang sepertinya memang didapatkannya dari ayahnya, “Umma….” kedua lengan gempal itu terangkat, meminta digendong.

“Hah?” Jaejoong melonjak kaget dan terduduk dengan keringat membasahi wajah rupawannya.

“Mimpi buruk?”

Diliriknya tangan yang diperban itu dengan mata sayu, tangan yang mengulurkan segelas air putih padanya. Bukannya menerima uluran gelas itu, Jaejoong justru mengusap perlahan lengan yang dibebat oleh perban itu perlahan-lahan, “Hyung… mari kita pergi.”

“Joongie?”

“Aku sudah bosan dengan pembantaian yang selama ini ku lihat, Hyung. Bawa aku pergi! Ku mohon….”

<3 >>>#<<< <3

Pagi-pagi sekali ketika dedaunan yang menguning sibuk berguguran dan menaari bersama tiupan angin, Yoochun menarik tali kekang kudanya sedikit tergesa. Di atas punggung kuda berwarna coklat keemasan yang tampak sangat gagah lagi perkasa itu tengah terduduk adiknya, satu-satunya orang didunia ini yang disayanginya.

Hyung lelah? Apa sebaiknya kita meencari tempat untuk istirahat dulu? Hyung belum makan, kan?”

Yoochun menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum pada adiknya, “Kita akan beristirahat bila jarak kita dengan istana sudah sedikit lebih jauh.” Ucapnya.

“Tapi kita sudah melewati 3 desa dan sebuah sungai besar. Sejak tengah malam tadi Hyung terus berjalan kaki. Hyung pasti lelah. Mari kita beristirahat dulu walau sebentar.”

“Begitu masuk hutan kita akan beristirahat. Yang terpenting sekarang kita meninggalkan pemukiman penduduk dulu, kita harus menghindari jalan utama agar kita tidak mudah dilacak oleh prajurit istana.”

Jaejoong yang menyamar dengan memakai tudung dan baju usang untuk membalut tubuh berisinya agar tidak dikenali sebagai seorang pendamping raja Jung Yunho itu tersenyum samar. “Hyung….” panggilnya.

“Apa? Kau merasa lelah?” tanya Yoochun sedikit panik. Usia kandungan adiknya sudah menginjak 7 bulan. Memang sangat riskan mengijinkan orang hamil menaiki kuda, namun apa boleh buat? Adiknya itu mengancam akan pergi sendiri bila Yoochun tidak menemaninya.

Lengan pucat itu terjulur, jemarinya yang lentik lagi pucat itu mengepal karena menggenggam sebuah benda.

“Apa itu?” tanya Yoochun. Dilihatnya sebuah kalung yang terbuat dari sesuatu yang menyerupai mutiara-mutiara berwarna coklat, diambilnya kalung itu untuk kemudian diraba permukaannya yang halus lagi indah, “Ini dari kayu?”

“Kayu jati yang sudah berumur lebih dari 500 tahun. Ada 99 bulatan indah yang dipahat menggunakan tangan. Kalung itu akan melindungi Hyung ketika tangan kematian hendak menggapai Hyung.”

Yoochun mengerutkan keningnya bingung, dipandanginya kalung yang terbuat dari mutiara kayu serta wajah pucat adiknya secara bergantian.

“Pakailah, Hyung!”

Sedikit ragu Yoochun memakai kalung indah itu, menyembunyikannya di dalam kain-kain kumal yang membungkus tubuhnya untuk penyamaran.

Mata seindah mutiara rusa betina itu menatap lagit yang berwarna abu-abu pucat, merasakan hembusan angin yang seolah sedang membisikkan sebuah pesan padanya. Kelopak matanya terpejam sesaat, “Apakah didekat sini ada safana, Hyung?”

“Ada. Dulunya adalah sebuah desa sebelum pasukan Yunho menggempur dan meluluh-lantahkan desa itu karena menjadi sarang para bandit.” Jawab Yoochun.

“Mari ke sana…. Tiba-tiba aku ingin melihatnya.”

Yoochun menatap wajah pucat adiknya yang terlihat semakin pucat setiap detiknya, ragu… Yoochun ragu menuruti permintaan adiknya itu. Safana yang dimaksud mungkin saja tempat terbuka namun jalan menuju ke sana sangat curam. Belum lagi kemungkinan mereka akan terkejar oleh pasukan istana yang Yunho kirim.

“Mari kita ke sana.” Walau dipenuhi keraguan akhirnya Yoochun mengarahkan tali kekang kuda yang dituntutnya untuk menuju arah safana yang dimaksud adiknya berada.

<3 >>>#<<< <3

Setelah melewati tanah yang landai dan akar pepohonan yang timbul di atas permukaan tanah yang sangat merepotkan akhirnya Yoochun dan Jaejoong sampai di sebuah safana. Safana yang ditumbuhi alang-alang berbunga keunguan. Kerisik dedaunan kering yang bergesekan, hembusan tenang angin yang bertiup perlahan membuat mata Yoochun menatap sekeliling dengan penuh kewaspadaan. Sayup telinganya mendengar suara derak kuda dan lesatan anak panah yang entah datang darimana asalnya.

Jaejoong yang tengah duduk di atas sebuah batu kali hitam menarik lengan kanan Yoochun, memaksa pemuda berkulit pucat serupa dirinya itu untuk duduk di sampingnya. Jemarinya menelusuri jejak kalung yang dipakai oleh Yoochun perlahan-lahan.

Hyung… aku mencintai Yunho. Aku jatuh cinta padanya.”

Yoochun memaksakan senyumannya, “Hyung tahu.”

“Tapi aku memilih untuk meninggalkannya karena tugasku adalah menjaga kedamaian dunia. Kelak bila anak ini lahir, aku berharap dia dibesarkan dengan cinta dan kasih yang melimpah agar darah panas yang didapatnya dari Yunho bisa memudar dengan sendirinya.”

“Joongie….”

“Jangan pernah lupa kalau aku sangat menyayangimu, Hyung….”

Jleb!

Sebuah anak panah menancap pada permukaan tanah tepat ditengah-tengah diantara kaki kanan Jaejoong dan kaki kiri Yoochun yang duduk berdampingan. Yoochun segera berdiri, mengeluarkan pedang dan kapak yang selalu disematkannya pada ikat pinggang belakangnya.

“Kembalikan Jaejoong padaku Park Yoochun!” di atas kuda hitam yang berjalan paling muka itu Yunho memasang wajah penuh amarahnya, sepasang mata musangnya berkilat penuh benci ketika menatap Yoochun.

“Tidak!” Yoochun berdiri di hadapan Jaejoong, melindungi adiknya dari tatapan menjijikkan raja yang menurutnya sangat bengis dan kadang tidak manusiawi itu, raja yang juga merupakan adik iparnya sendiri.

“Changmin, hentikan dia!” perintah Yunho.

Laki-laki yang duduk di atas kuda yang berada di sisi samping kanan Yunho itu melompat turun dari kudanya. Laki-laki jangkung berwajah kanak-kanak itu memainkan nunchakunya sambil mengulum seringai mengerikan.

“Junsu, bawa Boo Jae padaku!” perintah Yunho lagi.

Tanpa berkomentar apa-apa Junsu turun dari kudanya, berjalan pelan menghampiri Yoochun dan Jaejoong. Wajahnya datar, terkesan dingin ketika matanya bertumbuan dengan mata selegam mutiara rusa betina itu. Tangan kanannya mencabut sebuah tombak perak keemasan yang tersemat di pinggangnya, menggenggam erat tongkat yang berkilauan itu.

“Sejak kapan Junsu menggunkan tombak sebagai senjatanya?” gumam Yunho. Ada perasaan asing yang menakutkan ketika mata setajam musang miliknya menatap kilat sedih mutiara rusa betina Jaejoongnya.

<3 >>>#<<< <3

“Jangan menjauh dari Hyung! Kita pasti akan bisa pergi dari mereka.” Ucap Yoochun. Matanya nyalang ketika melihat Changmin dan Junsu mendekat. Kewaspadaannya meningkat ketika Changmin mulai memutar-mutar nunchakunya.

“Sudah lama aku ingin membunuhmu Jendral Park, dan ini adalah saat yang aku tunggu-tunggu!” Changmin berlari menyongsong Yoochun sambil terus memutar nunchaku miliknya. Dalam hati yang terdalam Changmin sangat iri dan membenci Yoochun yang diangkat oleh Yunho sebagai seorang Jenderal padalah selama ini dirinyalah yang menemani Yunho memulai penjajahannya bukan Yoochun.

Yoochun melempar kapak yang berada dalam tangan kirinya, menghunuskan pedangnya untuk menyambut Changmin. Pedang besar lagi panjang itu terlilit oleh nunchaku Changmin saat keduanya saling berhadapan dengan mata nyalang.

Sintagmatis 9 NaraYuuki

“Kau akan mati, Park!” desis Changmin.

“Kita lihat saja, Shim! Kau atau aku yang mati di sini!” balas Yoochun yang langsung menghadiahkan sebuah tendangan pada perut Changmin. Membuat laki-laki jangkung itu mengaduh dan memuntahkan sedikit darah segar. “Aku tidak sudi mati di sini! Kau tahu itu!”

“Simpan omonganmu untuk malaikat penjaga neraka yang akan menyambutmu nanti!” secepat kilat Changmin menghantamkan ujung nunchakunya pada dada Yoochun hingga membuat kakak Jaejoong itu terbatuk-batuk.

<3 >>>#<<< <3

Jaejoong memejamkan matanya, mengabaikan teriakan dari prajurit yang mengepung seluruh safana, teriakan yang menyorakkan dukungan terhadap Changmin. Menghembuskan napasnya perlahan-lahan sebelum membuka kelopak matanya yang menutupi mutiara indah yang selalu berhasil menghanyutkan Yunho. Bibir merah darahnya tersenyum ketika matanya menatap sosok berambut merah yang sangat dikenalinya, sosok berkilauan yang memegang tongkat kebesarannya, kakaknya. Sang dewa perang, Xiah.

“Kau terlihat menyilaukan, Hyung….” ucap Jaejoong.

“Dimata manusia biasa aku tetaplah Kim Junsu, sepupu Jung Yunho.” Sahut Junsu, “Pintu gerbang ke rumah sebentar lagi terbuka di sini..”

