Always Keep The Faith! XI

Tittle                : Always Keep The Faith! XI

Author              : NaraYuuki

Genre               : Family/ Romance

Rate                 : -M

Cast                 : All Member DB5K

Disclaimer:       : They are not mine but this story is mine, NaraYuuki

Warning           : Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut.

.

.

AKTF

.

.

Yang jelek-jelek jangan ditiru ne ;)

.

.

.

.

.

Jemari pucat itu menggenggam kuat tangan Yunho, doe eyes gelapnya terlihat nanar, chery lipsnya terbungkam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun semenjak dirinya terbangun dari tidurnya. Pikirannya kalut, kepalanya terasa sangat pusing memikirkan kejadian pagi tadi.

“Menangislah bila kau ingin menangis Boo…. Menangis tidak akan mengubah pandanganku mengenai dirimu. Kau tetap namja yang kuat dimataku.” Yunho mengusap pelan kepala namja cantik itu, membiarkannya bersandar di dadanya, membiarkannya mencari kenyamanan yang sekiranya dia butuhkan.

Yoochun memasuki kamar Jaejoong yang berada di dalam kediaman keluarga Park sambil menenteng dua bungkus kantung plastik hitam berukuran besar, “Aku tidak akan menanyakan atau menyinggung soal orientasi kalian yang menyimpang itu. Yang jelas mulai sekarang aku mau kalian menjaga keponakanku dengan baik!” diletakkannya dua kantung itu di atas tempat tidur Jaejoong.

“Apa itu?” tanya Yunho.

“Kau tidak tahu? Yah! Kau membuatnya hamil tapi tidak tahu apa ini?” dengan sengit Yoochun menunjuk kantung yang dibawanya tadi, “Susu dan vitamin yang dibutuhkan oleh wanita hamil. Dan karena dalam hal ini Jaejoong adalah namja jadi itu adalah susu dan vitamin untuk namja hamil!”

Jaejoong menggeser tubuhnya, semakin merapat pada Yunho ketika Yoochun hendak menyentuhnya.

“Aku ini kakakmu, bukan hantu!” Yoochun mencekal pergelangan tangan Jaejoong kuat.

Yah! Jangan berbuat kasar padanya!” omel Yunho.

“Kau harus tinggal di rumah agar aku bisa mengawasimu!” ucap Yoochun.

“Selama orang tua kalian pergi, biarkan Boo Jae tinggal bersamaku. Aku pastikan akan menjaganya dengan baik.” Janji Yunho.

“Kau sudah diusir oleh ayahmu.”

“Tapi aku punya tempat tinggal dan pekerjaan, aku bisa menjaga Boo Jaeku dengan baik.” Ucap Yunho, “Dia lebih nyaman bila bersamaku jadi jangan membuatnya stress! Itu bisa mengganggu bayi kami.”

Aish!”

Yoochun mendengus kesal dan melempar sebuah kunci pada Yunho, “Selama dia tinggal bersamamu setidaknya kau butuh kendaraan untuk mengurusnya. Aku akan menyuruh orangku mengantarkan motorku ke tempatmu nanti. Aku pinjamkan motor itu selama adikku tinggal bersamamu. Ingat! Hanya sampai orang tua kami pulang! Dan jangan sampai aku tahu kau menyakitinya atau kau akan berurusan denganku!” ucap Yoochun sebelum berjalan menuju pintu keluar, “Ah, susu dan vitaminnya harus diminum! Kalau habis aku akan membelikannya lagi.”

“Biar aku yang membelikannya nanti.” Sahut Yunho.

“Bagus karena kau yang menghamilinya.”

Yunho tersenyum begitu Yoochun keluar dari kamar, “Boo, dia benar-benar peduli padamu. Aku tahu sulit menerimanya. Tapi cobalah perlahan-lahan….”

.

.

Yah Yoochunie?! Bagaimana bisa kau menelponku hanya untuk menemanimu minum bir seperti ini? Kau bahkan sudah sangat mabuk! Sekarang berhentilah minum!” kesal Junsu. Sore tadi Yoochun menelponnya, memintanya datang ke rumah untuk bicara, tetapi? Namja bermarga Park itu justru mabuk-mabukkan seperti ini, “Yah! Park Yoochun!”

“Aku sudah mengatakannya padanya. Sekarang dia membenciku…. Aku harus bagaimana?” rancau Yoochun.

Junsu mengerutkan keningnya binggung, “Dia? Nugu? Jia?” tanyanya.

Yoochun kembali meneguk bir kaleng di tangannya sampai tidak bersisa.

Yah! Berhenti minum!” dengan kasar Junsu merampas botol bir itu dan menjauhkannya dari jangkauan Yoochun.

“Bukankah aku orang yang brengsek?” tanya Yoochun.

Yah! Yeoja seperti itu tidak perlu kau ingat-ingat lagi! Kenapa hanya karena yeoja seperti dia kau bisa sampai seperti ini, huh? Wae?” Junsu memukul-pukul bahu Yoochun keras seolah-olah ingin menyadarkan temannya, bahwa Yoochun tidak seharusnya menyesali keputusannya yang sudah meninggalkan yeoja bernama Jia itu.

“Apa kau pikir dia membenciku? Ya! Dia pasti sangat membenciku. Bahkan dia tidak mau ku sentuh…. Menyedihkan. Ironis bukan?!”

Aish! Kemana para pelayan itu saat dibutuhkan?” omel Junsu. Rumah keluarga Park itu terlihat sangat sepi. Bahkan ketika Junsu baru datang tadi dirinya sudah menemukan Yoochun yang sedang mabuk sendirian di ruang makan, “Apa ku telpon Jaejoongie saja?” gumamnya.

“Aku hyung yang payah….”

“Eh?” Junsu menatap Yoochun, mengerutkan keningnya, “Hyung? Yoochunie, apa yang sedang kau bicarakan ini adalah Jaejoongie? Bukaan yeoja jalang bernama Jia itu?” tanyanya.

“Dia bahkan lebih memilih tinggal bersama namja Jung itu? Cih! Apa bagusnya? Lihatlah dia! Wajahnya kecil, tukang onar dan selalu membuat masalah. Bahkan dia sudah diusir dari rumahnya, apa hebatnya namja itu? Yah! Katakan padaku?”

“Aku tidak tahu apa masalahmu dengan Jaejoongie sebenarnya, tapi karena yang menyebabkanmu mabuk bukan yeoja itu aku akan menemanimu sampai pagi!”

.

.

Boo….” gumam Yunho ketika namja cantik itu mendekap erat tubuhnya. Sejak kejadian tadi pagi di rumah keluarga Park, namja androgini itu memang enggan berpisah darinya.

“Aku memang merasa aneh ketika Appa tidak pernah menghubungiku lagi begitu bercerai dari Umma. Orang-orang selalu mengatakan bahwa aku sama sekali tidak mirip Appa. Kulit pucatku, bibirku dan mataku….” gumam pemilik chery lips itu begitu lirih.

Yunho mengusap wajah cantik itu pelan, “Hm….”

“Mengerikan, bukan?” tanya Jaejoong.

Ani.” Jawab Yunho.

“Katakan padaku! Siapa saja yang sudah kau tiduri selama ini?” doe eyes kelam itu menatap lekat wajah tampan namja yang berbaring di sampingnya.

“Em…. Aku kurang yakin nama mereka. Mungkin… Jung Jaejoong? Jung Jaejoong, Jung Jaejoong, Jung Jaejoong dan Jung Jaejoong.” Yunho tersenyum, “Aku terlalu takut untuk melukaimu, Boo….”

“Kalau kau sudah tidak menginginkanku katakan padaku maka aku akan pergi tanpa perlu kau usir.” Ucap Jaejoong.

“Aku terlalu menginginkanmu hingga aku ingin merampasmu dari keluargamu, Boo. Aku terlalu menginginkanmu hingga aku ingin sekali memasungmu agar selamanya kau menjadi milikku….” Yunho mendaratkan sebuah kecupan di atas permukaan bibir merah merekah itu lembut.

“Yun….”

“Hm?”

“Sentuh aku….” pinta Jaejoong.

“Dengan segenap hatiku, Boo…. Dengan segenap hatiku….” bisik Yunho sebelum membawa keduanya menyelami firdaus indah yang tidak mampu terlukiskan oleh bentuk kata apapun di dunia ini.

.

.

Jaejoong menatap pantulan dirinya di atas permukaan kaca yang berembun itu. Membiarkan air hangat dari shower membasahi sekujur tubuhnya. Ditatapnya baik-baik pantulan dirinya yang terefleksi di atas permukaan buram itu. Kulit pucatnya sama seperti Yoochun, mata mereka yang hitam legam sama seperti Yoochun, golongan darah mereka pun sama, beberapa hobi dan kegemaran mereka pun sama. Jaejoong tidak menduga bahwa apa yang dulu dianggapnya sebuah kebetulan itu ternyata bukanlah sebuah kebetulan tetapi benar-benar sebuah kesamaan.

Dan selama ini, yang tidak tahu apa-apa hanyalah dirinya seorang?

Jaejoong ingin menangis sekarang. Perasaan marah, kesal, kecewa dan sedih itu teraduk-aduk dalam palung hatinya, membuatnya ingin menangis tetapi cairan brengsek itu tidak mau keluar dari sepasang doe eyes kelamnya. Sungguh sangat menyiksa!

“Kau sudah ku biarkan menyentuhnya semalam, Yun. Jangan membuatku marah!” ucap Jaejoong memperingatkan ketika tangan Yunho mulai bergerilya di atas permukaan tubuh telanjangnya yang basah.

“Kau terlihat menggoda, Boo.” Sahut Yunho, “Tahukah kau bahwa kau adalah godaan paling menakutkan yang pernah ku temui seumur hidupku?”

“Aku tahu. Karena aku memang menggoda….” Jaejoong memutar tubuhnya hingga berhadapan langsung dengan Yunho kemudian meraih tengkuk namja bermata musang yang memiliki kulit sewarna tan yang sangat eksotis itu untuk mencium bibir berbentuk hatinya.

“Ah… aku harap hari ini tidak berlalu dengan cepat….” gumam Yunho.

UMMAAAAAAAAAAAAAAAAA!”

“Ck….” Yunho berdecak kesal.

“Kalau kita tidak segera menyelesaikan acara mandi ini, ku rasa anakku anak langsung mendobrak pintu itu.”

“Anakmu sangat mengerikan!” gerutu Yunho.

.

.

“Semalaman Yoochunie mabuk. Dia menyalahkan dirinya sendiri karena merasa gagal menjadi kakak yang baik untukmu.” Ucap Junsu ketika main ke kelas Jaejoong. Namja bersuara khas itu mendudukkan dirinya di kursi samping tempat duduk namja cantik itu, “Apa kalian bertengkar?” tanyanya hati-hati, tidak ingin membuat namja cantik itu menelannya hidup-hidup.

“Bukankah pertengkaran sesama saudara itu hal yang wajar?” tanya Jaejoong.

“Tapi tetap saja pertengkaran kalian itu membuatnya sampai mabuk.”

Jaejoong melirik sekilas Junsu, mengambil tas besar berisi bekal makanan untuk diserahkan pada Junsu. “Bawa ke atap dan ajaklah Yoochun makan bersama denganmu.”

“Lalu kau?”

“Aku akan menyusul nanti. Yunho mungkin sudah ada di sana.”

Arraso….” Junsu menggangguk paham, “Yah! Jangan sampai aku melihatmu merokok lagi.” Ucapnya sebelum pergi.

“Aku bahkan sudah lupa bagaimana rasa rokok itu….” gumam Jaejoong.  Namja cantik itu hendak berdiri ketika beberapa gerombol siswa berjalan mendekatinya.

“Kau, Park Jaejoong! Setelah kau membuat anak kelas satu nyaris kehilangan kepalanya, membuat beberapa orang diskors kau bahkan membuat Jia dipindahkan dari sekolah ini? Yah! Sebenarnya seberapa hebat kau ini, huh?” bentak salah satu namja berbadan tambun diantara empat namja yang berdiri di hadapan Jaejoong.

Jaejoong hanya menatap satu per satu namja itu dengan doe eyes kelamnya tanpa berniat membalas perkataan mereka.

“Apa kau pikir dirimu hebat, huh?” namja berambut cepak itu nyaris menyentuh bahu Jaejoong sebelum seseorang mencengkeram kuat jemarinya hingga terdengar bunyi aneh yang berasal dari tangannya yang diremas itu, “Argkkk!” jeritnya.

“Tangan kotor kalian tidak boleh menyentuh Ummaku!” namja jangkung itu menatap sengit ke-4 namja yang mencari gara-gara dengan Jaejoong.

Yah! Changmin!”

Brak!

Pintu belakang kelas Jaejoong pun ditendang kuat-kuat oleh seorang namja tampan bermata musang hingga menghasilkan sedikit lubang di atas permukaannya, “Hei, kalian sudah bosan hidup?” dengan sorot mata penuh kemarahan Yunho berjalan menghampiri empat namja itu, membuat teman sekelas Jaejoong yang semula duduk diam di dalam kelas lari terbirit-birit karena ketakutan.

