Suprasegmental

Tittle                : Suprasegmental

Writer               : NaraYuuki

Genre               : Romance/ Adventure/ fantasy kerajaan/ Incest

Rate                 : -M

Cast                 : Member DBSK (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan).

Disclaimer:       : They are not mine but this story is mine, NaraYuuki

Warning           : This is YunJae Fan Fiction (Boys Love). Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut.

.

.

.

.

.

PASTIKAN BACA WARNINGNYA DULU

EPEP INI KHUSUS BUAT EMAK IFA :D

.

.

Suprasegmental Dari NaraYuuki untuk para Kutil

.

.

“Kau tidak apa-apa?” pemuda yang memakai setelan berwarna biru langit itu bertanya. Mata setajam musangnya yang teduh menatap sosok menawan yang berjalan beberapa langkah di depannya.

“Memang aku kenapa?” pemilik bibir semerah darah itu bertanya, bibirnya melengkungkan senyuman manis tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan, memamerkan mutiara rusa betinanya yang berkilau indah.

“Pertunanganmu dengan tuan putri dibatalkan karena tuan putri kabur dengan prajurit bodoh itu, bukan? Kau baik-baik saja?”

“Ah itu….” gumamnya sambil terus menyunggingkan senyuman, “Aku baik-baik saja, hanya saja Harabojie dan yang lainnya mendesak Yang Mulia Raja untuk memberikan hukuman pada tuan putri dan kekasihnya itu.”

“Kau yakin?”

“Sebenarnya sejak awal aku sudah berencana kabur bila terus dipaksa menikah dengan tuan putri. Coba bayangkan! Bagaimana bila aku harus menikah dengan seorang perempuan yang hinggap kedalam setiap pelukan para pria? Tidak, Yunho! Harga diriku terlalu tinggi untuk menerimanya.”

“Benar-benar seorang Kim sejati.”

Pemuda yang memakai setelan baju berwarna merah muda dengan semburat jingga itu berhenti berjalan, terdiam sebentar sebelum memutar tubuhnya menghadap pemuda yang sedikit lebih tinggi darinya, “Jangan menyebutku seperti itu! aku tidak suka.”

Angin semilir yang berhembus sore itu memberi kehangatan tersendiri, Yunho hanya tersenyum ketika wajah menawan itu terlihat sedikit merengut kesal, “Aku mengerti. Maafkan aku.”

Ayah sama tetapi ibu berbeda. Itulah hubungan antara Yunho dan pemuda menawan di hadapannya itu, Jaejoong. Yunho lahir satu minggu sebelumnya, mewarisi wajah tampan dan marga keluarga Ayahnya yang menduduki posisi sebagai panglima militer tertinggi.

Kim Jaejoong, anak dari istri kedua yang berasal dari keluarga bangsawan yang masih memiliki kekerabatan dengan raja. Kakek Jaejoong dari pihak ibunya adalah paman sang raja yang sampai saat ini menduduki posisi sebagai hakim tertinggi. Sejak lahir Jaejoong diasuh oleh keluarga ibunya dan mewarisi marga Kim ibunya.. ibunya sendiri sudah meninggal ketika Jaejoong berusia 5 tahun karena wabah penyakit yang saat itu menyebar.

Itulah sebabnya walaupun bersaudara tetapi dalam keseharian mereka Yunho dan Jaejoong terlihat seperti bukan saudara, mereka terlihat seperti teman yang sama-sama berasal dari keluarga bangsawan yang saling menjaga etika dan tata krama masing-masing demi kehormatan keluarga. Bahkan diawal pertemuan mereka yang pertama lima tahun yang lalu keduanya merasa sangat asing. Saudara yang terasa bukan saudara, teman yang sebenarnya saudara membuat mereka memutuskan untuk melupakan garis darah mereka dan berdiri sebagai individu masing-masing, Jung Yunho dan Kim Jaejoong yang berasal dari keluarga yang berbeda.

Jaejoong sebelumnya dijodohkan dengan putri sulung Raja dan akan dinikahkan lima purnama lagi, sayangnya sang putri kabur dengan kekasihnya yang hanya merupakan seorang      prajurit biasa. Saat ini sang putri dan kekasihnya sedang dalam pengejaran untuk menerima hukuman karena sudah mempermalukan keluarga istana –hukuman mati.

Yunho pun sempat akan dijodohkan dengan putri bungsu perdana mentri, sayangnya gadis itu ternyata sudah mengandung anak dari hasil hubungan gelapnya dengan salah seorang mentri di kabinet. Yunho bersyukur karena dirinya tidak harus membangkang orang tuanya dengan menolak perjodohan itu karena Yunho sudah jatuh cinta pada orang lain.

“Kau sudah menyiapkan semuanya?” tanya Jaejoong yang kembali berjalan, meninggalkan Yunho yang masih sedikit termenung.

“Huh? Apa yang harus ku siapkan?” Yunho tersentak kaget dari lamunannya dan berjalan sedikit cepat untuk mensejajarkan langkah kakinya dengan Jaejoong.

“Bekal.” Jawab Jaejoong, “Bukankah ujian akhir sudah dihapuskan dan diganti dengan tugas selama setengah tahun untuk melihat pantas tidaknya kita sebagai calon pegawai pemerintahan?”

“Ah, kurasa Ummaku sudah menyiapkan semuanya untukku.” Jawab Yunho.

Memang sebagai syarat kelulusan mereka sebagai murid sekolah tinggi negara yang tidak semua orang bisa memasukinya, mereka harus menjalankan tugas akhir berupa praktik langsung dilapangan untuk menentukan pantas tidaknya mereka diangkat sebagai pejabat pemerintah. Walaupun mendaftar pekerjaan dengan jabatan yang berbeda tetapi Yunho dan Jaejoong kebetulan mendapatkan tempat magang yang sama, sebuah daerah di selatan yang dikelilingi pegunungan dan rawa bernama Bollero. Bila Yunho akan menjabat sebagai kepala keamanan kepolisian Bollero, Jaejoong akan menjabat sebagai salah satu hakim di sana. Keduanya akan tinggal disebuah rumah yang khusus disiapkan untuk para murid sekolah tinggi negara yang sedang melakukan magang, rumah itu diurus oleh beberapa pelayan, prajurit dan kereta kuda untuk menunjang tugas mereka selama di sana. Mereka juga akan menerima gaji sebagai mana mestinya sesuai dengan pangkat pejabat setingkat kedudukan yang mereka isi.

“Aku iri….” gumam Jaejoong, “Tapi para pelayan sudah menyiapkan bekal untukku sejak beberapa hari yang lalu.”

Yunho hanya bisa mengulum senyumnya, pemuda menawan di hadapannya ini memang sering kali bersikap kekanakan mengingat Jaejoong memang satu-satunya cucu yang dimiliki oleh sang hakim tertinggi yang dibesarkan penuh dengan kemanjaan dan kasih sayang.

“Aku akan menunggumu di depan penginapan Big East besok pagi. Jangan sampai terlambat atau aku akan pergi tanpamu.” Ucap Jaejoong yang segera mengambil jalan menikung ke arah kanan, meninggalkan Yunho yang hanya menatapnya dalam diam.

“Bisakah aku bertahan selama setengah tahun itu bersama, Boo?” gumam Yunho penuh kegetiran sebelum melangkahkan kakinya ke arah jalan yang lurus di depannya.

.

.

Kabut belum lagi terkikis oleh cahaya matahari yang mulai menghangat ketika Yunho berdiri menunggu di depan sebuah penginapan berpapan nama Big East bersama beberapa orang pengawal pribadinya menunggu kedatangan Jaejoong. Pemuda berparas menawan yang kemarin memperingatkan dirinya justru terlambat datang.

Mianhae Yunho ya….” Jaejoong berlari-lari kecil mendekati Yunho diikuti lima orang pengawalnya yang masing-masing membawa bungkusan besar di tangan mereka.

“Apa yang membuatmu datang terlamat, Jae?” tanya Yunho yang walaupun sedikit kesal namun tetap mengulum senyum ketika melihat napas Jaejoong terengah.

Harabojie menceramahiku sebelum membiarkanku pergi.” Jawab Jaejoong, “Taruh barang-barangku di atas kereta!” perintah Jaejoong.pada para pengawalnya.

“Apa yang Harabojiemu katakan?”

“Katanya aku harus menjaga kehormatan diri dan keluarga, tidak boleh masuk ke rumah para gisaeng, tidak boleh terlibat dalam korupsi, kolusi dan nepotisme, tidak boleh berbuat onar dan yang paling penting tidak boleh kalah darimu.”

“Benar-benar Hakim Kim….” gumam Yunho. “Kajja! Ku rasa keretanya siap berangkat sekarang. Perjalanan kita memakan waktu lima hari empat malam lamanya, kita harus bergegas.”

Jaejoong memerintahkan para pelayannya untuk pulang sebelum dirinya menaiki kereta yang akan membawanya ke Bollero, “Kirim surat atau kurir bila sesuatu terjadi di rumah.” Ucapnya yang langsung meraih tangan Yunho yang terjulur padanya, membantunya menaiki kereta.

Roda kereta berderak ceepat dan keras ketika para kuda pilihan itu mulai menarik kereta dibawah kendali dua orang kusir di depan. Suara langkah kuda yang berpacu mengiringi suara derak roda kereta, ada beberapa prajurit khusus yang akan mengawal kereta sampai ke Bollero mengingat dua orang yang berada di dalam kereta itu adalah keturunan keluarga bangsawan yang mungkin kelak akan menjadi pejabat pemerintahan yang hebat.

“Aku mencium aroma gingseng merah.” Gumam Jaejoong.

Umma menyiapkan satu kotak penuh gingseng merah.” Jawab Yunho, “Aku akan membaginya denganmu nanti.”

“Bolehkah aku tidur sebentar? Harabojie terus memberikan wejangan padaku sejak kemarin. Ku rasa aku hanya tidur 2 jam saja malam tadi.”

Yunho tersenyum ketika melihat berkali-kali Jaejoong menguap, “Tidurlah! Gunakan bahuku sebagai sandaran karena kau tidak akan bisa tidur berbaring di dalam kereta ini.”

Jaejoong mengangguk pelan, menggeser duduknya hingga tubuhnya menempel pada tubuh Yunho, merebahkan kepalanya dan menggunakan bahu Yunho sebagai sandaran sebelum menutup kedua mutiara rusa betinanya yang indah, “Yun….” gumamnya.

“Hm?” sahut Yunho.

“Apa kau sudah dengar soal Putra Mahkota?”

“Putra Mahkota yang memiliki simpanan seorang namja?” tanya Yunho.

“Kau sudah tahu rupanya.” Ucap Jaejoong tanpa membuka matanya, “Bagaimana menurutmu? Hubungan seperti itu….”

“Kenapa dengan hubungan seperti itu?” tanya Yunho yang langsung memotong ucapan Jaejoong.

“Aku benci!”

Yunho terdiam, kepalanya menoleh menatap wajah menawan yang terlihat sedikit lelah dan mengantuk itu.

“Aku tidak suka hubungan seperti itu!”

“Kenapa?”

“Karena aku tidak mau menjadi simpanan. Aku tidak mau menjadi nomor dua.”

“Maksudmu kau tidak keberatan hubungan antara Putra Mahkota dan namja itu?”

“Kenapa harus? Mereka yang menjalani jadi kenapa aku harus keberatan? Aku hanya tidak suka Putra Mahkota menjadikannya simpanan. Kalau Putra Mahkota benar-benar menginginkan namja itu harusnya dia tidak menjadikannya yang kedua.” Ucap Jaejoong, “Aku tidak mau sepert Umma karena itu aku tidak mau menjadi yang kedua! Aku ingin menjadi yang pertama dan satu-satunya.”

“Akan kau dapatkan.”

“Memang harus ku dapatkan!”

Tidak ada pembicaraan lagi anatara Jaejoong dan Yunho. Jaejoong sudah benar-benar terlelap dalam tidurnya sekarang hingga tidak menyadari lengan kokoh Yunho melingkari pinggangnya, menjaganya agar tidak terjatuh maupun terantuk akibat guncangan kereta. Yunho sendiri menatap keluar kereta, melihat pepohonan yang terlihat seperti bergerak mundur dengan cepat.

“Seandainnya aku memilihmu…. Beranikah aku menjadikanmu yang pertama dan satu-satunya, Boo? Aku menginginkanmu tetapi aku pun masih menghormati Appa dan kakekmu.” Batin Yunho dalam kegelisahan hatinya.

.

.

Matahari sangat terik ketika Yunho dan Jaejoong sampai ditempat magang mereka. Kantor kepolisian yang merangkap sebagai kantor kehakiman. Tidak buruk, sungguh tidak buruk bangunan yang menjadi kantor dua lembaga pemerintahan itu. Hanya saja…

“Tidakkah ini terlalu kumuh? Bagaimana menurutmu, Yun?” tanya Jaejoong.

Yunho mendelik tajam ketika salah seorang sipir yang menyambut mereka di depan pintu gerbang bangunan itu menatap tidak suka pada Jaejoong, “Tunjukkan etikamu pada atasan barumu!” bentaknya yang langsung mendatangkan bungkukkan hormat dari sang sipir. “Kita bisa membersihkannya, Jae!” Yunho menjawab pertanyaan Jaejoong tadi.

“Kita akan mulai kerja besok, kan? Sebelum itu aku ingin bertemu dengan semua petugas kantor kehakiman di sini! Bisa kau panggilkan mereka?” tanya Jaejoong pada sang sipir.

“Kenapa tidak masukk saja?” usul Yunho.

“Kotor! Aku tidak mau masuk ke dalam sana! Aku bisa menulis surat pada Raja tentang betapa tidak terurusnya tempat ini, bila kau berkeras memaksaku masuk! Kau lupa? Aku masih kerabat dekat Raja.” Jaejoong menatap Yunho serius, seserius keinginannya untuk merobohkan gedung itu.. “Tunggu apa lagi? Cepat panggilkan!”

Sang sipir segera berlari masuk meninggalkan Yunho, Jaejoong dan para prajurit yang menyertai keduanya.

“Kau bisa langsung dibenci bawahanmu bila sikapmu seperti itu, Jae.” Ucap Yunho.

“Aku tidak akan berpura-pura munafik. Aku akan menunjukkan seperti apa diriku yang sebenarnya pada orang lain entah mereka suka atau tidak terhadapku! Dan karena aku tidak suka tempat kumuh dan kotor ini maka aku mengatakannya!” sahut Jaejoong.

