Untuk Mantan

NaraYuuki

Bukan salahmu mantan,

Salahku yang terlalu perasa.

Bukan salahmu mantan,

Salahku yang kurang dewasa.

Bukan salahmu mantan,

Salahku yang terlalu kekanakan.

Bukan salahmu mantan,

Salahku yang menyemat kecewa.

Bukan salahmu mantan,

Salahku yang datang belakangan.

Bukan salahmu mantan,

Salahku yang merasakan radang.

Bukan salahmu mantan,

Sungguh bukan salahmu.

Salahkulah…

Salahkulah yang membiarkan hatiku merana karenamu.

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

Saturday, Desember 20, 2014

03.30 PM

NaraYuuki

Fairyland II

Tittle                : Fairyland II

Author              : NaraYuuki

Betta Reader     : Hyeri

Genre               : Yang jelas fantasy gagal, angst dikit

Rate                 : T – M

Cast                 : All Member DBSK

Disclaimer:       : They are not mine  but this story and Jung Hyunno are mine, NaraYuuki

Warning           : This is YunJae Fan Fiction (Boys Love), M-Preg. Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut. Paragraf/ dialog yang penulisannya menggunakan Blod, Italic ataupun under line berarti itu adalah kejadian dimasa lampau (flash back), TANPA EDIT.

.

.

Baca FF Fantasy Yuuki harus pelan-pelan, biar ga bingung!

FF Fantasy Yuuki tidak terikat dengan kebudayaan manapun jadi silahkan bebaskan imajinasi masing-masing ketika membacanya.

.

.

.

Baca Warningnya dulu, ne!

.

.

Untuk Metha Chagy, hope you like it :)

.

FairyLand

.

 “Kau mengerti posisimu sekarang, kan? Siapa kau dan apa kedudukanmu. Kau harus mengingatnya baik-baik! Karena mulai sekarang kau tidak akan ku ijinkan lagi keluar dari istana ini!”

Pemilik kulit pucat itu menulikan telinganya, memilih menimang bayi mungil yang tengah memasang wajah menggemaskannya, tersenyum ceria hingga gigi susunya terlihat.

“Pernah sekali saja kau mendengarkan apa yang ‘suami’mu ini sampaikan Kim Jaejoong?”

“Pernahkah sekali saja hamba membangkang titahmu, Yang Mulia?” suara lembut itu mengalun perlahan. “Ketika anda menyeret paksa hamba ke ke istana, ketika anda menikahi hamba secara paksa, ketika anda memaksa hamba melayani anda meskipun hamba sudah memohon jangan… pernahkah sekali saja hamba tidak melakukan apa yang anda kehendaki walaupun hamba tidak menyukainya?” cara bicaranya yang terdengar formal dan sopan itu sebenarnya ditujukannya untuk menyindir pria yang sedang berdiri penuh amarah didekatnya. Tangannya terjulur untuk mengambil botol susu yang berada di atas meja di samping kursi goyang yang sedang didudukinya, didekatkannya botol susu itu pada bibir mungil merah yang entah sejak kapan sudah terlihat sedikit merengut.

“Haruskah aku menanggalkan sayapmu agar kau tidak berkeliaran lagi?”

“Silahkan saja. Hamba tidak akan melawan… lagi pula bukankah sekarang hamba pun sudah tidak bisa ‘berkeliaran’ karena anda sudah memasung hamba?” Kaki kanannya bergerak, menimbulkan bunyi gemerincing dari rantai perak panjang yang diikatkan pada pergelangan kakinya.

“Hyung….” Yoochun menarik lengan Yunho ketika merasakan raja kaumnya itu mulai tersulut emosi. Ditanah fairy, kemarahan seorang raja bisa berpengaruh pada lingkungan dan cuaca, karena itu Yoochun mencoba mencegah Yunho menumpahkan amarahnya yang jelas tidak akan berdampak baik untuk dirinya dan orang lain.

“Tinggalkan kami!” perintah Yunho.

“Hyung….”

“Perintahkan Changmin untuk memperketat penjagaan di depan pintu gerbang dimensi!” Yunho menatap serius Yoochun, “Walaupun orang itu sudah tidak punya sayap untuk kembali lagi kemari, bukan berarti pintu gerbang tidak bisa diterobos dari luar. Masih ada beberapa mahluk pra sejarah yang sudah sangat tua yang mampu mendobraknya dari luar. Pastikan penjagaan di sana diperkuat!”

Yoochun melirik sekilas sosok yang sedang menimang bayinya di atas kursi goyang itu sebelum mengangguk pada Yunho dan pergi.

Melalui mata setajam musangnya yang tegas, Yunho memandang sendu sosok menawan yang sedang memberikan susu pada anaknya, darah dagingnya yang kelak akan menggantikan dirinya memimpin kerajaan fairy jika dirinya meninggal nanti. “Rambutmu sudah sangat panjang, kau terlihat seperti perempuan….” ucapnya dengan suara melembut, “Bukankah kau tidak suka terlihat seperti perempuan?”

“Yihan hyung menyukai rambut panjang hamba, karena itu hamba memanjangkannya sampai sekarang.” mata bulat bening nan indah itu menatap sendu Yunho yang tengah mengepalkan kedua tangannya, wajah tampan sang raja fairy yang terlihat tegang itu membuat bibir merah Jaejoong tersenyum tipis, “Anda boleh memotongnya bila tidak menyukai alasan yang membuat hamba memanjangkannya. Hamba tidak keberatan bila anda yang memotongnya.”

Tok… tok… tok…

Pintu berwarna coklat tanah yang di atas permukaannya terukir indah tanaman menjalar berdaun bintang itu tebuka menampilkan sosok Junsu yang tersenyum ramah pada Yunho dan Jaejoong, “Aku datang menjemput pangeran kecil untuk dimandikan.” ucapnya tanpa mengendurkan senyum dari wajahnya.

“Hyunno baru saja tidur.” ucap Jaejoong, “Istirahat saja, biar nanti aku yang memandikannya.”

“Kalau begitu biar ku bawa pangeran kecil ke kamarnya.” Junsu menawarkan jasanya, “Sepertinya kalian masih ingin bicara….” Junsu berjalan dengan cepat menuju Jaejoong.

“Beri tahu aku bila Hyunno bangun!” pinta Jaejoong. Dengan sedikit enggan diberikannya bayi mungilnya yang sudah terlelap namun bibir mungilnya masih menghisap susu dari botolnya dengan lahap itu pada Junsu.

Hyunno menggeliat resah ketika berpindah dari pelukan ibunya pada Junsu, tetapi bayi tampan itu sama sekali tidak membuka matanya walaupun bibir merah kecilnya yang terus menghisap susu dari botolnya terlihat merengut.

“Berat badannya pasti naik, lihatlah pipinya yang gempal (chuby) ini….” gumam Junsu tanpa bisa menyembunyikan perasaan gemasnya. Sambil terus melontarkan pujian gemas pada bayi yang kini berada dalam rengkuhannya, Junsu pergi meninggalkan Yunho dan Jaejoong berdua saja di kamar mereka.

Blam!

Pintu itu tertutup sempurna, menyisakan keheningan di dalam ruangan hangat namun terasa dingin dan muram.

Jemari pucat itu meraih sebuah belati perak dari atas meja, belati yang menyerupai sehelai bulu angsa. Melangkah pelan dan ringan menuju sosok yang beberapa centi lebih tinggi darinya, menatap sendu wajah tampan yang dihiasi bibir berbentuk hati dan mata setajam mata musang itu sesaat sebelum meraih tangan kanan sosok gagah itu dan menyerahkan belati yang tadi diambilnya, “Potonglah! Bukankah anda sangat ingin menghapus jejak Yihan hyung?” ucapnya yang kemudian berbalik dan membelakangi sosok yang sudah membuatnya memiliki seorang putra, putra yang sangat tidak diharapkannya namun sangat berharga lebih dari apapun yang dimilikinya didunia ini.

Tidak ada yang bergerak selama beberapa detik lamanya. Yunho masih menggenggam erat belati perak yang berada di tangannya, Jaejoong masih membelakangi Yunho sambil menatap hampa langit biru dari jendela kaca besar di hadapannya, pasti menyenangkan sekali bila bisa terbang dan berlarian di atas awan dengan bebas. Dan Jaejoong tahu diri bahwa hal itu tidak mungkin bisa ia lakukan lagi, tidak dengan rantai yang membelenggu pergelangan kakinya, tidak dengan statusnya sekarang. Kebebasan itu bagaikan sebuah kutukan menyenangkan yang begitu didambanya namun tidak akan pernah ia dapatkan lagi.

Helaian panjang itu berkilauan dimata Yunho. Terlihat begitu halus dan lembut. Bagaimana rasanya bila jemarinya memainkan helaian panjang nan indah itu? Apakah terasa menyenangkan dan menggembirakan? Ataukah membuatnya bertambah nelangsa dan marah mengingat rambut indah itu dipanjangkan bukan untuk menyenangkannya melainkan untuk mengingatkan pemiliknya pada pria lain yang sangat Yunho benci. Mengeratkan belati perak hingga menggores telapak tangannya, setitik darah menetes membasahi karpet beludru berwarna maroon di bawahnya, mata setajam Yunho tampak berkilat. Sekali sabet hingga helaian panjang lagi indah itu berguguran dan berceceran di atas karet beludru, membuatnya terlihat seperti genangan air yang berkilauan. Jemari panjang Yunho meraih gunting untuk merapikan potongan rambut ‘ratu’ yang sangat dicintainya namun juga menolaknya dengan semua sikap dan kediamannya.

“Berbaliklah!” perintah Yunho ketika jemarinya selesai memangkas rambut indah ‘istri’nya. Yunho benci melihatnya, Yunho benci melihat wajah cantik itu dialiri air mata, Yunho benci melihat mata indah itu basah oleh air mata brengsek yang ingin dihapusnya. Sedikit ragu namun pada akhirnya direngkuhnya juga tubuh itu erat. Yunho dapat mendengar isakan teredam tetapi memilih bungkam. Yunho membiarkan Jaejoongnya menangis kali ini sebelum menggantinya dengan kebahagiaan –meskipun hanya kebahagiaan semu belaka.

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

Sedikit kasar Hyunno menghapus air mata kurang ajar yang mengalir membasahi wajah tampannya. Pemuda yang genap berusia 17 tahun itu mengigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga nyaris berdarah ketika isakan itu mendesak untuk keluar.

“Hiks…. Hiks….”

“Tidak ada yang perlu kau tangisi Little Bear….” Telapak tangan yang kokoh itu mengusap-usap kepala Hyunno perlahan seolah-olah berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja.

“Ibu tidak pernah mencintai ayah….” ucap Hyunno disela isakannya, “Bagaimana selama ini ayah bisa hidup bersama orang yang tidak pernah mencintainya?”

“Yang terlihat belum tentu sama dengan kenyataan yang sebenarnya, Little Bear. Kadang kenyatannya tersembunyi di dalam lumpur paling kotor.”

“Changmin Ahjushi….”

Pria jangkung yang masih terlihat muda itu berusaha tersenyum walau matanya sudah nanar, “Karena kau adalah harta paling berharga bagi ayah dan ibumu sehingga mereka bisa bertahan.”

“Aku takut, Ahjushi.” ucap Hyunno, “Aku takut bila kabar angin yang mengatakan ibu lari dari ayah demi hidup bersama laki-laki lain itu benar, aku takut pada kenyataan yang akan mengatakan padaku bahwa ibu mencampakan aku dan ayah demi laki-laki hina itu sebuah kebenaran menyakitkan. Aku benar-benar takut, Ahjushi….”

“Bukankah kau sudah menyiapkan diri untuk menghadapinya, hm? Sekarang ketika kenyataan itu sudah berada ditanganmu kau ingin kabur tanpa mengetahuinya hingga akhir? Bukankah ayahmu tidak pernah mengajarimu untuk menjadi seorang pengecut?”

“Apakah ibu tidak pernah mencintai ayah? Sedikit saja tidak pernah?”

“Bukan soal cinta atau tidak, tapi soal lain yang tidak akan pernah bisa kita pahami karena kita tidak terlibat didalam hubungan ayah dan ibumu. Kau adalah anak mereka sehingga harusnya kau lebih memhami orang tuamu lebih daripada orang lain.” ucap Changmin, “Aku harus patroli lagi. Kalau kau butuh sesuatu carilah Yoochun atau Junsu.” pemilik sayap putih kemerahan seperti nyala api itu beranjak pergi meninggalkan Hyunno dengan semua pergolakan batin yang dihadapinya.

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

“Dia sudah melihatnya?” tanya Junsu dengan wajah cemas ketika Changmin baru saja menutup pintu kamar Hyunno, tempatnya berada beberapa detik yang lalu.

“Hampir.” jawab Changmin.

“Haruskah aku mulai membuat segel disekitar sini?” tanya Yoochun dengan wajah murungnya.

Changmin mengangguk pelan, “Ku rasa itu lebih baik. Mengantisipasi kemungkinan terburuk. Dia mungkin saja akan mengamuk dan menuntut balas tetapi… pada siapa dia akan menuntut bila orang itu sudah tidak ada di jagad raya ini.” keluhnya. “Aku akan berpatroli dulu, lebih baik kalian tetap di sini untuk berjaga-jaga.”

Junsu dan Yoochun hanya bisa menatap corak kemerahan serupa nyala api dari sayap Changmin yang perlahan menjauh.

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

Dengan tangan bergetar dan bibir yang terus mengeluarkan isakan ditambah air mata yang mengalir dari sepasang mata indah berbingkai kelopak mata setajam mata musang itu, Hyunno kembali membuka lembar buku usang yang merupakan peninggalan terakhir ayahnya. Walaupun takut dan enggan tetapi bila tidak segera dibukanya hingga akhir, Hyunno bisa menjamin dirinya akan penasaran seumur hidupnya. Penasaran tentang misteri menghilangnya sang ibu dari sisinya, misteri kenapa ayahnya kerap jatuh sakit padahal fairy seperti mereka tidak bisa merasakan sakit bahkan ketika ajal menjemput mereka.

“Ah….” Hyunno memekik tertahan seiring semakin derasnya air mata yang mengalir membasahi wajah tampannya.

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

“Bukankah sekarang sudah lebih dari dua puluh tahun waktu berlalu di dimensi manusia?” tanya Yunho, “Apakah tidak ada pergerakan mencurigakan yang terjadi di dekat pintu gerbang dimensi?”

“Kemarin ada suara gemuruh yang terdengar dari balik pintu gerbang dimensi yang berada di tanah manusia.” jawab Changmin. “Ketika aku mengirim beberapa orang untuk mengeceknya, mereka melaporkan ada kerusakan parah di lahan dekat pintu dimensi yang berada di tanah manusia. Safana dan hutan terbakar, ketika mereka melihat lebih dekat bekas terbakar itu mereka menemukan nyala kecil api berwarna biru keunguan.”

Yunho menatap tajam Changmin.

“Kau yakin apinya berwarna biru keunguan?” tanya Yoochun dengan wajah serius.

“Ya, karena begitu anak buahku kembali untuk melaporkannya padaku aku segera melihatnya dengan mata kepalaku sendiri untuk memastikan kebenarannya. Api itu berwarna biru keunguan sebelum ku padamkan dengan air dari sungai kehidupan yang ada di tanah Fairy.” jawab Changmin.

“Bukankah, hanya satu mahluk saja yang bisa menghasilkan warna api seperti itu?” tanya Junsu serupa gumaman.

Changmin mengangguk pelan, “Bura….” ucapnya membuat Yoochun dan Junsu menunjukkan wajah ngerinya.

Bura adalah mahluk setengah manusia setengah naga. Tubuhnya memang tubuh manusia tetapi kulitnya bersisik seperti naga, memiliki tanduk tajam seperti naga, tidak hanya itu saja, jemarinya pun serupa jemari naga yang runcing lagi berbisa, memiliki taring dan racun yang berbahaya serta sayap bersisik berbentuk seperti sayap kelelawar. Bura hidup di lembah kematian, tempat yang lembab berkabut yang dipenuhi oleh binatang dan mahluk-mahluk kegelapan yang dikutuk alam semesta.

“Bura adalah mahluk yang tidak pernah mencampuri urusan Fairy hingga sekarang, lalu kenapa dia membakar lahan yang berada di dekat pintu dimensi?” tanya Junsu entah pada siapa. “Bukankah dia memilih tinggal di tanah manusia ketika raja Fairy terdahulu menawarinya tempat tinggal?” gumamnya.