“Aku tahu….” Jaejoong mengulum senyuman, dikeluarkannya sebuah cambuk berwarna emas keperakan yang semula terbungkus oleh kain kumal dan usang, “Tolong aku, Hyung! Buatlah sebuah pelindung di sekitar kita!” Pintanya.

Junsu mengetukkan tongkatnya pada permukaan tanah sebanyak 3 kali sebelum muncul sebuah kubah cahaya yang menaungi dirinya dan Jaejoong, tentu saja kubah itu hanya bisa dilihat oleh mereka berdua saja.

Jaejoong tersenyum ketika melihat Yunho dengan wajah panik diikuti para prajurit yang dibawanya menyongsong ke arahnya. Dengan sedikit hentakkan Jaejoong melecutkan cambuknya ke tanah, membuat angin puyuh kecil menerpa safana yang mendadak menjadi medan pertempuran itu. Perlahan-lahan cambuk itu berubah menjadi pedang indah berwarna emas keperakan, “Ini saatnya….” ucapnya sebelum menancapkan pedang itu pada permukaan batu kali yang tadi didudukinya dengan Yoochun.

Glaaarrrrrrr!

Petir menyambar di tengah safana membuat beberapa prajurit terlempar dan mati seketika. Angin ribut menerpa dan langit berubah menjadi hitam pekat. Kubah yang menaungi Junsu dan Jaejoong hilang bersamaan dengan pingsannya Jaejoong dalam dekapan Junsu.

“Selesai sudah tugas kita. Mari pulang, Adikku… mari pulang ke tanah keabadian rumah kita.” Lirihnya.

“Kim Junsu!” panggil Yunho, wajahnya pucat penuh kekhawatiran ketika melihat orang yang dicintainya, ibu dari calon anaknya pingsan didalam pelukan adik sepupunya.

“Minggir kalian!” Junsu mengibaskan tombaknya ketika Yunho dan beberapa prajurit hendak meraih tubuh Jaejoong, “Aku harus membawanya pulang!”

Yunho menautkan keningnya bingung, “Kau gila? Pulang kemana? Disini adalah rumahnya! Kita akan membawanya pulang ke istana!” ucap Yunho, “Berikan Boo Jaeku padaku, Junsu!” pintanya.

“Dia sudah memperingatkanmu sebelumnya, bukan? Ini adalah pilihanmu sendiri. Bila kau masih ingin berada di jalan yang sesat dan mengobarkan angkara di dunia ini maka kami yang akan membesarkan anak yang dikandung oleh Hero!” ucap Junsu.

“Kau mabuk? Apa yang kau bicarakan? Siapa Hero?” Yunho kebingungan. “Berikan Jaejoong padaku!” perintah Yunho tegas.

Dengan ujung tongkatnya yang runcing, Junsu menggores baju besi yang Yunho kenakan. Mundur beberapa langkah ke belakang, dari pungungnya muncul cahaya berwarna perak keemasan, sepasang sayap. Sayap serupa angsa itu mengepak, mendatangkan hempasan angin dasyat hingga beberapa prajurit terpental dan pepohonan rubuh akibatnya. Junsu membopong tubuh tidak berdaya Jaejoong –atau Hero adiknya kemudian membawanya terbang ke angkasa menembus awan-awan berarak sebelum menghilang dari pandangan. Meninggalkan Yunho yang meratapi kepergian Jaejoongnya dalam kebingunganny yang diamorf.

<3 >>>#<<< <3

Yunho yang selama ini tidak pernah menginjakkan kakinya di kuil, untuk pertama kalinya sejak kejadian di safana yang menimpanya datang mendatangi sebuah kuil terbesar di ibu kota negara yang dipimpinnya. Hatinya yang tidak pernah tentram, pikirannya yang selalu kalut memikirkan nasib Jaejoong dan putra mereka membuat tubuh Yunho menjadi kurus, wajah tampannya terlihat tirus dan matanya terlihat lelah. Yunho pun sering jatuh sakit karena kerinduannya pada Jaejoong dan putra yang tidak pernah dilihatnya.

“Ini adalah kuil tempat memuja dewa perang dan dewa kedamaian.” Ucap salah seorang penjaga kuil ketika mengantar rombongan raja Cassiopeia itu menuju altar pemujaan.

“Bukankah biasanya satu kuil hanya memuja satu dewa saja? Kenapa di kuil ini kalian memuja 2 dewa sekaligus?” tanya Yoochun. Setelah pertarungannya dengan Changmin, kakak Park Jaejoong itu nyaris mati karena saat itu Changmin hendak menikamnya, hanya saja tiba-tiba saja Changmin terpental dan pingsan bersamaan dengan bersinarnya kalung yang dipakainya, kalung pemberian Jaejoong sebelum adiknya itu menghilang entah kemana bersama Junsu.

“Dewa perang Xiah dan dewa kedamaian Hero adalah kakak beradik karena itu secara turun-temurun suku kami memuja mereka, berharap kedamaian selalu menaungi negara kita.” Perlahan-lahan penjaga kuil itu membuka sebuah pintu setinggi 5 meter, membungkuk hormat dan mempersilahkan rombongan raja memasuki aula pemujaan.

Tlang!

Nunchaku yang berada di tangan Changmin terjatuh begitu saja melihat pahatan patung yang berada di hadapannya. Bukan hanya Changmin, Yunho dan Yoochun pun ikut membatu melihat pahatan wajah patung kedua dewa itu. wajah yang mengingatkan mereka pada orang-orang yang mereka kasihi.

“Satu minggu yang lalu entah apa yang terjadi tetapi patung dewa perdamaian Hero yang biasanya merentangkan kedua tangannya menjadi menggendong seorang bayi. Kami tidak tahu bayi siapa itu, kami juga tidak tahu apa maksud dari semua ini, tetapi bersamaan dengan munculnya keanehan itu hasil panen para petani di sekitar kuil yang biasanya hanya cukup untuk makan sehari-hari saja kini menjadi berlimpah ruah.”

Yunho jatuh terduduk, bersimpuh di atas lantai. Air mata membasahi wajah tampannya yang kuyu. Mata lelahnya menatap penuh kerinduan sebuah patung yang sedang menggendong seorang bayi itu, Jaejoong… Jaejoongnya dan anak mereka.

Yoochun bahkan sudah berlari menghampiri patung serupa adiknya, memeluk, mengusap-usap dan menjerit histeris memanggil-manggil nama adiknya, membuat sang penjaga kuil menatap bingung lagi keheranan para pembesar negara itu.

“Anakmu sudah lahir, Jung Yunho. Hero memberinya nama Jung Hyunno…. Dewa muda berdarah manusia yang akan meneruskan tugas Hero sepeninggalnya.” Sayup di dalam kuil terdengar gema suara Junsu. Walaupun sesaat tetapi hal itu bisa membuat perasaan Yunho dan yoochun menjadi sedikit lebih tenang.

<3 >>>#<<< <3

Yunho memutuskan menyarungkan pedangnya, menghentikan ambisinya untuk menyatukan seluruh daratan Cassiopeia dibawah panji negaranya dengan cara bertempur. Yunho tidak lagi menyebarkan angkara, tidak lagi membiarkan orang-orang terdekatnya berlaku keji pada orang lain. Yoochun dan Changmin ditugasinya untuk menumpas kejahatan yang meraja lela ketika musim paceklik tiba. Menangkap para bandit, perompak dan penjahat yang meresahkan rakyat kecil. Yunho sendiri selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi safana, tempat terakhir diriinya melihat belahan jiwanya untuk terakhir kalinya.

“Apa kalian baik-baik saja?” gumam Yunho. Diusapnya pedang yang berkilauan itu perlahan, pedang yang tertancap pada sebuah batu kali yang berada di tengah safana, pedang yang tidak bisa dicabut oleh semua orang yang selama enam belas tahun ini berusaha mencabutnya. “Aku merindukanmu, Boo…. Aku sangat merindukanmu….” Yunho menatap langit, membiarkan air matanya turun menganak sungai membasahi wajah lelahnya. Jemari kokohya terjulur menangkap sebuah bulu yang jatuh dari langit.

“Kau juga merindukanku, Boo?” bibir tipis berbentuk hatinya melengkung sempurna, “Aku mencintaimu…. Bisakah kau dengar suaraku ini? Aku mencintaimu….”

.

.

END

.

.

 

Wednesday, October 29, 2014

9:07:36 PM

NaraYuuki

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

EPILOG

<3 >>>#<<< <3

Salju pertama tahun ini sudah turun satu minggu yang lalu, hawa dingin melingkupi seluruh penjuru bumi. Tetapi hal itu tidak mengurungkan niat sang penguasa panji Cassiopeia untuk mengunjungi safana yang hampir seluruh permukaannya sudah memutih itu karena ditempat itulah dirinya merasa lebih dekat dengan belahan jiwanya serta anak yang tidak pernah ditemuinya. Membiarkan para pengawalnya menunggu di pinggir hutan, ia melangkah perlahan mendekati sebuah pedang indah yang tidak pernah berkarat walaupun sudah tertancap pada permukaan batu kali selama bertahun-tahun lamanya.

“Anda datang sedikit lebih awal daripada minggu lalu.” Seorang pemuda yang entah darimana datangnya. Pemuda jangkung berkulit pucat itu menatap hampa pedang yang berkilat keemasan, bibir berbentuk hatinya bergumam sesaat sebelum menolehkan kepalanya pada Yunho. “Aku datang untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku.” Ucapnya.

Yunho tersenyum pasi, mata lelahnya menatap nanar pemuda yang berada di hadapannya itu, pemuda yang kelahirannya sangat dinantikannya dulu, pemuda yang diharapkannya akan meneruskan tahtanya namun sepertinya hal itu tidak akan pernah terjadi karena Yunho tahu pemuda itu memikul sebuah tanggung jawab yang lebih besar daripada tanggung jawab seorang pewaris tahta.

“Ambillah anakku. Ambillah apa yang ibumu wariskan padamu.” Ucap Yunho.

