Suprasegmental III

Tittle                : Suprasegmental III

Writer               : NaraYuuki

Genre               : Romance/ Adventure/ fantasy kerajaan/ Incest

Rate                 : -M

Cast                 : Member DBSK (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan).

Disclaimer:       : They are not mine but this story is mine, NaraYuuki

Warning           : This is YunJae Fan Fiction (Boys Love). M-Preg. Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut.

.

.

.

.

.

PASTIKAN BACA WARNINGNYA DULU

EPEP INI KHUSUS BUAT EMAK IFA DAN PARA KUTIL TERSAYANG YUUKI :D

.

.

Suprasegmental untuk para kutil

.

.

Setelah menunggu selama satu bulan lamanya, kemarin surat balasan dari Yang Mulia Raja beserta bala bantuan yakni berupa 10 orang prajurit pilihan –prajurit rahasia yang berada dibawah perintah langsung Yang Mulia Raja akhirnya datang. Ke-10 prajurit itu kini tenaganya dipinjamkan pada Jaejoong. Selain surat balasan atas pengaduan Jaejoong dan para prajurit yang dimintanya, Jaejoong pun mendapatkan sebuah surat pribadi langsung dari Yang Mulia Raja.

“Apa isinya?” tanya Yunho yang sedang mengasah pedangnya dan pedang Jaejoong senja itu di pendopo ditemani gerimis tipis yang membuat udara disekitar mereka terasa lembab dan sedikit dingin.

Jaejoong meletakkan lembar surat itu di hadapan Yunho. “Permintaan maaf karena Tun Putri kabur dengan pria lain. Yang Mulia Raja berjanji akan menghukum mereka bila mereka berhasil ditemukan.” Jawab Jaejoong, “Prajurit pilihan Raja sudah berhasil melacak keberadaan mereka. Ku harap mereka bisa kabur ke Negara tetangga dan tidak usah kembali kemari selamanya.”

Yunho tersenyum, “Kenapa?”

“Kita berdua tahu tabiat Yang Mulia Raja dengan baik. Beliau hendak menghukum pancung Putri dan kekasihnya bila mereka tertangkap, Raja selalu memegang kata-kata yang terlontar dari mulutnya. Walaupun putrinya sendiri beliau pasti akan tetap menjatuhkan hukuman pancung itu. Karenanya aku berharap Tuan Putri dan kekasihnya tidak tertangkap. Mereka berhak bahagia karena mereka saling mencintai walaupun terlihat aku yang menjadi korban disini tetapi pada kenyataannya aku bukanlah korban karena sejak awal aku memang tidak menginginkan pernikahan itu.” Jaejoong menyerahkan sebuah amplop pada Yunho.

“Apa itu?” Yunho meletakkan pedang dan kain yang digunakan untuk mengelap pedang indah itu pada sisi kiri tubuhnya sebelum mengambil amplop dari tangan Jaejoong.

“Ketua prajurit kiriman Raja mengatakan bahwa surat itu berasal dari Putra Mahkota yang ditujukan untukmu.” Ucap Jaejoong, “Aku tahu kau memang berteman baik dengan putra mahkota, tetapi aku tidak menyangka kalian saling mengirim surat tanpa sepengetahuanku.”

“Kami mendiskusikan sesuatu tentu saja.” Yunho membuka amplop itu dan mengeluarkan isinya.

“Apa yang kalian diskusikan?” tanya Jaejoong.

Yunho tersenyum menggoda pada Jaejoong, “Cara membawamu kawin lari salah satunya.”

“Jung Yunho!”

“Tentu aku masih memikirkan hal itu, Boo.” Yunho mulai membaca surat yang diperuntukkan untuknya itu dengan teliti.

.

Hoi Jung Yunho! Beraninya kau…

Aku tidak akan peduli bila namja yang kau kencani dan menjadi obsesimu itu adalah orang lain, tetapi… beraninya kau! Kim Jaejoong adalah keponakanku! Kau brengsek! Ingatkan aku untuk menghajarmu bila kita bertemu nanti.

Perihal bantuan yang kau minta, untuk saat ini aku belum bisa memberikannya padamu mengingat kemarahan ayahku karena adikku kabur bersama pemuda dari kalangan rakyat jelata. Aku tahu kau pasti bahagia karena Jae tidak harus menikah dengan adikku. Tetapi kau bisa memegang janjiku bahwa ketika emosi ayahku mulai turun, aku akan mengutarakan permohonan bantuanmu. Aku sendiri yang akan menjamin keselamatanmu dan Jaejae manisku. Jadi jangan khawatir! Jagalah dirimu sendiri dan Jaejaeku, aku perintahkan hal itu padamu!

Aku akan membagi sedikit kabar bahagia untukmu, Jung pabo yang selalu berpikir untuk membawa keponakanku kawin lari. Uri Youngsaeng tengah mengandung 2 bulan. Aku berharap kau tidak menghamili uri Jaejae sebelum status hubungan kalian jelas.

Sahabatmu, Kim Hyunjoong.

.

“Bahkan Youngsaeng hyung hanya seorang simpanan. Bagaimana bisa Putra Mahkota setenang itu menghadapi kehamilannya?” gerutu Jaejoong sambil meremas surat dari Putra Mahkota yang diperuntukkan untuk Yunho yang juga ikut dibacanya.

“Youngsaeng hyung sudah menjadi selir Putra Mahkota, Boo. Bukan lagi seorang simpanan.” Yunho mengoreksi.

“Tetap saja kedudukannya di masyarakat tetaplah seorang simpanan, rendah dan tidak bermartabat.” Ucap Jaejoong dengan nada kesal dan jengkel.

Yunho tersenyum, berusaha memahami perasaan namja cantiknya “Kau adalah satu-satunya untukku, Boo. Andaikan kau mau aku ajak kawin lari.”

“Berhenti mengatakan hal konyol seperti itu, Jung Yunho!”

Arraso. Saat ini kita harus fokus pada pekerjaan dulu, kan?” tanya Yunho.

“Bagaimana soal undangan dari menantu wali kota Bollero?” tanya Jaejoong, “Kita berdua tahu kalau bangsawan yang satu itu sangat licik dan brengsek! Bahkan bawahanku dikantor kehakiman pun memperingatkanku untuk berhati-hati pada pria itu.”

“Aku dan Yoochun yang akan datang memenuhi undangannya. Jangan khawatir!” Yunho mengusap wajah pucat Jaejoong yang memerah akibat bias redup matahari yang hampir terbenam.

“Aku pun mendapat undangan serupa.” Ucap Jaejoong. Dibukanya lembaran laporan yang berada di sampingnya, mengambil sebuah amplop yang terselip pada salah satu halamannya untuk diserahkan pada Yunho, “Orang bernama Lee Hongman itu benar-benar merepotkan. Dia tidak kooperatif (kerja sama) ketika aku dan Changmin menanyainya berkaitan dengan pajak yang harus diberikannya, berbeda dengan para bangsawan lain yang walaupun awalnya alot tetapi mereka tetap bersedia mentaati peraturan pemerintah. Tapi Lee Hongman berbeda, Yun. Caranya bicara dari awal sampai akhir mengisyaratkan bahwa dia orang yang licik, tidak mau kalah dan tunduk pada siapapun seolah-olah dia tidak takut pada apapun termasuk pada hukum.”

“Kita tahu tidak akan mudah bukan, Boo….”

“Rasanya kali ini berbeda, Yun.”

“Kita akan baik-baik saja.” Yunho tersenyum.

“Aku menolak ketika Lee Hongman mengatakan pertemuan yang digagasnya akan diselenggarakan di rumah para gisaeng. Mungkin aku melakukan kesalahan karena kemudian dia mengatakan lebih baik perjamuan itu diadakan di rumahnya agar aku merasa nyaman.”

“Dimataku semua hal yang kau lakukan tidak pernah salah sedikit pun, Boo.”

“Kalau bgitu ubah cara berpikirmu, Jung Yunho!”

“Dan seandainya kau tidak merasa nyaman, kita tidak perlu datang langsung. Maksudku, kita bisa mengutus Yoochun dan Changmin selaku wakil kita untuk datang menggantikan kita.”

“Apa tidak apa-apa? Apa mereka akan baik-baik saja?” tanya Jaejoong yang hanya dibalas senyuman oleh Yunho.

“Mereka lebih tangguh daripada yang terlihat. Tenanglah Boo….” Yunho mengusap helaian rambut Jaejoong yang tergerai perlahan-lahan, “Lagi pula bukankah kita harus menyelediki sesuatu terkait laporan yang diberikan oleh bangsawan Bong?”

Jaejoong meraih jemari Yunho, menggenggamnya kuat-kuat. “Kalau terjadi sesuatu padamu aku betjanji akan mengerahkan seluruh kekuatanku untuk….”

Yunho mencium sekilas bibir merah merekah Jaejoongnya, tersenyum tulus seolah mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja, “Akulah yang seharusnya  berkata seperti itu, Boo. Bila terjadi sesuatu padamu, akan ku binasakan mereka dengan tanganku sendiri!”

“Jangan menyentuhku sehangat ini atau aku akan menyerangmu saat ini juga, Jung Yunho!” Jaejoong mengingatkan.

“Suatu kehormatan bagiku bila kau menyerangku Boo.” Yunho masih memasang senyum menawan yang membuatnya terlihat semakin tampan, “Aku akan berpasrah diri seandainya kau yang menyerangku.”

Jaejoong mendorong tubuh Yunho yang condong ke arahnya ketika mendengar langkah kaki pengawal yang menjaga mereka di rumah mendekat untuk menyalakan obor dan lampion sebagai penerangan.

“Ck…. Mengganggu saja.” Gerutu Yunho. “Kenapa prajurit raja tidak berjaga di sini saja, Boo?”

“Mereka tinggal di gedung kehakiman dan kepolisian atas perintah Yang Mulia raja sendiri. Mereka tidak akan berani melanggar perintah itu.” jawab Jaejoong.

“Tuan, makan malam sudah siap.” Ucap seorang dayang yang baru datang, “Anda berdua ingin makan sekarang atau nanti?” tanyanya.

“Sekarang.” Jawab Yunho. “Hidangkanlah sekarang karena nanti kami punya urusan yang harus kami selesaikan.” Senyum tidak luntur dari bibir Yunho walaupun Jaejoong memberikan delikan padanya.

.

.

Sejak semalam hujan turun dengan sangat deras tanpa menunjukkan tanda-tanda akan berhenti, aroma tanah menyeruak naik menggoda indera penciuman, kabut pekat turun dan awan mendung masih mengantung pada garis langit sejauh mata memandang. Ketika Jaejoong menggeser jendela kamarnya, udara dingin itu segera memeluk tubuhnya erat seolah hendak meremukkan tulangnya. Jaejoong hendak menjulurkan tangannya ke luar jendela agar air hujan menjilatinya ketika tangannya dicengkeram kuat oleh Yunho.

“Jangan coba-coba, Boo!” Yunho memperingatkan, “Aku tidak mau kau jatuh sakit.”

“Kau terdengar seperti kakekku, Yun.” Gerutu Jaejoong. dibiarkannya Yunho menyampirkan selimut pada bahunya.

“Aku akan meminta pelayan menyiapkan bubur dan sup gingseng untuk menambah staminamu.”

“Jangan perlakukan aku seperti orang lemah!” omel Jaejoong ketika Yunhoo berjalan menuju arah pintu.

“Kau orang yang sangat penting untukku, kau terlalu berharga untuk ku biarkan sakit.” Yunho menggeser pintu kamar Jaejoong yang menjadi kamar mereka kemudian pergi begitu saja meninggalkan sosok cantik itu di dalam kamar sendirian.

“Dia memperlakukanku seperti perempuan.” Keluh Jaejoong. mata selegam mutiara rusa betina itu menengadah ke atas langit dimana sumber hujan berasal. “Tidak akan selalu setenang ini, kan? Badai sebentar lagi pasti datang. Badai yang bisa menghancurkan segalanya. Badai yang menakutkan….” gumamnya.

.

.

“Kenapa caramu melihat kami seperti itu Junsu sshi?” tanya Jaejoong ketika baru menginjakkan kaki di ruang kerjanya yang berada di gedung kehakiman. Junsu terus menatap ke arahnya dan yunho –lebih kepada dirinya dengan pandangan mata berbinar-binar.

“Eum, Jaejoong sshi, kalau boleh aku ingin sekali memelukmu.” Ucap Junsu.

Yah, Junsu!” Yoochun menyenggol lengan Junsu keras-keras, berharap rekannya itu sadar apa yang barusan dikatakannya.

“Mau bagaimana lagi Yoochunie, Jaejoong sshi sangat cantik dan manis.” Ucap Junsu sambil menahan gemasnya.

Jaejoong memelototi Yunho. “Semua ini salahmu karena menyuruhku berpakaian seperti ini!” kesalnya.

Yunho hanya tersenyum, “Peluklah dia! Kasihan Junsu. Aku tidak keberatan bila kau memeluknya karena Junsu satu tipe denganmu, Boo.” Bisiknya.

Usai menginjak kaki Yunho kuat-kuat, Jaejoong berjalan perlahan menghampiri Junsu kemudian memeluk anggota kepolisian yang ditugaskan Yunho untuk menjaganya itu erat.

Yunho yang melihat ekspresi terkejut Junsu pun hanya bisa tersenyum simpul. Jaejoong, Jaejoongnya memang benar-benar menawan. Kali ini Jaejoong memakai setelan mirip seorang pendekar pada umumnya, berwarna jingga dengan perpaduan rompi warna hitam, rambut hitam legamnya yang panjang lagi lurus itu diikat sedikit ke belakang membuat poni dan anak-anak rambutnya tergerai bebas. Sangat wajar bila Junsu gemas melihat penampilan Jaejoong karena Hakim tertinggi Bollero itu kini terlihat sangat cantik dan menawan. Yunho sendiri pun memakai pakaian serupa seperti Jaejoong hanya saja Yunho memilih warna biru air. Hari ini keduanya akan menyelidiki sesuatu sehingga berpenampilan lain dari biasanya.

