Rama & Fitri

 

 

cherryblossom

 

Kedatanganmu sangat kutunggu Rama.

Ku nantikan dalam setiap hembus napasku

Ku rindukan dalam setiap detak jantungku

Ku dambakan dalam setiap aliran darahku.

 .

.

Tidak mudah Rama.

Tidak mudah untuk menunggumu

Tidak mudah untuk setia padamu

Tidak mudah untuk melalui hari-hari selama ke hadiranmu

.

.

Tetapi lihatlah!

Lihat betapa kuatnya tekadku!

Lihat betapa setianya aku mendampingimu sampai Fitri datang menjemputku menggantikanmu!

.

.

Ketahuilah Rama!

Ketika kau hendak pergi meninggalkanku lagi

Ku pastikan kesetiaanku tuk menunggumu.

Ku pastikan rinduku bertalu padamu hingga Fitri kembali….

.

.

Pergilah Rama!

Datahlah kembali tahun depan!

Selama menanti kedatanganmu menyambut rinduku,

Ku kan berusaha tuk jadi pribadi yang lebih baik

Agar Fitri memelukku dalam damai sucinya….

.

.

Selamat tinggal Ramadhan, selamat datang hari nan Fitri.

Mohon maaf bila selama ini Yuuki punya salah baik yang disengaja atau tidak :)

.

.

Sunday, July 27, 2014

9:38:45 AM

NaraYuuki

Black Tone

 

Tittle                : Black Tone

Writer               : NaraYuuki

Genre               : Fantassy/ Romance/ Family?

Rate                 : -M

Cast                 : All member DBSK (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan), Go Ahra, Jung Jessica.

Disclaimer:       : They are not mine but this story is mine, NaraYuuki

Warning           : This is YunJae Fan Fiction (Boys Love). Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut.

.

.

Black Tone

.

.

PASTIKAN BACA WARNINGNYA DULU

YANG PUASA, BACANYA KALAU UDAH BUKA SAJA NE :D

.

.

.

.

.

Dia adalah magnet kaumnya, para yeoja memujanya sementara para namja mengagumi karisma yang dimilikinya. Bukankah sangat wajar bila dirinya terpilih menjadi memimpin klannya? Lihat saja bagaimana semua pasang mata menatap ke arahnya ketika dirinya melangkahkan kaki jenjangnya menusuri lorong yang penuh sesak namun terasa sunyi berpenerangan ratusan obor  yang akan membawanya ke aula pesta. Mata tajam berwarna coklat bening yang cerah itu menatap seseorang yang bersandar pada salah satu pilar, tidak terusik oleh kedatangannya yang biasanya mampu menarik semua perhatian.

“Dia di sini?” tanyanya pada namja jangkung yang berjalan di sebelahnya. Mata setajam musang itu menatap namja yang masih bersandar pada pilar, namja yang membiarkan beberapa yeoja menggelayutinya, membuat biji mata setajam musang yang semula berwarna coklat cerah itu memerah perlahan-lahan,”Park Yoochun di sini?”

“Semua bangsawan vampire diundang ke acara ini, Hyung.” Jawab namja jangkung itu dengan suara tenang, mengabaikan aura mengintimidasi yang kakaknya keluarkan.

“Yo! Jung Yunho! Kau bisa membunuh banyak vampire muda bila aura mengerikan itu terus menguar dari dalam tubuhmu, Bung!” teriak namja yang menyandarkan tubuhnya pada sebuah pilar besar yag terbuat dari batu marmer abu-abu pucat, senyum meremehkan tersungging pada wajah tampannya, membuat pipinya yang agak gempal itu terlihat semakin chuby.

“Abaikan dia, Hyung!” namja jangkung itu mengingatkan.

“Changmin… apa dia juga datang?”

“Hero Jaejoong? Entahlah Hyung. Aku tidak tahu.”

“Akan ku habisi bila keluarga Kim berada di dalam pesta itu!”

.

.

Aula itu berbentuk setengah lingkaran dengan pilar-pilar besar sebagai penyangganya. Begitu pintu besar itu terbuka, suasana hiruk-pikuk dan percakapan segera menyambut telinga tajam Yunho dan Changmin yang kini berjalan di pinggir pembatas. Ruangan itu menyerupai sebuah lubang besar dimana pintunya terletak di atas, ada dua buah tangga yang mengarah ke arah bawah yang mana digunakan para tamu undangan untuk melakukan kegiatan mereka. Sekedar duduk-duduk malas, memakan makanan dan minuman yang khusus untuk klan mereka ataupun sekedar melakukan pembicaraan bisnis membosankan tentang bagaimana mengembangkan keturunan mereka yang semakin berkurang tiap tahunnya.

“Lebih penuh daripada pesta sebelumnya.” Gumam Yunho saat berjalan menuruni tangga menuju ke bawah.

“Karena kali ini semuanya datang Hyung.” Changmin mengangguk ketika seorang namja berambut pirang dengan mata biru cerahnya menyapanya menggunakan bahasa asing.

Mata Yunho yang sudah berwarna merah itu memicing tajam melihat sosok yang dengan angkuhnya duduk di atas sofa panjang berwarna maroon, hanya sosok itu yang duduk di atas sofa panjang itu ditemeni oleh seekor ular piton besar nan panjang yang melata di sekitar tubuhnya.

“Tahan dirimu, Hyung!” Changmin mengingatkan ketika kakaknya sudah menggeram marah. Hero Jaejoong yang berasal dari keluarga Kim itu adalah vampire yang paling kakaknya benci. Dibenci karena feromon yang menguar dari sosok vampire itu membuat seorang Jung Yunho kalang kabut. Kalang kabut karena pada pertemuan mereka di pesta yang lalu, lima tahun yang lalu Yunho nyaris jatuh ke dalam pelukan vampire berkulit pucat yang berkilauan bak berlian bila terpapar sinar mata hari itu.

“Mereka yang paling dinanti-nanti bukan?” Yoochun menepuk bahu Yunho pelan sebelum berjalan menuju sosok yang duduk di atas sebuah kursi yang berada di samping kanan Jaejoong. Vampire berambut merah yang sedang memangku sebuah tengkorak yang dulunya adalah kepala seseorang yang sangat berharga untuknya. Vampire berambut merah itu memperlakukan tengkoraknya serupa bola kristal yang biasanya digunakan oleh para penyihir, mengusap-usapnya perlahan dengan tatapan mata hampa.

“Yunho sshi…. Ayolah! Aku sudah menyiapkan tempat khusus untukmu.” Seorang namja berperawakan tinggi besar lagi gemuk dan memiliki kulit sangat legam itu menarik tangan Yunho dan Changmin, menggiring keduanya untuk duduk di atas sofa yang berada di depan sosok yang sangat Yunho benci, Jaejoong, “Aku akan meminta seseorang menyiapkan minuman untuk kalian. Tunggulah sebentar!” ucapnya sebelum pergi.

“Raihan, pria yang ramah.” Gumam Yoochun ketika menatap pria yang sebelumnya mengantar dan berbicara pada Yunho, “Dia sudah berusaha keras untuk menyediakan tempat. Ku kira dia tuan rumah yang cukup menyenangkan.” Ditegaknya cairan hijau terang yang sebenarnya merupakan darah yang sudah difermentasikan.

Yunho hanya diam, tidak berniat menanggapi obrolan Yoochun. Matanya fokus pada sosok angkuh di hadapannya yang sedang membelai-belai kepala ularnya penuh sayang namun terlihat sangat memuakkan dimata Yunho.

Changmin pun menatap ngeri pada sosok yang duduk si samping kursi Yoochun. Xiah Junsu, saudara tiri Jaejoong yang sedang mengusap-usap permukaan tengkorak yang agak retak itu, tengkorak yang Changmin ketahui milik saudara kembar Junsu yang mati karena ditikam belati perak oleh ibunya sendiri yang sedikit gila.

Ular piton yang panjang itu melata menuruni tubuh majikannya menuju arah Junsu dan melilit kaki namja itu dengan sangat ketat, membuat namja berambut merah menyala itu tersentak dari lamunannya.

“Jangan melamun di tempat seperti ini Suie. Banyak yang ingin menikammu. Kau tahu?” ketika suara Jaejoong yang sangat itu mengalun, banyak vampire yang menoleh ke arahnya, merasakan dan mencium aroma feromon yang menguar dari dalam diri kepala keluaraga bangsawan Kim itu.

Ne. Mian atas kecerobohanku, Hyung.” Sahut Junsu.

Gwaechana Joongie, sebagai tunangannya aku pasti akan menjaga Suie dengan baik.” Sahut Yoochun.

“Kau hanya tunangannya, bukan suaminya!” menggunakan ekor matanya Jaejoong menatap tajam Yoochun, “Selama kalian belum menjalankan ritual perkawinan, Junsu masih menjadi tanggung jawabku. Lagi pula aku sama sekali tidak menyukaimu, Park Yoochun! Jika bukan karena kekerabatan antara kau dan ibu Junsu, aku tidak akan membiarkan adikku menjadi bagian keluarga Park.”

Yoochun menelan ludah susah payah. Namja cantik yang menjadi kepala keluarga Kim itu memang terkenal berlidah tajam, bahkan mungkin kalau bisa dibilang taring yang dimilikki ularnya tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan lidah tajamnya.

Changmin mengamati pergerakan ular Jaejoong yang melata ke arahnya. Bisa dilihatnya bagaimana lidah bercabang sang ular terjulur-julur menakutkan. Ular piton biasanya memang tidak berbisa tetapi ular satu ini memiliki racun argentum, racun yang bisa meleburkan perak dengan mudah. Racun yang mematikan bahkan untuk vampire sehebat keluarga Jung sekalipun.

“Ularmu menakuti adikku, Kim!” desis tajam Yunho.

Bibir semerah darah itu menyunggingkan seringai, “Benarkah?” tanyanya, “Kemarilah Narssica, jangan menggoda bocah Jung itu!”

Mendengar panggilan dari sang majikkan, ular sepanjang sepuluh kaki itu pun meninggalkan Changmin yang sudah mulai berkeringat dingin.

“Anak pintar!” Jaejoong mengusap-usap kepala ularnya yang melata ke atas pangkuannya.

“Kau mau minum, Changmin?” Junsu menyodorkan segelar minuman berwarna merah pekat pada Changmin, “Raihan sepertinya lupa menyuruh orang mengantarkan minuman untukmu.”

Go… gomawo.” Changmin menerima gelas itu dengan ragu-ragu.

“Sedikit kurang menyenangkan sebenarnya berada satu meja bersama kepala keluarga Jung yang selalu menjadi magnet dimanapun dia berada.” Ucap Jaejoong sambil tersenyum angkuh pada Yunho, “Bukankah begitu Suie?”

“Hm… agak kurang nyaman karena lebih banyak orang lagi yang memperhatikan kita, Hyung.” Jawab Junsu yang masih setia mengusap-usap tengkorak dalam pangkuannya, “Bagaimana menurutmu, Chunie?” ditatapnya Yoochun yang sejak tadi memegang gelas berisi cairan berwarna hijau jernih.

“Itu karena karisma yang dimiliki oleh Jung Yunho, Suie. Sama seperti mendiang kakeknya, Sang Raja.” Sahut Yoochun. Namja yang mampu mengendalikan pikirannya itu menatap Yunho dengan tatapan yang sukar diartikan, “Apa yang membuatmu turun dari singgasana nyamanmu, Yunho?” tanyanya.

“Bukankah kau mampu membaca pikiran semua orang, Park?” tanya Yunho. Mata setajam musangnya yang berwarna merah itu tidak beralih dari Jaejoong, “Kenapa tidak kau gunakan saja kemampuanmu itu padaku, huh?” tantangnya.

