Feelings

Tittle                : Feelings

Author              : NaraYuuki

Genre               : Romance/ Friendship? (FF ini Yuuki ga ngerti genrenya apa -_- )

Rate                 : T+

Cast                 : All Member DB5K

Disclaimer:       : They are (all Chara) not mine  but this story is mine, NaraYuuki

Warning           : Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut. TANPA EDIT.

.

.

Feelings

.

.

Yang jelek-jelek jangan ditiru ne ;)

FF ini untuk Tante Sora Yagami aka Choco Momo :D

Yuuki terinspirasi dari FF Tante Sora yang judulnya A Doll. Yuuki nyontek juga idenya :D V

Mian ne kalau hasilnya hancur.

.

.

.

.

.

Dalam mitologi Yunani ada hirarki yang pasti di bawah dewa tertinggi adalah kelas entitas yang dikenal sebagai para dewa, tidak seperti para dewa-dewa fana yang bisa mati atau dibunuh. Para dryad jatuh ke dalam kelas ini. Para dryad adalah nimfa kayu indah atau peri hutan. Mereka adalah roh gadis cantik dan ceria yang tinggal di daerah berhutan dan suka meloncat-loncat tentang saat melindungi pohon dan makhluk-makhluk di wilayah mereka. Dryad sangat damai dan biasanya dikenal sangat pemalu. Para dryad sangat erat terkait dengan pohon-pohon dan peri pohon masing-masing memiliki pohon tertentu. Para dryad tinggal di dekat pohon-pohon ini tetapi mereka tidak tinggal di pohon.

Dalam beberapa literatur dryad yang hanya dikenal sebagai peri pohon dan terutama sebagai peri pohon ek namun deskripsi yang lebih umum dari hutan nimfa lebih pas. Makhluk-makhluk ini sangat panjang hidupnya karena hubungan dekat mereka kepada para dewa dan mereka sangat damai. Sangat menarik untuk dicatat beberapa cerita ini makhluk pemalu dan lembut. Dryad digambarkan sebagai makhluk yang indah dan halus yang hanya bermain-main sukacita di alam dan hidup damai dengan hutan dan semua penduduk.

Semua hewan dan pohon adalah teman dari dryad yang dianggap sebagai pelindung mereka. Artemis adalah teman yang sangat dipercaya untuk semua dryad dan dianggap sekutu mereka. Itu adalah Artemis yang sering akan menjadi yang pertama untuk membalas dendam jika salah satu dryad harus jatuh korban kekejaman manusia. Para dryad sendiri juga bisa membalas dendam pertama pada seorang pria yang berusaha untuk merugikan pohon meskipun mereka mengatakan tidak suka mengambil tindakan seperti itu..

.

.

“Buku itu terlalu menarik hingga kau mengabaikanku, hm? Setelah kau memaksaku datang lalu kau mengabaikanku seperti ini? Betapa hebatnya dirimu Kim Jaejoong?!” namja bermata musang itu meraih jus strawberry milik Jaejoong dan menyeruputnya hingga nyaris tersisa seperempat saja.

Jemari lentik itu menutup buku tebalnya mengenai mitlogi Fairy yang sangat disukainya, bukan berarti dirinya masih bocah. Hanya menyukai dan tertarik mengetahui kedalaman dunia mahhluk-mahluk dongeng itu, “Dia mencampakanku….” chery lips merekahnya melengkung indah namun ada luka dan kesedihan dalam doe eyes kelamnya.

“Hm?”

“Dia yang ku cintai mencampakanku…. Selalu seperti itu. Bukankah aku sangat malang?”

“Setidaknya kau masih punya aku disismu.”

“Ya, benar. Bagaimana jadinya hidupku bila tidak ada Yunie Bear disisiku?” gumamnya lebih kepada dirinya sendiri.

“Mau jalan-jalan?”

Namja berwajah cantik itu menggelengkan kepalanya pelan.

“Belanja?” Jung Yunho, namja bermata musang itu meletakkan sebuah credit card di atas meja, “Berminat?”

Kajja!” namja cantik itu menggandeng tangan Yunho, “Aku ingin merubah penampilan Yunie Bear untuk pesta malam kesenian nanti.”

“Aku memberikan kartu itu padamu bukan bertujuan agar kau bisa berbelanja untukku tetapi untuk membuatmu merasa lebih baik, Boo.”

“Kalau ada Yunie Bear, aku akan menjadi sangat baik….”

Darah memang lebih kental daripada air, tetapi ada kalanya sebuah hubungan persahabatan bisa lebih erat dibandingkan dengan hubungan saudara sekalipun. Seperti hubungan persahabatan Jung Yunho dan Kim Jaejoong. Kebersamaan mereka yang terjalin sejak kecil membuat keduanya bagaikan magnet yang saling tarik-menarik satu sama lain, menjadi penyeimbang dan pelengkap bagi masing-masing. Yunho tanpa Jaejoong bukanlah apa-apa, begitu pula sebaliknya. Mereka saling membutuhkan tanpa mereka sadari.

.

.

Jaejoong mengulurkan buku mitologi Fairynya pada Yunho ketika doe eyesnya menatap namja yang tengah duduk di sampingnya itu sedang mengalami kebosanan akibat kemacetan yang menyebalkan ini.

Yunho memandang buku bersampul coklat tua kumal itu tanpa minat kemudian mengambilnya dan meletakkannya di atas pangkuannya, “Inilah aalasan kenapa tadi aku menolak menjemputmu menggunakan mobil.” Ucap Yunho, “Coba tadi kau setuju aku menjemputmu menggunakan motor.” Gerutunya.

“Motor sportmu itu sangat mencolok, Yunie Bear.” Ucap Jaejoong yang sibuk mengetuk-ketuk kemudinya.

“Oh Boo…. Motorku tidak ada apa-apanya daripada mobil seharga 6 milyarmu ini.” Balas Yunho. Andaikan tadi Jaejoong tidak merengek untuk dijemput menggunakan mobil mewahnya itu pasti sekarang mereka tidak akan terjebak kemacetan seperti ini. Yunho lebih suka motor sport yang menurutnya cukup bermanfaat ketika sedang macet seperti ini daripada mobil mewah yang membuat mereka tidak bisa kemana-mana.

Jaejoong tersenyum, menarik bahu Yunho dan mendaratkan ciuman di atas permukaan bibir berbentuk hati itu lembut, “Nanti begitu sampai di rumah aku akan membuatkan makanan enak untukmu.”

“Aku akan lebih kenyang setelah memakanmu.” Sahut Yunho.

Jaejoong tertawa kecil. “Tidak boleh. Tunanganmu akan marah, kau tahu. Aku juga baru putus cinta jadi akan sangat klise bila kita terlibat hubungan seperti itu, hm….”

“Aku sama sekali tidak keberatan, kau tahu? Bagaimana bila aku membatalkan pertunanganku?” tanya Yunho, “Aku rela melakukan hal itu asal kau mau berada disisiku.”

“Aku selalu berada di sisimu Tuan Jung.” Ucap Jaejoong. Bukankah memang seperti itu? Dirinya selalu berada disisi Yunho apapun yang terjadi. Bahkan ketika kedua orang tuanya meninggal pun dirinya memilih berada disisi Yunho daripada ikut kakaknya, “Dan jangan lakukan itu. Ahra yeoja yang baik.”

“Tidak ada yang lebih baik darimu, Boo.” Yunho melirik Jaejoong dengan ekor matanya, “Percayalah….”

“Aku ingin percaya pada apa yang kau katakan, tetapi lihatlah kenyataan yang ku alami selama ini!” Jaejoong mengemudikan perlahan mobilnya ketika mobil yang berada di depannya mulai berjalan perlahan. Entah kapan kemacetan ini akan terurai, “Semua yang menawarkan cinta mereka padaku justru memberikan luka yang lebih parah untukku. Ironis, bukan?”

“Mereka sangat pengecut kalau begitu.” Sahut Yunho.

“Hm…. Begitulah. Dan aku paling muak ketika mereka mengatakan alasan tidak masuk akal mereka sebagai pembenaran untuk mencampakanku begitu saja.”

“Biar ku dengar.”

“Tia meninggalkanku karena katanya aku lebih cantik darinya. Cih! Alasan yang sangat bodoh bukan?”

“Kenyataannya kau memang lebih cantik darinya.”

Yah!”

“Hm…. Bagaimana dengan pacar terakhirmu?”

Nugu? Kwanghae?”

“Kau punya pacar lain selain kutu buku itu?”

Jaejoong melirik Yunho dan mendengus kesal ketika tiba-tiba saja mobil di depannya berhenti mendadak, “Dia bilang aku tidak pantas dengan orang sepertinya.”

Alis Yunho bertaut, “Tidak pantas?”

Jaejoong memutar radio, menikmati alunan lagu Taxi yang dilantunkan oleh boy band DBSK yang memiliki kualitas musik luar biasa, boy band yang paling disukai namja cantik berbibir penuh nan ranum itu, “Entah apa maksudnya tapi dia benar-benar menjauhiku. Semua mantan pacarku selalu menjauhiku ketika berpapasan denganku di jalan. Ck…. Bukankah itu sangat aneh?”

“Hmmmm….” sahut Yunho.

“Apakah menurutmu aku akan menemukan pasangan yang sepadan? Dalam artian mau menerimaku apa adanya tanpa melihat status sosialku?” tanya Jaejoong, “Ah…. Memuakkan.”

“Mari kita lihat…. Siapa yang tahan dengan namja yang memiliki paras lebih cantik daripada yeoja?”

Cheri lips merekah itu merengut kesal.

“Siapa yang akan tahan dengan namja yang hobi berbelanja hingga jutaan won dalam sehari dan sangat menyukai mitologi peri, hm? Katakan padaku siapa orang yang akan tahan?”

“Jung Yunho?”

“Ck, coret nama itu dari daftar!”

“Sayang sekali Jung Yunho Bearku berada di daftar nomor satu. Ottoke? Apa yang harus ku lakukan, hm?”

“Aku akan mengalah kalau begitu….”

“Bagus.”

.

.

Suara itu tidaklah buruk, hanya sedikit berisik dan itu cukup mengganggu. Membuat Jaejoong sedikit gusar dan tidak tenang.

“Apa yang merisaukanmu, hm?” namja bermata musang itu mengusap lembut helaian halus yang menguarkan aroma memabukkan namun sangat menyenangkan. “Katakan padaku! Tadi kau sudah memaksaku belanja selama lima jam lamanya, aku menurutimu dan mencoba segala jenis baju yang kau pilihkan untukku, aku pun ikut memilihkan baju serta perhiasan yang kau inginkan, apa itu masih kurang untukmu, hm?”

“Aku seorang Kim, kan?”

“Tidak ada yang meragukan hal itu.”

“Lalu kenapa aku tidak seberuntung Hyung dan Noonaku, huh?” tanya Jaejoong, namja cantik itu mendongakkan kepalanya yang tengah bersandar pada dada bidang Yunho untuk menatap mata setajam musang yang sangat dikaguminya, “Hyunie menjadi artis sukses dan dipuja banyak yeoja. Narsya memiliki suami yang mencintainya dan selalu memanjakannya, sedangkan aku…? Aish! Berkali-kali patah hati dan menelan kekecewaan. Satu-satunya yang benar dalam diriku adalah aku tidak kelaparan dan jatuh miskin begitu saja setelah Appa dan Umma meninggalkanku.” Keluh Jaejoong.

Yunho hanya tersenyum, Hyunie dan Narsya yang dimaksud oleh Jaejoong adalah Kim Hyunjoong dan Kim Narsya, kakak-kakak Jaejoong. Hyunjoong berprofesi sebagai aktor, penyanyi serta model yang sangat sukses dan dipuja oleh para yeoja karena wajah tampannya. Narsya kakak sulung Jaejoong sudah menikah dengan seorang pengusaha sukses, mereka sekarang menetap di Amerika. Walaupun sudah dipisahkan keadaan dan kesibukan masing-masing namun keduanya sama sekali tidak melupakan Jaejoong. Narsya dan Hyungjoong selalu memperhatikan keadaan dongsaeng kesayangan mereka, menelpon dan mentransfer uang untuk Jaejoong, bahkan bulan lalu Hyunjoong memberikan hadiah sebuah mobil seharga 6 milyar pada Jaejoong ketika adiknya itu memintanya.

Jaejoong bukanlah namja yang suka menghambur-hamburkan uang, dari saham yang diwariskan mendiang ayah dan ibunya yang tersebar dibeberapa perusahaan dan investasi lainnya kesemuanya disimpan Jaejoong dengan baik, Jaejoong akan menggunakan uang itu bila dibutuhkan. Uang jajan dari Hyunjoong dan Narsya pun tidak pernah disentuhnya karena selama tinggal bersama Yunho namja tampan bermata musang itulah yang memberikan uang bulanan untuk makan mereka. Jaejoong dan Yunho tinggal bersama di apartemen Yunho begitu keduanya lulus SMP, tepat satu bulan setelah orang tua Jaejoong meninggal dalam sebuah kecelakaan pesawat. Narsya yang menginginkan Jaejoong tinggal bersamanya di Amerika, Hyunjoong yang ingin Jaejoong tinggal bersamanya akhirnya hanya bisa gigit jari saat adik mereka memilih hidup bersama Yunho.

Narsya dan Hyunjoong sudah mengenal Yunho dengan baik karena namja bermarga Jung itu dan Jaejoong memang sudah bersahabat sejak TK. Kedua orang tua Yunho pun sudah sangat mengenal Jaejoong karena tidak sekali atau dua kali namja cantik itu menginap di kediaman keluarga Jung. Bahkan ibu Yunho kerap kali mengajak Jaejoong belanja bersama, Ayah Yunho pun kadang menelpon Jaejoong ketika merindukan masakan namja cantik itu yang terkenal sangat enak. Sepupu dan sahabat Yunho pun sangat menyukai dan akrab dengan Jaejoong, hanya satu orang yang kurang menyukai Jaejoong. Ahra, tunangan Yunho.

Tapi apa yang mereka pedulikan soal yeoja itu?

Tidak ada!

Buktinya sampai sekarang Yunho dan Jaejoong masih tinggal bersama. Ahra toh tidak akan berani melukai Jaejoong karena siapapun yang berani melukai namja cantik itu akan berurusan dengan Jung Yunho. Dan bukan perkara mudah bila harus berurusan dengan satu-satunya penerus keluarga Jung itu.

“Yun….”

“Hm?”

“Kapan hujannya berhenti? Aku lebih suka mendengar rintik hujan yang lembut bukan suara keras dan kasar seperti ini.”

“Bukankah suara hujan selalu sama?”

Ani! Beda.” Jawab Jaejoong, “Kemarin suara hujan sangat lembut dan tenang tidak seperti sekarang. Aku tidak suka.”

“Lalu bagaimana aku harus menghadapi ketidaksukaan Boo Jaeku, hm?”

Jaejoong meraih ponselnya, mengutak-atiknya sebentar kemudian menunjukkannya pada Yunho, “Ada novel tentang fairy, pegasus dan dragon yang baru terbit. Maukah kau membelikannya untukku?” tanyanya, “Aku sudah meminta pada Hyunie hyung dan kau tahu jawabannya apa?”

“Apa?”

“Hyunie hyung bilang, ‘Aku bahkan akan membelikan toko bukunya bila Baby Joongie mau meninggalkan bocah bermata musang itu dan tinggal bersama hyung tampannya’ bukankah hyungku sangat narsis?”

“Akan ku pesankan langsung agar hari ini juga Boo Jae bisa membacanya.” Ucap Yunho yang langsung meraih handphonenya, mendial nomor yang tertera pada bagian bawah laman situs yang ditunjukkan Jaejoong melalui handphonenya.

“Tapi bukankah ini sudah malam?”

Yunho melirik jam dinding ruang keluarga apartement mereka, pukul 09.45 PM. “Apapun akan ku lakukan untukmu, Boo….” ucap Yunho, “Termasuk parasit kotor yang mencoba meracuni hati dan pikiranmu itu.” Batinnya.

Jaejoong mengeratkan pelukannya pada perut Yunho, “Gomawo Yunie Bear. Semoga Ahra tidak membunuhku karena ini.”

“Oh, dia tidak akan pernah berani, Boo. Aku jamin itu.”

.

.

Eoh?” doe eyes kelam Jaejoong membulat ketika seorang yeoja cantik berbalut dress panjang indah yang membuat penampilannya terlihat semakin anggun. Hebatnya yeoja itu menyatakan cintanya pada Jaejoong di depan semua orang yang sedang menghadiri acara malam kesenian yang diselenggarakan oleh pihak kampus tempat mereka belajar.

Jung Suyeon namanya, Jessica panggilannya.

Yeoja itu kini tengah tersenyum manis pada Jaejoong, “Jaejoong Oppa, aku sangat menyukai Oppa. Maukah Oppa mempertimbangkannya? Maukah Oppa menjadi namja chinguku?” tanyanya.

Jaejoong menatap gelisah orang-orang yang tengah memperhatikan mereka tanpa menyadari ada seseorang yang tengah tersenyum mengejek dan meremehkan padanya.

Oppa?” panggil Jessica ketika namja yang berada di hadapannya itu tidak kunjung memberikan jawaban kepadanya.

“Eh? Eh? Ne? Wae?”

“Apa jawaban Oppa?”

“Ah… jawaban? Nene…. Jawaban.” Gumam Jaejoong seperti orang linglung, “Mian. Bisakah kau memberikan waktu untuk memikirkannya? Ini sangat mendadak untukku.” Ucap Jaejoong.

Arraso. Besok pagi aku akan menemui Oppa usai kuliah untuk medapatkan jawabannya.” Ucap Jessica riang kemudian berlalu meninggalkan Jaejoong.

“Akankah kali ini berakhir sama seperti yang sebelum-sebelumnya?” gumam Jaejoong. Entahlah, namja cantik itu hanya merasa tidak terlalu yakin. Kegagalannya selama ini seperti mendatangkan trauma tersendiri bagi dirinya.

.

.

“Yunho!” Jaejoong mendorong tubuh namja tampan itu ketika Yunho terus saja mengecup bibirnya, “Apa kau minum banyak diacara tadi?” tanyanya. Entah apa yang membuat sikap Yunho berubah seperti ini.

“Dia yeoja brengsek! Aku ingin membunuhnya!” Rancau Yunho.

Nugu?” tanya Jaejoong, “Kau bertengkar lagi dengan Ahra? Karena apa?” tanya Jaejoong. Di acara kesenian kampusnya tadi Jaejoong sempat melihat Yunho yang berdebat sengit dengan tunangannya, karena tidak ingin ikut campur namja cantik itu memilih menjauh dan menunggu Yunho sendiri yang akan mengatakan apa yang sebenarnya terjadi padanya.

Yunho menghela napas panjang, berbaring terlentang di samping Jaejoong, mata setajam musang yang sedang memburu mangsanya itu menatap langit-langit kamar yang terbiasa mereka tiduri sejak usia mereka 15 tahun, terhitung sudah 7 tahun lamanya.

“Yun?”

“Tidak bisakah kau diam sebentar dan menciumku saja, Boo?” tanya Yunho.

“Oh, aku akan merasa sebagai simpananmu kalau terus melakukan hal seperti itu setiap kali Ahra bertengkar denganmu.” Sahut Jaejoong.

“Kau bahkan terlalu berharga untuk sekedar menjadi simpananku, Boo.”

“Lalu?”

“Aku berpikir kalau aku melenyapkannya, mungkin aku tidak harus terikat padanya. Bagaimana menurutmu, hm?”

Jaejoong menolehkan kepalanya, menatap wajah tampan namja yang sudah 7 tahun hidup satu atap dengannya itu lekat, “Leluconmu tidak lucu.” Jaejoong menepuk-nepuk pelan wajah Yunho, “Lebih baik aku ganti baju dan cucu muka lalu tidur daripada mendengarkan omonganmu yang sedikit tidak masuk akal itu Bear.”

Mata musang Yunho terus mengawasi namja cantiknya yang tengah mengambil piayama dari dalam lemari dan membawanya menuju arah kamar mandi.

“Jangan mengintip….” ucap Jaejoong sebelum memasuki pintu kamar mandi dan mendatangkan tawa lepas dari Yunho.

“Oh, Boo…. Aku bisa gila bila tidak menyingkirkan yeoja itu!” sedikit kasar Yunho meraih handphonenya dari atas meja kemudian mendial nomor yang sudah sangat dihafalnya. Menunggu sesaat sebelum akhirnya tersambung, “Yongseo? Ne, ini aku. Aku ingin kau melakukan sesuatu untukku….”

.

.

“Mencari siapa, Boo?” tanya Yunho ketika namja cantik di hadapannya itu sejak tadi selalu menengok ke kanan dan kiri dengan pandangan yang kurang fokus seperti mencari-cari sesuatu.

“Em, Yun…. Kau tahu Jessica?”

Yeoja yang menyatakan cinta padamu saat malah kesenian dulu?”

Ne.” Jaejoong menggangguk pelan.

Yunho tersenyum sembari menikmati roti baka keju miliknya, “Waeyo?”

“Kenapa aku tidak melihatnya lagi ya?” gumam Jaejoong, “Padahal dia bilang mau menemuiku.” Jaejoong meraih tangan Yunho yang sedang memegang sepotong roti bakar keju kemudian mengarahkan tangan itu ke mulutnya dan mengigit sedikit roti bakar milik Yunho yang mendatangkan gelak tawa dari namja bermata musang itu.

“Oh, ku dengar dia sudah di Drop Out (DO).” Jawab Yunho yang mengigit roti bakarnya, tepat di tempat yang tadi dicuri oleh Jaejoong.

Mwo? Kenapa bisa?” doe eyes kelam itu membulat.

“Aku tidak mengurusi urusan orang lain, Boo. Lagi pula kenapa aku harus peduli pada apa yang terjadi padanya, hum?” tanya Yunho.

“Kau kan Jung Yunho, Bear. Biasanya kau tahu apa yang tidak ku ketahui…. Aigoo! Sekali lagi, kenapa setiap orang yang mendekatiku berakhir seperti ini? Menghilang tanpa jejak. Sedikit mencurigakan, bukan?”

Yunho tidak menyahut. Kadang-kadang Jaejoong memang terlalu bicara banyak dan bila namja cantik itu mulai berceloteh ria, Yunho memilih mendengarkan hingga saatnya dirinya harus menyahut. Jaejoong akan marah bila obrolannya disela.

Bear….”

“Hm….”

“Ada pameran buku, maukah hari ini menemaniku jalan-jalan?”

“Kemarin kita sudah memborong buku mitologi apalah itu yang menjadi kesukaanmu, Boo. Apakah masih kurang?” tanya Yunho.

“Aku tahu Yunie Bearku tidak akan mengecewakanku dengan memberikan kata-kata tolakkan padaku bukan?”