“Mati kalian!” pekik Yoochun yang tiba-tiba saja menerjang salah satu dari 4 namja yang hampir mengeroyok Jaejoong tadi, “Tidak ada seorang pun yang boleh mengganggu adikku selama aku masih hidup!”

Jaejoong memlih berjalan keluar meninggalkan kelasnya, membiarkan Yunho, Yoochun dan Changmin menghajar ke-4 namja itu, “Hei Junsu… bagaimana kalau kita ke atap duluan? Ku rasa mereka bertiga masih harus menghadapi seosengnim.”

Junsu yang berdiri di sisi luar pintu melirik Seosengnim yang berlari ke arah mereka, “Kajja! Ck…. Kenapa para namja suka sekali kekerasan?” gerutunya sambil menggandeng tangan kanan Jaejoong.

“Hei! Kau juga namja, pabo!”

.

.

Bekal yang harusnya menjadi makan siang mereka itu terpaksa dinikmati ketika matahari nyaris kehilangan tahtanya, bahkan langit sudah sedikit menggelap, menampakkan warna jingga indah serupa wajah gadis yang tengah malu akibat godaan sang kekasih.

Boo, kau tidak makan?” tanya Yunho yang hendak menyuapkan sepotong telur gulung untuk Jaejoong.

Ani…. Aku sudah kenyang.” Tolak Jaejoong.

“Kau hanya makan keripik kentang saja dari tadi, Boo.” Keluh Yunho.

“Makanlah! Setidaknya untuk keponakanku.” Pinta Yoochun yang terus mengunyah walaupun sudut bibirnya sedikit sobek dan memar akibat perkelahiannya tadi.

“Keponakan?” tanya Junsu binggung.

Umma sedang mengandung.” Gumam Changmin.

MWO?” pekik Junsu.

YAAH! KIM JUNSU!” Yoochun dan Yunho mendelik ke arah Junsu yang menyemburkan air ke arah mereka.

Mian.” Sesal Junsu, “Jaejoongie?”

“Anak Yunho. Sekarang usianya baru lima minggu.” Jawab Jaejoong santai, mengabaikan tatapan syock Junsu.

Aigoo! Hamil?” Junsu masih memandang Jaejoong dengan wajah binggungnya, “Bagaimana bisa?”

“Cobalah membuat anak dengan Yoochun, siapa tahu kau bisa mengandung juga.” Ucap Yunho.

Yah! Kau mau mati?” tanya Yoochun yang memelototkan matanya pada Yunho.

“Kalau aku mati, adikmu itu akan menjadi janda sebelum kami menikah dan keponakanmu itu akan menjadi anak yatim.” Sahut Yunho.

“Yoochunie tidak menyukaiku. Dia masih tidak bisa melupakan Jia.” Lirih Junsu.

Yah! Sebenarnya apa yang terjadi pada Jia? Ku dengar dia dipindahkan.” Tanya Yoochun yang tidak mendengar suara lirih Junsu..

“Joongie ingin dia dikeluarkan dari sekolah jadi itulah yang terjadi.” Jawab Yunho.

“Woah…. Kau masih seorang Jung rupanya walaupun sudah terusir sekalipun….” puji Yoochun lebih kepada sebuah sindiran.

Umma, tambah!” Changmin menyerahkan kotak bekalnya yang sudah kosong pada Jaejoong.

“Dasar tukang makan.” Sindir Yoochun, “Apa kalian berdua menganggap adikku itu pembantu kalian yang bisa kalian suruh masak setiap hari?”

“Biarkan saja, Yoochunie hanya cemburu pada kalian.” Junsu menimpali.

Yah Kim Junsu!”

.

.

Senja yang menggelap kali ini semoga mendatangkan setitik kebahagiaan bagi mereka yang merindukan cinta dan kasih sayang esok hari….

.

.

TBC

.

.

Selamat liburan :)

.

.

Tuesday, April 08, 2014

9:34:39 AM

NaraYuuki

Always Keep The Faith! X

Tittle                : Always Keep The Faith!

Author              : NaraYuuki

Genre               : Family/ Romance

Rate                 : -M

Cast                 : All Member DB5K

Disclaimer:       : They are not mine but this story is mine, NaraYuuki

Warning           : Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut.

.

.

.

.

.

Yang jelek-jelek jangan ditiru ne ;)

.

.

AKTF

.

.

“Yun….”

“Hm? Apa uri aegya menginginkan sesuatu?” tanya Yunho yang memasang wajah tersenyumnya. Lelah memang setelah pulang bekerja tetapi kelelahan itu menguap begitu saja ketika melihat wajah damai namja cantiknya yang sedang terlelap. Beberapa hari terakhir ini Yunho tidak akan langsung tidur begitu selesai mandi usai pulang bekerja pada pukul 10 malam. Yunho akan menunggu sebentar sebelum doe eyes indah itu terbuka dan chery lips itu menyuarakan keinginannya.

“Aku haus….”

“Mau ku ambilkan minum? Boo Jae mau minum apa, hm?” Diusapnya wajah lelah namja cantik dihadapannya itu perlahan.

“Jus strawberry dengan sedikit yogurt di atasnya.”

“Akan ku buatkan!” Yunho beranjak dari posisinya yang semula merebahkan dirinya di samping Jaejoong. Namja bermata musang itu berusaha melakukan semuanya semampunya untuk membahagiakan namja cantik itu. Yunho rela kehilangan segalanya tetapi tidak dengan Jaejoong.

Appa….”

Yunho menolehkan kepalanya ketika mendengar panggilan Jaejoong untuknya, “Ne Umma?”

Saranghae….”

Nado….” Yunho tersenyum hangat sebelum memutar handle pintu itu. Jarang sekali Jaejoong mengatakan kata-kata cinta padanya karena bagi namja cantik itu menunjukkan sikap dan perbuatan jauh lebih penting daripada kata-kata kosong yang kadang tidak bisa dipertanggungjawabkan.

.

.

Brak!

Namja jangkung itu hanya membatu ketika lemparan handphone itu nyaris mengenai kepalanya saat dirinya baru saja keluar dari kamar mandi usai menyelesaikan mandinya. Changmin menatap binggung pada hyungnya yang sedang berusaha meredam kemarahan ‘Umma’nya. Entah apa yang terjadi selama dirinya berada di dalam bilik kamar mandi. Apakah Yunho hyungnya ketahuan selingkuh sehingga Ummanya marah seperti itu? Atau apa?

“Bagaimana bisa dia melakukan ini padaku?!” pekik Jaejoong penuh amarah.

Boo….” Yunho mengusap-usap lengan Jaejoong, mencoba menenagkan namja cantik yang tengah mengandung darah dagingnya itu. Yunho tidak mau orang yang dicintainya sakit.

“Ah… dia sudah menabuh genderang perang denganku, Yun!” sedikit kalap Jaejoong meraih kunci mobilnya yang berada di atas meja makan kemudian melesat pergi begitu saja. Amarah sepertinya tengah melingkupi namja cantik itu.

Umma kenapa?”

Yunho menatap Changmin yang memasang wajah binggungnya, “Haeri ahjumma menelponnya dan menyuruhnya pulang ke rumah. Sepertinya Yoochun memberitahu orang tua mereka kalau selama mereka pergi Boo Jae menginap di sini.”

“Lalu Umma mau kemana?”

“Kemana lagi menurutmu? Tentu saja menghajar Yoochun.” Yunho menghela napas panjang, “Aku kurang suka situasi ini.” Gumamnya.

Hyung….”

“Makanlah! Ummamu memasaknya khusus untukmu. Aku akan berusaha menghentikan tindakan gegabahnya.” Ucap Yunho sebelum pergi meninggalkan Changmin sendirian di dalam apartemen itu.

“Sepertinya banyak hal yang belum ku ketahui tentang mereka….” namja jangkung itu melirik meja makan yang sudah dipenuhi oleh beberapa jenis makanan yang berbeda serta 3 gelas susu hangat, “Umma…. Apa kau bahagia? Jika tidak mari mencari kebahagiaan bersama….”

.

.

“Sepertimya cara itu cukup ampuh untuk membawamu pulang dengan sendirinya tanpa perlu repot-repot menyeretmu dari sana.”

Doe eyes kelam indah itu menatap tajam namja berpipi chuby yang sedang berdiri dengan angkuhnya di anak tangga terakhir sambil bersedekap (menumpangkan/ menyilangkan/ melipat kedua tangan di atas perut/ dada). Kemarahan yang sudah mencapai titik terendah kesabarannya membuat namja cantik itu berjalan pelan menghampiri namja yang beberapa bulan terakhir ini tinggal di bawah atap yang sama, menjadi saudaranya.

“Mana barang-barangmu?” tanya Yoochun.

Plak!

Bukannya menjawab, Jaejoong justru menghadiahkan sebuah tamparan pada namja berpipi chuby itu, “Aku sudah memperingatkanmu! Aku sudah memintamu untuk tidak mencampuri urusanku dan kau melanggar semua itu seolah-olah kau peduli pada hidupku!” kalimat dingin, tajam dan menusuk itu terlontar dari bibir semerah chery milik Jaejoong. Mata indahnya menatap nyalang pada namja yang masih berdiri dengan angkuhnya di hadapannya.

“Bagaimana bila aku peduli?” tanya Yoochun, “Bagaimana bila aku benar-benar peduli padamu?!” suara Yoochun meninggi, menyerupai sebuah bentakan.

“Cih! Orang sepertimu?”

“Orang sepertiku ini sangat peduli padamu Park Jaejoong!” sekali lagi Yoochun memekik hingga suaranya berubah sedikit serak.

“Namaku Kim Jaejoong!”

“Persetan dengan nama Kim yang kau banggakan itu! Kau dalah seorang Park! Sejak lahir hingga sekarang kau adalah seorang Park! Darah yang mengalir dalam dirimu adalah darah seorang Park!” dengan sedikit brutal Yoochun mencekal lengan Jaejoong, menyeret namja cantik itu menuju ruang kerja ayah mereka yang berada di samping tangga sebelah kanan.

Jaejoong meronta dan terus menghardik Yoochun dengan sumpah serapah. Bila biasanya Jaejoong bisa menghajar orang dengan mudah kali ini namja cantik itu tidak bisa melakukannya, selain karena memikirkan bayi dalam perutnya Jaejoong juga menjadi mudah lelah akhir-akhir ini.

Begitu sampai di dalam ruangan yang mirip dengan kantor seorang direktur itu Yoocchun segera berjalan menuju lemari kaca yang menyimpan beragam buku dan dokumen-dokumen penting. Yoochun mengambil sebuah kertas yang dilaminating kemudian menyodorkan kertas itu pada Jaejoong, “Ini adalah akta lahirmu yang Umma sembunyikan darimu selama ini! Bacalah!” perintah Yoochun.

Jaejoong hanya diam memandang Yoochun dengan mata penuh kemarahan, tanpa berniat menyentuh akta itu. Jaejoong tahu apa itu akta dan apa saja yang tertulis di atas kertas itu jadi untuk apa melihatnya karena semuanya sudah jelas bukan?

“Di sini tertulis Park Jaejoong lahir dari ibu bernama Lee Haeri dan ayah bernama Park Jaeseok.” Ucap Yoochun lantang dan keras.

Doe eyes itu membulat menatap Yoochun dengan ekspresi kagetnya, sedikit kasar dirampasnya kertas itu dari tangan Yoochun.

“Kau adalah adikku. Mau menyangkal sekeras apapun kau tetaplah adikku.” Ucap Yoochun dengan suara sedikit melunak, “Ibu yang melahirkan kita memang berbeda, tetapi ayah kita tetaplah sama.”

Mata Jaejoong nanar. Apa-apaan ini? Bukankah Ayahnya bernama Kim HyunJoong? Walaupun kedua orang tuanya bercerai ketika usianya masih 4 tahun, tetapi Jaejoong tahu pasti namja yang dulu dipanggilnya Appa itu bernama Kim Hyunjoong.

Jaejoong merasa ditipu sekarang, merasa dipermainkan dan dibuat binggung bukan hanya oleh Yoochun tetapi oleh akta sialan yang di atas permukaannya dibubuhi stempel resmi kantor catatan sipil serta rumah sakit tempatnya lahir. Namja cantik itu merasa hidupnya bahkan jauh lebih menyedihkan daripada hidup Changmin.

Appa bilang dulu Appa mempunyai seorang yeoja chingu sebelum dipaksa menikah dengan Ummaku karena sebuah kecelakaan. Yah, Appa meniduri Ummaku dalam keadaan mabuk hingga menghadirkan aku. Appa terpaksa menikahi Ummaku dan meninggalkan Haeri Umma. Walaupun tidak saling mencintai tapi Appa berusaha menjadi suami yang baik hingga beberapa bulan kemudian Appa baru tahu dari teman mereka kalau ternyata Haeri Umma sedang mengandung bayinya saat Appa meninggalkannya dulu.” Cerita Yoochun.

Doe eyes itu sudah memutahkan lavanya.

Appa binggung dan mencari Haeri Umma. Karena suatu hal Haeri Umma menghilang begitu saja. Appa cerita bila saat itu Haeri Umma yang tidak mau menggugurkan kandungnya dipaksa menikah dengan namja pilihan orang tuanya untuk menutupi aib keluarga, namja itu bernama Kim Hyunjoong.”