Pemuda jangkung itu lantas menarik pedang berwarna emas keperakan yang tertancap pada permukaan batu kali itu dengan mudahnya, membuat tanah disekitar mereka bergetar, angin berhembus kencang untuk sesaat sebelum kembali sepoi-sepoi, serta langit kembali memancarkan sinar hangatnya walaupun butiran salju masih turun perlahan.

“Apakah anda ingin bertemu dengan ibuku?” mata seindah mutiara rusa betina yang terbingkai kelopak setajam musang itu berkilat aneh ketika menatap Yunho.

“Bolehkah? Bolehkah aku menemuinya?” tanya Yunho.

“Ya, tentu saja. Karena ini adalah waktu yang tepat bagi anda untuk menemuinya.”

“Kalau begitu pertemukanlah kami!” pinta Yunho. Tangannya dibiarkan digenggam oleh pemuda yang sangat mirip dengannya itu, membiarkan pemuda itu menuntunnya berjalan ke sisi tenggara safana, memasuki sebuah tanah berwarna putih menggumpal-gumpal menyerupai awan, pada permukaan tanah itu terdapat mata air, bunga berwarna-warni dan pepohonan yang rindang lagi unik. Dedaunannya tidak hanya berwarna hijau maya namun juga berwarna perak keemasan dan berkilauan sebening kristal.

Yunho merasakan takjub luar biasa. Rasa-rasanya dirinya tidak berada di bumi melainkan surga –kalaupun dirinya bisa masuk dan mengunjungi surga barang sebentar. Yunho membiarkan pemuda jangkung nan tampan itu membimbingnya menuju satu-satunya bangunan beratap di tempat aneh itu. sebuah bangunan menyerupai rumah yang hanya memiliki 9 tiang penyangga yang sangat besar dan kokoh berwarna perak indah serta atap berwarna putih gading yang lembut tanpa pintu dan pagar disekelilingnyaa, mirip bangunan kuil-kuil kuno yang ada di daratan Yunani sana.

Yunho terdiam ketika memasuki bangunan aneh namun indah itu. lantainya terbuat dari berlian putih yang sangat bening, di tengah-tengah terdapat sebuah peti mati yang terbuat dari kristal yang memedarkan warna pelangi. Di dalam peti itu telah tertidur sosok belahan jiwanya yang cantik lagi menawan, sama seperti ketika mereka terakhir kali bertemu.

“Ibuku cantik bukan? Aku tahu…. karena sampai sekarang ibu terus tertidur usai melahirkanku, menunggu ayah datang untuk membangunkannya…..”

Dengan jemari yang bergetar Yunho mengusap peti mati kristal itu perlahan, rasanya sangat sejuk seperti embun dimusim panas. Menekuri permukaan kristal itu seolah-olah menyentuh sosok yang tertidur di dalamnya.

“Bagaimana cara membangunkan ibumu, anakku?!” tanya Yunho.

“Anda cukup berbaring di samping ibu. Ikut terlelap bersama ibu sampai ada seseorang yang membangunkan kalian. Pada saat itu semailah pohon kebaikan dengan bantuan ibu agar seluruh dosa yang anda perbuat selama kehidupan ini bisa ditebus.” Jawab pemuda itu, “Bila anda mau melakukannya maka aku akan membukakan peti mati ini untuk anda.”

“Tentu akan ku lakukan….” jawab Yunho. Rasa haru karena bertemu belahan jiwanya membuatnya rela melakukan apa saja agar setiap saat dalam kehidupannya bisa terus melihat wajah yang selalu membuatnya merasa bahagia.

Pemuda serupa Yunho itu membuka tutup peti kristal dengan mudahnya, membantu Yunho masuk dan berbaring di dalam peti beralaskan sutra merah yang indah lagi halus itu perlahan-lahan.

Yunho tersenyum, mengusap wajah belahan jiwanya dan menyempatkan diri mencium kening belahan jiwanya perlahan. “Jung Hyunno….” panggil Yunho.

“Ya?”

“Sekali saja, sekali saja aku ingin mendengarmu memanggilku Ayah.” Ucap Yunho.

Pemuda itu tersenyum, “Selamat tidur Ayah. Sampaikan salam cintaku pada ibu, katakan bahwa aku mencintainya. Jaga ibu dan jangan buat ibu bersedih. Aku menyayangi kalian.”

Yunho tersenyum, jemarinya menggenggam erat jemari lentik belahan jiwanya sebelum menautkan jemari mereka. Perlahan-lahan Yunho memejamkan mata setajam musang miliknya itu ketika kantuk menyergapnya.

Selamat tidur Ayah….”

Suara bisikan itu adalah suara terakhir yang Yunho dengar sebelum benar-benar terlelap dalam tidurnya.

<3 >>>#<<< <3

Tutup peti mati itu sudah terpasang lagi, kini di dalam peti mati itu Jung Yunho sudah bersama dengan belahan jiwa yang selama 16 tahun lamanya dirindukannya dalam kenestapaan panjang. Sebuah penantian yang berujung manis.

“Hyunno…. Tugasmu sudah menanti, keponakanku.”

“Xiah Ahjushi…. Bisa tunggu sebentar? Aku ingin memberikan hadiah terakhir untuk ayah dan ibuku.” Diletakannya dua tangkai bunga lili putih yang indah di atas tutup peti kristal itu sebelum berjalan pergi meninggalkan tempat peristirahatan kedua orang tuanya.

“Kau melakukannya dengan sangat baik, keponakanku.” Puji Xiah.

Sekali lagi Hyunno menoleh ke belakang menatap peti yang menyimpan tubuh kedua orang tuanya, tersenyum bersamaan dengan terkembangnya kedua sayap indahnya, “Aku bangga menjadi anak kalian.” Bisiknya sebelum sayapnya terkepak dan terbang menyongsong cahaya senja bersama Xiah untuk bergabung dengan para dewa lainnya ke rumah mereka, Fohn Orion….

.

.

FIN

.

.

Mudeng ga? Ga mudeng pun ga apa-apa. Yuuki pengen buat cerita seperti ini jadi Yuuki ketik sekaligus untuk kado Mak Ifa yang kemarin ultah tanggal 5 November. Mian Mak terlambat. Anakmu ini sok sibuk #dijewer. Jangan minta dibuatkan sekuel ya karena hutang Yuuki masih belum lunas #lirik Suprasegmental, Pembalasan Bidadari Hitam & Revenge.

Terima kasih yang sudah membaca, jaga kesehatan ya ;)

Hamkke Gangje, Chagya

Tittle                : Hamkke Gangje, Chagya

Author              : NaraYuuki & Metha Sari

Genre               : Romance/ Drama/ Familly

Rate                 : T+

Cast                 : YunJae and Others (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan. GS for Kibum)

Disclaimer:       : Chara milik individu masing-masing but this story punya Yuuki & Metha

Warning           : Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut, jadi tolong maklumi kalau hasilnya sama sekali tidak memuaskan. TIDAK MENERIMA BASH DAN FLAMER! KALAU TIDAK MUDENG TINGGAL TANYAKAN DAN JANGAN MERUSUH DI RUMAH ORANG!

.

.

Pastikan baca warningnya dulu!

Semoga ini tidak mengecewakan….

.

.

Happy Reading

.

.

Flasback

“Dia tampan sekali… kulitnya juga berwarna kecoklatan tidak seperti anak Korea pada umumnya ne yeobo?“ tanya seorang yeoja  pada suaminya.

Mereka adalah pasangan suami istri Jung yang terkenal karena merupakan salah satu dari sekian keluarga konglomerat di Korea, sayang kebahagiaan mereka terasa belum lengkap karena sang nyonya Jung harus rela rahimnya diangkat akibat kanker yang menggrogoti dirinya beberapa tahun silam. Sekarang mereka sedang berada disalah satu panti asuhan di seoul, Panti asuhan Shinki.

“Ne… yang satunya juga sangat cantik, kulitnya putih bersih dan mata bulatnya sungguh menenangkan. Padahal dia namja.” Komentar sang suami.

“Kau benar yeobo… tapi aku menyukai anak berkulit eksotis itu.” ucap nyonya Jung.

“Aku lebih menyukai anak berkulit putih itu.” ujar tuan Jung

Tanpa mereka sadari seorang pengurus panti tempat mereka berada sedang tersenyum melihat pasangan suami istri itu.

“Ehm… mian kalau menganggu, tapi bolehkah saya memberi kalian saran?” tanyanya

“Apa itu ?” Nyonya Jung bertanya seraya mengulum senyum manisnya.

“Nyonya menyukai Yunho dan tuan menyukai Jaejoong, jadi bukankah anda berdua bisa mengadopsi keduanya. Jujur saja mereka adalah sepasang sahabat baik ditambah dengan Yihan, anak yang memakai baju abu-abu itu. Tapi saya rasa anda berdua hanya memerlukan dua anak.” ucap pengurus panti itu seraya tersenyum.

“Ah kau benar Seulgi shi tapi apakah tidak apa-apa, bagaimana jika anak yang bernama Yihan itu merasa kehilangan karena kami mengadopsi kedua sahabatnya sekaligus?”  tanya nyonya Jung lirih, jujur saja dia merasa bersalah jika harus memisahkan mereka.

“Anda tenang saja nyonya, akan ada keluarga berbeda yang datang ke sini setiap minggunya untuk mengadopsi anak-anak di sini. Saya yakin Yihan bisa mengerti dan juga bisa memiliki keluarga baru seperti Yunho dan Jaejoong.” Ujar Seulgi mencoba memberi pengertian.

“Bagaimana  yeobo?” nyonya Jung mencoba meminta pendapat suaminya.

“Baiklah kita adopsi keduanya, bukankah kita akan memiliki dua anak yang tampan dan cantik sekaligus?” tuan Jung tersenyum.

“Seulgi shi katakan pada mereka bahwa mereka akan segera mempunyai keluarga baru”. Nyonya Jung tersenyum membayangkan dirinya akan segera memiliki dua anak menggemaskan yang akan memanggilnya umma.

End Flashback

.

Hamkke

.

Author POV

Tap

Tap

Tap

Suara langkah kaki menggema dalam kediaman mewah keluarga Jung, seorang namja cantik terlihat berjalan sedikit tergesa menuju seorang yeoja yang sedang berkutat menata meja makan. “Umma….” teriaknya nyaring.

