Senja

540345_449833995063936_174666514_n

Sekejap senja tenggelam dalam lautan asa

Perlahan-lahan sikap nestapa lara yang kau punya

Tak mengapa….

Hidup, seperti itulah adanya….

Serupa siang berganti malam….

Ada yang datang sekedar untuk singgah sesaat

Ada yang tinggal cukup lama untuk mencoba.

Luka dan bahagia….

Pada akhirnya itu juga yang kan kau rasa.

Bukankah seperti itu hidup didunia fana?

Sekejap mata….

Takdirmu kan menjingga sebelum perlahan menggelap.

.

.

.

.

.

Saturday, September 13, 2014

3:44:44 PM

NaraYuuki

Revenge VI

Tittle               : Revenge VI

Writer             : NaraYuuki

Betta Reader : Hyeri

Genre             : Romance/ Modern Fantasy/ dsb.

Rate                : M

Cast                : All member DBSK, Jin Yihan, Go Ahra (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan) and Others. Seiring bertambahnya Chap castnya pun akan disesuaikan.

Disclaimer:    : They are not mine but this story is mine, NaraYuuki

Warning         : This is YunJae Fan Fiction (Boys Love), M-Preg. Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut, TANPA EDIT.

.

.

.

.

.

PASTIKAN BACA WARNINGNYA DULU

.

.

R2

.

.

Jaejoong tertegun, bagunan megah di hadapannya ini terlihat seperti rumah bangsawan kuno, mengingatkannya pada rumahnya di Jepang semasa kecil dulu ketika orang tuanya belum bercerai dan ibunya belum meninggalkannya ke Amerika demi mengejar kariernya. Jaejoong mengerutkan keningnya ketika melihat orang-orang lewat berlalu-lalang di sekelilingnya dengan pakaian tradisional yang biasanya dilihatnya pada drama-drama televisi bertemakan kerajaan.

“Ini dimana?” gumamnya bingung.

Sekelabatan (bergerak dengan cepat) Jaejoong melihat sosok Yunho dengan stelan pakaian berwarna biru langit berjalan memasuki salah satu pintu di sisi kanan bangunan rumah itu. Jaejoong berlari menuju arah pintu tempat Yunho menghilang, mengabaikan keluhan dari orang-orang yang ditabraknya. Bahkan Jaejoong tidak memedulikan seorang yeoja yang ditabraknya, sama sekali tidak berniat menolong yeoja itu untuk sekedar bangun walaupun Jaejoong sudah membuat yeoja itu menumpahkan semangkuk sup gingseng merah ke tanah.

Memastikan berdiri di depan pintu yang sama dengan pintu yang dimasuki oleh Yunho beberapa menit yang lalu, Jaejoong perlahan-lahan menggeser pintu itu, memasukinya dengan ragu.

“Yunho… Jung Yunho?” panggilnya.

Sebuah kamar. Itu yang Jaejoong lihat. Matanya menatap gorden bermarna merah darah yang tergantung di mulut jendela, membuat cahaya matahari senja mengintip malu-malu memasuki ruangan  yang cukup remang-remang itu.

Suara erangan menyentak Jaejoong, membuat namja cantik itu menoleh menatap satu-satunya ranjang di dalam kamar itu, mutiara rusa betinanya membulat sempurna melihat pemandangan yang tersuguh di balik kelambu tipis yang mengkungkung ranjang.

Di sana…. Di atas ranjang sana….

.

.

“Jung Yunho!” Jaejoong berteriak histeris, air mata mengalir dari sepasang mutiara rusa betinamya yang terbelalak lebar, napasnya memburu cepat.

“Kau mimpi buruk? Kenapa menangis?” Yunho yang masih berbaring sambil memeluk Jaejoong itu mengusap air mata yang membasahi pipi Jaejoong menggunakan punggung tangan kirinya.

Jaejoong melihat sekeliling, UKS sekolah! Itu berarti dirinya hanya bermimpi. Yunho ada di sampingnya, tengah memeluk dirinya. bahkan Changmin pun sedang berada di UKS memakan makanan dari kotak bekal yang tadi pagi disiapkannya dengan sangat lahap. Benar-benar mimpi? “Siapa yeoja itu?” tanya Jaejoong, ditatapnya Yunho lekat-lekat dengan mata nanarnya.

Yeoja yang mana?” tanya Yunho.

Yeoja yang….” lidah Jaejoong terasa kelu. Matanya terasa sangat panas dan perih ketika teringat sesuatu yang dianggapnya mimpi namun terasa sangat nyata itu. Jaejoong menggigit bibir bawahnya kuat-kuat agar isakan yang mulai meronta ingin keluar itu tidak terdengar oleh Yunho. Tubuhnya bergetar hebat, sekuat tenaga Jaejoong mendorong tubuh Yunho agar menjauhi dirinya.

Boo?” Yunho mengerutkan keningnya, Yunho tidak bisa membaca pikiran Jaejoong sehingga dirinya tidak tahu apa yang namja cantiknya itu pikirkan sekarang.

Menahan nyeri yang tiba-tiba menyerang dada kirinya, Jaejoong bangun dari posisi tidurnya. Meskipun sedikit sempoyongan tetapi namja cantik itu memilih posisi berdiri, sebelum menarik napas dalam-dalam.

Boo?” tanya Yunho sekali lagi.

“Youngwoong… Youngwoong….” gumam Jaejoong seperti olang linglung.

“Uhuk! Youngwoong?” tanya Changmin.

“Kenapa dengan Youngwoong, Boo?” tanya Yunho.

“Siapa Youngwoong? Siapa yeoja itu? Kenapa kau tidur dengannya?!” tanya Jaejoong histeris. “Kenapa?” perlahan-lahan air mata itu mengalir lagi dari sepasang matanya yang terlihat agak sembab. Jaejoong tidak suka ini. Meskipun hubungan mereka diawali oleh kejadian konyol nan menggelikan tetapi Jaejoong tidak pernah menganggap hubungannya dengan Yunho main-main, tidak pernah!

Hyung?” Changmin menatap was-was kakaknya yang mulai beranjak dari ranjang dan melompat ke hadapan Jaejoong dengan gerakan gesit dan akurat.

“Youngwoong?” tanya Yunho.

Yeoja yang sangat mirip denganku, ani! Aku bahkan sempat berpikir Youngwoong adalah aku dalam wujud perempuan karena kami sama, maksudku semuanya, wajah, hidung, mata, kulit, tanda lahir, letak tahi lalat, semuanya sama kecuali jenis kelamin kami yang berbeda.” Ucap Jaejoong terbata. Jaejoong sangat bingung sekarang, tetapi penyebab bingungnya apa ia sendiri pun tidak tahu.

“Kim Youngwoong, istriku. Wanita yang ku cintai. Wanita yang mati terbunuh oleh wanita yang pernah ku cintai sebelumnya.” Jawab Yunho.

Jaejoong merasakan kepalanya tiba-tiba terasa sangat pening mendengarkan jawaban yang Yunho berikan. Namja cantik itu nyaris ambruk jikalau Yunho tidak memeluk pinggangnya erat. Perlahan-lahan tubuh lengser ke bawah dan terduduk di atas lantai UKS yang terasa sangat dingin.

“Aku menjadi mahluk mengerikan seperti ini sejak 500 tahun yang lalu, Boo. Pada saat itu pernikahan sering dilakukan pada saat usia sangat dini, pada kasus pernikahan keluarga istana bahkan lebih parah lagi. Aku menikah dengan Youngwoong atas paksaan orang tuaku pada awalnya ketika aku berusia 18 tahun. Awalnya aku memang tidak mencintainya tetapi perlahan-lahan cinta itu tumbuh dihatiku untuknya.” Yunho menjelaskan, “Tetapi mantan yeoja chinguku sebelum aku menikahi Youngwoong merasa terhianati olehku. Dia melakukan sesuatu yang buruk pada Youngwoong….”

“Apa yang yeoja itu lakukan pada Youngwoong?” tanya Jaejoong.

“Dia menusuk perut sebelah kanan Youngwoong.” Jawab Yunho.

Sepasang mutiara rusa betina Jaejoong bergerak gelisah.

“Kenapa tiba-tiba kau bertanya soal Youngwoong, Boo? Aku bahkan tidak pernah menyebut namanya. Darimana kau tahu soal…”

“Aku melihatnya.” Jaejoong menatap wajah Yunho masih dengan tatapan nanar.

“Melihat?” Yunho mengerutkan alisnya.

“Aku tidak tahu. Yang aku tahu aku berdiri di depan sebuah rumah keluarga bangsawan yang sangat besar, kau masuk ke dalam sebuah pintu, aku mengikutimu. Ternyata yang kau masuki adalah sebuah kamar. Dikamar itu aku melihatmu dan Youngwoong tengah….” Jaejoong terdiam sesaat. “Jangan paksa aku untuk megatakannya!”

Yunho mengerti sekarang, “Sedikit mnegejutkan kau memimpikan masa laluku, Boo.” Dipeluknya tubuh Jaejoong erat-erat walaupun wajahnya menunjukkan tengah memikirkan dan menyimpulkan banyak kemungkinan kenapa tiba-tiba Jaejoong memimpikan hal seperti itu. “Bangunlah! Seosengnim sedang berjalan kemari, seosengnim akan panik bila melihatmu terduduk di lantai seperti ini.” Merasa Jaejoong tidak mendengar omongannya, Yunho membopong tubuh Jaejoong untuk dibaringkan lagi ke atas tempat tidur.

“Dia sedikit syock ku rasa.” Changmin berkomentar setelah menghabiskan bekal yang seharusnya menjadi jatah Yunho dan Jaejooong.

Yunho mengusap wajah pucat Jaejoong perlahan, “Semua itu hanya masa laluku, Boo. Terlepas dari seberapa pun miripnya kau dan Youngwoong dimataku kalian berbeda. Aku melihatmu sebagai Park Jaejoong bukan sebagai pengganti Youngwoong, jadi jangan risaukan apapun yang bisa mengganggu kesehatanmu. Aku milikmu dan tidak akan ada yang akan mengambilku darimu. Aku bersumpah!” digenggamnya jemari Jaejoong yang terasa dingin.

“Nah, ku rasa aku harus pergi sebelum ketahuan makan di UKS.” Changmin membuka jendela kaca dekat ranjang Jaejoong, tangan kirinya memeluk erat kotak bekal milik Jaejoong, “Hyung… Jangan membuatnya syock lebih dari ini.” Pesannya sebelum melompat keluar dari jendela.

.

.

Yoochun menatap jengah kelakuan saudaranya yang enggan melepaskan cengkeramannya pada baju seragam Yunho. Terlebih wajah Jaejoong terlihat seperti orang ling-lung, sangat pucat dan terus berkeringat dingin seolah-olah saudaranya itu baru saja melihat penampakan hantu –kalau benar hantu memang ada, karena sejak kecil Jaejoong memang sedikit pengecut jika menyangkut film horor atau sejenisnya.

“Kau apakan dia?” tanya Yoochun dengan wajah galaknya. Yoochun tidak berharap ketika dirinya menjemput Jaejoong di UKS usai pulang sekolah melihat saudaranya itu bersikap aneh seperti sekarang yang seolah-olah menderita paranoid akut.

“Dia mimpi buruk tadi.” Ucap Yunho, “Kurasa dia hanya sedikit syock karena mimpi itu.”

“Mimpi?” Yoochun mengerutkan keningnya, mimpi seperti apa yang membuat saudaranya yang terkadang sangat cerewet itu terlihat seperti mayat hidup, sangat pucat dan kaku.

“Dia melihatku bersama perempuan lain dimimpinya.”

Yah! Sudah ku katakan untuk tidak menyakiti perasaannya, kan?” mata Yoochun mulai berkilat marah.

“Dalam mimpinya, aku tidak bisa melarangnya memimpikan hal semacam itu.” Yunho menatap datar Yoochun, “Aku sudah mengatakan padanya bahwa aku adalah miliknya dan tidak akan ada yang akan mengambilku darinya, tetapi sepertinya itu tidak cukup untuknya hingga dia tidak mau melepasku.” Yunho melirik jemari pucat Jaejoong yang mencengkeram kuat baju seragamnya hingga kisut.

Yoochun tidak berkomentar, dilangkahkannya kakinya menghampiri saudaranya untuk kemudian merangkul bahu Jaejoong erat, “Kajja pulang!” ajaknya.

Jaejoong bergeming (tidak bergerak/ diam saja) dan semakin mengeratkan cengkeramannya pada baju Yunho.