“Kau tahu aku tidak bisa menolakmu, Boo.” Sahut Yunho.

Arra. Aku akan menunggumu di parkiran. Kau masih ada kuliah statistik, bukan?”

“Ya, dan ku harap otakku tidak meledak karenanya.”

“Oh, Yunie Bearku sangat cerdas bukan?”

“Dan Yunie Bearmu ini juga manusia biasa, Boo….”

Arraso….”

.

.

Kimi no koemo sono hosoi katamo

Sono hitomi mo boku no mono jyanai

Donna ni subanii demo

Kimi no mirai kawa sanai kakiri

Kono omoi wo kanaeru koto wa dekinaiyo

Hitotoki no yume itai hodo suki nano

Yoru ga omotteku….

Sambil membaca buku tebalnya yang bercerita tentang mahluk-mahluk mitologi yang belum bisa dibuktikan keberadaannya, di temani lantunan melodi indah yang terdengar dari dalam mobil yang terparkir rapi di halapan universitas elit Seoul, membuat namja cantik itu merasa nyaman. Jaejoong mamang lebih suka menghabiskan waktunya seperti ini ketika sedang menunggu Yunho.

Tok tok tok….

Jaejoong menolehkan kepalanya ketika jendela kaca mobilnya diketuk oleh seseorang. Seorang yeoja yang sangat dikenalnya, yeoja itu sudah berdiri dengan angkuhnya di samping mobilnya sambil melipat kedua tangannya di dada. Usai menyematkan penanda di halaman yang baru saja di bacanya, Jaejoong meletakkan buku bersampul hijau pucat itu ke dalam tasnya kemudian keluar dari mobil untuk menemui sang yeoja, Ahra.

“Ahra? Mencari Yunho?” tanya Jaejoong, “Dia masih ada kuliah.”

Ya Kim Jaejoong! Berapa kali aku bilang padamu, huh? Jauhi Yunho Oppa!” ucap Ahra kesal.

Mwo? Kenapa aku harus menjauhinya? Apakah aku melakukan kesalahan pada Yunho?” tanya Jaejoong binggung. Seingatnya dirinya sama sekali tidak melakukan kesalahan pada Yunho kecuali semalam ketika dirinya mendorong Yunho saat namja bermata musang itu menciumnya kasar.

Yah! Yunho oppa adalah tunanganku.”

“Lalu apa masalahnya, huh?”

“Kau tinggal serumah dengan tunanganku, brengsek!”

“Ada yang salah dengan itu? Kami bersahabat, kan? Bukankah hal itu wajar?”

Yeoja itu mengangkat tangannya, hendak menampar wajah Jaejoong yang menurutnya sangat memuakkan itu, wajah polos yang baginya tidak ada bedanya dengan topeng iblis yang menyebalkan itu harus segera disingkirkan, “Ahhh….” Ahra merintih saat pergelangan tangannya terasa sangat nyeri akibat dicengkeram kuat dan sedikit dipelintir.

Bear?”

Boo, bisa kita tunda sebentar pergi ke pameran bukunya?” tanya Yunho.

“Tapi pamerannya hanya diadakan hari ini saja, Bear. Sampai pukul 5 sore. Ottoke?” gumam Jaejoong. Sejujurnya Jaejoong malas pergi sendiri ke tempat-tempat umum tanpa Yunho karena bisa membuatnya tidak nyaman. Tapi apa boleh buat bila Yunho ingin berdua dengan Ahra. Bukankah yeoja itu tunangannya, calon istri Yunho? Akan sangat masuk akal bila Yunho lebih mementingkan Ahra daripada dirinya, “Sepertinya aku tidak lagi berminat.” Ucap Jaejoong yang langsung masuk mobil begitu saja, menyalakan mesin mobil dan mengemudikannya menjauhi lahan parkir kampus.

“Kau sudah membuatku mengecewakannya, orang yang sangat penting bagiku.” Yunho semakin meremas kasar tangan Ahra.

“Yunho Oppa!” pekik Ahra kesakitan.

Yunho menghempaskan tangan Ahra kasar, “Hei Go! Aku tidak pernah setuju untuk bertunangan denganmu. Appa dan Ummaku pun belum memberikan restu padamu, kenapa kau bisa percaya diri sekali dan mengumbar pada semua orang kalau aku ini tunanganmu, huh? Apa karena Appamu yang seorang perdana mentri itu? Baiklah, kalau begitu aku akan mengurus semuanya sampai beres mulai sekrang. Dan kau… nikmati saja hadiah yang akan ku berikan padamu.” Setelah mengucapkan kalimat itu Yunho pergi berlalu begitu saja. Cukup sudah urusan dengan yeoja merepotkan satu itu.

.

.

“Hei, wae? Katakan padaku?” Yunho mendekap kepala Jaejoong erat ketika namja cantik itu terus menangis sejak tadi. Yunho tahu Jaejoong tidak pernah suka bila keinginannya ditolak, “Mianhae….” sesalnya.

“Aku baru menyadarinya.” Ucap Jaejoong dengan suara paraunya, “Tidak selamanya kau akan berada disisiku, Bear. Kau akan menikah dengan Ahra dan bila hari itu tiba aku akan sendirian, sebatang kara…. haruskah aku ikut Narsya noona atau Hyunie hyung?” gumamnya. Tanpa disadarinya wajahnya sudah basah oleh air matanya sendiri.

Yunho mencium puncak kepala Jaejoong, mendekapnya semakin erat, “Tidak. Bila harus meninggalkanmu aku tidak akan menikahi siapapun.”

“Kalau Ahra tidak ada, apakah Yunie Bear selamanya menjadi milikku?”

“Bila itu yang Boo Jae harapkan maka aku akan memberikannya.”

“Aku menginginkannya. Boleh?” doe eyes itu mendongak menatap wajah tampan Yunho yang tengah tersenyum kepadanya.

Yunho mengecup chery lips merekah itu lembut, mengusap jejak air mata menyebalkan dari wajah cantik itu perlahan, “Tentu saja. Boo Jae akan mendapatkan apa yang Boo Jae inginkan.”

Gomawo Yunie….”

Tidak!

Yunho tidaklah gila, hanya saja sebuah kebahagiaan dan kebanggan tersendiri bila dirinyalah yang menjadi alasan chery lips merah merekah itu tersenyum. Yunho akan memberikan dan menyingkirkan apapun bahkan siapapun demi kebahagiaan Boo Jaenya. Walaupun dengan cara ekstrim dan keji sekalipun.

.

.

“Putri bungsu Perdana Mentri, Go Ahra dilarikan ke rumah sakit jiwa akibat depresi yang dideritanya setelah kasus pemerkosaan yang dialaminya beberapa waktu lalu. Yeoja yang masih duduk dibangku semester 7 salah satu universitas swasta terbaik Seoul itu terus berteriak histeris dan melukai dirinya sendiri. Karena hal ini pertunangannya dengan satu-satunya putra konglomerat keluarga Jung akhirnya dibatalkan. Untuk lebih…”

Pip!

Layar televisi itu kembali menghitam setelah dimatikan oleh pemiliknya.

“Kau luar biasa Jung. Memanipulasi semuanya dengan sangat rapi dan sempurna.” Park Yoochun, kakak sepupu Yunho dari pihak ibu itu tengah meneguk kopinya.

Yunho yang sedang melempar anak panah mini ke papan sasaran itu hanya bisa melengkungkang senyumannya, atau seringai?

“Bukan salah Jaejoong yang dicintai dan disukai banyak orang.” Yoochun menatap ke luar jendela rumahnya, menatap Jaejoong yang tengah bermain bersama Changmin putra angkatnya. Tersenyum kecil ketika keduanya mengganggu Junsu istrinya yang sedang menjemur selimut, “Tapi salahnya juga yang membuat seekor Beruang buas cinta mati padanya.”

“Hm…. Sungguh menyenangkan.” Sekali lagi Yunho melempar anak panah itu ke papan sasaran yang sudah ditempeli oleh puluhan foto ‘mangsa’nya. Bibir berbentuk hatinya melengkung sempurna ketika anak panah mininya mengenai salah satu mata yeoja yang sudah dimangsanya beberapa waktu yang lalu.

Yeoja yang di DO karena kuasanya, karena Yunho tidak suka yeoja itu menyatakan cinta pada Jaejoongnya didepan umum seperti itu. Jaejoong adalah miliknya! Tidak seorang pun boleh mendekati Jaejoongnya. Bahkan untuk berbicara pada Jaejoong pun harus mendapatkan ijin terlebih dahulu darinya, Jung Yunho.

Setidaknya Jessica masih beruntung daripada mangsa Yunho yang lainnya.

Ada seorang namja dari keluarga Lee yang dibuatnya kehilangan nyawa dan seluruh anggota keluarganya karena berani mencium kening Jaejoongnya. Ada pula beberapa keluarga yang dibuatnya bangkrut karena anak mereka berani memeluk Jaejoongnya. Ada yang dibuatnya koma sampai saat ini, ada yang dibuatnya cacat permanen dan kekejian lainnya yang dilakukan oleh seorang Jung Yunho hanya demi menyingkirkan para parasit itu dari Jaejoongnya.

Hanya Jung Yunholah yang pantas berada di sisi Jaejoong, bukan orang lain.

Egois memang….

Tapi bukankah kadang cinta memang egois?

.

.

“Yunie tidak akan meninggalkanku seperti Umma dan Appa, kan? Yunie akan selalu bersamaku, kan? Berjanjilah pada Joongie!”

“Aku berjanji, Boo! Bahkan bila ada lalat yang mencoba mengusikmu akan ku singkirkan mereka dengan insektisida paling mematikan karena Boo Jae adalah milikku. Dan berjanjilah Boo…. Boo Jae hanya boleh bersandar padaku, mengandalkanku dan menjadi milikku selamanya! Milik Jung Yunho.”

“Joongie berjanji….”

Janji kanak-kanak yang kadang menjadi hutang dikemudian hari… hutang yang harus dibayar….

.

.

END

.

.

Tante Sora, mian hasilnya hancur #bow

.

.

Wednesday, April 23, 2014

7:51:55 PM

NaraYuuki

Always Keep The Faith! XII

Tittle                : Always Keep The Faith! XII

Author              : NaraYuuki

Genre               : Family/ Romance

Rate                 : -M

Cast                 : All Member DB5K

Disclaimer:       : They are not mine  but this story is mine, NaraYuuki

Warning           : Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut.

.

.

AKTF

.

.

Yang jelek-jelek jangan ditiru ne ;)

.

.

.

.

.

Tengah malam sudah berlalu sejak beberapa waktu yang lalu namun namja cantik itu masih belum bisa memejamkan sepasang doe eyes indahnya. Matanya nanar, wajahnya terlihat pucat sejak tadi akibat terus menerut mengeluarkan cairan dari dalam perutnya yang bergolak. Changmin yang ikut merasakan kekhawatiran pun akhirnya tidur di meja makan dengan posisi kepala diletakkan di atas meja. Yunho dengan setia memijat bahu, punggung dan leher namja cantik itu.

Entahlah….

‘’Istirahatlah Yun.” Jaejoong membelai tangan Yunho yang berada di bahunya pelan. Jaejoong sangat mengkhawatirkan keadaan namja bermata musang itu, Yunho sama sekali belum tidur. Usai pulang dari bekerja namja itu terus menemani Jaejoong sampai sekarang, tidak membiarkan Jaejoong sendirian sama sekali.

“Aku memilih menemanimu, Boo.”

“Akan sangat menyedihkan bila kita berdua jatuh sakit. Tidurlah….” pinta Jaejoong.

“Dan membiarkanmu melewati kesakitan ini sendirian? Tidak!” tolak Yunho, “Kita membuatnya bersama, maka kita akan merawatnya bersama pula.”

“Tapi kau sudah bekerja sangat keras untuk kami. Pagi nanti kau harus ke sekolah juga, kan?” tanya Jaejoong, doe eyesnya melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 2.45 dini hari.

“Oh, Boo…. Kau lupa? Kali ini aku diskor karena yang ku hajar kemarin adalah anak kepala sekolah.”

“Pak tua itu berani menskormu? Dia cari mati rupanya.” Gerutu Jaejoong. Jemari pucatnya terjulur untuk mengusap kepala Changmin, “Changmin…. Changmin tidurlah di kamar. Changmin….” namja cantik itu berusaha membangunkan Changmin.

“Eung? Umma…. Deobboki….” gumamnya.

Yah Jung Changmin! Cepat pindah ke kamarmu!” bentak Jaejoong dengan suara lantang.

Changmin tersentak kaget, mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya pelan, “Umma?”

“Pindah ke kamarmu!”

Umma ottoke?” tanya Changmin dengan suara paraunya.

Gwaechana. Kajja pindah ke kamarmu!”

Namja jangkung itu menggangguk pelan, dengan mata setengah terpejam Changmin berjalan perlahan menuju kamarnya.

“Kau juga Yun….”

“Aku tidak apa-apa!” Yunho berusaha meyakinkan namja cantik itu, “Jangan memedulikanku, Boo…. Kau dan uri aegya lebih penting.”

Jaejoong menengadahkan kepalanya, menatap namja tampan bermata setajam musang yang tengah tersenyum kepadanya. Dapat Jaejoong lihat gurat kelelahan dan kekhawatiran pada wajah tampan Yunho. Jangannya terjulur untuk membelai wajah Yunho pelan, “Kita tahu bahwa kita berdua sama-sama keras kepala. Karena itu, mari kita tidur….”

Yunho tersenyum, “Itu pilihan yang bijaksana.” Dibantunya namja cantik itu untuk berdiri dari duduknya kemudian di tuntunnya Jaejoong menuju kamar mereka untuk beristirahat. Terlalu telat memang untuk dikatakan tidur malam, tapi toh keadaan yang memaksa mereka untuk tidur lebih lambat dari waktu yang biasanya.

Tidak apa-apa.

Selama mereka bersama, yang berat dan melelahkan pun bisa terasa ringan dan menyenangkan.

.

.

Yah! Apa yang mereka lakukan? Kenapa tidak kunjung membuka pintunya?” namja berpipi sedikit chuby itu terus menggerutu sejak dua puluh menit terakhir, sesekali ditendangnya permukaan pintu menyebalkan yang tidak kunjung terbuka dari tadi.

“Mungkin mereka masih tidur, Yoochunie….” gumam Junsu yang juga mulai merasa pegal menyerang kedua kakinya.

Yah Jung!” Yoochun hendak mendobrak pintu malang itu seandainya pintu itu tidak terbuka dari dalam.

“Bisakah jangan berteriak-teriak? Ummaku sedang sakit.” Gerutu Changmin yang masih memasang wajah mengantuknya.

“Jaejoongie sakit?” tanya Junsu.

Yoochun segera melesat masuk tanpa menunggu dipersilahkan masuk terlebih dahulu. Melihat isi apartemen yang sangat sederhana itu sebelum menghela napas dan bergumam, “Dia meninggalkan semua kemewahan yang ku tawarkan untuk tinggal di tempat seperti ini?” gumamnya.

Junsu memukul bahu Yoochun perlahan, “Yah! Tempat ini sangat nyaman.” Gumamnya yang langsung menuju dapur untuk meletakkan kantung buah yang dibawanya sejak tadi.

“Yang mengherankan, kenapa kau harus ikut bolos? Yah!” Yoochun mendelik tajam pada Junsu yang tidak memedulikannya, mengherankan memang Junsu yang semula sangat rajin itu kini ikut membolos bersamanya. Ah, tidak! Yoochun tidak membolos hanya diskors selama tiga hari, sama seperti yang Yunho dan Changmin terima setelah menghajar anak kepala sekolah kemarin yang hendak mengeroyok Jaejoong.

“Bisakah kalian jangan berisik aku sangat ngantuk.” Keluh Changmin.

“Semalam kau tidur jam berapa Changminie?” tanya Junsu.

Molla….” Changmin mendudukkan dirinya di kursi, membaringkan kepalanya di atas meja makan, menguap kecil sebelum menutup kembali kedua matanya, “Umma semalam terus muntah, aku dan hyung sama sekali tidak bisa tidur.” Gumamnya sebelum jatuh terlelap kembali.

Mwo? Jaejoong sakit?” tanya Yoochun.

Ani, hanya semalam anak kami sedikit membuat ulah.” Sahut Yunho yang tengah menyeret langkahnya menuju kulkas, mengambil air minum dan menegaknya beberapa teguk sebelum diletakkan kembali di dalam kulkas, “Jadi jangan berisik.”

“Kenapa tidak menelponku, huh? Kenapa tidak memanggil dokter?” tanya Yoochun.

“Aku sudah menelpon dokter dan katanya hal itu memang biasa terjadi pada trimester pertama kehamilan. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.” Jawab Yunho santai, “Kebetulan kalian berada di sini. Tolong jaga Boo Jae, aku harus pergi menemui seseorang yang ingin membuat perhitungan padaku.”

Nugu?” Junsu yang sedang mencuci buah-buahan yang dibawanya segera menatap Yunho, “Nuguya?”

Appaku.” Jawab Yunho sebelum berjalan ke arah kamar mandi dan menutup pintu bilik di sudut ruang dapur itu sedikit keras hingga menimbulkan debuman yang cukup nyaring.

Appanya?” Junsu mengerutkan keningnya.

“Jung Jihun….” gumam Yoochun, “Namja yang sama merepotkannya dengan Park Jaeseok.” Ucapnya. Ditariknya kursi di samping Changmin yang sudah tertidur pulas untuk duduk. Menghela napas berat seolah sedang mengurangi sedikit beban di bahunya.

Yah! Yoochunie! Berhenti memanggil Appamu dengan panggilan seperti itu! Kau mau jadi anak durhaka?” tanya Junsu, “Lagi pula sepertinya kau kenal baik dengan keluarga Yunho.” Namja bersuara khas itu meletakkan buah yang sudah dicucinya di atas meja, mendudukkan dirinya sendiri di kursi yang bersebrangan dengan Yoochun.

“Hm…. Begitulah…. Karena sebuah keadaan sehingga mengharuskanku untuk mengenal inti keluarga Jung.” Gumam Yoochun.

Junsu mengambil satu apel kemudian mengupasnya perlahan, “Haruskah aku memesan makanan untuk kita ber-5 mengingat aku tidak bisa memasak seperti Jaejoongie?” tanyanya.

“Empat cukup.” Sahut Yoochun.

“Yunho?”

“Sepertinya dia akan makan di luar.” Mata namja bermarga Park itu menatap pintu kamar mandi di sudut dapur dengan tatapan yang sukar diartikan, usai menghela napas namja berpipi chuby itu bergumam, “Andai aku punya keberanian untuk melawan seperti yang dilakukannya….”

“Jadi aku harus memesan apa?” tanya Junsu yang sudah mengeluarkan handphonenya.

“Terserah saja, asal siapkan bubur untuk Jaejoong.” Jawab Yoochun.

.

.

Usai memakan makan paginya Yunho segera menegak jus jeruknya hingga habis tidak bersisa. Memasang wajah datarnya ketika bertatapan dengan namja dewasa yang terus menatapnya sedari tadi dengan aura mengintimidasi. Namja dewasa yang tentu saja sangat berjasa atas kelahirannya ke dunia ini.

“Setelah lulus kau dan Changmin akan belajar ke Amerika.” Ucap namja itu dengan ekspresi datar.

“Tidak!” tolak Yunho.

“Jung Yunho!”

“Ketika aku memutuskan untuk pergi maka aku tidak akan pernah kembali lagi.” Ucap Yunho tenang, “Inilah jalan yang ku pilih!” tambahnya.

Brak!

Meja yang dipukul dengan sangat kuat itu membuat beberapa pengunjung yang juga sedang menikmati makan pagi mereka sontak menoleh karena kaget.

“Kau berbuat seperti ini karena namja itu?”

“Kenapa? Appa tidak bisa menyentuhnya karena dia seorang Park? Appa tidak bisa menyingkirkannya, bukan?” sinis Yunho, senyum mrngrjek tersungging dibibirnya. “Tentu saja. Karena sekali saja Appa mendekatinya, ku pastikan saat itu juga Appa menyesal melakukannya.”

“Jung Yunho!” bentak namja dewasa itu keras, “Kau membangkang ayahmu sendiri hanya demi namja breng….”

“Jangan membuatku menghajarmu dengan tanganku sendiri, Appa!” Yunho mengingatkan. Siapapun tidak boleh menghina Jaejoongnya, bahkan orang tua Jaejoong sendiri sekalipun, “Jangan menyalahkan orang lain! Aku yang seperti ini pun karena hasil didikan Appa juga.”

Mata setajam musang sama seperti yang Yunho punya itu menatap nyalang namja muda di hadapannya, putranya sendiri.

“Tanpa Appa aku bisa hidup, bisa membiayai sekolahku, aku masih bisa makan dan tidur di tempat yang layak.” Ucap Yunho, “Appa… entah Appa akan senang atau mengutukku bila aku mengatakan hal ini, tetapi…. Appa akan menjadi seorang haraboji sebentar lagi. Jaejoong sedang mengandung anak pertama kami. Ku harap, Appa tidak mengganggu hidup kami lagi. Soal Changmin… mianhae…. Aku tidak akan membiarkan Appa menyentuh anak malang itu. Aku bisa menghidupi Changmin dengan layak. Setidaknya dia tidak perlu mengemis dan mati kelaparan. Senang bertemu Appa. Jaga kesehatan Appa….” ucap Yunho sebelum berdiri, membungkuk sebentar dan berjalan pergi meninggalkan restoran mahal tempatnya dan sang ayah berbicara singkat. Yunho ingin segera pulang untuk bertemu Jaejoongnya.

Tidak salah memang bila ayahnya ingin dirinya dan Changmin belajar di Amerika mengingat keluarga mereka sangat mampu melakukannya. Tetapi Yunho sudah terlanjur sakit hati dan terluka karena perlakuan kedua orang tuanya dulu. Kehidupan masa kecil yang tidak bahagia, kehidupan remaja yang harus dilaluinya sendirian bahkan ketika adiknya pergi untuk selamanya.

Haruskah Yunho memaafkan mereka semudah itu?

Usianya baru 18 tahun tetapi Yunho dipaksa menerima permasalahan orang dewasa, melelahkan… sungguh melelahkan. Yunho bahkan tidak bisa menolak dan hanya bisa menjalaninya dengan sebaik-baiknya.

Yunho masih ingat dengan jelas bagaimana dulu dirinya diusir karena ayahnya mempergokinya ketika dirinya tengah mencium Jaejoong yang sedang terlelap di kamarnya usai mengerjakan PR bersama. Yunho masih bisa merasakan tamparan yang dilayangkan ayahnya pada dirinya, Yunho masih bisa mendengar makian yang ayahnya berikan padanya.