“Yoochun, Changmin… Kalian harus hati-hati dan tetap waspada ketika berada di kediaman Lee Bongman!” Yunho mengingatkan. Hari ini adalah hari dimana seharusnya Yunho dan Jaejoong memenuhi undangan dari menantu Wali Kota Bollero yang terkenal akan kebengisannya itu, sayangnya Yunho dan Jaejoong harus menyelidiki sesuatu sehingga Yoochun dan Changmin selaku wakil merekalah yang diutus untuk menggantikan keduanya menghadiri acara di kediaman bangsawan Lee.

Ne.” Sahut Yoochun.

Ye, kepala polisi Jung!” jawab Changmin penuh semangat.

“Junsu, kau akan menemani Jaejoong. Kita akan berpisah begitu memasuki hutan. Pastikan kau menjaganya dengan baik!” pinta Yunho.

Junsu mengangguk penuh semangat, “Tentu saja!”

“Apakah perlengkapannya sudah siap?” tanya Yunho.

“Sudah siap.” Jawab Yoochun, “Walaupun sepertinya hujan tidak akan berhenti tetapi sebaiknya anda dan Jaejoong sshi menunggu kabut sedikit memudar agar nanti tidak tersesat di hutan.” Ucapnya memberi saran.

“Prajurit khusus pun sudah membagi tugas sehingga sebagian akan mengawal Hakim Kim.” Jelas Changmin, “Bagaimana pun juga beberapa anggota kepolisian akan ikut dalam misi ini mengingat tingkat bahayanya.”

Bukan perompak maupun penjahat biasa. Yang akan kami selidiki adalah seorang bangsawan kikir yang memiliki kedudukan cukup terhormat dimata masyarakat. Bangsawan yang kemungkinan menjadi momok paling menakutkan dikota ini.” Batin Jaejoong, jemari lentiknya mencengkeram kuat pedangnya. Walaupun benci kekerasan tetapi semalam setelah mendiskusikan kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi dengan Yunho, Jaejoong siap bila tangannya harus digunakannya untuk menebas leher para pendosa.

“Khusus kalian bertiga, Yoochun, Junsu dan Changmin. Aku bebaskan kalian, aku beri ijin kalian untuk mencabut nyawa mereka yang bersalah dengan catatan kondisi yang mendesak dan membahayakan khalayak (masyarakat).” Ucap Yunho.

Ye!” sahut Yoochun, Junsu dan Changmin bersamaan. Ketiganya langsung menyibukan diri dengn urusan masing-masing, menyiapkan senjata salah satu contohnya.

“Berjanjilah kau akan baik-baik saja, Boo!” pinta Yunho.

“Aku berjanji.”

.

.

Tanah yang lembek dan becek, gerimis yang masih turun, kabut tipis yang masih terlihat sejauh mata memandang terasa sangat ironi bila membayangkan kehangatan dan kenyamanan yang disuguhkan oleh bangsawan Lee dalam undangannya. Tetapi tempat yang menyesakkan dan lembab itulah yang dipilih oleh Yunho dan Jaejoong untuk misinya kali ini, misi menantang bahaya.

“Jaga dirimu baik-baik, jangan sampai terluka!” bisik Yunho saat mengeratkan pelukannya pada Jaejoong tanpa risih ditatap sedemikian rupa oleh bawahan mereka. Yunho ingin memeluk tubuh hangat itu lebih lama lagi, ingin menyesap manisnya bibir merah delima itu sebelum berpisah tetapi tekanan perasaannya yang menggebu itu harus diakhiri sekarang atau semuanya akan sia-sia.

Jaejoong melepaskan pelukan Yunho sedikit paksa, “Aku akan baik-baik saja, aku berjanji padamu.” Ucapnya sebelum berbalik menatap para anak buah yang akan menyertainya melakukan penyelidikan, tentu saja Junsu termasuk di dalamnya, “Semoga jalan yang kita lalui nanti tidak sesulit kelihatannya. Mari berangkat!”

Yunho hanya menatap sendu bahu Jaejoong yang mulai memudar ditelan kabut pucat hutan yang lembab dan menyesakkan. Ada perasaan tidak rela menyeruak ke dalam hatinya yang berteriak histeris ingin agar Jaejoong tetap bersamanya mengigat ini adalah kali pertama mereka berpisah –dipisahkan oleh tugas dan bahaya.

“Satu hal yang ingin ku sampaikan pada kalian, jangan sampai mati!” ucap Yunho sebelum bergerak ke arah berlawanan dengan jalan yang diambil oleh Jaejoong dan rombongannya tadi. “Aku bersumpah, bila kau terluka dalam misi ini, akan ku hancurkan, akan ku bunuh siapa saja yang sudah berani melukaimu, Boo.” Batin Yunho.

.

.

“Jaejoong sshi, harap berhati-hatilah! Jalanannya sedikit landai (miring) dan licin. Akar-akar pepohonan yang mencuat ke atas permukaan tanah bisa membuat kita terantuk (tersandung).” Junsu yang memimpin perjalanan mengingatkan, mengingat jalanan yang harus mereka lalui memang landai dan licin akibat gerimis yang terus mengguyur. Hal itu masih diperparah dengan akar-akar pepohonan licin berlumut yang mencuat di atas permukaan tanah, mempersulit medan yang memang sudah sangat sulit.

Jaejoong yang baru pertama kali berjalan melewati jalanan hutan sedikit tertatih mengimbangi pergerakan Junsu yang gesit. Beberapa kali Jaejoong terpleset dan nyaris terjungkal jikalau para bawahannya tidak siaga untuk membantunya. Tetes gerimis membasahi rambut dan sekujur tubuhnya tetapi Jaejoong tetap memerintahkan untuk melanjutkan perjalanan menuju desa Miduhyo, desa yang berada dimuara sungai Rotten, sungai yang mengaliri sepanjang wilayah provinsi Bollero. Ada hal yang harus diselidiki di desa yang mayoritas penduduknya bekerja sebagai nelayan itu, sesuatu yang berkaitan dengan kejahatan terbesar namun juga tidak pernah terungkap di Bollero.

“Junsu sshi, lebih baik kita istirahat sebentar.” Usul salah seorang anak buah yang berjalan di samping Jaejoong, “Hakim Kim sepertinya kelelahan. Wajahnya sangat pucat.” Ucapnya penuh kekhawatiran.

“Asal kau tahu, kulitku memang pucat sejak lahir.” Jaejoong melirik anak buah yang dipinjamkan oleh Raja padanya itu dengan tatapan sedikit mengintimidasi. “Dan ku yakinkan padamu bahwa aku tidak apa-apa.”

“Kita bisa beristirahat di kedai teh yang paling terkenal di desa Miduhyo sekaligus mengumpulkan informasi.” Ucap Junsu, “Sekitar lima belas menit lagi kita akan sampai.”

“Junsu sshi….” panggil Jaejoong, “Jangan lupa penyamaran yang sudah kita sepakati nanti!”

Ne. Jaejoong sshi adalah sepupuku yang berasal dari Provinsi Ballon di Utara dan datang kemari untuk belajar sebelum mengikuti tes masuk anggota kepolisian negara.” Sahut Junsu mendatangkan senyum pucat dari Jaejoong.

Samar-samar mulai terlihat kepulan asap dari atap-atap yang terbuat dari jerami, genting dari tanah liat maupun dari papan dan dedaunan kering. Terlihat sangat indah dimata Jaejoong karena bagaimanapun juga selama ini dirinya dibesarkan di ibu kota negara, dikawasan istana mengingat dirinya masihlah kerabat raja.

“Kelihatannya sudah dekat.” Gumam Jaejoong.

“Sekitar sepuluh menit lagi.” Jawab Junsu, “Tapi masalahnya sepuluh menit itu akan terasa sangat melelahkan.”

“Kenapa?” tanya Jaejoong.

Junsu menunjuk jalanan setapak yang menuju ke bawah, “Kita harus berjalan di pinggir sungai untuk sampai ke desa Mihduyo karena jalanan berhenti sampai di sini. Bila kita lurus terus, kita akan berakhir di pinggir jurang.” Junsu menerangkan.

“Kalau begitu ayo kita turun!” ajak Jaejoong.

“Sangat licin.” Gumam Junsu yang kemudian menatap cemas Jaejoong.

“Aku tidak apa-apa, ada kalian bersamaku. Aku tidak akan terluka. Aku janji.” Ucapnya tanpa keraguan.

“Mohon berhati-hati!” Junsu mengingatkan. Namja bersuara unik itu perlahan-lahan menuruni jalanan yang sedikit agak curam itu, berpegang pada dahan pepohonan yang bisa diraihnya agar tidak tergelincir dan jatuh.

Walaupun jalanan curam itu tidak lebih dari dua puluh meter tetapi kecuraman dan licin akibat gerimis membuat usaha menuruninya terasa sedikit berat dan melelahkan. Beberapa kali Jaejoong nyaris terjungkal jika Junsu dan yang lainnya tidak menahan tubuhnya.

“Terima kasih.” Ucap Jaejoong.

“Anda adalah orang berharga yang harus dijaga dan dilindungi.” Junsu tersenyum ketika mengatakan hal itu.

“Kau pun orang berharga, Junsu sshi.” Sahut Jaejoong.

Begitu sampai di tepi sungai, rombongan yang Junsu pimpin itu segera menjumpai beberapa nelayan yang sedang menjaring, memancing atau sekedar merakit (menaiki rakit) sambil memunguti ganggang air yang bisa mereka gunakan untuk membuat benang dari seratnya bila sudah dikeringkan.

“Penduduk di sini biasanya memintal dan merajut sendiri baju serta selimut mereka.” Ucap Junsu ketika melihat ekspresi terkejut pada wajah Jaejoong.

“Luar biasa.” Puji Jaejoong. “Warna airnya sangat jernih serupa warna daun gadung, aliran airnya pun sangat tenang…”

“Namun dalam.” Sambung Junsu, “Sungai Rotten ini adalah sungai terluas dan terpanjang diantara sungai-sungai lain yang melewati wilayah negara kita, Jaejoong sshi.”

Hyung!”

Junsu mengerutkan keningnya mendengar panggilan Jaejoong untuknya.

“Kau sekarang adalah ‘hyung’ ku.” Ucap Jaejoong.

“Ah….” Junsu mengangguk paham. “Mari kita ke kedai teh dulu untuk sedikit menghangatkan tubuh kita.”

.

.

Mengendap-endap Yunho mempimpin beberapa orang anak buahnya menyelinap memasuki sebuah gudang yang berada di pinggir hutan dekat perbatasan dengan provinsi Chaser, provinsi yang terisolasi yang biasanya digunakan sebagai pengasingan bagi para tahanan negara mengingat provinsi itu masih dipenuhi oleh banyak tumbuhan beracun dan binatang liar yang berkeliaran.

“Apa yang berada dalam peti-peti itu?” gumam Yunho, “Apa mereka mencoba menyelendupkan sesuatu yang merugikan negara?”

“Kepala Polisi Jung….” bisik salah seorang prajurit ketika melihat beberapa orang berjalan ke arah mereka.

“Kita sudah sampai sejauh ini. Bila kita sampai ketahuan sedang menyelidiki mereka, maka kita harus membungkam mereka semua.” Ucap Yunho, “Bila kita tidak bisa melumpuhkan mereka secara baik-baik, ku bebaskan kalian untuk membunuh mereka ditempat! Jangan ada seorang pun yang lolos atau semua usaha kita akan sia-sia!”

Ye!” sahut kesemua prajurit yang mendampingi Yunho.

“Ingat pesanku, jangan sampai mati!” ucap Yunho. Tangan kanannya sudah mencengkeram kuat-kuat gagang pedang yang kemarin diasahnya. “Boo, bila aku mati dalam misi ini ku harap kau bisa bahagia dan tegar menjalani sisa hidupmu!”

.

.

Pyaarrrr….

Cangkir teh yang baru saja hendak diminum oleh Jaejoong terlepas dari cengkeraman jemari lentiknya yang tiba-tiba saja bergemetaran.

“Maaf, sepupuku memang sedikit kikuk.” Junsu tersenyum pada orang-orang yang menatap ke arah meja mereka akibat terkejut. “Agashi, bisa minta secangkir teh lagi? Aku akan mengangti biaya cangkir yang sudah sepupuku pecahkan. Terima kasih.” Ucapnya pada pelayan kedai teh.

Napas Jaejoong tersendat, wajahnya kelihatan semakin pucat, mata indahnya menatap gelisah lantai tanah di bawahnya, “Yunho….” gumamnya bersamaan dengan ketakutan yang tiba-tiba saja menyergapnya, meremangkan bulu kuduknya.

“Jaejoongie….” Junsu mengenggam kuat-kuat jemari Jaejoong yang bergetar, “Semua orang melihatmu. Apa kau menginginkan sesuatu? Katakan pada Hyung!”

Jaejoong menatap gelisah orang-orang disekitarnya sebelum memfokuskan mata indahnya untuk menatap Junsu, “Tangkap penjahatnya! Seret mereka ke tiang gantungan!” bisik Jaejoong.

“Dengan senang hati akan Hyung berikan apa maumu.” Ucap Junsu.

.

.

Harabojie, Appa, Yang Mulia Raja… aku sangat menghormati kalian, aku menjunjung tinggi hukum dan keadilan yang selama ini kalian perjuangkan. Tetapi… bagiku ada hal lain juga yang harus aku perjuangkan. Yunho sangat berarti untukku. Maafkan aku seandainya aku menodai kedilan hukum yang selama ini kalian jaga.

.

.

“Kepala Polisi Jung, awas!”

.

.

TBC

.

.

Maaf, pengetikannya sempat terhenti beberapa hari karena insiden Yuuki keracunan makanan dan harus bed rest :) Semoga chap ini tidak mengecewakan. Mian belum bisa balas feed back yang kalian kirim :) Jaga kesehatan. Yang mau Mid semangat belajar ya.

.

.

Saturday, October 04, 2014

10:40:36 AM

NaraYuuki

Revenge VII

Tittle               : Revenge VII

Writer             : NaraYuuki

Betta Reader : Hanabusa Hyeri

Genre             : Romance/ Modern Fantasy/ dsb.

Rate                : M

Cast                : All member DBSK, Jin Yihan, Go Ahra (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan) and Others. Seiring bertambahnya Chap castnya pun akan disesuaikan.