Yoochun tersenyum meremehkan. Meletakkan gelasnya di atas meja kemudian duduk dengan menyilangkan kedua kakinya, memasang pose angkuh sama seperti yang Jaejoong lakukan. Yoochun bahkan mengabaikan beberapa panggilan dari yeoja-yeoja berambut pirang dan perak yang kebetulan lewat di dekatnya, “Bolehkan aku mengatakan apa yang pikiranmu inginkan saat ini pada semua orang?” tanyanya.

“Lakukan!” ucap Yunho yang menatap Jaejoong semakin tajam, tangannya terkepal kuat sekarang.

Yoochun melirik Junsu dan Changmin yang terlihat sedikit pucat, “Kau ingin menancapkan taringmu pada urat nadi kepala keluarga Kim, bukan?”

“Chunie!”

“Yoochun Hyung!”

Pekik Junsu dan Changmin bersamaan dengan suara teredam. Untunglah suasana di sekitar mereka sangat ramai sehingga tidak ada yang mendengar apa yang dikatakan oleh Yoochun selain mereka berlima. Mengatakan hal selugas itu ditengah-tengah kerumunan para vampire seperti ini sama saja mengumumkan perang antara keluarga bangsawan yang sangat berpengaruh itu.

Yah Jung Yunho! Kalau kau sangat menginginkannya kenapa tidak kau nikahi saja Joongie? Aku melihat kau memikirkan hal yang cukup ekstrem.” Gumam Yoochun, “Kau membayangkan Joongie berada di bawah kungkungan tubuhmu, menjeritkan namamu berulang-ulang dan melahirkan anak untukmu.”

“Chunie.” Junsu tidak lagi mengusap permukaan tengkoraknya tetapi menggenggam tangan Yoochun, mengharap tunangannya itu tidak berbicara terlalu jauh.

“Kalau kau begitu mendambanya kenapa kau membatalkan pertunangan kalian dan memilih menikah yeoja bermarga Go itu, huh?” tanya Yoochun, “Bukankah yeoja itu yang sudah membunuh ibumu?”

Hyung!” bentak Changmin. Kini namja jangkung itu menatap tajam Yoochun, urat marah terlihat jelas pada wajahnya.

“Dan kau Joongie! Berhentilah menguarkan feromon seperti itu! Tidakkah kau tahu bahwa banyak vampire yang nyaris kehilangan kendali diri mereka karenamu, huh?” tanya Yoochun.

“Aku tidak bisa melakukannya karena semua itu diluar kendaliku.” Jawab Jaejoong dingin, “Karena itu aku membawa Narssica bersamaku. Agar bila ada yang hendak menerkamku mereka sudah diterkam oleh Narssica terlebih dahulu.” Ucapnya tenang.

“Hentikan pembicaraan ini, Hyung!” pinta Junsu.

“Dan Yoochun, bukan Yunho yang membatalkan pertunangan kami tetapi akulah yang melakukannya.” Jaejoong menatap dingin namja di hadapannya itu, “Jangan mengatakan seolah-olah aku yang dicampakan karena selamanya aku tidak akan bisa dicampakan oleh mangsaku. Aku adalah queen! Karena itulah aku yang mencampakan bukan dicampakan. Bukankah begitu, Jung Yunho?”

Pyaaaaaaaaarrrrrrrrrrrrrr!

Changmin segera memasang pelindung di sekitar mereka berlima ketika jendela kaca tiba-tiba saja pecah berhamburan, gelas-gelas meledak menumpahkan isinya membuat ruangan pesta itu riuh sesaat sebelum hening. Semua yang berada di sana saling berpandangan kecuali kelima orang yang berada di dalam lingkaran pelindung yang Changmin ciptakan.

“Go Ahra, yeoja malang itu mati karena ulahmu.” Ucap Yunho, “Bukan Ahra yang membunuh ibuku tapi kau dan ular brengsekmu itu!” tuduh Yunho mengeluarkan kemarahannya.

“Kau tahu dengan baik rupanya.” Sahut Jaejoong tenang. Namja cantik itu berdiri dari duduknya, “Kemari Narssica, kita harus pergi dari sini sebelum Jung Yunho merobohkan tempat ini.” Ucapnya sambil berjalan pelan, membiarkan ular kesayangannya melilit badannya.

“Yunho sshi, apa kau tidak apa-apa?” tanya Raihan yang terpongoh-pongoh menghampiri Yunho.

“Maafkan kecerobohanku, Rai.” Yunho sudah berdiri dengan angkuhnya sekarang, “Changmin yang akan mengurus semua kekacauan ini.” Ucapnya sebelum berjalan mengikuti Jaejoong, meninggalkan raihan yang kebingungan menatap Changmin, Yoochun dan Junsu secara bergantian.

“Bukankah dengan begini semuanya akan baik-baik saja?” gumam Yoochun, “Ku rasa setelah malam ini keluarga Jung dan Kim akan terikat tali pernikahan. Ah, itu artinya aku dan para Jung itu akan menjadi saudara ipar kan, Suie?” tanya Yoochun.

Junsu mengangguk pelan.

“Nah, mari kita bantu Changmin menyelesaikan kekacauan ini sebelum yang lainnya menyadari apa yang sudah terjadi.” Ajak Yoochun.

Arra….” sahut Junsu.

.

.

Brak!

Pintu kamar hotel itu terbuka lebar sebelum kembali menutup akibat bantingan kuat yang dilakukan oleh namja tampan bermata setajam musang itu. Biji mata yang berwarna merah darah itu menatap sosok yang tengah melepaskan kemeja yang melekat pada tubuhnya, menunjukkan betapa indahnya tubuh putih pucat itu. tubuh yang lima tahun lalu sempat dijamah oleh Yunho.

Ya, lima tahun lalu….

Lima tahun lalu saat menghadiri pesta serupa seperti yang dihadirinya hari ini, Yunho nyaris menyetubuhi Jaejoong jikalau namja cantik itu tidak meronta dan menghajarnya hingga nyaris mati. Satu minggu setelah kejadian itu Jaejoong memutuskan pertunangan mereka. Yunho yang sakit hati menikahi Go Ahra, yeoja yang sangat memujanya dua minggu kemudian. Tetapi pernikahan itu berakhir bencana. Tiga hari setelah menjadi nyonya Jung, Ahra justru membunuh ibu Yunho begitu sadisnya. Kematian Ahra yang tiba-tiba saat berada di penjara bawah tanah milik keluarga Jung membuat Yunho curiga bila Jaejoong berada di balik semua kejadian sial yang menimpanya.

“Hanya kau satu-satunya vampire yang membunuh dengan cara meremukkan jantung mangsamu. Kau menusuk dadanya dan meremas jantungnya hingga hancur!” bentak Yunho yang tidak bisa lagi menahan amarahnya. Taringnya mencuat, desisan kemarahan terdengar setiap kali namja itu menghela napas.

“Benar.” Jawab Jaejoong santai. Dilepaskannya celana panjangnya, dalam keadaan telanjang bulat seperti itu Jaejoong meraih kimono mandinya dan melilitkannya untuk menutupi tubuh indahnya, “Aku membunuh yeoja brengsek itu.”

“Kim Jaejoong!”

“Kau biasa memanggilku Hero Jaejoong, kan?” tanya Jaejoong. “Tapi ketahuilah… aku tahu apa yang sebenarnya terjadi saat itu.”

“Tentu saja! Karena kau terlibat di dalamnya!” tuduh Yunho dengan suara tinggi.

“Narssica, tunjukkan pada Yunho yang sebenarnya!”

Ular yang semula bergelung di atas permukaan karpet berwarna hijau itu melata menuju ke sebuah ruangan berpintu hitam, di bawah pintu itu ada celah yang cukup tinggi sehingga ular piton itu bisa memasukinya dengan mudah.

“Lihatlah apa yang selama ini tidak kau ketahui!” perintah Jaejoong, “Kau boleh mencabikku nanti, setelah kau melihat semuanya.”

Dengan menahan kemarahan yang sudah memenuhi dirinya, Yunho berjalan menuju pintu berwarna hitam itu, mendobrak pintu itu kasar. Mata setajam musang yang masih berwarna merah itu membulat menatap sesuatu yang berada di dalamnya.

Di dalam ruangan itu ada seorang yeoja berambut coklat keemasan tertidur di atas ranjang, di samping yeoja itu Narssica, ular peliharaan Jaejoong bergelung dengan tenang. Yeoja yang diketahui Yunho bernama Jung Jessica, ibunya.

“Sica Umma tahu bila Ahra berniat membunuhnya untuk mengambil alih kedudukkannya sebagai satu-satunya nyonya Jung.” Ucap Jaejoong, “Sica Umma tidak pernah merestuimu dengan Ahra karena Sica Umma tahu bahwa darah yeoja jalang itu berasal dari darah budak yang terikat dengan perjanjian terkutuk. Perjanjian untuk menghancurkan keluarga bangsawan darah murni yang tersisa, keluarga kita. Satu-satunya cara untuk memutuskan garis darah budak dari dirinya.”

Yunho berjalan menuju ranjang, mata merahnya berangsur-angsur kembali menjadi coklat terang.

“Ahra udah melakukan perjanjian dengan para Hunter untuk membinasakan vampire berdarah murni karena itu aku melenyapkannya ketika kau mengurungnya di penjara bawah tanah. Sayangnya aku sedikit terlambat untuk menolong Sica Umma yang terkena racun argentum.” Jaejoong menatap Yunho yang kini sudah mengusap wajah pucat yeoja yang tengah berbaring itu, “Karena itu aku memisahkan jiwa Sica Umma dari raganya sampai semua racun itu dikeluarkan dari dalam tubuhnya. Perlu waktu lima tahun lamanya untukku dan Suie melakukan ritual berbahaya itu.”

“Maksudmu?” tanya Yunho tanpa melihat Jaejoong.

“Tubuh Sica Umma itu tidak lebih dari tubuh yang kosong karena jiwanya tidak ada di dalamnya.”

Mata Yunho memicing ketika manatap Jaejoong.

“Narssica…. Tidak kah kau sadar nama itu?” tanya Jaejoong, “Narssica, lakukan….”

Ular sepanjang speuluh kaki itu mulai melilit tubuh Jung Jessica.

“Menjauh dari Ummaku, Brengsek!” pekik Yunho yang sangat marah, hendak mengoyak tubuh ular itu dengan kuku-kuku tajamnya namun kedua tangannya sudah terlebih dahulu dicekal oleh Jaejoong.

“Lihat saja!” perintah Jaejoong.

Perlahan-lahan tubuh ular itu memudar, menyisakan sinar keemasan menyerupai serbuk yang secara perlahan-lahan terserap oleh tubuh Jung Jessica. Menunggu beberapa saat hingga akhirnya mata serupa milik Yunho, coklat terang itu terbuka.

“Jaejoongie….” lirihnya.

Umma….” Jaejoong tersenyum dan membantu Jessica duduk.

Eoh? Yunho ya….”

Yunho membatu. Dengan mata kepalanya sendiri dirinya melihat Ummanya terbunuh lima tahun yang lalu tetapi sekarang?

“Yang mati adalah salah satu hunter yang melakukan perjanjian pada Ahra.” Ucap Jaejoong, “Untung Suie dan Yoochun bisa mengecohmu dengan baik sehingga kau menganggap itu adalah mayat Sica Umma. Aku senang sekali.” Ucap Jaejoong, “Kau pasti ingin sekali bicara pada Sica Umma, biar ku tinggalkan kalian. Aku akan mandi dulu.” Jaejoong sempat memberikan pelukan pada ibu Yunho sebelum meninggalkan keduanya di dalam ruangan itu.