Air mata itu semakin deras membasahi wajah rupawan Jaejoong, dadanya berdenyut sakit. Jaejoong membutuhkan Yunho sekarang untuk menenangkan dirinya.

“Kau tahu betapa senangnya aku saat Appa bercerita bahwa aku mempunyai seorang dongsaeng? Walaupun saat itu aku sedih karena Ummaku meninggal tetapi harapan bahwa aku mempunyai seorang dongsaeng dari Umma yang lain membuatku sangat bahagia. Aku sudah berjanji akan membahagiakan adikku nantinya bila kami bertemu.” Mata Yoochun nanar melihat wajah Jaejoong yang sudah dibasahi oleh air mata, “Tidak mudah bagi Appa untuk membawa kembali Haeri Umma kesisinya, kau tidak tahu bagaimana senangnya aku ketika pertama kalinya kita bertemu saat itu…. Aku ingin memelukmu, aku ingin bercerita banyak padamu, aku ingin meneriakkan pada seluruh dunia bahwa aku punya adik yang sangat luar biasa. Tapi kau…? Sikapmu padaku justru….”

“Park Yoochun, kita hentikan pembicaraan kita hari ini.” Ucap Yunho yang tiba-tiba saja sudah memeluk Jaejoong dari belakang, “Jaejoongku sepertinya sangat lelah dan ingin beristirahat…..”

“Kau? Yah! Jung Yun….” mata Yoochun membulat ketika menyadari perlahan-lahan tubuh Jaejoong melemah dan lengser. Andaikan Yunho tidak melilit perut Jaejoong dengan kedua lengan kekarnya bisa dipastikan tubuh Jaejoong akan bercumbu dengan kerasnya lantai marmer yang dipijaknya.

“Kau tidak keberatan menunjukkan dimana kamar yang biasa Boo Jae tiduri?”

.

.

Yoochun hanya terdiam, Jaejoong pingsan tadi dan sekarang sedang tertidur. Yoochun hanya bisa menatap tajam Yunho yang sejak kepergian dokter yang memeriksa Jaejoong tadi enggan beranjak dari sisi adiknya. Yoochun ingin menanyakan banyak hal pada Yunho mengenai kondisi mengejutkan Jaejoong sekarang. Susah payah Yoochun menahan keinginannya untuk menghajar namja bermarga Jung itu.

“Hamil? Male pregant?” gumam Yoochun.

“Apakah itu aneh?” tanya Yunho. Tangannya enggan melepaskan genggamannya pada jemari namja cantik yang tengah terbaring dalam tidurnya.

“Kau tahu? Appaku sangat menyayangi Jaejoong lebih daripada sayangnya padaku. Entah seperti apa reaksinya bila mengetahui hal ini.” Lirihnya.

“Maafkan aku kalau begitu.”

“Kau tidak pantas dimaafkan!”

Yunho menggangguk paham, “Memang…. Tetapi aku tidak akan pernah meninggalkan Boo Jae walaupun kalian memaksaku sekalipun.”

“Bagaimana bisa kau menghamilinya, Brengsek?” maki Yoochun dengan suara melengking. Kedua tangannya terkepal erat, ingin sekali melayangkan tinju pada Yunho untuk menambah koleksi luka lebam pada wajah namja bermata musang itu. Tetapi bila Yoochun melakukannya, itu akan mengganggu Jaejoong yang sedang beristirahat.

“Aku memang bukan orang suci. Tetapi aku berusaha semampuku untuk membahagiakan Boo Jae.”

“Kenapa kau menyeret adikku dalam kesialanmu, Bastrad?!” pekik Yoochun lagi.

“Maafkan aku soal kesialan yang menimpaku, tetapi aku tidak pernah menyeret Boo Jae dalam kesialan yang menimpaku.”

“Lalu kau mau bilang Jaejoong yang mendatangimu, huh?”

“Bukankah selama ini terlihat seperti itu?”

Yoochun mengeram kesal, menahan amarahnya yang sudah membuncah, “Apa yang akan kau lakukan bila Appamu tahu soal ini?”

“Entahlah…. Aku sudah diusir dari rumah dan diancam dicoret dari kartu keluarga. Kau pikir dia bisa melakukan apa lagi padaku? Membunuhku?”

Yoochun berjalan menghampiri Yunho, mencengkeram kuat-kuat kerah baju namja bermata musang itu, mengangkat tangannya hendak menghajar wajah menyebalkan yang membuatnya sangat muak, “Bila kau melukai adikku, kau akan mati ditanganku!”

“Akan ku ingat kalau Boo Jaeku ternyata memiliki seorang kakak yang luar biasa.”

Yoochun mendengus kesal, memilih pergi untuk menenangkan pikirannya yang kalut. Hari ini terlalu pagi untuk dihabiskan untuk marah-marah.

“Hei, Boo…. Satu penghalang sudah berhasil kita tumbangkan…. Ah, tinggal para bukit tinggi itu yang harus kita taklukkan.” Gumam Yunho yang dengan lembut mengusap wajah pucat namja cantik itu, “Semoga ketika uri aegya lahir nanti dia tidak akan merasakan kepedihan sama seperti yang kita rasakan….”

.

.

TBC

.

.

.

.

Sunday, April 06, 2014

8:08:01 PM

NaraYuuki

Love Dragon

Tittle                : Love Dragon

Author              : NaraYuuki

Genre               : Incest? Yang jelas fantasy gagal

Rate                 : M-Preg

Cast                 : All Member DBSK

Disclaimer:       : They are not mine but this story and Jung Hyunno are mine, NaraYuuki

Warning           : Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut.

.

.

Baca FF Fantasy Yuuki harus pelan-pelan, biar ga binggung!

FF Fantasy Yuuki tidak terikat dengan kebudayaan manapun jadi silahkan bebaskan imajinasi masing-masing ketika membacanya.

.

.

.

Baca Warningnya dulu, ne!

.

.

Love Dragon

.

.

Lima roh perawan suci yang meninggal dalam peperangan itu menari-nari di langit-langit asrama, mengiringi langkah namja yang tengah menenteng pedang besarnya, kelahiran namja itu yang membawa turut serta kelima roh suci itu dalam setiap langkahnya. Bukti bahwa dirinya adalah seorang pemimpin besar. Namja yang tengah kelelahan itu terlihat gusar, beberapa luka lebam dan sisa darah kering menghiasi wajah tampannya. Peluh membasahi tubuhnya seiring langkah kaki jenjang itu menapaki satu per satu anak tangga yang akan membawanya menuju loteng, tempat yang sebenarnya terlarang bagi seorang ‘siswa’ seperti dirinya.

“Hei Jung!”

“Jangan menggangguku Park!”

“Apakah si cantik itu mengalahkanmu lagi?”

“Jangan menggangguku!”

“Apakah…”

Srak! Bunyi gesekan logam itu terdengar begitu miris dan mengganggu telinga siapa saja yang mendengarnya, tidak terkecuali namja yang sedang memegang buku bacaannya. Terlebih ketika ujung pedang itu sudah menempel di atas permukaan kulit lehernya.

“Jangan menggangguku Park Yoochun!” ucapnya dingin.

“Aku hanya ingin mengatakan kalau si cantik itu sedang berada di loteng.”

“Itu memang tujuanku!” usai menyarungkan pedangnya, namja bermata musang itu bergegas menapaki tangga kembali.

“Ck…. Saudara yang aneh.”

“Hm…. Mereka seperti musuh bebuyutan.” Sahut namja yang sedang memainkan bola apinya.

“Bukankah mereka memperebutkan tahta? Astaga! Menyedihkan.” Namja jangkung yang sedang membersihkan tombaknya itu ikut menimpali.

“Mungkin hari keruntuhan Cassiopeia akan segera datang….” namja berpipi chuby itu berjalan mendekati meja dan meletakkan bukunya di atas meja, “Atau mungkin masa kejayaan itu akan kembali sekali lagi….”

.

.

Dak!

Sedikit kasar menendang pintu malang itu namun tidak menunjukkan raut penyesalan di wajahnya yang menunjukkan ketegasan dan kearoganan. Sepatu besinya menimbulkan irama tersendiri ketika berjalan menuju satu-satunya jendela di loteng yang sangat pengap itu, loteng yang menyimpan kumpulan buku terlarang yang tidak boleh dimasuki oleh sembarang orang, namja bermata musang itu salah satunya.

“Kenapa kau tidak membunuhku, huh?!” bentakan itu keluar dari bibir berbentuk hatinya. Ingin sekali menebas namja yang sedang duduk di bibir jendela, namja yang sedang bermandikan cahaya senja itu, namja yang membuatnya harus memendam rindu dendam tidak terkira, namja yang ingin dibunuh namun juga sangat ingin dilindunginya.

Doe eyes kelam itu menatap mata setajam musang yang juga tengah memandangnya, menantangnya untuk bercumbu dalam kemarahan dan kebencian yang tersimpan dalam mutiara-mutiara kecoklatan itu, “Kalau kau marah setelah aku mengalahkanmu dalam duel tadi siang, aku mau melayanimu bertarung. Tetapi kali ini bukan di medan perang… kau tahu maksudku?”

Jemari kokoh itu mencengkeram kuat, menahan amarah yang sungguh sangat ingin dilampiaskannya pada sosok cantik namun kejam itu, ingin meremukkan sosok itu hingga menjadi butiran-butiran debu agar tidak lagi bisa mengganggunya, “Kau….”

Tiba-tiba saja hembusan angin kuat menghempaskan jendela loteng, membuat kaca yang terbingkai kayu jati dari Kalimantan itu sedikit bergetar, disusul oleh jeritan bersahut-sahutan dari siswa-siswa lain yang tengah lari pontang-panting menjauhi lapangan, terlihat jelas dari loteng.

“Mereka sudah datang menjemput kita. Jangan lari dari kenyataan ini! Karena bagaimanapun juga kau tetaplah seorang Jung….” si cantik itu berdiri, doe eyes gelapnya masih menatap lekat namja yang sepertinya tengah marah padanya itu, berjalan menghampirinya pelan, menepuk bahunya yang masih dilapisi oleh seragam besi, seragam yang dikenakan oleh semua siswa ketika akan maupun sedang melakukan duel. “Ah, aku tidak suka menunggu….” bibir merah merekahnya itu tersenyum sinis sebelum berjalan terlebih dahulu.

Namja bermata musang itu merapalkan sumpah serapahnya namun tetap mengikuti langkah namja cantik yang sempat mengejeknya.

.

.

Sepasang sayap itu mengepak-kepak cepat, menimbulkan angin puyuh kecil, menerbangkan apa saja di sekitarnya, bahkan beberapa pohon pun ikut tumbang akibat ulah mahluk setinggi lima meter itu, satu-satunya mahluk yang masih tersisa dari spesiesnya yang nyaris punah, naga bercula perak bernama Urceolla itu sedang duduk tenang bertengger di atas tebing batu yang memang mengelilingi asrama para siswa akademi Orion. Sekolah yang mengajarkan tentang kedisiplinan, ilmu militer dan sopan santun bagi mereka yang mewarisi dalah biru.

Di samping Urceolla tengah duduk dengan angkuhnya salah satu mahluk legendaris yang hanya hidup di dasar lembah kematian, mahluk kegelapan bersisik besi yang tidak akan bisa ditumbangkan oleh senjata macam apapun di dunia ini kecuali api yang dihasilkan oleh Urceolla, Seburus satu-satunya naga yang berasal dari lembah kematian itu duduk tenang di samping Urceolla yang terus mengepak-kepakkan sayapnya, memanggil sang majikan.

Cassiopeia bisa dituntut akibat ulah kalian ini.” Gerutu Yoochun.

“Diam kau Park!” namja cantik itu berjalan ke tengah halaman asramanya, di punggungnya sudah terdapat busur dan anak panah perak dengan logo negara Cassiopeia di atas permukaannya. Menghela napas pelan sebelum tiba-tiba Urceolla melesat ke arahnya dan berdiri dengan angkuh di hadapannya, “Kau mau aku pulang sekarang?”

Naga bercula perak itu mengibas-ngibaskan ekor dan sepasang sayapnya, kepalanya menunduk, membiarkan namja cantik itu mengusap kepalanya pelan.

Arra….”

Ekor runcing Urceolla melilit tubuh namja cantik itu, mendudukkannya di atas punggungnya sebelum perlahan-lahan membumbung tinggi dan terbang menuju utara dengan kecepatan penuh.

“Dia meninggalkanmu….” gumam Yoochun ketika namja bermata musang itu baru muncul, sepertinya namja itu baru saja mengganti baju besinya dengan baju yang biasanya dikenakan oleh para bangsawan Cassiopeia.

“Aku bisa mengejarnya dengan mudah.” Sahutnya bersamaan dengan turunnya Seburus dari tempatnya berpijak semula, “Mari pulang!”ucapnya sebelum melompat menaiki punggung naga bersisik besi itu.

Secepat kilat naga itu menimbulkan goresan berwarna hitam pekat di langit selama beberapa detik lamanya sebelum menghilang begitu saja.

“Curang sekali. Mereka berdua dijemput oleh seokor naga dan kita….” Junsu, namja bersuara unik itu melirik tiga ekor kuda beraksa (pegasus) yang berada di dekatnya.

