Revenge V

Tittle               : Revenge V

Writer             : NaraYuuki

Betta Reader : Hyeri

Genre             : Romance/ Modern Fantasy/ dsb.

Rate                : M

Cast                : All member DBSK (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan) and Others. Seiring bertambahnya Chap castnya pun akan disesuaikan.

Disclaimer:    : They are not mine but this story is mine, NaraYuuki

Warning         : This is YunJae Fan Fiction (Boys Love), M-Preg. Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut, TANPA EDIT.

.

.

.

.

.

 

PASTIKAN BACA WARNINGNYA DULU

.

.

R3

.

.

Seperti hari-hari sebelumnya, bangsal sekolah pagi ini ramai oleh para siswi yang bergerombol menggosipkan siswa laki-laki yang sekiranya terlihat tampan dan keren dimata mereka, sementara para siswa sedang membicarakan urusan eksul mereka sembari sesekali cuci mata jikalau ada siswi cantik dan manis lewat di dekat mereka.

Yunho bisa saja mencabik-cabik tubuh para siswi yang berjalan mengerumuninya seolah-olah dirinya adalah mangsa yang siap disantap oleh para gadis itu –bila bisa dikatakan seperti itu karena sepertinya para gadis itu menjaga jarak darinya karena Yunho menguarkan aura aneh yang membuat bulu kuduk meka berdiri, meskipun terlihat jelas para gadis itu ingin menyentuh Yunho.

Yunho hendak mengulum senyum namun dibatalkannya saat melihat Jaejoong dan Yoochun berjalan dari arah berlawanan dengannya. Meskipun tahu Yoochun adalah saudara kembarnya entah kenapa ada perasaan benci saat melihat Yoochun merangkul bahu Jaejoongnya, miliknya.

Jaejoong menampik lengan Yoochun yang berada di bahunya, berjalan menuju Yunho, melewati namja bermata setajam musang itu dan berdiri di depan gerombolan sisiwi yang sejak tadi mengekori Yunho seolah hendak menelanjanginya. “Yah! Namja ini milikku! Jadi menjauhlah kalian darinya!” ucap Jaejoong sambil menepuk-nepuk punggung Yunho yang sudah berdiri diam membelakangi Jaejoong. “Tidak cukupkah Chunie saja yang kalian ekori? Kenapa kalian semua mengganggu orang-orang yang penting untukku, huh?” kali ini Jaejoong berkacak pinggang.

Yoochun yang melihat kelakuan saudara kembarnya hanya bisa tersenyum lebar, “Sudah ku katakan sebelumnya bukan? Joongie sangat posesive. Jadi berhati-hatilah Jung Yunho!!”

Yunho menyeringai, “Aku justru sangat menikmatinya!” Yunho memutar tubuhnya, menatap Jaejoong yang juga tengah menatapnya menggunakan mata selegam mutiara rusa betina yang sangat indah itu. Yunho tersenyum tipis sebelum menarik tangan kanan Jaejoong dan membawanya pergi meninggalkan bangsal yang mendadak sangat penuh itu, mengabaikan teriakan protes dari para siswi.

Umma… lihatlah kelakuan Joongie sekarang!” Yoochun menatap tajam Yunho yang menarik paksa saudaranya, “Astaga! Kenapa aku harus terlibat semua ini?” gerutunya.

.

.

Yunho meletakan satu botol penuh pil berwarna kemerahan di atas telapak tangan Jaejoong, membuat namja cantiknya itu menatap bingung padanya, “Pil penambah darah. Kau cukup memasukkannya kedalam segelas air putih seperti ketika kau minum vitamin C. Walaupun baunya cukup aneh tapi aku meminta Changmin membuatnya dengan rasa strawberry agar kau bisa meminumnya kapan saja.”

Jaejoong mengamati botol berisi puluhan pil-pil kecil berwarna kemerahan itu tanpa minat sebelum memasukkannya ke dalam tasnya, “Jadi kau akan tetap memakanku? Apa darahku sangat enak?” tanyanya. Ditatapnya Yunho penuh minat seolah-olah dirinya mendapatkan mainan baru.

“Terlalu sayang untuk dilewatkan tentu saja, kau tahu hal itu bukan?” tanya Yunho balik yang berusaha menahan dirinya untuk tidak mencium paksa Jaejoong saat ini juga. Aroma yang membuat berahinya semakin bergolak tentu saja sangat menyiksa Yunho, entah sampai kapan dirinya bisa menahan semua itu.

Jaejoong menyandarkan kepalanya pada bahu Yunho, kelopak matanya tertutup perlahan-lahan, telinganya menuli seolah-olah tidak mendengar lengkingan keras Junsu yang meneriaki Yoochun. “Umma bilang akan datang ke Korea minggu depan.”

“Lalu apa masalahnya? Bukankah kau merindukan Ummamu?”

Jaejoong menganggukan kepalanya pelan, “Jeongmal bogoshipo…. Tapi Umma akan bertengkar dengan Appa bila mereka bertemu. Aku tidak suka melihat mereka bertengkar, menyebalkan!”

Yunho mengusap kepala Jaejoong pelan, entah apa alsannya namun Yunho sangat menikmati ketika dirinya menyentuh Jaejoong, rasanya sangat menyenangkan ketika dirinya bisa berdekatan dengan Jaejoong walaupun aroma memabukkan yang menguar dari dalam tubuh namja cantiknya itu bisa membuatnya lupa daratan.

Yah Joongie!”

Mata seindah mutiara rusa betina itu terbuka, menatap sengit namja berpipi gempal (chuby) yang berdiri tegak di hadapannya. “Waeeeeeee?” tanyanya.

Yoochun mengulurkan tangan kanannya, “Bekalku, aku lapar dan ingin memakannya.”

“Sebentar lagi bel masuk berbunyi dan pelajaran pertama akan dimulai Yoochunie!” kesal Jaejoong.

“Kau mau saudaramu ini mati kelaparan?” tanya Yoochun sambil mengusap perutnya.

Ne. Biar saja kau mati kelaparan!” Jaejoong menjawab sengit.

Yoochun menyentuh wajah saudaranya, “Kau agak pucat, perlu ke UKS? Apa kau merasa sakit lagi?” tanyanya.

“Lagi?” tanya Yunho.

“Tadi pagi dadanya sakit.” Jawab Yoochun, “Aku sudah memaksanya untuk istirahat di rumah tapi Joongie berkeras ingin tetap berangkat.”

Yunho menatap tajam Jaejoong yang juga tengah menatapnya, “Kenapa kau tidak mendengar apa yang kakakmu katakan, huh?”

“Karena aku ingin bersamamu. Kau namja chinguku, kan?”

Yunho mengusap wajah pucat Jaejoong perlahan, “Jangan memaksakan diri lagi! Bila kau merasa sakit segera beritahu aku atau Yoochun. Kau mengerti?”

Dengan bibir mengerucut sebal Jaejoong mengangguk perlahan, walaupun kurang suka diperlakukan seperti orang yang sakit parah –walaupun kenyataannya seperti itu, tetapi Jaejoong merasa sedikit senang karena Yunho terlihat begitu mencemaskannya.

Yah Yoochunie! Seosengnim sudah datang!” teriak Junsu.

Yoochun berdecak kesal karena perut keroncongannya sudah protes ingin diisi, namun melihat saudara kembarnya yang sepertinya enggan memberikan bekal makanannya membuat Yoochun akhirnya berjalan menuju tempat duduknya sendiri.

.

.

Dilingkungan sekolah ada diskriminasi tersendiri baik dari pihak guru maupun para siswa. Biasanya para siswa –terutama para siswa perempuan yang menyenangi bila diajar oleh guru laki-laki yang masih muda dan tampan tetapi benci ketika diajar guru perempuan yang masih muda lagi cantik. Pun sebaliknya, para siswa laki-laki akan sangat senang bila diajar oleh guru perempuan yang cantik, muda dan berpakaian seksi, mereka akan berulah bila yang mengajar adalah guru laki-laki yang menurut mereka menyebalkan. Tetapi sebenarnya bukan kemudaan maupun penampilan fisik wahlah yang menjadi daya tarik seorang guru, melainkan caranya dalam menyampaikan materi dan mempimpin pembelajaran dikelas.

“Kau tahu Yoochunie, Yuri seosengnim sejak dulu menaruh perhatian lebih pada Yunho.” Ucap Junsu berbisik sambil mencatat apa yang tertulis di papan tulis di depan sana. “Ketika yang lain dimarahi karena mood seosengnim sedang buruk, Yunho justru diberi senyum. Menyebalkan bukan?”

Yoochun melirik ke arah kursi yang diduduki oleh saudaranya beserta Yunho. Meskipun Jaejoong terlihat sedang mengganggunya tetapi Yunho masih tetap mencatat dengan tekun, “Apa aku terlalu mencurigainya karena penampilannya?” gumam Yoochun pada dirinya sendiri. Yoochun menatap kesal Junsu yang sejak tadi mencubiti lengannya, “Apa?”

“Maukah kau menemaniku ke lapangan futsal sepulang sekolah nanti? Aku butuh orang untuk mengkritik permainanku.” Pinta Junsu.

Sekali lagi Yoochun melirik saudaranya yang tengah menyandarkan tubuhnya pada tubuh Yunho, “Ne. Aku akan menemanimu.” Ucap Yoochun, “Karena sepertinya sekarang sudah ada satpam yang akan menjaga Joongie.” Lanjutnya dengan suara lirih hingga hanya ia sendirilah yang bisa mendengar.

.

.

Bel tanda istirahat pertama dimulai sampai 30 menit kedepan membuyarkan lamunan Yunho. Keinginannya untuk menjadikan Jaejoong menjadi seperti dirinya semakin bertambah besar ketika tadi, pada saat pertengahan pelajaran pertama Jaejoong terpaksa dilarikan ke UKS oleh Yoochun karena mengeluh dadanya terasa sesak. Sebenarnya Yunho ingin mengantarkan Jaejoong ke UKS tetapi sialnya Yuri seosengnim melarangnya dan menyuruh Yoochun selaku saudara Jaejoong yang mengantarkan namja cantik itu ke UKS.

“Dia ingin bertemu denganmu.” Ucap Yoochun yang entah sejak kapan sudah berdiri disisi meja Yunho. Saudara Jaejoong itu sedang membongkar tas bekal yang dibawa oleh Jaejoong, “Joongie bilang yang ukurannya besar adalah jatahmu dan jatahnya.” Yoochun meletakkan kotak bekal yang berukuran lebih besar daripada yang berada di tangannya di hadapan Yunho.

Yunho menatap kotak bekal di hadapannya dan Yoochun secara bergantian.

“Walaupun dari yang ku dengar kau memiliki reputasi kurang baik, tapi karena saudaraku sudah memilihmu… ku harap kau tidak menyakiti perasaan Joongie. Itu tidak akan baik untuk jantungnya.”

Yunho meraih kotak bekal di hadapannya, berdiri dari duduknya dan menatap Yoochun sesaat, “Aku tahu, jangan mengatakan apa yang sudah ku ketahui! Seolah-olah kau hendak mengguruiku.” Ucapnya sebelum berjalan pergi meninggalkan Yoochun yang mendengus kesal.

“Dia memang seperti itu, jangan diambil hati.” Sahut Junsu dari bangkunya.

“Kalau dia bukan namja chingu Joongie sudah ku tantang berduel si Jung menyebalkan itu!” gerutu Yoochun yang berjalan menghampiri Junsu mengingat dirinya memang duduk satu meja dengan namja bersuara unik itu, “Aish! Gara-gara kesal aku jadi makin lapar.”

.

.

Wajahnya pucat –semakin bertambah pucat ketika Yunho melihatnya berbaring seperti itu. UKS adalah tempat yang dihindari selain ruang BP mengingat aroma obat-obatan yang menguar membuat mual. Tetapi sepertinya UKS memiliki kenangan tersendiri bagi Yunho. Karena tempat yang dipenuhi obat-batan inilah dirinya bisa memiliki Jaejoong sebagai namja chingunya walaupun dengan alasan tidak terduga –bisa dibilang konyol malah.

Pelan-pelan Yunho berjalan mendekati ranjang tempat Jaejoong berbaring, namja cantik yang terlihat pucat itu sepertinya tengah tertidur. Yunho meletakkan kotak bekal yang dibawanya di atas meja berlaci yang berada di samping ranjang sebelum ikut berbaring di samping Jaejoong.

“Kau bukan Youngwoong, aku tahu itu…. Tapi kenapa aku bisa seperti ini karenamu?” Yunho membelai lembut kulit halus itu, menyapu bibir semerah darah yang merekah indah itu mengguakan bibirnya sendiri. Dorongan itu menguasai Yunho lagi, keinginan untuk mengigit dan menghisap darah Jaejoong, hasrat dan berahi untuk menyentuh dan menjamah Jaejoong. Yang lebih besar adalah keinginan untuk menjadikan Jaejoong seperti dirinya agar namja cantiknya tidak perlu kesakitan seperti ini.

Sapuan bibir Yunho turun hingga ke atas permukaan leher Jaejoong. Yunho bisa merasakan aliran darah yang menyalir didalam nadi Jaejoong. perlahan sepasang taring yang sebelumnya tersembunyi dengan baik itu mencuat, tajam dan runcing.

Hyung… aku masih tidak setuju bila kau ingin menjadikannya seperti kita!” ucap Changmin yang sudah berjongkok di mulut jendela yang terbuka lebar.

Tanpa menoleh Yunho berujar, “Ini lantai 5. Bagaimana bisa manusia melompat setinggi itu, Changmin? Pernah kau berikir?”

“Tidak ada yang melihat.” Sahut Changmin tak acuh (tidak peduli), “Dan Hyung…. Aku tidak akan membiarkan Jaejoong menjadi seperti kita!”

Wae?”

“Kita seperti ini karena kutukan, jadi jangan coba-coba menjadikannya seperti kita! Bila kau memang ingin bersamanya… tunggulah! Sebentar lagi aku pasti menemukan penawar untuk kita.”

“Aku hanya tidak mau kehilangan lagi.” Yunho mendekap erat tubuh Jaejoong yang masih terlelap. “Tidak mau….”

.

.

Cairan berwarna merah itu bergoyang-goyang ketika gelas panjang itu diputar-putar, kuku-kuku indah berkutek merah darah itu mencengkeram kuat pinggiran gelas sebelum pecah berkeping-keping.

“Park Jaejoong…? Jung Yunho, aku benar-benar kasihan padamu. Matilah kau dalam kenelangsaan sama seperti sebelumnya ketika kau dikutuk menjadi mahluk menjijikkan!”

.

.

TBC

.

.

Thoughts on “Revenge IV”

babychokyu : Hehehehehe :D

MyBaby WonKyu : mencurigakan bagaimana Tan? Yang atas itu Tante juga?

zhemee : Kisut? Coba cek KBBI. Yuuki ga akan pake kata kisut kalau kata itu salah :)

 

ryannathankim92 : Belum muncul di Chap ini ne tuh yeoja? :)

miss cho : Sabar ne :D

T3Jj kim : Ane batal kemah, oleh-olehnya obat mau? Tenda baru berdiri ane langsung dilarikan ke klinik #pundung

Karin Cassiopeia : Sudah lanjut Chagya :D

dewifebrianayasmin : Coba tebak siapa? :D

Rani #pukpuk sabar ne :D

Ade Jung : Yakin kalau Umma itu Youngwoong :D Hohoho… yeoja? Mollayo.

reanelisabeth : Semoga cepat terungkap. Nyewa detektif nyok :D

yuuruuki : Nah, judulnya itu mempengaruhi isi :D

nina : Jangan-jangan… #jrengjreng :D

qira : Kita tunggu sama-sama nyok :D

Meybi : Tanya Umma saja bagaimana?

gone : Yuuki juga penasaran :D

Kim Hyewon : Badai pasti berlalu :D

christi ani : Yah, jangan bingung ne. Ntar Yuuki kasih popo deh :D

hime yume Kagak ada yang mustahil di epep Yuuki #pan katanya ane Author sesat #kabur ah, ada yang merasa tersindir ntar :D

echasefry : Batal kemah #pundung. Umma kagak takut sama Beruang! :D Hohohoho…. RHS :D

nadia : Molla, Yuuki juga ga tahu.