Yunho tidak menyahut, matanya fokus menatap sosok cantik yang sedang mengajari putranya berjalan, bayi Fairy biasanya sudah bisa berjalan walaupun dengan tertatih pada usia 3 bulan setelah kelahirannya. Yunho mentap sendu rantai perak yang membelenggu pergelangan indah itu, “Mahluk pra sejarah seperti Bura pun bisa ikut campur dalam urusan yang bukan menjadi bagiannya bila terhasut oleh kebencian dan kendengkian yang menjadi makanannya. Setua apapun usia seseorang belum tentu kebijaksanaan menyertainya dalam perjalanan hidupnya.” ucap Yunho yang mendatangkan tatapan bingung dari ketiga sahabat sekaligus saudara dan tangan kanan kepercayaannya itu, “Siapkan pasukan kalian! Karena sepertinya sebentar lagi tanah Fairy akan dihujani oleh darah para penghianat.”

“Perang?” mata Junsu membulat.

“Salahku yang terlalu egois… tetapi aku tidak mungkin menyerahkan apa yang sudah menjadi milikku pada orang lain.” ucap Yunho.

“Bagaimana dengan Joongie?” tanya Yoochun, saudara sepupu Jaejoong itu menatap sedih sosok cantik yang sedang tertawa bersama putra kecilnya yang berusaha menggapai kupu-kupu yang terbang didekat kepalanya.

“Apakah Jin Yihan terlibat?” tanya Junsu lagi.

Enggan membuka suaranya, Yunho memilih diam sambil menatap penuh damba wajah cantik ‘istri’nya.

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

Gemerincing suara rantai yang terputus itu memenuhi ruangan ketika Yunho dengan sengaja mematahkan rantai yang ia ikat sendiri untuk membelenggu ratunya. Mendatangkan tatapan penuh keheranan dari pemilik mata sebening mutiara rusa betina itu. “Yang Mulia….”

“Kau bukan budakku, berhenti memanggilku ‘Yang Mulia’! Berhenti menyebut dirimu sendiri ‘hamba’ karena kau adalah ‘istri’ku bukan pelayan ataupun budakku!” perintah Yunho. “Aku tahu selama ini aku sudah bersikap egois padamu, aku tahu kau menderita selama bersamaku. Karena itu aku memberimu pilihan… pergilah! Cari kebebasanmu sendiri! Pergilah kemanapun kau mau asal jangan kembali kesisi Jin Yihan!” Yunho menelan ludahnya susah payah seolah didalam kerongkongannya tersemat duri tajam yang menyakitkan ketika dirinya berbicara.

Jaejoong tersenyum, berdiri dari duduknya lantas memeluk erat suaminya, mendatangkan sengatan keterkejutan luar biasa pada diri Yunho.

Jemari lentik yang memeluk tubuhnya, mendekap punggungnya, napas hangat yang menerpa kulit lehernya ketika wajah cantik itu dibenamkan pada lekuk leher jenjangnya membuat tubuh Yunho tegang akibat sengatan kejut yang mendadak.

“Aku tidak akan meninggalkanmu, Yun…. Bahkan jika Yihan hyung memohon dan berlutut padaku untuk kembali padanya. Aku tetap tidak akan meninggalkanmu….”

Suara lembut itu mengalun perlahan, mendatangkan kelegaan luar biasa pada Yunho, membuat tubuh tegangnya melemas seketika hingga tanpa disadarinya tangannya bergerak merengkuh tubuh yang tengah memeluknya itu sangat erat.

Dengan perlahan Jaejoong melepaskan diri dari Yunho, menggenggam kuat-kuat telapak tangan Yunho sebelum diusapkan di atas permukaan perutnya, “Ku harap kau tidak keberatan memiliki seorang anak lagi.” ucapnya. Membuat Yunho ternganga.

Ayah Jung Hyunno itu merasakan ledakan kebahagiaan yang tidak bisa dijelaskannya tengah merambat kesekujur pembulu darah dalam tubuhnya perlahan-lahan.

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

Duarr!

Ledakan itu membuat beberapa Fairy terkapar dengan sayap yang terbakar api berwarna biru keunguan. Jerit pilu dan kesakitan menggelegar malam itu membuat nyaris seluruh penghuni tanah Fairy terjaga dari tidur damai mereka. Berbondong-bondong prajurit Fairy dibawah pimpinan Changmin terbang menuju pintu gerbang dimensi berada karena dari sanalah suara ledakan yang memekakan telinga itu berasal.

Yoochun beserta pasukan yang dipimpinnya bersiap pada garis kedua. Fairy dengan warna sayap bercorak kebiruan itu menatap hampa langit di ufuk barat, disana terlihat ribuan sosok Bura bersayap kelelawar sedang bertempur dengan pasukan Fairy yang Changmin pimpin. Terlihat berkilauan seperti kerlip bintang.

“Bantu Changmin!” perintah Yunho yang berdiri di samping kanan Yoochun.

“Tapi….” keraguan tergambar jelas pada wajah Yoochun.

“Garis pertahanan ini biar aku yang menjaga.” ucap Yunho, “Karena aku tahu, akulah yang mereka inginkan sebgai tebusan.”

Yoochun mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat sebelum terbang melesat menuju barat diikuti pasukannya yang berjumlah ratusan.

“Aku mencintai kalian….” Yunho memejamkan matanya, membayangkan wajah cantik istri dan anaknya sebelum membuka mata setajam musang itu sambil mencabut pedangnya dari sarungnya, “Selamat datang kembali di tanah Fairy, wahai engkau yang terbuang….”

Yihan tersenyum dingin. Wajah pria berkulit kecolatan itu sedit tirus, terliha lebih tua dari terakhir kali Yunho bertemu dengannya dua buan lalu –waktu di tanah Fairy, atau bisa dikatakan dua puluh tahun yang lalu waktu di tanah para manusia berada.

“Aku akan membunuhmu, Yang Mulia! Akan ku bunuh kau dan bayi brengsekmu agar Joongie kembali padaku!” desisnya.

“Aku akan menyambutmu dengan balasan setimpal!” ucap Yunho yang secepat kilat melesat, menyambut ayunan pedang Yihan.          

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

Balita yang baru berusia tiga bulan itu menangis kencang dalam pelukan Junsu ketika hendak ditenangkan, tangan dan kakinya bergerak-gerak gelisah seolah takut pada sesuatu. Junsu pun nyaris ikut menangis ketika melihat balita yang diasuhnya itu semakin histeris.

“Aigoo Hyunno ya… berhenti mennangis, chagy….” ucap Junsu dengan sekujur badan bergetar ketika menidurkan Hyunno di atas tempat tidurnya.

Brak!

“Omo!” Junsu terlonjak kaget ketika pintu kamar sang pangeran didobrak dari luar, “Jaejoongie… kau mengagetkanku!” keluh Junsu sambil memegangi dadanya.

Bibir semerah darah itu tersenyum simpul, “Uri Hyunno rewel, eoh? Bagaimana kalau jalan-jalan dengan ibu, hm?” lengan pucat itu terjulur untuk mengangkat putranya dari pembaringan, mendekapnya erat, mengusap punggung dan kepalanya perlahan-lahan agar putra tampannya itu berhenti menangis.

“Ku rasa jalan-jalan tengah malam seperti ini tidak akan baik untukmu dan pangeran kecil, Joongie.” ucap Junsu ketika Jaejoong tetap membawa keluar Hyunno, menyusuri lorong yang remang-remang dan sepi.

“Ayah tidak akan apa-apa, ayah akan baik-baik saja….” bisik Jaejoong ketika putranya masih terisak walaupun tangisannya tidak lagi sekencang tadi.

“Joongie, ku mohon….” pinta Junsu.

Duar!

Langkah Jaejoong dan Junsu terhenti sesaat, keduanya menatap ke arah barat dimana asal suara ledakan itu berasal, ledakan keras yang berhasil membuat jendela di sisi kiri mereka bergetar.

“Tidak apa-apa, Unno akan aman bersama ibu.” bisik Jaejoong pada putranya, sosok berparas cantik itu kembali melanjutkan langkah kakinya, “Ibu akan menjaga Unno.”

“Joongie….” Panggil Junsu, “Katakan padaku kau mau kemana, huh? Yunho memintaku untuk menjaga kalian, kalian harus berada di istana!”

“Berapa banyak penjaga yang menjaga istana sekarang?” tanya Jaejoong yang berjalan menuruni tangga menuju bawah dengan langkah cepat dan ringan.

“Penjaga? Ku kira sekitar lima ratus karena Yunho memerintahkan penjagaan di istana dilipat gandakan.” jawab Junsu.

“Kalau begitu suruh mereka semua membantu Changmin dan Yoochun hyung!” perintah Jaejoong.

“Mwo?!” mata Junsu membulat.

“Mereka lebih membutuhkan bantuan daripada kita. Aku yakin kita akan baik-baik saja.” ucap Jaejoong yang kemudian berjalan menikung ke arah kanan tempat pintu samping di sayap kanan istana berada.

“Tapi….”

“Lakukan perintahku!” pinta Jaejoong, “Bagaimanapun juga aku tetaplah seorang ratu yang bisa memberikan perintah ketika raja tidak berada di istana.”

“Joongie….”

“Percaya padaku. Semua akan baik-baik saja.” Jaejoong tersenyum begitu mencapai mulut pintu.

“Ku harap kau tahu apa yang akan kau lakukan!” Secepat kilat Junsu melesat terbang mendobrak pintu.

Jaejoong menatap nanar wajah putranya yang terlihat sedikit sembab, mencium kening, kedua pipi gempal dan puncak kepala putranya berulang-ulang, “Ibu akan melindungimu apapun yang terjadi!” ucapnya. Sayap keperakan yang memedarkan warna pelangi itu terkepak, membuatnya melayang beberapa centi dari permukaan tanah sebelum terbang menuju ke arah selatan dimana terdapat sebuah menara berwarna merah bata tampak menjulang tinggi.

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

Jaejoong tersenyum begitu sampai di depan menara setinggi seratus meter yang menjulang tinggi itu. Mengingat kenangan masa mudanya sebelum menduduki posisi sebagai ratu fairy mendampingi Yunho. Dulu bersama Jin Yihan, Jaejoong adalah seorang penggembala naga. Naga-naga yang digembalakannya adalah naga tipe petarung yang biasanya digunakan sebagai tunggangan ataupun partner bagi para prajurit fairy. Kelahiran bayi naga atau menetasnya telur naga terjadi selama seratus tahun sekali karena itulah populasi naga di tanah fairy sangat sedikit. Dan diantara jenis-jenis naga yang pergah digembalakannya terdapat dua jenis naga yang merupakan satu-satunya yang tersisa dari spesiesnya yang berada di tanah fairy, Urceolla dan Seburus.

Pintu menara setinggi dua puluh meter itu terbuka, menunjukkan sesosok berwarna putih keperakan dengan corak garis hitam disekujur tubuhnya, mata biru beningnya menatap tajam Jaejoong, taring panjangnya yang mampu mengoyak baja itu mencuat keluar, terlihat sangat runcing dan tajam.

“Hai Thunder… dimana mereka?” tanya Jaejoong yang berjalan begitu saja melewati harimau putih setinggi dua meter lebih itu.

Berjalan lebih dalam Jaejoong bisa melihat sosok setinggi lebih dari lima meter tengah merentangkan sayap perak berkilauannya, ada tanduk menyerupai mahkota yang tumbuh di atas kepalanya serta sebuah cula perak yang yang menjadi ciri khasnya, naga bercula perak, Urceolla. Menoleh ke arah samping Urceolla, Jaejoong bisa melihat sosok gagah berwarna dark grey mengkilat dengan rentangan sayap dan sisik serupa besi, pada wajahnya terdapat sebuah topeng baja yang sebenarnya adalah tulang yang menembus kulit dan berfungsi sebagai pelindung, pada bagian dadanya terdapat lempengan besi yang berfungsi sebagai tameng yang sebenarnya juga merupakan tulang yang mencuat membentuk perisai kuat yang mampu menahan jenis senjata tajam model apapun. Dialah naga besi, naga Seburus yang kuat.

Kedua sayap naga itu mengepak-kepak, membuat angin puyuh di dalam menara kokoh itu sebelum Jaejoong meminta kedua naga itu untuk tenang. Jaejoong tersenyum ketika Thunder, si harimau putih besar itu menidurkan dirinya di antara Seburus dan Urceolla.

“Kalian pasti tahu bahwa sekarang tanah fairy sedang dalam keadaan genting, karena itu aku meminta bantuan kalian.” Jaejoong menidurkan Hyunno yang sudah terlelap di atas perut Thunder, “Kecuali ayahnya, pengasuhnya dan kedua pamannya, siapapun yang mencoba mengambilnya dari kalian, ku ijinkan kalian menghabisinya.” ucap Jaejoong. Diusapnya kepala Thunder, kaki depan Urceolla dan Seburus secara bergantian sebelum meciumi wajah tampan putranya.

Jaejoong memejamkan matanya sesaat, membiarkan air mata itu turun membasahi wajah cantiknya, “Jaga dia untukku….” pintanya sebelum mengepakkan sayap indahnya dan melesat pergi diiringi auman Thunder serta geraman Urceolla dan Seburus yang seolah-olah menahan kepergian Jaejoong.

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

“Uhuk!” Yunho memuntahkan darah segar ketika Yihan memukul dadanya. Ada sebuah nyala api berwarna biru keunguan yang membakar baju yang dikenakannya pada bagian dadanya membuat raja fairy itu menyerngit kesakitan.

“Pemimpin Bura sudah ku bunuh dan ku minum darahnya, jadi jangan heran bila aku pun memiliki kemampuan unik mereka, menghasilkan api neraka yang akan membakar apapun yang disentuhnya.” pria itu tertawa terbahak-bahak ketika melihat darah yang Yunho muntahkan semakin banyak.

Yunho berdiri dengan angkuhnya, mengoyak baju yang ia kenakan lantas membuangnya begitu saja, membuat nyala api kebiruan itu membakar rerumputan didekatnya. Yunho memejamkan matanya sesaat ketika nyeri itu menghujam dadanya, kulitnya sedikit melepuh akibat api berwarna biru keungungan itu, “Kau monster!”

“Kau yang membuatku seperti ini!” tuding Yihan sengit, “Karena itulah kau pantas mati!”

Yunho merasakan tubuhnya melemas, bahkan untuk menggerakkan sejengkal kakinya pun dirinya tidak sanggup, efek api biru yang sempat membakarnya tadi mulai berpengaruh rupanya. Yunho tersenyum bodoh, inikah takdirnya? Mati ditangan pria yang sangat mendamba istrinya? Yunho memejamkan kelopak matanya ketika melihat Yihan menghunuskan pedang ke arahnya, bersiap menusuknya.

Jleb!

Tubuh Yunho membatu.

Tubuh Yihan mengejang, air mata mengalir dari sepasang mata sayunya.

Sayap perak yang berkilauan serupa pelangi tengah malam itu terkena cipratan cairan kemerahan berbau khas, darah.

“Joongie!” jerit Yihan ketika melihat pedang miliknya yang seharusnya menembus jantung Yunho itu justru tertancap pada punggung sosok yang sangat dicintainya.

Mata Yunho membulat ketika melihat wajah pucat istrinya tersenyum manis padanya.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Jaejoong dengan suara pelannya.

“Jae….” Yunho menahan tubuh ‘istri’nya yang melorot jatuh.

“Syukurlah kau tidak apa-apa.” ucap Jaejoong terdengar sangat lirih, “Uri Hyunno berada dalam perlindungan Thunder sekarang. Jemput dia bila semua kekacauan ini sudah selesai kau bereskan.”

“Jangan bicara lagi! Ku mohon jangan bicara lagi!” pinta Yunho, air mata tidak diundang itu mengalir begitu saja membasahi wajah tampannya.

Jaejoong tidak mengendurkan senyumannya, dengan jemari bergetar diusapnya rahang tegas lagi tampan milik Yunho perlahan-lahan, “Setidaknya salah satu dari kita harus bertahan hidup untuk mengajarkan arti kehidupan pada uri Hyunno.”

“Tidak! Hyunno membutuhkanmu, kau ibunya….” tanpa malu-malu Yunho menangis, mendekap erat tubuh ‘istri’nya yang dirasakannya mulai melemas, warna sayap indahnya mulai memudar menjadi abu-abu pucat.

“Maafkan aku sudah menyusahkanmu.”

“Jangan bicara lagi! Ku mohon….” isak Yunho ketika merasakan tubuh ‘istri’nya mulai mendingin.