Brukk

Namja cantik itu langsung menubruk dan melingkarkan tangannya pada pinggang yeoja paruh baya yang sepertinya terkejut atas tindakan putra kesayangannya itu.

“Yah Jung Jaejoong! Bisakah jangan mengagetkan Ummamu ini setiap pagi?” marahnya pada namja cantik itu aka Jung Jaejoong.

“Hehe… mian Umma.” cengirnya, “Umma, mana appa dan hyung?” tanyanya pada ummanya aka Jung Kibum.

“Hah appa sebentar lagi akan turun dan Joongie tolong bangunkan hyung beruangmu itu, dia harus segera pergi ke kantor karena akan ada meeting dengan Jin Corp”. Perintah Kibum pada putra cantiknya.

Ne….” Jaejoong mengangguk pelan.

Tanpa diperintah dua kali Jaejoong segera pergi menaiki tangga menuju kamar hyung beruangnya aka Jung Yunho, dia tidak ingin umma cantiknya mengamuk pada pagi hari ini karena mengabaikan dirinya tidak menjalankan perintah sang ratu, ratu keluarga Jung.

Kriet

Perlahan-lahan Jaejoong membuka pintu kamar hyungnya, tersenyum simpul ketika melihat hyung kebanggaannya itu masih bergelung nyaman di dalam selimutnya.

Hyung irreona ppali, umma bilang kau harus segera bangun dan bersiap-siap. Kau ada meeting dengan Jin Corp.” Jaejoong menggoyangkan badan Yunho berharap kakaknya itu akan segera bangun.

“Berisik!” Bentak Yunho yang merasa terganggu.

“Tapi Hyung harus segera sarapan dan pergi ke kantor.” Jaejoong tidak mau menyerah.

Ne… ne… sekarang pergilah karena aku akan bangun.” Ucap Yunho pada akhirnya yang membuat Jaejoong tersenyum puas. Setelah itu dengan malas dan sedikit menggerutu Yunho bergegas bangun dan membersihkan diri karena memang hari ini dirinya memiliki jadwal pertemuan dengan perusahaan yang akan menjalin kerjasama dengan Jung Corp.

.

.

Yunho POV

Sekarang aku bukan lagi Yunho anak panti menyedihkan yang malang, sekarang aku adalah Jung Yunho putra sulung pasangan Jung Siwon dan Jung Kibum, aku dan Jaejoong diadopsi dan di besarkan bersama-sama. Mereka tidak membedakan antara aku dan Jaejoong tapi sekarang entah mengapa aku merasa mereka lebih menyayangi Jaejoong dari pada aku. Mereka seolah-olah selalu meremehkanku dan menganggapku tidak becus dalam mengurus perusahaan sehingga aku harus turun jabatan dari direktur utama menjadi manager, aku sama sekali tidak membenci mereka yang telah dengan sukarela menjadikanku bagian dari keluarga Jung dan aku juga tidak merasa iri pada Jaejoong yang tumbuh dengan belaian kasih yang berlebihan.

Aku menyayangi orangtuaku walau sikap mereka yang meremehkanku membuatku menjadi angkuh dan dingin, aku pun mencintai Jaejoong. Rasa cinta yang lebih daripada cinta seorang hyung pada dongsaeng. Yeah aku jatuh cinta pada Jaejoong sebagai seorang pria bahkan semenjak kami sama-sama masih berada di panti asuhan.

Yunho POV End

.

.

Author  POV

“Apa kau siap untuk meeting bersama utusan perusahaan Jin Corp, Yun?” tanya sang kepala keluarga pada salah putra sulungnya.

Ne.” jawab Yunho datar.

Appa harap kau tidak melakukan kesalahan yang dapat merusak kerjasama ini dan menghancurkan nama baik keluarga.” ucap Siwon

“Aku tidak akan mengacaukan semuanya dan ku pastikan kerjasama ini akan menambah kejayaan anda, tuan Jung.” Sinis Yunho yang merasa bosa didikte setiap hari oleh ayahnya.

Yah Jung Yunho sopanlah sedikit kepada Appamu”. Teriak Siwon

“Sabar Yeobo, aku yakin Yunho dapat diandalkan. Bukan begitu Yun?” Kibum mencoba menengahi pertengkaran suami dan putranya yang semakin sering terjadi setiap harinya.

Bukannya menjawab Yunho malah menyudahi sarapannya dan pergi keluar meninggalkan kedua orangtua dan adiknya, selalu seperti ini jika dia berhadapan dengan sang Appa yang selalu meremehkannya, pada kesempatan yang sama ummanya akan selalu membelanya.

“Kau jangan selalu membela dan memanjakannya Kibum-ah, dia bisa besar kepala!” ucap Siwon pada istrinya.

“Tapi kau juga tidak harus berbicara seperti itu pada Yunho, dia selalu membantumu di perusahaan dan seharusnya kau tidak menurunkan jabatannya menjadi manager, Wonnie!” balas Kibum.

“Aku hanya ingin memberinya sedikit pelajaran karena dia telah berulah dan membuat kerjasama antara perusahaan kita dengan perusahaan Luar Negeri berantakan.”

“Tapi tidak seperti ini caranya….” lirih kibum.

Mian Bummie, aku tahu ini keterlaluan tapi aku ingin dia lebih dewasa dalam bersikap.” Setelah itu Siwon mengecup kening Kibum tak lupa juga dengan Jaejoong dan segera beranjak untuk berangkat ke perusahaannya.

Jaejoong sendiri pun hanya berdiam diri melihat pemandangan yang ada di depannya. Ini bukan salah appanya juga bukan salah hyungnya. Andaikan keluarganya lebih sering berkumpul untuk membicarakan apa yang masing-masih dari mereka rasakan kesalahpahaman seperti ini tidak akan terjadi.

Umma gwaenchana?” tanya Jaejoong pada Ummanya.

Ne gwaencahana, Chagie.” Kibum tersenyum dan memeluk putra cantiknya.

Yeah… Jaejoong dan Yunho sungguh berbeda. Jika Yunho dingin dan angkuh, lain halnya dengan Jaejoong. Namja cantik itu tumbuh menjadi anak yang manis dan ceria sangat berbanding terbalik dengan Yunho. Jika Yunho putra kebanggaannya maka Jaejoong adalah pelipur laranya, jika Yunho selalu beradu argumen dengan suaminya maka Jaejoong adalah penenang baginya dan suaminya. Jika Yunho selalu menghabiskan waktu diperusahaan untuk menunjukkan kemampuannya dan meraih kekuasaannya maka Jaejoong adalah teman terbaik yang selalu ada untuk mengisi kekosongan hari-hari kesepiannya. Yunho dan Jaejoong adalah hartanya yang paling berharga, anak yang telah dibesarkan dengan segenap kasih sayang dan cinta yang sama besarnya walaupun mereka memiliki watak dan sifat yang berbeda.

.

.

At Jung Corp

Yunho berjalan memasuki lobi perusahaan menuju ruang meeting dengan wajar datar dan dinginnya, semua karyawan sudah tahu watak putra pertama keluarga Jung ini. Dingin, angkuh dan arogant bahkan selalu terobsesi ingin meraih kembali posisinya menjadi direktur utama yang sempat disandangnya beberapa waktu yang lalu.

Tak dipedulikan olehnya tatapan kagum para karyawan yeoja yang selalu mengagumi dan memujinya, baginya mereka hanya oang-orang rendahan di perusahaan ini. Yunho tersenyum sinis dengan pemikirannya sendiri.

Cklekk!

Yunho memasuki ruangan meeting dan berjalan menuju tempat yang sudah disediakan untuknya dalam setiap meeting.

Mian aku sedikit terlambat.” Ucapnya datar pada peserta meeting yang lain.

“Apa kabar Yunho? Ah maksudku Jung Yunho….” Ucap seorang peserta meeting yang berhasil memaksa Yunho untuk melihat ke arah orang itu.

Deg!

“Yihan….” ucap Yunho tidak percaya melihat siapa yang kini duduk bersebrangan darinya.

“Lama tidak bertemu Yunho….”

.

.

.

TBC

 .

.

Tuesday, November 11, 2014

6:49:31 AM

Metha & Yuuki.

 

Suprasegmental III

Tittle                : Suprasegmental III

Writer               : NaraYuuki

Genre               : Romance/ Adventure/ fantasy kerajaan/ Incest

Rate                 : -M

Cast                 : Member DBSK (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan).

Disclaimer:       : They are not mine but this story is mine, NaraYuuki

Warning           : This is YunJae Fan Fiction (Boys Love). M-Preg. Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut.

.

.

.

.

.

PASTIKAN BACA WARNINGNYA DULU

EPEP INI KHUSUS BUAT EMAK IFA DAN PARA KUTIL TERSAYANG YUUKI :D

.

.

Suprasegmental untuk para kutil

.

.

Setelah menunggu selama satu bulan lamanya, kemarin surat balasan dari Yang Mulia Raja beserta bala bantuan yakni berupa 10 orang prajurit pilihan –prajurit rahasia yang berada dibawah perintah langsung Yang Mulia Raja akhirnya datang. Ke-10 prajurit itu kini tenaganya dipinjamkan pada Jaejoong. Selain surat balasan atas pengaduan Jaejoong dan para prajurit yang dimintanya, Jaejoong pun mendapatkan sebuah surat pribadi langsung dari Yang Mulia Raja.

“Apa isinya?” tanya Yunho yang sedang mengasah pedangnya dan pedang Jaejoong senja itu di pendopo ditemani gerimis tipis yang membuat udara disekitar mereka terasa lembab dan sedikit dingin.

Jaejoong meletakkan lembar surat itu di hadapan Yunho. “Permintaan maaf karena Tun Putri kabur dengan pria lain. Yang Mulia Raja berjanji akan menghukum mereka bila mereka berhasil ditemukan.” Jawab Jaejoong, “Prajurit pilihan Raja sudah berhasil melacak keberadaan mereka. Ku harap mereka bisa kabur ke Negara tetangga dan tidak usah kembali kemari selamanya.”

Yunho tersenyum, “Kenapa?”