“Kita hanyalah seorang penjaga, jangan mengeluh dan segera kejar mereka sebelum mereka berdua saling menghunuskan senjata!” namja jangkung itu sudah menaiki kuda beraksanya.

“Haaaahhh…. Jung Jaejoong dan Jung Yunho benar-benar merepotkan!” gerutu Junsu.

.

.

“Jangan kasar! Yunho!” Jaejoong merintih di bawah kungkungan tubuh kekar itu. Ingin rasanya menikamkan belati tepat dijantung namja bermata musang itu, tetapi bila ia melakukannya bisa jadi Yunho akan mati seketika. Dan dirinya tidak akan pernah mengijinkan Yunho mati dengan mudah.

“Bukankah kau sendiri yang memintanya?” tanya Yunho yang sedang sibuk dengan pekerjaannya, “Maka rasakanlah!” umpat Yunho. Peluh membasahi tubuhnya, matanya nyalang penuh gairah dan kemarahan.

Dok! Dok! Dok!

Pintu tebal berwarna coklat kehitaman itu di pukul kasar dari luar.

“Jung Yunho! Bila kau tidak segera keluar dari kamar Jaejoong aku akan mendobraknya sekarang juga!”

Teriakan nyaring itu terasa sangat menyakiti telinga Yunho, kesal karena kegiatannya diganggu oleh penjaganya yang terlalu cerewet dan ikut campur urusan pribadinya. “Kau selalu mengganggu kesenanganku, Park!” maki Yunho dengan suara lantangnya.

“Cih! Kau selalu saja seperti itu. Tidak sadarkah kau bahwa perbuatanmu itu sudah menghasilkan sebuah nyawa? Dasar!” omel Yoochun, “Cepat keluar setelah pekerjaanmu dengan Jaejoong selesai! Kita harus bicara dengan para Tetua!”

.

.

Yah! Rapikan jubahmu! Aish!” kesal Yoochun ketika melihat jubah kebesaran Cassiopeia itu dipakai asal-asalan oleh Yunho.

“Tidak akan ada yang berani mengomentari penampilanku!” sahut Yunho, “Lagi pula kenapa kau sangat cerewet, huh? Aku akan menukarmu dengan Junsu ataupun Changmin bila kau terus berteriak kepadaku!” ancamnya.

“Pemberontakanmu ini hanya akan merugikan dirimu sendiri. Ingat itu! Aku melakukan hal ini semata untuk kebaikanmu.” Ucap Yoochun yang berusaha merapikan jubah yang tengah dipakai oleh Yunho, “Kau tidak mau mencoba memakai kimono sama seperti yang Jaejoong pakai?”

“Dan membiarkanku terlihat seperti yeoja? Mati saja aku!” sahut Yunho.

Dua namja berbeda usia itu melangkahkan kaki-kaki jenjang mereka melewati sebuah lorong yang gelap, hanya obor yang diletakkan di sepanjang sisi lorong yang menjadi sumber cahaya keduanya. Mereka harus bergegas atau mereka akan mendapat hukuman karena terlambat menghadiri pertemuan penting itu.

Sebuah pintu berwarna merah menyala yang terbuat dari metal serta ornamen lambang Cassiopeia menyembul indah diatas permukaan pintu itu, ornamen yang terbuat dari berlian asli seberat 25 karat yang dikelilingi oleh ornamen naga air yang terbuat dari kristal masir jernih sudah menyambut kedatangan Yunho dan Yoochun. Sedikit kepayahan karena berat pintu itu, Yoochun membukanya perlahan-lahan.

Dua ekor naga setinggi lima meter itu sudah menyambut Yunho dan Yoochun. Salah satu naga bahkan mengepak-ngepakkan sayapnya begitu Yunho memasuki aula besar itu. Naga Seburus milik Yunho.

“Yunho….” seorang namja tua berbadan tambun memanggil nama namja yang sebenarnya paling disegani di Cassiopeia itu.

“Kami sedang membicarakan pernikahanmu dengan putri bangsawan Go.” Namja yang memiliki janggut berwarna merah bata itu menimpali.

“Hm? Siapa yang akan menikah?” namja bermata musang itu mengangkat seorang anak kecil yang duduk di kursi yang biasanya diduduki oleh calon raja. Diciumnya pipi chuby anak itu, “Aku tidak akan menikah dengan siapapun. Bukankah begitu?” Yunho melirik seorang namja cantik yang baru saja datang bersama dengan Junsu dan Changmin.

“Keluarga Go? Tidak masalah. Kau boleh menikah dengannya Yun.” Namja cantik itu berujar.

“Lihat, Jaejoong sudah menginjinkannya.” Sahut seorang tetua yang paling pendek dari kelima tetua yang tengah duduk tenang di kursi mereka masing-masing.

“Kau boleh menikahinya Yun, bila kau ingin melihatku membantai keluarga mereka!” chery lips itu melengkung sempurna membuat semua yang berada di dalam aula besar itu bungkam seketika kecuali anak kecil yang berada dalam gendongan Yunho, “Jadi tidak ada pembahasan lagi soal ide bodoh ini, bukan? Katakan padaku kenapa kalian memanggilku kemari? Tidak tahukah kalian kalau aku sangat sibuk?” doe eyes indah itu menatap tajam kelima namja tua berjanggut yang tengah duduk di sebuah meja panjang, mirip meja di ruang pengadilan yang sering diduduki oleh para hakim.

“Jaejoong jangan tidak sopan seperti itu!” Changmin mengingatkan. Sebagai penjaga Jaejoong sejak kecil namja berusia 120 tahun namun masih memiliki wajah serupa remaja 17 tahun itu kadang memang kerepotan karena ulah Jaejoong.

“Jangan membuang waktuku untuk hal tidak penting seperti ini.” Namja cantik itu mencium kening anak yang berada dalam dekapan Yunho sebelum berjalan pergi diikuti oleh Junsu.

Yunho tersenyum lebar, “Lihat! Aku tidak akan menikah dengan siapapun….” senyumnya bertambah lebar ketika melihat wajah frustasi kelima tetua itu.

.

.

Namja kecil berusia lima tahun itu terlihat sangat gembira ketika dimandikan oleh sang ibu dibawah kucuran air terjun kecil ditemani seekor bayi naga kecil berwarna perak, ekornya bersisik besi runcing dan tajam. Memang masih seukuran kucing, namun anak naga yang diberi nama Kirin itu sudah mampu membunuh orang-orang jahat.

Baby, jangan bergerak….”

Namja kecil itu merangkak di atas permukaan sungai yang sangat dangkal hanya sebatas mata kaki orang dewasa, mendudukkan dirinya di atas pangkuan sang Umma, menepuk-nepuk kimono yang dipakai Ummanya, menggesek-gesekkan wajahnya di dada sang Umma pelan.

“Hyunno masih menyusu?” tanya Changmin yang duduk di bebatuan yang berada di pinggir sungai.

“Dia seorang Jung murni, Changmin. Dia akan menyusu pada ibunya sampai usianya sepuluh tahun.” Sahut Junsu. Namja yang dua tahun lebih tua dari Changmin itu menjelaskan pada rekannya, rekan sesama penjaga yang ditugasi untuk mengawasi Jaejoong.

“Jung Jaejoong, jangan sekali-kali kau menyusuinya di sini! Aku tidak mau Jung Yunho berisik itu menebas kepala kami.” Pinta Changmin. Sungguh! Changmin tidak mengerti cara berpikir keturunan Jung. Anak-anak yang dulu ditimangnya itu kini sudah dewasa dengan segala pemikiran mereka yang rumit dan sulit dimengerti olehnya.

“Aku lebih memilih melihat kepala kalian ditebas daripada melihat anakku kelaparan.” Sahut namja cantik itu. Dilonggarkannya kimono yang dikenakannya, menyikap sedikit kimono itu hingga memperlihatkan kulit indah punggung dan bahunya yang terbuka. Membiarkan anak kecil dalam pangkuannya itu bermain dengan benda kesayangannya.

“Ck…. Junsu, kau tetap tinggal di sini bersama mereka.” Ucap Changmin, “Setidaknya kau satu jenis dengan Jaejoong.” Secepat kilat namja jangkung itu melompat pergi.

“Jaejoongie….” panggil Junsu, “Apakah tidak sakit menyusuinya? Bukankah gigi Hyunno sudah tumbuh semua?” tanya Junsu.

“Lebih sakit ketika menyusui ayahnya.” Jawab Jaejoong.

Aish! Jangan mengatakan hal itu padaku! Itu adalah rahasia kamar kalian.” Gerutu Junsu, “Soal keluarga Go… apakah kau benar-benar akan melakukannya?” ditatapnya namja cantik yang baru berusia 25 tahun itu dengan pandangan sayang. Junsulah yang menggantikan peran ibu untuk Jaejoong ketika ibu namja cantik itu meninggal sesaat setelah melahirkannya ke dunia. Sehingga sangat wajar bila Junsu menyimpan sayang pada Jaejoong. Sayang sebagai orang tua kepada anaknya.

Chery lips itu terangkat, doe eyes kelamnya mengamati pantulan bayangan Urceolla yang terbang di atas kepalanya sebelum mendudukkan tubuh besarnya di samping Jaejoong membuat Kirin kegirangan dan beberapa kali menyemburkan bola api kecil dari mulutnya sembari terbang mengitari tubuh besar sang induk. Kirin memang anak Urceolla dan Seburus.

“Aku hanya mencari alasan, karena apapun yang terjadi aku akan tetap melakukannya.” Sahut Jaejoong.

.

.

Jaejoong mendorong kasar tubuh namja bermata setajam musang itu dari atas tubuhnya ketika merasakan nyeri pada bagian dadanya, “Anakmu sudah menguras cairanku tadi sore, kau mau membunuhku?” ucapnya dengan wajah kesal.

“Sial! Aku ini seorang King. Tapi kenapa aku bisa tunduk dibawah kuasamu, huh?” namja bermata musang itu mencekal kuat-kuat pergelangan tangan pucat itu, menghempaskan tubuh itu dan mengkungkungnya, “Kau akan menyesal karena sudah membuatku seperti ini Jung Jaejoong! Kau akan membayar setiap tetes hasrat yang kau alirkan dalam tubuhku.”

Jaejoong tersenyum mengejek, “Karena kau memang terlahir sebagai budakku, walaupun kau adalah seorang King sekalipun.” Sahutnya.

.

.

Namja cantik itu mendudukkan dirinya di atas ranjang, menatap namja yang terlelap pulas di sampingnya. Doe eyes gelapnya menatap sosok lain dalam kamar itu, sosok yang selalu menemaninya sejak dirinya masih kecil, Junsu. Namja besuara khas itu sedang mempersiapkan baju untuk dikenakannya nanti.

“Yunho akan tertidur sampai pagi karena aku sudah menaburkan bubuk tidur pada tubuhnya. Dia tidak akan mengganggumu kali ini.” Ucap Junsu.

Jaejoong meraih kimononya, memakainya asal sebelum berjalan menghampiri Junsu sedikit tertatih.

“Beruang besar itu menghajarmu sampai seperti ini? Kau yakin masih ingin pergi?” tanya Junsu.

“Aku adalah Jendral perang terhebat selama di akademi Orion, tetapi di sini… tidakkah kau berpikir bahwa aku sangat menyedihkan? Mendesahkan dan menjeritkan namja menyebalkan itu kadang sangat membosankan untukku.” Sahut Jaejoong, “Dimedan perang aku memang jauh lebih unggul darinya, dan memang harus ku akui kalau soal urusan ranjang dia yang jauh lebih hebat.”

“Bukankah kau sendiri yang memilih jalannya? Jadi jangan mengeluh atas apa yang sudah kau lakukan selama ini.” tanya Junsu yang membantu Jaejoong melepaskan kimono tidurnya untuk menggantinya dengan kimono dan baju yang sudah disediakannya sebelumnya.

“Mau bagaimana lagi? Terlalu sayang untuk dilewatkan.” Gumam Jaejoong.

“Ckk…. Kalian sama-sama keras kepala.”

“Siapa yang akan menemaniku?”

“Yoochun dan Changmin.” Jawab Junsu.

“Kau?”

“Apa kau pikir menenangkan anakmu itu semudah membunuh seratus orang?” tanya Junsu.

“Dia seorang Jung. Sayang darah ayahnya sepertinya lebih banyak mengalir dalam dirinya. Kadang mereka terlihat sama.” Jemari lentik itu meraih sebuah pedang perak indah yang berada di atas meja, “Ah… jangan lupa membangunkan Yunho pukul enam pagi. Dia sudah berjanji pada anakku untuk menemaninya memancing.”

Arra….” sahut Junsu.

“Ini akan menjadi malam yang panjang….”

.

.

Api yang menyembur dari mulut Urceolla itu berhasil membinasakan ratusan bangsa carvus yang menghadang lintasan terbangnya. Sayap serupa kelelawar berwarna peraknya itu seolah-olah bercahaya tertempa sinar bulan yang menerangi malam ini. Ah, waktu tengah malam memang membuat bulan terlihat lebih indah dari biasanya.

Jleb!

Jleb!

Jleb!

Anak panah perak itu menancap sempurna pada dada para Carvus yang berhasil selamat dari api Urseolla, membuat mereka memekik kesakitan sebelum akhirnya terjatuh ke daratan dengan luka parah  yang membuat mereka menemui malaikat kematian mereka masing-masing.