“Joongie?” Yoochun berusaha membujuk saudaranya.

“Biar aku….” ucap Yunho yang menarik tubuh Jaejoong yang semula berada di pojok samping kanan belakangnya kini tepat berdiri di hadapannya, “Boo, aku akan mengantarmu pulang sampai ke rumah. Jadi bisakah kau melepaskan cengkeramanmu, hm?”

Penuh keraguan mata seindah mutiara rusa betina itu menatap lekat-lekat mata kecoklatan setajam musang milik Yunho walaupun tatapan itu terlihat tidak fokus.

“Kau boleh memasungku nanti, tetapi lebih baik kita pulang dulu….” diusapnya wajah pucat Jaejoong yang terasa sangat dingin.

Jaejoong mengangguk pelan, perlahan-lahan melepaskan cengkeramannya pada baju Yunho, meninggalkan jejak kusut di atas permukaannya. Mundur satu langkah ke belakang, Jaejoong sempoyongan, kepalanya terasa berputar-putar sebelum semuanya terlihat gelap dan memudar. Samar Jaejoong mendengar suara pekikan Yunho dan Yoochun menyebut namanya dengan intonasi panik.

.

.

Tubuh itu hanya berdiri kaku di sudut ruangan namun matanya tidak melepas fokusnya ketika yeoja itu mengusap wajah pucat Jaejoong yang tengah tertidur –atau pingsan? Dilihatnya kuku-kuku panjang berwarna merah menyala nan mengkilap itu bersinar akibat pantulan sinar lampu yang mengantung di atas langit-langit yang pucat.

“Jung Yunho pasti tengah kebingungan sekarang. Bagaimana bisa Jaejoong melihat masa lalunya melalui mimpi….” bibir yang dipoles lipstik merah itu bergumam.

“Akan sangat aneh bila dia tidak bingung.” Setalah diam kaku di sudut ruangan, namja bersuara unik itu membuka mulutnya.

“Aku memanipulasinya dengan baik, bukan? Pembalasan ini akan terasa sangat manis bila aku bisa menghancurkan Jung Yunho perlahan-lahan hingga dia akan memohon kematiannya sendiri….”

.

.

Yunho berhenti di mulut pintu, matanya memandang marah namun belum berubah kemerahan ketika menyadari aroma asing yang mengancam memenuhi ruang rawat Jaejoong. Setelah insiden pingsannya Jaejoong di UKS 3 hari yang lalu, namja cantiknya itu memang dirawat inap di rumah sakit dan sampai sekarang belum pernah membuka matanya sekali pun walaupun keadannya sudah mulai stabil. Mata waspada Yunho bisa melihat Yoochun yang terlelap di atas sofa dengan wajah kelelahan serta Park Jihan –ayah Yoochun dan Jaejoong yang sedang bicara dengan seorang suster di samping ranjang rawat Jaejoongnya.

“Yunho, kau datang?” namja dewasa dengan mata yang sayu dan gurat lelah yang membaur denga kesedihan itu tersenyum pasi pada Yunho. Walau sibuk dengan pekerjaannya tetapi Jihan tahu bila sekarang putra cantiknya memang tengah dekat dengan teman sekelasnya yang bernama Jung Yunho.

“Joongie akan marah bila aku tidak menjenguknya, Ahjushi.” Jawab Yunho. Sedikit ragu Yunho melangkah masuk.

“Dia akan senang bila melihatmu saat dia bangun nanti.” komentar Yihan, “Jagalah dia sebentar. Sepertinya dokter ingin bicara padaku secara serius soal kondisi Joongie.” Yihan tersenyum dan berjalan pelan mengikuti suster yang sudah terlebih dahulu pergi meninggalkan ruang rawat Jaejoong.

“Aroma perempuan jahat itu tercium sangat kuat.” Gumam Yunho sebelum berjalan menghampiri Jaejoong cepat-cepat, mencium punggung tangan pucat yang tidak diinfus serta bibir merah yang kini terlihat sedikit pucat itu perlahan, “Boo, aku datang… bangunlah agar aku bisa melihat mata indahmu….” bisiknya.

Melihat Jaejoong seperti ini membuat Yunho ingin segera mengigit dan mengubah jantung Jaejoong menjadi batu agar namja cantiknya tidak menderita dan kesakitan seperti ini. Andaikan Yunho bisa karena Changmin selalu memperingatkan dan mengingatkan bahwa jika Yunho akan melakukan hal itu pada Jaejoong, Changmin sendiri yang akan mengentikannya.

“Aku rela kehillangan apa saja karena aku sudah pernah kehilangan semuanya. Tetapi aku tidak mau kehilanganmu, Boo…. Tidak mau!” bisik Yunho terdengar parau penuh keputusasaan.

.

.

TBC

.

.

Diotak Yuuki FF ini akhirnya Sad lho. Ottoke? :D

.

.

Thoughts on “Revenge V”

Diennha: Ottoke? :D

Azkhana: Ane ga tahu, Mak :D Ssabar Mak :3

lee huang ziol : Masing-masing punya ketakutan ne :)

Rani: Belum tertebak ya? :D

Areah Bii : Baca ulang saja Tante <3 Bogoshipo  :’(

Nina: Ayo tebak :D

T3Jj kim : Sejujurnya Yuuki nyaris mendatangi psikiater :’( Well, semuanya akan teruangkap pelan-pelan.

Ratnaezleeem : Nugu?

Dewifebrianayasmin: Nugu?

Meybi : Akan Yuuki jelaskan pelan-pelan. Sabar saja.

Mybabywonkyu: Cieeeeeeee yang udah punya WP #toeltoelTante, Makan-makan nyok Tan #seretKulkas :D Rahasia  ;)

Echasefry: Pan Gajah kalau ngamuk juga serem :D Hohohohoo… Coba tebak ;)

Yuuqy: Ini sudah datang :D

Karin Cassiopeia : Nado Chagy #jitak :D

Zhemee: Ne :)

Yuuruuki: Nugu? #bingung

Rahmadina : Ayo ditebak lagi :D hehehehe….. Fighting!

Nadia: Kagak mungkin ane :D Ayo ditebak lagi.

Anyjae: Itu bukan salah nulis kok, cuma hurufnya yang kurang satu biji :D Hohohohoho…. Yang benar “Berpikir” bukan “Berfiir” :D Gomawo sudah mengingatkan.

Kim Hyewon: Judulnya memang hiatus tapi Yuuki tetap nulis walau satu kalimat seharinya. Hehehehe…. Cuma yang post tulisan Yuuki bukan Yuuki, Yuuki dibantuin Eli :D Hohohoho…. Badai pasti berlaluuuuuuuuuuuuuu #uhuk :D

Reanelisabeth: Jangan penasaran, bahaya :D

Yulkorita: Gwaechana Chagy :D Gomawo ne sudah baca.

.

.

.

Wednesday, September 10, 2014

8:18:41 AM

NaraYuuki

Urceolla and Black Sword

Tittle                : Urceola and Black Sword (bagian Love Stone)/ My Fav Ever <3 <3 <3 <3 <3

Author              : NaraYuuki

Genre               : Yang jelas fantasy gagal

Rate                 : T  

Cast                 : Umma, Appa and other

Disclaimer:       : They are not mine, but this story is mine, NaraYuuki

Warning           : Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut

.

.

Urceolla & Black Sword

.

.

Jebbal….” Lihatlah! Bahkan doe eyes itu mengalahkan mutiara terindah di jagad raya ini.

“Kau tidak akan bisa kabur karena aku akan merantai kedua kakimu….” Ancam namja tampan itu sedikit bergurau.

“Kau jahat….” Chery lips itu merengut sempurna.

.

.

.

.

.

“Young Woong pasti bahagia karena bisa hidup di dunia cahaya, ne?” lirihnya.

“Hero….”

“Aku akan pulang….” Ucapnya sebelum tiba-tiba saja menghilang menyisakan sekelebat bayangan hitam.

.

.

Urceolla & Black Sword.jpg II

.

.

“Bila kita bisa terlahir kembali, aku berharap kita dipertemukan dan di lahirkan di dunia cahaya agar kau bisa melihat betapa indahnya dunia itu…. Pada saat itu, akan ku balas cinta yang kau berikan padaku…. Akan ku jaga dan ku cintai dirimu dengan segenap hatiku, seumur hidupku….”

.

.

.

.

.

Thursday, June 20, 2013

8:58:32 AM

NaraYuuki

 

Suprasegmental II

Tittle                : Suprasegmental II

Writer               : NaraYuuki

Genre               : Romance/ Adventure/ fantasy kerajaan/ Incest

Rate                 : -M

Cast                 : Member DBSK (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan).

Disclaimer:       : They are not mine but this story is mine, NaraYuuki

Warning           : This is YunJae Fan Fiction (Boys Love). M-Preg. Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut.

.

.

.

.

.

PASTIKAN BACA WARNINGNYA DULU

EPEP INI KHUSUS BUAT EMAK IFA DAN PARA KUTIL TERSAYANG YUUKI :D

.

.

Suprasegmental Dari NaraYuuki untuk para Kutil

.

.

“Kau indah….” puji Yunho.

Jaejoong membalikkan tubuhnya, menatap Yunho yang memasang wajah terkejutnya, “Malam ini saja.”

“Huh?”

“Malam ini saja… kau boleh menyentuhku!”

Yunho tersenyum, jemari kokohnya membelai wajah basah Jaejoong perlahan, mata setajam musangnya yang berwarna kecoklatan menatap teduh penuh kerinduan pada sepasang mutiara rusa betina yang indah itu. Tentu saja tidak akan dilewatkannya apa yang sudah namja menawan di hadapannya itu tawarkan kepadanya. Telapak tangan Yunho perlahan-lahan mengusap punggung Jaejoong, mengusapnya ke bawah hingga sampai pada pinggang ramping cucu Hakim Agung itu, meremasnya perlahan sebelum memberikan dorongan kecil agar tubuh Jaejoong lebih mendekat pada tubuhnya.

“Kau yang memberiku ijin melakukannya, jadi jangan menyesal nanti… Boo!” Yunho mengingatkan.

Jaejoong melingkarkan kedua lengannya pada leher Yunho ketat seolah-olah enggan terlepas darinya, “Dan jangan memanggilku dengan panggilan seperti itu! Secantik dan semenggairahkan apapun aku dimatamu, aku tetap seorang namja.” Tanpa menunggu komentar Yunho, Jaejoong menempelkan bibir merah penuhnya pada bibir Yunho, menunggu sesaat sebelum terbuai ketika Yunho mulai menghisap bibirnya, mula-mula lembut hingga sedikit menuntut.

Ketika tubuh dan sentuhan mereka menjadi semakin intim, Yunho semakin kehilangan kendali dirinya, melepaskan tautan bibir mereka, Yunho menyapukan bibir berbentuk hatinya untuk menyentuh seluruh permukan wajah, dagu dan leher jenjang Jaejoong, “Ku rasa aku sudah tidak bisa menahannya lagi, Boo….” bisik Yunho disela kegiatannya mengukirkan jejak cintanya di atas permukaan kulit bahu Jaejoong.

“Lakukan!” ucap Jaejoong dengan suara tertahan.

Yunho mulai mengusap dan meraih salah satu kaki Jaejoong untuk diangkat dan dilingkarkan pada pinggangnya sendiri ketika suara terkutuk itu membuatnya terpaksa menjatuhkan gairahnya kedasar jurang kenestapaan yang memuakkan.

“Maaf Tuan, makan malam sudah siap!” suara lembut dan terdengar sangat sopan itu terdengar.

Yunho mendesis marah, merapalkan sumpah serapah tanpa bersuara hingga hanya bibirnya yang terlihat komat-kamit.

Jaejoong yang bisa melihat raut marah dan kesal pada wajah tampan Yunho hanya bisa tersenyum kecil, mengecup perlahan bibir berbentuk hati itu untuk menenangkannya, “Aku tidak akan lari darimu.” Jaejoong mulai menjauhkan dirinya dari tubuh Yunho.

“Aku benci menunda kegiatan penting ini!” Yunho mengumpat, hanya didepan Jaejoonglah Yunho menjadi dirinya sendiri tanpa harus repot-repot menjaga martabatnya sebagai anak bangsawan beradab.

“Aku sudah bilang malam ini kau boleh menyentuhku, tidak harus sekarang. Seusai makan malam pun tidak masalah. Kau boleh melakukannya semampumu malam ini! Asal ingat kalau besok kita harus bekerja.” Komentar Jaejoong yang langsung naik meninggalkan kolam pemandian air panas, meninggalkan Yunho yang masih berusaha menurunkan amarahnya.