Setelah semua itu…

Haruskan Yunho kembali kesisi ayahnya dan berperan menjadi anak yang baik? Berpura-pura semuanya tidak pernah terjadi?

Yunho tidak bisa melakukan semua itu…. Belum, setidaknya….

.

.

“Hai Boo….” Yunho hanya bisa tersenyum ketika tiba-tiba saja namja cantik itu memeluknya erat, “Merindukanku, eoh? Boo Jae sudah makan?”

Namja cantik itu melepas pelukannya, meneliti setiap tubuh Yunho, memastikan tidak ada luka atau memar yang mengotori tubuh pemuda itu, “Yun….”

Yunho melemparkan tatapan kesalnya pada Yoochun yang berdiri dengan angkuhnya di tengah ruang tamu rumahnya, “Kau mengatakan pada Boo Jae kalau aku bertemu dengan Appaku?”

“Apa aku tidak boleh mengatakannya?” sahut Junsu.

“Jangan asal menuduh, Jung!” gerutu Yoochun.

“Yun….” doe eyes kelam itu menuntut sebuah kejelasan, penjelasan untuk mengurangi sedikit risau hatinya.

“Tidak apa-apa Boo, hanya saja….” Yunho menatap Changmin yang sedang membawa toples berisi biskuit coklat buatan Jaejoong kemarin, “Changmin…. Mian, mungkin gara-gara aku kau harus kehilangan kesempatan sekolah di Amerika.”

“Aku tidak keberatan, Hyung….” sahut Changmin.

Yunho hanya bisa tersenyum ketika ujung jaketnya dicengkeram kuat-kuat oleh namja cantik itu. Seolah mengerti kegundahan namja cantiknya, Yunho mendekap erat Jaejoong, mengusap punggung dan kepala namja cantik itu perlahan-lahan untuk meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja.

“Yun….”

“Hm?”

“Aku ingin mandi. Gosokkan punggungku!”

Arra….”

Yoochun dan Junsu memelototkan mata mereka mendengar apa yang Yunho dan Jaejoong katakan.

“Mereka sudah memiliki bayi dalam perut Umma, harusnya hal seperti ini tidak membuat kalian seperti itu.” Gumam Changmin.

“Setidaknya jangan mengatakan hal semacam itu di hadapan kami!” omel Yoochun.

Aigoo! Aigoo!” Junsu menyentuh wajahnya, menahan malu akibat pembicaraan antara Yunho dan Jaejoong yang menurutnya sedikit terlalu intim.

.

.

Jaejoong diam, mmebiarkan Yunho membasuhkan sabun ke sekujur permukaan tubuhnya, membiarkan namja tampan itu menggosok punggungnya. Jaejoong sedang berpikir keras sekarang.

Sejujurnya Jaejoong tidak tahu pasti alasan kenapa Yunho diusir dari rumahnya, tetapi bila bukan karena kebaikan hati kakeknya mungkin Yunho tidak akan bisa hidup sampai sekarang.

Ya….

Kakeknyalah yang memberikan pekerjaan pada Yunho sehingga setiap malamnya namja tampan bermata setajam musang itu harus rela waktu istirahatnya digunakan untuk bekerja. Memang bukan pekerjaan yang berat, Yunho bekerja sebagai asisten kakeknya dimana setiap malam Yunho harus menggantikan kakeknya menghitung keuangan perusahaan, menghitung pengeluaran, pemasukan, laba dan gaji karyawan, memeriksa dokumen dan proposal kerja, kadang Yunho menemani kakeknya ikut rapat.

Yang Jaejoong tahu, kakeknya memang sudah mempersiapkan Yunho sebagai pewarisnya. Jaejoong ingat waktu Yunho merayakan ulang tahunnya yang ke-15, saat itu kakeknya menghadiahi Yunho 25% saham di perusahaan Jung, perusahaan yang bergerak dibidang komunikasi dan kontruksi. Untuk anak seusia Yunho saat itu saham sebanyak 25% adalah hal yang luar biasa, sehingga ketika Yunho terusir dari rumah ayahnya yang memang hubungannya dengan kakeknya tidak begitu baik Yunho tidak ketakutan akan kelaparan karena Yunho tahu kakeknya pasti akan membantunya.

Kini….

Ketika Jung Jihun ayah Yunho tahu bahwa dirinya sedang mengandung seorang Jung, akankah namja itu memisahkan dirinya dengan Yunho secara paksa? Belum lagi reaksi orang tuanya yang masih berada di Jepang. Jaejoong sedikit takut.

Takut bila Yunho tidak lagi disisinya.

“Aku akan selalu bersamamu, Boo….” Yunho melilitkan lengan kekarnya diatas permukaan perut Jaejoong  yang licin akibat sabun dan basah, “Aku lebih suka Boo Jaeku yang garang daripada Boo Jae yang seperti ini….”

“Ini hanyalah ketakutanku, Yun…. Setelah semua ini, bagaimana jadinya bila aku harus melaluinya sendirian.”

“Kita akan melewatinya bersama. Semuanya akan baik-baik saja….”

“Bisakah kau mencampakan semuanya untuk bersamaku, Yun?”

“Bukankah sudah ku lakukan? Boo Jae perlu bukti seperti apa lagi, hm? Katakan….”

Umma…. Maukah kau menemaniku mengatakan semua ini pada Umma? Agar bila aku terusir dari rumah aku tidak akan pernah ragu dan takut ketika harus melangkah dan menantang dunia ini.”

“Kapan pun Boo Jae siap, aku akan menghadapinya.”

“Cium aku!”

Air yang mengalir dari shower itu seolah-olah meluruhkan kegundahan dan nestapa yang mencengkeram hati Yunho dan Jaejoong selama ini. Ketakutan itu melebur dalam lautan keberanian, kesiapan menghadapi segala resiko dan konsekuensi yang memang pantas mereka dapatkan sebagai penghakiman untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka selama ini.

.

.

TBC

.

.

Thursday, April 10, 2014

7:32:01 PM

NaraYuuki

Fairy Tail II

Tittle                : Fairy Tail II

Author              : NaraYuuki

Genre               :Yang jelas fantasy gagal

Rate                 : M-Preg

Cast                 : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Shim Changmin, Go Ahra, Jung Hyunno (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan)

Disclaimer:       : They are not mine but this story and Jung Hyunno are mine, NaraYuuki

Warning           : Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut. Paragraf/ dialog yang penulisannya menggunakan Blod, Italic ataupun under line berarti itu adalah kejadian dimasa lampau (flash back).

.

Fairy Tail

.

Baca FF Fantasy Yuuki harus pelan-pelan, biar ga binggung!

FF Fantasy Yuuki tidak terikat dengan kebudayaan manapun jadi silahkan bebaskan imajinasi masing-masing ketika membacanya.

.

.

.

YUUKI SARANKAN BACA WARNINGNYA DULU!

.

.

.

.

.

Sosok cantik itu sedang duduk di atas sebatang dahan kayu yang menjorok ke arah telaga di bawahnya. Kain berwaran putih kekuningan itu menutupi tubuh bawahnya yang masih basah dan membiarkan tubuh atasnya terbuka. Membiarkan kupu-kupu cantik terbang di sekitar tubuhnya. Membiarkan semua keresahan hatinya yang hari ini membolos dari sekolah menguap untuk sesaat. Biarlah nanti sang Umma memarahinya atau memberikan hukuman untuknya, yang jelas dirinya buruh ketenangan untuk saat ini.

“Apa yang kau lakukan di sana?”

Sayap tipis berwarna kebiruan itu mengepak pelan, tangan pucatnya menggenggam erat kain berwarna putih kekuningan yang digunakannya untuk menutupi tubuh bagian atasnya. Doe eyesnya membulat melihat mata merah tajam yang menatapnya dari bawah sana.

Seorang vampire.

“Siapa kau?” mata setajam musang itu menatap tajam ke arah yang masih berdiri di atas dahan pohon itu.

Si cantik itu mulai waspada. Vampire yang menunjukkan mata merahnya pada saat sedang tidak bulan purnama merah berarti ia tengah kelaparan dan siap memangsa siapa saja untuk memuaskan dahaga dan laparnya.

Doe eyes kelam itu terbelalak saat tiba-tiba saja sang vampire yang tengah kelaparan itu sudah berdiri di sampingnya. Sayapnya hendak terkepak namun vampire itu lebih dulu mendorongnya hingga jatuh terpental membentur tanah.

Srak!

Sang vampire kini menduduki perutnya saat dirinya tengah menahan sakit akibat sayapnya yang sedikit terluka, “Kau indah….”

“Tuan jangan! Aku mohon….” si cantik itu ketakutan sekarang. Dirinya tidak akan cukup kuat untuk melawan vampire yang sedang kelaparan seperti sekarang, “Aku tidak enak dimakan. Sungguh!”

“Jangan takut! Aku tidak akan memakanmu. Kau terlalu indah untuk dijadikan makanan. Setelah semua kesakitan ini aku akan memberikan surga terindah padamu, Yeopo.”

“Ani. Jebbal, Tuan…. ANDWE!”

Breeeeekkkkk!

.

.

Oh, Hyunno berani bersumpah bahwa sosok di hadapannya ini bahkan lebih cantik daripada teman-teman dryadnya yang terkenal sangat seksi itu. Debaran halus dan perasaan asing itu menggelitik Hyunno ketika jemari pucat itu membelai wajahnya pelan.

Gomawo….”

Astaga!

Jantung Hyunno seakan hendak melompat mendengar suara yang bahkan lebih merdu dan lembut dari dawai pengantar tidur yang sering didengarnya ketika masih kecil. Apa ini? Ada apa dengan dirinya?

Apakah Hyunno jatuh cinta pada namja ini?

Jemari pucat yang semula membelai wajah Hyunno itu ditarik oleh pemiliknya ketika mengenali siapa yang kini sedang berdiri dengan angkuhnya di belakang namja remaja yang masih menatap penuh kekaguman padanya.

“Hai, Boo….”

Suara itu bahkan terdengar seperti malaikat pencabut nyawa baginya.

Appa kenal dengan anak kepala sekolah ini?” tanya Hyunno.

“Tentu saja.” Jawab namja itu, “Karena dia adalah orang yang sudah melahirkanmu, Jung Hyunno.”

MWO?!” mata setajam musang milik Hyunno itu membulat.

.

.

Yeoja itu mengeram penuh amarah. Tanggannya sudah menggenggam sebuah pedang jikalau para pengawal raja yang sedang berkunjung ke kediamannya tidak menahannya untuk menikam namja brengsek yang sudah menghancurkan hidup putra kesayangannya.

“Jung Yunho sshi, ingin mempersunting Jaejoong untuk dijadikan pendampingnya, Ahra ya.” Pria tua itu menatap yeoja yang sedang menahan amarahnya itu, berusaha bersikap baik di hadapan sang raja Vampire. Kulit serupa batang pohonnya mulai berkeriput. Ya, sang raja Fairy yang terpilih periode ini adalah seorang Dryad. Raja baru akan dipilih menggantikan raja yang lama bila raja yang lama telah tutup usia atau melakukan kesalahan yang tidak termaafkan.

“Yang Mulia, apakah anda tahu siapa namja yang datang bersama anda ini?” Ahra, yeoja itu menatap sengit namja bermata musang yang duduk dengan angkuhnya di samping sang penguasa Fairy.

“Aku tahu Ahra.”

“Dia adalah namja brengsek yang sudah membuat hidup putraku menderita, Yang Mulia! Seluruh Fairy tahu hal itu!” pekik Ahra, “Dan anda ingin aku memberikan putraku padanya? Tidak akan! Tidak akan pernah!” teriaknya bersamaan dengan hempasan air yang memuncrat (menyembur) wajah tampan nan angkuh sang raja vampire. Untung saja yeoja itu tidak mengubah air yang dilemparnya menjadi jarum-jarum kecil beracun.

“Ahra!” teriak sang penguasa Fairy, “Jaga sopan santunmu!”

“Nyonya… saat ini pasukan vampire sudah mengepung tanah Fairy. Bila kau tidak memberikan Jaejoong padaku, maka kau akan melihat dengan mata kepalamu sendiri kaum dan tanahmu luluh lantah dalam sekejap.” Ucap namja bermata musang itu tenang, “Aku tidak mengancam. Inilah penawaran dariku.”

.

.

Plak!

Telapak tangan pucat itu berhasil mendarat sempurna di atas permukaan wajah sang raja vampire. Matanya nyalang penuh kemarahan, tidak memedulikan dimana dirinya berada sekarang, tidak memedulikan para vampire lain yang mulai marah padanya dan bersiap untuk menerkamnya.

“Jangan biarkan aku memasungmu, Boo!” ucap sang raja mengingatkan. Mata setajam musnagnya yang menurun pada sang putra itu berkilat marah.

“Lakukan!”

“Pasangkan rantai pada kaki dan tangannya, pasung dia!” perinta sang Raja.

Cairan bening itu mengalir membasahi wajah cantiknya ketika beberapa vampire yang memakai seragam penjaga itu menghampirinya dengan membawa rantai panjang. Bila dulu ibunya memasungnya karena takut dirinya akan melukai bahkan menghilangkan nyawanya sendiri, kini dia dipasung karena sebuah alasan yang menurutnya sangat memuakkan.

“Jangan! Tidak ada yang boleh memasung Ummaku!” teriak Hyunno. Namja remaja itu berlari dan memukul para penjaga yang hendak memasangkan rantai di kaki namja cantik itu.

“Jung Hyunno!” namja jangkung itu berusaha menghentikan kenekatan sang keponakan yang berani melawan ayahnya sendiri.

“Biar Appa dengar alasanmu.” Raja vampire itu menatap putranya dengan tatapan tajam.

Appa tidak boleh melukai Umma lagi!” namja muda yang tingginya hampir menyamai ayahnya itu balas menatap ayahnya dengan raut wajah penuh keberanian.

Jung Yunho, sang raja Vampire itu tertawa mengejek menatap doe eyes yang terus menumpahkan cairan beningnya, “Lihat! Anak yang dulu hendak kau bunuh itu kini membelamu! Bukankah dulu kau tidak menginginkannya? Bagaimana bila sekarang aku membunuhnya untuku, hm?”

“Hentikan!” pekik si cantik itu sebelum jatuh pingsan.

.

.

Umma yang dulu merawatku adalah seorang Dryad. Dia meninggal karena melindungiku dari gigitan serigala perak yang air liurnya sangat beracun dan mematikan.” Cerita namja muda itu tanpa diminta, “Semua orang yang mengenalku mengatakan bahwa Umma yang melahirkanku sangat cantik… Ternyata benar. Umma sangat cantik.” Pujinya.

Doe eyes yang menatap langit malam dalam diam itu sama sekali tidak mau menatap namja muda yang duduk di bibir ranjangnya, pikirannya kalut sekarang. Andaikan sayapnya masih ada…. Andaikan dirinya tidak dijadikan alasan untuk menjaga kedamaian Fairy, andai dirinya tidak di sini….

Ahjushi bilang Umma melahirkanku ketika usia Umma 15 tahun (18 tahun usia manusia). Mianhae…. Bila karena mengandung dan melahirkanku membuat Umma menderita seperti ini. Aku mengerti bila Umma membenciku….” lirih Hyunno.

“Tidak ada ibu yang bisa kekal membenci darah dagingnya sendiri.” Si cantik itu menjulurkan lengannya, mengusap kepala Hyunno pelan, merasakan getaran asing yang perlahan-lahan membelai sanubarinya, memastikan bahwa namja yang berada di hadapannya kini adalah bayi kecil yang dulu sudah dirampas darinya dan membuatnya nyaris gila. “Hanya ketika ayahmu menaburkan benihnya secara paksa dan mengoyak sayap Umma, kemarahan dan kebencian itu membutakan segalanya. Kau tahu…. Umma adalah namja. Harusnya Umma bisa menjaga diri Umma tetapi justru berakhir tragis. Disetubuhi seorang vampire, kehilangan sayap dan harga diri sebagai seorang peri. Peri tanpa sayap, apa yang bisa dilakukannya?”

“Tapi para Dryad tidak memiliki sayap, Umma…. Dan mereka bisa melakukan hal-hal hebat.”

Dryad berbeda dari klan peri yang lain. Tubuh mereka didesign bukan untuk terbang….”

Umma, aku bisa meminjamkan nagaku bila Umma ingin terbang.” Hyunno menunjuk seekor naga kecil yang sedang mematuk-matuk sayapnya sendiri.

“Akan berbeda rasanya….”

Umma membenci Appa?”

Chery lips itu melengkung indah, “Kau murid terpintar di Cassiopeia. Andai sekolah itu tidak terbakar pasti kau sudah mendapat mendali kehormatan.” Gumamnya, “Kenapa nenekmu tidak menyadari kehadiranmu?”

“Bisakah mendali itu ku dapatkan dari Umma?” tanya Hyunno.

“Hm?” alis selegam arang itu saling bertautan.

“Cukup peluk aku. Itu sudah lebih cukup untukku Umma….”

Dua lengan pucat itu menarik tubuh Hyunno untuk mendekatinya, mendekapnya erat. Anak yang dikandungnya selama empat bulan dulu, bayi yang dulu dilahirkannya sudah payah, bayi yang dirampas paksa dari pelukannya, bayi yang dibenci namun juga sangat dicintainya itu kini sudah menjadi namja tampan yang sangat gagah.

“Luka ini?” Hyunno melepaskan pelukan namja cantik berstatus Ummanya, menatap luka di leher Ummanya, “Appa yang membuatnya?” tanyanya sambil mengamati luka yang belum kering itu. Luka yang disebabkan oleh gigitan seorang vampire yang hendak menandai mangsanya, miliknya, orang yang dipilihnya untuk mendampingi sisa hidupnya.

“Dia memberikan luka ini ketika proses pembuatanmu.” Namja cantik itu menatap mata Hyunno, mata yang sangat mirip dengan orang yang dibencinya. Orang yang mengancam ibu dan rajanya, orang yang memaksanya tunduk dibawah kuasanya, orang yang sudah memisahkannya dari kaumnya.

Appa bisa menyembuhkan luka Umma.” Ucap Hyunno tiba-tiba.

“Tidak.”

Umma pasti kesakitan, bukan?” tanya Hyunno, “Gigitan vampire hanya bisa disembuhkan oleh vampire yang membuatnya. Apalagi luka di leher Umma itu bukan hanya sekedar luka biasa tetapi sebuah tanda, tanda bahwa Umma adalah milik Appa.

“Orang itu tidak boleh menyentuh Umma lagi.”

.

.

“Aku senang, setidaknya kau mau menerima anakmu dan tidak mencoba membunuhnya seperti yang kau lakukan dulu padanya, saat dia masih berada di dalam perutmu.” Bibir berbentuk hati itu menyunggingkan senyum mengejek yang sangat memuakkan.

Jemari pucat itu mencengkeram kuat-kuat pinggiran meja di hadapannya, menahan dirinya untuk tidak menumpahkan sup yang terhidang untuknya itu terlempar di wajah namja menjebalkan yang seumur hidup ingin dibencinya.

“Entah apa jadinya bila ku biarkan kau merawatnya.”

Srak!

Prang!

Semangkuk sup yang sama sekali belum tersentuh itu akhirnya berakhir mengenaskan, tumpah begitu saja di atas lantai. Mengotori permukaan marmer indah yang didatangkan langsung dari Persia.

“Ambilkan lagi sebanyak dia membuangnya!” perintah Yunho tenang.

“Kau merampasnya dariku, Brengsek!” tangan pucat itu menggebrak kuat meja kayu itu dengan sangat keras.

“Jagalah kelakuanmu! Kau adalah ratu dari kaumku yang dihormati dan disegani. Jangan membuatku marah!” Yunho mengingatkan. Mata setajam musangnya yang menurun pada Hyunno itu tidak pernah lepas dari sosok cantik di hadapannya.

“Aku tidak pernah sudi menjadi ratumu karena aku seorang namja dan tidak seharusnya aku menjadi seorang ratu!” chery lips itu memekik.

Srak!

Doe eyes Jaejoong membulat ketika kuku-kuku tajam dan runcing itu nyaris menggores wajahnya. Sama seperti 15 tahun lalu, namja itu sangat gesit dan cepat.

“Aku peringatkan padamu, Boo. Jangan membuatku marah!” desis Yunjo tajam.

Brak!

Pintu ruang makan itu di dobrak paksa dari luar, sosok namja jangkung yang tengah terengah-engah dan panik itu terlihat jelas.

Hyung….”

.

.

“Bagaimana bisa seekor unicorn menusuk Hyunno dengan tanduknya, huh?” namja bermata musang itu segera mendobrak kamar anaknya, di atas ranjang sana putranya tengah merintih menahan sakit saat seorang tabib mencoba mengobatinya.

“Unicorn itu memasuki halaman belakang, Hyung. Saat Hyunno sedang berlatih memanah tiba-tiba saja unicorn itu menubruk dan menusuk lengan Hyunno dengan tanduknya.” Jelas Changmin. Namja jangkung itu pun ikut khawatir pada apa yang menimpa keponakannya.

“Bagaimana lukanya?” tanya Yunho.

“Cukup parah, Yang Mulia. Tusukannya mengoyak pembulu darah Pangeran.” Jelas sang tabib.

“Minggir!” namja cantik itu berjalan menuju arah ranjang, mendudukkan dirinya di bibir ranjang dan mengusap kepala Hyunno pelan, “Namja tidak boleh menangis!”

Ummaaa….” rintih Hyunno kesakitan. Unicorn adalah mahluk mistis yang jarang sekali menunjukkan dirinya pada sembarangan orang, hidupnya di tanah Elf. Adalah sangat aneh bila seekor Unicorn tiba-tiba tersesat di halaman belakang istana para Vampire.

Jaejoong meraih baskom kecil berisi air yang oleh tabib tadi digunakan untuk membersihkan luka Hyunno, “Biar Umma melihat lukamu.” Begitu mencelupkan kedua tangannya ke dalam baskom Jaejoong segera, menyentuh luka Hyunno hingga mendatangkan jerit kesakitan dari namja muda itu.

Yunho hendak menarik tubuh Jaejoong namun diurungkannya niatnya itu begitu melihat perlahan-lahan jaringan luka Hyunno yang terluka perlahan-lahan menutup. Yunho sepertinya lupa bahwa walaupun tanpa sayapnya, Jaejoong tetaplah pergi air yang memiliki kemampuan menyembuhkan.

“Rasanya sejuk bukan?” tanya Jaejoong yang sebenarnya kepayahan juga mengobati luka anaknya. Unicorn atau apalah itu benar-benar membuat luka yang cukup parah pada Hyunno. Yang terpenting sekarang jaringan pembulu darah Hyunno tidak koyak lagi.

Hyunno menggangguk pelan, “Tapi awalnya sangat perih Umma.” Adunya. “Umma bisa mengajariku melakukannya?”