.

.

“Yoochun dan Changmin tadi menjemput Umma, mereka kembali ke pesta.” Terang Yunho, “Sepertinya mereka berhasil mengatasi kekacauan yang tadi ku lakukan.”

Jaejoong mengusap rambutnya yang basah, membiarkan tetesan air membasahi tubuhnya, “Tidak bijaksana bila memecahkan semua kaca hanya karena kau marah.” Mengabaikan tatapan Yunho yang menatap lekat tubuhnya, Jaejoong berjalan pelan menuju lemari pakaiannya. “Lagi pula mereka semua harus tahu apa yang terjadi pada Sica Umma agar mereka lebih waspada pada para hunter.”

“Kau tahu? Feromonmu membuatku gila!”

Jaejoong tersenyum sinis. “Istrimu… Ku dengar kau tidak pernah menidurinya? Kenapa bisa seperti itu, hm?”

“Kau mau tahu jawabannya? Tanya Yunho.

“Tidak.” Jawab Jaejoong, “Ku rasa aku sudah tahu alasannya.”

Yunho mendekap Jaejoong dari belakang, menciumi bahu dan leher jenjang namja cantik itu, “Mulai sekarang jangan umbar feromonmu! Berikan hanya padaku karena aku akan memuaskanmu!”

“Aku tidak janji!” ucap Jaejoong yang menyambut ciuman hangat yang Yunho tawarkan padanya.

Melupakan hingar-bingar pesta di bawah sana, mereka berdua bergumul dalam irama gairah yang memabukkan bersama dengan rindu dendam cinta yang membara, membuat ikatan antara kedua keluarga dengan perwujudan sebuah nyawa baru yang kelak akan tumbuh dan berkembang di dalam rahim Jaejoong.

.

.

END

.

.

Untuk Tria yang kemarin minta FF vampire -_- Entah kenapa jadinya hancur begini. Mian ne….

Gomawo Mak Ifa untuk Pictnya :)

Yuuki potong soalnya masih puasa :D

Banyak Miss Ty?

Ane malas edit soalnya :p

Yang mudik hati-hati di jalam dan jaga kesehatan ne :)

.

.

Sunday, July 20, 2014

6:49:28 PM

NaraYuuki

Consious a Lofa XIV

Karena kau sudah memberikanku tempat untuk pulang, maka akan ku berikan kesetiaanku padamu. Aku akan mengabdi padamu seumur hidupku. Karena kau tidak mencoba memanfaatkanku, karena aku mempercayaimu. Karena kau sudah menunjukkan ketulusanmu padaku, maka aku mempercayaimu….”

.

.

Consious

.

.

Tittle                : Consious a Lofa XIV

Writer               : NaraYuuki

Genre               : Fantassy/ Romance/ Sad dikit?

Rate                 : M

Cast                 : All member DBSK (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan) and Others. Seiring bertambahnya Chap castnya pun akan disesuaikan.

Disclaimer:       : They are not mine but this story is mine, NaraYuuki

Warning           : This is YunJae Fan Fiction (Boys Love), M-Preg. Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut. Paragraf/ dialog yang penulisannya menggunakan Blod, Italic ataupun under line berarti itu adalah kejadian dimasa lampau (flash back) TANPA EDIT.

.

.

.

.

.

PASTIKAN BACA WARNINGNYA DULU

YANG PUASA, BACANYA KALAU UDAH BUKA SAJA NE :D

.

.

.

.

.

Srak!

Boneka jerami itu terbelah dua dengan irisan garis vertikal miring yang sempurna. Badan boneka jerami itu jatuh tidak jauh dari kakinya yang masih berdiri kokoh di atas lantai kayu.

 “Joongie… kau?”

“Kau datang, Hyung?” Jaejoong menyarungkan kembali pedangnya, meletakkannya bersandar pada kaki boneka jerami, “Apa yang menahanmu? Bukankah surat yang ku berikan padamu melalui Changmin seharusnya sudah sampai sejak 1 bulan yang lalu?”

Junsu menggenggam gagang pedangnya erat ketika melihat namja cantik itu mengeluarkan belati kepemimpinan Artesis, “Ada urusan yang harus ku selesaikan sebelum pulang kemari.” Jawabnya, “Apa yang ingin kau katakan padaku dan kejutan apa yang sudah kau persiapkan untuk Yunho seperti yang kau katakan lewat suratmu?”

Jaejoong menatap keluar jendela ruang latihannya, mengamati kerlip bintang yang bersinar malu-malu malam ini, “Menikah dengan orang yang paling ku benci! Kau tahu rasanya, Hyung?” tanyanya, “Orang yang sebelumnya ingin ku bunuh dengan tanganku sendiri kini ku biarkan menyentuh tubuhku, ku biarkan benihnya tumbuh subur dalam rahimku. Kau tahu rasanya?” Jaejoong berbalik dan menatap Junsu dengan mata nanarnya.

“Kau… sudah ingat semuanya?” tanya Junsu yang memasang sikap waspada.

“Apa yang perlu ku ingat?” Jaejoong balik bertanya, “… karena sejak awal tidak ada yang ku lupakan.” Jaejoong tersenyum.

Junsu segera menghunuskan pedangnya ke arah namja yang kini menjadi ratu Cassiopeia itu, “Selama ini kau berpura-pura?”

“Aku memainkan peranku dengan baik, bukan?” tanya Jaejoong, “Berpura-pura menjadi orang polos yang tidak tahu apa-apa, mengikuti skenario yang sudah kalian siapkan untukku hingga….”

“Kau bohong! Kau membohongi semua orang!” pekik Junsu panik.

“Tidak.” Jaejoong memutar tubuhnya, membelakangi Junsu. “Aku tidak bohong. Aku menjawab semua pertanyaan yang diajukan padaku dengan jujur.”

“Kau bohong!”

Jaejoong diam, melirik Junsu sebentar sebelum menghadapkan tubuhnya ke arah namja bersuara unik itu lagi. “Kalau aku bohong kenapa aku tidak membunuh Yunho saat ada kesempatan?” tanya Jaejoong, “Aku bisa membunuhnya kapan saja. Ketika kami mandi bersama, menghabiskan waktu berdua, atau bahkan ketika dia tengah meniduriku. Aku selalu memiliki kesempatan untuk membunuhnya dengan mudah.”

“Lalu kenapa tidak ku lakukan?” tanya Junsu dengan suara bergetar karena menahan marah dan panik.

Jaejoong terlihat memasang wajah sendunya, “Karena aku mencintainya.”

“Kojimmal!” bentak Junsu.

Jaejoong menggelengkan kepalanya pelan, mengusap perut ratanya perlahan, “Aku sudah minta maaf pada Appa karena jatuh cinta pada orang yang sudah membunuhnya ketika kita mendatangi makam Appaku. Hyunjoong hyung pernah mengatakan padaku bahwa yang menyebabkan Appaku terbunuh adalah Jung Yunho, Raja Cassiopeia.” Jaejoong menghela napas panjang, “Aku meminta Hyung pulang untuk membantuku.”

“Membantu apa?” Junsu nyaris menebas Jaejoong ketika namja cantik itu bergeser untuk menancapkan belati kepemimpinan Artesis pada kaki boneka jerami yang tadi ditebasnya.

“Mengatakan pada Yunho kalau sekarang aku sedang mengandung anaknya.” Ucap Jaejoong.

“Mwo?” mata Junsu membulat besar.

“Kau mungkin tidak mempercayaiku setelah pembicaraan kita ini, Hyung. Tetapi sekarang aku memang sedang mengandung. Aku meminta para Dokter yang memeriksaku tidak memberitahu Yunho dulu karena aku ingin aku sendirilah yang mengatakan kabar ini padanya.” Ucap Jaejoong, “Tapi tidak tahu bagaimana cara melakukannya. Terlebih… aku mengkhawatirkan sesuatu berkaitan dengan penyerangan terhadap Yunho dulu. Orang yang berniat membunuh Yunho memakai sebuah simbol keluarga pembunuh bayaran dari Tiongkok, kau ingat cadarnya? Ada rajutan kecil berbentuk segi lima yang ditengahnya terdapat titik merah. Aku takut Ahra Noona terlibat dalam masalah ini.” Mata Jaejoong nanar teringat kejadian dimalam dirinya kabur hingga jatuh pingsan didalam dekapan Yunho.

“Kenapa kau mengatakan hal ini padaku?” tanya Junsu.

“Sederhana saja. Kau sudah membaca semua pikiranku, bukan? Changmin tidak begitu mempercayaiku sedangkan Yoochun hyung terlalu waspada dan kaku. Aku ingin bicara pada orang yang lebih fleksibel.” Jawab Jaejoong, “Aku memilihmu karena mungkin kau bisa percaya padaku dan membantuku melindungi suamiku.”

“Jaejoongie… kenapa kau harus melakukan semua ini? Kau bisa membunuh Yunho dengan mudah, kau pun sudah menjadi ratu. Seandainya Yunho mati kau bisa mengambil alih tahta. Kenapa kau harus….”

“Aku tidak mau Yunho mati.” Jaejoong menatap Junsu menggunakan mutiara rusa betinanya, mata bening itu berlahan melelehkan air matanya, “Karena Yunho sudah membalut lukaku yang bernanah akibat penghianatan orang-orang yang ku percayai. Aku hanya punya Yunho. Aku tidak akan membiarkannya mati… tidak!”

“Walaupun dia musuhmu? Walaupun dia sudah membunuh ayahmu? Walaupun dia sudah menjajah kotamu?”

“Dia tetap suamiku, ayah dari calon anak kami. Seperti apapun masa lalunya, sejahat dan sebrengsek apapun dirinya, dia tetap suamiku….”

“Kau benar-benar mencintainya?”

Jaejoong tidak menjawab dan tersenyum pada Junsu, “Tidak boleh ya?”

Junsu menyarungkan pedangnya, “Terkutuklah kau!” kesalnya.

“Aku tahu kau akan membantuku, Hyung.”

“Dan aku tidak segan membunuhmu bila kau bertindak gegabah.”

“Lakukan bila itu terjadi, Hyung. Sekarang biarkan kita berdua saja yang tahu soal ini, sampai semuanya jelas….”

.

.

“Yang Mulia….” panggil Jaejoong dengan suara dibuat semendayu mungkin membuat Junsu yang duduk di sampingnya hanya bisa mengulum senyum.

“Hm?” tanya Yunho yang masih fokus memnggoreskan kuasnya di atas kanfas.

Jaejoong mencibir, menarik tangan kanan Yunho yang sibuk membuat lukisan bambu memuakkan, “Jangan tidak acuh pada kami!” wajahnya cemberut ketika meletakkan telapak kanan Yunho di atas permukaan perutnya. Mata indahnya menatap galak suaminya yang menurutnya kali ini sangat pabo dan tidak peka.

“Boo?” Yunho bingung. Tidak biasanya istri cantiknya itu bersikap seperti ini di hadapan para dayang dan pelayan.

“Kau benar-benar bodoh, Yang Mulia!” Ketus Junsu. “Mengurus negara kau bisa tetapi mengurus istrimu sendiri kau tidak mampu.” Sindirnya.

Mata kecil nan tajam milik Yunho meyipit galak, “Kim Junsu!”

“Jaejoongie sedang mengandung anakmu, Jung Yunho!” pekik Junsu tidak sabar. Bagaimana bisa sepupunya yang garang ketika berada dimedan perang itu bisa tidak menyadari apa yang terjadi pada istrinya sendiri? Padahal dilihat dari mana pun gelagat Jaejoong yang tidak biasa akhir-akhir ini harusnya bisa menyadarkan Yunho

“Mwo? Boo?” mata kecil Yunho membulat, menatap istrinya dengan tatapan terkejut. Yunho tidak punya firasat soal ini dan tiba-tiba saja mendapatkan kabar yang sangat penting seperti sekarang.