.

.

Makan malam dihidangkan di kamar Jaejoong karena memang rumah utama tidak digunakan sebagai tempat makan, biasanya siswa magang terdahulu akan makan di pendopo ataupun dapur tetapi Jaejoong menolak melakukannya dan menyuruh pelayan menghidangkan makanan malam di kamarnya mengingat dari semua ruangan di rumah utama kamaryalah yang paling luas.

“Besok pindahkan barang-barang Yunho kemari! Mulai besok kami akan tidur satu kamar.” Perintah Jaejoong.

Bukan hanya Yunho yang dibuat kaget oleh perintah Jaejoong itu, para pelayan yang  menunggui mereka makan pun hanya mampu melempar pandangan bingung satu sama lain.

“Jae?” tanya Yunho.

“Kita membutuhkan ruang kerja yang luas! Ruang kerja yang berada di rumah ini sangat sempit, aku kurang menyukainya.” Komentar Jaejoong yang dengan tenang melahap makanannnya. “Kita bisa menggunakan kamarmu sebagai ruang kerja kita berdua mengingat kita harus sering berdiskusi. Kau ingat bukan kalau kau adalah kepala polisi dan aku hakim kota ini? Kita dituntut memecahkan banyak kasus pelanggaran yang sudah terjadi di kota ini, karena itu kita butuh ruang kerja yang lebih luas untuk kita berdua.”

Yunho mengangguk pelan, menyetujui usul Jaejoong yang memang sedikit lebih masuk akal dibanding pemikirannya.

“Jaejoong menoleh menatap pelayan yang berdiri di dekat pintu kamarnya, “Dan ruang kerja yang sudah ada bisa digunakan sebagai ruang makan untuk kami. Kalian tidak keberatan melakukan sedikit perubahan, bukan?” tanyanya.

“Tidak Tuan. Melayani anda adalah tugas kami.” Ucap keempat pelayan itu sembari menundukkan kepala mereka dalam-dalam.

Jaejoong kembali memakan makanannya, mengabaikan sepasang mata musang milik Yunho yang menatapnya penuh gairah dan kerinduan, “Ku harap besok makanan dan kereta sudah siap pada pukul enam pagi, mungkin bisa lebih sedikit tetapi jangan terlalu siang.” Pintanya yang langsung diangguki oleh keempat pelayan yang berada di sana.

.

.

Usai makan malam Yunho bergegas kembali ke kamarnya untuk mengambil sesuatu yang kemudian bergegas kembali lagi ke kamar Jaejoong membawa sebuah bungkusan panjang nan ramping. Bungkusan yang dililit oleh kain sutra bermotif bunga lili api berwarna merah darah nan indah itu diletakan di hadapan Jaejoong yang sedang membaca salah satu dari laporan yang diantarkan oleh Changmin sore tadi.

Jaejoong menatap Yunho dan bungkusan itu secara bergantian. Alisnya berkerut menunjukkan ekspresi ketidakpahamannya atas maksud Yunho.

“Bukalah!” Yunho tersenyum, diambilnya laporan tebal yang berada di atas pangkuan Jaejoong untuk dipindahkan ke atas meja yang berada di samping mereka.

Jaejoong meraih bungkusan itu, satu per satu dibukanya tali simpul yang melilit kain sutra pembungkusnya. “Katana?” Jaejoong menatap Yunho sedikit heran ketika kain sutra  itu terjatuh, menyisakan sebuah pedang panjang yang indah di tangannya.

“Kita berdua tahu resiko dari tugas yang kita emban….”

“Terbunuh?” tanya Jaejoong memotong pernyataan Yunho.

Yunho mengangguk pelan, “Akan ada saat dimana aku tidak bisa berada disampingmu, jadi ku rasa kau harus mempersiapkan dirimu untuk menjaga dirimu sendiri.” Ucap Yunho, “Walaupun kemungkinannnya kecil mengingat kau adalah kerabat Yang Mulia Raja. Tapi aku ingin tetap mengantisipasi kemungkinan yang kecil itu.”

Jaejoong mengeluarkan pedang yang berbentuk menyerupai katana milik para samurai negri sakura itu dari sarungnya perlahan-lahan, menatap kilauan permukaannya yang indah namun tajam dan mematikan. Menatap lekat-lekat ukiran yang terletak di pangkal dekat gagangnya. “Dangsineul yeong wonhi boho (Melindungimu selamanya).” gumam Jaejoong yang langsung menyarungkan kembali pedang itu.

“Aku akan melindungimu selamanya apapun yang terjadi.” Yunho berkomentar.

Jaejoong segera melempar pedang itu hingga sudut kamarnya sebelum menerjang Yunho, membuat namja tampan bermata setajam musang itu terjengkang dan terlentang di atas lantai.

“Kau sudah tidak sabar ya?” tanya Yunho yang hanya bisa mengulum senyum ketika Jaejoong menduduki perutnya dan mulai mengecupi permukaan lehernya, “Sabarlah, Boo! Walaupun aku sendiri pun sudah tidak bisa menahannya lagi tapi kita harus menunggu pelayan agar mereka tidur dulu.”

Tidak memedulikan ucapan Yunho, Jaejoong mulai melepas tali simpul baju yang dikenakan oleh Yunho, “Sekarang atau tidak sama sekali, Jung Yunho!”

Arra….” lirih Yunho yang meraih wajah Jaejoong menggunakan kedua telapak tangan kokohnya, mencium bibir merah merekah itu dalam dan lama-lama seolah dirinya sudah menahan hasrat itu selama puluhan tahun.

.

.

Jaejoong terkulai, membiarkan Yunho ambruk diatas tubuhnya walaupun sejujurnya hal itu membuatnya sedikit kesulitan bernapas. Ini salah, dosa. Yunho adalah saudara tirinya dan mereka berdua sama-sama namja. Sangat berdosa, menjijikkan dan hina! Tetapi…

“Aku mencintaimu!” bisik Yunho. Berangsur-angsur lengser ke sisi kanan tubuh Jaejoong, berbaring miring di sana dengan tenang dan mengamati wajah lelah namja menawan yang membuat hatinya lumpuh dan buta itu. Jemarinya terjulur membelai permukaan berkeringat wajah Jaejoong membuat siempunya menolehkan kepala untuk melihatnya.

“Cinta yang salah.” Gumam Jaejoong.

“Memang aku peduli?” Yunho menarik tubuh Jaejoong ke dalam pelukannya, menciumi wajah dan puncak kepala namja cantik itu, mengabaikan rambut panjang mereka yang tergerai berantakan.

“Kau adalah penegak hukum!” Jaejoong mengingatkan.

“Dan kau adalah hukumku! Aku sudah menahan diriku untuk tidak membawamu kawin lari jadi biarkan aku menjadi diriku sendiri selama ditugaskan di kota ini bersamamu.”

“Tidak ada yang bisa menghentikanmu!” Jaejoong bergumam, kedua kelopak matanya tertutup menikmati sentuhan yangg diberikan Yunho padanya.

“Menggabungkan kamar kita? Kau yakin?” tanya Yunho, “Kalau boleh jujur aku tidak yakin. Aku tidak yakin bisa menahan diriku bila berada satu kamar denganmu.”

“Tidak ada pilihan lain. Kita memang membutuhkan ruang kerja yang lebih luas agar sewaktu-waktu bila kita perlu mengadakan rapat di rumah, kita tidak perlu repot mencari tempat.” Ucap Jaejoong, “Jadi jangan coba-coba melakukan hal yang mencurigakan atau akan ku depak kau keluar!”

“Aku akan jadi anak baik agar bisa selalu bersamamu.” Bisik Yunho pelan sebelum mengulum bibir merah darah itu, sekali lagi mengajak Jaejoong menyelami surga mereka berdua.

.

.

Kabut masih sangat tebal menutup sinar matahari ketika Yunho sudah duduk diam di pendopo untuk menunggu Jaejoong. Bukan karena bangun kesiangan atau terlalu lama berbenah diri sehingga namja berparas rupawan itu belum juga muncul di pendopo. Jaejoong hanya sedang mengarahkan para pelayan bagaimana seharusnya menata kamar untuknya dan Yunho, bagaimana membenahi kamar Yunho yang mulai hari ini akan dipakai untuk ruang kerja mereka serta bagaimana seharusnya mendekorasi ruang yang semula diperuntukkan sebagai ruang kerja untuk diubah menjadi ruang makan.

Yunho tersenyum memikirkannya, bagaimana bisa Jaejoong yang seorang namja bisa begitu teliti untuk hal-hal sesepele itu?

“Aku harap mereka mengerti intruksiku.” Gumam Jaejoong yang berjalan perlahan menghampiri Yunho ditemani seorang pengawal.

“Siap berangkat?” Yunho tersenyum melihat sebuah pedang tersemat pada ikat pinggang yang Jaejoong kenakan. Yunho beranjak dari duduknya, berjalan pelan menuju kereta yang sudah siap sejak tadi, membukakan pintu kereta untuk Jaejoong.

“Pinggangku sedikit nyeri.” Keluh Jaejoong yang perlahan-lahan menaiki kereta kuda.

Yunho memegangi punggung Jaejoong ketika namja menawan itu kesulitan menaiki kereta kuda, usai memastikan Jaejoong duduk nyaman di dalam kereta, Yunho sendiri masuk ke dalam kereta.

Derak roda kereta kuda terdengar begitu nyaring ditengah gempuran kabut yang tebal, bahkan dibeberapa titik kabut terlihat lebih tebal dari yang lain namun di jalan-jalan utama beberapa petani dan pedagang sudah mulai terlihat hilir mudik. Para petani terlihat membawa keranjang berisi sayuran dan buah-buahan pada punggung mereka untuk dijual. Para pedagang mulai membuka lapak-lapak mereka dan membersihkan sekitar tempat mereka berjualan dari sampah-sampah yang berserakan.

Jaejoong tersenyum melihat seorang yeoja yang menggendong anak balitanya tengah mendorong gerobak berisi berkantung-kantung karung –yang Jaejoong yakini berisi beras dan gandum, gerobak itu ditarik oleh seorang laki-laki yang Jaejoong duga sebagai suami dari sang yeoja.

“Apakah menarik? Kau ingin sepertinya juga?” tanya Yunho yang ikut melihat apa yang sebelumnya namja canti itu lihat dari balik jendela.

“Aku ingin punya anak, bukankah itu sangat manusiawi?” tanya Jaejoong balik, dipandanginya wajah tersenyum Yunho yang kali ini menatapnya juga.

“Kalau kau menginginkannya, aku bisa mnegusahakan sesuatu untukmu, Boo.”

Jaejoong mentap tajam Yunho, “Kau mau mengajakku kawin lari lagi seperti ketika kau berusia delapan belas tahun dulu?” tanya Jaejoong, “Lupakan!”

“Tidak! Ada cara lain yang lebih bermartabat untuk memilikimu walaupun kawin lari tetap menjadi pilihan seandainya tidak ada jalan lain lagi.” Komentar Yunho.

“Mari lupakan hal itu sejenak dan kita selesaikan tugas kita di sini.”

Yunho mengusap wajah Jaejoong perlahan dan memberikan kecupan singkat di atas permukaan bibir semerah darah penuh itu lembut.

.

.

Matahari sudah setinggi mata tombak ketika kereta berhenti digedung yang menjadi tempat magang Yunho dan Jaejoong –kantor kepolisian yang merangkap sebagai kantor kehakiman juga.

Jaejoong mencibir ketika banyak tumpukan papan, kayu dan tali tambang teronggok berserakan di dekat pintu gerbang. Terlihat pula Changmin, Yoochun dan Junsu sedang memberikan intruksi pada beberapa orang yang sedang memanggul beberapa kayu panjang dan besar yang Jaejoong yakini akan digunakan sebagai tiang penyangga, entah tiang apa.

“Mereka bekerja sesuai intuksimu kemarin. Sepertinya hari ini juga renovasi akan dilakukan.” Gumam Yunho.

“Kau tidak memimpin apél pagi?” tanya Jaejoong.

“Sebentar lagi, biarkan anggotaku menyelesaikan pekerjaan mereka dulu.” Dengan dagunya Yunho menunjuk Yoochun dan Junsu bergantian. “Aku mulai memikirkan sesuatu…”

“Apa?”

“Sepertinya salah satu dari Yoochun atau Junsu akan ku tugaskan untuk mengawalmu.”