Disclaimer:    : They are not mine but this story is mine, NaraYuuki

Warning         : This is YunJae Fan Fiction (Boys Love), M-Preg. Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut, TANPA EDIT.

.

.

R2

.

.

 

PASTIKAN BACA WARNINGNYA DULU

.

.

.

.

.

“Membandingkan lukisan Kim Youngwoong dengan foto Park Jaejoong?” tanya Changmin, “Apa kau sudah sebegitu bingungnya Hyung? Apakah matamu sudah dibutakan oleh Jaejoong? Atau apakah hasrat yang kau punya kini sudah benar-benar hanya untuk Jaejoong?

Yunho meremas lukisan yeoja yang berada di tangan kirinya kuat-kuat. “Jaejoong dan Youngwoong sangat berbeda. Youngwoong adalah yeoja yang sangat dewasa dan hangat walaupun sedikit tertutup. Sedangkan Jaejoong… dia suka seenaknya, sedikit manja dan memaksa tetapi wajah cerianya itu membuatku…. Membuatku tidak bisa melepaskannya. Membuatku terus mengkhawatirkannya karena kecerobohannya.”

“Kau sudah benar-benar jatuh cinta pada Jaejoong, Hyung?”

Yunho tersenyum bodoh, meraih gelas berisi cairan merah yang akan membantunya mengurangi dahaganya walaupun kini rasanya sedikit aneh bila dibandingkan dengan menghisap cairan yang sama langsung dari leher Jaejoong. “Lima purnama lagi, Changmin. Aku beri kau waktu hingga lima purnama lagi. Bila kau tidak kunjung menemukan penawaran untuk kita, maka akan ku buat Jaejoong bagian dari kita entah kau setuju atau tidak.”

“Wah Hyung…. Kau terlalu menekanku kali ini.” Gerutu Changmin.

“Jaejoong punya batas waktu. Dan aku tidak mau menyia-nyiakan sedetik pun bila berkaitan dengannya.”

“Sebenarnya aku mencurigai sesuatu, Hyung.” Ucap Changmin sambil mengunyah mie ramennya, “Aku akan menyelidikinya sendiri.”

“Apa yang mau kau selidiki?”

“Darah Park Jaejoong.”

.

.

Umma?” lirih Jaejoong ketika melihat yeoja yang sudah melahirkannya itu tersenyum kepadanya.

“Joongie yeoppo sudah  bangun, eoh? Mau makan sesuatu?”

“Joongie namja, Umma.” bibir merah yang kini terlihat pucat itu merengut sebal. “Bukankah harusnya Umma datang minggu depan?”

“Ini sudah minggu depan. Joongie tidur terlalu lama.” Jemari itu mengusap wajah pucat Jaejoong perlahan. Ada duka yang tersirat dari sepasang bola mata coklatnya, “Jangan membuat Umma khawatir lagi, hm? Jantung Umma berhenti berdetak ketika Appamu menelpon Umma dan mengatakan bila Joongie masuk rumah sakit.”

Mianhae….” Jaejoong melirik jam dinding yang tepekur (diam), masih pukul sepuluh pagi rupanya.

Wae?”

“Joongie kangen Berung besar Joongie, Umma….”

“Beruang besar? Mau Umma minta orang mengambilkannya untuk Joongie?” dalam pikiran yeoja yang sudah melahirkan Jaejoong dan Yoochun itu, beruang besar adalah sebuah boneka biasa berukuran besar.

Jaejoong menggelengkan kepalanya pelan, “Beruang besar Joongie sedang sekolah sekarang, Umma.”

“Eh? Boneka beruang bisa sekolah?”

Bibir merah pucat Jaejoong melengkung, “Beruang besar Joongie adalah namja chingu Joongie, Umma.” ucap Jaejoong malu-malu.

Namja… chingu?!” ibu dua anak itu tidak bisa menutupi keterkejutannya, “Namja chingu?” tanyanya memastikan.

Mianhae Umma…. Tapi Yunie Bear sangat tampan dan menggemaskan!” ucap Jaejoong yang kemudian mengigit bibir bawahnya. Jaejoong kembali teringat mimpinya ketika dirinya berada di UKS sekolah. Mimpi yang membuat jantungnya terasa sangat nyeri dan sakit.

Aigoo! Arraso!”

“Berapa lama Umma akan tinggal?” tanya Jaejoong. perasaan sakit dan marah dari sisi lain dirinya keluar. Kekecewaan akibat perpisahan orang tuanya membuat hatinya terasa panas dan nyeri.

“Sedikit lebih lama karena ada urusan yang harus Umma selesaikan disini.” Dirapikannya anak-anak rambut Jaejoong yang mencuat keluar.

Umma tinggal dimana?”

“Sebuah apartemen sudah Umma sewa. Kalau Joongie sudah sembuh Joongie bisa mengunjungi Umma atau menginap untuk beberapa hari di tempat Umma.”

Jaejoong hanya tersenyum. Jaejoong ingin menerima tawaran itu, tapi bila dirinya menginap bagaimana dengan ayahnya? Ayahnya yang selalu tersenyum ceria dihadapannya dan Yoochun namun sangat kesepian itu tidak mungkin ditinggal sendirian. “Umma, Joongie mau apel.”

Arra… akan Umma kupaskan apel untukmu.”

.

.

“Ada apa?” tanya Yoochun ketika tiba-tiba saja Yunho berhenti melangkah, “Kau berubah pikiran dan tidak mau menjenguk Joongie?” matanya menatap Yunho tajam. Bukankah sejak tadi namja bermata musang itu yang terus merecoki dirinya karena ingin menjenguk kembarannya? Kenapa sekarang namja yang terkesan dingin itu tiba-tiba bersikap aneh begini?

Yunho menggelengkan kepalanya, untuk beberapa saat Yunho merasa pikirannya tidak fokus. Hal yang belum pernah terjadi sebelumnya. “Kalau bisa aku akan menculiknya untuk diriku sendiri.” Yunho memasukkan kunci motornya ke dalam kantung celana seragamnya.

“Kau bisa dipenjara bila menculik anak orang! Dasar bodoh!” Yoochun kembali melanjutkan langkahnya, “Perasaanku saja atau tempat parkir ini sedikit lebih sumpek daripada kemarin?” gumamnya.

“Aku rela dipenjara asal bisa menjauhkan Boo Jaeku dari aroma yeoja brengsek itu!” gigi Yunho bergemeretak. “Aromanya semakin kuat dari hari kemarin.” Kedua tangannya mengepal menahan aliran kemarahan yang nyaris memenuhi seluruh tubuhnya.

“Kau ingin makan apa?” Yoochun menoleh pada Yunho tiba-tiba, “Aku belum sempat makan siang di sekolah tadi. Aku akan mampir ke kantin dulu sebelum ke ruang rawat Joongie. Mau ku belikan sesuatu?”

Yunho mengedipkan matanya sekali agar bola matanya tidak memerah. “Kopi. Belikan aku segelas kopi dingin.”

“Kau harus menggantinya nanti.” ucap Yoochun sebelum membelokkan langkah kakinya ke arah kiri tempat kantin rumah sakit berada.

“Sial! Aromanya memenuhi udara, membuatku sesak dan ingin mencabik-cabik daging busuk brengsek itu!” keluh Yunho yang terus melangkah maju menusuri bangsal menuju ruang rawat Jaejoongnya.

.

.

“Yunie?” Jaejoong tersenyum sumpringah ketika melihat namja yang sudah ditunggu-tunggunya berdiri di mulut pintu ruang perawatannya.

Boo, siapa yeoja itu?” tubuh Yunho mengejang ketika melihat tatapan tajam dari yeoja yang berdiri di samping ranjang rawat Jaejoong. Yunho mengepalkan tangannya kuat-kuat, taringnya perlahan-lahan mencuat dan matanya mulai memerah.

Jaejoong yang melihat perubahan namja chingunya menjadi sedikit panik. Jaejoong tidak mau ibunya tahu apa dan siapa sebenarnya namja yang sedang dikencaninya itu, “Yunie….” panggil Jaejoong, berharap suaranya bisa membuat kondisi Yunho yang menurutnya aneh itu sedikit membaik.

Ibu Jaejoong berjalan menghampiri Yunho dengan langkah anggun, pelan namun menyimpan sebuah bahaya yang mengancam. “Kau Jung Yunho? Aku sudah mendengar banyak tentangmu dari Joongieku.” Yeoja itu tersenyum angkuh. “Aku Go Ahra, ibu Joongie.”

Kemarahan Yunho semakin tidak terkendali ketika jemari yang dipoles kutek bermarna merah menyala itu terjulur padanya.

“Aku tidak menyangka kau bisa mengencani putraku.” Ahra masih tersenyum, mengabaikan aura membunuh yang menguar dari dalam tubuh Yunho, “Bukankah harusnya kau sudah tahu sejak awal siapa sebanarnya Park Jaejoong dari aroma tubuhnya yang selalu mengganggumu itu? Atau kau sudah dibutakan oleh hasratmu, huh?” bisik Ahra dengan nada penuh permusuhan.

“Yunie, Umma…. Apa yang kalian bicarakan? Kenapa berbisik-bisik seperti itu?” tanya Jaejoong. selang yang melilit sekujur tubuhnya menyusahkan Jaejoong ketika bergerak sehingga namja cantik itu hanya bisa tertidur di atas ranjang rawatnya sambil memperhatikan apa yang ibu dan namja chingunya sedang lakukan.

Umma hanya ingin mengundang ‘Beruang Besarmu’ untuk makan bersama, Baby.” Sahut Ahra dengan suara sedikit lantang agar Jaejoong bisa mendengarnya. “Tentu saja bila aku belum membunuhmu!”

Secepat kilat lengan kanan Yunho sudah mencengkeram kuat leher wanita yang sangat dibencinya, wanita yang entah kenapa bisa menjadi ibu dari namja chingu yang sangat berarti untuknya, “Kau yang akan mati!” desis Yunho.

Ahra tersenyum meremehkan. “Kau ingin membunuhku? Calon ibu mertuamu?” tanyanya. “Sebelum Joongie melihat apa yang sudah kau lakukan padaku lebih baik kau lepaskan aku! Kita berdua tahu kalau anakku yang sangat cantik itu tidak boleh dikejutkan oleh situasi seperti ini mengingat jantungnya tidak akan bisa menoleransi semua ini.”

Menarik napas dalam, Yunho kemudian melepaskan perlahan-lahan cengkeramannya pada leher Ahra dengan kaku dan penuh emosi. Yunho membiarkan kuku-kuku jarinya yang runcing dan tajam itu menggores leher yeoja yang sangat dibencinya itu, membiarkan kulit leher Ahra mengelupas dan berdarah.

“Ku kira kau akan tergoda oleh darahku.” Ejek Ahra.

“Darah kotor sepertimu hanya akan menjadi racun bagiku.” Balas Yunho. “Darah penyihir laknat yang sangat busuk.”

“Darah inilah yang mengalir dalam tubuh Jaejoongiemu.” Ahra mengingatkan.

Tangan Yunho mengepal hingga buku-buku jarinya memutih, “Boo, aku akan pulang sekarang.” Ucap Yunho.

“Eh? Wae?” tanya Jaejoong sedikit kecewa.

“Changmin mengirimiku sms, katanya dia tersrempet mobil saat akan pergi belanja.” Jawab Yunho, “Aku akan pulang untuk melihatnya. Kau tidak apa-apa kan bila ku tinggal? Aku akan datang kemari lagi begitu memastikan keadaan Changmin.”

Jaejoong merengut kesal, “Arra. Tapi janji harus ke sini begitu Changminie tidak apa-apa, ne.”

Ne.” Sahut Yunho yang langsung berbalik begitu saja.

“Hati-hati Yunho ya.” Ucap Ahra, “Baby….” Ahra menoleh menatap putranya yang memasang wajah bingungnya. Rambutnya yang tergerai panjang dirapikannya untuk menutupi bekas sayatan yang kuku Yunho tinggalkan.

“Umma… Umma sepertinya sudah kenal dengan Yunie. Aku benar kan?” tanya Jaejoong.

Ahra hanya tersenyum, “Umma hanya mencoba mengenal namja yang berhasil merebut hati uri Joongie.” Jawabnya.

.

.

“Jadi Park Jaejoong dan Park Yoochun adalah putra Go Ahra? Hyung serius?” tanya Changmin, dengan susah payah ditelannya kue mochi yang baru dimakannya. “Tapi Hyung…. Bagaimana bisa yeoja itu hidup selama ini? Dia masih manusia kan?”

“Dia penyihir! Dia menjadikan kita menjadi mahluk brengsek seperti ini, kemungkinan apa yang tidak bisa dilakukannya?” dengan marah Yunho memukul meja hingga meja yang terbuat dari kayu jati yang diimpor langsung dari Kalimantan itu patah menjadi 2 bagian.

“Memanipulasi semua hal.” Gumam Changmin, “Apakah dia juga memanipulasi Jaejoong?”

“Tidak! Kau lupa? Aku sudah menghisap darah Joongie. Ingatannya terbaca olehku. Joongie jujur, sama sekali tidak tersentuh oleh pengaruh perempuan itu! Hanya aroma yeoja itu yang tercium dari tubuh Joongie karena memang aroma itu berasal dari yeoja itu mengingat kenyataan brengsek bahwa dia adalah ibu Joongie.”

“Bagaimana bisa? Dia menikah dan melahirkan anak? Apa yang berada dalam pikirannya?” gumam Changmin, “Apa yang sedang dia rencanakan sebenarnya?”

“Aku harus membunuh perempuan itu!”

“Kau mau membunuh ibu dari namja chingumu sendiri, Hyung?”

“Akan ku lakukan. Walaupun terpaksa aku harus memanipulasi ingatan Joongie dan Yoochun.”

.

.

“Joongie kenapa?” tanya Yihan yang bingung melihat putra bungsunya tiba-tiba saja merajuk.

“Pasti karena namja bernama Jung Yunho itu belum datang menjenguknya sampai sekarang.” Jawab Ahra. Bibir ibu dua anak itu melengkungkan senyuman ketika melihat Yoochun dan Junsu berusaha menghibur Jaejoong. Senyum yang membuat siapa saja yang melihatnya harus memasang sikap waspada.

.

.

TBC

.

.