“Saranghae….” bisiknya sebelum mata seindah mutiara rusa betina itu kehilangan cahaya hidupnya dan tertutup perlahan-lahan.

“Tidak! Tidak! Jae! Ku mohon! Ku mohon jangan tidur! Kita harus menjemput Hyunno! Kim Jaejoong, aku tidak mengijinkanmu tidur! Cepat bangun! Bangun kataku!” dengan kalap Yunho menguncang-guncang tubuh lemas ‘istri’ cantiknya, memanggil-manggil namanya seperti petir yang menggelegar pada musim kemarau diiringi gerimis yang perlahan turun walaupun tidak ada awan mendung menghiasi langit malam ini.

“Joongie….” Yoochun yang baru datang nyaris terjungkal melihat pedang panjang itu menancap pada punggung sepupunya, dengan kemarahan luar biasa ditariknya pedangnya sendiri untuk menebas punggung pria yang sedang meringkuk sambil menangis histeris di dekat Yunho yang sedang memeluk tubuh sepupunya.

Srasssshhhh!

Darah berwarna kehijauan serupa lumut itu terciprat sampai wajah Yoochun diiringi raung kesakitan Yihan.

“Kau, pantas mati!” desisi Yoochun, tangannya terkepal dan sekali kibas sebuah jarum es sebesar paha orang dewasa menembus jantung mahluk yang dulunya juga seorang fairy itu, menyebabkan reruumputan dihujani cairan hijau kental yang mematikan akibat racun yang terkandung didalamnya. Yoochun terduduk, menangis pilu melihat kenyataan yang baru saja dilihatnya dengan mata kepalanya sendiri.

Kepergian sang ratu Fairy….

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

Junsu hanya bisa mengigit bibirnya ketika mendengar suara raungan penuh kemarahan dan kesedihan yang berasal dari kamar Hyunno. Suara benda-benda terbanting dan angin kencang yang menerpanya walaupun pintu itu masih tertutup rapat. Junsu menoleh ke arah ‘suami’nya ketika pria berkulit pucat itu mulai terbatuk-batuk akibat kelelahan dan kewalahan yang menyerangnya secara bertubi-tubi.

“Entah sampai kapan aku bisa menahan semua ini! Tenaga Hyunno sangat besar, lebih besar daripada yang Yunho hyung punya.” keluh Yoochun ketika keringat mulai membasahi sekujur tubuhnya.

“Hyunno ya….” Junsu memanggil nama sang raja, “Kau tahu semua itu sudah terjadi, hm? Tidak apa-apa bila kau merasa marah atas apa yang terjadi dimasa lalu, tetapi ingatlah bahwa sekarang kau seorang raja. Emosimu yang tidak stabil akan berpengaruh pada cuaca Fairy….”

Beberapa detik usai Junsu berkata seperti itu, keheningan tercipta di sana. Hanya sesekali dari dalam kamar terdengar suara isakan lirih.

“Ketika kau sudah siap nanti, aku dan kedua pamanmu bersedia mengantarmu menemui ibumu. Tetapi sebelum itu kau harus menenangkan dirimu dulu….” lirih Junsu serupa gumaman.

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

Matanya nanar ketika berdiri di depan pintu setinggi lebih dari dua puluh meter milik menara tinggi berwarna merah bata itu. Memang dulu dirinya pernah berada di sini selama beberapa saat, tetapi itu dulu. Dulu bahkan ketika dirinya belum bisa berjalan dan mengingat.

Brak!

Sesosok tinggi besar menubruknya hingga jatuh terjengkang, senyum menghiasi wajah tampannya ketika benda kenyal lunak berair yang terasa sedikit kasar itu menyapu wajahnya.

“Thunder….” gumamnya sambil mengelus leher harimau putih besar itu dengan sayang.

Dak!

Dak!

Tanah bergetar ketika langkah-langkah besar dan kuat itu mendekat, menunjukkan dua sosok tinggi besar yang membuat pengawal yang semula menyertai Hyunno terbang mundur ke belakang, ngeri dengan sosok dua naga yang belum pernah mereka lihat sebelumnya karena dua naga itu berbeda dengan naga petarung yang berada di kandang dekat istana.

“Lama sekali tidak melihat mereka….” gumam Junsu.

“Hyunno…. Kajja!” ajak Yoochun.

Berjalan didampingi oleh Thunder, pemuda berusia 17 tahun itu melangkah memasuki menara setinggi seratus meter itu sendirian, meninggalkan paman-pamannya dan para pengawalnya serta dua naga besar itu di luar. Tubuhnya sedikit bergetar ketika melihat sebuah peti yang berada di tengah-tengah ruangan remang-remang itu. Hyunno tidak pernah tahu menara yang terlihat dari jendela kamarnya ternyata digunakan sebagai kuburan, Hyunno tidak pernah tahu  bila ibunya disemayamkan di tempat terpencil yang terlupakan ini mengingat jasad ayahnya disemayamkan di ruang bawah tanah istana.

Ayahnya meninggal ketika dirinya masih berusia 3 tahun akibat sakit misterius yang kini Hyunno tahu penyebabnya. Kehilangan belahan jiwa yang merupakan separuh nyawanya serta api biru keunguan yang sempat membakarnyalah yang menjadi penyebab seorang fairy sehebat ayahnya sampai jatuh sakit. Kini Hyunno tahu kenapa selama hidupnya semenjak dirinya bisa mengingat, ibunya tidak pernah sekalipun menunjukkan senyumannya padanya.

Inilah jawabannya….

Sosok yang sangat cantik, sayapnya yang pucat berkilauan tertempa remang cahaya mentari dari sela bebatuan menara yang berlubang itu terlihat sangat damai.

Bibir merah serupa miliknya.

Kulit pucat seperti kulitnya.

Matanya….

Didalam buku peninggalan ayahnya, mata yang kini tertutup itu terlihat sangat indah. Dan Hyunno tahu mata ibunya adalah mutiara terindah yang pernah dilihatnya sepanjang hidupnya walaupun hanya dari buku usang tua yang sangat kumal.

Hyunno tersenyum walau air mata turun membasahi peti mati yang terbuat dari kristal tembus pandang itu, “Hei Thunder… Aku berencana memindahkan ibu ke istana agar bisa bersama dengan ayah lagi. Dengan kata lain, kau, Urceolla dan Seberus akan ikut pindah ke istana. Kau tidak keberatan, kan?” tanyanya yang tidak akan pernah mendapat jawaban ‘iya’ dari harimau putih itu, “Kalian harus membantuku menjaga tanah fairy peninggalan ayah dan ibuku ini. Mau, kan?”

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

END

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

Yah Jung Hyunno! Segeralah menikah dan berikan Fairy seorang pangeran! Kau dengar aku?” omel Junsu yang mengejar raja muda itu disepanjang lorong istana, “Yah! Mau kemana kau?”

“Aku mau mengadukan Ahjumma pada ayah dan ibuku!” Hyunno memeletkan lidahnya sebelum masuk ke dalam pintu yang akan membawanya ke ruang bawah tanah tempat ayah dan ibunya disemayamkan.

“Berhenti memanggilku Ahjuma!” Junsu mendelik ketika 3 mahluk mengerikan itu menghalangi langkahnya yang hendak menyusul Hyunno.

“Sudah menyerah saja! Mereka tidak akan pergi dari sana sebelum Hyunno kembali.” ucap Changmin. Diliriknya Seburus, Urceolla dan Thunder yang sedang berguling-guling di depan pintu yang tadi menelan tubuh Hyunno.

“Astaga! Aku bisa cepat tua kalau begini!” Keluh Junsu.

“Bukankah kau seharusnya membantu Yoochun? Mengajari para fairy muda ilmu bertempur? Bagaimanapun juga pertahanan kita tidak boleh goyah apapun yang terjadi.”

Arra… bukankah kau juga harus berpatroli?”

“Aku baru saja mau berangkat.” sahut Changmin.

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

Aish! Aku tidak pernah suka Junsu Ahjuma yang selalu memaksaku menikah dan memberikan pangeran pada fairy! Bukankah aku masih muda? Aku masih ingin bersenang-senang.” gerutu Hyunno, “Yah Ayah! Lihat-lihat…. Ibu memelototiku seperti itu! Apa Ibu juga menginginkanku menikah agar bisa memberikan cucu pada Ibu?” tanpa sadar air mata itu mengalir melihat wajah damai dua sosok yang terbaring berdampingan di dalam peti mati yang terbuat dari kristal bening yang memedarkan warna pelangi bila terkena bias cahaya lilin.

“Apa kalian sudah bahagia? Apa kalian bisa melihatku dari surga? Apa kalian tahu aku sangat merindukan kalian?” tubuhnya merosot, terduduk di atas lantai marmer pucat dan dingin. Menangis dan terisak dengan keras, tidak akan ada yang menegurnya bila dirinya menangis di tempat ini.

Bogoshipo…. Jeongmal bogoshipo….” ucap Hyunno. Seberapa pun dirinya terlihat tegar dan kuat dihadapan orang lain tetapi didalam hatinya, Hyunno masih menyimpan kerinduan dan kesedihan besar kepada kedua orang tuanya.

Bogoshipo!” Hyunno meraung hingga gema suaranya yang dipantulkan oleh dinding-dinding dingin itu berdengung. Tanpa disadarinya sesosok transparan dengan sayap abu-abu dan perak yang membiaskan warna pelangi itu mendekap tubuhnya hingga akhirnya dirinya terlelap.

“Ayah…. Ibu….” gumam Hyunno sebelum benar-benar kehilangan kesadarannya.

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

“Yah Jung Yunho! Kau terlambat satu jam! Aku mau putus denganmu!” pemuda berwajah cantik yang masih mengenakan seragam sekolahnya itu terlihat sangat marah.

“Ayolah Joongie, maafkan aku. Tadi aku harus mengantar dokumen ke perusahaan ayah dulu.”

“Aku tidak menerima alasanmu! Pokoknya aku mau kita putus!”

“Baiklah. Mari kita putus!”

“Eh? Kau serius?” mata seindah mutiara rusa betina itu mulai berkaca-kaca. “Kau benar-benar mau putus dariku?”

“Tentu saja. Mulai detik ini kita putus. Tapi, minggu depan kita akan menikah. Aku akan meminta ayah dan ibu datang ke rumahmu untuk melamarmu nanti malam.”

“Yah Jung Yunho! Kau mau mati?!” lengkingan nyaring itu memenuhi cafe, membuat sepasang kekasih itu menjadi tontonan pengunjung yang lainnya.

“Saranghae Kim Jaejoong….”

“Nado saranghae Jung Yunho….”

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

Tamat! Benar-benar tamat! Terima kasih yang sudah menyempatkan membaca sampai memberikan review, memfav, memfollow, memberikan bintang dan mengshare FF gaje Yuuki ini.

Thoughts on “FairyLand I”

nina : Sudah terjawab belum, Chagy :)

hardiantyloveyunjae Cuma 2 chap saja kok :D Ne, tunggu ne. Yuuki ngetiknya pelan-pelan soalnya masih dalam proses pengobatan. Jangan takut pasti bakal Yuuki selesaikan sampai END kok :D

Meybi : Wah, ga boleh negative thinking ke Appa ne #hugAppa #dihajarUmma :D

mybabywonkyu : Gomawo Tante <3 Eoh? Sudah terjawab ne :D

Dewi15 : Kenapa kado terakhir? Sudah terjawab ne: ;)

Rahmadina : Ini sudah :) Semoga pertanayaannya terjawab ne ;)

Rani : Sudah keluar kan nich? :D

Kim Hyewon : Hugnya jangan keras-keras ne ntar Yuuki pingsan :) #hugbaliksampaisemaput <3  #kabur. Hehehehhehe :D Unno minta coklat satu truk tuh katanya biar ga sedih :D

reanelisabeth : Sudah terjawab di Chap ini ne? ;)

kim rae mi : Hallo Rae Mi :) Mau baca epep gaje buatan Yuuki? Monggo saja :D

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

Sunday, December 14, 2014

12:08:38 PM

NaraYuuki

FairyLand I

Tittle                : Fairyland

Author              : NaraYuuki

Betta Reader     : Hyeri

Genre               : Yang jelas fantasy gagal, angst dikit

Rate                 : T – M

Cast                 : All Member DBSK

Disclaimer:       : They are not mine  but this story and Jung Hyunno are mine, NaraYuuki

Warning           : This is YunJae Fan Fiction (Boys Love), M-Preg. Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut. Paragraf/ dialog yang penulisannya menggunakan Blod, Italic ataupun under line berarti itu adalah kejadian dimasa lampau (flash back), TANPA EDIT.

.

.

Baca FF Fantasy Yuuki harus pelan-pelan, biar ga bingung!

FF Fantasy Yuuki tidak terikat dengan kebudayaan manapun jadi silahkan bebaskan imajinasi masing-masing ketika membacanya.

.

.

.

Baca Warningnya dulu, ne!

.

.

Untuk Metha Chagy, hope you like it :)

.

.

FairyLand

 “Ahjushi! Kadoku! Mana kadoku?! AhjushiAhjumma….” pemuda tampan berkulit sedikit pucat dengan mata hitam bulat indah lagi bening yang dibingkai kelopak mata setajam mata musang itu berlari-lari diudara, meluncur bebas dengan sayap indah keperakannya yang membiaskan cahaya pelangi ketika cahaya matahari yang muncul dari sela-sela dahan pepohonan yang membentuk lorong hijau itu menerpa sayapnya.

Tap.

Begitu telapak kakinya menjejak pada permukaan rumput hijau serupa karpet, pemuda itu segera berlari dan menyibakkan tirai yang terbuat dari sulur-sulur tanaman berwarna hijau keunguan. Sudah sangat tidak sabar! Ekspresi itulah yang tergambar jelas pada wajah tampannya.

Ahjushi!” suara melengking namun sangat merdu itu menggelegar, membuat dedaunan disekitarnya bergesekan dan mata air yang berada di balik tirai sulur tanaman itu beriak. Kunang-kunang yang sebelumnya terbang tenang menjadi sedikit terusik dengan suara sang pemuda.

Plung!

Kecipak di dalam kolam itu membuat permukaan air di tengah kolam naik beberapa menter tingginya sebelum akhirnya muncul sesosok pria bersayap putih dengan corak kebiruan serupa warna air pada beberapa helai bulunya.

“Hyunno ya, tidak bisakah kau meminta kadomu pada Changmin saja?” tanya sosok yang baru muncul dari air itu, langkahnya seringan kapas ketika berjalan di atas permukaan air menuju ke arah pemuda yang masih memasang wajah antusiasnya.

“Changmin Ahjushi sedang berburu penjahat! Lagi pula bukankah sekarang giliran Suie ahjumma untuk memberikan kado padaku? Hari ini ulang tahunku yang ke-17. Ahjushi tidak lupa itu, kan?”

“Junsu sedang mengajari anak-anak menganyam sulur-sulur tanaman menjadi tirai di dekat danau Salasum. Kalau kau terus memanggilnya Ahjumma, dia akan menghajarmu nanti….” pria dengan sayap putih kebiruan itu menghela napas panjang, “Usiamu sudah 17 tahun ya? Waktu cepat sekali berlalu rupanya.” gumamnya.

Ya Ahjushi! Cepat-cepat! Mana kadoku?!” pemuda tampan itu berjingkat-jingkat tidak sabar sambil menengadahkan kedua telapak tangannya pada pria yang dipanggilnya Ahjushi itu.

Yah! Mana boleh seorang raja bersikap kekanakan seperti itu, Jung Hyunno?!”

“Yaaaah… mau bagaimana lagi? Aku dididik oleh Changmin Ahjushi yang sifatnya seperti itu, Suie Ahjumma yang sifatnya macam itu dan Yoochun Ahjushi yang….” Mata bening serupa mata rusa betinanya itu menatap dari atas ke bawah dan sebaliknya pria yang sudah melipat tangannya di depan dada sambil menunjukkan wajah galaknya.

“Sangat berat bagiku untuk memberikan kado terakhir yang ayahmu titipkan pada kami. Kau tahu kenapa? Karena kado terakhir ini akan membuat hatimu lemah dan bimbang. Sebagai salah seorang penjagamu tentu saja berat bagiku melihatmu dalam keadaan lemah dan bimbang. Kau tahu itu?”

Jung Hyunno, pemuda itu tersenyum walau kesedihan tidak bisa disembunyikan dari mata indahnya, “Selama 16 tahun kebelakang   aku selalu menyiapkan diriku untuk menerima hadiah yang terakhir ini, Ahjushi. Aku tahu hadiahku kali ini bukan mainan ataupun senjata berkilauan yang hebat seperti yang ku terima selama ini, namun aku sungguh-sungguh sangat menantikan hadiahku kali ini.” ucapnya, “… karena hadiahku kali ini berhubungan dengan ibuku….”