“Dasar tidak peka!” sentak Jaejoong yang langsung melepaskan genggaman tangannya pada tangan Yunho, beranjak dari duduknya dan berjalan pergi diikuti Junsu dan beberapa dayang.

“Hamil? Astaga!” Yunho tersenyum lebar. Membuat para prajurit yang menemaninya mau tidak mau ikut tersenyum.

.

.

Langkah-langkah ringan itu terhenti mendadak ketika mendengar beberapa orang dayang dan prajurit sedang membicarakan sesuatu.

“Bukankah dulunya dia jenderal perang? Kenapa bisa berakhir menjadi mainan Yang Mulia Raja?”

“Yah! Dia bukan mainan. Dia ratu kita sekarang.”

“Ratu? Aku tidak sudi mengakuinya sebagai seorang ratu. Maksudku, dia memiliki darah penghianat dalam tubuhnya.”

“Dia tetap Ratu kita! Ku dengar dia bahkan sedang mengandung sekarang.”

“Kau gila? Dia namja!”

“Ya, dan dia benar-benar mengandung.”

“Apa-apaan itu? Terdengar seperti lelucon saja.”

“Kadang-kadang dia juga ikut memasak untuk Yang Mulia Raja.”

“Dia pasti ingin meracuni Raja kita.”

“Tidak! Dia tidak pernah melakukan hal itu. Buktinya sampai sekarang Yang Mulia Raja baik-baik saja.”

“Ku dengar itu karena Tuan Junsu sudah mencuci otaknya.”

Hampir saja Junsu mengeluarkan pedangnya dari sarungnya jikalau Jaejoong tidak mengingatkannya bahwa tugas mereka bukan untuk membunuh para dayang yang hobi bergosip itu, tetapi menangkap kepala yang lebih berharga. Kepala orang yang sudah menyusup ke dalam istana entah untuk tujuan apa.

“Akan ku botaki para dayang dan prajurit brengsek itu.” geram Junsu marah. Ditariknya lengan Jaejoong, berjalan mengendap-endap menuju aula istana, tempat singgasana Yunho berada. Tempat itulah yang dituju oleh seseorang yang mereka berdua kuntit sejak sore tadi. Beruntunglah surat dari Yoochun sampai tepat pada waktunya.

“Aku mengenalnya, Hyung.” Bisik Jaejoong yang melihat seorang berbaju prajurit tengah memeriksa singgasana yang biasa Yunho duduki ketika mengadakan jamuan atau menerima tamu dari negara lain, “Dia salah satu anggota batalion (tentara yang merupakan bagian dari resimen yang biasanya terdiri dari 300-1000 orang) inti yang sebelumnya berada di bawah komandoku.”

“Dia seperti sedang mencari sesuatu?” gumam Junsu yang menatap aneh gelagat orang itu, “Apa yang dicarinya?”

“Belati kepemimpinan Artesis. Apalagi selain itu?” tanya Jaejoong, matanya tiba-tiba membulat. “Yunho? Apakah dia berencana mencelakai suamiku, Hyung?” suara Jaejoong terdengar panik.

Junsu membekap mulut Jaejoong kuat-kuat, “Jangan berisik. Kita akan mencari cara untuk menyingkirkannya.”

Jaejoong mengangguk.

“Sekarang katakan padaku siapa dalang dibalik semua ini?” Junsu melepaskan bekapan tangannya pada mulut Jaejoong.

Jaejoong menggelengkan kepalanya pelan. “Aku tidak tahu, aku memang mencurigai seseorang tetapi aku belum punya bukti. Selama aku tidak berada di Artesis aku tidak akan tahu siapa dalangnya, aku tidak akan bisa menemukan bukti bila tinggal di sini. Karena itu aku harus kembali ke Artesis untuk mencai tahu sendiri.”

“Kau gila?!”

“Tapi aku akan menahan diriku untuk sementara.”

.

.

Jaejoong menatap dingin bangunan balai kota di hadapannya. Setelah berdebat dengan Junsu akhirnya namja cantik itu berdiri juga di sini, di depan Balai Kota Artesis bersama Changmin dan beberapa prajurit rahasia Cassiopeia yang menyamar sebagai dayang dan pelayan rumah tangga yang akan melayaninya selama dirinya berkunjung ke tanah kelahirannya sendiri.

“Yoochun hyung sudah memperingatkan kita untuk berhati-hati.” Bisik Changmin.

Jaejoong tersenyum ketika dari arah dalam gedung balaikota itu terihat kakaknya tengah berlari kecil ke arahnya, “Aku mengenal kota ini sebaik mengenal diriku sendiri….” ucapnya, “Mari kita berperang dalam ketenangan dan kedamaian kota ini! Bukan lagi dendam antara Artesis dan Cassiopeia tetapi dendam seorang istri yang suaminya sudah dilukai.” Gumamnya. Dibiarkannya dirinya dipeluk oleh Ahra erat.

“Joongie baby…. Kenapa Yang Mulia Yunho tidak ikut bersamamu eoh?” tanya Ahra yang langsung menghambur memeluk adiknya.

“Yunie sedang ada urusan penting Noona. Karena itu Changmin yang menemaniku.” Ucap Jaejoong yang melangkahkan kakinya akibat ditarik kuat-kuat oleh Ahra, “Senyum palsu, perhatian palsu, cinta palsu dan kata-kata palsu itu pasti akan ku balas! Ku pastikan itu. bersiap-siaplah.” Batin Jaejoong. Senyumnya terkembang ketika melihat Hyunjoong ikut menyambut kedatangannya.

“Selamat datang kembali di Artesis Joongie.” Ucap Hyunjoong.

“Aku pulang Hyung…. Aku pulang sebagai Ratu Cassiopeia bukan Joongie.” sahut Jaejoong. Bibir merah darahnya melengkung indah.

.

.

TBC

.

.

Thoughts on “Consious a Lofa XIII”

T3Jj kim: Udah nich, Post terakhir sebelum sibuk persiapan Lebaran :D

Meybi : Tanya Umma aja nyok :)

Yunorisweat: Umma tahu apa yang akan dilakukannya :D

Jaena: Ne :D

MyBaby WonKyu: Chap ini sudah menjawab semuanya kan, Tan? Ampau? #nodong :p

Rani: Sudah nich :D

Ayumi: DNS itu apa ya? Maklum Yuuki gaptek.

Dewifebrianayasmin:  Sudah, kan?

Kim Hyewon : Sudah terjawab, kan? FF ini sampai Chap berapa? Ga tahu ==” Oh, sabar ne yang ini dulu dikelarin. Eh? Request yang mana? Ane lupa. Jeongmal mianhae? Bisa katakan pada Yuuki lagi? Aduh mian…. Katakan pada Yuuki lagi ne. Jebbal :/ Maklum yang kirim email lumayan banyak :( Dan Yuuki tipe orang yang punya fokus buruk & agak pelupa kalau ga diingatkan terus aka ditagih ==”

Hope: Sudah terjawab belum nich? Sabar ya :)

Yuuruuki: Yuuki ga bilang itu surat dari Ahra Ahjumma lho ya :D

Reanelisabeth: Umma saranghae <3

Meyfa: Eoh? Gomawo :)

Rinatya12kmsyjs: Semarangnya mana? Ane kan Semarang juga? #pasangwajahepil :p Wah, si Hyunno demen sama Sungmin juga tuh :3

Ratnaezleeem : Santai saja, jangan pusing :D

Nina: Molla, tanya Umma nyok :D

Diennha: Arra (y)

Miss cho:  Ane demen Umma yang sangar :D

Yang belum tersebut berarti ketika kamu kirim komen di Chap kemarin, Chap ini sudah dipost jadi Yuuki ga tahu.

Mianhae…. Selamat mudik :D

.

.

Thursday, July 17, 2014

9:25:54 PM

NaraYuuki

Contoh Analisis Puisi

Analisi puisi menggunakan teknik Pembacaan Hermeneutik Semiotika Riffaterre

Pembacaan hermeneutik dapat juga dianggap sebagai pembacaan ulang guna memberikan penafsiran berdasarkan konvensi sastra, yaitu puisi sebagai bentuk ekspresi tidak langsung sehingga dapat dimengerti. Hermeneutik merupakan pembacaan semiotika tingkat ke-2. Teknik ini merupakan upaya memperjelas makna lebih lanjut sehingga perlu mencari tema dan masalahnya. Contoh:

Doa Untukmu

Oleh: NaraYuuki

Sumber: http://narayuuki.wordpress.com/category/puisi/

 

1234642_695105763851326_1970955292_n

 

Tuanku…

Bias wajahmu membayang disanubari

Dan suaramu tenggelam dikeheningan

yang termakan kelam malam….

 

Ku kubur dalam kenangan…

Biar dosa tak lagi ku lakukan

 

Tuanku…

Bila ada yang mampu ku ucap…

Ku haturkan doa untukmu

Agar engkau pada naungan kebahagiaan….

 

Analisis.

Tuanku, digambarkan sebagai seseorang yang penting/kekasih

Bias wajahmu membayang disanubari, bisa diartikan kerinduan yang mendalam kepada sang kekasih

Dan suaramu tenggelam dikeheningan yang termakan kelam malam, diartikan sebagai lamanya waktu tidak bertemu dengan sang pujaan hati sehingga lama-kelamaan sosok kekasihnya mulai terlupakan

Ku kubur dalam kenangan biar dosa tak lagi ku lakukan bisa diartikan keinginan untuk melupakan sang kekasih agar kerinduan yang begitu besar dan keinginan untuk bertemu tidak membuatnya melakukan sebuah dosa.

Bila ada yang mampu ku ucap ku haturkan doa untukmu agar engkau pada naungan kebahagiaan, bisa diartikan walaupun sudah tidak bersama dengan sang kekasih, doa dan harapan agar kekasihnya bisa mendapatkan kebahagiaan dimanapun dirinya berada.

 

 

 

Saturday, July 19, 2014

7:38:57 AM

NaraYuuki

Consious a Lofa XIII

Tittle                : Conscious a Lofa XIII

Writer               : NaraYuuki

Genre               : Fantassy/ Romance/ Sad dikit?

Rate                 : M

Cast                 : All member DBSK (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan) and Others. Seiring bertambahnya Chap castnya pun akan disesuaikan.

Disclaimer:       : They are not mine but this story is mine, NaraYuuki

Warning           : This is YunJae Fan Fiction (Boys Love), M-Preg. Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut. Paragraf/ dialog yang penulisannya menggunakan Blod, Italic ataupun under line berarti itu adalah kejadian dimasa lampau (flash back) TANPA EDIT.

.

.

.

.

.

PASTIKAN BACA WARNINGNYA DULU

Aman dibaca chap ini

.

.

Consious

.

.

Jam pasir yang terletak di atas meja menunjukkan garis angka 3 di atas permukaan kaca yang membingkainya. Jendela di luar masih memperlihatkan rona hitam pun kerlip bintang yang menghiasi langit tetapi namja cantik itu sudah terjaga, tidak bisa tertidur ketika dirinya mendengar ada derap langkah sangat ringan yang lewat di dekat kamar yang ditempatinya bersama sang suami. Jemari tangannya yang begitu lentik mengusap permukaan perutnya pelan, jemari yang dulunya digunakan untuk menggenggam gagang pedang.

“Kau ingin makan buah persik ya?” gumam Jaejoong, “Tapi Umma malas pergi ke dapur ataupun menyuruh pelayan mengambilkannya untukmu. Bagaimana kalau Umma meminta Appamu untuk mengambilkannya saja, hm?”