Hup!

Sosok cantik itu tiba-tiba melompat dari atas punggung Urceolla dan mendarat di sebuah balkon yang menjorok ke arah semenanjung. Di bawah sana, deburan ombak yang menghantam daratan serupa melodi kematian yang biasanya selalu mengiringi setiap prosesi upacara kematian.

Dilemparnya busur panah dan kantung yang digunakannya untuk menyimpan anak panahnya. Dirinya tidak membutuhkan lagi benda itu mengingat anak panahnya sudah habis untuk mengurus para Carvus.

“Selamat datang pangeran Jaejoong.” Seorang namja tua dengan janggut panjang dan wajah bengisnya  tersenyum menyambut kedatangan namja cantik itu.

“Kau sangat bernafsu menjadikan Yunho menantumu, Pak Tua. Ck…. Tidakkah kau tahu bahwa Jung menyebalkan itu adalah milikku?” tanya Jaejoong, sama sekali tidak memedulikan sambutan yang namja itu berikan padanya.

“Pangeran, kita semua tahu bahwa….”

“Aku bahkan sudah melahirkan anaknya. Dan kenapa kau masih berambisi untuk mengusiknya, hm? Kau tahu artinya bila mengusik milikku, bukan?” tanya Jaejoong santai, “Mati!” ucapnya kemudian.

Usai Jaejoong mengatakan hal itu angin puyuh kecil menerpa balkon indah itu, Seburus sudah berdiri dengan angkuhnya di hadapan Jaejoong dan memasang wajah garangnya. Naga yang pada bagian dadanya terpasang perisai tengkorak yang sebenarnya adalah tulangnya itu menunjukkan taring-taring tajam yang sangat beracunnya.

Jaejoong berjalan pelan, menepuk-nepuk paha Seburus sebelum berjalan menuju lorong sebelah kanan, tempat mangsanya berada, “Seburus…. Kau boleh menelan mereka semua.” Ucapnya saat melihat para prajurit dari arah berlawanan dengan tujuannya. Jaejoong terus melangkahkan kakinya, mengabaikan pekikan dan jeritan yang saling bersahutan memecahkan kesunyian malam ini.

.

.

“Anak pintar.” Puji Jaejoong saat melihat yeoja yang sudah tidak berdaya akibat terinjak kaki kanan Urceolla, “Menjauhlah darinya, dia bagianku sekarang! Bantulah Yoochun dan Changmin yang sedang bertarung melawan para prajurit itu!”

Tanpa diperintah dua kali naga bercula perak itu segera melayang dan terbang, keluar melalui jendela kaca yang sudah hancur membuat kamar berukuran luas itu layaknya sebuah gudang bobrok..

Yeoja berambut panjang yang lengannya berdarah akibat goresan kuku runcing Urceolla itu menatap Jaejoong dengan pandangan nyalang penuh kebencian.

“Kau tahu Ahra? Yunho sangat hebat ketika berada di atas ranjang! Sentuhannya begitu lembut dan memabukkan, ciumannya membuat nalar ikut melayang dan…. Ah, dia sangat jantan dan perkasa.” Chery lips itu melengkung ketika melihat gurat kekecewaan dan kesedihan di wajah sang yeoja.

“Hentikan!” jerit Yeoja itu.

“Jadi berhentilah bermimpi hal yang tidak pernah bisa kau dapatkan!” Jaejoong mengingatkan, doe eyes kelamnya menatap yeoja yang perlahan-lahan bangun itu dengan tatapan tajam penuh kemarahan.

“Kau sakit! Kau kejam!” maki yeoja itu, mengabaikan darah yang mengalir dari lengannya akibat luka yang dideritanya.

“Selama di Orion aku memang tidak diajari untuk bertarung melawan yeoja. Tapi ku rasa kali ini aku tidak keberatan melakukannya mengingat kita menginginkan hal yang sama.” Jaejoong mengeluarkan sebuah pedang dari sarungnya. Baju besi yang dikenakannya terlihat berkilau seperti permata di bawah paparan sinar bulan yang masuk melalui jendela yang dihancurkan oleh Urceolla tadi, “Ambil semua senjata yang kau punya untuk melawanku! Ah, aku lupa… kau bahkan tidak perlu senjata untuk melawanku karena kau sendirilah senjata itu.”

“Bila harus membunuhmu, akan ku lakukan walaupun kepalaku harus dipertaruhkan di tiang gantungan!” Yeoja itu mengepalkan kedua tangannya.

“Bagus!” puji Jaejoong. “Aku suka bila kau menjadi serius seperti itu.” Ucapnya. Perlahan-lahan ditanggalkannya baju besi miliknya, membuat tubuhnya hanya berbalut kimono merah menyala yang sangat indah. Doe eyes kelamnya terus mengawasi yeoja di hadapannya itu dengan kewaspadaan penuh.

“Jung Jaejoong! Kau akan membayar atas apa yang sudah kau lakukan pada keluargaku!” jerit yeoja itu penuh kemarahan.

“Maka aku akan menerima pembalasanmu dengan tangan terbuka.”

“Mati kau Jung Jaejoong!” Go Ahra, yeoja itu menjerit sambil berlari menuju arah Jaejoong, sebuh topeng serupa kepala burung gagak membingkai wajah yeoja itu, sebuah tombak runcing tiba-tiba sudah berada dalam genggamannya.

“Ck…. Carvus memang daebak!” puji Jaejoong yang bersiap menerima serangan pertama dari Ahra.

Tlang!

Gesekan antara permukaan pedang yang Jaejoong genggam dengan batang tombak yang Ahra bawa membuat keduanya menimbulkan sedikit percikan bunga api. Kedua mata mereka saling beradu, mengeluarkan tatapan dendam, benci dan saling membunuh! Yang kalah dalam pertarungan ini bisa dipastikan hanya akan menyisakan jasat tidak bernyawa.

Buk!

Tubuh yeoja itu terhempas membentur lemari kayu yang berada di sudut ruangan, mulutnya memutahkan darah segar, tulang rusuknya terasa nyeri akibat tendangan Jaejoong pada dadanya.

Jung Jaejoong, semua orang mengenal siapa namja berparas cantik itu. Kakak Jung Yunho yang lahir dua hari sebelum kelahiran Yunho, namja yang dilahirkan oleh istri ke-2 mendiang raja terdahulu, namja yang mengikat Jung Yunho dalam belenggunya. Namja cantik yang memiliki hati sedingin es. Jaejoong tidak akan segan melenyapkan siapa saja yang mengusiknya. Berbeda dengan Yunho yang gampang meledak dan meluapkan amarahnya dalam setiap perkataan dan tindak-tanduknya, Jaejoong cenderung jarang bicara dan lebih melakukan aksi nyata. Membunuh para musuhnya dengan tangannya sendiri contohnya.

Dan entah bagaimana caranya sehingga namja seperti itu bisa melahirkan seorang calon raja bagi Cassiopeia. Namja yang sangat dibenci namun juga sangat dipuja dan dicintai oleh Yunho.

“Kau tidak akan mati semudah itu, kan? Kemana kebanggaanmu sebagai salah satu petarung terhebat yang Carvus miliki?” tanya Jaejoong. Doe eyesnya membulat ketika menyadari dari arah belakang sebuah tombak melesat dengan kecepatan tinggi menuju arahnya.

“Terlalu sombong hingga melemahkan konsentrasimu, huh?” sindir Ahra yang perlahan bangun dari keterpurukannya, beberapa kali yeoja itu terbatuk dan memutahkan darah.

Jaejoong tersenyum ketika tombak runcing itu nyaris mengenainya, sebuah tameng besi melindunginya dari tusukan itu, tameng berbentuk menyerupai sayap kelelawar yang sebenarnya adalah sayap milik Seburus. Tombak itu penyok seketika, mata tombaknya retak dan patah akibat berbenturan dengan sayap Seburus yang lebih keras daripada logam titanium.

Menatap yeoja malang itu sambil tersenyum manis, “Sepertinya aku tidak berminat lagi melawanmu. Sebagai salah satu petarung terhebat Carvus, kau mengecewakanku.” Jaejoong berjalan keluar kamar yang sudah berubah menjadi medan pertempuran itu, membiarkan Seburus mengambil alih pekerjaannya.

.

.

“Bakar tempat ini!” perintah Jaejoong sebelum menaiki punggung Urceolla dan terbang tinggi meninggalkan puri di atas tebing yang sudah dibanjiri oleh darah para Carvus dan mayat-mayat mereka.

“Apakah iblis selalu berwajah cantik?” gumam Yoochun yang masih berada di atas punggung kuda beraksanya.

“Hei!” Changmin melirik tajam Yoochun, “Jangan mengatakan anak didikku seperti itu!”

“Anak kecil yang dulunya menggemaskan dan penurut itu sekarang menjadi iblis. Kau gagal mendidiknya, Shim Changmin.”

Namja jangkung itu melemparkan bola api kecil ke arah gorden yang sudah terkoyak itu, membuatnya terbakar, api menjalar dan mulai merambat ke seluruh bangunan megang yang kini nyaris rubuh itu, “Karena sifatnya itulah Jaejoong tidak akan kehilangan haknya sebagai salah satu mewaris tahta Cassiopeia.”

.

.

“Jung Jaejoong! Bagaimana bisa kau membantai keluarga Go seperti itu, huh?” salah satu dari para orang tua berjanggut panjang menggebrak meja panjang itu dengan kasar.

“Kau juga membakar puri mereka.” Tambah seorang tetua yang duduk ujung kanan.

“Lalu ada masalah dengan hal itu?” tanya Jaejoong.

“Jung Jaejoong!”

“Yah Pak Tua! Berhenti membentaknya!” ucap Yunho. Matanya sudah menatap tajam kelima orang tua yang tampak menghela napas berat mereka.

“Apa kau sudah siap dengan konsekuensi yang akan kau terima?”

“Tidak akan ada yang berani menghukumku.” Ucap Jaejoong tenang.

“Tetua! Jangan coba-coba menyentuh Jaejoong!” Changmin sudah menghunuskan pedangnya, namja jangkung itu tidak akan membiarkan orang lain menyakiti Jaejoong. Walaupun kadang kesal dengan sikap Jaejoong tetapi namja cantik itu tetaplah anak didik yang dirawat dan dijaga segenap hatinya, “Langkahi dulu aku!”

Yoochun menepuk-nepuk bahu Changmin pelan, “Jangan buru-buru mengacungkan senjata! Tapi lihatlah arsip rahasia ini!” yoochun meletakkan beberapa gulungan kertas di atas meja, tepat di hadapan para tetua Cassiopeia itu, “Keluarga Go berencana melakukan kudeta dengan membunuh Hyunno, Putra Mahkota Cassiopeia. Melenyapkan Jaejoong dan kita semua yang masih setia mengabdi kepada keluarga mendiang Raja Jung Siwon.”

“Kenapa kalian tidak membicarakan hal ini terlebih dahulu pada kami, huh?”

“Aku kurang suka bicara. Melakukan tindakan nyata lebih penting daripada sekedar bicara.” Sahut Jaejoong. Dilangkahkannya kakinya ke luar dari aula pertemuan itu. Setellah pertarungan melelahkan namun membosankan itu, Jaejoong ingin beristirahat sejenak.

.

.

Napasnya terengah-engah, peluh membasahi sekujur tubuhnya yang dipenuhi oleh lebam dan goresan luka. Kedua mata tajamnya itu menatap penuh amarah sosok cantik yang tengah tersenyum mengejek dirinya, andaikan bisa pastilah Yunho sudah mencekiknya dan membunuh sosok menyebalkan itu. Tetapi tidak… Yunho tidak bisa melakukannya, karena Yunho sangat mencintainya. Kim Jaejoong….

“Menyerahlah Yun!”

“Tidak!” sahut Yunho.

“Ck…. Kau mungkin seorang King, tapi di medan pertempuran seperti ini Jaejoonglah yang King!” ucap Junsu yang berdiri di pinggir area pertarungan sambil menggendong Hyunno yang sibuk menyedot botol susunya.

Tlang!

Jleb!

Pedang Yunho terlempar jauh di belakang tubuhnya sementara pedang berwarna perak lain berhasil menikam lantai tepat di samping kepalanya, membuat mata setajam musangnya membulat.

“Sudah seratus kali aku mengalahkanmu dalam pertarungan.” Namja cantik itu betujar sambil mendudukkan dirinya di atas perut Yunho, mengabaikan lima roh perawan yang melayang-layang di atas mereka sambil melakukan sebuah tarian indah, “Menyerahlah!”

“Tidak!”

“Jangan biarkan aku membunuhmu!”

“Lakukan kalau berani!” tantang Yunho.

“Akan ku lakukan!” ucap Jaejoong dengan ekspresi tenangnya, “Setelah kau menikahiku, pabo!”

.

.

Jaejoong hanya menatap namja tampan itu dengan wajah datarnya, mengamati dan sesekali memberikan kritikan yang dibutuhkannya, “Jung Hyunno! Fokuskan konsentrasimu!” teriaknya memberikan komentar.