“Jung Yunho!” Jaejoong membentak, membuat Changmin, Yoochun dan Junsu yang semula tidak menyadarinya menoleh dan berjalan pelan menghampirinya.

“Hakim Kim….” sapa Changmin yang langsung membungkukkan badannya ketika sampai di hadapan Jaejoong.

“Apa pegawai kantor kehakiman yang lain sudah berangkat?” tanya Jaejoong.

“E… mungkin sebentar lagi.” Jawab Changmin sedikit ragu.

“Kalau begitu hukum semua pegawai kantor kehakiman dan kantor kepolisian yang datang setelah aku dan Kepala Polisi Jung Yunho! Siapapun! Terlambat satu menit, pukul kakinya satu kali, terlambat dua menit pukul kakinya dua kali, terlambat 3 menit pukul kakinya 3 kali dan seterusnya!” perintah Jaejoong, “Kalau mereka menolak atau melakukan protes berikan surat pemecatan pada mereka!”

Changmin mengangguk cepat.

“Yoochun sshi, sebaiknya segera kumpulkan para pegawai kepolisian yang sudah hadir untuk melakukan apél pagi!’ saran Jaejoong yang lebih menyerupai sebuah perintah. “Di Ibu Kota bahkan semenjak subuh para penegak hukum sudah mulai bekerja, dan di kota ini? Yun, haruskah kita merombak formasinya?” Jaejoong menoleh, menatap Yunho.

“Kita lihat dulu perkembangannya baru memutuskan perlu tidaknya merombak formasi pegawai.” Ucap Yunho. “Yoochun… lakukan perintah Jaejoong.”

Yoochun membungkuk hormat pada Yunho dan Jaejoong sebelum berlari sedikit tergesa ke dalam bangunan yang sedang mulai direnovasi.

“Junsu, bisa aku meminta bantuanmu secara pribadi?” tanya Yunho.

“Saya merasa terhormat bila bisa membantu anda, Kepala Polisi Jung.” Sahut Junsu.

“Mulai hari ini secara pribadi aku memintamu untuk mendampingi Jaejoong menjalankan tugasnya. Sertailah dia kemanapun dia pergi.” Ucap Yunho, “Aku tahu Changmin memang bisa diandalkan tetapi akan lebih baik bila ada lebih dari satu orang yang mendampinginya.”

“Yunho!” mutiara rusa betina Jaejoong membelalak tajam menatap Yunho.

“Kau mau kan Junsu?” tidak memedulikan Jaejoong, Yunho melanjutkan kalimatnya yang terpotong.

“Tentu saja! Sebuah kehormatan bisa menjadi pengawal pribadi Hakim Kim.” Ucap Junsu sambil tersenyum sumpringah.

“Kau adalah orang penting, cucu Hakim Agung sekaligus kerabat Yang Mulia Raja. Pengawalan terhadapmu harus yang terbaik, Jae.” Yunho mencoba menjelaskan ketika dirasanya tatapan mata Jaejoong terlihat semakin menajam. Tentu saja Yunho mengatakan alasan yang masuk akal. Jaejoong adalah cucu Hakim Agung –bisa dikatakan Jaejoong adalah cucu kesayangan sang Hakim Agung. Selain itu Jaejoong adalah kerabat Yang Mulia Raja, bahkan sang raja sangat menyayangi Jaejoong seperti anaknya sendiri. Tetapi dilain pihak Yunho pun ingin Jaejoong terlindungi. Yunho tidak bisa membayangkan apa yang bisa dilakukannya bila sesuatu terjadi pada Jaejoongnya.

“Kau bahkan putra….” Jaejoong terdiam, “Panglima Tertinggi Militer? Aku pun putranya juga.” Tambahnya dengan suara sangat lirih hingga dirinya sendiri yang bisa mendengarnya.

.

.

Apél pagi hanya dihadiri oleh 10 orang saja, 7 orang dari kepolisian dan 3 lainnya dari kehakiman. Hal ini sangat membuat bukan hanya Jaejoong tetapi Yunho pun murka. Para pegawai kantor kepolian dan kehakiman baru datang di saat para perja yang dipanggil untuk merenofasi gedung kantor sudah mulai membenahi dan menggangti tiang serta papan yang keropos termakan usia, sekitar setengah sembilan pagi.

“Apa yang membuat kalian semua begitu terlambat?” tanya Jaejoong yang berdiri di tengah pintu gerbang menghalangi para pegawai yang lain untuk masuk, ditunjukkannya senyum menawannya, senyum yang biasanya bisa membuat teman-teman sekelasnya tersipu meskipun mereka semua laki-laki, “Aku senang kalian sudah datang dengan pakaian yang rapi dan aroma parfum yang wangi. Tetapi sayang sekali…”

Belum lagi ucapan Jaejoong selesai, Yunho dan ke sembilan orang yang lain yang tadi pagi mengikuti kegiatan Apél pagi datang sembari membawa pentungan (kayu pemukul) berukuran cukup besar dan panjang di tangan mereka masing-masing.

“… kalian harus didisiplinkan!” Jaejoong masih tersenyum walaupun api kemarahan terlihat jelas dari sorot matanya. “Ahjumma, Ahjushi, Haraboji, Halmonie… lihat-lihat! Para pegawai kantor kehakiman dan kepolisian yang malas ini akan mendapatkan pelajaran karena tidak pecus melayani rakyat dengan baik!” Jaejoong berteriak lantang menarik perhatian orang-orang yang berlalu-lalang di jalanan dengan senyum masih menghiasi wajah menawannya.

“Berbaris!” perintah Yunho dengan suara sangat lantang dan sedikit membentak. “Kalian yang terlambat akan mendapat pukulan di kaki kalian sesuai dengan menit yang kalian lewati! Pukul kaki mereka sebanyak 200 kali!”

Ye!” sahut Yoochun, Changmin, Junsu dan kelima orang lainnya.

“Aku akan menulis surat untuk Yang Mulia Raja, beliau harus diberitahu soal ini. Aku akan memintanya mengirimkan pasukan tambahan kemari. Ku beri kau kuasa untuk mendisiplinkan anggotaku juga, Yun.” Ucap Jaejoong sebelum berjalan masuk, meninggalkan kekacauan yang terjadi di depan pintu gerbang, membiarkan para rakyat tahu bahwa Hakim tertinggi dan Kepala Polisi kota Bollero yang baru tidak akan segan-segan menindak pegawai pemerintahan yang menyepelekan waktu dan pekerjaan.

.

.

Jaejoong menatap ke-20 anggota kantor kehakiman yang sekarang dipimpinnya, minus Changmin. Beberapa detik yang lalu Jaejoong memberikan kuas dan kertas pada kedua puluh orang itu untuk menuliskan surat pengunduran diri mereka. Namun sampai saat ini belum ada satu surat pun yang diterimanya.

“Aku sudah mengirim surat untuk Yang Mulia Raja melalui merpati pos, kalian bisa mengundurkan diri bila merasa caraku memimpin tidak sesuai dengan kalian. Aku tidak akan merasa rugi karena aku sudah meminta pada Yang Mulia Raja untuk mengirim orang kemari, orang yang lebih bermanfaat dan tepat waktu tentu saja.” Jaejoong masih belum meninggalkan senyum sumpringah yang terlihat jelas pada wajahnya, “Hanya saja ketahuilah! Aku dan Kepala Polisi Jung diberi hak untuk menjatuhkan hukuman mati pada siapa saja yang merugikan negara. Melalaikan tugas dengan datang sangat terlambat ke kantor adalah salah satu contohnya. Ya, kan Changmin sshi?”

Ne, Hakim Kim.” Sahut Changmin yang berdiri tenang di samping Jaejoong.

“Saat ini mungkin kaki kalian yang bengkak dan lecet, tetapi esok hari… siapa yang tahu? Mungkin kepala kalian tidak akan pada tempatnya seperti sekarang.” Ucapan Jaejoong terdengar sangat dingin dan penuh penekanan.

Tidak ada yang bersuara. Semuanya menundukkan kepala, saling melirik panik satu sama lainnya namun tidak berani mendongak untuk menatap wajah menawan Jaejoong.

“Kalau kalian masih ingin bekerja disini, maka setelah istirahat makan siang nanti serahkan padaku data mengenai siapa saja pegawai dan bangsawan yang melakukan korupsi! Dan berikan aku semua bukti yang kalian punya. Jika ada salah satu saja dari kalian yang ketahuan menerima suap atau berusaha menutup-nutupi kejahatan yang keluarga kalian perbuat, maka jangan salahkan aku bila kalian dan keluarga kalian berakhir ditiang gantungan!” Jaejoong menatap sengit ke-20 anggotanya, “Sekarang kerjakan tugas kalian!” senyuman yang sangat menawan itu bertolak belakang dengan sorot benci dan marah yang terlihat pada sepasang mutiara rusa betinanya.

Dengan tertatih ke-20 anggota kantor kehakiman itu berdiri dari duduk berimpuh mereka, berjalan kesakitan menuju meja masing-masing dan mulai memeriksa semua dokumen yang mereka punya untuk memberikan data yang atasan baru mereka minta, Kim Jaejoong.

“Changmin sshi, apa yang Yunho lakukan pada bawahannya sebagai hukuman?”

“Ah, Kepala Polisi Jung membiarkan mereka berdiri berbaris di depan pintu gerbang dengan menenteng ember air di tangan mereka.” Jawab Changmin.

“Terlalu mudah….” gumam Jaejoong.

“Tidak, Hakim Kim. Karena Kepala Polisi Jung mempersilahkan rakyat yang kebetulan lewat untuk melempari mereka dengan sayuran atau buah-buahan busuk.”

“Cukup ringan untuk ukuran seorang Jung Yunho.” Ucap Jaejoong, “Kau belum mengenalnya dengan baik, Changmin sshi. Bila sedang marah, Yunho bahkan lebih menakutkan dibandingkan seekor beruang yang sedang kelaparan.”

.

.

“Apa ini?’ tanya Yunho saat tiba-tiba Jaejoong meletakkan bertumpuk-tumpuk data di atas meja kerjanya.

“Dugaan korupsi yang dilakukan oleh pegawai pemerintah dan para bangsawan. Serta data penerimaan pajak yang baru ku buat.” Jaejoong melirik sekitar 30 polisi yang tengah terduduk kelelahan di lantai, “Kau apakan mereka?”

“Sedikit pendisiplinan.” Sahut Yunho, “Aku butuh tambahan anggota polisi agar ketika malam tiba aku bisa menugaskan beberapa untuk berjaga. Sepertinya selama ini mereka hanya bekerja dari menjelang siang sampai sore saja, pada malam hari tempat ini kosong tanpa penjagaan. Karena itu…”

“Karena itu aku mengirim surat pada Yang Mulia Raja lewat merpati post. Kita kekurangan orang disini!”

“Jangan memaksakan dirimu!”

Dapat Jaejoong lihat sinar penuh kekhawatiran dalam kedua bola mata Yunho, kekhawatiran untuknya, “Lama-lama kau terlihat seperti kakekku!”

“Junsu akan mengantarmu pulang dulu.” Ucap Yunho.

“Bagaimana denganmu?”

“Aku akan pulang sedikit terlambat karena harus membagi pekerjaan. Mulai sekarang harus ada yang berjaga disini sampai malam untuk mengantisipasi seandainya ada masyarakat yang mengalami kesulitan. Aku berencana membagi-bagi tugas jadi aku akan pulang sedikit terlambat.”

Jaejoong mengangguk paham.

“Kepala Polisi Jung, keretanya sudah datang menjemput.” Lapor Yoochun yang datang untuk menyampaikan berita pada atasannya.

“Pulanglah Jae.” Pinta Yunho.

“Aku pulang dengan kuda saja.” Ucap Jaejoong, “Kau lebih membutuhkan kereta daripada aku.”

“Jae….”

Jaejoong menatap tajam Yunho sebelum beralih menatap Yoochun, “Tolong siapkan kuda untukku!” pintanya.

Yoochun yang bingung hanya menatap atasannya dan Jaejoong bergantian.

“Lakukan apa yang dia minta.” Ucap Yunho.

Yoochun membungkuk sesaat sebelum beranjak pergi lagi.

“Berjanjilah kau akan baik-baik saja sampai rumah!” pinta Yunho.

Jaejoong mendengus kesal.

Yunho beranjak dari duduknya, “Aku akan mengantarmu sampai pintu gerbang. Pinggangmu masih sakit, kan?” tanyanya.