Namja cantik itu berjalan pelan menuju ranjangnya, mengamati sosok yang tengah terlelap di atas ranjang berseprei warna maroon itu. Cara tidur yang sangat mengerikan mengingat yang sedang terlelap itu bukanlah bangsawan sembarangan melainkan seorang penguasa tertinggi di Negara Cassiopeia, Raja Cassiopeia, Jung Yunho.

Dengan perlahan Jaejoong menepuk-nepuk pipi suaminya, sesekali mencubit pipi berwarna tan itu bila Yunho melenguh, terusik dalam tidurnya. Jaejoong kadang keheranan, kenapa bisa dirinya jatuh cinta pada namja yang cara tidurnya mengerikan itu? Dengan mulut dibuka lebar dan suara dengkuran yang tidak bisa dikatakan pelan, tetapi hal mengerikan itu justru membuat Jaejoong semakin mencintai suaminya.

Yah!” Yunho menyentak selimut sutra yang membungkus tubuhnya sedikit kasar, mendelik tajam menatap udara kosong di hadapannya berharap menemukan seseorang yang sudah mengganggunya untuk dihajar sebelum menoleh ke arah samping untuk menatap wajah cantik istrinya yang tengah merengut kesal padanya, “Oh Boo? Wae? Aku sangat lelah dan mengantuk.”

Jaejoong menampakkan wajah dinginnya melihat betapa berantakan dan kusutnya rambut panjang suaminya, “Anakmu ingin buah persik. Bisa kau ambilkan untukku?” tanyanya.

“Buah persik?” tanya Yunho linglung, rasa kantuk masih membuatnya belum sadar sepenuhnya.

“Kau tidak mau mengambilkannya untukku?” tanya Jaejoong.

Yunho menggelengkan kepalanya pelan, tangan kanannya terjulur untuk membelai wajah cantik istrinya, “Boo Jae sudah tidak marah padaku, eoh? Arra. Sebagai gantinya akan ku ambilkan buah persik untukmu.” Yunho beranjak dari ranjangnya, tersenyum pada istri cantiknya yang memasang wajah dinginnya sebelum pergi.

Menggunakan ekor mata sebening mutiara rusa betina itu, Jaejoong menatap kepergian suaminya. Berjalan perlahan menuju kursi, duduk di sana dan mengambil selembar surat yang disembunyikannya di dalam kimono tidurnya, membacanya sebelum meremas dan merobek-robek surat itu lantas membakar serpihannya dengan bantuan lilin yang menyala di atas meja.

“Tidak semudah itu, bodoh!” gumam Jaejoong. Mutiara rusa betinanya kini menyorot tajam, “Selama aku hidup tidak akan ku biarkan hal itu terjadi!”

.

.

Usai mendapatkan segigit buah persik, Jaejoong meminta Yunho memanggilkan Junsu untuk diajaknya bermain catur sampai matahari naik hingga di atas puncak kepala. Yunho kelabakkan mengingat istri cantiknya enggan makan dan memilih terus bermain catur walaupun Junsu sudah memasang wajah masam dan jengkelnya.

“Aku lapar Jung Jaejoong! Bisakah kita makan dulu?” keluh Junsu.

Jaejoong mengalihkan perhatiannya dari bidak caturnya kemudian menatap suaminya, Junsu dan para dayang yang terlihat memasang wajah memelas mereka, “Arra. Tapi kita jalan-jalan dulu ne.” Jaejoong bangun dari duduknya, berjalan keluar kamarnya diikuti suaminya, Junsu dan para Dayang. Mata selegam mutiara rusa betina itu tiba-tiba menyipit tajam.

Boo?”

Jaejoong menatap lama-lama prajurit yang berjaga di depan pintu kamarnya, mengabaikan tatapan kesal Junsu dan Yunho yang sejak tadi berusaha membujuknya untuk makan, mengabaikan protesan Yunho yang sedkit terganggu karena tatapan istrinya pada prajurit itu, “Namamu siapa? Aku belum pernah melihatmu sebelumnya. Kau bukan penyusup yang berniat jahat pada Yang Mulia Raja, kan? Perlu kau tahu kalau hanya aku yang boleh punya niat jahat pada Yang Mulia Raja.” Ucap Jaejoong, “Ah, tapi kalau kau mau bekerja sama denganku kita bisa merencanakan sesuatu untuk Yang Mulia Raja. Mengulitinya misalnya….”

Boo….” Yunho menahan dirinya untuk tidak menyeret istrinya menjauh dari parjurit yang terlihat sangat gugup itu. Bila tidak ingat kondisi istrinya sekarang Yunho pasti sudah menyeretnya sejak tadi, sayang Yunho masih ingat nasihat para dokter dan Junsu yang selalu mengatakan padanya untuk bersabar selama Jaejoongnya mengandung buah cinta mereka.

Jaejoong menarik pedang prajurit itu perlahan sambil tersenyum getir, menghunuskannya tepat di leher prajurit yang sudah mengelurkan keringat dingin, “Berhati-hatilah dengan pedangmu, ne. Ini adalah pedang yang sangat tajam.” Ucapnya sebelum mengembalikan pedang itu pada pemiliknya, “Ah… Junsu Hyung, dimana aku menaruh belati kesayanganku?” tanya Jaejoong pada Junsu.

“Bukankah kau berikan pada Yunho agar Yunho yang menyimpannya untukmu?” tanya Junsu balik.

Jaejoong mengangguk pelan, berjalan menyusuri lorong panjang sambil mengamati detail istana tempat tinggalnya, mengabaikan panggilan suaminya yang memintanya untuk makan terlebih dahulu sebelum jalan-jalan.

Hyung….” panggil Jaejoong.

“Hmmm?” sahut Junsu.

“Bisa Hyung selidiki prajurit tadi?” bisik Jaejoong.

Wae?” tanya Junsu.

“Pedangnya…. pedangnya adalah buatan pandai besi dari kota Artesis.” Gumamnya pelan agar tidak tedengar oleh orang lain selain Junsu.

“Kau yakin Joongie?” tanya Junsu, matanya membulat sekarang.

“Kau tidak percaya padaku Junsu Hyung?”

“Tidak! Tentu saja tidak! Aku percaya padamu. Tapi….”

“Selidiki pembuat ped….”

Yunho segera mencekal lengan kiri Jaejoong, “Makan dulu baru jalan-jalan, Ratuku!” sedikit memaksa Yunho membawa Jaejoong menuju ruang makan. Yunho tidak mau mengambil resiko anaknya mati kelaparan karena keegoisan istrinya.

Jaejoong menoleh menatap Junsu, mata sebening rusa betina itu nanar memandang Junsu, kepalanya mengangguk pelan sebelum Yunho menariknya menikung ke lorong yang bercabang.

.

.

Jaejoong diam saja ketika para dayang menyajikan makanan di atas meja. Bola mata serupa mutiara rusa betina yang sangat jernih dan indah itu terlihat menatap kesana-kemari dengan sikap waspada dan tegang, jantungnya berdetak tidak keruan (karuan), badannya sedikit gemetar, jemari lentiknya mencengkeram kuat-kuat kimononya, “Makannya sudah diperiksa?” tanyanya pada kepala dayang yang khusus bertugas menyiapkan makanan.

“Sudah Yang Mulia.” Dayang yang sudah tidak muda lagi itu membungkuk pada Jaejoong.

“Semuanya? Kau sudah memastikan sendiri?” Jaejoong bertanya lagi.

“Sudah Yang Mulia. Saya sudah mencicipi satu per satu makanan yang disajikan di atas meja.”

“Termasuk irisan buah persik itu?” Jaejoong menunjuk buah persik yang berada di atas meja bersama dengan irisan buah yang lainnya.

“Buah persik?” dayang itu tampak bingung, “Saya tidak….”

“Yang Mulia! Jangan dimakan!” Jaejoong hendak menampik tangan Yunho yang menyuapkan irisan buah persik ke dalam mulutnya, terlambat! Karena suaminya itu sudah terlanjur menggigit dan mengunyah irisan buah persik itu.

“Kenapa Boo?” tanya Yunho disela kegiatan mengunyahnya, “Buahnya sangat enak walau sedikit pahit, tetapi tetap enak. Pantas fajar tadi kau memintanya.”

“Panggilkan dokter segera!” perintah Jaejoong pada sang dayang yang dengan bingung namun tetap pergi terpongoh-pongoh. Jaejoong menarik piring berisi irisan buah persik itu, membauinya sesaat kemudian menyentak piring itu hingga jatuh dan pecah di atas lantai, “Yun….” suara Jaejoong tercekat.

Tiba-tiba saja Yunho menjerit kesakitan dan terjatuh dari duduknya usai makan buah persiknya. Jaejoong berteriak panik memanggil pelayan. Dengan kalap namja cantik itu merebut sebuah pedang yang dipegang oleh salah satu prajurit yang berada di dekat Yunho ketika seseorang menghunuskan pedang ke arah suaminya yang merintih dan memegangi perutnya, orang yang tadi ditemuinya di depan pintu kamarnya dengan memakai seragam prajuritnya.

“Siapa kau? Siapa yang menyuruhmu memasukkan racun selia pada makanan kami?!” bentak Jaejoong, matanya nyalang menatap orang yang menatapnya dengan pandangan sungkan. Jaejoong kini berjadapan dengan orang itu, membiarkan para dayang dan prajurit mengamankan suaminya, “Kau tidak berani membunuhnya langsung karena ada aku disisinya, kan? Kau tidak berani membunuh kami secara langsung, kan? Katakan siapa kau dan siapa yang mengirimmu kemari maka akan ku ampuni kau!” perintah Jaejoong.

Jaejoong menebas perut orang yang menyamar sebagai prajurit itu ketika orang itu berniat melarikan diri dari sana, membiarkan orang itu merintih sebelum meregang nyawanya. Jaejoong terengah, matanya nanar melihat suaminya merintih kesakitan seperti itu, pedang yang berada didalam genggamannya jatuh ke lantai menimbulkan bunyi klontang yang cukup nyaring. Dengan tangan gemetar di peluknya Yunho yang terus mengeluarkan busa dari mulutnya. Air mata sudah membasahi wajah cantiknya sekarang, “Yun….” lirihnya.

Boo….” bibir Yunho bergetar dan mulai membiru.

“Yang Mulia!” seorang dokter istana segera berlari menuju arah Yunho, mengambil alih tubuh rajanya dari sang ratu untuk diperiksa.

.

.

“Kau tidak bisa melakukannya Jung Jaejoong! Kau sedang hamil! Ingat?!” Junsu mencekal kedua lengan Jaejoong saat istri sepupunya itu hendak mengambil pedang milik raja Cassiopeia yang dipajang di ruang khusus dekat kamar Yunho dan Jaejoong.

“Lepaskan aku!” perintah Jaejoong yang tengah menahan amarahnya.

“Tenanglah Jaejoongie! Jebbal!”

Jaejoong menatap Junsu menggunakan matanya yang nanar namun penuh kebencian dan kemarahan, “Suamiku nyaris mati didepan mataku sendiri. Apa Hyung pikir aku akan diam saja!” bentak Jaejoong.

“Demi Tuhan, Yunho tidak apa-apa. Dokter sudah mengatasinya, sebentar lagi Yunho akan sehat kembali.” Ucap Junsu memberikan penjelasan. “Pikirkan bayimu! Ku mohon padamu, Jaejoongie!”

“Kau tidak tahu, Hyung. Melihatnya diracuni seperti itu membuatku nyaris mati. Melihat oorang jahat berkali-kali menghunuskan pedang padanya membuat hatiku hancur berkeping-keping.” Mata hitam legam itu mengalirkan air mata beningnya, “Aku takut, Junsu Hyung! Aku sangat takut!” Jaejoong mulai terisak.