Yoochun mengedipkan matanya beberapa kali, semilir angin menerpa wajahnya yang terlihat hampa dan kosong. Senyumnya pucat dan berat seolah-olah jiwanya terpaksa dicabut dari raganya. Tangan kanannya terlujur ke depan, sebuah sinar putih kebiruan yang sangat tipis melikupi telapak tangannya untuk beberapa saat sebelum menghilang dan menunjukkan sebuah buku usang cukup tebal bersampul kecoklatan serupa daun kering yang berguguran pada musim gugur.

“Kau tahu? Aku, Junsu dan Changmin berusaha membuka dan membaca isi buku ini. Yang kami lihat hanya sekumpulan kertas kumal kosong yang tidak berarti bagi kami saat pertama melihat isinya. Tetapi begitu kami menyadari sihir yang melingkupi buku ini, kami tahu bahwa satu-satunya mahluk di dunia ini yang bisa membuka dan melihat isinya adalah kau. Kau yang merupakan putra ayahmu. Kau dan semua kemampuan yang ada pada dirimu.” diserahkannya buku kumal itu pada Hyunno yang menerimanya dengan rasa haru. Setitik air mata mengalir dari mata indahnya.

“Ibu….” gumam Hyunno tertahan.

“Mau aku menemanimu membukanya?” tanya Yoochun.

Hyunno tersenyum sebelum memutar tubuhnya membelakangi Yoochun, mendekap erat buku usang jelek yang sangat berharga untuknya, “Ani… hanya saja Ahjushi…. seandainya aku terbawa emosi dan tidak sanggup mengendalikan diriku sendiri, ku berikan ijin padamu untuk membelengguku.” sayapnya terkepak-kepak pelan, membuatnya melayang beberapa centi dari permukaan tanah, menembus tirai sulur-sulur tanaman hijau keunguan itu sebelum melesat pergi bagaikan kilatan cahaya, meninggalkan Yoochun termenung sendirian ditempatnya berdiri sejak tadi.

“Anak yang malang….” gumam Yoochun sebelum berbalik menghadap mata air dan menjeburkan dirinya sendiri ke dalamnya, membiarkan tempat itu senyap bagai tak bertuan.

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

“Aku akan mengetahuinya… aku akan segera mengetahuinya. Ibu yang melahirkanku, ibu yang sangat dicintai ayahku, ibu yang tidak pernah bisa aku lihat wajahnya, ibu yang dibenci namun dipuja oleh rakyatku… ibu yang sangat ku rindukan… ibuku….” Hyunno bergumam sambil mulai membuka buku usang itu. Angin kencang dari dalam buku segera menerpa wajahnya, bagaikan melongok, mengintip dimensi lain melalui bejana ajaib yang memperlihatkannya sebuah dunia yang sangat berbeda, dunia yang belum pernah dijumpainya sebelumnya, dunia dimana tidak ada keabadian yang tersisa didalamnya, dunia muda yang menyimpan kenangan tentang sosok ibunya, sosok yang sangat dirindukannya namun tidak pernah bisa lagi disentuh olehnya, selamanya….

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

Angin kencang diikuti gemuruh petir dan kibasan awan berarak yang berlari cepat-cepat seolah-olah dikejar oleh malaikat penggembala awan yang membawa cambuk kebesarannya. Perlahan-lahan gerimis tipis serupa benang laba-laba itu turun membasahi rerumputan padang hijau yang terlihat sedikit pucat akibat cuaca yang muram.

Sesosok cantik lagi anggun yang mengenakan baju terusan berwarna putih gading berjalan perlahan menuju ke tengah-tengah padang rumput yang ditumbuhi beberapa bunga lili api yang sudah mekar indah, merah menyala seperti bara api yang sanggup memanaskan tungku berisi air. Matanya yang indah terlihat sendu, kulitnya yang seindah pualam itu terlihat semakin pucat ditengah cuaca yang muram seperti ini. Di dadanya terdekap sesuatu seperti buntalan panjang yang ditutupi kain sutra berwarna merah hati, kain yang di atas permukaannya terajut lukisan bunga lili Api berwarna emas terang yang menyilaukan.

“Joongie….” pemuda berkulit kecoklatan itu tersenyum ketika sosok cantik berambut panjang terurai itu berjalan menuju ke arahnya, ada kerinduan yang tidak mampu disembunyikannya dari sepasang mata sayunya yang menenduhkan.

“Hyung….” suara merdu itu mengalun perlahan bersamaan dengan hembusan angin yang bercampur dengan gerimis, membuat sensasi dingin itu semakin terasa.

“Joongie… bogoshipo.”

Sosok cantik itu melangkah mundur ketika pemuda berkulit kecoklatan itu hendak merengkuhnya dalam pelukan.

“Joongie? Wae? Kenapa menghindariku, hm? Apa kau tidak rindu padaku? Apa kau tidak merindukanku?” tanyanya tanpa bisa menyembunyikan kekecewaannya. “Tidakkah kau merindukanku setelah pergi selama setahun lamanya?” tanyanya.

“Hyung… mianhae….”

“Mianhae? Untuk apa?”

Jemari pucat si cantik itu menyibak kain sutra bergambar bunga lili api yang menutupi buntalan yang dipeluknya secara perlahan-lahan membuat pemuda berkulit kecoklatan itu pucat pasi dan mundur beberapa langkah darinya. Pemuda itu memandang ngeri penuh kebencian sambil terus menggelengkan kepalanya kuat-kuat, berusaha mengingkari apa yang dilihatnya.

“Maafkan aku, Hyung…. Maafkan aku yang tidak bisa menjaga diriku sendiri. Maafkan aku.” lirihnya serupa bisikan.

Pemuda berkulit kecoklatan itu terduduk diantara kelopak lili api yang menyala dalam kemurungan cuaca melihat isi buntalan yang berada dalam dekapan sosok cantik di hadapannya. Tersenyum bodoh dan membiarkan air mata mengalir membasahi wajah tampannya yang kelihatan lelah, “Itu anak Jung Yunho? Kau punya anak dari Jung Yunho?”

“Mianhae….”

“Kenapa Joongie? Kenapa? KENAPA KAU BISA PUNYA ANAK DARI JUNG YUNHO, HAH? BUKANKAH KAU BILANG KAU MENCINTAIKU? BUKANKAH KAU BILANG AKAN SELALU BERSAMAKU?!” bentaknya dengan kilat kemarahan yang terlihat jelas dari sepasang mata sayunya yang ramah. “Jawab aku Kim Jaejoong! Kenapa kau menghianatiku?!”

Sosok cantik itu menggelengkan kepalanya perlahan, membiarkan kristal-kristal bening itu mengalir turun, membasahi bayi yang berada dalam dekapan hangatnya, bayinya. “Seberapa pun aku mencintaimu, Hyung… seberapa pun aku ingin terus bersamamu… aku tidak akan pernah bisa melakukan semua itu karena takdir sudah mengikatku. Kita tidak akan pernah bisa bersama.”

“Bohong! Omong kosong! Kalau kau ingin bersamaku dan benar-benar mencintaiku, harusnya kau berani melawan semua aturan itu! Harusnya kau menerima ajakanku saat aku ingin membawamu lari bersamaku ke dunia ini!”

“Dan mengorbankan keabadian yang dia milikki begitu saja? Jangan bodoh Jin Yihan!” sosok gagah itu sudah berdiri diantara Jaejoong dan Yihan, memamerkan sayap abu-abu indahnya. Mata setajam mata musang yang sedang berburu miliknya itu menyipit penuh benci pada pemuda yang masih terduduk di atas tanah, “Jaejoong lahir dari setengah jantungku. Jantung kami berdetak bersama-sama, jantung kami satu karena kami memang ditakdirkan untuk selalu bersama. Seberapa jauh pun dia pergi dan  berpaling dariku, dia akan tetap kembali padaku. Karena aku adalah pemilik jiwa raganya. Hari ini untuk terakhir kalinya aku mengijinkannya menemuimu, mengijinkanmu melihat putra kami, buah cinta kami agar kau sadar bahwa takdir semu yang kau dampakan itu hanyalah ilusimu belaka.”

“Kau terlalu sombong Jung Yunho! Kau dan semua omong kosongmu itu!” Yihan berdiri dengan angkuh dan congkak. Menarik pedang yang terselip pada ikat pinggang berwarna hijaunya, namun sebelum sempat mengayunkan pedang tajam itu Yihan dipaksa tunduk oleh sepasang mahluk bersayap lain yang entah datang dari mana karena tiba-tiba saja mereka sudah mencekal dan melumpuhkan Yihan.

“Harap kau sopan sedikit pada Yang Mulia Raja!” pemilik sayap putih kebiruan itu berujar dingin.

“Mahluk yang sudah meninggalkan dunia keabadian untuk ditukar dengan dunia fana sepertimu tidak pantas berkata kasar pada raja. Kau melakukan makar dan harus dihukum mati!” sosok yang lebih tinggi dengan sayap putih kemerahannya seperti nyala api itu berkata dengan nada ketus.

“Belum ada yang akan dihukum mati, Changmin…. Setidaknya biarkan dia merenungi dulu perbuatannya.” ucap Yunho, “Junsu….”

“Ya?” tiba-tiba muncul seorang lagi dengan sayap putih kehijauannya di samping Yunho.

“Bawa Jaejoong pergi dari sini!” perintah Yunho. Diliriknya sosok cantik yang sedang memeluk erat bayinya yang mulai menangis akibat terpaan gerimis yang semakin menderas. Wajah menawannya terlihat sangat sendu dan rengsa. Yunho tahu bahwa dirinya sudah egois dengan memaksa sosok indah itu untuk bersamanya, semua itu dilakukannya karena citanya pada pendampingnya itu terlalu besar hingga membuatnya membutakan mata dan menulikan telinga serta hati nuraninya sendiri. Ketidakbahagiaan belahan jiwanya sama besarnya dengan kehancuran hati yang diterimanya sendiri karena keegoisannya.

“Ye.” sahut Junsu yang langsung menghilang dan tiba-tiba muncul di hadapan Jaejoong, “Joongie, kau ratu sekarang. Mari kita kembali ke singgasanamu yang nyaman dan damai.” ajaknya.

“Joongie andwe!” jerit Yihan, “Jangan tinggalkan aku! Ku mohon padamu, Joongie!” tangis kepedihan keluar dari bibir bergetar pemuda itu.

Jaejoong menatap wajah Yihan dengan pandangan sendu, membiarkan air mata membanjiri wajah cantiknya sebelum berbalik memunggunginya. Mendekap erat bayinya dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya ia kibaskan untuk membuka pintu dimensi menuju dunia keabadian, tempat tinggalnya.

“Jongieeeeeee!” Teriak Yihan ketika melihat sosok yang sangat dicintainya menghilang dari pandangannya.

“Kau sudah memutuskan menanggalkan sayapmu untuk tinggal di dunia fana ini. Kau pun tidak akan bisa kembali lagi ke dunia keabadian.” ucap Yunho mengingatkan, “Renungilah nasib yang sudah kau pilih sendiri! Jangan pernah mendamba ratuku lagi karena Kim Jaejoong selamanya adalah milik Jung Yunho. Bahkan kalau pun kematian memisahkan kami, kami akan selalu dipertemukan lagi dalam keadaan yang berbeda karena kami tidak akan pernah berpisah walaupun maut sendiri yang memisahkan kami.” Yunho segera mengepakkan sayap keabu-abuan miliknya, membumbung tinggi diikuti Yoochun dan Changmin, membiarkan Yihan menangis merana seorang diri di safana yang sudah dihujani oleh badai.

“Kalian akan membayarnya! Itu sumpahku!” desisi Yihan dengan mata penuh dendam dan kebencian.

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

Hyunno terengah, keringat dingin membasahi tubuhnya. Pemuda itu merinding membayangkan bagian selanjutnya dari buku yang masih terbuka itu. Hyunno seperti linglung. Bila ayahnya bersikap seperti itu, bila ibunya tidak pernah mencintai ayahnya bagaimana caranya dirinya bisa lahir? Hyunno ngeri, takut dan goyah untuk membuka halaman selanjutnya dari buku yang berada di atas pangkuannya itu.

“Ibumu mencintaimu.” Junsu sudah berdiri di belakang sandaran kursi rotan yang Hyunno tempati, mengusap perlahan kepala dan bahu pemuda yang selama ini dibesarkannya penuh kasih sayang seperti anaknya sendiri. “Jangan ragukan itu.”

Ahjumma….”

Junsu biasanya akan mengamuk bila mendengar orang memanggilnya ahjuma. Walaupun posisinya sebagai ‘istri’ Yoochun tetapi setidaknya Junsu tetap seorang namja. Namun kali ini sepertinya Junsu sengaja membiarkan Hyunno lolos dari amukannya.

“Jangan melihat sesuatu dari luarnya, Hyunno…. Bukankan aku sudah mengingatkanmu berulang kali?” tanya Junsu yang hanya diangguki oleh Hyunno, “Minum teh mu. Aku baru saja menyeduhnya.” Junsu menunjuk secangkir teh yang masih mengepulkan asap tipis di atas meja di samping kursi yang Hyunno duduki. Entah kapan Junsu meletakkan cangkir teh itu di sana.

Ahjumma….”

Junsu tersenyum hangat, “Kebijaksanaan ada dalam dirimu, anakku…. Walaupun pergolakan itu bersemayam dalam hatimu namun aku tahu kau pasti bisa mengambil keputusan terbaik untuk menghadapi semuanya.”

<3 <<<<< <3 >>>>> <3

TBC

.

Cuma 2 shoot saja kok :)

.

.

Thursday, December 11, 2014

7:32:51 AM

NaraYuuki

Suprasegmental IV

Tittle                : Suprasegmental IV

Writer               : NaraYuuki

Genre               : Romance/ Adventure/ fantasy kerajaan/ Incest

Rate                 : -M

Cast                 : Member DBSK (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan).

Disclaimer:       : They are not mine but this story is mine, NaraYuuki

Warning           : This is YunJae Fan Fiction (Boys Love). M-Preg. Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut.

.

.

.

.

.

PASTIKAN BACA WARNINGNYA DULU

EPEP INI KHUSUS BUAT EMAK IFA DAN PARA KUTIL TERSAYANG YUUKI :D

.

.

Suprasegmental untuk para kutil

.

.

“Ju… Junsu sshi, lakukan sesuatu pada adikmu! Kenapa dia tiba-tiba mengamuk dan menghancurkan kedaiku?!” dengan penuh kepanikan pemilik kedai yang sudah separuh baya itu meminta pada Junsu. Melihat kedai kecilnya hancur karena perkelahian antara ‘sepupu’ Junsu dengan seorang preman yang sering membuat masalah di desa kecil Rotten.

Junsu tesenyum, “Ahjushi tenang saja, semua kerugian yang Ahjushi tanggung hari ini karena perkelahian adikku akan ku ganti penuh!” ucapnya.

Pemilik kedai itu melirik Junsu tidak percaya.

Brak!

Jaejoong berhasil menendang perut lawannya hingga jatuh tersungkur di lantai, wajahnya memar, darah mengucur deras dari lubang hidungnya. Tanpa belas kasihan Jaejoong menginjak dada lawannya sampai terbatuk berdarah, mencondongkkan tubuhnya dan menatap lawannya yang sudah babak belur itu dengan tatapan serius.

“Katakan!” perintahnya, “Katakan apa yang kau dan teman-temanmu sembunyikan! Aku tahu kau bukan hanya bandit brengsek yang suk berbuat onar!”

Namja yang sudah babak belur itu hanya menatapa nyalang pada Jaejoong tanpa gentar.

Jaejoong semakin keras menginjak dada lawannya, pemuda menawan yang kini menjabat sebagai hakim Bollero itu meraih pedangnya, membuka sedikit sarung pedangnya dan memperlihatkan betapa tajamnya mata pedang indah itu, “Aku bisa memenggalmu sekarang juga bila kau tidak mau bicara.” Jaejoong tersenyum sangat manis.

Ada sorot ketakutan yang terlihat dari bola mata bengis sang bandit.

“Nah, Tae Jo sshi… kau mau bekerja sama atau berakhir menjadi bangkai busuk? Pilihan ada ditanganmu! Dan kau tahu? Aku tidak bisa menunggu terlalu lama!”