Sunday, September 28, 2014

11:41:45 AM

NaraYuuki

Pembalasan Bidadari Hitam VI

Tittle                : Pembalasan Bidadari Hitam VI

Writer               : NaraYuuki

Betta Reader     : Hanabusa Hyeri

Genre               : Romance/ Family

Rate                 : M

Cast                 : All member DBSK and others (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan). Seiring bertambahnya Chap castnya pun akan disesuaikan.

Disclaimer:       : They are not mine but this story, Jung Hyunno  & OOC yang lain are mine, NaraYuuki

Warning           : This is YunJae Fan Fiction (Boys Love), M-Preg. Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut. Paragraf/ dialog yang penulisannya menggunakan Blod, Italic ataupun under line berarti itu adalah kejadian dimasa lampau (flash back) TANPA EDIT.

.

.

pEMBALASAN BIDADARI HITAM NARAYUUKI  SUPER sMALL

.

.

PASTIKAN BACA WARNINGNYA DULU

.

.

.

.

.

Mata setajam musang itu membulat ketika melihat sosok indah itu, sosok yang sedang berbicara dengan seorang pelayan. Bibir tipisnya menarik sebuah senyuman terpatri pada wajah tampannya, kaki-kaki jenjangnya segera melangkah menghampiri sosok itu dengan langkah-langkah lebarnya.

Andwe!” Hyunno panik, hendak mengejar Yunho namun lengannya dicekal oleh namja jangkung yang sejak awal diam membatu di sampingnya.

“Jung Yunho!” pekik Jessica yang juga ikut panik. Jessica memang berharap saudaranya itu bisa bicara dengan Jaejoong, tetapi bukan sekarang, bukan hari ini ketika semuanya terasa sempurna dirinya dan ayahnya.

.

.

“Choi Jaejoong!”

Jaejoong tersentak kaget ketika tiba-tiba lengannya ditarik dan tubuhnya dipeluk paksa. “Perasaan ini… kenapa begitu familiar?” gumamnya yang belum menyadari siapa yang tengah memeluknya kini.

.

.

Sosok menawan yang masih memakai seragam Junior High School salah satu sekolah paling elit diseluruh Korea Selatan itu berkacak pinggang di depan pintu gerbang sekolahnya, mengabaikan tatapan teman-teman satu sekolahnya yang menatap penasaran padanya maupun hanya berniat menggodanya. Perasaan kesal itu menyeruak ketika tahu ayahnya lagi-lagi ingkar janji, ayah yang sangat dicintai dan dibanggakannya itu tidak menjemputnya lagi hari ini padahal mereka sudah berjanji akan pergi ke kebun binatang melihat gajah bersama. Bibir merah namja yang Februari lalu berulang tahun yang ke-14 itu merengut kesal.

“Lalu kenapa harus Ahjushi yang menjemputku?” tanyanya dengan suara ketus.

“Berapa kali ku katakan padamu, Bocah? Panggil aku Hyung! Bukan Ahjushi! Aku masih berusia 24 tahun, Pabo.” bibir berbentuk hati itu menyeringai, “Tentunya kau tidak lupa kalau hari ini si tua bangka Woo Sung itu mengundangmu makan siang bersamanya?”

“Betapa sopannya kau, Ahjushi? Ckckckck… kau memanggil ayahmu sendiri seperti itu?”

Namja yang memakai setelan jas mahal itu mendengus kesal, membukakan pintu penumpang yang berada di samping kursi kemudi untuk remaja berwajah cantik yang menurutnya sangat menyebalkan dan terlalu cerewet untuk anak seusianya itu, “Masuk atau aku sendiri yang harus membopongmu seperti tuan putri!”

“Aku adalah pangeran!” bibir merah penuh itu merengut kesal namun tidak urung masuk dan mendudukkan dirinya di atas kursi empuk mobil mewah itu.

“Dalam mimpimu, Bocah!”

.

.

“Aku tidak mau menikah dengan Ahjushi!” bibir merah darah itu menjerit histeris.

“Aku pun tidak mau menikah denganmu, Bocah!” pemilik bibir berbentuk hati itu pun membentak marah.

“Hiks… lebih baik Joongie menikah dengan Yihan hyung saja daripada Ahjushi galak sepertimu.”

“Cih! Dasar bocah cengeng! Bocah manja!”

“Yihan hyung lebih baik darimu! Yihan hyung bahkan lebih tampan dan hebat darimu! Kau hanya Ahjushi bermata musang menyebalkan yang galak dan Hmpppp!”

Jemari kokoh itu membekap bibir merah darah yang melontar kata-kata protesan padanya, “Kau belum mengenal siapa sebenarnya Jin Yihan jadi simpan pujianmu untuk laki-laki brengsek itu!”

.

.

“Ahjushi mian! Joongie salah… jangan sakiti Joongie…. Hiks…. Hiks…. Appa…. Appa…. Ahjushi andwe! Jebbal andwe! Andweeeeeeee…!”

.

.

Tubuh Jaejoong mengejang kaku. Jantungnya berpacu sangat cepat, kepalanya mendadak pening dan keringat dingin mulai merembes membasahi kulitnya. Ingatan saat dirinya disetubuhi dengan kasar, saat dirinya mendapatkan pelecehan mengerikan itu hingga akhirnya Hyunno hidup di dalam rahimnya membuat air mata brengsek itu tiba-tiba mengalir membasahi wajah menawan Jaejoong. tubuh ibu dari Choi Hyunno itu mulai bergetar hebat. Ketakutan setelah melihat ingatan masa lalunya nyaris membuat kaki Jaejoong tidak lagi sanggup menopang berat tubuhnya sendiri.

“Ini kau… ini benar-benar kau….” racau Yunho.

Suara bisikan lembut lirih yang menyimpan kesedihan dan penyesalan didalamnya itu berbisik di dekat teinga Jaejoong, membuat namja cantik itu merinding sekaligus sesak ketika tubuhnya semakin erat dipeluk oleh orang yang mati-matian ditolak oleh otak dan ingatannya. Orang yang membuatnya hidup dalam kepahitan dan penderitaan selama bertahun-tahun. Orang yang ia benci dan sangat ingin ia singkirkan dari muka bumi ini andai Jaejoong bisa.

.

.

Mian Ahjushi, bisakah kau melepaskanku?” Hyunno menatap sengit namja jangkung yang mencekalnya. Bila tidak diajari etika dan sopan santun oleh ibunya, Hyunno pasti sudah menendang kaki, menendang perut atau melayangkan kepalan tinjunya ke wajah namja yang memasang wajah datarnya itu.

“Apa yang kau lakukan di sini, Changmin?” tanya Jessica.

“Menamani Yunho Hyung menghadiri pertemuan dengan relasi bisnisnya di sini beberapa saat yang lalu.” Jawab sang namja jangkung yang dipanggil Changmin oleh Jessica.

“Lepaskan dia Changmin!” perintah Woo Sung. “Bagaimanapun juga Hyunno tetaplah keponakanmu, anak dari Hyungmu. Kau tidak boleh menggunakan kekuatan fisikmu untuk menghadapinya.”

“Kalau aku melepaskannya Hyunno akan menganggu reuni antara Yunho hyung dan Jaejoongie Hyung.” Ucap Changmin yang masih belum mengendurkan cekalannya pada Hyunno.

Hyunno mendelik menatap namja Jangkung yang diketahuinya bernama Changmin itu. Dari caranya memanggil ibunya sepertinya namja itu cukup mengenal baik ibunya.

“Jangan kasar seperti itu Changmin!” Jessica yang sudah berdiri didekat Changmin dan Hyunno memukul lengan Changmin kuat-kuat, “Lihat yang kau perbuat! Kau membuat kulit Hyunno memerah.” Jessica menunjuk pergelangan tangan Hyunno yang terdapat bekas memerah akibat cengkeraman tangan Changmin.

Hyunno mendengus kesal, keluarga Jung benar-benar keluarga super menyebalkan yang harus dihindari. Sepenuh hati Hyunno menginjak kaki Changmin dengan harapan itu dapat melukainya sehingga dirinya bisa melepaskan diri dan berlari menyelamatkan ibunya. Tetapi Changmin tidak bergeming di tempatnya. Memang wajahnya sempat meringis sakit sesaat tetapi ekspresinya kembali datar dan dingin. Bukan mengendur tetapi cekalannya justru mengerat membuat Hyunno semakin meringis kesakitan.

“Anak kecil harus bersikap selayaknya anak kecil, manis dan tidak usah mencampuri urusan orang dewasa!” gumam Changmin. “Kau tidak tahu apa-apa, bahkan Jaejoongie hyung pun tidak tahu apa-apa.”

“Lepaskan Hyunno, Changmin!” Woo Sung kembali bersuara, “Biar Hyunno menghentikan kegilaan Yunho!”

Appa?!” bukan hanya Jessica yang menatap tidak percaya pada Woo Sung. Changmin pun melakukan hal yang sama.

“Yunho memang berlidah tajam seperti hiu dan liar seperti beruang, tetapi bila menyangkut Jaejoong… kalian ingat bukan bila sebenarna Jaejoong adalah kelemahan Yunho?” tanya Woo Sung.

Cekalan Changmin pada Hyunno mengendur sehingga remaja berusia 16 tahun itu segera melepaskan diri dari Changmin dan bergegas berlari menghampiri ibu dan ayahnya –walaupun Hyunno enggan memanggilnya ayah.

.

.

Mata hitam legam itu membulat, kaget namun menyimpan kemarahan dan keputusasaan didalamnya. Jaejoong meronta-ronta tanpa suara, mencoba lepas dari pelukan orang yang sepertinya sudah sangat dikenalinya, orang yang kalau bisa ingin selalu dihindarinya. Walaupun kedengarannya sangat pengecut tetapi Jaejoong benar-benar memilih menghindar seandainya memiliki kesempatan.

“Ini kau… ini kau…. Kau sangat nyata. Ini kau….”

Sret!

Dengan kasar Hyunno merengkuh ibunya dari pelukan Yunho, “Jangan sentuh Ummaku!” mata setajam musang kecil miliknya menatap penuh marah dan dengki pada sosok yang sedikit lebih tinggi darinya itu. Kemarahan memenuhi rongga dadanya seirama tarikan napas yang diambilnya. “Jangan pernah menyentuh Ummaku lagi! Jangan pernah!”

Yunho mengamati bagaimana posesifnya Hyunno memeluk Jaejoong. Bibir berbentuk hatinya tertarik membuat sudut-sudut pada wajahnya, sebuah senyuman. Senyuman sangat tulus yang pernah diberikannya pada orang lain. “Tidak baik mengganggu ayah dan ibumu yang sedang reuni, Jung Hyunno! Jadilah anak baik dan kembalilah kesisi harabojie, ahjumma dan ahjushimu selama aku dan ibumu bicara!”

“Jangan memanggilku dengan nama menjijikkan seperti itu!” bentak Hyunno.

“Begitukah caramu berbicara pada ayahmu, huh? Apa ibumu kurang mendidikmu dengan baik?” tanya Yunho, “Kalau begitu tinggallah bersama Appamu ini. Aku akan mengajarimu bagaimana bersikap selayaknya anak pada ayahnya.”

Buku-buku jari Hyunno memutih akibat kepalan tangannya sendiri. Ucapan Yunho barusan benar-benar menyinggung perasaannya. “Kau….” Hyunno ingat bagaimana sikap namja serupa dirinya itu pada kakek Woo Sung pada pertemuan pertama mereka, bagaimana bisa Yunho berani-berani mengatakan hal semacam itu padanya bila Yunho sendiri berperilaku tidak sopan pada ayahnya?

“Hyunno! Kita pulang!” ajak Jaejoong, mencegah putranya melakukan tindakan yang kurang pantas, memukul Yunho contohnya. Dicengkeramnya kuat-kuat lengan kanan anaknya, mencegah putranya itu kehilangan kendali dan kewarasannya. Bagaimanapun juga Jaejoong mengingat jelas darimana anaknya mendapatkan sifat seperti itu.

Mata itu melengkung indah seperti bulan sabit ketika bibir berbentuk hatinya menyunggingkan senyuman, “Kau mau pulang?” tanya Yunho tenang, “Tidak ingin mendengar cerita tenang Jin Yihan yang kau puja itu dulu sebelum pergi?” Yunho menyeringai ketika melihat gesture tubuh Jaejoong yang menegang dan sedikit gemetar.

“Umma…?”

“Kau mau mendengarnya kan Boo?”

.

.

TBC

.

.

.

.

Friday, September 26, 2014

9:20:46 AM

NaraYuuki

Senja

540345_449833995063936_174666514_n

Sekejap senja tenggelam dalam lautan asa

Perlahan-lahan sikap nestapa lara yang kau punya

Tak mengapa….

Hidup, seperti itulah adanya….

Serupa siang berganti malam….

Ada yang datang sekedar untuk singgah sesaat

Ada yang tinggal cukup lama untuk mencoba.

Luka dan bahagia….

Pada akhirnya itu juga yang kan kau rasa.

Bukankah seperti itu hidup didunia fana?

Sekejap mata….

Takdirmu kan menjingga sebelum perlahan menggelap.

.

.

.

.

.

Saturday, September 13, 2014

3:44:44 PM

NaraYuuki

Revenge VI

Tittle               : Revenge VI

Writer             : NaraYuuki

Betta Reader : Hyeri

Genre             : Romance/ Modern Fantasy/ dsb.

Rate                : M

Cast                : All member DBSK, Jin Yihan, Go Ahra (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan) and Others. Seiring bertambahnya Chap castnya pun akan disesuaikan.

Disclaimer:    : They are not mine but this story is mine, NaraYuuki

Warning         : This is YunJae Fan Fiction (Boys Love), M-Preg. Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut, TANPA EDIT.

.

.

.

.

.

PASTIKAN BACA WARNINGNYA DULU

.

.

R2

.

.

Jaejoong tertegun, bagunan megah di hadapannya ini terlihat seperti rumah bangsawan kuno, mengingatkannya pada rumahnya di Jepang semasa kecil dulu ketika orang tuanya belum bercerai dan ibunya belum meninggalkannya ke Amerika demi mengejar kariernya. Jaejoong mengerutkan keningnya ketika melihat orang-orang lewat berlalu-lalang di sekelilingnya dengan pakaian tradisional yang biasanya dilihatnya pada drama-drama televisi bertemakan kerajaan.