“Kau mirip hakim Kim bila berkata seperti itu.”

“Karena aku cucunya!” mata bulat indah Jaejoong menatap beberapa rombongan orang yang berlari berbondong-bondong dari dalam gedung itu menuju arahnya dan Yunho. Pakaian yang amburadul, wajah yang kuyu dan lusuh membuat Jaejoong tersinggung. Tersinggung karena dirinya ditempatkan diantara orang-orang yang sepertinya hanya bisa makan gaji buta saja. Jaejoong bertekad selama dirinya menjabat sebagai hakim Bollero, tidak ada satu pun pegawai dibawah kuasanya yang akan dibiarkannya menganggur.

“Selamat datang Tuan….” ucap salah seorang namja paruh baya berperut buncit.

Jaejoong menatap sekumpulan orang itu dengan tatapan jijik dan meremehkan, “Apa kalian minum-minum di tempat kerja?!” bentaknya membuat nyali segerombolan orang itu menciut, “Siapa yang menjabat sebagai wakil hakim Bollero? Majulah ke depan!”

Seorang pemuda seusia Jaejoong namun sedikit lebih tinggi darinya maju dan membungkukkan badannya, memberi hormat pada Jaejoong.

“Siapa namamu?” tanya Jaejoong.

“Shim Changmin.” Jawabnya.

“Changmin sshi, aku ingin kau menyuruh orang untuk membersihkan dan merenovasi tempat ini! Aku ingin semuanya selesai dalam waktu satu minggu!” perrintah Jaejoong.

“Ta… tapi….”

Jaejoong mendelik menatap Changmin, “Kau menolak perintahku?!”

“Tidak.. Tentu saja tidak, Tuan. Hanya saja….” Changmin melirik sekumpulan orang yang berdiri di belakangnya.

“Selama aku menduduki posisi Hakim tertinggi di Bollero, perintahku adalah mutlak! Aku tidak mau ada bantahan sedikit pun! Aku tidak mau ada aroma alkohol yang tercium selama jam kerja berlangsung. Pun dengan para petugas kepolisian yang berada di gedung yang sama denganku! Ada waktu tersendiri untuk mabuk dan bersenang-senang, tetapi bukan pada saat jam kerja. Kalian mengerti?!”

Ne!” sahut semua pegawai kantor kehakiman dan kepolisian dengan sedikit malas-malasan.

“Aku, tidak akan ragu memecat kalian semua bila kalian tidak bekerja dengan benar!” ucap Jaejoong, “Dan Changmin sshi, aku ingin kau mengantarkan data kantor kehakiman Bollero selama satu tahun terakhir ke rumah dinasku nanti sore. Kau mengerti?”

Ne, Tuan.” Jawab Changmin.

Jaejoong menatap papan nama yang tergantung di atap pintu gerbang yang nyaris roboh itu seekali lagi, “Dan ku harap kalian bisa berpakaian lebih rapi dan sopan besok, atau serahkan surat pengunduran diri kalian padaku!” ditunjuknya beberapa orang yang menurutnya berpakaian kurang layak, “Aku menunggumu di kereta.” Ucapnya pada Yunho sebelum berjalan menuju kereta diikuti beberapa prajuritnya.

“Mohon maafkan dia. Dia dibesarkan dengan tingkat kedisiplinan yang sangat tinggi mengingat dia adalah kerabat Yang Mulia Raja.” Ucap Yunho menatap tajam beberapa orang yang mulai mencibir kelakuan Jaejoong tadi, “Dan aku yang akan menduduki kepala Kepolisian Bollero mungkin jauh lebih parah darinya. Karena itu ku harap kalian bisa menyiapkan diri kalian sebaik mungkin.” Ucapnya lagi.

“Tuan….” seorang pemuda yang memakai setelan berwarna jingga membungkuk pada Yunho, “Namaku adalah Park Yoochun, aku adalah wakil kepala polisi terdahulu.”

“Senang bertemu denganmu. Dan siapa temanmu itu?” tanya Yunho menunjuk seorang pemuda lainnya di samping Yoochun.

“Kim Junsu imnida.” Ucapnya mengenalkan dirinya sendiri.

Yunho mengangguk kecil pada Junsu sebelum kembali menatap Yoochun. “Sama seperti yang dikatakan Jaejoong tadi, aku pun ingin melihat arsip kepolisian selama setahun belakang ini. Bisa kau antarkan ke rumah dinas kami sore nanti? Kau bisa datang bersama Changmin, Yoochun?”

“Tentu saja Tuan.” Jawab Yoochun.

“Tempat ini perlu direnovasi dan dibersihkan. Bantulah Changmin mengurusnya.” Perintah Yunho, “Sangat mudah merombak sebuah instansi tetapi susah merombak karakter manusia-manusia didalamnya. Kalau kalian ingin mengundurkan diri, silahkan saja. Tetapi kalau kalian ingin tetap bekerja di sini, kalian tidak boleh main-main!”

Ye!” sahut semua orang di sana.

Sekali lagi Yunho mengangguk sebelum berjalan pergi menuju kereta, menyusul Jaejoong yang sudah menunggunya.

“Aku akan menyukai atasan baru kita kali ini.” Gumam Yoochun yang diangguki oleh Junsu.

“Biar para tua bangka itu bisa bekerja lebih baik dan tidak makan gaji buta!” sahut Changmin yang menunjukkan seringainya.

.

.

Tidak terlalu besar memang, tetapi rumah Dinas yang disediakan untuk Yunho dan Jaejoong cukup bersih dan nyaman ditinggali. Rumah itu memiliki pekarangan dan halaman yang cukup luas dan kandang kuda untuk tempat beristirahat kuda-kuda mereka serta menyimpan kereta kuda mereka. Rumah utama hanya digunakan sebagai ruang kerja dan tempat tidur bagi Yunho serta Jaejoong. Untuk menerima tamu tersedia pendopo kecil di sisi sebelah depan yang dikelilingi oleh pohon bunga sakura dan beberapa tanaman bunga lainnya. Bangunan dapur serta tempat tidur bagi pelayan dan prajurit yang menjaga mereka ada di samping rumah utama. Di sisi bagian belakang rumah utama ada sebuah kolam pemandian air panas yang terhubung langsung dengan rumah utama. Sisanya, rumah dinas itu terlihat seperti rumah-rumah pada umumnya.

“Ku harap kau betah tinggal satu atap bersamaku.” Ucap Yunho yang sedang menikmati teh sorenya sambil menunggu kedatang orang yang tadi siang dimintanya membawakan laporan.

“Asal kau tidak membawa para gisaeng masuk kemari atau mangadakan pesta minuman keras di sini, aku tidak keberatan.” Sahut Jaejoong yang sejak tadi menatap bangunan rumah utama, cemas kalau-kalau para pelayan itu tidak bisa mengurus barang-barangnya dengan baik..

“Berhentilah merisaukan hal yang tidak penting!”

“Berhentilah peduli padaku kalau begitu!”

“Tidak bisa.” Sahut Yunho, “Kau tahu alasannya dengan baik, bukan?”

Jaejoong hendak membuka suara ketika seorang prajurit penjaga datang ke pendopo tempat mereka berada, di belakangnya mengikuti orang yang diketahuinya bernama Changmin dan dua orang asing yang dilihatnya di tempat magangnya tadi siang. Ketiga orang itu membawa bertumpuk-tumpuk buku tebal di tangan mereka.

“Namanya Park Yoochun, wakil kepala polisi.” Yunho menunjuk Yoochun, “Dan yang berjalan di sebelahnya itu Kim Junsu. Ku rasa mereka berteman.”

“Mereka terlihat seperti sepasang suami istri dimataku.” Ucap Jaejoong.

“Begitukah?” tanya Yunho yang sama sekali tidak mendapat jawaban dari Jaejoong.

“Terima kasih sudah mengantar mereka, tapi bisakah kau meminta pelayan menyiapkan 3 cangkir teh lagi untuk mereka, dan ambilkan sebuah meja untukku!” pinta Jaejoong pada prajurit penjaganya sebelum orang itu berjalan menuju rumah dapur.

“Duduklah Yoochun, Changmin, Junsu.” Perintah Yunho, “Maaf sudah merepotkan kalian!”

Tanpa diperintah dua kali, ketiga orang yang namanya disebut oleh Yunho itu segera meletakkan tumpukkn buku di atas lantai pendopo sebelum mendudukkan diri mereka sendiri.

“Jadi katakan padaku, kenapa posisi hakim dan kepala kepolisian Bollero bisa kosong pada waktu bersamaan?!” perintah Jaejoong.

“Hakim Shim pensiun karena sudah terlalu tua.” Jawab Yoochun.

“Hakim Shim?” Jaejoong segera menatap Changmin.

“Ayah saya.” Ucap Changmin.

“Oh….” Jaejoong mengangguk paham, “Kepala polisi sebelumnya?”

“Kepala polisi Im, meninggal dalam tugas.” Yoochun menundukkan kepalanya sesaat, “Dia dibunuh saat melakukan pengejaran pada kawanan perampok di daerah tenggara.”

“Perampok itu? Sudah ditangkap?” tanya Jaejoong yang langsung menatap Yunho.

“Sudah dihukum pancung.” Kali ini Junsu yang menjawab.

Jaejoong mendesah penuh kelegaan.

“Tindak kejahatan yang sering terjadi di kota ini?” tanya Yunho yang entah sejak kapan sudah membuka-buka salah satu dari buku tebal yang dibawa oleh Yoochun, Junsu dan Changmin tadi.

Jaejoong ikut melakukan apa yang Yunho lakukan, mengambil salah satu tumpukan buku yang berada di dekat Changmin, membuka-buka dan mengamatinya dengan seksama.

“Penjambretan, pencurian, perampokan, pemerasan, penipuan, serta….”

Brak!

Bukan hanya Yoochun yang melonjak kaget saat dirinya sedang menjawab pertanyaan Yunho, kedua rekannya pun ikut tersentak kaget ketika tiba-tiba Jaejoong membanting buku yang dibacanya.

“Pajak untuk para petani 40% dari hasil panen? Apa kalian gila?!” bentak Jaejoong. “Pajak untuk petani harusnya hanya 5% dari hasil panen mereka, 10% untuk para pedagang dan 30% untuk para pemilik penginapan besar, pejabat tinggi pemerintahan serta para bangsawan. Apa-apaan ini?”

“Jae….” Yunho mengusap punggung Jaejoong lembut. Namja berparas indah itu sangat berjiwa sosial dan menjunjung tinggi kejujuran.

“Para bangsawan dan pegawai pajak yang mengurus soal pengambilan pajak itu, Tuan.” Ucap Changmin mencoba menjelaskan, “Kami tidak bisa melakukan apa-apa karena mereka berlindung dibalik kekuasaan mereka.”

“Tidak lagi!” ucap Jaejoong keras kepala, “Jung Yunho! Kau harus membantuku menangkap para lintah darah ini! Tindak kejahatan ini termasuk dalam korupsi! Pelakunya harus dihukum cambuk 100 kali dan didenda sebanyak 10 peti emas! Kau tidak takut kan Yunho?”

Yunho tersenyum penuh arti, “Kenapa harus takut bila penguasa militer di Negara kita ini berada dibelakang punggung kita, hm? Tentu saja aku akan membantumu membasmi para lintah darat itu! Kalau perlu kita gantung mereka di alun-alun kota.”

Jaejoong terlihat puas mendengar penuturan Yunho, “Kalau begitu aku bisa lega.”

Yoochun, Junsu dan Changmin hanya bisa saling berpandangan satu sama lain. Sepertinya atasan baru mereka benar-benar sedikit mengerikan.

.

.

“Jangan memaksakan dirimu!” ucap Yunho. Ditatapnya punggung yang setengahnya terbenam di dalam kolam air panas itu, menikmati indahnya permukaan kulit berwarna pucat yang tertempa sinar dari obor yang menerangi sekitar kolam. Sejak mendiskusikan dan merencanakan pekerjaan yang esok hari akan mereka kerjakan hingga petang datang, akhirnya Yunho berhasil meyakinkan Jaejoong untuk membiarkan Yoochun, Junsu dan Changmin pulang ke rumah mereka agar mereka bisa beristirahat untuk esok hari. Jaejoong sendiri tidak menolak ketika Yunho mengajaknya berendam di dalam kolam air panas sebelum makan malam dihidangkan.

Tanpa menatap wajah Yunho, Jaejoong mengulurkan sebuah handuk kecil.

Yunho pun sepertinya mengerti apa yang Jaejoong ingin dirinya lakukan. Mengambil handuk kecil yang sudah basah itu, Yunho menempatkan dirinya di belakang tubuh Jaejoong kemudian mulai mengusap bahu dan punggung namja yang menempati posisi istimewa dalam hatinya, mencegah dirinya sendiri lepas kendali ketika mereka sedang dalam keadaan seperti ini.

“Kau indah….” puji Yunho.

Jaejoong membalikkan tubuhnya, menatap Yunho yang memasang wajah terkejutnya, “Malam ini saja.”

“Huh?”

“Malam ini saja… kau boleh menyentuhku!”

.

.

TBC

.

.

Holla para kutil! #plak! Pan ada yang bilang tuh NaraYuuki & para kutil (mereka yang sering ngobrol & dekat dengan Yuuki dijuluki kutil -_- ). Ya sudahlah. Yang iri biarlah iri. Yuuki mah jadi sendiri saja. Yuuki ya begini orangnya, agak frontal kalau menyangkut DBSK & YunJae (apalagi kalau ada yang menjelekkan mereka), yang tidak suka ya silahkan menjauh yang mau menerima Yuuki yang seperti ini adanya hayo jadi teman. Udah gitu saja :D

Yang nunggu Revenge & Pembalasan Bidadari Hitam sabar ye. Ini adalah Req dari Mak Ifa, Emak ane. Dan sebagai anak yang baik bin berbakti pada Emaknye ane buatin nich epep biar ane kagak dikutuk jadi orang berotak picik :) muahahahahah >_< Peace ye Mak :D V Ane mau pict Umma yang pontok sebagai bayaran :)

Iye-iye, yang minta sekuel The Scent Of Love itu ntar ane ketik dah sekuelnya (lha semua isi feedbacknya nodong sekuel sampai kebawa mimpi, ane merinding… mana yang ngisi kotak komen lebih dari 30 orang #terharu). Sabar! Tangan ane 2, ane juga sok sibuk belakangan ini dan baru sembuh dari sakit jadi sabar ye! Ane popo atu-atu dah ntar <3

Epep ini ga akan panjang kok. (3 Chap doank mungkin :D ) Sekali lagi yang nunggu revenge & Pembalasan Bidadari Hitam mohon sabar ya.