“Kita berdua tahu tabiat Yang Mulia Raja dengan baik. Beliau hendak menghukum pancung Putri dan kekasihnya bila mereka tertangkap, Raja selalu memegang kata-kata yang terlontar dari mulutnya. Walaupun putrinya sendiri beliau pasti akan tetap menjatuhkan hukuman pancung itu. Karenanya aku berharap Tuan Putri dan kekasihnya tidak tertangkap. Mereka berhak bahagia karena mereka saling mencintai walaupun terlihat aku yang menjadi korban disini tetapi pada kenyataannya aku bukanlah korban karena sejak awal aku memang tidak menginginkan pernikahan itu.” Jaejoong menyerahkan sebuah amplop pada Yunho.

“Apa itu?” Yunho meletakkan pedang dan kain yang digunakan untuk mengelap pedang indah itu pada sisi kiri tubuhnya sebelum mengambil amplop dari tangan Jaejoong.

“Ketua prajurit kiriman Raja mengatakan bahwa surat itu berasal dari Putra Mahkota yang ditujukan untukmu.” Ucap Jaejoong, “Aku tahu kau memang berteman baik dengan putra mahkota, tetapi aku tidak menyangka kalian saling mengirim surat tanpa sepengetahuanku.”

“Kami mendiskusikan sesuatu tentu saja.” Yunho membuka amplop itu dan mengeluarkan isinya.

“Apa yang kalian diskusikan?” tanya Jaejoong.

Yunho tersenyum menggoda pada Jaejoong, “Cara membawamu kawin lari salah satunya.”

“Jung Yunho!”

“Tentu aku masih memikirkan hal itu, Boo.” Yunho mulai membaca surat yang diperuntukkan untuknya itu dengan teliti.

.

Hoi Jung Yunho! Beraninya kau…

Aku tidak akan peduli bila namja yang kau kencani dan menjadi obsesimu itu adalah orang lain, tetapi… beraninya kau! Kim Jaejoong adalah keponakanku! Kau brengsek! Ingatkan aku untuk menghajarmu bila kita bertemu nanti.

Perihal bantuan yang kau minta, untuk saat ini aku belum bisa memberikannya padamu mengingat kemarahan ayahku karena adikku kabur bersama pemuda dari kalangan rakyat jelata. Aku tahu kau pasti bahagia karena Jae tidak harus menikah dengan adikku. Tetapi kau bisa memegang janjiku bahwa ketika emosi ayahku mulai turun, aku akan mengutarakan permohonan bantuanmu. Aku sendiri yang akan menjamin keselamatanmu dan Jaejae manisku. Jadi jangan khawatir! Jagalah dirimu sendiri dan Jaejaeku, aku perintahkan hal itu padamu!

Aku akan membagi sedikit kabar bahagia untukmu, Jung pabo yang selalu berpikir untuk membawa keponakanku kawin lari. Uri Youngsaeng tengah mengandung 2 bulan. Aku berharap kau tidak menghamili uri Jaejae sebelum status hubungan kalian jelas.

Sahabatmu, Kim Hyunjoong.

.

“Bahkan Youngsaeng hyung hanya seorang simpanan. Bagaimana bisa Putra Mahkota setenang itu menghadapi kehamilannya?” gerutu Jaejoong sambil meremas surat dari Putra Mahkota yang diperuntukkan untuk Yunho yang juga ikut dibacanya.

“Youngsaeng hyung sudah menjadi selir Putra Mahkota, Boo. Bukan lagi seorang simpanan.” Yunho mengoreksi.

“Tetap saja kedudukannya di masyarakat tetaplah seorang simpanan, rendah dan tidak bermartabat.” Ucap Jaejoong dengan nada kesal dan jengkel.

Yunho tersenyum, berusaha memahami perasaan namja cantiknya “Kau adalah satu-satunya untukku, Boo. Andaikan kau mau aku ajak kawin lari.”

“Berhenti mengatakan hal konyol seperti itu, Jung Yunho!”

Arraso. Saat ini kita harus fokus pada pekerjaan dulu, kan?” tanya Yunho.

“Bagaimana soal undangan dari menantu wali kota Bollero?” tanya Jaejoong, “Kita berdua tahu kalau bangsawan yang satu itu sangat licik dan brengsek! Bahkan bawahanku dikantor kehakiman pun memperingatkanku untuk berhati-hati pada pria itu.”

“Aku dan Yoochun yang akan datang memenuhi undangannya. Jangan khawatir!” Yunho mengusap wajah pucat Jaejoong yang memerah akibat bias redup matahari yang hampir terbenam.

“Aku pun mendapat undangan serupa.” Ucap Jaejoong. Dibukanya lembaran laporan yang berada di sampingnya, mengambil sebuah amplop yang terselip pada salah satu halamannya untuk diserahkan pada Yunho, “Orang bernama Lee Hongman itu benar-benar merepotkan. Dia tidak kooperatif (kerja sama) ketika aku dan Changmin menanyainya berkaitan dengan pajak yang harus diberikannya, berbeda dengan para bangsawan lain yang walaupun awalnya alot tetapi mereka tetap bersedia mentaati peraturan pemerintah. Tapi Lee Hongman berbeda, Yun. Caranya bicara dari awal sampai akhir mengisyaratkan bahwa dia orang yang licik, tidak mau kalah dan tunduk pada siapapun seolah-olah dia tidak takut pada apapun termasuk pada hukum.”

“Kita tahu tidak akan mudah bukan, Boo….”

“Rasanya kali ini berbeda, Yun.”

“Kita akan baik-baik saja.” Yunho tersenyum.

“Aku menolak ketika Lee Hongman mengatakan pertemuan yang digagasnya akan diselenggarakan di rumah para gisaeng. Mungkin aku melakukan kesalahan karena kemudian dia mengatakan lebih baik perjamuan itu diadakan di rumahnya agar aku merasa nyaman.”

“Dimataku semua hal yang kau lakukan tidak pernah salah sedikit pun, Boo.”

“Kalau bgitu ubah cara berpikirmu, Jung Yunho!”

“Dan seandainya kau tidak merasa nyaman, kita tidak perlu datang langsung. Maksudku, kita bisa mengutus Yoochun dan Changmin selaku wakil kita untuk datang menggantikan kita.”

“Apa tidak apa-apa? Apa mereka akan baik-baik saja?” tanya Jaejoong yang hanya dibalas senyuman oleh Yunho.

“Mereka lebih tangguh daripada yang terlihat. Tenanglah Boo….” Yunho mengusap helaian rambut Jaejoong yang tergerai perlahan-lahan, “Lagi pula bukankah kita harus menyelediki sesuatu terkait laporan yang diberikan oleh bangsawan Bong?”

Jaejoong meraih jemari Yunho, menggenggamnya kuat-kuat. “Kalau terjadi sesuatu padamu aku betjanji akan mengerahkan seluruh kekuatanku untuk….”

Yunho mencium sekilas bibir merah merekah Jaejoongnya, tersenyum tulus seolah mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja, “Akulah yang seharusnya  berkata seperti itu, Boo. Bila terjadi sesuatu padamu, akan ku binasakan mereka dengan tanganku sendiri!”

“Jangan menyentuhku sehangat ini atau aku akan menyerangmu saat ini juga, Jung Yunho!” Jaejoong mengingatkan.

“Suatu kehormatan bagiku bila kau menyerangku Boo.” Yunho masih memasang senyum menawan yang membuatnya terlihat semakin tampan, “Aku akan berpasrah diri seandainya kau yang menyerangku.”

Jaejoong mendorong tubuh Yunho yang condong ke arahnya ketika mendengar langkah kaki pengawal yang menjaga mereka di rumah mendekat untuk menyalakan obor dan lampion sebagai penerangan.

“Ck…. Mengganggu saja.” Gerutu Yunho. “Kenapa prajurit raja tidak berjaga di sini saja, Boo?”

“Mereka tinggal di gedung kehakiman dan kepolisian atas perintah Yang Mulia raja sendiri. Mereka tidak akan berani melanggar perintah itu.” jawab Jaejoong.

“Tuan, makan malam sudah siap.” Ucap seorang dayang yang baru datang, “Anda berdua ingin makan sekarang atau nanti?” tanyanya.

“Sekarang.” Jawab Yunho. “Hidangkanlah sekarang karena nanti kami punya urusan yang harus kami selesaikan.” Senyum tidak luntur dari bibir Yunho walaupun Jaejoong memberikan delikan padanya.

.

.

Sejak semalam hujan turun dengan sangat deras tanpa menunjukkan tanda-tanda akan berhenti, aroma tanah menyeruak naik menggoda indera penciuman, kabut pekat turun dan awan mendung masih mengantung pada garis langit sejauh mata memandang. Ketika Jaejoong menggeser jendela kamarnya, udara dingin itu segera memeluk tubuhnya erat seolah hendak meremukkan tulangnya. Jaejoong hendak menjulurkan tangannya ke luar jendela agar air hujan menjilatinya ketika tangannya dicengkeram kuat oleh Yunho.

“Jangan coba-coba, Boo!” Yunho memperingatkan, “Aku tidak mau kau jatuh sakit.”

“Kau terdengar seperti kakekku, Yun.” Gerutu Jaejoong. dibiarkannya Yunho menyampirkan selimut pada bahunya.

“Aku akan meminta pelayan menyiapkan bubur dan sup gingseng untuk menambah staminamu.”

“Jangan perlakukan aku seperti orang lemah!” omel Jaejoong ketika Yunhoo berjalan menuju arah pintu.

“Kau orang yang sangat penting untukku, kau terlalu berharga untuk ku biarkan sakit.” Yunho menggeser pintu kamar Jaejoong yang menjadi kamar mereka kemudian pergi begitu saja meninggalkan sosok cantik itu di dalam kamar sendirian.

“Dia memperlakukanku seperti perempuan.” Keluh Jaejoong. mata selegam mutiara rusa betina itu menengadah ke atas langit dimana sumber hujan berasal. “Tidak akan selalu setenang ini, kan? Badai sebentar lagi pasti datang. Badai yang bisa menghancurkan segalanya. Badai yang menakutkan….” gumamnya.

.

.

“Kenapa caramu melihat kami seperti itu Junsu sshi?” tanya Jaejoong ketika baru menginjakkan kaki di ruang kerjanya yang berada di gedung kehakiman. Junsu terus menatap ke arahnya dan yunho –lebih kepada dirinya dengan pandangan mata berbinar-binar.