“Ini dimana?” gumamnya bingung.

Sekelabatan (bergerak dengan cepat) Jaejoong melihat sosok Yunho dengan stelan pakaian berwarna biru langit berjalan memasuki salah satu pintu di sisi kanan bangunan rumah itu. Jaejoong berlari menuju arah pintu tempat Yunho menghilang, mengabaikan keluhan dari orang-orang yang ditabraknya. Bahkan Jaejoong tidak memedulikan seorang yeoja yang ditabraknya, sama sekali tidak berniat menolong yeoja itu untuk sekedar bangun walaupun Jaejoong sudah membuat yeoja itu menumpahkan semangkuk sup gingseng merah ke tanah.

Memastikan berdiri di depan pintu yang sama dengan pintu yang dimasuki oleh Yunho beberapa menit yang lalu, Jaejoong perlahan-lahan menggeser pintu itu, memasukinya dengan ragu.

“Yunho… Jung Yunho?” panggilnya.

Sebuah kamar. Itu yang Jaejoong lihat. Matanya menatap gorden bermarna merah darah yang tergantung di mulut jendela, membuat cahaya matahari senja mengintip malu-malu memasuki ruangan  yang cukup remang-remang itu.

Suara erangan menyentak Jaejoong, membuat namja cantik itu menoleh menatap satu-satunya ranjang di dalam kamar itu, mutiara rusa betinanya membulat sempurna melihat pemandangan yang tersuguh di balik kelambu tipis yang mengkungkung ranjang.

Di sana…. Di atas ranjang sana….

.

.

“Jung Yunho!” Jaejoong berteriak histeris, air mata mengalir dari sepasang mutiara rusa betinamya yang terbelalak lebar, napasnya memburu cepat.

“Kau mimpi buruk? Kenapa menangis?” Yunho yang masih berbaring sambil memeluk Jaejoong itu mengusap air mata yang membasahi pipi Jaejoong menggunakan punggung tangan kirinya.

Jaejoong melihat sekeliling, UKS sekolah! Itu berarti dirinya hanya bermimpi. Yunho ada di sampingnya, tengah memeluk dirinya. bahkan Changmin pun sedang berada di UKS memakan makanan dari kotak bekal yang tadi pagi disiapkannya dengan sangat lahap. Benar-benar mimpi? “Siapa yeoja itu?” tanya Jaejoong, ditatapnya Yunho lekat-lekat dengan mata nanarnya.

Yeoja yang mana?” tanya Yunho.

Yeoja yang….” lidah Jaejoong terasa kelu. Matanya terasa sangat panas dan perih ketika teringat sesuatu yang dianggapnya mimpi namun terasa sangat nyata itu. Jaejoong menggigit bibir bawahnya kuat-kuat agar isakan yang mulai meronta ingin keluar itu tidak terdengar oleh Yunho. Tubuhnya bergetar hebat, sekuat tenaga Jaejoong mendorong tubuh Yunho agar menjauhi dirinya.

Boo?” Yunho mengerutkan keningnya, Yunho tidak bisa membaca pikiran Jaejoong sehingga dirinya tidak tahu apa yang namja cantiknya itu pikirkan sekarang.

Menahan nyeri yang tiba-tiba menyerang dada kirinya, Jaejoong bangun dari posisi tidurnya. Meskipun sedikit sempoyongan tetapi namja cantik itu memilih posisi berdiri, sebelum menarik napas dalam-dalam.

Boo?” tanya Yunho sekali lagi.

“Youngwoong… Youngwoong….” gumam Jaejoong seperti olang linglung.

“Uhuk! Youngwoong?” tanya Changmin.

“Kenapa dengan Youngwoong, Boo?” tanya Yunho.

“Siapa Youngwoong? Siapa yeoja itu? Kenapa kau tidur dengannya?!” tanya Jaejoong histeris. “Kenapa?” perlahan-lahan air mata itu mengalir lagi dari sepasang matanya yang terlihat agak sembab. Jaejoong tidak suka ini. Meskipun hubungan mereka diawali oleh kejadian konyol nan menggelikan tetapi Jaejoong tidak pernah menganggap hubungannya dengan Yunho main-main, tidak pernah!

Hyung?” Changmin menatap was-was kakaknya yang mulai beranjak dari ranjang dan melompat ke hadapan Jaejoong dengan gerakan gesit dan akurat.

“Youngwoong?” tanya Yunho.

Yeoja yang sangat mirip denganku, ani! Aku bahkan sempat berpikir Youngwoong adalah aku dalam wujud perempuan karena kami sama, maksudku semuanya, wajah, hidung, mata, kulit, tanda lahir, letak tahi lalat, semuanya sama kecuali jenis kelamin kami yang berbeda.” Ucap Jaejoong terbata. Jaejoong sangat bingung sekarang, tetapi penyebab bingungnya apa ia sendiri pun tidak tahu.

“Kim Youngwoong, istriku. Wanita yang ku cintai. Wanita yang mati terbunuh oleh wanita yang pernah ku cintai sebelumnya.” Jawab Yunho.

Jaejoong merasakan kepalanya tiba-tiba terasa sangat pening mendengarkan jawaban yang Yunho berikan. Namja cantik itu nyaris ambruk jikalau Yunho tidak memeluk pinggangnya erat. Perlahan-lahan tubuh lengser ke bawah dan terduduk di atas lantai UKS yang terasa sangat dingin.

“Aku menjadi mahluk mengerikan seperti ini sejak 500 tahun yang lalu, Boo. Pada saat itu pernikahan sering dilakukan pada saat usia sangat dini, pada kasus pernikahan keluarga istana bahkan lebih parah lagi. Aku menikah dengan Youngwoong atas paksaan orang tuaku pada awalnya ketika aku berusia 18 tahun. Awalnya aku memang tidak mencintainya tetapi perlahan-lahan cinta itu tumbuh dihatiku untuknya.” Yunho menjelaskan, “Tetapi mantan yeoja chinguku sebelum aku menikahi Youngwoong merasa terhianati olehku. Dia melakukan sesuatu yang buruk pada Youngwoong….”

“Apa yang yeoja itu lakukan pada Youngwoong?” tanya Jaejoong.

“Dia menusuk perut sebelah kanan Youngwoong.” Jawab Yunho.

Sepasang mutiara rusa betina Jaejoong bergerak gelisah.

“Kenapa tiba-tiba kau bertanya soal Youngwoong, Boo? Aku bahkan tidak pernah menyebut namanya. Darimana kau tahu soal…”

“Aku melihatnya.” Jaejoong menatap wajah Yunho masih dengan tatapan nanar.

“Melihat?” Yunho mengerutkan alisnya.

“Aku tidak tahu. Yang aku tahu aku berdiri di depan sebuah rumah keluarga bangsawan yang sangat besar, kau masuk ke dalam sebuah pintu, aku mengikutimu. Ternyata yang kau masuki adalah sebuah kamar. Dikamar itu aku melihatmu dan Youngwoong tengah….” Jaejoong terdiam sesaat. “Jangan paksa aku untuk megatakannya!”

Yunho mengerti sekarang, “Sedikit mnegejutkan kau memimpikan masa laluku, Boo.” Dipeluknya tubuh Jaejoong erat-erat walaupun wajahnya menunjukkan tengah memikirkan dan menyimpulkan banyak kemungkinan kenapa tiba-tiba Jaejoong memimpikan hal seperti itu. “Bangunlah! Seosengnim sedang berjalan kemari, seosengnim akan panik bila melihatmu terduduk di lantai seperti ini.” Merasa Jaejoong tidak mendengar omongannya, Yunho membopong tubuh Jaejoong untuk dibaringkan lagi ke atas tempat tidur.

“Dia sedikit syock ku rasa.” Changmin berkomentar setelah menghabiskan bekal yang seharusnya menjadi jatah Yunho dan Jaejooong.

Yunho mengusap wajah pucat Jaejoong perlahan, “Semua itu hanya masa laluku, Boo. Terlepas dari seberapa pun miripnya kau dan Youngwoong dimataku kalian berbeda. Aku melihatmu sebagai Park Jaejoong bukan sebagai pengganti Youngwoong, jadi jangan risaukan apapun yang bisa mengganggu kesehatanmu. Aku milikmu dan tidak akan ada yang akan mengambilku darimu. Aku bersumpah!” digenggamnya jemari Jaejoong yang terasa dingin.

“Nah, ku rasa aku harus pergi sebelum ketahuan makan di UKS.” Changmin membuka jendela kaca dekat ranjang Jaejoong, tangan kirinya memeluk erat kotak bekal milik Jaejoong, “Hyung… Jangan membuatnya syock lebih dari ini.” Pesannya sebelum melompat keluar dari jendela.

.

.

Yoochun menatap jengah kelakuan saudaranya yang enggan melepaskan cengkeramannya pada baju seragam Yunho. Terlebih wajah Jaejoong terlihat seperti orang ling-lung, sangat pucat dan terus berkeringat dingin seolah-olah saudaranya itu baru saja melihat penampakan hantu –kalau benar hantu memang ada, karena sejak kecil Jaejoong memang sedikit pengecut jika menyangkut film horor atau sejenisnya.

“Kau apakan dia?” tanya Yoochun dengan wajah galaknya. Yoochun tidak berharap ketika dirinya menjemput Jaejoong di UKS usai pulang sekolah melihat saudaranya itu bersikap aneh seperti sekarang yang seolah-olah menderita paranoid akut.

“Dia mimpi buruk tadi.” Ucap Yunho, “Kurasa dia hanya sedikit syock karena mimpi itu.”

“Mimpi?” Yoochun mengerutkan keningnya, mimpi seperti apa yang membuat saudaranya yang terkadang sangat cerewet itu terlihat seperti mayat hidup, sangat pucat dan kaku.

“Dia melihatku bersama perempuan lain dimimpinya.”

Yah! Sudah ku katakan untuk tidak menyakiti perasaannya, kan?” mata Yoochun mulai berkilat marah.

“Dalam mimpinya, aku tidak bisa melarangnya memimpikan hal semacam itu.” Yunho menatap datar Yoochun, “Aku sudah mengatakan padanya bahwa aku adalah miliknya dan tidak akan ada yang akan mengambilku darinya, tetapi sepertinya itu tidak cukup untuknya hingga dia tidak mau melepasku.” Yunho melirik jemari pucat Jaejoong yang mencengkeram kuat baju seragamnya hingga kisut.

Yoochun tidak berkomentar, dilangkahkannya kakinya menghampiri saudaranya untuk kemudian merangkul bahu Jaejoong erat, “Kajja pulang!” ajaknya.

Jaejoong bergeming (tidak bergerak/ diam saja) dan semakin mengeratkan cengkeramannya pada baju Yunho.

“Joongie?” Yoochun berusaha membujuk saudaranya.

“Biar aku….” ucap Yunho yang menarik tubuh Jaejoong yang semula berada di pojok samping kanan belakangnya kini tepat berdiri di hadapannya, “Boo, aku akan mengantarmu pulang sampai ke rumah. Jadi bisakah kau melepaskan cengkeramanmu, hm?”

Penuh keraguan mata seindah mutiara rusa betina itu menatap lekat-lekat mata kecoklatan setajam musang milik Yunho walaupun tatapan itu terlihat tidak fokus.

“Kau boleh memasungku nanti, tetapi lebih baik kita pulang dulu….” diusapnya wajah pucat Jaejoong yang terasa sangat dingin.

Jaejoong mengangguk pelan, perlahan-lahan melepaskan cengkeramannya pada baju Yunho, meninggalkan jejak kusut di atas permukaannya. Mundur satu langkah ke belakang, Jaejoong sempoyongan, kepalanya terasa berputar-putar sebelum semuanya terlihat gelap dan memudar. Samar Jaejoong mendengar suara pekikan Yunho dan Yoochun menyebut namanya dengan intonasi panik.

.

.

Tubuh itu hanya berdiri kaku di sudut ruangan namun matanya tidak melepas fokusnya ketika yeoja itu mengusap wajah pucat Jaejoong yang tengah tertidur –atau pingsan? Dilihatnya kuku-kuku panjang berwarna merah menyala nan mengkilap itu bersinar akibat pantulan sinar lampu yang mengantung di atas langit-langit yang pucat.

“Jung Yunho pasti tengah kebingungan sekarang. Bagaimana bisa Jaejoong melihat masa lalunya melalui mimpi….” bibir yang dipoles lipstik merah itu bergumam.

“Akan sangat aneh bila dia tidak bingung.” Setalah diam kaku di sudut ruangan, namja bersuara unik itu membuka mulutnya.

“Aku memanipulasinya dengan baik, bukan? Pembalasan ini akan terasa sangat manis bila aku bisa menghancurkan Jung Yunho perlahan-lahan hingga dia akan memohon kematiannya sendiri….”

.

.

Yunho berhenti di mulut pintu, matanya memandang marah namun belum berubah kemerahan ketika menyadari aroma asing yang mengancam memenuhi ruang rawat Jaejoong. Setelah insiden pingsannya Jaejoong di UKS 3 hari yang lalu, namja cantiknya itu memang dirawat inap di rumah sakit dan sampai sekarang belum pernah membuka matanya sekali pun walaupun keadannya sudah mulai stabil. Mata waspada Yunho bisa melihat Yoochun yang terlelap di atas sofa dengan wajah kelelahan serta Park Jihan –ayah Yoochun dan Jaejoong yang sedang bicara dengan seorang suster di samping ranjang rawat Jaejoongnya.

“Yunho, kau datang?” namja dewasa dengan mata yang sayu dan gurat lelah yang membaur denga kesedihan itu tersenyum pasi pada Yunho. Walau sibuk dengan pekerjaannya tetapi Jihan tahu bila sekarang putra cantiknya memang tengah dekat dengan teman sekelasnya yang bernama Jung Yunho.

“Joongie akan marah bila aku tidak menjenguknya, Ahjushi.” Jawab Yunho. Sedikit ragu Yunho melangkah masuk.