Umma memang melahirkanmu, tetapi darah vampire sepertinya lebih dominan dalam tubuhmu.” Ucap Jaejoong. Napas namja cantik itu tersendat ketika menyadari sesuatu. Doe eyes kelamnya melirik Yunho dan Changmin yang juga sedang memasang wajah cemas mereka.

“Kata orang-orang aku adalah duplikat Appa. Kenapa aku bukan duplikat Umma saja? Ummakan yeopo….” kini Hyunno tahu kenapa setiap kali dirinya berdekatan dengan namja cantik itu akan muncul perasaan aneh yang tidak dimengertinya, ternyata itu disebabkan karena namja cantik itu adalah ibunya, orang yang sudah melahirkannya ke dunia ini, “Umma…. kenapa tiba-tiba aku mengantuk?” tanya Hyunno. Perlahan-lahan mata setajam musang itu menutup kelopak matanya dan jatuh terlelap. Tidak ada yang menyadari bahwa Jaejoonglah yang membuat pangeran vampire itu tertidur.

Setelah mengusir tabib dan pengawal yang sejak tadi berada di kamar Hyunno, Jaejoong mendudukkan dirinya pada sebuah kursi yang ada di kamar luas itu, menatap kakak beradik Jung itu dengan pandangan aneh.

“Luka yang Hyunno derita bukan disebabkan oleh tusukan tanduk unicorn, melainkan oleh cula peri biru. Dia adalah peri yang dikutuk oleh raja Fairy terdahulu karena mencoba melakukan kudeta. Sosoknya yang dulu cantik dirubah menjadi sosok yang menakutkan. Ada sebuah cula beracun yang tumbuh dikeningnya. Dia hidup di hutan terlarang sebelah timur, disegel dan dijaga oleh kaumku secara bergantian. Bagaimana dia bisa keluar dari sana?” gumam Jaejoong tidak menyadari bahwa dirinya sudah berbicara banyak pada Yunho dan Changmin.

“Kau yakin Noona?” tanya Changmin hati-hati.

“Aku namja!” pekik Jaejoong kesal.

Mian.” Sahut Changmin.

“Kau yakin tidak ada orang yang ingin melakukan kudeta padamu?” tanya Jaejoong. Untuk pertama kalinya setelah kedatangannya ke istana para vampire itu Jaejoong tidak menatap Yunho dengan tatapan permusuhan.

“Kau yakin itu luka yang disebabkan oleh peri biru?” Yunho balik bertanya.

Dryad tua yang tinggal di dekat rumahku pernah mengalami luka serupa saat mengagalkan peri biru yang hendak kabur dari kurungannya. Akulah yang mengobati luka itu. Racun dan luka luarnya sama seperti yang Hyunno alami. Tabib para vampire tidak akan menyadari bahwa luka Hyunno mengandung racun mematikan yang bisa melumpuhkan syaraf motoriknya jika tidak segera diobati.” Jawab Jaejoong.

“Terima kasih sudah menyelamatkan anakku.” Ucap Yunho tulus.

“Dia juga anakku. Aku ibunya.” Balas Jaejoong.

.

.

Senja kali ini Hyunno mengajak Jaejoong pergi ke makam ibu asuhnya, ibu yang sudah merawat dan membesarkannya. Tempat yang ketika bulan purnama merah terjadi dulu didatanginya bersama sang Appa kini ia datangi bersama sang Umma..

“Tempat ini?”

Umma tahu tempat ini? Tempat ini memang sedikit tersembunyi karena semak-semak. Ah…. Di sebelah sana ada sebuah telaga indah.” Hyunno menunjuk arah barat laut, “Appa sangat senang berlama-lama berada di telaga itu ketika sedang memikirkan sesuatu.” Celoteh Hyunno.

“Di telaga itulah Umma kehilangan sayap Umma….” lirih Jaejoong.

Mata Hyunno membulat, ditatapnya wajah rupawan ibunya, “Mianhae Umma….”

“Hei, mau mampir ke rumah halmoniemu?” tanya Jaejoong. Engan rasanya melihat wajah keruh putra tampannya.

“Apakah boleh?” tanya Hyunno. Diliriknya beberapa prajurit vampire yang menemani mereka.

“Tentu boleh!” jawab Jaejoong.

Jaejoong seperti sedang bernostalgia. Bila lima belas tahun yang lalu dirinya masih bisa berjalan-jalan menggunakan sayapnya sambil bercumbu dengan sang angin, kini namja cantik itu hanya bisa melangkah perlahan-lahan, setapak demi setapak sambil menggandeng lengan putranya. Anak yang dulu tidak diharapkannya, anak yang dulu dibenci namun juga dicintainya, anak yang membuatnya nyaris kehilangan akal sehatnya sendiri ketika dirinya tidak bisa menimang dan menyusuinya. Yunho memang merampas Hyunno dari Jaejoong karena darah vampire yang lebih dominan dalam dirinya, bisa berbahaya bila seorang bayi vampire hidup dilingkungan yang tidak seharusnya, walaupun kenyataannya namja itu pun mendapatkan ibu asuh seorang dryad.

Kini Jaejoong sadar… ternyata dibawah sayapnya ada sesuatu yang tersembunyi, ternyata di balik tembok kamar yang dulu memasungnya terdapat sesuatu yang indah. Beberapa peri air dan  dryad yang mengenal Jaejoong dan kebetulan berpapasan dengannya menyapanya dengan senyuman hangat. Tidak hanya satu atau dua dari para peri yang menyapanya juga menyempatkan diri menanyakan siapa namja tampan yang sedang digandengnya itu. Dengan senyum mengembang pula Jaejoong menjawab bahwa namja itu bernama Jung Hyunno, bayi yang lima belas tahun lalu dilahirkannya. Anak yang membawakan luka kesakitan dan juga kebahagiaan disaat bersamaan untuknya.

Tiba-tiba tubuh Hyunno berdiri kaku ketika melihat seseorang di depan sana.

Wae?” tanya Jaejoong binggung.

“Jaejoongiee….”

Eoh? Umma….” namja cantik itu tersenyum ketika yeoja yang sangat dikenalnya berjalan pelan menuju arahnya. Kini Jaejoong mengerti kenapa putranya bisa setegang itu.

“Eh? Jung Hyunno? Joongie, kenapa kau bisa pulang ke rumah bersama anak paling badung ini huh?” tanya Ahra sambil menunjuk wajah Hyunno.

Umma, anak paling badung ini adalah cucumu.” Jawab Jaejoong.

Mwo?!”

.

.

Chery lips merahnya merengut kesal, mata musangnya basah dan pipinya sangat merah akibat cubitan dan ciuman bertubi yang didapatnya dari yeoja yang dulu menjadi kepala sekolah Cassiopeia, yeoja yang dulu dianggapnya segarang induk naga api miliknya itu, yeoja yang ternyata adalah neneknya sendiri.

“Aku diperlakukan seperti bocah.” Gerutu Hyunno yang berjalan masuk ke kamarnya, meninggalkan Umma cantiknya yang hanya bisa menahan geli akibat tingkaahnya yang kadang terlihat sangat polos itu.

Jaejoong hendak melangkahkan kakinya ketika doe eyes gelapnya menatap sosok namja yang tengah berjalan dengan angkuhnya menuju arahnya. Saat jaejoong memikirkan cara untuk menghindari namja yang sudah mempersunting dan membuatnya memiliki kedudukan sebagai ratu di kerajaan vampire itu, Yunho terlebih dahulu memeluknya, mendekapnya erat.

Tubuh Jaejoong kaku seketika. Ingatannya kembali kemasa 15 tahun yang lalu dimana Yunho dengan kasar menyetubuhinya dan mengoyak sepasang sayap indah miliknya. Jaejoong ingin menangis sekarang.

“Sebentar saja… biarkan aku memelukmu sebentar saja.” Bisik Yunho.

Jaejoong yang semula diam ketakutan kini merasakan aneh pada namja yang sudah membuatnya mengandung dan melahirkan Hyunno itu. Pelukan Yunho memang erat dan kuat tetapi napas namja tampan itu sedikit tersengal. Jaejong merasakan lembab pada kimono yang dipakainya.

“Kau memang hangat….” puji Yunho.

Sedikti meronta Jaejoong melepas pelukan Yunho dan menatap kimono putih bermotif bunga sakura yang dikenakannya, pakaian yang disuakinya semenjak dirinya dipasung oleh Ummanya dulu. Doe eyesnya terbelalak melihat kimononya basah dan kotor. Darah! Darah itu mengotori kimononya.

Bruk!

Yunho tumbang dalam dekapan Jaejoong.

.

.

Bukan perak. Untung bukan perak yang menyebabkan luka pada perut Yunho. Apabila perak yang menikam sang raja vampire itu sudah bisa dipastikan bahwa ayah dari Jung Hyunno itu akan segera menjadi abu.

“Tadi begitu pulang menemui raja Fairy dan menanyakan soal peri biru yang Noona maksud, kami memang sempat di serang oleh beberapa orang manusia serigala, tetapi….”

“Apa yang raja Fairy katakan soal peri biru itu?” tanya Jaejoong mengabaikan panggilan Changmin padanya.

“Peri biru berhasil kabur dengan bantuan seseorang. Penjaga yang mengawasinya semuanya mati tercabik oleh…. Ah!” Changmin seperti teringat sesuatu.

Appa ditikam oleh mereka!” gumam Hyunno.

Nugu?” namja cantik itu menatap putranya yang sedang berlinangan air mata.

“Ada beberapa keluarga bangsawan vampire yang kurang menyukai Yunho hyung.” Ucap Changmin, “Tetapi aku tidak menyangka mereka akan bertindak seperti sekarang.”

Jaejoong berjalan menuju ranjang tempat Yunho terbaring, sedikit tidak sabar dengan kelambanan para tabib yang sedang mencoba menekan pendarahan dalam yang dialami oleh suaminya. Ah… Jaejoong mulai membiasakan dirinya tentang status barunya yang kini disandangnya, “Biar aku coba menyembuhkannya!” ucapnya.

“Anda tidak akan bisa Yang Mulia, karena….”

“Aku adalah ratu. Jangan membantahku! Menyingkir kataku!” usir Jaejoong.

Para tabib dan suster istana segera beranjak menyingkir dan membiarkan ratu mereka mengurus sang raja.

Jaejoong mengamati luka sayatan pada perut Yunho. Lukanya dalam dan masih mengeluarkan darah. Bukankah seharusnya vampire bisa mengatasi luka seperti ini? Kenapa hanya karena luka seperti ini Yunho bisa nyaris sekarat?

“Itu karena Hyung berpuasa selama lima belas tahun lamanya.” Ucap Changmin yang seolah mengerti arti tatapan binggung kakak iparnya.

Umma tidak akan mengerti, Ahjushi.” Hyunno mengingatkan pamannya.

Vampire ketika sudah memilih pasangan hidupnya, ia hanya akan hidup dari darah pasangannya, menghisapnya sebagai makanan sekaligus penawar. Memang Hyung mendapatkan darah dari bank darah dan daging dari bank daging, tetapi akan berbeda bila Hyung juga mendapatkan darah darimu.”

Sambil berusaha mengobati luka Yunho menggunakan kemampuan perinya, Jaejoong tetap mendengarkan penuturan Changmin mengenai kebiasaan aneh para vampire yang baru di dengarnya, “Apakah aku harus mengeluarkan darahku untuk diminumnya? Kau ingin aku melakukan hal itu untuk menyembuhkannya?” tanya Jaejoong tanpa mengurangi fokusnya.

Ani. Yunho hyung bisa melakukannya tanpa menyakitimu.” Jawab Changmin.

“Caranya?” tanya Jaejoong.

Aigoo! Noona ya!” keluh Changmin.

Hyung!”

Aish! Aku tidak mungkin mengatakan caranya padamu bila ada anak polos di sini.” Changmin menatap Hyunno yang juga tengah menatapnya dengan tatapan binggung.

Jaejoong tidak menyahut, “Ambilkan aku baju yang bersih untuknya. Akan sangat tidak nyaman tidur dengan baju bersimbah darah seperti ini.”

Malam itu, setelah selama lima bulan lamanya menduduki posisi sebagai seorang ratu bagi kaum vampire, Jaejoong melakukan tugas pertamanya sebagai seorang istri. Merawat Yunho yang sedang terluka, menemaninya dan memastikan namja tampan itu merasa nyaman.

.

.

Jaejoong yang nyaris menyambangi dunia mimpinya tersentak kaget ketika seorang pengawal memasuki kamar Yunho membawa sebuah golok yang bersimbah darah. Jaejoong seketika berdiri tegak dan menatap pengawal itu penuh kebinggungan.

“Jung Jaejoong? Kau sangat cantik. Pantas saja namja brengsek itu begitu memujamu.”

Jaejoong mengerutkan keningnya binggung, tidak mengerti pada situasi yang sedang dihadapinya. Jaejoong binggung karena pengawal yang satu ini tampak sangat tidak menghormati dirinya yang kini menduduki posisi ratu. Namja cantik itu sedikit tersinggung dengan perlakuan tidak sopan yang didapatkannya.

“Bagaimana bila aku membunuhmu? Mari kita lihat, apakah Jung itu akan larut kesedihannya dan mati perlahan-lahan, atau akan membantai kaumya sendiri?” namja aneh itu mengacungkan golok berlumuran darah itu pada Jaejoong.

“Cih!” keluh Jaejoong. Ketika sekolah di Cassiopeia dulu dirinya tidak sempat belajar menggunakan pedang atau mengeksplorasi kemampuan menyerang dan bertahannya karena dirinya harus keluar akibat kehamilannya. Kini Jaejoong menyesal kenapa selama 15 tahun ini dirinya memilih terpasung dan tidak melakukan apa-apa untuk menebus nasib malang yang menimpanya atau sekedar untuk belajar pertahanan diri.

“Bagaimana bila dimulai dengan wajah cantikmu? Bagaimana bila aku menyoyak dan mencabik kulit indahmu itu, hm?” namja itu mengayunkan goloknya ke arah Jaejoong dengan sangat cepat.

“Dalam mimpimu, Brengsek!” kuku-kuku tajam itu sudah menanjap sempurna pada leher namja yang memakai baju pengawal itu, melesak masuk dan membuat urat nadinya putus akibat tajamnya kuku-kuku runcing itu, “Tutup kedua matamu, Boo….” perintah Yunho.

“Huh?” Jaejoong yang kebinggungan kemudian memejamkan matanya kuat-kuat saat mendengar pekikan kesakitan yang sangat memilukan itu. “A… apa yang terjadi?” tanyanya saat mencium bau anyir kuat di dekatnya.

Yunho mengelap jemarinya menggunakan sapu tangan yang ada di atas meja, kemudian berjalan menuju Jaejoong, mengamati pahatan indah wajah milik namja yang berstatus sebagai ratunya itu, membelai wajah putih nan halus pelan, “Aku sudah memenggal kepalanya, Boo….”

Mwo?” Jaejoong membuka doe eyes hitam legamnya namun Yunho sudah terlebih dahulu menarik tubuhnya, memeluknya erat, memerangkap wajahnya menggunakan dada bidangnya.

“Aku tidak akan membiarkanmu melihat kekejian yang sudah ku lakukan.” Lirih Yunho.

.

.

“Changmin ada di luar untuk berjaga. Bila ada apa-apa berteriaklah! Kalau kau butuh sesuatu mintalah pada Changmin.” ucap Yunho ketika sedang menyiapkan senjatanya.

Jaejoong hanya kebinggungan menatap namja itu. Setelah dirinya diseret paksa ke kamar putranya yang sudah dikepung oleh belasan pasukan vampire dan Changmin kemudian menariknya paksa dan menguncinya di dalam kamar khas anak remaja itu, “Apa ini kudeta?”

“Banyak yang menginginkan posisiku yang sekarang. Dan aku tidak akan membiarkan mereka dengan mudah mendapatkannya.” Ucap Yunho, “Terima kasih sudah menyembuhkan lukaku.”

“Yun… ho….”

Yunho menatap Jaejoong, ini pertama kalinya namja cantik itu memanggil namanya sejak mereka menikah atau lebih tepatnya sejak Yunho merampasnya dari dekapan ibu dan kaumnya, “Ne?”

Jaejoong mengulurkan tangan kanannya pada Yunho, “Ku dengar kau puasa selama lima belas tahun ini. Kau bisa meminum darahku kalau kau mau.”

“Aku akan melakukannya tapi tidak sekarang.” Jawab Yunho, namja itu mengecup bibir merah itu sekilas mendatangkan pelototan dari si pemilik doe eyes, “Tapi nanti di tempat yang tepat. Minum dari tangan sangat menjengkelkan. Jaga uri Hyunno dan tidurlah bila kau lelah.”

.

.

Dua hari lamanya terkurung di dalam kamar bersama Hyunno tanpa tahu apa-apa membuat namja cantik itu sedikit cemas dengan keadaan di luar sana. Apakah semuanya baik-baik saja ataukah Yunho sudah mati dalam pertempuran memperebutkan tahta itu?

Umma….” Hyunno mendekap tubuh ibunya, “Apakah Appa dan Ahjushi baik-baik saja?”

“Semoga seperti itu….” lirih Jaejoong, jemari pucatnya mengusap kepala Hyunno yang bersandar di dadanya. Andai Jaejoong bisa dan mampu pasti dirinya sudah mendobrak pintu kokoh itu untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

“Tidak sekali, dua kali mereka mencoba melakukan kudeta dan melukai Appa. Bahkan ketika aku masih kecil dulu Ahjushi nyaris mati karena menyelamatkanku dari tikaman belati perak.” Cerita Hyunno, “Mereka pantas mendapatkan ramal matahari.”

“Tidak! Menyimpan dendam terlalu lama itu sangat menyiksa. Jangan seperti Umma….”

Umma masih membenci Appa?” tanya Hyunno, “Lalu kenapa Umma menyelamatkan Appa kemarin?”

“Karena dia Appamu, karena Umma memang harus menyelamatkannya.” Jawab Jaejoong.

Umma….”

“Hm?”

“Aku ingin dongsaeng. Bisakah Umma memberikannya padaku?”

Doe eyes indah itu membulat bersamaan dengan terbukanya pintu kamar sang pangeran, Hyunno.

Appa?” Hyunno segera melepaskan diri dari pelukan ibunya, “Ottoke? Mana Ahjushi?’ tanyanya.

Ahjushimu sedang mengeksekusi para penjahat itu bersama dengan Jendral Yoochun dan Panglima Junsu.” Jawab Yunho.

Jeongmal?” tanya Hyunno, “Bolehkah aku melihatnya, Appa?”

“Pergilah!” sahut Yunho.

Gomawo….” namja muda bermata setajam musang itu segera melesat pergi meninggalkan ibu dan ayahnya berdua saja di dalam kamarnya.

“Kenapa dibiarkan?” tanya Jaejoong. Bagaimana mungkin Yunho membiarkan putranya melihat eksekusi para penjahat itu? Bagaimana bila putranya menjadi seorang psikopat yang haus darah?

“Hyunno? Darah keluarga Jung mengalir dalam dirinya. Dia tidak akan apa-apa selama kita mengawasinya dengan baik.” Ucap Yunho, “Boo…. apa tawaranmu kemarin masih berlaku?” tanya Yunho.

Jaejoong menatap binggung ayah dari anaknya yang tengah berjalan mendekat ke arahnya, wajahnya menampakkan gurat kelelahan yang sangat ketara, “A…. apa maksudmu?” tanyanya binggung.

“Aku sangat haus dan kelaparan.”

Oh, Jaejoong mengerti sekarang. Arti dari tawaran yang dimaksud oleh Yunho.

.

.

Jaejoong tergeletak di atas ranjang kamar Hyunno, lehernya berdenyut sakit, tubuhnya terasa lelah dan letih, lemas dan kantuk sangat domoinan. Jaejoong ingin memejamkan matanya lagi, tapi cahaya matahari sangat terang, lagi pula namja bermata musang itu masih di sini bersamanya. Jaejoong tidak mau dirinya disetubuhi olehnya lagi, tidak mau!

“Ku dengar dari Changmin kemarin kaulah yang menyelamatkanku? Kenapa? Bukankah kau membenciku?” tanya Yunho yang sedang berbaring di samping Jaejoong, menikmati betapa leganya dirinya karena kerongkongannya yang terasa sangat kering semenjak 15 tahun lalu itu akhirnya mendapatkan apa yang sepantasnya didapatkannya.

“Karena kau adalah ayah Hyuuno dan kau berhutang padaku.” Sahuuut Jaejoong yang masih berusaha mengembalikan stamina tubuhnya sendiri. “Sembuhkan aku!” pintanya.

“Sekali menyentuhmu aku tidak akan sanggup menahan diriku sendiri.” Sahut Yunho.

“Jangan ditahan.”

Boo….” Yunho menatap wajah Jaejoong, mata setajam musang miliknya itu dipenuhi dengan kebinggungan. Kenapa tiba-tiba namja cantik yang sudah resmi menjadi miliknya sejak beberapa bulan yang lalu itu mengatakan hal seperti itu padanya.

“Kulakukan semua ini untuk Hyunno, putraku.” Ucap Jaejoong.

“Putra kita.” Ralat Yunho.

Jaejoong menggangguk pelan, “Lagi pula tahukah kau kalau luka ini sangat menyakitkan.” Jaejoong menunjuk luka di lehernya yang didapatkannya dari Yunho lima belas tahun yang lalu.

Perlahan Yunho menyusuri wajah rupawan ratunya menggunakan jari telunjuk kanannya, tidak ada kuku tajam yang runcing, hanya kuku tumpul biasa. Yunho terlalu takut melukai ratunya, “Aku akan menyembuhkan lukamu. Bukan hanya luka fisikmu tetapi juga luka hatimu agar yang kau ingat hanyalah keindahan saja.”

“Ku nantikan hal itu…. Peri biru? Apa yang terjadi padanya?”

“Ah, dia berkomplot dengan pamanku dan melakukan kudeta. Aku memenggal cula dan sayapnya sebelum menyerahkannya pada Changmin untuk dieksekusi.”

“Kejam!”

“Memang!”

“Tapi aku tidak keberatan….”

.

.

“Eoh, selama hidupnya Hyung selalu pergi ke telaga itu untuk menguntit seorang peri air yang sedang mandi. Ketika ku tanyakan apa istimewanya peri air itu dibandingkan peri air yang lain Hyung hanya menjawab kau akan mengerti bila sedang jatuh cinta, Changmin. Bukankah itu memuakkan huh? Aku sempat berpikir mungkin peri air yang dimaksud Yunho hyung benar-benar berbeda dari peri air kebanyakan. Tetapi tidak. Peri air itu sama seperti peri air kebanyakan. Sayapnya sama seperti bentuk sayap peri air yang lain, warnanya pun sama, biru pudar sewarna air. Lalu apa istimewanya? Peri itu masih sangat muda, tidak bisa apa-apa kecuali bermain dengan binatang hutan. Tetapi ketika aku melihat Yunho hyung, aku tahu bahwa Hyungku benar-benar sedang jatuh cinta pada peri kecil itu…. Peri itu adalah kau, Jaejoong Noona. Jangan memukulku! Usiamu bahkan jauh lebih muda dariku. Aku memanggilmu begitu karena kau istri Hyungku dan ibu dari keponakan tampanku. Ayolah! Jangan merajuk. Ne…. Mian, Jaejoong Hyung!”