Party Kim : Iya :)

Yulkorita : Sudah lanjut nich :D

 

.

.

Sunday, August 31, 2014

8:42:35 PM

NaraYuuki

Sekuel The Scent Of Love

Tittle                : The Scent Of Love

Writer               : NaraYuuki

Genre               : Romance/ Family

Rate                 : -M

Cast                 : Member DBSK (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan).

Disclaimer:       : They are not mine but this story and Hyunno are mine, NaraYuuki

Warning           : This is YunJae Fan Fiction (Boys Love). Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut.

.

.

.

.

.

PASTIKAN BACA WARNINGNYA DULU

.

.

Scent Of Love

.

.

Sepertinya ketika ku biarkan kau menyentuhku sekali, dua kali, tiga kali membuatmu berpikir bila kau sudah berhasil memiliki diriku. Ku biarkan kau menyentuh tubuhku, itu benar. Tetapi aku belum mengijinkanmu menyentuh hatiku. Karena aku masih jijik padamu, karena aku masih membencimu, karena aku masih menganggap hubungan ini tidak normal. Walaupun aku menikmati ketidaknormalan ini –kadang-kadang.

.

.

Jung Yunho! Kau cari mati?!” pekikan itu memecah suasana pagi di ruang makan, membuat tiga orang pemilik rumah dan beberapa pelayan yang sedang melayani majikannya tersentak kaget ketika sosok menawan itu tiba-tiba datang sambil membawa buket mawar merah besar ditangannya.

“Berikan alasanmu membuat kami semua terkena serangan jantung ringan akibat teriakanmu itu, Jung Jaejoong!” Yunho meletakkan sendoknya, menatap ‘istri’ cantiknya yang tengah mendelik padanya dengan wajah penuh kemarahan.

“Kau pikir aku perempuan, hah?!” bentak Jaejoong, “Siapa yang memberimu ijin memberikanku buket bunga?”

“Kau istriku. Aku berhak memberikanmu bunga.” Ucap Yunho santai, “Lalu dibagian mana yang salah?” tanyanya.

“Aku bukan perempuan!” Jaejoong menjerit kesal sebelum membanting buket bunga mawar merah itu di atas lantai, “Jangan pernah memperlakukanku seperti perempuan!” bentaknya. Rasanya Jaejoong ingin menikamkan pisau buah di jantung Yunho agar pria menyebalkan yang menjadi ‘suami’nya itu tidak memerlakukannya seperti seorang perempuan.

Umma….”

Jaejoong menatap putra bungsunya yang menjulurkan kedua tangan mungil nan berisi itu padanya. Jaejoong tersenyum, suara bentakannya tadi pasti membuat takut Hyunno. Meraih tubuh gempal itu kemudian menggendongnya erat. Jaejoong membiarkan saja ketika Hyunno mengusapkan wajahnya manja pada permukaan dadanya, hal yang sering anak itu lakukan bila sedang merajuk..

“Kau tidak pernah seramah itu padaku, Boo.” Komentar Yunho yang kembali melanjutkan acara makannya tanpa memedulikan delikan yang Jaejoong berikan padanya, “Kapan acara perkumpulan para wali murid yang akan diadakan oleh sekolahmu, Changmin?” tanyanya pada putra sulungnya yang sama sekali tidak terganggu pada apa yang baru saja terjadi.

“Lusa.” Jawab Changmin. “Aku ingin Umma saja yang datang ke acara itu!” tambahnya.

“Tidak!” tolak Yunho. Disruputnya kopi hangat miliknya secara perlahan, “Tahun ini Appa yang akan datang. Appa tidak mau Ummamu mendapatkan surat cinta lagi dari guru olah ragamu yang menyebalkan itu!”

“Surat cinta apa?” tanya Jaejoong yang sedang sibuk menyuapi Hyunno.

“Setiap Umma datang ke sekolah pasti para guru namja dan beberapa guru yeoja selalu mengirimkan surat cinta untuk Umma. hanya saja semuanya dibakar oleh Appa.”

“Dibakar?” Jaejoong menatap tajam Yunho.

“Kalau kau begitu ingin membaca surat cinta, aku bersedia menuliskannya untukmu, Boo.” Sahut Yunho.

Tidak menggubris apa yang Yunho katakan, Jaejoong kembali melanjutkan kegiatannya menyuapi Hyunno, “Changmin, selesaikan makanmu! Umma akan mengantarmu sampai sekolahanmu.”

Eoh? Jinjja Umma?” tanya Changmin.

“Wali kelas Hyunno ingin bicara pada Umma, hari ini Umma akan datang menemuinya.” Ucap Jaejoong, “Kita bisa berangkat bersama kalau kau mau.”

Changmin tersenyum senang. “Tentu sa….”

“Ide yang tidak buruk..” sahut Yunho. “Kalau begitu aku akan ikut dengan kalian.”

Ya! Jung Yunho!”

Mengabaikan delikan istrinya yang akhir-akhir ini sering didapatkannya, Yunho memilih untuk menghabiskan makanannya.

.

.

Kau semakin kurang ajar! Siapa yang memberimu ijin untuk melangkah sejauh ini, memasuki kehidupanku lebih daripada yang seharusnya boleh kau lakukan? Kenapa kau bersikap seolah-olah semuanya baik-baik saja? Kau bersikap seperti ingin menunjukkan pada dunia bahwa kau adalah sosok ‘suami’ dan ayah yang baik. Memang kau tidak lagi mengundang perempuan-perempuan sundal itu ke kamarmu tetapi bukan berarti kau bisa memperlakukanku seperti perempuan! Aku namja! Namja yang sejujurnya masih mendamba belaian perempuan. Andai kau tahu… sayang kau tidak pernah mau tahu apa yang ku rasakan. Kau terlalu egois! Mementingkan dirimu sendiri, mengabaikan kebutuhan orang lain.

.

.

“Bagaimana bila nanti kita makan siang bersama?” usul Yunho yang masih memfokuskan pandangannya pada jalanan di depan sana, mengabaikan tatapan kesal yang dilayangkan oleh ‘istri’ dan putra sulungnya.

“Aku tidak bisa keluar dari sekolah hanya untuk makan siang di restoran. Aku bisa diskors bila nekat melakukannya.” Ucap Changmin. Masuk dalam sebuah sekolah elit dengan kedisiplinan super ketat membuatnya tidak bisa begitu saja menyetujui usul ‘gila’ yang ayahnya ajukan.

Appa bisa bicara pada kepala sekolahmu.”

“Tidak. Terima kasih.” Sahut Changmin ketus. Membiarkan ayahnya bicara pada kepala sekolahnya sama saja cari malu. Changmin ingat bagaimana ayahnya mengamuk di ruang kepala sekolahnya tahun lalu hanya karena keberatan dirinya pulang terlalu malam sebab mengikuti pelajaran tambahan yang menurut ayahnya tidak terlalu penting –hingga sekarang Changmin tidak pernah menginguti pelajaran tambahan apapun karena perbuatan ayahnya itu. Tidak masalah memang karena Changmin selalu mendapatkan nilai sempurna.

“Unno, ani!” Jaejoong mengambil sebuah gula-gula dari tangan putra bungsunya ketika anak itu mengobrak-abrik bungkusan berisi snack yang memang selalu ada di dalam mobil untuk memenuhi nafsu makan Changmin yang kadang kelewat besar.

Yunho melirik istrinya yang duduk di kursi belakang bersama putra bungsunya melalui kaca spion, “Biarkan saja, Boo. Satu buah permen tidak akan berpengaruh pada  Hyunno.”

“Tidak!” sahut Jaejoong.

“Apakah hari ini adalah hari berbicara ketus pada Appa?” gumam Yunho serupa sindiran untuk anak dan istrinya.

“Jalankan saja mobilnya dan jangan banyak bicara!” perintah Jaejoong.

Yunho mulai memelankan laju mobilnya ketika pintu gerbang Cassiopeia High School sudah terlihat sekitar seratus meter di depan sana. Banyak remaja seusia Changmin berjalan bergerombol atau bersepeda di sisi kiri dan kanan jalan. Mendekati pintu gerbang, terlihat seorang guru dan beberapa anggota Osis yang terlihat berjaga, menertibkan para siswa yang dianggap melanggar peraturan sekolah. Yunho berhenti tepat di depan gerbang megah sekolah itu. Mengabaikan gerutuan Changmin.

Appa tidak harus berhenti di tempat semencolok ini!” Changmin menggerutu dan keluar dari mobil, memasang wajah dinginnya ketika siswa lain mulai membicarakan dirinya. tidak mudah memang menjadi anak seorang Jung Yunho yang kaya raya dan Kim Jaejoong yang sangat terkenal.

Hyung!”

Changmin menoleh. Tersenyum ketika adik kecilnya berlari mengejarnya sambil menyeret tas miliknya. Changmin lupa tidak mengambilnya dari sisi ibunya tadi. Menggendong Hyunno dan menciumi pipi gempal adiknya, membawa anak kecil itu menuju ayah dan ibunya yang sudah berdiri di samping mobil. “Hyung sekolah dulu, Unno juga pergi ke sekolah dengan Umma ne. Nanti sepulang sekolah Hyung akan menemani Unno jalan-jalan.”

Hyunno diam saja saat kakaknya memindahkannya ke dalam dekapan hangat ibunya, “Hyung….” anak itu tersenyum lebar ketika kakaknya mencium puncak kepalanya dan mengusap kepalanya pelan.

Changmin mencium pipi ibunya sekilas sebelum berjalan memasuki pintu gerbang sekolahnya, memberi salam pada guru penjaga dan teman sekelasnya yang kebetulan ditemuinya.

“Dia hanya menciummu? Tidak memberikan ciuman untukku?” tanya Yunho, “Anak durhaka! Aku harus menghajarnya bila pulang nanti!”

“Kau tidak pernah mempermasalahkan hal ini sebelumnya. Jadi jangan buat seolah-olah kau peduli!” ucap Jaejoong yang langsung memasuki mobil tanpa menunggu komentar Yunho.

Yunho tersenyum samar, “Aku peduli, Boo…. Lebih daripada yang kau tahu.”

.

.

Hyunno sangat pandai dalam hal menggambar. Semua hasil gambarnya sangat rapi dan indah, berbeda dengan teman-teman sekelasnya yang lain dan murid TK sebayanya. Untuk itu saya berharap sebagai orang tua Hyunno, anda bisa membimbing dan mengembangkan bakat yang anak anda miliki.”

Dari balik jendela kamarnya Jaejoong mengamati putra bungsunya yang sedang diajari bermain bersama putra sulungnya –bermain kuda-kudaan dengan Changmin yang berperan sebagai kuda.

Tentu saja, pikir Jaejoong.

Baik Changmin maupun Hyunno tidak mungkin mewarisi kemampuannya sebagai enterainer mengingat kedua anak itu bukan darah dagingnya, Changmin dan Hyunno pun tidak mungkin dipaksa untuk melanjutkan bisnis keluarga seandainya Yunho ingin pensiun karena kedua anak itu memiliki cita-cita masing-masing. Changmin ingin menjadi insinyur, sudah dibuktikan dengan kejeniusan otaknya. Hyunno? Anak itu selalu menjawab ingin menjadi arsitek agar bisa membangun kandang sapi bila ditanya ingin menjadi apa bila sudah besar nanti. Jaejoong tidak bisa memaksakan kehendaknya, pun juga Yunho. Karena itu Jaejoong tidak pernah memaksa dan membiarkan anak-anaknya untuk menjadi seperti apa yang diinginkannya, Jaejoong terlalu mencintai mereka hingga dirinya tidak sanggup berkata tidak pada keduanya.

Mata seindah mutiara rusa betina itu membulat ketika merasakan tubuhnya sudah dipeluk dari belakang, perutnya dililit oleh sepasang lengan kokoh yang sulit untuk dilepaskan, “Apa yang kau lakukan Jung Yunho?”

“Maafkan aku, Boo….” suara berat itu terdengar sangat lirih serupa bisikkan, “Aku sudah menahannya sejak tadi. Aku sudah tidak tahan lagi.”

Jaejoong merinding. Bulu kuduknya berdiri dan tubuhnya mulai gemetaran ketika lidah hangat namun basah itu menyapu kulit leher dan bahunya. Belum sempat melontarkan penolakan, Jaejoong sudah terlebih dahulu diseret menuju ranjangnya. Mata indahnya membulat ketika dirinya tiba-tiba saja dihempaskan ke atas ranjang, perutnya diduduki sedetik kemudian.

Yah! Jung Yunho! Ini masih sore. Menyingkir dari atas tubuhku!”

“Aku sudah menahannya sejak tadi, aku tidak sanggup lagi menahannya lebih lama lagi, Boo.”

“Bukankah kau bisa menahannya sepuluh tahun ini, hah? Cepat menjauh dariku!”

“Sepuluh tahun itu tidak sekalipun aku menyentuhmu, sekarang apa kau pikir setelah aku menyentuhmu aku bisa mengendalikan diriku lebih lama dari ini? Aku tidak bisa! Aku tidak bisa, Boo. Aku tidak bisa menahannya lagi….”

Jantung Jaejoong berdetak lebih cepat dari biasanya, tangan itu terasa sangat kokoh dan hangat saat membelai permukaan wajahnya, jemari indah itu terasa sangat lembut ketika mengusap permukaan bibir merahnya. Sialan! Jaejoong berpikir dirinya bisa terlena bila disentuh seperti itu oleh Yunho.

Jaejoong memejamkan matanya kuat-kuat ketika Yunho mulai mencium bibirnya, menghisapnya dalam dan basah. Bukan berarti tidak menikmati, hanya saja Jaejoong sedang berusaha menenangkan debaran jantungnya yang menggila hanya karena perlakuan ‘suami’nya itu pada dirinya. Jaejoong tidak tahu kenapa tetapi semakin sering dirinya dijamah oleh Yunho, semakin menggila pula debaran jantungnya.

“Tidak!” Jaejoong mendorong tubuh Yunho yang mulai menciumi bahu dan lehernya.

Boo….”

“Aku harus menyiapkan makan malam untuk anak-anakku, Jung Yunho!” mengabaikan wajah kesal yang Yunho tunjukkan, Jaejoong bangkit dari ranjang, merapikan bajunya yang sedikit kisut.

“Kau juga punya kewajiban untuk melayani suamimu, Jung Jaejoong!” protes Yunho ketika melihat ‘istri’ cantiknya berjalan menuju pintu keluar.

“Setelah sepuluh tahun hidup bersama, aku masih terkejut kau bisa merajuk seperti itu.” ucap Jaejoong sebelum pergi meninggalkan Yunho sendirian.