“Dia akan senang bila melihatmu saat dia bangun nanti.” komentar Yihan, “Jagalah dia sebentar. Sepertinya dokter ingin bicara padaku secara serius soal kondisi Joongie.” Yihan tersenyum dan berjalan pelan mengikuti suster yang sudah terlebih dahulu pergi meninggalkan ruang rawat Jaejoong.

“Aroma perempuan jahat itu tercium sangat kuat.” Gumam Yunho sebelum berjalan menghampiri Jaejoong cepat-cepat, mencium punggung tangan pucat yang tidak diinfus serta bibir merah yang kini terlihat sedikit pucat itu perlahan, “Boo, aku datang… bangunlah agar aku bisa melihat mata indahmu….” bisiknya.

Melihat Jaejoong seperti ini membuat Yunho ingin segera mengigit dan mengubah jantung Jaejoong menjadi batu agar namja cantiknya tidak menderita dan kesakitan seperti ini. Andaikan Yunho bisa karena Changmin selalu memperingatkan dan mengingatkan bahwa jika Yunho akan melakukan hal itu pada Jaejoong, Changmin sendiri yang akan mengentikannya.

“Aku rela kehillangan apa saja karena aku sudah pernah kehilangan semuanya. Tetapi aku tidak mau kehilanganmu, Boo…. Tidak mau!” bisik Yunho terdengar parau penuh keputusasaan.

.

.

TBC

.

.

Diotak Yuuki FF ini akhirnya Sad lho. Ottoke? :D

.

.

Thoughts on “Revenge V”

Diennha: Ottoke? :D

Azkhana: Ane ga tahu, Mak :D Ssabar Mak :3

lee huang ziol : Masing-masing punya ketakutan ne :)

Rani: Belum tertebak ya? :D

Areah Bii : Baca ulang saja Tante <3 Bogoshipo  :’(

Nina: Ayo tebak :D

T3Jj kim : Sejujurnya Yuuki nyaris mendatangi psikiater :’( Well, semuanya akan teruangkap pelan-pelan.

Ratnaezleeem : Nugu?

Dewifebrianayasmin: Nugu?

Meybi : Akan Yuuki jelaskan pelan-pelan. Sabar saja.

Mybabywonkyu: Cieeeeeeee yang udah punya WP #toeltoelTante, Makan-makan nyok Tan #seretKulkas :D Rahasia  ;)

Echasefry: Pan Gajah kalau ngamuk juga serem :D Hohohohoo… Coba tebak ;)

Yuuqy: Ini sudah datang :D

Karin Cassiopeia : Nado Chagy #jitak :D

Zhemee: Ne :)

Yuuruuki: Nugu? #bingung

Rahmadina : Ayo ditebak lagi :D hehehehe….. Fighting!

Nadia: Kagak mungkin ane :D Ayo ditebak lagi.

Anyjae: Itu bukan salah nulis kok, cuma hurufnya yang kurang satu biji :D Hohohohoho…. Yang benar “Berpikir” bukan “Berfiir” :D Gomawo sudah mengingatkan.

Kim Hyewon: Judulnya memang hiatus tapi Yuuki tetap nulis walau satu kalimat seharinya. Hehehehe…. Cuma yang post tulisan Yuuki bukan Yuuki, Yuuki dibantuin Eli :D Hohohoho…. Badai pasti berlaluuuuuuuuuuuuuu #uhuk :D

Reanelisabeth: Jangan penasaran, bahaya :D

Yulkorita: Gwaechana Chagy :D Gomawo ne sudah baca.

.

.

.

Wednesday, September 10, 2014

8:18:41 AM

NaraYuuki

Urceolla and Black Sword

Tittle                : Urceola and Black Sword (bagian Love Stone)/ My Fav Ever <3 <3 <3 <3 <3

Author              : NaraYuuki

Genre               : Yang jelas fantasy gagal

Rate                 : T  

Cast                 : Umma, Appa and other

Disclaimer:       : They are not mine, but this story is mine, NaraYuuki

Warning           : Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut

.

.

Urceolla & Black Sword

.

.

Jebbal….” Lihatlah! Bahkan doe eyes itu mengalahkan mutiara terindah di jagad raya ini.

“Kau tidak akan bisa kabur karena aku akan merantai kedua kakimu….” Ancam namja tampan itu sedikit bergurau.

“Kau jahat….” Chery lips itu merengut sempurna.

.

.

.

.

.

“Young Woong pasti bahagia karena bisa hidup di dunia cahaya, ne?” lirihnya.

“Hero….”

“Aku akan pulang….” Ucapnya sebelum tiba-tiba saja menghilang menyisakan sekelebat bayangan hitam.

.

.

Urceolla & Black Sword.jpg II

.

.

“Bila kita bisa terlahir kembali, aku berharap kita dipertemukan dan di lahirkan di dunia cahaya agar kau bisa melihat betapa indahnya dunia itu…. Pada saat itu, akan ku balas cinta yang kau berikan padaku…. Akan ku jaga dan ku cintai dirimu dengan segenap hatiku, seumur hidupku….”

.

.

.

.

.

Thursday, June 20, 2013

8:58:32 AM

NaraYuuki

 

Suprasegmental II

Tittle                : Suprasegmental II

Writer               : NaraYuuki

Genre               : Romance/ Adventure/ fantasy kerajaan/ Incest

Rate                 : -M

Cast                 : Member DBSK (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan).

Disclaimer:       : They are not mine but this story is mine, NaraYuuki

Warning           : This is YunJae Fan Fiction (Boys Love). M-Preg. Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut.

.

.

.

.

.

PASTIKAN BACA WARNINGNYA DULU

EPEP INI KHUSUS BUAT EMAK IFA DAN PARA KUTIL TERSAYANG YUUKI :D

.

.

Suprasegmental Dari NaraYuuki untuk para Kutil

.

.

“Kau indah….” puji Yunho.

Jaejoong membalikkan tubuhnya, menatap Yunho yang memasang wajah terkejutnya, “Malam ini saja.”

“Huh?”

“Malam ini saja… kau boleh menyentuhku!”

Yunho tersenyum, jemari kokohnya membelai wajah basah Jaejoong perlahan, mata setajam musangnya yang berwarna kecoklatan menatap teduh penuh kerinduan pada sepasang mutiara rusa betina yang indah itu. Tentu saja tidak akan dilewatkannya apa yang sudah namja menawan di hadapannya itu tawarkan kepadanya. Telapak tangan Yunho perlahan-lahan mengusap punggung Jaejoong, mengusapnya ke bawah hingga sampai pada pinggang ramping cucu Hakim Agung itu, meremasnya perlahan sebelum memberikan dorongan kecil agar tubuh Jaejoong lebih mendekat pada tubuhnya.

“Kau yang memberiku ijin melakukannya, jadi jangan menyesal nanti… Boo!” Yunho mengingatkan.

Jaejoong melingkarkan kedua lengannya pada leher Yunho ketat seolah-olah enggan terlepas darinya, “Dan jangan memanggilku dengan panggilan seperti itu! Secantik dan semenggairahkan apapun aku dimatamu, aku tetap seorang namja.” Tanpa menunggu komentar Yunho, Jaejoong menempelkan bibir merah penuhnya pada bibir Yunho, menunggu sesaat sebelum terbuai ketika Yunho mulai menghisap bibirnya, mula-mula lembut hingga sedikit menuntut.

Ketika tubuh dan sentuhan mereka menjadi semakin intim, Yunho semakin kehilangan kendali dirinya, melepaskan tautan bibir mereka, Yunho menyapukan bibir berbentuk hatinya untuk menyentuh seluruh permukan wajah, dagu dan leher jenjang Jaejoong, “Ku rasa aku sudah tidak bisa menahannya lagi, Boo….” bisik Yunho disela kegiatannya mengukirkan jejak cintanya di atas permukaan kulit bahu Jaejoong.

“Lakukan!” ucap Jaejoong dengan suara tertahan.

Yunho mulai mengusap dan meraih salah satu kaki Jaejoong untuk diangkat dan dilingkarkan pada pinggangnya sendiri ketika suara terkutuk itu membuatnya terpaksa menjatuhkan gairahnya kedasar jurang kenestapaan yang memuakkan.

“Maaf Tuan, makan malam sudah siap!” suara lembut dan terdengar sangat sopan itu terdengar.

Yunho mendesis marah, merapalkan sumpah serapah tanpa bersuara hingga hanya bibirnya yang terlihat komat-kamit.

Jaejoong yang bisa melihat raut marah dan kesal pada wajah tampan Yunho hanya bisa tersenyum kecil, mengecup perlahan bibir berbentuk hati itu untuk menenangkannya, “Aku tidak akan lari darimu.” Jaejoong mulai menjauhkan dirinya dari tubuh Yunho.

“Aku benci menunda kegiatan penting ini!” Yunho mengumpat, hanya didepan Jaejoonglah Yunho menjadi dirinya sendiri tanpa harus repot-repot menjaga martabatnya sebagai anak bangsawan beradab.

“Aku sudah bilang malam ini kau boleh menyentuhku, tidak harus sekarang. Seusai makan malam pun tidak masalah. Kau boleh melakukannya semampumu malam ini! Asal ingat kalau besok kita harus bekerja.” Komentar Jaejoong yang langsung naik meninggalkan kolam pemandian air panas, meninggalkan Yunho yang masih berusaha menurunkan amarahnya.

.

.

Makan malam dihidangkan di kamar Jaejoong karena memang rumah utama tidak digunakan sebagai tempat makan, biasanya siswa magang terdahulu akan makan di pendopo ataupun dapur tetapi Jaejoong menolak melakukannya dan menyuruh pelayan menghidangkan makanan malam di kamarnya mengingat dari semua ruangan di rumah utama kamaryalah yang paling luas.

“Besok pindahkan barang-barang Yunho kemari! Mulai besok kami akan tidur satu kamar.” Perintah Jaejoong.

Bukan hanya Yunho yang dibuat kaget oleh perintah Jaejoong itu, para pelayan yang  menunggui mereka makan pun hanya mampu melempar pandangan bingung satu sama lain.

“Jae?” tanya Yunho.

“Kita membutuhkan ruang kerja yang luas! Ruang kerja yang berada di rumah ini sangat sempit, aku kurang menyukainya.” Komentar Jaejoong yang dengan tenang melahap makanannnya. “Kita bisa menggunakan kamarmu sebagai ruang kerja kita berdua mengingat kita harus sering berdiskusi. Kau ingat bukan kalau kau adalah kepala polisi dan aku hakim kota ini? Kita dituntut memecahkan banyak kasus pelanggaran yang sudah terjadi di kota ini, karena itu kita butuh ruang kerja yang lebih luas untuk kita berdua.”

Yunho mengangguk pelan, menyetujui usul Jaejoong yang memang sedikit lebih masuk akal dibanding pemikirannya.

“Jaejoong menoleh menatap pelayan yang berdiri di dekat pintu kamarnya, “Dan ruang kerja yang sudah ada bisa digunakan sebagai ruang makan untuk kami. Kalian tidak keberatan melakukan sedikit perubahan, bukan?” tanyanya.

“Tidak Tuan. Melayani anda adalah tugas kami.” Ucap keempat pelayan itu sembari menundukkan kepala mereka dalam-dalam.

Jaejoong kembali memakan makanannya, mengabaikan sepasang mata musang milik Yunho yang menatapnya penuh gairah dan kerinduan, “Ku harap besok makanan dan kereta sudah siap pada pukul enam pagi, mungkin bisa lebih sedikit tetapi jangan terlalu siang.” Pintanya yang langsung diangguki oleh keempat pelayan yang berada di sana.

.

.

Usai makan malam Yunho bergegas kembali ke kamarnya untuk mengambil sesuatu yang kemudian bergegas kembali lagi ke kamar Jaejoong membawa sebuah bungkusan panjang nan ramping. Bungkusan yang dililit oleh kain sutra bermotif bunga lili api berwarna merah darah nan indah itu diletakan di hadapan Jaejoong yang sedang membaca salah satu dari laporan yang diantarkan oleh Changmin sore tadi.

Jaejoong menatap Yunho dan bungkusan itu secara bergantian. Alisnya berkerut menunjukkan ekspresi ketidakpahamannya atas maksud Yunho.

“Bukalah!” Yunho tersenyum, diambilnya laporan tebal yang berada di atas pangkuan Jaejoong untuk dipindahkan ke atas meja yang berada di samping mereka.

Jaejoong meraih bungkusan itu, satu per satu dibukanya tali simpul yang melilit kain sutra pembungkusnya. “Katana?” Jaejoong menatap Yunho sedikit heran ketika kain sutra  itu terjatuh, menyisakan sebuah pedang panjang yang indah di tangannya.

“Kita berdua tahu resiko dari tugas yang kita emban….”

“Terbunuh?” tanya Jaejoong memotong pernyataan Yunho.

Yunho mengangguk pelan, “Akan ada saat dimana aku tidak bisa berada disampingmu, jadi ku rasa kau harus mempersiapkan dirimu untuk menjaga dirimu sendiri.” Ucap Yunho, “Walaupun kemungkinannnya kecil mengingat kau adalah kerabat Yang Mulia Raja. Tapi aku ingin tetap mengantisipasi kemungkinan yang kecil itu.”

Jaejoong mengeluarkan pedang yang berbentuk menyerupai katana milik para samurai negri sakura itu dari sarungnya perlahan-lahan, menatap kilauan permukaannya yang indah namun tajam dan mematikan. Menatap lekat-lekat ukiran yang terletak di pangkal dekat gagangnya. “Dangsineul yeong wonhi boho (Melindungimu selamanya).” gumam Jaejoong yang langsung menyarungkan kembali pedang itu.

“Aku akan melindungimu selamanya apapun yang terjadi.” Yunho berkomentar.

Jaejoong segera melempar pedang itu hingga sudut kamarnya sebelum menerjang Yunho, membuat namja tampan bermata setajam musang itu terjengkang dan terlentang di atas lantai.

“Kau sudah tidak sabar ya?” tanya Yunho yang hanya bisa mengulum senyum ketika Jaejoong menduduki perutnya dan mulai mengecupi permukaan lehernya, “Sabarlah, Boo! Walaupun aku sendiri pun sudah tidak bisa menahannya lagi tapi kita harus menunggu pelayan agar mereka tidur dulu.”