.

.

Seperti kebanyakan peri air lainnya, sayap kecil itu berwarna biru pudar serupa air. Sayap kecilnya masih kuncup, terlihat sangat indah ketika dia tidur di atas tubuh sang Umma sambil menyusu. Memang tidak ada yang spesifik pada ras para peri. Hanya para Dryadlah yang benar-benar bisa dibedakan dari klan yang lain. Peri air biasanya memiliki sayap serupa air dan tinggal dipemukiman yang dekat dengan sumber air entah itu danau, mata air, sungai, telaga bahkan pesisir pantai. Peri api biasanya membentuk koloni di dekat kawah gunung berapi, sayap mereka sewarna api, jingga kemerahan. Sedangkan peri angin biasanya tinggal di atap hutan ataupun dataran tinggi yang sejuk, sayap mereka berwarna hijau lembut.

Dan peri kecil itu menggeliat tidak nyaman ketika kakaknya menusuk-nusuk pipi kecilnya yang sedikit berisi.

Umma, kalau aku masuk ke dalam perut Umma lagi apakah aku akan mempunyai sayap juga?”

“Jangan konyol anak muda!” namja jangkung itu menepuk-nepuk kepala keponakannya yang mulai bicara sedikit melantur.

“Tapi aku ingin sayap seperti punya Binie, Ahjushi.” Ucapnya sedikit manja. Ish! Bila adiknya memiliki sayap indah itu kenapa dirinya tidak? Sangat tidak adil.

“Binie tidak memiliki naga api sepertimu, Binie tidak punya mata merah sepertimu, kenapa kau harus iri pada adikmu, hm?” tanya sang Appa.

“Setidakknya Binie bisa menyusu dari Umma.” Sahut namja muda itu sebelum berjalan keluar dari kamar orang tuanya. Namja muda bermata musang itu tidak mau dihukum lagi oleh para senseinya yang galak itu. Belakangan ini Hyunno belajar memainkan pedang dari 2 sensei sekaligus. Sensei yang berasal dari kaumnya sendiri serta sensei yang sengaja didatangkan dari klan peri api. Keduanya sangat galak walaupun tahu bahwa dirinya adalah seorang pangeran, calon raja vampire.

.

.

Umma…. Namanya Jung Hyunbin. Putri kedua kami….” Jaejoong tersenyum ketika Ahra memasang wajah kagetn saat dirinya bersama keluarga kecilnya datang ke rumah yang dulunya menjadi tempatnya dibesarkan sebelum mereka pindah ke Cassiopeia, sebelum akademi itu luluh lantah oleh api.

Halmonie, bolehkah kami masuk?”

Aigoo! Cucuku? Kenapa tidak bilang bila Joongie sedang hamil, hum?” tanya Ahra yang menggambil balita kecil menggemaskan itu dari dekapan putranya. “Apa Yunho yang melarangmu?!” diliriknya menantunya itu dengan sengit sebelum kembali menimang cucunya.

Yah, begitulah….” sahut Yunho datar. Entah kenapa setiap kali berkunjung ke rumah wanita menyebalkan super galak yang kini menjadi mertuanya itu Yunho sedikit keberatan. Andai Jaejoong dan Hyunno tidak merengek dan memintanya ikut sudah pasti Yunho memilih duduk diam di istanan megahnya. Tetapi, bukan Yunho namanya bila membiarkan anak dan istrinya kecewa.

Halmonie tahu? Binie sangat manja!” adu Hyunno.

Gwaechana…. Bukankah Hyunbinie juga punya kakak yang sangat manja?” goda Ahra.

Yah! Halmonieeeee….”

Jaejoong melirik Yunho yang sejak tadi diam, “Wae?” Tanyanya.

“Aku pernah disiram air di ruang tamu ini ketika hendak meminangmu.” Ucap Yunho yang teringat kenangan beberapa tahun yang lalu.

“Wajar saja…. Kau ingin meminangku tetapi menggunakan cara militer bahkan mengepung tanah Fairy.” Sahut Jaejoong.

“Ingatkan aku untuk membuatmu hamil lagi agar kau tidak secerewet ini, Boo. Kadang aku merindukan kau yang pendiam seperti dulu.”

Doe eyes indah itu menyipit, jemari pucatnya terjulur mengambil bantal sofa dan memukulkannya pada Yunho, “Tidak ada lain kali!” omelnya, “Lain kali kau yang akan ku buat hamil!”

Petang itu rumah mungil mantan kepala sekolah Cassiopeia itu dipenuhi dengan gelak tawa, tangisan sang balita dan pekikan kesal ketika mereka membicarakan soal masa lalu dan kenangan.

Kadang…. Dongeng yang dimulai dengan penderitaan sekalipun bisa berakhir membahagiakan bila hati mau mencoba menerima semuanya dengan ikhlas. Dan itulah yang Jaejoong lakukan. Membiarkan penderitaannya dibalut dan disembuhkan, membiarkan mereka yang menyayanginya memberikan kebahagiaan dan cinta padanya….

Kebahagiaan yang hakiki dan akan dijaganya sampai mati….

.

.

END

.

.

Yuuki ga ngerti deh kenapa bisa begini mungkin seharusnya ini jadi chapter tapi Yuuki paksakan jadi two shoot. Jelek dan hancur banget deh ini. Mian ya Andini. Malah cerita soal Fairynya jadi tersamar. Ntar deh yang Ancestor akan Yuuki bumbui dengan Fairy, ga janji tapi -_-  Yosh! Mian ya kalau hasilnya hancur begini…..

Gomawo yang sudah baca, like dan meninggalkan komen (y) Jeongmal gomawo :) Sampai jumpa di FF Yuuki yang lain :D

.

.

Friday, April 18, 2014

8:37:53 PM

NaraYuuki

Fairy Tail I

Tittle                : Fairy Tail I

Author              : NaraYuuki

Genre               :Yang jelas fantasy gagal

Rate                 : M-Preg

Cast                 : Jung Yunho, Kim Jaejoong, Shim Changmin, Go Ahra, Jung Hyunno (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan)

Disclaimer:       : They are not mine but this story and Jung Hyunno are mine, NaraYuuki

Warning           : Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut.Paragraf/ dialog yang penulisannya menggunakan Blod, Italic ataupun under line berarti itu adalah kejadian dimasa lampau (flash back).

.

.

Baca FF Fantasy Yuuki harus pelan-pelan, biar ga binggung!

FF Fantasy Yuuki tidak terikat dengan kebudayaan manapun jadi silahkan bebaskan imajinasi masing-masing ketika membacanya.

.

.

Fairy Tail

.

.

YUUKI SARANKAN BACA WARNINGNYA DULU!

.

.

.

.

.

 “Tuan jangan! Aku mohon….”

“Jangan takut! Setelah semua kesakitan ini aku akan memberikan surga terindah padamu, Yeopo.”

“Ani. Jebbal, Tuan…. ANDWE!”

Breeeeekkkkk!

.

.

Namja muda itu terus berlari menyusuri lorong ketika asap mulai memenuhi gedung asrama, berlari kesana-kemari untuk mencari jalan keluar dari kepungan asap yang sudah sangat pekat dan mulai membuatnya sesak napas. Sebuah pintu besar di ujung lorong gelap itu menjadi satu-satunya harapan baginya. Semoga…. Semoga itu adalah jalan keluar yang dicarinya beberapa menit terakhir ini.

Berlari secepat yang ia bisa kemudian mendobrak pintu besar itu sekuat daya yang ia punya.

Brak!

Mata musangnya membulat kaget melihat bahwa pintu yang baru saja dibukannya bukanlah jalan keluar melainkan sebuah kamar. Ya, kamar.

Di atas ranjang itu tengah berdiri seorang yeoja cantik berambut hitam legam dan berkulit sangat pucat seolah-olah tidak pernah disentuh oleh mata hari. Kedua kaki yeoja cantik itu terantai oleh rantai panjang yang dikaitkan di kaki ranjangnya. Bibir merekah itu tersenyum padanya membuatnya kehilangan nalarnya untuk beberapa detik lamanya.

Matanya bergerak gelisah, ingin berlari meninggalkan yeoja cantik itu tetapi otaknya tidak mengijinkan.

“Tidak apa-apa, kan? Aku sedang terdesak sekarang!” gumamnya sendiri. Sedikit tergesa namja muda itu berjalan mendekati ranjang dimana yeoja itu tengah terduduk dengan wajah damainnya. Berjongkok di sisi kaki ranjang, mengambil ratai yang menjuntai dari atas itu mengembuskan napas pelan, membuka kedua mata setajam musangnya yang kini berwarna kemerahan kemudian mematahkannya dengan sangat mudah.

Yeoja yang memakai kimono putih gading itu hanya mengawasi dan memperhatikan apa yang sedang namja muda itu lakukan dalam kediamannya .

“Kita tidak punya waktu, kajja!” namja bermata setajam musang itu menarik lengan sang yeoja yang hanya diam mematung itu, menarik dan menyeretnya untuk berlari menyelamatkan diri dari kebakaran yang menimpa gedung akademi Cassiopeia, sekolah khusus bagi para peri yang mendiami daratan Big East, sebuah kerajaan yang terdiri dari beberapa ras peri yang dipimpin oleh seorang raja yang dipilih dari peri terkuat.

Ditengah-tengah gempuran asap yang semakin pekat, namja bermata musang itu berlari kencang, terus menarik sang yeoja mencari jalan keluar.

Tidak!

Mereka tidak boleh mati di sini!

.

.

“Kau menyelamatkan anak kepala sekolah? Itu daebak sekali Hyunno!” puji temannya yang juga sedang diobati di klinik akibat luka bakar yang dideritanya. Sayap trasparannya serupa warna langit itu mengepak pelan, peri angin.

“Aku tidak tahu kalau yeoja itu anak kepala sekolah.” Sahut namja bermata musang itu. Wajahnya menatap salah satu peri air yang memiliki kemampuan penyembuh dan sedang membalut luka bakar di kakinya.

“Dia bukan yeoja, dia namja.” Ucap temannya yang terbaring kelelahan, sebagai peri air tadi namja dengan telinga agak runcing dibagian atasnya itu membantu memadamkan api yang melahap sekolahnya hingga kelelahan seperti itu.

Mwo? Jinjja? Tapi dia sangat cantik.” Mata setajam musang itu membulaat sebelum akhirnya memasang ekspresi biasanya lagi.

“Kau jatuh cinta padanya?” tanya sang peri air berniat menggoda.

“Apa kau gila?” mata seetajam itu menatap tajam.

“Ehehehhehe….”

“Jung Hyunno, pamanmu sudah menjemputmu!” ucap seorang yeoja yang seluruh kulit tubuhnya menyerupai batang kayu, seorang Dryad yang datang membawakan beberapa obat-obatan ke dalam ruang kesehatan itu, tempat para korban kebaran tadi diselamatkan untuk sementara.

“Hei Jung, kau akan datang ke acara terakhir sekolah kita, kan?” tanya sang peri angin yang sibuk mengibas-ngibaskan angin sejuk pada lengan tangan kirinya yang terkena luka bakar.

“Tentu saja!” ucap namja bermata musang itu sebelum berjalam pergi. Ketika sampai di mulut pintu namja tampan itu menoleh ke arah kanan, di sana terlihat kepala sekolahnya yeng terkenal sangat galak dan tegas itu tengah membelai seseorang yang ia kira sebagai yeoja, “Andai Ummaku masih hidup….” gumamnya sebelum melanjutkan langkah kakinya.

.

.

Peri api, peri air, peri angin dan peri tanah atau peri hutan yang lebih sering disebut dryad. Keempat rumpun peri yang dulu hidup terpisah itu kini hidup dibawah sebuah kerajaan bernama Fairy Kingdom yang dipimpin oleh seorang raja yang berasal dari peri terkuat yang dipilih secara musyawarah oleh masing-masing tetua suku.

Di sana berdiri akademi Casiopeia, sekolah yang mengajarkan etika sopan santun, pengendalian diri dan cara-cara bertahan hidup dalam kondisi paling kritis sekalipun. Akademi yang tidak hanya menerima murid dari ras peri saja melainkan juga menerima murid dari beragam ras, Carvus, Gardenia, Elf, Vampire, dan yang lain bahkan manusia biasa sekalipun.

Sayangnya….

Gedung akademi yang menjadi kebanggaan Fairy itu telah luluh lantah. Penyebab kebakarannya sendiri pun masih diselidiki. Tidak ada korban jiwa, hanya saja ada ratusan murid dan sensei yang mengalami luka bakar karena kejadian tidak terduga itu.

Dengan terpaksa semua murid dikembalikan kepada orang tua masing-masing….

“Kapan acara perpisahan itu dilaksanakan?” namja jangkung itu duduk tenang menatap keponakannya yang baru saja pulang.

“Saat bulan purnama merah terjadi, Ahjushi.” Jawab namja bermata musang tampan yang sedang asik menggelitik naga api kecil miliknya, hadiah dari sang Appa saat ulang tahunnya yang ke-14, tahun lalu.

“Sayang sekali. Padahal Cassiopeia adalah sekolah terbaik di daratan Big East.” Gumam namja jangkung itu pelan. “Kau bilang saat bulan purnama merah? Bukankah biasanya kau dan Appamu….”

Namja tampan itu melengkungkan bibir merah penuhnya, “Kami akan mampir ke tempat Umma sebelum menghadiri acara itu.” Jawabnya.

Bulan purnama merah, adalah titik dimana bulan bersinar lebih terang dari biasanya, terlihat lebih besar dan indah dari biasanya. Sebenarnya warnanya bukan merah, tapi jingga kemerahan namun karena beberapa alasan klise akhirnya disebut dengan bulan purnama merah. Tidak ada yang istimewa dengan itu semua karena bulan purnama merah memang fenomena alam yang terjadi satu tahun sekali di daratan Big east, biasanya akan ada pesta kembang api atau makan bersama sambil menikmati keindahan bulan purnama merah. Tetapi bagi anggota termuda keluarga Jung itu, bulan purnama merah adalah saat dimana dirinya akan menemui Ummanya, orang yang sudah merawat dan mendidiknya sejak kecil.

Ahjushi, dulu ahjushi juga bersekolah di Cassiopeia, kan?” tanya namja tampan berkulit sedikit pucat itu, berbeda dengan keluarganya yang hampir kesemuanya memiliki warna kulit tan.

Waeyo?”

“Anak Kepala Sekolah? Ahjushi tahu? Dia namja tapi sangat cantik, aku bahkan mengira dirinya adalah seorang yeoja.”

“Anak kepala sekolah? Eum…. Waktu aku sekolah di sana Kepala sekolah belum menikah jadi tidak tahu siapa anak kepala sekolah.”

“Ternyata Ahjushi sudah tua….”

Yah! Jung Hyunno Little Bear! Ck…. Kau menyukainya?”

Ani. Hanya penasaran saja kenapa kepala sekolah memasung anaknya sendiri.”

“Sudah, temuilah Appamu! Dan jangan campuri urusan yang bukan menjadi bagianmu. Arra?”

.

.

“Biarkan Umma memotong rambutmu, ne…. Rambutmu sudah sangat panjang.” Yeoja itu perlahan-lahan mendekatkan gunting pada helaian panjang indah itu untuk kemudian memotongnya menjadi sangat pendek.

Putranya yang tersayang, putranya yang malang….

Doe eyes gelap itu hanya menatap hampa beberapa peri yang lewat di depannya, mengepakkan sayap-sayap tipis mereka yang berkilauan tertempa cahaya senja. Membuatnya sangat iri dan sakit. Jemari pucatnya terjulur untuk mengusap punggungnya, punggung yang terbalut kimono itu, punggung yang sangat dibencinya.

Yeoja yang masih merapikan rambut anak kesayangannya itu berusaha menampakkan wajah tegarnya walaupun air mata sudah membasahi wajah lelahnya. Terlalu lelah untuk menghadapi semua ini, terlalu menyakitkan untuk melihat anak yang dicintainya mengalami pederitaan ini seorang diri….

Dryad mungkin memang tidak memiliki sayap karena pada dasarnya mereka serupa pohon yang memiliki akal serta nafsu, tetapi bagi peri api, peri air dan peri angin, tanpa sayap mereka bukanlah apa-apa. Ibarat seongkok batang kayu lapuk yang tercampakan, berakhir dengan dibakar atau dibuang. Seperti itu pulalah keadaan putranya kini.

Dengan air yang mengalir dari air terjun Lactura, yeoja itu membasuh wajah menawan putranya, membelainya lembut kemudian memeluk tubuh kurus itu erat, “Mianhae… maafkan Umma. Mianhae….” isaknya pelan.

Doe eyes kelam itu berkedip pelan ketika hembusan angin menerpa wajahnya yang pucat, tidak membalas maupun menolak pelukan sang ibu, “Umma….”

Ne?”

Mianhae….” bisiknya bersamaan dengan munculnya tarian kunang-kunang dari pohon kehidupan di sebrang sungai sana.

.

.

Namja tampan bermata musang muda itu segera melompat dari kuda hitamnya, berlari kecil menuju sebuah batu hitam berbentuk persegi empat dengan panjang 2×3 meter dan setinggi satu meter yang teronggok membisu di tengah-tengah semak yang mengelilinginya. Akar pohon dan tanaman menjalar mulai menaancap di atas permukaannya, gemericik air yang mengalir dari sungai kecil di sisi kiri membuat suasan tempat itu benar-benar terasa sunyi. Matanya merah menyala seiring terbitnya bulan berwarna merah dari arah timur.

“Jung Hyunno, tunjukkan sopan santunmu!” namja yang masih duduk di atas punggung kuda hitamnya dengan angkuh itu menatap remaja tampan yang tengah mengusap permukaan batu berwarna hitam itu, “Walaupun tidak ada orang yang mengenalimu tetapi ingatlah, bahwa kau adalah seorang pangeran vampire yang agung! Suatu saat kau akan menggantikan posisi Appa. Kau mengerti?”

Appa….” panggil Hyunno, “Sebelumnya aku tidak pernah menanyakan hal ini pada Appa, tetapi aku sangat penasaran. Seperti apa wajah Ummaku?” mata setajam musang yang kini berwarna merah akibat pengaruh bulan itu menatap sang ayah yang juga tengah menatapnya dengan mata setajam musang merah itu.

Ummamu?”

Ne….”

“Dia yang paling cantik dari semua kaumnya. Kulitnya indah, matanya segelap malam, senyumnya semanis madu, sentuhannya selembut sutra.”

“Dari mana Umma berasal? Apakah dari vampire seperti kita?” tanya namja muda itu penasaran.

Sebelum sang ayah menjawab pertanyaannya, perhatian Hyunno sudah teralihkan oleh suara kembang api yang melesat membelah langit malam, pesta perpisahan sekaligus pesta perayaan datangnya bulan purnama merah sepertinya sudah dimulai.

“Sebaiknya kita bergegas sebelum teman-temanmu memulai pestanya tanpamu.”

“Mereka akan kaget begitu tahu siapa ayahku sebenarnya.” Gumam Hyunno, “Jung Yunho yang agung….”

.

.

Pesta perpisahan untuk murid-murid Cassiopeia sudah dimulai sejak beberapa menit yang lalu, buah-buahan, minuman yang terbuat dari sari buah-buahan dicampur madu hutan yang menyegarkan sudah dituangkan ke dalam ribuan gelas untuk para tamu undangan. Di depan sana para peri angin sedang melakukan tarian indah mereka usai peri air dan peri api menampilkan atraksi, sedangkan para Dryad bersiap-siap menunggu giliran mereka untuk tampil.

“Ah….  Appa, kecuali para Dryad semua peri memiliki sayap kan?” tanyanya pada sang ayah.

Mata setajam musang yang menurun pada Hyunno itu hanya melirik sekilas kemudian menegak kembali minumannya.

“Ck…. Kepala sekolah adalah peri air dan suaminya adalah peri angin. Anaknya harusnya memiliki sayap, tetapi….” mata setajam musangnya yang malam ini berwarna kemerahan itu menangkap sosok yang berjalan pelan memasuki hutan, pesta memang dilakukan di safana luas sehingga tidak akan mengganggu penghuni hutan yang lain. Secara tidak sadar namja muda itu berdiri dari duduknya dan berlari kecil mengikuti sosok yang memakai kimono berwarna putih gading itu.

.

.

Insting yang akan membawanya, Hyung. Walau kau membelenggunya sekali pun, dia akan tetap mengikuti instingnya untuk menemukan ibunya, karena anakmu adalah seorang Jung.”

.

.

Rambutnya tidak lagi panjang, menjadi sangat pendek. Dari belakang dirinya memang terlihat seperti laki-laki tetapi ketika melihatnya dari samping atau dari depan seperti ini otak yang waras pasti akan mempertanyakan ‘kelelakian’ yang dimilikinya. Wajahnya sangat cantik, bibir merah merekah yang penuh itu, doe eyes kelam yang sangat indah, kulit putih pucat yang terlihat sangat kenyal dan indah itu, rambut hitam legamnya….

Oh, Hyunno berani bersumpah bahwa sosok di hadapannya ini bahkan lebih cantik daripada teman-teman dryadnya yang terkenal sangat seksi itu. Debaran halus dan perasaan asing itu menggelitik Hyunno ketika jemari pucat itu membelai wajahnya pelan.

Gomawo….”

Astaga!

Jantung Hyunno seakan hendak melompat mendengar suara yang bahkan lebih merdu dan lembut dari dawai pengantar tidur yang sering didengarnya ketika masih kecil. Apa ini? Ada apa dengan dirinya?

Apakah Hyunno jatuh cinta pada namja ini?

.

.

TBC

.

.

Hanya 2 shoot saja.

FF ini requestan Andini Chagya. Ck, pabonya Yuuki padalah Dini sudah Yuuki buatkan Sekam untuk hadiah Nyepi kemarin. Yah Andini! Kirim coklat ke rumah Yuuki sekarang! Ish! Dilarang req lagi selama 2 tahun! :p

#abaikan ya ;)

Yang kebetulan mampir untuk membaca semoga tidak bosan dan binggung dengan tulisan Yuuki ne.

Selamat akhir pekan.

.