“Eum, Jaejoong sshi, kalau boleh aku ingin sekali memelukmu.” Ucap Junsu.

Yah, Junsu!” Yoochun menyenggol lengan Junsu keras-keras, berharap rekannya itu sadar apa yang barusan dikatakannya.

“Mau bagaimana lagi Yoochunie, Jaejoong sshi sangat cantik dan manis.” Ucap Junsu sambil menahan gemasnya.

Jaejoong memelototi Yunho. “Semua ini salahmu karena menyuruhku berpakaian seperti ini!” kesalnya.

Yunho hanya tersenyum, “Peluklah dia! Kasihan Junsu. Aku tidak keberatan bila kau memeluknya karena Junsu satu tipe denganmu, Boo.” Bisiknya.

Usai menginjak kaki Yunho kuat-kuat, Jaejoong berjalan perlahan menghampiri Junsu kemudian memeluk anggota kepolisian yang ditugaskan Yunho untuk menjaganya itu erat.

Yunho yang melihat ekspresi terkejut Junsu pun hanya bisa tersenyum simpul. Jaejoong, Jaejoongnya memang benar-benar menawan. Kali ini Jaejoong memakai setelan mirip seorang pendekar pada umumnya, berwarna jingga dengan perpaduan rompi warna hitam, rambut hitam legamnya yang panjang lagi lurus itu diikat sedikit ke belakang membuat poni dan anak-anak rambutnya tergerai bebas. Sangat wajar bila Junsu gemas melihat penampilan Jaejoong karena Hakim tertinggi Bollero itu kini terlihat sangat cantik dan menawan. Yunho sendiri pun memakai pakaian serupa seperti Jaejoong hanya saja Yunho memilih warna biru air. Hari ini keduanya akan menyelidiki sesuatu sehingga berpenampilan lain dari biasanya.

“Yoochun, Changmin… Kalian harus hati-hati dan tetap waspada ketika berada di kediaman Lee Bongman!” Yunho mengingatkan. Hari ini adalah hari dimana seharusnya Yunho dan Jaejoong memenuhi undangan dari menantu Wali Kota Bollero yang terkenal akan kebengisannya itu, sayangnya Yunho dan Jaejoong harus menyelidiki sesuatu sehingga Yoochun dan Changmin selaku wakil merekalah yang diutus untuk menggantikan keduanya menghadiri acara di kediaman bangsawan Lee.

Ne.” Sahut Yoochun.

Ye, kepala polisi Jung!” jawab Changmin penuh semangat.

“Junsu, kau akan menemani Jaejoong. Kita akan berpisah begitu memasuki hutan. Pastikan kau menjaganya dengan baik!” pinta Yunho.

Junsu mengangguk penuh semangat, “Tentu saja!”

“Apakah perlengkapannya sudah siap?” tanya Yunho.

“Sudah siap.” Jawab Yoochun, “Walaupun sepertinya hujan tidak akan berhenti tetapi sebaiknya anda dan Jaejoong sshi menunggu kabut sedikit memudar agar nanti tidak tersesat di hutan.” Ucapnya memberi saran.

“Prajurit khusus pun sudah membagi tugas sehingga sebagian akan mengawal Hakim Kim.” Jelas Changmin, “Bagaimana pun juga beberapa anggota kepolisian akan ikut dalam misi ini mengingat tingkat bahayanya.”

Bukan perompak maupun penjahat biasa. Yang akan kami selidiki adalah seorang bangsawan kikir yang memiliki kedudukan cukup terhormat dimata masyarakat. Bangsawan yang kemungkinan menjadi momok paling menakutkan dikota ini.” Batin Jaejoong, jemari lentiknya mencengkeram kuat pedangnya. Walaupun benci kekerasan tetapi semalam setelah mendiskusikan kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi dengan Yunho, Jaejoong siap bila tangannya harus digunakannya untuk menebas leher para pendosa.

“Khusus kalian bertiga, Yoochun, Junsu dan Changmin. Aku bebaskan kalian, aku beri ijin kalian untuk mencabut nyawa mereka yang bersalah dengan catatan kondisi yang mendesak dan membahayakan khalayak (masyarakat).” Ucap Yunho.

Ye!” sahut Yoochun, Junsu dan Changmin bersamaan. Ketiganya langsung menyibukan diri dengn urusan masing-masing, menyiapkan senjata salah satu contohnya.

“Berjanjilah kau akan baik-baik saja, Boo!” pinta Yunho.

“Aku berjanji.”

.

.

Tanah yang lembek dan becek, gerimis yang masih turun, kabut tipis yang masih terlihat sejauh mata memandang terasa sangat ironi bila membayangkan kehangatan dan kenyamanan yang disuguhkan oleh bangsawan Lee dalam undangannya. Tetapi tempat yang menyesakkan dan lembab itulah yang dipilih oleh Yunho dan Jaejoong untuk misinya kali ini, misi menantang bahaya.

“Jaga dirimu baik-baik, jangan sampai terluka!” bisik Yunho saat mengeratkan pelukannya pada Jaejoong tanpa risih ditatap sedemikian rupa oleh bawahan mereka. Yunho ingin memeluk tubuh hangat itu lebih lama lagi, ingin menyesap manisnya bibir merah delima itu sebelum berpisah tetapi tekanan perasaannya yang menggebu itu harus diakhiri sekarang atau semuanya akan sia-sia.

Jaejoong melepaskan pelukan Yunho sedikit paksa, “Aku akan baik-baik saja, aku berjanji padamu.” Ucapnya sebelum berbalik menatap para anak buah yang akan menyertainya melakukan penyelidikan, tentu saja Junsu termasuk di dalamnya, “Semoga jalan yang kita lalui nanti tidak sesulit kelihatannya. Mari berangkat!”

Yunho hanya menatap sendu bahu Jaejoong yang mulai memudar ditelan kabut pucat hutan yang lembab dan menyesakkan. Ada perasaan tidak rela menyeruak ke dalam hatinya yang berteriak histeris ingin agar Jaejoong tetap bersamanya mengigat ini adalah kali pertama mereka berpisah –dipisahkan oleh tugas dan bahaya.

“Satu hal yang ingin ku sampaikan pada kalian, jangan sampai mati!” ucap Yunho sebelum bergerak ke arah berlawanan dengan jalan yang diambil oleh Jaejoong dan rombongannya tadi. “Aku bersumpah, bila kau terluka dalam misi ini, akan ku hancurkan, akan ku bunuh siapa saja yang sudah berani melukaimu, Boo.” Batin Yunho.

.

.

“Jaejoong sshi, harap berhati-hatilah! Jalanannya sedikit landai (miring) dan licin. Akar-akar pepohonan yang mencuat ke atas permukaan tanah bisa membuat kita terantuk (tersandung).” Junsu yang memimpin perjalanan mengingatkan, mengingat jalanan yang harus mereka lalui memang landai dan licin akibat gerimis yang terus mengguyur. Hal itu masih diperparah dengan akar-akar pepohonan licin berlumut yang mencuat di atas permukaan tanah, mempersulit medan yang memang sudah sangat sulit.

Jaejoong yang baru pertama kali berjalan melewati jalanan hutan sedikit tertatih mengimbangi pergerakan Junsu yang gesit. Beberapa kali Jaejoong terpleset dan nyaris terjungkal jikalau para bawahannya tidak siaga untuk membantunya. Tetes gerimis membasahi rambut dan sekujur tubuhnya tetapi Jaejoong tetap memerintahkan untuk melanjutkan perjalanan menuju desa Miduhyo, desa yang berada dimuara sungai Rotten, sungai yang mengaliri sepanjang wilayah provinsi Bollero. Ada hal yang harus diselidiki di desa yang mayoritas penduduknya bekerja sebagai nelayan itu, sesuatu yang berkaitan dengan kejahatan terbesar namun juga tidak pernah terungkap di Bollero.

“Junsu sshi, lebih baik kita istirahat sebentar.” Usul salah seorang anak buah yang berjalan di samping Jaejoong, “Hakim Kim sepertinya kelelahan. Wajahnya sangat pucat.” Ucapnya penuh kekhawatiran.

“Asal kau tahu, kulitku memang pucat sejak lahir.” Jaejoong melirik anak buah yang dipinjamkan oleh Raja padanya itu dengan tatapan sedikit mengintimidasi. “Dan ku yakinkan padamu bahwa aku tidak apa-apa.”

“Kita bisa beristirahat di kedai teh yang paling terkenal di desa Miduhyo sekaligus mengumpulkan informasi.” Ucap Junsu, “Sekitar lima belas menit lagi kita akan sampai.”

“Junsu sshi….” panggil Jaejoong, “Jangan lupa penyamaran yang sudah kita sepakati nanti!”

Ne. Jaejoong sshi adalah sepupuku yang berasal dari Provinsi Ballon di Utara dan datang kemari untuk belajar sebelum mengikuti tes masuk anggota kepolisian negara.” Sahut Junsu mendatangkan senyum pucat dari Jaejoong.

Samar-samar mulai terlihat kepulan asap dari atap-atap yang terbuat dari jerami, genting dari tanah liat maupun dari papan dan dedaunan kering. Terlihat sangat indah dimata Jaejoong karena bagaimanapun juga selama ini dirinya dibesarkan di ibu kota negara, dikawasan istana mengingat dirinya masihlah kerabat raja.

“Kelihatannya sudah dekat.” Gumam Jaejoong.

“Sekitar sepuluh menit lagi.” Jawab Junsu, “Tapi masalahnya sepuluh menit itu akan terasa sangat melelahkan.”

“Kenapa?” tanya Jaejoong.

Junsu menunjuk jalanan setapak yang menuju ke bawah, “Kita harus berjalan di pinggir sungai untuk sampai ke desa Mihduyo karena jalanan berhenti sampai di sini. Bila kita lurus terus, kita akan berakhir di pinggir jurang.” Junsu menerangkan.

“Kalau begitu ayo kita turun!” ajak Jaejoong.

“Sangat licin.” Gumam Junsu yang kemudian menatap cemas Jaejoong.

“Aku tidak apa-apa, ada kalian bersamaku. Aku tidak akan terluka. Aku janji.” Ucapnya tanpa keraguan.