I beg you ;)

.

.

Thursday, August 21, 2014

4:35:08 PM

NaraYuuki

The Scent Of Love

Tittle                : The Scent Of Love

Writer               : NaraYuuki

Genre               : Romance/ Family

Rate                 : -M

Cast                 : Member DBSK (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan).

Disclaimer:       : They are not mine but this story and Hyunno are mine, NaraYuuki

Warning           : This is YunJae Fan Fiction (Boys Love). Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut.

.

.

.

.

.

PASTIKAN BACA WARNINGNYA DULU

.

.

Scent Of Love

.

.

Aku sendiri tidak tahu kenapa kau mau menikahiku padahal kita berdua tahu bahwa kita sama-sama namja, kita memiliki orientasi yang sama, sama-sama normal. Tetapi kenapa kau mau menikahiku yang juga laki-laki ini? Kenapa kau mau menghabiskan uang dan hidupmu untuk tinggal bersama orang sepertiku di bawah atap yang sama? Kau tahu bukan bahwa kita tidak saling mencintai. Kau tahu bukan bila aku membencimu? Kau dan semua kegilaan yang kau pikirkan. Yang ku herankan, kenapa orang tuamu diam saja saat kau menikahiku. Yang ku bingungkan kenapa mereka seolah menutup mata pada pernikahan ‘bahagia’ kita –seandainya aku masih ingat apa perbedaan bahagia dan menderita.

Tahukah kau bagaimana perasaanku sebagai seorang laki-laki yang menyandang status sebagai ‘istri’ dari orang sepertimu? Apakah didunia ini penghuninya sudah tidak waras? Aku laki-laki, kau pun sama sepertiku tetapi mereka melegalkan pernikahan kita? Apa kau sudah terlalu gila hingga kau memilihku sebagai pedangmu dibandingkan dengan puluhan yeoja yang selama ini kau bawa masuk ke dalam kamarmu dan kau tidurkan di atas ranjangmu itu? Bahkan kau tidak malu ketika aku melihat apa yang kau dan para perempuan sundal itu lakukan di sana!

Aku tidak mengerti dengan semua jalan pikiranmu.

Bila kau begitu mendamba seorang perempuan tidur di atas ranjangmu, kenapa kau menikahiku dulu? Kenapa kau tidak menceraikanku ketika aku melayangkan gugatan padamu? Kenapa kau memperlakukanku seolah-olah aku ini bayangan tembus pandang bila dulu kau sendirilah yang sangat ingin menikahiku. Ingatkah kah? Kau bahkan memaksaku untuk menikahimu.

Ketahuilah!

Aku merasa jijik padamu dan semua kelakuanmu yang bisa dengan mudah membawa masuk perempuan-perempuan sundal itu ke dalam kamarmu. Lebih jijik lagi ketika kau menyentuhku dengan tangan kotor penuh dosamu itu. aku tidak mau! Aku tidak mau melayanimu di atas ranjang karena aku adalah laki-laki! Aku tidak mau menyambut ciuman dan belaianmu karena aku tidak mau melakukannya denganmu. Aku tidak mencintaimu! Jangan paksa aku karena aku tidak mau! Tetapi pernahkah sekali saja kau mendengarkanku?

Tidak!

Yang kau tahu hanyalah kau akan mendapatkan apapun yang kau mau tanpa ada seorang pun yang bisa menolakmu. Bila aku menolakmu, kau akan membalasku… kau menyakiti mereka yang kau sayangi hingga aku terpaksa tunduk padamu.

Tetapi tahukah kau?

Aku lelah sekarang.

Aku lelah dan ingin segera mengakhiri kegilaan yang kau ciptakan ini.

.

.

Ummaaaaaaaaaaaaa….” namja kecil berusia lima tahun itu berlari menghampirinya dengan penuh semangat. Badannya yang gempal (berisi) itu kotor karena lumpur yang menempelinya.

Umma….

Ironis sekali. Dirinya adalah seorang laki-laki tetapi dipanggil Umma oleh anak yang bahkan bukan anak biologisnya.

Memaksakan senyum tersungging pada bibir merah penuhnya, Jaejoong berjongkok dan merentangkan kedua tangannya, membiarkan bocah gempal nan tampan itu menghambur memeluknya, membuat kemeja yang dikenakannya kotor oleh lumpur.

Umma….”

Waeyo Baby?”

“Unno melihat Appa popo Ahjumma berbaju merah.”

Sedikit terkejut tetapi Jaejoong tetap tersenyum, mengusap lembut kepala ‘anak’nya, “Jeongmal.”

Umma… bagaimana kalau kita pindah?” remaja jangkung yang masih memakai seragam SMPnya itu menatap lekat-lekat Jaejoong.

“Changminie….” Jaejoong tersenyum. Orang yang tidak mengenal keluarganya dengan baik akan mengira bahwa kedua anak itu adalah anak yang dilahirkannya, anaknya bersama ‘suami’nya. Tetapi bukan! Mereka adalah keluarga yang sama sekali tidak memiliki hubungan darah. Jung Changmin dan Jung Hyunno adalah anak yang diadobsi oleh Jaejoong dan suaminya atas paksaan kedua orang tua suaminya. Beruntung kedua anak itu sangat mirip dengan Jajoong dan suaminya, terutama Hyunno yang memiliki mata setajam mata musang yang sejujurnya sangat dibenci oleh Jaejoong karena mengingatkannya pada suaminya.

“Aku muak berada di sini, Umma. mari kita pindah.” Ajak Changmin, “Tabungan Umma dari hasil jerih payah Umma sebagai desainer dan artis sudah cukup untuk membeli sebuah rumah, kan? Kalau Umma mau aku akan bekerja paruh waktu untuk membantu biaya hidup kita. Karena itu mari pergi dari sini. Aku tidak tahan melihat kelakuan Appa lebih lama lagi.”

Jaejoong mengusap lembut wajah tampan ‘putra sulung’nya. Meskipun bukan darah dagingnya sendiri tetapi kedua anak itu sangat mencintainya, terlalu mencintainya hingga mereka tidak akan membiarkan dirinya terluka sedikit pun. “Kita hanya akan bisa pergi bila Appa kalian menceraikan Umma.” Jaejoong menelan ludahnya ketika mengucapkan kata Umma. sepuluh tahun dipanggil Umma oleh Changmin masih membuatnya risih ketika menyebut dirinya sendiri sebagai seorang ibu.

Changmin meraih adiknya untuk digendong dalam pelukannya, matanya menatap tajam seorang yeoja yang baru keluar dari dalam rumahnya menuju sebuah taksi yang sudah terparkir manis di depan pintu gerbang rumahnya. Yeoja yang baru saja ‘dipakai’ oleh ayahnya tentu saja. “Kalau pria tua brengsek itu butuh pelukan perempuan sundal kenapa dia tidak mau menceraikan Umma?” gumamnya dengan tatapan nyalang penuh kebencian.

.

.

Plak!

Suara tamparan itu membuat beberapa pelayan yang sedang menyiapkan makan malam membeku seketika. Ini adalah kali pertama mereka melihat pertengkaran terbuka kedua majikan yang sangat mereka hormati.

“Tinggalkan kami!” perintah Jaejoong yang dalam seketika membuat ruang makan yang tadinya ramai itu kini hening menyisakan dirinya sendiri dan pria yang selama sepuluh tahun ini dinikahinya.

“Kau harus punya alasan kuat sebagai pembenaran atas tindakan yang kau lakukan padaku barusan, Jung Jaejoong!” mata setajam musang itu berkilat marah menatap mutiara rusa betina yang terlihat menyimpan kebencian pekat didalamnya.

“Tidak bisakah kau menyimpan para simpananmu itu untuk dirimu sendiri?”

“Oh, wae? Kau cemburu? Manis sekali.”

“Ada anak-anak yang tinggal di sini bersamamu. Melihat figur yang mereka panggil ‘Appa’ selalu membawa perempuan ke dalam rumah sangat tidak sehat untuk perkembangan mereka.”

“Dan mereka harus tahu… semua itu karena Umma mereka yang tidak pernah mau melayani Appa mereka.”

Jaejoong mendelik marah saat namja di hadapannya itu mengusap wajahnya, menarik pinggangnya dan mendekapnya erat, “Akan berbeda bila kau menjadi istri yang mendengarkan dan menuruti semua keinginan suaminya, Boo Jae….”

“Lepaskan aku Jung Yunho!” perintah Jaejoong.

“Kau harus belajar menjadi istri yang baik, Boo! Sepuluh tahun aku membiarkanmu lepas bebas, sekarang saatnya kau mulai mengabdikan dirimu pada suamimu ini!”

Jaejoong hendak mendorong dan memukul namja yang tengah mengkungkung tubuhnya ketika dirinya mendengar suara tangis seseorang. Mata indahnya menatap sosok anak remaja yang tengah menggendong anak kecil yang tengah terisak keras.

“Unno terbangun dari tidurnya dan menangis karena tidak menemukan Umma di kamarnya.” Ucap Changmin dengan ekspresi datar ketika ayahnya tersenyum padanya, senyum yang dimatanya terlihat seperti senyuman badut bodoh pembawa berita duka.

“Hueeeeeeeee…. Umma….” anak kecil dalam gendongan Changmin itu semakin histeris melihat ibunya. Tangan mungil dan gempalnya terjulur menggapai-gapai ibunya.

Namja berkulit tan itu mendahului Jaejoong berjalan menuju Changmin dan mengambil Hyunno dari gendongan anak sulungnya. “Unno kenapa, hm? Kenapa menangis? Jagoan Appa tidak boleh menangis, ne….” dengan lembut diusapnya air mata bocah berusia 5 tahun itu.

Ummaaaaaa!” Hyunno menjerit dan meronta-ronta dalam pelukan ayahnya. Anak itu hanya mau ibunya bukan ayah ataupun orang lain.

“Anak kecil biasanya tahu siapa orang yang benar-benar tulus padanya.” Ucap Jaejoong yang berjalan menghampiri Yunho dan kedua anaknya, “Orang yang kotor akan ditolak oleh pikiran polos mereka.” Diambilnya Hyunno yang langsung melingkarkan lengan mungilnya di sekitar lehernya. Berjalan pelan meninggalkan ruang makan yang sunyi senyap.

Wae? Ada yang ingin kau sampaikan pada Appa?” tanya Yunho ketika putra sulungnya terdiam sambil menatap tajam dirinya.

“Ceraikan Umma! Dengan begitu kami bisa meninggalkan rumah ini dengan mudah!” ucap Changmin sebelum berlari mengejar ibu dan adiknya, membiarkan ayahnya termakan kesendiriannya. Peduli apa Changmin? Toh ayahnya bisa menelpon para simpanannya untuk menemaninya menghabiskan malam ini, bukan?

.

.

Kali ini bukan untuk diriku sendiri aku melakukan perlawan padamu, ada dua anak yang harus ku besarkan. Aku tidak peduli mau berapa banyak perempuan yang kau tiduri di atas ranjang pusakamu, aku tidak peduli berapa banyak uang yang kau keluarkan untuk perempua-perempuan itu. Satu hal yang harus kau tahu! Aku tidak akan membiarkan mata-mata polos anakku ternoda karena perilakumu. Kau boleh menganggapku kaca transparan, dulu. Sekarang aku tidak akan mmebiarkanmu melakukan semuanya sesuai dengan keinginanmu karena aku sudah lelah!

.

.

Dari balik jendela Jaejoong melihat Changmin dan seorang baby sitter mengajak Hyunno keluar untuk jalan-jalan, rutinitas yang selalu mereka lakukan pada akhir pekan seperti ini. Jaejoong sedikit melengkungkan senyumannya ketika melihat Hyunno yang berteriak-teriak agar Changmin mendorong sepeda roda empatnya.

“Kau hanya tersenyum untuk mereka saja.”

Jaejoong tersentak kaget ketika suara itu menegurnya, membuat senyum menawannya memudar dari bibir merah darahnya yang indah. Jaejoong memutar badannya membelakangi jendela agar bisa bertatap muka langsung dengan namja yang ditunggunya sejak beberapa menit yang lalu.

“Apa yang ingin kau bicarakan padaku, Boo?”

Jaejoong mendesis tidak suka ketika namja yang mendudukkan dirinya di atas sofa itu memanggilnya Boo, panggilan menjijikkan menurutnya. “Berkas di hadapanmu itu…. tanda tanganilah agar aku bisa segera membawanya ke pengadilan.”

Mata setajam musang itu melirik kertas yang diletakkan di atas amplop coklat yang teronggok di atas meja di hadapannya, menatap kertas itu tanpa minat karena dirinya tahu benda apa yang sedang dipandanginya itu.

“Kau lupa, Boo? Aku tidak akan pernah sudi untuk menceraikanmu bahkan walaupun kau memohon padaku!” bibir berbentuk hati itu menyeringai.

“Kau lupa kalau aku pun tidak akan pernah sudi memohon padamu?” balas Jaejoong.

“Maka dari itu lupakanlah keinginan bodohmu untuk bercerai dariku karena aku tidak akan pernah mau melepaskanmu!” ucap Yunho penuh penekanan. “Kau adalah milikku Jung Jaejoong!”

“Kalau begitu aku akan menyiksamu, Jung Yunho!”

“Lakukan saja!”

.

.

Changmin yang sedang menemani Hyunno bermain bola di halaman depan rumah mereka hanya bisa menatap datar seorang yeoja berpenampilan seksi yang diusir paksa oleh pihak keamanan rumahnya.

Ada apa sebenarnya? Bukankah para petugas keamanan itu biasanya meloloskan yeoja berbaju seksi mana pun yang memasuki rumahnya? Lalu yang dilihatnya ini?

“Hei lepaskan aku! Apa kau tidak tahu aku datang kemari untuk bertemu Jung Yunho! Kalian akan dipecat kalau tidak membiarkanku masuk!”

“Usir dia! Seret ke jalan! Ini adalah perintah ‘nyonya’. Bila ada yeoja asing berpenampilan seksi yang datang kemari harus segera diusir dan diseret keluar!”