Yunho tersenyum bodoh. Dirinya sudah merendahkan harga dirinya, menekan egonya sendiri untuk mendatangi kamar Jaejoong dan meminta istrinya itu membantunya menuntaskan hasratnya tetapi yang didapatnya…

Yunho berpikir sejenak. Kenapa mereka harus tidur dikamar yang terpisah? Menahan diri selama 10 tahun lamanya untuk meredakan kebencian dan kemarahan istrinya pada dirinya karena memaksa Jaejoong menikah dengannya, apakah tidak cukup? Changmin dan Hyunno pun sudah semakin besar sekarang, sangat tidak baik bila mereka tumbuh dan melihat kedua orang tua mereka yang kurang harmonis.

Suami Jaejoong itu menyeringai ketika sebuah ide melintas dalam otaknya. “Kenapa tidak terpikir olehku sebelumnya?” seringai itu semakin membuat ayah dua anak itu terlihat semakin tampan –tampan dan mengerikan.

.

.

Semenjak kejadian Yunho hampir menidurinya tadi sore, Jaejoong memang memilih menghabiskan waktunya di dapur bersama pelayannya untuk menyiapkan makan malam untuk anak-anaknya. Jaejoong tidak mau Yunho menyentuhnya lagi –kalau bisa, tetapi… apakah benar-benar bisa?

“Kami sudah rapikan semuanya, Tuan.”  Seorang pelayan laki-laki melapor pada Yunho sambil membungkukkan badannya.

Yunho hanya mengangguk singkat tanpa memudarkan senyum yang tersungging pada wajahnya, senyum yang jarang sekali diperlihatkannya pada orang lain.

“Apa yang dirapikan?” tanya Jaejoong.

“Kamar kita tentu saja.” Jawab Yunho, “Apalagi memangnya?”

“Kamar… kita?” Jaejoong menampilkan wajah terkejut.

“Sayang sekali bukan bila kamar pengantin kita disia-siakan? Karena itu aku meminta pelayan memindahkan semua barang-barangmu ke kamar kita.”

“Jung Yunho!” Pekik Jaejoong. Untung Changmin sedang mengantar Hyunno cuci tangan di dapur sehingga mereka tidak perlu mendengar pertengkaran kedua orang tuanya. “Kau gila?”

“Kau juga harus memperhatikan suamimu mulai sekarang, Boo. Jadi akan lebih praktis bila kita tidur di kamar yang sama mulai sekarang.” Yunho meminum air putihnya sebelum melanjutkan ucapannya, “Jangan membantah karena aku adalah suamimu. Sudah tugasmu untuk melayaniku, terutama urusan ranjang.”

Jaejoong mendelik, menahan amarah yang nyaris mencapai ubun-ubun.

.

.

Kau brengsek! Kau tahu itu, kan? Kenapa kau memaksaku seperti ini? Bukankah sebelumnya kau sendiri yang mengurus dirimu? Panggil saja para yeoja itu untuk mengurusmu! Jangan memaksaku lebih dari ini atau aku akan meledak karenanya.

.

.

Boo Jaeku tersayang….” gumam Yunho. Dibelainya wajah terlelap istrinya –yang beberapa saat yang lalu dipaksanya melayaninya menuntaskan hasrat. Walaupun Jaejoong merapalkan sumpah-serapah, merapalkan kata-kata makian dan hinaan tetapi hal itu tidak surut membuat Yunho menuntaskan gairah berahinya terhadap istrinya. Istri yang didamba dan sangat dicintainya melebihi cintanya pada dirinya sendiri, “Harus bagaimana agar kau mau membuka hatimu untukku, Boo?”

Bukannya Yunho tidak merasa sakit ketika mendapat penolakan dari istrinya, bukannya Yunho tidak sedih dan sakit hati ketika istrinya sendiri memaki dirinya, Yunho manusia biasa yang bisa merasakan perasaan seperti itu dengan baik hanya saja egonya melarangnya untuk menunjukkan emosinya didepan orang lain. Yunho tidak mau dikasihani karena itu dirinya berusaaha menunjukkan bahwa semuanya baik-baik saja, tidak ada yang tahu bahwa hatinya remuk redam.

.

.

Sekali saja, hanya sekali! Aku ingin meraskannya. Aku ingin merasakan bagaimana menjamah perempuan, bahagimana rasa tubuh dan gairah mereka. Aku sungguh ingin merasakannya tetapi ketika aku membayangkan diriku sedang berusaha menyentuh mereka, refleksi kau yang menjamahkulah yang ku lihat. Berulang-ulang hingga rasanya aku ingin memasuki salah satu bilik di rumah sakit jiwa.

Apakah aku sudah tidak normal karena sentuhanmu?

.

.

“Pertemuan wali murid tadi hanya membahas soal anggaran yang harus dikeluarkan untuk study tour untuk liburan akhir semester nanti.” ucap Yunho yang langsung mendudukkan dirinya di atas sofa depan Jaejoong, “Swiss, Australia dan Bali yang menjadi tujuannya. Satu siswa boleh memilih satu tempat yang ingin dikunjunginya. Tempat yang mendapatkan suara terbanyaklah yang akan menjadi tujuan study tour.”

Jaejoong menatap Changmin yang sedang memangku Hyunno, kedua anak itu sedang melihat video animasi keluarga beruang dari handphone Changmin. “Kau ingin pergi kemana, Changminie?” tanyanya.

“Terserah saja Umma…. Umma bisa memilihkannya untukku.” Sahut Changmin.

“Kau pernah ke Eropa sebelumnya, bagaimana kalau ke Bali? Umma dengar dari Yoochun Ahjushi, tempat itu sangat indah.” Ucap Jaejoong.

Ne.” Sahut Changmin, “Aku tidak keberatan bila harus ke Bali. Toh dimanapun sama saja.”

Hari ini Yunho pergi ke sekolah Changmin untuk menghadiri pertemuan wali murid, karena pertemuan itulah seluruh siswa diliburkan agar pertemuan itu bisa berjalan lancar tanpa gangguan karena para tidak harus bolak-balik antara mengajar dan menghadiri pertemuan itu. Kejadian ini tentu saja membawa keuntungan bagi Jaejoong yang pinggangnya sedang sakit –karena ulah Yunho. Jaejoong yang tidak bisa mengantar Hyunno ke sekolahnya digantikan oleh Changmin. Maka hari ini Changminlah yang mengantar dan menemani adiknya di sekolah.

Boo, lusa kita berangkat ke Jinan. Siapkan semuanya.” Ucap Yunho.

“Jinan?” tanya Jaejoong.

“Untuk melihat peternakan milik Hyunno.” Jawab Yunho.

“Peternakan?” Changmin menatap ayahnya lekat-lekat, “Appa membelikan Unno peternakan?” tanyanya.

Wae? Kau juga mau satu?” Yunho bertanya balik, “Arra. Akan Appa belikan satu juga untukmu.”

“Aku tidak butuh peternakan!” sambar Changmin membuat Hyunno yang berada di atas pangkuannya terlonjak kaget. Changmin mengusap kepala adiknya, menenangkan Hyunno yang terlihat hendak menangis, “Uljimma, Hyung tidak marah pada Unno.”

Bocah menggemaskan itu turun dari pangkuan kakaknya, berlari menuju ibunya kemudian menangis keras, “Hueeeeeeeeee Ummaaaaaaaaaaaa….”

Jaejoong meraih tubuh kembal Hyunno, memangku anak itu dan mendekapnya erat, “Uljimma ne, Hyung tidak sengaja…. Hm…. Uljimma….” diusapnya punggung Hyunno lembut.

Yunho melirik jam tangannya, “Waktunya Hyunno tidur, Boo.” Ucapnya, “Dan Changmin… bila kau tidak ingin sebuah peternakan, lalu apa yang kau mau?? Katakan!”

Changmin bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati ibu serta adiknya berada, “Hyunno yakajja tidur siang bersama Hyung.” Diulurkannya tangannya, tersenyum ketika wajah sembab adiknya menatapnya. Diangkatnya bocah berbadan gempal yang menjulurkan kedua tangannya pada Changmin. “Aku hanya berharap punya keluarga bahagia seperti yang teman-temanku punya.” Ucapnya sebelum berjalan pergi meninggalkan ruang keluarga, meninggalkan ayah dan ibunya dalam kebisuan.

Boo?” Yunho menatap istrinya, wajah tampannya terlihat sedikit bingung dan suram.

“Ada hal-hal yang jauh lebih berharga daripada materi. Belajarlah soal itu juga Jung Yunho.” Ucap Jaejoong, “Coba pahamilah!”

.

.

Yunho mendudukkan dirinya di samping Jaejoong, mengamati ‘istri’nya yang sedang berkutat dengan handphonenya. Ada sesuatu yang ingin Yunho tanyakan, hal penting menyangkut keluarga mereka.

Boo?” dengan gusar Yunho merampas handphone istrinya.

Manager memberitahuku kalau ada beberapa produser yang menawari bermain film.” Ucap Jaejoong.

“Lakukanlah! Maka akan ku patahkan kedua tangan dan kakimu agar kau tetap tinggal di rumah.”

Jaejoong tersenyum bodoh, sudah menduga Yunho akan mengatakan hal semacam itu padanya bila dirinya memberitahu suaminya itu perihal tawaran bermain film.

“Bukan itu masalahnya!” ucap Yunho, “Changmin, apakah menurutmu anak itu tidak terlalu aneh? Dia berpikiran terlalu dewasa untuk anak seumuran dia. Bagaimana menurutmu, Boo?”

“Diasuh oleh dua orang namja yang harus dipanggilnya Appa dan Umma, apakah menurutmu tidak aneh untuknya? Terlebih ketika orang yang dipanggilnya Appa sering kali mengundang perempuan-perempuan mur….”

“Aku sudah tidak melakukannya lagi, Boo!” Yunho menyela.

“Kau melakukannya padaku sebagai gantinya. Itu memuakkan! Lebih baik kau….”

“Jangan menyelaku atau kau ingin ku cium sekarang juga Jung Jaejoong!” ancam Yunho, “Aku tidak main-main kali ini. Aku ingin Changmin dan Hyunno tumbuh menjadi anak yang bahagia dan bangga pada orang tua mereka apapun keadaan kita. Jadi, bisakah kau membantuku mewujudkan semua itu untuk anak-anak kita, Boo?”

Anak-anak kita? Jaejoong terdiam mendengar kalimat itu meluncur dari bibir Yunho.

Boo!” Yunho bercekkak kesal karena istrinya melamun dalam situasi sepenting ini.

Mata selegan mutiara rusa betina itu menantang mata sejatam musang yang juga tengah menghujamnya, “Lalu kau ingin aku melakukan apa?”

Yunho mendorong tubuh Jaejoong hingga terlentang di ranjang pengantin mereka, “Cintai aku!”

“Huh?”

.

.

Apa yang sudah kau lakukan padaku? Pada hati dan perasaanku? Tidak cukupkah sepuluh tahun ini? Kenapa kau hujamkan juga jarum berisi raccun mematikan itu pada jantungku? Membuatku terlena, membuat sekujur tubuhku menjeritkan namamu….

Mencintaimu?

Setelah semua hal yang sudah kau lakukan selama ini dengan mudahnya kau mengatakan dan meminta padaku untuk mencintaimu?

Cih!

Dalam mimpimu!

.

.

“Aku seperti perempuan….”

“Dalam hubungan ini memang kaulah yang memerankan peran sebagai perempuan, Boo. Kau yang dipanggil ‘Umma’ oleh Changmin dan Hyunno bukan aku.”

Mutiara rusa betina yang terlihat sayu dan lelah itu menatap langit-langit kamarnya –kamar pengantinnya dan sang suami yang memaksanya pindah ke sana demi menunjukkan pada anak-anak mereka bahwa mereka bisa menjadi keluarga yang harmonis dan bahagia.

“Aku ingin merasakan tubuh perempuan juga….”

Mendengar apa yang istri cantiknya katakan, Yunho mendelik tajam pada Jaejoong, “Kau apa, Boo?”

“Aku masih mendamba dada sintal… Aku ingin mencoba sekali sa…. Yah! Apa yang kau lakukan Jung Yunho!” Jaejoong mendelik kerika tiba-tiba saja Yunho menduduki perutnya, “Menjauh dariku!”

“Kalau begitu akan ku buat dadamu bertambah sintal agar kau tidak membayangkan hal yang tidak penting.” Yunho menatap penuh amarah istri cantiknya, jemari kokohnya mencengkeram sisi-sisi wajah Jaejoong kuat-kuat, “Kau hanya boleh memikirkanku! Tidak boleh memikirkan orang lain apalagi perempuan yang sangat berisik dan menyebalkan! Kau adalah istriku, ibu dari anak-anakku jadi jangan coba-coba untuk menduakanku atau kau akan terima akibatnya, Jung Jaejoong!” ancam Yunho.

“Akan ada saatnya nanti kau bosan padaku, Jung Yunho! Kau pasti juga mendamba perempuan untuk berada dibawahmu, kan?”

“Aku lebih mendamba cinta dan kesetiaanmu daripada perempuan!” Yunho membelai bibir semerah darah itu menggunakan ibu jari tangan kanannya, “Dan ku rasa kau lebih menggairahkan daripada perempuan manapun didunia ini, Boo.” Mencondongkan tubuhnya, Yunho menyentuh bibir merah itu lembut sebelum menghisapnya dalam-dalam. Berbeda dengan reaksi yang Jaejoong tunjukkan sebelumnya, kali ini ‘istri’ Jung Yunho itu tidak meronta atau melakukan perlawanan ketika sekali lagi Yunho mulai menjamah tubuhnya.

.

.

Terlalu sering ku biarkan kau menjamahku semakin membuatku kehilangan kewarasanku!

Mencintaimu? Aku?

Bahkan dalam mimpi pun aku enggan….

Kau yang sudah menyeretku dalam pernikahan ini! Kau yang mengancam dan merenggut masa depanku, kau yang membuatku dipanggil ‘nyonya’ dan ‘umma’ padahal aku seorang laki-laki, kau yang membuatku menjadi ‘istri’, kau yang sangat ku benci, kau yang… ku cintai?

Cinta?

Aku?

.

.

“Tidurmu nyenyak, Boo?” Yunho tersenyum lembut, membelai rambut Jaejoong perlahan, “Karena kau menolak bunga yang susah payah ku siapkan untukmu….” Yunho meletakkan sebuah miniatur gajah yang terbuat dari keramik di antara mereka mengingat saat ini mereka masih berbaring berhadapan di atas ranjang mereka.

“Apa isinya?” tanya Jaejoong curiga. Keramik itu terlihat seperti pajangan rumah pada umumnya tetapi ada garis horizontal sepanjang perut miniatur gajah itu. Jemari Jaejoong terjulur, mengangkat bagian kepala gajah itu, terdapat sebuah lubang di dalamnya. Lubang yang berisi sepasang cincin emas putih yang sangat indah.

“Dulu kau sering mengoleksi aksesoris seperti ini, kan? Tetapi semenjak Changmin dan Hyunno datang pada kita, waktumu habis untuk mengurus mereka. Juga pekerjaan brengsekmu itu! Ingatkan aku untuk memecat managermu yang selalu berisik soal tawaran pekerjaan yang datang padamu, tidak tahukah dia aku muak mendengarnya.”

“Apa yang kau harapkan dariku? Kalau kau tidak mau diganggu maka tanda tanganilah surat cerai yang sudah ku periapkan! Lagi pula itu konsekuensi yang kau dapatkan karena memaksaku menikahimu. Kau tahu? Aku artis dengan bayaran paling mahal di Korea Selatan sampai saat ini.”