Arra Umma.” Sahut namja remaja berusia 15 tahun yang sedang berlatih pedang itu. Peluh sudah membasahi sekujur tubuhnya.

“Jangan terlalu galak padanya, Boo.” Ucap Yunho yang duduk tenang di samping Jaejong.

Sambil mengusap peerut buncitnya namja cantik itu melirik Yunho sekilas, “Hyunno tidak akan bisa menggantikan posisiku sebagai Jendra terhebat di Orion bila kemampuannya separah kemampuanmu!” sindir Jaejoong. Entah kenapa kemampuan bertempur anaknya bisa sepayah Yunho.

“Yah!”

“Dimana tiga orang tua menyebalkan itu?”

“Nugu? Park Yoochun? Shim Changmin dan Kim Junsu?” tanya Yunho yang hanya mendapat anggukan singkat dari Jaejoong, “Ah, mereka sedang menyiapkan semua hal yang diperlukan untuk prosesi persalinanmu nanti.”

Arra.” Sahut Jaejoong, “Yah Jung Hyunno! Ayunkan pedangmu dengan tenaga! Kalau kau tidak mau Umma membuang Kirinmu lakukan lagi dengan benar!” omel Jaejoong.

Arra Umma.” Sahut Hyunno setengah berteriak.

Sepuluh tahun yang lalu Yunho menikahi Jaejoong, kakaknya sendiri. Apaboleh buat? Kutukan itu sudah mengikat keluarga mereka sejak dulu. Jatuh cinta pada saudaranya sendiri, tenggelam ke dalam pusaran memabukkan penuh dosa namun menyenangkan itu benar-benar sangat nikmat!

“Jangan seperti itu Boo.”

“Diam! Bahkan kau tidak pernah bisa mengalahkanku.” Sindir Jaejoong.

“Oh, aku melakukannya sesering aku bisa. Lihatlah! Siapa yang hamil? Kau atau aku?” sahut Yunho.

“Jung Yunhooo! Mati kau!”

Di atas langt Cassiopeia, Urceolla dan Seburus tengah terbang memamerkan keperkasaan mereka bersama Kirin dan naga-naga kecil anak mereka. Kedamaian yang dijaga penuh dengan pengorbanan….

Kebahagiaan yang didapat dengan sebuah usaha….

.

.

END

.

.

Gaje ne? Ga masalah. FF ini untuk Tria yang demen Incest & Naga. Semoga FF gagal ini bisa sedikit menghibur. Well, apabila ada sesuatu yang tidak dipahami di FF ini silahkan ditanyakan akan Yuuki jawab langsung di bawah kolom balasan review :)

Yang nunggu Ancestor, sabar ya, biarkan AKTF end dulu. Yuuki ga mau punya banyak hutang epep soalnya :D

Yang sening besok UN, semangat ya! Semoga mendapatkan yang terbaik dan jalannya diperlancar Tuhan.

.

.

Saturday, April 12, 2014

9:20:57 PM

NaraYuuki

Always Keep The Faith! IX

Tittle                : Always Keep The Faith!

Author              : NaraYuuki

Genre               : Family/ Romance

Rate                 : -M

Cast                 : All Member DB5K

Disclaimer:       : They are not mine but this story is mine, NaraYuuki

Warning           : Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut.

.

.

.

.

.

Yang jelek-jelek jangan ditiru ne ;)

.

.

AKTF

.

.

Srak!

Begitu keluar dari ruang guru yang selalu berhasil membuat moodnya memburuk Yunho langsung tersenyum lebar, memeluk namja cantik yang menungguinya sejak tadi erat, mendaratkan kecupan sayang di atas permukaan kening indah itu, menggandeng jemari pucat itu kuat-kuat.

“Kau terlihat bahagia.”

“Yah, sejujurnya aku kesal karena seosengnim tadi langsung menceramahiku begitu aku menemuinya. Tetapi setelah aku menjelaskan semuanya seosengnim justru langsung memelukku dan mengucapkan selamat padaku. Membuat kekesalanku luntur perlahan-lahan.”

Chukae kalau begitu.” Sahut Jaejoong.

“Tapi Boo, sebagai ganti ujian praktik olah raga, kau harus menghadapi ujian teori olah raga. Aish! Itu lebih susah daripada ujian praktik. Mianhae….” sesal Yunho.

Gwaechana.”

“Jangan khawatir, karena seosengnim akan memberikan sedikit bocoran mengenai materi apa saja yang kemungkinan akan keluar.”

“Aku akan ujian sendiri, kan?”

Ani, aku akan menemanimu walaupun seosengnim sudah melarangku dan memperingatkanku soal ini.”

“Aku bisa sendiri!”

“Ck…. Jangan keras kepala!”

“Jangan selalu memaksa dan mengaturku! Dasar menyebalkan!” gerutu Jaejoong.

“Aku hanya ingin menjaga kalian berdua.”

“Kau sudah melakukannya dengan baik, Appa.”

Yah! Berhenti menggodaku!” Yunho menghentikan langkah kakinya ketika seorang yeoja yang dikenalnya sebagai yeoja chingu Yoochun tengah berdiri di hadapannya sambil melemparkan senyum manis kepadanya.

“Yunho sshi…. Bisa kita bicara sebentar?” yeoja itu bertanya.

Sedikit mengerutkan keningnya binggung, “Bicaralah!” ucap Yunho kemudian.

Yeoja itu melirik Jaejoong dengan tatapan gelisah dan sedikit aneh.

“Ck… setelah Yoochun mencampakanmu sekarang kau mau mencari korban lain?” tanya Jaejoong terdengar tajam dan menusuk. Namja cantik itu melepaskan genggaman tangan Yunho padanya, berjalan ke hadapan yeoja itu dengan sedikit angkuh kemudian melipat kedua tangannya di depan dada, “Biar aku bicara sesuatu padamu. Kau boleh menggoda siapa saja kecuali namja ini! Namja bernama Jung Yunho ini milikku! Kau tahu? Dan aku tidak suka milikku diusik oleh parasit sepertimu.”

Boo….”

“Aku mau dia dikeluarkan dari sekolah bila terus menggodamu seperti itu!” ucap Jaejoong dingin, tanpa berkata apa-apa lagi namja cantik itu berjalan melewati sang yeoja, dengan sengaja menabrakkan bahu mereka, “Itu terakhir kalinya aku bicara padamu! Jangan mengusik milikku atau kau akan menyesal!”

Yunho hanya bisa tersenyum melihat sikap Jaejoong, ketika sedang cemburu namja cantik itu  benar-benar terlihat sangat menawan dimatanya, “Jia sshi, bukankah kita sudah bicara sebelumnya? Aku ini namja brengsek jadi akan lebih baik kau menjaga jarak dariku daripada kau terkena masalah karenaku. Lagi pula aku sudah sangat mencintai orang lain.” Ucap Yunho tenang sebelum berjalan mengejar Jaejoong.

Namja jadi-jadian menyebalkan!”

.

.

“Kau tahu Jaejoongie, kemarin aku bilang pada Chunie bahwa aku menyukainya lebih dari sekedar teman. Yang menyedihkan dari itu dia hanya memelukku dan mengusap kepalaku, dia bilang hubungan seperti itu salah, dia bilang aku hanya kurang mendapatkan perhatian makanya bisa merasakan perasaan seperti itu.” Ucap Junsu dengan ekspresi sedihnya, “Tadi pagi dia masih bersikap biasa-biasa saja seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi tahukah kau Jaejoongie? Hatiku bahkan lebih sakit dibandingkan ketika Yoochunie mencium Jia.”

Jaejoong yang duduk di tribun penonton hanya mendengarkan apa yang Junsu katakan, doe eyes hitamnya menatap arah lapangan basket indoor dimana di sana kelas Yunho sedang praktik untuk nilai ujian akhir.

“Kau tahu Junsu, menurutku kalian berdua sama.” Gumam Jaejoong.

“Huh?” Junsu menatap lekat wajah Jaejoong.

“Kalian berdua sama-sama kesepian dan haus kasih sayang.” Jaejoong menolehkan kepalanya untuk menatap Junsu, “Sejujurnya kalian adalah pasangan yang cocok, andai cara berpikir Yoochun bisa sedikit diubah.”

Junsu diam dan melihat Yoochun yang sedang melakukan lompat tinggi di bawah sana. Yoochun memang sekelas dengan Yunho.

Umma, aku lapar.”

Tanpa banyak bicara Jaejoong menyerahkan tas berisi bekal yang dibuatnya pada namja jangkung yang baru datang dengan napas terengah itu, kelas Changmin memang praktik olah raga terlebih dahulu sebelum kelas-kelas yang lain, “Minum dulu dan atur napasmu baru makan. Ingat, sisakan untuk Yunho juga!”

Changmin mengganggukkan kepalanya pelan, mendudukkan dirinya di samping kiri Jaejoong kemudian membuka kotak bekal yang menjadi bagiannya.

“Sedikit mengejutkan karena kau membiarkan Changmin memanggilmu Umma.” Gumam Junsu.

“Katakanlah aku melihat kesamaan diriku dalam diri Changmin.” Sahut Jaejoong.

.

.

“Aku tidak bisa membiarkanmu terus-terusan tinggal di rumah Yunho!” ucap Yoochun yang tiba-tiba saja mencekal lengan Jaejoong yang hendak membuka lokernya di ruang ganti khusus namja, “Hari ini kau pulang denganku ke rumah!”

“Tidak ada yang bisa memaksaku.” Ucap Jaejoong yang berusaha melepaskan cekalan tangan Yoochun.

“Kau tidak….”

“Kau tidak boleh menyakiti Ummaku!” namja Jangkung itu meremas pergelangan tangan Yoochun hingga memerah.

Ummamu? Nugu?” tanya Yoochun binggung. Setahunya ini adalah ruang ganti khusus namja dan tidak ada ahjuma-ahjuma tersesat yang dilihatnya berada di sini, “Yah! Lepaskan tanganku, pabo! Kau bisa mematahkan tulangku!” pekik Yoochun karena pergelangan tangannya mulai terasa nyeri akibat ulah Changmin.

“Dia akan melepaskanmu bila kau melepaskan cengkeramanmu padaku.” Ucap Jaejoong.

“Tidak! Kau harus pulang denganku!” Yoochun bersikeras membawa Jaejoong pulang bersamanya.

“Changmin bisa mematahkan tanganmu!”

Yoochun melirik namja jangkung itu kesal sebelum melepaskan cengkeramannya pada lengan Jaejoong, “Aku akan tetap menyeretmu pulang apapun yang terjadi.” Ucapnya sebelum pergi.

“Dia terobsesi pada Umma.” Gumam Changmin, “Brother complex?”

“Bila sudah lelah dia akan berhenti sendiri.” Ucap Jaejoong yang kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda karena ulah Yoochun tadi. Usai mengambil jaket dan seragam olah raganya yang kotor, Jaejoong kembali menutup lokernya dan menguncinya.

Umma, hari ini aku ingin makan malam dengan Japchae dan Bulgogi.” Ucap Changmin yang memasang senyum manisnya.

“Kalau begitu nanti kita harus membeli daging dulu. Ah, mana Yunho?”

Molla. Hyung pulang terlebih dahulu tadi. Sepertinya Hyung sedang terburu-buru.” Jawab Changmin.

Jaejoong mengerutkan keningnya, “Kenapa dia tidak mengatakan apa-apa padaku?” gumamnya, “Kajja pulang!”

“Belanja dulu Umma.”

Ne….”

.

.

Usai membeli daging Jaejoong dan Changmin pulang. Changmin yang memang sudah diberitahu Yunho mengenai keadaan Jaejoong yang kini membawa Jung kecil didalam tubuhnya sama sekali tidak membiarkan “Umma”nya itu menenteng daging yang hanya seberat satu kilogram itu. Bahkan Changmin juga tidak membiarkan Ummanya menggendong tas sekolahnya sendiri.

“Kau bersikap manis hari ini.” Puji Jaejoong saat keduanya menaiki lift menuju lantai lima, rumah mereka berada.

“Karena Umma sedang membawa Dongsaengku. Aku harus membantu Umma. Hyung bilang seperti itu….”

Jaejoong tersenyum, “Kau memanggilku Umma, anak ini kau panggil dongsaeng. Lalu kenapa kau tidak memanggil Yunho dengan sebutan Appa, hm? Dengan begitu kau bisa menjadi putra sulung kami.”

Jeongmal….”

Jaejoong mengusap kepala namja yang lebih muda darinya itu pelan, “Entah seperti apa penderitaan yang dulu kau alami. Sekarang, mari bersama melupakan masa lalu pahit itu dan menyongsong masa depan…. Punya anak sebesar ini diusiaku yang sangat muda tidak buruk juga.” Namja cantik itu langsung keluar dari lift begitu pintu lift terbuka, berjalan menuju apartement yang selama beberapa hari ini menjadi rumah baginya.

“Apa hyung belum pulang?” tanya Changmin.

Molla….” sahut Jaejoong. Begitu sampai di depan apartement, Jaejoong berhenti di depan pintu. Ada yang aneh. Pintu apartement tidak terkunci dan sedikit terbuka, dari arah dalam terdengar suara seorang yeoja, “Cih! Jung pabo itu cari mati rupanya!” gumamnya sebelum sedikit kasar memasuki apartement dan….