Changmin menyeringai, entah apa yang terjadi sebenarnya tetapi sepertinya dari pembicaraan yang didengarnya antara kepala keamanan rumahnya dan yeoja itu cukup membuatnya senang.

Hyung….”

Changmin tersenyum melihat adiknya menatapnya dengan mata polos itu sambil memeluk bola sepaknya. Namja berusia 14 tahun itu mengusap lembut helaian halus adiknya, “Hyunno ya…. Appa akan segera menerima pembalasannya.”

Eoh?” Hyunno memiringkan kepalanya, bingung mendengar apa yang dikatakan oleh kakaknya.

Kajja kita masuk!” Changmin membopong Hyunno, “Umma sudah memanggil kita untuk makan.”

.

.

“Changmin, besok pagi Harabojie dan Halmoniemu akan menjemputmu serta Hyunno. Kalian akan menghabiskan libur musim panas ini di Hokaido selama dua minggu.” Ucap Yunho memecah keheningan suasana makan siang keluarga kecilnya..

Changmin menoleh menatap ibunya yang memasang wajah datar namun menatap ayahnya penuh permusuhan.

“Pergilah bersama adikmu. Bukankah sudah lama kita tidak menghabiskan liburan bersama?” Jaejoong tersenyum ketika menoleh menatap putranya.

“Bagaimana dengan Umma? Umma tidak ikut?” tanya Changmin.

“Ada sesuatu yang harus Umma urus di sini.” Jawab Jaejoong, diusapnya pipi Hyunno yang kotor karena terkena makanan yang disendoknya asal.

Appa?” Changmin menatap Ummanya penuh harap.

Appamu akan tinggal di sini bersama Umma.”

“Tapi Umma….”

Jaejoong merapikan Hyunno yang makan berantakan, mengangkat tubuh gempal putra bungsunya itu untuk diserahkan pada Changmin, “Berkemaslah! Nanti Umma akan mengecek barang bawaan kalian.”

Umma….”

“Dengarkan Ummamu, Changmin!” Yunho membuka suaranya.

Ragu Changmin menatap ayah dan ibunya bergantian sebelum beranjak sambil menggendong Hyunno menuju kamar mereka, menyiapkan apa saja yang mereka butuhkan untuk melewati dua minggu waktu liburannya di Hokaido bersama kakek dan neneknya.

Sepeninggal kedua anaknya, Yunho meletakkan gelas berisi air es yang tadi diminumnya, menatap istri cantiknya yang tengah menatap tajam dirinya.

“Kau sengaja meminta orang tuamu mengajak Changmin dan Hyunno pergi berlibur?” tuduh Jaejoong, “Apalagi yang kau rencanakan?”

Seringai yang sialnya selalu membuat Jung Yunho terlihat sangat tampan itu terlihat begitu angkuh menghiasi wajahnya, “Aku ingin menghabiskan waktuku bersama ‘istri’ku dengan sangat intim setelah dia merusak kesenanganku.”

Jaejoong tersenyum bodoh. Tentu saja Yunho tidak akan tinggal diam setelah dirinya memerintahkan semua pelayan dan petugas keamanan rumah mereka untuk melarang para perempuan simpanan Yunho datang kemari. Jaejoong sangat tahu hal itu dengan baik.

“Aku laki-laki normal, Boo. Aku membutuhkan seseorang untuk membantuku menuntaskan hasratku.”

“Kau pikir aku laki-laki tidak normal?” tanya Jaejoong dengan wajah diliputi kemarahan, “Aku namja normal yang menginginkan perempuan dibawahku! Tetapi aku masih cukup waras untuk memikirkan perasaan anak-anakku dengan tidak membawa perempuan murahan ke rumah ini.”

“Dan Boo…. Karena kau sudah melarang mereka yang bisa membantuku menuntaskan hasratku, maka kau harus mulai belajar melakukan kewajibanmu sebagai seorang istri!”

Mata hitam legam Jaejoong membulat ketika Yunho sudah mencekal tangan Jaejoong yang berada di atas meja.

“Dan ku pastikan kau akan melakukan tugasmu dengan baik, Boo.”

.

.

Darahku tidak mengalir dalam tubuh mereka tetapi aku mencintai merreka. Mereka bisa memberikan kebahagiaan yang kau janjikan tetapi tidak sanggup kau berikan padaku! Hanya status kosong yang kau berikan bukan kebahagiaan apalagi kasih sayang padaku.

.

.

Jaejoong ingin sekali menghajar Yunho ketika melihat kedua putranya memasuki mobil yang akan membawa mereka pergi dari jangkauannya selama dua minggu lamanya. Berpura-pura mengulum senyum manis dihadapan kedua mertuanya membuat rasa marahnya pada Yunho semakin besar setiap detiknya. Tanpa kedua anaknya, rumah ini terasa bagai kuburan untuk Jaejoong.

“Kau akan membayar semua ini Jung Yunho!” ancam Jaejoong ketika mobil itu menjauh dari pekarangan dan menghilang ditelan tembok yang membentengi rumahnya.

“Ku tunggu pembalasanmu, Boo….” Yunho menyeringai.

Jaejoong sempat memicing tajam pada Yunho sebelum kembali masuk ke dalam rumah.

.

.

Sepuluh tahun sudah Jaejoong menikah dengan Jung Yunho. Diusianya yang menginjak 18 tahun Jaejoong dipaksa untuk menikahi Yunho, satu tahun pasca pernikahan mereka mengadopsi Changmin atas paksaan kedua orang tua Yunho, kala itu Changmin sudah berusia 6 tahun. Dipaksa menikah untuk berperan menjadi seorang ‘istri’ dan ‘ibu’ dari anak yang bukan darah dagingnya sempat membuat Jaejoong stress. Namun pada akhirnya Jaejoong bisa melewati proses menyebalkan itu dengan baik bahkan 4 tahun sejak kedatangan Changmin seorang bayi mungil datang ke rumahnya sebagai putra bungsunya. Bayi yang baru berusia beberapa hari itu dibuang di depan pintu sebuah panti asuhan, Jung Hyunno. Dan Jaejoong dengan suka rela mengasuh malaikat kecil itu. Keberadaan kedua malaikatnya itulah yang membuat Jaejoong betah di rumahnya yang dianggapnya sebagai neraka kecil. Tanpa kedua malaikatnya Jaejoong merasa sangat kesepian, seperti yang sekarang dialaminya.

Biasanya Jaejoong akan melakukan pekerjaannya sebagai disainer, model iklan atau menghadiri talk show mengingat dirinya termasuk dalam salah seorang artis papan atas dengan gaji paling besar di Korea Selatan. Sayangnya beberapa waktu terakhir ini Yunho, ‘suami’ yang sangat ingin disingkirkannya itu melarang managernya menerima pekerjaan, melarangnya melakukan kegiatan keartisannya dan memaksanya untuk tinggal dirumah membesarkan kedua putra mereka.

Jaejoong bosan sekarang! Sedikit kasar dibantingnya majalah fashion yang sejak beberapa menit yang lalu dibukanya tanpa berniat melihat perkembangan dunia fashion. Yunho sendiri sedang berada di dalam ruang kerjanya begitu bawahannya dari kantor datang untuk menyerahkan beberapa dokumen.

Merebahkan dirinya di atas sofa dan menjadikan lengan sofa sebagai bantalannya, Jaejoong menatap lampu kristal antik yang tergantung di atas langit-langit ruang keluarga rumahnya. Lampu itu didapatkannya di Perancis saat mengajak Changmin jalan-jalan ke negara menara Eifel itu untuk merayakan ulang tahunnya yang ke-9, tanpa Yunho tentu saja. Semenjak itu Jaejoong tidak pernah mengajak Changmin jalan-jalan. Hyunno menjadi salah satu alasannya. Kehadiran Hyunno yang masih bayi sampai sekarang ketika anak itu berusia lima tahun. Agak repot bila mengajak Hyunno jalan-jalan, selain karena harus membawa minimal 3 baby sitter untuk mengurusnya yang sangat hyper, Hyunno juga memerlukan banyak barang –mainan untuk dibawa-bawa.

“Mereka berhak menikmati liburan.” Gumam Jaejoong yang memejamkan matanya perlahan, “Mengganggu kakek dan nenek mereka kedengarannya tidak terlalu buruk juga.”

.

.

Jemarinya mengusap lembut permukaan wajah indah yang sedang terlelap dalam tidurnya itu, meresapi betapa kenyal dan halusnya kulit ‘istri’nya. Sosok yang begitu didambanya semenjak dirinya melihat sosok malaikat yang tersesat dibumi itu.

Yunho sudah menginginkan Jaejoong ketika mereka sama-sama memasuki sebuaah sekolah elit bernama Cassiopeia High School. Jaejoong yang kala itu baru meniti karier keartisannya sebagai seorang penyanyi jarang sekali masuk sekolah hingga Yunho kesulitan bertemu dengannya. Jaejoong mungkin tidak mengenal Yunho tetapi Yunho sangat mengenal Jaejoong. Mereka dipertemukan lebih dekat ketika sama-sama masuk kelas 3-2, mereka sering berinteraksi ketika mengerjakan pekerjaan kelompok atau mengikuti pelajaran tambahan. Hingga begitu mereka lulus Yunho memaksa Jaejoong menikah dengannya yang tentu saja ditolak oleh Jaejoong karena namja berparas cantik itu mengakui orientasinya masih normal. Tidak tinggal diam, Yunho mengerahkan semua kekuasaan orang tuanya hingga akhirnya Jaejoong menyerah kalah –demi orang tuanya Jaejoong mau menjadi ‘nyonya’ Jung dalam pernikahan mereka.

Hari itu, hari pernikahan mereka adalah salah satu hari paling mmebahagiakan bagi Yunho.

Menggunakan ibu jarinya, Yunho mengusap bibir merah merekah Jaejoong perlahan. Terasa sangat kenyal dan sayang untuk dilewatkan. Yunho menundukkan wajahnya, mencium bibir merah yang sebenarnya sangat didambakannya sejak lama itu perlahan, menghisapnya sesaat sebelum melepaskan tautannya.

“Maafkan aku, Boo….” bisik Yunho, “Kali ini kau boleh membunuhku. Tetapi mengertilah, aku sungguh tidak tahan lagi!” Yunho segera membopong tubuh terlelap Jaejoong. Hasratnya sebagai seseorang yang mendamba dan merindu selama sepuluh tahun lebih meronta ingin dibebaskan secepatnya sebelum dirinya menjadi gila.

.

.

Mengundang para perempuan sundal ke kamarnya –kamar yang ditempatinya sendirian semenjak ikrar pernikahannya dengan Jaejoong hanya demi memastikan perasaannya yang kadang bimbang. Yunho membiarkan para perempuan bayaran itu menggodanya, menari telanjang didepan matanya untuk memastikan apakah dirinya masih membutuhkan perempuan atau tidak. Tetapi selama ini tidak satu pun dari perempuan-perempuan itu yang berhasil membangkitkan berahinya. Yang ada dalam bayangannya hanyalah sosok ‘istri’nya. Menuntaskan hasratnya sendirian sambil membayangkan wajah cantik istrinya membuat Yunho sangat tersiksa dan sengsara. Untuk itulah kali ini Yunho akan memastikan penderitaannya selama sepuluh tahun terbayar.

Dibaringkannya tubuh terlelap Jaejoong di atas ranjang pengantin mereka yang selama sepuluh tahun ini tidak pernah digunakan sama sekali mengingat Jaejoong memilih tidur di kamarnya sendiri. Diusapnya permukaan pipi Jaejoong, dikecupnya keningnya sebelum jemarinya membuka satu per satu kancing kemeja soft pink yang istrinya kenakan.

Yunho terdiam…. Perlahan-lakan kelopak mata yang membingkai mutiara rusa betina itu terbuka lebar, menghadirkan tatapan benci dan jijik padanya. “Kau bangun, Boo?”

Senyuman memuakkan itu membuat amarah Jaejoong naik hingga ubun-ubun, “Apa yang mau kau lakukan?! Manusia kotor sepertimu harusnya tahu diri!”

“Aku sangat tahu diri!” ucap Yunho sambil meremas dada kanan istrinya kuat-kuat.

“Jung Yunho! Brengsek!” maki Jaejoong. “Aku tidak sudi dijamah oleh manusia menjijikkan sepertimu! Kau kotor!” Jaejoong memekik ketika Yunho tiba-tiba saja menduduki perutnya, mencekal kedua pergelangan lengannya hingga memerah.

“Maka akan ku buat kau sama kotornya sepertiku Boo, agar kita sama dan kau tidak menolakku lagi!”

“Brengsek! Menjauh dariku!” umpat Jaejoong.

“Ah, suaramu sangat indah! Aku menyukainya…. Selama ini aku hanya bisa berhayal mendengar kau mendesah dibawahku. Sekarang khayalanku akan menjadi kenyataan. Betapa menyenangkannya ini!”

“Kau akan mati Jung Yunho!”

“Aku rela mati asalkan kau menjeritkan namaku dan mengantarkan firdaus untukku terlebih dahulu, Boo.” Yunho mencondongkan tubuhnye, mengendus leher jenjang Jaejoong, “Ah…. Aroma yang benar-benar memabukkan.”

“Menjauh dariku! Kau brengsek! Manusia menjijikkan!” Jaejoong bergerak-gerak gelisah, meronta, ingin pergi dari kungkungan orang yang sangat dibencinya.

“Terima kasih pujiannya….” Yunho tersenyum, “Ah… betapa menggairahkannya melihatmu seperti ini, Boo. Aku tidak tahan untuk segera menjamahmu!”

“Jung Yunho! Aku peringatkan padamu!”

“Apakah pemaksaan suami pada istrinya yang minta dilayani di atas ranjang setelah sepeluh tahun pernikahan termasuk pemerkosaan? Kau mau melaporkanku pada polisi karena hal ini? Lakukanlah, Boo! Lakukanlah! Setelah aku memilikimu tentunya.”

“Jung Yunho!”

.

.

Jaejoong bukannya tidak bisa menangis, hanya saja sakit hatinya terlampau dalam hingga air mata brengsek itu enggan mengalir membasahi mata indahnya yang kering. Jaejoong merasa jijik pada dirinya sendiri. Perlawanan sudah diberikannya tetapi dirinya tetap saja dijamah oleh Yunho. Jaejoong ingin muntah ketika mengingat bagaimana benda kebanggaan Yunho sebagai lelaki yang juga dimiliki olehnya itu menerobos memasuki lubang analnya, memang terasa sakit dan menyiksa tetapi harga diri yang terinjak-injaklah yang membuat Jaejoong jijik pada dirinya sendiri yang dianggapnya sudah sangat kotor.