Yunho menarik sudut bibirnya, jemarinya mengambil salah satu cincin berukuran sedikit lebih besar untuk dikenakannya sendiri kemudian mengambil cincin yang berukuran sedikit lebih kecil untuk dipakaikan pada jari manis tangan kiri Jaejoong, “Agar semua tahu bahwa kau adalah milikku yang berharga.”

.

.

Mencintaimu? Bagaimana caraku untuk tahu bahwa aku sudah mencintaimu?

.

.

“Jung Yunho….” panggil Jaejoong.

“Hm? Apa kau menginginkan hal lain lagi, Boo?”

“Sentuh aku! Sentuh aku seolah-olah besok hari ini adalah hari terakhir kau bisa melakukannya!”  pinta Jaejoong.

Yunho menyeringai lebar, “Bagaimana dengan Changmin dan Hyunno, hm? Bagaimana bila mereka mencarimu?”

Jaejoong melirik jam dinding, baru puku 5 pagi. “Masih ada waktu. Lakukan! Buat aku melupakan dada sintal perempuan! Kalau kau bisa melakukannya, aku… aku akan belajar mencintaimu.”

.

.

Ketika aku bicara soal ketidaknormalan hubungan kita, aku sendirilah yang berubah menjadi tidak normal karena sentuhanmu, perlakuanmu, perhatianmu dan caramu bicara padaku yang berubah secara drastis. Aku mulai menikmati saat kau memelukku, membelai wajahku dan mencumbuku. Aku bisa ikut tersenyum ketika kau mulai bisa berinteraksi dengan anak-anakku –anak-anak kita… bolehkah aku menyebutnya seperti itu?

Tanpa ku sadari semuanya mulai berubah perlahan-lahan. Tidak seperti yang ku bayangkan dulu kalau hubungan ini akan menjadi seperti ini. Sepertinya aku mulai memahami satu hal penting. Perubahan seperti apapun itu, sekecil apapun itu bisa membawa dampak yang sangat besar kedepannya. Entah baik ataupun buruk.

.

.

“Huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa Sapiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii….” Hyunno segera berlari menyongsong segerombolan sapi yang sedanag merumput beberapa meter dari tempat ayahnya memarkirkan mobil.

Yah, Jung Hyunno!” Changmin segera mengejar adiknya, bisa bahaya bila Hyunno bermain di sekitar sapi-sapi itu tanpa pengawasan, anak itu bisa-bisa terinjak oleh kawanan sapi-sapi.

“Darimana kau tahu tempat ini?” tanya Jaejoong.

“Seorang kenalan memberitahuku bahwa temannya memiliki sebuah peternakan yang hendak dijual untuk membayar hutang perusahaannya. Tentu saja dengan senang hati aku membelinya untuk Hyunno.” Jawab Yunho, “Peternakan ini ku beli atas nama Hyunno, kau lihat Boo? Perkebunan jeruk di sana pun aku beli atas nama Changmin.” Yunho menunjuk ke arah sebelah tenggara dimana di sana terlihat ratusan pohon jeruk siap panen. Hari ini hari kamis yang bertepatan dengan libur nasional sampai hari senin nanti. Yunho sengaja merencanakan liburan keluarga ini jauh-jauh hari sebelumnya –bisa dikatakan sedikit memaksa ketika awalnya Jaejoong dan Changmin menolak pergi ke Jinan. Jaejoong memilih mengambil pekerjaan sebagai bintang tamu acara musik sedangkan Changmin memilih belajar, namun Yunho berhasil mengancam mereka sehingga akhirnya keluarga kecil yang bahagia itu –bila dilihat dari kemasannya saja, sampai juga di salah satu peternakan di Jinan yang sudah menjadi milik Jung Hyunno.

Jaejoong bisa melihat pancaran kegembiraan tergambar jelas pada wajah kedua anaknya. Jaejoong ikut tersenyum ketika melihat Hyunno yang sedang digendong oleh Changmin terlonjak-lonjak kegirangan sambil menunjuk-nunjuk anak sapi yang sedang menyusu pada induknya. Sungguh pemandangan yang menentramkan.

Kajja….”

Dibiarkannya tubuhnya dirangkul oleh Yunho, dibiarkannya suaminya itu membimbingnya berjalan menghampiri kedua anak mereka, melupakan sejenak tumpukan koper dan snack yang masih teronggok di dekat mobil. Biar saja! Toh nantinya akan ada yang mengurus semua itu untuk mereka.

.

.

Aku masih tidak mengerti apa yang terjadi pada jantung dan tubuhku. Ada getaran aneh ketika kau memelukku, menciumku dan mencumbuku, ada perasaan tidak nyaman dan gelisah bila tiba-tiba saja kau berada diluar garis jangkauanku. Ada keinginan untuk memenjarakanmu agar kau tidak lagi bisa bertemu perempuan-perempuan itu walaupun aku yakin kau tidak lagi menemui mereka.

Cinta?

Apa itu cinta?

Sejujurnya aku masih tidak bisa memahami arti cinta yang sebenarnya. Tetapi… mungkin aku akan belajar tentang cinta dan bagaimana cara mencintaimu meskipun ini semua tidak normal, meskipun terasa tabu dan tidak biasa. Akan tetap kulakukan! Akan ku lakukan demi anak-anak yang sangat aku kasihi dan sayangi.

Demi mereka…

… aku akan mulai belajar mencintaimu mulai sekarang.

.

.

END

.

.

Ottoke? Masih gantung? Entah kenapa memang untuk FF ini Yuuki pengen buat akhir yang gantung biar kesannya beda gitu #dijitakrame-rame :D

.

.

Thoughts on “The Scent Of Love”

Gomawo untuk: Zhemee,  Karin Cassiopeia, nina, azkhana, T3Jj kim, wiwindah, missFa, lee huang ziol,  hanasukie, diennha, hope, Jung Jyunnie Yunjae Shipper, dewifebrianayasmin,  MyBaby WonKyu,  miss cho, reanelisabeth, Ratnaezleeem, Leach, jaeholove01, Rani, alint2709, hime yume, Meybi, anyjae,  ia, yunorisweat, ayumi, echasefry,  novia/kyu viana sialalahi, yulkorita, yunorisweat, Kim Hyewon, T3Jj kim, Ade Jung, Rizky Nurbayani, Rinatya12kmsyjs.

Sekuelnya seperti ini. Jelek ya? Mianhae :) Yuuki nyolong waktu disela kesibukan & waktu istirahat Yuuki untuk ngetik soalnya (padahal harusnya ane hiatus selama sebulan).Yang minta Umma hamil, di FF ini Umma ga M-Preg #tunjukWarning. Jadi mian ne.

Untuk Rin yang tanya soal buku. Coba buka postingan Yuuki yang judulnya Sample Script EpisLova & Sample Script Another Girl. Dalam postingan itu ada link yang bisa dibuka, klik saja link itu untuk tahu lebih jelasnya soal buku. Coba Rin cek ne :)

Jaga kesehatan :)

.

.

Friday, August 29, 2014

3:34:10 PM

NaraYuuki

Nae Sarang

Nae Sarang

.

.

NaraYuuki Airissa

.

.

Aku mendambamu, sayangku!

Sungguh mendambamu….

Aku merindukanmu, sayangku!

Sangat merindukanmu….

Terlalu rindu hingga ingin ku bunuh dirimu!

Ku jeburkan dalam nelangsa jasatmu yang harum aroma dosa.

.

.

Sayangku, lihatlah aku sekali lagi!

Sekali saja lihatlah aku!

Sayangku, sentuhlah aku sekali lagi!

Sekali lagi sentuhlah aku!

Sentuh dengan benci dendam yang kau punya untukku

Agar tuntas perasaan brengsek ini!

.

.

Jangan ingat lagi, Sayangku!

Jangan ingat lagi aku yang pernah mencintaimu

Jangan harap lagi, sayangku!

Jangan harap lagi cinta itu tersisa untukmu!

Dendam ini sudah menguasaiku, benci ini sudah mengotori tubuhku!

.

.

Biarkanlah sayangku, biarkanlah….

Biarkanlah tertatih aku merangkak melewati nestapaku

Biarlah aku tersiksa karena merindu dan mendamba dirimu

Sebelum bisa ku campakan perasaan brengsek itu!

Perasaan yang melemahkan aku!

Biar ku tinggalkan perasaan sialan itu!

Perasaan yang membuatku kalah darimu.

.

.

Sayangku, aku akan merengkuhmu dalam hangat selimut asa

Akan ku sentuh hatimu yang neslangsa….

Andaikan kau tidak memilihnya….

.

.

.

Friday, August 29, 2014

9:21:09 AM

Nara Yuuki.

Ispired: Sajak Bulan Purnama & Sajak Burung-Burung Kondor (WS Rendra)

Love Mair

.

.

.

.

.

Love Mair Poster

.

.

.

.

.

“Lupakan aku dan temukanlah bahagiamu sendiri.” Dulu aku memang mengatakan hal seperti itu padamu agar kau bisa lepas dariku, agar kau bisa melepaskan kisah kita yang sudah kandas. Saat itu aku memang melepasmu, aku mencintaimu tetapi membiarkanmu pergi. Bodoh memang! Biarlah kebodohan itu ku kenang sekarang….

Dulu setiamu serupa benang di atas mata air, terlalu tipis hingga mataku tidak bisa melihatnya. Dulu kau menangis dan memohon untukku tetap tinggal disisimu namun ku tolak dan ku campakan dirimu. Aku mencintaimu, sungguh. Sampai sekarang pun api cinta itu masih ada di dasar lubuk hatiku yang gersang dan gelap, tetapi aku tidak menyesal telah melepaskanmu, aku tidak menyesal telah meninggalkanmu dan membuangmu. Karena aku tahu, bukan aku yang kau inginkan selama ini, bukan aku yang kau dambakan selama ini meskipun ratusan kali kau berkata cinta, meskipun air matamu telah jatuh untukku.

Kau tidak pernah benar-benar mencintaiku!

Dan aku tahu hal itu dengan baik, hanya aku saja yang terlalu bodoh hingga menahan diriku untuk berdiam terlalu lama disisimu.

Kini topengmu sudah terlepas!

Oh, sayangku! Sungguh aku ingin menangis karena rasanya sangat menyenangkan, menyenangkan yang sangat menyakitkan.

Betapa bodohnya aku!

Melihatmu di depan sana bersama dia yang membuatku menderita selama bersamamu sungguh bukan keputusan bagus untuk diriku sendiri. Aku memang terlihat kalah disini namun pada saat yang sama akulah pemenang sejatinya. Aku menang melawan sakit hati dan keterpurukan selepas ku tinggalkan dirimu, aku menang karena aku tidak harus merasakannya lagi.

Pahit terhianati.

“Kau bisa melepaskannya sekarang Julliane Park sshi?”

“Tentu saja. Rasanya sangat melegakan lepas dari belenggu serigala walaupun taring tajam yang menacap dalam hatiku meninggalkan luka basah cukup parah. Tidak apa-apa!” Julliane, gadis bermata coklat bening itu tersenyum, “Coba bayangkan apa jadinya aku bila duduk di depan sana dengan perut sebesar itu? Aku pasti akan malu seumur hidupku.”

“Ya, pengantin wanita telah hamil duluan bahkan sebelum upacara pernikahan. Itu sedikit ironis….” Park Hyunbin, gadis yang tidak jauh lebih tinggi daripada Julliane itu berkomentar, “Pantas saja banyak yang bersimpati padamu. Baru tiga bulan Huan memutuskan pertunangan denganmu, dia sudah mengirim undangan pernikahan dengan perempuan lain yang ironisnya perempuan itu ternyata sudah hamil 7 bulan.. Luar biasa!”

“Yang luar biasa adalah aku sudah tahu perselingkuhan mereka sebelumnya tetapi aku menutup mata dan bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Lihat sekarang akibatnya!” Julliane berkomentar, “Ah, tidak masalah, kita nikmati saja pesta ini!”

Mungkin tidak akan mudah bagiku untuk bisa mempercayai laki-laki, bukan berarti aku menutup diriku. Hanya saja aku harus lebih berhati-hati. Aku tidak mau masuk ke dalam lubang yang sama.

Untukmu sayangku, berbahagialah engkau dengan perempuan pilihanmu sekarang, jangan sakiti dia dan jadilah ayah yang baik untuk anakmu kelak.

Entah jalan seperti apa yang harus ku lalui nanti, aku pasti akan menjalaninya penuh keyakinan. Karena aku… Julliane Park. Karena aku tidak mau terpuruk hanya karena patah hati.

Jadi sayangku, tunggulah! Nanti, suatu hari nanti aku akan membalasmu. Akan ku balas kau dengan limpahan kebahagiaan yang kumiliki agar kau menyesal telah menyakiti hatiku.

Tetapi sayangku, biarlah kebencian ini ku simpan sendiri. Perasaan ini hanyalah bentuk kemarahan dan kekecewaanku saja. Jangan khawatir karena kelak aku akan memandang lain dirimu dan dirinya.

Sayangku, doaku untukmu hari ini… ‘Semoga kau bisa memahami apa arti sebuah kesetiaan.’

.

.

END

.

.

Special to: Hanabusa Hyeri. Dear, entah kenapa kisah cintamu selalu mirip kisah Yuuki :’( Well… mari sama-sama mencari kebahagiaan kita. Yuuki tahu kau gadis kuat :) Fighting!

.

.

Monday, August 25, 2014

4:14:06 PM

NaraYuuki

E Daehan Gamsa

Gomawo untuk semuanya…

Terima kasih karena tanpa saran, kritikkan, masukkan dari reader Chingu semua, Yuuki tidak akan bisa seperti sekarang.

Terima kasih #bow

Maaf bila selama ini Yuuki melakukan banyak kesalahan maupun tidak.

Jeongmal mianhae….

Apapun yang terjadi mari sama-sama berjuang untuk mewujudkan mimpi masing-masing :)

Fihting!

.

Image0645

.

Image0642

.

Image0643

.

Image0644

.

Image0620

.

Image0649

.Image0647

.

Image0648.

Image0646

.

.

.

.

.

Yuuki akan berusaha menyelesaikan dan membayar hutang Yuuki secepatnya tetapi mohon pengertiannya bila satu bulan kedepan Yuuki tidak bisa post, Yuuki harus menunaikan tugas lain.

Mian, dan gomawo sudah mendukung Yuuki selama ini #Bow

Suprasegmental

Tittle                : Suprasegmental

Writer               : NaraYuuki

Genre               : Romance/ Adventure/ fantasy kerajaan/ Incest

Rate                 : -M

Cast                 : Member DBSK (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan).

Disclaimer:       : They are not mine but this story is mine, NaraYuuki

Warning           : This is YunJae Fan Fiction (Boys Love). Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut.

.

.

.

.

.

PASTIKAN BACA WARNINGNYA DULU

EPEP INI KHUSUS BUAT EMAK IFA :D

.

.

Suprasegmental Dari NaraYuuki untuk para Kutil

.

.

“Kau tidak apa-apa?” pemuda yang memakai setelan berwarna biru langit itu bertanya. Mata setajam musangnya yang teduh menatap sosok menawan yang berjalan beberapa langkah di depannya.

“Memang aku kenapa?” pemilik bibir semerah darah itu bertanya, bibirnya melengkungkan senyuman manis tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan, memamerkan mutiara rusa betinanya yang berkilau indah.

“Pertunanganmu dengan tuan putri dibatalkan karena tuan putri kabur dengan prajurit bodoh itu, bukan? Kau baik-baik saja?”

“Ah itu….” gumamnya sambil terus menyunggingkan senyuman, “Aku baik-baik saja, hanya saja Harabojie dan yang lainnya mendesak Yang Mulia Raja untuk memberikan hukuman pada tuan putri dan kekasihnya itu.”