“Tu… Tuan Lee Hongman memintaku untuk tutup mulut!” dengan suara bergetar Tae Jo berujar.

“Sekarang siapa yang lebih kau takuti? Pedangku atau Lee Hongman?” tanya Jaejoong tanpa meninggalka senyum menawan yang menghiasi wajah cantiknya, “Ku beritahu sebuah rahasia kecil padamu….”

Tae Jo menelan ludahnya sendiri ketika wajah Jaejoong semakin condong pada wajahnya untuk membisikkan sesuatu ke telinga kanannya.

“Kalaupun kau tidak mau membuka mulut dan terpaksa harus mati ditanganku. Pedang ini pun mampu memenggal Lee Hongman dan antek-anteknya dengan mudah karena aku… Aku adalah malaikat pencabut nyawa orang-orang yang jahat!” Jaejoong kembali tersenyum ketika menjauhkan wajahnya dari wajah Tae Jo, mengamati sesaat wajah pucat pasi sang bandit sebelum berujar, “Sekarang pilih atau kau akan mati detik ini juga!” dengan mata berkilat marah dan suara sedikit membentak Jaejoong kembali memaksa Tae Jo.

“A… akan ku katakan!” ucap Tae Jo buru-buru dengan suara bergetar, “Akan ku katakan apa yang ku ketahui tentang tuan Lee Hongman, asalkan kau mengatakan siapa kau sebenarnya.”

Jaejoong masih memasang wajah tersenyumnya, “Tentu akan ku katakan padamu, setelah masalah tentang Lee Hongman selesai. Akan ku katakan apa saja yang ingin kau ketahui tentangku. Tapi untuk sekarang, mari kita dengarkan apa saja informasi yang kau tahu soal Lee Hongman, sang menantu wali kota Bollero.” Jaejoong mengulurkan tangannya pada Tae Jo dan membantu namja yang sudah babak belur itu untuk bangun, “Maaf. Aku tidak punya banyak waktu, jadi bisakah kita bicara sambil berjalan menuju gudang yang kau bicarakan dengan penduduk desa tadi?”

Agak ragu namun Tae Jo tetap menganggukkan kepala juga.

“Tahanlah sebentar sakitmu! Begitu masalah di desa ini selesai, kau akan ku bawa ke ibu kota untuk berobat. Jangan khawatir, aku yang akan menanggung biaya pengobatanmu asal kau mau bekerja sama denganku.” Ucap Jaejoong yang berjalan beriringan dengan Tae Jo menuju arah Junsu yang tersenyum lebar pada mereka –pada Jaejoong lebih tepatnya.

“Sepertinya kau dan sepupumu itu bukan orang biasa. Kalian pasti berasal dari keluarga bangsawan juga.” Komentar Tae Jo yang berjalan sambil memegangi dadanya yang terasa nyeri.

Jaejoong hanya tersenyum, namja cantik itu membungkuk dalam-dalam pada pemilik kedai, “Ahjushijeongmal mianhae karena sudah menghancurkan kedai Ahjushi. Aku terlalu bersemangat bermain dan menyapa teman lamaku.” Jaejoong tersenyum lebar dan menepuk-nepuk bahu Tae Jo yang tengah menatap ngeri sekaligus kaget pada dirinya.

Paman pemilik kedai itu hanya menatap Jaejoong, Tae Jo dan Junsu secara bergantian dengan wajah bingung dan cemasnya tanpa mampu mengeluarkan sepatah kata pun.

Junsu meraih tangan kanan sang pemilik kedai, meletakkan sebuah kantung kecil berwarna merah hati di atas telapak tangan sang pemilik kedai, “Jumlahnya seratus keping koin emas. Bukankan ini lebih dari cukup untuk mengganti semua kerugian yang ditimbulkan oleh sepupuku, Ahjushi?” tanya Junsu.

“Haaah?!” Ahjushi itu menatap Junsu dan Jaejoong bergantian sebelum menatap kantung emas di tangannya lama-lama.

Kajja Hyung! Kita tidak punya banyak waktu!” ucap Jaejoong yang langsung berjalan menuju pintu keluar diikuti Tae Jo kemudian Junsu dan para prajurit pengawal yang sudah menunggu mereka di luar kedai. “Jadi… dimana keberadaan gudang yang kau maksud tadi Tae Jo sshi?” tanya Jaejoong.

“Di… di pinggir sungai, gubug yang berada di ujung utara desa ini!” ucap Tae Joo yang terus melirik ke arah Junsu dan para prajurit yang berjalan di sekelilingnya dengan tatapan takut bercampur waspada.

“Ada apa di sana?” tanya Junsu yang hanya mendapatkan lirikan sebal dari Tae Jo, “Yah! Jawab aku!” perintahnya.

“Tae Jo sshi, jawablah pertanyaan sepupuku!! Ada apa di sana?”

Tae Jo melirik Jaejoong, menelan ludahnya susah payah. “Di sana… Di sana tu… tuan Lee Hongman menyimpan informasi penting yang ingin dijualnya kepada pihak luar.” Ucapnya dengan suara sangat lirih.

Seketika Jaejoong berhenti melangkah, “Informasi penting yang ingin dijualnya kepada pihak luar?” gumamnya pelan. Di tatapnya Tae Jo dengan mutiara rusa betinanya yang sudah membulat sempurna, ada kemarahan didalam mata yang sangat Yunho kagumi itu.

Takut-takut Tae Jo mengangguk pelan, “Aku pernah melihat sebuah gambar di tempat itu….” ucapnya.

“Gambar apa?” tanya Jaejoong yang tidak sabar, berbeda sekali dengan sikap tenangnya tadi.

“Mirip peta, tetapi kata salah seorang temanku yang menjaga tempat itu gambar itu adalah gambar benteng pertahanan negara yang berada disisi paling luar.” Ucap Tae Jo.

MWO?!” pekik Junsu, “Brengsek! Tua bangka brengsek itu berencana ump…!”

Jaejoong membekap mulut Junsu, “Kalau begitu cepat antarkan kami ke sana!” pinta Jaejoong.

Tae Jo mengangguk cepat-cepat kemudian kembali berjalan dimuka sebagai penunjuk arah.

<3 <<<<< <3 <<<<< <3

Sebuah bangunan –lebih tepatnya gubuk yang nyaris ambruk− itu berdiri sekitar seratus meter di hadapan Jaejoong beserta orang-orang yang menyertainya, bangunan itu terpisah dari bangunan rumah-rumah penduduk lainnya seolah-olah bangunan itu memang sengaja dibangun terpisah agar orang lain tidak tahu apa fungsi bangunan itu.

“Kenapa hanya sebuah gudang yang nyaris ambruk  perlu penjagaan ketat seperti itu?” tanya Junsu lebih kepada dirinya sendiri.

“Karena didalamnya ada rahasia negara yang sangat penting.” Jaejoong menatap nyalang ke sepuluh penjaga yang berlalu-lalang di sekitar gubuk kecil yang hanya berukuran sepuluh meter itu. “Tae Jo sshi, apakah hanya mereka saja? Atau di dalam gubug itu masih ada lagi?”

“Setahuku hanya ada mereka saja.” Jawab Tae Jo, “Tidak ada penduduk yang berani mendekat karena mereka menyebarkan kabar bahwa di gubuk itu sering terjadi pertemuan antara para penjahat yang tinggal di Bollero.”

“Tentu saja para penduduk tidak akan berani mendekat bila mendengar kabar seperti itu.” komentar Junsu.

Jaejoong mengenggam erat-erat gagang pedangnya, berharap Yunho ada di sini bersamanya untuk membantunya. Tetapi Jaejoong pun merasa bahwa dirinya tidak boleh cengeng. Dirinya harus terus maju berjuang dan berusaha semampunya walaupun Yunho tidak berada disampingnya sekarang. Keadilan harus ditegakkan!

Jaejoong berbalik menatap wajah prajurit yang mengawalnya satu persatu dengan raut muka serius sebelum tersenyum pada mereka, “Kalian berjalanlah memutar! Kita akan menyerang dengan taktik kejutan. Biar aku, Junsu hyung dan Tae Jo sshi yang menjadi umpan sementara kalian yang menjadi eksekutornya.” Ucap Jaejoong, “Bagi yang memegang busur dan anak panah tolong tingkatkan kewaspadaan kalian untuk menjamin nyawa Tae Jo sshi! Bagaimanapun juga Tae Jo sshi tetaplah warga sipil yang tidak ada sangkut-pautnya dengan misi kita ini. Mengerti?”

Ye!” jawab para prajurit dengan suara pelan karena tidak ingin menarik perhatian warga maupun para penjaga gubuk di depan sana.

“Sekarang!” ucap Jaejoong yang dijawab oleh para prajurit pengawalnya dengan melakukan tindakan berpencar, mengendap-endap dan menyebar kesisi kanan dan kiri menuju pinggiran dibalik rerimbunan pepohonan yang tumbuh menjulang tinggi di pinggiran sungai dan pinggiran desa.

Jaejoong melirik dan menatap Tae Jo sesaat.

Wae?” tanya Tae Jo yang wajahnya dipenuhi lebam kebiru-biruan, beberapa lukanya masih mengeluarkan bercak darah.

Mian Tae Jo sshi karena telah melibatkanmu. Tapi tenanglah karena aku menjamin keselamatanmu!” ucap Jaejoong. “Mari, kita segera akhiri misi kita ini Junsu Hyung!”

Ne!” sahut Junsu.

<3 <<<<< <3 <<<<< <3

Yah! Berhenti di sana!”

“Siapa kalian?! Berhenti!”

“Apa mau kalian? Jangan mendekat kemari!”

Kalimat lantang dengan intonasi keras dan tidak bersahabat dilontarkan oleh beberapa penjaga gubug yang mendapati Jaejoong, Junsu dan Tae Jo berjalan mendekat ke arah gubug. Beberapa diantaranya bahkan sudah mencaput pedang tajam mereka dari sarungnya, membuat Jaejoong terpaksa menarik Tae Jo untuk berada di belakang punggungnya.

“Pakai ini untuk mempertahankan dirimu!” Junsu melempar sebilah belati pada Tae Jo.

Tlang!

Jaejoong menangkis pedang yang diayunkan pada dirinya dengan pedang miliknya yang masih tersarung! Tanpa aba-aba, cucu Hakim agung itu segera menendang perut orang yang sudah mengayunkan pedang padanya hingga jatuh tersungkur dan muntah darah.

“Walaupun aku terlihat lemah, tapi bahkan Appa mengakui kalau tenagaku jauh lebih kuat daripada tenaga Yunho.” Gumam Jaejoong. Begitu melihat dua orang lainnya menyongsong dirinya dengan pedang teracung, keponakan keayangan raja itu segera menarik pedangnya keluar dari sarungnya, “Tae Jo sshi, berlindunglah ditempat yang aman!” ucapnya sebelum menangkis serangan.

Tidak jauh berbeda dengan Jaejoong, Junsu pun sedang berusaha menumbangkan para penjaga gubug yang mengepungnya, “Aish! Akan sangat membantu bila Chunie di sini!” gerutunya yang langsung menebas salah satu penjaga yang hendak menikamnya dari samping kanan.

Slash!

Jleb!

Jleb!

Panah-panah yang dilesatkan oleh prajurit penjaga yang tadi berjalan mengendap-endap diantara pepohonan yang berada di sisi sungai berhasil mengenai 3 penjaga gubuk yang mengepung Junsu.

Gomawo.” Teriak Junsu. Mata Junsu membulat tiba-tiba ketika melihat salah satu dari penjaga gubuk itu berrjalan mengendap-endap di belakang Jaejoong dengan pedang teraung siap menepas punggung hakim Bollero itu. Junsu ingin berteriak tetapi suaranya tercekat, kakinya lunglai hingga dirinya terjatuh. Junsu membatu ketika melihat pedang panjang lagi tajam itu mengayun untuk menyayat punggung Jaejoong.

Jleb!

Air mata mengalir begitu saja dari mata kanan Junsu.

Jaejoong menoleh ke belakang, membiarkan prajurit penjaganya mengambil alih tugasnya untuk melumpuhkan para penjaga gubug yang tersisa. Tentu saja mereka tidak dibunuh karena mereka masih harus ditanyai sebelum menentukan hukuman apa yang pantas untuk mereka.

“Tae Jo… sshi?” tanya Jaejoong ketika melihat tangan Tae Jo gemetaran, belati yang diberikan oleh Junsu pada Tae Joong sudah menancap dan menembus dada kiri salah seorang penjaga gubuk yang tadinya hendak menikam Jaejoong dari belakang.

“A… apa aku membunuhnya?” tanya Tae Jo dengan suara gagap, meskipun dianggap sebagai seorang bandit, perampok ataupun penjahat tetapi Tae Jo belum pernah membuhun orang sampai sekarang.

Jaejoong tersenyum, “Kau tidak membunuhnya. Kau hanya memberikan kesempatan padaku untuk hidup lebih lama.” Ucap Jaejoong.

Bruk!

Jaejoong nyaris terjengkang ketika Junsu menubruk dan memeluknya dari samping, “Aku hampir mati melihat pedang mengerikan itu hendak menyayatmu.” Ucapnya dengan wajah pucat pasinya, “Bila terjadi sesuatu padamu aku tidak akan berani menunjukkan wajahku pada Kepala polisi Jung lagi!”

Jaejoong hanya mengulum senyum, diusapnya bahu Junsu perlahan-lahan, “Kita mash dalam misi, Hyung. Mari kita masuk dan mengambil apa yang bisa kita jadikan bukti di dalam gubuk!” ajaknya.

<3 <<<<< <3 <<<<< <3

Usai mengamankan barang bukti yang berada di dalam gubug, Jaejoong memerintahkan untuk merobohkan gubuk reot itu. Hal tersebut tentu saja membuat penduduk desa Rotten yang melihatnya bertanya-tanya apa sebenarnya yang dilakukan oleh Jaejoong dan orang-orangnya? Siapa sebenarnya Jaejoong dan para pengikutnya? Kenapa Jaejoong dan pengikutnya mengingat ke-9 penjaga gubug yang sebelumnya sangat ditakuti oleh penduduk? Mengapa salah satu penjaga gubuk itu ada yang mati? Sehingga mau tidak mau akhirnya Jaejoong mengatakan siapa sebenarnya dirinya pada para penduduk desa Rotten.

“Aku adalah Hakim baru provinsi Bollero yang diutus untuk memberantas semua penjahat yang meresahkan warga. Dan karena para penjaga gubug itu menghalangi kami menjalankan tugas sehingga kami terpaksa menindak tegas mereka.” Jaejoong tersenyum ketika mendengar pujian yang diperuntukkan untuknya sang hakim muda dari para penduduk, “Sekarang tidak ada lagi yang akan mengacau di sini. Kalaupun ada penduduk atau orang asing yang bersikap mencurigakan, silahkan katakan padaku maka aku akan segera menindak tegas mereka!”

Jaejoong kemudian meminta bantuan penduduk untuk menguburkan jasad salah seorang penjaga gubug yang mati dengan pemakaman yang layak sebelum pamit pergi dan meminta maaf untuk semua kekacauan yang sudah dirinya timbulkan selama berada di desa indah itu. Bahkan Jaejoong mendapatkan bekal gratis dari ahjushi pemilik kedai yang kedainya nyaris hancur akibat perkelahiannya dengan Tae Jo beberapa saat sebelumnya.

Ditengah gerimis, Jaejoong kembali harus berhadapan dengan medan hutan yang licin dan susah untuk sampai ke kediamannya di pusat kota Bollero. Kali ini Jaejoong tidak hanya ditemani oleh Junsu dan para prajurit pengawalnya saja. Jaejoong pun ditemani oleh kesembilan tawanan penjahat dan Tae Jo yang ingin ikut dengannya.

“Yun… aku berhasil menyelesaikan tugasku dengan baik walau ada yang menjadi korban. Apa kau baik-baik saja?” batin Jaejoong. Mutiara rusa betinanya yang indah lagi legam yang menatap jejeran batang pohon yang kisut dan basah akibat gerimis itu memburam sebelum kegelapan sempurna menyergapnya. Jaejoong pingsan ditengah hujan yang dihujani gerimis dari langit, membuat Junsu, Tae Jo dan para prajurit penjaganya sedikit panik.

<3 <<<<< <3 <<<<< <3

Mengendap-endap Yunho mempimpin beberapa orang anak buahnya menyelinap memasuki sebuah gudang yang berada di pinggir hutan dekat perbatasan dengan provinsi Chaser, provinsi yang terisolasi yang biasanya digunakan sebagai pengasingan bagi para tahanan negara mengingat provinsi itu masih dipenuhi oleh banyak tumbuhan beracun dan binatang liar yang berkeliaran.