“Kita berdua tahu siapa penyebabnya.” Cibir Jaejoong.

Yunho ingin sekali mengenggam jemari itu, ingin menyentuh kulit yang kenyal lagi halus itu berlama-lama seandainya hanya ada mereka berdua disana. Ah, menahan diri dan perasaan seperti ini sungguh sangat tidak menyenangkan dan menyesakkan.

.

.

Sebuah kuda berwarna kecoklatan yang sangat gagah dan sehat sudah disediakan untuk Jaejoong serta dua kuda lainnya untuk Junsu dan Changmin. Junsu memang diminta secara pribadi oleh Yunho untuk mengawasi Jaejoong mulai pagi tadi, sementara Changmin yang kebetulan belum pulang mendengar bila atasannya akan pulang dengan menaiki kuda memutuskan untuk mengawalnya sampai rumah.

“Apa yang terjadi pada Hakim Kim?” tanya Yoochun ketika melihat Yunho membantu Jaejoong menaiki kudanya.

“Pinggangnya agak sakit karena terkilir kemarin.” Jawab Yunho. “Gunakan pedangu bila ada orang yang berniat jahat menghadang jalanmu! Jangan ragu untuk menebas kepala mereka!” pesannya pada Jaejoong.

“Aku tahu apa yang harus aku lakukan! Berhenti bersikap seolah kau adalah ayahku!” kesal Jaejoong, dihentakkannya tali kekang kuda yang dinaikinya membuat kuda itu berjalan perlahan meninggalkan gedung kantor kehakiman yang merangkap sebagai kantor kepolisian juga diikuti oleh Junsu dan Changmin.

“Anda sangat dekat dengan Hakim Kim….” komentar Yunho.

“Dia sahabatku yang paling mengenalku, bahkan lebih dari saudaraku sendiri.” Ucap Yunho. “Kajja kita selesaikan pekerjaan kita agar bisa pulang cepat juga.” Ajaknya.

.

.

Duduk sendirian di pendopo menunggu kedatangan kereta yang membawa Yunho pulang membuat Jaejoong merasa kesal. Bintang dan bulan sabit merah pun sudah menyindirnya sejak tadi. Dengan kasar Jaejoong menutup kamus hukum yang dibacanya sejak kepulangannya untuk menghabiskan waktu luangnya.

“Tuan, makan malam sudah siap sejak tadi. Makanannya akan dingin bila anda tidak segera memakannya.” Ucap pelayannya.

“Aku akan menunggu Yunho. Istirahatlah bila kalian lelah.” Jaejoong bangun dari duduknya, berjalan perlahan meninggalkan pendopo menuju rumah utama yang terasa sangat menyebalkan tanpa kehadiran Yunho disana.

.

.

Kira-kira pukul sebelas malam Yunho baru pulang. Seorang pelayan yang masih terjaga mengatakan padanya bahwa karena menunggunya Jaejoong belum memakan makan malamnya sama sekali. Karena itu usai mandi Yunho langsung berjalan menuju kamar Jaejoong yang mulai malam ini menjadi kamarnya juga.

Perlahan-lahan Yunho menggeser pintu, menatap lembut namja yang tengah tertidur dalam damainya. Tersenyum ketika melihat kimono tidur yang Jaejoong kenakan memperlihatkan kulit bahu, dada dan pahanya. Sepertinya Yunho harus membicarakan kebiasaan Jaejoong yang lebih senang tidur mengenakan kimono esok pagi. Yunho tidak mau para pelayan melihat keadaan Jaejoong yang mengairahkan seperti ini, itu tidak baik untuk mereka.

Yunho mendudukkan dirinya di samping tubuh Jaejoong, jemarinya terjulur untuk membelai wajah damai itu perlahan-lahan, merasakan kelembutan kulit Jaejoong yang membuatnya betah menyentuhnya berlama-lama.

“Eung….” Jaejoong mengerang dalam tidurnya, merasa terganggu sebelum kelopak mata yang sebelumnya membungkus mutiara rusa betina itu terbuka perlahan.

“Aku membangunkanmu?” tanya Yunho, bibir berbentuk hatinya menarik simpul senyuman yang membuat wajahnya terlihat sangat tampan walaupun gurat kelelahan itu nyata disana.

Jaejoong segera menarik Yunho ke dalam pelukannya, mengabaikan sesak yang menghimpit dadanya ketika tubuh Yunho berbaring di atas tubuhnya.

“Kau mencemaskanku?”

“Diam dan cium aku!”

Yunho menumpukan berat tubuhnya pada kedua kaki dan lengan kirinya, lengan kanannya ia gunakan untuk menarik tengkuk Jaejoong agar wajah mereka bisa semakin dekat, “Kau tidak akan pernah tahu betapa aku mencintaimu, Boo….” bisiknya sebelum mencium lembut bibir merah Jaejoong. “Kau harus makan dulu!” kali ini Yunho menarik tubuh Jaejoong untuk duduk.

“Kau lelah? Makanannya pasti sudah dingin sekarang.”

“Akan terasa hangat bila aku memakannya bersamamu.”

“Berapa lama kita bisa seperti ini, Yun?” tanya Jaejoong. Dibiarkannya Yunho menarik lengannya untuk berdiri, dibiarkannya Yunho yang merapikan kimono tidurnya sambil sesekali mencium leher dan jemari tangannya.

“Selama kita bisa….” bisik Yunho yang kemudian menarik Jaejoong ke dalam pelukkannya. Yunho sendiri pun tidak tahu berapa lama dirinya bisa bertahan dengan situasi seperti ini.. bukan berarti Yunho tidak punya rencana. Yunho sudah memikirkan berbagai cara dan kemungkinan yang bisa diambilnya untuk jalan keluar permasalahannya dengan Jaejoong. dalam pemikiran Yunho hanya ada satu orang yang bisa membantu mereka.

Yang Mulia Raja….

.

.

TBC

.

.

Thoughts on “Suprasegmental”

Hope: Hehehehe… Harus ada :)

Anyjae: Lama ga buat Incest kan Yuuki :D

Meyfa: Saeguk itu apa? #miankepo -_- Ne, bisa dikatakan begitu :)

Azkhana: Menurut ane Umma malah Daebbak Mak :D  Muahahahhahahahahahaha >_< Kutil elite ya Mak? :D

Ratnaezleeem : Ne :D

T3Jj kim : Perang apa hayo? #jitak

Rani : Saeguk? Yuuki ga ngerti artinya. Jujur deh #wajahpolos

Renyekalovedbsk: Ini sudah lanjut :D

Diennha: Ngadepin apa? #bingung

Nina: Perasaan keduanya mirip di AKTF, ga perlu ngomong tapi sudah tahu apa isi pikiran masing-masing :D  Heheheh Kutil #ngakakgulingguling  >_<

Karin Cassiopeia : Yah bocah! NC melulu, masih dibawah umur Tahu #jitak!

Ayumi:  Pembalasan Bidadari Hitam & Scent Of Love sudah, kan? Judul ya? Kalau ga tahu artinya boleh kok tanya ke Yuuki :D

MyBaby WonKyu : Sabar Tante #sodorin Kyu :D

Dewifebrianayasmin: Sudah?

Hardianty : Revenge sudah Yuuki update kan? ;)

Hanasukie: Fighting!

Yuuqy: Sudah ne :)

Yunorisweat: Muahahahahhahahahahahaha >_<

Kim Hyewon : Remuk hatimu? Wae? #sokdramatis. Seguk itu apa lagi? #bingung. Kalau yang kayak gini Yuuki pernah buat beberapa one shoot cuma beberapa diantaranta GS. Jangan tanya judul karena Yuuki lupa. Kebnatakan FF sich #pundung.

Kutil? Hehehehe…. Di salah satu grup Author YunJae (Grup FB) ada yang menyebut “Narayuuki & kutil-kutilnya.” Yang dimaksud kutil orang yang dekat dan sering ngobrol dengan Yuuki disosmed. Karena itu FF ini Yuuki dedikasikan untuk Para Kutil Elit Yuuki #ngakakgelundungan ane gara-gara kutil :D

lee huang ziol : Umma malu-malu macan :D Ini sudah ne :)

Meybi : Yuuki juga ga tahu :3

hime yume : Apa sich yang ga buat YunJae :D

miss cho: Ne ;)

reanelisabeth:  Terlalu unik ne? :D

wiwindah:  Kutil yang Elit dan berkelas #kibasponi :D

Rizky Nurbayani : Sudah ne :D

Yulkorita: Dari banyak pihak? Hehehehe…. Bisul? Muahahahaha #ngakakgelundungan >_< Dsudah nich.

Nadia:  Sepertinya begitu :)

Echasefry:  Appa? Yakin?

Rahmadina: Semoga ga tahu ya :) #dikecek

.

.

Sunday, September 07, 2014

9:10:23 AM

NaraYuuki

Pembalasan Bidadari Hitam V

Tittle                : Pembalasan Bidadari Hitam V

Writer               : NaraYuuki

Betta Reader     : Hyeri

Genre               : Romance/ Family

Rate                 : M

Cast                 : All member DBSK and others (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan). Seiring bertambahnya Chap castnya pun akan disesuaikan.

Disclaimer:       : They are not mine but this story, Jung Hyunno  & OOC yang lain are mine, NaraYuuki

Warning           : This is YunJae Fan Fiction (Boys Love), M-Preg. Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut. Paragraf/ dialog yang penulisannya menggunakan Blod, Italic ataupun under line berarti itu adalah kejadian dimasa lampau (flash back) TANPA EDIT.

.

.

.

.

.

PASTIKAN BACA WARNINGNYA DULU

.

.

pEMBALASAN BIDADARI HITAM NARAYUUKI  SUPER sMALL

.

.

Ini sangat membosankan, benar-benar membosankan. Bagaimana bisa mereka menyia-nyiakan waktuku yang sangat berharga demi obrolan yang membosankan dan tidak ada sangkut pautnya dengan tugas?!” gerutu Hyunno dalam hati. Ingin mengumpat dan melayangkan sumpah serapah namun bila Ummanya tahu dirinya melakukan tindakan tidak terpuji seperti itu bisa dipastikan Hyunno akan menyesal seumur hidupnya, “Demi Umma aku harus bersikap selayaknya remaja seusiaku. Andaikan Umma tahu orang-orang yang berada di hadapanku ini sangat membosankan dan hanya mimikirkan urusan cinta monyet menjijikkan tanpa memikirkan masa depan mereka!”

Yah Choi Hyunno! Kenapa kau melamun dari tadi, huh? Katakan sesuatu?!” seorang namja berambut cepak yang terlihat seperti akan Wamil (wajib militer) bernama Kwon Huan itu menegur Hyunno.

“Aku tidak melamun. Aku hanya mengamati dan mendengar apa yang sedang kalian bicarakan.” Jawab Hyunno, “Dan karena menurutku apa yang kalian bicarakan terdengar sangat membosankan, aku memilih diam.” Lanjutnya.

Aigoo! Daebbak!” Kim Hyeri, yeoja manis berambut sebahu agak ikal itu menatap tidak percaya pada Hyunno. “Membicarakan bagaimana menyenangkannya kerja sambilan ditempat yang sama dengan orang yang kau taksir, pergi ke taman bermain bersama teman-teman sebayamu terdengar membosankan untukmu? Luar biasa!”

“Aku tidak pernah merasakan bagaimana rasanya bekerja sambilan atau pergi ke taman bermain bersama teman sebayaku.” Ucapan Hyunno itu membuat ke-4 teman anggota kelompoknya –kelompok tugas salah satu mata kuliah yang diambil Hyunno menatap tidak percaya padanya.

“Kau serius?” tanya Huan.

“Ku rasa dia serius.” Gumam Hwang Senna, yeoja berkulit sedikit kecoklatan yang duduk di samping Hyeri.

“Anak ini sungguh luar biasa aneh!” komentar penuh kekaguman namun juga mengandung sedikit sindiran dilontarkan oleh Jun Maru, namja berkaca mata berambut ikal yang berada tepat di samping Hyunno.

“Kalau begitu bagaimana kalau akhir minggu ini kita pergi ke karoke bersama-sama?” usul Hyeri.

“Setuju!” jawab Huan dan Senna penuh semangat.

Maru hanya mengangguk pelan sambil melirik Hyunno.

Mwo? Karoke? Benar-benar sangat membuang waktuku yang berharga!” gerutu Hyunno dalam hati.

.

.