Yunho hanya tersenyum menatap istri cantiknya yang terduduk diam dengan tatapan kosong di atas ranjang mereka, kamar pengantin yang baru dipakai semenjak sepuluh tahun pernikahan mereka, “Kau tidak ingin menutupi tubuhmu, Boo? Kau ingin aku menjamahmu lagi? Aku tidak keberatan tentu saja mengingat betapa hebatnya kau di….”

Pyaaaaarrrrr!

Yunho tidak melunturkan senyumannya ketika sebuah lampu duduk melayang ke arahnya, membentur jendela kaca di belakangnya hingga pecah berlubang. “Aku ingin menidurimu sampai kau mengandung anakku andai saja kau bisa hamil, Boo.” Yunho semakin tersenyum lebar begitu melihat mutiara rusa betina yang sangat itu menatap benci dan nanar ke arahnya. “Betapa sia-sianya hidupku selama sepuluh tahun ini karena menahan diri untuk merasakan kelembutan kulitmu, manisnya bibirmu dan hangatnya tubuhmu…. Tidak lagi-lagi Boo Jaeku tercinta! Aku tidak akan menyia-nyiakanmu lagi….” ucap Yunho yang kembali menegak air mineralnya.

“Membusuklah kau di neraka jahanam!”

.

.

Tidak pernah aku membayangkan akan mengerang dibawah kungkunganmu, akan terlena sentuhanmu, akan melayanimu seperti ini! Aku membencimu dan kita berdua tahu hal itu dengan baik. Aku tidak mau seperti ini tetapi aku terseret masuk ke dalamnya, membiarkanmu menjamahku berulang-ulang. Aku jijjik tetapi aku tidak sanggup menolak belenggu brengsek ini!

Apa yang sudah kau lakukan padaku?

.

.

“Sapinya punya anak dua. Unno mau punya sapi juga Umma….” celoteh Hyunno. “Belikan ne?”

Yah Unno! Hyung juga ingin bicara pada Umma….” protes Changmin yang berebut sesuatu dengan adiknya.

Jaejoong tersenyum melihat kedua putranya berebut ingin bicara padanya, menceritakan liburan menyenangkan yang mereka lewatkan melalui video call seperti ini adalah salah satu cara paling evektif untuk membunuh kerinduannya pada kedua putranya.

“Kalian senang?”

Hyunno dan Changmin langsung memasang wajah heran mereka ketika tiba-tiba saja wajah ayah mereka terlihat di samping Umma mereka, memasang senyuman yang terlihat sangat tulus., berbeda sekali dengan senyuman yang selama ini mereka lihat.

“Unno mau sapi? Appa akan membelikan sebuah peternakan untuk Unno kalau begitu.”

“Huwaaaaaaaaaaaaa…. Hore! Hore!” Hyunno terlihat berlari berputar-putar di belakang punggung Changmin.

“Itu terlalu berlebihan!” Jaejoong mendelik pada Yunho.

“Ah, tidak masalah….” sahut Yunho.

Umma, apa yang terjadi semenjak kami pergi?” tanya Changmin yang merasa janggal dengan interasi antara ayah dan ibunya.

“Nikmati saja liburanmu, Changmin! Jangan memikirkan apa yang terjadi di rumah! Yang di rumah menjadi urusan Umma dan Appa. Kau cukup bersenang-senang saja sepanjang liburan ini, jaga adikmu dan jangan lupa bawakan oleh-oleh untuk Umma dan Appa ketika kau pulang nanti. Arra?”

Changmin mengangguk ragu, yang sedang berbicara dengannya ini apakah benar-benar ayahnya? Jung Yunho ayahnya yang itu? Kenapa ayahnya yang sekarang bersikap selayaknya ayah pada umumnya, ayah yang menasihati anaknya? Berbeda sekali ayahnya yang walaupun peduli padanya dan adiknya tetapi bersikap dingin dan kurang bersahabat. Apa yang membuat ayahnya berubah seperti itu? Apa ayahnya terpleset? Atau ada chip yang ditanam didalam otak ayahnya?

“Changmin… saranghae….”

Remaja berusia 14 tahun itu tersenyum. Apapun yang terjadi sepertinya ayahnya yang sekarang akan jauh lebih menyenangkan daripada ayahnya yang dulu. Kalau ayahnya bisa bersikap baik seperti itu pasti Ummanya akan bahagia. “Nado saranghae Umma….”

.

.

Aku tidak mengerti apa yang terjadi sekarang. Aku jijik padamu tetapi aku lebih jijik pada diriku sendiri yang kini dengan suka rela menyambutmu yang hendak menyentuhku. Ini tidak normal! Hubungan seperti ini… entah kenapa aku bisa menikmatinya bila itu adalah kau….

.

.

Memeluk leher dan bahu kokoh itu erat-erat, menyandarkan kepalanya pada sisi wajah tampan itu perlahan, mengatur napasnya yang terengah, Jaejoong tidak mengerti kenapa dirinya bisa melakukan hal menjijikkan seperti itu dengan ‘suami’ yang sangat dibencinya.

“Kau lelah, Boo?” jemari itu mengusap punggung yang terasa halus dan lepek karena keringat.

“Apa yang sudah kau lakukan padaku, Brengsek?!”

“Mengajarimu cara mencintai suamimu, Boo….”

.

.

END

.

.

Huahahahaahaha >_< Akhirnya selesai. Akhirnya jadi juga mimpi buruk yang mengganggu tidur Yuuki selama beberapa hari ini. Gantung ya? Kalau mau Yuuki akan buatkan sekuelnya mirip The Wicht And Water Healther #KalauMau :D

.

.

Monday, August 18, 2014

9:14:30 PM

NaraYuuki

Pembalasan Bidadari Hitam IV

Tittle                : Pembalasan Bidadari Hitam IV

Writer               : NaraYuuki

Genre               : Romance/ Family

Rate                 : M

Cast                 : All member DBSK and others (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan). Seiring bertambahnya Chap castnya pun akan disesuaikan.

Disclaimer:       : They are not mine but this story and Hyunno are mine, NaraYuuki

Warning           : This is YunJae Fan Fiction (Boys Love), M-Preg. Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut. Paragraf/ dialog yang penulisannya menggunakan Blod, Italic ataupun under line berarti itu adalah kejadian dimasa lampau (flash back) TANPA EDIT.

.

.

pEMBALASAN BIDADARI HITAM NARAYUUKI  SUPER sMALL

.

.

PASTIKAN BACA WARNINGNYA DULU

.

.

.

.

.

Jaejoong mengusap lembut kepala putranya yang terlelap di sampingnya. Semenjak dirinya dirawat di rumah sakit Hyunno memang selalu tidur bersamanya, remaja tampan yang berhasil dikeluarkan dari perutnya melalui operasi sesar 16 tahun lalu itu benar-benar keras kepala, sepertinya sifat itu menurun dari ayahnya mengingat Jaejoong adalah tipe anak penurut ketika dirinya masih remaja dulu.

“Joongie…. Dokter bilang bila keadaanmu sudah stabil, hari ini kau boleh pulang.” Junsu masuk ke dalam ruang rawat Jaejoong sambil menenteng sebuah bungkus plastik berisi makanan.

Jaejoong mendudukkan dirinya di atas ranjang secara perlahan, enggan menganggu tidur damai putranya, “Ahjumma, katakan padaku! Apa yang sebenarnya Ahjushi dan Hyunno rencanakan?”

“Aku tidak pernah mencampuri apa yang Chunie sedang kerjakan, Joongie. Apalagi bila menyangkut urusan dengan keluarga Jung. Chunie tidak akan membiarkanku mengetahui apa yang sedang dia rencanakan dan kerjakan.” Jawab Junsu, “Ada yang mengganggu pikiranmu?”

“Mungkin perasaan kekanakan sebagai seorang ibu…” gumam Jaejoong, “… aku merasa ada sesuatu yang akan terjadi pada putraku. Entah kejadian baik atau buruk…..”

Junsu meraih tangan Jaejoong, menggenggam kuat-kuat jemari lentik keponakannya, “Aku dan Chuniee tidak akan membiarkanmu dan Hyunno terluka lagi!”

Gomawo Ahjumma….”

.

.

Dengan semangat Hyunno mendorong kursi roda yang diduduki oleh ibunya, wajah tampannya tersenyum sumpringah sepanjang bangsal, membuat matanya terlihat seperti bulan sabit terbalik.

“Apa yang membuatmu begitu bersemangat, Littel Bear?” tanya Junsu yang sibuk menenteng tas berisi baju dan perlengkapan yang selama ini terpaksa diungsikan ke rumah sakit semenjak Jaejoong di rawat di sana.

“Tidak ada.” Jawab Hyunno, “Hanya saja rasanya akan sedikit berbeda bila Umma pulang. Rumah akan terasa lebih hidup dan menyenangkan untuk ditinggali.”

“Hyunno….”

Ne, Umma?”

“Bagaimana dengan kuliahmu? Menyenangkan?” tanya Jaejoong.

“Tidak buruk.” Hyunno masih tersenyum bahagia, mengabaikan tatapan beberapa suster dan pengunjung yang menatapnya –menatap wajah tampannya, “Terasa berbeda dari masa SMA dulu tetapi tidak buruk. Hanya saja sedikit malas bila harus mengerjakan tugas kelompok apalagi bila kelompok yang ku dapat memiliki sifat pemalas. Aku tidak suka, Umma! aku lebih suka mengerjakan semuanya sendiri. Cepat dan akurat! Tidak perlu melakukan diskusi yang sia-sia atau pun membuang waktu berharga….”

“Hyunno….” panggil Jaejoong.

Ne?”

“Jangan menjadi seperti laki-laki itu! Umma tidak suka.”

Hyunno tersentak mendengar ucapan ibunya, membuat langkah kakinya terhenti selama beberapa saat lamanya sebelum kembali melangkah mendorong kursi roda ibunya menuju pintu masuk tempat mobil mereka menunggu.

Arraso Umma….” lirihnya.

.

.

Sebelum benar-benar pulang, Jaejoong meminta untuk diantar ke makam ayahnya. Rasanya sudah lama sekali dirinya tidak mengunjungi ayahnya. Jaejoong ingin mengutarakan kegelisahan yang beberapa waktu terakhir ini dirasakannya.

Ayahnya…

Laki-laki yang sangat berarti dalam hidupnya. Laki-laki yang disayangi dan dicintainya sepenuh hati, laki-laki yang melakukan segalanya demi kebahagiaan keluarganya. Laki-laki itu adalah ayahnya, Choi Siwon.

Jaejoong sangat mengagumi ayahnya. Ayah yang selalu dibanggakannya, ayah yang melindungi dirinya dan Hyunno ketika orang lain mencemooh mereka, ayah yang melakukan segalanya untuk membesarkannya dan Hyunno. Ayah yang mengorbankan segalanya untuk kebahagiaannya dan Hyunno.

Appa….” lirih Jaejoong serupa bisikkan, “Kenapa jadi seperti ini? Uri Hyunno yang kita besarkan dengan kelembutan dan kasih sayang mulai menyentuh kebencian dan dendam, Appa. Apakah seharusnya aku tidak perlu memberitahunya siapa ayahnya yang sebenarnya? Bukankah itu lebih mudah Appa? Menjaganya tetap berada di dalam kotak kebahagiaannya? Tetapi… bukankah akan lebih menyakitkan bila dia tidak tahu apa-apa? Anakku yang malang….”

Mata seindah mutiara rusa betina itu berminar ketika cahaya mahatari membiasinya, jemari pucatnya mengusap lembut permukaan batu pualam berwarna abu-abu tua itu perlahan.

“Karena dendam hanya akan membawa kesakitan maka tidak akan ku biarkan uri Hyunno menyentuh benda menjijikkan itu terlalu lama. Maukah Appa mendoakanku dari sana? Agar aku bisa menjaga kebahagiaan kecil yang sudah susah payah Appa jaga ini.”

.

.

Yah Hyunno ya! Biarkan Ummamu bergerak bebas! Jangan mengekori Ummamu seperti anak ayam begitu!” Omel Junsu ketika melihat remaja tampan bermata setajam musang itu terus memeluk dan membuntuti pergerakan ibunya.

“Bagaimana kalau tiba-tiba Umma jatuh pingsan, Ahjumma? Bagaimana kalau Umma terpeleset atau terhantuk kaki meja? Bagaimana bila Umma….”

Ummamu tidak akan apa-apa, Hyunno ya!” ucap Yoochun, “Berhentilah bersikap berlebihan seperti itu!”

Ahjushi menyebalkan!” Hyunno semakin erat mendekap tubuh ibunya, “Umma, bagaimana bila besok atau lusa kita berbelanja? Kita adakan pesta barbeque untuk menyambut kepulangan Umma ke rumah.”

“Ah? Kau mau mengundang teman-temanmu? Tidak masalah, Umma dan Suie Ahjumma bisa menyiapkan semuanya untukmu.” Sahut Jaejoong.

“Aku tidak butuh teman. Asal ada Umma, aku sudah merasa cukup.” Jawab Hyunno.

Jaejoong terdiam. Tidak! Anak remaja yang tengah bergelayut manja memeluknya ini bukanlah putranya. Anak yang dilahirkan dan dibesarkannya dengan segenap cinta dan kasih sayang yang dimilikkinya tidak akan berbicara seperti itu! Tidak! Kenapa Hyunnonya kini terlihat seperti orang itu? Jaejoong tidak menyukai situasi ini. Tidak suka sama sekali! Jaejoong tidak mau anaknya memiliki sifat seperti orang itu! Tidak pernah! Tidak boleh!

Umma tidak akan membiarkanmu terlibat lebih jauh lagi, Hyunno ya! Biar Ahjushimu yang mengurusnya untuk kita!!” ucap Jaejoong.

“Tapi Umma….” Hyunno melancarkan aksi protesnya.

“Apapun alasannya! Umma ingin kau fokus pada pendidikanmu! Nikmatilah hidupmu, anakku! Jangan seperti Umma!” Jaejoong mengusap lembut kepala Hyunno yang bersandar pada bahunya.

Umma kehilangan masa muda Umma karena aku.” Lirih Hyunno. “Sebab itulah, Umma….”