“Apa yang berada dalam peti-peti itu?” gumam Yunho, “Apa mereka mencoba menyelendupkan sesuatu yang merugikan negara?”

“Kepala Polisi Jung….” bisik salah seorang prajurit ketika melihat beberapa orang berjalan ke arah mereka.

“Kita sudah sampai sejauh ini. Bila kita sampai ketahuan sedang menyelidiki mereka, maka kita harus membungkam mereka semua.” Ucap Yunho, “Bila kita tidak bisa melumpuhkan mereka secara baik-baik, ku bebaskan kalian untuk membunuh mereka ditempat! Jangan ada seorang pun yang lolos atau semua usaha kita akan sia-sia!”

Ye!” sahut kesemua prajurit yang mendampingi Yunho.

“Ingat pesanku, jangan sampai mati!” ucap Yunho. Tangan kanannya sudah mencengkeram kuat-kuat gagang pedang yang kemarin diasahnya. “Boo, bila aku mati dalam misi ini ku harap kau bisa bahagia dan tegar menjalani sisa hidupmu!” batinnya.

“Hoi! Siapa di sana!” teriak salah seorang dari orang-orang yang berjalan dari arah gudang.

“Kalian berpencarlah!” bisik Yunho pada anggotanya, para anggota kepolisian itu segera berpencar dan mencari tempat persembunyian strategis untuk menyergap target mereka, menyisakan Yunho sendirian di sana di balik pohon yang berada di samping gudang.

Yah! Siapa di sana?!” sekali lagi suara bengis dan lantang itu terdengar.

Yunho mencengkeram erat gagang pedangnya, memang selama ini dirinya dibekali bela diri dari ahlinya tetapi saat-saat seperti ini tetap membuatnya merasa gugup. Menghela napas panjang, Yunho membayangkan wajat tersenyum Jaejoong yang selalu menampakkan semburat merah pada wajah cantiknya –walaupun kadang Jaejoong merajuk bila Yunho mengatakan dirinya cantik.

Boo, bila aku mati dalam misi ini tetaplah hidup untuk menegakkan keadilan yang selama ini kita junjung tinggi!” batin Yunho sebelum menunjukkan dirinya pada para penjaga gudang.

Yah! Siapa kau?!” bentak salah seorang penjaga.

Yunho tersenyum, mengeluarkan pedangnya dari sarung pedang kemudian berlari menerjang penjaga gudang itu, menendang perut, menyikut dada, menangkis pedang dengan pedang, Yunho melakukannya dengan sangat cepat dan gesit.

Suara pedang beradu, pekikan dan semua kegaduhan yang terjadi di samping gudang membuat para penjaga gudang yang semula tidak menyadari adanya penyusup akhirnya berbondong-bondong melihat apa yang sedang terjadi. Pada saat itulah beberapa anggota kepolisian menyusup masuk ke dalam gudang untuk melihat isi peti-peti yang mereka lihat awal tadi sesampainya mereka di tempat itu. Beberapa anggora polisi yang lain membantu Yunho bertarung melawan para [enjaga gudang.

“Kepala Polisi Jung, awas!”

Yunho menoleh, ketika sebuah belati terlempar padanya dan sempat menggores wajahnya, membuat sebuah luka pada bagian kulit bawah mata sebelah kirinya. Darah segar mengalir dari luka itu namun Yunho tidak memedulikannya, kepala polisi Bollero itu terus bertarung sampai akhirnya semua penjaga gudang itu berhasil dibekuk.

<3 <<<<< <3 <<<<< <3

“Kami menemukan, senjata dan obat-obatan ilegal yang kami duga didatangkan dari Tiongkok.” Ucap salah seorang anggota polisi pada Yunho yang sedang mengobati luka pada wajahnya.

“Apa mereka sudah mau bicara?” tanya Yunho yang menatap para penjaga gudang yang kini sudah terikat layaknya tawanan perang. Tidak ada korban jiwa dalam pertempuran tadi.

“Belum mau, mereka belum mau bicara.”

Yunho membuang kain yang digunakannya untuk membersihkan lukanya sebelum berdiri dari duduknya, “Kita bawa mereka ke kantor polisi dan penjarakan mereka. Dengan cara apapun buat mereka bicara!”

Ye!”

“Bawa juga peti-peti itu sebagai barang bukti!” perintah Yunho, “Boo… apa kau baik-baik saja? Kenapa rasanya perasaanku tidak tenang? Ku mohon kau baik-baik saja disana bersama Junsu.” Gumam Yunho.

<3 <<<<< <3 <<<<< <3

Menjelang tengah malam rombongan Yunho baru sampai di gedung kepolisian yang merangkap sebagai gedung kehakiman pula. Kedatangan Yunho langsung disambut oleh Yoochun dan Changmin.

“Wah, anda membawa banyak tawanan dan barang sitaan Kepala Polisi Jung.” Ucap Changmin. Matanya tidak bisa berpaling dari tawanan yang digiring menuju sel penjara dan beberapa peti yang diangkut menuju ruang kerja Yunho.

“Dimana Jaejoong?” tanya Yunho.

“Sore tadi Jaejoong sshi kembali dalam keadaan pingsan.” Jawab Yoochun.

Mwo?!” mata Yunho membulat.

“Tapi Junsu sudah memanggilkan tabib untuknya.” Kali ini Changmin yang berkomentar, “Jaejoong juga membawa tawanan dan bukti penting terkait kejahatan yang dilakukan oleh Lee Hongman.” Tambahnya.

Yunho mengangguk pelan.

“Aku akan menyiapkan kereta untuk mengantar anda pulang Kepala Polisi Jung.” Ucap Yoochun.

“Tidak perlu.” Ucap Yunho, “Cukup kuda saja. Kuda lebih cepat daripada kereta. Tolong siapkan kuda untukku.”

Ne.” Yoochun bergegas pergi menyiapkan kuda untuk Yunho.

“Aku tahu kau juga lelah, Changmin. Tapi tolong jaga tempat ini! Aku takut tempat ini diserbu begitu pihak bersalah tahu bahwa anak buah dan bukti kejahatannya berada ditangan kita.”

Ne.” Changmin mengangguk, “Em… Kepala polisi Jung….” panggilnya.

“Ya?” tanya Yunho.

Changmin tersenyum tulus, “Chukae….”

Yunho hanya mengangguk pelan. Ini adalah tugasnya sebagai penegak keadilan untuk menegakkan hukum sebenar-benarnya sehingga ucapan selamat yang Changmin berikan hanya dianggapnya sebagai pengingat bahwa selain persoalan ini masih ada kasus-kasus lain yang harus ditanganinnya selama bertugas di Bollero.

<3 <<<<< <3 <<<<< <3

Yunho membiarkan penjaga rumahnya mengurus kuda yang ditungganginya, berjalan tergesa melewati pendopo agar segera sampai di kamarnya –juga kamar Jaejoong. Yunho ingin segera tahu apa yang sebenarnya terjadi pada namja yang sangat dikasihinya itu sehingga Jaejoong pingsan dalam menjalankan tugasnya. Seingatnya sesulit apapun keadaan atau medan yang dilaluinya, Jaejoong tidak akan tumbang begitu mudah apalagi sampai pingsan.

Yunho sempat berhenti sesaat di depan pendopo begitu melihat seseorang yang tertidur dalam keadaan duduk bersandar pada tiang pendopo di samping Junsu. Yunho belum pernah melihat orang itu. Orang itu jelas bukan anggota kepolisiannya ataupun bawahan Jaejoong.

“Namanya Tae Joo sshi. Dia bandit yang membantuku menguak rahasia yang tersimpan di desa Rotten.”

Boo?!” Yunho segera berlari dan memeluk Jaejoong yang berjalan ke arahnya. “Kau tidak apa-apa?” tanyanya.

Jaejoong melepaskan pelukan Yunho, “Kau tidak baik-baik saja.” Diusapnya permukaan kulit wajah Yunho yang berada di bawah mata kirinya, “Kau terluka….”

Yunho meraih jemari lentik Jaejoong dan menciuminya, “Aku tidak apa-apa. Hanya luka kecil.” Ucapnya sambil tersenyum.

“Kau terlihat lelah. Mandi dan segeralah istirahat, aku akan meminta pelayan memanaskan makanan untukmu.”

Yunho mencekal pergelangan tangan Jaejoong pelan. “Kau pingsan?”

Gwaechana.”

Boo….” Yunho menatap mata bulat indah itu dalam-dalam, “Katakan… kenapa kau pingsan? Apa kau kelelahan? Apa tugasnya terlalu berat? Apa….”

“Ada anakmu di dalam sini!” Jaejoong menarik tangan Yunho dan meletakkannya di atas permukaan perut ratanya. “Jangan tanya apa-apa lagi karena aku pun juga bingung mendengar penjelasan tabib tadi sore.”

Boo….”

“Mandilah dulu! Aku akan meminta pelayan menyiapkan makanan untukmu. Kita akan bicara saat kau makan nanti.” ucap Jaejoong yang baru berjalan menuju bangunan dapur perlahan-lahan, meninggalkan Yunho yang masih membatu di tempatnya.

“Anak? Anakku?” gumam Yunho. Ada binar kebahagiaan yang terlihat dalam bola matanya, senyum terkembang pada wajah tampannya ketika melihat punggung Jaejoong yang berjalan menjauhinya. “Terkutuklah aku! Appa, Hakim Kim… maafkan aku. Aku tahu dosaku tidak terampuni. Tapi sungguh…. Aku sangat mencintainya. Yang Mulia Raja… ku mohon bantu aku….”

<3 <<<<< <3 <<<<< <3

Brak!

Meja kayu itu dipukul kuat-kuat oleh pemiliknya hingga cangkir teh yang berada di atasnya bergetar dan tumpah.

“Jung Yunho, Kim Jaejoong…. Kalian harus mati karena sudah menghalangi jalanku!”

<3 <<<<< <3 <<<<< <3

<3 <<<<< <3 <<<<< <3

<3 <<<<< <3 <<<<< <3

<3 <<<<< <3 <<<<< <3

<3 <<<<< <3 <<<<< <3

TBC

.

.

Mian ne kalau banyak Miss Ty, Yuuki belum sempat edit. Lagi naik turun kondisinya soalnya. But it’s okay, ini bentuk tanggung jawab Yuuki… tapi mian belum sempat balas feedback di Chap kemarin. New Reader selamat datang, selamat membaca tulisan Yuuki yang tidak seberapa ini. Tolong jangan merusuh di rumah orang ya :) Hargai reader lain juga :D Terima kasih <3

Gomawo yang sudah baca :) Jaga kesehatan ya :)

.

.

Tuesday, November 25, 2014

10:35:59 AM

NaraYuuki

Hamkke Gangje, Chagya II

Tittle                : Hamkke Gangje, Chagya II

Author              : NaraYuuki & Metha Sari

Genre               : Romance/ Drama/ Familly

Rate                 : T+

Cast                 : YunJae and Others (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan. GS for Kibum)

Disclaimer:       : Chara milik individu masing-masing but this story punya Yuuki & Metha

Warning           : Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut, jadi tolong maklumi kalau hasilnya sama sekali tidak memuaskan. TIDAK MENERIMA BASH DAN FLAMER! KALAU TIDAK MUDENG TINGGAL TANYAKAN DAN JANGAN MERUSUH DI RUMAH ORANG!

.

.

Pastikan baca warningnya dulu!

Semoga ini tidak mengecewakan….

.

.

Happy Reading

.

Hamkke

.

“Yihan ah, kau….” Yunho masih tidak dapat menyembunyikan kekagetannya, “kenapa kau bisa ada di sini?” tanyanya.

“Tentu saja untuk meeting, bukankah hari ini Jung corp akan memulai kerjasama dengan Jin corp jadi untuk itulah aku ada di sini.” Jawab Yihan.

“Kau? Meeting? Jin Corp?” tanya Yunho tidak percaya.

“Aku yang akan mewakili perusahaan Jin Corp untuk meeting hari ini sebagai manager.” Jawab Yihan.

Mendengar hal itu Yunho hanya bisa terdiam, tanpa disangka dia kembali bertemu dengan sahabatnya masa kecilnya yang kini menjadi saingannya. Yah, semua orang mungkin menganggap dirinya, Jaejoong dan Yihan adalah sahabat yang baik. Tapi, yang sebenarnya adalah Yunho dan  Yihan selalu bersaing merebut perhatian Jaejoong semenjak mereka sama-sama berada di panti..

“Oh ya bagaimana kabar Joongie, Yunho ah?” tanya Yihan membuat Yunho tersentak dari lamunannya..

“Dia baik-baik saja.” Jawab Yunho datar.

Ahh… aku sungguh merindukannya, apa dia bertambah cantik dan mempesona? Yunho ah bolehkah kapan-kapan aku berkunjung ke kediaman Jung untuk bertemu dengan Joongie?” Tanya Yihan tanpa melihat aura hitam disekelilingnya.

Yunho mengepalkan tangannya mendengar ucapan Yihan, ingin rasanya dia melayangkan tinjunya pada Yihan. Namun Yunho mencoba menahan emosinya, dia tidak ingin menghancurkan meeting penting ini. Akan Yunho tunjukkan kepada Appanya, Jung Siwon bahwa dirinya mampu dan layak memimpin kembali perusahaan.

“ Bisakah kita mulai meeting hari ini”. Ucapnya seraya mengepalkan tangan menahan amarah.

“Hahaha ne ne baiklah”.

.

.

At Jung Mansion

Kibum terduduk di bibir ranjang kamarnya sembari menatap sebuah foto keluarga, disana ada dirinya dan Siwon yang duduk pada sebuah kursi, di belakangnya berdiri Yunho dan Jaejoong. Yunho dengan wajah tampan serta tatapan tajamnya sementara Jaejoong dengan wajah cantik nan menawannya tersenyum menatap kamera.

“Hah….” Kibum menghela napas panjang.

Bagi orang-orang mereka terlihat seperti keluarga bahagia, namun kenyataannya tidak seperti itu. Sejak kejadian ‘itu’ hubungan keluarganya menjadi dingin, lebih tepatnya hubungan antara Siwon dan Yunho.

.

.

Flashback

Plak

Suara tamparan terdengar di ruang tengah keluarga Jung, seorang namja tampan hanya tertunduk sembari menahan nyeri dipipinya.

“KAU….” sang kepala keluarga itu menahan segala amarahnya. “kenapa bisa kau menghancurkan kerjasama yang akan sangat menguntungkan itu Jung Yunho?” tanya Siwon penuh amarah.

Yunho hanya terdiam mendengar kemarahan Siwon, ini pertama kalinya  orang yang selalu dijadikannya panutan itu menamparnya.

“Tapi ini tidak sepenuhnya salahku Appa, mereka bahkan menghina perusahaan kita”. Yunho mencoba membela diri.

“Tapi kau tidak harus memukul utusan dari JS group, kau telah menghancurkan segalanya. Appa kecewa padamu Yunho ah”. Siwon tidak bisa lagi menyembunyikan segala kekesalan dan kekecewaannya pada putra sulungnya itu.

“Kenapa Appa masih membela mereka yang jelas-jelas merendahkan perusahaan kita?” tanya Yunho. Ada kilat kemarahan yang terpancar dari sorot matanya.

“Itu sudah resiko dalam berbisnis Yunho, kau seharusnya bisa mengendalikan dirimu!” ucap Siwon.

“Tapi….”

“Kau benar-benar tidak becus Yunho ah, sekarang Appa yang akan mengambil alih memimpin perusahaan!”

“Bagaimana denganku Appa?”.

“ Kau menjadi manager utama, anggap saja itu hukuman atas kesalahanmu!” Setelah itu Siwon pergi meninggalkan ruang tengah menuju kamarnya.

Degh

Yunho merasa dunianya berhenti seketika mendengar ucapan appanya, dia tidak terima hanya karena kesalahannya memukul orang yang menghina perusahaan mereka maka dia harus turun jabatan dan dianggap tidak becus..

“ARRRRGGHH KAU TIDAK BISA MEMPERLAKUKAN SEPERTI INI APPA!” teriak Yunho kepada  Appanya.

Sedangkan baik Kibum maupun Jaejoong hanya dapat mematung dan menatap miris kepada Yunho, mereka tahu kalau mereka tidak akan dapat membantah semua ucapan yang Siwon lontarkan.

Flashback END

.

.

Umma….” Suara Jaejoong membuyarkan lamunan Kibum.