Hyunno hanya bisa mengerucutkan bibir merahnya kesal ketika menceritakan kembali rencana konyol teman sekelompoknya –menurutnya kepada sang ibu saat keduanya sedang belanja bahan makanan di super market.

“Kalau hanya ingin karoke bisa dilakukan di rumah, kan? Aish! Mereka benar-benar membuatku kesal. Aku belum menyetujui keinginan mereka tetapi mereka sudah memutuskan semuanya tanpa mendengar pendapatku dulu. Sangat mengesalkan!” gerutu Hyunno yang dengan lihainya mengambil beberapa bungkus dark coklat dari etalase yang dilewatinya.

“Tidak ada ruginya kau pergi.” Ucap Jaejoong yang berjalan membelok ke kiri menuju deretan etalase tepung dan bumbu instan.

“Tapi Umma….” susah payah Hyunno membelokkan troli yang nyaris penuh itu mengikuti langkah ibunya.

“Kau butuh hiburan dan suasana baru.” Jaejoong mengambil satu bungkus tepung roti berukuran 500 gr, mengamatinya sebelum kembali berujar, “Siapa tahu kau bisa mendapatkan seorang yeoja chingu nanti.” Jaejoong tersenyum pada Hyunno dan memasukkan satu bungkus tepung roti ke dalam troli sebelum kembali berjalan.

Umma adalah yeoja chinguku. Aku tidak butuh yang lain.” Sahut Hyunno.

Umma seorang namja.” Jaejoong menimpali, “Ada saatnya kau harus memikirkan kesenanganmu sendiri. Yeoja chingu, jalan-jalan dan kencan adalah salah satu contohnya.” Jaejoong tersenyum melihat wajah sebal putranya.

“Joongie ya….”

Baik Jaejoong maupun Hyunno menoleh ke arah sumber suara, di sana, di dekat rak etalase bahan makanan setengah jadi sudah berdiri seorang yeoja berambut pirang, yeoja itu tersenyum sumpringah dan berlari-lari kecil menghampiri Jaejoong dan Hyunno.

Ahjumma itu… mau apa dia?” mata setajam musang milik Hyunno menyipit, kewaspadaannya meningkat. Siapa tahu ahjumma itu berniat mencelakai Umma dan dirinya.

“Joongie ya!”

Hyunno tersentak kaget ketika ahjumma yang diketahuinya sebagai saudara kembar ayahnya –ayah biologisnya itu menerjang ibunya dan memeluk ibunya erat.

“Joongie ya! Ini benar-benar kau? Benar-benar Joongieku yang manis dan menggemaskan? Bogoshipo Joongie ya! Jeongmal bogoshipo….”

Noona?” Jaejoong nyaris terjatuh ketika pelukan yang didapatnya dari Jung Jessica itu mengerat, membuatnya sesak.

Aigoo! Mianhae…. Aku terlalu senang bisa bertemu denganmu sehingga aku jadi berlebihan seperti ini.”  Yeoja berambut pirang itu mengusap sudut-sudut matanya yang berair, “Lihat dirimu! Pipimu semakin tirus dan pucat.”  Diusapnya kedua sisi wajah Jaejoong perlahan.

Aku tidak suka ini! Ahjumma itu terlihat seperti mengenal Umma dengan baik.” Tanpa menyuarakan isi hatinya Hyunno hanya mengamati interasksi antara Jung Jessica yang bisa disebut bibinya sendiri dengan Ummanya. Ada perasaan tidak suka ketika melihat semua itu langsung di depan matanya sendiri seperti ini.

“Ada yang ingin bertemu denganmu, Joongie….” Jessica mengenggam jemari tangan kanan Jaejoong kuat-kuat, “Dia sangat menghawatirkan keadaanmu dan cucunya. Maukah kau menemuinya sebentar? Dia sedang menunggu di mobil sekarang, aku tidak sengaja melihat Hyunno saat sedang mencari tisu dan antiseptik tadi, ku pikir kau pasti bersamanya karena itu aku membuntuti kalian dan ternyata kau memang benar-benar bersama uri Hyunno! Kebetulan yang sangat menyenangkan!”

Hyunno mendengus sebal, “Uri Hyunno katanya?” gerutunya pelan.

“Kami sedang belanja kebutuhan bulanan kami, Noona.”

Hyunno menyeringai, terlihat sangat familiar dengan seseorang ketika mendengar ibunya sedang berusaha menolak keinginan Ahjumma pirang menyebalkan itu.

“Kalau begitu akan ku tunggu sampai kau selesai belanja. Dia sudah menunggumu selama hampir 17 tahun lamanya, menunggu beberapa jam tidak akan masalah untuknya ku rasa.” Jessica masih berusaha membujuk Jaejoong.

Hyunno bisa melihat ibunya melirik ke arahnya sesaat.

“Bagaimana bila kita bertemu untuk makan malam nanti di Neoselphifa cafe pukul 7 malam?” Jaejoong mengusulkan.

“Ide yang bagus. Aku pastikan kami tidak akan terlambat.” Ucap Jessica kegirangan.

Noona…. Jangan mengajak orang itu, jebbal!”

“Aku tentu tidak akan membiarkan Jung pabo itu merusak segalanya. Tenang saja ne.” Jessica tersenyum, mengecup pipi Jaejoong sekilas sebelum berjalan ke arah Hyunno, mengusap kepala remaja jangkung nan tampan itu perlahan, “Aku harus mencari tisu. Lanjutkan belanja kalian.” Ucapnya yang langsung berjalan pergi tanpa mengatakan apa-apa lagi.

Umma, siapa yang dimaksud ‘dia’ oleh Ahjumma tadi?” tanya Hyunno.

“Jung Woo Sung.”

Hyunno terdiam sesaat, Jung Woo Sung? Namja yang pernah ditemuinya bersama Yoochun ahjushi dulu? Namja yang diketahuinya sebagai ayah dari ayah biologisnya, kakeknya? Tunggu! Kenapa ibunya mau bertemu dengan kepala keuarga Jung?

Umma….”

“Tidak semua keluarga Jung jahat Hyunno ya….”

“Tetap saja dia seorang Jung!” gerutu Hyunno.

Jaejoong hanya tersenyum sekadarnya, melanjutkan acara belanjanya yang sempat tertunda karena kedatangan Jessica tadi. Walaupun enggan mengakui tetapi Jaejoong sangat tahu bahwa separuh darah yang mengalir dalam tubuh putranya berasal dari garis keturunan keluarga Jung, keluarga yang ingin dihindarinya andai dirinya bisa.

.

.

Jeda dari waktu Hyunno dan Jaejoong selesai belanja sampai jam dinding menunjukkan sebentar lagi mendekati waktu makan malam dengan Jessica terasa sangat cepat seolah-olah hanya satu kedipan mata saja. Hyunno yang sejak awal enggan ikut merengek pada ibunya untuk tetap tinggal di rumah. Untuk apa bertemu dengan kakek berwajah sangar dan ahjumma super cerewet itu? lebih baik Hyunno di rumah mengerjakan tugas kampusnya atau sekedar bermain game.

“Lalu siapa yang akan menemani Umma, hm? Yoochun ahjushi sedang ke Busan mengurus pengangkatan manager dan baru pulang lusa, Junsu Ahjumma juga sedang mengurus pamerannya besok sehingga kemungkinan tidak akan pulang malam ini. Apa kau mau Umma pergi sendirian?” tanya Jaejoong.

Hyunno merinding ngeri membayangkan ibunya pergi keluar malam-malam sendirian. Bagaimana bila ibunya jatuh? Bagaimana kalau ada yang merampok ibunya? Bagaimana kalau ada yang hendak menculik ibunya untuk ingin dijadikan istri karena tergoda wajah cantik ibunya?

Andwe!” jerit Hyunno histeris, “Aku akan ikut Umma. Tunggu sebentar! Aku ganti baju dulu!” Hyunno segera melempar majalah bisnis yang sedang dibacanya dan berlari menaiki tangga. Sumpah demi kakeknya yang sudah damai di alam baka sana, Hyunno tidak akan rela melihat ibunya terluka lagi.

.

.

“Umma, bidadari itu apa?” balita berusia empat tahun yang sangat gempal dan tampan itu mendongak menatap wajah ibunya yang tengah memangkunya.

“Bidadari adalah putri yang sangat cantik yang tinggal di istana yang berada di khayangan, Chagy.”

“Khayangan itu dimana Umma?”

Jemari lentik sang ibu meraih lengan kanannya yang gemuk untuk diangakat, membimbing jari telunjuknya yang pendek menunjuk atap.

“Di atas sana….”

“Di atas atap?” tanyanya polos.

“Di atas langit.” Sang ibu tersenyum.

“Langit? Kenapa jauh sekali?” gerutunya pelan.

.

.

Hyunno tersenyum ketika tiba-tiba teringat kenangan saat dirinya masih kecil dulu, ketika yang dilihatnya hanya langit, lautan, kapal-kapal nelayan dan ratusan burung camar, “Aku punya satu bidadari yang tiada duanya, bahkan dikhayangan sana pun tidak ada.” Ditatapnya sang ibu yang sedang berbicara dengan pelayan. Mata setajam musangnya menyipit tajam ketika seorang yeoja yang sedang mendorong kursi roda yang diduduki oleh seorang kakek yang memiliki mata sama seperti dirinya berjalan pelan menuju tempatnya berada. Hyunno menelan ludahnya susah payah, entah dirinya bisa mengendalikan emosinya atau tidak mengingat semua anggota keluarga Jung terlihat sama bersalahnya dimata Hyunno.

.

.

“Hyunno yaHarabojie senang kau ikut acara ini.” Jung Woo Sung tertawa sumpringah membuat kerutan dimatanya semakin bertambah banyak.

Aigoo! Keponakanku semakin tampan saja setiap detiknya.” Kali ini Jessica yang berkomentar.

Hyunno mendengus pelan, “Aku bukan cucu dan keponakanmu! Jadi jangan bicara seperti itu padaku!” tentu saja Hyunno tidak menyuarakan kekesalannya, Hyunno sudah diajari etika dengan baik oleh ibunya.

“Mana Jaejoongie?” tanya Jessica yang membantu Woo Sung berpindah dari kursi roda menuju kursi restoran.

Umma?” tanya Hyunno, “Masih memesan makanan sepertinya.” Jawabnya.

Jessica mengangguk kecil lantas mendudukkan dirinya sendiri di samping ayahnya, “Bukankah sangat mirip dengan Jung Yunho menyebalkan itu Appa?”

“Tentu saja. Matanya benar-benar menegaskan dia seorang Jung. Hidungnya juga.” Komentar Woo Sung, “Tapi kulit dan bibirnya lebih seperti Joongie. Ah, bola matanya juga berwarna hitam legam seperti Joongie walaupun kelopak matanya setajam anak nakal itu!”

Hyunno terdiam, mengepalkan tangannya di bawah meja. Hyunno tahu bila sekarang Jessica dan Jung Woo Sung sedang mengamati dirinya, membandingkannya dengan orang itu! Orang yang berjasa atas kelahirannya namun menorehkan luka tidak termaafkan pada ibunya.

“Kalian sedang apa di sini?”

Suara bass itu menyentak Hyunno, membuat matanya membulat tidak percaya, perlahan-lahan Hyunno menoleh dan mendongak menatap siapa yang menghasilkan suara menyebalkan namun terasa sedikit menakutkan itu. Tubuhnya bergetar ketika sepasang mata kecoklatan setajam musang itu ikut menatapnya penuh selidik.

“Tidak! Demi apapun kenapa harus orang ini?!” jerit Hyunno dalam hati dengan tubuh sedikit gemetar. Hyunno tidak akan setakut ini bila menghadapi orang yang kini berdiri disisi kursinya sendirian, masalahnya ibunya juga berada di sini, di dalam restoran ini. Terlalu syock dengan kemunculan namja serupa dirinya itu membuat Hyunno tidak menyadari bahwa di belakang namja serupa dirinya itu berdiri namja lain yang sangat jangkung dan terlihat sedikit kurus.

Yah Jung Yunho! Apa yang kau lakukan di sini, huh?” tanya Jessica yang terlihat tidak suka atas kehadiran tidak terduga saudaranya itu.

“Tentu saja bekerja. Aku baru selesai bertemu dengan relasi bisnisku. Kenapa?” Jung Yunho, namja dewasa itu menjawab tanpa mengalihkan tatapan matanya dari remaja yang sangat mirip dirinya, remaja yang sejak dulu –sejak ia bayi ingin dipeluk dan diciumnya namun tidak bisa dilakukannya bahkan ketika remaja itu sudah sebesar sekarang.