Friday, April 18, 2014

7:03:30 PM

NaraYuuki

Always Keep The Faith! XI

Tittle                : Always Keep The Faith! XI

Author              : NaraYuuki

Genre               : Family/ Romance

Rate                 : -M

Cast                 : All Member DB5K

Disclaimer:       : They are not mine but this story is mine, NaraYuuki

Warning           : Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut.

.

.

AKTF

.

.

Yang jelek-jelek jangan ditiru ne ;)

.

.

.

.

.

Jemari pucat itu menggenggam kuat tangan Yunho, doe eyes gelapnya terlihat nanar, chery lipsnya terbungkam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun semenjak dirinya terbangun dari tidurnya. Pikirannya kalut, kepalanya terasa sangat pusing memikirkan kejadian pagi tadi.

“Menangislah bila kau ingin menangis Boo…. Menangis tidak akan mengubah pandanganku mengenai dirimu. Kau tetap namja yang kuat dimataku.” Yunho mengusap pelan kepala namja cantik itu, membiarkannya bersandar di dadanya, membiarkannya mencari kenyamanan yang sekiranya dia butuhkan.

Yoochun memasuki kamar Jaejoong yang berada di dalam kediaman keluarga Park sambil menenteng dua bungkus kantung plastik hitam berukuran besar, “Aku tidak akan menanyakan atau menyinggung soal orientasi kalian yang menyimpang itu. Yang jelas mulai sekarang aku mau kalian menjaga keponakanku dengan baik!” diletakkannya dua kantung itu di atas tempat tidur Jaejoong.

“Apa itu?” tanya Yunho.

“Kau tidak tahu? Yah! Kau membuatnya hamil tapi tidak tahu apa ini?” dengan sengit Yoochun menunjuk kantung yang dibawanya tadi, “Susu dan vitamin yang dibutuhkan oleh wanita hamil. Dan karena dalam hal ini Jaejoong adalah namja jadi itu adalah susu dan vitamin untuk namja hamil!”

Jaejoong menggeser tubuhnya, semakin merapat pada Yunho ketika Yoochun hendak menyentuhnya.

“Aku ini kakakmu, bukan hantu!” Yoochun mencekal pergelangan tangan Jaejoong kuat.

Yah! Jangan berbuat kasar padanya!” omel Yunho.

“Kau harus tinggal di rumah agar aku bisa mengawasimu!” ucap Yoochun.

“Selama orang tua kalian pergi, biarkan Boo Jae tinggal bersamaku. Aku pastikan akan menjaganya dengan baik.” Janji Yunho.

“Kau sudah diusir oleh ayahmu.”

“Tapi aku punya tempat tinggal dan pekerjaan, aku bisa menjaga Boo Jaeku dengan baik.” Ucap Yunho, “Dia lebih nyaman bila bersamaku jadi jangan membuatnya stress! Itu bisa mengganggu bayi kami.”

Aish!”

Yoochun mendengus kesal dan melempar sebuah kunci pada Yunho, “Selama dia tinggal bersamamu setidaknya kau butuh kendaraan untuk mengurusnya. Aku akan menyuruh orangku mengantarkan motorku ke tempatmu nanti. Aku pinjamkan motor itu selama adikku tinggal bersamamu. Ingat! Hanya sampai orang tua kami pulang! Dan jangan sampai aku tahu kau menyakitinya atau kau akan berurusan denganku!” ucap Yoochun sebelum berjalan menuju pintu keluar, “Ah, susu dan vitaminnya harus diminum! Kalau habis aku akan membelikannya lagi.”

“Biar aku yang membelikannya nanti.” Sahut Yunho.

“Bagus karena kau yang menghamilinya.”

Yunho tersenyum begitu Yoochun keluar dari kamar, “Boo, dia benar-benar peduli padamu. Aku tahu sulit menerimanya. Tapi cobalah perlahan-lahan….”

.

.

Yah Yoochunie?! Bagaimana bisa kau menelponku hanya untuk menemanimu minum bir seperti ini? Kau bahkan sudah sangat mabuk! Sekarang berhentilah minum!” kesal Junsu. Sore tadi Yoochun menelponnya, memintanya datang ke rumah untuk bicara, tetapi? Namja bermarga Park itu justru mabuk-mabukkan seperti ini, “Yah! Park Yoochun!”

“Aku sudah mengatakannya padanya. Sekarang dia membenciku…. Aku harus bagaimana?” rancau Yoochun.

Junsu mengerutkan keningnya binggung, “Dia? Nugu? Jia?” tanyanya.

Yoochun kembali meneguk bir kaleng di tangannya sampai tidak bersisa.

Yah! Berhenti minum!” dengan kasar Junsu merampas botol bir itu dan menjauhkannya dari jangkauan Yoochun.

“Bukankah aku orang yang brengsek?” tanya Yoochun.

Yah! Yeoja seperti itu tidak perlu kau ingat-ingat lagi! Kenapa hanya karena yeoja seperti dia kau bisa sampai seperti ini, huh? Wae?” Junsu memukul-pukul bahu Yoochun keras seolah-olah ingin menyadarkan temannya, bahwa Yoochun tidak seharusnya menyesali keputusannya yang sudah meninggalkan yeoja bernama Jia itu.

“Apa kau pikir dia membenciku? Ya! Dia pasti sangat membenciku. Bahkan dia tidak mau ku sentuh…. Menyedihkan. Ironis bukan?!”

Aish! Kemana para pelayan itu saat dibutuhkan?” omel Junsu. Rumah keluarga Park itu terlihat sangat sepi. Bahkan ketika Junsu baru datang tadi dirinya sudah menemukan Yoochun yang sedang mabuk sendirian di ruang makan, “Apa ku telpon Jaejoongie saja?” gumamnya.

“Aku hyung yang payah….”

“Eh?” Junsu menatap Yoochun, mengerutkan keningnya, “Hyung? Yoochunie, apa yang sedang kau bicarakan ini adalah Jaejoongie? Bukaan yeoja jalang bernama Jia itu?” tanyanya.

“Dia bahkan lebih memilih tinggal bersama namja Jung itu? Cih! Apa bagusnya? Lihatlah dia! Wajahnya kecil, tukang onar dan selalu membuat masalah. Bahkan dia sudah diusir dari rumahnya, apa hebatnya namja itu? Yah! Katakan padaku?”

“Aku tidak tahu apa masalahmu dengan Jaejoongie sebenarnya, tapi karena yang menyebabkanmu mabuk bukan yeoja itu aku akan menemanimu sampai pagi!”

.

.

Boo….” gumam Yunho ketika namja cantik itu mendekap erat tubuhnya. Sejak kejadian tadi pagi di rumah keluarga Park, namja androgini itu memang enggan berpisah darinya.

“Aku memang merasa aneh ketika Appa tidak pernah menghubungiku lagi begitu bercerai dari Umma. Orang-orang selalu mengatakan bahwa aku sama sekali tidak mirip Appa. Kulit pucatku, bibirku dan mataku….” gumam pemilik chery lips itu begitu lirih.

Yunho mengusap wajah cantik itu pelan, “Hm….”

“Mengerikan, bukan?” tanya Jaejoong.

Ani.” Jawab Yunho.

“Katakan padaku! Siapa saja yang sudah kau tiduri selama ini?” doe eyes kelam itu menatap lekat wajah tampan namja yang berbaring di sampingnya.

“Em…. Aku kurang yakin nama mereka. Mungkin… Jung Jaejoong? Jung Jaejoong, Jung Jaejoong, Jung Jaejoong dan Jung Jaejoong.” Yunho tersenyum, “Aku terlalu takut untuk melukaimu, Boo….”

“Kalau kau sudah tidak menginginkanku katakan padaku maka aku akan pergi tanpa perlu kau usir.” Ucap Jaejoong.

“Aku terlalu menginginkanmu hingga aku ingin merampasmu dari keluargamu, Boo. Aku terlalu menginginkanmu hingga aku ingin sekali memasungmu agar selamanya kau menjadi milikku….” Yunho mendaratkan sebuah kecupan di atas permukaan bibir merah merekah itu lembut.

“Yun….”

“Hm?”

“Sentuh aku….” pinta Jaejoong.

“Dengan segenap hatiku, Boo…. Dengan segenap hatiku….” bisik Yunho sebelum membawa keduanya menyelami firdaus indah yang tidak mampu terlukiskan oleh bentuk kata apapun di dunia ini.

.

.

Jaejoong menatap pantulan dirinya di atas permukaan kaca yang berembun itu. Membiarkan air hangat dari shower membasahi sekujur tubuhnya. Ditatapnya baik-baik pantulan dirinya yang terefleksi di atas permukaan buram itu. Kulit pucatnya sama seperti Yoochun, mata mereka yang hitam legam sama seperti Yoochun, golongan darah mereka pun sama, beberapa hobi dan kegemaran mereka pun sama. Jaejoong tidak menduga bahwa apa yang dulu dianggapnya sebuah kebetulan itu ternyata bukanlah sebuah kebetulan tetapi benar-benar sebuah kesamaan.

Dan selama ini, yang tidak tahu apa-apa hanyalah dirinya seorang?

Jaejoong ingin menangis sekarang. Perasaan marah, kesal, kecewa dan sedih itu teraduk-aduk dalam palung hatinya, membuatnya ingin menangis tetapi cairan brengsek itu tidak mau keluar dari sepasang doe eyes kelamnya. Sungguh sangat menyiksa!

“Kau sudah ku biarkan menyentuhnya semalam, Yun. Jangan membuatku marah!” ucap Jaejoong memperingatkan ketika tangan Yunho mulai bergerilya di atas permukaan tubuh telanjangnya yang basah.

“Kau terlihat menggoda, Boo.” Sahut Yunho, “Tahukah kau bahwa kau adalah godaan paling menakutkan yang pernah ku temui seumur hidupku?”

“Aku tahu. Karena aku memang menggoda….” Jaejoong memutar tubuhnya hingga berhadapan langsung dengan Yunho kemudian meraih tengkuk namja bermata musang yang memiliki kulit sewarna tan yang sangat eksotis itu untuk mencium bibir berbentuk hatinya.

“Ah… aku harap hari ini tidak berlalu dengan cepat….” gumam Yunho.

UMMAAAAAAAAAAAAAAAAA!”

“Ck….” Yunho berdecak kesal.

“Kalau kita tidak segera menyelesaikan acara mandi ini, ku rasa anakku anak langsung mendobrak pintu itu.”

“Anakmu sangat mengerikan!” gerutu Yunho.

.

.

“Semalaman Yoochunie mabuk. Dia menyalahkan dirinya sendiri karena merasa gagal menjadi kakak yang baik untukmu.” Ucap Junsu ketika main ke kelas Jaejoong. Namja bersuara khas itu mendudukkan dirinya di kursi samping tempat duduk namja cantik itu, “Apa kalian bertengkar?” tanyanya hati-hati, tidak ingin membuat namja cantik itu menelannya hidup-hidup.

“Bukankah pertengkaran sesama saudara itu hal yang wajar?” tanya Jaejoong.

“Tapi tetap saja pertengkaran kalian itu membuatnya sampai mabuk.”

Jaejoong melirik sekilas Junsu, mengambil tas besar berisi bekal makanan untuk diserahkan pada Junsu. “Bawa ke atap dan ajaklah Yoochun makan bersama denganmu.”

“Lalu kau?”

“Aku akan menyusul nanti. Yunho mungkin sudah ada di sana.”

Arraso….” Junsu menggangguk paham, “Yah! Jangan sampai aku melihatmu merokok lagi.” Ucapnya sebelum pergi.

“Aku bahkan sudah lupa bagaimana rasa rokok itu….” gumam Jaejoong.  Namja cantik itu hendak berdiri ketika beberapa gerombol siswa berjalan mendekatinya.

“Kau, Park Jaejoong! Setelah kau membuat anak kelas satu nyaris kehilangan kepalanya, membuat beberapa orang diskors kau bahkan membuat Jia dipindahkan dari sekolah ini? Yah! Sebenarnya seberapa hebat kau ini, huh?” bentak salah satu namja berbadan tambun diantara empat namja yang berdiri di hadapan Jaejoong.

Jaejoong hanya menatap satu per satu namja itu dengan doe eyes kelamnya tanpa berniat membalas perkataan mereka.

“Apa kau pikir dirimu hebat, huh?” namja berambut cepak itu nyaris menyentuh bahu Jaejoong sebelum seseorang mencengkeram kuat jemarinya hingga terdengar bunyi aneh yang berasal dari tangannya yang diremas itu, “Argkkk!” jeritnya.

“Tangan kotor kalian tidak boleh menyentuh Ummaku!” namja jangkung itu menatap sengit ke-4 namja yang mencari gara-gara dengan Jaejoong.

Yah! Changmin!”

Brak!

Pintu belakang kelas Jaejoong pun ditendang kuat-kuat oleh seorang namja tampan bermata musang hingga menghasilkan sedikit lubang di atas permukaannya, “Hei, kalian sudah bosan hidup?” dengan sorot mata penuh kemarahan Yunho berjalan menghampiri empat namja itu, membuat teman sekelas Jaejoong yang semula duduk diam di dalam kelas lari terbirit-birit karena ketakutan.

“Mati kalian!” pekik Yoochun yang tiba-tiba saja menerjang salah satu dari 4 namja yang hampir mengeroyok Jaejoong tadi, “Tidak ada seorang pun yang boleh mengganggu adikku selama aku masih hidup!”

Jaejoong memlih berjalan keluar meninggalkan kelasnya, membiarkan Yunho, Yoochun dan Changmin menghajar ke-4 namja itu, “Hei Junsu… bagaimana kalau kita ke atap duluan? Ku rasa mereka bertiga masih harus menghadapi seosengnim.”

Junsu yang berdiri di sisi luar pintu melirik Seosengnim yang berlari ke arah mereka, “Kajja! Ck…. Kenapa para namja suka sekali kekerasan?” gerutunya sambil menggandeng tangan kanan Jaejoong.

“Hei! Kau juga namja, pabo!”

.

.

Bekal yang harusnya menjadi makan siang mereka itu terpaksa dinikmati ketika matahari nyaris kehilangan tahtanya, bahkan langit sudah sedikit menggelap, menampakkan warna jingga indah serupa wajah gadis yang tengah malu akibat godaan sang kekasih.

Boo, kau tidak makan?” tanya Yunho yang hendak menyuapkan sepotong telur gulung untuk Jaejoong.

Ani…. Aku sudah kenyang.” Tolak Jaejoong.

“Kau hanya makan keripik kentang saja dari tadi, Boo.” Keluh Yunho.

“Makanlah! Setidaknya untuk keponakanku.” Pinta Yoochun yang terus mengunyah walaupun sudut bibirnya sedikit sobek dan memar akibat perkelahiannya tadi.

“Keponakan?” tanya Junsu binggung.

Umma sedang mengandung.” Gumam Changmin.

MWO?” pekik Junsu.

YAAH! KIM JUNSU!” Yoochun dan Yunho mendelik ke arah Junsu yang menyemburkan air ke arah mereka.

Mian.” Sesal Junsu, “Jaejoongie?”

“Anak Yunho. Sekarang usianya baru lima minggu.” Jawab Jaejoong santai, mengabaikan tatapan syock Junsu.

Aigoo! Hamil?” Junsu masih memandang Jaejoong dengan wajah binggungnya, “Bagaimana bisa?”

“Cobalah membuat anak dengan Yoochun, siapa tahu kau bisa mengandung juga.” Ucap Yunho.

Yah! Kau mau mati?” tanya Yoochun yang memelototkan matanya pada Yunho.

“Kalau aku mati, adikmu itu akan menjadi janda sebelum kami menikah dan keponakanmu itu akan menjadi anak yatim.” Sahut Yunho.

“Yoochunie tidak menyukaiku. Dia masih tidak bisa melupakan Jia.” Lirih Junsu.

Yah! Sebenarnya apa yang terjadi pada Jia? Ku dengar dia dipindahkan.” Tanya Yoochun yang tidak mendengar suara lirih Junsu..

“Joongie ingin dia dikeluarkan dari sekolah jadi itulah yang terjadi.” Jawab Yunho.

“Woah…. Kau masih seorang Jung rupanya walaupun sudah terusir sekalipun….” puji Yoochun lebih kepada sebuah sindiran.

Umma, tambah!” Changmin menyerahkan kotak bekalnya yang sudah kosong pada Jaejoong.

“Dasar tukang makan.” Sindir Yoochun, “Apa kalian berdua menganggap adikku itu pembantu kalian yang bisa kalian suruh masak setiap hari?”

“Biarkan saja, Yoochunie hanya cemburu pada kalian.” Junsu menimpali.

Yah Kim Junsu!”

.

.

Senja yang menggelap kali ini semoga mendatangkan setitik kebahagiaan bagi mereka yang merindukan cinta dan kasih sayang esok hari….

.

.

TBC

.

.

Selamat liburan :)

.

.

Tuesday, April 08, 2014

9:34:39 AM

NaraYuuki

Always Keep The Faith! X

Tittle                : Always Keep The Faith!

Author              : NaraYuuki

Genre               : Family/ Romance

Rate                 : -M

Cast                 : All Member DB5K

Disclaimer:       : They are not mine but this story is mine, NaraYuuki

Warning           : Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut.

.

.

.

.

.

Yang jelek-jelek jangan ditiru ne ;)

.

.

AKTF

.

.

“Yun….”

“Hm? Apa uri aegya menginginkan sesuatu?” tanya Yunho yang memasang wajah tersenyumnya. Lelah memang setelah pulang bekerja tetapi kelelahan itu menguap begitu saja ketika melihat wajah damai namja cantiknya yang sedang terlelap. Beberapa hari terakhir ini Yunho tidak akan langsung tidur begitu selesai mandi usai pulang bekerja pada pukul 10 malam. Yunho akan menunggu sebentar sebelum doe eyes indah itu terbuka dan chery lips itu menyuarakan keinginannya.

“Aku haus….”

“Mau ku ambilkan minum? Boo Jae mau minum apa, hm?” Diusapnya wajah lelah namja cantik dihadapannya itu perlahan.

“Jus strawberry dengan sedikit yogurt di atasnya.”

“Akan ku buatkan!” Yunho beranjak dari posisinya yang semula merebahkan dirinya di samping Jaejoong. Namja bermata musang itu berusaha melakukan semuanya semampunya untuk membahagiakan namja cantik itu. Yunho rela kehilangan segalanya tetapi tidak dengan Jaejoong.

Appa….”

Yunho menolehkan kepalanya ketika mendengar panggilan Jaejoong untuknya, “Ne Umma?”

Saranghae….”

Nado….” Yunho tersenyum hangat sebelum memutar handle pintu itu. Jarang sekali Jaejoong mengatakan kata-kata cinta padanya karena bagi namja cantik itu menunjukkan sikap dan perbuatan jauh lebih penting daripada kata-kata kosong yang kadang tidak bisa dipertanggungjawabkan.

.

.

Brak!

Namja jangkung itu hanya membatu ketika lemparan handphone itu nyaris mengenai kepalanya saat dirinya baru saja keluar dari kamar mandi usai menyelesaikan mandinya. Changmin menatap binggung pada hyungnya yang sedang berusaha meredam kemarahan ‘Umma’nya. Entah apa yang terjadi selama dirinya berada di dalam bilik kamar mandi. Apakah Yunho hyungnya ketahuan selingkuh sehingga Ummanya marah seperti itu? Atau apa?

“Bagaimana bisa dia melakukan ini padaku?!” pekik Jaejoong penuh amarah.

Boo….” Yunho mengusap-usap lengan Jaejoong, mencoba menenagkan namja cantik yang tengah mengandung darah dagingnya itu. Yunho tidak mau orang yang dicintainya sakit.

“Ah… dia sudah menabuh genderang perang denganku, Yun!” sedikit kalap Jaejoong meraih kunci mobilnya yang berada di atas meja makan kemudian melesat pergi begitu saja. Amarah sepertinya tengah melingkupi namja cantik itu.

Umma kenapa?”

Yunho menatap Changmin yang memasang wajah binggungnya, “Haeri ahjumma menelponnya dan menyuruhnya pulang ke rumah. Sepertinya Yoochun memberitahu orang tua mereka kalau selama mereka pergi Boo Jae menginap di sini.”

“Lalu Umma mau kemana?”

“Kemana lagi menurutmu? Tentu saja menghajar Yoochun.” Yunho menghela napas panjang, “Aku kurang suka situasi ini.” Gumamnya.

Hyung….”

“Makanlah! Ummamu memasaknya khusus untukmu. Aku akan berusaha menghentikan tindakan gegabahnya.” Ucap Yunho sebelum pergi meninggalkan Changmin sendirian di dalam apartemen itu.

“Sepertinya banyak hal yang belum ku ketahui tentang mereka….” namja jangkung itu melirik meja makan yang sudah dipenuhi oleh beberapa jenis makanan yang berbeda serta 3 gelas susu hangat, “Umma…. Apa kau bahagia? Jika tidak mari mencari kebahagiaan bersama….”

.

.

“Sepertimya cara itu cukup ampuh untuk membawamu pulang dengan sendirinya tanpa perlu repot-repot menyeretmu dari sana.”

Doe eyes kelam indah itu menatap tajam namja berpipi chuby yang sedang berdiri dengan angkuhnya di anak tangga terakhir sambil bersedekap (menumpangkan/ menyilangkan/ melipat kedua tangan di atas perut/ dada). Kemarahan yang sudah mencapai titik terendah kesabarannya membuat namja cantik itu berjalan pelan menghampiri namja yang beberapa bulan terakhir ini tinggal di bawah atap yang sama, menjadi saudaranya.

“Mana barang-barangmu?” tanya Yoochun.

Plak!

Bukannya menjawab, Jaejoong justru menghadiahkan sebuah tamparan pada namja berpipi chuby itu, “Aku sudah memperingatkanmu! Aku sudah memintamu untuk tidak mencampuri urusanku dan kau melanggar semua itu seolah-olah kau peduli pada hidupku!” kalimat dingin, tajam dan menusuk itu terlontar dari bibir semerah chery milik Jaejoong. Mata indahnya menatap nyalang pada namja yang masih berdiri dengan angkuhnya di hadapannya.

“Bagaimana bila aku peduli?” tanya Yoochun, “Bagaimana bila aku benar-benar peduli padamu?!” suara Yoochun meninggi, menyerupai sebuah bentakan.

“Cih! Orang sepertimu?”

“Orang sepertiku ini sangat peduli padamu Park Jaejoong!” sekali lagi Yoochun memekik hingga suaranya berubah sedikit serak.

“Namaku Kim Jaejoong!”

“Persetan dengan nama Kim yang kau banggakan itu! Kau dalah seorang Park! Sejak lahir hingga sekarang kau adalah seorang Park! Darah yang mengalir dalam dirimu adalah darah seorang Park!” dengan sedikit brutal Yoochun mencekal lengan Jaejoong, menyeret namja cantik itu menuju ruang kerja ayah mereka yang berada di samping tangga sebelah kanan.