“Joongie ah wae?” tanya Kibum seraya tersenyum kepada putra cantiknya.

Umma gwenchana? Dari tadi Joongie memanggil Umma.” Ucap Jaejoong mempoutkan bibirnya.

Gwenchana Chagie, apa Joongie sudah makan siang?” tanya Kibum, diusapnya rambut putra kesayangannya lembut.

“Ne, Umma melihat foto keluarga kita? Umma merindukan Yunnie hyung yang dulu?” Tanya Jaejoong mengedipkan matanya, membuat Kibum menjadi sangat gemas.

Umma sangat merindukannya Joongie ah, Umma merindukan sikapnya yang selalu bermanja kepada  Appa dan Umma. Tapi sekarang dia seperti bukan hyungmu….” kibum mencoba untuk tidak menangis. ”Umma dan Appa menyayangi kalian dengan kasih sayang dan perhatian yang sama, membesarkan kalian dengan penuh cinta…. Tapi kini… hiks… hiks… hiks….” Kibum tidak kuasa menahan tangisnya.

Umma uljimma, Joongie yakin jauh didalam lubuk hati yung sangat menyayangi Umma dan Appa. Hyung begitu karena obsesinya untuk menunjukkan kepada Appa jika dia dapat diandalkan, Hyung hanya membutuhkan kepercayaan dari kita, Umma….” Ucap Jaejoong lirih.

.

.

Saat ini Yunho sedang duduk di tepi ranjang King Sizenya, masih memikirkan pertemuannya dengan Yihan ketika di perusahaan tadi.

Tok

Tok

Suara pintu yang diketuk beberapa kali menyadarkan Yunho dari pemikirannya tentang pertemuannya dengan Yihan. “Masuk…” ucapnya.

Cklek

Sebuah kepala menyembul dari balik pintu kamar Yunho memperlihatkan sang pelaku yang mengetuk pintu kamar namja tampan berahang tegas itu.

Hyung….” sebuah suara memanggilnya.

“Joongie, wae? Masuklah!” perintah Yunho.

Jaejoong melangkah memasuki kamar hyung kesayangannya itu perlahan, ikut mendudukan dirinya di tepi ranjang di samping Yunho.

“Wae?” tanya Yunho pada adiknya.

“Umma tadi siang menangis.” jawab Jaejoong sembari tertunduk.

“Apa ada masalah?” tanya Yunho lagi.

Umma merindukanmu Hyung, Umma menangis karena tiba-tiba saja Hyung bersikap dingin dan sering berdebat dengan Appa.” Jaejoong semakin tertunduk, jemarinya mencengkeram ujung kaus yang dipakainya.

Yunho yang mendengar ucapan Jaejoong segera merengkuh Jaejoong ke dala pelukannya, diusapnya rambut jaejoong dan mencium puncak kepalanya lembut.

Mian, Hyung tidak bermaksud membuat umma menangis dan bersedih. Tapi, kau tahu sendiri alasan yang membuat Hyung seperti ini, kan?”

Ne, tapi Hyung seharusnya tidak bersikap seperti itu kepada mereka terlebih Umma yang bahkan tidak melakukan kesalahan.  Mereka tetaplah orang tua kita.” Lirih jaejoong.

“Kau tenang saja, nanti Hyung akan menemui Umma dan meminta maaf.” Yunho mengeratkan pelukannya.

“Jinjja?” tanya Jaejoong.

“Ne” jawab Yunho sembari tersenyum.

“Bagaimana dengan meeting hari ini? Hyung tidak melakukan kesalahan lagi, kan?” Jaejoong bertanya dengan nada khawatir yang sangat kentara. Yunho hanya tersenyum mendengar kekhawatiran adiknya.

“Semuanya baik-baik saja. Kau tahu Joongie… hari ini Hyung bertemu dengan Yihan saat meeting tadi.” Yunho bercerita.

MWO?!” kaget Jaejoong mendengar ucapan Yunho, “Maksud hyung? Yihan hyung? Yihan hyung teman kita waktu di panti asuhan dulu?” tanyanya antusias.

Ne.” jawab Yunho malas begitu mendengar nada ceria dari suara Jaejoong.

“Woah… bagaimana rupa Yihan hyung sekarang, Hyung? Apa Yihan Hyung semakin tampan? Joongie ingin bertemu dengannya….” ucap Jaejoong dengan semangat tanpa melihat wajah kesal Yunho.

Ya Joongie! Hyung bahkan jauh lebih tampan daripada Yihan hyungmu itu. Lagi pula Hyung tidak akan pernah mengijinkan kau bertemu dengannya! Kau dengar itu?!” tanpa sadar Yunho membentak Jaejoong.

Jaejoong tersentak kaget mendengar suara kakaknya, matanya berkaca-kaca. “Hiks… hiks… Hyung membentak Joongie? Joongie hanya ingin bertemu dengan Yihan hyung, kenapa Hyung membentak Joongie? Hiks… hiks… hiks….” Jaejoong menangis.

Mendengar rengekan pilu Jaejoong membuat Yunho merasa bersalah sebab telah membuat adik sekaligus orang yang dicintainya menangis karena dirinya.

Mian Joongie mian, Hyung tidak bermaksud membentakmu. Ssst… uljimma ne, baiklah nanti Hyung akan mengajakmu bertemu dengan Yihan. Uljimma….” Yunho berusaha menenangkan Jaejoong.

“Hiks…. Hiks…. Jinjja?”

Ne….” ucap Yunho pasrah dan setengah hati. ‘Hah seharusnya tadi aku tidak membahas soal Jin Yihan.’ Batinnya.

.

.

At Sibum room

“Wonnie apa kau yakin dengan keputusanmu ini?” Tanya Kibum pada suaminya.

Ne aku sangat yakin Bummie.” Jawab Siwon mantap.

“Tapi Yunho dan Jaejoong anak kita dan mereka…  mereka itu bersaudara.”

“Apa kau lupa jika mereka bukan anak kandung kita dan mereka juga bukan saudara sedarah jadi tidak masalahkan?” tanya Siwon.

Ne, tapi aku takut mereka menolak dan berbalik membenci kita.”

Mengerti akan kekhawatiran istrinya, Siwon segera memeluk Kibum dan mencoba memberi ketenangan padanya. “Percayalah padaku Bummie, ini semua demi kebaikan Yunho karena hanya Jaejoong yang bisa meluluhkan Yunho kita. Aku yakin jika mereka tidak akan menolak.” ucapnya sembari mengelus punggung Kibum.

“Ini semua juga karena kau terlalu keras padanya.”

Mian, aku akan memperbaiki kesalahanku.”

.

.

Other Place

Seorang namja sedang berbaring di atas tempat tidur empuknya, sembari memandang foto masa kecilnya. Foto yang berisi dua namja tampan dan satu namja cantik, diusapnya foto sang namja cantik dan diciumnya agak lama.

“Joongie ah akhirnya sebentar lagi kita akan bertemu, akan kupastikan kali ini kau menjadi milikku walau aku harus kembali bersaing dengan Yunho.” Ucapnya sebelum jatuh tertidur.

.

.

TBC

.

.

Ini FF kolab, jadi kalau ada yang lihat FF ini di WP, Blog, ataupun FFn jangan kaget & bingung ya :D

.

.

Thoughts on “Hamkke Gangje, Chagya”

Hardiantyloveyunjae: Hallo Chagy :) Suprasegmental ya? Epep ntuh butuh konsentrasi tinggi ngetiknya. Dan karena Yuuki masih dibawah pengawasan jadi Yuuki belum bisa ngelanjutin dalam waktu dekat ini.

Rani: Semangat! Fighting! :D

dewiyasmin15:  Sudah nich :D

nina:  Kemarin udah Yuuki jelaskan ne ;) Ini sudah ada. Gomawo untuk Metha :D

indah: Gomawo buat Metha yang sudah mengetik :D

mybabywonkyu: Heheheheheehe :D

Rahmadina: Soal Another Girl sudah Yuuki jelaskan kemarin, kan? :)

Kim Hyewon: Iya, Kolab :D Hehehe….

Pembalasan Bidadari Hitam VII

Tittle                : Pembalasan Bidadari Hitam VII

Writer               : NaraYuuki

Betta Reader     : Hanabusa Hyeri

Genre               : Romance/ Family

Rate                 : M

Cast                 : All member DBSK and others (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan). Seiring bertambahnya Chap castnya pun akan disesuaikan.

Disclaimer:       : They are not mine but this story, Jung Hyunno  & OOC yang lain are mine, NaraYuuki

Warning           : This is YunJae Fan Fiction (Boys Love), M-Preg. Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut. Paragraf/ dialog yang penulisannya menggunakan Blod, Italic ataupun under line berarti itu adalah kejadian dimasa lampau (flash back) TANPA EDIT.

.

.

.

.

.

PASTIKAN BACA WARNINGNYA DULU

.

.

Pembalasan Bidadari Hitam

.

.

 “Jaejoongieeeeeeee!” yeoja berambut golden brown itu berlari menghampiri Jaejoong bahkan sebelum Jaejoong sempat keluar dari dalam mobil, “Aigoo yeoppo! Kau cantik sekali….” segera saja dicubitinya kedua pipi remaja yang masih duduk dibangku junior high school itu dengan gemas.

“Noonaaaaaaaaaaaa…. Pipi Joongie sakit!” keluh Jaejoong.

“Berhenti bersikap kekanakan, Sica! Biarkan bocah itu!” ucap Yunho yang dengan santainya berjalan meninggalkan Jaejoong yang masih dipeluk oleh Jessica.

“Dasar Ahjushi jelek menyebalkan!” Jaejoong menjulurkan lidahnya, sebelum mengerucutkan bibir merah merekahnya karena sebal pada Yunho yang terus menganggapnya bocah.

“Joongie ya, sudah lupakan! Beruang menyebalkan itu memang seperti itu! Kajja! Appa sudah menunggumu.” Jessica menarik lengan Jaejoong dan diajaknya masuk ke dalam rumah. Rumah keluarga Jung!

.

.

“Aku dengar dari ayahmu, kau menang juara lomba menyayi junior high school  tingkat nasional. Apa itu benar?” tanya Woo Sung. Matanya tidak berhenti menatap wajah menawan Jaejoong, wajah yang mengingatkannya pada seseorang.

Jaejoong mengangguk pelan sambil mengulum (mengemut) sendok ice creamnya, makanan yang paling disukainya sebagai pencuci mulut. “Mungkin telinga para juri sedikit bermasalah hingga Joongie dijadikan juaranya, padahal saingan Joongie pun punya kualitas suara yang bagus, Ahjushi.” Celoteh Jaejoong yang mendapatkan dengusan meremehkan dari Yunho.

Woo Sung tertawa, “Changmin, kau dengar itu? kalau sudah besar nanti kau harus punya prestasi sehebat Joongie hyung, ne!”

Bocah tampan berusia 6 tahun yang duduk di sebelah Jaejoong itu mengangguk pelan sambil terus memakan jatah ice creamnya yang nyaris habis.

“Tenang saja Minie, Hyung akan mengajarimu.” Ucap Jaejoong sambil mengusap pelan kepala Changmin.

“Mengajari merengek dan menangis maksudmu?” sindir Yunho.

“Diam kau Ahjushi!” balas Jaejoong yang menghadiahi sebuah pelototan untuk Yunho.

“Yah! Jung Yunho! Berhenti menggoda Joongieku!” omel Jessica.

Woo Sung tersenyum melihat tingkah serta interaksi antara Yunho dan Jaejoong, “Kalian berdua harus akur, karena kelak ketika Joongie sudah dewasa kalian akan dinikahkan. Sesuai harapan mendiang ibu kalian.”

“Appa?!” mata setajam musang Yunho membulat.

“Ahjushi?!” Jaejoong menjatuhkan sendok ice creamnya.

“Yeoobo?” Ahra yang sejak tadi diam menatap tidak percaya suaminya.

Jessica dan Changmin pun hanya menatap ayah mereka dengan tatapan bingung.

“Ada masalah dengan itu? Yunho akan menikah dengan Joongie begitu Joongie lulus SMA.” Ucap Woo Sung. “Aku tidak menerima bantahan karena Siwon pun sudah setuju dengan rencana ini.”

.

.

“Dia keras kepala seperti Yunho.” Komentar Jessica ketika akhirnya untuk pertama kalinya setelah 16 tahun berlalu dirinya bisa melihat Jaejoong kembali menginjakkan kaki di rumahnya, rumah  keluarga Jung. “Aku sedikit terkejut melihatnya tumbuh seperti sekarang, dia benar-benar mirip Yunho, mereka seperti duplikat yang sama-sama memiliki egois dan tidak mau kalah satu sama lain.”

“Sepertinya begitu….” Sahut Jaejoong pelan.

“Kau membesarkannya dengan baik, Joongie. Maafkan Yunho karena telah membuatmu menderita.” Jessica mengusap lengan Jaejoong pelan. “Aku sudah menelpon Junsu dan Yoochun, aku meminta mereka untuk tidak khawatir karena aku sendirilah nanti yang akan mengantarmu pulang.”

“Kami bisa pulang sendiri, Noona.” Ucap Jaejoong. Mata indahnya tidak bisa berpaling dari putranya yang dipaksa oleh Woo Sung atas bantuan Changmin untuk mengikuti kemauan kepala keluarga Jung yang menginginkan Hyunno selalu berada didekatnya.

“Mengertilah Joongie, Appa sudah sejak lama ingin memiliki cucu yang menjadi pelipur laranya.” Ucap Jessica, “Kau tahu usiaku tidak lagi muda, akan sangat berbahaya bila aku punya anak diusia seperti sekarang. Lagi pula aku tidak mau menikah dalam waktu dekat ini, semua pria yang mendekatiku hanya tertarik pada latar belakangku sebagai seorang Jung Jessica saja. Changmin… walaupun appa sangat menyayangi dan percaya padanya tapi Changmin hanyalah anak tiri dalam keluarga ini. Kalaupun dia punya anak, anaknya tidak akan mewarisi darah Jung. Jadi satu-satunya peneruss keluarga yang dimpikan oleh appa adalah Hyunno.”

“Aku tidak berencana memberikan putraku pada keluarga Jung, Noona.” Komentar Jaejoong.

“Tanpa kau berikan pun, appa sudah pasti akan menyerahkan semuanya pada Hyunno walaupun keponakanku itu menolak keras.” Jessica tersenyum pada Jaejoong lembut, “Sifat keras kepala dan egois keluarga Jung mungkin sudah turunan dari nenek moyang.”

“Jaejoongie….” Ahra berjalan menghampiri Jaejoong dan Jessica, “Sepertinya suamiku akan bicara sedikit lebih lama dengan Hyunno. Karena itu… Yunho menawarkan diri untuk menemanimu ngobrol.”

“Yunho? Aku yang akan menemani Joongie bukan Yunho!” ucap Jessica.

Ahra segera menarik paksa lengan Jessica yang sejah tadi menempel pada lengan Jaejoong, “Kau masih ada urusan denganku!” ucap Ahra sambil mendelik kesal pada anak tirinya itu, “Jaejoongie, kami permisi dulu!” Ahra segera menarik paksa Jessica menuju arah dalam, mengabaikan pekikan dan protesan yang Jessica lontarkan.

“Tua bangka menyebalkan itu mendapatkan mainan baru yang jauh lebih menyenangkan daripada saham-sahamnya.” Namja bermata setajam musang yang baru saja masuk ke dalam rumah itu berucap.

Jaejoong terlonjat kaget, matanya melirik namja yang kini sudah berdiri di sampingnya, membuat tubuhnya bergetar.

“Kau ingin tahu apa yang terjadi pada Yihan hyung kesayanganmu kan?” tanya Yunho yang sama sekali tidak ditanggapi oleh Jaejoong. “Ikut aku! Aku akan menceritakan semuanya padamu agar kebencianmu padaku sedikit berkurang.” Dicekalnya pergelangan tanga Jaejoong untuk kemudian menarik ibu Choi Hyunno itu menaiki tangga menuju lntai dua.

.

.

“Aku tidak mau menikah dengan Ahjushi.” Jaejoong berjalan hilir mudik sambil mengigiti ibu jari kanannya, melemparkan tatapan sebal dan marahnya pada namja yang sedang duduk di bibir ranjang.

“Choi Jaejoong! bisakah kau berhenti melakukan hal itu? Mataku sakit melihatmu bergerak kesana-kemari seperti setrika uap yang menyebalkan!”

“Aku menyukai Yihan hyung!” namja berparas cantik itu menggeleng kuat-kuat, “Aku ingin menikah dengan Yihan hyung saja daripada harus menikah dengan ahjushi menyebalkan sepertimu!”