“Kau sering kemari?” tanya Jessica was-was.

“Aku selalu kemari ketika membahas urusan bisnis diluar jam kantor. Cafe ini punya kenangan istimewa untukku. Ada seseorang yang sangat menyukai ice cream vanilla di….” seperti tersadar oleh sesuatu, Yunho segera mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru cafe.

“Semoga dia tidak melihat Umma…. Semoga dia tidak melihat Umma!” rapal Hyunno dalam hati yang tidak bisa menutupi ketakutan dan rasa gugup dari wajahnya.

Mata setajam musang itu membulat ketika melihat sosok indah itu, sosok yang sedang berbicara dengan seorang pelayan. Bibir tipisnya menarik sebuah senyuman terpatri pada wajah tampannya, kaki-kaki jenjangnya segera melangkah menghampiri sosok itu dengan langkah-langkah lebarnya.

Andwe!” Hyunno panik, hendak mengejar Yunho namun lengannya dicekal oleh namja jangkung yang sejak awal diam membatu di sampingnya.

“Jung Yunho!” pekik Jessica yang juga ikut panik. Jessica memang berharap saudaranya itu bisa bicara dengan Jaejoong, tetapi bukan sekarang, bukan hari ini ketika semuanya terasa sempurna dirinya dan ayahnya.

.

.

“Choi Jaejoong!”

Jaejoong tersentak kaget ketika tiba-tiba lengannya ditarik dan tubuhnya dipeluk paksa. “Perasaan ini… kenapa begitu familiar?” gumamnya yang belum menyadari siapa yang tengah memeluknya kini.

.

.

TBC

.

.

Lama ya? Gaje ya? Hueeee :’( Mianhae. Yuuki sudah berusaha semampu Yuuki. Maafkan kalau ada kekurangan ne :) Yuuki nyolong waktu buat post jadi harap maklum kalau banyak Miss Ty ya :D V

.

.

Thoughts on “Pembalasan Bidadari Hitam IV”

MyBaby WonKyu : Ini muncul Tan :D

Leach : Thank you :)

diennha : Sama, Yuuki juga ga sabar Unno menghancurkan Appa #dicekekAppa :D V

Kim Hyewon : Apakah dari pihak Umma? Atau Appa? Kita tunggu saja nyok :D

yuuruuki : Molla :D

miss cho : Appa tahu apa? #bingung

reanelisabeth : Yuuki juga #dudukanteng

dewifebrianayasmin : Ntar Yuuki buatkan Flash Backnya #ga janji tapi #nyengir :D

nina : Suasanya biar beda :D V

azkhana : Mak, masa hari merdeka lupa ==”

Ratnaezleeem : Wae? Sedih?

zhemee : 17 Agustus kemarin? Yuuki ga ikut lomba apa-apa #karena tepar :D hehehehe…. Nyok tunggu sama-sama.

lee huang ziol : Gomawo :)

Rani : Ini lanjut,

ayumi : Yuuki sudah menyebutkan di chap depan (lupa chap berapa) kalau umur Umma & Appa beda 10 tahun kan? Tunggu saja ne :D

Rinatya12kmsyjs : Kayaknya yang post chap kemarin Eli deh, apa Yuuki ya #lupa. Maklum habis tepar jadi kalem dikit #nyengir :D

yulkorita : Besok mulai bermainnya :D

renyekalovedbsk : Sippo (y)

echasefry : Molla, Chagy :D

sukma : Ini sudah lanjut, kan? :)

.

.

Thursday, September 04, 2014

6:00:12 PM

NaraYuuki

Sample Script Love Stone

Tittle               : Love Stone

Writer             : NaraYuuki

Genre              : Fantasy/ Adventure

Warning          : This is DBSK Fanfiction (GS) dengan penyesuaian nama dan marga karakter dalam cerita ini agar bisa dipublikasikan secara umum dan dibaca secara umum pula tanpa berniat memprovokasi maupun menyebarkan sara. THIS IS ONLY A FAN FICTION.

.

Sampul Depan Love Stone NaraYuuki- Pulung P

.

Sinopsis          :

Yunho, namja kecil berusia delapan tahun itu terus berlari, tanpa memedulikan goresan ranting, cabang dan akar pepohonan pada permukaan kulit kaki, tangan serta wajahnya.

Lari….

Menyelamatkan diri….

Itulah yang terpenting bagi Yunho sekarang.

Sang Umma yang sedang pergi mencari sesuatu di hutan Damar meninggalkannya sendirian di rumah saat beberapa namja dewasa mendatangi rumah munggil mereka, menghujat dan memakinya. Bahkan ada yang hendak menusukkan parang pada Yunho.

Yah! Dimana kau anak terkutuk?!”

“Keluar kau!”

“Jangan sembunyi! Dasar anak terkutuk!”

“Awas kau! Kalau kami menemukanmu, kami akan menghajarmu sampai mati!”

Suara teriakan itu terdengar semakin menjauh, membuat sang namja kecil bisa sedikit mengatur napasnya yang berpacu seperti kuda yang dibawa berperang. Perlahan-lahan kaki munggilnya menapaki jalan setapak yang membawanya menuju jantung Cassiopeia garden, sebuah tempat yang menjadi titik tengah antara kerajaan Demon, Vampire, Manusia, bangsa Elf Hutan, Fairy dan para kaum Troll.

Yunho belum pernah jalan-jalan sampai masuk sejauh ini ke dalam Cassiopeia garden. Taman indah yang berisi tumbuhan yang berasal dari ke-6 negara itu memang tersohor karena keindahanan tanaman dan serangga yang hidup di dalamnya. Mata setajam musangnya yang kini tengah berwarna merah menyala itu menangkap sebuah pemandangan yang, langka….

Mutiara merah Yunho yang beransur-ansur kembali ke warna aslinya, kelam itu melihat pemandangan seorang anak aneh. Aneh di mata Yunho karena anak kecil yang dilihatnya dan sepertinya lebih muda darinya itu memiliki sepasang sayap mungil berwarna putih keperakan di belakang punggungnya. Anak kecil aneh itu tengah mengobati seekor anak harimau putih yang tergeletak di atas sebuah batu kali seukuran kepala gajah dewasa.

Kulit yang sangat putih seperti susu sapi yang setiap kali diminumnya membuat Yunho kecil tidak bisa memalingkan kedua bola matanya dari sosok indah namun asing itu. Yunho terus memandangi sosok cantik itu tanpa menyadari sang objek tengah tersenyum padanya.

“Aku menemukannya tertusuk bunga es…. Kau harus berhati-hati! Bulan ini adalah puncak mekarnya bunga-bunga es…. Ah tapi tenang saja, bunga-bunga es tidak tumbuh di Cassiopeia Garden ini.”

Yunho tersentak kaget melihat buah chery melengkung indah.

Eh? Memang buah chery bisa tersenyum? Bagaimana bisa?

Yunho hanya bisa menerka-nerka siapa sebenarnya anak kecil yang sepertinya tengah berbicara padanya itu.

“Aku memberinya nama Thunder.” Anak kecil itu bercerita tanpa diminta, membuat Yunho hanya bisa terbengong-bengong melihatnya.

Bisa apa Yunho?

Lihatlah!

Anak kecil aneh itu adalah mahluk terindah yang pernah dilihat olehnya seumur hidupnya, jadi mana mungkin Yunho akan menyia-nyiakan kesempatan untuk menikmati keindahannya?

“Apa kau mau merawatnya untukku? Dia adalah harimau putih Sumatra yang sangat langka. Dia sangat berharga untukku, tapi sayang aku tidak bisa merawatnya. Apa kau mau merawatnya untukku?” tanya anak kecil aneh itu pada Yunho.

Bagai tersihir oleh mantra kuat, Yunho langsung mengganggukkan kepalanya pelan.

“Nah, kalau begitu ku serahkan dia padamu…. Jaga dan rawat baik-baik, ne….”

Lagi, Yunho hanya bisa mengganggukkan kepalanya pelan.

Sosok itu melayang di hadapan Yunho dan mengecup pipi kanan Yunho sebelum membumbung tinggi, membiarkan Yunho mengaguminya dalam asanya.

.

.

.

.

.

I beg you! Please baca warningnya dulu karena nantinya Yuuki tidak mau disalahkan.

Resiko ditanggung sendiri!

Kalau masih penasaran dan berani, silahkan cek link berikut:

http://nulisbuku.com/books/view_book/6170/love-stone

 

Revenge V

Tittle               : Revenge V

Writer             : NaraYuuki

Betta Reader : Hyeri

Genre             : Romance/ Modern Fantasy/ dsb.

Rate                : M

Cast                : All member DBSK (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan) and Others. Seiring bertambahnya Chap castnya pun akan disesuaikan.

Disclaimer:    : They are not mine but this story is mine, NaraYuuki

Warning         : This is YunJae Fan Fiction (Boys Love), M-Preg. Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut, TANPA EDIT.

.

.

.

.

.

 

PASTIKAN BACA WARNINGNYA DULU

.

.

R3

.

.

Seperti hari-hari sebelumnya, bangsal sekolah pagi ini ramai oleh para siswi yang bergerombol menggosipkan siswa laki-laki yang sekiranya terlihat tampan dan keren dimata mereka, sementara para siswa sedang membicarakan urusan eksul mereka sembari sesekali cuci mata jikalau ada siswi cantik dan manis lewat di dekat mereka.

Yunho bisa saja mencabik-cabik tubuh para siswi yang berjalan mengerumuninya seolah-olah dirinya adalah mangsa yang siap disantap oleh para gadis itu –bila bisa dikatakan seperti itu karena sepertinya para gadis itu menjaga jarak darinya karena Yunho menguarkan aura aneh yang membuat bulu kuduk meka berdiri, meskipun terlihat jelas para gadis itu ingin menyentuh Yunho.

Yunho hendak mengulum senyum namun dibatalkannya saat melihat Jaejoong dan Yoochun berjalan dari arah berlawanan dengannya. Meskipun tahu Yoochun adalah saudara kembarnya entah kenapa ada perasaan benci saat melihat Yoochun merangkul bahu Jaejoongnya, miliknya.

Jaejoong menampik lengan Yoochun yang berada di bahunya, berjalan menuju Yunho, melewati namja bermata setajam musang itu dan berdiri di depan gerombolan sisiwi yang sejak tadi mengekori Yunho seolah hendak menelanjanginya. “Yah! Namja ini milikku! Jadi menjauhlah kalian darinya!” ucap Jaejoong sambil menepuk-nepuk punggung Yunho yang sudah berdiri diam membelakangi Jaejoong. “Tidak cukupkah Chunie saja yang kalian ekori? Kenapa kalian semua mengganggu orang-orang yang penting untukku, huh?” kali ini Jaejoong berkacak pinggang.

Yoochun yang melihat kelakuan saudara kembarnya hanya bisa tersenyum lebar, “Sudah ku katakan sebelumnya bukan? Joongie sangat posesive. Jadi berhati-hatilah Jung Yunho!!”

Yunho menyeringai, “Aku justru sangat menikmatinya!” Yunho memutar tubuhnya, menatap Jaejoong yang juga tengah menatapnya menggunakan mata selegam mutiara rusa betina yang sangat indah itu. Yunho tersenyum tipis sebelum menarik tangan kanan Jaejoong dan membawanya pergi meninggalkan bangsal yang mendadak sangat penuh itu, mengabaikan teriakan protes dari para siswi.

Umma… lihatlah kelakuan Joongie sekarang!” Yoochun menatap tajam Yunho yang menarik paksa saudaranya, “Astaga! Kenapa aku harus terlibat semua ini?” gerutunya.

.

.

Yunho meletakan satu botol penuh pil berwarna kemerahan di atas telapak tangan Jaejoong, membuat namja cantiknya itu menatap bingung padanya, “Pil penambah darah. Kau cukup memasukkannya kedalam segelas air putih seperti ketika kau minum vitamin C. Walaupun baunya cukup aneh tapi aku meminta Changmin membuatnya dengan rasa strawberry agar kau bisa meminumnya kapan saja.”

Jaejoong mengamati botol berisi puluhan pil-pil kecil berwarna kemerahan itu tanpa minat sebelum memasukkannya ke dalam tasnya, “Jadi kau akan tetap memakanku? Apa darahku sangat enak?” tanyanya. Ditatapnya Yunho penuh minat seolah-olah dirinya mendapatkan mainan baru.