Jaejoong meronta dan terus menghardik Yoochun dengan sumpah serapah. Bila biasanya Jaejoong bisa menghajar orang dengan mudah kali ini namja cantik itu tidak bisa melakukannya, selain karena memikirkan bayi dalam perutnya Jaejoong juga menjadi mudah lelah akhir-akhir ini.

Begitu sampai di dalam ruangan yang mirip dengan kantor seorang direktur itu Yoocchun segera berjalan menuju lemari kaca yang menyimpan beragam buku dan dokumen-dokumen penting. Yoochun mengambil sebuah kertas yang dilaminating kemudian menyodorkan kertas itu pada Jaejoong, “Ini adalah akta lahirmu yang Umma sembunyikan darimu selama ini! Bacalah!” perintah Yoochun.

Jaejoong hanya diam memandang Yoochun dengan mata penuh kemarahan, tanpa berniat menyentuh akta itu. Jaejoong tahu apa itu akta dan apa saja yang tertulis di atas kertas itu jadi untuk apa melihatnya karena semuanya sudah jelas bukan?

“Di sini tertulis Park Jaejoong lahir dari ibu bernama Lee Haeri dan ayah bernama Park Jaeseok.” Ucap Yoochun lantang dan keras.

Doe eyes itu membulat menatap Yoochun dengan ekspresi kagetnya, sedikit kasar dirampasnya kertas itu dari tangan Yoochun.

“Kau adalah adikku. Mau menyangkal sekeras apapun kau tetaplah adikku.” Ucap Yoochun dengan suara sedikit melunak, “Ibu yang melahirkan kita memang berbeda, tetapi ayah kita tetaplah sama.”

Mata Jaejoong nanar. Apa-apaan ini? Bukankah Ayahnya bernama Kim HyunJoong? Walaupun kedua orang tuanya bercerai ketika usianya masih 4 tahun, tetapi Jaejoong tahu pasti namja yang dulu dipanggilnya Appa itu bernama Kim Hyunjoong.

Jaejoong merasa ditipu sekarang, merasa dipermainkan dan dibuat binggung bukan hanya oleh Yoochun tetapi oleh akta sialan yang di atas permukaannya dibubuhi stempel resmi kantor catatan sipil serta rumah sakit tempatnya lahir. Namja cantik itu merasa hidupnya bahkan jauh lebih menyedihkan daripada hidup Changmin.

Appa bilang dulu Appa mempunyai seorang yeoja chingu sebelum dipaksa menikah dengan Ummaku karena sebuah kecelakaan. Yah, Appa meniduri Ummaku dalam keadaan mabuk hingga menghadirkan aku. Appa terpaksa menikahi Ummaku dan meninggalkan Haeri Umma. Walaupun tidak saling mencintai tapi Appa berusaha menjadi suami yang baik hingga beberapa bulan kemudian Appa baru tahu dari teman mereka kalau ternyata Haeri Umma sedang mengandung bayinya saat Appa meninggalkannya dulu.” Cerita Yoochun.

Doe eyes itu sudah memutahkan lavanya.

Appa binggung dan mencari Haeri Umma. Karena suatu hal Haeri Umma menghilang begitu saja. Appa cerita bila saat itu Haeri Umma yang tidak mau menggugurkan kandungnya dipaksa menikah dengan namja pilihan orang tuanya untuk menutupi aib keluarga, namja itu bernama Kim Hyunjoong.”

Air mata itu semakin deras membasahi wajah rupawan Jaejoong, dadanya berdenyut sakit. Jaejoong membutuhkan Yunho sekarang untuk menenangkan dirinya.

“Kau tahu betapa senangnya aku saat Appa bercerita bahwa aku mempunyai seorang dongsaeng? Walaupun saat itu aku sedih karena Ummaku meninggal tetapi harapan bahwa aku mempunyai seorang dongsaeng dari Umma yang lain membuatku sangat bahagia. Aku sudah berjanji akan membahagiakan adikku nantinya bila kami bertemu.” Mata Yoochun nanar melihat wajah Jaejoong yang sudah dibasahi oleh air mata, “Tidak mudah bagi Appa untuk membawa kembali Haeri Umma kesisinya, kau tidak tahu bagaimana senangnya aku ketika pertama kalinya kita bertemu saat itu…. Aku ingin memelukmu, aku ingin bercerita banyak padamu, aku ingin meneriakkan pada seluruh dunia bahwa aku punya adik yang sangat luar biasa. Tapi kau…? Sikapmu padaku justru….”

“Park Yoochun, kita hentikan pembicaraan kita hari ini.” Ucap Yunho yang tiba-tiba saja sudah memeluk Jaejoong dari belakang, “Jaejoongku sepertinya sangat lelah dan ingin beristirahat…..”

“Kau? Yah! Jung Yun….” mata Yoochun membulat ketika menyadari perlahan-lahan tubuh Jaejoong melemah dan lengser. Andaikan Yunho tidak melilit perut Jaejoong dengan kedua lengan kekarnya bisa dipastikan tubuh Jaejoong akan bercumbu dengan kerasnya lantai marmer yang dipijaknya.

“Kau tidak keberatan menunjukkan dimana kamar yang biasa Boo Jae tiduri?”

.

.

Yoochun hanya terdiam, Jaejoong pingsan tadi dan sekarang sedang tertidur. Yoochun hanya bisa menatap tajam Yunho yang sejak kepergian dokter yang memeriksa Jaejoong tadi enggan beranjak dari sisi adiknya. Yoochun ingin menanyakan banyak hal pada Yunho mengenai kondisi mengejutkan Jaejoong sekarang. Susah payah Yoochun menahan keinginannya untuk menghajar namja bermarga Jung itu.

“Hamil? Male pregant?” gumam Yoochun.

“Apakah itu aneh?” tanya Yunho. Tangannya enggan melepaskan genggamannya pada jemari namja cantik yang tengah terbaring dalam tidurnya.

“Kau tahu? Appaku sangat menyayangi Jaejoong lebih daripada sayangnya padaku. Entah seperti apa reaksinya bila mengetahui hal ini.” Lirihnya.

“Maafkan aku kalau begitu.”

“Kau tidak pantas dimaafkan!”

Yunho menggangguk paham, “Memang…. Tetapi aku tidak akan pernah meninggalkan Boo Jae walaupun kalian memaksaku sekalipun.”

“Bagaimana bisa kau menghamilinya, Brengsek?” maki Yoochun dengan suara melengking. Kedua tangannya terkepal erat, ingin sekali melayangkan tinju pada Yunho untuk menambah koleksi luka lebam pada wajah namja bermata musang itu. Tetapi bila Yoochun melakukannya, itu akan mengganggu Jaejoong yang sedang beristirahat.

“Aku memang bukan orang suci. Tetapi aku berusaha semampuku untuk membahagiakan Boo Jae.”

“Kenapa kau menyeret adikku dalam kesialanmu, Bastrad?!” pekik Yoochun lagi.

“Maafkan aku soal kesialan yang menimpaku, tetapi aku tidak pernah menyeret Boo Jae dalam kesialan yang menimpaku.”

“Lalu kau mau bilang Jaejoong yang mendatangimu, huh?”

“Bukankah selama ini terlihat seperti itu?”

Yoochun mengeram kesal, menahan amarahnya yang sudah membuncah, “Apa yang akan kau lakukan bila Appamu tahu soal ini?”

“Entahlah…. Aku sudah diusir dari rumah dan diancam dicoret dari kartu keluarga. Kau pikir dia bisa melakukan apa lagi padaku? Membunuhku?”

Yoochun berjalan menghampiri Yunho, mencengkeram kuat-kuat kerah baju namja bermata musang itu, mengangkat tangannya hendak menghajar wajah menyebalkan yang membuatnya sangat muak, “Bila kau melukai adikku, kau akan mati ditanganku!”

“Akan ku ingat kalau Boo Jaeku ternyata memiliki seorang kakak yang luar biasa.”

Yoochun mendengus kesal, memilih pergi untuk menenangkan pikirannya yang kalut. Hari ini terlalu pagi untuk dihabiskan untuk marah-marah.

“Hei, Boo…. Satu penghalang sudah berhasil kita tumbangkan…. Ah, tinggal para bukit tinggi itu yang harus kita taklukkan.” Gumam Yunho yang dengan lembut mengusap wajah pucat namja cantik itu, “Semoga ketika uri aegya lahir nanti dia tidak akan merasakan kepedihan sama seperti yang kita rasakan….”

.

.

TBC

.

.

.

.

Sunday, April 06, 2014

8:08:01 PM

NaraYuuki

Love Dragon

Tittle                : Love Dragon

Author              : NaraYuuki

Genre               : Incest? Yang jelas fantasy gagal

Rate                 : M-Preg

Cast                 : All Member DBSK

Disclaimer:       : They are not mine but this story and Jung Hyunno are mine, NaraYuuki

Warning           : Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut.

.

.

Baca FF Fantasy Yuuki harus pelan-pelan, biar ga binggung!

FF Fantasy Yuuki tidak terikat dengan kebudayaan manapun jadi silahkan bebaskan imajinasi masing-masing ketika membacanya.

.

.

.

Baca Warningnya dulu, ne!

.

.

Love Dragon

.

.

Lima roh perawan suci yang meninggal dalam peperangan itu menari-nari di langit-langit asrama, mengiringi langkah namja yang tengah menenteng pedang besarnya, kelahiran namja itu yang membawa turut serta kelima roh suci itu dalam setiap langkahnya. Bukti bahwa dirinya adalah seorang pemimpin besar. Namja yang tengah kelelahan itu terlihat gusar, beberapa luka lebam dan sisa darah kering menghiasi wajah tampannya. Peluh membasahi tubuhnya seiring langkah kaki jenjang itu menapaki satu per satu anak tangga yang akan membawanya menuju loteng, tempat yang sebenarnya terlarang bagi seorang ‘siswa’ seperti dirinya.

“Hei Jung!”

“Jangan menggangguku Park!”

“Apakah si cantik itu mengalahkanmu lagi?”

“Jangan menggangguku!”

“Apakah…”

Srak! Bunyi gesekan logam itu terdengar begitu miris dan mengganggu telinga siapa saja yang mendengarnya, tidak terkecuali namja yang sedang memegang buku bacaannya. Terlebih ketika ujung pedang itu sudah menempel di atas permukaan kulit lehernya.

“Jangan menggangguku Park Yoochun!” ucapnya dingin.

“Aku hanya ingin mengatakan kalau si cantik itu sedang berada di loteng.”

“Itu memang tujuanku!” usai menyarungkan pedangnya, namja bermata musang itu bergegas menapaki tangga kembali.

“Ck…. Saudara yang aneh.”

“Hm…. Mereka seperti musuh bebuyutan.” Sahut namja yang sedang memainkan bola apinya.

“Bukankah mereka memperebutkan tahta? Astaga! Menyedihkan.” Namja jangkung yang sedang membersihkan tombaknya itu ikut menimpali.

“Mungkin hari keruntuhan Cassiopeia akan segera datang….” namja berpipi chuby itu berjalan mendekati meja dan meletakkan bukunya di atas meja, “Atau mungkin masa kejayaan itu akan kembali sekali lagi….”

.

.

Dak!

Sedikit kasar menendang pintu malang itu namun tidak menunjukkan raut penyesalan di wajahnya yang menunjukkan ketegasan dan kearoganan. Sepatu besinya menimbulkan irama tersendiri ketika berjalan menuju satu-satunya jendela di loteng yang sangat pengap itu, loteng yang menyimpan kumpulan buku terlarang yang tidak boleh dimasuki oleh sembarang orang, namja bermata musang itu salah satunya.

“Kenapa kau tidak membunuhku, huh?!” bentakan itu keluar dari bibir berbentuk hatinya. Ingin sekali menebas namja yang sedang duduk di bibir jendela, namja yang sedang bermandikan cahaya senja itu, namja yang membuatnya harus memendam rindu dendam tidak terkira, namja yang ingin dibunuh namun juga sangat ingin dilindunginya.

Doe eyes kelam itu menatap mata setajam musang yang juga tengah memandangnya, menantangnya untuk bercumbu dalam kemarahan dan kebencian yang tersimpan dalam mutiara-mutiara kecoklatan itu, “Kalau kau marah setelah aku mengalahkanmu dalam duel tadi siang, aku mau melayanimu bertarung. Tetapi kali ini bukan di medan perang… kau tahu maksudku?”

Jemari kokoh itu mencengkeram kuat, menahan amarah yang sungguh sangat ingin dilampiaskannya pada sosok cantik namun kejam itu, ingin meremukkan sosok itu hingga menjadi butiran-butiran debu agar tidak lagi bisa mengganggunya, “Kau….”

Tiba-tiba saja hembusan angin kuat menghempaskan jendela loteng, membuat kaca yang terbingkai kayu jati dari Kalimantan itu sedikit bergetar, disusul oleh jeritan bersahut-sahutan dari siswa-siswa lain yang tengah lari pontang-panting menjauhi lapangan, terlihat jelas dari loteng.

“Mereka sudah datang menjemput kita. Jangan lari dari kenyataan ini! Karena bagaimanapun juga kau tetaplah seorang Jung….” si cantik itu berdiri, doe eyes gelapnya masih menatap lekat namja yang sepertinya tengah marah padanya itu, berjalan menghampirinya pelan, menepuk bahunya yang masih dilapisi oleh seragam besi, seragam yang dikenakan oleh semua siswa ketika akan maupun sedang melakukan duel. “Ah, aku tidak suka menunggu….” bibir merah merekahnya itu tersenyum sinis sebelum berjalan terlebih dahulu.

Namja bermata musang itu merapalkan sumpah serapahnya namun tetap mengikuti langkah namja cantik yang sempat mengejeknya.

.

.

Sepasang sayap itu mengepak-kepak cepat, menimbulkan angin puyuh kecil, menerbangkan apa saja di sekitarnya, bahkan beberapa pohon pun ikut tumbang akibat ulah mahluk setinggi lima meter itu, satu-satunya mahluk yang masih tersisa dari spesiesnya yang nyaris punah, naga bercula perak bernama Urceolla itu sedang duduk tenang bertengger di atas tebing batu yang memang mengelilingi asrama para siswa akademi Orion. Sekolah yang mengajarkan tentang kedisiplinan, ilmu militer dan sopan santun bagi mereka yang mewarisi dalah biru.

Di samping Urceolla tengah duduk dengan angkuhnya salah satu mahluk legendaris yang hanya hidup di dasar lembah kematian, mahluk kegelapan bersisik besi yang tidak akan bisa ditumbangkan oleh senjata macam apapun di dunia ini kecuali api yang dihasilkan oleh Urceolla, Seburus satu-satunya naga yang berasal dari lembah kematian itu duduk tenang di samping Urceolla yang terus mengepak-kepakkan sayapnya, memanggil sang majikan.

Cassiopeia bisa dituntut akibat ulah kalian ini.” Gerutu Yoochun.

“Diam kau Park!” namja cantik itu berjalan ke tengah halaman asramanya, di punggungnya sudah terdapat busur dan anak panah perak dengan logo negara Cassiopeia di atas permukaannya. Menghela napas pelan sebelum tiba-tiba Urceolla melesat ke arahnya dan berdiri dengan angkuh di hadapannya, “Kau mau aku pulang sekarang?”

Naga bercula perak itu mengibas-ngibaskan ekor dan sepasang sayapnya, kepalanya menunduk, membiarkan namja cantik itu mengusap kepalanya pelan.

Arra….”

Ekor runcing Urceolla melilit tubuh namja cantik itu, mendudukkannya di atas punggungnya sebelum perlahan-lahan membumbung tinggi dan terbang menuju utara dengan kecepatan penuh.

“Dia meninggalkanmu….” gumam Yoochun ketika namja bermata musang itu baru muncul, sepertinya namja itu baru saja mengganti baju besinya dengan baju yang biasanya dikenakan oleh para bangsawan Cassiopeia.

“Aku bisa mengejarnya dengan mudah.” Sahutnya bersamaan dengan turunnya Seburus dari tempatnya berpijak semula, “Mari pulang!”ucapnya sebelum melompat menaiki punggung naga bersisik besi itu.

Secepat kilat naga itu menimbulkan goresan berwarna hitam pekat di langit selama beberapa detik lamanya sebelum menghilang begitu saja.

“Curang sekali. Mereka berdua dijemput oleh seokor naga dan kita….” Junsu, namja bersuara unik itu melirik tiga ekor kuda beraksa (pegasus) yang berada di dekatnya.

“Kita hanyalah seorang penjaga, jangan mengeluh dan segera kejar mereka sebelum mereka berdua saling menghunuskan senjata!” namja jangkung itu sudah menaiki kuda beraksanya.

“Haaaahhh…. Jung Jaejoong dan Jung Yunho benar-benar merepotkan!” gerutu Junsu.

.

.

“Jangan kasar! Yunho!” Jaejoong merintih di bawah kungkungan tubuh kekar itu. Ingin rasanya menikamkan belati tepat dijantung namja bermata musang itu, tetapi bila ia melakukannya bisa jadi Yunho akan mati seketika. Dan dirinya tidak akan pernah mengijinkan Yunho mati dengan mudah.

“Bukankah kau sendiri yang memintanya?” tanya Yunho yang sedang sibuk dengan pekerjaannya, “Maka rasakanlah!” umpat Yunho. Peluh membasahi tubuhnya, matanya nyalang penuh gairah dan kemarahan.

Dok! Dok! Dok!

Pintu tebal berwarna coklat kehitaman itu di pukul kasar dari luar.

“Jung Yunho! Bila kau tidak segera keluar dari kamar Jaejoong aku akan mendobraknya sekarang juga!”

Teriakan nyaring itu terasa sangat menyakiti telinga Yunho, kesal karena kegiatannya diganggu oleh penjaganya yang terlalu cerewet dan ikut campur urusan pribadinya. “Kau selalu mengganggu kesenanganku, Park!” maki Yunho dengan suara lantangnya.

“Cih! Kau selalu saja seperti itu. Tidak sadarkah kau bahwa perbuatanmu itu sudah menghasilkan sebuah nyawa? Dasar!” omel Yoochun, “Cepat keluar setelah pekerjaanmu dengan Jaejoong selesai! Kita harus bicara dengan para Tetua!”

.

.

Yah! Rapikan jubahmu! Aish!” kesal Yoochun ketika melihat jubah kebesaran Cassiopeia itu dipakai asal-asalan oleh Yunho.

“Tidak akan ada yang berani mengomentari penampilanku!” sahut Yunho, “Lagi pula kenapa kau sangat cerewet, huh? Aku akan menukarmu dengan Junsu ataupun Changmin bila kau terus berteriak kepadaku!” ancamnya.

“Pemberontakanmu ini hanya akan merugikan dirimu sendiri. Ingat itu! Aku melakukan hal ini semata untuk kebaikanmu.” Ucap Yoochun yang berusaha merapikan jubah yang tengah dipakai oleh Yunho, “Kau tidak mau mencoba memakai kimono sama seperti yang Jaejoong pakai?”

“Dan membiarkanku terlihat seperti yeoja? Mati saja aku!” sahut Yunho.

Dua namja berbeda usia itu melangkahkan kaki-kaki jenjang mereka melewati sebuah lorong yang gelap, hanya obor yang diletakkan di sepanjang sisi lorong yang menjadi sumber cahaya keduanya. Mereka harus bergegas atau mereka akan mendapat hukuman karena terlambat menghadiri pertemuan penting itu.

Sebuah pintu berwarna merah menyala yang terbuat dari metal serta ornamen lambang Cassiopeia menyembul indah diatas permukaan pintu itu, ornamen yang terbuat dari berlian asli seberat 25 karat yang dikelilingi oleh ornamen naga air yang terbuat dari kristal masir jernih sudah menyambut kedatangan Yunho dan Yoochun. Sedikit kepayahan karena berat pintu itu, Yoochun membukanya perlahan-lahan.

Dua ekor naga setinggi lima meter itu sudah menyambut Yunho dan Yoochun. Salah satu naga bahkan mengepak-ngepakkan sayapnya begitu Yunho memasuki aula besar itu. Naga Seburus milik Yunho.

“Yunho….” seorang namja tua berbadan tambun memanggil nama namja yang sebenarnya paling disegani di Cassiopeia itu.

“Kami sedang membicarakan pernikahanmu dengan putri bangsawan Go.” Namja yang memiliki janggut berwarna merah bata itu menimpali.

“Hm? Siapa yang akan menikah?” namja bermata musang itu mengangkat seorang anak kecil yang duduk di kursi yang biasanya diduduki oleh calon raja. Diciumnya pipi chuby anak itu, “Aku tidak akan menikah dengan siapapun. Bukankah begitu?” Yunho melirik seorang namja cantik yang baru saja datang bersama dengan Junsu dan Changmin.

“Keluarga Go? Tidak masalah. Kau boleh menikah dengannya Yun.” Namja cantik itu berujar.

“Lihat, Jaejoong sudah menginjinkannya.” Sahut seorang tetua yang paling pendek dari kelima tetua yang tengah duduk tenang di kursi mereka masing-masing.

“Kau boleh menikahinya Yun, bila kau ingin melihatku membantai keluarga mereka!” chery lips itu melengkung sempurna membuat semua yang berada di dalam aula besar itu bungkam seketika kecuali anak kecil yang berada dalam gendongan Yunho, “Jadi tidak ada pembahasan lagi soal ide bodoh ini, bukan? Katakan padaku kenapa kalian memanggilku kemari? Tidak tahukah kalian kalau aku sangat sibuk?” doe eyes indah itu menatap tajam kelima namja tua berjanggut yang tengah duduk di sebuah meja panjang, mirip meja di ruang pengadilan yang sering diduduki oleh para hakim.

“Jaejoong jangan tidak sopan seperti itu!” Changmin mengingatkan. Sebagai penjaga Jaejoong sejak kecil namja berusia 120 tahun namun masih memiliki wajah serupa remaja 17 tahun itu kadang memang kerepotan karena ulah Jaejoong.

“Jangan membuang waktuku untuk hal tidak penting seperti ini.” Namja cantik itu mencium kening anak yang berada dalam dekapan Yunho sebelum berjalan pergi diikuti oleh Junsu.

Yunho tersenyum lebar, “Lihat! Aku tidak akan menikah dengan siapapun….” senyumnya bertambah lebar ketika melihat wajah frustasi kelima tetua itu.

.

.

Namja kecil berusia lima tahun itu terlihat sangat gembira ketika dimandikan oleh sang ibu dibawah kucuran air terjun kecil ditemani seekor bayi naga kecil berwarna perak, ekornya bersisik besi runcing dan tajam. Memang masih seukuran kucing, namun anak naga yang diberi nama Kirin itu sudah mampu membunuh orang-orang jahat.