Junsu memeluk Jaejoong erat, “Tidak. Selama aku, Yoochun dan Changmin masih hidup Yunho tidak akan mati semudah itu. Tenanglah!” Junsu mengusap pelan punggung Jaejoong, berusaha menenangkan sang Ratu Cassiopeia, “Mereka akan pulang dan mendampingi Yunho. Tenanglah.”

“Kalau begitu biarkan aku kembali ke Artesis.” Ucap Jaejoong.

“Apa? Kau gila! Tentu saja tidak!”

Jaejoong menatap tajam Junsu, “Aku harus kembali ke Artesis. Itu satu-satunya cara untuk melindungi suamiku. Untuk mencari tahu siapa sebenarnya dalang dibalik kejadian ini.”

“Jung Jaejoong!” Junsu mengingatkan posisi Jaejoong yang kini menjadi ratu Cassioepia sekarang dengan memanggilnya Jung Jaejoong.

“Meskipun harus mematahkan kedua kakimu, aku akan tetap pergi Hyung!”

“Jangan gegabah.”

“Aku selalu tahu apa yang ku lakukan.” Ucap Jaejoong, “… mari bertemu dimedan pertempuran yang sesungguhnya.” Gumamnya sebelum mencabut pedang milik Yunho dan menggenggamnya erat.

.

.

TBC

.

.

Thoughts on “Consious a Lofa XII”

Rani: :)

T3Jj kim:  Boleh juga tuh idenya :D

Dewifebrianayasmin: Ini sudah :)

Chochoi: Tunggu saja :D

MyBaby WonKyu: Kagak masalah Tan, khusus ane anpau khusus #munya :D Ne, perlahan-lahan sudah ane bongkar kok Tan.

Ayumi: FF apa yang Belum Fin? Biasanya Yuuki cepat menyelesaikan FF buatan Yuuki sendiri (kecuali kolab & FF buatan orang yang ikut dipost di sini).

Miss cho: Penasaran? Wae?

Nina: Muahahahahahahahahhaa >_<

Diennha: Umma kalau ngamuk kan emang Yeoppo #popoUmma #dikecekAppa :p

Yuuqy: Ini datang :D

Yunorisweat: Kalau ngantuk tidur :) Yuuki lagi malas ngetik walau ide dikepala mau meledak. Harap maklum kalau pendek :D

Kim Hyewon: Centong? Mau masak sayur? Mau ikut boleh? :p Chap berapa? Molla -_- Eoh? FF yang mana maksudnya?

Yulkorita: Ini sudah lanjut :)

Echasefry: Kan punya suami jadi pasti hamil :D Chap besok jawabannya ne ;)

Hime yume : Mumet? Kok bisa?

Meybi: Ehehehehehehe :)

Reanelisabeth: Sippo (y)

Chamichiko: Lucu? Aigoo! Fighting! :D

Rinatya12kmsyjs : Jitak Rin :p Eoh? Belum kesebut ya? Jeongmal? Mungkin Yuuki kelupaan ne, Mian #kasihpoposampaisemaput #kabur :p

Yuuruuki: Mari tebak :D

Star_Light : Rival ya? Silahkan nodong author aslinya ne, Yuuki cuma bantu edit & post saja kok -> https://m.facebook.com/rini.jaeminoppa?fref=nf

Jaena: Bingungnya dibagian mana?

Kalau ada yang belum kesebut mian ne. Ada yang mau mudik? Kemana? Hati-hati dan jaga kesehatan ne. Jangan ngebut. Yosh! Tetap semangat puasa, kan? Ada yang sudah bolong? :D

Yang mention Yuuki di twitter, mian ne. Yuuki jarang banget buka tuh akun. Emang rada malas soalnya #dijitak. Yang kirim PM di FFn, mian ne belum bisa balas. Sebentar lagi pasti Yuuki balas kalau udah dapat modem baru yang bisa akses tuh situs. Mohon pengertianya ne :)

Karena banyak FF yang ga bisa diakses di sini kemungkinan beberapa akan repost di https://m.facebook.com/groups/1439573069637313 Yuuki sudah memberikan ijin untuk merepost beberapa FF Yuuki di sana. Jadi minta saja adminnya buat post seandainya ingin baca FF Yuuki yang ga bisa diakses. Sampai di sini saja omongan Yuuki. Bye :D

.

.

Thursday, July 17, 2014

8:54:33 PM

NaraYuuki

Revenge II

Tittle                : Revenge II

Writer               : NaraYuuki

Genre               : Romance/ Modern Fantasy/ dsb.

Rate                 : M

Cast                 : All member DBSK (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan) and Others. Seiring bertambahnya Chap castnya pun akan disesuaikan.

Disclaimer:       : They are not mine but this story is mine, NaraYuuki

Warning           : This is YunJae Fan Fiction (Boys Love), M-Preg. Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut. Paragraf/ dialog yang penulisannya menggunakan Blod, Italic ataupun under line berarti itu adalah kejadian dimasa lampau (flash back), TANPA EDIT.

.

.

.

.

.

PASTIKAN BACA WARNINGNYA DULU

YANG PUASA BACANYA HABIS BUKA NE :D

.

.

R2

.

.

“Kau membuatnya terlihat jelas, Hyung.” Ucap Changmin yang berdiri tenang di pinggir lapangan sambil mendrible bolanya. Matanya menatap tajam ke seberang lapangan dimana seorang namja berparas cantik tengah duduk tenang mengawasi jalannya pertandingan, “Dia bilang jantungnya lemah? Bahkan dia bisa menunjukkan surat rujukkan dari pihak rumah sakit untuk tidak mengikutsertakan dirinya dalam pelajaran olah raga?”

Ani. Bukan dia yang bilang tapi saudaranya.” Mata setajam musang itu mengawasi ‘mangsa’nya dengan teliti, menikmati aroma vanilla yang menguar dari dalam diri mangsanya, meneliti semua pergerakan yang dibuat oleh sang mangsa hingga dirinya tidak sadar lidahnya berkali-kali membasahi bibirnya yang terasa sangat kering.

“Park Yoochun?” tanya Changmin. Pandangannya beralih pada namja berkulit pucat, berpipi gempal yang sedang menggiring bola menuju area pertahanan lawan, membuat gerakan mengecoh yang cepat dan akurat hingga berhasil memasukkan si kulit jingga ke dalam keranjang. “Aku tidak tahu soal Park Yoochun ini, tetapi aku merasakan sebuah kesamaan antara namja cantik bernama Jaejoong itu dengan Youngwoong terlepas dari wajah mereka yang sangat mirip.” Changmin melirik Yunho yang berdiri dengan angkuh di sampingnya, mengamati ekpresi yang namja bermata musang itu tunjukkan.

“Youngwoong? Tidak! Mereka berbeda! Aku justru merasakan sedikit aroma si penyihir brengsek itu dari dalam tubuhnya.” Ucap Yunho. Kedua tangannya mengepal kuat, tubuhnya tegang dan beberapa kali namja tampan berkulit tan itu tidak sadar gigi taringnya mencuat keluar.

“Tahan dirimu, Hyung! Kau sudah makan semalam jadi jangan membuat kekacauan lagi!” Changmin mengingatkan. “Aku masih tidak tahu kenapa namja bernama Jaejoong itu bisa membangkitkan hasrat dan gairahmu. Tapi ku harap kau bisa menahannya kali ini.”

“Jangan memintaku melakukan apa yang tidak bisa ku lakukan, Changmin!” geram Yunho.

“Akan sangat mencurigakan bila tiba-tiba saja kau menyerang seorang murid baru tanpa sebab.”

“Kau tidak tahu rasanya, berada di dekatnya membuatku ingin mencabik-cabik tubuhnya.” Ucap Yunho, “Hasrat untuk meminum darahnya dan dendam untuk menyentuhnya. Kau tidak tahu betapa tersiksanya aku karena semua keinginan brengsek itu!”

“Sedikit mengejutkan, Hyung.” Gumam Changmin, “Kau tidak pernah seperti ini sebelumnya, bahkan terhadap perempuan-perempuan yang kau kencani.”

“Memang mengejutkan!” sahut Yunho.

“Ku rasa bukan hanya karena wajahnya yang mirip Youngwoong saja.” Changmin kembali mengamati Jaejoong yang kini dipapah oleh Yoochun pergi dari area lapangan, “Apa yang terjadi?” tanyanya.

“Badannya tiba-tiba demam dan dia mengeluh sakit pada dadanya.” Ucap Yunho.

“Oh, bagus sekali! Memiliki pendengaran setajam itu benar-benar menguntungkan.” Puji Changmin setengah hati, “Kau tidak mau menemaninya?”

“UKS sedang ramai sekarang. Aku akan melihatnya nanti.” Yunho berjalan pergi meninggalkan Changmin sendirian di pinggir lapangan, mengawasi siapa saja yang pantas dijadikan objek observasinya.

“Ah…. Go Ahra, kau benar-benar membawa petaka untuk kami.” Keluh Changmin. Namja jangkung itu segera berlari ke tengah lapangan, bergabung dengan teman-teman sekelasnya yang masih sibuk bermain basket mengingat jam pelajaran olah raga belum akan usai hingga satu jam kedepan.

.

.

“Tidak apa-apa, biar aku menemaninya di sini!” kukuh Junsu yang sejak tadi didorong-dorong oleh Yoochun agar keluar dari ruang UKS.

Seosengnim ingin kau melatih anak kelas dua bermain sepak bola agar mereka bisa meningkatkan kemampuan mereka untuk turnamen nanti.” ucap Yoochun berusaha meyakinkan.

“Tapi kasihan Joongie kalau ditinggal sendirian.” Bantah Junsu. Sudah satu minggu sejak dirinya, Yoochun dan Jaejoong bersahabat membuat Junsu sedikit khawatir pada Jaejoong yang tadi tiba-tiba mengeluh sesak napas.

“Joongie tidak apa-apa, bukankah dia sedang tidur?” tanya Yoochun, “Kajja! Biarkan dia istirahat!”

Aish! Kau benar-benar menyebalkan!” keluh Junsu yang akhirnya menyerah juga.

Yoochun tersenyum, “Joongie tidak akan apa-apa. Percaya padaku.” Ucapnya yang berjalan pelan di samping Junsu, meninggalkan ruang UKS tempat saudaranya tengah tertidur.

Begitu memastikan para ‘pengganggu’ sudah pergi, pemilik mata setajam musang itu berjalan pelan memasuki ruang UKS, menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Tanpa perlu mengendap-endap, pemuda itu menghampiri salah satu ranjang tempat seorang siswa tertidur. Perasaannya bergolak ketika menatap wajah lelap itu. perasaan marah, benci, rindu dendam yang mendatangkan gairah dan berahi pada saat bersamaan. Nyaris membuatnya gila karena keberadaan anak baru yang kini sedang terlelap itu.

“Siapa kau sebenarnya?” dengan tangan kokohnya ditelusuri wajah rupawan itu, disentuhnya kelopak mata yang sedang terpejam itu, dibelainya pipi yang terasa sangat kenyal dan halus itu, diusapnya bibir semerah darah itu berlama-lama sebelum tangannya menjalar di atas permukaan leher jenjang yang membangkitkan sebuah denyut aneh dalam dirinya.

Yunho merangkak ke atas tubuh Jaejoong, mengendus aroma yang menguar dari tubuh namja cantik yang tengah tertidur itu, menikmati sensasi memabukkan namun sangat menyiksa dirinya. Dijulurkannya lidahnya untuk menjilat permukaan kulit leher Jaejoong.