“Mohon berhati-hati!” Junsu mengingatkan. Namja bersuara unik itu perlahan-lahan menuruni jalanan yang sedikit agak curam itu, berpegang pada dahan pepohonan yang bisa diraihnya agar tidak tergelincir dan jatuh.

Walaupun jalanan curam itu tidak lebih dari dua puluh meter tetapi kecuraman dan licin akibat gerimis membuat usaha menuruninya terasa sedikit berat dan melelahkan. Beberapa kali Jaejoong nyaris terjungkal jika Junsu dan yang lainnya tidak menahan tubuhnya.

“Terima kasih.” Ucap Jaejoong.

“Anda adalah orang berharga yang harus dijaga dan dilindungi.” Junsu tersenyum ketika mengatakan hal itu.

“Kau pun orang berharga, Junsu sshi.” Sahut Jaejoong.

Begitu sampai di tepi sungai, rombongan yang Junsu pimpin itu segera menjumpai beberapa nelayan yang sedang menjaring, memancing atau sekedar merakit (menaiki rakit) sambil memunguti ganggang air yang bisa mereka gunakan untuk membuat benang dari seratnya bila sudah dikeringkan.

“Penduduk di sini biasanya memintal dan merajut sendiri baju serta selimut mereka.” Ucap Junsu ketika melihat ekspresi terkejut pada wajah Jaejoong.

“Luar biasa.” Puji Jaejoong. “Warna airnya sangat jernih serupa warna daun gadung, aliran airnya pun sangat tenang…”

“Namun dalam.” Sambung Junsu, “Sungai Rotten ini adalah sungai terluas dan terpanjang diantara sungai-sungai lain yang melewati wilayah negara kita, Jaejoong sshi.”

Hyung!”

Junsu mengerutkan keningnya mendengar panggilan Jaejoong untuknya.

“Kau sekarang adalah ‘hyung’ ku.” Ucap Jaejoong.

“Ah….” Junsu mengangguk paham. “Mari kita ke kedai teh dulu untuk sedikit menghangatkan tubuh kita.”

.

.

Mengendap-endap Yunho mempimpin beberapa orang anak buahnya menyelinap memasuki sebuah gudang yang berada di pinggir hutan dekat perbatasan dengan provinsi Chaser, provinsi yang terisolasi yang biasanya digunakan sebagai pengasingan bagi para tahanan negara mengingat provinsi itu masih dipenuhi oleh banyak tumbuhan beracun dan binatang liar yang berkeliaran.

“Apa yang berada dalam peti-peti itu?” gumam Yunho, “Apa mereka mencoba menyelendupkan sesuatu yang merugikan negara?”

“Kepala Polisi Jung….” bisik salah seorang prajurit ketika melihat beberapa orang berjalan ke arah mereka.

“Kita sudah sampai sejauh ini. Bila kita sampai ketahuan sedang menyelidiki mereka, maka kita harus membungkam mereka semua.” Ucap Yunho, “Bila kita tidak bisa melumpuhkan mereka secara baik-baik, ku bebaskan kalian untuk membunuh mereka ditempat! Jangan ada seorang pun yang lolos atau semua usaha kita akan sia-sia!”

Ye!” sahut kesemua prajurit yang mendampingi Yunho.

“Ingat pesanku, jangan sampai mati!” ucap Yunho. Tangan kanannya sudah mencengkeram kuat-kuat gagang pedang yang kemarin diasahnya. “Boo, bila aku mati dalam misi ini ku harap kau bisa bahagia dan tegar menjalani sisa hidupmu!”

.

.

Pyaarrrr….

Cangkir teh yang baru saja hendak diminum oleh Jaejoong terlepas dari cengkeraman jemari lentiknya yang tiba-tiba saja bergemetaran.

“Maaf, sepupuku memang sedikit kikuk.” Junsu tersenyum pada orang-orang yang menatap ke arah meja mereka akibat terkejut. “Agashi, bisa minta secangkir teh lagi? Aku akan mengangti biaya cangkir yang sudah sepupuku pecahkan. Terima kasih.” Ucapnya pada pelayan kedai teh.

Napas Jaejoong tersendat, wajahnya kelihatan semakin pucat, mata indahnya menatap gelisah lantai tanah di bawahnya, “Yunho….” gumamnya bersamaan dengan ketakutan yang tiba-tiba saja menyergapnya, meremangkan bulu kuduknya.

“Jaejoongie….” Junsu mengenggam kuat-kuat jemari Jaejoong yang bergetar, “Semua orang melihatmu. Apa kau menginginkan sesuatu? Katakan pada Hyung!”

Jaejoong menatap gelisah orang-orang disekitarnya sebelum memfokuskan mata indahnya untuk menatap Junsu, “Tangkap penjahatnya! Seret mereka ke tiang gantungan!” bisik Jaejoong.

“Dengan senang hati akan Hyung berikan apa maumu.” Ucap Junsu.

.

.

Harabojie, Appa, Yang Mulia Raja… aku sangat menghormati kalian, aku menjunjung tinggi hukum dan keadilan yang selama ini kalian perjuangkan. Tetapi… bagiku ada hal lain juga yang harus aku perjuangkan. Yunho sangat berarti untukku. Maafkan aku seandainya aku menodai kedilan hukum yang selama ini kalian jaga.

.

.

“Kepala Polisi Jung, awas!”

.

.

TBC

.

.

Maaf, pengetikannya sempat terhenti beberapa hari karena insiden Yuuki keracunan makanan dan harus bed rest :) Semoga chap ini tidak mengecewakan. Mian belum bisa balas feed back yang kalian kirim :) Jaga kesehatan. Yang mau Mid semangat belajar ya.

.

.

Saturday, October 04, 2014

10:40:36 AM

NaraYuuki

Revenge VII

Tittle               : Revenge VII

Writer             : NaraYuuki

Betta Reader : Hanabusa Hyeri

Genre             : Romance/ Modern Fantasy/ dsb.

Rate                : M

Cast                : All member DBSK, Jin Yihan, Go Ahra (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan) and Others. Seiring bertambahnya Chap castnya pun akan disesuaikan.

Disclaimer:    : They are not mine but this story is mine, NaraYuuki

Warning         : This is YunJae Fan Fiction (Boys Love), M-Preg. Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut, TANPA EDIT.

.

.

R2

.

.

 

PASTIKAN BACA WARNINGNYA DULU

.

.

.

.

.

“Membandingkan lukisan Kim Youngwoong dengan foto Park Jaejoong?” tanya Changmin, “Apa kau sudah sebegitu bingungnya Hyung? Apakah matamu sudah dibutakan oleh Jaejoong? Atau apakah hasrat yang kau punya kini sudah benar-benar hanya untuk Jaejoong?

Yunho meremas lukisan yeoja yang berada di tangan kirinya kuat-kuat. “Jaejoong dan Youngwoong sangat berbeda. Youngwoong adalah yeoja yang sangat dewasa dan hangat walaupun sedikit tertutup. Sedangkan Jaejoong… dia suka seenaknya, sedikit manja dan memaksa tetapi wajah cerianya itu membuatku…. Membuatku tidak bisa melepaskannya. Membuatku terus mengkhawatirkannya karena kecerobohannya.”

“Kau sudah benar-benar jatuh cinta pada Jaejoong, Hyung?”

Yunho tersenyum bodoh, meraih gelas berisi cairan merah yang akan membantunya mengurangi dahaganya walaupun kini rasanya sedikit aneh bila dibandingkan dengan menghisap cairan yang sama langsung dari leher Jaejoong. “Lima purnama lagi, Changmin. Aku beri kau waktu hingga lima purnama lagi. Bila kau tidak kunjung menemukan penawaran untuk kita, maka akan ku buat Jaejoong bagian dari kita entah kau setuju atau tidak.”

“Wah Hyung…. Kau terlalu menekanku kali ini.” Gerutu Changmin.

“Jaejoong punya batas waktu. Dan aku tidak mau menyia-nyiakan sedetik pun bila berkaitan dengannya.”

“Sebenarnya aku mencurigai sesuatu, Hyung.” Ucap Changmin sambil mengunyah mie ramennya, “Aku akan menyelidikinya sendiri.”

“Apa yang mau kau selidiki?”

“Darah Park Jaejoong.”

.

.

Umma?” lirih Jaejoong ketika melihat yeoja yang sudah melahirkannya itu tersenyum kepadanya.

“Joongie yeoppo sudah  bangun, eoh? Mau makan sesuatu?”

“Joongie namja, Umma.” bibir merah yang kini terlihat pucat itu merengut sebal. “Bukankah harusnya Umma datang minggu depan?”

“Ini sudah minggu depan. Joongie tidur terlalu lama.” Jemari itu mengusap wajah pucat Jaejoong perlahan. Ada duka yang tersirat dari sepasang bola mata coklatnya, “Jangan membuat Umma khawatir lagi, hm? Jantung Umma berhenti berdetak ketika Appamu menelpon Umma dan mengatakan bila Joongie masuk rumah sakit.”

Mianhae….” Jaejoong melirik jam dinding yang tepekur (diam), masih pukul sepuluh pagi rupanya.

Wae?”

“Joongie kangen Berung besar Joongie, Umma….”

“Beruang besar? Mau Umma minta orang mengambilkannya untuk Joongie?” dalam pikiran yeoja yang sudah melahirkan Jaejoong dan Yoochun itu, beruang besar adalah sebuah boneka biasa berukuran besar.

Jaejoong menggelengkan kepalanya pelan, “Beruang besar Joongie sedang sekolah sekarang, Umma.”

“Eh? Boneka beruang bisa sekolah?”

Bibir merah pucat Jaejoong melengkung, “Beruang besar Joongie adalah namja chingu Joongie, Umma.” ucap Jaejoong malu-malu.

Namja… chingu?!” ibu dua anak itu tidak bisa menutupi keterkejutannya, “Namja chingu?” tanyanya memastikan.

Mianhae Umma…. Tapi Yunie Bear sangat tampan dan menggemaskan!” ucap Jaejoong yang kemudian mengigit bibir bawahnya. Jaejoong kembali teringat mimpinya ketika dirinya berada di UKS sekolah. Mimpi yang membuat jantungnya terasa sangat nyeri dan sakit.

Aigoo! Arraso!”