“Joongie….”

Jaejoong membatu melihat sosok itu, yeoja paruh baya yang masih terlihat sangat cantik, tubuhnya yang agak kurus itu dibalut dengan pakaian elegan yang membuatnya sangat anggun walaupun wajahnya sedikit pucat. Son Gain, yeoja yang sudah melahirkan Yunho.

Umma….”

Jaejoong menolehkan kepalanya pada Changmin yang baru saja masuk, “Changmin….” Jaejoong mengerti bila namja jangkung itu syock dan terkejut ketika melihat siapa yang sudah duduk di atas sofa ruang tamu rumah mereka, “Bawa dagingnya ke dapur dan segera masuk ke kamarmu!”

Changmin menatap Jaejoong kikuk, mengganggukkan kepalanya pelan, membungkuk pada yeoja itu dengan kaku sebelum berlari menuju dapur.

“Anak itu benar-benar tinggal di sini?”

Yunho hanya diam, enggan menjawab pertanyaan yang dilontarkan padanya.

“Jaejoongie….” yeoja itu berjalan menghampiri Jaejoong dan memeluknya erat, “Umma sudah mendengar dari Yunho. Usianya baru empat minggu, kan? Kau harus menjaganya dengan baik.” Yeoja itu mengusap wajah Jaejoong perlahan-lahan.

Jaejoong hanya diam diperlakukan seperti itu, doe eyes kelamnya melirik Yunho yang hanya diam sejak tadi.

“Penerus keluarga Jung harus dididik dengan baik!”

Ahjumma… bagaimana bisa kau mengatakan hal itu padaku bila kau sendiri tidak mampu mendidik Yunho, Hyunbin dan Changmin dengan baik? Lagi pula belum tentu Jihun Ahjushi mau mengakui anak ini sebagai cucunya.” Batin Jaejoong.

“Apakah perlu Umma bicara pada Ummamu, Jaejoongie?”

“Tidak perlu!” sahut Yunho terdengar dingin, “Umma tidak perlu ikut campur urusan kami.” Yunho berdiri, berjalan menghampiri Jaejoong dan yeoja yang dipanggilnya ibu itu. Menyingkirkan tangan Gain yang masih membelai wajah Jaejoong.

“Yunho!”

Boo, aku lapar!” ucap Yunho, “Ku rasa Changmin juga lapar.” Cara halus untuk memisahkan Jaejoong dari Gain.

Jaejoong membungkukkan badannya sesaat pada Gain sebelum berjalan menuju dapur.

“Yunho! Kenapa kau bersikap seperti itu? Joongie sedang mengandung cucu Umma!” protes Gain.

Umma tidak tahu apa-apa! Berhentilah ikut campur dan teruslah berada di dalam kotak kebahagiaan Umma! Jangan bersikap seolah-olah Umma peduli pada kami karena aku tahu Umma hanya meginginkan kebahagiaan Umma sendiri!”

Gain, yeoja yang sudah melahirkan Yunho itu menghela napas pelan, “Kau tahu Umma dengan baik.” Ucapnya dingin.

Umma memberitahuku dengan sangat gamblang!” sahut Yunho.

“Surat cerai sudah Umma layangkan untuk Appamu.”

“Akhirnya… Umma akhirnya berani melakukannya juga.” Sindir Yunho, “Kenapa tidak dari dulu saja Umma lakukan hal itu?” Tanyanya.

Gain menatap Yunho dengan pandangan nanar, “Kau adalah anak Appamu. Dia tidak akan benar-benar berani mengusirmu apalagi mencoretmu dari kartu keluarga. Sekali-kali tengoklah dia.”

“Terima kasih atas nasihat Umma. Tapi tanpa Appa pun aku bisa hidup sampai sekarang.”

Umma akan berangkat ke Jinan hari ini juga, kau tahu kemana harus pergi bila merindukan Umma.” Gain meraih tasnya yang berada di atas sofa usang itu.

“Ku pastikan itu tidak akan terjadi.”

Ada sakit yang menghantam ulu hatinya ketika putranya sendiri bicara seperti itu, “Sampaikan salam Umma pada Joongie…. Kau harus menjaganya karena ditangannyalah keberlangsungan keturunan keluarga Jung.” Ucap Gain sebelum pergi.

Blam!

Yunho terpaku menatap pintu kokoh itu tertutup pelan. Ummanya datang menemuinya setelah kabur dari rumah sakit yang merawatnya selama ini dan Yunho justru bersikap sedingin itu pada ibunya sendiri? Entahlah…. Yunho sendiri tidak tahu mengapa dirinya bisa bersikap seperti itu pada yeoja yang sejujurnya sangat rapuh itu. Sikap angkuh Ummanya hanyalah tameng yang dibangunnya sebagai kamuflase untuk membuat yeoja itu tidak terlalu melangkah jauh dari area amannya, tempat yang akan membuatnya tetap merasakan kebahagiaan walaupun semuanya hanya semu belaka.

Yang Yunho tahu dibalik senyum angkuh Ummanya tersemat luka dan air mata yang ditutupinya dengan baik. Bagi Ummanya menikah dengan ayahnya saja sudah merupakan bencana karena mereka tidak saling mencintai, apalagi hingga Yunho dan Hyunbin lahir. Yunho tahu bahwa setelah melahirkan Hyunbin Ummanya menjadi agak depresi, terlebih ketika Hyunbin meninggal. Yeoja malang itu sempat dirawat di rumah sakit jiwa selama sebulan lamanya.

Pernikahan yang mengikat ayah dan ibunya hanyalah ikatan diatas sebuah perjanjian, perjanjian menguntungkan keduanya yang justru mendatangkan bencana dan kesengsaraan bukan hanya untuk mereka tetapi untuk anak-anak mereka juga.

Yunho mengusap lengan pucat yang melilit perutnya itu pelan, merasakan kelembutan dan kekenyalan kulit indah itu, meresapi luka yang perlahan-lahan mengoyak hatinya, menerima dengan iklhas ketika luka itu dibasuh dengan air yang menyegarkan namun juga mendatangkan perih disaat yang bersamaan.

“Changmin bagaimana?”

“Dia menangis tadi. Aku sudah menenangkannya, sekarang dia sedang tidur.” Pelukan di perut Yunho semakin mengerat.

“Aku iri padanya. Dia memilikimu sebagai Ummanya, Boo.”

“Dan kau memilikiku sebagai sandaranmu, Yun.” Lirih namja cantik itu pelan.

Yunho tersenyum, “Benar…. Aku sedikit lebih beruntung dibandingkan Changmin.”

“Jadi jangan iri padanya!”

“Tidak akan….”

“Sepertinya situasinya semakin sulit, ne?” tanya Jaejoong. Diusapnya punggung Yunho perlahan-lahan seolah-olah sedang memberikan mantra pada namja bermata musang itu, mantra penghapus duka.

“Oh Boo…. Jangan meninggalkanku! Berjanjilah!”

“Aku selalu bersamamu.”

“Ketika Jung Jihun sudah terusik, dia tidak akan pandang bulu terhadap siapapun juga. Entah istri atau anaknya sekalipun akan dikorbankannya untuk mencapai tujuannya. Dan bila dia mulai mengusik kita, ku mohon untuk tetap menggenggam tanganku dan jangan pernah kau lepaskan apapun yang terjadi, Boo.”

“Aku janji….”

Yunho melepas lilitan Jaejoong di perutnya, memutar tubuhnya agar bisa menatap wajah namja androgini yang sangat menawan itu. Mengusap pelan wajah yang selalu membuatnya merasa tenang bahkan ketika dirinya hanya memandangnya dari kejauhan saja, membelai pelan chery lips merekah itu lembut sebelum mengundangnya dalam ciuman manis penuh kegetiran dan kepahitan hidup. Hal yang hanya akan dirasakannya bila dirinya bersama namja cantik itu, Jaejoong. Orang yang bisa menyentuh luka hatinya….

“Entah apa jadinya aku tanpamu disisiku, Boo….” lirih Yunho.

.

.

TBC

.

.

Yuuki sudah mencoba mengunakan bahasa ‘biasa’ agar yang baca tidak binggung karena Yuuki tahu yang membaca tulisan Yuuki ini kadang masih asing dengan bahasa yang Yuuki pakai. Well, semoga tidak binggung dan tidak pusing karena FF ini.

.

.

.

Sunday, April 06, 2014

12:41:55 PM

Sendiri

Sendiri

.

.

You're Not a Bad Girl

.

.

Aku hanya merasa sepi di tengah keramaian ini….

Berteriak?

Sudah ku coba.

Ah… jangan memintaku tuk menangis!

Tidak akan ku lakukan!

Karena hal ini tidak pantas dibayar dengan air mata terkutuk itu.

 

 

Aku tidak akan menangis untukmu!

Tidak akan!

Walaupun kau remukkan aku!

Walaupun kau hancurkan aku!

Walaupun kau buang aku!

Aku tidak akan menangisimu

 

 

Biarkan begini….

Biarkan sepiku berteman maya dalam pilu

Biarkan nelangsaku mengujur bak peluru

Biarkan nalarku menjaga kewarasanku dalam semu….

Biarlah aku begini….

 

 

Sepi….

Sunyi….

 

 

Bila engkau menari dalam lautan garam….

Aku kan melihat….

Bila engkau menangisi nestapa….

Aku kan menatap….

 

 

Ah, ironis bukan?

 

 

Biar….

Biar seperti ini….

Biar aku sendiri….

.

.

.

.

.

Wednesday, April 09, 2014

1:14:51 PM

NaraYuuki

Next Project: Gods From The East

Next Project: Gods From The East

.

.

Gods From The East

.

.

“Merokok tidak baik untuk kesehatanmu.”

“Lucu sekali….” pemilik chery lips itu tersenyum mengejek, “Bos berandalan sepertimu menceramahiku? Apa kau sudah bertobat? Ah, seosengnim terlalu keras menghukummu rupanya hingga otakmu menjadi sedikit bermasalah….”

“Sayang sekali bila bibir merahmu itu menjadi kehitaman karena pengaruh tembakau. Itu mengurangi kualitas kecantikanmu.” Bisik namja bermata musang itu dengan senyum khasnya.

Yah! Kau mau mati?” sosok berkulit putih itu melempar puntung rokoknya sembarangan kemudian melayangkan pukulannya pada namja yang sudah mengatakan cantik padanya, kata laknat yang ingin dihapusnya dari muka bumi ini. Andaikan dia bisa….

.

.

“Kau adalah dongsaeng terhebat!” sindir Yoochun, “Wajah malaikat dan berhati iblis. Pantas saja Appa mudah sekali tertipu pada wajah polos dan naifmu itu.”

“Berterimakasihlah padaku! Kalau bukan karena wajah sok polos dan sok naifku ini, kau sudah pasti akan menghabiskan waktumu seharian memancing bersama para orang tua, mendengarkan obrolan membosankan mereka mengenai bisnis, saham dan investasi.” Balas Jaejoong.

Jeongmal gomawo nae saengie….”

“Itu menjijikkan.”

.

.

“Kenapa Yunho masih bisa tersenyum setelah semua kesulitan yang menimpanya selama ini?” Junsu menatap Jaejoong, “Jaejoongie, apa Yunho tidak punya perasaan?”

“Dia orang yang tegar dan kuat.” Jawab Jaejoong. “Itulah yang membuatku bisa terus menjadi temannya. Darinya… aku belajar menjadi kuat dan tegar.”

“Aku juga ingin menjadi temannya mulai sekarang agar aku bisa mencuri ketegarannya.” Lirih Junsu.

.

.

“Kau bisa menabrak tiang bila menunduk seperti itu terus.” Tegur Yoochun. Diulurkannya sebuah helm pada Changmin, “Aku tidak akan menculikmu.”

Dengan binggung Changmin mengambil helm yang diulurkan oleh Yoochun.

“Aku bukan orang baik tapi setidaknya aku bukan orang yang akan menghianati kepercayaan yang diberikan padaku. Cepat naik!”

.

.

Gods From The East

.

.

Ottoke? Ini versi Straightnya Always Keep The Faith. Belum akan Yuuki post dalam waktu dekat ini nunggu AKTF kelar dulu soalnya yang ini lebih berat & rumit. Tapi Yuuki menikmati semua proses pembuatannya.

Well, see you :D

.

.

Rabu, 09 April 2014

7:36:40 AM

NaraYuuki

Always Keep The Faith! VIII

Tittle                : Always Keep The Faith!

Author              : NaraYuuki

Genre               : Family/ Romance

Rate                 : -M

Cast                 : All Member DB5K

Disclaimer:       : They are not mine but this story is mine, NaraYuuki

Warning           : Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut.

.

.

.

.

.

Yang jelek-jelek jangan ditiru ne ;)

.

.

AKTF

.

.

Aish! Yah, Kim Junsu? Kenapa kau mengajakku ke bar seperti ini, huh?” tanya Yoochun. Tadi Junsu merengek minta diantar mencari udara segar, tetapi… bagaimana bisa mendapatkan udara segar bila tempat yang mereka datangi adalah bar? Hanya akan ada bau alkohol yang menyengat dan asap rokok yang memenuhi tempat itu. Yoochun kini mulai berpikir kalau temannya ini sudah mulai gila.