Baby, jangan bergerak….”

Namja kecil itu merangkak di atas permukaan sungai yang sangat dangkal hanya sebatas mata kaki orang dewasa, mendudukkan dirinya di atas pangkuan sang Umma, menepuk-nepuk kimono yang dipakai Ummanya, menggesek-gesekkan wajahnya di dada sang Umma pelan.

“Hyunno masih menyusu?” tanya Changmin yang duduk di bebatuan yang berada di pinggir sungai.

“Dia seorang Jung murni, Changmin. Dia akan menyusu pada ibunya sampai usianya sepuluh tahun.” Sahut Junsu. Namja yang dua tahun lebih tua dari Changmin itu menjelaskan pada rekannya, rekan sesama penjaga yang ditugasi untuk mengawasi Jaejoong.

“Jung Jaejoong, jangan sekali-kali kau menyusuinya di sini! Aku tidak mau Jung Yunho berisik itu menebas kepala kami.” Pinta Changmin. Sungguh! Changmin tidak mengerti cara berpikir keturunan Jung. Anak-anak yang dulu ditimangnya itu kini sudah dewasa dengan segala pemikiran mereka yang rumit dan sulit dimengerti olehnya.

“Aku lebih memilih melihat kepala kalian ditebas daripada melihat anakku kelaparan.” Sahut namja cantik itu. Dilonggarkannya kimono yang dikenakannya, menyikap sedikit kimono itu hingga memperlihatkan kulit indah punggung dan bahunya yang terbuka. Membiarkan anak kecil dalam pangkuannya itu bermain dengan benda kesayangannya.

“Ck…. Junsu, kau tetap tinggal di sini bersama mereka.” Ucap Changmin, “Setidaknya kau satu jenis dengan Jaejoong.” Secepat kilat namja jangkung itu melompat pergi.

“Jaejoongie….” panggil Junsu, “Apakah tidak sakit menyusuinya? Bukankah gigi Hyunno sudah tumbuh semua?” tanya Junsu.

“Lebih sakit ketika menyusui ayahnya.” Jawab Jaejoong.

Aish! Jangan mengatakan hal itu padaku! Itu adalah rahasia kamar kalian.” Gerutu Junsu, “Soal keluarga Go… apakah kau benar-benar akan melakukannya?” ditatapnya namja cantik yang baru berusia 25 tahun itu dengan pandangan sayang. Junsulah yang menggantikan peran ibu untuk Jaejoong ketika ibu namja cantik itu meninggal sesaat setelah melahirkannya ke dunia. Sehingga sangat wajar bila Junsu menyimpan sayang pada Jaejoong. Sayang sebagai orang tua kepada anaknya.

Chery lips itu terangkat, doe eyes kelamnya mengamati pantulan bayangan Urceolla yang terbang di atas kepalanya sebelum mendudukkan tubuh besarnya di samping Jaejoong membuat Kirin kegirangan dan beberapa kali menyemburkan bola api kecil dari mulutnya sembari terbang mengitari tubuh besar sang induk. Kirin memang anak Urceolla dan Seburus.

“Aku hanya mencari alasan, karena apapun yang terjadi aku akan tetap melakukannya.” Sahut Jaejoong.

.

.

Jaejoong mendorong kasar tubuh namja bermata setajam musang itu dari atas tubuhnya ketika merasakan nyeri pada bagian dadanya, “Anakmu sudah menguras cairanku tadi sore, kau mau membunuhku?” ucapnya dengan wajah kesal.

“Sial! Aku ini seorang King. Tapi kenapa aku bisa tunduk dibawah kuasamu, huh?” namja bermata musang itu mencekal kuat-kuat pergelangan tangan pucat itu, menghempaskan tubuh itu dan mengkungkungnya, “Kau akan menyesal karena sudah membuatku seperti ini Jung Jaejoong! Kau akan membayar setiap tetes hasrat yang kau alirkan dalam tubuhku.”

Jaejoong tersenyum mengejek, “Karena kau memang terlahir sebagai budakku, walaupun kau adalah seorang King sekalipun.” Sahutnya.

.

.

Namja cantik itu mendudukkan dirinya di atas ranjang, menatap namja yang terlelap pulas di sampingnya. Doe eyes gelapnya menatap sosok lain dalam kamar itu, sosok yang selalu menemaninya sejak dirinya masih kecil, Junsu. Namja besuara khas itu sedang mempersiapkan baju untuk dikenakannya nanti.

“Yunho akan tertidur sampai pagi karena aku sudah menaburkan bubuk tidur pada tubuhnya. Dia tidak akan mengganggumu kali ini.” Ucap Junsu.

Jaejoong meraih kimononya, memakainya asal sebelum berjalan menghampiri Junsu sedikit tertatih.

“Beruang besar itu menghajarmu sampai seperti ini? Kau yakin masih ingin pergi?” tanya Junsu.

“Aku adalah Jendral perang terhebat selama di akademi Orion, tetapi di sini… tidakkah kau berpikir bahwa aku sangat menyedihkan? Mendesahkan dan menjeritkan namja menyebalkan itu kadang sangat membosankan untukku.” Sahut Jaejoong, “Dimedan perang aku memang jauh lebih unggul darinya, dan memang harus ku akui kalau soal urusan ranjang dia yang jauh lebih hebat.”

“Bukankah kau sendiri yang memilih jalannya? Jadi jangan mengeluh atas apa yang sudah kau lakukan selama ini.” tanya Junsu yang membantu Jaejoong melepaskan kimono tidurnya untuk menggantinya dengan kimono dan baju yang sudah disediakannya sebelumnya.

“Mau bagaimana lagi? Terlalu sayang untuk dilewatkan.” Gumam Jaejoong.

“Ckk…. Kalian sama-sama keras kepala.”

“Siapa yang akan menemaniku?”

“Yoochun dan Changmin.” Jawab Junsu.

“Kau?”

“Apa kau pikir menenangkan anakmu itu semudah membunuh seratus orang?” tanya Junsu.

“Dia seorang Jung. Sayang darah ayahnya sepertinya lebih banyak mengalir dalam dirinya. Kadang mereka terlihat sama.” Jemari lentik itu meraih sebuah pedang perak indah yang berada di atas meja, “Ah… jangan lupa membangunkan Yunho pukul enam pagi. Dia sudah berjanji pada anakku untuk menemaninya memancing.”

Arra….” sahut Junsu.

“Ini akan menjadi malam yang panjang….”

.

.

Api yang menyembur dari mulut Urceolla itu berhasil membinasakan ratusan bangsa carvus yang menghadang lintasan terbangnya. Sayap serupa kelelawar berwarna peraknya itu seolah-olah bercahaya tertempa sinar bulan yang menerangi malam ini. Ah, waktu tengah malam memang membuat bulan terlihat lebih indah dari biasanya.

Jleb!

Jleb!

Jleb!

Anak panah perak itu menancap sempurna pada dada para Carvus yang berhasil selamat dari api Urseolla, membuat mereka memekik kesakitan sebelum akhirnya terjatuh ke daratan dengan luka parah  yang membuat mereka menemui malaikat kematian mereka masing-masing.

Hup!

Sosok cantik itu tiba-tiba melompat dari atas punggung Urceolla dan mendarat di sebuah balkon yang menjorok ke arah semenanjung. Di bawah sana, deburan ombak yang menghantam daratan serupa melodi kematian yang biasanya selalu mengiringi setiap prosesi upacara kematian.

Dilemparnya busur panah dan kantung yang digunakannya untuk menyimpan anak panahnya. Dirinya tidak membutuhkan lagi benda itu mengingat anak panahnya sudah habis untuk mengurus para Carvus.

“Selamat datang pangeran Jaejoong.” Seorang namja tua dengan janggut panjang dan wajah bengisnya  tersenyum menyambut kedatangan namja cantik itu.

“Kau sangat bernafsu menjadikan Yunho menantumu, Pak Tua. Ck…. Tidakkah kau tahu bahwa Jung menyebalkan itu adalah milikku?” tanya Jaejoong, sama sekali tidak memedulikan sambutan yang namja itu berikan padanya.

“Pangeran, kita semua tahu bahwa….”

“Aku bahkan sudah melahirkan anaknya. Dan kenapa kau masih berambisi untuk mengusiknya, hm? Kau tahu artinya bila mengusik milikku, bukan?” tanya Jaejoong santai, “Mati!” ucapnya kemudian.

Usai Jaejoong mengatakan hal itu angin puyuh kecil menerpa balkon indah itu, Seburus sudah berdiri dengan angkuhnya di hadapan Jaejoong dan memasang wajah garangnya. Naga yang pada bagian dadanya terpasang perisai tengkorak yang sebenarnya adalah tulangnya itu menunjukkan taring-taring tajam yang sangat beracunnya.

Jaejoong berjalan pelan, menepuk-nepuk paha Seburus sebelum berjalan menuju lorong sebelah kanan, tempat mangsanya berada, “Seburus…. Kau boleh menelan mereka semua.” Ucapnya saat melihat para prajurit dari arah berlawanan dengan tujuannya. Jaejoong terus melangkahkan kakinya, mengabaikan pekikan dan jeritan yang saling bersahutan memecahkan kesunyian malam ini.

.

.

“Anak pintar.” Puji Jaejoong saat melihat yeoja yang sudah tidak berdaya akibat terinjak kaki kanan Urceolla, “Menjauhlah darinya, dia bagianku sekarang! Bantulah Yoochun dan Changmin yang sedang bertarung melawan para prajurit itu!”

Tanpa diperintah dua kali naga bercula perak itu segera melayang dan terbang, keluar melalui jendela kaca yang sudah hancur membuat kamar berukuran luas itu layaknya sebuah gudang bobrok..

Yeoja berambut panjang yang lengannya berdarah akibat goresan kuku runcing Urceolla itu menatap Jaejoong dengan pandangan nyalang penuh kebencian.

“Kau tahu Ahra? Yunho sangat hebat ketika berada di atas ranjang! Sentuhannya begitu lembut dan memabukkan, ciumannya membuat nalar ikut melayang dan…. Ah, dia sangat jantan dan perkasa.” Chery lips itu melengkung ketika melihat gurat kekecewaan dan kesedihan di wajah sang yeoja.

“Hentikan!” jerit Yeoja itu.

“Jadi berhentilah bermimpi hal yang tidak pernah bisa kau dapatkan!” Jaejoong mengingatkan, doe eyes kelamnya menatap yeoja yang perlahan-lahan bangun itu dengan tatapan tajam penuh kemarahan.

“Kau sakit! Kau kejam!” maki yeoja itu, mengabaikan darah yang mengalir dari lengannya akibat luka yang dideritanya.

“Selama di Orion aku memang tidak diajari untuk bertarung melawan yeoja. Tapi ku rasa kali ini aku tidak keberatan melakukannya mengingat kita menginginkan hal yang sama.” Jaejoong mengeluarkan sebuah pedang dari sarungnya. Baju besi yang dikenakannya terlihat berkilau seperti permata di bawah paparan sinar bulan yang masuk melalui jendela yang dihancurkan oleh Urceolla tadi, “Ambil semua senjata yang kau punya untuk melawanku! Ah, aku lupa… kau bahkan tidak perlu senjata untuk melawanku karena kau sendirilah senjata itu.”

“Bila harus membunuhmu, akan ku lakukan walaupun kepalaku harus dipertaruhkan di tiang gantungan!” Yeoja itu mengepalkan kedua tangannya.

“Bagus!” puji Jaejoong. “Aku suka bila kau menjadi serius seperti itu.” Ucapnya. Perlahan-lahan ditanggalkannya baju besi miliknya, membuat tubuhnya hanya berbalut kimono merah menyala yang sangat indah. Doe eyes kelamnya terus mengawasi yeoja di hadapannya itu dengan kewaspadaan penuh.

“Jung Jaejoong! Kau akan membayar atas apa yang sudah kau lakukan pada keluargaku!” jerit yeoja itu penuh kemarahan.

“Maka aku akan menerima pembalasanmu dengan tangan terbuka.”

“Mati kau Jung Jaejoong!” Go Ahra, yeoja itu menjerit sambil berlari menuju arah Jaejoong, sebuh topeng serupa kepala burung gagak membingkai wajah yeoja itu, sebuah tombak runcing tiba-tiba sudah berada dalam genggamannya.

“Ck…. Carvus memang daebak!” puji Jaejoong yang bersiap menerima serangan pertama dari Ahra.

Tlang!

Gesekan antara permukaan pedang yang Jaejoong genggam dengan batang tombak yang Ahra bawa membuat keduanya menimbulkan sedikit percikan bunga api. Kedua mata mereka saling beradu, mengeluarkan tatapan dendam, benci dan saling membunuh! Yang kalah dalam pertarungan ini bisa dipastikan hanya akan menyisakan jasat tidak bernyawa.

Buk!

Tubuh yeoja itu terhempas membentur lemari kayu yang berada di sudut ruangan, mulutnya memutahkan darah segar, tulang rusuknya terasa nyeri akibat tendangan Jaejoong pada dadanya.

Jung Jaejoong, semua orang mengenal siapa namja berparas cantik itu. Kakak Jung Yunho yang lahir dua hari sebelum kelahiran Yunho, namja yang dilahirkan oleh istri ke-2 mendiang raja terdahulu, namja yang mengikat Jung Yunho dalam belenggunya. Namja cantik yang memiliki hati sedingin es. Jaejoong tidak akan segan melenyapkan siapa saja yang mengusiknya. Berbeda dengan Yunho yang gampang meledak dan meluapkan amarahnya dalam setiap perkataan dan tindak-tanduknya, Jaejoong cenderung jarang bicara dan lebih melakukan aksi nyata. Membunuh para musuhnya dengan tangannya sendiri contohnya.

Dan entah bagaimana caranya sehingga namja seperti itu bisa melahirkan seorang calon raja bagi Cassiopeia. Namja yang sangat dibenci namun juga sangat dipuja dan dicintai oleh Yunho.

“Kau tidak akan mati semudah itu, kan? Kemana kebanggaanmu sebagai salah satu petarung terhebat yang Carvus miliki?” tanya Jaejoong. Doe eyesnya membulat ketika menyadari dari arah belakang sebuah tombak melesat dengan kecepatan tinggi menuju arahnya.

“Terlalu sombong hingga melemahkan konsentrasimu, huh?” sindir Ahra yang perlahan bangun dari keterpurukannya, beberapa kali yeoja itu terbatuk dan memutahkan darah.

Jaejoong tersenyum ketika tombak runcing itu nyaris mengenainya, sebuah tameng besi melindunginya dari tusukan itu, tameng berbentuk menyerupai sayap kelelawar yang sebenarnya adalah sayap milik Seburus. Tombak itu penyok seketika, mata tombaknya retak dan patah akibat berbenturan dengan sayap Seburus yang lebih keras daripada logam titanium.

Menatap yeoja malang itu sambil tersenyum manis, “Sepertinya aku tidak berminat lagi melawanmu. Sebagai salah satu petarung terhebat Carvus, kau mengecewakanku.” Jaejoong berjalan keluar kamar yang sudah berubah menjadi medan pertempuran itu, membiarkan Seburus mengambil alih pekerjaannya.

.

.

“Bakar tempat ini!” perintah Jaejoong sebelum menaiki punggung Urceolla dan terbang tinggi meninggalkan puri di atas tebing yang sudah dibanjiri oleh darah para Carvus dan mayat-mayat mereka.

“Apakah iblis selalu berwajah cantik?” gumam Yoochun yang masih berada di atas punggung kuda beraksanya.

“Hei!” Changmin melirik tajam Yoochun, “Jangan mengatakan anak didikku seperti itu!”

“Anak kecil yang dulunya menggemaskan dan penurut itu sekarang menjadi iblis. Kau gagal mendidiknya, Shim Changmin.”

Namja jangkung itu melemparkan bola api kecil ke arah gorden yang sudah terkoyak itu, membuatnya terbakar, api menjalar dan mulai merambat ke seluruh bangunan megang yang kini nyaris rubuh itu, “Karena sifatnya itulah Jaejoong tidak akan kehilangan haknya sebagai salah satu mewaris tahta Cassiopeia.”

.

.

“Jung Jaejoong! Bagaimana bisa kau membantai keluarga Go seperti itu, huh?” salah satu dari para orang tua berjanggut panjang menggebrak meja panjang itu dengan kasar.

“Kau juga membakar puri mereka.” Tambah seorang tetua yang duduk ujung kanan.

“Lalu ada masalah dengan hal itu?” tanya Jaejoong.

“Jung Jaejoong!”

“Yah Pak Tua! Berhenti membentaknya!” ucap Yunho. Matanya sudah menatap tajam kelima orang tua yang tampak menghela napas berat mereka.

“Apa kau sudah siap dengan konsekuensi yang akan kau terima?”

“Tidak akan ada yang berani menghukumku.” Ucap Jaejoong tenang.

“Tetua! Jangan coba-coba menyentuh Jaejoong!” Changmin sudah menghunuskan pedangnya, namja jangkung itu tidak akan membiarkan orang lain menyakiti Jaejoong. Walaupun kadang kesal dengan sikap Jaejoong tetapi namja cantik itu tetaplah anak didik yang dirawat dan dijaga segenap hatinya, “Langkahi dulu aku!”

Yoochun menepuk-nepuk bahu Changmin pelan, “Jangan buru-buru mengacungkan senjata! Tapi lihatlah arsip rahasia ini!” yoochun meletakkan beberapa gulungan kertas di atas meja, tepat di hadapan para tetua Cassiopeia itu, “Keluarga Go berencana melakukan kudeta dengan membunuh Hyunno, Putra Mahkota Cassiopeia. Melenyapkan Jaejoong dan kita semua yang masih setia mengabdi kepada keluarga mendiang Raja Jung Siwon.”

“Kenapa kalian tidak membicarakan hal ini terlebih dahulu pada kami, huh?”

“Aku kurang suka bicara. Melakukan tindakan nyata lebih penting daripada sekedar bicara.” Sahut Jaejoong. Dilangkahkannya kakinya ke luar dari aula pertemuan itu. Setellah pertarungan melelahkan namun membosankan itu, Jaejoong ingin beristirahat sejenak.

.

.

Napasnya terengah-engah, peluh membasahi sekujur tubuhnya yang dipenuhi oleh lebam dan goresan luka. Kedua mata tajamnya itu menatap penuh amarah sosok cantik yang tengah tersenyum mengejek dirinya, andaikan bisa pastilah Yunho sudah mencekiknya dan membunuh sosok menyebalkan itu. Tetapi tidak… Yunho tidak bisa melakukannya, karena Yunho sangat mencintainya. Kim Jaejoong….

“Menyerahlah Yun!”

“Tidak!” sahut Yunho.

“Ck…. Kau mungkin seorang King, tapi di medan pertempuran seperti ini Jaejoonglah yang King!” ucap Junsu yang berdiri di pinggir area pertarungan sambil menggendong Hyunno yang sibuk menyedot botol susunya.

Tlang!

Jleb!

Pedang Yunho terlempar jauh di belakang tubuhnya sementara pedang berwarna perak lain berhasil menikam lantai tepat di samping kepalanya, membuat mata setajam musangnya membulat.

“Sudah seratus kali aku mengalahkanmu dalam pertarungan.” Namja cantik itu betujar sambil mendudukkan dirinya di atas perut Yunho, mengabaikan lima roh perawan yang melayang-layang di atas mereka sambil melakukan sebuah tarian indah, “Menyerahlah!”

“Tidak!”

“Jangan biarkan aku membunuhmu!”

“Lakukan kalau berani!” tantang Yunho.

“Akan ku lakukan!” ucap Jaejoong dengan ekspresi tenangnya, “Setelah kau menikahiku, pabo!”

.

.

Jaejoong hanya menatap namja tampan itu dengan wajah datarnya, mengamati dan sesekali memberikan kritikan yang dibutuhkannya, “Jung Hyunno! Fokuskan konsentrasimu!” teriaknya memberikan komentar.

Arra Umma.” Sahut namja remaja berusia 15 tahun yang sedang berlatih pedang itu. Peluh sudah membasahi sekujur tubuhnya.

“Jangan terlalu galak padanya, Boo.” Ucap Yunho yang duduk tenang di samping Jaejong.

Sambil mengusap peerut buncitnya namja cantik itu melirik Yunho sekilas, “Hyunno tidak akan bisa menggantikan posisiku sebagai Jendra terhebat di Orion bila kemampuannya separah kemampuanmu!” sindir Jaejoong. Entah kenapa kemampuan bertempur anaknya bisa sepayah Yunho.

“Yah!”

“Dimana tiga orang tua menyebalkan itu?”

“Nugu? Park Yoochun? Shim Changmin dan Kim Junsu?” tanya Yunho yang hanya mendapat anggukan singkat dari Jaejoong, “Ah, mereka sedang menyiapkan semua hal yang diperlukan untuk prosesi persalinanmu nanti.”

Arra.” Sahut Jaejoong, “Yah Jung Hyunno! Ayunkan pedangmu dengan tenaga! Kalau kau tidak mau Umma membuang Kirinmu lakukan lagi dengan benar!” omel Jaejoong.

Arra Umma.” Sahut Hyunno setengah berteriak.

Sepuluh tahun yang lalu Yunho menikahi Jaejoong, kakaknya sendiri. Apaboleh buat? Kutukan itu sudah mengikat keluarga mereka sejak dulu. Jatuh cinta pada saudaranya sendiri, tenggelam ke dalam pusaran memabukkan penuh dosa namun menyenangkan itu benar-benar sangat nikmat!

“Jangan seperti itu Boo.”

“Diam! Bahkan kau tidak pernah bisa mengalahkanku.” Sindir Jaejoong.

“Oh, aku melakukannya sesering aku bisa. Lihatlah! Siapa yang hamil? Kau atau aku?” sahut Yunho.

“Jung Yunhooo! Mati kau!”

Di atas langt Cassiopeia, Urceolla dan Seburus tengah terbang memamerkan keperkasaan mereka bersama Kirin dan naga-naga kecil anak mereka. Kedamaian yang dijaga penuh dengan pengorbanan….

Kebahagiaan yang didapat dengan sebuah usaha….

.

.

END

.

.

Gaje ne? Ga masalah. FF ini untuk Tria yang demen Incest & Naga. Semoga FF gagal ini bisa sedikit menghibur. Well, apabila ada sesuatu yang tidak dipahami di FF ini silahkan ditanyakan akan Yuuki jawab langsung di bawah kolom balasan review :)

Yang nunggu Ancestor, sabar ya, biarkan AKTF end dulu. Yuuki ga mau punya banyak hutang epep soalnya :D

Yang sening besok UN, semangat ya! Semoga mendapatkan yang terbaik dan jalannya diperlancar Tuhan.

.

.

Saturday, April 12, 2014

9:20:57 PM

NaraYuuki