“Hyunno ya….”

“Kalau Umma memerintahkanku seperti itu akan ku lakukan. Aku akan fokus pada pendidikanku dan menikmati hidupku.” Janji Hyunno, “Tetapi biarkan aku juga membalas sakit dan penderitaan yang sudah Umma alami karena kehadiranku! Agar hati kecilku bisa tenang Umma.”

“Hati kecil Umma tidak akan bisa tenang bila kau seperti itu Choi Hyunno!” ucap Jaejoong dengan suara meninggi.

“Kau tidak akan bisa melarangnya kali ini, Jae.” Yoochun berkomentar.

Ahjushi?” Jaejoong menatap tajam Yoochun.

“Bagaimanapun juga darah yang mengalir dalam diri Hyunno adalah darah keluarga Jung! Darah ayahnya yang berasal dari keluarga berdarah biru yang sangat arogan dan berpengaruh. Seperti apapun kau hendak menekannya ku rasa ledakan emosi itu tidak akan bisa tertahan selamanya.” Namja mermarga Park itu menatap Jaejoong datar, keponakannya

Ahjushi!” pekik Jaejoong.

“Anakmu sudah cukup besar untuk memikirkan apa yang terbaik bagi dirinya, Jae.” Ucap Yoochun.

“Tidak! Hyunno masih belum cukup dewasa untuk berpikir apa yang terbaik untuknya, Ahjushi! Dia masih terlalu muda.” Sangkal Jaejoong.

“Kau bahkan berusia lebih muda daripada Hyunno sekarang saat….”

Ahjushi!”

Yoochun terdiam, sedikit bersalah ketika dirinya lepas kendali dan hampir melontarkan kenangan masa lalu keponakannya sendiri sebagai pembenaran atas argumentasinya. Menghela napas panjang, Yoochun menyandarkan bahunya pada punggung kursi yang didudukinya.

“Chun, Joongie baru pulang ke rumah.” Junsu mengingatkan, “Jangan membuat keadaannya menjadi tidak baik.” Ucapnya sambil mengusap pelan punggung Yoochun.

“Mengambil alih apa yang seharusnya menjadi miliknya juga perlu.” Yoochun menekankan, masih berusaha mempertahankan egonya. “Kau tahu itu kan Joongie?”

Jaejoong kali ini yang diam. Mata seindah mutiara rusa betinanya itu menatap tajam Yoochun yang duduk di sebrang sana.

“Hyunno sudah menunjukkan dirinya pada para Jung itu, apakah kau pikir Jung Woo Sung akan membiarkan cucu yang selama ini diimpikan dan didambakannya lepas dari genggamannya begitu saja? Jangan lupakan bahwa mungkin Hyunno adalah satu-satunya pewaris keluarga Jung mengingat Yunho dan Jessica sama sekali tidak memiliki keturunan lagi.” Ucap Yoochun.

“Lalu… apa Ahjushi berpikir aku akan menyerahkan putraku begitu saja pada mereka?” bibir semerah darah itu melengkung indah, “Tidak! Kali ini aku akan melawan, aku tidak akan lari lagi!”

.

.

Appa, kita mungkin tidak punya dendam sebelumnya. Tetapi aku sangat membencimu. Karena kau, aku hadir di dunia ini dan membuat susah Umma. Karena itu kau harus membayar kepedihan dan kesusahan yang sudah Umma lalui selama ini!” remaja tampan itu meremas kuat-kuat foto namja serupa dirinya yang tengah menjabat tangan relasi bisnisnya, “Mari kita memainkan permainan kekanakan Appa….” seringai itu tercetak jelas pada bibir tipisnya.

Bolehkah dirinya membenci ayahnya sendiri?

.

.

TBC

.

.

Mian kalau hasilnya jelek ya :) SELAMAT HARI KEMERDEKAAN INDONESIA :D

.

.

Saturday, August 16, 2014

5:30:54 PM

LINK FF CHAPTER, NaraYuuki

Link FF Chapter:

Untuk ke chap awal klik saja “Older Post” Soalnya pengaturan WP dari New  ─> Old

 

Nostalgia 1

 

A Story Book http://narayuuki.wordpress.com/?s=a+story+book&submit=Lanjut

 

Always Keep The Faith http://narayuuki.wordpress.com/?s=always+keep+the+faith%21&submit=Lanjut

 

Ancestor http://narayuuki.wordpress.com/?s=Ancestor&submit=Lanjut

 

Another Girl (GS) http://narayuuki.wordpress.com/2014/08/11/sample-script-another-girl/

 

Another You Another Me http://narayuuki.wordpress.com/?s=You%E2%80%99re+Not+A+Bad+Girl+&submit=Lanjut

 

Pembalasan Bidadari Hitam (On Going) http://narayuuki.wordpress.com/?s=Pembalasan+Bidadari+Hitam+&submit=Lanjut

 

Conscious a Lofa http://narayuuki.wordpress.com/?s=Conscious+a+Lofa+&submit=Lanjut

 

Cruel (GS) http://narayuuki.wordpress.com/?s=Cruel+&submit=Lanjut

 

Dark Moon http://narayuuki.wordpress.com/?s=Dark+Moon&submit=Lanjut

 

Darkness Eyes (GS) http://narayuuki.wordpress.com/?s=Darkness+Eyes+&submit=Lanjut

 

Desire http://narayuuki.wordpress.com/?s=Desire&submit=Lanjut

 

Destiny http://narayuuki.wordpress.com/?s=Destiny&submit=Lanjut

 

Die To Live http://narayuuki.wordpress.com/?s=Die+To+Live&submit=Lanjut

 

Epislova http://narayuuki.wordpress.com/2014/08/11/sample-script-epislova/

 

Fairy Tail http://narayuuki.wordpress.com/?s=Fairy+Tail&submit=Lanjut

 

Foolish Game http://narayuuki.wordpress.com/?s=Foolish+Game&submit=Lanjut

 

Hai Boo http://narayuuki.wordpress.com/?s=Hai+Boo&submit=Lanjut

 

He Is My Nephew http://narayuuki.wordpress.com/?s=he+is+my+nephew&submit=Lanjut

 

High Shcool http://narayuuki.wordpress.com/?s=High+Shcool&submit=Lanjut

 

Ije (GS) http://narayuuki.wordpress.com/?s=ije&submit=Lanjut (Yang post dulu bukan Yuuki jadi dikasih PW. Ntar Yuuki utak-atik deh biar ga ada Pwnya lagi).

 

Irama Kebahagiaan (GS) http://narayuuki.wordpress.com/?s=Irama+Kebahagiaan+&submit=Lanjut

 

It’s Hurt http://narayuuki.wordpress.com/?s=It%E2%80%99s+Hurt&submit=Lanjut

 

Jung Hyunno http://narayuuki.wordpress.com/?s=Jung+Hyunno&submit=Lanjut

 

Licensia A Lofa http://narayuuki.wordpress.com/?s=Licensia+A+Lofa&submit=Lanjut

 

Lisianthus Of Incarnasion http://narayuuki.wordpress.com/?s=Lisianthus+Of+Incarnasion&submit=Lanjut

 

Little Princes  http://narayuuki.wordpress.com/?s=Little+Princes+&submit=Lanjut

 

Live In The Circle http://narayuuki.wordpress.com/?s=Live+In+The+Circle+&submit=Lanjut

 

Love And Kapita http://narayuuki.wordpress.com/?s=Love+And+Kapita&submit=Lanjut

 

Love Him http://narayuuki.wordpress.com/?s=Love+Him&submit=Lanjut

 

Love Hurt http://narayuuki.wordpress.com/?s=Love+Hurt&submit=Lanjut

 

Love Stone (menyusul ya linknya :))

 

Lovin You http://narayuuki.wordpress.com/?s=Lovin+You&submit=Lanjut

 

Magic Love http://narayuuki.wordpress.com/?s=Magic+Love&submit=Lanjut

 

Never Ever (GS) http://narayuuki.wordpress.com/?s=Never+Ever+&submit=Lanjut (Ini yang post juga bukan Yuuki, jadi beberapa chap diproteksi. Kalau Yuuki sudah tidak sibuk akan Yuuki edit lagi).

 

Nostalgia http://narayuuki.wordpress.com/?s=Nostalgia&submit=Lanjut

 

Obsesion http://narayuuki.wordpress.com/?s=Obsesion&submit=Lanjut

 

Pain Of Love (ini Colab dengan Marcia Hanie dan sampai sekarang belum kelar) http://narayuuki.wordpress.com/?s=Pain+Of+Love+&submit=Lanjut

 

Pride http://narayuuki.wordpress.com/?s=pride&submit=Lanjut

 

Proprium http://narayuuki.wordpress.com/?s=Proprium&submit=Lanjut

 

Revenge (On Going) http://narayuuki.wordpress.com/?s=Revenge+&submit=Lanjut

 

Romawi Trisulla (GS) http://narayuuki.wordpress.com/?s=Romawi+Trisulla+&submit=Lanjut

 

Senarai YunJae http://narayuuki.wordpress.com/?s=Senarai+YunJae&submit=Lanjut

 

Shadow http://narayuuki.wordpress.com/?s=Shadow&submit=Lanjut

 

SK Cinta YunJae http://narayuuki.wordpress.com/?s=SK+Cinta+YunJae&submit=Lanjut

 

The Ego (GS) (ane demen) http://narayuuki.wordpress.com/?s=The+Ego+&submit=Lanjut

 

The Wichty and Water Healther http://narayuuki.wordpress.com/?s=The+Witchy+and+Water+Healer&submit=Lanjut

 

Typologi Jung (GS) http://narayuuki.wordpress.com/?s=Typologi+Jung+&submit=Lanjut

 

Without Me (GS) http://narayuuki.wordpress.com/?s=Without+Me+&submit=Lanjut

 

You’re Not A Bad Girl (GS), (My Fav) http://narayuuki.wordpress.com/?s=You%E2%80%99re+Not+A+Bad+Girl+&submit=Lanjut

Sample Script EpisLova

Tittle                      : EpisLova

Writer                   : NaraYuuki

Genre                     : Fantasy/ Adventure

Warning               : This is DBSK Fanfiction (GS) dengan penyesuaian nama dan marga karakter dalam cerita ini agar bisa dipublikasikan secara umum dan dibaca secara umum pula tanpa berniat memprovokasi maupun menyebarkan sara. THIS IS ONLY A FAN FICTION. MISS TY BERTEBARAN, TANPA EDIT

 .

.

Sampul depan EpisLova NaraYuuki

Sinopsis:

Taring-taring tajam itu mencuat, air liur beracun menjijikkan menetes membasahi bibir-bibir kehitaman itu, bibir yang menghitam akibat sisa darah yang mengering dan mengerak. Ada sekitar seratus vampire yang mengepung kelima orang yang sedang menuju ke kerajaan utara itu, Cassiopeia. Lima kuda beraksa yang menyertai mereka pun tampak begitu gelisah dan menghentak-hentakkan kedua kaki depannya.

“Cih! Tua Bangka Ki Woong itu sepertinya benar-benar ingin menyingkirkanku.” Gerutu Yunho.

“Mereka tidak akan mempan dengan sihir kita.” Ucap Xiana sedikit panik.

“Sihir kalian memang tidak mempan untuk mereka, tapi sihir milikku bisa digunakan.” Yunho melirik Xiana.

“Jangan!” larang Yoochun, “Kami tidak bisa mengimbangi tekanan sihirmu, Yun.” Ucapnya.

“Lalu apa yang harus kita lakukan, Hyung?” tanya Changmin ketakutan. Bagaiamanpun Changmin masih berusia enam belas tahun, sehebat apa pun dia, namja itu masih terlalu muda untuk dihadapkan pada situasi genting antara hidup dan mati seperti ini.

Jleb!

Jleb!

Dua buah anak panah menembus jantung enam orang vampire yang secara bersamaan dan tiba-tiba saja melompat, hendak menerkam salah satu kuda beraksa mereka. Untung anak panah itu terbuat dari perak murni sehingga vampire yang terkena anak panah yang Jaenna lesatkan itu langsung menjadi debu.

“Gunakan semua senjata yang ada! Tusuk jantung mereka!” pekik Jaenna yang kembali membidik vampire-vampire yang menerjang dan mulai menyerang mereka.

Nuu!” teriak Changmin, mantra untuk menciptakan tameng sementara yang akan melindunginya dari serangan tiba-tiba vampire. Tameng akan terbentuk sesuai kemapuan yang menguncapkan matra itu. Karena Changmin menguasai sihir tanah sehingga tameng yang terbentuk adalah tameng batu yang kokoh.

Fruze!” ucap Yoochun, ribuah jarum es runcing dan kecil terbentuk dari air yang berasal dari air sungai Salasum, “Zumu!” gumamnya. Ribuan jarum es itu melesat sangat cepat, menusuk-nusuk permukaan kulit para vampire, mendatangkan jerit dan lolongan kesakitan dari pemilik taring setejam taring harimau itu.

Tsui!” Xiana menusukkan pedang api yang terbuat dari sihirnya pada Jantung vampire yang mendekatinya.

Sementara Yunho hanya bisa mengayunkan pedangnya untuk membunuh para vampire yang menerjang dan menyerangnya. Korbannya memang tidak sebanyak Jaenna, Yoochun, Xiana dan Changmin, namun kehebatan Yunho dalam memainkan pedang cukup membantu mengurangi jumlah vampire merepotkan yang menghadang perjalanan mereka. Andai Yunho bisa menggunakan sihirnya pasti para vampire itu bisa disingkirkan dalam satu kedipan mata, sayang Yunho juga harus memikirkan akibat bila dirinya nekat menggunakan sihirnya. Bukan hanya para vampire yang lenyap, Yunho pun bisa membuat Yoochun, Xiana, Jaenna dan Changmin ikut lenyap. Ketidakmampuan Yunho mengendalikan sihirnya membuatnya harus menahan dirinya. Satu-satunya cara adalah mengalahkan para vampire terkutuk itu kemudian melanjutkan perjalanan menuju Cassiopeia agar Yunho bisa belajar pengendalian sihir pada Raja Cassiopeia langsung.

“Yunie Oppa!” Jaenna berlari ke arah Yunho secepat ia bisa ketika melihat seorang vampire hampir mengigit bahu Yunho dari belakang.

Bruk!

Jleb!

Jleb!