Tidak memedulikan ucapan Yunho, Jaejoong mulai melepas tali simpul baju yang dikenakan oleh Yunho, “Sekarang atau tidak sama sekali, Jung Yunho!”

Arra….” lirih Yunho yang meraih wajah Jaejoong menggunakan kedua telapak tangan kokohnya, mencium bibir merah merekah itu dalam dan lama-lama seolah dirinya sudah menahan hasrat itu selama puluhan tahun.

.

.

Jaejoong terkulai, membiarkan Yunho ambruk diatas tubuhnya walaupun sejujurnya hal itu membuatnya sedikit kesulitan bernapas. Ini salah, dosa. Yunho adalah saudara tirinya dan mereka berdua sama-sama namja. Sangat berdosa, menjijikkan dan hina! Tetapi…

“Aku mencintaimu!” bisik Yunho. Berangsur-angsur lengser ke sisi kanan tubuh Jaejoong, berbaring miring di sana dengan tenang dan mengamati wajah lelah namja menawan yang membuat hatinya lumpuh dan buta itu. Jemarinya terjulur membelai permukaan berkeringat wajah Jaejoong membuat siempunya menolehkan kepala untuk melihatnya.

“Cinta yang salah.” Gumam Jaejoong.

“Memang aku peduli?” Yunho menarik tubuh Jaejoong ke dalam pelukannya, menciumi wajah dan puncak kepala namja cantik itu, mengabaikan rambut panjang mereka yang tergerai berantakan.

“Kau adalah penegak hukum!” Jaejoong mengingatkan.

“Dan kau adalah hukumku! Aku sudah menahan diriku untuk tidak membawamu kawin lari jadi biarkan aku menjadi diriku sendiri selama ditugaskan di kota ini bersamamu.”

“Tidak ada yang bisa menghentikanmu!” Jaejoong bergumam, kedua kelopak matanya tertutup menikmati sentuhan yangg diberikan Yunho padanya.

“Menggabungkan kamar kita? Kau yakin?” tanya Yunho, “Kalau boleh jujur aku tidak yakin. Aku tidak yakin bisa menahan diriku bila berada satu kamar denganmu.”

“Tidak ada pilihan lain. Kita memang membutuhkan ruang kerja yang lebih luas agar sewaktu-waktu bila kita perlu mengadakan rapat di rumah, kita tidak perlu repot mencari tempat.” Ucap Jaejoong, “Jadi jangan coba-coba melakukan hal yang mencurigakan atau akan ku depak kau keluar!”

“Aku akan jadi anak baik agar bisa selalu bersamamu.” Bisik Yunho pelan sebelum mengulum bibir merah darah itu, sekali lagi mengajak Jaejoong menyelami surga mereka berdua.

.

.

Kabut masih sangat tebal menutup sinar matahari ketika Yunho sudah duduk diam di pendopo untuk menunggu Jaejoong. Bukan karena bangun kesiangan atau terlalu lama berbenah diri sehingga namja berparas rupawan itu belum juga muncul di pendopo. Jaejoong hanya sedang mengarahkan para pelayan bagaimana seharusnya menata kamar untuknya dan Yunho, bagaimana membenahi kamar Yunho yang mulai hari ini akan dipakai untuk ruang kerja mereka serta bagaimana seharusnya mendekorasi ruang yang semula diperuntukkan sebagai ruang kerja untuk diubah menjadi ruang makan.

Yunho tersenyum memikirkannya, bagaimana bisa Jaejoong yang seorang namja bisa begitu teliti untuk hal-hal sesepele itu?

“Aku harap mereka mengerti intruksiku.” Gumam Jaejoong yang berjalan perlahan menghampiri Yunho ditemani seorang pengawal.

“Siap berangkat?” Yunho tersenyum melihat sebuah pedang tersemat pada ikat pinggang yang Jaejoong kenakan. Yunho beranjak dari duduknya, berjalan pelan menuju kereta yang sudah siap sejak tadi, membukakan pintu kereta untuk Jaejoong.

“Pinggangku sedikit nyeri.” Keluh Jaejoong yang perlahan-lahan menaiki kereta kuda.

Yunho memegangi punggung Jaejoong ketika namja menawan itu kesulitan menaiki kereta kuda, usai memastikan Jaejoong duduk nyaman di dalam kereta, Yunho sendiri masuk ke dalam kereta.

Derak roda kereta kuda terdengar begitu nyaring ditengah gempuran kabut yang tebal, bahkan dibeberapa titik kabut terlihat lebih tebal dari yang lain namun di jalan-jalan utama beberapa petani dan pedagang sudah mulai terlihat hilir mudik. Para petani terlihat membawa keranjang berisi sayuran dan buah-buahan pada punggung mereka untuk dijual. Para pedagang mulai membuka lapak-lapak mereka dan membersihkan sekitar tempat mereka berjualan dari sampah-sampah yang berserakan.

Jaejoong tersenyum melihat seorang yeoja yang menggendong anak balitanya tengah mendorong gerobak berisi berkantung-kantung karung –yang Jaejoong yakini berisi beras dan gandum, gerobak itu ditarik oleh seorang laki-laki yang Jaejoong duga sebagai suami dari sang yeoja.

“Apakah menarik? Kau ingin sepertinya juga?” tanya Yunho yang ikut melihat apa yang sebelumnya namja canti itu lihat dari balik jendela.

“Aku ingin punya anak, bukankah itu sangat manusiawi?” tanya Jaejoong balik, dipandanginya wajah tersenyum Yunho yang kali ini menatapnya juga.

“Kalau kau menginginkannya, aku bisa mnegusahakan sesuatu untukmu, Boo.”

Jaejoong mentap tajam Yunho, “Kau mau mengajakku kawin lari lagi seperti ketika kau berusia delapan belas tahun dulu?” tanya Jaejoong, “Lupakan!”

“Tidak! Ada cara lain yang lebih bermartabat untuk memilikimu walaupun kawin lari tetap menjadi pilihan seandainya tidak ada jalan lain lagi.” Komentar Yunho.

“Mari lupakan hal itu sejenak dan kita selesaikan tugas kita di sini.”

Yunho mengusap wajah Jaejoong perlahan dan memberikan kecupan singkat di atas permukaan bibir semerah darah penuh itu lembut.

.

.

Matahari sudah setinggi mata tombak ketika kereta berhenti digedung yang menjadi tempat magang Yunho dan Jaejoong –kantor kepolisian yang merangkap sebagai kantor kehakiman juga.

Jaejoong mencibir ketika banyak tumpukan papan, kayu dan tali tambang teronggok berserakan di dekat pintu gerbang. Terlihat pula Changmin, Yoochun dan Junsu sedang memberikan intruksi pada beberapa orang yang sedang memanggul beberapa kayu panjang dan besar yang Jaejoong yakini akan digunakan sebagai tiang penyangga, entah tiang apa.

“Mereka bekerja sesuai intuksimu kemarin. Sepertinya hari ini juga renovasi akan dilakukan.” Gumam Yunho.

“Kau tidak memimpin apél pagi?” tanya Jaejoong.

“Sebentar lagi, biarkan anggotaku menyelesaikan pekerjaan mereka dulu.” Dengan dagunya Yunho menunjuk Yoochun dan Junsu bergantian. “Aku mulai memikirkan sesuatu…”

“Apa?”

“Sepertinya salah satu dari Yoochun atau Junsu akan ku tugaskan untuk mengawalmu.”

“Jung Yunho!” Jaejoong membentak, membuat Changmin, Yoochun dan Junsu yang semula tidak menyadarinya menoleh dan berjalan pelan menghampirinya.

“Hakim Kim….” sapa Changmin yang langsung membungkukkan badannya ketika sampai di hadapan Jaejoong.

“Apa pegawai kantor kehakiman yang lain sudah berangkat?” tanya Jaejoong.

“E… mungkin sebentar lagi.” Jawab Changmin sedikit ragu.

“Kalau begitu hukum semua pegawai kantor kehakiman dan kantor kepolisian yang datang setelah aku dan Kepala Polisi Jung Yunho! Siapapun! Terlambat satu menit, pukul kakinya satu kali, terlambat dua menit pukul kakinya dua kali, terlambat 3 menit pukul kakinya 3 kali dan seterusnya!” perintah Jaejoong, “Kalau mereka menolak atau melakukan protes berikan surat pemecatan pada mereka!”

Changmin mengangguk cepat.

“Yoochun sshi, sebaiknya segera kumpulkan para pegawai kepolisian yang sudah hadir untuk melakukan apél pagi!’ saran Jaejoong yang lebih menyerupai sebuah perintah. “Di Ibu Kota bahkan semenjak subuh para penegak hukum sudah mulai bekerja, dan di kota ini? Yun, haruskah kita merombak formasinya?” Jaejoong menoleh, menatap Yunho.

“Kita lihat dulu perkembangannya baru memutuskan perlu tidaknya merombak formasi pegawai.” Ucap Yunho. “Yoochun… lakukan perintah Jaejoong.”

Yoochun membungkuk hormat pada Yunho dan Jaejoong sebelum berlari sedikit tergesa ke dalam bangunan yang sedang mulai direnovasi.

“Junsu, bisa aku meminta bantuanmu secara pribadi?” tanya Yunho.

“Saya merasa terhormat bila bisa membantu anda, Kepala Polisi Jung.” Sahut Junsu.

“Mulai hari ini secara pribadi aku memintamu untuk mendampingi Jaejoong menjalankan tugasnya. Sertailah dia kemanapun dia pergi.” Ucap Yunho, “Aku tahu Changmin memang bisa diandalkan tetapi akan lebih baik bila ada lebih dari satu orang yang mendampinginya.”

“Yunho!” mutiara rusa betina Jaejoong membelalak tajam menatap Yunho.

“Kau mau kan Junsu?” tidak memedulikan Jaejoong, Yunho melanjutkan kalimatnya yang terpotong.

“Tentu saja! Sebuah kehormatan bisa menjadi pengawal pribadi Hakim Kim.” Ucap Junsu sambil tersenyum sumpringah.

“Kau adalah orang penting, cucu Hakim Agung sekaligus kerabat Yang Mulia Raja. Pengawalan terhadapmu harus yang terbaik, Jae.” Yunho mencoba menjelaskan ketika dirasanya tatapan mata Jaejoong terlihat semakin menajam. Tentu saja Yunho mengatakan alasan yang masuk akal. Jaejoong adalah cucu Hakim Agung –bisa dikatakan Jaejoong adalah cucu kesayangan sang Hakim Agung. Selain itu Jaejoong adalah kerabat Yang Mulia Raja, bahkan sang raja sangat menyayangi Jaejoong seperti anaknya sendiri. Tetapi dilain pihak Yunho pun ingin Jaejoong terlindungi. Yunho tidak bisa membayangkan apa yang bisa dilakukannya bila sesuatu terjadi pada Jaejoongnya.

“Kau bahkan putra….” Jaejoong terdiam, “Panglima Tertinggi Militer? Aku pun putranya juga.” Tambahnya dengan suara sangat lirih hingga dirinya sendiri yang bisa mendengarnya.

.

.

Apél pagi hanya dihadiri oleh 10 orang saja, 7 orang dari kepolisian dan 3 lainnya dari kehakiman. Hal ini sangat membuat bukan hanya Jaejoong tetapi Yunho pun murka. Para pegawai kantor kepolian dan kehakiman baru datang di saat para perja yang dipanggil untuk merenofasi gedung kantor sudah mulai membenahi dan menggangti tiang serta papan yang keropos termakan usia, sekitar setengah sembilan pagi.

“Apa yang membuat kalian semua begitu terlambat?” tanya Jaejoong yang berdiri di tengah pintu gerbang menghalangi para pegawai yang lain untuk masuk, ditunjukkannya senyum menawannya, senyum yang biasanya bisa membuat teman-teman sekelasnya tersipu meskipun mereka semua laki-laki, “Aku senang kalian sudah datang dengan pakaian yang rapi dan aroma parfum yang wangi. Tetapi sayang sekali…”

Belum lagi ucapan Jaejoong selesai, Yunho dan ke sembilan orang yang lain yang tadi pagi mengikuti kegiatan Apél pagi datang sembari membawa pentungan (kayu pemukul) berukuran cukup besar dan panjang di tangan mereka masing-masing.

“… kalian harus didisiplinkan!” Jaejoong masih tersenyum walaupun api kemarahan terlihat jelas dari sorot matanya. “Ahjumma, Ahjushi, Haraboji, Halmonie… lihat-lihat! Para pegawai kantor kehakiman dan kepolisian yang malas ini akan mendapatkan pelajaran karena tidak pecus melayani rakyat dengan baik!” Jaejoong berteriak lantang menarik perhatian orang-orang yang berlalu-lalang di jalanan dengan senyum masih menghiasi wajah menawannya.

“Berbaris!” perintah Yunho dengan suara sangat lantang dan sedikit membentak. “Kalian yang terlambat akan mendapat pukulan di kaki kalian sesuai dengan menit yang kalian lewati! Pukul kaki mereka sebanyak 200 kali!”

Ye!” sahut Yoochun, Changmin, Junsu dan kelima orang lainnya.

“Aku akan menulis surat untuk Yang Mulia Raja, beliau harus diberitahu soal ini. Aku akan memintanya mengirimkan pasukan tambahan kemari. Ku beri kau kuasa untuk mendisiplinkan anggotaku juga, Yun.” Ucap Jaejoong sebelum berjalan masuk, meninggalkan kekacauan yang terjadi di depan pintu gerbang, membiarkan para rakyat tahu bahwa Hakim tertinggi dan Kepala Polisi kota Bollero yang baru tidak akan segan-segan menindak pegawai pemerintahan yang menyepelekan waktu dan pekerjaan.

.

.

Jaejoong menatap ke-20 anggota kantor kehakiman yang sekarang dipimpinnya, minus Changmin. Beberapa detik yang lalu Jaejoong memberikan kuas dan kertas pada kedua puluh orang itu untuk menuliskan surat pengunduran diri mereka. Namun sampai saat ini belum ada satu surat pun yang diterimanya.