“Kau yakin?”

“Sebenarnya sejak awal aku sudah berencana kabur bila terus dipaksa menikah dengan tuan putri. Coba bayangkan! Bagaimana bila aku harus menikah dengan seorang perempuan yang hinggap kedalam setiap pelukan para pria? Tidak, Yunho! Harga diriku terlalu tinggi untuk menerimanya.”

“Benar-benar seorang Kim sejati.”

Pemuda yang memakai setelan baju berwarna merah muda dengan semburat jingga itu berhenti berjalan, terdiam sebentar sebelum memutar tubuhnya menghadap pemuda yang sedikit lebih tinggi darinya, “Jangan menyebutku seperti itu! aku tidak suka.”

Angin semilir yang berhembus sore itu memberi kehangatan tersendiri, Yunho hanya tersenyum ketika wajah menawan itu terlihat sedikit merengut kesal, “Aku mengerti. Maafkan aku.”

Ayah sama tetapi ibu berbeda. Itulah hubungan antara Yunho dan pemuda menawan di hadapannya itu, Jaejoong. Yunho lahir satu minggu sebelumnya, mewarisi wajah tampan dan marga keluarga Ayahnya yang menduduki posisi sebagai panglima militer tertinggi.

Kim Jaejoong, anak dari istri kedua yang berasal dari keluarga bangsawan yang masih memiliki kekerabatan dengan raja. Kakek Jaejoong dari pihak ibunya adalah paman sang raja yang sampai saat ini menduduki posisi sebagai hakim tertinggi. Sejak lahir Jaejoong diasuh oleh keluarga ibunya dan mewarisi marga Kim ibunya.. ibunya sendiri sudah meninggal ketika Jaejoong berusia 5 tahun karena wabah penyakit yang saat itu menyebar.

Itulah sebabnya walaupun bersaudara tetapi dalam keseharian mereka Yunho dan Jaejoong terlihat seperti bukan saudara, mereka terlihat seperti teman yang sama-sama berasal dari keluarga bangsawan yang saling menjaga etika dan tata krama masing-masing demi kehormatan keluarga. Bahkan diawal pertemuan mereka yang pertama lima tahun yang lalu keduanya merasa sangat asing. Saudara yang terasa bukan saudara, teman yang sebenarnya saudara membuat mereka memutuskan untuk melupakan garis darah mereka dan berdiri sebagai individu masing-masing, Jung Yunho dan Kim Jaejoong yang berasal dari keluarga yang berbeda.

Jaejoong sebelumnya dijodohkan dengan putri sulung Raja dan akan dinikahkan lima purnama lagi, sayangnya sang putri kabur dengan kekasihnya yang hanya merupakan seorang      prajurit biasa. Saat ini sang putri dan kekasihnya sedang dalam pengejaran untuk menerima hukuman karena sudah mempermalukan keluarga istana –hukuman mati.

Yunho pun sempat akan dijodohkan dengan putri bungsu perdana mentri, sayangnya gadis itu ternyata sudah mengandung anak dari hasil hubungan gelapnya dengan salah seorang mentri di kabinet. Yunho bersyukur karena dirinya tidak harus membangkang orang tuanya dengan menolak perjodohan itu karena Yunho sudah jatuh cinta pada orang lain.

“Kau sudah menyiapkan semuanya?” tanya Jaejoong yang kembali berjalan, meninggalkan Yunho yang masih sedikit termenung.

“Huh? Apa yang harus ku siapkan?” Yunho tersentak kaget dari lamunannya dan berjalan sedikit cepat untuk mensejajarkan langkah kakinya dengan Jaejoong.

“Bekal.” Jawab Jaejoong, “Bukankah ujian akhir sudah dihapuskan dan diganti dengan tugas selama setengah tahun untuk melihat pantas tidaknya kita sebagai calon pegawai pemerintahan?”

“Ah, kurasa Ummaku sudah menyiapkan semuanya untukku.” Jawab Yunho.

Memang sebagai syarat kelulusan mereka sebagai murid sekolah tinggi negara yang tidak semua orang bisa memasukinya, mereka harus menjalankan tugas akhir berupa praktik langsung dilapangan untuk menentukan pantas tidaknya mereka diangkat sebagai pejabat pemerintah. Walaupun mendaftar pekerjaan dengan jabatan yang berbeda tetapi Yunho dan Jaejoong kebetulan mendapatkan tempat magang yang sama, sebuah daerah di selatan yang dikelilingi pegunungan dan rawa bernama Bollero. Bila Yunho akan menjabat sebagai kepala keamanan kepolisian Bollero, Jaejoong akan menjabat sebagai salah satu hakim di sana. Keduanya akan tinggal disebuah rumah yang khusus disiapkan untuk para murid sekolah tinggi negara yang sedang melakukan magang, rumah itu diurus oleh beberapa pelayan, prajurit dan kereta kuda untuk menunjang tugas mereka selama di sana. Mereka juga akan menerima gaji sebagai mana mestinya sesuai dengan pangkat pejabat setingkat kedudukan yang mereka isi.

“Aku iri….” gumam Jaejoong, “Tapi para pelayan sudah menyiapkan bekal untukku sejak beberapa hari yang lalu.”

Yunho hanya bisa mengulum senyumnya, pemuda menawan di hadapannya ini memang sering kali bersikap kekanakan mengingat Jaejoong memang satu-satunya cucu yang dimiliki oleh sang hakim tertinggi yang dibesarkan penuh dengan kemanjaan dan kasih sayang.

“Aku akan menunggumu di depan penginapan Big East besok pagi. Jangan sampai terlambat atau aku akan pergi tanpamu.” Ucap Jaejoong yang segera mengambil jalan menikung ke arah kanan, meninggalkan Yunho yang hanya menatapnya dalam diam.

“Bisakah aku bertahan selama setengah tahun itu bersama, Boo?” gumam Yunho penuh kegetiran sebelum melangkahkan kakinya ke arah jalan yang lurus di depannya.

.

.

Kabut belum lagi terkikis oleh cahaya matahari yang mulai menghangat ketika Yunho berdiri menunggu di depan sebuah penginapan berpapan nama Big East bersama beberapa orang pengawal pribadinya menunggu kedatangan Jaejoong. Pemuda berparas menawan yang kemarin memperingatkan dirinya justru terlambat datang.

Mianhae Yunho ya….” Jaejoong berlari-lari kecil mendekati Yunho diikuti lima orang pengawalnya yang masing-masing membawa bungkusan besar di tangan mereka.

“Apa yang membuatmu datang terlamat, Jae?” tanya Yunho yang walaupun sedikit kesal namun tetap mengulum senyum ketika melihat napas Jaejoong terengah.

Harabojie menceramahiku sebelum membiarkanku pergi.” Jawab Jaejoong, “Taruh barang-barangku di atas kereta!” perintah Jaejoong.pada para pengawalnya.

“Apa yang Harabojiemu katakan?”

“Katanya aku harus menjaga kehormatan diri dan keluarga, tidak boleh masuk ke rumah para gisaeng, tidak boleh terlibat dalam korupsi, kolusi dan nepotisme, tidak boleh berbuat onar dan yang paling penting tidak boleh kalah darimu.”

“Benar-benar Hakim Kim….” gumam Yunho. “Kajja! Ku rasa keretanya siap berangkat sekarang. Perjalanan kita memakan waktu lima hari empat malam lamanya, kita harus bergegas.”

Jaejoong memerintahkan para pelayannya untuk pulang sebelum dirinya menaiki kereta yang akan membawanya ke Bollero, “Kirim surat atau kurir bila sesuatu terjadi di rumah.” Ucapnya yang langsung meraih tangan Yunho yang terjulur padanya, membantunya menaiki kereta.

Roda kereta berderak ceepat dan keras ketika para kuda pilihan itu mulai menarik kereta dibawah kendali dua orang kusir di depan. Suara langkah kuda yang berpacu mengiringi suara derak roda kereta, ada beberapa prajurit khusus yang akan mengawal kereta sampai ke Bollero mengingat dua orang yang berada di dalam kereta itu adalah keturunan keluarga bangsawan yang mungkin kelak akan menjadi pejabat pemerintahan yang hebat.

“Aku mencium aroma gingseng merah.” Gumam Jaejoong.

Umma menyiapkan satu kotak penuh gingseng merah.” Jawab Yunho, “Aku akan membaginya denganmu nanti.”

“Bolehkah aku tidur sebentar? Harabojie terus memberikan wejangan padaku sejak kemarin. Ku rasa aku hanya tidur 2 jam saja malam tadi.”

Yunho tersenyum ketika melihat berkali-kali Jaejoong menguap, “Tidurlah! Gunakan bahuku sebagai sandaran karena kau tidak akan bisa tidur berbaring di dalam kereta ini.”

Jaejoong mengangguk pelan, menggeser duduknya hingga tubuhnya menempel pada tubuh Yunho, merebahkan kepalanya dan menggunakan bahu Yunho sebagai sandaran sebelum menutup kedua mutiara rusa betinanya yang indah, “Yun….” gumamnya.

“Hm?” sahut Yunho.

“Apa kau sudah dengar soal Putra Mahkota?”

“Putra Mahkota yang memiliki simpanan seorang namja?” tanya Yunho.

“Kau sudah tahu rupanya.” Ucap Jaejoong tanpa membuka matanya, “Bagaimana menurutmu? Hubungan seperti itu….”

“Kenapa dengan hubungan seperti itu?” tanya Yunho yang langsung memotong ucapan Jaejoong.

“Aku benci!”

Yunho terdiam, kepalanya menoleh menatap wajah menawan yang terlihat sedikit lelah dan mengantuk itu.

“Aku tidak suka hubungan seperti itu!”

“Kenapa?”

“Karena aku tidak mau menjadi simpanan. Aku tidak mau menjadi nomor dua.”

“Maksudmu kau tidak keberatan hubungan antara Putra Mahkota dan namja itu?”

“Kenapa harus? Mereka yang menjalani jadi kenapa aku harus keberatan? Aku hanya tidak suka Putra Mahkota menjadikannya simpanan. Kalau Putra Mahkota benar-benar menginginkan namja itu harusnya dia tidak menjadikannya yang kedua.” Ucap Jaejoong, “Aku tidak mau sepert Umma karena itu aku tidak mau menjadi yang kedua! Aku ingin menjadi yang pertama dan satu-satunya.”

“Akan kau dapatkan.”

“Memang harus ku dapatkan!”

Tidak ada pembicaraan lagi anatara Jaejoong dan Yunho. Jaejoong sudah benar-benar terlelap dalam tidurnya sekarang hingga tidak menyadari lengan kokoh Yunho melingkari pinggangnya, menjaganya agar tidak terjatuh maupun terantuk akibat guncangan kereta. Yunho sendiri menatap keluar kereta, melihat pepohonan yang terlihat seperti bergerak mundur dengan cepat.

“Seandainnya aku memilihmu…. Beranikah aku menjadikanmu yang pertama dan satu-satunya, Boo? Aku menginginkanmu tetapi aku pun masih menghormati Appa dan kakekmu.” Batin Yunho dalam kegelisahan hatinya.

.

.

Matahari sangat terik ketika Yunho dan Jaejoong sampai ditempat magang mereka. Kantor kepolisian yang merangkap sebagai kantor kehakiman. Tidak buruk, sungguh tidak buruk bangunan yang menjadi kantor dua lembaga pemerintahan itu. Hanya saja…

“Tidakkah ini terlalu kumuh? Bagaimana menurutmu, Yun?” tanya Jaejoong.

Yunho mendelik tajam ketika salah seorang sipir yang menyambut mereka di depan pintu gerbang bangunan itu menatap tidak suka pada Jaejoong, “Tunjukkan etikamu pada atasan barumu!” bentaknya yang langsung mendatangkan bungkukkan hormat dari sang sipir. “Kita bisa membersihkannya, Jae!” Yunho menjawab pertanyaan Jaejoong tadi.

“Kita akan mulai kerja besok, kan? Sebelum itu aku ingin bertemu dengan semua petugas kantor kehakiman di sini! Bisa kau panggilkan mereka?” tanya Jaejoong pada sang sipir.

“Kenapa tidak masukk saja?” usul Yunho.

“Kotor! Aku tidak mau masuk ke dalam sana! Aku bisa menulis surat pada Raja tentang betapa tidak terurusnya tempat ini, bila kau berkeras memaksaku masuk! Kau lupa? Aku masih kerabat dekat Raja.” Jaejoong menatap Yunho serius, seserius keinginannya untuk merobohkan gedung itu.. “Tunggu apa lagi? Cepat panggilkan!”

Sang sipir segera berlari masuk meninggalkan Yunho, Jaejoong dan para prajurit yang menyertai keduanya.

“Kau bisa langsung dibenci bawahanmu bila sikapmu seperti itu, Jae.” Ucap Yunho.

“Aku tidak akan berpura-pura munafik. Aku akan menunjukkan seperti apa diriku yang sebenarnya pada orang lain entah mereka suka atau tidak terhadapku! Dan karena aku tidak suka tempat kumuh dan kotor ini maka aku mengatakannya!” sahut Jaejoong.

“Kau mirip hakim Kim bila berkata seperti itu.”

“Karena aku cucunya!” mata bulat indah Jaejoong menatap beberapa rombongan orang yang berlari berbondong-bondong dari dalam gedung itu menuju arahnya dan Yunho. Pakaian yang amburadul, wajah yang kuyu dan lusuh membuat Jaejoong tersinggung. Tersinggung karena dirinya ditempatkan diantara orang-orang yang sepertinya hanya bisa makan gaji buta saja. Jaejoong bertekad selama dirinya menjabat sebagai hakim Bollero, tidak ada satu pun pegawai dibawah kuasanya yang akan dibiarkannya menganggur.

“Selamat datang Tuan….” ucap salah seorang namja paruh baya berperut buncit.

Jaejoong menatap sekumpulan orang itu dengan tatapan jijik dan meremehkan, “Apa kalian minum-minum di tempat kerja?!” bentaknya membuat nyali segerombolan orang itu menciut, “Siapa yang menjabat sebagai wakil hakim Bollero? Majulah ke depan!”

Seorang pemuda seusia Jaejoong namun sedikit lebih tinggi darinya maju dan membungkukkan badannya, memberi hormat pada Jaejoong.

“Siapa namamu?” tanya Jaejoong.

“Shim Changmin.” Jawabnya.

“Changmin sshi, aku ingin kau menyuruh orang untuk membersihkan dan merenovasi tempat ini! Aku ingin semuanya selesai dalam waktu satu minggu!” perrintah Jaejoong.

“Ta… tapi….”

Jaejoong mendelik menatap Changmin, “Kau menolak perintahku?!”

“Tidak.. Tentu saja tidak, Tuan. Hanya saja….” Changmin melirik sekumpulan orang yang berdiri di belakangnya.

“Selama aku menduduki posisi Hakim tertinggi di Bollero, perintahku adalah mutlak! Aku tidak mau ada bantahan sedikit pun! Aku tidak mau ada aroma alkohol yang tercium selama jam kerja berlangsung. Pun dengan para petugas kepolisian yang berada di gedung yang sama denganku! Ada waktu tersendiri untuk mabuk dan bersenang-senang, tetapi bukan pada saat jam kerja. Kalian mengerti?!”

Ne!” sahut semua pegawai kantor kehakiman dan kepolisian dengan sedikit malas-malasan.