Yunho terlena!

Namja tampan bermata musang itu sudah tidak bisa lagi mengendalikan dirinya, taringnya mencuat keluar. Ketika hampir menancapkan ujung tajam gigi taringnya Yunho mengeram marah! Bagaimana bisa dirinya tergoda oleh namja yang bahkan sudah tidak berdaya ini?

Sedikit putus asa Yunho merebahkan kepalanya di atas dada Jaejoong, memejamkan sepasang mata setajam musang itu dan mendengarkan detak jantung teratur Jaejoong. Detak yang tidak lagi dimilikinya sejak lima ratus tahun yang lalu.

.

.

Tuanku…

Bias wajahmu membayang disanubari

Dan suaramu tenggelam dikeheningan

yang termakan kelam malam….

 

Ku kubur dalam kenangan…

Biar dosa tak lagi ku lakukan

 

Tuanku…

Bila ada yang mampu ku ucap…

Ku haturkan doa untukmu

Agar engkau pada naungan kebahagiaan….

(Doa Untukmu oleh NaraYuuki)

 

Yunho tersenyum ketika yeoja cantik itu membacakan sebuah puisi yang ditulisnya sendiri untuk Yunho. Sudah lama sekali rasanya Yunho tidak merasakan kebahagiaan seperti ini semenjak petaka itu menimpa seluruh keluarganya.

.

.

“Kau mimpi apa sampai tersenyum seperti itu? Apakah kau tahu bila kau terlihat sangat menyeramkan dan jelek ketika tersenyum seperti itu? Ck…. benar-benar aneh!”

Merasa terganggu dengan suara berisik itu akhirnya mata setajam musang itu pun terbuka, Yunho terlonjak kaget ketika ditatapnya wajah cantik itu sangat dekat dengan wajahnya sendiri.

“Kalau ada yang melihat, kau pasti dikira pemuda mesum yang berniat memerkosaku.” Jaejoong berucap, “Jadi bisakah kau tidur ditempat seharusnya? Apa kau kira tubuhku ini kasur, huh?”

Yunho menggeser tubuhnya yang sebelumnya menumpu di atas tubuh Jaejoong. Yunho menelentangkan dirinya sendiri di samping Jaejoong, mencoba mengingat mimpi yang baru saja didapatkan olehnya, mimpi yang sejak lima ratus tahun yang lalu tidak pernah mendatanginya kini kembali mengunjunginya. Yunho sedikit syock soal itu dan harus segera membicarakannya dengan Changmin.

“Hei! Kau tidak benar-benar hendak memerkosaku kan tadi?” tanya Jaejoong.

Yunho melirik namja cantik itu sebelum mengalihkan kembali pandangannya, “Sebenarnya aku sempat memikirkan hal itu.” jawabnya, “Bagaimana rasanya berhubungan dengan namja berwajah cantik sepertimu.”

“Chunie akan menghajarmu bila tahu niaat burukmu padaku.” Ucap Jaejoong. Namja cantik itu mendudukkan dirinya di atas ranjang, menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang dan menarik napas panjang agar dadanya tidak terasa nyeri lagi.

“Kau pikir aku takut pada saudaramu yang play boy itu, huh?” tanya Yunho, “Baru satu minggu di sini sudah gonta-ganti yeoja. Benar-benar memuakkan.”

Jaejoong mengangguk setuju, “Aku juga muak.” Ucapnya, “Aku muak karena setiap yeoja yang dekat dengan Chunie selalu memandang aneh diriku. Mereka sering cemburu padaku dan menyuruh Chunie untuk menjaga jarak dariku. Astaga! Kami ini bersaudara. Kenapa mereka bersikap seolah-olah aku akan merebut Chunie dari mereka? Sangat tidak masuk akal!” keluhnya.

“Dasar aneh!” cibir Yunho.

Jaejoong menatap Yunho sengit, “Kau yang lebih aneh. Tidur di atas tubuhku sambil meraba-raba tubuhku seenak perutmu. Kau pikir aku apa? Dasar namja mesum!” Jaejoong beranjak dari ranjang da berjalan menuju pintu. Ketika hendak membuka pintu Jaejoong baru menyadari bahwa pintu ruang UKS telah terkunci, “Eoh? Kenapa bisa terkunci begini? Ottoke?”

Yunho menyeringai melihat kepanikkan yang dialami oleh Jaejoong, “Aku akan membuka pintunya untukmu asal kau mau melakukan sesuatu untukku.”

“Apa?” bentak Jaejoong tidak sabar.

“Cium aku.” Ucap Yunho yang kini sudah dalam posisi duduk di atas ranjang UKS.

Mwo? Kau gila?! Aku namja, pabo!” pekik Jaejoong yang semakin bertambah kesal. “Kenapa aku harus menciummu?” Tiba-tiba namja cantik itu merasakan nyeri yang teramat menyakitkan pada dada sebelah kirinya.

Yunho bergegas menghampiri Jaejoong, “Gwaechanayo?” tanyanya dengan wajah panik.

“Buka pintunya!” pinta Jaejoong.

“Kau tahu apa syaratnya.” Ucap Yunho keras kepala.

“Aku tidak mau menciummu karena kau bukan namja chinguku.”

“Kalau begitu jadilah namja chinguku.”

Mwo?” mata selegam mutiara rusa betina itu membulat ketika melihat seringai tercetak jelas pada wajah tampan teman sekelasnya itu, Yunho.

.

.

TBC

.

.

Pendek ya? Banyak miss Ty? Ane ketiknya cuma satu jam. Lagi kena sindrom malas ngetik & malas post soalnya walau otak udah hampir meledak karena ide berseliweran. Masa bodoh deh -_- Hayo puasanya udah bolong berapa kali? Tetap jaga kesehatan ne :D

.

.

Thoughts on “Revenge”

MyBaby WonKyu : Antelas Cita pan requstan Tante. Ane dibuatin YunJae terus ane harus buatin Sibum buat Tante Sora. Gitu. Another Girl itu project istimewa Yuuki :D Revenge? Ayo tebak saja Tan :D Tante kalau mau nagih FF Rival sama nich bocah saja ne -> https://m.facebook.com/rini.jaeminoppa?fref=nf pan dia Authornya bukan ane :D

Wiwindah: Another Girl Yuuki hapus dulu. Habis lebaran Yuuki post lagi sampai end dalam format yang berbeda, ne:D

Vika Angel’s:  Gwaechana. Gomawo sudah mampir :)

Yuuruuki: Yuuki demen kalau Umma & Ahjushi jadi saudara kembar #efekbaca EpisLova :D

Hanasukie:  Annyeong Hana-chan. FFn apa kabar? Yuuki ga bisa akses ke sana #pundung. Fighting! :D

Ayumi:  Masa? Yuuki malah sering buat Ahjushi dan Umma jadi anak kembar. EpisLova salah satunya.

Dewifebrianayasmin: Ane ga tahu deh FF ini reinkarnasi atau bukan -_-

Zerrazuhriyyah: Seperti bukan manusia tapi kemungkinan masih manusia kan? :)

Reanelisabeth: Kapan ane ga namatin FF ane coba? #kecuali FF kolab satu itu sich #pundung

Shizun: :Gomawo #kasihpopo :D

Rani : Hutang FF kan cuma 3 doank. Concious a Lofa, Revenge ini dan Pembalasan Bidadari Hitam. Another Girl ntar habis lebaran Yuuki post dalam format yang berbeda deh ya :)

Kiyo:  Hallo Kiyo :D Eoh? Kan ga cuma Ahra Ahjuma doank ya yang Yuuki sebutkan :3 Ada yeoja lainnya juga kan? Gomawo :)

Echasefry: Ane eksisnya bagaimana, Neng? #bingung

Nina:  Ini sudah kan :D

GaemGyu : Gomawo :) Komen ga bermutu sekali pun sangat berarti untuk Yuuki :D

Kim Hyewon:  Annyeong :) Another Girl udah Yuuki post sampai Chap 3 kemarin tapi karena suatu alasan menyebalkan terpaksa Yuuki delet dulu, habis lebaran akan Yuuki post dengan format berbeda :D Pembalasan Bidadari Hitam yang Chap II tidak sengaja terhaus tapi sudah Yuuki repost kok :D Ne, Figthing!

Rinatya12kmsyjs: Ngomongnya bagaimana Neng? #jitak

Meybi: Tanya Appa gih, Yuuki juga ga tahu :D

Nadia: : Ini sudah lanjut kan?

hime yume : Molla -_-

yulkorita: Bbuing? #bingung

Yang belum tersebut berarti feedbacknya ga masuk :)

.

.

Sunday, July 13, 2014

7:28:54 PM

NaraYuuki

Consious a Lofa XII

Tittle                : Consious a Lofa XII

Writer               : NaraYuuki

Genre               : Fantassy/ Romance/ Sad dikit?

Rate                 : M

Cast                 : All member DBSK (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan) and Others. Seiring bertambahnya Chap castnya pun akan disesuaikan.

Disclaimer:       : They are not mine but this story is mine, NaraYuuki

Warning           : This is YunJae Fan Fiction (Boys Love), M-Preg. Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut. Paragraf/ dialog yang penulisannya menggunakan Blod, Italic ataupun under line berarti itu adalah kejadian dimasa lampau (flash back) TANPA EDIT.

.

.

Consious a Lofa

.

.

PASTIKAN BACA WARNINGNYA DULU

YANG PUASA, BACANYA KALAU UDAH BUKA SAJA NE :D

.

.

.

.

.

Udara dingin menampar-nampar wajahnya, membuat selembar kertas yang tercengkeram pada tangan kanannya menari berkibar-kibar ibarat panji-panji perang yang pernah bertahta beberapa bulan yang lalu. Mata selegam mutiara rusa betina itu menatap nanar cahaya jingga yang muncul di ufuk timur seiring semakin redupnya cahaya sang venus. Perasaannya kacau, pikirannya bingung. Entah sisi mana yang harus dipercayainya? Entah bagaimana dirinya harus mengambil sikap? Entah apa yang akan terjadi nantinya….

“Yunho akan mengamuk bila tidak menemukanmu di sampingnya saat dia bangun tidur nanti.” keluh Junsu yang berdiri beberapa langkah di belakang sosok cantik yang tengah menatap nanar sinar redup di kaki langit yang muram itu dari balik tembok kokoh yang membentengi istana Cassiopeia.

Suara kertas yang diremas menambah semarak pagi yang sepi, mata hitam legam itu melirik ke sebelah kiri ketika satu peleton (prajurit yang terdiri dari 20-40 orang) lewat dengan suara derap langkah yang seirama, kilatan senjata mereka yang tertempa sinar remang obor membuat sosok cantik yang tengah murung itu memikirkan sesuatu, “Junsu Hyung….”

“Hm?” sahut Junsu.

“Pinjamkan pedangmu padaku!”

Mwo?” mata Junsu membulat, “Pedang? Untuk apa?!” tanya Junsu curiga.

“Berikan pedangmu padaku sekarang Junsu Hyung! Ratu sudah memerintahmu jadi kau harus memberikan apa yang ku mau, sekarang!”

.

.

“Bagaimana bisa kalian tidak tahu dimana dia, hah?! Kalian menjaga pintu, kan?!” suara itu menggelegar di pagi hari, membuat para dayang dan prajurit menunduk ketakutan. Mereka tidak hanya takut akan kehilangan pekerjaan tetapi juga takut kepala mereka melayang karena kasus menghilangnya sang ratu.

“Ampun Yang Mulia, kami akan mencari Yang Mulia Ratu secepatnya.” Ucap salah seorang prajurit jangkung yang wajahnya sudah memucat ketakutan.