Yunho menatap sebal namja yang masih memakai seragam SMPnya itu, berdiri dan berjalan menghampiri remaja itu untuk mencekal kedua lengannya kuat-kuat. “Dengarkan aku, Bocah! Namja brengsek itu hnaya ingin memanfaatkanmu saja Bocah! Kau harus tahu sebusuk apa Jin Yihan itu sebenarnya!”

“Jangan memanggilku seperti itu! Aku bukan bocah!” pekik Jaejoong, “Dan Yihan hyung adalah orang baik! Dasar ahjushi menyebalkan!”

“Sudah diam!” bentak Yunho tidak sabar, “Kau hanya akan membuatku tuli bila terus menyebut nama namja brengsek itu!”

“Hiks… hiks…. Hueeeeeeeeee…. Appa…. Ahjushi menyebalkan ini membentak Joongie…. Hueeeeeeee….”

“Aish! Yah! Berhenti menangis! Appamu tidak di sini! Dasar bocah menyebalkan!”

.

.

Jaejoong berdiri mematung di mulut pintu yang terbuka lebar, keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya yang gemetaran, kedua tangannya mengepal kuat-kuat, matanya menatap waspada namja yang sedang mencari sesuatu di dalam laci meja kerjanya.

“Kau tidak mau masuk? Aku tidak akan mengigitmu!” komentar Yunho yang masih sibuk mencari-cari sesuatu dari dalam laci, “Aku tidak akan melakukan hal yang menakutimu. Tapi bila kau ingin memberikan adik pada Hyunno, aku bersedia membuahimu!” ucapnya tanpa dosa.

“Dasar manusia rendah!” desis Jaejoong.

“Sejak dulu kau memang selalu memandang rendah padaku, kan? Berbeda sekali dengan caramu memandang namja brengsek itu!” komentar Yunho yang beranjak menuju lemari bukunya ketika benda yang dicarinya tidak ditemukan, “Dan ku rasa kau akan sangat menyesal sudah mengenal namja brengsek itu andaikan kau tahu siapa sebenarnya dia!”

“Aku tidak mau tahu! Aku tidak butuh diberitahu olehmu!” ucap Jaejoong yang berusaha menahan dirinya untuk tidak mencekik atau menikam namja yang berada satu ruangan dengannya itu.

“Sayang sekali karena aku tetap ingin memberitahumu walaupun kau tidak menginginkannya.” Ucap Yunho yang mulai membuka laci yang berada pada bagian paling bawah dari rak bukunya, “Kau sudah cukup dewasa sekarang, ada Yoochun dan Junsu pula yang mengawasimu jadi tidak akan apa-apa bila sekarang aku memberitahumu sebuah rahasia besar yang bahkan Siwon ahjushi, ayahmu sendiri tidak tahu mengenai hal ini.”

“Aku tidak butuh tahu apapun darimu!”

Mengabaikan ucapan Jaejoong, Yunho tersenyum puas begitu melihat apa yang dicarinya berhasil ditemukannya, “Akhirnya ketemu….”

.

.

Woo Sung menggenggam erat kedua tangan Hyunno, “Aku akan menceritakan sebuah rahasia besar keluarga Jung yang kami simpan rapat-rapat selama ini.” Ucapnya, “Ku harap kau akan mengerti dan mau memahami apa yang sebenarnya terjadi melalui cerita yang akan ku sampaikan ini. Yang lebih penting… ku harap kau tidak lagi membenci kami dan ayahmu….” sudut bibirnya yang berkeriput itu membentuk sebuah senyuman tulus.

Hyunno bingung, ingin mencari ibunya untuk memastikan keadaan ibunya baik-baik saja. Berada satu ruangan hanya dengan kakek Woo Sung dan namja jangkung yang diketahuinya bernama Jung Changmin itu membuat Hyunno sedikit tidak nyaman.

“Changmin… tunjukkan benda itu pada Hyunno!” pinta Woo Sung,

Ye.” Jawab Changmin yang berjalan ke sudut ruangan, membuka sebuah brankas dan mengeluarkan isinya dengan sangat hati-hati.

.

.

TBC

.

.

Lama ya? Lebih dari 1 bulan kan? Banyak yang terjadi pada Yuuki selama itu jadi tidak sempat mengurus semua hutang epep Yuuki. Mian.

Selamat membaca dan jaga kesehatan ya :)

.

.

Monday, November 17, 2014

07:01:13 AM

NaraYuuki

Revenge VIII

Tittle               : Revenge VIII

Writer             : NaraYuuki

Betta Reader : Hanabusa Hyeri

Genre             : Romance/ Modern Fantasy/ dsb.

Rate                : M

Cast                : All member DBSK, Jin Yihan, Go Ahra (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan) and Others. Seiring bertambahnya Chap castnya pun akan disesuaikan.

Disclaimer:    : They are not mine but this story is mine, NaraYuuki

Warning         : This is YunJae Fan Fiction (Boys Love), M-Preg. Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut, TANPA EDIT.

.

.

.

.

.

PASTIKAN BACA WARNINGNYA DULU

.

.

R3

.

.

“Joongie tidak bahagia Umma menemani Joongie, hm?” yeoja itu mengusap wajah pucat putra bungsunya yang terlihat begitu murung dan kecewa. Ada perasaan sedih yang menyusup begitu melihat wajah sendu putra yang dikenalnya sangat ceria itu, bagaimanapun juga nalurinya sebagai seorang ibu membuatnya tidak bisa mengabaikan perubahan sikap putranya, “Joongie kenapa? Joongie marah pada Umma?” tanyanya sekali lagi.

Jaejoong yang sebelumnya menatap bulir hujan yang mengembun di jendela, menggulingkan tubuhnya hingga terlentang, menggunakan mutiara rusa betinanya yang indah lagi jernih itu untuk menatap wajah ibunya, perempuan yang sudah melahirkannya.

Baby….”

“Joongie senang Umma di sini bersama Joongie. Tetapi Joongie ingin bertemu dengan Beruang Besar Joongie. Sudah 3 hari Beruang menyebalkan itu tidak menemui Joongie.” Jaejoong tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Semenjak terakhir kali Yunho menjenguknya, sudah terhitung 3 hari lamanya pemuda yang memiliki mata setajam mata musang itu tidak menemuinya membuat Jaejoong merasa gundah.

“Anak Umma merindukan Beruang besarnya, eoh? Umma akan minta pada Chunie hyung untuk menelponnya agar Beruang besar Joongie datang menjenguk Joongie. Bagaimana?”

Jaejoong menggelengkan kepalanya pelan, “Mungkin Beruang Joongie sedang sibuk. Tidak apa-apa, Umma…. Joongie akan menunggunya.”

.

.

“Kau menginginkannya tetapi tidak mau menemuinya karena keberadaan perempuan itu disekitarnya kan Hyung?” tanya Changmin, “Aku tidak tega melihatmu gelisah seperti itu, Hyung. Temuilah dia! Aku tahu kau ingin menemuinya.”

Yunho membanting gelas yang masih berisi setengah cairan berwarna merah pekat yang beraroma khas itu sedikit kasar, “Mengetahui ibunya adalah perempuan brengsek itu, membuatku serasa berdiri diujung tebing kematian. Aku menginginkannya namun aku pun membenci aroma yang menguar dari tubuhnya.” Mata Yunho memerah, tatapannya penuh kebencian yang sarat (penuh) dendam, sepasang gigi taringnya yang tajam mencuat disela-sela bibir berbentuk hatinya.

“Kau tidak bisa menyingkirkan perempuan itu karena dia adalah ibu Park Jaejoong, kan?” tanya Changmin. Ditatapnya sang kakak yang terlihat sangat berang dan kesal itu dengan tatapan serius. “Hyung…. Menurutmu, bagaimana bila kita melakukan cuci darah? Darah yang ada dalam tubuh kita dikeluarkan kemudian kita masukkan darah manusia ke dalam tubuh kita dengan cara tranfusi darah bukan meminumnya. Aku sedang memikirkan kemungkinan ini.”

“Kau ingin menjadikanku kelinci percobaan lagi, Changmin?” tanya Yunho.

“Kalau Hyung tidak mau mencobanya Hyung bisa bertanya pada nenek sihir itu cara menghapus kutukan yang dia berikan.”

“Apa kau mau mati, Jung Changmin?”

Changmin tersenyum bodoh, “Sayangnya aku belum menemukan cara bagaimana membuatku bisa mati, Hyung.”

“Kapan kita mulai?!”

“Mulai apa?”

Yunho menatap tajam adiknya itu, mengepalkan tangannya ketika kesabarannya sudah diambang batas, “Percobaanmu itu!”

“Aku masih mencoba bernegosiasi dengan kenalanku untuk mendapatkan darah segar yang akan kita gunakan. Kita membutuhkan banyak darah kalau Hyung mau tahu.” Ucap Changmin, “Tapi Hyung….” diserahkannya sebuah berkas pada Yunho.

“Apa ini? Aku tidak tahu bila ada berkas yang harus ku tanda tangani.”

“Hasil laporan Park Jaejoong.” ucap Changmin, “Yaah aku mencuri dari lab rumah sakit saat suster membawa sample darahnya. Aku ingin memastikan sesuatu dan semuanya sudah jelas sekarang.”

Yunho segera menelusuri tulisan yang ada pada kertas itu, membacanya dengan teliti.

“Sebenarnya Park Jaejoong….”

.

.

“Sebenarnya aku juga merasa heran kenapa Junsu bisa mengenal Umma, mereka seperti teman lama yang sudah saling mengetahui pribadi masing-masing.” Komentar Yoochun ketika sedang menemani saudaranya jalan-jalan mengelilingi taman sekitar rumah sakit.

“Kita bisa istirahat atau kembali ke ruang rawatku bila kau merasa lelah Chunie.” Ucap Jaejoong.

“Tidak…. Aku ingin menemanimu, Joongie.” Jawab Yoochun didorongnya kursi roda yang saudaranya duduki menuju arah air mancur yang disekitarnya terdapat kolam ikan hias.

“Chunie….”

“Hm….”

“Sampai sekarang aku tidak tahu alasan kenapa Umma dan Appa bercerai.”

Yoochun berhenti melangkah sejenak sebelum melanjutkan mendorong kursi roda saudaranya, “Aku pun tidak tahu, Joongie.” Jawabnya jujur.

“Seingatku semuanya masih baik-baik saja sampai sekarang.”

“Mungkin Appa dan Umma punya masalah yang tidak kita ketahui.” Kometar Yoochun.

“Chunie, apakah Umma tidak menyukai Yunhoku?” tanya Jaejoong.

Eoh? Kenapa kau bisa berpikiran seperti itu?” Yoochun bertanya balik.

Molla…. Tapi sepertinya Umma kurang menyukai Yunho karena setiap kali aku membicarakan Yunho Umma terlihat sedih dan marah.” Ucap Jaejoong.

“Kalian sama-sama namja, mungkin itu alasan Umma terlihat sedih dan marah.”

“Tapi saat SMP dulu Umma tidak marah ketika memergokimu mencium anak tetangga kita, bukankah dia juga seorang namja? Namja yang manis. Siapa namanya? Ryuhei?”

“Jangan ingatkan aku soal itu, Joongie!” pinta Yoochun.

Jaejoong mengulum senyum merekahnya, matanya menerawang jauh menatap awan berarak yang bergerak cepat di atas sana. Berapa lama lagi? Berapa lama lagi dirinya hidup? Berapa lama lagi dirinya bisa berada diantara orang-orang yang dicintainya? Berapa lama lagi dirinya bisa merasakan indahnya cinta remanjanya bersama Yunho, sang mahluk terkutuk.

.

.

“Siapa sebenarnya kau?” Yunho mengeratkan cengkeraman tangannya pada leher Junsu saat keduanya tidak sengaja bertemu di lobi rumah sakit, Yunho segera menyeret Junsu ke toilet terdekat untuk mendengar penjelasan yang ingin diketahuinya dari mulut namja bersuara unik itu.

“Kau ingin membunuhku? Jung Yunho?” tanya Junsu yang terus memukul-mukul lengan kaku Yunho.

“Kau sudah pasti mati sejak tadi, seandainya kau manusia…. Sayangnya kau bukan manusia!” taring Yunho mencuat, kuku-kuku tajam nan runcingnya menembuh kulit leher Junsu, membuat darah segar mengucur dari sana.

Junsu menyeringai, tersenyum mengejek melihat wajah penuh amarah dan kebencian yang tercetak jelas pada wajah tampan Yunho yang menurutnya sangat memuakkan.

“Jawab aku, brengsek!” bentak Yunho yang mulai kehilangan kesabarannya.

“Namaku Kim Junsu.” Ucap Junsu, “Tidakkah kau ingat sesuatu, hm?”

Perlahan-lahan bola mata Yunho yang sudah sepenuhnya berwarna merah darah itu melebar.

Junsu tersenyum, menyengkeram lengan Yunho kemudian menghempaskannya, membuat Yunho terhembas dan menabrang washtafel hingga remuk, membuat air dari pipa yang rusak itu mengucur keluar dengan derasnya, “Menjadi saudara tiri Kim Young Woong sangat memuakkan, karena itu aku menghasut Ahra noona untuk membunuh yeoja sialan itu! Kau tahu Jung Yunho? Saat kau dan semua orang-orang bodoh itu menangisi kematian Yong Woong, aku justru merasa sangat bahagia.”

Yunho tidak menggrubris celotehan Junsu, namja tampan bermata setajam musang itu tengah terbatuk dan memutahkan darah segar dari mulutnya akibat hempasan Junsu.

“Aku muak dianggap anak harap oleh masyarakat, aku muak berada dibawah bayang-bayang Young Woong! Dan aku sangat puas ketika Young Woong mati dengan cara seperti itu!” Junsu tertawa nyaring, tawa yang menyimpan kesedihan didalam suara uniknya, “Aku bisa menguasai semuanya, kasih sayang Appa, kekayaan Appa, kehormatan sebagai bangsawan Kim, semua yang aku inginkan berada ditanganku setelah Young Woong mati!”

Dak!

Pecahan washtafel menghantam kepala Junsu hingga benda malang itu hancur berkeping-keping, membuat darah segar mengalir dari kepala dan pelipis namja bersuara unik itu. Yunho sebagai pelaku pelemparan menatap sengit Junsu, otot-otot disekitar wajah dan lehernya mengeras, otot tangannya terlihat tegang akibat menahan ledakan amarah yang tiba-tiba saja menyergapnya.

“Dan aku meminta pada Ahra noona untuk menjadikanku abadi seperti kau dan adikmu, Changmin. Bukankan itu sangat menyenangkan? Aku bisa membaur dengan baik bahkan kau tidak menyadari keberadaanku disekitarmu….”

“Kau adalah mahluk yang menjinikkan Kim Junsu!” desis Yunho.

“Dan kau adalah mahluk paling menyedihkan Jung Yunho!” balas Junsu, “Jatuh cinta pada anak bekas kekasih yang sudah kau campakan! Menyedihkan!” ejek Junsu.

Hyung…. Sebaiknya kita pergi sebelum pihak keamanan rumah sakit menemukan kalian sudah merusah salah satu toilet berharga mereka.” Ucap Changmin yang sudah berdiri di mulut pintu sambil melipat kedua tangannya di perut. Matanya menatap tajam Junsu yang sedang menatap kakaknya.

Yunho beranjak, berjalan perlahan menuju Changmin.

“Jaejoong akan mati! Dia akan mati….” gumam Junsu.

“Persetan denganmu, Brengsek!” maki Yunho sebelum berjalan dengan bahas kuyup meninggalkan toilet.

Changmin mengamati Junsu untuk beberapa saat lamanya, “Kau… kau bahkan lebih menyedihkan daripada aku dan Yunho hyung!” ucapnya sebelum berjalan menusul Yunho.

.

.

Park Jaejoong, bercintalah denganku! Aku ingin kau menjadi milikku!”

Mutiara rusa betina yang legam lagi indah itu terbuka, menatap lampu neon yang tergantung tepat di atasnya, melirik ke arah sofa tempat ayah dan saudara kembarnya sedang beristirahat, melirik lengan kanannya yang digenggam oleh sang ibu yang juga tengah terlelap sambil menggenggam tangannya erat.

“Apa yang Umma sembunyikan dari kami….” gumamnya, ditatapnya wajah lelah yeoja yang sudah melahirkannya itu dengan mata nanar.

.

.

TBC

.

.

Thursday, November 13, 2014

8:32:42 AM

NaraYuuki