“Aku, tidak akan ragu memecat kalian semua bila kalian tidak bekerja dengan benar!” ucap Jaejoong, “Dan Changmin sshi, aku ingin kau mengantarkan data kantor kehakiman Bollero selama satu tahun terakhir ke rumah dinasku nanti sore. Kau mengerti?”

Ne, Tuan.” Jawab Changmin.

Jaejoong menatap papan nama yang tergantung di atap pintu gerbang yang nyaris roboh itu seekali lagi, “Dan ku harap kalian bisa berpakaian lebih rapi dan sopan besok, atau serahkan surat pengunduran diri kalian padaku!” ditunjuknya beberapa orang yang menurutnya berpakaian kurang layak, “Aku menunggumu di kereta.” Ucapnya pada Yunho sebelum berjalan menuju kereta diikuti beberapa prajuritnya.

“Mohon maafkan dia. Dia dibesarkan dengan tingkat kedisiplinan yang sangat tinggi mengingat dia adalah kerabat Yang Mulia Raja.” Ucap Yunho menatap tajam beberapa orang yang mulai mencibir kelakuan Jaejoong tadi, “Dan aku yang akan menduduki kepala Kepolisian Bollero mungkin jauh lebih parah darinya. Karena itu ku harap kalian bisa menyiapkan diri kalian sebaik mungkin.” Ucapnya lagi.

“Tuan….” seorang pemuda yang memakai setelan berwarna jingga membungkuk pada Yunho, “Namaku adalah Park Yoochun, aku adalah wakil kepala polisi terdahulu.”

“Senang bertemu denganmu. Dan siapa temanmu itu?” tanya Yunho menunjuk seorang pemuda lainnya di samping Yoochun.

“Kim Junsu imnida.” Ucapnya mengenalkan dirinya sendiri.

Yunho mengangguk kecil pada Junsu sebelum kembali menatap Yoochun. “Sama seperti yang dikatakan Jaejoong tadi, aku pun ingin melihat arsip kepolisian selama setahun belakang ini. Bisa kau antarkan ke rumah dinas kami sore nanti? Kau bisa datang bersama Changmin, Yoochun?”

“Tentu saja Tuan.” Jawab Yoochun.

“Tempat ini perlu direnovasi dan dibersihkan. Bantulah Changmin mengurusnya.” Perintah Yunho, “Sangat mudah merombak sebuah instansi tetapi susah merombak karakter manusia-manusia didalamnya. Kalau kalian ingin mengundurkan diri, silahkan saja. Tetapi kalau kalian ingin tetap bekerja di sini, kalian tidak boleh main-main!”

Ye!” sahut semua orang di sana.

Sekali lagi Yunho mengangguk sebelum berjalan pergi menuju kereta, menyusul Jaejoong yang sudah menunggunya.

“Aku akan menyukai atasan baru kita kali ini.” Gumam Yoochun yang diangguki oleh Junsu.

“Biar para tua bangka itu bisa bekerja lebih baik dan tidak makan gaji buta!” sahut Changmin yang menunjukkan seringainya.

.

.

Tidak terlalu besar memang, tetapi rumah Dinas yang disediakan untuk Yunho dan Jaejoong cukup bersih dan nyaman ditinggali. Rumah itu memiliki pekarangan dan halaman yang cukup luas dan kandang kuda untuk tempat beristirahat kuda-kuda mereka serta menyimpan kereta kuda mereka. Rumah utama hanya digunakan sebagai ruang kerja dan tempat tidur bagi Yunho serta Jaejoong. Untuk menerima tamu tersedia pendopo kecil di sisi sebelah depan yang dikelilingi oleh pohon bunga sakura dan beberapa tanaman bunga lainnya. Bangunan dapur serta tempat tidur bagi pelayan dan prajurit yang menjaga mereka ada di samping rumah utama. Di sisi bagian belakang rumah utama ada sebuah kolam pemandian air panas yang terhubung langsung dengan rumah utama. Sisanya, rumah dinas itu terlihat seperti rumah-rumah pada umumnya.

“Ku harap kau betah tinggal satu atap bersamaku.” Ucap Yunho yang sedang menikmati teh sorenya sambil menunggu kedatang orang yang tadi siang dimintanya membawakan laporan.

“Asal kau tidak membawa para gisaeng masuk kemari atau mangadakan pesta minuman keras di sini, aku tidak keberatan.” Sahut Jaejoong yang sejak tadi menatap bangunan rumah utama, cemas kalau-kalau para pelayan itu tidak bisa mengurus barang-barangnya dengan baik..

“Berhentilah merisaukan hal yang tidak penting!”

“Berhentilah peduli padaku kalau begitu!”

“Tidak bisa.” Sahut Yunho, “Kau tahu alasannya dengan baik, bukan?”

Jaejoong hendak membuka suara ketika seorang prajurit penjaga datang ke pendopo tempat mereka berada, di belakangnya mengikuti orang yang diketahuinya bernama Changmin dan dua orang asing yang dilihatnya di tempat magangnya tadi siang. Ketiga orang itu membawa bertumpuk-tumpuk buku tebal di tangan mereka.

“Namanya Park Yoochun, wakil kepala polisi.” Yunho menunjuk Yoochun, “Dan yang berjalan di sebelahnya itu Kim Junsu. Ku rasa mereka berteman.”

“Mereka terlihat seperti sepasang suami istri dimataku.” Ucap Jaejoong.

“Begitukah?” tanya Yunho yang sama sekali tidak mendapat jawaban dari Jaejoong.

“Terima kasih sudah mengantar mereka, tapi bisakah kau meminta pelayan menyiapkan 3 cangkir teh lagi untuk mereka, dan ambilkan sebuah meja untukku!” pinta Jaejoong pada prajurit penjaganya sebelum orang itu berjalan menuju rumah dapur.

“Duduklah Yoochun, Changmin, Junsu.” Perintah Yunho, “Maaf sudah merepotkan kalian!”

Tanpa diperintah dua kali, ketiga orang yang namanya disebut oleh Yunho itu segera meletakkan tumpukkn buku di atas lantai pendopo sebelum mendudukkan diri mereka sendiri.

“Jadi katakan padaku, kenapa posisi hakim dan kepala kepolisian Bollero bisa kosong pada waktu bersamaan?!” perintah Jaejoong.

“Hakim Shim pensiun karena sudah terlalu tua.” Jawab Yoochun.

“Hakim Shim?” Jaejoong segera menatap Changmin.

“Ayah saya.” Ucap Changmin.

“Oh….” Jaejoong mengangguk paham, “Kepala polisi sebelumnya?”

“Kepala polisi Im, meninggal dalam tugas.” Yoochun menundukkan kepalanya sesaat, “Dia dibunuh saat melakukan pengejaran pada kawanan perampok di daerah tenggara.”

“Perampok itu? Sudah ditangkap?” tanya Jaejoong yang langsung menatap Yunho.

“Sudah dihukum pancung.” Kali ini Junsu yang menjawab.

Jaejoong mendesah penuh kelegaan.

“Tindak kejahatan yang sering terjadi di kota ini?” tanya Yunho yang entah sejak kapan sudah membuka-buka salah satu dari buku tebal yang dibawa oleh Yoochun, Junsu dan Changmin tadi.

Jaejoong ikut melakukan apa yang Yunho lakukan, mengambil salah satu tumpukan buku yang berada di dekat Changmin, membuka-buka dan mengamatinya dengan seksama.

“Penjambretan, pencurian, perampokan, pemerasan, penipuan, serta….”

Brak!

Bukan hanya Yoochun yang melonjak kaget saat dirinya sedang menjawab pertanyaan Yunho, kedua rekannya pun ikut tersentak kaget ketika tiba-tiba Jaejoong membanting buku yang dibacanya.

“Pajak untuk para petani 40% dari hasil panen? Apa kalian gila?!” bentak Jaejoong. “Pajak untuk petani harusnya hanya 5% dari hasil panen mereka, 10% untuk para pedagang dan 30% untuk para pemilik penginapan besar, pejabat tinggi pemerintahan serta para bangsawan. Apa-apaan ini?”

“Jae….” Yunho mengusap punggung Jaejoong lembut. Namja berparas indah itu sangat berjiwa sosial dan menjunjung tinggi kejujuran.

“Para bangsawan dan pegawai pajak yang mengurus soal pengambilan pajak itu, Tuan.” Ucap Changmin mencoba menjelaskan, “Kami tidak bisa melakukan apa-apa karena mereka berlindung dibalik kekuasaan mereka.”

“Tidak lagi!” ucap Jaejoong keras kepala, “Jung Yunho! Kau harus membantuku menangkap para lintah darah ini! Tindak kejahatan ini termasuk dalam korupsi! Pelakunya harus dihukum cambuk 100 kali dan didenda sebanyak 10 peti emas! Kau tidak takut kan Yunho?”

Yunho tersenyum penuh arti, “Kenapa harus takut bila penguasa militer di Negara kita ini berada dibelakang punggung kita, hm? Tentu saja aku akan membantumu membasmi para lintah darat itu! Kalau perlu kita gantung mereka di alun-alun kota.”

Jaejoong terlihat puas mendengar penuturan Yunho, “Kalau begitu aku bisa lega.”

Yoochun, Junsu dan Changmin hanya bisa saling berpandangan satu sama lain. Sepertinya atasan baru mereka benar-benar sedikit mengerikan.

.

.

“Jangan memaksakan dirimu!” ucap Yunho. Ditatapnya punggung yang setengahnya terbenam di dalam kolam air panas itu, menikmati indahnya permukaan kulit berwarna pucat yang tertempa sinar dari obor yang menerangi sekitar kolam. Sejak mendiskusikan dan merencanakan pekerjaan yang esok hari akan mereka kerjakan hingga petang datang, akhirnya Yunho berhasil meyakinkan Jaejoong untuk membiarkan Yoochun, Junsu dan Changmin pulang ke rumah mereka agar mereka bisa beristirahat untuk esok hari. Jaejoong sendiri tidak menolak ketika Yunho mengajaknya berendam di dalam kolam air panas sebelum makan malam dihidangkan.

Tanpa menatap wajah Yunho, Jaejoong mengulurkan sebuah handuk kecil.

Yunho pun sepertinya mengerti apa yang Jaejoong ingin dirinya lakukan. Mengambil handuk kecil yang sudah basah itu, Yunho menempatkan dirinya di belakang tubuh Jaejoong kemudian mulai mengusap bahu dan punggung namja yang menempati posisi istimewa dalam hatinya, mencegah dirinya sendiri lepas kendali ketika mereka sedang dalam keadaan seperti ini.

“Kau indah….” puji Yunho.

Jaejoong membalikkan tubuhnya, menatap Yunho yang memasang wajah terkejutnya, “Malam ini saja.”

“Huh?”

“Malam ini saja… kau boleh menyentuhku!”

.

.

TBC

.

.

Holla para kutil! #plak! Pan ada yang bilang tuh NaraYuuki & para kutil (mereka yang sering ngobrol & dekat dengan Yuuki dijuluki kutil -_- ). Ya sudahlah. Yang iri biarlah iri. Yuuki mah jadi sendiri saja. Yuuki ya begini orangnya, agak frontal kalau menyangkut DBSK & YunJae (apalagi kalau ada yang menjelekkan mereka), yang tidak suka ya silahkan menjauh yang mau menerima Yuuki yang seperti ini adanya hayo jadi teman. Udah gitu saja :D

Yang nunggu Revenge & Pembalasan Bidadari Hitam sabar ye. Ini adalah Req dari Mak Ifa, Emak ane. Dan sebagai anak yang baik bin berbakti pada Emaknye ane buatin nich epep biar ane kagak dikutuk jadi orang berotak picik :) muahahahahah >_< Peace ye Mak :D V Ane mau pict Umma yang pontok sebagai bayaran :)

Iye-iye, yang minta sekuel The Scent Of Love itu ntar ane ketik dah sekuelnya (lha semua isi feedbacknya nodong sekuel sampai kebawa mimpi, ane merinding… mana yang ngisi kotak komen lebih dari 30 orang #terharu). Sabar! Tangan ane 2, ane juga sok sibuk belakangan ini dan baru sembuh dari sakit jadi sabar ye! Ane popo atu-atu dah ntar <3

Epep ini ga akan panjang kok. (3 Chap doank mungkin :D ) Sekali lagi yang nunggu revenge & Pembalasan Bidadari Hitam mohon sabar ya.

I beg you ;)

.

.

Thursday, August 21, 2014

4:35:08 PM

NaraYuuki

The Scent Of Love

Tittle                : The Scent Of Love

Writer               : NaraYuuki

Genre               : Romance/ Family

Rate                 : -M

Cast                 : Member DBSK (untuk kebutuhan cerita marga disesuaikan).

Disclaimer:       : They are not mine but this story and Hyunno are mine, NaraYuuki

Warning           : This is YunJae Fan Fiction (Boys Love). Yuuki masih butuh banyak belajar. Kesalahan ejaan dan pemilihan kata harap dimaklumi, Miss Ty bertebaran, Penceritaan ngebut.

.

.

.

.

.

PASTIKAN BACA WARNINGNYA DULU

.

.

Scent Of Love

.

.

Aku sendiri tidak tahu kenapa kau mau menikahiku padahal kita berdua tahu bahwa kita sama-sama namja, kita memiliki orientasi yang sama, sama-sama normal. Tetapi kenapa kau mau menikahiku yang juga laki-laki ini? Kenapa kau mau menghabiskan uang dan hidupmu untuk tinggal bersama orang sepertiku di bawah atap yang sama? Kau tahu bukan bahwa kita tidak saling mencintai. Kau tahu bukan bila aku membencimu? Kau dan semua kegilaan yang kau pikirkan. Yang ku herankan, kenapa orang tuamu diam saja saat kau menikahiku. Yang ku bingungkan kenapa mereka seolah menutup mata pada pernikahan ‘bahagia’ kita –seandainya aku masih ingat apa perbedaan bahagia dan menderita.

Tahukah kau bagaimana perasaanku sebagai seorang laki-laki yang menyandang status sebagai ‘istri’ dari orang sepertimu? Apakah didunia ini penghuninya sudah tidak waras? Aku laki-laki, kau pun sama sepertiku tetapi mereka melegalkan pernikahan kita? Apa kau sudah terlalu gila hingga kau memilihku sebagai pedangmu dibandingkan dengan puluhan yeoja yang selama ini kau bawa masuk ke dalam kamarmu dan kau tidurkan di atas ranjangmu itu? Bahkan kau tidak malu ketika aku melihat apa yang kau dan para perempuan sundal itu lakukan di sana!

Aku tidak mengerti dengan semua jalan pikiranmu.

Bila kau begitu mendamba seorang perempuan tidur di atas ranjangmu, kenapa kau menikahiku dulu? Kenapa kau tidak menceraikanku ketika aku melayangkan gugatan padamu? Kenapa kau memperlakukanku seolah-olah aku ini bayangan tembus pandang bila dulu kau sendirilah yang sangat ingin menikahiku. Ingatkah kah? Kau bahkan memaksaku untuk menikahimu.

Ketahuilah!

Aku merasa jijik padamu dan semua kelakuanmu yang bisa dengan mudah membawa masuk perempuan-perempuan sundal itu ke dalam kamarmu. Lebih jijik lagi ketika kau menyentuhku dengan tangan kotor penuh dosamu itu. aku tidak mau! Aku tidak mau melayanimu di atas ranjang karena aku adalah laki-laki! Aku tidak mau menyambut ciuman dan belaianmu karena aku tidak mau melakukannya denganmu. Aku tidak mencintaimu! Jangan paksa aku karena aku tidak mau! Tetapi pernahkah sekali saja kau mendengarkanku?

Tidak!