“Sebentar lagi akan ada udara segar untukku, Chunie….” gumam Junsu yang langsung menyeret Yoochun untuk duduk di salah satu kursi kosong yang berada di pojok ruangan bar itu sehingga tidak terlihat begitu mencolok karena pencahayaannya yang sedikit remang.

“Bagaimana kalau ada yang menyadari kalau kita masih SMA, huh?”

“Walaupun masih SMA tapi kita sudah berusia 18 tahun. Hal yang legal untuk memasuki tempat seperti ini.” Jawab Junsu, “Joongie yang bilang….” Tambahnya.

Aish! Iblis kecil itu lagi? Akan ku seret dia pulang besok pagi.”

Andwe!” peekik Junsu.

Wae?” Yoochun mengerutkan keningnya.

“Ah….”

Yoochun menolehkan kepalanya saat Junsu terlihat begitu kaget setelah melihat sesuatu. Mata Yoochun membulat melihat yeoja yang beberapa waktu terakhir ini selalu bersamanya tengah bercumbu mesra dengan seorang ahjushi-ahjushi. Yoochun bahkan dengan jelas bisa melihat bagaimana tangan ahjushi itu mulai menggerayangi tubuh sang yeoja.

“Ah…. Sangat segar bukan?” Junsu tersenyum pada Yoochun.

“Dasar sundal (pelacur)!” desis Yoochun sambil mengepalkan kedua jemarinya erat-erat.

“Kau tahu? Ku dengar Joongie sudah mencoba memperingatkanmu soal ini tapi kau mengabaikannya. Dan karena aku adalah teman yang peduli padamu, aku memperlihatkan bukti ini secara langsung daripada harus berdebat denganmu, sebab aku tahu kau tidak akan semudah itu percaya padaku jika tidak melihatnya dengan mata kepalamu sendiri.” Ucap Junsu, “Dan inilah kenyataannya mengenai siapa sebenarnya yeoja yang kau kencani selama ini. Yeoja itu seorang tunasusila (orang yang menjual dirinya), bukan karena kebutuhan uang. Kau tahu? Kadang orang-orang seperti itu memerlukan pelampiasan yang lebih dari sekedar uang.”

Yoochun menatap Junsu penuh kemarahan sebelum berjalan pelan dan menghampiri sepasang manusia yang masih saling mencumbu itu. Tanpa berkata apa-apa, Yoochun meraih gelas bir yang masih penuh itu kemudian menyiramkan isinya pada tubuh keduanya.

Yah!” marah namja paruh baya itu kesal akibat kegiatannya terganggu.

Yoochun tersenyum meremehkan, “Hei jalang! Apa kau membuat video porno juga? Kalau iya aku akan membeli seratus keping untuk ku sebarkan pada teman-temanku.”

“Yoochunie….”

“Cih! Berhenti menyebut namaku dengan bibir kotormu itu! Perempuan jalang!” maki Yoochun sekali lagi sebelum berjalan pergi meninggalkan tempat laknat itu, “Junsu, kita pulang!”

Junsu yang sebelumnya tengah sibuk mengetik sms segera menyimpan handphonenya dan berlari kecil mengejar Yoochun, “Aku lapar.”

“Kita akan pergi ke restoran Jepang untuk makan! Aku yang tlaktir.”

“Apa aku perlu menelpon Jaejoongie dan Yunho agar mereka ikut makan bersama kita?”

“Tidak! Aku tidak mau mereka menertawakanku.”

“Mereka kan sudah tahu bahkan sebelum kejadian ini terjadi.” Gumam Junsu yang kini bisa tersenyum sangat puas.

.

.

Jaeoongie, parasit itu berhasil kita singkirkan!’

Usai membaca pesan singkat itu Jaejoong melirik jam dinding yang bertengger di dalam kamar Yunho yang kini juga menjadi kamarnya. Sudah pukul sepuluh malam dan namja bermata musang itu belum menunjukkan kehadirannya? Jaejoong hendak menelpon ketika pintu kamar itu tiba-tiba terbuka, menampakkan sosok namja yang sepertinya baru selesai mandi itu.

“Aku membangunkanmu?” tanya Yunho, “Aku sudah mencoba untuk tidak berisik tadi.”

Jaejoong tidak menyahut. Doe eyes kelamnya yang sedikit sayu dan lelah itu hanya menatap Yunho.

“Kau sakit?” Yunho menyentuh wajah pucat Jaejoong yang berkeringat dingin.

Namja androgini itu menggelengkan kepalanya pelan, “Ambilkan aku minum.” Pinta Jaejoong.

“Tunggu sebentar.” Yunho kembali melesat keluar tanpa meletakkan terlebih dahulu handuk yang masih menyampir di punggungnya.

.

.

Umma sakit?” tanya Changmin ketika melihat di atas meja makan kecil itu hanya terhidang makanan yang semalam dimakannya. Sedikit kaget karena keberadaan namja cantik yang beberapa hari terakhir ini sering mengomelinya itu tidak tertangkap kedua matanya.

“Aku sudah memanaskannya.” Jawab Yunho yang dengan tenang memakan makanannya, “Boo Jae sedang demam. Aku menyuruhnya beristirahat.”

Changmin ikut mendudukkan dirinya di kursi yang berada di hadapan Yunho, mulai mengisi mangkuknya dengan nasi dan lauk pauk yang tersaji.

“Walaupun makanan sisa semalam tapi jangan ragukan rasanya. Bukankah aku berbakat dalam memanaskan makanan?” tanya Yunho untuk sekedar memecah kekakuan antara dirinya dan Changmin.

“Hanya memanaskan, siapa saja bisa melakukannya. Yang membuat makanan ini tetap enak adalah tangan Umma.” Sahut Changmin.

“Ck….” Yunho berdecak pelan, “Makan saja dan jangan berisik!”

.

.

“Jangan halangi jalanku!” mata setajam musang itu melirik Yoochun yang sudah menghadang dirinya ketika hendak menapaki tangga menuju atap sekolah, Yunho sangat mengantuk dan ingin tidur sebentar di sana.

“Aku hanya akan bertanya sekali.” Ucap Yoochun yang masih melipat tangannya di depan dadanya dengan gaya angkuhnya, “Dimana Jaejoong? Aku tidak melihatmu berangkat bersamanya pagi ini.”

Boo Jae sedang sakit. Dia akan ke dokter jadi tidak berangkat sekolah.” Jawab Yunho singkat.

“Sakit? Dan kau membiarkannya pergi ke dokter seorang diri? Yah!” Yoochun tidak habis pikir, bagaimana bisa Yunho membiarkan Jaejoong yang katanya sedang sakit itu pergi ke rumah sakit seorang diri?

“Kalau kau begitu mengkhawatirkannya, kenapa kau tidak menemuinya? Berhenti berteriak pada orang lain atas hal yang tidak bisa kau lakukan sendiri!” Yunho berjalan melewati Yoochun, tidak memedulikan kedua bahu mereka saling bersinggungan. Ketika sudah menyentuh handle pintu Yunho berujar, “Park Yoochun, pikirkan dulu apa yang ingin kau lakukan sebelum menyesalinya nanti. Kau terlihat sangat menyedihkan akhir-akhir ini.”

.

.

Doe eyes kelam itu hanya menatap diam kertas putih yang baru saja diterimanya dari dokter yang beberapa jam lalu melakukan serangkaian pemeriksaan terhadap dirinya, “Jadi aku harus bagaimana?” tanyanya.

“Jaga kesehatanmu, jangan terlalu lelah dan stress.” Jawab namja paruh baya yang memakai jas putih itu.

“Sedikit susah mengingat akhir-akhir ini aku sedikit stress, Ahjushi.” Keluh Jaejoong.

“Aku sudah menanganimu sejak kecil jadi berhentilah mendebatku, Jae….”

“Tapi aku memang sangat stress akhir-akhir ini.”

“Karena itu kau harus mengurangi stressmu dengan cara yang positif! Yang lebih penting, berhentilah merokok! Astaga! Nikotin dalam rokok itu bisa memperburuk keadaanmu dan membunuhmu perlahan-lahan.”

Arra…. Ahjushi jangan menceramahiku lebih dari ini atau aku akan gila mendengarnya!” sahut Jaejoong, “Aku tidak akan mati karena hal ini, kan?”

Namja dewasa itu mencondongkan tubuhnya ke arah Jaejoong dan menatap serius namja cantik yang sudah menjadi pasiennya bahkan semenjak dirinya di dalam kandungan sang ibu, “Kalau kau tidak mengikuti nasihat pak tua ini….”

Jaejoong menghela napas panjang, “Arraso.” Namja cantik itu berdiri dari duduknya, “Aku akan pulang kalau begitu.”

“Jaejoongie, berhenti mengkonsumsi alkohol! Itu bahkan lebih berbahaya dan bisa mengancam nyawamu.”

Ne.” Sahut Jaejoong sebelum menutup pintu ruang praktik sang dokter.

.

.

Namja itu sedang menatap langit biru yang dihiasi gumpalan awan putih dibeberapa sudutnya, terlihat sangat dingin dan indah. Doe eyes kelamnya tidak perkedip melihat pergerakan awan yang secara perlahan berjalan melewati garis langit. Sepasang telinganya mengabaikan bisikan-bisikan pengunjung kafe lain yang sedang mempertanyakan eksitensinya sebagai seorang namja atau yeoja.

Doe eyes itu baru mengalihkan fokusnya ketika namja yang dinantikan sudah datang dan mendudukkan dirinya di hadapannya. Mata setajam musang itu, struktur rahang yang tegas, ah… andaikkan namja itu tidak dicap sebagai siswa badung di sekolah mereka pastilah dirinya sudah dikejar-kejar oleh banyak yeoja cantik.

“Aku membiarkan Changmin naik bus sendirian menuju rumah. Entah dia tersesat atau tidak.” Yunho melepas tas sekolahnya, meletakkannya di kursi sampingnya yang kosong, “Wae? Jadi kau sakit apa? Apa demammu sudah turun? Tadi pagi Yoochun memarahiku karena membiarkanmu pergi ke dokter sendirian.”

Jaejoong tidak menyahut, mengambil hasil kesehatannya kemudian menyerahkannya pada Yunho, “Ku rasa aku akan segera diusir dari sana.”

“Darimana?” tanya Yunho yang menerima dan mulai membaca hasil kesehatan Jaejoong.

“Rumah keluarga Park.” Jawab Jaejoong.

Boo…?” sedikit gagap dan ragu, Yunho menatap Jaejoong dengan wajah kaget bercampur bahagianya.

“Mulai sekarang kau harus membiayai hidup kami!” ucap Jaejoong yang dengan tenang menikmati jus jeruknya.

Jinjja? Benarkah ini?” tanya Yunho sekali lagi untuk memastikan.

“Kau kecewa padaku?” Jaejoong balik bertanya.

Aigoo!” Yunho tidak bisa menyembunyikan kebahagiannya.

“Kau akan mendapatkan Jung kecil delapan bulan lagi jadi menabunglah untuk persalinanku nanti! Kau tahu, kehamilan pada namja sedikit merepotkan dan biaya persalinan di Seoul tidaklah murah.”

Yunho masih memasang senyum bahagianya, mengabaikan petuah yang namja cantik itu katakan padanya, “Yah! Mulai sekarang dengarkan aku! Kau tidak boleh merokok apalagi minum alkohol!”

“Aku tahu….”

“Besok aku akan bilang pada guru olah raga agar kau tidak perlu ikut pelajaran olah raga lagi mulai sekarang.”

“Yun….”

“Hm?”

“Bagaimana bila karena ini kau dicoret dari kartu keluargamu?”

“Memang aku peduli?” tanya Yunho, “Bila mereka saja tidak peduli padaku kenapa aku harus peduli pada mereka, hm?” Yunho menggenggam erat jemari pucat namja cantik itu seolah-olah takut berpisah darinya.

Doe eyes itu hanya menatap mata setajam musang yang juga tengah menatapnya.

“Setelah ujian akhir 2 bulan lagi semuanya akan baik-baik saja. Aku akan menjagamu, kau tidak perlu takut apa-apa lagi, Boo….” ucap Yunho, “Mereka tidak akan bisa mengusik kita lagi.”

“Bahkan keputusanku untuk membuang segalanya pun masih menyisakan luka di hatiku, Yun…. Ini tidak semudah mengatakannya. Tetapi…. Tetaplah disisiku agar aku bisa melalui semua ini dengan mudah.”

“Tanpa kau minta pun aku akan tetap melakukannya, Boo….”

Tidaklah cukup hanya dengan keyakinan dan tekad, karena hidup adalah sebuah perjuangan. Setiap hembusan napas dan detik yang berlalu adalah sebuah perjuangan.

Tidak mudah memang…

Tetapi ketika ada seseorang yang mau menemani dalam perjalanan melelahkan itu, semuanya akan terasa lebih ringan dan menyenangkan seberat apapun kesulitan itu….

.

.

TBC

.

.

Gomawo yang sudah membaca dan memberikan komentar untuk FF gaje ini. Mian Yuuki belum bisa membalas, tapi Yuuki akan usahakan untuk membalasnya.

Sekali lagi jeongmal gomawo :)

.

.

Friday, April 04, 2014

3:32:46 PM

NaraYuuki