“Terlalu sayang untuk dilewatkan tentu saja, kau tahu hal itu bukan?” tanya Yunho balik yang berusaha menahan dirinya untuk tidak mencium paksa Jaejoong saat ini juga. Aroma yang membuat berahinya semakin bergolak tentu saja sangat menyiksa Yunho, entah sampai kapan dirinya bisa menahan semua itu.

Jaejoong menyandarkan kepalanya pada bahu Yunho, kelopak matanya tertutup perlahan-lahan, telinganya menuli seolah-olah tidak mendengar lengkingan keras Junsu yang meneriaki Yoochun. “Umma bilang akan datang ke Korea minggu depan.”

“Lalu apa masalahnya? Bukankah kau merindukan Ummamu?”

Jaejoong menganggukan kepalanya pelan, “Jeongmal bogoshipo…. Tapi Umma akan bertengkar dengan Appa bila mereka bertemu. Aku tidak suka melihat mereka bertengkar, menyebalkan!”

Yunho mengusap kepala Jaejoong pelan, entah apa alsannya namun Yunho sangat menikmati ketika dirinya menyentuh Jaejoong, rasanya sangat menyenangkan ketika dirinya bisa berdekatan dengan Jaejoong walaupun aroma memabukkan yang menguar dari dalam tubuh namja cantiknya itu bisa membuatnya lupa daratan.

Yah Joongie!”

Mata seindah mutiara rusa betina itu terbuka, menatap sengit namja berpipi gempal (chuby) yang berdiri tegak di hadapannya. “Waeeeeeee?” tanyanya.

Yoochun mengulurkan tangan kanannya, “Bekalku, aku lapar dan ingin memakannya.”

“Sebentar lagi bel masuk berbunyi dan pelajaran pertama akan dimulai Yoochunie!” kesal Jaejoong.

“Kau mau saudaramu ini mati kelaparan?” tanya Yoochun sambil mengusap perutnya.

Ne. Biar saja kau mati kelaparan!” Jaejoong menjawab sengit.

Yoochun menyentuh wajah saudaranya, “Kau agak pucat, perlu ke UKS? Apa kau merasa sakit lagi?” tanyanya.

“Lagi?” tanya Yunho.

“Tadi pagi dadanya sakit.” Jawab Yoochun, “Aku sudah memaksanya untuk istirahat di rumah tapi Joongie berkeras ingin tetap berangkat.”

Yunho menatap tajam Jaejoong yang juga tengah menatapnya, “Kenapa kau tidak mendengar apa yang kakakmu katakan, huh?”

“Karena aku ingin bersamamu. Kau namja chinguku, kan?”

Yunho mengusap wajah pucat Jaejoong perlahan, “Jangan memaksakan diri lagi! Bila kau merasa sakit segera beritahu aku atau Yoochun. Kau mengerti?”

Dengan bibir mengerucut sebal Jaejoong mengangguk perlahan, walaupun kurang suka diperlakukan seperti orang yang sakit parah –walaupun kenyataannya seperti itu, tetapi Jaejoong merasa sedikit senang karena Yunho terlihat begitu mencemaskannya.

Yah Yoochunie! Seosengnim sudah datang!” teriak Junsu.

Yoochun berdecak kesal karena perut keroncongannya sudah protes ingin diisi, namun melihat saudara kembarnya yang sepertinya enggan memberikan bekal makanannya membuat Yoochun akhirnya berjalan menuju tempat duduknya sendiri.

.

.

Dilingkungan sekolah ada diskriminasi tersendiri baik dari pihak guru maupun para siswa. Biasanya para siswa –terutama para siswa perempuan yang menyenangi bila diajar oleh guru laki-laki yang masih muda dan tampan tetapi benci ketika diajar guru perempuan yang masih muda lagi cantik. Pun sebaliknya, para siswa laki-laki akan sangat senang bila diajar oleh guru perempuan yang cantik, muda dan berpakaian seksi, mereka akan berulah bila yang mengajar adalah guru laki-laki yang menurut mereka menyebalkan. Tetapi sebenarnya bukan kemudaan maupun penampilan fisik wahlah yang menjadi daya tarik seorang guru, melainkan caranya dalam menyampaikan materi dan mempimpin pembelajaran dikelas.

“Kau tahu Yoochunie, Yuri seosengnim sejak dulu menaruh perhatian lebih pada Yunho.” Ucap Junsu berbisik sambil mencatat apa yang tertulis di papan tulis di depan sana. “Ketika yang lain dimarahi karena mood seosengnim sedang buruk, Yunho justru diberi senyum. Menyebalkan bukan?”

Yoochun melirik ke arah kursi yang diduduki oleh saudaranya beserta Yunho. Meskipun Jaejoong terlihat sedang mengganggunya tetapi Yunho masih tetap mencatat dengan tekun, “Apa aku terlalu mencurigainya karena penampilannya?” gumam Yoochun pada dirinya sendiri. Yoochun menatap kesal Junsu yang sejak tadi mencubiti lengannya, “Apa?”

“Maukah kau menemaniku ke lapangan futsal sepulang sekolah nanti? Aku butuh orang untuk mengkritik permainanku.” Pinta Junsu.

Sekali lagi Yoochun melirik saudaranya yang tengah menyandarkan tubuhnya pada tubuh Yunho, “Ne. Aku akan menemanimu.” Ucap Yoochun, “Karena sepertinya sekarang sudah ada satpam yang akan menjaga Joongie.” Lanjutnya dengan suara lirih hingga hanya ia sendirilah yang bisa mendengar.

.

.

Bel tanda istirahat pertama dimulai sampai 30 menit kedepan membuyarkan lamunan Yunho. Keinginannya untuk menjadikan Jaejoong menjadi seperti dirinya semakin bertambah besar ketika tadi, pada saat pertengahan pelajaran pertama Jaejoong terpaksa dilarikan ke UKS oleh Yoochun karena mengeluh dadanya terasa sesak. Sebenarnya Yunho ingin mengantarkan Jaejoong ke UKS tetapi sialnya Yuri seosengnim melarangnya dan menyuruh Yoochun selaku saudara Jaejoong yang mengantarkan namja cantik itu ke UKS.

“Dia ingin bertemu denganmu.” Ucap Yoochun yang entah sejak kapan sudah berdiri disisi meja Yunho. Saudara Jaejoong itu sedang membongkar tas bekal yang dibawa oleh Jaejoong, “Joongie bilang yang ukurannya besar adalah jatahmu dan jatahnya.” Yoochun meletakkan kotak bekal yang berukuran lebih besar daripada yang berada di tangannya di hadapan Yunho.

Yunho menatap kotak bekal di hadapannya dan Yoochun secara bergantian.

“Walaupun dari yang ku dengar kau memiliki reputasi kurang baik, tapi karena saudaraku sudah memilihmu… ku harap kau tidak menyakiti perasaan Joongie. Itu tidak akan baik untuk jantungnya.”

Yunho meraih kotak bekal di hadapannya, berdiri dari duduknya dan menatap Yoochun sesaat, “Aku tahu, jangan mengatakan apa yang sudah ku ketahui! Seolah-olah kau hendak mengguruiku.” Ucapnya sebelum berjalan pergi meninggalkan Yoochun yang mendengus kesal.

“Dia memang seperti itu, jangan diambil hati.” Sahut Junsu dari bangkunya.

“Kalau dia bukan namja chingu Joongie sudah ku tantang berduel si Jung menyebalkan itu!” gerutu Yoochun yang berjalan menghampiri Junsu mengingat dirinya memang duduk satu meja dengan namja bersuara unik itu, “Aish! Gara-gara kesal aku jadi makin lapar.”

.

.

Wajahnya pucat –semakin bertambah pucat ketika Yunho melihatnya berbaring seperti itu. UKS adalah tempat yang dihindari selain ruang BP mengingat aroma obat-obatan yang menguar membuat mual. Tetapi sepertinya UKS memiliki kenangan tersendiri bagi Yunho. Karena tempat yang dipenuhi obat-batan inilah dirinya bisa memiliki Jaejoong sebagai namja chingunya walaupun dengan alasan tidak terduga –bisa dibilang konyol malah.

Pelan-pelan Yunho berjalan mendekati ranjang tempat Jaejoong berbaring, namja cantik yang terlihat pucat itu sepertinya tengah tertidur. Yunho meletakkan kotak bekal yang dibawanya di atas meja berlaci yang berada di samping ranjang sebelum ikut berbaring di samping Jaejoong.

“Kau bukan Youngwoong, aku tahu itu…. Tapi kenapa aku bisa seperti ini karenamu?” Yunho membelai lembut kulit halus itu, menyapu bibir semerah darah yang merekah indah itu mengguakan bibirnya sendiri. Dorongan itu menguasai Yunho lagi, keinginan untuk mengigit dan menghisap darah Jaejoong, hasrat dan berahi untuk menyentuh dan menjamah Jaejoong. Yang lebih besar adalah keinginan untuk menjadikan Jaejoong seperti dirinya agar namja cantiknya tidak perlu kesakitan seperti ini.

Sapuan bibir Yunho turun hingga ke atas permukaan leher Jaejoong. Yunho bisa merasakan aliran darah yang menyalir didalam nadi Jaejoong. perlahan sepasang taring yang sebelumnya tersembunyi dengan baik itu mencuat, tajam dan runcing.

Hyung… aku masih tidak setuju bila kau ingin menjadikannya seperti kita!” ucap Changmin yang sudah berjongkok di mulut jendela yang terbuka lebar.

Tanpa menoleh Yunho berujar, “Ini lantai 5. Bagaimana bisa manusia melompat setinggi itu, Changmin? Pernah kau berikir?”

“Tidak ada yang melihat.” Sahut Changmin tak acuh (tidak peduli), “Dan Hyung…. Aku tidak akan membiarkan Jaejoong menjadi seperti kita!”

Wae?”

“Kita seperti ini karena kutukan, jadi jangan coba-coba menjadikannya seperti kita! Bila kau memang ingin bersamanya… tunggulah! Sebentar lagi aku pasti menemukan penawar untuk kita.”

“Aku hanya tidak mau kehilangan lagi.” Yunho mendekap erat tubuh Jaejoong yang masih terlelap. “Tidak mau….”

.

.

Cairan berwarna merah itu bergoyang-goyang ketika gelas panjang itu diputar-putar, kuku-kuku indah berkutek merah darah itu mencengkeram kuat pinggiran gelas sebelum pecah berkeping-keping.

“Park Jaejoong…? Jung Yunho, aku benar-benar kasihan padamu. Matilah kau dalam kenelangsaan sama seperti sebelumnya ketika kau dikutuk menjadi mahluk menjijikkan!”

.

.

TBC

.

.

Thoughts on “Revenge IV”

babychokyu : Hehehehehe :D

MyBaby WonKyu : mencurigakan bagaimana Tan? Yang atas itu Tante juga?

zhemee : Kisut? Coba cek KBBI. Yuuki ga akan pake kata kisut kalau kata itu salah :)

 

ryannathankim92 : Belum muncul di Chap ini ne tuh yeoja? :)

miss cho : Sabar ne :D

T3Jj kim : Ane batal kemah, oleh-olehnya obat mau? Tenda baru berdiri ane langsung dilarikan ke klinik #pundung

Karin Cassiopeia : Sudah lanjut Chagya :D

dewifebrianayasmin : Coba tebak siapa? :D

Rani #pukpuk sabar ne :D

Ade Jung : Yakin kalau Umma itu Youngwoong :D Hohoho… yeoja? Mollayo.

reanelisabeth : Semoga cepat terungkap. Nyewa detektif nyok :D

yuuruuki : Nah, judulnya itu mempengaruhi isi :D

nina : Jangan-jangan… #jrengjreng :D

qira : Kita tunggu sama-sama nyok :D

Meybi : Tanya Umma saja bagaimana?

gone : Yuuki juga penasaran :D

Kim Hyewon : Badai pasti berlalu :D

christi ani : Yah, jangan bingung ne. Ntar Yuuki kasih popo deh :D

hime yume Kagak ada yang mustahil di epep Yuuki #pan katanya ane Author sesat #kabur ah, ada yang merasa tersindir ntar :D

echasefry : Batal kemah #pundung. Umma kagak takut sama Beruang! :D Hohohoho…. RHS :D

nadia : Molla, Yuuki juga ga tahu.

Party Kim : Iya :)

Yulkorita : Sudah lanjut nich :D

 

.

.

Sunday, August 31, 2014

8:42:35 PM

NaraYuuki