“Aku sudah mengirim surat untuk Yang Mulia Raja melalui merpati pos, kalian bisa mengundurkan diri bila merasa caraku memimpin tidak sesuai dengan kalian. Aku tidak akan merasa rugi karena aku sudah meminta pada Yang Mulia Raja untuk mengirim orang kemari, orang yang lebih bermanfaat dan tepat waktu tentu saja.” Jaejoong masih belum meninggalkan senyum sumpringah yang terlihat jelas pada wajahnya, “Hanya saja ketahuilah! Aku dan Kepala Polisi Jung diberi hak untuk menjatuhkan hukuman mati pada siapa saja yang merugikan negara. Melalaikan tugas dengan datang sangat terlambat ke kantor adalah salah satu contohnya. Ya, kan Changmin sshi?”

Ne, Hakim Kim.” Sahut Changmin yang berdiri tenang di samping Jaejoong.

“Saat ini mungkin kaki kalian yang bengkak dan lecet, tetapi esok hari… siapa yang tahu? Mungkin kepala kalian tidak akan pada tempatnya seperti sekarang.” Ucapan Jaejoong terdengar sangat dingin dan penuh penekanan.

Tidak ada yang bersuara. Semuanya menundukkan kepala, saling melirik panik satu sama lainnya namun tidak berani mendongak untuk menatap wajah menawan Jaejoong.

“Kalau kalian masih ingin bekerja disini, maka setelah istirahat makan siang nanti serahkan padaku data mengenai siapa saja pegawai dan bangsawan yang melakukan korupsi! Dan berikan aku semua bukti yang kalian punya. Jika ada salah satu saja dari kalian yang ketahuan menerima suap atau berusaha menutup-nutupi kejahatan yang keluarga kalian perbuat, maka jangan salahkan aku bila kalian dan keluarga kalian berakhir ditiang gantungan!” Jaejoong menatap sengit ke-20 anggotanya, “Sekarang kerjakan tugas kalian!” senyuman yang sangat menawan itu bertolak belakang dengan sorot benci dan marah yang terlihat pada sepasang mutiara rusa betinanya.

Dengan tertatih ke-20 anggota kantor kehakiman itu berdiri dari duduk berimpuh mereka, berjalan kesakitan menuju meja masing-masing dan mulai memeriksa semua dokumen yang mereka punya untuk memberikan data yang atasan baru mereka minta, Kim Jaejoong.

“Changmin sshi, apa yang Yunho lakukan pada bawahannya sebagai hukuman?”

“Ah, Kepala Polisi Jung membiarkan mereka berdiri berbaris di depan pintu gerbang dengan menenteng ember air di tangan mereka.” Jawab Changmin.

“Terlalu mudah….” gumam Jaejoong.

“Tidak, Hakim Kim. Karena Kepala Polisi Jung mempersilahkan rakyat yang kebetulan lewat untuk melempari mereka dengan sayuran atau buah-buahan busuk.”

“Cukup ringan untuk ukuran seorang Jung Yunho.” Ucap Jaejoong, “Kau belum mengenalnya dengan baik, Changmin sshi. Bila sedang marah, Yunho bahkan lebih menakutkan dibandingkan seekor beruang yang sedang kelaparan.”

.

.

“Apa ini?’ tanya Yunho saat tiba-tiba Jaejoong meletakkan bertumpuk-tumpuk data di atas meja kerjanya.

“Dugaan korupsi yang dilakukan oleh pegawai pemerintah dan para bangsawan. Serta data penerimaan pajak yang baru ku buat.” Jaejoong melirik sekitar 30 polisi yang tengah terduduk kelelahan di lantai, “Kau apakan mereka?”

“Sedikit pendisiplinan.” Sahut Yunho, “Aku butuh tambahan anggota polisi agar ketika malam tiba aku bisa menugaskan beberapa untuk berjaga. Sepertinya selama ini mereka hanya bekerja dari menjelang siang sampai sore saja, pada malam hari tempat ini kosong tanpa penjagaan. Karena itu…”

“Karena itu aku mengirim surat pada Yang Mulia Raja lewat merpati post. Kita kekurangan orang disini!”

“Jangan memaksakan dirimu!”

Dapat Jaejoong lihat sinar penuh kekhawatiran dalam kedua bola mata Yunho, kekhawatiran untuknya, “Lama-lama kau terlihat seperti kakekku!”

“Junsu akan mengantarmu pulang dulu.” Ucap Yunho.

“Bagaimana denganmu?”

“Aku akan pulang sedikit terlambat karena harus membagi pekerjaan. Mulai sekarang harus ada yang berjaga disini sampai malam untuk mengantisipasi seandainya ada masyarakat yang mengalami kesulitan. Aku berencana membagi-bagi tugas jadi aku akan pulang sedikit terlambat.”

Jaejoong mengangguk paham.

“Kepala Polisi Jung, keretanya sudah datang menjemput.” Lapor Yoochun yang datang untuk menyampaikan berita pada atasannya.

“Pulanglah Jae.” Pinta Yunho.

“Aku pulang dengan kuda saja.” Ucap Jaejoong, “Kau lebih membutuhkan kereta daripada aku.”

“Jae….”

Jaejoong menatap tajam Yunho sebelum beralih menatap Yoochun, “Tolong siapkan kuda untukku!” pintanya.

Yoochun yang bingung hanya menatap atasannya dan Jaejoong bergantian.

“Lakukan apa yang dia minta.” Ucap Yunho.

Yoochun membungkuk sesaat sebelum beranjak pergi lagi.

“Berjanjilah kau akan baik-baik saja sampai rumah!” pinta Yunho.

Jaejoong mendengus kesal.

Yunho beranjak dari duduknya, “Aku akan mengantarmu sampai pintu gerbang. Pinggangmu masih sakit, kan?” tanyanya.

“Kita berdua tahu siapa penyebabnya.” Cibir Jaejoong.

Yunho ingin sekali mengenggam jemari itu, ingin menyentuh kulit yang kenyal lagi halus itu berlama-lama seandainya hanya ada mereka berdua disana. Ah, menahan diri dan perasaan seperti ini sungguh sangat tidak menyenangkan dan menyesakkan.

.

.

Sebuah kuda berwarna kecoklatan yang sangat gagah dan sehat sudah disediakan untuk Jaejoong serta dua kuda lainnya untuk Junsu dan Changmin. Junsu memang diminta secara pribadi oleh Yunho untuk mengawasi Jaejoong mulai pagi tadi, sementara Changmin yang kebetulan belum pulang mendengar bila atasannya akan pulang dengan menaiki kuda memutuskan untuk mengawalnya sampai rumah.

“Apa yang terjadi pada Hakim Kim?” tanya Yoochun ketika melihat Yunho membantu Jaejoong menaiki kudanya.

“Pinggangnya agak sakit karena terkilir kemarin.” Jawab Yunho. “Gunakan pedangu bila ada orang yang berniat jahat menghadang jalanmu! Jangan ragu untuk menebas kepala mereka!” pesannya pada Jaejoong.

“Aku tahu apa yang harus aku lakukan! Berhenti bersikap seolah kau adalah ayahku!” kesal Jaejoong, dihentakkannya tali kekang kuda yang dinaikinya membuat kuda itu berjalan perlahan meninggalkan gedung kantor kehakiman yang merangkap sebagai kantor kepolisian juga diikuti oleh Junsu dan Changmin.

“Anda sangat dekat dengan Hakim Kim….” komentar Yunho.

“Dia sahabatku yang paling mengenalku, bahkan lebih dari saudaraku sendiri.” Ucap Yunho. “Kajja kita selesaikan pekerjaan kita agar bisa pulang cepat juga.” Ajaknya.

.

.

Duduk sendirian di pendopo menunggu kedatangan kereta yang membawa Yunho pulang membuat Jaejoong merasa kesal. Bintang dan bulan sabit merah pun sudah menyindirnya sejak tadi. Dengan kasar Jaejoong menutup kamus hukum yang dibacanya sejak kepulangannya untuk menghabiskan waktu luangnya.

“Tuan, makan malam sudah siap sejak tadi. Makanannya akan dingin bila anda tidak segera memakannya.” Ucap pelayannya.

“Aku akan menunggu Yunho. Istirahatlah bila kalian lelah.” Jaejoong bangun dari duduknya, berjalan perlahan meninggalkan pendopo menuju rumah utama yang terasa sangat menyebalkan tanpa kehadiran Yunho disana.

.

.

Kira-kira pukul sebelas malam Yunho baru pulang. Seorang pelayan yang masih terjaga mengatakan padanya bahwa karena menunggunya Jaejoong belum memakan makan malamnya sama sekali. Karena itu usai mandi Yunho langsung berjalan menuju kamar Jaejoong yang mulai malam ini menjadi kamarnya juga.

Perlahan-lahan Yunho menggeser pintu, menatap lembut namja yang tengah tertidur dalam damainya. Tersenyum ketika melihat kimono tidur yang Jaejoong kenakan memperlihatkan kulit bahu, dada dan pahanya. Sepertinya Yunho harus membicarakan kebiasaan Jaejoong yang lebih senang tidur mengenakan kimono esok pagi. Yunho tidak mau para pelayan melihat keadaan Jaejoong yang mengairahkan seperti ini, itu tidak baik untuk mereka.

Yunho mendudukkan dirinya di samping tubuh Jaejoong, jemarinya terjulur untuk membelai wajah damai itu perlahan-lahan, merasakan kelembutan kulit Jaejoong yang membuatnya betah menyentuhnya berlama-lama.

“Eung….” Jaejoong mengerang dalam tidurnya, merasa terganggu sebelum kelopak mata yang sebelumnya membungkus mutiara rusa betina itu terbuka perlahan.

“Aku membangunkanmu?” tanya Yunho, bibir berbentuk hatinya menarik simpul senyuman yang membuat wajahnya terlihat sangat tampan walaupun gurat kelelahan itu nyata disana.

Jaejoong segera menarik Yunho ke dalam pelukannya, mengabaikan sesak yang menghimpit dadanya ketika tubuh Yunho berbaring di atas tubuhnya.

“Kau mencemaskanku?”

“Diam dan cium aku!”

Yunho menumpukan berat tubuhnya pada kedua kaki dan lengan kirinya, lengan kanannya ia gunakan untuk menarik tengkuk Jaejoong agar wajah mereka bisa semakin dekat, “Kau tidak akan pernah tahu betapa aku mencintaimu, Boo….” bisiknya sebelum mencium lembut bibir merah Jaejoong. “Kau harus makan dulu!” kali ini Yunho menarik tubuh Jaejoong untuk duduk.

“Kau lelah? Makanannya pasti sudah dingin sekarang.”

“Akan terasa hangat bila aku memakannya bersamamu.”

“Berapa lama kita bisa seperti ini, Yun?” tanya Jaejoong. Dibiarkannya Yunho menarik lengannya untuk berdiri, dibiarkannya Yunho yang merapikan kimono tidurnya sambil sesekali mencium leher dan jemari tangannya.

“Selama kita bisa….” bisik Yunho yang kemudian menarik Jaejoong ke dalam pelukkannya. Yunho sendiri pun tidak tahu berapa lama dirinya bisa bertahan dengan situasi seperti ini.. bukan berarti Yunho tidak punya rencana. Yunho sudah memikirkan berbagai cara dan kemungkinan yang bisa diambilnya untuk jalan keluar permasalahannya dengan Jaejoong. dalam pemikiran Yunho hanya ada satu orang yang bisa membantu mereka.

Yang Mulia Raja….

.

.

TBC

.

.

Thoughts on “Suprasegmental”

Hope: Hehehehe… Harus ada :)

Anyjae: Lama ga buat Incest kan Yuuki :D

Meyfa: Saeguk itu apa? #miankepo -_- Ne, bisa dikatakan begitu :)

Azkhana: Menurut ane Umma malah Daebbak Mak :D  Muahahahhahahahahahaha >_< Kutil elite ya Mak? :D

Ratnaezleeem : Ne :D

T3Jj kim : Perang apa hayo? #jitak

Rani : Saeguk? Yuuki ga ngerti artinya. Jujur deh #wajahpolos

Renyekalovedbsk: Ini sudah lanjut :D

Diennha: Ngadepin apa? #bingung

Nina: Perasaan keduanya mirip di AKTF, ga perlu ngomong tapi sudah tahu apa isi pikiran masing-masing :D  Heheheh Kutil #ngakakgulingguling  >_<

Karin Cassiopeia : Yah bocah! NC melulu, masih dibawah umur Tahu #jitak!

Ayumi:  Pembalasan Bidadari Hitam & Scent Of Love sudah, kan? Judul ya? Kalau ga tahu artinya boleh kok tanya ke Yuuki :D

MyBaby WonKyu : Sabar Tante #sodorin Kyu :D

Dewifebrianayasmin: Sudah?

Hardianty : Revenge sudah Yuuki update kan? ;)

Hanasukie: Fighting!

Yuuqy: Sudah ne :)

Yunorisweat: Muahahahahhahahahahahaha >_<

Kim Hyewon : Remuk hatimu? Wae? #sokdramatis. Seguk itu apa lagi? #bingung. Kalau yang kayak gini Yuuki pernah buat beberapa one shoot cuma beberapa diantaranta GS. Jangan tanya judul karena Yuuki lupa. Kebnatakan FF sich #pundung.

Kutil? Hehehehe…. Di salah satu grup Author YunJae (Grup FB) ada yang menyebut “Narayuuki & kutil-kutilnya.” Yang dimaksud kutil orang yang dekat dan sering ngobrol dengan Yuuki disosmed. Karena itu FF ini Yuuki dedikasikan untuk Para Kutil Elit Yuuki #ngakakgelundungan ane gara-gara kutil :D

lee huang ziol : Umma malu-malu macan :D Ini sudah ne :)

Meybi : Yuuki juga ga tahu :3

hime yume : Apa sich yang ga buat YunJae :D

miss cho: Ne ;)

reanelisabeth:  Terlalu unik ne? :D

wiwindah:  Kutil yang Elit dan berkelas #kibasponi :D

Rizky Nurbayani : Sudah ne :D

Yulkorita: Dari banyak pihak? Hehehehe…. Bisul? Muahahahaha #ngakakgelundungan >_< Dsudah nich.

Nadia:  Sepertinya begitu :)

Echasefry:  Appa? Yakin?

Rahmadina: Semoga ga tahu ya :) #dikecek

.

.

Sunday, September 07, 2014

9:10:23 AM

NaraYuuki