Yunho jatuh tersungkur ketika didorong sedemikian kuat oleh Jaennaa, “Jae… Nnaa…. Jaenna!” jerit Yunho saat melihat lengan putih Jaenna tergigit oleh taring salah seorang vampire.

Oppagwaechanayo?” tanya Jaenna.

“Joongie!” jerit Yoochun bersamaan dengan terlemparnya tubuh Jaenna ke dalam aliran sungai Salasum akibat bantingan sang vampire.

“Joongie Noona!” pekik Changmin yang berniat menjeburkan diri ke sungai untuk menolong Jaenna namun dihalangi oleh Xiana.

“Tugasmu melindungi Yunho!” ucap Xiana.

“Tapi Joongie nonna….”

“Mati kalian!” Yoochun mengibaskan pedangnya. Entah kekuatan apa dan darimana hingga tiba-tiba saja setengah dari vampire itu lenyap menjadi butiran debu halus yang diterbangkan angin ke segala arah.

Byurrr!

Yoochun kemudian menenggelamkan dirinya sendiri ke dalam sungai untuk mencari tubuh Jaenna. Walaupun racun para vampire sangat mematikan namun Yoochun yakin bahwa Jaenna bisa bertahan.

“Chunie hyung….” Jerit Changmin.

Xiana sangat marah atas tindakan Yoochun yang melalaikan tugasnya menjaga Yunho dan memilih untuk mengejar Jaenna yang belum tentu bisa selamat setelah mendapat gigitan dari vampire.

Tsui!” mantra sama yang tadi Xiana ucapkan terlontar dari bibir berbentuk hati Yunho itu memunculkan api berwarna hitam pekat yang membakar sisa vampire hingga tak bersisa hanya dalam hitungan detik sebelum menghilang.

Xiana dan Changmin hanya bisa terbelalak kaget melihat Yunho. Namja bermata setajam musang itu menutup kedua kelopak matanya, menahan pedih yang tiba-tiba menderanya akibat penyesalan dan ketidakmampuannya melindungi Jaenna dari kematian.

.

.

.

.

.

I beg you! Please baca warningnya dulu karena nantinya Yuuki tidak mau disalahkan.

Resiko ditanggung sendiri!

Kalau masih berani silahkan cek link ini: http://nulisbuku.com/books/view_book/6286/epislova

 

Sample Script Another Girl

 

Tittle                      : Another Girl

Writer                    : NaraYuuki

Genre                     : Romance/ Family/ Friendship

Warning                : This is DBSK Fanfiction (GS) dengan penyesuaian nama dan marga karakter dalam cerita ini agar bisa dipublikasikan secara umum dan dibaca secara umum pula tanpa berniat memprovokasi maupun menyebarkan sara. THIS IS ONLY A FAN FICTION. MISS TY BERTEBARAN. TANPA EDIT.

 

Sinopsis                 :

 

Cover - Depan Another Girl NaraYuuki

Tidak! Tidak!

Aku tidak bisa membenci kalian karena aku tidak mau terluka akibat perasaan sepihak itu.

Aku hanya masih butuh waktu untuk menyembuhkan hatiku.

Suatu hari nanti…

Aku akan menawarkan persahabatan tulus pada kalian, Kawan!

Jika aku boleh memanggil kalian kawan…

Biarkan aku berterima kasih atas pelajaran hidup yang berharga ini.

*****

Mutiara hitam rusa betina itu berbinar indah menatap pemandangan di sekelilingnya yang sangat unik dan belum pernah dijumpainya sebelumnya. Kaki jenjangnya terus melangkah diiringi suara kendaraan bermotor yang memadati jalanan sore itu. Kemarin begitu selesai mengurus administrasi di kampus barunya, Jaenna segera merapikan barang-barang yang dibawanya dari rumahnya. Mulai sekarang Jaenna akan tinggal di salah satu kamar flat yang berada di sekitar kampusnya untuk memudahkannya sebagai mahasiswa baru, atau setidaknya itulah pendapatnya.

“Di kota ini… akankah bisa ku sembuhkan luka hatiku? Atau aku justru semakin terlarut dalam persoalan hidup yang semakin rumit?” batinnya.

Langit yang terlihat berbeda, udara yang terasa berbeda, orang-orang yang berbeda, lingkungan yang berbeda. Semua benar-benar berbeda. Di kota baru ini Jaenna benar-benar sendirian tanpa siapapun yang dikenalnya. Betapa hidup ini kadang menyusahkan.

“Awas! Minggir!”

Jaenna tersentak kaget begitu melihat seorang namja mengenakan jas putih bersih tengah berlari ke arahnya, segera saja yeoja cantik berkulit sedikit pucat itu menyingkir, membiarkan namja asing itu berlalu begitu saja.

Ah… Jaenna jadi merindukan Yihan Oppanya. Sahabat yang dikenalnya melalui situs jejaring sosial itu benar-benar menjadi sahabatnya, teman bagi Jaenna ketika gadis itu membutuhkan sosok yang mau mendengarkan semua keluh kesahnya.

“Begitu sampai flat, aku akan menelpon Oppa.” Jaenna menyuarakan niat yang tiba-tiba muncul.

Eoh, maaf…. Apakah kau melihat seorang laki-laki tampan lewat sini?”

Jaenna terkejut ketika seorang yeoja menanyainya. Yeoja itu berpenampilan mencolok dengan sepatu hak setinggi 15 centimeter, rok mini yang membungkus setengah pahanya dan kemeja berwarna pink yang sedikit menonjolkan kemolekkannya.

“Orangnya tinggi, bermata sipit, bibirnya berbentuk heartlips dan memakai jas putih seperti dokter. Ah, dia memang seorang dokter jadi wajar bila memakai jas putih. Kau melihatnya?”

Jaenna menunjuk arah namja asing yang dilihatnya tadi sedikit kikuk dan ragu.

“Ah, Khamsahamnida.” Yeoja itu segera berjalan cepat meninggalkan Jaenna dengan keterkejutannya.

“Lebih baik aku segera kembali ke flat sebelum aku dikira pasien rumah sakit jiwa.” Gumam Jaenna.

****

Kamar flat sederhana yang berisi ruang tamu kecil, ranjang, meja dan kursi belajar, rak buku kecil, dapur yang tidak terlalu luas dan sebuah kamar mandi menjadi tempat hidup Jaenna untuk 2 tahun kedepan. Semoga saja. Jaenna berharap semuanya akan berjalan lancar terutama proses pembuatan tesisnya agar dirinya bisa lulus tepat waktu mengingat usianya yang kini tidak lagi muda. 24 tahun usia seorang gadis. Bagi sebagian orang usia 24 sudah lebih dari matang. Bahkan teman-temannya semasa SMA dulu hampir semuanya sudah memiliki anak. Entah apa yang terjadi pada Jaenna sehingga Tuhan tidak kunjung mempertemukannya dengan orang yang cukup pantas mendampinginya.

Mendalami dunia sastra adalah impian Jaenna, dan kini adalah awal dari segala jalan menuju impian itu. Impian yang harus ditebusnya dengan meninggalkan kota kelahirannya, meninggalkan orang tua dan sahabat yang sangat disayanginya. Tetapi Jaenna tidak menyesal sudah mengambil pilihan itu. Baginya selalu ada akhir yang pantas untuk sebuah perjuangan panjang.

Jaenna kembali melihat-lihat koran, mencari info tentang lowongan pekerjaan. Kuliah diakhir pekan pada hari sabtu dan minggu menyisakan empat hari kosong. Jaenna ingin mencari pekerjaan sampingan yang bisa menambah pemasukkannya. Uang tabungannya sudah menipis untuk menyewa flat dan membeli buku-buku pelajarannya. Resiko yang harus diambilnya ketika memilih kuliah di kota orang lain adalah biaya yang sedikit membengkak namun Jaenna pun tidak menyesal ketika menolak tawaran ayahnya untuk tetap kuliah di kota kelahirannya toh di sana banyak universitas dengan kualitas yang bagus. Tetapi karena Jaenna mencari sebuah pengalaman, gadis cantik berambut lurus sebahu itu memilih meninggalkan semua kenyamanannya demi mewujudkan mimpinya.

“Guru les? Astaga! Haruskah?” Jaenna menggerutu, “Aku ingin mencoba bekerja sebagai pelayan. Pekerjaan itu terlihat keren disetiap drama-drama yang ditayangkan di televisi.”

Hari kedua di kota baru Jaenna lewati dengan kebingungan. Benar kata Yihan, mencari pekerjaan itu susah. Dan karena terlalu serius membaca kolom lowongan pekerjaan di koran, Jaenna tertidur sambil beralaskan koran.

*****

“Oh astaga!” Jaenna tiba-tiba terbangun dari tidurnya menyadari keadaannya sekarang. Di kota baru ini dirinya sendirian, melakukan pekerjaan apapun juga sendirian. Tidak akan ada lagi suara ibunya yang membangunkannya ketika dirinya bangun kesiangan, tidak akan lagi ada ibunya yang selalu menyediakan makan pagi begitu dirinya bangun tidur. Semuanya harus dilakukannya sendirian.

“Ahh… aku lelah!” keluh Jaenna yang memaksa dirinya untuk segera bangun. Banyak hal yang harus dikerjakan hari ini. Membersihkan flatnya salah satunya, berbelanja bahan makanan untuk dirinya sendiri serta pergi ke toko buku untuk membeli buku-buku referensi yang akan digunakannya selama masa perkuliahan.

Hidup sendirian tanpa orang tua dan teman memang tidak mengenakkan, tetapi bila sudah terbiasa hal itu justru akan melatih kemandirian, dan itu yang sedang Jaenna terapkan pada dirinya sendiri sekarang. Hidup mandiri….

*****

“Kebencian itu terjadi secara sepihak. Kita bisa membenci orang lain tetapi belum tentu orang itu tahu kebencian kita padanya, belum tentu orang itu membenci kita….” Jaenna menatap nanar layar handphonenya yang digunakannya untuk membuka sebuah blog, “Benar. Mereka belum tentu membenciku tetapi aku membenci mereka. Kebencian ini memang sepihak. Tetapi bagaimana caranya agar kebencian ini hilang? Hidup dengan menanggung kebencian seperti ini sangatlah menyesakkan.”

Mata sehitam mutiara rusa betina itu menatap bulir hujan yang tiba-tiba turun ditengah perjalanannya menuju flat usai berkunjung ke toko buku. Terlalu mencintai buku hingga membuat yeoja cantik yang pada akhir tahun nanti genap berusia 24 tahun itu lupa waktu bahkan lupa bila tadi perutnya belum diisi sama sekali.

“Hujan seperti ini membuatku merana….” keluh Jaenna.

Duduk sendirian di halte ditemani suara hujan deras membuat gadis cantik itu semakin remuk redam. Entah bagaimana caranya hujan selalu mengingatkannya pada kenangan masa lalunya yang bisa dibilang tidak begitu indah namun sayang untuk dilupakan begitu saja. Hujan… hujan selalu mengingatkannya pada sosok namja itu, namja yang sudah memporak-porandakan hatinya, namja yang sudah menghianatinya, namja yang sebentar lagi akan menikahi yeoja lain, namja yang pernah menumbuhkan pohon di hatinya namun juga meancapkan belati berkarat tak kasat mata yang membuat hatinya tercabik-cabik, berdarah dan terluka parah. Terlalu parah hingga sekarang luka itu masih terasa sakit.

Aish!”

Jaenna tersentak dari lamunannya begitu mendengar suara yang sepertinya pernah didengarnya di suatu tempaat, entah dimana. Ditolehkannya kepalanya ke arah kanan, di sana sudah berdiri seorang namja berjas putih tengah membersihkan noda yang terciprat pada permukaan celana hitam dan jas putih panjangnya. Jaenna mengamatinya dalam diam.

“Hujan menyebalkan!” rutuk namja bermata kecil namun tajam itu.

“Ya. Hujan yang menyebalkan.” Gumam Jaenna pelan.

“Apa kau juga terjebak oleh hujan ini?”

Eoh?” kembali Jaenna tersentak kaget, sepertinya dirinya terlalu sering melamun akhir-akhir ini sehingga pikirannya menjadi tidak fokus.

“Hujan kadang mengacaukan semuanya.” Namja itu mendudukkan dirinya di kursi sebelah kanan Jaenna, “Namaku Jung Yunho.” Namja itu mengulurkan tangannya pada Jaenna.

Sedikit ragu namun Jaenna tetap menyambut uluran tangan itu, “Kim Jaenna.” Ucapnya, bisa dirasakannya tangan namja itu terasa sagat dingin dan kuat saat menggenggam tangannya.

“Kau mahasiswa baru?” tanya Yunho ketika melihat setumpuk buku yang diletakkan Jaenna diantara mereka, “Sastra? Kau menyukai sastra?”

Jaenna menggangguk pelan.

“Siapa sastrawan yang menginspirasimu?”

“Rendra.” Jawab Jaenna.

“Woah, sang maestro.” Yunho mengangguk-anggukkan kepalanya, “Kau pasti berasal dari luar kota, kan?”

Lagi, Jaenna mengganggukkan kepalanya sebagai jawaban.

“Ah, lulus SMA ya…. Masa muda memang sangat menyenangkan.” Yunho menyandarkan punggungnya pada punggung kursi, menyamankan duduknya, “Apa teman-teman SMAmu tidak ikut kuliah di sini bersamamu?”

Jaenna mengerutkan keningnya, “Teman-teman SMAku sudah memiliki anak.”

Mwo? Bagaimana bisa?” Yunho tidak ragu menunjukkan wajah terkejutnya.

“Aku lulus SMA lima tahun yang lalu dan kebanyakan teman-teman SMAku sudah menikah.” Jaenna menjelaskan.

“Ah, maaf… wajahmu menunjukkan kau masih pantas memakai seragam SMA.” Yunho tersenyum. “Dan sepertinya hujan akan bertahan sampai sore.” Ucapnya sambil mengutak-atik handphonenya.

Jaenna diam saja, enggan menyahut omongan Yunho. Situasi yang sama dengan orang yang berbeda. Tuhan sepertinya sedang menyindirnya sekarang.

Dulu ditengah hujan seperti ini ‘dia’ menggenggam tangan Jaenna erat, menyalurkan kehangatan diantara gempuran udara dingin. Kini Jaenna duduk diam bersama namja asing yang sama-sama mencari perlindungan dari hujan yang entah kapan akan berhenti ini.

Sebuah mobil tiba-tiba berhenti di dekat halte.