“Berapa lama Umma akan tinggal?” tanya Jaejoong. perasaan sakit dan marah dari sisi lain dirinya keluar. Kekecewaan akibat perpisahan orang tuanya membuat hatinya terasa panas dan nyeri.

“Sedikit lebih lama karena ada urusan yang harus Umma selesaikan disini.” Dirapikannya anak-anak rambut Jaejoong yang mencuat keluar.

Umma tinggal dimana?”

“Sebuah apartemen sudah Umma sewa. Kalau Joongie sudah sembuh Joongie bisa mengunjungi Umma atau menginap untuk beberapa hari di tempat Umma.”

Jaejoong hanya tersenyum. Jaejoong ingin menerima tawaran itu, tapi bila dirinya menginap bagaimana dengan ayahnya? Ayahnya yang selalu tersenyum ceria dihadapannya dan Yoochun namun sangat kesepian itu tidak mungkin ditinggal sendirian. “Umma, Joongie mau apel.”

Arra… akan Umma kupaskan apel untukmu.”

.

.

“Ada apa?” tanya Yoochun ketika tiba-tiba saja Yunho berhenti melangkah, “Kau berubah pikiran dan tidak mau menjenguk Joongie?” matanya menatap Yunho tajam. Bukankah sejak tadi namja bermata musang itu yang terus merecoki dirinya karena ingin menjenguk kembarannya? Kenapa sekarang namja yang terkesan dingin itu tiba-tiba bersikap aneh begini?

Yunho menggelengkan kepalanya, untuk beberapa saat Yunho merasa pikirannya tidak fokus. Hal yang belum pernah terjadi sebelumnya. “Kalau bisa aku akan menculiknya untuk diriku sendiri.” Yunho memasukkan kunci motornya ke dalam kantung celana seragamnya.

“Kau bisa dipenjara bila menculik anak orang! Dasar bodoh!” Yoochun kembali melanjutkan langkahnya, “Perasaanku saja atau tempat parkir ini sedikit lebih sumpek daripada kemarin?” gumamnya.

“Aku rela dipenjara asal bisa menjauhkan Boo Jaeku dari aroma yeoja brengsek itu!” gigi Yunho bergemeretak. “Aromanya semakin kuat dari hari kemarin.” Kedua tangannya mengepal menahan aliran kemarahan yang nyaris memenuhi seluruh tubuhnya.

“Kau ingin makan apa?” Yoochun menoleh pada Yunho tiba-tiba, “Aku belum sempat makan siang di sekolah tadi. Aku akan mampir ke kantin dulu sebelum ke ruang rawat Joongie. Mau ku belikan sesuatu?”

Yunho mengedipkan matanya sekali agar bola matanya tidak memerah. “Kopi. Belikan aku segelas kopi dingin.”

“Kau harus menggantinya nanti.” ucap Yoochun sebelum membelokkan langkah kakinya ke arah kiri tempat kantin rumah sakit berada.

“Sial! Aromanya memenuhi udara, membuatku sesak dan ingin mencabik-cabik daging busuk brengsek itu!” keluh Yunho yang terus melangkah maju menusuri bangsal menuju ruang rawat Jaejoongnya.

.

.

“Yunie?” Jaejoong tersenyum sumpringah ketika melihat namja yang sudah ditunggu-tunggunya berdiri di mulut pintu ruang perawatannya.

Boo, siapa yeoja itu?” tubuh Yunho mengejang ketika melihat tatapan tajam dari yeoja yang berdiri di samping ranjang rawat Jaejoong. Yunho mengepalkan tangannya kuat-kuat, taringnya perlahan-lahan mencuat dan matanya mulai memerah.

Jaejoong yang melihat perubahan namja chingunya menjadi sedikit panik. Jaejoong tidak mau ibunya tahu apa dan siapa sebenarnya namja yang sedang dikencaninya itu, “Yunie….” panggil Jaejoong, berharap suaranya bisa membuat kondisi Yunho yang menurutnya aneh itu sedikit membaik.

Ibu Jaejoong berjalan menghampiri Yunho dengan langkah anggun, pelan namun menyimpan sebuah bahaya yang mengancam. “Kau Jung Yunho? Aku sudah mendengar banyak tentangmu dari Joongieku.” Yeoja itu tersenyum angkuh. “Aku Go Ahra, ibu Joongie.”

Kemarahan Yunho semakin tidak terkendali ketika jemari yang dipoles kutek bermarna merah menyala itu terjulur padanya.

“Aku tidak menyangka kau bisa mengencani putraku.” Ahra masih tersenyum, mengabaikan aura membunuh yang menguar dari dalam tubuh Yunho, “Bukankah harusnya kau sudah tahu sejak awal siapa sebanarnya Park Jaejoong dari aroma tubuhnya yang selalu mengganggumu itu? Atau kau sudah dibutakan oleh hasratmu, huh?” bisik Ahra dengan nada penuh permusuhan.

“Yunie, Umma…. Apa yang kalian bicarakan? Kenapa berbisik-bisik seperti itu?” tanya Jaejoong. selang yang melilit sekujur tubuhnya menyusahkan Jaejoong ketika bergerak sehingga namja cantik itu hanya bisa tertidur di atas ranjang rawatnya sambil memperhatikan apa yang ibu dan namja chingunya sedang lakukan.

Umma hanya ingin mengundang ‘Beruang Besarmu’ untuk makan bersama, Baby.” Sahut Ahra dengan suara sedikit lantang agar Jaejoong bisa mendengarnya. “Tentu saja bila aku belum membunuhmu!”

Secepat kilat lengan kanan Yunho sudah mencengkeram kuat leher wanita yang sangat dibencinya, wanita yang entah kenapa bisa menjadi ibu dari namja chingu yang sangat berarti untuknya, “Kau yang akan mati!” desis Yunho.

Ahra tersenyum meremehkan. “Kau ingin membunuhku? Calon ibu mertuamu?” tanyanya. “Sebelum Joongie melihat apa yang sudah kau lakukan padaku lebih baik kau lepaskan aku! Kita berdua tahu kalau anakku yang sangat cantik itu tidak boleh dikejutkan oleh situasi seperti ini mengingat jantungnya tidak akan bisa menoleransi semua ini.”

Menarik napas dalam, Yunho kemudian melepaskan perlahan-lahan cengkeramannya pada leher Ahra dengan kaku dan penuh emosi. Yunho membiarkan kuku-kuku jarinya yang runcing dan tajam itu menggores leher yeoja yang sangat dibencinya itu, membiarkan kulit leher Ahra mengelupas dan berdarah.

“Ku kira kau akan tergoda oleh darahku.” Ejek Ahra.

“Darah kotor sepertimu hanya akan menjadi racun bagiku.” Balas Yunho. “Darah penyihir laknat yang sangat busuk.”

“Darah inilah yang mengalir dalam tubuh Jaejoongiemu.” Ahra mengingatkan.

Tangan Yunho mengepal hingga buku-buku jarinya memutih, “Boo, aku akan pulang sekarang.” Ucap Yunho.

“Eh? Wae?” tanya Jaejoong sedikit kecewa.

“Changmin mengirimiku sms, katanya dia tersrempet mobil saat akan pergi belanja.” Jawab Yunho, “Aku akan pulang untuk melihatnya. Kau tidak apa-apa kan bila ku tinggal? Aku akan datang kemari lagi begitu memastikan keadaan Changmin.”

Jaejoong merengut kesal, “Arra. Tapi janji harus ke sini begitu Changminie tidak apa-apa, ne.”

Ne.” Sahut Yunho yang langsung berbalik begitu saja.

“Hati-hati Yunho ya.” Ucap Ahra, “Baby….” Ahra menoleh menatap putranya yang memasang wajah bingungnya. Rambutnya yang tergerai panjang dirapikannya untuk menutupi bekas sayatan yang kuku Yunho tinggalkan.

“Umma… Umma sepertinya sudah kenal dengan Yunie. Aku benar kan?” tanya Jaejoong.

Ahra hanya tersenyum, “Umma hanya mencoba mengenal namja yang berhasil merebut hati uri Joongie.” Jawabnya.

.

.

“Jadi Park Jaejoong dan Park Yoochun adalah putra Go Ahra? Hyung serius?” tanya Changmin, dengan susah payah ditelannya kue mochi yang baru dimakannya. “Tapi Hyung…. Bagaimana bisa yeoja itu hidup selama ini? Dia masih manusia kan?”

“Dia penyihir! Dia menjadikan kita menjadi mahluk brengsek seperti ini, kemungkinan apa yang tidak bisa dilakukannya?” dengan marah Yunho memukul meja hingga meja yang terbuat dari kayu jati yang diimpor langsung dari Kalimantan itu patah menjadi 2 bagian.

“Memanipulasi semua hal.” Gumam Changmin, “Apakah dia juga memanipulasi Jaejoong?”

“Tidak! Kau lupa? Aku sudah menghisap darah Joongie. Ingatannya terbaca olehku. Joongie jujur, sama sekali tidak tersentuh oleh pengaruh perempuan itu! Hanya aroma yeoja itu yang tercium dari tubuh Joongie karena memang aroma itu berasal dari yeoja itu mengingat kenyataan brengsek bahwa dia adalah ibu Joongie.”

“Bagaimana bisa? Dia menikah dan melahirkan anak? Apa yang berada dalam pikirannya?” gumam Changmin, “Apa yang sedang dia rencanakan sebenarnya?”

“Aku harus membunuh perempuan itu!”

“Kau mau membunuh ibu dari namja chingumu sendiri, Hyung?”

“Akan ku lakukan. Walaupun terpaksa aku harus memanipulasi ingatan Joongie dan Yoochun.”

.

.

“Joongie kenapa?” tanya Yihan yang bingung melihat putra bungsunya tiba-tiba saja merajuk.

“Pasti karena namja bernama Jung Yunho itu belum datang menjenguknya sampai sekarang.” Jawab Ahra. Bibir ibu dua anak itu melengkungkan senyuman ketika melihat Yoochun dan Junsu berusaha menghibur Jaejoong. Senyum yang membuat siapa saja yang melihatnya harus memasang sikap waspada.

.

.

TBC

.

.

Sunday, September 28, 2014

11:41:45 AM

NaraYuuki