Yang kau tahu hanyalah kau akan mendapatkan apapun yang kau mau tanpa ada seorang pun yang bisa menolakmu. Bila aku menolakmu, kau akan membalasku… kau menyakiti mereka yang kau sayangi hingga aku terpaksa tunduk padamu.

Tetapi tahukah kau?

Aku lelah sekarang.

Aku lelah dan ingin segera mengakhiri kegilaan yang kau ciptakan ini.

.

.

Ummaaaaaaaaaaaaa….” namja kecil berusia lima tahun itu berlari menghampirinya dengan penuh semangat. Badannya yang gempal (berisi) itu kotor karena lumpur yang menempelinya.

Umma….

Ironis sekali. Dirinya adalah seorang laki-laki tetapi dipanggil Umma oleh anak yang bahkan bukan anak biologisnya.

Memaksakan senyum tersungging pada bibir merah penuhnya, Jaejoong berjongkok dan merentangkan kedua tangannya, membiarkan bocah gempal nan tampan itu menghambur memeluknya, membuat kemeja yang dikenakannya kotor oleh lumpur.

Umma….”

Waeyo Baby?”

“Unno melihat Appa popo Ahjumma berbaju merah.”

Sedikit terkejut tetapi Jaejoong tetap tersenyum, mengusap lembut kepala ‘anak’nya, “Jeongmal.”

Umma… bagaimana kalau kita pindah?” remaja jangkung yang masih memakai seragam SMPnya itu menatap lekat-lekat Jaejoong.

“Changminie….” Jaejoong tersenyum. Orang yang tidak mengenal keluarganya dengan baik akan mengira bahwa kedua anak itu adalah anak yang dilahirkannya, anaknya bersama ‘suami’nya. Tetapi bukan! Mereka adalah keluarga yang sama sekali tidak memiliki hubungan darah. Jung Changmin dan Jung Hyunno adalah anak yang diadobsi oleh Jaejoong dan suaminya atas paksaan kedua orang tua suaminya. Beruntung kedua anak itu sangat mirip dengan Jajoong dan suaminya, terutama Hyunno yang memiliki mata setajam mata musang yang sejujurnya sangat dibenci oleh Jaejoong karena mengingatkannya pada suaminya.

“Aku muak berada di sini, Umma. mari kita pindah.” Ajak Changmin, “Tabungan Umma dari hasil jerih payah Umma sebagai desainer dan artis sudah cukup untuk membeli sebuah rumah, kan? Kalau Umma mau aku akan bekerja paruh waktu untuk membantu biaya hidup kita. Karena itu mari pergi dari sini. Aku tidak tahan melihat kelakuan Appa lebih lama lagi.”

Jaejoong mengusap lembut wajah tampan ‘putra sulung’nya. Meskipun bukan darah dagingnya sendiri tetapi kedua anak itu sangat mencintainya, terlalu mencintainya hingga mereka tidak akan membiarkan dirinya terluka sedikit pun. “Kita hanya akan bisa pergi bila Appa kalian menceraikan Umma.” Jaejoong menelan ludahnya ketika mengucapkan kata Umma. sepuluh tahun dipanggil Umma oleh Changmin masih membuatnya risih ketika menyebut dirinya sendiri sebagai seorang ibu.

Changmin meraih adiknya untuk digendong dalam pelukannya, matanya menatap tajam seorang yeoja yang baru keluar dari dalam rumahnya menuju sebuah taksi yang sudah terparkir manis di depan pintu gerbang rumahnya. Yeoja yang baru saja ‘dipakai’ oleh ayahnya tentu saja. “Kalau pria tua brengsek itu butuh pelukan perempuan sundal kenapa dia tidak mau menceraikan Umma?” gumamnya dengan tatapan nyalang penuh kebencian.

.

.

Plak!

Suara tamparan itu membuat beberapa pelayan yang sedang menyiapkan makan malam membeku seketika. Ini adalah kali pertama mereka melihat pertengkaran terbuka kedua majikan yang sangat mereka hormati.

“Tinggalkan kami!” perintah Jaejoong yang dalam seketika membuat ruang makan yang tadinya ramai itu kini hening menyisakan dirinya sendiri dan pria yang selama sepuluh tahun ini dinikahinya.

“Kau harus punya alasan kuat sebagai pembenaran atas tindakan yang kau lakukan padaku barusan, Jung Jaejoong!” mata setajam musang itu berkilat marah menatap mutiara rusa betina yang terlihat menyimpan kebencian pekat didalamnya.

“Tidak bisakah kau menyimpan para simpananmu itu untuk dirimu sendiri?”

“Oh, wae? Kau cemburu? Manis sekali.”

“Ada anak-anak yang tinggal di sini bersamamu. Melihat figur yang mereka panggil ‘Appa’ selalu membawa perempuan ke dalam rumah sangat tidak sehat untuk perkembangan mereka.”

“Dan mereka harus tahu… semua itu karena Umma mereka yang tidak pernah mau melayani Appa mereka.”

Jaejoong mendelik marah saat namja di hadapannya itu mengusap wajahnya, menarik pinggangnya dan mendekapnya erat, “Akan berbeda bila kau menjadi istri yang mendengarkan dan menuruti semua keinginan suaminya, Boo Jae….”

“Lepaskan aku Jung Yunho!” perintah Jaejoong.

“Kau harus belajar menjadi istri yang baik, Boo! Sepuluh tahun aku membiarkanmu lepas bebas, sekarang saatnya kau mulai mengabdikan dirimu pada suamimu ini!”

Jaejoong hendak mendorong dan memukul namja yang tengah mengkungkung tubuhnya ketika dirinya mendengar suara tangis seseorang. Mata indahnya menatap sosok anak remaja yang tengah menggendong anak kecil yang tengah terisak keras.

“Unno terbangun dari tidurnya dan menangis karena tidak menemukan Umma di kamarnya.” Ucap Changmin dengan ekspresi datar ketika ayahnya tersenyum padanya, senyum yang dimatanya terlihat seperti senyuman badut bodoh pembawa berita duka.

“Hueeeeeeeee…. Umma….” anak kecil dalam gendongan Changmin itu semakin histeris melihat ibunya. Tangan mungil dan gempalnya terjulur menggapai-gapai ibunya.

Namja berkulit tan itu mendahului Jaejoong berjalan menuju Changmin dan mengambil Hyunno dari gendongan anak sulungnya. “Unno kenapa, hm? Kenapa menangis? Jagoan Appa tidak boleh menangis, ne….” dengan lembut diusapnya air mata bocah berusia 5 tahun itu.

Ummaaaaaa!” Hyunno menjerit dan meronta-ronta dalam pelukan ayahnya. Anak itu hanya mau ibunya bukan ayah ataupun orang lain.

“Anak kecil biasanya tahu siapa orang yang benar-benar tulus padanya.” Ucap Jaejoong yang berjalan menghampiri Yunho dan kedua anaknya, “Orang yang kotor akan ditolak oleh pikiran polos mereka.” Diambilnya Hyunno yang langsung melingkarkan lengan mungilnya di sekitar lehernya. Berjalan pelan meninggalkan ruang makan yang sunyi senyap.

Wae? Ada yang ingin kau sampaikan pada Appa?” tanya Yunho ketika putra sulungnya terdiam sambil menatap tajam dirinya.

“Ceraikan Umma! Dengan begitu kami bisa meninggalkan rumah ini dengan mudah!” ucap Changmin sebelum berlari mengejar ibu dan adiknya, membiarkan ayahnya termakan kesendiriannya. Peduli apa Changmin? Toh ayahnya bisa menelpon para simpanannya untuk menemaninya menghabiskan malam ini, bukan?

.

.

Kali ini bukan untuk diriku sendiri aku melakukan perlawan padamu, ada dua anak yang harus ku besarkan. Aku tidak peduli mau berapa banyak perempuan yang kau tiduri di atas ranjang pusakamu, aku tidak peduli berapa banyak uang yang kau keluarkan untuk perempua-perempuan itu. Satu hal yang harus kau tahu! Aku tidak akan membiarkan mata-mata polos anakku ternoda karena perilakumu. Kau boleh menganggapku kaca transparan, dulu. Sekarang aku tidak akan mmebiarkanmu melakukan semuanya sesuai dengan keinginanmu karena aku sudah lelah!

.

.

Dari balik jendela Jaejoong melihat Changmin dan seorang baby sitter mengajak Hyunno keluar untuk jalan-jalan, rutinitas yang selalu mereka lakukan pada akhir pekan seperti ini. Jaejoong sedikit melengkungkan senyumannya ketika melihat Hyunno yang berteriak-teriak agar Changmin mendorong sepeda roda empatnya.

“Kau hanya tersenyum untuk mereka saja.”

Jaejoong tersentak kaget ketika suara itu menegurnya, membuat senyum menawannya memudar dari bibir merah darahnya yang indah. Jaejoong memutar badannya membelakangi jendela agar bisa bertatap muka langsung dengan namja yang ditunggunya sejak beberapa menit yang lalu.

“Apa yang ingin kau bicarakan padaku, Boo?”

Jaejoong mendesis tidak suka ketika namja yang mendudukkan dirinya di atas sofa itu memanggilnya Boo, panggilan menjijikkan menurutnya. “Berkas di hadapanmu itu…. tanda tanganilah agar aku bisa segera membawanya ke pengadilan.”

Mata setajam musang itu melirik kertas yang diletakkan di atas amplop coklat yang teronggok di atas meja di hadapannya, menatap kertas itu tanpa minat karena dirinya tahu benda apa yang sedang dipandanginya itu.

“Kau lupa, Boo? Aku tidak akan pernah sudi untuk menceraikanmu bahkan walaupun kau memohon padaku!” bibir berbentuk hati itu menyeringai.

“Kau lupa kalau aku pun tidak akan pernah sudi memohon padamu?” balas Jaejoong.

“Maka dari itu lupakanlah keinginan bodohmu untuk bercerai dariku karena aku tidak akan pernah mau melepaskanmu!” ucap Yunho penuh penekanan. “Kau adalah milikku Jung Jaejoong!”

“Kalau begitu aku akan menyiksamu, Jung Yunho!”

“Lakukan saja!”

.

.

Changmin yang sedang menemani Hyunno bermain bola di halaman depan rumah mereka hanya bisa menatap datar seorang yeoja berpenampilan seksi yang diusir paksa oleh pihak keamanan rumahnya.

Ada apa sebenarnya? Bukankah para petugas keamanan itu biasanya meloloskan yeoja berbaju seksi mana pun yang memasuki rumahnya? Lalu yang dilihatnya ini?

“Hei lepaskan aku! Apa kau tidak tahu aku datang kemari untuk bertemu Jung Yunho! Kalian akan dipecat kalau tidak membiarkanku masuk!”

“Usir dia! Seret ke jalan! Ini adalah perintah ‘nyonya’. Bila ada yeoja asing berpenampilan seksi yang datang kemari harus segera diusir dan diseret keluar!”

Changmin menyeringai, entah apa yang terjadi sebenarnya tetapi sepertinya dari pembicaraan yang didengarnya antara kepala keamanan rumahnya dan yeoja itu cukup membuatnya senang.

Hyung….”

Changmin tersenyum melihat adiknya menatapnya dengan mata polos itu sambil memeluk bola sepaknya. Namja berusia 14 tahun itu mengusap lembut helaian halus adiknya, “Hyunno ya…. Appa akan segera menerima pembalasannya.”

Eoh?” Hyunno memiringkan kepalanya, bingung mendengar apa yang dikatakan oleh kakaknya.

Kajja kita masuk!” Changmin membopong Hyunno, “Umma sudah memanggil kita untuk makan.”

.

.

“Changmin, besok pagi Harabojie dan Halmoniemu akan menjemputmu serta Hyunno. Kalian akan menghabiskan libur musim panas ini di Hokaido selama dua minggu.” Ucap Yunho memecah keheningan suasana makan siang keluarga kecilnya..

Changmin menoleh menatap ibunya yang memasang wajah datar namun menatap ayahnya penuh permusuhan.

“Pergilah bersama adikmu. Bukankah sudah lama kita tidak menghabiskan liburan bersama?” Jaejoong tersenyum ketika menoleh menatap putranya.

“Bagaimana dengan Umma? Umma tidak ikut?” tanya Changmin.

“Ada sesuatu yang harus Umma urus di sini.” Jawab Jaejoong, diusapnya pipi Hyunno yang kotor karena terkena makanan yang disendoknya asal.

Appa?” Changmin menatap Ummanya penuh harap.

Appamu akan tinggal di sini bersama Umma.”

“Tapi Umma….”

Jaejoong merapikan Hyunno yang makan berantakan, mengangkat tubuh gempal putra bungsunya itu untuk diserahkan pada Changmin, “Berkemaslah! Nanti Umma akan mengecek barang bawaan kalian.”

Umma….”

“Dengarkan Ummamu, Changmin!” Yunho membuka suaranya.

Ragu Changmin menatap ayah dan ibunya bergantian sebelum beranjak sambil menggendong Hyunno menuju kamar mereka, menyiapkan apa saja yang mereka butuhkan untuk melewati dua minggu waktu liburannya di Hokaido bersama kakek dan neneknya.

Sepeninggal kedua anaknya, Yunho meletakkan gelas berisi air es yang tadi diminumnya, menatap istri cantiknya yang tengah menatap tajam dirinya.

“Kau sengaja meminta orang tuamu mengajak Changmin dan Hyunno pergi berlibur?” tuduh Jaejoong, “Apalagi yang kau rencanakan?”

Seringai yang sialnya selalu membuat Jung Yunho terlihat sangat tampan itu terlihat begitu angkuh menghiasi wajahnya, “Aku ingin menghabiskan waktuku bersama ‘istri’ku dengan sangat intim setelah dia merusak kesenanganku.”

Jaejoong tersenyum bodoh. Tentu saja Yunho tidak akan tinggal diam setelah dirinya memerintahkan semua pelayan dan petugas keamanan rumah mereka untuk melarang para perempuan simpanan Yunho datang kemari. Jaejoong sangat tahu hal itu dengan baik.

“Aku laki-laki normal, Boo. Aku membutuhkan seseorang untuk membantuku menuntaskan hasratku.”

“Kau pikir aku laki-laki tidak normal?” tanya Jaejoong dengan wajah diliputi kemarahan, “Aku namja normal yang menginginkan perempuan dibawahku! Tetapi aku masih cukup waras untuk memikirkan perasaan anak-anakku dengan tidak membawa perempuan murahan ke rumah ini.”

“Dan Boo…. Karena kau sudah melarang mereka yang bisa membantuku menuntaskan hasratku, maka kau harus mulai belajar melakukan kewajibanmu sebagai seorang istri!”

Mata hitam legam Jaejoong membulat ketika Yunho sudah mencekal tangan Jaejoong yang berada di atas meja.

“Dan ku pastikan kau akan melakukan tugasmu dengan baik, Boo.”

.

.

Darahku tidak mengalir dalam tubuh mereka tetapi aku mencintai merreka. Mereka bisa memberikan kebahagiaan yang kau janjikan tetapi tidak sanggup kau berikan padaku! Hanya status kosong yang kau berikan bukan kebahagiaan apalagi kasih sayang padaku.

.

.

Jaejoong ingin sekali menghajar Yunho ketika melihat kedua putranya memasuki mobil yang akan membawa mereka pergi dari jangkauannya selama dua minggu lamanya. Berpura-pura mengulum senyum manis dihadapan kedua mertuanya membuat rasa marahnya pada Yunho semakin besar setiap detiknya. Tanpa kedua anaknya, rumah ini terasa bagai kuburan untuk Jaejoong.