Yunho berdiri dari duduknya, “Mau ku antar sampai tempat tinggalmu?” tanyanya menawarkan.

“Huh?”

Namja jangkung berwajah tampan itu tersenyum, membuat matanya terlihat seperti bulan sabit yang indah, ditunjuknya mobil yang berhenti di dekat halte tempat mereka berteduh, “Jemputanku. Kalau kau mau aku bisa….”

“Aku lebih suka menunggu hujan reda di sini sendirian.” Jawab Jaenna. Bagaimana bisa dirinya ikut namja asing yang baru dikenalnya beberapa menit yang lalu itu sementara yang menjemput namja bernama Yunho itu adalah seorang perempuan cantik. Sudah tentu perempuan itu kekasih Yunho, kan? Karena itulah Jaenna menolak walaupun sebenarnya dirinya sangat ingin segera berada di dalam flat kecilnya bergelung di dalam selimut yang hangat.

“Baiklah. Selamat menunggu.” Yunho segera berlari menerjang hujan menuju mobil yang terparkir di dekat halte.

Jaenna hanya bisa mengawasi semuanya, hingga akhirnya mobil itu berjalan perlahan dan menghilang di dalam rintikkan hujan yang semakin deras mengguyur.

“Ah… aku iri.” Gumam Jaenna. “Aku juga ingin punya seseorang yang bisa menemaniku yang selalu kesepian dan sendirian ini.”

Dalam penantiannya, Jaenna memikirkan banyak hal. Mungkin beginilah seharusnya hidupnya berjalan. Sendirian…. Sendirian yang mengajarkannya ketegaran hidup. Ditemani rintik hujan gadis cantik itu melewatkan hari itu sendirian.

Sendirian tanpa seorang pun menemaninya.

 .

.

.

.

.

I beg you! Please baca warningnya dulu karena nantinya Yuuki tidak mau disalahkan.

Resiko ditanggung sendiri!

Kalau masih berani silahkan cek link ini: 

http://nulisbuku.com/books/view_book/6282/another-girl

Revenge IV

 

 

Tittle                : Revenge IV

Writer               : NaraYuuki

Betta Reader     : Hyeri

Genre               : Romance/ Modern Fantasy/ dsb.

Rate                 : M

Cast                 : All member DBSK (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan) and Others. Seiring bertambahnya Chap castnya pun akan disesuaikan.

Disclaimer:       : They are not mine but this story is mine, NaraYuuki

Warning           : This is YunJae Fan Fiction (Boys Love), M-Preg. Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut. Paragraf/ dialog yang penulisannya menggunakan Blod, Italic ataupun under line berarti itu adalah kejadian dimasa lampau (flash back), TANPA EDIT.

.

.

.

.

.

 

PASTIKAN BACA WARNINGNYA DULU

Penceritaan di Chap ini agak cepat karena Yuuki sok sibuk :)

.

.

R3

.

.

“Bagaimana bila membuatnya menjadi bagian dari kita?”

“Jangan gila, Hyung!”

Jaejoong tersentak kaget dari tidurnya dan langsung terduduk di atas ranjang Yunho. Mata kelamnya mengerjab-ngerjab beberapa saat lamanya sebelum menyapukan pandangannya ke sekeliling ruangan tempatnya berada.

Yunho memelototi Changmin tajam, “Kau membangunkannya!” desisnya marah. Yunho ikut mendudukkan dirinya di samping Jaejoong, mengamati wajah bingung namja cantik miliknya sesaat sebelum meraih Jaejoong ke dalam pelukannya.

“Badanku lemas….” gumam Jaejoong.

“Itu karna Yunho hyung menghisapmu terlalu banyak.” Sahut Changmin. Disodorkannya cairan berwarna merah bening serupa sirup stawberry pada Yunho, “Obat penambah darah yang akan langsung bekerja lima menit setelah meminumnya. Aku akan keluar mencari udara segar sebentar.” Ucapnya yang langsung pergi begitu saja tanpa menunggu komentar Yunho.

“Jae, minumlah dulu.” Yunho hendak melonggarkan pelukannya tetapi Jaejoong justru melingkarkan kedua lengannya di sekitar pinggang Yunho, erat. “Lemasmu akan hilang setelah kau meminumnya.”

Jaejoong menggelengkan kepalanya pelan, mengusap-usapkan wajahnya pada permukaan dada bidang Yunho dengan manja seperti seorang anak kecil.

“Ayah dan saudaramu terlalu memanjakanmu, kan?” gumam Yunho, “Aku memaksamu Jae!” Yunho mendorong Jaejoong dengan tangan kirinya, menahan bahu namja cantik yang kini merengut kesal kepadanya. Tangan kanannya yang sedang memegang gelas berisi minuman penambah darah dari Changmin itu mendekat hingga permukaan gelasnya menempel pada bibir Jaejoong, memaksa namja cantiknya untuk meneguk minuman itu hingga habis.

Bruk!

Jaejoong kembali menghambur memeluk Yunho usai menghabiskan minumannya.

“Rasanya enak?” tanya Yunho ragu. Diletakkannya gelas kosong itu di atas meja di samping tempat tidurnya.

“Manis seperti madu walau ada pahitnya juga.” Sahut Jaejoong, “Yun….”

“Hm?”

“Bagaimana caraku pulang bila ada bekas gigitanmu di leherku?” tanya Jaejoong dengan suara yang terdengar seperti orang mengantuk.

Yunho tersenyum, “Aku akan menghilangkannya.”

“Caranya?”

Bukannya menjawab, Yunho justru mengecup bekas gigitan yang menodai leher jenjang Jaejoong, mengecup kemudian menghisap kuat-kuat bekas luka itu seolah sedang menghisap racun ular dari dalamnya.

“Ugh!” Jaejoong melenguh. Jemarinya mencengkeram kuat punggung kaus Yunho hingga kisut. Rasanya sedikit nyeri dan dingin. Jaejoong melirik kaca lemari yang berada tidak jauh dari ranjang tempatnya dan Yunho berada untuk melihat apa yang sedang Yunho lakukan padanya.

Yunho menjauhkan bibirnya dari permukaan leher Jaejoong sebelum drinya lepas kendali dan kembali menggigit namja cantik itu. Tidak ada lagi bekas gigitan pada leher Jaejoong, hanya ada bekas merah dan basah.

“Nah, sekarang Chunie akan menggorokku karena bekas merah ini!” gerutunya.

“Tidak akan ku biarkan dia melukaimu.” Ucap Yunho, “Aku akan mengantarmu pulang.”

“Luar biasa. Kalau begitu kaulah yang akan digorok oleh Chunie.”

.

.

Yunho jarang sekali, bahkan belum pernah mengantarkan orang yang dikencaninya pulang usai melakukan kegiatan mereka, bisa kegiatan apa saja. Tetapi pengecualian untuk Jaejoong. Yunho ingin memastikan Jaejoong sampai di rumahnya dengan selamat. Yunho sendiri tidak tahu kenapa dirinya bisa sangat peduli pada namja cantik yang kadang agak ketus itu. Mungkin awalnya karena wajah Jaejoong serupa dengan Youngwoong, perempuan yang pernah mengisi dan sangat berarti untuk Yunho. Namun akhir-akhir ini Yunho yakin kalau bukan hanya itu saja yang melatarbelakangi ketertarikan Yunho pada Jaejoong mengingat ada aroma dari yeoja yang sangat dibenci Yunho menguar dari dalam tubuh Jaejoong. Terlepas dari apapun alasannya, sekarang Jaejoong adalah milik Yunho dan Yunho tidak akan membiarkan apa yang sudah menjadi miliknya terlepas dari genggamannya.

“Kau pasti anak orang kaya sampai kau bisa mengendarai mobil pribadi ke rumah kami.” Yoochun berkacak pinggang di depan pintu rumahnya –rumah dinas Appanya. Tatapannya sengit dan sedikit curiga ketika melihat Yunho mengantar pulang saudaranya.

“Aku menjadi anak orang kaya untuk namja Chinguku. Jaejoong.” sahut Yunho.

Yoochun mendengus sebal, “Kau adalah namja chingu Joongie? Ya, aku tahu. Joongie sudah mengatakannya padaku tadi sebelum pergi. Jadi jangan mengatakan apa yang sudah ku tahu! Itu memuakkan.”

“Bagus.” Ucap Yunho.

“Kalia berdua sangat menyebalkan!” Jaejoong menatap tajam Yunho dan Yoochun bergantian sebelum masuk ke dalam rumah, rasanya jengah juga melihat saudara dan namja chingunya saling melempar tatapan tajam seperti yang kini Yunho dan Yoochun lakukan.

“Dan tahukah kau Jung Yunho? Sekali kau mendeklarkan dirimu sebagai miliknya, Joongie tidak akan melepaskanmu. Yah, saudaraku itu sangat posesif jadi berhati-hatilah!”

“Aku akan sangat menikmatinya kalau begitu.” Ucap Yunho yang berjalan mengikuti Jaejoong, mengabaikan tatapan tajam yang Yoochun berikan padanya.

.

.

Jaejoong hendak menutup pintu kamarnya ketika tiba-tiba saja Yunho masuk dan mendudukkan dirinya di atas ranjang Jaejoong tanpa permisi, mendatangkan tatapan tajam penuh selidik dari namja cantik pemilik mata seindah mutiara rusa betina itu, “Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah kau harusnya pulang?”

“Aku hanya ingin melihat seperti apa kamar kekasihku.” Jawab Yunho asal. Diedarkannya mata setajam musang miliknya itu untuk melihat isi kamar Jaejoong yang ternyata dipenuhi berbagai macam hiasan berbentuk gajah, kucing yang paling terkenal di dunia –hello kitty dan sebuah lukisan abstrak aneh berwarna agak kelam di sudut ruangan dekat rak buku kecil.

“Lukisan itu di kirim Umma bulan lalu ketika aku masih di Jepang.” Ucap Jaejoong yang melihat kemana arah pandang Yunho berpusat.

“Saudaramu memiliki lukisan seperti itu juga?”

“Chunie? Ani. Umma memberikan sebuah bola yang ditandatangani oleh pemain basket idola Chunie. Aku lupa namanya karena aku tidak peduli.” Jawab Jaejoong, “Chunie bahkan memaksa Appa membelikannya lemari kaca untuk menyimpan bola itu.”

“Kau iri?”

Jaejoong melepas syalnya, “Semua hal dalam diri Chunie membuatku iri.” Jaejoong meraba bagian bawah dada sebelah kirinya dimana jantungnya berdetak, “Banyak hal yang tidak bisa ku lakukan karena ini.”

Yunho bisa melihat ada genangan air mata yang menggantung di mata indah Jaejoongnya.

“Pulanglah! Aku ingin istirahat. Bila kau ingin bicara padaku kita bisa melakukannya esok hari karena aku juga punya banyak pertanyaan untukmu.” Jaejoong berjalan ke arah ranjang, mengabaikan Yunho yang terus menatapnya, namja cantik itu merebahkan dirinya di tempat tidurnya, “Ah… sebagai bayaran atas apa yang kau lakukan padaku tadi, besok kau harus menjemputku! Kau mengerti?!”

Yunho mencodongkan tubuhnya pada Jaejoong, mencium bibir merah darah itu sesaat sebelum mengelus wajah pucat Jaejoong, “Tidurlah! Aku akan meminta Changmin membuatkan kapsul penambah darah untukmu.” Bisiknya seperti alunan pengantar tidur untuk Jaejoong.

.

.

“Changmin. Apa dulu Umma mencintai kita?” tanya Yunho ketika melihat adiknya itu mengendus-endus makanan yang tadi siang dibawa oleh Jaejoong ke rumah mereka.

Eoh? Molla. Mungkin saja, Hyung. Aku lupa. Lima ratus tahun lamanya memikirkan cara mematahkan kutukan sialan ini, berusaha meneliti berbagai macam obat membuatku melupakan orang tua kita, bahkan seperti apa wajah mereka pun aku tidak ingat.” Jawab Changmin yang mulai menjilat kimchi buatan Jaejoong.

Kruyuuuuuuukkkkkkk!

Changmin menatap kakaknya yang tengah mendelik padanya, “Hyung?” gagapnya.

“Apa itu bunyi perutmu, Jung Changmin?”

Changmin menelan ludahnya susah payah. Bagaimana bisa dirinya yang selama lima ratus tahun ini tidak pernah merasakan lapar, tiba-tiba karena menjilat masakan buatan Jaejoong langsung berimbas pada perutnya yang berbunyi minta diisi?

“Apa kau merasa lapar?”

Changmin mengangguk pelan, “Tiba-tiba sangat lapar, Hyung.” Jawab Changmin yang langsung melahap makanan di depannya, “Bukankah ini sangat mencurigakan, Hyung?”

Yunho menatap Changmin yang sedang melahap makanannya dengan sangat rakus tanpa berniat memberikan komentar.

“Kau… sejak bertemu Jaejoong, kau jadi tidak bisa mengendalikan dirimu sendiri. Bahkan berkali-kali ku rasakan kau nyaris kehilangan kendali atas dirimu.” Ucap Changmin disela kegiatan mengunyahnya, “… dan aku merasakan kelaparan setelah lima ratus tahun. Aku harus menyelidiki siapa Park Jaejoong sebenarnya terlepas dari kesamaan wajahnya dengan Youngwoong.”

“Lakukan saja!” sahut Yunho, “Tetapi setelah kau menghabiskan makanan itu buatkan tablet penambah darah untuk Jaejoongku.”

“Eh?” Changmin menatap kakaknya, “Jangan katakan kalau kau akan terus menghisap darahnya, Hyung! Kau bisa membunuhnya lebih cepat daripada penyakitnya sendiri!”

“Lakukan saja perintahku, Changmin!”

.

.

Jung Yunho, hm? Kau yakin dia orang yang sama?”

Yakin sekali.”

Yeoja itu melingkari bibir gelasnya menggunakan jari telunjuknya yang lentik bercat merah darah,Baiklah! Kau bisa memulai rencana semula. Membunuhnya!”

.

.

TBC

.

.

Halo, Hyeri imnida, bagapsumnida. Karena Kiki sedang pergi kemah jadi saya diminta untuk mempostkan FF ini. Kiki juga menyampaikan permintaan maaf karena belum bisa membalas feed back yang masuk satu per satu.

Selamat membaca :)

.

.

Wednesday, August 06, 2014

3:35:44 PM

NaraYuuki