“Kalau begitu cepat cari!” bentak Yunho. Penguasa tertinggi Cassiopeia itu sangat gusar sekarang, pasalnya tadi pagi ketika dirinya membuka matanya istri tercinta yang semalam didekapnya dalam pelukkannya menghilang entak kemana. Hal itu membuat Yunho panik dan uring-uringan, terlebih bila mengingat istrinya sedang membawa anak mereka dalam perutnya.

“Yang Mulia….” seorang dayang berlari mendekati Yunho dengan napas terengah karena berlari kecil sejak tadi, “Yang Mulia Ratu sedang berada di tempat latihan pedang bersama Tuan Junsu, Yang Mulia.”

“Apa?!” mata Yunho membulat, “Apa yang dilakukannya di sana?” Yunho sudah berdiri dari duduknya sekarang.

“Ya… Yang Mulia ratu sedang bertarung dengan seorang prajurit, Yang Mulia.” Ucap dayang itu sedikit takut melihat kemarahan yang tercetak jelas pada wajah rajanya.

“Bermain pedang dalam keadaan hamil? Apa dia sudah gila?” pekik Yunho yang segera keluar dari kamarnya, mengabaikan teriakan para prajurit dan dayang yang memintanya untuk tenang.

.

.

“Dasar Beruang brengsek menyebalkan! Mati kau!” pedang panjang nan tajam itu terus terayun menebas boneka jerami yang biasanya digunakan oleh para prajurit baru untuk berlatih dasar bertempur. “Mati kau! Mati kau! Matilah dan membusuk di neraka!” pekikkan kesal terlontar dari bibir semerah darah itu ketika menebas kepala, tangan dan kaki boneka jeraminya, mengabaikan tatapan dan jerit histeris yang dilontarkan oleh para dayang dan prajurit yang khawatir melihat aksinya.

“Jung Jaejoong!” panggil Junsu yang sudah kehilangan kesabaran menghadapi Ratunya, “Sudah cukup! Ayo kembali! Yunho akan cemas mencarimu! Kajja!” ajaknya.

“Aku bukan hanya cemas, kalian nyaris membuat jantungku berhenti berdetak.” Ucap Yunho yang sudah tiba bersama beberapa dayang dan prajurit yang mengekorinya, “Dan apa-apaan itu, hah? Yah Jung Jaejoong! Kau sedang hamil sekarang, jauhkan benda berbahaya itu darimu!” jeritnya ketika melihat pedang panjang itu berada dalam genggaman tangan kanan istrinya.

Mata sehitam mutiara rusa betina dan mata setajam mata seekor musang yang sedang berburu itu saling menatap sengit penuh kemarahan.

“Ku peritahkan kau untuk menjauhka pedang laknat itu dari tanganmu, Jung Jaejoong!” ucap Yunho dengan suara mendesis menahan kemarahan.

Bukannya menurut, Jaejoong justru berjalan menuju arah Yunho sembari menyeret pedang yang berada di tangan kanannya, memandang benci penuh dendam pada namja tampan yang sudah menjadi suaminya itu. “Kau tidak bisa memerintahku seperti memerintah seorang budak, Yang Mulia!!”

“Aku berhak memerintahkanmu karena kau istriku!” Yunho menatap Jaejoong lekat-lekat, berusaha memahami ledakan emosi yang sedang terjadi pada istrinya.

“Pulangkan aku ke Artesis, sekarang!” bentak Jaejoong, dihunuskannya pedang yang berada di tangannya ke arah leher Yunho.

“Jung Jaejoong!” pekik Junsu yang langsung berlari ketika melihat tiba-tiba saja Jaejoong jatuh pingsan.

Yunho yang sudah mendekap tubuh istrinya hanya menatap tajam Junsu, “Kau hutang penjelasan padaku Junsu!” ucapnya sambil membopong tubuh terkulai Jaejoong.

Junsu mengambil pedang panjang yang tadi dipakai oleh Jaejoong, pedangnya sendiri sebelum berjalan mensejajari langkah Yunho, “Dia membangunkanku  pukul 3 pagi dan memintaku menemaninya melihat matahari terbit.” Junsu mencoba menjelaskan, “Kau tahu, matanya sembab sekali. Ku kira dia menangis sepanjang malam.”

“Dia memang menangis.” Sahut Yunho.

“Ahra mengiriminya surat.”

Langkah Yunho berhenti sesaat sebelum kembali berjalan menuju kamarnya, “Kenapa aku tidak tahu?” tanya Yunho.

“Aku pun tidak tahu.” Ucap Junsu yang juga merasakan sebuah kejanggalan. Biasanya surat yang diterima oleh Jaejoong akan dilaporkan dulu pada Yunho tetapi fajar tadi Jaejoong datang ke kamarnya membawa selembar surat yang membuatnya sedikit gusar. Surat itu sekarang sudah robek karena Jaejoong sendiri mengoyaknya sebelum latihan pedang tadi.

“Kau tahu apa isinya?”

Eoh? Ya, aku tahu.” Jawab Junsu, “Ahra mengatakan bila dirinya sedang hamil sekarang dan berharap Jaejoongie bisa mengunjunginya dalam waktu dekat ini.”

“Hamil?” tanya Yunho, “Panggil dokter segera!” perintahnya pada dua orang dayang yang berdiri di lorong istana, memberi hormat padanya.

“Ya. Dia hamil.”

“Apakah karena surat itu hingga Boo Jae meminta dipulangkan ke Aresis? Kota terkutuk itu?” tanya Yunho.

Junsu melirik Yunhoo kesal, “Yah! Dia minta dipulangkan itu pun karena salahmu sendiri, pabo!”

“Kim Junsu, aku adalah rajamu! Ingat itu?”

“Jaejoongie minta dipulangkan karena sikapmu. Aish! Kenapa kau tidak peka, hah?” omel Junsu.

“Haruskah aku membawa Boo Jae ke Artesis?”

“Bukan ide yang bagus.” Ucap Junsu, “Kalau kau pergi, tahta akan kosong.”

“Aku bisa menyuruh Changmin pulang.”

Junsu menggelengkan kepalanya pelan, membukakan pintu untuk Yunho agar sepupunya itu bisa segera membaringkan Jaejoong di atas tempat tidur, “Aku sedang meminta Yoochun dan Changmin menyelidiki siapa dalang dibalik penyeranganmu dulu. Agak sulit karena beberapa kali kami menemui jalan buntu.” Junsu menjelaskan, “Satu-satunya cara adalah mengundang mereka kemari. Tetapi, bila kau mengundang warga Artesis kemari sama artinya kau harus melakukan pengamanan ekstra pada istana dan nyawamu sendiri.”

Yunho membaringkan Jaejoong perlahan-lahan, menusap wajah cantik istrinya yang terasa sedikit dingin akibat angin pagi. Mencium kening dan bibir ranum itu sebelum memutar tubuhnya menghadap Junsu, “Aku tidak akan membiarkan mereka memasuki istanaku!! Tidak akan pernah!”

“Kau akan membiarkan Jaejoongie kembali ke Artesis?”

“Tidak! Tentu saja tidak!” ucap Yunho, “Aku tidak segila itu hingga mau melepaskannya sendirian di kota brengsek itu! Pasti ada cara lain untuk menemui mereka tanpa harus membawa Boo Jae ke kota Artesis dan juga tanpa harus mengundang mereka kemari.”

Junsu hanya menghela napas, bingung harus memberikan saran seperti apa pada Yunho.

“Dan aku tidak mau mereka tahu bahwa sekarang Boo Jaeku sedang mengandung.” Yunho menatap tajam Junsu, “Aku tidak mau mereka mengincar nyawa Boo Jae juga. Cukup aku saja yang mereka jadikan sasaran.”

“Mengundang mereka ke Kota Orion? Bukankah di sana juga ada istana peristirahatan?”

“Entahlah…. Aku hanya tidak yakin pada penduduk kota itu.” gumam Yunho.

“Jaejoongie juga?”

“Tidak! Boo Jae berbeda dengan mereka.”

“Apa perlu aku mencuci otak semua orang agar kau….”

“Tidak perlu!” larang Yunho, “Dan kenapa dokter yang ku suruh datang kemari belum juga menunjukkan batang hidungnya?”

“Biar ku panggilkan!” Junsu hendak melangkah keluar ketika beberapa orang dokter istana datang.

“Cepat periksa ratu!” perintah Yunho.

.

.

Langkah-langkah ringan itu terhenti mendadak ketika mendengar beberapa orang dayang dan prajurit sedang membicarakan sesuatu.

“Bukankah dulunya dia jenderal perang? Kenapa bisa berakhir menjadi mainan Yang Mulia Raja?”

Yah! Dia bukan mainan. Dia ratu kita sekarang.”

“Ratu? Aku tidak sudi mengakuinya sebagai seorang ratu. Maksudku, dia memiliki darah penghianat dalam tubuhnya.”

“Dia tetap Ratu kita! Ku dengar dia bahkan sedang mengandung sekarang.”

“Kau gila? Dia namja!”

“Ya, dan dia benar-benar mengandung.”

“Apa-apaan itu? Terdengar seperti lelucon saja.”

“Kadang-kadang dia juga ikut memasak untuk Yang Mulia Raja.”

“Dia pasti ingin meracuni Raja kita.”

“Tidak! Dia tidak pernah melakukan hal itu. Buktinya sampai sekarang Yang Mulia Raja baik-baik saja.”

“Ku dengar itu karena Tuan Junsu sudah mencuci otaknya.”

Hampir saja dia mengeluarkan pedangnya dari sarungnya jikalau rekannya tidak mengingatkannya bahwa tugas mereka bukan untuk membunuh para dayang, tetapi menangkap kepala yang lebih berharga.

.

.

“Apakah anak buahmu sudah berhasil menyusuk ke dalam istana?”

“Sudah, sesuai perintah Anda.”

“Baiklah… mari kita tunggu pertunjukkan hebatnya segera!”

.

.

TBC

.

.

Hayo main tebak-tebakkan :3 Banyak clue lho di Chap ini :D

Untuk reader FFn, mian ne Yuuki ga bisa post di sana lagi :/  Yuuki harus nabung dulu buat beli modem baru :D Semoga bisa!

.

.

Thoughts on “Consious a Lofa XI”

dewifebrianayasmin : :D

T3Jj kim : Entee ngomongin epep yang mana tuh? ==”

Yuuqy: Hayo tebak :D

Syrenka Licorice : Soalnya Yuuki malas edit #janganditirune :D

MyBaby WonKyu : Tante ga mau kasih ane anpau lebaran? #nodong

Reanelisabeth: : Lama ya? Mian, Yuuki ngebut ketik Nother Girl soalnya :D

Areah Bii : Yakin Tante? Tante udah sehat?

Leach : :D

chamichiko : Hallo Yuki :D Chap X (10) Yuuki buatkan diagramnya kok, cari saja kalau bingung.

hime yume: :D

Meybi : :D

Shizun: Gomawo sudah suka tulisan gaje Yuuki :)

Ayumi: Siapa bilang? Coba baca FF Pridenya Yuuki atau Jung Hyunno dan temukan kejutan soal Ahra Ahjumma di sana :D

Echasefry: Sabar Chagya :D

Ade Jung : Ini udah :D Ingatan masa lalu Umma.

Nina: Ne, Umma mimpi :)

Yunorisweat: Waduh? Tiap hari? WP kan bisa di follow tanpa akun. Sukses ne ujiannya? Chukae >_<

miss cho: Sudah ne :D

Rani: Muehehehehehe :D

Mian kalau ada yang belum Yuuki sebutkan ne.

.

.

Thursday, July 10, 2014

8:32:55 AM

NaraYuuki