“Kau akan membayar semua ini Jung Yunho!” ancam Jaejoong ketika mobil itu menjauh dari pekarangan dan menghilang ditelan tembok yang membentengi rumahnya.

“Ku tunggu pembalasanmu, Boo….” Yunho menyeringai.

Jaejoong sempat memicing tajam pada Yunho sebelum kembali masuk ke dalam rumah.

.

.

Sepuluh tahun sudah Jaejoong menikah dengan Jung Yunho. Diusianya yang menginjak 18 tahun Jaejoong dipaksa untuk menikahi Yunho, satu tahun pasca pernikahan mereka mengadopsi Changmin atas paksaan kedua orang tua Yunho, kala itu Changmin sudah berusia 6 tahun. Dipaksa menikah untuk berperan menjadi seorang ‘istri’ dan ‘ibu’ dari anak yang bukan darah dagingnya sempat membuat Jaejoong stress. Namun pada akhirnya Jaejoong bisa melewati proses menyebalkan itu dengan baik bahkan 4 tahun sejak kedatangan Changmin seorang bayi mungil datang ke rumahnya sebagai putra bungsunya. Bayi yang baru berusia beberapa hari itu dibuang di depan pintu sebuah panti asuhan, Jung Hyunno. Dan Jaejoong dengan suka rela mengasuh malaikat kecil itu. Keberadaan kedua malaikatnya itulah yang membuat Jaejoong betah di rumahnya yang dianggapnya sebagai neraka kecil. Tanpa kedua malaikatnya Jaejoong merasa sangat kesepian, seperti yang sekarang dialaminya.

Biasanya Jaejoong akan melakukan pekerjaannya sebagai disainer, model iklan atau menghadiri talk show mengingat dirinya termasuk dalam salah seorang artis papan atas dengan gaji paling besar di Korea Selatan. Sayangnya beberapa waktu terakhir ini Yunho, ‘suami’ yang sangat ingin disingkirkannya itu melarang managernya menerima pekerjaan, melarangnya melakukan kegiatan keartisannya dan memaksanya untuk tinggal dirumah membesarkan kedua putra mereka.

Jaejoong bosan sekarang! Sedikit kasar dibantingnya majalah fashion yang sejak beberapa menit yang lalu dibukanya tanpa berniat melihat perkembangan dunia fashion. Yunho sendiri sedang berada di dalam ruang kerjanya begitu bawahannya dari kantor datang untuk menyerahkan beberapa dokumen.

Merebahkan dirinya di atas sofa dan menjadikan lengan sofa sebagai bantalannya, Jaejoong menatap lampu kristal antik yang tergantung di atas langit-langit ruang keluarga rumahnya. Lampu itu didapatkannya di Perancis saat mengajak Changmin jalan-jalan ke negara menara Eifel itu untuk merayakan ulang tahunnya yang ke-9, tanpa Yunho tentu saja. Semenjak itu Jaejoong tidak pernah mengajak Changmin jalan-jalan. Hyunno menjadi salah satu alasannya. Kehadiran Hyunno yang masih bayi sampai sekarang ketika anak itu berusia lima tahun. Agak repot bila mengajak Hyunno jalan-jalan, selain karena harus membawa minimal 3 baby sitter untuk mengurusnya yang sangat hyper, Hyunno juga memerlukan banyak barang –mainan untuk dibawa-bawa.

“Mereka berhak menikmati liburan.” Gumam Jaejoong yang memejamkan matanya perlahan, “Mengganggu kakek dan nenek mereka kedengarannya tidak terlalu buruk juga.”

.

.

Jemarinya mengusap lembut permukaan wajah indah yang sedang terlelap dalam tidurnya itu, meresapi betapa kenyal dan halusnya kulit ‘istri’nya. Sosok yang begitu didambanya semenjak dirinya melihat sosok malaikat yang tersesat dibumi itu.

Yunho sudah menginginkan Jaejoong ketika mereka sama-sama memasuki sebuaah sekolah elit bernama Cassiopeia High School. Jaejoong yang kala itu baru meniti karier keartisannya sebagai seorang penyanyi jarang sekali masuk sekolah hingga Yunho kesulitan bertemu dengannya. Jaejoong mungkin tidak mengenal Yunho tetapi Yunho sangat mengenal Jaejoong. Mereka dipertemukan lebih dekat ketika sama-sama masuk kelas 3-2, mereka sering berinteraksi ketika mengerjakan pekerjaan kelompok atau mengikuti pelajaran tambahan. Hingga begitu mereka lulus Yunho memaksa Jaejoong menikah dengannya yang tentu saja ditolak oleh Jaejoong karena namja berparas cantik itu mengakui orientasinya masih normal. Tidak tinggal diam, Yunho mengerahkan semua kekuasaan orang tuanya hingga akhirnya Jaejoong menyerah kalah –demi orang tuanya Jaejoong mau menjadi ‘nyonya’ Jung dalam pernikahan mereka.

Hari itu, hari pernikahan mereka adalah salah satu hari paling mmebahagiakan bagi Yunho.

Menggunakan ibu jarinya, Yunho mengusap bibir merah merekah Jaejoong perlahan. Terasa sangat kenyal dan sayang untuk dilewatkan. Yunho menundukkan wajahnya, mencium bibir merah yang sebenarnya sangat didambakannya sejak lama itu perlahan, menghisapnya sesaat sebelum melepaskan tautannya.

“Maafkan aku, Boo….” bisik Yunho, “Kali ini kau boleh membunuhku. Tetapi mengertilah, aku sungguh tidak tahan lagi!” Yunho segera membopong tubuh terlelap Jaejoong. Hasratnya sebagai seseorang yang mendamba dan merindu selama sepuluh tahun lebih meronta ingin dibebaskan secepatnya sebelum dirinya menjadi gila.

.

.

Mengundang para perempuan sundal ke kamarnya –kamar yang ditempatinya sendirian semenjak ikrar pernikahannya dengan Jaejoong hanya demi memastikan perasaannya yang kadang bimbang. Yunho membiarkan para perempuan bayaran itu menggodanya, menari telanjang didepan matanya untuk memastikan apakah dirinya masih membutuhkan perempuan atau tidak. Tetapi selama ini tidak satu pun dari perempuan-perempuan itu yang berhasil membangkitkan berahinya. Yang ada dalam bayangannya hanyalah sosok ‘istri’nya. Menuntaskan hasratnya sendirian sambil membayangkan wajah cantik istrinya membuat Yunho sangat tersiksa dan sengsara. Untuk itulah kali ini Yunho akan memastikan penderitaannya selama sepuluh tahun terbayar.

Dibaringkannya tubuh terlelap Jaejoong di atas ranjang pengantin mereka yang selama sepuluh tahun ini tidak pernah digunakan sama sekali mengingat Jaejoong memilih tidur di kamarnya sendiri. Diusapnya permukaan pipi Jaejoong, dikecupnya keningnya sebelum jemarinya membuka satu per satu kancing kemeja soft pink yang istrinya kenakan.

Yunho terdiam…. Perlahan-lakan kelopak mata yang membingkai mutiara rusa betina itu terbuka lebar, menghadirkan tatapan benci dan jijik padanya. “Kau bangun, Boo?”

Senyuman memuakkan itu membuat amarah Jaejoong naik hingga ubun-ubun, “Apa yang mau kau lakukan?! Manusia kotor sepertimu harusnya tahu diri!”

“Aku sangat tahu diri!” ucap Yunho sambil meremas dada kanan istrinya kuat-kuat.

“Jung Yunho! Brengsek!” maki Jaejoong. “Aku tidak sudi dijamah oleh manusia menjijikkan sepertimu! Kau kotor!” Jaejoong memekik ketika Yunho tiba-tiba saja menduduki perutnya, mencekal kedua pergelangan lengannya hingga memerah.

“Maka akan ku buat kau sama kotornya sepertiku Boo, agar kita sama dan kau tidak menolakku lagi!”

“Brengsek! Menjauh dariku!” umpat Jaejoong.

“Ah, suaramu sangat indah! Aku menyukainya…. Selama ini aku hanya bisa berhayal mendengar kau mendesah dibawahku. Sekarang khayalanku akan menjadi kenyataan. Betapa menyenangkannya ini!”

“Kau akan mati Jung Yunho!”

“Aku rela mati asalkan kau menjeritkan namaku dan mengantarkan firdaus untukku terlebih dahulu, Boo.” Yunho mencondongkan tubuhnye, mengendus leher jenjang Jaejoong, “Ah…. Aroma yang benar-benar memabukkan.”

“Menjauh dariku! Kau brengsek! Manusia menjijikkan!” Jaejoong bergerak-gerak gelisah, meronta, ingin pergi dari kungkungan orang yang sangat dibencinya.

“Terima kasih pujiannya….” Yunho tersenyum, “Ah… betapa menggairahkannya melihatmu seperti ini, Boo. Aku tidak tahan untuk segera menjamahmu!”

“Jung Yunho! Aku peringatkan padamu!”

“Apakah pemaksaan suami pada istrinya yang minta dilayani di atas ranjang setelah sepeluh tahun pernikahan termasuk pemerkosaan? Kau mau melaporkanku pada polisi karena hal ini? Lakukanlah, Boo! Lakukanlah! Setelah aku memilikimu tentunya.”

“Jung Yunho!”

.

.

Jaejoong bukannya tidak bisa menangis, hanya saja sakit hatinya terlampau dalam hingga air mata brengsek itu enggan mengalir membasahi mata indahnya yang kering. Jaejoong merasa jijik pada dirinya sendiri. Perlawanan sudah diberikannya tetapi dirinya tetap saja dijamah oleh Yunho. Jaejoong ingin muntah ketika mengingat bagaimana benda kebanggaan Yunho sebagai lelaki yang juga dimiliki olehnya itu menerobos memasuki lubang analnya, memang terasa sakit dan menyiksa tetapi harga diri yang terinjak-injaklah yang membuat Jaejoong jijik pada dirinya sendiri yang dianggapnya sudah sangat kotor.

Yunho hanya tersenyum menatap istri cantiknya yang terduduk diam dengan tatapan kosong di atas ranjang mereka, kamar pengantin yang baru dipakai semenjak sepuluh tahun pernikahan mereka, “Kau tidak ingin menutupi tubuhmu, Boo? Kau ingin aku menjamahmu lagi? Aku tidak keberatan tentu saja mengingat betapa hebatnya kau di….”

Pyaaaaarrrrr!

Yunho tidak melunturkan senyumannya ketika sebuah lampu duduk melayang ke arahnya, membentur jendela kaca di belakangnya hingga pecah berlubang. “Aku ingin menidurimu sampai kau mengandung anakku andai saja kau bisa hamil, Boo.” Yunho semakin tersenyum lebar begitu melihat mutiara rusa betina yang sangat itu menatap benci dan nanar ke arahnya. “Betapa sia-sianya hidupku selama sepuluh tahun ini karena menahan diri untuk merasakan kelembutan kulitmu, manisnya bibirmu dan hangatnya tubuhmu…. Tidak lagi-lagi Boo Jaeku tercinta! Aku tidak akan menyia-nyiakanmu lagi….” ucap Yunho yang kembali menegak air mineralnya.

“Membusuklah kau di neraka jahanam!”

.

.

Tidak pernah aku membayangkan akan mengerang dibawah kungkunganmu, akan terlena sentuhanmu, akan melayanimu seperti ini! Aku membencimu dan kita berdua tahu hal itu dengan baik. Aku tidak mau seperti ini tetapi aku terseret masuk ke dalamnya, membiarkanmu menjamahku berulang-ulang. Aku jijjik tetapi aku tidak sanggup menolak belenggu brengsek ini!

Apa yang sudah kau lakukan padaku?

.

.

“Sapinya punya anak dua. Unno mau punya sapi juga Umma….” celoteh Hyunno. “Belikan ne?”

Yah Unno! Hyung juga ingin bicara pada Umma….” protes Changmin yang berebut sesuatu dengan adiknya.

Jaejoong tersenyum melihat kedua putranya berebut ingin bicara padanya, menceritakan liburan menyenangkan yang mereka lewatkan melalui video call seperti ini adalah salah satu cara paling evektif untuk membunuh kerinduannya pada kedua putranya.

“Kalian senang?”

Hyunno dan Changmin langsung memasang wajah heran mereka ketika tiba-tiba saja wajah ayah mereka terlihat di samping Umma mereka, memasang senyuman yang terlihat sangat tulus., berbeda sekali dengan senyuman yang selama ini mereka lihat.

“Unno mau sapi? Appa akan membelikan sebuah peternakan untuk Unno kalau begitu.”

“Huwaaaaaaaaaaaaa…. Hore! Hore!” Hyunno terlihat berlari berputar-putar di belakang punggung Changmin.

“Itu terlalu berlebihan!” Jaejoong mendelik pada Yunho.

“Ah, tidak masalah….” sahut Yunho.

Umma, apa yang terjadi semenjak kami pergi?” tanya Changmin yang merasa janggal dengan interasi antara ayah dan ibunya.

“Nikmati saja liburanmu, Changmin! Jangan memikirkan apa yang terjadi di rumah! Yang di rumah menjadi urusan Umma dan Appa. Kau cukup bersenang-senang saja sepanjang liburan ini, jaga adikmu dan jangan lupa bawakan oleh-oleh untuk Umma dan Appa ketika kau pulang nanti. Arra?”

Changmin mengangguk ragu, yang sedang berbicara dengannya ini apakah benar-benar ayahnya? Jung Yunho ayahnya yang itu? Kenapa ayahnya yang sekarang bersikap selayaknya ayah pada umumnya, ayah yang menasihati anaknya? Berbeda sekali ayahnya yang walaupun peduli padanya dan adiknya tetapi bersikap dingin dan kurang bersahabat. Apa yang membuat ayahnya berubah seperti itu? Apa ayahnya terpleset? Atau ada chip yang ditanam didalam otak ayahnya?

“Changmin… saranghae….”

Remaja berusia 14 tahun itu tersenyum. Apapun yang terjadi sepertinya ayahnya yang sekarang akan jauh lebih menyenangkan daripada ayahnya yang dulu. Kalau ayahnya bisa bersikap baik seperti itu pasti Ummanya akan bahagia. “Nado saranghae Umma….”

.

.

Aku tidak mengerti apa yang terjadi sekarang. Aku jijik padamu tetapi aku lebih jijik pada diriku sendiri yang kini dengan suka rela menyambutmu yang hendak menyentuhku. Ini tidak normal! Hubungan seperti ini… entah kenapa aku bisa menikmatinya bila itu adalah kau….

.

.

Memeluk leher dan bahu kokoh itu erat-erat, menyandarkan kepalanya pada sisi wajah tampan itu perlahan, mengatur napasnya yang terengah, Jaejoong tidak mengerti kenapa dirinya bisa melakukan hal menjijikkan seperti itu dengan ‘suami’ yang sangat dibencinya.

“Kau lelah, Boo?” jemari itu mengusap punggung yang terasa halus dan lepek karena keringat.

“Apa yang sudah kau lakukan padaku, Brengsek?!”

“Mengajarimu cara mencintai suamimu, Boo….”

.

.

END

.

.

Huahahahaahaha >_< Akhirnya selesai. Akhirnya jadi juga mimpi buruk yang mengganggu tidur Yuuki selama beberapa hari ini. Gantung ya? Kalau mau Yuuki akan buatkan sekuelnya mirip The Wicht And Water Healther #KalauMau :D

.

.

Monday, August 18, 2014

9:14:30 PM

NaraYuuki